Informasi lebih lanjut dapat menghubungi: Bank Indonesia
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Grup Asesmen Ekonomi
Daftar Isi
3
Kata Pengantar
5
Bagian I
Ringkasan Perkembangan dan Prospek Ekonomi Daerah
7
Bagian II
Perekonomian Kawasan Timur Indonesia
13
II.1. Perekonomian Sulawesi, Maluku, dan Papua
15
II.2. Perekonomian Kalimantan
28
II.3. Perekonomian Bali-Nusa Tenggara
39
Bagian III
Perekonomian Jawa
49
III.1. Perekonomian Jawa Bagian Timur
51
III.2. Perekonomian Jawa Bagian Tengah
63
III.3. Perekonomian Jawa Bagian Barat
72
III.4. Perekonomian Jakarta
85
Bagian IV
Perekonomian Sumatera
99
IV.1. Perekonomian Sumatera Bagian Selatan
101
IV.2. Perekonomian Sumatera Bagian Tengah
113
IV.3. Perekonomian Sumatera Bagian Utara
125
Bagian V
Isu Khusus Daerah
139
Isu Khusus 1: Reformasi Struktural Dalam Rangka Meningkatkan Daya
Saing Perekonomian
Isu Khusus 2: Hilirisasi Ekspor Mineral – Menjaga Keseimbangan
Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan
Boks: Kredit Karbon Untuk Pembiayaan Mitigasi Dampak
Lingkungan
Isu Khusus 3: Dinamika Kemiskinan pada Daerah Penghasil Sumber Daya
Alam
139
144
147
150
Dalam proses perumusan kebijakan moneter, Bank Indonesia mempertimbangkan seluruh aspek perekonomian termasuk berbagai dinamika dan isu terkini yang berkembang di daerah. Pembahasan menyeluruh tentang perkembangan perekonomian terkini dan berbagai isu strategis yang mengemuka di daerah dilakukan secara periodik antara Dewan Gubernur dengan para Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia dari seluruh Indonesia. Hasil pembahasan tersebut menjadi bagian penting yang melengkapi pemahaman Bank Indonesia terhadap kondisi makroekonomi dengan berbagai aspek risiko yang berkembang.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2014 sebesar 5,12% (yoy), melambat daripada triwulan I 2014 sebesar 5,21% (yoy). Hal ini dipengaruhi oleh melambatnya kinerja ekonomi kawasan Sumatera karena melemahnya kinerja di sektor pertanian. Sementara itu, perekonomian Jawa relatif stabil ditopang oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi Jakarta dan Jawa Barat, dan perekonomian KTI membaik yang didukung oleh industri pengolahan.
Perkembangan inflasi di daerah selama triwulan II hingga Juli 2014 berada dalam tren inflasi yang menurun. Hal ini dipengaruhi anatara lain oleh masih berlanjutnya koreksi harga beberapa komoditas pangan strategis seiring cukup melimpahnya pasokan. Beberapa kebijakan administered prices seperti penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) rumah tangga dan kenaikan surcharge angkutan udara relatif masih berdampak minimal. Peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam mengatasi gangguan pasokan pangan juga berkontribusi positif terhadap terkendalinya harga pangan di berbagai daerah. Meskipun demikian, beberapa daerah di KTI seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kalimantan Barat masih mencatat tingkat inflasi cukup tinggi yang antara lain disebabkan oleh kenaikan surcharge angkutan udara.
Pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan III 2014 secara agregat diperkirakan masih tumbuh melambat. Perekonomian KTI diprakirakan tumbuh melambat karena berlanjutnya proses konsolidasi di sektor tambang terkait kebijakan pengaturan ekspor minerba serta melemahnya permintaan dari negara mitra utama. Sementara itu, perekonomian Sumatera diperkirakan tumbuh stabil. Di sisi lain, perekonomian berbagai daerah di Jawa diprakirakan kembali meningkat seiring dengan indikasi berlanjutnya perbaikan kinerja ekspor manufaktur.
Inflasi di berbagai daerah masih berada dalam tren yang menurun. Pada akhir tahun 2014 inflasi secara agregat diprakirakan masih berada pada lintasan yang konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi nasional sebesar 4,5%±1%. Terjaganya pasokan pangan disertai koreksi harga pasca Ramadhan berkontribusi positif bagi masih berlanjut tren penurunan inflasi. Namun, Bank Indonesia terus mewaspadai sejumlah risiko inflasi ke depan, termasuk gangguan pasokan pangan akibat El Nino serta konsolidasi fiskal, khususnya kebijakan pembatasan Bahan Bakar Minyak bersubsidi, dan kenaikan tarif tenaga listrik (TTL). Terkait dengan hal ini, upaya untuk membawa inflasi kembali ke arah sasarannya akan terus ditingkatkan melalui penguatan koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Dinamika terkini perekonomian di berbagai daerah tersebut dan semakin besarnya risiko yang akan dihadapi ke depan mengisyaratkan semakin pentingnya upaya untuk mendorong reformasi struktural di
daerah. Fokus untuk mengatasi berbagai persoalan struktural di daerah memerlukan strategi kebijakan yang tepat dan saling terintegrasi dengan baik. Langkah reformasi struktural perlu ditempuh dan difokuskan pada upaya peningkatan daya saing ekspor manufaktur dan diversifikasi perekonomian daerah melalui penguatan lingkungan pendukung (enabling environment), termasuk logistik dan konektivitas, kemudahan berusaha, dan akses pembiayaan jangka panjang.
Asesmen lebih lengkap mengenai dinamika terkini dan prospek ekonomi daerah diuraikan secara lengkap dalam buku Laporan Nusantara ini. Laporan Nusantara edisi kali ini juga mengangkat beberapa isu khusus terkait dengan reformasi struktural dalam rangka meningkatkan daya saing perekonomian, hilirisasi ekspor mineral khususnya strategi untuk menjaga keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta gambaran kemiskinan terkini di daerah-daerah yang merupakan basis produksi sumber daya alam. Penyusunan buku Laporan Nusantara dilakukan bersama oleh Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter (DKEM) di kantor pusat Bank Indonesia dan para peneliti ekonomi dari seluruh Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia.
Akhir kata, kami berharap buku Laporan Nusantara ini dapat menjadi referensi para pemangku kepentingan dan pemerhati ekonomi daerah, serta menjadi salah satu kontribusi Bank Indonesia dalam pembangunan ekonomi daerah.
Jakarta, 18 Agustus 2014 Departemen Kebijakan Ekonomi
dan Moneter
Juda Agung Direktur Eksekutif
PERKEMBANGAN TERKINI EKONOMI DAERAH
Perekonomian Indonesia pada triwulan II 2014 mengalami pertumbuhan yang melambat yakni tercatat sebesar 5,12% (yoy) dibandingkan dengan triwulan I 2014 sebesar 5,21%. Hal ini dipengaruhi oleh melambatnya kinerja ekonomi Kawasan Sumatera terutama karena melemahnya kinerja sektor pertanian terkait dengan harga komoditas perkebunan yang belum menunjukkan perbaikan yang berarti. Sementara itu, perekonomian Jawa secara keseluruhan masih dapat tumbuh relatif stabil karena ditopang oleh perbaikan ekonomi Jakarta dan Jawa Barat seiring membaiknya kinerja ekspor manufaktur. Namun, provinsi-provinsi lain di Jawa masih cenderung tumbuh melambat terkait dengan kinerja produksi pertanian yang melambat dan dampak dari masih lemahnya aktivitas perdagangan antara daerah, terutama dengan KTI.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) menunjukkan perbaikan meski masih cenderung terbatas. Membaiknya pertumbuhan ekonomi di KTI lebih ditopang oleh meningkatnya produksi industri makanan olahan dan mulai beroperasinya pabrik olahan CPO baru di Sulawesi Barat, perbaikan produksi LNG di Papua Barat, serta meningkatnya kinerja pariwisata di Bali. Kinerja sektor tambang yang cenderung menurun karena penyesuaian terhadap kebijakan pengaturan ekspor minerba menjadi faktor utama yang menahan perbaikan ekonomi KTI lebih lanjut. Di samping itu, melemahnya permintaan ekspor batubara terutama dari Tiongkok yang merupakan salah satu negara tujuan ekspor batubara terbesar, juga berdampak pada terbatasnya kenaikan pertumbuhan ekonomi di KTI. Beberapa daerah yang merupakan basis produksi tambang seperti Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Riau, dan Sulawesi Tengah bahkan mencatat angka pertumbuhan yang lebih rendah daripada daerah-daerah lainnya (Grafik 1.1.).
Gambar I.1. Peta Pertumbuhan Ekonomi Daerah Triwulan II 2014
Di sisi inflasi, laju perkembangan inflasi selama triwulan II hingga Juli 2014 masih berada dalam tren yang menurun di seluruh daerah. Masih berlanjutnya koreksi harga beberapa komoditas pangan strategis seiring cukup melimpahnya pasokan, moderasi permintaan domestik, dan ekspektasi inflasi yang terjaga berkontribusi pada terkendalinya inflasi inti di berbagai daerah. Sementara itu, beberapa kebijakan
administered prices seperti penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) rumah tangga dan kenaikan surcharge
angkutan udara relatif masih berdampak minimal. Terkendalinya tekanan inflasi di berbagai daerah juga tercermin dari perkembangan inflasi selama periode Ramadhan yang cenderung lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun terakhir. Hal ini juga tidak terlepas dari semakin aktifnya partisipasi daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya gejolak harga, terutama harga pangan. Kendati berada dalam tren inflasi yang menurun, beberapa daerah seperti Maluku Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah masih perlu mendapat perhatian karena masih mencatat inflasi di kisaran yang cukup tinggi, yakni 7%, antara lain karena kenaikan surcharge angkutan udara (Grafik 1.2.).
