PERAN DAN FUNGSI KERAPATAN ADAT NAGARI ALAM PAUH DUO KECAMATAN PAUH DUO KABUPATEN SOLOK SELATAN

Teks penuh

(1)

1

PERAN DAN FUNGSI KERAPATAN ADAT NAGARI

ALAM PAUH DUO KECAMATAN PAUH DUO KABUPATEN SOLOK SELATAN

Habibul Asri1 Dian Anggraini Oktavia2 Surya Prahara 3 Program Studi Pendidikan Sosiologi

STKIP PGRI Sumatera Barat

ABSTRACT

The background of this study is the change in the setting of a thriving village governance in public life and the things that arise in the implementation of village governance, such as the overlapping functions of existing institutions in villages, lack of harmony in the relationship between the institution and the nagari limitations fiscal capacity and villages. The purpose of this study was to clarify the roles and functions of Kerapan Nagari Alam (KAN) Alam Pauh Duo. Formulation of the problem is how the duties and functions of Indigenous KAN Alam Pauh district of South Solok. The theory used in this study is the structural functional theory proposed by Robet K. Merton. This type of research is descriptive qualitative research.The technique of collecting data through observation , in-depth interviews , and study documentation. Based on the results of this study concluded KAN role and function as an institution of social control in kenagarian look no further, the role of KAN has been replaced by other social institutions such as the police, and prosecutors. People who have problems immediately reported to the police station and no longer ask for advice to the prince or to KAN. The role and function of KAN in the village government obscured by Badan Musyawarah (BAMUS). Some of the factors that hinder the role and function of KAN in Nagari Alam Pauh Duo government offices Adat Nagari is still riding in walinagari office, Human Resources is still low, the lack of clarity and determination of the main tasks, and functions, as well as the issue of asset are unclear and uncertain, and the absence of regulation KAN. Key words: the roles, functions, KAN

1

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2009 2

Pembimbing I dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat 3

(2)
(3)

3

PENDAHULUAN

Satuan sistem pemerintah terkecil di Sumatara Barat adalah Nagari, yang sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia. Pada masa Pemerintahaan Nagari Kerapatan Adat Nagari (KAN) Alam Pauh Duo memiliki peran yang penting untuk kemajuan nagari, seperti mengayomi (membina) seluruh ninik mamak di Nagari Alam Pauh Duo, kusuik manyalasaikan, kok karuah

mampajanieh, bekerja sama dengan wali nagari

Alam Pauh Duo dalam melaksanakan

pembangunan di Nagari Alam Pauh Duo, melaksanakan tugas-tugas dan program adat di nagari dalam pergantian seorang penghulu, penghulu-penghulu baru, memberikan bimbingan dan penyuluhan terhadap ninik mamak. Anak kemanakan serta membantu wali nagari dalam roda pemerintahan.

Berdasarkan wawancara dengan Ketua KAN Alam Pauh Duo tanggal 22 Mai 2013 di ungkapkan apabila anak kemanakan menjual tanah terlebih dahulu harus ada tanda tangan atau persetujuan dari ninik mamak. Begitu juga apabila ada sengketa tanah dapat diselesaikan oleh ninik mamak atau KAN. Pernikahan atau perkawinan seorang anak kemanakan di Nagari Alam Pauh Duo tidak bisa berlangsung tanpa persetujuan dari para ninik mamak, anak kemanakan sangat takut, segan terhadap ninik mamak dan sangat menghormati ninik mamak serta menjunjung tinggi nila-nila adat.

