• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

IV - 1 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten PELALAWAN

BAB IV – ANALISIS SOSIAL,

EKONOMI, DAN LINGKUNGAN

4.1 Analisis Sosial

Aspek sosial terkait dengan pengaruh pembangunan infrastruktu rbidang Cipta Karya kepada masyarakat pada taraf perencanaan, pembangunan, maupun pasca pembangunan/pengelolaan. Pada taraf perencanaan, pembangunan infrastruktur permukiman seharusnya menyentuh aspek-aspek sosial yang terkait dan sesuai dengan isu-isu yang marak saat ini, seperti pengentasan kemiskinan serta pengarusutamaan gender. Sedangkan pada saat pembangunan kemungkinan masyarakat terkena dampak sehingga diperlukan proses konsultasi, pemindahan penduduk dan pemberian kompensasi, maupun permukiman kembali. Kemudian pada pasca pembangunan atau pengelolaan perlu diidentifikasi apakah keberadaan infrastruktur bidang Cipta Karya tersebut membawa manfaat atau peningkatan taraf hidup bagi kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitarnya.

4.1.1. Pengarusutamaan Gender

Aspek yang perlu diperhatikan adalah responsivitas kegiatan pembangunan bidang Cipta Karya terhadap gender. Saat ini telah kegiatan responsif gender bidang Cipta Karya meliputi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan, Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP),Pengembangan Infrasruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW), Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS),Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan (PPIP), Rural Infrastructure Support (RIS) to PNPM, Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS), Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), dan Studi Evaluasi Kinerja Program Pemberdayaan Masyarakat bidang Cipta Karya.

(2)

IV - 2 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten PELALAWAN

bagi Pengarusutamaan Gender di Kabupaten Pelalawan

No Program /

Kegiatan Lokasi Tahun

Bentuk keterlibatan / akses Tingkat partisipasi perempuan (jumlah) Control pengambilan keputusan oleh perempuan Manfaat Permasalahan yang perlu diantisipasi di masa mendatang (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 1 Pemberdayaan masyarakat a PAMSIMAS Pelalawan 2014 - - - - - b PPIP Pelalawan - - - - c RIS PNPM Pelalawan - - - - d SANIMAS Pelalawan 2006 - - - - -

2 Non Pemberdayaan Masyarakat

4.1.2. Identifikasi Kebutuhan Penanganan Sosial Pasca Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya.

Output kegiatan pembangunan bidang Cipta Karya seharusnya memberi manfaat bagi masyarakat. Manfaat tersebut diharapkan minimal dapat terlihat secara kasat mata dan secara sederhana dapat terukur, seperti kemudahan mencapai lokasi pelayanan infrastruktur,waktu tempuh yang menjadi lebih singkat, hingga pengurangan biaya yang harus dikeluarkan oleh penduduk untuk mendapatkan akses pelayanan tersebut.

4.2 Analisis Ekonomi.

Bagian ini berisikan analisis ekonomi sebagai dampak pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya, mulai pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pasca pelaksanaan. Beberapa hal penting untuk dibahas, antara lain:

4.2.1. Kemiskinan

Aspek ekonomi pada perencanaan pembangunan bidang Cipta Karya diharapkan mampu melengkapi kajian perencanaan teknis sektoral. Salah satu aspek yang perlu ditindak-lanjuti adalah isu kemiskinan.

Menurut standar BPS terdapat 14 kriteria yang dipergunakan untuk menentukan keluarga/rumah tangga dikategorikan miskin, yaitu:

1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang. 2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu

(3)

IV - 3 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten PELALAWAN

rendah/tembok tanpa diplester.

4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.

5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik. 6. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak

terlindung/sungai/air hujan.

7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah.

8. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu.

9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.

10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari. 11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan

dipuskesmas/poliklinik.

12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan.

13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/hanya SD.

14. Tidak memiliki tabungan / barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit / non kredit,emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya. 15. Jika minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga

(4)

IV - 4 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten PELALAWAN

Tabel 4. 2 Analisis Kebutuhan Penanganan Keluarga Miskin Kabupaten Pelalawan

No Lokasi Jumlah

Jiwa Kondisi umum Permasalahan

Bentuk penanganan yang

sudah dilakukan Kebutuhan penanganan (1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Makmur 820 • Permukiman kumuh

• Padat penduduk • Kawasan perkotaan

• Bangunan sporadis • Kondisi jalan yang kurang

memadai

• Kondisi Drainase masih minum

• Akses air minum layak masih minim

• Layanan persampahan masih minim

• Bangunan tidak memiliki IMB

• Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air minum

• Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana jalan lingkungan

• Pemugaran (penataan bangunan)

• Pembangunan Drainase lingkungan

• Pembangunan air bersih • Pembangunan PSD

persampahan

• Penegasan terkait IMB

2 Kerinci Kota 550 • Permukiman kumuh

• Dataran rendah • Kawasan perkotaan

• Bangunan sporadis • Kondisi jalan yang kurang

memadai

• Minim sarana drainase • Akses air minum layak masih

minim

• Akses sanitasi buruk

• Bangunan tidak memiliki IMB

• Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air minum • Pemugaran (penataan bangunan) • Pembangunan jalan lingkungan • Pembangunan drainase lingkungan

