• Tidak ada hasil yang ditemukan

P R O S I D I N G ISSN X KONFERENSI NASIONAL ENGINEERING PERHOTELAN ISSN X. Nomor 1/Volume 3/Juli 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "P R O S I D I N G ISSN X KONFERENSI NASIONAL ENGINEERING PERHOTELAN ISSN X. Nomor 1/Volume 3/Juli 2015"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2338 – 414X

Nomor 1/Volume 3/Juli 2015

P R O S I D I N G

KONFERENSI NASIONAL

ENGINEERING PERHOTELAN

“INOVASI TEKNOLOGI UNTUK MENINGKATKAN

KUALITAS INDUSTRI PARIWISATA”

Jurusan Teknik Mesin

Fakultas Teknik

Universitas Udayana

ISSN 2338 - 414X

Jurusan Teknik Mesin

Fakultas Teknik, Universitas Udayana

Kampus Bukit Jimbaran, Bali 80362

Telp./Fax.: +62 361 703321

(2)

i

ISSN: 2338-414X

Prosiding Konferensi Nasional Engineering Perhotelan VI – 2015

11 – 12 Juni, 2015

Ketua Editor

: Dr. I Made Parwata, ST.,MT

Editor Pelaksana : Ainul Ghurri, S.T., M.T., Ph.D.

Dr. Wayan Nata septiadi, ST, MT

I Ketut Adi Atmika, S.T., M.T.

IG Teddy Prananda Surya, S.T., M.T.

I.D.G Ary Subagia, S.T,M.T, Ph.D

Penyunting Ahli : Prof.Ir.Ngakan Putu Gede Suardana,MT.,Ph.D (UNUD)

Prof.I Nyoman Suprapta Winaya, ST., MASc, PhD (UNUD)

Prof.Dr. ING Antara M.Eng. (UNUD)

Prof.Dr. Tjok Gd. Tirta Nindhia (UNUD)

Dr. Ir. I Wayan Surata, MErg (UNUD)

Prof.Dr.Ing. Mulyadi Bur (Sekjen BKSTM)

Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, ST,MT. (UNS)

Prof Johny Wahyuadi M, DEA (UI)

Prof. Dr-Ing. Nandy Putra, (UI)

Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro (ITB)

Dr Caturwati (UNTIRTA)

Fauzun, ST.,MT. PhD.(UGM)

Hak Cipta @ 2014 oleh KNEP VI – 2015

Jurusan Teknik Mesin – Universitas Udayana.

Dilarang mereproduksi dan mendistribusi

bagian dari publikasi ini dalam bentuk

maupun media apapun tanpa seijin Jurusan

Teknik Mesin – Universitas Udayana.

Dipublikasikan dan didistribusikan oleh Jurusan Teknik Mesin – Universitas

Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, Bali 80362, Indonesia.

(3)

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat

rahmatNya acara Konferensi Engineering Perhotelan VI (KNEP-VI) bisa terselenggara pada

tanggal 11-12 Juni 2015 di Universitas Udayana Bali, Kampus Sudirman.

KNEP-VI, 2015 ini diselenggarakan sebagai suatu forum untuk membirarakan,

mendiskusikan serta mempresentasikan inovasi inovasi teknologi yang telah dilakukan oleh

berbagai kalangan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas industri

pariwisata, khususnya di daerah Bal, yang di kelompokkan ke dalam lima topik yakni:

1.

Engineering Perhotelan

: manajemen dan optimasi sistem energy, sistem

pengamanan, sistem air dan perpipaan.

2.

Energi dan Thermofluid

: perpindahan kalor, mekanika fluida, termodinamika, sistem

energy baru terbarukan, teknologi pembangkit energi, teknologi nuklir.

3.

Material

: teknologi pengelasan, korosi, teknologi pengecoran, polimer dan komposit,

pengembangan material, nano teknologi dan nanomaterial.

4.

Disain dan Manufaktur

: desain dan sistem permesinan, pabrikasi, optimasi

permesinan, otomatisasi dan sistem control permesinan.

5.

Industri Pariwisata Kreatif

: teknologi penunjang manajemen pariwisata, manajemen

industri pariwisata, kebijakan energi, pengelolaan dampak lingkungan.

Adapun jumlah makalah yang dipresentasikan dalam konferensi ini berjumlah 71 makalah

yang mencakup lima topik di atas.

Kami mengucapkan terima kasih kepada keynote speaker, para akademisi, peneliti,

praktisi dan professional di bidang perhotelan yang telah mengirimkan artikelnya, serta

semua pihak yang meliputi panitia pengarah, panitia pelaksana, scientific committee dan

pihak-pihak yang telah terlibat dan membantu terselenggaranya kegiatan ini dengan sukses.

Denpasar, Bali, 8 Juni 2015

Ketua Panitia KNEP VI,

(4)

iii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

ii

Daftar Isi

iii

Makalah KNEP VI - 2015

Energi dan Tehrmofluid

ET 01

Analisa Pengaruh Variasi Kapasitas Uap Terhadap Efisiensi Ketel Uap di PT. Sinar Sosro Banyuasin-Sumatera Selatan - Aneka Firdaus, Erwin Sirait

1

ET 02

Kajian Kelayakan Sistem Kogenerasi Turbin Gas Bandara Udara- I Made Astina dan Arief

Hariyanto

9

ET 03

Aplikasi PCM Bees Wax sebagai Teknologi Penyimpan Energi (thermal energy storage) pada Pemanas Air Domestik- Adi Winarta, Muhammad Amin, Nandy Putra

21

ET 04

Pengujian Performansi Model Sistem Pompa Tunggal yang Beroperasi pada Berbagai Temperatur Fluida Kerja- I Wayan Suma Wibawa

29

ET 05

Uji Performansi Gasifikasi Limbah Jerami Menggunakan Gasifier Kompor Biomass UB-03-

Ahmad Maulana, I Nyoman Suprapta Winaya, I Wayan Bandem Adnyana

39

ET 06

Investigasi Eksperimental Pengaruh Laju Aliran Massa Air pada Solar Termal Tipe CPC - Edi

Marzuki, Mokhamad Hasan, Yogi Sirod Gaoz, Mulya Juarsa, Muhamad Yulianto

47

ET 07

Metode Konstruksi Kolektor Surya CPC Berselubung Kaca sebagai Media Evaporasi Sistem ORC-

Dwi Yuliaji, Yogi Sirod Gaoz, Tachli Supriyadi, Roy Waluyo, Mulya Juarsa, Muhamad Yulianto

57

ET 08

Pengaruh Saluran Pemasukan Udara terhadap Unjuk Kerja Kompor Teknologi Tepat Guna dengan Bahan Bakar Biomassa Ranting dan Limbah Potongan Kayu Kering- I Wayan Joniarta

