TINJAUAN KRITIK SASTRA FEMINIS DALAM NOVEL MIMI LAN MINTUNO KARYA REMY SYLADO

81 

Teks penuh

(1)

TINJAUAN KRITIK SASTRA FEMINIS

DALAM NOVEL

MIMI LAN MINTUNO

KARYA REMY SYLADO

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret

Disusun oleh:

NINA KUSUMA DEWI

C0203042

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

TINJAUAN KRITIK SASTRA FEMINIS

DALAM NOVEL

MIMI LAN MINTUNO

KARYA REMY SYLADO

Disusun oleh

NINA KUSUMA DEWI C0203042

Telah disetujui oleh Pembimbing

Pembimbing

Dra. Murtini, M.S NIP 195707341983032001

Mengetahui

Ketua Jurusan Sastra Indonesia

(3)

TINJAUAN KRITIK SASTRA FEMINIS

DALAM NOVEL

MIMI LAN MINTUNO

KARYA REMY SYLADO

Disusun oleh NINA KUSUMA DEWI

C0203042

Telah disetujui oleh Tim Penguji Skripsi

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Pada Tanggal ...

Jabatan Nama Tanda tangan

Ketua

Drs. Ahmad Taufiq, M.Ag.

NIP 196010051986011001 ... Sekretaris

___________________________________

NIP ... Penguji I

Dra. Murtini, M.S.

NIP 195707341983032001 ... Penguji II

___________________________________

NIP ...

Dekan

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

(4)

PERNYATAAN

Nama : NINA KUSUMA DEWI NIM : C0203042

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul Tinjauan Kritik Sastra Feminis dalam Novel “Mimi lan Mintuno” Karya Remy Sylado adalah betul-betul karya sendiri, bukan plagiat, dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya dalam skripsi ini di beri tanda citasi (kutipan) dan ditunjukan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dari skripsi tersebut.

Surakarta, 26 Januari 2010 Yang membuat pernyataan

(5)

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk: 1. Kedua orang tuaku.

2. Adikku Yulia Rizky Nahariyah

3. Tri Rahayu, seseorang yang kehadirannya selalu memberi warna indah dalam hidupku.

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Tinjauan Kritik Sastra Feminis dalam Novel “Mimi lan Mintuno” Karya Remy Sylado. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini banyak mengalami kesulitan, dan hambatan. Namun, berkat bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu penulis menyampaikan terimakasih kepada :

1. Drs. Sudarno, M.A. selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

2. Drs. Ahmad Taufiq, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, yang telah memberikan izin dan kemudahan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

3. Dra. Murtini, M.S. selaku pembimbing akademik yang telah mendampingi penulis selama masa studi, sekaligus pembimbing skripsi yang dengan sabar dan cermat telah memberikan saran-saran serta pengarahan untuk perbaikan skripsi ini.

4. Bapak dan ibu dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa khususnya jurusan Sastra Indonesia, yang telah memberikan ilmu dan wawasan bagi penulis.

(7)

7. Tri Rahayu, terimakasih untuk ketulusan, kesabaran, dan kepercayaan yang selalu diberikan kepada penulis.

8. Sahabat-sahabat demisioner LPM Kalpadruma periode 2004-2005

9. Kawan-kawan tercinta jurusan Sastra Indonesia angkatan 2003

10. Seluruh staf tata usaha dan karyawan Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret.

Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu dengan penuh keterbukaan, segala bentuk kritik dan saran dari pembaca sangat penulis diharapkan. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret.

Surakarta, 28 Januari 2009

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR BAGAN ... xi

DAFTAR SINGKATAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pembatasan Masalah ... 4

C. Perumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat Penelitian ... 5

F. Sistematika Penyajian ... 6

(9)

B. Pengertian Feminisme dan Kritik Sastra Feminisme ... 10

C. Citra Perempuan ... 16

D. Kerangka Pikir ... 18

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode ... 21

B. Pendekatan ... 21

C. Sumber Data dan Data ... 21

D. Teknik Pengumpulan Data ... 22

E. Teknik Analisis Data ... 23

BAB IV ANALISIS A. Citra Perempuan Dalam Novel Mimi lan Mintuno ... 25

1. Sebagai Makhluk Individu ... 25

a. Citra Indayati dalam Aspek Fisik... 25

b. Citra Indayati dalam Aspek Psikis ... 27

c. Citra diri Indayati ... 33

2. Sebagai Makhluk Sosial ... 35

B. Tokoh-tokoh dalam Novel Mimi lan Mintuno ... 40

1. Tokoh Profeminis ... 40

a. Indayati... 41

b. Bulik Ning ... 42

c. Siti Anastasia... 43

2. Tokoh Kontrafeminis ... 45

(10)

2. Sean PV ... 47

3. Kiki Wigagu ... 48

4. Dul Dower ... 50

C. Representasi Feminisme dalam Novel Mimi lan Mintuno ... 51

1. Stereotipe Perempuan ... 53

2. Subordinasi (Penomorduaan) ... 54

3. Kekerasan Terhadap Indayati ... 56

a. Kekerasan Domestik ... 57

b. Kekerasan Publik ... 58

D. Representasi Feminisme Pengarang di Tengah Kultur Jawa .. 62

1. Patuh dan Taat ... 63

2. Perempuan Milik Suami... 64

3. Nrimo atau Pasrah ... 65

4. Perlindungan dan Pertolongan Suami ... 66

BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 68

B. Saran... 70

C. Daftar Pustaka ... 71

(11)

DAFTAR BAGAN

(12)

DAFTAR SINGKATAN

ASI : Air Susu Ibu

HAM : Hak Asasi Manusia IQ : Intelegence Quatent

KDRT : Kekerasan Dalam Rumah Tangga MlM : Mimi lan Mintuno

PBB : Perserikatan Bangsa-Bangsa PHK : Pemutusan Hubungan Kerja Sean PV : Sean Paul Vijfhuis

UGM : Universitas Gadjah Mada

UMS : Universitas Muhammadiyah Surakarta Undip : Universitas Diponegoro

Perbakin : Persatuan Penembak Indonesia SWT : Subhanahu Wa Ta’ala

(13)

ABSTRAK

Nina Kusuma Dewi. C0203042. 2010. Tinjauan Kritik Sastra Feminis dalam Novel “Mimi lan Mintuno” Karya Remy Sylado. Skripsi: Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu (1) bagaimana citra tokoh Indayati yang dilihat dari aspek fisik, aspek psikis, dan sebagai makhluk sosial? (2) Bagaimana identifikasi tokoh profeminis dan tokoh kontrafeminis dalam novel Mimi lan Mintuno? (3) Sikap pengarang dalam merepresentasikan feminisme melalui novel Mimi lan Mintuno?

Adapun tujuan dalam penelitian ini, yaitu (1) mendeskripsikan citra tokoh Indayati, yang dilihat dari citra fisik, citra psikis, dan citra sosial. (2) Mendeskripsikan tokoh profeminis dan tokoh kontra feminis dalam novel Mimi lan Mintuno. (3) Mendeskripsikan sikap pengarang dalam merepresentasikan feminisme melalui novel Mimi lan Mintuno.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Data penelitian ini merupakan data deskriptif yang berupa kata-kata, frase, klausa, ataupun kalimat, dalam bentuk pikiran, ungkapan, dan dialog antar tokoh. Data diperoleh dengan menggunakan teknik studi pustaka. Teknik analisis dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Dari analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal: (1) citra Indayati sebagai makhluk individu terdiri dari aspek fisik dan aspek psikis. Secara fisik Indayati digambarkan sebagai perempuan yang cantik serta dikaruniai tubuh yang proporsional. Selanjutnya, dari aspek psikis Indayati merupakan sosok perempuan yang penyabar, mandiri, tegar, dan optimis. Citra Indayati sebagai makhuk sosial dilihat melalui peran dan kedudukannya sebagai seorang istri dan ibu. Indayati hidup dalam masyarakatJawa yang menganut garis keturunan patrilineal sehingga dalam budaya masyarakatnya, perempuan di pandang menempati kedudukan yang inferior atau lebih rendah daripada laki-laki. Dalam lingkungan sosial, Indayati cenderung menganggap bahwa perempuan sudah sewajarnya hidup terbatas dalam lingkungan rumah tangga dengan tugas utama mengurus suami dan anak. Keputusan Indayati yang memilih mengakhiri rumah tangga, menunjukkan bahwa dia merupakan sosok perempuan yang memperjuangkan hak-haknya sebagai manusia. Indayati tidak ingin terbelenggu dalam rumah tangga yang selalu membuatnya tersiksa secara lahir maupun batin. Keputusan tersebut merupakan wujud pemberontakan diri dan perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan keadilan. Berkat ketegaran dan sikap optimis dalam menentukan pilihan hidup, Indayati akhirnya berhasil keluar sebagai “pemenang” (dari situasi yang berat). (2) Tokoh profeminis adalah tokoh yang memiliki hubungan dengan kemunculan ide-ide feminis. Dalam novel Mimi lan Mintuno dengan kriteria-kriteria feminis yang ditampilkan di antaranya, sosok yang perempuan optimis, berani mandiri, kuat, tegar dalam menghadapi cobaan hidup, dan mampu memperjuangkan hak dan kepentingannya sebagai perempuan. Tokoh-tokoh yang termasuk profeminis di antaranya, Indayati dan Listuhayuningsih atau Bulik Ning. Di sisi lain tokoh kontrafeminis menampilkan tokoh yang melakukan ketidakadilan terhadap perempuan, seperti penindasan, stereotype, subordinasi, dan kekerasan, di antaranya, Petruk, Sean PV, Kiki Wigagu, dan Dul Dower. (3) Di dalam memaparkan ide-ide dan gagasannya, seorang penulis tidak dapat lepas dari kondisi sosial, budaya, dan lingkungan masyarakatnya. Remy Sylado yang sangat lekat dengan budaya Jawa, secara tidak langsung membawa pengaruh tradisi tersebut terhadap karyanya novel