Gambar I.2. Peta Inflasi Daerah, Juli 2014
Memasuki triwulan III 2014, perkembangan berbagai indikator ekonomi di daerah secara agregat mengindikasikan perekonomian belum mengalami perbaikan yang berarti (Tabel I.1). Perekonomian KTI diprakirakan masih akan tumbuh melambat karena berlanjutnya proses konsolidasi di sektor tambang terkait kebijakan pengaturan ekspor minerba. Demikian pula halnya dengan kinerja ekspor batubara dari Kalimantan yang diperkirakan masih terbatas karena melemahnya permintaan dari negara mitra utama. Perekonomian NTB bahkan diperkirakan akan mengalami kontraksi pertumbuhan yang cukup dalam akibat tidak beroperasinya salah satu perusahaan tambang besar di sana sejak bulan Juni 2014. Ekspor tembaga oleh perusahaan penambang besar di Papua yang mulai kembali dapat dilakukan pada awal Agustus 2014 diperkirakan belum dapat mendorong kinerja tambang secara keseluruhan.
Di sisi lain, perekonomian berbagai daerah di Jawa diprakirakan kembali meningkat seiring dengan indikasi berlanjutnya perbaikan kinerja ekspor manufaktur. Permintaan ekspor manufaktur Jawa dipengaruhi oleh perbaikan ekonomi negara maju, terutama Amerika Serikat, antara lain untuk barang tekstil dan produk tekstil (TPT), serta makanan olahan. Di samping itu, konsumsi pemerintah yang meningkat seiring dengan pergeseran realisasi anggaran Pemerintah Pusat, khususnya pembayaran gaji
ke-13, serta peningkatan belanja infrastruktur daerah berdampak positif pada membaiknya pertumbuhan ekonomi Jawa. Kenaikan realisasi anggaran pemerintah disertai permintaan domestik yang masih cukup kuat diperkirakan turut menopang perekonomian Sumatera untuk tumbuh stabil di tengah kinerja ekspor, khususnya CPO dan karet olahan, yang menghadapi tantangan akibat belum membaiknya harga komoditas di pasar global. Meski demikian, secara keseluruhan prakiraan membaiknya pertumbuhan ekonomi Jawa dan stabilnya perekonomian Sumatera belum dapat menutupi melambatnya kinerja perekonomian KTI.
Tabel I.1. Tendensi Arah Perekonomian Daerah Triwulan III 2014
Bag. Utara
Bag. Tengah
Bag.
Selatan Asesmen Jakarta Bag. Barat Bag. Tengah Bag. Timur Asesmen Kaliman tan Bali-Nustra Sulamp ua Asesmen PDB/PDRB Konsumsi RT Meningkatnya konsumsi terkait Idul Fitri, tahun ajaran baru, dan terjaganya ekspektasi
Meningkatnya konsumsi terkait Idul Fitri, tahun ajaran baru, dan terjaganya ekspektasi
Meningkatnya konsumsi terkait Idul Fitri, tahun ajaran baru, MICE, dan terjaganya ekspektasi
Konsumsi Pemerintah
Realisasi gaji ke-13, peningkatan belanja pemerintah
Realisasi gaji ke-13, peningkatan belanja pemerintah
Realisasi gaji ke-13, peningkatan belanja pemerintah Investasi (PMTB) Pembangunan infrastruktur terkait MP3EI
Investor bersikap wait and see untuk melihat hasil Pilpres; lebih didukung oleh proyeksi infrastruktur berskala besar
Investasi pabrik pemurnian mineral, percepatan realisasi proyek infrastruktur
Ekspor LN Perbaikan ekspor CPO dan karet alam Perbaikan ekspor manufaktur
Penurunan permintaan batu bara, terbatasnya ekspor tembaga
Impor LN Peningkatan impor bahan baku
Peningkatan impor bahan baku dan barang modal
Penurunan impor barang modal di sektor pertambangan
Jawa KTI
Sumatera
*) Prakiraan arah kondisi ekonomi secara tahunan (year-on-year)
Sementara itu, pada triwulan III 2014, inflasi di berbagai daerah masih berada dalam tren yang menurun dan secara agregat diprakirakan berada di kisaran 4,7% (yoy). Terjaganya pasokan pangan disertai koreksi harga pasca Ramadhan berkontribusi positif bagi masih berlanjut tren penurunan inflasi. Pasokan untuk beberapa komoditas strategis seperti cabai merah, daging ayam, dan bawang merah diperkirakan masih memadai disertai permintaan yang kembali ke pola normalnya. Beberapa risiko yang dapat memberikan kenaikan tekanan inflasi antara lain terkait dengan penerapan pembatasan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, dampak kebijakan perluasan kebijakan kenaikan tarif tenaga listrik, serta potensi gangguan produksi pangan karena dampak El-Nino (moderate). Di samping itu, beberapa daerah di KTI seperti Maluku Utara, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur cenderung mengalami tekanan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya karena kompleksnya permasalahan distribusi pangan sehingga rentan mengalami gejolak harga.
Di tengah kinerja ekonomi daerah yang cenderung melambat, stabilitas sistem keuangan di daerah masih terjaga. Penyaluran kredit terlihat tumbuh sejalan dengan perkembangan ekonomi yang cenderung melambat di berbagai daerah namun dengan tingkat risiko yang masih berada pada level yang aman. Penurunan kualitas kredit lebih terkonsentrasi di beberapa daerah, terutama daerah-daerah yang merupakan basis produksi tambang seperti di Sulawesi dan Kalimantan, namun masih belum menyentuh
tingkat yang mengkhawatirkan. Meskipun demikian, beberapa daerah di Sumatera mengindikasikan potensi sumber kerentanan dari penurunan harga komoditas ekspor utama (seperti CPO dan karet alam) yang dapat berimbas pada pendapatan masyarakat dan kemampuan membayar kembali kreditnya (repayment capacity).
Kendati kinerja perekonomian mengalami perlambatan, transaksi keuangan melalui sistem pembayaran masih meningkat. Sepanjang triwulan II 2014, transaksi pembayaran melalui Real Time Gross Settlement
(RTGS) rata-rata sebesar Rp30,02 ribu triliun per bulan, meningkat dibandingkan dengan rata-rata
triwulan sebelumnya sebesar Rp21,87 ribu triliun. Meningkatnya aktivitas pada sistem pembayaran di berbagai daerah khususnya di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa diperkirakan turut dipengaruhi oleh aktivitas kampanye menjelang Pemilihan Umum (Pemilu).
Pada aspek kesejahteraan, tingkat kemiskinan menunjukkan kecenderungan menurun. Menurunnya angka kemiskinan tersebut menggambarkan bahwa di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang melambat, masih terdapat peluang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, beberapa indikator kesejahteraan lainnya menunjukkan masih besarnya tantangan yang perlu diatasi. Dilihat secara spasial penurunan kemiskinan tersebut tidak terjadi secara merata. Tingkat kemiskinan di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua justru cenderung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini diperkirakan terkait dengan menurunnya pendapat masyarakat dan melemahnya aktivitas di sektor-sektor terkait sumber daya alam karena menurunnya harga komoditas. Beberapa daerah seperti Papua, Nusa Tenggara, Maluku dan sebagian besar daerah di Sulawesi mencatat angka kemiskinan yang cukup tinggi disertai semakin melebarnya ketimpangan antar penduduk miskin di daerah-daerah tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh Indek Keparahan Kemiskinan yang meningkat.
PROSPEK EKONOMI DAERAH DAN TANTANGAN KE DEPAN
Prospek Ekonomi Daerah Tahun 2014Perkembangan terkini mengindikasikan pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2014 lebih lambat daripada prakiraan sebelumnya yakni berada pada batas bawah dari kisaran 5,1%-5,5% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2013 yang sebesar 5,78% (yoy). Perlambatan ekonomi akan dialami di hampir seluruh daerah, terutama daerah-daerah yang memiliki peran komoditas tambang cukup besar dalam perekonomiannya seperti daerah-daerah di KTI dan sebagian Sumatera. Kondisi ini disebabkan oleh proses konsolidasi yang harus dilakukan oleh para pelaku usaha di sektor tambang terkait implementasi dari UU Minerba pada awal tahun.
Di samping itu, pemulihan ekonomi global yang cenderung moderat dan terbatas pada beberapa negara maju memengaruhi kinerja ekspor daerah. Perkembangan ekonomi Tiongkok yang justru cenderung tumbuh melambat berdampak pada melemahnya permintaan ekspor komoditas tambang dari beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera. Demikian halnya dengan kinerja ekspor manufaktur dari Jawa yang turut mengalami tekanan karena melambatnya permintaan dari Tiongkok. Namun, perlambatan kinerja ekspor manufaktur di Jawa lebih lanjut tertahan oleh masih cukup kuatnya permintaan ekspor dari negara maju, khususnya Amerika Serikat yang merupakan salah satu pasar tujuan utama ekspor Jawa (sekitar 15% dari total nilai ekspor Jawa). Secara keseluruhan, permintaan domestik diperkirakan lebih tinggi terutama terkait dengan masih kuatnya konsumsi rumah tangga, sehingga dapat menahan pelemahan ekonomi lebih lanjut di berbagai daerah.