• Pembangunan air bersih • Pembangunan fasilitas

sanitasi

• Penegasan terkait IMB

3 Belakang Ramayanan 1.000 • Permukiman kumuh • Dataran rendah • Kawasan perkotaan • Bangunan sporadis

• Bangunan tidak teratur • Bangunan tidak layak huni • Kondisi jalan yang kurang

memadai

• Minim sarana drainase

• Pembangunan drainase lingkungan

• Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air minum • Pemugaran (penataan bangunan) • Pembangunan jalan lingkungan • Pembangunan drainase lingkungan

• Pembangunan air bersih • Pembangunan fasilitas

(5)

IV - 5 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten PELALAWAN

• Penegasan terkait IMB

4 Pasar Baru 941 • Permukiman kumuh

• Dataran rendah • Kawasan perkotaan • Kawasan perdagangan

• Kondisi jalan yang kurang memadai

• Minim sarana drainase • Bangunan tidak teratur

• Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air minum • Pemugaran (penataan bangunan) • Pembangunan jalan lingkungan • Pembangunan drainase lingkungan

• Pembangunan air bersih • Pembangunan fasilitas

sanitasi

5 Pasar Sorek 221 • Permukiman kumuh

• Kawasan perkotaan padat penduduk

• Kawasan pinggir sungai • Dataran rendah

• Kawasan perkotaan

• Kondisi jalan yang kurang memadai

• Minim sarana drainase • Akses air minum layak masih

minim

• Bangunan tidak memiliki IMB

• Rehabilitasi/pemeliharaan sarana dan prasarana air minum

• Pembangunan jalan lingkungan

• Pembangunan drainase lingkungan

• Pembangunan air bersih • Penegasan terkait IMB Sumber : Analisa, 2016

(6)

IV - 6 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan 4.2.2. Analisis Dampak Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya

Terhadap Ekonomi Lokal Masyarakat

4.3 Analisis Lingkungan

4.3.1. Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Kabupaten Pelalawan Beberapa isu pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Pelalawan dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Sumber Daya Alam – Air

Salah satu isu lingkungan strategis di Kabupaten Pelalawan adalah terkait dengan Daerah Aliran Sungai. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan areal disepanjang bantaran sungai sepanjang 200 m yang berfungsi sebagai resapan air, penahan erosi dan penahan banjir di sekitar sungai. Isu terkait sumber daya alam-air tersebut adalah adanya potensi rawan banjir di Kabupaten Pelalawan terdapat pada bagian wilayah yang berdekatan atau berhampiran dengan tepian Sungai Kampar dan beberapa anak sungainya yang terdapat di Kecamatan Langgam, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kecamatan Ukui, Kecamatan Pelalawan, Kecamatan Kerumutan, dan dan Kecamatan Teluk Meranti. Secara umum wilayah sungai Kampar dengan sungai utamanya adalah Sungai Kampar, di wilayah Kabupaten Pelalawan merupakan bagian yang relatif hilir. Anak-anak sungainya yang berada di wilayah Kabupaten Pelalawan antara lain adalah: : S. Kampar Kiri, S. Segati, S. Nilo, S. Kerumutan (yang mengalir dari arah selatan Sungai Kampar), serta S. Pelalawan, S. Selampaya, dan Sungai Serkap (yang mengalir dari arah utara Sungai Kampar)

2. Sumber Daya Alam – Hutan

Isu lingkungan terkait hutan adalah adanya kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap. Potensi rawan kebakaran hutan atau lahan gambut yang menimbulkan kabut asap terutama berkaitan dengan adanya pembukaan lahan dengan pembakaran (pemandukan),

(7)

IV - 7 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

kebakaran pada hutan/lahan gambut di bagian hilir wilayah, yang umumnya terjadi pada musim kering/kemarau. Kawasan rawan kebakaran hutan atau lahan gambut, yang menimbulkan kabut asap, yang diindikasikan pada kawasan hutan dan/atau lahan gambut yang terletak di kecamatan: Langgam, Ukui, Pangkalan Lesung, Bunut, Pelalawan, Kuala Kampar, Kerumutan, Teluk Meranti, Bandar Seikijang, dan Bandar Petalangan

Isu lain terkait hutan adalah menurunnya kelestarian ekosistem hutan pada kawasan hutan lindung yang dapat berdampak pada menurunnya resapan air, menimbulkan kerusakan lahan (erosi, lahan kritis) dan menurunnya habitat flora dan fauna. Kawasan Hutan Lindung (HL), didelineasikan dengan luas kurang lebih 5.558,20 Ha. Kawasan Hutan Lindung yang ditetapkan di Kabupaten Pelalawan adalah kawasan yang secara fisik merupakan pulau-pulau pada alur perairan Sungai Kampar dan di perairan laut di Kuala Kampar , sehingga kawasan hutan lindung ini lebih sebagai perlindungan terhadap keberadaan pulau-pulau pada alur perairan Sungai Kampar dan laut tersebut.