(14)
(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karya sastra pada hakikatnya merupakan seni yang bermediumkan bahasa dan tercipta melalui proses yang intensif, selektif, dan subjektif. Penciptaan suatu karya sastra bermula dari pengalaman batin pengarang yang dikonstruksikan dengan imajinasi sehingga akan dihasilkan sebuah karya yang tidak sekedar menghibur, tetapi juga sarat dengan makna dan mempunyai nilai edukatif.

Makna yang terkandung di dalam karya sastra diharapkan mampu memberikan kepuasan intelektual dan kekayaan batin bagi para penikmatnya. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya, karya tersebut sering tidak dapat dipahami dan dinikmati sepenuhnya oleh sebagian besar masyarakat pembacanya. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian sastra agar sebuah karya sastra dapat dipahami, dan dinikmati oleh para penikmat sastra (Atar Semi, 1993:1).

(16)

sehingga kondisi ini membuat perempuan berada dalam posisi yang tertindas, inferior, dan tidak memiliki kebebasan atas diri dan hidupnya.

Beragam permasalahan pelik yang muncul akibat dominasi patriarki juga mewarnai novel Mimi lan Mintuno(MlM) karya Remy Sylado. Secara umum novel

Mimi lan Mintuno banyak memberikan gambaran mengenai perjuangan perempuan di tengah ketertindasan yang dialaminya. Sosok perempuan yang ditampilkan Remy Sylado dalam novel Mimi lan Mintuno adalah Indayati, seorang perempuan yang berasal dari kaum marjinal atau golongan ekonomi rendah. Setelah suaminya tidak bekerja karena pemutusan hubungan kerja (PHK), Indayati harus berjuang melawan kerasnya hidup di tengah keterpurukan ekonomi rumah tangga. Bahkan, penderitaan Indayati semakin bertambah dengan perlakuan kasar yang dilakukan oleh suaminya. Indayati yang sudah tidak tahan menerima siksaan lahir batin yang terus menderanya, kemudian bertekad meninggalkan rumah dan suaminya.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, novel Mimi lan Mintuno

merupakan novel yang menggambarkan perjuangan perempuan yang mengalami penindasan dan ketidakadilan dalam rumah tangga. Selain itu, novel Mimi lan

Mintuno juga menyertakan pandangan tentang perlunya kaum perempuan melakukan perubahan dalam diri untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan layak.

Secara umum novel Mimi lan Mintuno memiliki daya tarik tersendiri karena menampilkan permasalahan dan eksistensi perempuan di tengah format-format patriarki yang kurang menguntungkan posisi perempuan. Permasalahan perempuan dianggap berkaitan dengan pandangan masyarakat yang secara tidak langsung dirasakan merugikan perempuan. Pandangan tersebut berasal dari paham kekuasaan patriarki atau patriarchal power yang menganggap kekuasaan di tangan laki-laki.

(17)

saat ini begitu sering disebut-sebut oleh banyak lembaga swadaya manusia, dan juga kalangan pemerintahan.

Kedua, dalam novel Mimi lan Mintuno Remy Sylado mencoba mengkritik keberadaan perempuan dalam masyarakat tradisional yang harus patuh pada aturan suami. Hal tersebut sangat menarik, karena teks yang ditulis laki-laki masih diragukan dapat mendeskripsikan perempuan secara mendalam. Ketiga, dari hasil pengamatan yang diperoleh penulis melalui studi pustaka selama proses penulisan skripsi ini pada beberapa universitas, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan Universitas Widya Dharma Yogyakarta menunjukan bahwa novel Mimi lan Mintuno belum pernah diteliti dengan menggunakan teori kritik sastra feminis. Oleh karena itu, penulis memilih novel tersebut sebagai sumber data, beserta permasalahan-permasalahan yang terkait di atas untuk diteliti.

(18)

banyak berhubungan dengan budaya, sastra dan kehidupan (Sugihastuti dan Suharto, 2005: 37). Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini mengambil judul “Tinjauan Kritik Sastra Feminis dalam Novel Mimi lan Mintuno Karya Remy Sylado”.

B. Pembatasan Masalah

Pembahasan dalam penelitian ini dibatasi pada :

1. Analisis penelitian ini difokuskan dengan menggunakan kritik sastra feminis 2. Citra perempuan dalam penelitian ini dibatasi pada citra tokoh Indayati 3. Sikap pengarang hanya difokukan dalam merepresentasikan feminisme

melalui novel Mimi lan Mintuno

C. Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah citra perempuan dalam Mimi lan Mintuno, sebagai makhluk individu yang dilihat dari aspek fisik dan aspek psikis serta sebagai makhluk sosial?

2. Bagaimanakah identifiksi tokoh profeminis dan tokoh kontrafeminis dalam novel Mimi lan Mintuno?

3. Bagaimanakah sikap pengarang dalam merepresentasikan feminisme melalui novel Mimi lan Mintuno?

D. Tujuan Penelitian

(19)

1. Mendeskripsikan citra perempuan dalam novel Mimi lan Mintuno, sebagai makhluk individu yang dilihat dari aspek fisik, dan aspek psikis, serta sebagai makhluk sosial

2. Mendeskripsikan identifikasi tokoh profeminis dan tokoh kontrafeminis dalam novel Mimi lan Mintuno

3. Mendeskripsikan sikap pengarang dalam merepresentasikan feminisme melalui novel Mimi lan Mintuno

E.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pembaca, baik yang bersifat teoretis maupun praktis.

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis penelitian ini bermanfaat untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam menganalisa novel, terutama penerapan teori kritik sastra feminis untuk. meneliti karya sastra.

2. Manfaat Praktis

(20)

yang sederajat sehingga masing-masing pihak harus dapat saling menghargai dan menghormati.

F.

Sistematika Penyajian

Sistematika penelitian diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai langkah-langkah penelitian yang dilakukan. Sistematika dalam penelitian ini sebagai berikut.

Bab pertama pendahuluan.Bab ini berisi latar belakang pemilihan novel Mimi lan Mintuno sebagai objek penelitian. Kemudian, pembatasan masalah yang mencakup pokok-pokok permasalahan yang diteliti. Perumusan masalah berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan diteliti. Selanjutnya, tujuan penelitian untuk menjawab rumusan masalah. Manfaat penelitian berisi tentang kegunaan penelitian baik secara teoretis maupun secara praktis serta sistematika penulisan yang berisi tentang susunan yang runtut dalam melakukan penelitian.

Bab kedua landasan teori. Landasan teori berisi kajian pustaka yang menampilkan teori-teori ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan yang hendak dianalisa.

(21)

sastra feminis. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pustaka; selanjutnya teknik analisis data menjelaskan tahap-tahap yang dalam menganalisis data, validasi data, dan penarikan kesimpulan.

Bab keempat memuat analisis teks novel Mimi lan Mintuno, dengan memaparkan citra perempuan dalam novel Mimi lan Mintuno, sebagai makhluk individu yang dilihat dari aspek fisik, dan aspek psikis, serta sebagai makhluk sosial yang dilihat melalui perannya dalam keluarga dan masyarakat, identifikasi tokoh profeminis dan tokoh kontra feminis dalam novel Mimi lan Mintuno, serta sikap pengarang dalam merepresentasikan paham feminisme melalui novel Mimi lan Mintuno.

Bab kelima penutup yang berisi simpulan dan saran dari hasil analisis novel

Mimi lan Mintuno.

