The Will to Govern Perencanaan Pembangun

Teks penuh

(1)

“The Will to Govern”:

Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan Wilayah di

Pesisir Selatan Pulau Jawa

*

Oleh : Ahmad Rizky Mardhatillah Umar**

Di awal bulan Juli 2012, masyarakat pesisir selatan Kulon Progo melakukan demonstrasi di depan DPRD Provinsi DIY. Mereka menuntut DPRD membatalkan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Provinsi DIY. Mereka menilai Perda RTRW tersebut merugikan kepentingan masyarakat pesisir selatan, terkait rencana pertambangan pasir besi di wilayah tersebut. Wilayah Garongan dan sekitarnya memang lama menghadapi konflik terkait kehadiran perusahaan tambang pasir besi di wilayah tersebut.

Kasus di atas mencerminkan paradoks, baik dalam konteks sustainable development atau perencanaan partisipatif dalam konteks pembangunan wilayah. Baru-baru ini, FIB UGM meluncurkan kajian menarik dari Profesor Tania Murray Li tentang etnografi pembangunan di Indonesia, yang berkesimpulan bahwa proses pembangunan di Indonesia tak lepas dari practice of politics dan practice of governmentality (Li, 2012). Tulisan ini berniat untuk mengulas sedikit tentang perencanaan desa di pesisir Selatan pulau Jawa dengan menggunakan kerangka kajian Tania Murray Li tentang proses pembangunan di Indonesia.

Perdebatan tentang Pembangunan

Secara konseptual, setidaknya ada tiga perspektif besar yang digunakan untuk memahami perencanaan pembangunan daerah pasca-Reformasi. Pertama,

perspektif neo-liberal atau neo-institusionalis. Cara pandang ini banyak dibawa oleh beberapa lembaga donor dan international development dalam memahami desentralisasi. Argumen dasarnya adalah “upaya mempertahankan pertumbuhan, penyediaan lapangan kerja, dan peningkatan penghasilan kaum miskin melalui intervensi kebijakan eksplisit terhadap kebijakan pertumbuhan –suatu kebijakan pertumbuhan yang pro-poor” (Antlov, 2008).

Logika yang sangat khas bercorak neo-institusionalis tercermin dari semangat untuk memindahkan kewenangan negara kepada masyarakat dengan tujuan untuk memperkuat konsolidasi reformasi ekonomi berbasis pasar (Goldfrank, 2007). Sistem perencanaan model ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dengan penekanan pada kesiapan menghadapi ekonomi pasar. Perspektif ini tidak memberikan kacamata analisis untuk melihat perjuangan kelompok-kelompok sosial yang termarjinalisasi oleh praktik pembangunan, terutama ketika berhadapan dengan struktur besar pasar seperti petani lahan pantai diKulon Progo.

Kritik terhadap pendekatan ini datang dari cara pandang kedua, yaitu pendekatan Marxis. Argumen dasarnya, skema desentralisasi dan perencanaan pembangunan yang terjadi di Indonesia pasca-Soeharto adalah bagian tak terpisahkan dari

*Disampaikan pada LKMM BEM Fakultas Geografi, 29 September 2012..

** Penulis adalah Menteri Koordinator Kebijakan Eksternal di BEM KM UGM, Mahasiswa

(2)

konsolidasi rejim free market yang bertujuan menjaga kepemilikan pribadi –atau modal (Hadiz, 2004; Hadiz, 2010). Secara garis besar, konsolidasi rejim free-market tersebut dioperasionalisasikan melalui proses transformasi kepentingan predatoris warisan Orde Baru yang menempatkan kelompok pemilik modal sebagai bagian tak terpisahkan dari struktur politik nasional.

Artinya, pergeseran paradigma pembangunan tersebut, dalam perspektif ini, adalah re-konsolidasi oligarki yang tumbuh pada rejim Orde Baru, dan bukan bersifat partisipatif an sich (Hadiz dan Robison, 2004). Proses perencanaan pembangunan yang pro-poor perlu meletakkan analisis mengenai relasi dan arus modal yang beroperasi di sekitar proses perencanaan.

