KELAYAKAN FINANSIAL DAN EKONOMI USAHA TANAMAN HIAS
DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
F INANCIAL AND ECONOMIC F EASIBILITY OF THE ORNAMENT PLANT
IN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Sulistiya*) dan Rini Anggraeni
Fakultas Pertanian Universitas Janabadra
ABSTRACT
Increasing the number of inhabitant settlement, developing the building and tour place, and growing the community consciousness to the role of living environment, was contributes to ornament plant demand. This condition inspired the development of ornament plant agribusiness. This phenomenon is interesting to studied, in specially of investing ornament plant agribusiness. The aims of the research are to know financial and economic feasibility, do to know income, absorption, and productivity of labour. Descriptive method was used, and location determinate by purposive sampling. Pay Back Period (PB), Net Present Value(NPV), Internal Rate of Returns (IRR), and Net Benefit Cost Ratio (Net BCR) were used to business feasibilities analysis. Sensitivity Analysis was used to predicts change of input or output price. Result of the research shows that the developing ornament plant agribusiness in Daerah Istimewa Yogyakarta is feasible either financial or economic. More varieties kind of commodities and favour, more large income that earned by ornament plant entrepreneur.
Key-words: ornament plant; economic feasibility; financial feasibility
INTISARI
Meningkatnya jumlah pemukiman penduduk, dibangunnya gedung-gedung, berkembangnya tempat-tempat wisata, serta bertumbuhnya kesadaran masyarakat akan peran lingkungan hidup, mengakibatkan melonjaknya permintaan akan tanaman hias. Kenyataan ini kemudian mendorong berkembangnya agribisnis tanaman hias. Fenomena perkembangan bisnis tanaman hias ini sangat menarik untuk diteliti, khususnya perihal penilaian atas investasi dalam agribisnis tanaman hias ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan usaha secara finansial dan ekonomi, serta untuk mengetahui pendapatan, penyerapan dan produktivitas tenaga kerja pada agribisnis tanaman hias.Penelitian menggunakan metode deskriptif, pemilihan lokasi secara purposive sampling. Analisis kelayakan usaha menggunakan Pay back Period (PB), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Returns (IRR), dan Net Benefit Cost Ratio (Net BCR). Untuk memperkirakan perubahan yang terjadi pada harga input maupun output dilakukan analisis kepekaan (Sensitivity Analysis). Disimpulkan bahwa secara finansial dan ekonomi, agribisnis tanaman hias di DIY layak diusahakan; Semakin bervariasi jenis barang dan jasa yang ditawarkan, semakin besar pendapatan yang diterima pengusaha tanaman hias.
Kata kunci: tanaman hias; kelayakan ekonomi; kelayakan finansial
*)
PENDAHULUAN
Pembangunan Pertanian ditujukan untuk menghasilkan produk unggulan yang berdaya saing tinggi, menyediakan bahan baku bagi keperluan industri secara saling menguntungkan, memperluas lapangan kerja serta kesempatan berusaha melalui upaya peningkatan usaha pertanian secara terpadu, dinamis dan berbasis agroekosistem menuju terwujudnya agroindustri dan agribisnis yang tangguh (Anonim 1998).
Lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (Sunandar 2005). Tujuan dilaksanakannya pembangunan di Indonesia bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang sifatnya fisik-material, namun juga mental-spiritual, termasuk pemenuhan rasa estetika. Pengembangan agribisnis tanaman hias merupakan salah satu upaya pembangunan untuk memenuhi kebutuhan rasa estetika tersebut, karena tanaman hias mempunyai peranan penting dalam aspek kesehatan lingkungan hidup bagi manusia.
Pengembangan agribisnis tanaman hias mempunyai prospek yang sangat baik, mengingat potensi konsumen yang cukup besar, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan adanya pertumbuhan penduduk, perkembangan kota, dan perluasan areal pemukiman, nilai tanaman hias dalam masyarakat makin meningkat. Ini menuntut adanya peningkatan kualitas, kuantitas, dan pelestarian kultivarnya. Selain itu, adanya penghijauan kota dan kesadaran masyarakat akan peran lingkungan hidup, menambah besarnya usaha pembudidayaan, pembibitan, penjualan, dan persewaan tanaman hias.
Semaraknya perkantoran, pertokoan, hotel, tempat-tempat pertemuan, telah mendorong berkembangnya tanaman hias (Soertini 1983), bahkan peranan agribisnis tanaman hias dalam pembangunan umumnya menunjukkan adanya kesempatan atau lapangan kerja baru, menambah pendapatan petani, serta dapat memberi andil bagi devisa negara.
