• Tidak ada hasil yang ditemukan

KKJ Konseling Kawruh jiwa PADA KARYAWAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KKJ Konseling Kawruh jiwa PADA KARYAWAN"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 KKJ (Konseling Kawruh jiwa) PADA KARYAWAN YANG MENGALAMI

DEPRESI Dian Eko Wicaksono

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammdiyah Malang Al Thuba Septa Priyanggasari

Fakultas Psikologi, Universitas Merdeka Malang

[email protected]

Depresi merupakan kondisi dimana individu mengalami suasana hati yang buruk dalam kurun waktu tertentu. Gejala ini muncul salah satunya akibat ketidakmampuan individu menangani permasalahan yang muncul dengan baik. Dampak dari gejala depresi dapat muncul dalam bentuk fisik, psikis maupun sosial. Dalam Kawruh jiwa menurut Ki Ageng Suryamentaram masalah psikologis muncul dari peristiwa yang terjadi dalam diri individu. Salah satunya adalah tidak terwujudnya karep atau keinginan sehingga menyebabkan getun dan sumelang. Pada dasarnya karep bersifat mulur mungkret. Hal tersebutlah yang menimbulkan permasalahan di dalam diri individu. Kawruh jiwa menggunkan metode ngudari reribed melalui nyawang karep untuk nyocokaken raos dengan cara kandha-takon dalam rangka menyelesaikan permasalahan di dalam diri individu. Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk mengaplikasikan Kawruh jiwa Ki Ageng Suryamentaram dalam membantu mengurangi gejala depresi pada karyawan warung makan dan untuk mengembangkan keilmuan dari Kawruh jiwa Ki Ageng Suryamentaram. Studi kasus ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subyek penelitian adalah karyawan sebuah warung makan, dengan usia 30 tahun yang mengalami gejala depresi. Metode pengumpulan data adalah observasi dan wawancara. Intervensi berupa konseling individu dalam kurun waktu lima belas hari sesuai dengan perkembagan subjek yang dievaluasi setiap pertemuan. Konseling yang dilakukan berdasarkan nilai yang ada dalam Kawruh jiwa. Hasil studi kasus ini adalah subjek mengalami penurunan gejala depresi. Walau pun penurunan depresi yang dialami subjek tidak keseluruhan tetapi ada beberapa perilaku yang sudah kembali membaik. Secara khusus, subyek mulai dapat tidur dengan nyaman, nafsu makannya kembali normal, tidak menangis di tempat kerja, dan berkurangnya kuantitas melamun.

(2)

2 LATAR BELAKANG

Depresi adalah gangguan mental yang paling sering dialami manusia, tanpa

pandang usia. Biasanya depresi muncul akibat rasa sedih, stres, kecewa yang disertai

gejala lainnya yang berlangsung selama beberapa minggu. Jika depresi sudah menyerang

maka dipastikan pasti akan muncul perilaku yang merugikan diri sendiri ataupun orang

lain. Individu depresi cenderung melakukan hal buruk seperti minum-minuman keras,

marah-marah obat-obatan, serta banyak terjadi kasus terjadi dikarenakan depresi, sperti

kasus pembunuhan, bunuh diri dan lain sebagainya. Tidak hanya menimbulkan perilaku

buruk bagi orang yang mengalami depresi, tetapi juga bisa membuat sistem imun tubuh

juga menurun. Seperti naik atau turunya berat badan secara drastis, mengalami gangguan

pola makan, naiknya tekanan darah, dan lain sebagainya. Sehingga banyak sekali orang

yang sakit fisik yang mulanya dikarenakan depresi. Seperti World Health Organization

(WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan keempat penyakit di dunia pada

tahun 2000. Pada tahun 2020, depresi diperkirakan menempati urutan kedua penyakit di

dunia.

Menurut data WHO tahun 2016, terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60

juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena demensia.

Sedangkan berdasarkan Riskesdas tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional

yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas

mencapai sekitar 14 juta orang atau enam persen dari jumlah penduduk Indonesia

(Widiarini, 2016). Selain itu juga ada sebuah survei menemukan 6,9 juta orang dewasa di

Inggris kerap membanding-bandingkan kehidupan nyata mereka dengan hidup

teman-temannya yang di-posting di social media. Padahal kenyataan tidak selalu sesuai dengan

imej di dunia maya, yang seringkali dilebih-lebihkan atau 'dibingkai' sedemikian rupa agar

terlihat 'sempurna'.Responden usia 18-34 tahun tercatat sebagai kategori yang paling

rentan mengalami depresi akibat pengaruh sosial media tersebut (Hestianingsih, 2016).

Depresi memang bisa terjadi pada siapa saja tidak mengenal watu, usia, dan jenis kelamin.

Oleh karena itu depresi termasuk gangguan yang berbahaya.

Penanganan depresi telah berkembang dalam berbagai macam cara seperti terapi,

konseling, obat-obatan serta perlakuan yang lainnya. Depresi sendiri terjadi salah satunya

karena faktor psikologis seseorang, dimana seseorang tersebut mengalami stres yang

berkepanjangan. Stres yang muncul pada seseorang disebabkan dimana seseorang tersebut

(3)

3 pada setiap inidividu itu berbeda. Stres juga bisa muncul karena harapan tidak sesuai

dengan kenyataan atau bisa dikatakan tidak tercapainya keinginan. Dalam pandangan

kawruh jiwa orang yang tidak tercapai karep atau keinginannya, maka orang tersebut bisa

getun (menyesali kejadian yang berlalu). Hal ini yang membuat orang tidak mencapai

bahagia sehingga untuk mencapai manusia tanpa ciri belum bisa. Dalam psikoanalisa

kemarahan atau setresor yang terus dipendam, berkembang menjadi proses menyalahkan

diri sendiri, menyiksa diri sendiri, dan akhirnya timbul depresi yang berkelanjutan

(Davision, Neale, Kring. 2010).

