DILEMA PEMBERANTASAN MINUMAN KERAS TERHADAP PELESTARIAN BUDAYA MASYARAKAT BATAK TOBA
(STUDI KASUS DI DESA RIA-RIA KECAMATAN POLLUNG KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN)
Oleh : Nelly Lumban Gaol Suady Husin
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Dilema Pemberantasan Minuman Keras Terhadap Pelestarian Budaya masyarakat Batak Toba Di Desa Ria-Ria Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Desa Ria-Ria yang berjumlah 142 KK dan Sampel dalam penelitian ini adalah 71 KK. Alat pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah Angket dan wawancara. Hasil yang diperoleh melalui penelitian ini adalah makna tuak dalam pesta etnis masyarakat Batak Toba dianggap sebagai minuman kehormatan. Dimana tuak yang dipakai pada upacara adat adalah tuak tangkasan yang tidak bercampur dengan raru. Tuak aslinya manis karena manisnya disebut dengan tuak na tonggi dalam bahasa Batak Toba. Tuak tangkasan adalah tuak asli yang diambil dari langsung dari pohon enau pada pagi hari tanpa bercampur dengan ramuan lain. Keduanya tuak tangkasan dan tuak natonggi disajikan dalam suatu prosesi adat. Ikatan solidaritas masyarakat Batak Toba yang kuat disebabkan oleh adanya proses interaksi diantara sesama anggota masyarakat dan adanya tuak sebagai media atau sarana penghubung yang terjadi di lapo tuak. Pada pesta adat keakraban yang terjalin di antara dalihan na tolu semakin erat. Rasa keakraban di sini hampir sama dengan penghormatan terhadap pihak hula-hula, dongan tubu, dan boru. Karena telah kita ketahui bahwa mengkonsumsi tuak sudah merupakan budaya yang sangat melekat pada diri masyarakat Batak Toba. Tuak lumrah dikonsumsi semua kalangan pada saat pesta adat sehingga menciptakan hubungan yang akrab, minum tuak juga dapat diartikan sebuah isyarat untuk memudahkan komunikasi secara terbuka di antara sesama anggota masyarakat. Tuak adalah minuman penting pada masyarakat batak Toba, yang diminum waktu santai, pesta, kelahiran anak, kematian, musyawarah dan juga sebagai obat. Dalam upacara adat, orang yang minum tuak akan lebih lancar dalam berbicara dan orang tersebut akan dapat mengungkapkan apapun yang ada dalam perasaannya. Tuak mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat Batak Toba karena tuak dapat digunakan sebagai sarana keakraban, sebagai pengungkapan rasa terima kasih dan juga sebagai minuman persahabatan. Masyarakat tidak setuju dengan adanya pemberantasan tuak.
Kata Kunci: Dilema, Minuman Keras, Pelestarian Budaya
Nelly Lumban Gaol adalah Mahasiswa jurusan PP-Kn FIS Universitas Negeri Medan
A. Pendahuluan
Akhir - akhir ini masalah narkoba, minuman keras, perjudian hampir tidak pernah absen dari halaman surat kabar. Menurut berita-berita di surat kabar, sasaran narkoba, minuman keras dan perjudian ini bukan saja anak-anak muda tapi juga orang dewasa dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pula pegawai negri dan polisi. Masalah ini bukan saja beredar di kota-kota, tapi juga di desa-desa. Masalah ini akan menghancurkan generasi yang akan datang dengan cara membodohkan mereka.
Pada pokoknya, minuman adalah setiap cairan yang dapat diminum kecuali obat-obatan. Secara garis besarnya, minuman dapat dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu: minuman tak beralkohol dan minuman beralkohol. Minuman beralkohol adalah minuman yang digunakan sebagai sarana untuk menghangatkan tubuh, tapi selain itu dapat juga di pakai sebagai minuman kebersamaan dan banyak fungsi lainnya. Minum- minuman beralkohol bagi beberapa bangsa sudah menjadi kebiasaan dan kebudayaan, contohnya Jepang dengan sakenya dan Indonesia pada suku Batak dengan tuaknya. Kebudayaan merupakan hasil karya, rasa dan cipta masyarakat (Siti, 2001:116), sehubungan dengan itu, E.B.Taylor (dalam Ahmadi 1997:57) mengatakan bahwa kebudayaan merupakan jalinan secara keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, keseniaan, moral, keagamaan, hukum, adat-istiadat serta kebiasaan yang dilakukan manusia sebagai anggota masyarakat.
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16966/11/chapterI.pdf.txt,diakses 12 Maret 2011).
Budaya suatu bangsa sangat menentukan dalam hal pembentukan karakter dan perilaku hidup suatu bangsa yang bersangkutan. Suatu bangsa yang memiliki budaya yang bernilai tinggi tentu saja memiliki budaya yang tinggi dan tentu juga memiliki tingkat kemajuan dalam kehidupannya sehari hari, tentunya dengan cara dan kemampuan berpikir yang pasti lebih baik, lebih maju dan beradab.
Minuman keras atau minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu. Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan efek samping ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan,
dan berprilaku. Timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.