Eksploitasi hutan produksi dengan melakukan penebangan pohon-pohon yang tidak diikuti dengan reboisasi telah menyebabkan menurunnya resapan air, perusakan lahan hutan (erosi dan lahan-lahan kritis) dan berpindahnya satwa. Sistem pembukaan areal lahan-lahan dengan cara membakar dan konservasi tanah yang tidak benar, telah menyebabkan kerusakan lahan (lahan kritis).

3. Perkebunan

Pembukaan areal perkebunan rakyat pada umumnya dilakukan dengan menebang pohon dan semak belukar lalu dibakar. Akibatnya menimbulkan asap dan mendorong binatang-binatang untuk menjauhi dan mencari tempat tinggal yang bisa untuk hidup.

Sistem pembukaan lahan dan pengolahan tanah tanpa terasering di lahan-lahan yang mempunyai kemiringan lebih dari 15% telah menyebabkan erosi dan lahan-lahan menjadi kritis.

(8)

IV - 8 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

Dalam rencana Kawasan Perkebunan Rakyat terdapat di semua kecamatan di Kabupaten Pelalawan, dengan luas total kurang lebih 169.302,49 Ha sedangkan Kawasan Perkebunan Besar terdapat di semua kecamatan di Kabupaten Pelalawan, dengan luas total kurang lebih 249.930,61 Ha.

4. Laut dan Pesisir Pantai

Sempadan Pantai, yang terdapat di Kabupaten Pelalawan memiliki luas kurang lebih 989,90 Ha, yang terletak di Kecamatan Kuala Kampar . Berkembangnya penduduk dengan kegiatan ekonominya yang berada di pesisisr dan garis pantai dapat menyebabkan pencemaran air laut yang berada di pesisir pantai. Hal tersebut berakibat kerusakan ekosistem di sekitar pantai dengan berkurangnya ikan tangkap di sepanjang garis pantai dan menurunnya areal hutan mangrove/bakau.

5. Industri dan Pertambangan

Kawasan peruntukan industri yang terdelineasi adalah kawasan industri pengolahan bubur kertas (pulp) PT. RAPP dengan luas kurang lebih 339,70 Ha terletak di Kecamatan Pangkalan Kerinci. Isu dalam industry bubur kertas ini adalah semakin menurunnya kualitas dan kuantitas hutan yang diperuntukan sebagai bahan baku dalam pengolahan kertas. Selain itu, polusi serta limbah yang diakibatkan oleh industry tersebut juga perlu diperhatikan agar tidak mengganggu lingkungan alam serta kehidupan masyarakat sekitar. Beberapa pencemaran yang dapat ditimbulkan meliputi pencemaran udara, air, tanah dan kebisingan.

Kawasan peruntukan pertambangan yang terdelineasi yaitu peruntukan pertambangan migas di Kecamatan Kerumutan sebesar kurang lebih 2.617,53 Ha . Meskipun jumlah tersebut tidak terlalu besar, namun perlu diwaspadai dampak lingkungan yang terjadi seperti lahan menjadi kritis karena bekas galian tambang dibiarkan saja tanpa

(9)

IV - 9 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

direklamasi. Selain itu, penggunaan bahan kimia tertentu telah mencemari air sungai.

6. Kependudukan

Jumlah penduduk di Kabupaten Pelalawan terus berkembang dimana hingga tahun2031, jumlah penduduk dapat diprediksi sebanyak 643.371 jiwa. Dibulatkan 643.400 jiwa. Peningkatan jumlah penduduk tersebut berdampak pada pemenuhan areal pemukiman yang jika tidak dialokasikan peruntukannya, akan mengalami peningkatan kepadatan di pusat-pusat perkotaan (kecamatan Pangkalan Kerinci). Selain itu dengan berkembangnya penduduk, faktor sosial, ekonomi, pendidikan, pelayananan kesehatan dan lainnya harus terpenuhi. Semakin berkembangnya faktor-faktor diatas akan berdampak pada lingkungan, sosial dan tatanan masyarakat.

4.3.2. Identifikasi Kebijakan Dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pelalawan

Identifikasi kebijakan dan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabuupaten Pelalawan adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan produktivitas kegiatan kehutanan, pertanian, dan perkebunan didukung pengembangan industri pengolahan dengan strategi meliputi:

a. meningkatkan produktivitas pertanian tanaman pangan dan perkebunan melalui intensifikasi lahan pertanian dan perkebunan; b. membatasi alih fungsi lahan pertanian tanaman pangan;

c. mengembangkan dan meningkatkan kegiatan pertanian campuran; d. mengembangkan produksi kehutanan secara berkelanjutan atau

berwawasan lingkungan;

e. mengembangkan industri pengolahan hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang ramah lingkungan; dan

(10)

IV - 10 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

2. Pengembangan kegiatan pariwisata dengan strategi meliputi:

a. mengembangkan objek wisata alam, minat khusus, budaya dan sejarah;

b. mengembangkan kegiatan pendukung pariwisata; dan

c. mempromosikan objek wisata dengan jangkauan lokal, nasional dan internasional.