Semenjak berlakunya Undang-Undang No. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, status Nagari diganti dengan Desa, dan beberapa jorong ditingkatkan statusnya menjadi Desa. Kedudukan Wali Nagari juga diganti dan administrasi pemerintahan dijalankan oleh para kepala Desa. Masyarakat Alam Pauah Duo mulai mengalami banyak masalah, yang semakin hari semakin

meningkat. Masyarakat seakan kehilangan

pemimpin dalam adat, kurangnya perhatian dari ninik mamak terhadap masyarakat dan anak kemanakan. Dengan dilaksanakannya UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, di Sumatera Barat ditetapkan bahwa Jorong yang merupakan bahagian dari nagari sebagai Desa yang merupakan pelaksana pemerintahan terendah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berhubung dahulu, di samping pelaksana pemerintahan, nagari juga merupakan kesatuan Masyarakat Hukum Adat

yang telah ada sesuai dengan sejarah

perkembangan masyarakat Minangkabau, maka Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Barat melalui Perda No. 13. Tahun 1983 tentang Nagari Sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum Adat menetapkan bahwa nagari (baik di kabupaten maupun kota) diurus oleh suatu lembaga yang disebut Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang berfungsi antara lain: 1) mengurus dan mengelola hal-hal yang berkaitan dengan adat sehubungan dengan sako dan pusako, 2) menyelesaikan perkara-perkara perdata adat dan

istiadat, 3) mengusahakan perdamaian dan

memberikan kekuatan hukum terhadap anggota-anggota masyarakat yang bersengketa, serta memberikan kekuatan hukum terhadap sesuatu hal dan pembuktian lainnya menurut sepanjang adat.

Perda No. 13/1983 menjelaskan tentang

hubungan kerja kedua lembaga tersebut:

(1)”hubungan antara kerapatan Adat Nagari dengan Kepala Desa/Kepala Kelurahan adalah bersipat kunsultatif, (2) bila dianggap perlu Kepala

Desa/Kepala Kelurahan dapat memberikan

pendapat serta penjelasan yang diperlukan.

Lembaga yang dipimpin oleh para penghulu ini ternyata tidak dapat berfungsi atau mengfungsikan dirinya secara efektif. Pada hakikatnya KAN yang diberi peranan dalam pengurusan adat dan kebiasaan anak Nagari, demi menjaga kesatuan

(4)

4

Nagari pada dasarnya adalah lembaga tanpa

wewenang dalam urusan Pemerintah (Mustika Zed, 1945).

Dengan dibentuknya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, yang di Sumatera Barat dilaksanakan melalui Perda No. 9 tahun 2000, tentang Pemerintahan Nagari, LAN (Lembaga Adat Nagari) atau dengan nama lain (Kerapatan Adat Nagari) ditetapkan pula sebagai salah satu organ Pemerintahan Nagari di samping Badan Perwakilan Anak Nagari (BPAN) atau dengan nama lain dan Pemerintah Nagari, dengan fungsi yang tidak berbeda dengan yang ditetapkan oleh Perda No. 13 Tahun 1983.

Setelah digantinya UU No. 22 tahun 1999 terakhir dengan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah dan Perda No. 9 Tahun 2000 telah diganti pula dengan Perda No. 2 tahun 2007 tentang Pemerintahan Nagari, yang

menetapkan bahwa pelaksana pemerintahan

terendah di Sumatera Barat (baik di kebupaten termasuk Mentawai, maupun di kota) adalah nagari, menurut Pasal 27, Kerapatan Adat Nagari tetap dimasukkan sebagai salah satu lembaga dalam struktur Pemerintahan Nagari, di samping Bamus Nagari dan Pemerintah Nagari, yang fungsinya ditetapkan melalui Perda Kabupaten/ Kota.

Berdasarkan Perda No. 2 tahun 2007 menyatakan bahwa KAN hanya menjadi pedoman bagi kebijakasanaan yang akan diambil oleh Pemerintahan Nagari. Oleh karena itu posisi KAN yang tidak begitu jelas ditambah lagi tidak memiliki wewenang dalam urusan pemerintahan yang sebelumnya ada dalam pemerintahan Nagari sehinga KAN kalah wibawa dengan pemerintahan Desa. Bagaimana bisa bertahan apabila antara KAN dengan pemerintahan Nagari tidak sejalan dan bersatu. Hal tersebut juga berdampak terhadap peran Kerapat Adat Nagari Alam Pauh Duo yaitu kurang terlaksana dengan baik dilihat dari bidang

adat istiadat yaitu dalam memperhatikan, menjaga, mengembangkan nilai-nilai adat kepada anak kemanakan serta pembinaan kehidupan sosial masyarakat.