Momentum penurunan laju inflasi diperkirakan akan berlangsung sampai dengan triwulan III 2014, untuk kemudian kembali meningkat hingga mendekati batas atas kisaran sasaran inflasi nasional 4,5±1% pada akhir 2014. Meningkatnya kembali tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari beberapa komponen
administered prices, terutama dampak dari kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) dan tarif angkutan. Selain
itu, potensi terjadinya El-Nino masih menjadi risiko bagi produksi pangan yang pada gilirannya dapat menekan kembali naiknya inflasi volatile food. Mengatasi potensi risiko inflasi yang masih cukup besar, upaya yang ditempuh oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus diarahkan untuk dapat memperkuat kesinambungan dan kelancaran pasokan di daerah.
Tantangan Ke Depan
Ke depan, perekonomian daerah masih akan dibayangi berbagai risiko yang dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi di daerah. Dalam jangka pendek perekonomian akan dihadapkan pada lima risiko utama, yakni:
1. masih rentannya proses pemulihan ekonomi global yang cenderung diikuti penurunan harga komoditas sehingga pada gilirannya akan dapat berdampak pada kinerja ekspor daerah dan memberi tekanan bagi neraca perdagangan nasional;
2. proses konsolidasi di sektor tambang sebagai dampak dari penerapan kebijakan pengaturan ekspor mineral, terutama di daerah-daerah yang merupakan basis produksi tambang, dalam jangka pendek akan memberi tekanan bagi kinerja ekspor daerah;
3. risiko fiskal yang mungkin timbul apabila kapasitas fiskal tidak lagi memadai untuk mengakselerasi perekonomian karena besarnya beban subsidi energi;
4. potensi kenaikan inflasi karena kenaikan harga minyak dunia dan implikasi dari kebijakan yang ditempuh untuk membatasi penyaluran BBM bersubsidi tetap sesuai dengan kuotanya, serta rentannya gangguan distribusi karena kualitas infrastruktur khususnya konektivitas yang belum sepenuhnya memadai;
5. kemampuan daya saing daerah, khususnya daya saing ekspor manufaktur, menghadapi persaingan global terutama dengan implementasi Komunitas Ekonomi ASEAN yang berlaku pada 2015. Daya saing ekspor manufaktur secara umum masih rendah dan cenderung menurun, serta secara spasial hanya Jawa yang memiliki kekuatan daya saing ekspor manufaktur dibandingkan daerah lainnya. Kerentanan ekonomi daerah terhadap berbagai risiko tersebut di atas tidak terlepas dari permasalahan struktural yang masih perlu diatasi. Permasalahan struktural utama di daerah adalah terkait daya saing dan kapasitas industri yang terbatas karena masih lemahnya faktor SDM dan infrastruktur. Di samping itu, perbaikan lingkungan pendukung (enabling factors) di berbagai daerah, termasuk pembangunan infrastruktur dan perbaikan layanan birokrasi/perizinan, berjalan lebih lambat dibandingkan dengan negara-negara peers di Asia.
Untuk mengatasi berbagai persoalan struktural diperlukan strategi kebijakan yang tepat dan saling terintegrasi dengan baik. Langkah reformasi struktural perlu ditempuh dan difokuskan pada upaya peningkatan daya saing ekspor manufaktur dan diversifikasi perekonomian daerah melalui penguatan lingkungan pendukung (enabling environment), termasuk logistik dan konektivitas, kemudahan berusaha, dan akses pembiayaan jangka panjang. Terdapat beberapa hal pokok yang perlu ditempuh dan menjadi
bagian penting di dalam agenda reformasi struktural untuk mendorong percepatan pembangunan ekonomi daerah.
Pertama, kebijakan dan regulasi yang mendukung pada perbaikan kemudahan berusaha dan daya saing,
khususnya untuk industri berorientasi ekspor. Dukungan kebijakan tersebut, antara lain berupa penyederhanaan layanan perizinan investasi, peningkatan pelayanan terpadu satu atap (PTSP), penyediaan insentif fiskal dan pengembangan strategi investasi nasional-daerah yang terintegrasi. Strategi peningkatan investasi diarahkan pada barang manufaktur berorientasi ekspor dan masuk ke dalam rantai pasok global.
Kedua, mempercepat penyelesaian target pembangunan infrastruktur dan sistem logistik nasional
sebagaimana telah tertuang di dalam strategis MP3EI. Implementasi percepatan pembangunan infrastruktur didukung oleh penerapan kebijakan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) nasional, serta ketegasan implementasi RTRW di tingkat daerah.
Ketiga, upaya memperbaiki kualitas layanan birokrasi dan perizinan, termasuk penyelarasan peraturan
baik di antara pusat dan daerah maupun antar daerah. Di samping itu, dukungan fiskal daerah diarahkan untuk mendukung pengembangan infrastruktur dan terjaganya stabilitas harga sehingga dapat mendorong penciptaan daya saing yang lebih baik.
Keempat, khusus pengembangan ekonomi Kawasan Timur Indonesia (KTI) dilakukan melalui
pengembangan industri manufaktur berbasis Sumber Daya Alam (SDA) serta strategi pembangunan berwawasan maritim dan ramah lingkungan. Prioritas kebijakan ditempuh dan diarahkan secara konsisten dalam rangka menurunkan biaya logistik, perbaikan kebijakan tata ruang dan konektivitas maritim, pembangunan energi alternatif terbarukan, penguatan modal manusia, serta mendorong peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan (research and development).
Kelima, untuk pembiayaan pembangunan perlu dilakukannya reformasi fiskal dalam rangka
memperbesar ruang fiskal bagi pembiayaan pembangunan dan mendorong skema Kerjasama Pemerintah-Swasta (KPS) yang efektif.
Terakhir, penciptaan lingkungan makroekonomi yang stabil dan kondusif bagi kesinambungan
pembangunan ekonomi didukung oleh adanya koordinasi yang kuat antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor riil, serta antara pemangku kebijakan di tingkat pusat dan daerah.
Laporan Nusantara ini disarikan dari hasil pertemuan Dewan Gubernur Bank Indonesia dengan Kepala-Kepala Perwakilan Bank Indonesia tingkat Wilayah di seluruh Indonesia pada 11 Agustus 2014 di Manado. Pertemuan dilakukan setiap triwulannya untuk membahas perkembangan terkini dan berbagai isu strategis
yang menjadi perhatian di daerah sebagai bahan pertimbangan penting dalam perumusan kebijakan moneter di Bank Indonesia
Perekonomian Kawasan Timur Indonesia (KTI) pada triwulan II 2014 mencatat angka pertumbuhan yang membaik yakni sebesar 4,9% (yoy) dibandingkan dengan triwulan sebelumnnya yang sebesar 4,6% (yoy). Membaiknya pertumbuhan KTI ditopang oleh industri pengolahan, terutama industri makanan olahan dan mulai beroperasinya pabrik olahan CPO baru di Sulawesi Barat, meningkatnya produksi
liquified natural gas (LNG) di Papua Barat, serta meningkatnya kinerja pariwisata di Bali. Meski
demikian, sektor pertambangan, yang memiliki peranan cukup besar dalam perekonomian KTI, masih mengalami kontraksi pertumbuhan. Hal ini disebabkan oleh konsolidasi terhadap penerapan kebijakan pengaturan ekspor mineral yang mulai berlaku sejak awal tahun 2014. Di samping itu, berlanjutnya tren perlambatan ekonomi Tiongkok berimbas pada melemahnya kinerja ekspor batubara dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Kontraksi pertumbuhan sektor pertambangan relatif dapat tertahan oleh adanya perbaikan kinerja ekspor feronikel di Sulawesi Tenggara, mulai beroperasinya beberapa
smelter untuk alumina di Kalimantan Barat, biji besi di Kalimantan Selatan dan nikel di Sulawesi Utara.
Sementara itu, meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Papua pada triwulan laporan lebih dipengaruhi faktor base effect kondisi operasional tambang yang sempat terhenti selama triwulan II 2013.
Memasuki triwulan III 2014, berbagai indikator ekonomi daerah-daerah di KTI mengindikasikan laju pertumbuhan ekonomi secara agregat cenderung melambat. Kontraksi pertumbuhan ekonomi di sektor pertambangan diperkirakan masih berlanjut, walaupun pada perkembangan terakhir ekspor tembaga dari Papua dapat kembali dilakukan sejak awal Agustus 2014. Di sisi lain, kegiatan produksi tembaga di Nusa Tenggara Barat (NTB) justru terhenti sejak Juni 2014 dan diperkirakan berdampak pada kontraksi pertumbuhan ekonomi yang cukup dalam di NTB. Perkembangn di sektor tambang yang melambat juga terindikasi di sebagian besar Kalimantan seiring dengan masih melemahnya permintaan ekspor batubara dan cenderung turunnya produksi LNG.