3. Pemanfaatan sumber daya alam sektor pertambangan berwawasan konservasi dengan strategi meliputi:

a. mengembangkan dan meningkatkan kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi;

b. mengembangkan kegiatan pertambangan mineral dan batubara yang berwawasan lingkungan;

c. mengembangkan kegiatan pertambangan panas bumi dan air tanah sebagai bentuk pengembangan baru; dan

d. mengembangkan kegiatan pertambangan dengan memberikan peluang keterlibatan dan peranan masyarakat.

4. Peningkatan fungsi pelayanan sosial, ekonomi, dan budaya pada pusat kegiatan dengan strategi meliputi:

a. mengembangkan fungsi pelayanan sosial, ekonomi, dan budaya pada pusat kegiatan;

b. meningkatkan dan mengendalikan perkembangan fisik pada pusat kegiatan;

c. meningkatkan dan mengembangkan prasarana dan sarana wilayah yang mendukung sistem pusat kegiatan; dan

d. mengendalikan perkembangan bangunan di pusat kegiatan yang terletak di tepi sungai.

5. Peningkatan aksesibilitas dari dan ke luar wilayah Kabupaten untuk mendukung keterkaitan ekonomi dan sosial budaya antara Kabupaten dengan wilayah di luarnya dengan strategi meliputi:

(11)

IV - 11 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

a. meningkatkan dan mengembangkan sarana dan kegiatan di PKW Pangkalan Kerinci; dan

b. meningkatkan pelayanan sistem transportasi.

6. Pemantapan dan peningkatan fungsi kawasan lindung dengan strategi meliputi:

a. memantapkan tata batas kawasan lindung;

b. merehabilitasi dan meningkatkan kualitas kawasan lindung guna pemulihan fungsi perlindungan; dan

c. mempertahankan luas kawasan lindung dan luas kawasan hutan yang telah ditetapkan dalam wilayah Kabupaten.

4.3.3. Kebijakan Dalam KLHS

Beberapa upaya untuk mencegah , mengendalikan dan memitigasi dampak serta upaya untuk mendorong pembangunan berkelanjutan meliputi : A. Bidang Pengelolaan Sumber Mata Air, DAS Dan Sungai

Pengembangan prasarana sumber daya air terkait dengan pengelolaan wilayah sungai dengan komponen konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak air. Pada wilayah sungai (WS) dan/atau daerah aliran sungan (DAS) yang potensial dikembangkan bendung dengan pemanfaatan terutama untuk irigasi dan beberapa untuk sumber air baku untuk air bersih/air minum. Khusus dalam konteks penggunaan yang terkait dengan irigasi atau pengairan, pengembangan masing-masing DI (Daerah Irigasi) selaras dengan rencana pola ruang yaitu kawasan budidaya pertanian pangan lahan basah (sawah) yang akan didukung oleh prasarana irigasi atau pengairan tersebut.

Sumber mata air, sungai dan DAS adalah merupakan sumber air dan media mengalirnya air hingga ke laut atau danau/rawa.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian dalam hal :

• Sumber-sumber mata air khususnya areal disekitar sumber air yang menjadi tumpuan keluarnya mata air

(12)

IV - 12 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

• Sungai yaitu eksploitasi material yang ada di dalamnya, pendangkalan sungai dan pencemaran sungai

• Rawa dan Danau dari eksploitasi penangkapan ikan dan ekosistem disekitar danau dan rawa

B. Bidang Kelautan/Pantai

Pada prinsipnya daratan sepanjang tepian laut adalah merupakan sempadan pantai. Mengingat sebagian dari daratan sepanjang tepian laut tersebut ada yang ditetapkan dengan fungsi lainnya dalam pola ruang (seperti permukiman, fungsi lindung lainnya: hutan lindung, hutan bakau/mangrove), maka sempadan pantai ditetapkan untuk jalur sepanjang pantai yang tidak terkena dengan permukiman dan fungsi lindung lainnya.

Pengelolaan terkait dengan pantai/laut diantaranya :

• Pemanfaatan pulau-pulau kecil di peraiaran sungai Kampar selain sebagai kawasan lindung juga sebagai penjaga ekosistem sungai. • Pemanfaatan hutan mangrove/bakau yang ada disepanjang pantai • Sistem penangkapan ikan, eksploitasi pemanfaatan terumbu karang

dan isi laut

• Pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni sebagai penahan arus air

C. Bidang Lahan-Lahan Kritis Atau Kerusakan Lahan

Faktor penyebab utama munculnya lahan-lahan kritis atau kerusakan lahan adalah adanya eksploitasi kawasan hutan tanpa terkendali. Oleh karena itu, diperlukan pendendalian terhadap :

• Melakukan sosialisasi peraturan terkait pemanfaatan lahan hutan serta menerapkan peraturan dengan baik

• Dilakukan pengawasan secara ketat terhadap kawasan lindung dan lahan-lahan milik pemerintah

(13)

IV - 13 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

• Memberikan sumber mata pencaharian secara terintegrasi terhadap masyarakat sekitar kawasan hutan sekaligus memfungsikan mereka sebagai penjaga hutan

• Melarang pembukaan lahan baru dengan melakukan pembakaran hutan.