(22)

BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

A. Konsep Seks dan Gender

Secara universal perempuan berbeda dengan laki-laki. Perbedaan tersebut tidak hanya terbatas pada kriteria biologis, melainkan juga pada kriteria sosial budaya, yang selanjutnya terwakili dalam dua konsep, yaitu seks (jenis kelamin) dan

gender.

Pengertian seks secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi-biologi. Seks mengacu pada struktur, mekanisme reproduksi, hormon, dan ciri-ciri fisik, misalnya laki-laki mempunyai penis, memiliki jakala (kala menjing) dan memproduksi sperma, sedangkan perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, memiliki vagina, dan memproduksi ASI (Air Susu Ibu). Secara biologis alat-alat tersebut bersifat permanen, tidak dapat dipertukarkan antara satu dengan yang lain dan telah menjadi ketentuan Tuhan yang diberikan pada manusia sejak lahir atau sering disebut sebagai kodrat (Mansour Fakih, 2005: 8)

(23)

dapat berubah-ubah tergantung pada waktu (tren) dan tempatnya. Proses terbentuknya gender disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya dengan dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, dan dikontruksi baik secara sosial maupun kultural. Jika dilihat dari sejarah terbentuknya, perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan telah melalui proses yang sangat panjang, sehingga tidak jarang membuat sebagian orang menganggap gender adalah kodrat yang bersumber dari Tuhan YME.

Menurut Mansour Fakih, perbedaan gender pada dasarnya tidak akan menimbulkan masalah, sepanjang tidak menciptakan ketidakadilan bagi salah satu pihak. Namun, yang menjadi persoalan, perbedaan gender tersebut justru melahirkan berbagai ketidakadilan, terutama terhadap perempuan (Mansour Fakih, 2005:12). Ketidakadilan gender pada perempuan terjadi ketika laki-laki memandang perempuan hanya sebagai “pelengkap” dari laki-laki dalam ruang domestik, dengan fungsi melayani suami dan dianggap tidak mempunyai peran dalam masyarakat. Pemahaman seperti ini berpengaruh terhadap status dan kedudukan perempuan hampir diseluruh aspek kehidupan, sebab dampaknya menjadikan perempuan sangat rentan mengalami kekerasan baik di lingkup keluarga maupun di sektor publik. Pengertian diskriminasi gender atau ketidakadilan terhadap perempuan adalah:

Setiap pembedaan, pengucilan atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin, yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak-hak asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, sipil, atau apapun oleh kaum perempuan, terlepas dari status perkawinan mereka, atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan (Valentina Sagala, R. dan Ellin Rozana, 2007: 18).

(24)

untuk meniadakan pengakuan, atau penggunaan hak dan kebebasan fundamental lainnya bagi perempuan adalah tindakan diskriminasi gender. Diskriminasi gender yang dipaparkan di atas juga mencakup kekerasan yang berbasis gender, yaitu kekerasan yang ditujukan terhadap perempuan, atau hal-hal yang memberi akibat negatif pada perempuan secara tidak proporsional, termasuk tindakan-tindakan yang mengakibatkan penderitaan fisik, mental, maupun paksaan/perampasan kebebasan. Mansour Fakih menyatakan bahwa ketidakadilan atau diskriminasi gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk yaitu meliputi, proses pemiskinan ekonomi (marginalisasi), menanggung beban kerja ganda/berlebih, menganggap perempuan sebagai bagian (sub-ordinat) dari laki-laki, citra buruk melalui pelabelan negatif (stereotype), serta kekerasan terhadap perempuan baik secara fisik, verbal, maupun psikologis (Mansour Fakih, 2005: 12). Untuk memberikan pengertian yang jelas mengenai kekerasan terhadap perempuan, “Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan” yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1993, menetapkan definisi tersebut pada pasal 1, yang berbunyi :

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual dan psikologis, termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum maupan dalam kehidupan pribadi (Valentina Sagala, R. dan Ellin Rozana, 2007: 18).

B. Pengertian Feminisme dan Kritik Sastra Feminis

(25)

dan maju (Sugihastuti dan Suharto, 2005:61). Kemunculan gerakan feminis ditengarai sebagai bentuk perlawanan terhadap struktur sosial-budaya masyarakat yang terlanjur mapan menempatkan perempuan di bawah posisi laki-laki sehingga secara tidak langsung menyeret perempuan dalam situasi ketidakadilan gender.

(26)

pada laki-laki yang telah mengakar secara sistemik pada lembaga sosial, politik, ekonomi, agama, dan budaya.

Feminisme terbagi atas beberapa aliran yang didasarkan ada sudut pandang dalam melihat masalah, penekanan, dan alternatif solusi perlawanannya. Aliran-aliran tersebut di antaranya, feminisme liberal, feminisme radikal, dan feminisme marxis, dan feminisme sosialis.

1. Feminis Liberal

(27)

berpartisipasi dalam masyarakat. Untuk itu strategi pemberdayaan perempuan dapat dilakukan dengan mengintegrasikan perempuan dalam proses pembangunan, tanpa harus mengubah struktur secara menyeluruh. (Mansour Fakih, 2005: 81)

2. Feminis Radikal

Menurut aliran feminis radikal penindasan kaum perempuan berakar dari kondisi biologis, yaitu perempuan dipandang lebih lemah daripada laki-laki. Gerakan ini berupaya menghancurkan patriarki sebagai suatu sistem yang melembaga di dalam masyarakat. Tugas utama feminis radikal adalah menolak intuisi keluarga. Bagi mereka keluarga dianggap sebagai intuisi yang melegitimasi dominasi laki-laki (patriarki) sehingga perempuan tertindas Kelompok yang paling ekstrem dari aliran feminis radikal adalah kelompok lesbian karena berusaha memutuskan hubungan dengan laki-laki. Aliran radikal bersikap menentang keras segala bentuk diskriminasi pria terhadap perempuan. (Arif Budiman, 1981: 46)

3. Feminis Marxis

(28)

4. Feminisme Sosialis

Menurut feminis sosialis, penindasan terhadap perempuan berasal dari perbedaan biologis, sehingga feminis sosialis dapat dikatakan masih sepaham dengan feminisme radikal yang menganggap patriarki sebagai sumber penindasan terhadap perempuan. Namun di sisi lain, aliran ini juga sejalan dengan paham feminis marxis yang menganggap ketidakadilan terhadap perempuan merupakan hasil konstruksi sosial yang disebabkan oleh penilaian dan anggapan sosial serta menyatakan bahwa kapitalisme adalah sumber penindasan perempuan. Berdasarkan pandangan tersebut, feminis sosialis sering disebut sebagai penggabungan antara paham feminis marxis dan feminis radikal. Feminis sosialis menggunakan analisis kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Agenda perjuangan sosialis adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki karena menurut mereka perempuan ditekan oleh kapitalisme dan patriarki untuk mencapai nilai esensi mereka. Hanya saja banyak perempuan yang tidak sadar bahwa mereka adalah kelompok yang ditindas oleh sistem patriarki. Oleh karena itu, proses penyadaran sebagai usaha untuk membangkitkan rasa emosi pada para perempuan agar mereka bangkit untuk mengubah keadaannya merupakan tema sentral dari gerakan feminisme sosialis.

(29)

perempuan adalah sebuah objek utuh yang memiliki daya dan kedaulatan yang sama dengan laki-laki. Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman mengenai perjuangan feminis, hal penting yang perlu dipahami yaitu, pada dasarnya tujuan feminisme bukan untuk mencari kemenangan suatu kelompok atas kelompok lainnya (dalam hal ini perempuan atas laki-laki) atau pemusatan kekuasaan di satu pihak, melainkan penataan kembali segenap segi masyarakat tanpa penindasan.

(30)

Adapun ragam kritik sastra menurut Soenarjati Djajanegara, pertama, kritik sastra feminis ideologis yaitu kritik sastra yang melibatkan perempuan sebagai pembaca dengan memusatkan perhatian pada citra dan stereotipe perempuan dalam karya sastra. Kedua, ginokritik yaitu kritik sastra feminis yang mengkaji penulis-penulis perempuan, termasuk tentang sejarah karya sastra perempuan, gaya penulis-penulisan, tema, genre, dan struktur tulisan perempuan. Jenis kritik sastra feminis ini meneliti perbedaan mendasar antara penulis laki-laki dengan penulis perempuan. Ketiga, kritik sastra feminis Marxis, yaitu meneliti tokoh-tokoh perempuan dari sudut pandang sosial, kelas-kelas masyarakat, dan mengungkapkan bahwa perempuan merupakan kelas masyarakat yang tertindas. Keempat, kritik sastra feminis-psikoanalitik, kritik ini cenderung diterapkan pada tulisan perempuan yang menampilkan tokoh-tokoh perempuan. Dengan mengkaji penulis serta tokoh-tokoh perempuan yang ditampilkan dari sisi feminim seperti affective, empathic, dan nurturant, maka akan diperoleh contoh bagaimana cara penulis dan pembaca perempuan memasuki teks untuk mengidentifikasikan diri. Kelima, kritik sastra feminis-lesbian yang meneliti penulis dan tokoh perempuan, dengan tujuan mengembangkan suatu definisi yang cermat tentang makna lesbian Keenam, kritik sastra feminis ras atau etnik, yaitu kritik sastra yang ingin membuktikan keberadaan sekelompok penulis etnik beserta karya-karyanya (Soenarjati Djajanegara, 2000: 28-32).