Ki Ageng Suryomentaram, dengan olah kawruh jiwa sebagai perangkat analisis

olah rasa memberikan kontribusi bagi pengembangan kesejahteraan dan kualitas hidup

dengan model analisis diri yang berbasiskan pada rasa, sebagai landasan introspeksi diri.

Kawruh jiwa Ki Ageng Suryamentaram mengajarkan bahwa dalam menangani permasalah

maka mengajarkan untuk bisa mengudari reribed. Merupakan suatu cara mencari sumber

permasalahan dan menemukan solusi yang sesuai dengan cara kando takon (Sugiarto,

2015)

Berdasarkan latarbelakang tersebut dan terinspirasi dari peneliti sebelumnya yang

dilakukan oleh Kholik dan Himam dengan judul konsep psikoterapi kawruh jiwa KI

Ageng Suryamentaram, dan penelitian yang dilakukan oleh Marhamah, Murtadlo &

Awalya pada tahun 2015, mengenai indigenous konseling suatu studi pemikiran kearifan

lokal Ki Ageng Suryomentaram dalam kawruh jiwa. Dari situ lah peneliti ingin melakukan

penelitian tentang konseling kawruh jiwa untuk penanganan depresi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk membantu subjek dalam menyelesaikan

masalahnya yaitu mengalami depresi, melalui konseling dengan konsep kawruh jiwa Ki

Ageng Suryamentaram. Konsep ini memberikan suatu sudut pandang baru dalam bidang

ilmu psikologi, khususnya konseling dengan menggunakan konsep kawruh jiwa pada klien

dengan depresi. Selain itu penulis juga mencoba mengembangkan keilmuan dari kawruh

jiwa Ki Ageng Suryamentaram, dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga keilmuan ini bisa

berkembang dan menjadi salah satu refrensi dalam dunia keilmuan, khususnya Psikologi.

LANDASAN TEORI Konseling Kawruh jiwa

Pendekatan konseling dengan kawruh jiwa ditawarkan dengan cara memahami

nilai nila yang terkandung dalam kawruh jiwa untuk digunakan dalam proses membantu

(4)

4 melihat masalah yaitu dengan ngudari reribed. Cara tersebut dilakukan dengan mencari

sebab kesulitan yang dialami dan mencari jalan dalam menyelesaikannya. Kepribadian

manusia, menurut Ki Ageng Suryamentaram, memiliki empat dimensi di struktur

kepribadian pada kajian kawruh jiwa. Dimensi pertama disebut sebagai juru catat. Fungsi

dimensi pertama adalah mencatat (mempersepsi) segala hal yang berhubungan dengan

dirinya melalui panca indra. Kumpulan dari catatan itu akan digolongkan menjadi sebelas

hal pada dimensi kedua. Pada dimensi kedua tumbuh fungsi perasaan (emosi) yang

melandasai atau mewarnai serapan catatan-catatan. Dimensi ini merupakan bekal utama

manusia untuk menciptakan ciri pribadinya yang berbeda dengan orang lain. Pada dimensi

ketiga muncul identitas kramadangsa (disebut sebagai tukang pikir) yang memikirkan

dimensi kedua. Ketika muncul karep (keinginan) dari salah satu catatan dalam dimensi

kedua dan kramadangsa selalu menurutinya, maka manusia akan senantiasa berada pada

dimensi ini saja. Setiap manusia akan mampu dengan mudah bertumbuh sampai pada

dimensi ketiga, baik pada dimensi fisik, emosi, dan kognisi. Namun sebelum memasuki

dimensi keempat, harus melewati simpang tiga terlebih dahulu. Pada simpang tiga terdapat

aling-aling (penghalang) yang fungsinya bersifat mementingkan diri sendiri. Ketika

manusia dapat melewati penghalang di simpang tiga, maka akan mampu memasuki

dimensi keempat, yaitu manungsa tanpa ciri (manusia tanpa cacat). Jika tidak bisa

melewati penghalang maka akan kembali lagi ke dimensi sebelumnya. Untuk menembus

penghalang menuju dimensi keempat manusia harus mampu mawas diri, yaitu dengan

melihat karep (Prihartanti, 2008; Sugiarto, 2015).

Karep bersifat abadi dalam diri manusia. Ketika karep dipenuhi maka tidak akan

ada habisnya, karena karep bersifat mulur mungkret. Karep yaitu berupa keinginan, hasrat,

dasar hidup dan bersifat abadi. Sedangkan getun merupakan kekecewaan atau takut

terhadap kejadian masa lalu, yang menyebabkan jatuh pada masa celaka, dan susah

selamanya. Ketika penyesalan atau getun tidak bisa teratasi, lama-kelamaan akan

tertimbun masalah dan persoalan baru sehingga terjadi Raos Mlenet. Raos Mlenet adalah

dimana dimana kondisi seseorang berada pada keadaan terpuruk, sehingga jalan pikir dan

yang dipikirkan menjadi tidak benar. Kondisi inilah yang menjadi reribed (gangguan) pada

diri manusia. Hal tersebut membuat manusia tidak bisa mencapai pada ukuran ke empat

(5)

5 Depresi

Depresi merupakan salah satu gangguan mood (mood disorder). Depresi sendiri

adalah gangguan unipolar, yaitu gangguan yang mengacu pada satu kutub (arah) atau

tunggal, yang terdapat perubahan pada kondisi emosional, perubahan dalam motivasi,

perubahan dalam fungsi dan perilaku motorik, dan perubahan kognitif (Nevid dkk, 2005).

Sedangkan menurut Maramis (2009), Gangguan depresif merupakan suatu masa

terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dengan

gejala penyerta termasuk perubahan pola tidur, nafsu makan, psikomotor, konsentrasi,

anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, tak berdaya dan gagasan bunuh diri.