• Melakukan penanaman kembali lahan-lahan yang telah rusak/kritis dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat khususnya masyarakat sekitar hutan.

D. Bidang Perlindungan Kawasan Lindung

Dasar utama dalam perlindungan kawasan lindung adalah adanya indikasi terhadap konversi lahan serta kerusakan lingkungan kawasan lindung akibat aktivitas manusia. Oleh karena itu, diperlukan pendendalian terhadap :

• sosialisasi terhadap arah pemanfaatan ruang serta pengendalian pemanfaatan ruang kawasan lindung terhadap masyarakat luas, agar kawasan lindung tetap terjaga kelestariannya.

• Zonasi merupakan salah satu langkah yang penting dalam melindungi kawasan hutan lindung agar tidak terjadi alih fungsi dan ketidak jelasan batas wilaah hutan lindung dengan kawasan lainnya.

• Perlunya penetapan hutan lindung melalui surat keputusan Pemerintah (Pusat dan Daerah).

• Memberikan tanda batas hutan lindung dengan kawasan lainnya.

E. Bidang Kemasyarakatan (sosial, ekonomi dan kependudukan) Dinamika masyarakat dalam berputarnya roda pembangunan dan ekonomi akan mempengaruhi kualitas lingkungan hidup yang jika tidak dikendalikan akan berdampak negatif bagi kelangsungan hidup manusia, tumbuhan dan hewan.

(14)

IV - 14 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

Oleh karena itu, aktifitas sosial, ekonomi dan dinamika kehidupan masyarakat harus dapat memberikan pengaruh positif bagi lingkungan hidup diantaranya melalui pengendalian :

• Mendorong pelaku industry untuk dapat mentaati peraturan terkait pemanfaatan hasil alam secara arif,bijaksana, dan berkelanjutan • Pengelolaan limbah baik limbah ruamah tangga maupun limbah

industry dengan mengikuti peraturan dan ketentuan teknis pengelolaan limbah

• Penataan areal pemukiman dan pengembangannya secara ramah lingkungan

• Pengelolaan sampah dan limbah industri, rumah sakit dan pabrik dll • Mendorong masyarakat akan pentingnya menanam pohon dan

menjaga lingkungan hidup

• Melakukan pengaturan (larangan) terhadap perusakan hutan, areal RTH dan fasilitas/sarana umum seperti taman, danau, rawa dll

• Perlunya lembaga/badan atau aparat penegak hukum untuk mengawasi dan menegakkan peraturan terkait dengan pengaturan tata ruang.

• Diperlukan keterpaduan antara pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan pemanfaatan sumber daya alam sehingga dapat menghindarkan terjadinya konflik kepentingan antara ekonomi sumber daya alam (pertambangan, kehutanan) dengan lingkungan.

4.3.4. Arahan Rekomendasi KLHS

Beberapa rekomendasi alternative kebijakan,rencana,dan/atau program yang dapat mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dapat dijelaskan sebagai berikut :

A. Kawasan Hutan Lindung

1. diperbolehkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan jasa lingkungan yang meliputi wisata alam, pemanfaatan air, pemanfaatan jasa aliran air, perlindungan keanekaragaman hayati, penyelamatan dan

(15)

IV - 15 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

perlindungan lingkungan, atau penyerapan dan/atau penyimpanan karbon, dengan ketentuan tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utama sebagai hutan lindung, tidak mengubah bentang alam, dan tidak merusak unsur-unsur keseimbangan lingkungan;

2. diperbolehkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya tertentu yang meliputi budidaya tanaman obat, budidaya tanaman hias, budidaya jamur, budidaya lebah, penangkaran satwa liar, rahabilitasi satwa, atau budidaya hijauan makan ternak, dengan ketentuan tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utama sebagai hutan lindung, pengolahan tanah terbatas, tidak menimbulkan dampak negatif terhadap biofisik dan sosial ekonomi, tidak menggunakan peralatan mekanis dan alat berat, dan/atau tidak membangun sarana dan prasarana yang mengubah bentang alam; 3. diperbolehkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan pemungutan hasil

hutan bukan kayu yang meliputi rotan, madu, getah, buah, jamur, atau sarang burung walet, dengan ketentuan hasil hutan yang dipungut harus sudah tersedia secara alami, tidak merusak lingkungan, dan tidak mengurangi, mengubah atau menghilangkan fungsi utama sebagai kawasan hutan lindung;

4. pemanfaatan ruang pada poin 2 dan 3 hanya diizinkan kepada penduduk asli yang berada di sekitar kawasan hutan lindung dan di bawah pengawasan yang ketat

B. Kawasan Bergambut

1. diperbolehkan pemanfatan ruang untuk wisata alam dengan ketentuan tidak mengubah bentang alam, dan tidak melakukan kegiatan yang dapat merusak lingkungan gambut;

2. pengendalian material sedimen yang masuk ke kawasan bergambut melalui badan air;

(16)

IV - 16 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

3. tidak diperbolehkan kegiatan yang berpotensi mengubah tata air dan ekosistem unik.