67

ET 09

Perancangan Burner Berbahan Bakar Oli Bekas dengan Sistem Steam Atomizing Burner-

Maramad Saputra Nara, I Gst. Bagus Wijaya Kusuma, I DGP Swastika

77

ET 10

Rancang Bangun Resirkulator Emisi Gas Buang Mesin Sepeda Motor Empat Langkah - I Ketut

Adi, I Gusti Bagus Wijaya Kusuma, I Wyn Bandem Adnyana

85

ET 11

Penggunaan Kabut Air untuk Memadamkan Api Kebakaran- I G.N.Bagus Mahendra Putra, Ainul

Ghurri

89

ET 12

Pengaruh Penambahan Gas Argon dan Variasi Holding Time pada Proses Pirolisis Batok Kelapa Muda Terhadap Nilai Kalor Bakar - I W Ambara Antara, I N Suprapta Winaya, I K G Wirawan

(5)

iv

ET 13

Perbandingan Performansi Briket Sabut Kelapa Muda, Serbuk Gergaji dan Campurannya-I A Eka Pertiwi Sari, Yudhi Setiawan, I G Kt Sukadana, Wayan Nata Septiadi

105

ET 14

Analisis Komputasi Pengaruh Geometri Muka terhadap Koefisien Hambatan Aerodinamika pada Model Kendaraan - Rustan Tarakka, A. Syamsul Arifin P, Yunus

113

ET 15

Kajian Eksperimental Pemanfaatan Panas Buang Kondensor Air Conditioning Sebagai Alternatif Penghasil Energi Listrik dengan Bantuan Generator Termoelektrik - Sri Poernomo Sari, Pujang

Setia, Trivani Achirudin, Bambang Suryawan

121

ET 16

Perancangan Roket Berbahan Bakar Padat dengan Diameter 35mm- I Nyoman Gede Paramarta,

Dewa Gede Angga Pranaditya

131

ET 17

Pengaruh Variasi Konsentrasi Arak Bali Terhadap Torsi, Daya dan Konsumsi Bahan Bakar Sepesifik Mesin Empat Langkah - I Gusti Ketut Sukadana

137

ET 18

Pengaruh Alur Berbentuk Segi Empat pada Permukaan Silinder Terhadap Koefisien Drag dengan Variasi Jarak Antar Alur- Si Putu Gede Gunawan Tista, Wayan Nata Septiadi, I Gede Agus

Ari Wahyudi

143

ET 19

Pemanfaatan Energy Recovery pada Destilasi Air Energy Surya - I Gusti Ketut Puja, FA Rusdi

Sambada

151

ET 20

Evaluasi Sudut Semprot Minyak Kelapa pada Ujung Nosel dengan Pemanasan Awal Berbentuk Straight- I Ketut Gede Wirawan, Made Sucipta, I Putu Agus Arisudana

161

ET 21

Pengujian Unjuk Kerja Kincir Air Sudu Lurus sebagai Penggerak Pompa Torak - I Wyn Rama

Wijaya, I Gst Ketut Sukadana, Wayan Nata Septiadi

163

ET 22

Pengaruh Penempatan Sirip Berbentuk Segitiga yang Dipasang secara Aligned dan Staggered terhadap Performansi Kolektor Surya Pelat Datar - Ketut Astawa, I Nengah Suarnadwipa

167

ET 23

Pengaruh Volume Tabung Udara terhadap Performansi Pompa - Made Suarda, A.A. Adhi

Suryawan, Made Sucipta, I G.A. Indra Setiawan

175

ET 24

Karakteristik Pendinginan Evaporatif Menggunakan Cooling Pads - I Gusti Ngurah Putu Tenaya,

Ainul Ghurri, I Gede Purwata

183

ET 25

Solar Energy Electric 10kw With “Sliver 3000” And Changeover Switch Based Plc Festo And Green Power Gas Generator Set With Grid Line Lpg Fuel- Suprapto Widodo, Nurman, M.

Syahruddin

189

ET 26

(6)

v

Wayan Nata Septiadi, I Gede Putu Agus Suryawan, I Ketut Gede Wirawan, I Komang Jana Mujaya, Mochamad Rizal Sugiono, Putu Wardana

Grup Engineering Perhotelan

EP 01

Lean Maintenance di Industri Perhotelan: Sebuah Tinjauan Literatur- I Wayan Suweca 201

Grup Material

M 01

Pengaruh Perlakuan Quench Temper dan Karburisasi Terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Baja Karbon Medium Untuk Aplikasi Otomotif - Abdul Aziz

209

M 02

Karburasi dengan Katalisator Serbuk Cangkang Kerang Darah (Anadara Granosa) pada Baja ST 37- Johannes Leonard

217

M 03

Pengaruh Variasi Temperatur Perlakuan Panas Terhadap Kekuatan Mekanis pada Baja Karbon AISI1045 - La Atina, Hammada Abbas

225

M 04

Katalisator Cangkang Keong Mas Terhadap Sifat Mekanik Baja ST42 melalui Proses Kaburasi -

Abdul Hay, Arief Darmawa

231

M 05

Pemanfaatan Ampas Tebu sebagai Reinforcement pada Pembuatan Rem Komposit Berbahan Alami- Agus Triono

243

M 06

Analisa Kekuatan Sambungan Pipa Baja Karbon dan Besi Cor Berbasis Teknologi Las Gesek (Friction Welding) - Nur Husodo, Budi Luwar S, Hagi Astono P, Sri Bangun S, Rachmad Hidayat

249

M 07

Pengembangan Bahan Cetakan Alternatif pada Proses Pembuatan Genta Untuk Meningkatkan Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Paduan Perunggu - I Made Gatot Karohika, I Nym Gde Antara

259

M 08

Karakteristik Redaman Suara Komposit Polyester Berpenguat Serat Tapis Kelapa - I Made

Astika, I Gusti Komang Dwijana

265

M 09

Pengujian Propagasi Gelombang Mikroelektromagnetik pada Komposit Epoxy Berpenguat Serat Ijuk- Nitya Santhiarsa, Eko Marsyahyo, Achmad Assad Sonief, Pratikto

273

M 10

Sifat Kekerasan Lapisan Krom Baja St 60 pada Perlakuan Temperatur dan Tegangan dengan Proses Elektroplating- Ketut Suarsana

279

M 11

Pack Carburizing Baja Karbon Rendah - Dewa Ngakan Ketut Putra Negara, I Dewa Made Kirshna

Muku

285

M 12

Kekuatan Tekan Komposit Serat Limbah Pisang dengan Matriks Epoksi sebagai Bahan Socket Prosthesis- Agustinus Purna Irawan, I Wayan Sukania

(7)

vi

M 13

Pengembangan Indentation Size Effect (ISE) dalam Penentuan Koefisien Pengerasan Regang Baja - I Nyoman Budiarsa

