Teks penuh

(1)

MAKALAH KONSEP DASAR IPA 1

“EKOSISTEM “

Disusun oleh

Kelompok 5 Kelas 2A :

1. Adib Wahyu Setiawan (K7115002)

2. Agus Gumelar (K7115004)

3. Alfi Nisrina Nur Ahlina (K7115008) 4. Amalia Rizky Purnama (K7115010) 5. Ayu Prasetyaningrum (K7115033) 6. Dhimas Risang Bramansya (K7115045)

7. Elisa Nursanti (K7115056)

8. Eni Kusniati (K7115057)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya dan atas arahan, bimbingan, serta kerja keras penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.

Dalam menyusun makalah ini, tidak lepas dari dorongan, bimbingan serta partisipasi beberapa pihak, untuk itu terima kasih penulis ucapkan kepada :

1. Ibu Dr. Peduk Rintayani, M.Pd. selaku dosen mata kuliah konsep dasar IPA 1 yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan kepada penulis untuk menulis makalah ini.

2. Teman-teman yang membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga selesai tepat pada waktunya.

3. Teman-teman kelas 2A PGSD Surakarta yang telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.

Untuk lebih menyempurnakan makalah ini, saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat diperlukan dan membantu.

Harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan kami bukan hanya untuk lingkup mahasiswa tetapi juga untuk seluruh kalangan.

Surakarta, 11 Maret 2016

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

DAFTAR TABEL iv

DAFTAR GAMBAR ... v BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 2

C. Tujuan 2 BAB II PEMBAHASAN 4 A. Pengertian Ekosistem 4

D. Satuan Makhluk Hidup dalam Ekosistem 6 E. Komponen-komponen Ekosistem 7

F. Macam-macam Ekosistem 12

G. Interaksi Antar Komponen Ekosistem 44 H. Rantai Makanan 53

I. Aliran Energi 58 J. Daur Biogeokimia 60

K. Suksesi 65 BAB III PENUTUP 70

A. Kesimpulan 70 B. Saran 70 DAFTAR PUSTAKA 72

(4)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Satuan Makhluk hidup dalam ekosistem ... 6 2.2. Perbandingan Faktor Abiotik dan Biotik 11

2.2. Struktur tingkat trofik dalam rantai makanan 55

(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Air merupakan salah satu komponen abiotik yang sangat

diperlukan makhluk hidup. ... 9

2.2. Peta ekosistem darat di dunia.. ...13

2.3. Bioma padang gurun. ... 13

2.4. Padang rumput. ... 15

2.5. Kehidupan di bioma sabana. ... 16

2.6. Bioma stepa... ... 18

2.7. Bioma Hutan Tropis.. ... 20

2.8. Bioma Hutan Gugur. ... 21

2.9. Bioma taiga (homogen). ... 23

2.10. Bioma Tundra (Alpine). ... 24

2.11. Reindeer dan Musk oxen ... 25

2.12. Burung Ptarmigan di musim dingin (putih) dan panas (gelap)... 25

2.13. Urutan bioma dari ekuator ke kutub. ... 25

2.14. Berbagai Organisme Air Tawar berdasarkan Cara Hidupnya .... 28

2.15. Sungai yang termasuk dalam ekosistem air tawar lotik. ... 31

2.16. Pembagian ekosistem laut menjadi berbagai zona. ... 33

2.17. Ekosistem pantai pasir. ... 37

2.18. Ekosistem pantai batu ... 38

2.19. Ekosistem estuari ... 38

2.20. Ekosistem terumbu karang dihuni jenis organisme laut. ... 39

2.21. Sawah merupakan contoh ekosistem buatan ... 41

2.22. Ekosistem buatan kebun kelapa sawit ... 41

2.23. Ekosistem aquarium dibuat mirip dengan habitat ikan. ... 42

2.24. Hutan mangrove yang termasuk dalam hutan buatan ... 43

2.25. Tambak udang. ... 43

2.26. Lalat hanya hinggap pada daun sehingga tidak ada yang untung maupun yang rugi. ... 44

2.27. Beruang hitam melawan singa ... 45

(6)

2

2.28. Kerbau dengan burung jalak. ... 45

2.29. Ulat memperoleh makan dari tanaman sedangkan tanaman dirugikan.. ... 46

2.30. Ikan badut dengan anemon laut. ... 47

2.31. Tanaman pinus mensekresi zat yang menyebabkan tanah sekitarnya menjadi terlalu asam untuk pertumbuhan tanaman jenis lainnya.. ... 48

2.32. Persaingan antara populasi padi dan populasi rumput (gulma). .. 48 2.33. Macan bertindak sebagai predator dan rusa sebagai mangsa... 49

2.34. Kompetisi interspesifik.. ... 50

2.35. Kumpulan burung yang menjadi satu populasi. ... 51

2.36. Jamur sebagai dekomposer menyebabkan buah membusuk. ... 52

2.37. Kutu kayu adalah salah satu contoh detritivor. ... 52

2.38. Rantai makanan. ... 53

2.39. Contoh rantai makanan perumput.. ... 56

2.40. Jaring-jaring makanan adalah rantai makanan yang kompleks... 57

2.41. Aliran energi dalam suatu rantai makanan. ... 58

2.42. Piramida Ekologi. ... 59

2.43. Pada daur air, terjadi pergerakan air dalam organisme, di daratan dan di atmosfer. ... 60

2.47. Daur sulfur yang melibatkan berbagai jenis bakteri.. ... 65

2.48. Letusan gunung merupakan suksesi primer.. ... 66

2.49. Kebakaran hutan menyebabkan terjadinya suksesi sekunder ... 67

2.50. Suksesi rawa menjadi daratan ... 68

(7)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Makhluk hidup dalam perkembangan dan pertumbuhannya tidak dapat hidup sendiri, selalu memerlukan makhluk lainnya dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain selalu berhubungan dan mengadakan kontak yang saling menguntungkan. Tetapi ada juga sebagian kecil mahkluk hidup yang selalu merugikan makhluk lain, biasanya makhluk ini disebut sebagai parasit.

Ekologi adalah kajian mengenai interaksi timbal-balik jasad individu, di antara dan di dalam populasi spesies yang sama, atau di antara komunitas populasi yag berbeda-beda dan berbagai faktor non hidup (abiotik) yang banyak jumlahnya yang merupakan lingkungan yang efektif tempat hidup jasad, populasi atau komunitas itu. Lingkungan efektif itu mencakup kesaling terikatan pada interaksi antara jasad hidup itu sendiri. Kaji ekologi itu memungkinkan kita memahami komunitas itu secara keseluruhan. Guna memastikan kenyataan ini, perlu kiranya diadakan berbagai percobaan di lapangan, di laboratorium atau di kedua lingkungan itu sekaligus.

Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70-an. Ekologi sendiri mencakup suatu keterkaitan antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi, seperti tumbuhan dan sinar matahari, tanah dengan air, yang pada umumnya dikatakan sebagai hukum alam yang berimbang dan biasa disebut ekosistem. Komponen-komponen dalam ekosistem telah dikelolah oleh alam dan mereka saling berinteraksi. Ada komponen yang bersifat netral, bekerjasama, menyesuaikan diri, bertentangan bahkan saling menguasai. Akan tetapi pada akhirnya antara kekuatan-kekuatan tersebut terjadi keseimbangan.

(8)

Untuk mengetahui keterkaitan atau interaksi antara komponen abiotik dengan biotik serta hubungan antara kedua komponen tersebut maka percobaan ini layak dilakukan, karena untuk mengetahui hubungan antara kedua komponen tersebut butuh suatu pengamatan di lapangan.