C. Kawasan Resapan Air

1. pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budidaya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi menahan limpasan air hujan;

2. penghijauan dan penyediaan sumur resapan dan/atau waduk/kolam pada lahan terbangun yang sudah ada;

3. penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budidaya terbangun yang diajukan izinnya;

4. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat mengurangi daya serap tanah terhadap air.

D. Kawasan Sempadan Sungai

1. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH);

2. penetapan lebar sempadan sungai sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yaitu dengan lebar 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk anak sungai/sungai kecil yang berada di luar kawasan permukiman, sementara untuk di kawasan permukiman disesuaikan dengan ketentuan pengamanan sempadan sungai dengan jarak 15 meter dan/atau dibatasi dengan pengembangan jalan inspeksi, dengan catatan bangunan menghadap sungai di belakang jalan inspeksi tersebut;

3. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi dan/atau mempertahankan bentuk badan sungai dan aliran sungai;

4. tidak diperbolehkan pendirian bangunan selain untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air sungai;

5. bila sempadan sungai juga berfungsi sebagai taman rekreasi, dapat didirikan bangunan yang terbatas untuk menunjang fungsi rekreasi.

(17)

IV - 17 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

1. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH);

2. penetapan lebar sempadan pantai sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yaitu daratan sepanjang tepian pantai dengan lebar proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi kea rah darat;

3. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi;;

4. pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi pantai;

5. tidak diperbolehkan pendirian bangunan selain yang dimaksudkan pada huruf d;

6. tidak diperbolehkan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas, nilai ekologis, dan estetika kawasan.

F. Kawasan Sekitar Danau (Alam Dan Buatan)

1. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH);

2. penetapan lebar kawasan sekitar danau sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

3. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi dan/atau mempertahankan bentuk badan air danau;

4. tidak diperbolehkan pendirian bangunan selain untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air danau;

5. bila kawasan sekitar danau juga berfungsi sebagai taman rekreasi, dapat didirikan bangunan yang terbatas untuk menunjang fungsi rekreasi.

G. Kawasan Ruang Terbuka Hijau Kota

1. pemanfaatan RTH untuk kegiatan rekreasi, perbaikan iklim mikro, estetika, dan edukasi/pendidikan;

2. penetapan luas RTH kawasan perkotaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

3. diperbolehkan bersyarat pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya;

(18)

IV - 18 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan H. Kawasan Suaka Margasatwa

1. suaka margasatwa berupa kawasan dengan status hutan negara, sehingga bentuk pemanfaatan ruang kawasan suaka margasatwa harus mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku;

2. pemanfaatan ruang suaka margasatwa untuk penelitian, pendidikan, dan wisata alam;

3. tidak diperbolehkan kegiatan selain yang dimaksud pada poin di atas 4. pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan di atas

I. Kawasan Taman Nasional

1. taman nasional berupa kawasan dengan status hutan negara, sehingga bentuk pemanfaatan ruang kawasan taman nasional harus mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku; 2. diperbolehkan pemanfaatan ruang taman nasional sebagai kawasan

hutan untuk wisata alam dengan tanpa mengubah bentang alam; 3. diperbolehkan pemanfatan ruang untuk kegiatan budidaya dengan

syarat hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat;

4. tidak diperbolehkan kegiatan budidaya di zona inti;

5. tidak diperbolehkan kegiatan budidaya yang berpotensi mengurangi tutupan vegetasi di zona penyangga.

J. Kawasan Pantai Berhutan Bakau

1. diperbolehkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan pendidikan, penelitian, dan wisata alam;

2. tidak diperbolehkan pemanfaatan dan/atau pengambilan kayu bakau; 3. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat mengubah, mengurangi

(19)

IV - 19 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan K. Kawasan Rawan Tanah Longsor

1. pemanfaatan ruang kawasan rawan tanah longsor mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman bencana;

2. diperbolehkan bersyarat pemanfaatan ruang kawasan rawan longsor untuk kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, dan hutan, dengan jenis vegetasi yang sesuai, teknologi pengolahan tanah yang sesuai, dan drainase yang lancar;

3. diperbolehkan bersyarat pendirian bangunan untuk kepentingan pemantauan ancaman bencana dan kepentingan umum;

4. tidak diperbolehkan pendirian bangunan penting seperti industri atau pabrik, fasilitas umum dan fasilitas sosial.

L. Kawasan Rawan Banjir

1. penetapan batas dataran banjir;

2. diperbolehkan pemanfaatan dataran banjir dengan syarat hanya untuk ruang terbuka hijau dan pembangunan fasilitas umum dengan kepadatan rendah;

3. tidak diperbolehkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan permukiman, fasilitas umum, dan bangunan penting lainnya.

M. Kawasan Rawan Kebakaran Hutan/Lahan Gambut

1. pemanfaatan ruang kawasan rawan kebakaran hutan mempertimbangkan karakteristik, jenis, dan ancaman bencana kebakaran hutan/lahan gambut;

2. diperbolehkan bersyarat pemanfaatan ruang untuk bangunan dan permukiman dengan jarak aman terhadap hutan/lahan gambut yang rawan terbakar;

3. tidak diperbolehkan membuang bahan yang dapat menyebabkan kebakaran hutan ke dalam kawasan hutan dan/atau sekitarnya;

4. tidak diperbolehkan kegiatan di sekitar hutan yang dapat menimbulkan kebakaran hutan.