Gangguan depresi sendiri merupakan gangguan unipolar, yaitu gangguan yang

mengacu pada satu kutub (arah) atau tunggal, yang terdapat perubahan pada kondisi

emosional, perubahan dalam motivasi, perubahan dalam fungsi dan perilaku motorik, dan

perubahan kognitif (Nevid dkk, 2005). Menurut DSM-V kriteria gejala gangguan depresi

harus terlihat setiap hari agar dapat dipertimbangan, kecuali penurunan berat badan dan ide

bunuh diri. Sepanjang hari mood depresi dapat terlihat, dan terlihat hampir setiap hari.

Biasanya pasien datang berobat dengan keluhan utama karena insomnia dan mudah lelah

dan kegagalan dalam penyelidikan lanjutan terhadap gejala depresi sering menjadi kendala

dalam mendiagnosis (APA, 2013).

Terdapat tiga kategori penyebab dari gejala depresi menurut Nolen-Hoeksema dan

Girgus (dalam Krenke & Stemmler, 2002). Tiga kategori penyebab dari gejala depresi

tersebut yaitu; Faktor kepribadian, seperti orang yang dependent, memiliki harga diri yang

rendah, tidak asertif, dan menggunakan ruminative coping. Nolen-Hoeksema dan Girgus

juga mengatakan bahwa ketika seseorang merasa tertekan akan cenderung fokus pada

tekanan yang mereka rasa dan secara pasif merenung daripada mengalihkannya atau

melakukan aktivitas untuk merubah situasi. Faktor biologis, seperti perubahan hormonal

dan hal-hal yang berkaitan dengan kensekuensi psikologis, seperti ketidakpuasan pada

bentuk tubuh. Faktor sosial, seperti negative life event dan adanya pengharapan dari

orangtua dan teman sebaya.

Seseorang yang mengalami depresi akan menampakkan beberapa gejala depresi.

Berikut ini merupakan gejala episode depresi yang muncul menurut PPDGJ III (Maslim

2001). Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) yaitu; afek depresif,

kehilangan minat dan kegembiraan, berkurang energi yang menuju meningkatnya keadaan

(6)

6 Selain gejala utama, ada beberapa gejala lainnya yang mucul yaitu; konsentrasi dan

perhatian kurang, harga diri dan kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah

dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau

perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, gangguan tidur, nafsu makan berkurang.

Pada orang yang mengalami depresi berat tanpa gejala psikotik ada pedoman untuk

melakukan diagnosis

Berpedoman pada PPDGJ III dalam Maslim (2001) dijelaskan bahwa, depresi

digolongkan ke dalam depresi berat, sedang dan ringan sesuai dengan banyk dan beratnya

gejala serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan seseorang. Gejala tersebut terdiri atas

gejala utama dan gejala lainnya yaitu : Ringan, sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga

gejala depresi ditambah dua dari gejala di atas ditambah dua dari gejala lainnya namun

tidak boleh ada gejala berat diantaranya. Lama periode depresi sekurang-kurangnya selama

dua minggu. Hanya sedikit kesulitan kegiatan sosial yang umum dilakukan. Pada kategori

Sedang, sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala utama depresi seperti pada

episode depresi ringan ditambah tiga atau empat dari gejala lainnya. Lama episode depresi

minimum dua minggu serta menghadaapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan

sosial, pekerjaan dan rumah tangga. Berat, tanpa gejala psikotik yaitu semua tiga gejala

utama harus ada ditambah sekurang-kurangnya empat dari gejala lainnya. Lama episode

sekurang-kurangnya dua minggu akan tetapi apabila gejala sangat berat dan onset sangat

cepat maka dibenarkan untuk menegakkan diagnosa dalam kurun waktu dalam dua

minggu.

METODE

Pada jenis penelitian kali ini yaitu kualitatif deskriptif, dengan menggunakan

pendekatan studi kasus (Case Study). Studi kasus merupakan penelitian yang dilakukan

terfokus pada suatu subjek tertentu untuk diamati dan dianalisis secara teliti. Data studi

kasus dapat diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan, dengan kata lain dalam studi

ini dikumpulkan dari berbagai sumber. Sedangkan data yang diperoleh dalam penelitian ini

didapatkan dari subjek dan significan other atau orang lain yang keakuratan data yang

diberikan dapat dipercaya (Shaughnessy, Zechmeister, Zechmeister. 2012). Sesui dengan

tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberikan layanan konseling kawruh jiwa bagi

karyawan yang mengalami depresi, maka dalam penelitian ini nanti akan mendiskripsikan

konseling dan hasil konseling yang telah diberikan kepada karyawan yang mengalami

(7)

7 Metode yang dilakukan untuk mengumpulkan data adalah observasi dan

wawancara. Metode asesmen wawancara adalah salah satu untuk mengumpulkan informasi, wawancara sendiri pernah di definisikan sebagai “Conversation whit a

purpose” (percakapan dengan suatu tujuan) (Bingham dan Moore, 1924 dalam Gunarsa, 2011); percakapan ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi dan membangun

hubungan yang kooperatif dan banyak membantu. Dalam asesmen kali ini dilakukan

wawancara semi terstruktur, dimana wawancara menggunakan beberapa pertanyaan utama

dan digali melalui probing oleh asesor. Metode asesmen observasi yaitu menggunakan

observasi nonpartisipan dan semi terstruktur. Dimana observasi dilakukan dengan tidak

mengikuti keseluruhan kegiatan apa yang dilakukan oleh subjek, serta mengamati dengan

menggunakan guide yang didalamnya beberapa poin perilaku yang akan diamati, tetapi

perilaku selain didalam poin tersebut, jika memang dibutuhkan dan diperlukan maka bisa

dimasukkan dalam hasil observasi (Sugiyono, 2013).

Subjek dalam penelitian ini yaitu adalah seorang wanita karyawan sebuah rumah

makan sederhana dengan usia 30 tahun, dimana subjek ini sedang mengalami depresi.