Pertumbuhan ekonomi KTI pada triwulan III 2014 diperkirakan lebih banyak ditopang oleh konsumsi domestik. Realisasi pembayaran gaji ke-13 dan peningkatan kinerja pariwisata di sejumlah daerah tujuan wisata utama di KTI seperti Bali, Sulawesi Utara, dan NTB diperkirakan menopang pertumbuhan ekonomi KTI. Kenaikan kinerja pariwisata tersebut seiring dengan masuknya masa liburan sekolah dan cenderung meningkatnya arus kunjungan wisatawan asing. Selain itu, masih berlanjutnya pembangunan proyek infrastruktur, yang termasuk dalam program MP3EI, dan pabrik pemurnian mineral di beberapa daerah seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat, diperkirakan dapat menahan perlambatan ekonomi KTI lebih lanjut.
Perkembangan inflasi KTI hingga Juli 2014 masih berada dalam tren yang menurun. Hal ini disebabkan oleh hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM yang terjadi pada pertengahan 2013 (base effect), serta relatif terkendalinya inflasi pada masa lebaran, seiring peran aktif Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di wilayah KTI dalam memastikan kelancaran pasokan dan gejolak komoditas pangan strategis. Tren penurunan inflasi diperkirakan akan berlanjut pada triwulan III 2014 yang disebabkan oleh kembali normalnya permintaan masyarakat pasca-lebaran yang akan mendorong koreksi harga dan tarif beberapa komoditas dan jasa. Kendati juga berada dalam tren yang menurun, beberapa daerah di KTI seperti Maluku Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah masih mencatat angka inflasi yang cukup
tinggi yakni di kisaran 7% terutama karena kenaikan tarif angkutan udara dan sempat terkendalanya pasokan pangan di Maluku Utara.
Sejalan dengan kondisi perekonomian yang melambat, pembiayaan perbankan di KTI cenderung tumbuh melambat dari triwulan I 2014 sebesar 17,4% (yoy) menjadi 13,0% (yoy) pada akhir triwulan II 2014 2014. Hampir seluruh sektor korporasi utama mengalami perlambatan pertumbuhan pembiayaan, terutama sektor pertambangan. Demikian halnya dengan pembiayaan kepada sektor rumah tangga yang menunjukan perlambatan. Perlambatan pembiayaan perbankan juga terjadi pada kredit UMKM dengan pertumbuhan kredit yang tercatat sebesar 17,9% (yoy), menurun dari triwulan I 2014 sebesar 19,9% (yoy). Namun, pembiayaan perbankan di sektor industri pengolahan mengalami peningkatan dengan adanya pembangunan industri pemurnian logam dan industri pengolahan CPO di beberapa daerah di Kalimantan dan Sulawesi. Sementara itu, sesuai dengan pola historisnya, transaksi tunai dan nontunai (melalui SKNBI dan BI-RTGS) cenderung meningkat pada triwulan II 2014. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai kegiatan pada triwulan II 2014 yang mendorong nasabah melakukan penarikan uang seperti adanya perayaan keagamaan (Ramadhan dan Idul Fitri), liburan sekolah dan tahun ajaran baru. Perkembangan terkini mengindikasikan perekonomian KTI pada tahun 2014 diprakirakan tumbuh di kisaran 4,5% - 5,0% (yoy) atau di bawah prakiraan sebelumnya. Perkembangan di sektor tambang di berbagai daerah di Kalimantan, Nusa Tenggara Barat yang belum membaik, kontraksi lifting gas (natural
declining) di Kalimantan dan melemahnya permintaan ekspor dari mitra dagang khususnya Tiongkok
untuk komoditas batubara diperkirakan menyebabkan pertumbuhan ekonomi di sebagian besar Kalimantan cenderung melambat. Demikian halnya dengan berhenti totalnya operasional kegiatan tambang tembaga di Nusa Tenggara Barat sejak Juni 2014 berimplikasi pada lebih dalamnya kontraksi pertumbuhan ekonomi di NTB. Perkembangan positif yang dapat menahan perlambatan ekonomi lebih lanjut berasal dari mulai kembali dilakukannya ekspor tembaga dari Papua sejak Agustus 2014, serta berlanjutnya pembangunan proyek infrastruktur berskala besar, dan pembangunan industri pemurnian logam di berbagai daerah di KTI.
Pada sisi harga, inflasi KTI tahun 2014 masih sejalan dengan prakiraan sebelumnya yakni berada pada kisaran 4,7% – 5,2 % (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2013 (7,8%, yoy). Tekanan inflasi diperkirakan terutama bersumber dari kelompok bahan makanan dan kenaikan TTL yang terjadi pada semester II 2014. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai dapat berpotensi mendorong inflasi tahun 2014 adalah kebijakan pembatasan penjualan BBM bersubsidi untuk mengamankan kuota APBN-P 2014 yang mulai berlaku per 1 Agustus 2014 yang berpotensi untuk meningkatkan tarif angkutan dan kenaikan harga komoditas. Risiko inflasi pangan terkait potensi El-Nino jika intensitasnya meningkat menjadi moderat-kuat, serta tidak adanya kuota penyaluran Raskin pada bulan November dan Desember 2014. Selain itu, adanya resiko terkait rencana pemerintah untuk menyesuaikan tarif batas atas angkutan udara pasca-lebaran, terutama untuk wilayah KTI, mengingat transportasi mempunyai porsi yang besar dalam mobilisasi orang dan barang di wilayah KTI.
PERTUMBUHAN EKONOMI
Perekonomian berbagai daerah di wilayah Sulawesi-Maluku-Papua (Sulampua) secara agregat mencatat kenaikan angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2014. Beberapa provisi seperti Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara dapat mencatat angka pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sehingga pertumbuhan ekonomi Sulampua mencapai 6,8% (yoy), lebih tinggi dari triwulan I 2014 (5,4%, yoy). Meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh perbaikan kinerja industri pengolahan, terutama industri makanan olahan dan mulai beroperasinya pabrik olahan CPO baru di Sulawesi Barat, membaiknya kinerja ekspor feronikel di Sulawesi Tenggara, serta meningkatnya produksi LNG di Papua Barat. Sementara itu, meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi di Papua lebih dipengaruhi oleh faktor base effect karena sempat terhentinya operasional penambangan pada triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Memasuki triwulan III 2014, perkembangan indikator ekonomi terkini di Sulampua mengindikasikan potensi kembali meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Faktor pendorong pertumbuhan berasal dari akselerasi komponen investasi serta relatif stabilnya kinerja ekspor dengan orientasi penjualan ke luar negeri. Selain itu, kembali dilakukannya ekspor tembaga Papua sejak Agustus 2014 dapat mendukung perbaikan angka pertumbuhan ekonomi di Sulampua. Perkembangan terakhir ini mengindikasikan perekonomian Sulampua untuk keseluruhan tahun 2014 berpotensi untuk dapat tumbuh di kisaran 6,4% - 6,9% (yoy), lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Sulampua di tahun 2014 akan tumbuh dibawah capaian tahun sebelumnya sebagai imbas dari konsolidasi di sektor tambang.
Konsumsi
Konsumsi Rumah Tangga
Pada triwulan II 2014, konsumsi rumah tangga (termasuk konsumsi nirlaba) tumbuh sebesar 7,8% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya (7,4%, yoy). Meningkatnya laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga didorong oleh peningkatan belanja rumah tangga karena adanya musim panen raya, hari besar keagamaan, musim liburan di akhir periode, pemilu, serta maraknya penyelenggaraan kegiatan berskala nasional maupun internasional di Sulampua. Hal ini juga tercermin dari perkembangan arus barang yang dibongkar di pelabuhan Makassar yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode triwulan I 2014 (Grafik II.1.1).
Perkembangan indikator terkini mengindikasikan konsumsi rumah tangga cenderung tumbuh lebih lambat pada triwulan III 2014. Hal ini terindikasi dari nilai tukar petani di beberapa daerah sentra yang mulai menurun pada awal triwulan III 2014 sehingga ada potensi penurunan tingkat pendapatan (Grafik II.1.2). Bersamaan dengan hal tersebut, kinerja subsektor perdagangan yang dicerminkan oleh indeks penjualan eceran riil (IPER) tidak menunjukkan peningkatan pada Juli 2014 sedangkan optimisme masyarakat yang ditunjukkan oleh indeks keyakinan konsumen (IKK) cenderung melemah. Penyaluran kredit yang digunakan untuk kebutuhan konsumtif juga dinilai masih akan berada dalam tren yang melambat (Grafik II.1.3). Namun, aktivitas terkait Pemilu 2014 di awal triwulan III 2014, perayaan Idul
Fitri, serta event besar yang juga mendukung kinejra pariwisata di beberapa kota (Raja Ampat, Ambon, Makassar, Tomohon, Manado) diperkirakan dapat menopang kinerja konsumsi sehingga pertumbuhannya masih terjaga di tingkat yang cukup tinggi.
Konsumsi Pemerintah
Konsumsi pemerintah berbagai daerah di Sulampua secara agregat mengalami akselerasi pada triwulan II 2014. Komponen ini tumbuh sebesar 7,9% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya mencatat pertumbuhan sebesar 7,4% (yoy). Membaiknya kinerja konsumsi pemerintah didorong oleh meningkatnya intensitas penyerapan anggaran belanja pemerintah pada triwulan II 2014 dibandingkan triwulan sebelumnya. Kendala akibat adanya pergantian formasi karena mutasi pegawai pemerintah juga relatif minimal sehingga pelaksanaan program kerja dapat berlangsung dengan intensitas yang lebih tinggi. Adanya seleksi CPNS di beberapa daerah serta pencairan tunjangan sertifikasi guru juga turut menunjang peningkatan belanja operasional pemerintah daerah.