Sementara cara pandang ketiga diwarisi dari pendekatan post-strukturalis khas Foucauldian. Cara pandang ini melihat bahwa proses perencanaan pembangunan di Indonesia adalah injeksi dan manifestasi dari proses kekuasaan tertentu. Foucault memperkenalkan istilah "Government" untuk melihat manifestasi dari proses pelembagaan pembangunan tertentu di masyarakat. Hakikat dari “government” adalah mengubah persepsi dan perilaku masyarakat melalui tindakan-tindakan yang telah dikalkulasikan sebelumnya secara programatik, dengan mendidik semangat, hasrat, serta mendorong aspirasi untuk melakukan sesuatu (Li, 2005).

Tentu saja, upaya programatik tersebut didorong untuk sampai pada satu muara tertentu. Inilah yang disebut oleh Foucault sebagai “proses kekuasaan tertentu” (Sheridan, 1980). Tujuan dari “government” adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan sejenisnya. Perspektif ini tidak melihat sebatas relasi-relasi modal di sekitar proses perencanaan pembangunan daerah di Indonesia, tetapi juga relasi-relasi kekuasaan.

Pasca-1998: Bergesernya Paradigma Pembangunan

Setelah mendudukkan pembangunan wilayah dalam perspektif teoretis, kita perlu melihat setting sosial-politik atas proses pembangunan tersebut. Pasca-1998, Indonesia mengalami perubahan paradigma yang sangat mendasar dalam logika pembangunan. Dulu, pemerintah pusat menentukan semua. Proses pembangunan dibangun dalam logika top-down. Pemerintah Orde Baru mengkorporatisasi pemerintah desa dengan logika birokratik-politis mereka -meminjam Karl D. Jacson. Akibatnya, dalam struktur pemerintah desa era Orde Baru, Posisi Pemerintah Desa adalah posisi birokrasi -alat negara.

Dengan konteks ini, pemerintah meredam semua bentuk gerakan kritis rakyat dengan berbagai bentuk kebijakan. Pertama kali yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru adalah membersihkan PKI. Partai berhaluan komunis ini, hingga tahun 1965, menjadi partai yang paling berkuasa di tingkat desa. Sel-sel mereka mampu menggerakkan petani untuk menuntut hak mereka atas tanah. Alat tani mereka di desa-desa adalah BTI. Gerakan ini jelas akan sangat merintangi kerja pemerintah, dan segera diberangus sebagai momentum konsolidasi pertama rezim Orde Baru.

(3)

Dengan demikian, proses pembangunan menjadi lebih mudah diinternalisasi kepada masyarakat. Negara dengan semua aparatusnya berkepentingan untuk menanamkan ideologi mereka kepada masyarakat agar semua bentuk dan potensi perlawanan dari masyarakat dapat dibungkam. Sehingga, proses perencanaan dan pembangunan di era Orde Baru pada dasarnya embedded dengan proses pembentukan dan konsolidasi rejim politik otoriter.

Pasca-Orde Baru runtuh, model "government" tersebut berubah haluan. Dulu, "governmentality" otomatis dikuasai oleh negara. Sekarang, muncul banyak aktor yang bermain dengan pendekatan-pendekatan yang dianut. Salah satu aktor yang masuk adalah lembaga-lembaga donor asing, macam World Bank atau

International Development dari masing-masing negara. Perubahan paradigma yang terjadi adalah pemindahan otoritas dari "negara" ke kekuatan "pasar" melalui berbagai injeksi programatik.

Tania Murray Li (2005) memotret bagaimana transfer otoritas tersebut terjadi melalui program yang dulu "sangat kiri" alias digunakan oleh kelompok anti-Orba sebagai alat perlawanan. Lembaga donor masuk, di tahun 2002, misalnya, melalui Program Pengembangan Kecamatan yang kini menjadi PNPM Mandiri. Model yang digunakan, seperti dipotret Prof. Li, adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) yang memosisikan masyarakat sebagai "subjek kajian". Model kajian yang dikembangkan Robert Chambers ini pada mulanya digunakan, terutama oleh fasilitator pembangunan dunia ketiga sebagai alat penyadaran kritis dalam pendidikan model Marxis, Akan tetapi, kini fungsinya justru berubah arah oleh masuknya kelompok lembaga donor pada proses pembangunan.

Tak hanya itu, proses perencanaan pembangunan pun segera dikonstruksi dengan model-model neoliberal (Li, 2005). Model dasarnya adalah pemindahan logika menjadi bottom-up. Sekilas, hal ini tak jauh berbeda dengan logika demokrasi yang mengarusutamakan suara rakyat secara partisipatoris. Akan tetapi, tujuan dasarnya berbeda 180 derajat: bukan memperjuangkan kesetaraan, tetapi menginjeksi masyarakat dengan logika ekonomi pasar dan memindahkan tugas negara.