Dimana kategori depresi yang diberikan terhadap subjek didapatkan dari diagnosa awal

menggunakan hasil dari data yang diperoleh wawancara dan observasi. Diagnosa

dilakukan menggunakan panduan PPDGJ dan DSM V

HASIL PENELITIAN Hasil Asesmen

Identitas Subjek

Nama : YE (inisial)

Tempat, Tanggal Lahir : Madura, 24 Februari 1980

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jln. Tirto Utomo, Landungsari Malang

Agama : Islam

Status : Menikah

Dari asesmen yang dilakukan yaitu berupa wawancara dan observasi didapatkan

berupa beberapa data yang diperoleh dari subjek dan signifikan other. Berikut

merupakan hasil asesmen yang didapatkan:

(8)

8 Subjek atau disebut YE, seorang karyawan tempat makan, atau warung

makan rumahan di gang tirto. Ia sudah lama kerja menjadi karyawan warung

makan dimana tempat dia bekerja. Pekerjaan itu diambil semenjak menikah dengan

suaminya dan memiliki rumah di depan warung makan tersebut. Alasan YE

menikah adalah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Ia sudah

mempunyai anak satu. Anaknya tinggal bersama dengan ibunya, alasannya

menempatkan anak dengan nenenya yaitu agar ia mendapatkan perhatian yang

lebih, lingkungan yang baik, dan bisa berkembang serta tumbuh dengan baik. YE

juga sering pulang ke madura untuk menjenguk anaknya.

YE mulai bekerja dari pagi pukul 06.00 atau bahkan kurang pagi, sampai

dengan pukul 21.00 baru pulang kerumah. Selama bekerja ia mendapatkan tugas

membantu memasak, menjualkan atau menjaga warung, mencuci piring dan bersih

bersih warung. Selain membantu memasak juga membantu merawat orang tua dari

Susi (pemilik warung). YE membantu merawat mulai dari mengambilkan makan,

menyiapkan mandi, membantu berjalan (kadang–kadang).

Beberapa waktu ini sekitar hampir tiga minggu YE mengatakan tidak nafsu

makan dan sempat ijin kerja selama hampir setengah bulan untuk pulang dengan

alasan mengurusi orang tuanya yang sedang sakit. Jadi YE di ijinkan untuk pulang

kembali ke madura. Setelah pulang dari madura ia mengatakan sering melamun,

menangis sendiri, sering sulit untuk tidur, tidak bernafsu makan dan selalu merasa

gelisah, sehingga pekerjaannya tidak maksimal. Untuk menenangkan diri YE

sering mengambil wudu dan sholat, hal ini dilakukannya baik di waktu sholat lima

waktu ataupun sholat sunah lainnya. Hal ini berlangsung sudah beberapa minggu

dan banyak yang menanyakan kepada YE apa yang terjadi dan mengapa tidak

seceria biasanya. YE juga mengatakan bahwa ada masalah dengan keluarganya

yang sangat berat sehingga di tidak bisa tenang dalam bekerja dan menjalani

kehidupan sehari-hari seperti biasanya.

Masalah yang timbul dikarenakan ia dekat dengan seseorang pria lain selain

suaminya. Hubungan mereka hanya sebatas teman, tetapi akhir-akhir ini dia merasa

hubungan ini sudah tidak wajar, mengenai hubungan tersebut kedua orang ini tidak

diketahui oleh suami YE. Setelah itu dia memutuskan hubungan dengan pria lain

tersebut. Dia juga mengatakan kalau sudah berusaha untuk menghentikan

(9)

9 YE mempunyai keluarga yang masih sayang dan menjadi tanggung jawabnya,

yaitu suami dan seorang anaknya.

Setelah YE memutuskan untuk menghentikan hubungannya dengan pria

tersebut, ia masih merasa bersalah dan tidak bisa tenang. Karena pria tersebut

masih sering menghubungi dan mencarinya. Akibat dari hubungan ini, kondisi

keluarga dari pria tersebut sering bertengkar, bahkan sampai di meja persidangan.

Akhirnya setelah dua minggu pria tersebut sudah tidak lagi mencari YE.

Oleh karena masalah itulah YE masih sering teringat tentang masalahnya dan

membuat YE menjadi stres. Hal ini dapat dilihat dari beberapa prilaku yang muncul

ditempat kerja dan di rumah beberapa minggu ini. Selain itu YE juga mengaku

pernah melakukan beberapa hal yang tidak wajar. Seperti halnya dia juga mengaku

pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan melukai pergelangan tangan

kirinya degan benda tajam, tetapi hal tersebut tidak sampai berdampak parah bagi

dirinya. Karena di ketahui oleh anaknya sehingga dia menghentikan perbuatan

tersebut. Tapi YE mendapat dukungan dari orang tua YE, yang mendukung YE

untuk keluar dan menyelesaikan masalah ini agar bisa kembali kerja serta kembali

seperti biasanya.

Dukungan yang diberikan keluarganya untuk mengatasi kondisi yang terjadi

pada YE, yaitu dengan membawanya ke kiayi untuk di doakan agar bisa

menghadapi permasalahan yang terjadi, selain itu juga orang tuanya datang ke

orang pinter untuk meminta bantuan agar anaknya tidak stres dengan permasalahan

yang dihadapi. Tetapi beberapa usaha tersebut belum menunjukkan hasil yang

signifikan dengan jangka waktu yang cepat. Tetapi dia tetap berusaha untuk

menjadi sehat kembali dengan sholat wajib dan sunah serta mengaji.

a. SO

Dari hasil wawancara terhadap Susi pemilik warung dimana YE bekerja

didapatkan bahwa YE adalah orang yang rajin, bekerja keras, tanggung jawab dan

sangat ceria ungkap Susi. Tetapi beberapa hari ini YE sering murung dan sering

pulang kerumah walau rumahnya dekat tapi tidak seperti biasanya yang dulu.