Pada triwulan III 2014, kinerja konsumsi pemerintah diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Meningkatnya pertumbuhan konsumsi pemerintah terutama berasal dari realiasi belanja terkait proyek infrastruktur pemerintah, khususnya di Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Barat. Hal ini diperkirakan dapat mendorong penyerapan anggaran belanja lebih lanjut. Selain itu, realisasi pembayaran gaji ke-13 bagi PNS, TNI, polri, pejabat negara, dan penerima pensiun/tunjangan turut berdampak positif bagi peningkatan kinerja konsumsi pemerintah. Indikator giro pemerintah daerah hingga Juni 2014 juga tercatat lebih tinggi dari rata-rata tiga tahun sebelumnya sehingga kegiatan belanja pemerintah diharapkan dapat dioptimalkan pada triwulan III 2014 (Grafik II.1.3).
Sumber: Kantor Administrasi Pelabuhan
Grafik II.1.1. Volume Barang yang Dibongkar
Sumber: BPS, diolah
Grafik II.1.2. Indeks Indikator Konsumsi
Investasi
Kinerja investasi masih dapat tumbuh tinggi walaupun dengan arah yang cenderung melambat pada triwulan II 2014 yaitu dari 11,4% (yoy) menjadi 11,2% (yoy). Investasi di beberapa provinsi masih tumbuh di atas 10% yaitu di Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, dan Papua Barat. Perlambatan yang terjadi dinilai disebabkan oleh realisasi penanaman modal asing maupun modal dalam negeri di Sulampua yang turun pada triwulan II 2014 dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Indikator penyaluran kredit investasi serta realisasi pengadaan semen juga bergerak sejalan dengan melambatnya investasi (Grafik II.1.3 dan Grafik II.1.4).
(40) (30) (20) (10) 0 10 20 30 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
%, yoy Ribu Ton Volume Barang Dalam Negeri yang Dibongkar gVolume
100 110 120 130 140 150 160 85 90 95 100 105 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 I II III IV I II III IV I II III
2012 2013 2014
Indeks
Indeks NTP Papua Barat NTP Sulawesi Tengah
Grafik II.1.3. Pertumbuhan Kredit Menurut Jenis
Penggunaan dan Baki Debet Giro Pemerintah Daerah
Sumber: Asosiasi Semen Indonesia
Grafik II.1.4. Realisasi Pengadaan Semen
Pertumbuhan investasi diprakirakan kembali meningkat pada triwulan III 2014 seiring berjalannya proyek pembangunan multiyears milik pemerintah maupun swasta. Proyek yang berlanjut antara lain adalah pembangunan smelter (Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Selatan), pembangunan pembangkit listrik (Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara), pabrik semen (Papua Barat), pusat hiburan dan perbelanjaan (Sulawesi Utara, Papua Barat), jalan lingkar pulau (Maluku, Maluku Utara), hotel dan rumah sakit (Papua Barat), serta berlanjutnya pembangunan beberapa proyek infrastruktur MP3EI seperti jalan raya, jembatan, dan sarana irigasi. Adapun proyek jalan tol Manado-Bitung serta jalur KA penumpang maupun barang dengan rute Makassar-Parepare diharapkan dapat memasuki fase groundbreaking pada triwulan III 2014.
Perdagangan Luar Negeri
Ekspor
Kinerja ekspor luar negeri nonmigas Sulampua pada triwulan II 2014 masih cenderung menurun meski tidak sedalam periode triwulan sebelumnya. Nilai ekspor luar negeri nonmigas Sulampua selama periode April-Juni 2014 tercatat sebesar USD1,02 miliar atau turun sebesar -36,93% (yoy) setelah turun hingga -39,45% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Perbaikan kinerja ekspor luar negeri didorong oleh ekspor pertanian dan industri pengolahan. Permintaan yang meningkat berdampak positif bagi ekspor kakao (Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah), rempah-rempah (Sulawesi Utara), ikan olahan (Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku), serta aneka sayur/buah olahan. Hal ini didukung oleh pasokan yang terjaga karena adanya musim panen dan cuaca yang lebih kondusif pada triwulan II 2014. Harga kakao di pasar global yang sedang berada dalam tren meningkat juga dinilai menambah insentif produksi. Pada triwulan III 2014, kinerja ekspor luar negeri diprakirakan masih belum akan menunjukkan perbaikan yang berarti. Kegiatan ekspor luar negeri akan ditopang oleh peningkatan ekspor LNG (Papua Barat) seiring perbaikan harga jual serta ekspor nikel olahan (Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan) dan minyak nabati (Sulawesi Utara, Sulawesi Barat) seiring terjaganya tingkat produksi. Sementara itu, kembali dapat dilakukannya ekspor konsentrat tembaga dari Papua akan memperbaiki kinerja ekspor lebih lanjut. Namun, dibandingkan dengan capaiannya pada triwulan III 2013, ekspor konsentrat tembaga akan tetap mengalami kontraksi pada triwulan III 2014. Hal ini masih ditambah dengan penurunan ekspor bijih nikel Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Dari sisi eksternal, terdapat risiko
0 10 20 30 40 50 60 0 5 10 15 20 25 30
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
%, yoy Rp Triliun
Giro Pemerintah Daerah gKredit Konsumsi - Skala Kanan gKredit Investasi - Skala Kanan gKredit Modal Kerja - Skala Kanan
(10) (5) 0 5 10 15 20 25 30 35 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
%, yoy
Ribu Ton Realisasi Pengadaan Semen
penahan pertumbuhan seiring mulai turunnya indikator purchasing managers index (PMI) negara tujuan ekspor Sulampua (Grafik II.1.5).
Sumber: Bloomberg
Grafik II.1.5. Purchasing Managers Index
Manufaktur Negara Tujuan Ekspor
Sumber: Bea Cukai, diolah
Grafik II.1.6. Pertumbuhan Nilai Impor Luar Negeri
Menurut Kategori Barang
Impor
Impor luar negeri nonmigas mengalami penurunan yang lebih besar dari triwulan sebelumnya. Impor luar negeri nonmigas tercatat sebesar US$430,97 juta pada triwulan II 2014 atau terjadi kontraksi sebesar -31,78% (yoy) setelah kinerjanya turun hingga -10,17% (yoy) pada triwulan I 2014. Lebih rendahnya pertumbuhan impor terutama didorong oleh turunnya impor barang antara dan barang modal dari luar negeri untuk sektor pertambangan karena berkurangnya aktivitas produksi akibat pembatasan ekspor mineral dalam bentuk mentah (Grafik II.1.6). Selain itu, tidak adanya impor pesawat terbang pada triwulan II 2014 seperti yang dilakukan pada triwulan II 2013 membuat laju pertumbuhan tidak terakselerasi secara tahunan.
Memasuki triwulan III 2014, kinerja impor luar negeri diprakirakan masih akan mengalami kontraksi. Masih turunnya kinerja sektor pertambangan tetap menjadi faktor utama penahan laju impor dari luar negeri. Selain itu, impor barang konsumsi dinilai tidak akan terakselerasi seiring melambatnya kegiatan konsumsi. Meski demikian, masih terdapat beberapa faktor yang akan menopang kinerja impor pada triwulan III 2014. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kebutuhan barang modal untuk proyek investasi serta adanya peningkatan aktivitas industri pengolahan nontambang yang membutuhkan bahan baku/penolong seperti seperti gandum, raw sugar, ampas kedelai, dan bahan kimia.
Kinerja Sektor Utama Daerah
Sektor Pertambangan dan Penggalian
Kinerja produksi di sektor pertambangan dan penggalian masih cenderung menurun pada triwulan II 2014 sebagaiman diprakirakan sebelumnya. Hal ini terutama dipengaruhi oleh konsolidasi di sektor tambang terkait penerapan kebijakan pengaturan ekspor mineral sejak awal tahun 2014. Aktivitas produksi tembaga di Papua sepanjang triwulan II 2014 hanya berada di kisaran 40% - 50% dari kapasitas normalnya dan diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan smelter di Jawa Timur. Meski demikian, perbaikan kinerja produksi tambang nikel di Sulawesi Tenggara terkait dengan peningkatan kebutuhan industri feronikel, dan faktor base effect produksi tembaga di Papua yang sempat terhenti pada triwulan yang sama tahun sebelumnya, menyebabkan angka penurunan kinerja sektor pertambangan di wilayah Sulampua tidak sedalam triwulan sebelumnya.
46 48 50 52 54 56 58 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 2013 2014 Indeks
Jepang Tiongkok Korea Selatan Zona Eropa
(150) (100) (50) 0 50 100 150 200 250 300 350 0 100 200 300 400 500 600 700
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
%, yoy US$ Juta Total Impor - Skala KirigImpor Barang Antara gImpor Barang ModalgImpor Barang Konsumsi
Pada triwulan III 2014, produksi sektor pertambangan dan penggalian Sulampua diprakirakan masih mengalami kontraksi namun kondisinya tidak seburuk triwulan II 2014. Perbaikan di sektor ini didukung oleh dapat kembali dilakukannya ekspor tembaga dari Papua pada Agustus 2014. Diperolehnya ijin ekspor akan kembali memacu kegiatan produksi yang sebelumnya terhenti. Kinerja produksi bijih nikel di Sulawesi Tenggara juga diprakirakan membaik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku feronikel yang permintaannya meningkat sejak triwulan II 2014 dari negara mitra dagang di Eropa.
Sumber: Produsen, diolah p) Proyeksi Bank Indonesia Grafik II.1.7. Pertumbuhan Produksi Mineral
Sumber: Produsen, diolah *) Angka sementara Grafik II.1.8. Pertumbuhan Produksi Manufaktur
Sektor Industri Pengolahan
Pada triwulan II 2014, sektor industri pengolahan mengalami kenaikan pertumbuhan sebesar 9,1% (yoy) setelah sebelumnya tercatat tumbuh 3,2% (yoy). Peningkatan laju pertumbuhan sektor ini didorong oleh beberapa industri yakni industri feronikel, industri LNG, dan industri CPO, serta industri makanan olahan. Peningkatan produksi feronikel (Sulawesi Tenggara) dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa harga yang masih terjaga dan meningkatnya permintaan dari Belanda. Kenaikan produksi LNG (Papua Barat) terjadi seiring akan mulai berlakunya harga jual yang baru dengan salah satu buyer utama di Tiongkok pada Juli 2014. Sementara itu, beroperasinya pabrik pengolahan CPO baru di Sulawesi Barat mampu mendorong pertumbuhan sektor industri pengolahannya hingga hampir mencapai 70%. Di samping itu, naiknya permintaan terhadap produk makanan olahan (terigu dan kakao), produk sandang, dan produk percetakan seiring momen persiapan Lebaran dan pemilu juga turut berkontribusi pada percepatan di sektor ini (Grafik II.1.8).
Memasuki periode triwulan III 2014, kinerja sektor industri pengolahan diprakirakan masih akan cenderung meningkat. Hal ini didorong terutama oleh kinerja sektor industri pengolahan hasil tambang (nikel) di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara yang dinilai tidak akan mengalami gangguan operasional. Di samping itu, setelah renegosiasi harga jual yang ditetapkan naik menjadi US$8,0 per mmbtu dari sebelumnya sebesar US$2,7 per mmbtu, produksi LNG di Papua Barat diprakirakan mengalami percepatan. Industri barang yang dikonsumsi serta industri pengolahan minyak nabati (Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat) juga dinilai akan tetap memberi kontribusi positif seiring lanjutan aktivitas pemilu, liburan sekolah, dan perayaan Lebaran di awal triwulan. Selain itu, meski terbatas pada tahap uji coba, kegiatan salah satu smelter tipe home industry di Sulawesi Tenggara berpotensi mendorong kinerja sektor industri pengolahan.
Sektor Pertanian
Laju pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan II 2014 tercatat relatif stabil dibandingkan dengan triwulan I 2014 yaitu sebesar 7,0% (yoy). Stabilnya perkembangan sektor pertanian didukung oleh
(100) (50) 0 50 100 150 200 250
I II III IV I II III IV I II III IV I II IIIp
2011 2012 2013 2014
%, yoy gProduksi Konsentrat Tembaga (Papua) gProduksi Bijih Nikel (Sulawesi Tenggara) gProduksi Emas (Papua)
(40) (20) 0 20 40 60 80
I II III IV I II III IV I II III IV I II IIIp
2011 2012 2013 2014
%, yoy gProduksi Feronikel (Sulawesi Tenggara)
gProduksi Nikel Matte (Sulawesi Selatan) gProduksi Terigu (Sulawesi Selatan)
musim panen subsektor tabama dan perkebunan serta minimalnya gangguan bagi subsektor perikanan budidaya. Penggunaan bibit unggul (Sulawesi Selatan) serta meningkatnya luas panen seiring irigasi yang lebih baik (Sulawesi Tenggara) diyakini mampu menjaga pertumbuhan subsektor tabama. Adanya musim panen kakao serta peningkatan permintaan produk kakao dari Tiongkok mendukung produksi subsektor perkebunan. Sementara itu, subsektor perikanan budidaya (udang) mengalami akselerasi karena meningkatnya permintaan dari Eropa di tengah penurunan pasokan dari Vietnam dan India akibat ganguan penyakit (virus).1 Di sisi lain, faktor penahan percepatan adalah kinerja subsektor tabama (Gorontalo) dan subsektor perkebunan (Maluku) yang tidak tumbuh lebih tinggi dari triwulan I 2014 (Grafik II.1.9) serta masuknya masa tanam di Papua.
Pada triwulan III 2014, kinerja sektor pertanian diprakirakan akan tumbuh dengan kecenderungan melambat. Masuknya masa tanam di sebagian besar daerah di Sulawesi membuat produksi tidak setinggi periode sebelumnya. Selain itu, prospek kakao masih pesimis hingga akhir tahun 2014 setelah lewatnya puncak panen. Penurunan produktivitas kakao memang merupakan isu di tingkat nasional. Di Sulawesi, masalah umur tanaman yang sudah tua menjadi penyebab utama terjadinya penurunan produksi. Sementara itu, faktor musiman datangnya Ramadhan dan Lebaran dinilai akan menekan kinerja subsektor perikanan tangkap karena kecenderungan nelayan di wilayah Sulampua yang akan berhenti beroperasi menjelang dan beberapa hari setelah Lebaran (Grafik II.1.10).
Sumber: Produsen dan Dinas Pertanian *) Angka sementara
Grafik II.1.9. Pertumbuhan Produksi Komoditas
Pertanian
Sumber: KKP *) Angka sementara Grafik II.1.10. Produksi Ikan Tangkap
PERKEMBANGAN INFLASI
Pada triwulan II 2014, laju inflasi Sulampua tidak mengalami perubahan yang berarti dibandingkan dengan triwulan I 2014 yaitu dari 6,64% (yoy) menjadi 6,68% (yoy). Stabilnya inflasi didukung oleh terjaganya harga-harga di beberapa provinsi dengan bobot kota IHK yang besar seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua, dan Papua Barat. Kenaikan laju inflasi komponen inti (core inflation) serta volatile food pada triwulan II 2014 tertahan oleh penurunan laju inflasi tahunan komponen
administered price karena efek basis perhitungan seiring tidak adanya kebijakan harga dari pemerintah
yang berdampak signifikan seperti saat penyesuaian BBM yang terjadi pada Juni 2013.
Rilis inflasi periode Juli 2014 memperlihatkan inflasi secara tahunan masih dalam tren yang menurun yakni menjadi 4,51% (yoy). Dilihat dari komponen disagregasinya, penurunan inflasi pada Juli 2014
1 Hasil liaison kepada eksportir udang
(100) (50) 0 50 100 150 (150) (100) (50) 0 50 100 150 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 I II III IV I II III IV I II 2012 2013 2014* %, yoy
%, yoy Luas Panen Jagung (Gorontalo)
Produksi Kopra (Maluku) Produksi Karet (Maluku) - Skala Kanan
(150) (100) (50) 0 50 100 150 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 I II III IV I II III IV I II III
2012 2013 2014
%, yoy
Ribu Ton PPS Bitung PPS Kendari
disumbangkan oleh komponen administered price dan volatile food. Hal ini terutama disebabkan oleh hilangnya pengaruh kenaikan harga BBM yang telah meningkatkan tekanan inflasi sejak akhir Juni 2013. Penyesuaian harga BBM bersubsidi tersebut juga berdampak pada naiknya harga bahan pangan melalui jalur ekspektasi yang kemudian ikut turun pada Juli 2014 bersamaan dengan penurunan inflasi
administered price. Inflasi aneka bumbu, daging, ikan, sayur, dan buah relatif menurun karena didukung
juga oleh kondisi pasokan yang cukup baik di musim panen dengan curah hujan yang lebih terbatas (Grafik II.1.11). Di lain pihak, inflasi inti masih berada pada tren yang meningkat seiring ekspektasi masyarakat yang juga menguat pada Juli 2014 (Grafik II.1.12). Di samping itu, cukup baiknya harga emas internasional dan naiknya permintaan seiring Lebaran turut memengaruhi kenaikan inflasi inti.
Perkembangan harga yang cukup stabil hingga Juli 2014 diperkirakan berdampak positif bagi terjaganya inflasi di triwulan III 2014. Meski panen raya telah selesai di beberapa daerah, beberapa daerah masih akan mengalami panen komoditas tabama dan hortikultura. Curah hujan dan gelombang laut yang relatif sama dengan periode sebelumnya dinilai akan mendukung penangkapan ikan dan distribusi. Hal ini masih didukung oleh koreksi harga dan tarif beberapa komoditas setelah Lebaran. Adapun beberapa provinsi perlu mendapat perhatian khusus karena tantangan distribusi (Maluku Utara, Maluku) dan masalah disparitas harga pangan (Sulawesi Tengah) yang kerap mendorong kenaikan inflasi.