(31)

Citra artinya gambar atau pikiran yang dapat berupa gambaran yang dimiliki orang banyak mengenai pribadi seseorang. Kata citra diartikan sebagai “kesan mental” atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh rangkaian kata, frase, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa, puisi, dan drama (Yuliana Agussalim, 2000: 114). Mengenai istilah “citraan”, Altenbernd

mendefinisikan sebagai gambar-gambar, pikiran dan bahasa yang menggambarkan sesuatu (dalam Sugihastuti, 2000: 43). Adapun kata “citra perempuan” merupakan gambaran-gambaran yang ditimbulkan oleh pikiran, pendengaran, penglihatan, perabaan, atau pengecapan tentang perempuan. Namun, karena di antara berbagai macam citra itu, citra pemikiran tentang perempuan lebih dominan, citra perempuan dapat disebut juga citra pemikiran tentang perempuan.

(32)

1. Citra perempuan ditinjau dari segi fisik, yaitu gambaran tentang perempuan yang dilihat dari berdasarkan ciri-ciri fisik atau lahiriah seperti; a) Usia

b) Jenis Kelamin c) Keadaan tubuh d) Ciri muka

2. Citra perempuan yang ditinjau dari segi psikis atau kejiwaan, yaitu gambaran tentang perempuan yang dilihat dari segi psikologisnya.

a) mentalitas, ukuran moral, dapat membedakan yang baik dan tidak baik, dan antara yang benar dan tidak benar.

b) Temperamen, keinginan, dan perasaan pribadi, sikap dan perilaku c) IQ (Intelegence Quatent) atau tingkat kecerdasan

3. Citra perempuan ditinjau dari segi sosial, yaitu gambaran tentang perempuan yang dilihat berdasarkan ciri-ciri sosiologis

a) pekerjaan, jabatan, peran dalam masyarakat b) tingkat pendidikan

c) pandangan hidup, agama, kepercayaan, ideologi d) bangsa, suku

e) kehidupan pribadi

D. Kerangka Pikir

(33)

mendapatkan data-data yang nantinya akan digunakan dalam penelitian. Langkah kedua, mengidentifikasi tokoh perempuan yang bernama Indayati, dengan cara memperhatikan pendirian, ucapan-ucapan serta dialog-dialog yang melibatkan Indayati dengan tokoh-tokoh lainnya. Berdasarkan langkah itu akan diperoleh keterangan mengenai watak dan jalan pikiran Indayati. Langkah selanjutnya adalah mencari kedudukan dan peran Indayati di dalam keluarga dan masyarakat.

Setelah mengetahui karakter tokoh utama Indayati, maka langkah berikutnya adalah melakukan identifikasi terhadap tokoh-tokoh lain, terutama tokoh laki-laki yang memiliki keterikatan dengan tokoh perempuan yang sedang diamati. Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh keterangan mengenai tokoh-tokoh yang mendukung feminis (profeminis) atau pun tokoh-tokoh yang ditentang feminis (kontrafeminis).

(34)

karya-karya milik pengarang bisa membantu dalam memahami sikap dan sudut pandang pengarang. Berdasarkan langkah-langkah tersebut di atas, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa di dalam memaparkan ide-ide dan gagasannya, seorang pengarang tidak dapat lepas dari kondisi sosial, budaya dan lingkungan masyarakatnya.

Bagan 1 Skema Kerangka Pikir

Karya Sastra Novel Mimi lan Mintuno

Sikap Pengarang Remy Sylado

Pendekatan Kritik Sastra Feminis

Profeminis Kontrafeminis

(35)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Oleh karena itu, merujuk pada penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata, frase, klausa, kalimat, ataupun paragraf.

B.

Pendekatan

Pendekatan pada penelitian sastra, pada dasarnya untuk memahami

jenis sastra sesuai dengan sifatnya (Soediro Satoto, 1994:9). Pendekatan

yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kritik sastra

feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisisnya pada

perempuan. Kritik sastra feminis merupakan sebuah kritik yang

memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin

yang berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia

(Sugihastuti dan Suharto, 2005: 5)

C. Sumber Data dan Data

(36)

pertama, yang terdiri dari 284 halaman. Berkenaan dengan sumber data yang berupa karya sastra, maka untuk selanjutnya akan menghasilkan data deskriptif kualitatif yang berupa kata-kata, frase, klausa, ataupun kalimat, yang membentuk pikiran dan ungkapan tokoh.

D.

Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, digunakan teknik kepustakaan atau studi pustaka. Teknik kepustakaan (library research), yaitu teknik yang dilakukan dengan mencari, mengumpulkan, dan mempelajari buku acuan, artikel atau tulisan lain yang berhubungan dengan objek penelitian (Nasution S dan M. Thomas, 1999:81). Hal tersebut dimaksudkan untuk mencapai konsepsi dan pandangan yang mempunyai kaitan dengan pokok permasalahan. Melalui langkah ini dapat diperoleh data yang memadai mengenai masalah yang diteliti

E. Teknik Analisis Data

(37)

Dalam proses pengumpulan data, tahapan-tahapan tersebut membentuk komponen yang saling berinteraksi sebagai proses siklus yang dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

Bagan 2

Skema Analisis Data Model Analisis Interaktif

Dalam penelitian ini, akan digunakan teknik analisis data melalui beberapa tahap, yaitu (1) pengumpulan data. Pada tahapan ini akan dilakukan pencatatan hal-hal yang penting dan berkaitan dengan penelitian, baik dari artikel maupun buku-buku yang menunjang. (2) Reduksi data dilakukan degan proses seleksi data, pemfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi data mentah. Dalam reduksi data ini, data yang telah terkumpul diklasifikasikan kemudian diseleksi dan dihilangkan yang tidak perlu untuk mendapatkan fokus penelitian, yaitu data yang berhubungan dengan objek penelitian. (3) Teknik penyajian data merupakan proses merakit atau

Pengumpulan

Reduksi Data Penyajian Data

(38)
(39)

BAB IV

ANALISIS

A. Citra Perempuan dalam Novel Mimi lan Mintuno

1. Sebagai Makhluk Individu

Dalam analisis ini akan diuraikan citra perempuan, yang terekspresi oleh tokoh yang bernama Indayati. Citra perempuan sebagai makhluk individu terbagi dalam dua kategori, yaitu citra Indayati dalam aspek fisik, dan aspek psikis.

a. Citra Indayati dalam Aspek Fisik

Untuk menggambarkan citra fisik tokoh Indayati, akan dibahas dengan menguraikan keadaan fisik Indayati dari jenis kelamin, usia, keadaan tubuh, dan ciri-ciri wajah. Dari segi fisik Indayati digambarkan sebagai perempuan yang cantik, berkulit kuning langsat, hidung mancung, dan rambut lurus panjang. Selain dikaruniai wajah yang cantik Indayati juga memiliki postur tubuh yang proporsional. Perhatikan kutipan berikut.

Bunda menyandar di jendela, dan dengan begitu dia melirik ke arah Indayati di balik kacamata Carera-nya. Tampak benar betapa dia memperhatikan dengan kesenangan tertentu di hati akan bentuk tubuh Indayati... Dalam amatannya sekarang ini dia berani berkata kepada dirinya, bahwa Indayati adalah sesungguhnya perempuan cantik, seksi, sensual. (Remy Sylado, 2007: 31)

(40)

umumnya yang senang merias diri, dia cenderung lugu dan tidak suka berdandan. Perhatikan kutipanberikut.