Setelah pulang kerumah madura dia pernah menangis beberapa kali tanpa sebab,

setelah ditanyai dia menjawab tidak apa-apa dan pulang kerumah, selang beberapa

saat dia kembali bekerja kembali. Akhir-akhir ini YE memiliki perilaku yang aneh

(10)

10 2. Observasi

Dari hasil observasi yang dilakukan terhadap subjek yaitu YE, yang

menggunakan guide observasi, didapatkan bahwa subjek sering bolak-balik rumah

dan warung, melayani pelanggan dengan baik dan sesuai, beberapa kali dimintai

tolong oleh pemilik warung tetapi YE tidak begitu tanggap, terlihat sering diam dan

kurang menyapa pada pengunjung warung, beberapa kali terlihat menangis dan

tidak nafsu makan ketika ditawari makanan oleh pemilik warung. Serta beberapa

hari tidak masuk kerja.

Dari hasil asesmen tersebut didapatkan bahwa YE sering melamun, menangis, di

rumah dan di tempat kerja. YE juga sering tidak bisa tidur, nafsu makan berkurang serta

sering gelisah, selain itu juga merasa menyesali perbutan yang telah dilakukan. Sehingga

pekerjaan di tempat kerja dan di rumah terganggu. Bahkan sempat melakukan percobaan

bunuh diri. Kondisi seperti ini berlangsung selam kurang lebih hampir tiga minggu. Hal

tersebut disebabkan adanya masalah yang sedang dialamai oleh YE yaitu adanya hubungan

dengan pria lain selain suaminya, tetapi YE sudah memutuskan atau menyudahi hubungan

dengan pria lain tersebut karena menurut YE itu tidak benar. Dalam melakukan diagnosa

depresi maka ada salah satu acuan yang digunakan oleh psikolog yaitu DSM IV atau yang

berada di Indonesia yaitu PPDGJ III. Depresi sendiri di kelompokan mejadi beberapa

kategori, yaitu depresi ringan, sedang dan berat. Ketika di lihat dari diagnosis depresi pada

PPDGJ III maka YE termasuk menglami gejala depresi berat tanpa gejala psikotik.

Haye (dalam Cynthia, 2009) mengatakan bahwa faktor penyebab depresi antara

lain adalah adanya tujuan-tujuan yang tidak tercapai yang menyebabkan kekecewaan serta

adanya kegagalan yang menyebabkan kurangnya penghargaan terhadap diri. Individu

dengan harga diri rendah cenderung memandang dirinya. Secara negatif dan terfokus pada

kelemahan dirinya. Dalam Kaweruh Jiwa Ki Ageng Suryamentaram tujuan, keinginan atau

karep tidak tercapai maka orang akan mengalami getun. Karep yaitu berupa keinginan,

hasrat, dasar hidup dan bersifat abadi. Sedangkan getun yaitu kekecewaan atau takut

terhadap kejadian masalalu, yang menyebabkan jatuh pada masa celaka, dan susah

selamanya. Ketika penyesalan atau getun ini tidak bisa teratasi, dan lama kelamaan akan

tertimbun masalah dan persoalan baru sehingga terjadi Raos Mlenet. Raos Mlenet yaitu

dimana kondisi seseorang berada pada keadaan terpuruk, sehingga jalan pikir dan yang

dipikirkan menjadi tidak benar. Kondisi inilah yang menjadi reribed (gangguan) pada diri

(11)

11 hingga timbulnya reribed dalam dirinya. Sehingga YE tidak bisa menyelesaikannya

dengan jalan pikir yang baik dan benar. Sama halnya seperti Freud dalam Nelson-Jones

(2011) kemarahan atau setresor yang terus dipendam, berkembang menjadi proses

menyalahkan diri sendiri, menyiksa diri sendiri, dan depresi yang berkelanjutan.

Hasil Intervensi

Dalam pelaksanaanya selama konseling klien atau YE melakukannya dengan baik.

Pada sesi pertama konseling didapatkan bahwa subjek mengaku sangat tertekan dengan

kondisi yang sedang dialaminya. YE mengatakan kalau dia merasa bersalah atas

hubungannya dengan pria lain tersebut sehingga menjadi beban dari rasa bersalah yang

dialaminya, serta dia masih sulit untuk melepaskan pria yang menjadi temannya ini walau

itu salah. Ungkap YE sambil meneteskan airmata. YE menyadari kalau dia dalam posisi

yang salah dan dia ingin kembali seperti semula, dimana sebelum mengenal pria yang

menjadi temannya tersebut.

YE mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Dimana dia mengalami

permasalahan dalam kerja yang tidak optimal, mengalami gangguan tidur, nafsu makan,

semangat dalam beraktifitas serta sering tidak fokus dan sering menangis. Bahkan YE juga

mengatakan kalau sudah malu untuk hidup dengan kondisi sepert ini, dia merasa tidak

memiliki kemampuan untuk menghadapi masalah uang dihadapinya. Pada saat bercerita

YE selalu meneteskan air matanya. Dia juga mengaku pernah melakukan percobaan bunuh

diri, karena sudah tidak bisa menanggung permasalahn yang dihadapi. Percobaan bunuh

diri yang dilakukan YE ini, dengan mencoba melukai pergelangan tangannya ketika berada

dikamar sendirian. Tetapi perbuatan tersebut di ketahui oleh anaknya dan langsung sang

anak meneriaki YE. Setelah mendengan suara anaknya dia menghentikan perbuatan itu

dan akhirnya percobaan bunuh diri itu gagal, dan YE mengaku menyesal melakukannya.

Ketika YE menceritakan percobaan bunuh diri tersebut sambil menangis dan menunjukkan

bekas luka di pergelangan tangan kiri. Pada saat ini YE tidak tahu harus bagaimana untuk

menyembuhkan dan mengembalikan seperti semula. Dia hanya menginginkan untuk

menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya. Karena jika dibiarkan lebih lama akan

berdampak pada orang yang berada disekelilingnya, Ungkapnya.

Dalam kondisi yang seperti itu YE mengatakan yang tau hanya orang tuanya di

Madura. Orang tuanya juga mendukung untuk bisa menyelesaikan masalah ini. dia

mengatakan bahkan sempat orang tuanya membawakan minuman dari sesepuh agar YE

(12)

12 dalam diri YE. Selain orang tuanya suami dan pemilik warung dimana YE bekerja juga

menanyai kepada YE apa yang terjadi akhir-akhir ini sehingga membuat YE sperti ini

akhir-akhir ini. Mereka orang yang berada di sekeliling YE ingin YE kembali seperti biasa.