Grafik II.1.11. Perubahan Harga Beberapa
Komoditas, Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia di Makassar
Grafik II.1.12. Ekspektasi Harga Jangka Pendek
Konsumen, Survei Konsumen Bank Indonesia di Makassar
Koordinasi Pengendalian Inflasi
Kelembagaan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Sulampua terus bertambah dan mendukung semakin baiknya kegiatan pengendalian inflasi yang ada. Selama periode April-Juli 2014, telah bertambah TPID DATI II antara lain di Jeneponto, Toraja Utara, Selayar, Pinrang, Sidrap, dan Luwu Utara (Sulawesi Selatan); TPID Bolaang Mongondouw Timur (Sulawesi Utara); TPID Mamuju dan Polewali Mandar (Sulawesi Barat); serta TPID Banggai, Tolitoli, Morowali Utara, dan Morowali (Sulawesi Tengah). Total TPID DATI II yang telah terbentuk adalah sebanyak 47 TPID dari 139 DATI II (kabupaten/kota) yang ada di Sulampua. Adapun 18 kota IHK di Sulampua seluruhnya telah memiliki TPID.
Secara kewilayahan, rapat koordinasi dilakukan secara intensif. Selain melakukan rapat koordinasi wilayah (Rakorwil Pertama TPID Tahun 2014) pada 14 April 2014 di Makassar untuk membahas penguatan kelembagaan dan sosialisasi slogan TPID Sulampua, juga telah dilakukan Rakorwil Kedua TPID Tahun 2014 pada 18 Mei 2014 di Palu. Rakorwil Kedua tersebut lebih khusus membahas mengenai isu konektivitas antardaerah dengan pemateri dari Pelindo serta peran dan kebijakan pemerintah di bidang transportasi laut. Dari hasil pembahasan, Pelindo akan mendukung upaya peningkatan konektivitas melalui perbaikan pada fasilitas fisik dan sistem kerja operasional. Selain itu, dalam
(100) 0 100 200 300 400 500 (20) (10) 0 10 20 30 40 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 2012 2013 2014 %, yoy
%, yoy Emas Perhiasan
Daging Sapi Rokok Kretek
Bawang Merah - Skala Kanan
(4) (2) 0 2 4 6 8 150 160 170 180 190 200 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2012 2013 2014 % Indeks Ekspektasi Harga Konsumen Makassar
menghadapi Ramadhan dan Lebaran, TPID se-Sulampua berupaya menjaga pasokan pangan, seperti cabe dan cabe rawit (Sulawesi Utara), ikan segar (Maluku), ikan budidaya dan beras (Sulawesi Tengah), serta komoditas pangan utama di provinsi lainnya. Sidak ke pasar serta penyelenggaraan pasar murah juga menjadi agenda utama TPID. Kegiatan rapat high level serta rapat teknis di kabupaten/kota pun terus dilakukan untuk memperkuat koordinasi dan komunikasi pengendalian inflasi.
STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM PEMBAYARAN
Ketahanan Sektor Korporasi
Penyaluran kredit produktif (Rp90,3 triliun) di Sulampua hingga Juni 2014 didominasi oleh kredit sektor perdagangan (61,7%). Sementara itu, sektor industri tercatat hanya memiliki pangsa 6,6%, diikuti sektor pertanian sebesar 4,7%, dan sektor pertambangan sebesar 1,0%. Hal ini menunjukkan bahwa peran perbankan terhadap sektor ekonomi utama di Sulampua masih belum optimal, khususnya untuk sektor primer. Dari sisi pertumbuhan, kredit produktif yang disalurkan kepada sektor utama di Sulampua masih berada dalam tren yang melambat (Grafik II.1.13). Kredit ke sektor industri pengolahan bahkan mengalami kontraksi. Dari sisi kualitas kredit, sektor perdagangan yang memiliki pangsa terbesar memiliki non-performing loan (NPL) yang berada dalam level yang terjaga yakni di bawah 5% (Grafik II.1.14). Sumber kerentanan terutama berasal dari imbas penerapan pengaturan ekspor komoditas tambang yang berpotensi dapat memengaruhi NPL kredit terutama di sektor yang terkait.
Grafik II.1.13. Pertumbuhan Kredit Sektor Utama Grafik II.1.14. Perkembangan NPL Kredit Sektor
Utama
Ketahanan Sektor Rumah Tangga
Penyaluran kredit rumah tangga2 di Sulampua tumbuh cenderung meningkat pada triwulan II 2014 (Grafik II.1.15), terutama didorong oleh KKB serta kredit multiguna. Di sisi lain KPR masih tumbuh cukup tinggi meski melambat. Hal ini memberi sinyal bahwa permintaan masyarakat masih cukup kuat di Sulampua. Dari total kredit rumah tangga sebesar Rp68,7 triliun, kredit multiguna memiliki pangsa terbesar yaitu 51,5% sedangkan KPR dan KKB masing-masing mengambil pangsa 36,3% dan 7,3%. Arah perkembangan NPL KPR dan kredit multiguna cenderung meningkat. Peningkatan NPL tersebut dinilai merupakan dampak kenaikan suku bunga yang membuat kewajiban nasabah ikut meningkat sehingga muncul kendala bagi nasabah yang tadinya belum memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga. Meski demikian, secara umum pembiayaan kepada rumah tangga di Sulampua masih memiliki
2
Terdiri dari kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraann bermotor (KKB), kredit multiguna, kredit perlengkapan rumah tangga, serta kredit rumah tangga lainnya yang tidak diklasifikasikan di tempat lain. Kredit bukan lapangan usaha tidak lagi dihitung sebagai kredit rumah tangga. (40) (20) 0 20 40 60 80 100 120 140 (40) (20) 0 20 40 60 80 100
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
%, yoy
%, yoy Pertanian
Industri Perdagangan
Pertambangan - Skala Kanan
0 5 10 15 20 25 0 2 4 6 8 10 12
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
%
% Pertanian
Industri Perdagangan
ketahanan yang cukup baik dengan rasio NPL seluruh jenis kredit rumah tangga yang masih berada di bawah level aman (Grafik II.1.16).
Pembiayaan Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Laju pertumbuhan kredit kepada UMKM di Sulampua masih berada dalam tren melambat pada triwulan II 2014 (Grafik II.1.15). Kredit kepada UMKM di Sulampua tercatat sebesar Rp64,0 triliun dengan pangsa sebesar 34,8% dari total kredit yang disalurkan. Kualitas pembiayaan UMKM cukup berisiko seiring dengan peningkatan angka NPL sehingga berada di atas threshold 5% (Grafik II.1.16). Untuk menekan NPL tersebut, upaya terintegrasi antara pemerintah dan perbankan harus terus digalakan untuk membimbing UMKM yang ada di Sulampua agar memperoleh akses kepada sumber pembiayaan serta mampu melakukan manajemen yang baik dalam menjaga repayment capacity mereka. Adapun secara umum, upaya pengembangan klaster dan UMKM binaan terus dilakukan oleh Bank Indonesia se-Sulampua. Beberapa program pengembangan klaster yang berlangsung sepanjang tahun 2014 antara lain adalah klaster cabe (Sulawesi Utara), sapi (Gorontalo, Sulawesi Selatan), hortikultura (Maluku), dan klaster bawang merah (Maluku Utara).
Grafik II.1.15. Pertumbuhan Kredit Rumah Tangga
dan Kredit UMKM
Grafik II.1.16. Perkembangan NPL Kredit Rumah
Tangga dan NPL UMKM
Kinerja Sistem Pembayaran
Sesuai dengan pola historisnya, kegiatan sistem pembayaran Sulampua menunjukkan peningkatan pada triwulan II 2014, diilihat dari indikator transaksi melalui Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). Sementara itu, meski menurun hingga pertengahan triwulan II 2014, transaksi Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) mengalami akselerasi pada akhir periode (Grafik II.1.17 dan Grafik II.1.18). Peningkatan transaksi yang cukup pesat pada triwulan laporan baik melalui RTGS maupun kliring dikarenakan banyaknya kebutuhan transaksi masyarakat menjelang Ramadhan dan persiapan menjelang Hari Raya Idul Fitri serta peningkatan realisasi anggaran yang intensitasnya lebih tinggi pada triwulan laporan. (100) 0 100 200 300 400 500 (10) 0 10 20 30 40 50 60 70 80
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
%, yoy %, yoy
KPR KKB UMKM Multiguna - Skala Kanan
0 1 2 3 4 5 6
I II III IV I II III IV I II III IV I II
2011 2012 2013 2014
% KPR Multiguna
Grafik II.1.17. Perkembangan Total Transaksi RTGS Grafik II.1.18. Perkembangan Total Transaksi
Kliring
Kinerja Pengelolaan Uang Tunai
Pengedaran uang kartal di Sulampua mencatat peningkatan pada sisi outflow dan penurunan pada sisi
inflow selama triwulan II 2014 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal ini terjadi sebagai
dampak peningkatan aktivitas masyarakat sehingga kebutuhan akan uang ikut meningkat (Grafik II.1.19). Kemudian, pada Juli 2014 yang merupakan bulan perayaan Lebaran, penarikan uang tercatat meningkat signifikan seperti yang terjadi pada tahun sebelumnya. Sementara itu, temuan uang palsu sepanjang periode triwulan II 2014 lebih banyak dari triwulan I 2014 yaitu dari 530 lembar menjadi 963 lembar (Grafik II.1.20). Untuk mengantisipasi peredaran uang palsu, kegiatan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah akan terus ditingkatkan intensitas maupun luas cakupannya. Kegiatan sosialisasi tersebut biasanya dilakukan bersamaan dengan sosialisasi mengenai kebanksentralan dan edukasi keuangan lainnya baik kepada pelajar, UMKM, maupun nelayan dan petani di wilayah kerja Bank Indonesia di Sulampua. Dalam memastikan pengedaran uang layak edar, selain melalui layanan penukaran uang, Bank Indonesia telah dan akan melakukan kegiatan kas keliling. Selama triwulan II 2014, kegiatan kas keliling ke daerah pelosok telah dilakukan antara lain di Sulawesi Utara (Tamako, Sitaro, Tahuna), Papua Barat (Raja Ampat, Fak-Fak, Sarmi, Wamena), Maluku Utara (Pulau Morotai, Pulau Bere-Bere), serta Maluku (Pulau Banda, Lontor).