Pasca kembali ke Pemerintah Nagari Alam Pauh Duo, beraneka ragam pendapat dan pandangan masyarakat terhadap Kerapatan Adat Nagari. Ada yang berpendapat negatif, bahwa yang dilakukan Kerapatan Adat Nagari tidak

memperjuangkan kepentingan masyarakat,

melaikan kepentingan pribadi anggota Kerapatan Adat Nagari dan ada pula yang berpendapat positif bahwa kedudukan Kerapatn Adat Nagari semakin jelas dengan dikelurkanya Perda No. 13 tahun 1983, yang mana Kerpatan Adat Nagari sebagai kesatuan adat di Minangkabau yang telah menetapkan tata tertib dan pelaksanaan rumah tangga sesuai dengan adat dan undang-undang yang berlaku di masing-masing nagari.

Dilihat dalam praktik KAN ternyata kurang kuat dan posisinya menggantung. Hal ini terjadi karena berbagai tugas dan fungsi Ninik Mamak yang sebelumnya ada dalam Pemerintahan Nagari, kini sudah diambil alih oleh wali nagari. KAN sering pula kalah wibawa dengan pemerintah nagari, bahkan tak jarang terjadi pertikaian antara kedua lembaga ini. Kehidupan dalam Nagari mengalami banyak perubahan karena tidak lagi utuhnya tungku tiga sajarangan (Ninik Mamak ,

Alim Ulama, Cadiak Pandai).

Nagari Alam Pauh Duo merupakan salah satu dari empat Nagari yang terdapat di kecamatan Pauah Duo yang sudah mengalami perubahan dari sistem Pemerintahan Desa ke Nagari. Pada masa Pemerintahan Desa sarana dan prasarana yang disediakan jumlahnya masih terbatas sedangkan penduduknya semakin meningkat. Pasca kembali ke Pemerintahan Nagari Alam Pauah Duo mengalami kemajuan dari segi pendidikan, namun sengketa tanah sering terjadi. Kemudian muncul

(5)

5

aspirasi masyarakat Nagari Alam Pauh Duo seprti

ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, orang tua

dan pemuda yang menghendaki dilakukanya pemekaran terhadap Pemerintah Nagari Alam Pauh Duo agar kemajuan dapat dirasakan secara merata

oleh masyarakat. Keinginan tersebut dapat

diwujudkan setelah dikeluarkan peraturan Daerah Kabupaten Solok Selatan yang tertuang dalam lembaran Daerah tahun 2011, maka pada tahun 2011 Pemerintah Nagari Alam Pauh dimekarkan menjadi empat Nagari yaitu (1) Alam Pauh Duo, (2) Pauh Duo Nan Batigo, (3) Nagari Kapau, (4) Luak Kapau. Jadi jumlah Pemerintah di Nagari Alam Pauh Duo sebanyak empat Nagari dan dipinpin oleh empat Wali Nagari yang sebelumnya hanya merupakan kampung, walaupun Nagari Alam Pauh Duo telah dimekarkan menjadi empat Nagari namun tetap memiliki satu lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN). Berhubungan Nagari adalah satu sistem pemerintahan terendah, dalam struktur masyarakat Minangkabau. Sifatnya multi dimensi dan multi fungsi. Nagari mempunyai aspek formal dan informal. Secara formal dia adalah bahagian yang integral dari pemerintahan nasional. Secara informal dia adalah unit kesatuan adat dan budaya Minangkabau.Tuntutan perubahan pengaturan tentang penyelenggaraan pemerintahan

nagari juga memperhatikan dinamika yang

berkembang di tengah kehidupan masyarakat dan hal-hal yang timbul dalam implementasi penyelenggaraan pemerintahan nagari, seperti tumpang tindihnya fungsi lembaga-lembaga yang ada di nagari, kurang harmonisnya hubungan antar lembaga nagari dan keterbatasan kemampuan keuangan daerah dan nagari.