Setelah YE menceritakan semuannya sesuai dengan arahan konselor, maka

konselor mulai menyimpulakan kondisi, lingkungan dan keinginan YE kedepan. Setelah

itu konselor meminta YE untuk mulai mencari solusi apa yang harus dilakukan oleh YE

melalui bantuan dan arahan dari konselor. Setalah itu YE memilih untuk mulai menerima

kenyataan yang terjadi sebenarnya pada dirinya dan fokus apa yang sudah ada dalam diri

dan lingkungannya seperti anak, keluarga dan teman-temanya. Selain itu YE juga

meningkatkan ibadah, serta memberikan motivasi kepada diri sendiri bahwa bisa

menghadapi apa yang sedang terjadi dan mulai melakukan aktifitas seperti biasanya.

Setelah dilakukan sesi konseling pertama, maka ada jeda selama lima hari dan

kembali lagi dengan membahas apa yang sudah didapatkan dan programnya dilaksanakan

atau tidak. YE pada sesi kedua ini lebih ceria, karena YE sudah bisa tidur seperti biasanya

walau kadang juga masih terbangun dan masih mengingat, tetapi ketika terbangun dia

gunakan untuk beribadah. Selain itu YE juga sudah jarang menangis di tempat kerja serta

nafsu makan sudah mulai membaik, walau kadang masih ada rasa sedih dalam raut muka

YE ketika bekerja (didapatkan dari observasi ketika diwarung). YE mengatakan sudah

mendingan dan lebih nyaman sekarang dari pada sebelum-sebelumnya. YE akan terus

meningkatkan hingga merasa dirinya kembali seperti semula dan menjadikan hal ini

sebagai pelajaran terbaik yeye. Ungkap YE dalam konseling kedua ini.

Setelah itu selang dua hari kemudian dilakukan kembali konseling sederhana

dengan menanyakan kabar dan keadaan YE. Dia pun menjawab dengan baik serta sudah

merasa kembali seperti semula. Setelah itu konselor mencoba melakukan kroscek dengan

pemilik warung, diamana pemilik warung mengatakan bahwa YE sudah kembali seperti

biasanya.

Drai hasil intervensi dapat disimpulakan bahwa hasil intervensi ini di dapatkan

perubahan, adapun perubahan yang tersebut :

Tabel 1

Hasil konseling sebelum dan sesudah

Sebelum Konseling Sesudah Konseling

1. Melamun di rumah dan di tempat kerja 2. Menangis di rumah dan di tempat kerja 3. Sering tidak bisa tidur dan terbangung

ditengah malam

1. Sudah tidak terlihat melamun di tempat kerja

(13)

13 4. Nafsu makan berkurang

5. Gelisah

6. Merasa menyesali perbutan yang telah dilakukan

7. Pekerjaan di tempat kerja dan di rumah terganggu

8. Melakukan percobaan bunuh diri

berkurang

3. Bisa tidur dengan nyaman, saat malam sudah jarang terbangun tidak sesering dulu

4. Nafsu makannya sudah kembali

5. Kembali bekerja dengan seperti biasa, dan sudah kembali ceria

6. Masih kadang kadang gelisah dan teingat kejadian masa lalu walau tidak sesering dulu

7. Sudah tidak ada niat untuk melakukan bunuh diri

PEMBAHASAN

Dari hasil asessmen yang telah dilakukan dapat diketahui beberapa gejala yang

mengarah pada suatu diagnosis, gejala tersebut diantaranya adalah adanya simtom-simtom

depresi yang dialami YE sejak tiga bulan belakangan sering melamun, menangis, di rumah

dan di tempat kerja. YE juga sering tidak bisa tidur, nafsu makan berkurang serta sering

gelisah, selain itu juga merasa menyesali perbutan yang telah dilakukan. Sehingga

pekerjaan di tempat kerja dan di rumah terganggu. Bahkan sempat melakukan percobaan

bunuh diri. Gejala-gejala di atas mengarahkan pada diagnosis deperesi, karena YE

mengalami gejala-gejala tersebut aktif selama kurang lebih tiga bulan. Sebagaimana yang

tercantum dalam PPDGJ III dan DSM tentang diagnosa depresi bahwa “Semua tiga gejala

utama harus ada ditambah sekurang-kurangnya empat dari gejala lainnya. Lama episode

sekurang-kurangnya dua minggu akan tetapi apabila gejala sangat berat dan onset sangat

cepat maka dibenarkan untuk menegakkan diagnosa dalam kurun waktu dalam dua

minggu.”

Intervensi yang diberikan kepada YE berupa konseling cukup efektif karena

konseling ini dibutuhkan oleh YE untuk membantu memahami apa yang sedang dihadapi

olehnya, sehingga dia mampu mencari solusi dan melaksanakannya dengan baik.

Konseling ini berupa konseling dengan pendekatan kawruh jiwa dimana didalamnya

menggunakan langkah dengan ngudari reribed atau membuka permasalahan. Dimana

pada tahap ini yaitu untuk menganalisi penyebab-penyebab permasalahan yang timbul

hingga penemuan solusi masalah YE. Dalam membantu menganalisis penyebab

permasalahan yang timbul, maka YE diajak untuk memikirkan apa yang terjadi sekarang

(14)

14 dengan getun yaitu kekecewaan atau takut terhadap kejadian yang dialami oleh YE, yang

menyebabkan jatuh pada masa celaka, dan susah selamanya, serta tidak bergelut juga pada

sumelang yaitu kekhawatiran akan ketidak mampuan penyelesaian masalah dan

kekhawatiran akan mengakibatkan ruamah tangga YE dan orang lain hancur. Sehingga YE

bisa fokus pada apa permasalahan yang sedang dihadapi hingga mencari solusi akan

masalahnya (Sugiarto, 2015). Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Kholik &

Himam (2015) mengatakan bahwa proses tersebut sama halnya Sejalan dengan pendekatan

konsep psikoterapi (Psikoanalisis Freud, Behavio-ristik Skinner, Humanistik Rogers dan

Transpersonal) yang pada dasarnya pendekatan tersebut memberikan pemahaman tentang

kesadaran, kemampuan mengana-lisis diri sendiri, perubahan terhadap cara berpikir,

(seperti bisa menerima diri sendiri, memiliki rasa empati dan lebih optimis dan positif pada

kehidupan) yang diwujudkan dalam tindakan yang lebih sehat dan nyata.