Asumsi dasarnya begini: Otoritas "untuk mengatur" (to govern) diberikan kepada masyarakat, tetapi tetap dengan asistensi agar penerimaan terhadap logika ekonomi pasar masuk. Apa instrumennya? Advokasi masyarakat sipil. Itulah sebabnya World Bank dan kawan-kawannya begitu getol memberikan uang untuk mendanai proyek masyarakat sipil untuk program pembangunan mereka. Tujuan utamanya bukan sekadar memberi kapasitas berlebih kepada masyarakat, melainkan juga memberi kapasitas masyarakat untuk beradaptasi dengan logika ekonomi pasar.

Masuknya International Development

Pihak yang getol mengkampanyekan ini adalah World Bank -salah satu institusi yang dimasukkan oleh John Williamson (1990) sebagai bagian The Washington Consensus. Ada lagi beberapa institusi yang memberikan pendanaan pembangunan dari negara-negara maju, macam USAID, European Committee, AusAid, NZAid, dan lain sebagainya.

(4)

terlihat. Walaupun, mereka hanya menggelontorkan dana tanpa mengharap kembali. Sebagai contoh, World Bank membiayai beberapa project pemberdayaan masyarakat yang terkait dengan perencanaan. Hasil dari project ini adalah panduan perencanaan berbasis perdamaian untuk wilayah konflik, seperti Aceh.

Kesimpulannya, ada semacam agenda untuk melakukan peace mainstreaming. WB memang tidak berkepentingan dengan dana yang digelontorkan. Akan tetapi, apa yang menjadi tujuannya? Dalam perspektif awam saja, jelas WB berkepentingan menanamkan peace mainstreaming kepada perangkat desa. Peace mainstreaming,

jika diletakkan dalam konteks global, adalah upaya sistematis untuk memasukkan logika perdamaian kepada masyarakat dunia ketiga.

Jika dikaitkan dengan politik luar negeri AS beberapa dasawarsa terakhir, peace mainstreaming erat kaitannya dengan politik kontraterorisme yang dijalankan melalui jalur preventif. Hal-hal tersebut sifatnya bisa praksis, bisa saja konstruktif terhadap mindset. Kalau yang kedua ini dipakai, WB dan kawan-kawan sukses mengubah paradigma pembangunan sesuai dengan agenda advokasi mereka.

Kita bisa membongkar logika yang digunakan. Ada dua paradigma yang cukup mendasar dan sifatnya vis-a-vis satu sama lain. Pertama, paradigma struktural. Dengan menggunakan pendekatan struktural ini, penguatan kapasitas masyarakat ditujukan untuk melawan setiap bentuk represi. Orientasinya, penyadaran kritis.

Kedua, paradigma pasar. Artinya, penguatan kapasitas masyarakat ditujukan untuk membuatnya berdaya saing dan bisa berkompetisi dalam persaingan pasar yang kian bebas. Jelas, kesadarannya sifatnya pragmatis.

International Development jelas memiliki agenda setting yang kedua. Mengapa? Jawaban sederhana yang muncul, karena agenda negara-negara maju tersebut adalah melebarkan sayap ekonomi seluas-luasnya. Dan artinya, setiap negara harus peka terhadap kebutuhan pasar. Globalisasi ekonomi menjadi instrumen. Dengan demikian, logika pembangunan memang mengarusutamakan partisipasi warga atau hak-hak sosial ekonomi, tetapi tujuannya bukan penyadaran kritis.

Ini yang membedakan sistem perencanaan ala WB dan kawan-kawan dengan pendekatan Freirean. Dalam pendekatan Freirean, perencanaan ditujukan untuk kepentingan masyarakat, dan orientasinya adalah penyadaran kritis akan peran dan fungsinya di masyarakat. Pada titik ini, kita perlu bersikap kritis. Apakah partisipasi masyarakat yang kerap dikampanyekan lembaga-lembaga donor itu sekadar "kebaikan hati" atau ada kepentingan di baliknya?

‘Perencanaan’ dan Governmentality

Masyarakat kemudian diperkenalkan dengan sistem perencanaan partisipatif. Ada, misalnya, Permendagri Nomor 66 Tahun 2007 tentang RPJMDesa, yang "menyuruh" masyarakat untuk merencanakan pembangunannya secara partisipatif dalam jangka lima-tahunan. Sebelumnya, masyarakat diinjeksi dengan logika "demokrasi liberal" melalui Pemilihan Kepala Desa.

(5)

Akan tetapi, dengan kecurigaan Foucauldian -atau seperti itulah yang sejenis- kita bisa mempertanyakan: apa maksud dari semua ini? Sebagaimana isyarat Foucault, seluruh aktivitas manusia adalah practice of politics. Foucault (1987), memberikan proposisi yang cukup terkenal: dimana ada kekuasaan, di sana ada perlawanan, dan perlawanan tersebut tidak pernah berada eksternal dari relasi kekuasaan yang ada. Ada relasi kekuasaan yang eksternal dari perencanaan partisipatif itu. Dari yang awal mulanya mendorong partisipasi masyarakat, apa yang diinginkan oleh donor?

Tania Murray Li dengan cermat membaca kelemahan model tersebut: Paradigma yang sangat khas neoliberal, dan ini bersifat fundamental, membatasi ‘area kerja’ dari model perencanaan. Paradigma neoliberal tidak mengarahkan pandangannya pada problem-problem struktural yang ada di masyarakat. Pembangunan hanya diarahkan pada bagaimana membangun kemandirian masyarakat melalui stimulus modal, bukan pada kerangka struktur sosial-politik-ekonominya.

Padahal, sebagaimana dikatakan oleh Vedi Hadiz (2004), semua bentuk aktivitas partisipasi, perencanaan, pembangunan, akuntabilitas, atau hak-hak ekosob sebenarnya terikat pada sebuah proses pergulatan kepentingan antar-kelas dan kelompok sosial secara historis. Ini berarti, ada sebuah missing link dari pembangunan dan perencanaan berbasis masyarakat dengan lingkungan eksternalnya. Ini nanti yang akan kita elaborasi di pesisir selatan.

Asumsi dasar neoliberal adalah menggeser kekuasaan negara kepada publik, melalui desentralisasi. Vedi Hadiz sudah membaca hal ini (2004) dengan melihat proses desentralisasi Indonesia sebagai injeksi formasi kekuasaan pasar dalam struktur ekonomi-politik Indonesia. Melalui desentralisasi dan partisipasi, negara tidak terlalu powerful, kekuasaan pasar dapat terkonsolidasi dengan bantuan masyarakat yang sudah terinjeksi dengan penguatan kapasitas khas negara neoliberal.

Pada titik ini, perencanaan menjadi vital. Dengan adanya perencanaan, potensi-potensi pembangunan yang pro-pasar dapat didaftar terlebih dulu. Perumusan RPJMDesa, misalnya, terlebih dulu dilakukan dengan mendaftar semua potensi dan permasalahan yang ada. Masyarakat tentu saja akan lebih senang mendaftar semua permasalahan dan potensi mereka secara mandiri, yang berarti pemenuhan kebutuhan dasar, dan lain-lain. Infrastruktur lebih gampang dijangkau. Bukankah itu lebih memudahkan bagi warga desa?

Meminjam analisa James Scott (1982), masyarakat pertanian pada dasarnya tak menyukai perjuangan revolusioner. Mereka adalah 'orang yang bersifat pasrah' terhadap pembangunan yang ada, tetapi pada dasarnya ingin terlibat. Mereka berkepentingan terhadap pembangunan, tetapi tidak berniat mengkritisi terlalu jauh di luar kepentingan mereka. Akibatnya, proses injeksi model pembangunan jenis apapun tidak akan begitu susah. Dengan logika partisipatif, proses injeksi logika neoliberal ke masyarakat desa menjadi lebih mudah. Target yang lebih mudah, yang dicapai oleh logika ini, adalah mengurangi tanggung jawab negara dan menyerahkannya kepada masyarakat.

(6)

logika ekonomi teknokrasi. Sehingga, pembangunan masyarakat akan sejalan dengan logika ekonomi pasar yang berjalan di negeri ini.

Pada seting inilah relasi kekuasaan dari proses perencanaan di tingkat desa itu terjalin. Artinya, kepentingan lembaga donor mengadvokasi partisipasi publik, pada hakikatnya -dengan kecurigaan post-strukturalis saya- adalah upaya meneguhkan kekuasaan pasar.

Kasus Pesisir Selatan: Kritik terhadap ‘Perencanaan’

Pembacaan teoretis di atas dimaksudkan untuk menelaah kasus yang saya amati di lokasi KKN saya di pesisir selatan Kulon Progo. Saya mendapati, bahwa proses perencanaan desa pasca-Orde Baru melahirkan banyak implikasi. Dalam kasus Kulon Progo, ada beberapa hal yang perlundicermati: pengelolaan pertambangan, kepemilikan dan distribusi lahan, serta posisi kaum miskin pedesaan yang tak kunjung terangkat dalam relasi modal secara eksternal.

Persoalan Pertambangan Pasir Besi menjadi problem serius dalam tata ruang dan wilayah Kulon Progo. Bahkan, dalam RPJMD yang baru disahkan menjadi Perda Nomor 2 Tahun 2011, masalah ini masuk. Namun, sepertinya pemerintah daerah enggan melepas potensi investasi yang besar, alih-alih memperjuangkan kepentingan masyarakat yang tergusur lahannya.

Tempo hari, saya pergi ke Panjatan, pesisir Selatan Kulon Progo. Di sepanjang jalan menuju Panjatan, terutama wilayah Bugel sampai Garongan, penolakan warga kian menghebat. Spanduk penolakan semakin banyak dan isinya semakin radikal. Tukijo, seorang petani di Bugel, dipenjara 6 tahun karena membela kepentingan warga. Hal-hal semacam ini jelas tidak masuk dalam logika perencanaan partisipatif. Sebabnya sederhana: proses partisipatif di level desa akan membentur kepentingan birokratis dan teknokratis di level daerah. Jika menggunakan logika partisipatif secara konsisten, pasir besi pasti sudah akan dilarang di Kulon Progo. Namun, mengapa tidak kunjung "diusir"?

Ini yang patut menjadi kritik pertama dari proses perencanaan partisipatif yang sebenarnya tak lepas dari relasi kekuasaan di luar dirinya. Partisipasi masyarakat tidak sepenuhnya dibaca sebagai "emansipasi" masyarakat dari kepentingan apapun yang menindas. Justru sebaliknya, negara malah menjadi agen kekuatan modal asing yang tak lepas perannya dari lembaga-lembaga donor dan International Development itu. Artinya, logika partisipatif yang dirancang oleh perencanaan pembangunan hasil advokasi lembaga-lembaga donor itu, memang tidak memadai jika dibenturkan dengan problem struktural. Jawabnya, dalam hipotesis saya, adalah karena memang kepentingan mereka justru terletak pada penegasan struktur tersebut.

Selain, Kooptasi elit-elit lokal, baik di tingkat kabupaten maupun desa itu sendiri, kentara sekali terlihat. Pemerintah yang membakukan perencanaan partisipatif dalam serangkaian Permendagri jelas tidak mempersiapkan postur birokrasi yang mendukung partisipasi. Justru sebaliknya, jika ada yang pernah membaca Permendagri Nomor 66 Tahun 2007, partisipasi justru dibaca dalam format yang sangat birokratis dan terkadang tidak dipahami masyarakat desa.

(7)

desa Demen sendiri, terlihat bahwa inkapabilitas pamong masih menjadi masalah utama. Ada dua analisa yang dapat saya baca dari hal ini. Pertama, karena memang prosedur yang sangat birokratis, susah dibaca perangkat desa. Kedua, karena memang perangkat desa dipenuhi oleh kepentingan politik!

Ini jelas konsekuensi dari demokrasi liberal yang diinjeksikan ke dalam pemerintahan desa. Dalam bahasa Tania Murray Li, hal-hal seperti ini jelas sangat rawan melemahkan postur kelembagaan informal desa, yang punya mekanisme sendiri dalam menyelesaikan masalah. Musyawarah menjadi terlampau formalistik, kehilangan esensinya, justru melahirkan elit politik desa yang incapable yang lahir dari formasi oligarki. Akhirnya, hal ini justru menumbuhsuburkan kelompok yang ingin melakukan pendampingan atau advokasi. Sebab, Pemerintah Daerah memiliki kepentingan agar perencanaan desa berjalan sesuai prosedur. Dari sinilah banyak mengalir "proyek" pendampingan pengerjaan perencanaan desa.