Tujuan dari penelitian ini adalah:

Menjelaskan peran dan fungsi Kerapan Adat Nagari Alam Pauh Duo Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan.

Untuk membahas peranan dan fungsi dalam penelian ini, peneliti mengunakan teori fungsional struktural yang dikemungkakan oleh Robet K. Merton. Merton menekankan tindakan-tindakan yang berulang kali atau baru yang berhubungan dengan bertahanya suatu sitem sosial dimana tindakan itu berakar. Merton melihat suatu

pembedaan yang tajam antara motif-motif

subjektif. Tujuan atau orentasi individu dan konsekuensi sosial objektif yang muncul dari tindakan itu (Doyle Paul Jhonson, 1986).

Peran yang dijalankan oleh KAN

mempunyai konsekuensi-konsekuensi objektif

terhadap sistem sosial, konsekuensi yang muncul dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh KAN dalam perannya terhadap kembali kepemerintahan nagari dapat berupa konsekuensi manifes (manifes atau konsekuensi laten).

Konsekuensi manifes adalah konsekuensi-konsekuensi objektif yang membantu penyesuaian atau adaptasi dari sistem tersebut. Konsekuensi yang diakui keberadaanya melalaui suatu sistem baik berupa lembaga, organisasi atau suatu perkumpulan, yang akan menjadi acuan bagi pada individu untuk berprilaku dan bertindak dalam suatu sistem. Dengan demikian konsekuensi manifest dapat juga dikatakan sebagai fungsi yang dihendaki. Diakui dan didasari keberadaan dalam suatu lembaga, organisasi atau perkumpulan.

Menurut Toha (1983:10) pengertian peranan dapat dijelaskan bahwa “suatu peranan dirumuskan sebagai suatu rangkaian perilaku yang teratur yang ditimbulkan karena suatu jabatan tertentu atau karena adanya suatu kantor yang mudah dikenal.”

Pemerintah adalah segala urusan yang dilakukan oleh negara dalam menyelenggarakan kesejahtraan masyarakat dan kepentigan negara (Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, 2007). Sistem pemerintahan dapat dilihat dari tiga fungsi lembaga yang mengacu pada triaspolitika

(6)

6

sebagai mana diajukan John Lock dan diterapkan

sebagai besar negara di dunia, yaitu badan legislatif, badan yudikatif dan eksekutif. Lembaga eksekutif lembaga yang menerapkan amanat

hukum dan perundanga-undangan serta

menjalankan mandat perencanaan, pengelolaan dan pengembangan sumberdaya negara. Fungsi ini dipegang oleh lembaga-lembaga administrasi negara seperti departemen dan badan-badan pemerintah (Edi Suharto,2011). Pemerintah adalah

sebuah sistem multiproses yang bertujuan

memenuhi dan melindungi kebutuhan dan tuntutan yang diperintah akan jasa publik dan layanan sipil (Taliziduhu Ndraha,2003).

Nagari adalah kesatuan masyarakat hukum adat dalam Kabupaten Solok Propinsi Sumatera Barat, yang mempunyai wilayah dengan batasan-batasanya tertentu , mempunyai harta benda kekayaan sendiri, berwewenang mengatur dan

mengurus rumah tangganya sendiri, (Perda

Kabupaten Solok No. 8 tahun 2007).