Dalam nyawang karep dilakukan untuk melihat keingan dari masalah yang YE

alami, dimana nyawang karep ini merupakan langkah untuk berinteraksi dengan diri

sendiri. Maksudnya, individu sudah berhasil memisahkan antara dirinya dan perasaannya.

Apa yang dia rasakan, senang-susah hanyalah perasaan. Dimana disini YE dibantu dalam

memilih pilihan yang tepat untuk dijadikan keputusan bertindak sesuai dirinya.Sedangkan

nyococken raos sebagai cara untuk menyelarasakan rasa yang sama (raos sami) antara rasa

dirinya dan rasa orang lain. dimana pilihan solusi yang akan dilakukan YE juga melihat

raos pada orang lain. Hal ini seperti yang dikemukaan oleh Adler dalam Sundbreg,

Winebarger & Tplin (2007) bahwa dalam mencapai tujuan seseorang harus juga melihat

kepentingan dan atau kondisi orang lain disekitar kita, agar menjadi pribadi yang baik.

Tahapan konseling kawruh jiwa dilakukan dengan cara kondo takon yaitu berupa

tanya jawab yang bersifat bukan menggurui dan harus di turuti, tetapi bersifat membantu

dan untuk saling mengetahui serta memahami permasalahan yang dibahas. Sehingga dalam

konsleing yang berlangsung tidak menimbulkan kecanggungan dengan YE. Seperti halnya

hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Kholik & Himam (2015) Kanda-takon yang

tujuannya menular-kan atau menyampaikan pendapat tentang pengalaman rasa sehat,

tentram, damai, tabah, tatag dan bahagia ini dengan sendirinya melahirkan rasa ‛sih‛. Rasa

‛sih‛ ini ada di dalam rasanya individu masing-masing sehingga bisa dirasakan bersama-sama dalam sebuah junggringan-kanda-takon. Hal ini dipahami sebagai wujud individu

(15)

15 Setelah diberikan intervensi berupa konseling kawruh jiwa didapatkan perubahan

cukup membaik hal ini dapat dilihat pada tabel hasil intervensi di atas. Dari hasil intervensi

berupa konseling kaweruh jiwa yang diberikan hal ini sejalan oleh beberapa penelitian

yang dilakukan oleh Agista (2011) menyatakan bahwa melalui konseling behavioristik

dengan pengelolaan diri, dapat menangani mahasiswa yang mengalami stres karena

perkuliahan. Selain itu konseling juga memiliki pengaruh yang signifikan pemberian

konseling individual terhadap penurunan depresi pada pasien Program Terapi Rumatan

Metadon (Wardhani & Partini, 2014), serta ada pengaruh pemberian konseling terhadap

depresi post partum di Puskesmas II dan IV Denpasar Selatan (Kenwa, Karkata, Triyani,

2015). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Budihastuti, dkk (2012),

pemberian konseling efektif dalam membantu pembentukan mekanisme koping positif

pada ibu sehingga ibu cenderung tidak mengalami depresi.

Perubahan yang dialami oleh YE tidak hanya dikarenakan faktor konseling saja,

tetapi sudah ada beberapa usaha-usaha yang dilakukan oleh dia. Kegiatan rohani seperti

sering mengambil wudu dan sholat, hal ini dilakukannya baik diwaktu sholat lima waktu

ataupun sholat sunah lainnya, dan beberapa dukungan keluarga yang baik untuk YE.

Dalam pelaksanaan penelitian ini masih memiliki keterbatasan antara lain : 1.

Peneliti melakukan diagnosa hanya melalui hasil observasi dan wawancara 2. Peneliti

hanya memiliki satu subjek saja. Sehingga tidak ada pembanding dan subjek penguat yang

lainnya.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dari hasil asesmen berupa observasi dan wawancara didapatkan bahwa subjek

mengalami permasalahan dengan keluaraga, permasalahan tersebut membuat subjek

mengalami depresi. Hal ini dapat dilihan dari subjek sering melamun, menangis, di rumah

dan di tempat kerja. YE juga sering tidak bisa tidur, nafsu makan berkurang serta sering

gelisah, selain itu juga merasa menyesali perbutan yang telah dilakukan. Sehingga

pekerjaan di tempat kerja dan di rumah terganggu. Bahkan sempat melakukan percobaan

bunuh diri.

Setelah dilakukan intervensi berupa konseling individu dengan menggunakan

pendekatan kawruh jiwa Ki Ageng Suryamentaram, dilakukan selama tiga kali pertemuan

(16)

16 perubahan yang terjadi pada YE. Dari hasil intervensi didapatkan ada perubahan yang

terjadi pada YE. Ada pun perubahan tersebut yaitu; sudah bisa tidur dengan nyaman, nafsu

makannya sudah kembali, sudah tidak terlihat menangis di tempat kerja, sudah jarang

melamun, kembali bekerja dengan seperti biasa, dan sudah kembali ceria dan rame ketika

di warung seperti dahulu, walau pun belum pulih secara seutuhnya. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa intervensi yang diberikan berupa konseling kawruh jiwa cukup efektif

terhadap YE.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disarankan kepada :

1. Untuk YE, diharap mampu untuk meningkatkan apa yang sudah didapatkan selama

konsleing sehingga perubahannya menjadi lebih baik, mempertahankan usaha dan

semangat untuk tetap sembuh bahkan jika bisa harus di tingkatkan, serta

menghargai dan lebih menyayangi keluarga yang sudah ada.