Di laci itu tidak ada alat-alat rias yang lazim bagi perempuan – sebab memang Indayati tidak biasa merias-rias diri – kecuali bedak yang mengandung mentol, jepit rambut, bando, karet gelang, sisir, dan gunting kuku. (Remy Sylado, 2007: 29)

Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa dari ciri fisiknya Indayati lebih suka berpenampilan sederhana, tidak terlalu memperhatikan penampilannya, dan cenderung apa adanya

Apabila dilihat dari tingkat kedewasaan melalui faktor usia, Indayati yang telah berusia 22 tahun termasuk dalam kategori perempuan dewasa. Status “dewasa” dapat dilihat berdasarkan pada tingkat kematangan fisik atau apabila pertumbuhan pubertas telah selesai dan apabila organ kelamin anak telah mampu bereproduksi. Secara fisiologis, perempuan dewasa dapat dicirikan oleh tanda-tanda jasmaninya, melalui perubahan-perubahan fisik, seperti tumbuhnya bulu di bagian tubuh tertentu, perubahan suara, dan lain sebagainya. Seperti halnya perempuan dewasa pada umumnya, secara fisiologis Indayati juga telah mengalami fase-fase perubahan fisik tersebut. Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa perempuan dewasa merupakan sosok individu, hasil dari pembentukan proses biologis bayi perempuan, yang dalam perjalanan usianya telah mencapai taraf kedewasaan.

(41)

perempuan tersebut tidak dapat diubah, sebab perempuan memang sudah dikodratkan berbeda dengan pria sejak awal terbentuknya kromosom.

b. Citra Indayati Dalam Aspek Psikis

(42)

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pengertian pernikahan adalah “ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” ( http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-perkawinan-pernikahan-dan-dasar-tujuan-nikah-kawin-manusia).

Mengacu pada pengertian pernikahan yang terdapat pada Undang-Undang tersebut maka pernikahan dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Namun, pada pernikahan Indayati dan Petruk yang seharusnya bertujuan untuk membentuk keluarga bahagia telah ternodai dengan tindakan Petruk yang selalu menganiaya dan menindas Indayati.

Dalam teks novel Mimi lan Mintuno terlihat bahwa citra psikis tokoh Indayati menunjukkan kejiwaan seorang perempuan dewasa, yang telah memahami arti

(43)

Dia menangis. Tengkurap di ranjangnya. Tapi tengkurap rasanya salah. Maka dia berbalik terlentang. Tapi terlentang pun rasanya salah. Lalu dia menghadap dinding. Lagi, menghadap dinding pun salah. Semua-muanya terasa salah. Serba salah. (Remy Sylado, 2007: 100)

Dalam diam barangkali ada 1000 kata sesal yang bisa disembuhkan. Namun ada 1000 kata sangkal yang meyadarkan indranya bahwa yang sudah terjadi dalam perbuatan, takkan bisa lagi dihapus dengan stip, kecuali menggantikannya dengan tekad untuk mengubah nasib pada hari-hari mendatang. (Remy Sylado, 2007: 181)

Biarpun perbuatan asusila yang telah dilakukan Indayati adalah paksaan dan di luar kehendaknya tetapi hal tersebut menimbulkan rasa sesal dan bersalah baginya. Indayati merasa harus menanggung konsekuensi dan pertanggungjawaban atas perbuatan tersebut terhadap Tuhan. Rasa tanggungjawab kepada Tuhan untuk memperbaiki kesalahannya menandai ciri psikis Indayati sebagai perempuan dewasa yang telah memahami norma-norma yang harus dijunjungnya. Hal tersebut senada dengan Kartini Kartono yang mengungkapkan bahwa dalam aspek psikisnya, kejiwaan wanita dewasa ditandai antara lain oleh sikap pertanggungjawaban penuh terhadap diri sendiri, bertanggung jawab atas nasib sendiri, dan atas pembentukan diri sendiri (Kartini Kartono, 1981: 175)

Secara psikis Indayati telah menjadi seorang ibu, mempunyai kepekaan naluri yang kuat terhadap anaknya, perhatikan kutipan-kutipan berikut ini. “Dia peluk anaknya itu. Menangis pula. Tanpa air mata. Luka di hati kiranya lebih perih pedih ketimbang luka di badan. Juga, cadangan airmatanya pun sudah kering, asat...” (Remy Sylado, 2007: 1). “Kemarin-kemarin Indayati masih berdoa, berharap siapa tahu ada mukjizat yang bisa mengubah kelakuan Petruk.” (Remy Sylado, 2007: 1)

(44)

Secara psikis Indayati juga digambarkan sebagai sosok perempuan yang optimis dalam menjalani hidupnya, meskipun kehidupan rumah tangganya tidak seperti yang diharapkan, namun Indayati masih mencoba tetap bertahan dan berjuang demi anaknya. Perhatikan kutipan berikut.

Dia menangis tak berdaya. Namun dalam begini muncul sebuah sosok dalam pikirannya yang terucapkan namanya dengan cinta dan penyesalan, tapi alih-alih membuat harkatnya tetap permai rindang dipayungi rasa percaya diri. “Eka anakku,” katanya meyebut nama sosok itu. (Remy Sylado, 2007: 101)

Dari kutipan di atas, menunjukan bahwa pada saat menghadapi berbagai cobaan yang datang dalam kehidupannya, Indayati berusaha tetap tegar dan percaya diri untuk menghadapi segala persoalan yang menimpanya, bagi Indayati anak semata wayangnya menjadi sebuah pendorong semangat.

Sebuah konsep teoretis yang dikemukakan oleh Kartini Kartono disebutkan bahwa perempuan dan laki-laki dilahirkan secara biopsikologi yang berbeda dan perbedaan itu konstitusional serta berpengaruh pada terjadinya perbedaan perkembangan kepribadian antara perempuan dan laki-laki (Kartini Kartono, 1981: 183). Perempuan mempunyai kecenderungan lebih mengedepankan perasaan daripada logika. Ciri psikis perempuan yang dikemukakan Kartini Kartono tersebut juga menandai citra psikis Indayati. Indayati yang pada dasarnya mencitrakan psikis perempuan yang mandiri, tegar, kuat, dan optimis, sempat merasa tak berdaya akibat terbawa perasaan, dan membuatnya bertindak tanpa logika. Perhatikan kutipan berikut.

Dia memang kalut sekali. Dia bangkit dari ranjangnya. Berdiri di pintu. Dibukannya pintu itu. Tak terbuka. Panik. Dia tabrak pintu itu. Tetap tak terbuka. Dia memekik panjang. Dia memukul-mukul dan menendang-nendang pintu, sampai tubuhnya letih sendiri, tersengal-sengal kembang kempis tersandar di pintu. Di situ dia menangis tak berdaya. (Remy Sylado, 2007: 100)

(45)

“...di tanah lereng yang sejuk dia mengendap-endap meninggalkan rumah. Langkahnya menuju timur. Tapi duapuluh langkah di depan sana dia berhenti. Tercenung. Ragu.” (Remy Sylado, 2007: 2)

Sebagai manusia, adakalanya seseorang akan gamang dan merasa rapuh ketika sedang menghadapi cobaan hidup yang berat. Begitu pula Indayati, saat memutuskan meninggalkan rumah dan suaminya dia sempat mengalami keraguan. Namun, berbagai kecemasan dan kekhawatiran tersebut tidak merubah keputusannya meninggalkan Petruk, Indayati memilih untuk mendapatkan kebebasanya kembali sebagai manusia yang hidup tanpa penindasan dan tekanan.

Dalam aspek psikis, Indayati merasa bahwa perempuan sering tersudutkan melalui ungkapan-ungkapan, dan pandangan sebagian besar masyarakat yang kerap menunjukan diskriminasi seks terhadap perempuan, misalnya dalam kegiatan prostitusi, perempuan (pelacur) lebih sering dicitrakan sebagai pihak yang disalahkan, dihina, bahkan dianggap sebagai sampah masyarakat dan sebagainya. Persepsi negatif masyarakat dalam kasus prostitusi jarang sekali ditujukan terhadap laki-laki yang justru memanfaatkan praktik tersebut untuk kesenangan dan nafsu semata. Perhatikan kutipan berikut. “Duh, bagaimana aku Gusti? Jauh-jauh bronto sampai negeri orang hanya ngreyeng jadi lonte, laknat, terkutuk, dinaiki bajingan-bajingan mancanegara.” (Remy Sylado, 2007: 181)

Anggapan masyarakat yang buruk terhadap perempuan dalam kasus pelacuran, membawa dampak pada citra psikis Indayati, dia merasa anggapan tersebut sangat menyudutkannya sebagai perempuan. Padahal pelacuran merupakan suatu kegiatan yang melibatkan minimal dua pihak, yaitu orang yang melacurkan diri atau terpaksa melacur atau bahkan dipaksa menjadi pelacur, serta orang yang memanfaatkan jasa tersebut, bahkan kemungkinan juga melibatkan tiga orang atau lebih, yaitu germo yang justru memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari praktik pelacuran. Perhatikan kutipan berikut.