Nagari merupakan kesatuan masyarakat adat yang otonom, ia merupakan republik mini dengan teritorial yang jelas bagi angota-angotanya, mempunyai pemerintahan sendiri, dan mempunyai adat sendiri yang mengatur tata kehidupan

anggota-anggotanya (Imran Manan). Nagari

merupakan kumpulan dari beberapa koto. Dalam sebuah koto sudah ada dua tiga suku, tetapi dalam suatu Nagari harus ada empat suku yang dipimpiya oleh datuk (Edison,2010). Nagari harus mempunyai

batas-batas wilayah kenagarian yang harus

ditentukan melalui rapat musyawarah dengan Nagari-Nagari yang ada di sekelilingnya, rapat sesama penghulu antar Nagari. Nagari merupakan suatu kesatuan politik dan geografis utama Minangkabau yang secara historis terdiri dari suatu Negari induk dan kawasan pemukiman satelit dan

diperintah oleh suatu dewan Nagari yang

merupakan komonitas penghulu (Elizabeth,2007).

Nagari menurut proses pembentukanya banyak yang bermula dari banjar menjadi teratak (Dusun), kemudian koto baru nagari, sehingga kemungkinan nagari itu justru hanya terdiri dari orang yang serunpun (Amir). Nagari merupakan kesatuan masyarakat hukum adat yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa.

Arti Nagari merupakan suatu bentuk

pemerintahan berdasarkan adat minangkabau

dengan struktur dan susunan yang asli yakni adat minangkabau,disampingmelaksanakanpemerintaha n secara umum (pemerintahan umum) dalam negara kesatuan Republik Indonesia (Musyair Zainuddin,2008).

Lembaga kerapatan adat nagari (KAN) adalah merupakan himpunan daripada Ninik Mamak atau Penghulu yang mewakili suku atau kaumnya dibentuk berdasarkan atas hukum adat nagari setempat. Dimana lembaga kerapatan adat nagari (KAN) ini merupakan lembaga tertinggi dalam hal urusan adat serta hukum adat dalam suatu nagari( Helmy Panuh,2012).

Studi relevan yang Berkaiatan dengan topik Kerapatan Adat Nagari (KAN), sudah ada beberapa tulisan yang membahas dalam bentuk skripsi. Antara lain Sartika Ayu (2008). Yang berjudul “Peran Tungku Tigo Sajarangan” di Nagari salimpang pasca diberlakukannya perda propinsi Sumbar nomor 9 tahun 2000 tentang kentuan pokok Pemerintah Nagari. Dalam studi ini membahas keberadaan Tungku Tigo Sajarangan dalam nagari terpingirkan sehingga otoritas mereka menjadi merosot dengan tajam, perananya diambil oleh lembaga-lembaga formal pemerintah.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan yaitu mulai dari bulan November tahun 2013 sampai bulan Februari tahun 2014. Penelitian

(7)

7

dilaksanakan Nagari Alam Pauh Duo Kecamatan

Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif berupa mendeskripsikan, menganalisa, mencatat dan meginterpretasikan kondisi-kondisi yang terjadi secara tepat.

Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah observasi yaitu : Pada tahap observasi, peneliti melihat bagaimana peran kerapatan adat nagari Alam Pauh Duo. Dalam

melakukan wawancara pertama peneliti

Mewawancarai Ketua KAN. Ketika peneliti mewawancarai keua KAN beliau menggunakan bahasa Minang, sehingga peneliti tidak ada kesulitan dalam proses wawancara. Begitu juga ketika peneliti mewawancarai informan yang lain juga menggunakan bahasa daerah setempat dan bahasa Minang. Pada saat peneliti mewawancarai informan peneliti mendapat sambutan yang baik dan ramah. Wawancara dilakukan dirumah masing-masing informan. Model analisis data penelitian ini adalah menggunakan teknik Trianggulasi data. HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan di dapat :

1. Peran KAN Pasca Pemerintahan Nagari a. Sebagai Lembaga yang mengurus dan

mengelola adat di Nagari

b. Sebagai lembaga pendidikan dan

pengembangan adat

c. Sebagai Lembaga Peradilan Adat

d. Mengurus urusan hukum Adat dan adat Istiadat dalam Nagari

e. Memberikan kedudukan hukum menurut hukum adat terhadap hal-hal yang menyangkut harta kekayaan masyarakat guna kepentingan hubungan keperdataan

adat, juga dalam hal adanya

persengketaan atau perkara perdata adat. 2. Fungsi Kerapatan Adat Nagari

KAN di tingkat Nagari adalah badan otonom yang ditetapkan oleh anak Nagari, terikat kaum dalam Nagari, dan memegang asal usul serta kewenangan.