(20)

IV - 20 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

1. diperbolehkan pemanfaatan ruang secara terbatas dengan syarat untuk kegiatan budidaya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;

2. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk/kolam pada lahan terbangun yang sudah ada;

3. penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budidaya terbangun yang diajukan izinnya.

O. Kawasan Sempadan Mata Air

1. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau (RTH);

2. penetapan lebar kawasan sempadan mata air sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, yaitu minimal dengan radius 200 meter di sekitar mata air;

3. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap mata air.

P. Kawasan Hutan Produksi

1. kawasan hutan produksi adalah kawasan dengan status hutan negara, sehingga bentuk pemanfaatan ruang kawasan hutan produksi harus mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku;

2. pembatasan pemanfaatan hasil hutan melalui pengendalian pemanfaatan hasil hutan untuk menjaga kestabilan neraca sumber daya kehutanan;

3. pemanfaatan ruang kawasan hutan produksi untuk pengambilan hasil hutan bukan kayu secara selektif, dan pemanfaatan jasa lingkungan (penelitian, pendidikan dan ilmu pengetahuan, dan wisata);

4. diperbolehkan bersyarat pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan;

5. tidak diperbolehkan pendirian bangunan yang bukan untuk menunjang kegiatan pemanfaatan hasil hutan

(21)

IV - 21 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

1. pemanfaatan sebagai hutan oleh orang pada tanah yang dibebani hak milik, dan bukan merupakan kawasan dengan status hutan; 2. diperbolehkan bersyarat kegiatan budidaya lainnya selama tidak

mengganggu hutan rakyat;

3. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat mengganggu kegiatan hutan rakyat.

R. Kawasan Pertanian Pangan Lahan Basah (Sawah)

1. pemanfaatan ruang sebagai kawasan pertanian pangan lahan basah (sawah) yang didukung oleh prasarana irigasi dan/atau tadah hujan; 2. diperbolehkan untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah; 3. tidak diperbolehkan konversi atau alih fungsi lahan pertanian pangan

lahan basah (sawah) beririgasi teknis, sebagai bagian dari lahan pertanian pangan berkelanjutan;

4. pengendalian secara ketat konversi atau alih fungsi lahan pertanian pangan lahan basah (sawah) tidak beririgasi untuk keperluan prasarana strategis.

S. Kawasan Perkebunan Besar

1. pemanfaatan ruang dengan tanaman sejenis atau campuran skala besar yang dikelola oleh badan usaha, yang didukung oleh: prasarana dan bangunan pendukung usaha (jalan kebun, pabrik, gudang), permukiman pekerja perkebunan yang didukung oleh prasarana dan fasilitas penunjangnya;

2. diperbolehkan kegiatan penunjang usaha perkebunan dan permukiman pekerja perkebunan beserta prasarana dan fasilitas penunjangnya;

3. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat merusak kualitas lingkungan, seperti pembuangan limbah tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan;

(22)

IV - 22 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

4. tidak diperbolehkan alih fungsi lahan menjadi kawasan budidaya non-pertanian atau terbangun yang tidak berhubungan dengan kegiatan perkebunan.

T. Kawasan Perkebunan Rakyat

1. pemanfaatan ruang dengan tanaman sejenis atau campuran oleh orang pada lahan yang dibebani hak milik dengan skala usaha rakyat; 2. diperbolehkan permukiman petani pekebun dengan kepadatan rendah, yang didukung oleh kelengkapan prasarana dan fasilitas penunjangnya;

3. diperbolehkan sistem pertanian campuran (mix farming) sesuai dengan potensi yang ada, misalnya campuran dengan peternakan dan budidaya pertanian lainnya;

4. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat merusak kualitas lingkungan.

U. Kawasan Industri

1. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri yang dapat berbentuk: estat industri (industrial estate), zona industri, atau peruntukan industri;

2. diperbolehkan bersyarat permukiman untuk pekerja industri yang didukung prasarana dan fasilitas penunjangnya;

3. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat merusak kualitas lingkungan, terutama yang berkaitan dengan limbah industri (cair, padat, gas). Limbah tersebut harus dikelola dan diolah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

V. Kawasan Pertambangan

1. kegiatan pertambangan berupa kegiatan eksploitasi bahan tambang: secara terbuka di permukaan bumi (open pit), di bawah permukaan atau dalam perut bumi (underground), dan di perairan lepas pantai

(23)

IV - 23 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

(off-shore), yang didukung oleh sarana dan prasarana di permukaan bumi/daratan;

2. kegiatan pertambangan berlangsung dengan jangka waktu tertentu; 3. setelah kegiatan tambang berakhir (pasca tambang) pemanfaatan

ruang/lahan di permukaan bumi/daratan yang dipakai semasa eksploitasi harus dilakukan reklamasi dan dikembalikan ke pemanfaatan ruang/lahan semula (sebelum eksploitasi tambang); 4. diperbolehkan bersyarat kegiatan di atas permukaan bumi pada

kawasan pertambangan selama tidak saling mengganggu dengan kegiatan pertambangan;

5. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat mengganggu kawasan sekitarnya.