(46)

Citra psikis perempuan tidak hanya langsung berkaitan dengan citra fisik, namun juga berkaitan dengan cara berpakaian. Pakaian dapat memberikan kepuasan secara emosional dan dapat mencitrakan kepribadian seseorang. Dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah istilah ajining raga ana ing busana, ajining diri ana ing lathi. Hal tersebut menggambarkan bahwa pakaian yang dikenakan seseorang dapat memberikan gambaran mengenai konsep diri orang tersebut. Perhatikan kutipan berikut.

Siang ini indayati berpakaian santai: blus floral yang dominan warna

scarlet di atas latar putih, celana jins putih, dan sapatu hak tinggi scarlet pula. Pakaian Indayati bermacam model. Sesuai dengan tren. Penampilannya memang sangat metropolis. Tidak ada rasa canggung sedikitpun. Oleh sebab itu, siapalah pula yang menyangka bahwa setengah tahun silam dia berada di Gunungpati sebagai perempuan desa yang disia-siakan suaminya. (Remy Sylado, 2007:142)

Tidak dapat disangkal bahwa pakaian yang dikenakan perempuan, seringkali mempunyai efek yang penting terhadap suasana hati dan kemudian dapat mempengaruhi psikologis perempuan tersebut. Hal itu berhubungan rasa percaya diri dibangun oleh pikiran positif dan kemudian tercitrakan oleh fisiknya, melalui sikap dan tingkah laku.

Dalam aspek psikis, secara umum perempuan memiliki kecenderungan senang dipuji mengenai hal-hal yang berhubungan dengan fisiknya, begitu juga dengan Indayati. Perhatikan kutipan berikut.

(47)

Dilihat dari aspek psikis tersebut terbukti bahwa terdapat ideologi yang sifatnya patriarkal, secara tidak langsung berkembang dalam psikis perempuan. Sebenarnya citra psikis perempuan yang digambarkan pengarang melalui sosok Indayati telah merasakan ketersudutannya atas ideologi gender dan pria masih tercitrakan sebagai makhluk yang `berkuasa`. Indayati secara sadar mengetahui kenyataan ini, tetapi dia belum mampu membongkar selubung sistem patriarkal yang melingkupi kehidupan masyarakatnya.

c. Citra Diri Indayati

Berdasarkan klasifikasi citra fisik dan citra psikis, maka kedua citra tersebut dapat diabstraksikan menjadi citra diri. Sebagai komponen yang mewujudkan citra diri perempuan, maka kesatuan aspek fisik dan aspek psikis tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

(48)

(Remy Sylado, 2007: 28). “Sembari refleks Indayati mengangkat anaknya dari ranjang, lalu membuai-buai anaknya, menimang-nimang supaya anakya itu berhenti menangis.” (Remy Sylado, 2007: 62). “Aku teringat anakku. Makin hari makin tersiksa. Aku bingung, siapa yang memberinya susu?” (Remy Sylado, 2007: 138).

Dari kutipan di atas, ciri-ciri feminim yang penuh kasih tercitrakan pada diri Indayati melalui perilaku dan sikapnya yang lembut serta naluri seorang ibu yang penuh perhatian, rasa kasih sayang, dan ingin senantiasa melindungi anaknya. Citra diri Indayati sebagai sosok perempuan optimis, kuat, dan tegar serta mampu memperjuangkan hak-hak asasinya sebagai manusia terwujud dengan pilihannya keluar dari rumah dan meninggalkan suaminya. Perhatikan kutipan berikut.

Tapi lama-lama, dirasa-rasa, dipikir-pikir, naga-naganya semakin hari Indayati semakin buruk jua keadaannya. Maka, inilah harinya Indayati merasa mesti mengucapkan di dalam hatinya pernyataan selamat tinggal bagi suaminya. Dia telah sampai pada rasa puncak tidak tahan lagi tinggal serumah dengan seorang suami yang menjadikannya sebagai tawanan. (Remy Sylado, 2007: 2)

Selain memilih keputusan mengakhiri rumah tangga yang telah menjadikannya tawanan, sosok Indayati yang tidak mudah menyerah dan optimis berani semakin memiliki keberanian melawan para traffikiers dan berusaha untuk melepaskan diri dari mereka. Ketika ada kesempatan untuk terbebas Indayati berani menyerang Kiki yang notabene seorang laki-laki. Perhatikan kutipan berikut.

(49)

cara cekik, Indayati menjerit liar seperti harimau luka, dan akhirnya berhasil menggigit telinga Kiki. (Remy Sylado, 2007: 266).

Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa perempuan yang sering dicitrakan sebagai makhuk yang lemah secara fisik dapat berubah, ketika perempuan tersebut memperjuangkan martabatnya sebagai seorang manusia dan untuk mendapatkan kembali hak-hak dan kebebasannya.

2. Sebagai Makhluk Sosial

Di dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, secara naluri manusia tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan orang lain. Pada dasarnya citra sosial perempuan merupakan citra perempuan yang erat hubungannya dengan norma dan sistem nilai yang berlaku dalam satu kelompok masyarakat tempat perempuan tersebut menjadi anggota dan mengadakan hubungan antarmanusia. Citra sosial perempuan juga menyangkut masalah pengalaman diri atau pengalaman hidup yang pernah dialami. Pengalaman-pengalaman inilah yang menentukan interaksi sosial perempuan dalam masyarakat.

Citra sosial perempuan memberi arti kehidupan baginya dan merupakan realisasi diri dalam masyarakat. Realisasinya berangkat dari perannya dalam keluarga. Peran perempuan dalam keluarga terwujud karena perkawinan, kemudian suami istri membentuk keluarga.

(50)

Indayati dalam keluarga pada novel Mimi lan Mintuno digambarkan sebagai perempuan dewasa, seorang istri, dan seorang ibu rumah tangga. Dalam aspek keluarga, perempuan dapat berperan sebagai istri, sebagai ibu, maupun sebagai anggota keluarga, namun masing-masing peran tersebut mendatangkan konsekuensi sikap sosial, yang berbeda antara yang satu dengan lainnya. Ketika seorang perempuan menikah, akan terjadi perubahan peran dari masa lajang menuju ke sebuah jenjang perkawinan. Perubahan tersebut peran secara langsung maupun tidak langsung akan membawa tanggung jawab dan kewajiban yang berbeda dengan perempuan yang masih lajang. Perhatikan kutipan berikut.

Fitrahnya sebagai seorang perempuan sejati selaku istri atau ibu, lengkap dengan piranti rohani cinta-kasih dan kasih-sayang. Mula-mula anak dalam kehidupan insani senantiasa memberi ilham-ilham tanggungjawab kemanusiaan ibu untuk tulus berikhtiar memasuki misteri masa depannya. (Remy Sylado, 2007: 156)

Dari kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa di dalam lingkungan sosial Indayati yang bersuku Jawa, terbentuk pelabelan mengenai “ibu” di dalam masyarakat. Permasalahan yang utama dalam labelisasi ibu adalah seorang perempuan dituntut untuk berperilaku sebagaimana umumnya yang dikehendaki masyarakat sekelilingnya. Artinya, ia harus memenuhi kriteria keibuannya, patuh pada suami, menjaga anak dengan baik dan menganggap bahwa pekerjaan yang tidak dibayar ini adalah pekerjaan yang paling mulia

(51)

Indayati terkungkung dalam kesibukan rutin pekerjaan rumah tangga, dan pekerjaannya tersebut tidak menghasilkan uang, seperti dalam kutipan berikut. “...konco wingking yang tempatnya melulu di dapur mengiris-ngiris brambang, nyulak-nyulaki kursi, nyapu-nyapu teras, ngosek-ngosek kakus, ngelus-ngelus burung.” (Remy Sylado, 2007: 9).

Melalui kutipan tersebut, diketahui bahwa pada novel Mimi lan Mintuno,

Indayati dicitrakan sebagai perempuan yang berada dalam kesulitan karena dalam lembaga perkawinan, suaminya cenderung bersikap menguasai dan mengendalikan lembaga perkawinan atau lembaga keluarga dengan menyudutkannya melalui berbagai rutinitas pekerjaan rumah tangga.

Indayati merupakan perempuan yang bercita-cita mengembangkan dirinya menjadi sosok yang mandiri secara intelektual, untuk itu Indayati menempuh pendidikan di Sekolah Asisten Apoteker di Semarang setelah menyelesaikan sekolahnya, Indayati bekerja di sebuah apotek besar di Ungaran. Perempuan yang memandang pendidikan penting baginya dan mandiri secara ekonomi seperti Indayati didukung sepenuhnya oleh gerakan feminis. Namun, sayang sekali setelah menikah Indayati terpaksa meninggalkan pekerjaan tersebut karena Petruk suaminya melarang bekerja dan meminta Indayati memfokuskan diri sebagai ibu rumah tangga. Perhatikan kutipan berikut.

(52)

Setelah keluar dari pekerjaannya sebagai apoteker, Indayati tidak mandiri secara ekonomi dan menggantungkan suaminya dalam hal mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Ketergantungan atau ketidakmandirian perempuan secara ekonomi ditengarai menjadi faktor utama yang “melumpuhkan” perempuan, sebab membuat perempuan kurang mampu mewujudkan potensi diri mereka dengan sepenuhnya. Selain itu, ketergantungan perempuan terhadap suami dalam segi ekonomi, ditengarai menjadi faktor penyebab terjadinya KDRT. Berkaitan dengan hal itu, suami yang menjadi pemegang peran penting dalam perekonomian rumah tangga menjadi mudah bertindak sewenang-wenang terhadap istri .

Kebangsaan atau suku keturunan Indayati adalah suku Jawa, yang masih cenderung memegang teguh tradisi dan dalam bersikap cenderung berpijak nilai-nilai tradisi. Hal tersebut termaktub dalam beberapa ungkapan yang di ucapkan orang tuanya ketika memberikan wejangan. perhatikan kutipan berikut.

Lihatlah, sungguh setia mimi terhadap mintuno, dan sebaliknya. Kesimpulannya, sedangkan hewan yang cuma punya naluri, bisa setia dalam berpasangan hidup, apalagi semestinya manusia yang memiliki akal-budi, nalar, hati (Remy Sylado, 2007: 283).

(53)

Orang tua Indayati bertempat tinggal di Muntilan, begitu juga Indayati, dia lahir dan dibesarkan di daerah tersebut. Setelah menyelesaikan pendidikan SMU-nya, Indayati berpindah ke Semarang untuk menempuh pendidikan di Sekolah Asisten Apoteker, setelah menikah dengan Petruk, dia bertempat tinggal di Gunungpati, Semarang. Dalam segi spiritual, Indayati dan keluarganya menganut agama Islam sehingga pandangan hidup Indayati dipengaruhi oleh ajaran dan norma-norma agama Islam

Dalam novel Mimi lan Mintuno stereotip-stereotip tradisional terlihat menandai citra Indayati sebagai makhluk sosial, antara lain ditunjukkan oleh superioritas laki-laki dalam kultur masyarakat Indayati. Dalam keluarga suku Jawa seorang anak laki-laki mendapat tempat yang lebih tinggi dari pada perempuan. Ia akan lebih diutamakan daripada anak perempuan dalam segala aspek hidupnya. “Sebelum kawin dengan Petruk, dia bekerja di apotik besar di Ungaran. Dia keluar dari situ, sebab setelah nikah dengan Petruk, suaminya ini melarangnya bekerja” (Remy Sylado, 2007: 283). Dalam posisi demikian, secara sadar ataupun tidak sadar Indayati terpaksa menerima dan menyetujuinya sebagai sesuatu yang semestinya terjadi karena perempuan yang hidup dalam lingkungan tersebut sangat sulit untuk keluar dari nilai-nilai tradisional yang telah ada.

B. Tokoh-tokoh dalam Novel Mimi lan Mintuno

Feminis adalah orang yang menganut paham feminisme, sedangkan

(54)

utama perempuan serta peran dan kedudukannya di dalam masyarakat, analisa tahap selanjutnya dilanjutkan dengan mengidentifikasi tokoh-tokoh lain yang terdapat pada novel yang bersangkutan, baik tokoh laki-laki maupun perempuan. Tokoh-tokoh yang di analisis adalah tokoh-tokoh yang memiliki hubungan dengan kemunculan ide-ide feminis dan tokoh-tokoh yang menentang ide tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, maka analisa tahap kedua dilakukan dengan mengklasifikasi beberapa tokoh dalam novel Mimi lan Mintuno. Tokoh-tokoh tersebut diklasifikasikan menjadi dua, yaitu tokoh yang profeminis dan kontrafeminis. Kriteria penentuan suatu tokoh termasuk dalam golongan profeminis maupun kontra feminis dapat diketahui melalui hubungan tokoh tersebut dengan tokoh-tokoh yang lain

1. Tokoh Profeminis

Tokoh-tokoh yang termasuk dalam kategori profeminis adalah tokoh-tokoh yang memunculkan ide-ide feminis atau memberikan dukungan terhadap tokoh-tokoh yang memiliki ide-ide feminis. Kriteria-kriteria feminis yang tampak dalam novel

Mimi lan Mintuno antara lain, sosok perempuan optimis, mandiri, kuat dan tegar dalam menghadapi cobaan hidup, serta mampu memperjuangkan hak dan kepentingannya sebagai perempuan. Pada dasarnya tokoh yang profeminis bukan hanya dari golongan perempuan saja, tetapi ada sebagian laki-laki yang juga sepaham dengan ide-ide yang dimunculkan oleh feminis.

a. Indayati

(55)

kehidupan dalam keluarga suku Jawa, membuat laki-laki cenderung mendapat kedudukan yang lebih tinggi daripada perempuan, dan akan lebih diutamakan dibandingkan anak perempuan dalam segala aspek. Efek dari penetapan peran laki-laki sebagai kepala dan pemimpin rumah tangga dan perempuan sebagai ibu rumah tangga, seringkali memicu peluang terjadinya pelanggaran hak asasi manusia (perempuan) dalam kehidupan perkawinan. Tidak dihargainya hak-hak asasi perempuan dalam sebuah perkawinan juga terjadi dalam rumah tangga Indayati. Petruk, suami Indayati kerap kali melakukan tindakan kekerasan fisik, seperti ditampar, ditendang, dan disulut rokok. Perhatikan kutipan berikut.

Dalam keadaan mabuk berat yang membuat matanya merah dan tubuhnya unggang anggit, dengan tangan kiri yang kuat lelaki itu memukul mulut istrinya. Cedera. Keluar darah. ...dengan tangan kanan yang lebih kuat lelaki ini memukul lagi. Istrinya terhuyung. Membentur dinding. Jengkang. Semaput. (Remy Sylado, 2007: 1).

...di bibirnya bekas luka dari tamparan dan siksa Petruk selama itu. Itu belum lagi bekas luka yang tersembunyi di badannya yang tertutup baju. Hanya jika dia bertelanjang barulah terlihat beberapa bekas luka sudutan rokok di perut dan payudaranya yang dilakukan Petruk selama itu. (Remy Sylado, 2007: 33).

Pada akhirnya setelah sekian lama, mencoba bertahan dalam kungkungan rumah tangga yang telah membuatnya tersiksa secara lahir batin, Indayati mengambil keputusan meninggalkan suaminya. Perhatikan kutipan berikut.

Tapi lama-lama, dirasa-rasa, dipikir-pikir, naga-naganya semakin hari Indayati semakin buruk jua keadaannya. Maka, inilah harinya Indayati merasa mesti mengucapkan di dalam hatinya pernyataan selamat tinggal bagi suaminya. Dia telah sampai pada rasa puncak tidak tahan lagi tinggal serumah dengan seorang suami yang menjadikannya sebagai tawanan. (Remy Sylado, 2007: 2)

(56)

b. Bulik Ning

Listuhayuningsih atau lebih sering disebut bulik Ning oleh Indayati merupakan tokoh profeminis yang mendukung keputusan Indayati meninggalkan Petruk. Sebagai seorang perempuan, dia sangat memahami penderitaan lahir batin yang dirasakan Indayati selama berumah tangga dengan Petruk. “Bulik ngerti. Suamimu edan. Suami yang sudah berani menaruh tangan ke muka istrinya, adalah laki-laki hewan,

pengecut, tidak punya harga diri, bajingan” (Remy Sylado, 2007: 5).

Merasa iba dengan nasib keponakannya yang sering dianiaya oleh suaminya, Bulik Ning mengajak Indayati pindah ke Manado untuk memulai kehidupan baru tanpa kekerasan dan sikap kasar suaminya. “Sudah, cerai saja tinggalkan suamimu, ikut kami!” kata Bulik Ning (Remy Sylado, 2007: 18) semakin mendukung kebebasan keponakannya dari penindasan yang selalu dilakukan Petruk. Dengan meninggalkan Petruk, berarti Indayati melawan ideologi patriarki yang membuatnya terkungkung dalam kehidupan rumah tangga, serta dapat terbebas dari perilaku buruk suaminya. Pada saat Indayati mendapat tawaran pekerjaaan yang secara finansial, dapat menjamin kehidupan Indayati dan anaknya, Bulik Ning sangat mendukung mendukung keputusan tersebut. Perhatikan kutipan berikut.