Dalam pelaksanaan Kerapatan adat nagari (KAN) sebagai lembaga terdepan dalam

pemasyarakatan pengimplementasian Adat

Basandi Syarah-Syarah Bersandi Kitabullah (ABS-SBK) perlu mendapat perhatian dari

berbagai pihak termasuk dari pemerintah daerah, sehingga nilai ABS-SBK itu benar-benar terlaksana di masyarakat nagari.

Saat ini fungsi KAN sebagai lembaga kontrol sosial dalam kenagarian tidak terlihat lagi, peranan KAN telah tergantikan oleh

lembaga sosial lain seperti kepolisian,

kejaksaan. Masyarakat yang mempunyai

masalah langsung saja menyelesaikan masalah dengan melapor ke kantor polisi dan meminta saran lagi ke penghulu ataupun kepada KAN (kerapatan adat nagari). Hal ini juga yang membuat fungsi dan peranan mamak menjadi berkurang di minagkabau.

3. Hubungan Kerja Kerapatan Adat Nagari dengan Pemerintahan Nagari

KAN di tingkat nagari adalah badan otonom yang memegang asal usul serta kewenangan ulayat Nagari. Keanggotaan KAN seluruhnya terdiri dari penghulu di Nagari, bagian dari tungku tigo sajarangan, dimuliakan oleh anak Nagari, disebut nan gadang basa batuah.Jalan terbaik adalah menjadikan KAN sebagai bagian dari BAMUS Nagari.

Sewajarnya, tampak nyata hubungan antara adat dan pemerintahan di tingkat Nagari. Saling topang menopang dan serasi. Melalui

(8)

8

BAMUS Nagari, diharapkan dapat

menggerakkan kembali peran dan fungsi ninik mamak, yang selama ini tidak optimal berperan

membangun Nagari, yang disebabkan :

Kurangnya figure penghulu dan pemangku adat

yang sudah banyak merantau,

kurangnya pengkaderan ninik mamak untuk memimpin Nagari.

4. Pelaksanaan Peran dan Fungsi Kerapatan Adat Nagari dalam Pelaksanaan Pemerintahan Nagari

Kekhawatiran akan hilangnya nilai filosofi adat basandi syarak syarak basandi kitabullah (ABS-SBK) akan semakin beralasan, dan bukan tidak mungkin adat akan tinggal slogan serta hanya tercatat dalam lembaran

sejarah, bila kekhawatiran itu menjadi

kenyataan, adalah sesuatu yang sulit untuk

dibantah.Maka untuk itu kebijakan KAN akan

menjadi pedoman bagi pemerintahan nagari menyusun peraturan-peraturan nagari yang berhubungan dengan kebaikan masyrakat.

Berdasarkan hasil penelitian ada

beberapa faktor yang mempengaruhi peran KAN dalam pemerintahan nagari tersebut, Pertama; Kelembagaan. Kerapatan Adat Nagari lebih banyak yang tidak punya kantor sendiri. Kedua; Sumber Daya Manusia (SDM) pengurus belum dibekali ilmu

perkantoran, manajemen dan organisasi.