Satu ciri mendasar pada ekosistem adalah bahwa ekosistem itu bukahlah suatu sistem yang tertutup, tetapi terbuka dan daripadanya energi dan zat terus-menerus keluar dan digantikan agar sistem itu terus berjalan. Sejauh yang berkenaan dengan struktur, ekosistem secara khas mempunyai tiga komponen biologi, yaitu; produsen (jasad autotrof) atau tumbuhan hijau yang mampu menambat energi cahaya; hewan (jasad heterotrof) atau kosumen makro yang menggunakan bahan organik; dan pengurai, yang terdiri dari jasad renik yang menguraikan bahan organik dan membebaskan zat hara terlarut.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah :

1. Apakah yang dimaksud ekosistem?

2. Siapa saja satuan makhluk hidup dalam ekosistem?

3. Apa saja komponen-komponen dalam ekosistem?

4. Bagaimana interaksi antar komponen dalam ekosistem?

5. Apa sajakah macam-macam ekosistem?

6. Bagaimana rantai makanan dalam ekosistem?

7. Bagaimana aliran energi dalam ekosistem?

8. Bagaimana daur biogeokimia dalam ekosistem?

(9)

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :

1. Mengetahui pengertian ekosistem.

2. Mengetahui satuan makhluk hidupdalam ekosistem.

3. Mengetahui komponen-komponen dalam ekosistem.

4. Mengetahui interaksi antar komponen dalam ekosistem.

5. Mengetahui macam-macam ekosistem.

6. Mengetahui rantai makanan dalam ekosistem.

7. Mengetahui aliran energi dalam ekosistem.

8. Mengetahui daur biogeokimia dalam ekosistem.

(10)

BAB II

tahun 1800-an, pernyataan-pernyataan resmi tentang istilah dan konsep yang berkaitan dengan ekosistem mulai terbit cukup menarik dalam literatur-literatur ekologi di Amerika, Eropa, dan Rusia (Odum, 1993).

Beberapa definisi tentang ekosistem dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Ekosistem adalah suatu unit ekologi yang di dalamnya terdapat hubungan antara struktur dan fungsi. Struktur yang dimaksudkan dalam definisi ekosistem tersebut adalah berhubungan dengan keanekaragaman spesies (species diversity). Ekosistem yang mempunyai struktur yang kompleks, memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi. Sedangkan istilah fungsi dalam definisi ekosistem menurut A.G. Tansley berhubungan dengan siklus materi dan arus energi melalui komponen komponen ekosistem.

2. Ekosistem atau sistem ekologi adalah merupakan pertukaran bahan-bahan antara bagian-bagian yang hidup dan yang tak hidup di dalam suatu sistem. Ekosistem dicirikan dengan berlangsungnya pertukaran materi dan transformasi energi yang sepenuhnya berlangsung diantara berbagai komponen dalam sistem itu sendiri atau dengan sistem lain di luarnya.

3. Ekosistem adalah tatanan dari satuan unsur-unsur lingkungan hidup dan kehidupan (biotik maupun abiotik) secara utuh dan menyeluruh, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Ekosistem mengandung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas

(11)

dengan lingkungannya yang berfungsi sebagai suatu satuan interaksi kehidupan dalam alam (Dephut, 1997).

4. Ekosistem, yaitu tatanan kesatuan secara kompleks di dalamnya terdapat habitat, tumbuhan, dan binatang yang dipertimbangkan sebagai unit kesatuan secara utuh, sehingga semuanya akan menjadi bagian mata rantai siklus materi dan aliran energi (Woodbury, 1954 dalam Setiadi, 1983).

5. Ekosistem, yaitu unit fungsional dasar dalam ekologi yang di dalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (lingkungan biotik dan abiotik) dan di antara keduanya saling mempengaruhi (Odum, 1993). Ekosistem dikatakan sebagai suatu unit fungsional dasar dalam ekologi karena merupakan satuan terkecil yang memiliki komponen secara lengkap, memiliki relung ekologi secara lengkap, serta terdapat proses ekologi secara lengkap, sehingga di dalam unit ini siklus materi dan arus energi terjadi sesuai dengan kondisi ekosistemnya.

6. Ekosistem, yaitu tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi (UU Lingkungan Hidup Tahun 1997). Unsur-unsur lingkungan hidup baik unsur biotik maupun abiotik, baik makhluk hidup maupun benda mati, semuanya tersusun sebagai satu kesatuan dalam ekosistem yang masing-masing tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa hidup sendiri, melainkan saling berhubungan, saling mempengaruhi, saling berinteraksi, sehingga tidak dapat dipisah-pisahkan.

(12)

makanan dan jaring makanan yang pada setiap proses ini terjadi aliran energi dan siklus materi.

Ekosistem adalah suatu unit fungsional antara komunitas dengan lingkungannya. Komponen-komponen lingkungan yang bekerja melalui toleransi, memilih macam-macam organisme yang dapat hidup di suatu tempat tertentu. Keadaan inilah yang dpat menyebabkan terbentuknya suatu ekosistem.

Ekosistem dapat besar dapat juga kecil. Ladang, hutan, kolam, laut, akuarium adalah contoh ekosistem. Bahkan pohon jeruk pun merupakan suatu ekosistem. Di mana ada kehidupan dan lingkungan abiotik yang saling berinteraksi, itulah ekosistem. Kumpulan seluruh ekosistem yang ada di dunia ini disebut biosfera. Biosfera terbesar adalah bumi yang kita tempati ini.

B. Satuan Makhluk Hidup Dalam Ekosistem

Kesatuan dari makhluk hidup disuatu tempat dengan lingkungan tempat tinggalnya membentuk suatu kesatuan fungsional yang disebut Ekosistem. Organisasi makhluk hidup dalam ekosistem:

Tabel 2.1. Satuan Makhluk hidup dalam ekosistem.

Individu

Populasi

Komunitas

Ekosistem

Bioma

(13)

1. Individu adalah satu makhluk hidup tunggal yang berdiri sendiri.

Contohnya: seekor ayam, seekor kambing, sebatang pisang.

2. Populasi adalah sekumpulan individu sejenis yang tinggal pada waktu dan tempat tertentu.

Contohnya: sepuluh pohon mangga di kebun, dua puluh ekor itik di kandang.

3. Komunitas adalah sekumpulan populasi yang berbeda-beda yang tinggal disuatu tempat tertentu secara alami atau buatan. Komunitas meliputi komunitas air dan komunitas darat.

a. Contoh komunitas air alami : sungai, danau, laut.

b. Contoh komunitas air buatan : akuarium, waduk, kolam.

c. Contoh komunitas darat alami : hutan, padang pasir, sabana.

d. Contoh komunitas darat buatan : sawah, ladang, kebun.

4. Lingkungan adalah semua yang terdapat diluar atau disekitar makhluk.

a. Lingkungan biotik : terdiri dari makhluk hidup

b. Lingkungan abiotik : terdiri dari benda mati

5. Habitat adalah tempat suatu organisme mempertahankan dan melakukan aktifitas kehidupan.

Contoh : habitat teratai di air, habitat katak di darat dan di air.

6. Ekosistem adalah kesatuan komunitas dengan lingkungannya yang membentuk hubungan timbal balik.

(14)

Contoh : hutan cemara, hutan jati.

8. Biosfer adalah lapisan permukaan bumi yang digunakan makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya

C. Komponen-komponen Ekosistem

Komponen ekosistem dapat dilihat dari susunan yang terdapat dalam komponen, yaitu: sistem dengan ekosistem yang tersusun atas makhluk hidup disebut dengan komponen biotik; dan faktor lingkungan yang tak hidup dalam ekosistem disebut dengan komponen abiotik.

1. Komponen Biotik

Setiap makhluk hidup membutuhkan tempat untuk tinggal yang disebut dengan habitat. Misalnya semut, mempunyai habitat di tanah. Namun, selain semut tanah juga merupakan habitat bagi cacing tanah dan makhluk hidup lainnya.

Komponen biotik yang menyusun ekosistem mencakup seluruh makhluk hidup, baik yang sejenis ataupun berbeda jenis, yang hidup di tempat tertentu. Komponen biotik dalam ekosistem tidak dipelajari secara individual, tetapi dalam satuan populasi dan ekosistem.

Didalam ekosistem komponen biotik juga terdiri dari organisme yang saling mengadakan interaksi. Akibat dari adanya interksi ini memenculkan adanya organisasi kehidupan. Organisasi kehidupan yang terkecil sampai yang terbesar, adalah sebagai berikut : individu – populasi – komunitas – bioma – biosfer.

a. Individu adalah makhluk hidup tunggal yang secara otonom dapat melakukan proses-proses hidup secara mandiri. Untuk mempermudah memahami kriteria individu makhluk hidup, dan tiga kriteria tentang individu, yaitu sebagai berikut:

1) Individu selalu menggambarkan sifat tunggal ,

(15)

3) Proses hidup yang satu dengan yang lain berbeda.

b. Populasi adalah kumpulan dari individu-individu yang terdiri dari satu spesies yang secara bersama-sama menempati luas wilayah yang sama, mengandalkan sumberdaya yang sama, dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang sama serta memiliki kemungkinan yang tinggi untuk berinteraksi satu sama lain.

c. Komunitas adalah kumpulan dari beberpa populasi yang saling berinteraksi, menempati suatu daerah, dan dalam waktu tertentu.setiasp komunitas berbeda-beda dalam hal kekeyaan spesies (species richness) jumlah spesies yang mereka miliki dan kelimpahan relative spesies (relative abundance).

d. Ekosistem adalah kesatuan fungsional antara makhluk hidup dengan lingkungan.

e. Bioma adalah kesatuan ekosistem-ekosistem dalam sekala yang luas yang dibedakan berdasarkan iklim.

(16)

Air sangat dibutuhkan oleh seluruh makhluk hidup baik yang berhabitat di darat maupun perairan. Air dapat berbentuk padat, cair, dan gas.

Gambar 2.1. Air merupakan salah satu komponen abiotik yang sangat diperlukan makhluk hidup.

d. Tanah

Tanah merupakan tempat hidup bagi beragam makhluk hidup mulai dari yang berukuran renik, seperti bakteri dan protozoa, hingga yang berukuran besar, seperti gajah.

e. Suhu

Suhu lingkungan merupakan faktor penting bagi makhluk hidup. Suhu merupakan faktor penting dalam proses metabolisme makhluk hidup, suhu tubuh optimal untuk metabolisme tubuh adalah 37°C. Untuk dapat menjaga suhu tubuh tetap stabil, manusia tidak bisa berada di lingkungan dengan suhu ekstrim dingin atau panas tanpa perlindungan.

f. Topografi

Topografi adalah keadaan tinggi atau rendahnya permukaan bumi pada suatu tempat. Semakin tinggi suatu tempat, maka suhu lingkungannya akan semakin rendah.

(17)

komponen biotik dan abiotik, sehingga suatu sistem ekologi atau ekosistem.

Ditinjau dari sudut fungsional, ekosistem mempunyai dua komponen yaitu:

1. Komponen autotrof: komponen yang dapat membuat makanan sendiri dengan cara memanfaatkan energi matahari.

2. Komponen heterotrof: komponen yang mempergunakan dan mendekomposisi material-material yang ada.

Secara struktural terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Dengan demikian setiap ekosistem terdiri atas empat komponen yaitu:

1. Substansi abiotik berupa zat-zat anorganik seperti: C, N, CO2, H2O,

dan lain-lain yang terlibat dalam daur materi dan zat-zat organik seperti: protein, karbohidrat, lemak, vitamin, serta iklim seperti temperatur, kelembaban, tekanan udara dan lain-lain.

2. Produsen: organisme autotrof, terutama tumbuhan-tumbuhan hijau yang dapat menghasilkan bahan makanan dari bahan organik sederhana.

3. Konsumen: ornganisme heterotrof yang sebagian besar berupa binatang yang makan organisme lain. Terutama herbivora dan karnivora.

4. Pengurau atau dekomposer: organisme heterotrof seperti bakteri dan jamur (cendawan) yang menguraikan dan memanfaatkan organisme mati.

Ekosistem adalah unit fungsional dasar dalam ekologi karena meliputi komunitas biotik dan lingkungan abiotik, yang masing-masing saling mempengaruhi, saling memerlukan. Lingkungan abiotik tanpa biotik tidak berarti, biotik tanpa lingkungan tak dapat hidup.

(18)

Abiotik Biotik dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.

a. Ekosistem darat (terertrial)

(19)

energi radiasi matahari juga terjadi pada permukaan ke arah ketinggian tertentu.

Gambar 2.2. Peta ekosistem darat di dunia.

Iklim merupakan dasar yang baik untuk menggambarkan ekosistem darat dalam skala besar, karena iklim mencakup faktor lingkungan abiotik yang penting bagi kehidupan.

Perbedaan iklim menyebabkan terbentuknya tipe-tipe vegetasi yang khas. Iklim atau vegetasi dan hewannya merupakan suatu ekosistem skala besar, disebut bioma atau daerah habitat.

Bioma tidak memiliki batas yang jelas. Pemandangan sering berubah secara berangsur-angsur dari suatu bentuk bioma yang satu ke bentuk bioma lainnya. Jenis bioma di dunia sangat banyak.

1) Bioma Padang Gurun

(20)

Gambar 2.3. Bioma padang gurun.

Ciri-cirinya: Lingkungan abiotik

a) Curah hujan atau presipitasi sangat rendah, yaitu lebih kurang 25 cm per tahun. Kadang-kadang hujan lebat turun, tetapi sangat jarang.

b) Kecepatan evaporasi (penguapan air) lebih tinggi dari presipitasi. c) Kelembaban udara sangat rendah.

d) Akibat rendahnya kelembaban, maka suhu siang hari sangt tinggi, dapat mencapai 45°C. Sebaliknya, suhu pada malam hari sangat rendh, dapat mencapai 0°C.

e) Tanah sangat tandus. Lingkungan biotik Flora

Karena keadaan daerah gurun adalah tandus dan kering, maka hanya sedikit spesies tumbuhan yang dapat hidup di sana, yaitu yang termasuk kelompok xerofit.

a) Tumbuhan semusim, dngan ciri-ciri sebagai berikut: i. Kecil-kecil

ii. Saat turun hujan, tumbuhan itu segera tumbuh iii. Berbunga dn berbiji

iv. Biji tahan lama dan bercampur dengan pasir, dan akan tumbuh pada musim penghujan tahun berikutnya.

(21)

i. Daunnya kecil, bahkan ada yang tidak berdaun ii. Mempunyai lapisan lilin yang tebal

iii. Di dalam tubuhnya terdapat jaringan untu menyimpan air iv. Mempunyai akar yang panjang sehingga dapat menjangkau

air dari tempat yang jauh dan dalam Fauna

Hewan besar jarang ditemukan kecuali yang mempunyai kemampuan menyimpan air seperti unta. Sedangkan hewan-hewan kecil umumnya terdiri dari rodentia (tikus), ular, kadal, semut, dan kalajengking yang biasanya hidup di dalam lubang.

2) Bioma Padang Rumput

Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik.

Ciri-cirinya: Lingkungan abiotik

a) Curah hujan 25-50 cm per tahun. Di beberapa padang rumput curah hujan dapat mencapai 100 cm per tahun.

(22)

Gambar 2.4. Padang rumput. Fauna

Dibanding dengan daerah bioma darat lainnya, fauna di padang rumput lebih banyak spesiesnya, meliputi:

a) Herbivora besar, seperti bison di Amerika; gajah, jerapah, dan zebra di Afrika; kanguru di Australia.

b) Karnivora, seperti singa, anjing liar, cheetah, dan serigala. Hewan-hewan lainnya adalah: insekta, rodentia, ular, dan burung.

3) Bioma Savana/Sabana

Bioma sabana adalah padang rumput yang diselingi oleh gerombolan semak dan pohon. Berdasarkan jenis tumbuhan yang menyusunnya sabana dibagi menjadi dua jenis yaitu:

a) Sabana murni, yaitu sabana yang pepohonan penyusunnya hanya terdiri dari satu jenis tumbuhan saja.

b) Sabana campuran, yaitu sabana yang pepohonan penyusunnya terdiri dari berbagai jenis tumbuhan.

(23)

Gambar 2.5. Kehidupan di bioma sabana Ciri-Ciri Bioma Sabana:

a) Bersuhu panas sepanjang tahun.

b) Hujan terjadi secara semusim, dan menjadi faktor penting bagi terbentuknya sabana.

c) Sabana berubah menjadi semak belukar apabila terbentuk mengarah ke daerah yang intensitas hujannya makin rendah. d) Sabana akan berubah menjadi hutan basah apabila mengarah ke

daerah yang intensitas hujannya makin rendah. e) Terdapat di daerah khatulistiwa (iklim tropis). f) Curah hujan anatara 100 - 150 mm/tahun.

g) Porositas (air yang meresap ke tanah) dan drainase (pengairan) cukup baik.

Lingkungan Biotik Flora

Tumbuhan yang terdapat di savana diantaranya semak, rumput-rumputan, dan jenis tumbuh-tumbuhan besar seperti jenis ekaliptus (Eucalyptus sp) dan pepohonan dengan ketinggian maksimal 4 meter.

Fauna

Beberapa jenis hewan yang hidup di daerah savana diantaranya kuda, zebra, macan tutul, singa, anjing hutan, dan lain-lain.

4) Bioma Stepa

(24)

hujannya tidak cukup untuk perkembangan hutan. Stepa adalah dataran tanpa pohon (kecuali yang berada di dekat sungai atau danau) yang umumnya ditumbuhi rumput pendek.

Bentuk dari stepa berupa semi-gurun, biasanya tertutup oleh rumput atau semak, atau mungkin keduanya, tergantung berdasarkan musim dan garis lintang. Istilah stepa juga digunakan untuk menunjukkan iklim pada suatu daerah yang terlalu kering untuk menunjang suatu hutan, hanya saja tidak cukup kering untuk menjadi gurun.

Stepa tidak dikelilingi oleh kumpulan-kumpulan pepohonan. Kalaupun ada mungkin hanya sedikit saja. Berbeda dengan sabana yang meskipun merupakan padang rumput tapi diselingi oleh kumpulan pepohonan besar.

Ciri-ciri Bioma Stepa:

a) Curah hujan yang tidak teratur, antara 250-500 mm/tahun. b) Tanah di stepa pada umumnya tidak mampu menyimpan air

yang disebabkan oleh rendahnya tingkat porositas tanah dan sistem penyaluran yang kurang baik sehingga menyebabkan rumput-rumput tumbuh dengan subur, bahkan beberapa jenis rumput tingginya mencapai tiga setengah meter.

Stepa memiliki pepohon yang khas yaitu Akasia yang wilayah persebaran bioma stepa meliputi Afrika, Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian barat, Argentina dan Australia.

Flora

(25)

Gambar 2.6. Bioma stepa. Fauna

Faunanya meliputi herbivora dan karnivora, yaitu rusa, antelop, kanguru, harimau, singa dan ular.

Di beberapa negara, biasanya stepa dijadikan sebagai tempat konservasi bagi binatang-binatang yang terbilang langka. Di Indonesia, daerah yang paling banyak memilki stepa adalah Nusa Tenggara Timur. Masyarakat disana biasa menggunakan wilayah stepa atau padang rumput ini untuk area peternakan. Mulai dari beternak kambing, sapi, kerbau, hingga kuda. Wilayah stepa sangat mudah untuk dirawat sekaligus menyediakan banyak sumber makanan bagi ternak-ternak mereka.

5) Bioma Hutan Hujan Tropis

Hutan hujan tropis merupakan bioma darat yang paling baik iklimnya. Bioma ini banyak dijumpai di lembah Amazon, Amerika Selatan, Indonesia, India Barat, Muangthai, Malaysia, dan di lembah Kongo, Afrika.

Ciri-cirinya: Lingkungan abiotik

(26)

a) Curah hujannya tinggi, merata sepanjang tahun, yaitu antara 200-255 cm per tahun.

b) Matahari bersinar sepanjang tahun.

c) Dari satu bulan ke bulan yang lain perubahan suhu hanya sedikit. d) Di bawah kanopi (naungan) pohon malah tidak ada perubahan

suhu antara siang hari dan malam hari.

Gambar 2.7. Bioma Hutan Tropis. Lingkungan biotik

Flora

Di bioma ini terdapat beratus-ratus spesies tumbuha. Pohon-pohon utama dapat mencapai 20-40 meter, dengan cabang-cabang yang berdaun lebat membentuk suatu tudung atau kanopi. Akibat adanya kanopi, maka pada hutan hujan tropis terjadi perubahan iklim mikro daerah tudung hingga ke dasar hutan.

a) Daerah tudung (kanopi), ciri-cirinya:

i. Di sini hidup tumbuhan epifit, misalnya anggrek dan kaktus yang melakukan preadaptasi dengan lingkungan kering.

ii. Hanya mendapat air dan curah hujan.

iii. Variasi suhu dan kelembabam cukup besar.

Preadaptasi adalah adaptasi terhadap suatu daerah yang juga sesuai bagi daerah lain, meskipun lingkungannya sangat berbeda.

b) Daerah tengah, ciri-cirinya:

(27)

ii. Tumbuhan yang ada adalah paku-pakuan dan Graminae

(rumput-rumputan).

c) Daerah dasar, ciri-cirinya: i. Gelap sepanjang hari.

ii. Tidak pernah mendapat air hujan langsung.

iii. Suhu stabil (25°C), kelembaban tinggi.

Tumbuhan khas di daerah hutan tropis adalah liana dan epifit. Contoh liana adalah rotan, contoh epifit adalah anggrek.

Fauna

Hewan yang ada adalah jenis hewan diurnal (yang aktif di siang hari). Burung banyak ditemukan di daerah di daerah kanopi. Di bawah tudung dan di daerah dasar, hidup hewab nocturnal (aktif di malam hari), seperti kera, burung, babi hutan, kucing hutan, tupai, macan tutul, jaguar. Hewan herbivora biasanya menjadi burung hewan karnivora.

6) Bioma Hutan Gugur

Pada bioma ini juga sering terdapat padang rumput, gurun, dan yang khas adalah adanya hutan gugur. Bioma ini dijumpai di Amerika Serikat bagian timur, Eropa Barat, Asia Timur, dan Chili, yang umumnya beriklim sedang.

Gambar 2.8. Bioma Hutan Gugur Ciri-cirinya:

a) Curah hujan merata sepanjang tahun antara 75-100 cm per tahun.

b) Yang paling khas adalah adanya hutan gugur.

(28)

d) Dibanding hutan tropis, jenis tumbuhan di hutan gugur lebih sedikt dan kurang rapat.

Musim Panas dan Musim Gugur

Pada musim panas energi yang diterima cukup tinggi. Preipitasi dan kelembabannya tinggi. Pohon-pohon yang tnggi tumbuh dengan daun lebat membentuk tudung. Karena daunnya yang tipis, maka cahaya masih dapat menembus ke dasar. Jadi bekembang dengan baik, seperti serangga, burung, dan bajing. Omnivor yang berkembang dengan baik adalah raccoon (sebangsa luwak).

Menjelang musim dingin, radiasi energi matahari turun, suhu menjadi rendah, dab air cukup dingin. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun-daun menjadi merah, coklat dan gugur. Daun-daun dan buah yang gugur merupakan tumpukan senyawa organik. Pada saar ini banyak hewan menggemukkan badan, bebrapa jenis hewan seperti leming menyimpan biji-bijian pada lubang, dan binatang mengerat membentuk lemak. Burung-burung pemakan serangga pindah ke daerah tropis.

Musim Dingin dan Musim Semi

Pada musim dingin air menjadi salju. Tumbuhan gundul, dan tidak melakukan aktivitas fotosintesis. Beberapajenis hewan dalam keadaan hiberbasi (istirahat). Beberapa jenis burung tertentu memakan biji-bijian dan serangga yang dorman, serta telur-telur serangga di celah-clah kulit pohon.

Menjelang msim panas suhu naik dan salju mencair, tumbuhan gundul mulai baerdaun kembali. Tumbuhan semak mulai tumbuh du dasar. Hewan-hewan yang hibernasi mulai aktif lagi.

7) Bioma Hutan Taiga (Homogen)

(29)

Ciri-ciri ekosistem hutan taiga:

a) Perbedaan antara suhu di musim panas dan dingin tinggi. Pada musim panas suhu sangat tinggi, sedang pada musim dingin suhu sangat rendah.

b) Pertubuhan tanaman di musim anas antara lain 3-6 bulan.

Flora:

Pohon yang khas di bioma ini adalah konifer, terutama pohon spruce (Pices), alder (Alder), birch (Betula), dan juniper.

Gambar 2.9. Bioma taiga (homogen)

Fauna:

a) Binatang khas adalah moose; hewan lainnya adalah beruang hitam, ajak, dan marten.

b) Burung-burung yang berimigrasi di musim gugur-dingin.

Pada musim dingin beberapa jenis hewan seperti bajing dan beruangtidur cukup lama, tetapi serangga berhibernasi. Burung-burung pemakan serangga pindah ke selatan. Burung pemakan biji, mencari biji konifer. Moose dan Caribou tetap bertahan hidup. Lynx

(30)

8) Bioma Tundra (Alpine)

Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi, sehingga iklimnya merupakan iklim kutub.

Gambar 2.10. Bioma Tundra (Alpine) Ciri-cirinya:

a) Setiap saat tundra mendapat sedikit energi radiasi. Pada musim dingin gelap terus-menerus, sedang pada musim panas yang panjang, terang terus-menerus.

b) Pada musim panas, Lichenes, Spaghnum dan rumput tumbuh menutup permukaan tanah. Sedang tumbuhan berbiji seperti

Salix sp dan birch, tumbuh kerdil di atas permukaan tanah. Dalam musim tumbuh yang pendek ini, tumbuhan membuat persediaan makanan untuk setahun penuh.

Tumbuhan musim, berbunga serempak. Pada musim inilah padang tundra dipenuhi oleh berbagai jenis hewan. Kelompok burung air tawar dan pantai memelihara anaknya.

(31)

Gambar 2.11. Reindeer (kiri)dan Musk oxen (kanan). Burung-burung Ptarmigan (sebangsa ayam), rubah kutub dan kelinci salju, pada musim panas berbulu berwarna gelap, pada musim dingin menjadi berwarna putih.

Gambar 2.12. Burung Ptarmigan di musim dingin (putih) dan panas (gelap).

Urutan bioma dari ekuator ke kutub, sama dengan urutan bioma dari dataran rendah ke ekuator arah arah meninggi, urutan bioma suatu gunung yang tinggi di ekuator adalah hutan tropis, hutan gugur, hutan konifer daerah tundra es.

(32)

b. Ekosistem Air Tawar

Ekosistem air tawar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ekosistem yang airnya tenang (lentik), misalnya kolam, danau dan rawa; dan ekosistem yang airnya berganti-ganti (lotik), misalnya sungai.

Ciri-ciri ekosistem air tawar:

1) Salinitasnya rendah, bahkan lebuih rendah daripada protoplasma. 2) Variasi suhu rendah.

3) Penetrasi cahaya matahari kurang.

4) Adanya aliran air seperti pada ekosistem sungai.

5) Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.

Ekosistem air tawar terdapat di antara ekosistem darat dan air laut.

Flora:

Hampir semua divisi tumbuhan terdapat ekosistem air tawar, misalnya teratai (Nymphaea gigantea), kangkung (Ipomoea aquatica), eceng gondok, ganggang biru, ganggang hijau, dan berbagai fitoplankton.

Adaptasi tumbuhan terhadap ekosistem air tawar:

Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.

Fauna:

Hampir semua filum terdapat pada ekosistem air tawar. Cara hewan beradaptasi dengan lingkungan yang salinitasnya rendah:

1) Mengeluarkan air berlebihan.

2) Garam diabsorbsi melalui insang secara aktif.

3) Sedikit minum, air masuk ke dalam tubuh secara teru-menerus melalui osmosis.

(33)

Pengelompokan Organisme dalam Ekosistem Air Tawar

Organisme dalam ekosistem air tawar dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa segi.

1) Berdasarkan aliran energi, organismenya dibedakan atas: a) Autotrof, yang merupakan produsen, terdiri atas tumbuhan. b) Fogotrof dan saprotof, yang merupakan konsumen.

2) Berdasarkan kebiasaan hidup dalam air, dibedakan atas:

a) Plankton, yang terdiri atas fitoplankton dan zooplankton, yaitu golongan yang bergerak karena pengaruh aliran air. Biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air. b) Nekton, yang aktif berenang kian kemari, terdiri atas

hewan-hewan seperti ikan, katak, serangga air.

c) Neuston, yaitu jenis hewan yang beristirahat atau berenang di permukaan air.

d) Bentos, yaitu hewan dan tumbuhan yang melekat atau beristirahat di dasar atau hidup pada endapan, misalnya cacing dan remis.

e) Peripition, yaitu hewan maupun tumbuhan yang melekat pada daun, batang, akar atau pada permukaan benda lain.

3) Berdasarkan fungsinya, organisme dibedakan atas:

a) Produsen, terdiri atas alga seperti Cyanophyceae,

Chlorophyceae, Spermatophyta seperti teratai, eceng gondok, genjer, dan lain-lain.

b) Konsumen, terdiri atas serangga air, ikan udang, Mollusca,

Annelida, Protozoa, dan lain-lain.

c) Dekomposer (pengurai) sebagian besar berupa bakteri.

(34)

a) Daerah litoral, yaitu daerah air dangkal, sehingga cahaya dapat mencapai dasar. Biota yang ada adalah tumbuhan berakar, udang, dan bebrapa jenis cacing serta plankton.

b) Daerah limnetik, daerah terbuka tetapi cahaya matahari masih dapat mencapainya. Komunitas yang ada adalah plnkton, nekton, dan neuston.

c) Daerah profundal, yaitu daerah dasar yang dalam sehingga cahaya matahari tidak dapat menjangkaunya.

Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang (ekosistem air tawar lentik) dan air mengalir (ekosistem air tawar lotik). Termasuk ekosistem air tawar lentik adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air lotik adalah sungai.

1) Danau

Danau merupakan suatu badan air yang menggenang dan luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.

Gambar 2.14. Berbagai Organisme Air Tawar berdasarkan Cara Hidupnya

(35)

terdapat daerah perubahan temperatur yang drastis atau termoklin. Termoklin memisahkan daerah yang hangat di atas dengan daerah dingin di dasar.

Berdasarkan komunitas tumbuhan dan hewan yang tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya dari tepi danau

dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut.

a) Daerah litoral

Daerah ini merupakan daerah dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal. Air yang hangat berdekatan dengan tepi. Tumbuhannya merupakan tumbuhan air yang berakar dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air.

Komunitas organisme sangat beragam termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (khususnya diatom), berbagai siput dan remis, serangga, krustacea, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti kura-kura dan ular, itik dan angsa, dan beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.

b) Daerah limnetik

Daerah ini merupakan daerah air bebas yang jauh dari tepi dan masih dapat ditembus sinar matahari. Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang dan sianobakteri. Ganggang berfotosintesis dan bereproduksi dengan kecepatan tinggi selama musim panas dan musim semi.

Zooplankton yang sebagian besar termasuk Rotifera dan udang- udangan kecil memangsa fitoplankton. Zooplankton dimakan oleh ikan-ikan kecil. Ikan kecil dimangsa oleh ikan yang lebih besar, kemudian ikan besar dimangsa ular, kura-kura, dan burung pemakan ikan.

c) Daerah profundal

(36)

Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.

Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organik-nya, yaitu sebagai berikut :

a) Danau Oligotropik

Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidak produktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme, dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.

b) Danau Eutropik

Eutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen terdapat di daerah profundal.

Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut.

Pengkayaan danau seperti ini disebut “eutrofikasi”. Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.

2) Sungai

(37)

Gambar 2.15. Sungai yang termasuk dalam ekosistem air tawar lotik.

Komunitas yang berada di sungai berbeda dengan danau. Air sungai yang mengalir deras tidak mendukung keberadaan komunitas plankton untuk berdiam diri, karena akan terbawa arus. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.

Komposisi komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.

Organisme sungai dapat bertahan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu.

Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air.

Berdasarkan kuat alirannya, habitat sungai dapat dibedakan menjadi daerah yang deras alirannya dan daerah yang lambat alirannya.

c. Ekosistem Laut

(38)

Ciri-ciri ekosistem laut:

1) Salinitasnya tinggi, terutama di daerah tropis, sedang di daerah dingin cukup rendah.

2) Habitat laut yang sau dengan lainnya selalu bersambung.

3) Konsentrasi makanan yang larut di air laut angat kecil sehingga merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan populasi di dalam ekosistem laut.

4) Ekosistem laut tidak dipengaruhioleh iklim dan cuaca.

5) Arus air laut selalu berputar yang timbul karena perbedaan temperatur dan perputaran bumi.

6) Suhu air di daerah tropis sekitar 25°C dan makin ke kutub makin rendah hingga mendekati 0°C. Suhu air di daerah ropis pada siang hari di permukaan dengan di bawah permukaan juga berbeda. Sehingga air di permukaan juga berbeda dan tidak bisa bercampur dengan air di lapisan bawah. Hal ini menyebabkan air permukaan di daerah tropis pada siang hari menjadi panas. Batas dari kedua lapisan air ini disebut termoklin.

Pembagian Ekosistem Laut

Gambar 2.16. Pembagian ekosistem laut menjadi berbagai zona.

Sebagaimana halnya dengan ekosistem air tawar, ekosistem laut pun dapat dibeda-bedakan menurut beberapa segi:

(39)

a) Daerah litoral, yaitu daerah yang berbatasan dengan darat. Biota yang hidup di daerah ini umumnya sebagai bentos. b) Daerah neritik, merupakan daerah laut dangkal, terbagi atas

tiga daerah, yaitu supra tidal, interdal, dan sub tidal. Kedalamannya sampai 200 meter, biota yang ada di sisni meliputi plankton, nekton, dan bentos.

c) Daerah batial, kedalaman 200-2.000 meter. d) Daerah abisal, pada kedalaman 2.000 meter lebih. 2) Berdasarkan intesitas cahaya habitat laut dibedakan atas:

a) Daerah fotik, yaitu daerah yang masih dapat ditembus cahaya, lebih kurang kedalamannya 200 meter.

b) Daerah twilight, berkisar antara 200-2.000 meter. Di daerah ini cahaya remang-remang dan tidak efektif lagi.

c) Daerah afotik, yaitu daerah yang tidak ada cahaya lagi.