295

M 14

Pengaruh Korosi Air Laut pada Kekuatan Tarik Sambungan Las Kombinasi Stainless Steel 304-201- Tjokorda Gde Tirta Nindhia

297

M 15

Kekuatan Tarik dan Kekuatan Lentur Komposit Epoxy Berpenguat Serat Sisal pada Fraksi Volume yang Berbeda- I Putu Lokantara, I Wayan Surata, NPG Suardana, Ade Putra Arimbawa

301

M 16

Analisis Koefisien Absorpsi Bunyi pada Komposit Penguat Serat Alam dengan Menggunakan Alat Uji Tabung Impedansi 2 Microphone- Cok Istri Putri Kusuma Kencanawati, I Ketut Gede

Sugita, I Gusti Ngurah Priambadi

307

M 17

Studi Dendrite Arm Spacing (Das) dan Porositas pada Pengecoran Perunggu 20% Sn sebagai Bahan Gamelan- I Ketut Gede Sugita, Ketut Astawa, I.G.N. Priambadi

313

Grup Desain dan Manufaktur

DM 01

Pendekatan Lean Maintenance untuk Perbaikan Sistem Pemeliharaan- H. HARI SUPRIYANTO 319 DM 02

Studi Karakteristik Pencampuran pada Pergeseran Pusat Putaran dengan Tool CFD - Zumrotul

Ida, Moch. Agus Choiron

325

DM 03

Penerapan Teknologi Hybrid Crash Box sebagai Peningkatan Energi Absorbtion- Agus Wahyu

Prasetyo, Moch. Agus Choiron

331

DM 04

Pengaruh Nose Radius Mata Pahat Terhadap Nilai Kekasaran Permukaan Baja AISI D3 pada Proses Pembubutan- Sobron Lubis, Rosehan, Candy Alipin

337

DM 05

Rancang Bangun Mesin Pengaduk Adonan Kulit Mochi untuk Meningkatkan Mutu Produk-

SilviAriyanti dan Wildan Yoga Pratam

347

DM 06

Perancangan Teknik Berbasis Optimasi Numerik Menggunakan Algoritma Genetik Untuk Permasalahan Berkendala - Muhammad Idris

357

DM 07

Pengaruh Pendinginan Oli dan Air Terhadap Kekuatan Las Gesek Pada Baja ST42- Hammada

Abbas , Arfandy

369

DM 08

Desain dan Analisa Pisau Penghancur Bonggol Jagung Sebagai Salah Satu Bahan Pakan Ternak dengan Menggunakan Software Ansys 12.1 - Liza Rusdiyana, Suhariyanto, Gathot Dwi Winarto,

Syamsul Hadi, Mahirul Mursid

375

DM 09

(8)

vii

DM 10

Analisa Perhitungan Gaya pada Implant Broad Plate Narrow LC-DCP 10 Holes yang Tertanam di Tulang Kering Kaki Manusia - Budi Luwar S, Nur Husodo, Sri Bangun Setyawati, Rizki Krisnando

Rachmad Hidayat

395

DM 11

Pengembangan Model Total Biaya Sistem Produksi Pembuatan Kapal Layar Phinisi dengan Critical Path Metdhot (Cpm) - Dirgahayu Lantara

405

DM 12

Perancangan Rasio Sistem Transmisi dengan Progresi Geometri Bebas untuk Kendaraan Penggerak Roda Belakang- I Gusti Agung Kade Suriadi, AAIA. Sri Komaladewi, I Ketut Adi Atmika

415

DM 13

Karakteristik Traksi dengan Kontrol Rasio CVT Pada Kendaraan Mikro Hibrida - I Ketut Adi

Atmika, I.D.G. Ary Subagia, I Made Dwi Budiana P.

423

DM 14

Simulation of Integrated Double Pendulum with MATLAB/Simulink and Solidworks Softwares -

I Wayan Widhiada

433

DM 15

Analisa Cost Down Time Komponen Kritis Mesin Pembersih Gallon Pt. X Menggunakan Metide Rcm - Ida Bagus Gde Ardhikayana

441

DM 16

Kekasaran permukaan baja karbon sedang akibat proses sand-blasting dengan variasi jarak nosel - I Made Widiyarta, I Made Parwata dan I Putu Lokantara

453

Grup Industri Pariwisata Kreatif

IPK 01

Analisis dan Pemetaan Tingkat Kebisingan Berbagai Kawasan di Kota Denpasar- Aris Budi

Sulistyo, I Ketut Gede Sugita, dan Cok Istri P. Kusuma K.

457

IPK 02

Aplikasi Search Engine Perpustakaan Petra Berbasis Android Dengan Apache SOLR-

Andreas Handojo, Adi Wibowo, Monika Irfanny, Agnes Yustivani, Fenny Valentine

467

IPK 03

Transkripsi Musik Gong Timor Menggunakan Continous Wavellet Transform - Yovinia C

H Siki, Yoyon K Suprapto

475

IPK 04

Usulan Perbaikan Kualitas Penggulungan Benang Nilon dengan Menggunakan Metode

Six Sigma di PT. XYZ- I Wayan Sukania, Iphov Kumala Sriwana, dan Edwin Suryajaya

483

IPK 05

Peningkatkan Pendapatan Kelompok Linggasana dan Denbantas dengan Mesin

Pencacah Sampah Organik untuk Kompos- I Gede Putu Agus Suryawan, I Gst. A. K.

Diafari D. Hartawan, Cok. Istri P. Kusuma Kencanawati

491

IPK 06

Rancang Bangun Aplikasi Pendataan Member Restoran pada Ponsel Pintar Berbasis

Android- I G.A.K. Diafari Djuni H, N.M.A.E.D. Wirastuti, I M.A. Suyadnya,

A.A.K. Aditama

(9)

viii

IPK 07

Pengembangan Potensi Biogas Skala Rumah Tangga di Desa Ped-Nusa Penida- I Wayan

Surata, Tjokorda Gde Tirta Nindhia

507

IPK 08

Analisis Postur Operator Quality Control terhadap Resiko Musculoskeletal Disorders

(Studi Kasus Visual Inspection Departemen Produksi PT. Widatra Bhakti)- Fu’ad

Kautsar, Dayal Gustopo, Fuad Achmadi

513

IPK 09

Mekanisasi Kemudi Empat Roda (4ws) Pendukung Transportasi Pariwisata - I.D.G Ary

Subagia, NPG. Suardana, IM. Dwi Budiana, Dea Indrawan

(10)

Konferensi Nasional Enginering Perhotelan VI, Universitas Udayana, 2015

121

Kajian Eksperimental Pemanfaatan Panas Buang Kondensor

Air Conditioning sebagai Alternatif Penghasil Energi Listrik

dengan Bantuan Generator Termoelektrik

Sri Poernomo Sari

1)