Ketiga; Tugas pokok dan fungsi (tupoksi), tidak adanya kejelasan dan penetapan tupoksi, Keempat; pendataan aset lembaga, sampai saat ini persoalan aset menjadi semakin tidak jelas dan tidak pasti, Kelima; Belum adanya regulasi KAN,

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, tentang peran KAN dalam pemerintahan Nagari Alam Pauh Duo

Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Peran dan fungsi KAN sebagai lembaga kontrol sosial dalam kenagarian tidak terlihat lagi, peranan KAN telah tergantikan oleh lembaga sosial lain seperti kepolisian, kejaksaan. Masyarakat yang mempunyai

masalah langsung saja menyelesaikan

masalah dengan melapor ke kantor polisi dan tanpa meminta saran lagi ke penghulu ataupun kepada KAN (kerapatan adat nagari). 2. Peran dan fungsi Kerapatan Adat Nagari

(KAN) dalam pemerintahan nagari

tersamarkan oleh BAMUS, seharusnya KAN

adalah mitra dalam musyawarah bagi

pemerintahan Nagari.

3. Beberapa faktor yang menghambat peran dan fungsi KAN dalam pemerintahan nagari Alam Pauh Duo adalah kantor Kerapatan Adat Nagari masih menumpang di kantor walinagari, Sumber Daya Manusia masih rendah, tidak adanya kejelasan dan penetapan tupoksi, persoalan aset tidak jelas dan tidak pasti, dan belum adanya regulasi KAN Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut :

1. Sebaiknya pemerintahan nagari menjadikan

KAN sebagai mitra keja yang sejajar dengan BAMUS, karena apapun permasalahan yang ada di adat diselasaikan terlebih dahulu di KAN.

2. Agar dilakukan pembinaan secara

berkesinambungan terhadap sumber daya manusia KAN oleh pemerintah berupa

pembinaan administrasi, fasilitas dalam

rangka menjalankan tupoksi dari KAN, serta bantuan keuangan

(9)

9

DAFTAR PUSTAKA

Amir, 2011. Adat Minangkabau Polo danTujuan

Hidup Orang Minang. Jakarta: Citra

Harapan Prima.

Bakhtiar, 2005. Ranah Minang ditegah

Cengkeraman kristenisasi. Jakatara: PT

Bumi Aksara.

Edi Sohardono.1994. Tiori Peran (Konsep, Deviasi

dan implikasainya) Jakarta: Gramedia

Pustaka Pusat.

Edison.et al. 2010. Tamabo minangkabau dan

hukum adat di minangkabau. Kristal

Multimedia

Imran manan. 1995.Birokrasi modren dan otoritas

Tradisional di minangkabau, Sumatara

Barat Padang: yayasan pengkajian

kebudayaan minangkabau

Kamus Beasar Bahasa Indonesia Edisi Ke Tiga tahun 2007. Jakarta: Balai Pustaka. Mustika Zed,et al.1998.Sumatra Barat di Pangung

Sejarah 1945-1995 Jakarta: Pustaka

Sinar Harapan.

Musyair zainuddin.2008. implementasai

pemerintahaan Nagari berdasarkan hak asal usul adat minangkabau.

Yokyakarta: ombak.

Soejono soekanto .1981. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: PT Raja Granpindo

Persada.

Taliziduhu ndaraha,2003. kybernology( ilmu

pemerintah baru). Jakatara: PT Rineka

Cipta.

Yondri,at al. 2010.Peran KAN dalam

Mengsukseskan Program Pemerintah Nagari di Nagari Sariak. BPSNT

Padang Press

Skripsi

Ayu, Sartika. 2008. Peran Tungku Tigo Sajarangan

di Nagari Salimpang Diberlakukannya Perda Propinsi Sumbar Nomor 9 Tahun 2000 Tentang Ketentuan Poko Pemerintah Nagari. Skripsi FIS UNP:

Padang Perundang-undangan

1. Perda Kabupaten Solok Selatan Nomor 6

Tahun 2009 tentang Pemerintahan Nagari

2. Perda Provinsi Sumatera Barat Nomor 2

Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok

Pemerintahan Nagari

3. Pernag Nagari Alam Pauh Duo Nomor 13

Tahun 2011 tentang Pedoman Umum

Pemerintahan Nagari Alam Pauh Duo. 4.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :