TANTANGAN INDUSTRI KECIL MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC) 2015
Oleh: Muslim El Hakim Kurniawan, ST.,MM.
Kepala Seksi Pengembangan Industri Kerajinan Disperindag Prov.Babel/ Wakil Sekretaris Dekranasda Prov. Kep. Babel
Beberapa waktu yang lalu Dewan Kerajinan Nasional melaksanakan Rapat
Kerja Nasional Tahunan di Jakarta yang mengangkat tema tentang ”Tantangan dan
peluang perajin dalam mengembangkan kreatifitas dan kualitas produk kerajinan
menghadapi pasar bebas”. Walaupun agak terlambat, pembahasan mengenai tema
tersebut cukup penting mengingat pasar bebas ASEAN atau yang sering disebut ASEAN
Economic Community (AEC) akan membuat Indonesia menjadi sasaran utama produsen
dari ASEAN karena besarnya pasar yang kita miliki.
Sebelum dibahas lebih lanjut, beberapa hal yang terkait AEC 2015 yang perlu
disampaikan adalah bahwa AEC merupakan sebuah proses panjang yang sudah dimulai
sejak tahun 1977 melalui Prefential trade arragement (PTA). Di sektor perdagangan
barang, tidak akan terjadi kejutan karena penurunan tarif berproses sejak 1992 dan bagi
ASEAN- 6 kewajiban penghapusan tarip telah diselesaikan per 1 Januari 2010. Di sektor
jasa, telah disepakati pengaturan saling pengakuan (Mutual Recognition Arrangements
arsitektur, jasa pemetaan, jasa profesi pariwisata, jasa akuntansi, jasa medis dan jasa
dokter gigi. Berarti mendatang mungkin ada dokter gigi asal Thailand, perawat dari
filipina yang berpraktek di Bangka Belitung.
Posisi industri kecil dalam menghadapi AEC 2015 tentu saja harus menjadi
perhatian kita bersama. Secara alami dengan jumlah penduduk yang terbesar di ASEAN
dan jumlah kelas menengah yang semakin meningkat maka hampir dipastikan Indonesia
akan menjadi sasaran empuk produk-produk dari Negara ASEAN lain. Pemerintah tentu
saja tak tinggal diam. Terakhir, pemerintah mulai 25 Juni 2014 akan melarang impor
tekstil dan produk tekstil seperti sapu tangan, dasi, benang jahit, mantel, pakaian dalam,
dll yang tidak mencantumkan label dalam bahasa Indonesia pada barang. Tapi
usaha-usaha tersebut belumlah cukup untuk mendorong bangsa kita menjadi produsen bukan
hanya konsumen dalam era pasar bebas ASEAN tersebut.
Apa yang akan dihadapi bangsa ini kedepan, tentu saja ikut menggambarkan
apa yang akan dihadapi industri kecil di bangka belitung kedepan. Ketika produk industri
kecil seperti kerajinan dari thailand, vietnam, malaysia membanjiri bangka belitung
dikhawatirkan industri serupa di Bangka Belitung akan sulit bersaing. Misalnya
gantungan kunci timah dari malaysia dengan harga yang terjangkau dan desain yang
menarik dan up to date tentu saja akan membenamkan kerajinan pewter kita. Karena itu
Menteri Perdagangan, M.Lutfhi menyarankan bila kita ingin tetap berada dalam peta
persaingan maka industrialisasi adalah kuncinya. Bicara industrialisasi tentu saja tak
lepas dari konsep skala ekonomis. Konsep ini dapat terlaksana, tapi tentu saja tidak dalam
industri serta infrastruktur penunjang lainnya, sedangkan di Babel dengan nada pesimis
mungkin sumberdaya listrik saja sudah menjadi masalah yang tak kunjung selesai.
Paling tidak yang dapat kita lakukan dalam menghadapi AEC 2015 yang
sudah didepan mata ini adalah bagaimana produk industri kecil kita menjadi raja di
negara sendiri, raja di daerah sendiri, raja di kampung sendiri. Ada dua pendekatan
menuju hal tersebut yaitu kampanye cinta produk dalam negeri yang masiv serta
intervensi pemerintah daerah. Intervensi dapat berupa peraturan kepala daerah agar
masyarakat menggunakan produk industri kecil dalam daerah, yang didalamnya dapat
berupa insentif maupun arahan. Hal ini harus gencar dilakukan pada tahun pertama AEC
agar produk industri kecil kita tetap eksis. Pemda dapat mengarahkan seragam PNS pada
hari kamis dan jumat, peci resam untuk para pejabat, seragam anak sekolah, mahasiswa,
kerjasama dengan persatuan hotel dan restoran se-bangka belitung agar menggunakan
produk kerajinan Babel seperti rajutan, tempurung kelapa, kerang,dll, menggunakan
produk babel untuk souvenir dan tas anyaman pandan sungai selan pada acara kedinasan,
serta yang paling utama bagaimana Top Leader, pejabat publik di Babel menggunakan
produk-produk Bangka Belitung baik untuk pakaian sehari-hari maupun perabot rumah
tangga sebagai bagian dari leadership by example.
Yang kedua adalah kampanye masiv cinta produk dalam negeri, atau
ekstrimnya melakukan propaganda kreatif dalam arti positif. Hal ini akan lebih efektif
bila dilakukan oleh pemerintah pusat, mungkin lebih tepat digawangi kementerian
Parekraf. Salah satu bentuk propaganda kreatif tersebut adalah melalui film. Masih ingat
masa kecil kita dulu, ketika film Dash Yankuro diputar di TVRI. Ternyata itu adalah
seluruh indonesia dari aceh sampai papua, di kota hingga ke kampung-kampung demam
mobil tamiya dengan berbagai karakter seperti di film tersebut. Hal tersebut juga ditiru
Malaysia melalui film upin-ipin pada episode cari dan simpan, ternyata tujuan film
tersebut memprovokasi anak-anak agar gemar menabung di Sebuah Bank Lokal. Sebuah
film yang menampilkan anak-anak yang bermain gasing dan memakai kaos batik tentu
dapat mendorong anak-anak untuk membeli gasing dan kaos batik tersebut. Dengan SDM
yang dimiliki bangsa ini kita mampu untuk membuat film serupa Upin Ipin, tinggal
masalah kemauan dan tujuan yang jelas. Melalui film ”propaganda” tersebut gerakan
cinta produk dalam negeri pasti akan lebih efektif.
Dalam jangka pendek dan waktu yang pendek pula, mungkin langkah diatas
cukup efektif untuk dilakukan dibanding dengan mengindustrialisasi produk-produk
kebudayaan kita. Seiring hal tersebut, industri kecil kita juga dapat meningkatkan
kapasitasnya menuju industri yang berskala ekonomis, menonjolkan keunikan produk
sebagai daya saing utama, membuat cerita asal-usul sejarah produk tersebut sehingga
konsumen tergerak untuk membelinya, mendiversifikasi produk dengan penuh inovasi,
memiliki brand atau merek yang kuat, dilindungi HKI serta sertifikasi lainnya, serta yang
paling penting adalah mempersiapkan industri kecil dengan kemampuan Bahasa asing