Hal-hal seperti ini, alih-alih memandirikan masyarakat dan mendorong kesadaran kritis mereka, justru membuat pola ketergantungan baru, terutama pada kekuatan modal. Ketika masyarakat kritis, misalnya terkait dengan lahan dan mengorganisir diri, benturan pasti akan terjadi. Dan dalam kasus Pesisir Selatan Kulon Progo, konflik ini jelas tidak bersesuaian dengan format birokratis perencanaan daerah. Atas nama perencanaan, pemerintah menindas gerakan rakyat semacam ini.

Simpulan Kritis

Kritik terhadap proses perencanaan pembangunan desa selama ini dapat diletakkan dalam dua kerangka pikir utama. Pertama, relasi modal, di mana suara rakyat akan terkooptasi oleh kepentingan-kepentingan modal atas nama investasi. Kedua, relasi kekuasaan. Biarpun tidak ada kepentingan yang bertalian dengan persoalan ekonomi politik, proses perencanaan yang di-setting oleh lembaga-lembaga donor melalui alat negara pada dasarnya adalah proses injeksi kepentingan-kepentingan yang berada di luar dari kepentingan masyarakat desa, dan hal tersebut masuk melalui proses pembangunan, atas nama partisipasi.

Dari pesisir selatan, kita melihat bahwa proses partisipasi tidak lagi diperhatikan ketika berbenturan dengan modal. Justru, birokrasi atas nama perencanaan tata ruang dan wilayah memiliki alasan untuk menindas gerakan-gerakan rakyat yang kritis dengan nasib masyarakat. Lahirlah penangkapan Tukijo, konflik dengan warga, hingga proyek-proyek Amdal yang ironisnya justru dikerjakan oleh kampus.

Dari sini, kampus kehilangan dimensi etik-emansipatorisnya, birokrasi kehilangan jiwa pengayomannya, dan perencanaan yang ada justru hanya menjadi alat modal untuk meneguhkan kekuasaannya. Dan artinya, menggunakan argumen Tania Murray Li (2012), proses pembangunan di Indonesia hanya merupakan practice of politics: agenda-agenda politik yang berkelindan dengan pembangunan masyarakat di akar-rumput. Atau, mungkin dalam bahasa yang lebih lugas: kekuatan-kekuatan oligarki global sedang membajak pembangunan kita melalui pendanaan mereka.

Semoga, dalam memandang persoalan ini, kesadaran mahasiswa mampu dikonstruksi menjadi lebih baik: kesadaran rakyat, kesadaran kelas tertindas.

Kulon Progo, 27 Juli 2012.

Referensi

(8)

Benjamin Goldfrank. “Lessons from Latin America’s Experience with Participatory Budgeting” dalam Anwar Shah (ed). Participatory Budgetting: Public Sector Governance and Accountability Series. Washington, DC: The World Bank, 2007.

Hans Antlov, “Kata Pengantar” dalam Abdul Waidl, Arie Sudjito dan Sugeng Bahagijo (eds). Mendahulukan Si Miskin: Buku Sumber bagi Anggaran Pro-Rakyat. YogyakartaL LKiS, 2008.

Karl D. Jackson, “Bureaucratic Polity: A Theoretical Framework for the Analysis of Power and Communication in Indonesia", dalam Karl D. Jackson and Lucian W. Pye, eds., Political Power and Communication in Indonesia, 1987.

Kementerian Dalam Negeri. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2007.

Robert Chambers. “Participatory Rural Appraisal (PRA): Challenges, Potentials and Paradigm”. World Development, 22(10):1437-1454, 1994.

Michael Foucault. The History of Sexuality Vol.1. London: Verso, 1987.

Tania Murray Li. "Neo-Liberal Strategies of Government through Community: The Social Development Program of the World Bank in Indonesia". IILJ Working Paper

2006/2 (Global Administrative Law Series).

_____________. “Governmentality”. Anthropologica, Vol. 49, 2 (2007): 275-294.

_____________. The Will To Improve: Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia (penerjemah Hery Santoso dan Pujo Semedi). Jakarta: MarjinKiri, 2012.

Vedi R. Hadiz. "Decentralization and Democracy in Indonesia: A Critique of Neo-Institutional Perspectives".Development and Change ,35(4):697-718, 2004.

__________. Localising Power in Indonesia: A Southeast Asian Perspective.

Stanford: Stanford University Press, 2010.

_________ dan Richard Robison. Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets. London: Routledge, 2004.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...