Didukung dengan keanekaragaman jenis serta teknologi yang tepat, Indonesia akan menyaingi negara lain di bidang tanaman hias (Wianta 1983). Kebutuhan akan tanaman hias makin meluas, tidak hanya terbatas pada kalangan atas, melainkan juga masyarakat umum. Hal ini karena: (1) Sebagian besar masyarakat, termasuk generasi muda yang tingkat pendidikannya tinggi, mulai sadar akan pentingnya lingkungan yang asri dan bebas polusi; (2) Tanaman tidak hanya berfungsi sebagai peneduh dan penyejuk, tetapi juga sebagai tanaman hias yang mengandung nilai estetika dan dapat memacu gairah kerja; (3) Sebagian besar masyarakat menganggap tanaman hias sebagai salah satu elemen interior yang dapat menciptakan suasana indah, asri, dan sejuk; (4) Masyarakat lebih menyadari bahwa ruangan terasa kurang indah, tanpa kehadiran tanaman hias di dalam ruangan.
dan pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Sampai saat ini belum diketahui kelayakan finansial dan ekonomi usaha tanaman hias, sensitivitas usaha tanaman hias, pendapatan usaha tanaman hias, penyerapan dan produktivitas tenaga kerja, dan kendala yang dihadapi pengusaha tanaman hias di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui kelayakan usaha tanaman hias secara finansial dan ekonomi, (2) menganalisis kepekaan usaha tanaman hias, (3) mengetahui pendapatan usaha tanaman hias, (4) mengetahui penyerapan dan produktivitas tenaga kerja usaha tanaman hias, dan (5) mengetahui kendala yang dihadapi dalam usaha tanaman hias.
METODE PENELITIAN
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Lokasi Pemilihan lokasi dilakukan secara
purposive sampling dengan pertimbangan
DIY merupakan pusat pariwisata dan budaya sehingga potensial bagi pengembangan tanaman hias. Penentuan sampel pengusaha tanaman hias dilakukan dengan metode acak sederhana sebanyak 30 sampel, terdiri atas 10 sampel pengusaha yang menjual tanaman hias saja, 10 sampel pengusaha yang menjual tanaman hias dan menyewakan tanaman serta menerima jasa dekorasi ruang; 10 sampel pengusaha yang selain menjual dan menyewakan juga membuka jasa pembuatan taman dan kolam hias. Pendapatan bersih usaha tanaman hias dihitung dengan menggunakan rumus:
NR = TR TC
NR = TR – (TVC + TFC) NR = Py. Y – (Px. X + TFC) Keterangan:
NR = Net Revenue (pendapatan bersih) TR = Total Revenue (penerimaan total) TC = Total Cost (biaya total)
TFC = Total Fixed Cost (biaya tetap total) TVC = Total Variable Cost (biaya variabel total)
Py = harga output Y = jumlah output Px = harga input X = jumlah input
Produktivitas tenaga kerja dinyatakan dalam satuan rupiah per HKO (Rp/HKO) mengguakan rumus: Produktivitas Tenaga Kerja (Rp/HKO) = Penerimaan/Total Tenaga Kerja. Kelayakan usaha tanaman hias secara finansial dan ekonomi dianalisis dengan Pay back Period (PB), Net Present Value (NPV),
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dilihat dari status pengusahaan lahan usaha, sebagian responden lahannya berstatus milik sendiri dan diusahakan sendiri (rata-rata luasnya 0,103 ha) meliputi 66 persen dan selebihnya adalah responden dengan status pengusahaan lahan menyewa/menyakap dengan rata-rata luas lahan 0,087 ha sebanyak
34 persen. Besarnya sewa lahan rata-rata Rp 20.206.250 per tahun untuk rata-rata luas 0,087 ha. Atau untuk per hektarnya adalah Rp 242.475.000 untuk jangka waktu satu tahun. Untuk mengetahui secara rinci alokasi input faktor produksi dan output pengusahaan tanaman hias disajikan Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1. Alokasi faktor produksi selain tenaga kerja menurut kelompok responden dan luas lahan usaha per ha
Jenis input Nilai input (Rp/ha/tahun)
Kelompok A Kelompok B Kelompok C Rata-rata
Total 594.778.228 701.613.859 1.533.336.229 943.242.772
Keterangan: Kelompok A: Pengusaha yang menjual saja; B: menjual, menyewakan;C: menjual, menyewakan, dan membuat kolam.
Tabel 2. Produksi tanaman hias menurut kelompok responden dan luas lahan usaha 1 ha
Jenis output Nilai input (Rp/ha/tahun)
Kelompok A Kelompok B Kelompok C Rata-rata kelompok
A,B, dan C
total 697.730.769 1.201.972.276 2.666.613.858 1.522.105.634
Hasil analisis pendapatan bersih usaha tanaman hias sebagai berikut. NR Klp. A = Penerimaan Total A – Biaya Total A = Rp 697.730.769 – Rp 594.778.228 = Rp 102.952.541
Jadi pendapatanan bersih usaha tanaman hias untuk kelompok A adalah sebesar Rp 102.952.541 per hektar per tahun. NR Klp. B = Penerimaan Total B – Biaya Total B = Rp 1.201.972.276 – Rp 701.613.859 = Rp 500.358.417. Jadi pendapatan bersih usaha tanaman hias untuk kelompok B adalah sebesar Rp 500.358.417 per hektar per tahun. NR Klp. C = Penerimaan Total C – Biaya Total C = Rp 2.666.613.858 – Rp 1.533.336.229 = Rp 1.133.277.629. Jadi pendapatan bersih usaha tanaman hias untuk kelompok C adalah sebesar Rp 1.133.277.629 per hektar per tahun.
Dari ketiga perhitungan NR untuk kelompok A, B, dan C terlihat bahwa Pendapatan Bersih usaha tanaman hias yang terbesar adalah Kelompok C, disusul Kelompok B, dan paling kecil adalah Kelompok A.
Selanjutnya hasil analisis produktivitas tenaga kerja adalah: Produktivitas Tenaga Kerja Kelompok A = Rp 211.433.560/HKO. Produktivitas Tenaga Kerja Kelompok B = Rp 296.783.280/HKO. Produktivitas Tenaga Kerja Kelompok C = Rp 2.666.613.858 /13,35 HKO. Dari ketiga kelompok responden tersebut, produktivitas tenaga kerja yang terbesar adalah Kelompok B, disusul Kelompok A, dan terkecil adalah Kelompok C. Kelompok C adalah yang terkecil karena jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam usaha tanaman hias paling banyak dan tenaga kerja yang digunakan sebagian besar tenaga kerja luar keluarga. Hal ini berbeda dengan kelompok B maupun A.
Jadi meskipun dilihat dari sisi pendapatan bersih yang diterima Kelompok C lebih besar dibanding kelompok A maupun B, namun produktivitas tenaga kerjanya adalah justru yang paling rendah. Hal ini karena aktivitas pembuatan taman dan kolam hias memang membutuhkan tenaga kerja yang jumlahnya lebih banyak. Hasil perhitungan NPV = 19; PI = 1,61. Net B/C Klp A = -1; Net B/C Klp B =6,571; Net B/C Klp C =14,97.
Dilihat dari cara penjualannya, usaha tanaan hias ini umumnya memiliki berbagai cara penjualan. Namun pada umumnya cara penjualannya adalah secara langsung ke konsumen, dengan membuka kios usaha tanaman hias. Selain secara langsung, ada sejumlah pengusaha yang menjual dengan cara dititipkan kepada pedagang lain.
Adapun dilihat dari tempat menjualnya, tanaman hias bisa dijual melalui kios, pameran, pasar, atau di rumah. Komoditas yang dijual pada umumnya bibit/tanaman hias, walaupun ada sebagian pengusaha tanaman hias yang juga menjual pupuk, pot, pestisida, dan alat-alat pertanian. Membuka kios adalah cara menjual tanaman yang paling banyak digunakan para pengusaha tanaman hias ini.
KESIMPULAN
Secara finansial dan ekonomi, agribisnis tanaman hias di DIY layak untuk diusahakan; Pendapatan pengusaha yang menjual, menyewakan, dan menerima jasa pembuatan kolam lebih tinggi dibanding kelompok pengusaha yang lain; Penyerapan dan produktivitas tenaga kerja pada agribisnis tanaman hias pengusaha tersebut juga lebih tinggi dibanding agribisnis tanaman hias pengusaha yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim 1998. GBHN 1998-2003. Sinar Grafika Jakarta. Dalam: Hidayat N, dkk. J. Agros 7 (1): 29-36.
Munandar 2001. Buku Materi Pokok Managemen Proyek. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Dalam: Hidayat N, dkk. J. Agros 7 (1): 29-36.
Soertini, S. 1983. Prospek Pengembangan Tanaman Hias di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian Indonesia II (1).
Sunandar, N. 2005. Biaya Ekonomi Lingkungan Usaha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Gunung Kidul. J Agros 7 (2): 14-24.