Kata Bulik Ning dengan semangat Angkatan `45 ), “itu bagus untuk menemukan pribadimu. orang lain susah-susah kepengen diterima main film, sementara kamu yang sudah diterima, bahkan ditawari sendiri, malah mbulet, berbelit. Sudah jalani saja. daripada mikiri lakimu yang kucluk itu, ya lebih baik main film, jadi terkenal. biar lakimu itu gigitjari” (Remy Sylado, 2007: 31)

(57)

c. Siti Anastasia

Siti Anastasia adalah seorang polwan, kemunculannya sebagai tokoh profeminis dalam teks novel Mimi lan Mintuno digambarkan berbeda dengan stereotipe perempuan yang pada umumnya cenderung lemah lembut. Perhatikan kutipan berikut.

Siang ini Siti berada di tempat latihan menembak. Dari enam peluru yang ditembakkan ke dada orang-orangan yang menjadi sasarannya, semuanya mengena di tempat yang sama. Artinya Siti memang sangat titis (Remy Sylado, 2007: 93).

Siti yang titis, yang juara tembak Perbakin ini, dengan serta merta menarik picu pistolnya. Peluru langsung melesat dan dengan tepat, sesuai harapannya, memembusi jidat Sean PV (Remy Sylado, 2007: 274)

Siti merupakan sosok perempuan yang pemberani, kuat, dan cerdas. Dalam usianya yang masih relatif muda, dia memiliki sejumlah prestasi kerja yang memuaskan sehingga jabatan sebagai ajudan Kapolri telah disandangnya. Secara fisik, Siti Anastasia berpenampilan cantik dan menarik sehingga sebagian orang, termasuk Sean PV tidak mengira bahwa Siti adalah seorang Polwan. Perhatikan kutipan berikut.

Ketika Sean PV memperhatikan sosok Siti dengan pandangan matanya yang liar dengan pikirannya yang ngeres, sama sekali dia tidak menduga bahwa perempuan yang diperhatikannya itu adalah seorang polwan: polwan yang dengan sendirinya punya pengetahuan tentang ukuran-ukuran siapa yang harus disebut penjahat untuk diburunya dan ditangkapnya (Remy Sylado, 2007: 196).

(58)

ini adalah seseorang betina perkasa yang sanggup membuatnya menyesal menjadi manusia (Remy Sylado, 2007: 254)

Berkaitan dengan kutipan-kutipan di atas, terlihat bahwa perempuan yang sering dinilai berpenampilan dan berprilaku lemah lembut, sementara laki-laki berpenampilan dan berprilaku tegar, jantan dapat menjadi kebalikannya. Siti Anastasia sangat lihai dan jago bela diri. Olah raga bela diri merupakan olah raga keras yang membutuhkan ketahanan dan kekuatan fisik, perempuan yang sering dipersepsikan lemah ternyata dapat memiliki kekuatan yang melebihi laki-laki.

2

.

Tokoh Kontrafeminis

a. Petruk

Dalam tradisi Jawa, perempuan sering diungkapkan sebagai “konco wingking”.

Petruk yang diklasifikasikan sebagai tokoh sebagai tokoh yang kontrafeminis, menganggap Indayati sebagai teman hidup yang perannya selalu “di belakang” dengan tugas mengurus pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, menyapu, mengepel, mengurus anak, dsb. Perhatikan kutipan berikut.

Petruk memang tipe lelaki Indonesia tradisional yang ngotot

mempertahankan nilai-nilai hidup `djaman doeloe` yang sudah kadaluarsa, bahwa perempuan adalah semata-mata konco wingking yang tempatnya melulu di dapur mengiris-ngiris brambang, nyulak-nyulaki kursi, nyapu-nyapu teras, gosek-ngosek kakus, ngelus-ngelus burung (Remy Sylado, 2007: 1)

(59)

menunjuk arah, tetapi bisa berarti sebuah ruangan, yakni dapur, yang biasanya memang terletak di belakang. Indayati merasakan dan melihat perbedaan ini disebabkan karena ada superioritas laki-laki dan kekuasaan laki-laki atas perempuan. Dalam posisi demikian, perempuan sadar atau tidak sadar menerima dan terpaksa menyetujuinya, sebagai sesuatu yang semestinya terjadi, seolah tidak kuasa bagi wanita untuk mengubah nilai-nilai tradisional tersebut.

Pembatasan peran perempuan di wilayah domestik pada sebagian perempuan telah menjadi tradisi masyarakat khususnya untuk sebagian besar masyarakat di di Jawa. Pembagian peran tersebut, ditengarai menjadi penyebab banyaknya perempuan yang hanya tinggal di rumah dan mereka mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk suami dan anak-anaknya. Memposisikan perempuan di bawah laki-laki merupakan tindakan diskriminasi terhadap perempuan. Posisi semacam itu, membuat perempuan masih sering dianggap sebagai obyek penindasan kaum laki-laki sehingga kaum perempuan sering mengalami berbagai tindak kekerasan. Perhatikan kutipan berikut.

Dalam keadaan mabuk berat yang membuat matanya merah dan tubuhnya unggang anggit, dengan tangan kiri yang kuat lelaki itu memukul mulut istrinya. Cedera. Keluar darah. ...dengan tangan kanan yang lebih kuat lelaki ini memukul lagi. Istrinya terhuyung. Membentur dinding. Jengkang. Semaput. (Remy Sylado, 2007: 1)

Petruk yang merasa depresi dan frustasi setelah di-PHK dari perusahaan tempatnya bekerja menjadi sering mabuk-mabukan dan memalak warung-warung di kampungnya hingga membuat warga menjadi resah karena ulahnya. Setelah menjadi pengangguran, Petruk mempunyai rasa percaya diri yang rendah, menyalahkan orang lain atas perbuatan salahnya, pencemburu, dan menganggap alkohol serta narkoba sebagai alasan pembenar melakukan kekerasan.

Keadaan Petruk dalam sebulan ini tidak mewaras. Ditinggal pergi oleh istri dan anak bukannya terbit eling, malahan terbenam dalam edan. Celakannya, dia sendiri tidak menyadari, bahwa jumlah orang kampung, para tetangga, yang membencinya karena ulahnya itu semakin bertambah. (Remy Sylado, 2007: 36)

(60)

atau ketidakadilan gender. Ketimpangan gender terjadi ketika tidak adanya kesetaraan dan ketidakadilan terhadap perempuan. Fenomena tersebut menjadi karakteristik budaya patriarki yang menyebabkan perbedaan peran dan hak perempuan dan laki di masyarakat dan menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari laki-laki. “Hak istimewa” yang dimiliki laki-laki ini seolah-olah menjadikan perempuan sebagai “barang” milik laki-laki yang berhak untuk diperlakukan semena-mena, termasuk dengan cara kekerasan

b. Sean PV

Sean Paul Vijfhuis atau lebih sering disebut Sean PV seorang produser film. Sejumlah film yang pernah diproduksinya sebagian besar dibuat di Bangkok, namun film-film yang diproduksi Sean PV tidak pernah diputar di bioskop resmi, apalagi di Indonesia. Film yang diproduksinya lazim disebut “film biru” atau film porno.

Pemain film tersebut adalah perempuan-perempuan muda dari Indonesia yang terkena tipu daya. Untuk menjaring korbannya, Sean PV dan komplotannya menyinggahi beberapa kota besar di Indonesia dengan dalih pencarian bakat gadis-gadis belia untuk dijadikan artis dan bintang film internasional. Setelah dipaksa membintangi film porno, mereka dijual sebagai pelacur ke Hongkong dan Tokyo. Perhatikan kutipan berikut.

Bolak-balik Sean PV menekankan: mereka keluar negeri bukan untuk piknik. Lagi, kewajiban-kewajiban yng tertera di dalam kontrak – sebagai alat untuk menekan, mengintimidasi, menakut-nakuti – membuat mereka terikat terus sebagai kerbau bajak di sembarang sawah. Begitulah, mereka dibina dan diarahkan dengan sistem mirip pencucian otak, blong, tidak punya pilihan apa-apa selain menjadi pelacur di hotel-hotel berbintang. (Remy Sylado, 2007 : 103)

Sean PV menyebut para perempuan korban traffiking sebagai stok, yang berarti menganggap perempuan sebagai “benda” atau komoditas yang dimilikinya. “Jangan lupa, semua stok, termasuk yang kita simpan di Bangkok, untuk dipasarkan di sini, besok harus disyut. Foto-foto posenya harus benar-benar sensual untuk iklan kita di majalah Forny edisi yang akan datang (Remy Sylado, 2007 : 83). Sean PV merasa sebagai pemilik ia yang bebas memperdayakan para perempuan tersebut untuk meraup keuntungan dari hasil penjualan film yang diproduksinya. Perhatikan kutipan berikut.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...