W. Kawasan Permukiman

1. kawasan permukiman perkotaan adalah kawasan permukiman dengan kegiatan utama bukan pertanian, dengan kegiatan yang melayani wilayah, yang didukung oleh kelengkapan prasarana dan sarana atau fasilitas pelayanan pada tingkat perkotaan;

2. pengembangan kawasan ruang terbuka hijau (RTH) minimal 30 % dari luas kawasan perkotaan;

3. pengembangan lingkungan permukiman dengan mempertimbangkan upaya mitigasi bencana yang meliputi: tata letak bangunan dan fasilitas, jaringan prasarana, konstruksi bangunan, serta antisipasi jalur evakuasi (escape route) dan ruang evakuasi (escape building/ hill/area);

4. penataan bangunan kawasan perkotaan dengan penetapan amplop bangunan yang mencakup: KDB (koefisien dasar bangunan), KLB (Koefisien Lantai Bangunan), ketinggian bangunan, KDH (Koefisien Dasar Hijau), sempadan bangunan (depan, samping, belakang); 5. tidak diperbolehkan kegiatan yang dapat mengganggu atau

menurunkan kualitas lingkungan kawasan permukiman perkotaan.

(24)

IV - 24 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

Penanaman kembali lahan-lahan yang sudah kritis yang dilanjutkan dengan pemeliharaan terhadap bibit yang sudah ditanam.

Y. Penanaman Lahan Kritis secara Terpadu

Penanganan lahan kritis secara terpadu guna pencegahan semakin meluasnya lahan kritis melalui peningkatan sosialisasi, pengawasan dan penindakan terhadap perusakan lingkungan, serta Penggunaan bibit yang tepat dan teknologi yang tepat dan waktu penanaman yang dalam penanganan lahan kritis.

Z. Pemanfaatan SDA

Memanfaatkan SDA secara optimal sesuai dengan tata ruang wilayah dan memperhati kan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan.

(25)

IV - 25 RPI2JM Bidang Cipta Karya Kabupaten Pelalawan

Table of Contents

BAB IV – ANALISIS SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN ... 1 4.1 Analisis Sosial ... 1

4.1.1. Pengarusutamaan Gender ... 1 4.1.2. Identifikasi Kebutuhan Penanganan Sosial Pasca Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya. ... 2

4.2 Analisis Ekonomi. ... 2 4.2.1. Kemiskinan ... 2 4.2.2. Analisis Dampak Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya Terhadap Ekonomi Lokal Masyarakat ... 6

4.3 Analisis Lingkungan ... 6 4.3.1. Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan Kabupaten Pelalawan 6

4.3.2. Identifikasi Kebijakan Dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pelalawan ... 9

4.3.3. Kebijakan Dalam KLHS ... 11 4.3.4. Arahan Rekomendasi KLHS ... 14 3. tidak diperbolehkan kegiatan yang berpotensi mengubah tata air dan ekosistem unik. ... 16

Tabel 4. 1 Kajian Pengaruh Pelaksanaan Kegiatan Bidang Cipta Karya bagi Pengarusutamaan Gender di Kabupaten Pelalawan ... 2

Tabel 4. 2 Analisis Kebutuhan Penanganan Keluarga Miskin Kabupaten Pelalawan ... 4

Gambar

Tabel 4. 2 Analisis Kebutuhan Penanganan Keluarga Miskin Kabupaten Pelalawan

Referensi

Dokumen terkait

Dalam suatu proyek yang dirancanakan untuk selesai dalam jangka waktu yang sesuai dengan target , dapat dilakukan percepatan durasi kegiatan yang akan memberikan

yang tepat untuk melengkapi kalimat adalah Perfect Continues Tense. For almost an hour merupakan keterangan waktu 9. Maka bentuk tenses yakan) belum terjadi

“Judex facti dalam putusannya menyatakan bahwa unsur tersebut tidak terbukti dengan alasan bahwa Terdakwa mengirim SMS ke rekan-rekannya hanya berupa informasi

Konsep input, output, dan biaya bisa digunakan untuk menjelaskan makna dari efisiensi dan efektivitas, yang merupakan dua kriteria dengan mana kinerja pusat tanggung jawab

Guna mendapatkan hasil peledakan yang baik, yaitu volume bongkaran lapisan batuan yang besar dengan fragmentasi yang sesuai untuk dimanfaatkan serta biaya yang seminimal

15 Diagram persentase respon siswa untuk angk arkan pada dari gambar 4.15 berikut dapat dil ru sebanyak 34 orang (97%) karena siswa men l yang telah diberikan oleh guru

Seiring dengan adanya konvergensi IFRS, konsep konservatisme kini digantikan oleh prudence , yang dimaksud dengan prudence dalam IFRS adalah pengakuan pendapatan