Grafik II.1.19. Perkembangan Aliran Uang Grafik II.1.20. Perkembangan Temuan Uang Palsu
PROSPEK PEREKONOMIAN
Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Perekonomian Sulampua untuk keseluruhan tahun 2014 diprakirakan tumbuh pada kisaran 6,4% - 6,9% (yoy), di atas prakiraan sebelumnya. Hal ini didasari pertimbangan kembali dapat dilakukannya ekspor
(30) (20) (10) 0 10 20 30 40 50 60 70 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 I II III IV I II III IV I II III
2012 2013 2014
%, yoy Rp Triliun Total Transaksi RTGS gTotal Transaksi - Skala Kanan
(15) (10) (5) 0 5 10 15 20 25 30 0 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 I II III IV I II III IV I II 2012 2013 2014 %, yoy Rp Triliun Total Kliring Kredit dan Debet Penyerahan
gTotal Transaksi Kliring - Skala Kanan
12 108 6 4 2 0 2 4 6 8 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 12 3 4 5 6 7
I II III IV I II III IV I II III
2012 2013 2014
Rp Triliun
Outflow (Penarikan Nasabah) Inflow (Penyetoran Nasabah)
0 200 400 600 800 1,000 1,200 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 I II III IV I II III IV I II 2012 2013 2014 Lembar Temuan Uang Palsu di Sulampua 1.59% Total 2011-2014 Sulampua (6,153 lembar) Nasional (379,688 lembar)
konsentrat tembaga dan emas dari produsen utama di Papua. Adanya kesepakatan antara pemerintah dan produsen terkait bea keluar serta komitmen pembangunan smelter telah menghasilkan ijin ekspor bagi produsen yang selanjutnya akan mulai melakukan ekspor pada Agustus 2014 ini. Pemerintah kemudian akan mengambil langkah evaluasi setiap semester untuk melihat perkembangan pembangunan smelter yang dijanjikan produsen. Apabila target tidak dipenuhi, kegiatan ekspor akan kembali dihentikan. Meski telah direvisi ke atas, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 tetap lebih rendah dari tahun sebelumnya (8,7%, yoy) sebagai dampak penerapan kebijakan pengaturan ekspor mineral.
Dengan melihat kondisi di atas, tantangan pada sektor primer masih tetap mengemuka dalam perekonomian Sulampua, khususnya terkait dengan hilirisasi. Dalam beberapa periode terakhir, Sulampua menghadapi tantangan dalam hal peningkatan produksi biji kakao sebagai bahan baku industri kakao. Masalah kakao menjadi sangat krusial karena Sulawesi merupakan daerah produsen terbesar di Indonesia. Selain itu, pada sektor pertanian, terdapat tantangan untuk menjaga produktivitas komoditas pertanian lainnya seperti padi, jagung, dan perikanan. Selanjutnya, hilirisasi mineral, dalam hal ini melalui pembangunan smelter, harus terus didorong dan dipantau oleh pihak terkait, termasuk di dalamnya adalah memastikan keberlangsungan pasokan bahan baku bagi smelter yang dibangun.
Prospek Inflasi
Pada akhir 2014, proyeksi inflasi Sulampua masih sejalan dengan proyeksi sebelumnya yaitu pada kisaran 4,65% - 5,15% (yoy) dengan kecenderungan ke batas atas. Kecenderungan ini didorong oleh cukup tingginya inflasi inti dan volatile food pada triwulan II 2014 yang melebihi prakiraan sehingga dapat memengaruhi pergerakan inflasi hingga di akhir tahun. Proyeksi inflasi tersebut lebih rendah dari realisasi inflasi 2013 (7,02%, yoy) seiring hilangnya dampak kenaikan harga BBM bersubsidi yang terjadi pada Juni 2013. Pada triwulan III 2014, tekanan inflasi diprakirakan akan kembali ke pola normal dan cenderung turun setelah Lebaran. Inflasi kemudian akan bergerak naik di akhir tahun akibat menguatnya permintaan pada periode liburan dan perayaan hari besar keagamaan. Curah hujan juga kembali tinggi pada periode tersebut.
Selain faktor musiman, beberapa faktor risiko non-musiman terhadap inflasi di Sulampua tetap harus diwaspadai dan diberi perhatian oleh TPID. Kebijakan pemerintah seperti penyesuaian tarif tenaga listrik industri secara bertahap berpotensi meningkatkan inflasi melalui jalur cost-push. Ekspektasi berlebih saat adanya event tertentu dan hari raya keagamaan sedapat mungkin diatasi melalui komunikasi yang simetris. Upaya pengembangan dan penyempurnaan PIHPS harus terus dilakukan oleh setiap TPID hingga di tingkat kabupaten/kota. Dengan informasi dan komunikasi yang tepat, diharapkan ekspektasi harga dapat terkendali di akhir tahun agar tidak meningkat secara signifikan (Grafik II.1.22).
Grafik II.1.21. Indeks Ekspektasi Kegiatan Dunia
Usaha, Survei Konsumen Bank Indonesia
Grafik II.1.22. Ekspektasi Harga Jangka Panjang,
Survei dari Bank Indonesia
TabeI II.1.1. Prakiraan Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Sulawesi-Maluku-Papua
100 110 120 130 140 150 160 170 180 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 I II III IV I II III IV 2013 2014
Indeks Palu Manokwari Manado Makassar
99.90 99.95 100.00 100.05 100.10 100.15 186 188 190 192 194 196 198 200 202 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 I II III IV I II III IV 2013 2014 Indeks
Indeks Ekspektasi Konsumen
Ekspektasi Pedagang - Skala Kanan
I II III IV Total I II IIIp IVp Totalp
PDRB (%,yoy) 7.2 8.1 9.4 5.9 9.1 10.4 8.7 5.4 6.8 7.0 7.0 - 7.5 6.4 - 6.9
Sisi Permintaan
Konsumsi 6.6 7.2 6.7 6.4 6.7 7.3 6.8 7.4 7.9 7.6 7.6 - 8.1 7.4 - 7.9 Konsumsi swasta 6.9 7.0 6.9 6.8 6.8 6.8 6.8 7.4 7.8 7.3 7.0 - 7.5 6.9 - 7.4 Konsumsi Pemerintah 5.7 7.9 6.0 5.2 6.3 8.9 6.6 7.4 7.9 8.5 8.6 - 9.1 8.0 - 8.5 Pembentukan Modal Tetap Bruto 9.8 13.5 11.1 11.6 11.3 10.3 11.0 11.4 11.2 14.5 14.2 - 14.7 12.7 - 13.2
Ekspor (2.5) 1.9 11.2 2.7 15.7 22.7 13.3 (2.7) 0.2 0.5 0.1 - 0.6 (0.6) - (0.1) Impor 2.1 5.7 4.9 4.3 (0.1) 5.5 3.6 12.6 10.0 8.6 6.7 - 7.2 9.2 - 9.7
Sisi Produksi
Sektor pertanian 5.0 5.2 3.3 2.2 4.4 8.3 4.5 7.0 7.0 4.9 3.5 - 4.0 5.3 - 5.8 Sektor pertambangan & penggalian (11.7) 0.1 27.7 (1.5) 24.8 22.6 18.3 (18.5) (8.4) (3.4) (1.6) - (1.1) (7.7) - (7.2) Industri pengolahan 18.5 12.7 9.6 5.5 7.2 11.4 8.4 3.2 9.1 9.9 9.5 - 10.0 8.0 - 8.5 Listrik, gas & air bersih 8.1 11.6 8.1 10.9 10.4 10.3 9.9 9.3 9.6 10.6 9.9 - 10.4 9.7 - 10.2 Bangunan 13.1 12.7 8.6 9.3 8.9 7.4 8.5 9.8 9.1 9.7 11.8 - 12.3 10.0 - 10.5 Perdagangan, hotel & restoran 10.7 10.2 10.2 10.0 9.1 10.2 9.9 10.1 9.6 9.6 9.3 - 9.8 9.7 - 10.2 Pengangkutan & komunikasi 9.6 10.8 8.0 8.8 8.6 7.5 8.2 8.9 6.8 8.6 9.4 - 9.9 8.3 - 8.8 Keuangan, persewaan dan jasa perush. 11.9 11.9 15.1 13.1 13.9 13.0 13.7 11.4 8.3 10.1 9.6 - 10.1 9.7 - 10.2 Jasa-jasa 8.8 7.1 7.5 6.1 7.6 7.4 7.2 9.5 8.8 9.1 8.6 - 9.1 8.8 - 9.3
Inflasi IHK (%,yoy) 2.9 5.0 5.1 4.3 7.6 7.0 7.0 6.6 6.7 4.1 4.7 - 5.2 4.7 - 5.2
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
p
proyeksi Bank Indonesia