Ekosistem air laut dibagi menjadi tiga zona (wilayah), yaitu zona litoral, zona laut dangkal, dan zona pelagik. Ekosistem air laut yang termasuk zona litoral adalah estuari, pantai pasir, dan pantai batu. Ekosistem yang termasuk zona laut dangkal adalah ekosistem terumbu karang, sedangkan ekosistem yang termasuk zona pelagik adalah ekosistem laut dalam.

1) Lautan (Oseanik)

Habitat lautan (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termoklin.

(40)

Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaannya secara horizontal.

Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut.

a) Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.

b) Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari sampai bagian dasar dalamnya ± 300 meter.

c) Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m

d) Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari pantai (1.500-10.000 m). kedalam an 200-1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.

c) Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman 200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita. d) Abisalpelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai

4.000m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar matahari tidak mampu menembus daerah ini.

e) Hadal pelagik merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.

(41)

2) Pantai

Ekosistem pantai letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang surut. Ekosistem pantai dipengaruhi oleh siklus harian pasang surut laut. Organisme yang hidup di pantai memiliki adaptasi struktural sehingga dapat melekat erat di substrat keras. Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh beberapa jenis ganggang, molusca, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan burung pantai.

Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan karnivora, kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil.

Daerah pantai terdalam terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan serta rumput laut.

Komunitas tumbuhan berturut-turut dari daerah pasang surut ke arah darat dibedakan sebagai berikut.

a) Formasi pes caprae

Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin; tumbuhan ini menjalar dan berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna, Euphorbia atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung), Pandanus tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan).

b) Formasi baringtonia

Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya Wedelia, Thespesia, Terminalia, Guettarda, dan Erythrina.

(42)

oksigen. Selain berfungsi untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut gelombang. Yang termasuk tumbuhan di hutan bakau antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora, dan Cerbera.

Jika tanah pasang surut tidak terlalu basah, pohon yang sering tumbuh adalah: Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.

Ekosistem pantai dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekosistem pantai pasir dan ekosistem pantai batu.

a) Ekosistem Pantai Pasir

Ekosistem Pantai Pasir merupakan ekosistem yang cukup keras bagi organisme karena deburan ombak yang terus menerus serta paparan cahaya matahari selama dua belas jam. Vegetasi ada yang berbentuk terna (formasi Pes caprae) dan pohon (formasi

Barringtonia). Terna adalah tumbuhan berbiji yang memiliki batang lunak dan tidak berkayu (misal rumput, kangkung, pisang). Hewan pada ekosistem pantai pasir kebanyakan hidup di dalam pasir. Organisme tersebut aktif jika air pasang dan membenamkan diri di pasir saat air surut, misalnya kepiting kecil.

Gambar 2.17. Ekosistem pantai pasir.

b) Ekosistem Pantai Batu

(43)

Eucheuma dan Sargassum, serta beberapa jenis molusca yang melekat pada batu.

Gambar 2.18. Ekosistem pantai batu 3) Estuari

Gambar 2.19. Ekosistem estuari

Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam.

Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai memperkaya estuari.

Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan. Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas air.

(44)

Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas yang khusus yang terdiri dari karang batu dan organisme-organisme lainnya. Komunitas ini disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat ditembus cahaya matahari sehingga fotosintesis dapat berlangsung.

Gambar 2.20. Ekosistem terumbu karang dihuni berbagai jenis organisme laut.

Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari kalsium karbonat ini bermacammacam bentuknya dan menyusun substrat tempat hidup karang lain dan ganggang.

Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora.

Komunitas di dalam Ekosistem Laut

Komponen komunitas pada ekosistem laut dapat dibedakan atas : 1) Produsen, terdiri atas fitoplankton dan alga.

Fitoplankton biasa ada di daerah fotik. Sedang ganggang yang hidup di laut meliputi ganggang hijau, ganggang pirang, ganggang merah yang hidup sebagai bentos maupun sebagai perifiton.

(45)

3) Zooplankton, baik berupa plankton sementara maupun plankton permanen. Yang termasuk plankton permanen antara lain protozoa, cacing kecil, dan ubur-ubur kecil.

4) Dekomposer, terdiri atas bakteri pembusuk, fermentasi dan bakteri amonifikasi.

Adaptasi Biota Laut Kadar Garam Tinggi

Hewan dan tumbuhan tingkat rendah tekanan osmosis selnya kira-kira sama dengan tekanan osmosis air laut. Oleh karena itu adaptasinya tidak begitu sulit.

Hewan bersel banyak, misalnya ikan, banyak minum dan sedikit mengeluarkan urine, pengeluaran air terjadi secara osmosis dan garam dikeluarkan secara aktif melalui insang.

2. Ekosistem Buatan

Ekosistem buatan adalah ekosistem yang sengaja dibuat oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan atau keperluan hidupnya. Contohnya : sawah, waduk, perkebunan, dan kolam.

Ekosistem buatan memiliki keanekaragaman biotik rendah, karena umumnya ditentukan oleh pembuatnya. Misalnya komponen biotik pada ekosistem sawah, yaitu padi; pada kolam, yaitu jenis ikan tertentu, seperti ikan mas atau ikan gurami.

a. Ekosistem sawah

(46)

Gambar 2.21. Sawah merupakan contoh ekosistem buatan

Dalam ekosistem sawah dapat ditumbuhi atau di datangi oleh vegetasi atau hewan- hewan yang dapat mengganggu pertumbuhan padi, seperti rumput liar, wereng, burung, tikus, ular, dan lain- lain. Sehingga dalam ekosistem sawah akan terbentuk rantai makanan yang cukup beragam karena kehadiran suatu organisme. Selain padi, agroekosistem dapat dibentuk dengan tanaman jagung gandum dan tanaman sumber panganan pokok lainnya.

b. Ekosistem perkebunan

Gambar 2.22. Ekosistem buatan kebun kelapa sawit

Perkebunan kopi, cokelat, lada, dan lainnya merupakan hasil budidaya manusia mengingat tanaman – tanaman tersebut memiliki komoditi yang tinggi di pasar. Meski demikian, gangguan cuaca yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia serta kedatangan hama (vegetasi liar) serta penyakit dapat membuat petani gagal panen. c. Ekosistem aquarium

(47)

Namun ketika akan menampilkan populasi biota laut yang terpenting adalah mengatur kadar garamnya. Pembuatan ekosistem aquarium ini harus sangat diperhatikan meningat akuarium meupakan air yang statis tidak mengalir, maka penting adanya aerasi untuk meningkatkan kandungan oksigennya.

Biasanya dalam rumahan ikan- ikan hias yang dibudidayakan dalam akuarium. Sedangkan pada tempat wisata ikan- ikan dan biota perairan laut dapat pula dimasukkan ke dalm akuarium besar atau sengaja dalam akuarium bawah laut sehingga lebih mudah perawatannya. Ekosistem akuarium ini memiliki nilai estetika, ekonomis, serta dapat dijadikan sebagai sumber belajar untuk mengenal biota perairan.

Gambar 2.23. Ekosistem aquarium yang dibuat hampir mirip dengan habitat ikan.

d. Ekosistem hutan buatan

(48)

Gambar 2.24. Hutan mangrove yang termasuk dalam hutan buatan.

Sedangkan ekosistem mangrove buatan merupakan alternatif dan langkah bijak pada daerah pantai yang mengalami abrasi. Dengan tujuan untuk perlindungan alam, mangrove- mangrove ini dapat menjadi habitat bagi organisme- organisme lainnya.

e. Ekosistem tambak

Udang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dalam dunia pangan. Permintaan yang relatif tinggi dipasar membuat manusia membuat suatu ekosistem yang membudidayakan udang yang nantinya akan dijual dipasar. Selain udang, biota perairan yang sering dibudidayakan ialah kerang, lele, cumi, dan lain sebagainya.

Gambar 2.25. Tambak udang.

E. Interaksi Antar Komponen Ekosistem

Interaksi antar komponen ekosistem dapa merupakan interaksi antar organisme, antar populasi, dan antar komunitas.

(49)

Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita. Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antar organisme dapat dikategorikan sebagai berikut.

a. Interaksi Netralitas

Hubungan tidak saling mengganggu dan tidak saling mempengaruhi antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi, lalat dengan daun.

Gambar 2.26. Lalat hanya hinggap pada daun sehingga tidak ada yang untung maupun yang rugi.

b. Interaksi Predasi

(50)

tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.

c. Interaksi Kompetisi

Interaksi Kompetisi adalah hubungan antara dua jenis organisme yang saling bersaing dalam mencari makan, tempat bernaung, mencari pasangan dan lain lain, contohnya persaingan macan dengan harimau dalam memperebutkan mangsanya, persaingan ular dengan elang dalam memangsa tikus dan lain lain.

Gambar 2.27. Beruang hitam melawan singa.

d. Interaksi Simbiosis, meliputi:

(51)

Gambar 2.28. Kerbau dengan burung jalak.

- Kerbau dengan burung jalak (burung jalak memakan kutu kerbau)

- Lumut kerak (ganggang berfotosintesis, jamur mencari air dan mineral)

- Bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.

- Jamur dengan akar tumbuhan. Hubungannya disebut mikoriza

(52)

Gambar 2.29. Ulat memperoleh makan dari tanaman sedangkan tanaman dirugikan.

- Tali putri pada tumbuhan inang

- Kutu rambut dengan manusia

- Plasmodium dengan manusia

- Taeniasaginata dengan sapi

3) Simbiosis komensalisme: cara hidup bersama antara dua jenis organisme yang berbeda, organisme yang satu tidak mendapat keuntungan, sedangkan yang lain tidak untung tetapi juga tidak rugi. Contohya:

(53)

- Ikan remora dengan ikan hiu

- Ikan badut dengan anemon laut

- Anggrek atau paku-pakuan yang menempel pada pohon

e. Interaksi Antibiosis: hubungan antara dua jenis organisme, dimana yang satu menekan pertumbuhan yang lainnya. Contohnya pertumbuhan jamur penisilium yang tumbuh pada roti dan menekan pertumbuhan bakteri atau jamur lainnya.

2. Interaksi Antar Populasi

Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya. Contoh interaksi antar populasi adalah sebagai berikut.

a. Alelopati

Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai

(54)

Gambar 2.31. Tanamanpinus mensekresi zat yang menyebabkan tanah sekitarnya menjadi terlalu asam untuk pertumbuhan tanaman

jenis lainya.

b. Kompetisi

Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi harimau dan populasi kijang.

Gambar 2.32. Persaingan antara populasi padi dan populasi rumput (gulma).

c. Predasi

(55)

tetapi juga terjadi pada hewan herbivora dan tumbuhan. Pada predasi antar-hewan, predator kebanyakan berukuran lebih besar daripada mangsanya.

Gambar 2.33. Macan bertindak sebagai predator dan rusa sebagai mangsa.

3. Interaksi Antar Komunitas

Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma.

(56)

Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.

4. Interaksi Antar Individu

Individu-individu dalam populasi saling berinteraksi dalam berbagai kegiatan hidupnya. Misalnya perkawinan antara individu jantan dengan individu betina, pembagian tugas pada koloni lebah dan rayap, serta perlindungan dan erawatan induk pada keturunannya seperti pada ayam, angsa, burung, serta kucing. Interaksi demikian dapat membuat jumlah individu dalam populasi bertambah.

Gambar 2.34. Kompetisi interspesifik.

(57)

memperebutkan makanan. Sedangkan kompetisi tidak langsung, terjadi perlombaan untuk memperoleh kebutuhan hidup yang paling sempurna. Kompetisi ini mengakibatkan ada individu yang memperoleh kebutuhan hidup lebih sedikit bahkan menyebabkan kematian, atau perpindahan ke tempat lain (migrasi). Kematian atau migrasi individu-individu dalam populasi akan mengurangi kepadatan populasi.

Gambar 2.35. Kumpulan burung yang menjadi satu populasi.

5. Interaksi antara Komponen Biotik dengan Abiotik

Dalam ekosistem, interaksi antar komponen biotik dan abiotik mulai terjadi dari individu hingga biosfer. Interaksi antar komponen biotik dan komponen abiotik pada tingkat biosfer adalah interaksi yang pailng kompleks. Pada tingkat ekosistem, individu atau populasi memiliki peran yang khusus dalam kaitan interaksinya dengan lingkungan biotik dan abiotik. Berdasarkan peran khususnya, suatu individu atau populasi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu produsen konsumen, dekomposer atau pengurai, dan detritivor.

(58)

Produsen (organisme autotrof) adalah organisme yang menyusun senyawa organik atau membuat makanan sendiri dengan bantuan cahaya matahari. Produsen adalah organisme yang melakukan fotosintesis, antara tumbuhan hijau, beberapa jenis bakteri, serta ganggang biru dan hijau.

b. Konsumen

Konsumen (organisme heterotrof) adalah organisme yang tidak mampu menyusun senyawa organik atau membuat makanannya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan makanannya, organisme ini bergantung pada organisme lain. Hewan dan manusia tergolong konsumen.

c. Dekomposer

(59)

Gambar 2.36. Jamur sebagai dekomposer yang menyebabkan buah membusuk.

d. Detritivor

Detritivor adalah organisme yang memakan partikel-partikel organi detritus. Detritus merupakan sisa-sisa atau debris jaringan hewan atau tumbuhan. Organisme detritivor antara lain cacing tanah, siput, keluwing, bintang laut, dan kutu kayu.

Gambar 2.37. Kutu kayu adalah salah satu contoh detritivor.

F. Rantai Makanan Dalam Ekosistem

(60)

Gambar 2.38. Rantai makanan.

Pada rantai makanan tersebut terjadi proses makan dan dimakan dalam urutan tertentu yaitu rumput dimakan belalang, belalang dimakan katak, katak dimakan ular dan jika ular mati akan diuraikan oleh jamur yang berperan sebagai dekomposer menjadi zat hara yang akan dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang.

Tiap tingkat dari rantai makanan dalam suatu ekosistem disebut tingkat trofik. Pada tingkat trofik pertama adalah organisme yang mampu menghasilkan zat makanan sendiri yaitu tumbuhan hijau atau organisme autotrof dengan kata lain sering disebut produsen. Organisme yang menduduki tingkat tropik kedua disebut konsumen primer (konsumen I). Konsumen I biasanya diduduki oleh hewan herbivora. Organisme yang menduduki tingkat tropik ketiga disebut konsumen sekunder (Konsumen II), diduduki oleh hewan pemakan daging (carnivora) dan seterusnya. Organisme yang menduduki tingkat tropik tertinggi disebut konsumen puncak.

Dengan demikian, pada rantai makanan tersebut dapat dijelaskan bahwa : 1. Rumput bertindak sebagai Produsen.

(61)

3. Katak bertindak sebagai Konsumen II/konsumen sekunder (Karnivora).

4. Ular bertindak sebagai Konsumen III/konsumen tersier (Karnivora). 5. Jamur bertindak sebagai Dekomposer (Pengurai).

Komunitas dari suatu ekosistem berinteraksi satu sama lain dan juga berinteraksi dengan lingkungan abiotiknya. Interaksi tersebut terjadi sebagai usaha untuk kelangsungan hidup organisme. Aktivitas ini memerlukan energi. Energi untuk berbagai kegiatan diperoleh dari bahan organik, sehingga disebut sebagai energi kimia. Bahan organik dalam komponen biotik awalnya terbentuk dengan bantuan energi cahaya matahari dan elemen organik, seperti karbon dan nitrogen. Bahan organik ini ditransfer dari satu organisme ke organisme lain. Perpindahan energi kimia dan elemen berlangsung melalui interaksi makan dan dimakan. Peristiwa makan dan dimakan antar-organisme dalam suatu ekosistem membentuk struktur trofik, yang terdiri dari beberapa tingkat trofik. Setiap tingkat trofik merupakan kumpulan berbagai organisme dengan sumber makanan tertentu.

Tingkat trofik pertama adalah kelompok organisme autotrof. Organisme autotrof adalah organisme yang menyusun senyawa organik atau membuat makanan sendiri dengan bantuan cahaya matahari, yaitu tumbuhan dan fitoplankton. Namun, ada beberapa organisme autotrof yang menggunakan energi panas bumi, misal hidrogen sulfat. Organisme seperti ini disebut kemoautotrof. Contoh organisme kemoautotrof adalah bakteri sulfur.

Dalam struktur trofik, organisme autotri disebut produsen. Produsen pada ekosistem darat adalah tumbuhan hijau. Produsen pada ekosistem perairan seperti danau, dan laut adalah bakteri berklorofil dan ganggang hijau biru. Kedua kelompok organisme tersebut membentuk fitoplankton. Selain fitoplankton, produsen pada ekosistem perairan adalah ganggang dan tumbuhan air.