, Pujang Setia

2)

, Trivani Achirudin

3)

, Bambang Suryawan

4)

1,2,3,4)Jurusan Teknik Mesin, Universitas Gunadarma

Jl. Margonda Raya 100, Pondokcina, Depok 16424 Email: [email protected]

Abstrak

Peningkatan konsumsi sumber energi fosil akan mengakibatkan pengurangan cadangan minyak bumi sehingga sumber energi alternatif yang baru sangat dibutuhkan. Penggunaan peralatan air conditioning (AC) yang semakin meningkat akan menimbulkan dampak pemanasan global. Panas yang dikeluarkan dari kondensor terbuang ke udara dan belum dimanfaatkan. Termoelemen merupakan salah satu alternatif yang memanfaatkan energi panas untuk dikonversikan menjadi energi listrik dengan bantuan modul termoelektrik. Tujuan penelititan ini adalah mengkonversikan energi panas menjadi energi listrik sebagai alternatif penghasil energi listrik dengan bantuan generator termoelektrik dan menganalisis daya listrik yang dihasilkan dari panas buang kondensor air conditioning (AC) jenis split. Peralatan yang digunakan adalah kondensor AC jenis split dengan kapasitas 1 PK. Panas buang kondensor disalurkan melalui ducting dari bahan alumunium berdiameter 355 mm, panjang 100 mm dan 200 mm dengan ketebalan 1.2 mm. Generator termoelektrik jenis TEG12706 sebanyak 14 buah dirangkai seri. Sisi panas generator termoelektrik ditempelkan dengan ducting, sisi dingin dipasang heatsink dan fan untuk menjaga kestabilan temperatur. Pengujian dilakukan pada

ducting tanpa isolasi dan dengan isolasi berbahan glasswool dengan ketebalan 2 mm dan 12

mm. Daya listrik yang dihasilkan melalui ducting 100 mm dan 200 mm tanpa isolasi adalah 0.0192 W, 0.0162 W sedangkan dengan isolasi glasswool tebal 2 mm adalah 0.0248 W dan 0.0188 W, dengan isolasi glasswool tebal 12 mm dihasilkan 0.039 W dan 0.0332 W. Selisih daya listrik dari perbedaan panjang ducting tanpa isolasi adalah 0.003 W, dengan isolasi

glasswool tebal 2 mm dan 12 mm secara berurutan adalah 0.006 W dan 0.0058 W. Kata kunci: Pemanasan global, kondensor, generator termoelektrik, ducting, daya listrik

Abstract

Increasing consumtion of fossil energy sources will result the reduction of oil reserves so that the new alternative energy sources is required. Utilization of air conditioning equipment increasingly will lead to global warming. Heat is removed from the condenser discharged into the air and unused. Thermoelement is one alternative that utilizes heat energy to converted electrical energy assisted thermoelectric module. This research aims to convert heat energy into electric energy as an alternative electricl energy assisted by thermoelectric generator and analyzing the electric power generated from waste heat air conditioning condenser of split type. The equipment used air conditioning condenser of split type with 1 HP capacity. Waste heat flowed through the aluminum ducting in diameter 355 mm, length 100 mm and 200 mm with thickness 1.2 mm. The thermoelectric generator type is TEG12706 lot 14 pieces assembled series. Hot side of thermoelectric generator affixed on ducting, cold side installed heatsink and fan to maintain an stable temperatur. Experiments conducted on uninsulation ducting and insulation ducting with glasswool width 2 mm and 12 mm. The electric power generated through the ducting 100 mm and 200 mm respectively were 0.0192 W, 0.0162 W while glasswool insulation thickness 2 mm are 0.0248 W and 0.0188 W, and glasswool insulation thickness 12 mm are 0.039 W and 0.0332 W. Difference of electric power from variation of uninsulation ducting lenght was 0.003 W, with glasswool insulation thickness 2 mm and 12 mm respectively were 0.006 W and 0.0058 W

Key words: global warming, condenser, thermoelektric generator, ducting, electric power

1. PENDAHULUAN

Semakin berkembangnya zaman maka peningkatan kebutuhan manusia untuk memenuhi suatu tingkat kualitas hidup tidak dapat dihindari. Peningkatan konsumsi sumber energi fosil mengakibatkan semakin menipisnya cadangan minyak bumi. Sumber daya alam dibumi bersifat terbatas maka dilakukan upaya menggunakan energi seefisien mungkin dengan cara menghemat energi ataupun menggunakan kembali energi yang telah digunakan sebelumnya. Metode konservasi energi yang

(11)

Prosiding KNEP VI 2015 ISSN 2338-414X

122

tepat memperpanjang masa habis sumber daya energi berbahan dasar sumber daya alam. Berdasarkan hal tersebut sumber daya energi alternatif yang baru sangat dibutuhkan.

Sektor perindustrian membutuhkan sumber energi listrik dimana salah satu sumber energi berbahan bakar fosil, efisiensi termal yang ada secara umum masih berlangsung sengat rendah, selebihnya merupakan panas yang dibuang mengalir kelingkungan. Pada kehidupan sehari-hari penggunaan pendingin ruangan juga terdapat energi panas yang dihasilkan dari kerja kondensor. Penggunaan peralatan air conditioning (AC) yang semakin meningkat akan menimbulkan dampak pemanasan global. Panas yang dikeluarkan dari kondensor terbuang ke udara dan belum dimanfaatkan. Bila kalor ini tidak dimanfaatkan maka akan terbang ke atmosfir dan menjadi polusi

termal. Kalor hasil kerja kondensor berada pada kisaran temperatur rendah 25oC dan 200oC hingga

menengah 200oC dan 590oC. Energi termal yang terbuang percuma perlu dimanfaatkan maka modul

termoelektrik menjadi pilihan untuk mengkonversikan energi panas yang terbuang menjadi energi listrik.

Penelitian menerapkan fenomena perpindahan panas yang terjadi pada ducting yang akan menyalurkan panas kondensor. Hal yang dilakukan adalah merancang dan membuat ducting sebagai penyalur panas buang kondensor agar dapat dianalisa seberapa besar daya listrik yang dihasilkan dari energi panas yang dikonversikan menjadi energi listrik dengan bantuan modul termoelektrik. Penggunaan ducting untuk pemanfaatan panas buang kondensor berbahan logam alumunium dengan panjang 100 mm dan 200 mm berdiameter 355 mm dan tebal plat 1.2 mm. Air Conditioning yang digunakan adalah jenis split kapasitas 1 PK dan generator termoelektrik TEG12706 sebanyak 14 buah dirangkai seri. Tujuan penelitian ini adalah Tujuan penelititan ini adalah mengkonversikan energi panas menjadi energi listrik sebagai alternatif penghasil energi listrik dengan bantuan generator termoelektrik dan menganalisis daya listrik yang dihasilkan dari panas buang kondensor air

conditioning (AC) jenis split.

2. TEORI

Sistem refrigerasi

Prinsip pengkondisian udara merupakan terapan dari teori perpindahan kalor dan termodinamika. Sistem refrigerasi mekanik terdiri dari 4 fungsi yaitu kompresi, kondensasi, ekspansi dan evaporasi. Sesuai dengan fungsinya, maka komponen utama sistem refrigerasi mekanik terdiri dari kompresor, kondensor, katup ekspansi dan evaporator [1].

Gambar 1. Rangkaian Sistem Refrigerasi

Kondensor adalah alat untuk mengkondensasikan udara, cara kerjanya adalah membuang panas atau kalor yang terdapat pada refrigeran yang telah dikompresikan oleh kompresor hingga bertekanan tinggi dan bertemperatur tinggi sehingga memungkinkan terjadinya pengembunan. Air

cooled condenser adalah kondensor yang menggunakan udara sebagai cooling mediumnya, biasanya

digunakan pada sistem berskala rendah dan sedang. Air cooled condenser merupakan peralatan AC

standard untuk keperluan rumah tinggal (residental). Air cooled condenser harus selalu diletakkan

pada ruangan yang mempunyai lubang ventilasi, untuk dapat membuang panasnya ke udara sekitarnya dan menggantinya dengan udara segar. Proses penukaran kalor dibantu dengan fan yang akan menarik udara menuju ke coil dan kemudian membuangnya ke udara atmosfir.

Perpindahan Panas (Heat Transfer)

Panas dapat berpindah dari tempat dengan temperatur lebih tinggi ke tempat dengan temperatur lebih rendah. Perpindahan panas berlangsung dengan tiga cara yaitu disebut konduksi, konveksi dan

(12)

Konferensi Nasional Enginering Perhotelan VI, Universitas Udayana, 2015

123

radiasi.Media yang digunakan dalam perpindahan panas bisa berupa zat padat, cair maupun udara

(gas).

Perpindahan panas dengan cara konduksi adalah proses perpindahan panas jika panas mengalir dari tempat yang suhunya tinggi ketempat yang suhunya lebih rendah, dengan media penghantar panas tetap. Nilai konduktivitas panas yang adalah sifat bahan yang menunjukkan seberapa cepat bahan itu dapat menghantarkan panas konduksi (W/moC), luas penampang media penghantar (m2)

dan gradient temperature maka akan didapat nilai laju perpindahan panas (W). Pada umumnya nilai

dianggap tetap, namun sebenarnya nilai dipengaruhi oleh suhu ( ) [2,3].

Konveksi panas terjadi karena partikel zat yang bertemperatur lebih tinggi berpindah tempat secara mengalir sehingga dengan sendirinya terjadi perpindahan panas melalui perpindahan massa. Konveksi panas berhubungan sangat erat dengan arus zat atau arus fluida. Aliran zat atau fluida, dapat berlangsung sendiri sebagai akibat perbedaan massa jenis karena perbedaan temperatur, dan dapat juga sebagai akibat paksaan melalui pompa kompresor. Konveksi panas pada aliran bebas disebut konveksi bebas dan pada aliran paksaan disebut konveksi paksaan yang bergantung kepada bentuk dan cara paksaan itu [2,3].

Elemen Termoelektrik

Prinsip efek Seebeck pada termoelektrik dapat disimpulkan apabila batang logam dipanaskan dan dinginkan pada 2 kutub batang logam tersebut, elektron pada sisi panas logam akan bergerak aktif dan memiliki kecepatan aliran yang lebih tinggi dibandingkan dengan sisi dingin logam. Kecepatan yang lebih tinggi menyebabkan elektron dari sisi panas akan mengalami difusi ke sisi dingin dan menyebabkan timbulnya medan elektrik pada logam tersebut [4].

Gambar 2. Pergerakan ion-ion pada logam [5]

Elemen termoelektrik yang terdiri dari semikonduktor tipe-p dan tipe-n yang dihubungkan dalam suatu rangkaian listrik tertutup yang terdapat beban [5].

Gambar 3. Elemen Termoelektrik Mengkonversi Panas Menjadi Listrik [5] Keterangan :

TA = Temperatur panas

TC = Temperatur dingin

P dan n = Jenis logam yang berbeda I = Arus listrik

(13)

Prosiding KNEP VI 2015 ISSN 2338-414X

124

Perbedaan temperatur yang ada pada tiap junction dari tiap semikonduktor tersebut akan menyebabkan perpindahan elektron dari sisi panas menuju sisi dingin maka akan ada beda potensial antara kedua titik tersebut.

Generator termoelektrik

Prinsip efek Seebeck digunakan pada pembangkit termoelektrik (generator termoelektrik) mengubah energi termal pada elemen Peltier yang ada pada termoelektrik menjadi energi listrik. Perbedaan temperatur antara sisi dingin dan sisi panas pada elemen termoelektrik pada elemen ini akan mengalir arus sehingga terjadi perbedaan tegangan.

Material yang paling umum digunakan dalam elemen termoelektrik adalah material Bismuth

Telluride Alloys dengan tentang temperatur kerja hingga 350oC. Material tersebut umum dipakai sebagai elemen pendingin pada aplikasi pendinginan, atau kombinasi pendinginan dan pemanasan dengan adanya perbedaan temperatur yang membuat timbulnya daya listrik dibandingkan dengan dua material yang lain, daya keluaran serta efisiensi pembangkitan bismuth telluridde alloys lebih kecil, tetapi dengan tersedianya sumber termal, daya yang diinginkan akan dapat tercapai.

Modul pembangkit termoelektrik mempunyai bentuk dasar dengan dua jenis, antara lain linear

shape module (bisa dibentuk sesuai penempatannya) dengan biaya produksi yang lebih tinggi dan

umumnya memerlukan pesanan dengan spesifikasi khusus dan traditional square module yang dijual secara umum dengan bentuk persegi [5].

Gambar 4. Modul termoelektrik [6]

Rangkaian Listrik

Dalam analisis rangkaian hal yang akan dibahas adalah peralihan energi yang timbul sebagai akibat terdapatnya tegangan atau beda potensial listrik dan arus listrik pada rangkaian. Adanya tegangan dan arus maka dalam rangkaian tersebut dapat diperoleh besarnya daya yang listrik [7].

P = V x I (1)

dengan :

P = Daya listrik (Watt)

V = Tegangan listrik (Volt)

I = Arus listrik (Ampere)

Rangkaian seri merupakan suatu rangkaian listrik yang disusun sejajar. Cara kerja rangkaian seri adalah membagi arus yang dihasilkan komponen lain. Apabila terdapat rangkaian yang dirangkai secara seri, maka tegangan yang dihasilkan dari satu buah rangkaian akan memberikan sisa tegangan yang dihasilkan sehingga proses ini memungkinkan dapat mengurangi pamakaian tegangan. Kelebihan dari rangkaian seri adalah memiliki lebih banyak menghemat daya yang dikeluarkan pada baterai, pembuatan atau pengerjaan yang singkat dan tidak memerlukan banyak penghubung pada penyambung jalur.

a. Arus Listrik

It = I1+ I2 + ...In (2)

b. Tegangan Listrik

Vtp = V1 + V2 + .... Vn (3)

dengan : It = Arus total yang mengalir pada rangkaian seri (Ampere)

Vtp = Tegangan total rangkaian seri (Volt)

(14)

Konferensi Nasional Enginering Perhotelan VI, Universitas Udayana, 2015

125

Alat pengujian panas buang yang dihasilkan kondensor AC jenis split seperti gambar 5 berupa

ducting dengan panjang 200 mm berdiameter 355 mm dari bahan alumunium tebal 1.2 mm.

Penggunaan material ini dikarenakan bahwa alumunium merupakan konduktor yang baik dalam menyalurkan udara panas yang dikeluarkan oleh kondensor karena memiliki konduktivitas termal sebesar 205 W/m.K. Tiga buah termometer digital digunakan untuk mengetahui temperatur fluida awal

ducting, panas yang keluar dari kondensor dan temperatur heatsink pada ujung ducting. Alat uji

dilapisi bahan isolasi jenis glasswool. Ducting berfungsi untuk menyalurkan udara panas dari kondensor yang akan dikonversikan atau diubah menjadi energi listrik dengan bantuan generator termoelektrik. Pada ducting kondensor terdapat tiga komponen utama yaitu cube ducting, silinder

ducting dan ducting cover silinder.

Gambar 5. Ducting Kondensor

Kondensor adalah sebuah alat dalam sistem refrigerasi yang bertugas melepas panas dari refrigeran agar terjadi pengembunan. Heatsink adalah logam dengan desain khusus yang terbuat dari alumunium atau tembaga (kombinasi kedua material tersebut) berfungsi untuk memperluas transfer panas dari sebuah permukaan. Semakin luas permukaan perpindahan panas maka akan semakin cepat proses pendinginannya. Oleh karena itu penggunaan heatsink dalam penelitian ini berguna untuk mendinginkan sisi dingin dari termoelektrik agar terjadi perbedaan temperatur sehingga menimbulkan perbedaan potensial listrik. Kipas arus Air Conditioning digunakan untuk mendinginkan

heatsink agar temperatur heatsink mendekati konstan atau stabil.

Bahan isolasi adalah suatu material atau bahan yang berguna untuk mencegah panas dapat merambat atau masuk kedalam material lain. Bahan isolator digunakan untuk melapisi ducting kondensor agar udara panas yang mengalir di dalam ducting tidak keluar dan panas lingkungan atau udara panas dari luar tidak masuk kedalam ducting kondensor sehingga temperatur di dalam ducting hanya berasal dari kerja kondensor. Jenis bahan isolasi yang digunakan dalam penelitian ini berjenis

glasswool. Pemilihan jenis isolasi ini dikarenakan glasswool memiliki konduktivitas termal yang rendah

yaitu 0.034 W/m.K, dan dengan densitas glasswool berkisar antara 12 Kg/m3 – 48 Kg/m3, bahan ini

cocok untuk melapisi ducting kondensor karena panas udara yang keluar dari kondensor kurang dari 90 oC.

Gambar 6. Glasswool

Generator termoelektrik mengkonversikan energi panas menjadi energi listrik secara langsung, atau sebaliknya dari energi listrik menjadi energi panas dan dingin. Prinsip kerja termoelektrik ini

(15)

Prosiding KNEP VI 2015 ISSN 2338-414X

126

menggunakan prinsip efek Seebeck yang artinya jika dua buah logam yang berbeda disambungkan pada salah satu ujungnya kemudian dipanaskan sehingga timbul perbedaan panas pada sambungannya maka akan terjadi perbedaan tegangan pada ujung satu dengan ujung yang lainnya.

Pada ducting ini permukaan tutup silinder ducting akan terkena udara panas yang dibuang oleh kondensor sehingga terjadi pemanasan pada permukaan tutup silinder tersebut, kemudian energi panas tersebut akan dimanfaatkan oleh termoelektrik. Silicon liquid adalah bahan yang digunakan untuk menempelkan termoelektrik pada permukaan ducting, silicon ini berbentuk liquid. Juction

terminal berfungsi untuk menghubungkan beberapa termoelektrik yang digunakan pada ducting

kondensor menjadi rangkaian seri. Gambar 7 adalah set-up alat uji yang digunakan pada penelitian ini.

Gambar 7. Eksperimental set-up alat uji Keterangan

T1 = Temperatur awal di dalam ducting (°C) T2 = Temperaturducting cover cylinder (°C) T3 = Temperatur Heatsink (°C)

Pada penelitian ini digunakan Air Conditioning jenis split kapasitas 1 PK pada temperatur 16°C. Pengujian dilakukan pertama kali pada ducting tanpa isolasi panjang 100 mm. Ketika kondensor mulai bekerja dan mengeluarkan udara panasnya maka temperatur diukur menggunakan pen termometer digital didalam ducting pada cover silinder dan heatsink kemudian mencatat hasil perubahan temperatur tersebut. Tegangan dan arus diukur secara bertahap dari 1 modul termoelektrik hingga 14 modul termoelektrik generator yang dirangkai seri. Selanjutnya dilakukan pengujian pada ducting dengan dilapisi bahan isolasi glasswool ketebalan 2 mm dan ketebalan 12 mm. Pengujian berikutnya dilakukan pada ducting tanpa isolasi panjang 200 mm dilanjutkan dengan ducting dengan bahan isolasi glasswool ketebalan 2 mm dan ketebalan 12 mm.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengujian alat dilakukan dan dihasilkan data temperatur fluida di dalam ducting (T1), temperatur

(16)

Konferensi Nasional Enginering Perhotelan VI, Universitas Udayana, 2015

127

adalah temperatur yang diukur pada posisi udara awal keluar dari kondensor. Temperatur penampang

ductingcover cylinder adalah temperatur yang terdapat pada penampang termoelektrik yang didapat

dari hasil perambatan panas melalui ducting kondensor, dan temperatur heatsink adalah temperatur pendingin dari sisi dingin termoelektrik. Tegangan dan arus diukur dari setiap masing-masing termoelektrik rangkaian seri dari 1 sampai 14 buah termoelektrik. Pengambilan data temperatur ini

berguna untuk mengetahui perbedaan temperatur dari T2 dan T3. Perbedaan temperatur dari T2 dan

T3 adalah temperatur yang diterima oleh termoelektrik.

Pengamatan dilakukan ketika AC dihidupkan dan diatur dengan tingkat temperatur dingin ruang sebesar 16 oC merupakan tingkat kerja kondensor yang paling tinggi. Pengamatan temperatur ini berguna untuk mengetahui perbedaan temperatur yang mengenai termoelektrik, sehingga diketahui perbedaan temperatur atau ΔT yang mempengaruhi termoelektrik untuk bekerja. Waktu pelaksanaan pengambilan data dilakukan pada pukul 12.00 WIB yang diharapkan mendapakan temperatur panas buang tertinggi yang dihasilkan oleh kondensor.

Data pengujian temperatur panas buang kondensor dengan panjang ducting 100 mm tanpa isolasi dihasilkan temperatur panas buang dari kondensor sebesar T1 = 60 °C dan generator termoelektrik

menerima temperatur panas buang sebesar T2= 49°C. Panas buang kondensor yang dilepaskan ke

udara sebesar T3= 35 °C sehingga sama dengan temperatur udara rata-rata negara tropis pada saat

siang hari. Ducting dengan panjang 200 mm tanpa isolasi menghasilkan temperatur T1= 60 °C sama

dengan ducting 100 mm dan T2= 45°C lebih rendah4°C kemudian panas buang yang dilepaskan ke

udara setelah melalui generator termoelektrik adalah T3 = 35°C.

Gambar 8 berikut menunjukkan grafik hubungan antara Daya (P) terhadap jumlah termoelektrik generator (TEG) yang dirangkai seri pada ducting dengan panjang 100 mm 0.0192 Watt dan 200 mm 0.0162 Watt tanpa isolasi. Hasil menunjukkan bahwa dengan ducting yang lebih pendek akan dihasilkan daya yang lebih besar karena temperatur panas buang yang diterima TEG lebih tinggi yaitu sebesar 4°C.

Gambar 8. Grafik hubungan antara Daya (Watt) terhadap jumlah TEG, pengujian dengan panjang ducting 100 mm dan 200 mm tanpa isolasi

Pengujian panas buang kondensor dengan penambahan ducting berbahan isolasi glasswool ketebalan 2 mm dihasilkan temperatur panas buang dari kondensor lebih tinggi daripada tanpa isolasi

yaitu sebesar T1 = 67.8 °C dan generator termoelektrik menerima temperatur panas buang sebesar T2

= 54.8°C. Panas buang kondensor yang dilepaskan ke udara sebesar T3= 35 °C. Ducting dengan

panjang 200 mm tanpa isolasi menghasilkan temperatur T1 = 63.4 °C lebih rendah 4.4 °C dan

temperatur panas buang yang diterima generator termoelektrik adalah T2 = 53.5°C lebih rendah

1.3°C. Kemudian panas buang yang dilepaskan ke udara setelah melalui generator termoelektrik

adalah T3 = 35°C. Gambar 9 menunjukkan grafik hubungan antara Daya (P) terhadap jumlah

termoelektrik generator (TEG) yang dirangkai seri pada ducting dengan panjang 100 mm 0.0248 W dan 200 mm 0.0188 W dengan isolasi glasswool ketebalan 2 mm. Hasil menunjukkan bahwa dengan ducting yang lebih pendek akan dihasilkan daya yang lebih besar karena temperatur panas buang yang diterima TEG lebih tinggi yaitu sebesar 1.3°C.

0 50 100 150 200 250 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Px10-4 (Watt) Jumlah TEG ducting 100 mm ducting 200 mm

(17)

Prosiding KNEP VI 2015 ISSN 2338-414X

128

Gambar 9. Grafik hubungan antara Daya (Watt) terhadap jumlah TEG,

pengujian dengan panjang ducting 100 mm dan 200 mm dengan isolasi glasswool ketebalan 2 mm Pengujian panas buang kondensor dengan penambahan ducting panjang 100 mm dan isolasi glasswool ketebalan 12 mm dihasilkan temperatur lebih tinggi daripada tanpa isolasi yaitu sebesar

T1 = 68.5 °C. Generator termoelektrik menerima temperatur panas buang sebesar T2= 59°C. Panas

buang kondensor yang dilepaskan ke udara sebesar T3= 35 °C. Penambahan ducting dengan panjang

200 mm tanpa isolasi menghasilkan temperatur T1= 66.5 °C lebih rendah 2°C dan temperatur panas

buang yang diterima generator termoelektrik adalah T2 = 56°C lebih rendah 3°C. Kemudian panas

buang yang dilepaskan ke udara setelah melalui generator termoelektrik adalah T3 = 35°C. Grafik

hubungan antara Daya (P) terhadap jumlah termoelektrik generator (TEG) yang dirangkai seri pada pengujian ducting dengan panjang 100 mm 0.0390 W dan 200 mm 0.0332 W dengan isolasi glasswool ketebalan 12 mm ditunjukkan pada gambar 10. Hasil menunjukkan bahwa dengan ducting yang lebih panjang akan dihasilkan daya yang lebih kecil karena temperatur panas buang yang diterima TEG lebih rendah 3°C.

Gambar 10. Grafik hubungan antara Daya (Watt) terhadap jumlah TEG,

pengujian dengan panjang ducting 100 mm dan 200 mm dengan isolasi glasswool ketebalan 12 mm Grafik hubungan antara Daya (P) terhadap jumlah termoelektrik generator (TEG) yang dirangkai seri pada ducting dengan panjang 100 mm dan 200 mm tanpa isolasi dibandingkan dengan isolasi glasswool 2 mm dan 12 mm ditunjukkan pada gambar 11 dan 12. Hasil menunjukkan bahwa panas buang kondensor dengan pemasangan ducting panjang 100 mm lapisan bahan isolasi glasswool ketebalan 12 mm menghasilkan daya yang lebih besar sekitar 101.05 % daripada ducting tanpa isolasi sedangkan dengan lapisan bahan isolasi glasswool ketebalan 2 mm yaitu 36.03%. Panas buang kondensor dengan penambahan ducting panjang 200 mm lapisan bahan isolasi glasswool ketebalan 12 mm menghasilkan daya yang lebih besar sekitar 111.03 % daripada ducting tanpa isolasi sedangkan dengan lapisan bahan isolasi glasswool ketebalan 2 mm lebih besar 45.59 % .

0 50 100 150 200 250 300 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P x 10-4 (Watt) Jumlah TEG ducting 100 mm ducting 200 mm 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P x 10-4 (Watt) Jumlah TEG ducting 100 mm ducting 200 mm

(18)

Konferensi Nasional Enginering Perhotelan VI, Universitas Udayana, 2015

129

Gambar 11. Grafik hubungan antara Daya (Watt) terhadap jumlah TEG,

pengujian pada ducting panjang 100 mm tanpa isolasi,isolasi glasswool ketebalan 2 mm dan 12 mm

Gambar 12. Grafik hubungan antara Daya (Watt) terhadap jumlah TEG,

pengujian pada ducting panjang 200 mm tanpa isolasi, isolasi glasswool ketebalan 2 mm dan 12 mm

5. SIMPULAN

1. Panas buang yang dihasilkan oleh kondensor dari air conditioning jenis split dapat dimanfaatkan sebagai alternatif penghasil energi listrik.

2. Penggunaan ducting dengan penambahan generator termoelektrik dan heatsink dapat mengurangi temperatur panas buang yang dihasilkan kondensor dari temperatur sekitar 60-68.5 °C menjadi 35°C sama dengan temperatur udara di negara tropis pada siang hari.

3. Daya yang dihasilkan dari temperatur panas buang kondensor dengan penambahan ducting lebih pendek dengan panjang 100 mm adalah 0.0192 Watt lebih besar daripada daya dari ducting 200 mm 0.0162 Watt tanpa isolasi karena temperatur panas buang yang diterima TEG lebih tinggi yaitu sebesar 4°C.

4. Isolasi yang digunakan adalah glasswool dengan konduktivitas termal yang rendah yaitu 0.034

W/m.K, dan dengan densitas glasswool berkisar antara 12 Kg/m3 – 48 Kg/m3, dan dapat menahan

suhu hingga <150 °C tergantung dari ketebalan glasswool yang dipergunakan 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P x 10-4(Watt) Jumlah TEG tanpa isolasi isolasi glasswool 2 mm isolasi glasswool 12 mm 0 50 100 150 200 250 300 350 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 P x 10-4 (Watt) Jumlah TEG tanpa isolasi isolasi glasswool 2 mm isolasi glasswool 12 mm

(19)

Prosiding KNEP VI 2015 ISSN 2338-414X

130

5. Daya yang dihasilkan dari temperatur panas buang kondensor dengan penambahan ducting panjang 100 mm 0.0248 W lebih besar daripada ducting 200 mm 0.0188 W bahan isolasi glasswool ketebalan 2 mm karena temperatur panas buang yang diterima TEG lebih tinggi yaitu sebesar 1.3°C.

6. Daya yang dihasilkan dari temperatur panas buang kondensor dengan penambahan ducting lebih pendek dengan panjang 100 mm 0.0390 Watt lebih adalah besar daripada ducting 200 mm 0.0332 Watt bahan isolasi glasswool ketebalan 12 mm karena temperatur panas buang yang diterima TEG lebih tinggi yaitu sebesar 3°C.

7. Panas buang kondensor dengan pemasangan ducting panjang 100 mm lapisan bahan isolasi glasswool ketebalan 12 mm menghasilkan daya yang lebih besar sekitar 101.05 % daripada

ducting tanpa isolasi sedangkan dengan lapisan bahan isolasi glasswool ketebalan 2 mm yaitu

36.03%.

8. Panas buang kondensor dengan penambahan ducting panjang 200 mm lapisan bahan isolasi glasswool ketebalan 12 mm menghasilkan daya yang lebih besar sekitar 111.03 % daripada ducting tanpa isolasi sedangkan dengan lapisan bahan isolasi glasswool ketebalan 2 mm lebih besar 45.59 %.

9. Selisih daya listrik dari perbedaan panjang ducting tanpa isolasi adalah 0.003 W, dengan isolasi

glasswool tebal 2 mm adalah 0.006 W dan isolasi glasswool tebal 12 mm adalah 0.0058 W.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih kepada Universitas Gunadarma yang telah memberikan dukungan sarana dan prasarana pada penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Danusugondho,I., Hosein,H., dan Putra, I. B. A., Dasar-Dasar Teknik Tata Udara 2, Jakarta, Indonesia, Depdikbud Dikmenjur, 1983.

[2] Holman, J.P., Heat Transfer Sixth Edition, Mcgraw-Hill, Inc. New York, 1986.

[3] Keith,F., Prinsip-Prinsip Perpindahan Panas, Ed 3, Terjemahan A. Priyono, Erlangga, Jakarta, 1986.

[4] Ryanuargo, Anwar S, dan Sri Poernomo Sari, Generator Mini dengan Prinsip Termoelektrik dari

Uap Panas Kondensor pada Sistem Pendingin, Jurnal Rekayasa Elektrikal, Vol 10, No 4, 2013.

(www.jurnal.unsyiah.ac.id/JRE/.../1108)

[5] Wirawan R, Analisa Penggunaan Heat Pipe Pada Termoelectric Generator, Skripsi, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, 2012.

[6] Anatychuk, L.I., Thermoelements and Thermoelectrical Device, p.151, Kiev, 1979. [7] Cekmas, Cekdin, Rangkaian Listrik, Andi Publisher, Yogyakarta, 2013.

Gambar

Gambar 1. Rangkaian Sistem Refrigerasi
Gambar 2. Pergerakan ion-ion pada logam [5]
Gambar 4. Modul termoelektrik [6]
Gambar 5. Ducting Kondensor
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut sesuai dengan penelitian Lutfiandi &amp; Rahmanto (2003) yang menemukan bahwa kegiatan berbasis proyek membantu peserta didik untuk menggunakan semua

Dimana pada keadaan termofilik temperatur pemanasan 45 o C pada digester II merupakan temperatur yang paling ideal untuk bakteri termofilik dalam proses degradasi

Dengan demikian diduga bahwa mahasiswa yang memiliki kemampuan akademis yang tinggi yang ditunjukkan oleh nilai indeks prestasi (IP) akan memiliki pengetahuan yang cukup

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetaui: 1) penggunaan media video di kelas X DPIB SMK Negeri 6 Bandung. 4) hubungan antara pendapat siswa tentang penggunaan

Goresan Imam Besar masih membahas mengenai Al-Rahim sebagai Induk Al-Asma’ Al-Husna Tuhan (Allah subhanahu wata'ala) dalam kapasitasnya sebagai “Puncak Rahasia” (Sirr

Sedangkan dari daerah Beureunut dan Leungah, bentuk butiran yang diperoleh terlihat lebih kasar dan kurang beraturan (Gambar 1), maknanya, semakin tinggi nilai roundness atau

Hasil penelitian terhadap persepsi petani kooperator terhadap empat varietas yang diintroduksikanmenunjukkan bahwa 75% responden lebih menyukai varietas Arjuna dan Lamuru,

Jumlah kandungan air dalam suatu bahan pangan sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan mikroorganisme karena pertumbuhan mikroorganisme tidak mungkin terjadi tanpa