2. Untuk peneliti selanjutnya saya harap ada penerus atau berminat dalam penelitian

ini, agar dalam melakukan diagnosis ditambah dengan menggunakan tes, serta

subjek dan saya harap jauh lebih matang lagi dalam pelaksanaan baik secara materi

tentang konseling kawruh jiwa atau yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Agista, Isni. (2011). Penanganan Kasus Stres Dalam Menghadapi Aktivitas Kuliah Melalui Pendekatan Konseling Behviouristik Dengan Teknik Pengelolaan Diri Pada Mahasiswa Jurusan Senirupa FBS UNNES Tahun Ajaran 2010/2011. Skripsi. Jurusa Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

APA. (2013). Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders

Budihastuti, S.F.,Hakimi,M.,Sunartini,Soejono, S.K.(2012).Konseling dan Mekanisme Koping Ibu Bersalin.Yogyakarta:Journal of Educational, Health and Community Psychologi 2012 Vol.1 No.1

Cynthia, Trida & Anita Zulkaida. (2009). Kecenderungan Depresi pada Mahasiswa dan Perbedaan berdasarkan Jenis Kelamin. Diakses pada tanggal 15 September 2016 dari http:repository.gunadarma.ac.id:8000/ichwan_s_pengembangan_comp_1315.pdf

Davision, Gerald C., Neale, Jhon M., & Kring Ann M. (2010). Psikologi Abnormal. Rajagrafarino Persada, Jakarta

(17)

17 Hestianingsih, (2016). Duh, 1 dari 5 Orang Merasa Depresi Akibat Social Media. Dari

http://m.detik.com/wolipop/read/2016/04/08/184323/3183481/1135/duh-1-dari-5-orang-merasa-depresi-akibat-social-media. Diakses tanggal 21 Oktober 2016

Kenwa Pamela., Karkata, Made K., Triyani, I Gusti Ayu. (2015). Pengaruh Pemberian Konseling Terhadap Depresi Post Partum Di Puskesmas II Dan IV Denpasar Selatan.

COPING Ners Journal l.3 (2) ISSN: 2303-1298

http://ojs.unud.ac.id/index.php/coping/article/view/15680/10504

Kholik, Abdul., Himam, Fathul. (2015).Konsep Psikoterapi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. GAMA JOP 1 (2), 120 – 134 ISSN: 2407-7798 https://jurnal.ugm.ac.id/gamajop/article/view/7349

Krenke, I.S., & Stemmler, M. (2002). Factors Contributing to Gender Differences in Depressive Symptoms:A Test of Three Developmental Models. Journal of Youth and Adolescence, 31(6), 405-417).

Maramis WS. (2009). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Universitas Airlangga;. hlm. 45-49.

Marhamah, Uswatun., Murtadlo, Ali., & Awalya. (2015). Indigenous Konseling ( Studi Pemikiran Kearifan Lokal Ki Ageng Suryomentaram Dalam Kawruh jiwa ). Jurnal Bimbingan Konseling 4 (2) (2015) ISSN 2252-6889 . http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jubk

Maslim, R. (2001). Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta: FK-Atmajaya.

Nelson, Rechard & Jones. (2011). Teori dan Praktik Konsleing dan Terapi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Nevid, J. F., dkk. (2005). Psikologi Abnormal. Erlangga. Jakarta

Prihartanti, N. (2008). Mencapai Kebahagiaan Bersama Dalam Masyarakat Majemuk. Jurnal Psikologi Indonesia, 1, 73-79.

Shaughnessy, Jhon J., Zechmeister, Eugene B., & Zechmeister, Jeanne S. (2012). Metode Penenlitian Dalam Psikologi. Salemba Humanika. Jakarta

Sugiarto, R. (2015). Psikologi Raos. Yogyakarta: Pustaka Frada.

Sundberg, Norman D., Winebarger, Allen A., Taplin, Julian R. (2007). Psikologi Klinis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta

Wardhani, Yulia K., & Partini. (2014). Pengaruh Konseling Terhadap Penurunan Depresi Pada Pasien Program Terapi Rumatan Metadon Di Puskesmas Manahan Solo. Naskah Publikasi. http://eprints.ums.ac.id/30703/21/NASKAH_PUBLIKASI.pdf

Gambar

Tabel 1 Hasil konseling sebelum dan sesudah

Referensi

Dokumen terkait

Pada dasarnya Kantor Cabang Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 Tegal menginginkan agar karyawan memiliki motivasi yang tinggi dalam menyelesaikan pekerjaannya, akan tetapi

Saran bagi keluarga agar menjadi siap secara psikologis maka hal yang dilakukan adalah, keluarga harus proaktif dalam mencari informasi mengenai penanganan gangguan jiwa dan

Iklim Psikologis merupakan penafsiran individu karyawan dari lingkungan kerja mereka sehari-hari yang mempengaruhi kinerja karyawan (Schneider et al., dalam Biswas dan

Minat tersebut muncul dipengaruhi oleh kebutuhan dan pelayanan cepat yang diberikan oleh Asuransi Jiwa Syariah AL AMIN Cabang Lampung serta kemudahan dalam proses

Menurut Herriot dan Pemberton (dalam Conway dan Briner, 2005),kontrak psikologis merupakan persepsi perusahaan dan individu tentang obligasi respirokal (kewajiban

Individu dengan konflik peran yang tinggi akan merasa kesulitan dalam menyeimbangkan tuntutan-tuntutan yang muncul pada pekerjaannya sehingga dalam penelitian Blomme

Minat tersebut muncul dipengaruhi oleh kebutuhan dan pelayanan cepat yang diberikan oleh Asuransi Jiwa Syariah Al-Amin Cabang Lampung serta kemudahan dalam proses klaim

Sedangkan gangguan jiwa yang dikenal pada masyarakat desa Songak merupakan gejala kesurupan dalam bahasa Songak sering disebut kerandingan yang merupakan peristiwa dimana penderita