(62)

memakan organisme atau sisa-sisa organisme lain sehingga organisme heterotrof disebut juga konsumen. Konsumen teridiri dari konsumen primer pada tingkat trofik kedua, konsumen sekunder pada tingkat trofik ketiga, dan konsumen tersier pada tingkat trofik keempat.

1. Konsumen Primer

Konsumen primer adalah organisme pemakan produsen atau disebut juga herbivora. Contoh konsumen primer di darat yaitu serangga, siput, burung pemakan biji-bijian dan buah-buahan, serta berbagai jenis mamalia. Contoh konsumen primer di perairan adalah zooplankton, seperti Protista heterotrof dan udang-udangan kecil.

2. Konsumen sekunder

Konsumen sekunder merupakan organisme pemakan konsumen primer (herbivora). Konsumen sekunder disebut juga karnivora karena makanannya berupa hewan. Hewan yang tergolong konsumen sekunder di darat, misalnya katak, ayam, burung, singa, harimau, dan laba-laba. Konsmen sekunder di perairan misalna kerang dan cumi-cumi.

3. Konsumen tersier

Konsumen tersier adalah organisme pemakan konsuen sekunder. Konsumen tersier disebut juga karnivora besar. Contoh konsumen tersier, yaitu burung elang, burung hantu, harimau, singa, ikan hiu, ikan paus, dan gurita.

Tabel 2.3. Struktur tingkat trofik dalam rantai makanan.

Komponen Biotik Contoh Tingkat Trofik

Produsen

I

Konsumen I (Primer)

(63)

Konsumen II (Sekunder)

III

Konsumen III (Tersier)

IV

Jalur makan dan dimakan dari organisme pada suatu tingkat trofik ke tingkat trofik berikutnya membentuk urutan dan arah tertentu disebut rantai makanan.

1. Rantai makanan perumput

Rantai makanan yang dimulai dari produsen disebut rantai makanan perumput. Contoh rantai makanan perumput, yaitu rumput

belalang kadal burung elang.

Gambar 2.39. Contoh rantai makanan perumput.

2. Rantai makanan detritus

(64)

tanah ayam manusia. Contoh lainnya yaitu hancuran kotoran hewan nematoda kutu acarina

kalajengking.

Gambar 2.40. Jaring-jaring makanan adalah rantai makanan yang kompleks.

(65)

aliran energi dan daur elemen-elemen kimia di alam karena pada makanan terkandung energi dan materi.

G. Aliran Energi

Cahaya matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan. Energi matahari masuk ke dalam komponen biotik melalui produsen. Oleh produsen, energi cahaya matahari diubah menjadi energi kimia. Energi kimia mengalir dari produsen ke konsumen dari berbagai tingkat trofik melalui jalur rantai makanan. Jadi setiap organisme melakukan pemasukan dan penyimpanan energi dalam suatu ekosistem disebut produktivitas ekosistem. Produktivitas ekosistem terdiri dari produktivitas primer dan produktivitas sekunder.

Gambar 2.41. Aliran energi dalam suatu rantai makanan.

a. Produktivitas Primer

Produktivitas Primer adalah kecepatan mengubah cahaya matahari dalam bentuk bahan organik oleh organisme autotrof. Energi cahaya yang berasal dari matahari adalah sumber energi utama kehidupan.

(66)

dihasilkan oleh organisme autotrof disebut produktivitas primer kotor (PPK) dan bahan organik yang disimpan oleh organisme disebut produktivitas primer bersih (PPB). Kandungan air dari tubuh masing-masing organisme berbeda-beda. Oleh karena itu, cara yang paling baik adalah dengan mengukur berat kering dari semua bahan organik yang tersimpan, termasuk tubuh organisme, sehingga dihasilkan biomassa.

b. Produktivitas Sekunder

Produktivitas Sekunder adalah kecepatan energi kimia mengubah bahan organik menjadi simpanan energi kimia baru oleh organisme heterotrof. Bahan organik yang disimpan oleh organisme autotrof dapat digunakan sebagai makanan bagi organisme heterotrof.

Produktivitas sekunder akan berkurang pada setiap transfer energi dari satu tingkat trofik ke trosik berikutnya. Perbandingan produktivitas bersih antara satu tingkat trofik dengan trofik berikutnya disebut efisiensi ekologi.

Figur

Tabel 2.1. Satuan Makhluk hidup dalam ekosistem.
Tabel 2 1 Satuan Makhluk hidup dalam ekosistem . View in document p.12
Gambar 2.2. Peta ekosistem darat di dunia.
Gambar 2 2 Peta ekosistem darat di dunia . View in document p.19
Gambar 2.3. Bioma padang gurun.
Gambar 2 3 Bioma padang gurun . View in document p.20
Gambar 2.4. Padang rumput.
Gambar 2 4 Padang rumput . View in document p.22
Gambar 2.5. Kehidupan di bioma sabana
Gambar 2 5 Kehidupan di bioma sabana. View in document p.23
Gambar 2.6. Bioma stepa.
Gambar 2 6 Bioma stepa . View in document p.25
Gambar 2.9. Bioma taiga (homogen)
Gambar 2 9 Bioma taiga homogen . View in document p.29
Gambar 2.10. Bioma Tundra (Alpine)
Gambar 2 10 Bioma Tundra Alpine . View in document p.30
Gambar 2.17. Ekosistem pantai pasir.
Gambar 2 17 Ekosistem pantai pasir . View in document p.42
Gambar 2.22. Ekosistem buatan kebun kelapa sawit
Gambar 2 22 Ekosistem buatan kebun kelapa sawit. View in document p.46
Gambar 2.30. Ikan badut dengan anemon laut.
Gambar 2 30 Ikan badut dengan anemon laut . View in document p.52
Gambar 2.32. Persaingan antara populasi padi dan populasi
Gambar 2 32 Persaingan antara populasi padi dan populasi. View in document p.54
Gambar 2.33. Macan bertindak sebagai predator dan rusa sebagai
Gambar 2 33 Macan bertindak sebagai predator dan rusa sebagai. View in document p.55
Gambar 2.34. Kompetisi interspesifik.
Gambar 2 34 Kompetisi interspesifik . View in document p.56
Gambar 2.35. Kumpulan burung yang menjadi satu populasi.
Gambar 2 35 Kumpulan burung yang menjadi satu populasi . View in document p.57
Gambar 2.37. Kutu kayu adalah salah satu contoh detritivor.
Gambar 2 37 Kutu kayu adalah salah satu contoh detritivor . View in document p.59
Gambar 2.38. Rantai makanan.
Gambar 2 38 Rantai makanan . View in document p.60
Tabel 2.3. Struktur tingkat trofik dalam rantai makanan.
Tabel 2 3 Struktur tingkat trofik dalam rantai makanan . View in document p.62
Gambar 2.39. Contoh rantai makanan perumput.
Gambar 2 39 Contoh rantai makanan perumput . View in document p.63
Gambar 2.40. Jaring-jaring makanan adalah rantai makanan yang
Gambar 2 40 Jaring jaring makanan adalah rantai makanan yang. View in document p.64
Gambar 2.41. Aliran energi dalam suatu rantai makanan.
Gambar 2 41 Aliran energi dalam suatu rantai makanan . View in document p.65
Gambar 2.42. Piramida Ekologi
Gambar 2 42 Piramida Ekologi. View in document p.67
Gambar 2.43. Pada daur air, terjadi pergerakan air dalam organisme, di
Gambar 2 43 Pada daur air terjadi pergerakan air dalam organisme di. View in document p.68
Gambar 2.44. Pada daur karbon terjadi pergerakan karbon antara
Gambar 2 44 Pada daur karbon terjadi pergerakan karbon antara. View in document p.69
Gambar 2.45. Pada daur nitrogen terbentuk beberapa senyawa
Gambar 2 45 Pada daur nitrogen terbentuk beberapa senyawa. View in document p.71
Gambar 2.46. Daur fosfor.
Gambar 2 46 Daur fosfor . View in document p.72
Gambar 2.47. Daur sulfur yang melibatkan berbagai jenis bakteri.
Gambar 2 47 Daur sulfur yang melibatkan berbagai jenis bakteri . View in document p.73
Gambar 2.48. Letusan gunung merupakan suksesi primer.
Gambar 2 48 Letusan gunung merupakan suksesi primer . View in document p.74
Gambar 2.49. Kebakaran hutan dapat menyebabkan terjadinya
Gambar 2 49 Kebakaran hutan dapat menyebabkan terjadinya. View in document p.76
Gambar 2.50. Suksesi rawa menjadi daratan.
Gambar 2 50 Suksesi rawa menjadi daratan . View in document p.77

Referensi

Memperbarui...