Mereka yang terkena GMO biasanya mengalami perubahan perilaku, seperti misalnya ingin berkelahi atau melakukan tindakan kekerasan lainnya, tidak mampu menilai realitas, terganggu fungsi sosialnya, dan terganggu pekerjaannya. Perubahan fisiologis juga terjadi, seperti cara berjalan yang tidak mantap, muka merah, atau mata juling. Perubahan psikologis yang dialami oleh konsumen misalnya mudah tersinggung, bicara ngawur, atau kehilangan konsentrasi. Mereka yang sudah ketagihan biasanya mengalami suatu gejala yang disebut sindrom putus alkohol, yaitu rasa takut diberhentikan minum alkohol. Mereka akan sering gemetar dan jantung berdebar-debar, cemas, gelisah, murung, dan banyak berhalusinasi. Minuman keras adalah salah satu penyebab utama dari segala macam perbuatan yang melampaui batas-batas kemanusiaan, oleh karena itu minuman keras dapat menyebabkan seseorang untuk melakukan perbuatan sebagaimana tersebut diatas.
Minuman keras memang ada manfaatnya, namun bahaya yang ditimbulkan jauh lebih besar dari pada manfaat yang diperoleh, hal ini terlihat dengan timbulnya keresahan masyarakat hampir diseluruh Indonesia karena ulah para peminum minuman keras.
Demi terciptanya keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat serta untuk membentengi generasi muda dari kehancuran akhlak, maka dipandang perlu adanya larangan memproduksi, oplos, memperjual-belikan, mengedarkan dan mengkonsumsi minuman keras. Perlu adanya upaya untuk memberantas minuman keras tersebut.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa salah satu akibat dari seseorang mengkonsumsi minuman keras adalah kemiskinan. Keadaan ekonomi yang tidak memadai dan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari yang menghimpit seseorang seperti pada saat sekarang ini menyebabkan seseorang menghadapi masalah yang mungkin dapat menimbulkan stres, sehingga pelariannya adalah minuman keras, karena dengan minuman keras seseorang bisa meluapkan emosinya dengan cara mabuk-mabukan. Sehingga lama-kelamaan seseorang akan bergantung pada minuman keras, kemudian dia tidak akan lagi mampu melakukan pekerjaannya sehari - hari.
Salah satu faktor terjadinya tindakan kriminalitas yang terjadi hampir setiap saat adalah karena minuman keras. Sehingga oleh pemerintah mengambil suatu kebijakan untuk memberantas minuman keras ini demi terciptanya keamanan, ketertiban dan ketentraman dalam masyarakat. Tetapi di sisi lain budaya minum ini merupakan kebudayaan khas masyarakat batak Toba, dalam hal ini terdapat suatu dilema atau masalah yang sangat sulit untuk dipecahkan. Karena kebudayaan pada hakikatnya harus dilestarikan. Tetapi banyaknya tindakan kriminalitas yang terjadi mebuat pemerintah harus memberantas minuman keras tersebut. Sebenarnya dari awal Undang-undang minuman keras telah dibuat oleh pemerintah, misalnya saja Undang-Undang No.29 tahun 1947 oleh presiden Soekarno.
Miras dengan berbagai merk seperti : brendi, mension, wiski, bir, anggur, arak, baram, tuak, topi miring, bahkan cap tikus dan lain-lain juga beredar kemana-mana hingga ke desa-desa untuk mencari sasarannya. Masalah miras ini sangat sulit untuk diberantas karena banyak invisible hands yang menjalin mata rantai pemasaran dan pengamanannya. Akibat yang ditimbulkan oleh miras ini adalah ketergantungan terhadap minuman keras, perkelahian dan pembunuhan, penganiayaan, pembodohan, malas dan tidak kreatif, apatis, asosial. Hingga saat ini memang sering kita baca di Koran dan lihat di televisi pemusnahan terhadap sejumlah minuman keras hasil sitaan pihak berwajib, namun tampaknya tidak menyurutkan peredaran minuman keras, malah semakin merajalela di mana-mana. Hal ini disebabkan karena yang dilakukan oleh aparat hanyalah menyita sebagian saja dari beberapa stook tertentu yang tidak memiliki izin dan penyelundupan miras, tapi tidak memangkas mata rantainya dan menegakkan aturan yang berhibungan dengan miras. Sebenarnya peraturan hukum tentang miras ini sudah cukup memadai dalam KUHP, misalnya pasal 536,538,539 semuanya telah mengatur tentang miras, hanya saja seharusnya perlu direvisi dan dipertegas lagi agar benar-benar mengenai sasarannya.
Berdasarkan informasi dari salah seorang ahli hukum, keraguan menindak orang yang berhubungan dengan miras ini, salah satunya adalah karena pasal-pasal yang mengatur tentang miras itu masih rancu dan kurang jelas dan banyak tidak mengenai sasarannya. Secara umum dapat dikatakan bahwa narkoba, miras, judi adalah perbuatan melanggar hukum dan membawa dampak negatif yang sangat besar dibanding positifnya. Apalagi bila dilihat dari sisi agama, lebih banyak kerugian daripada
manfaatnya, dan semua agama dengan tegas melarang umatnya untuk mengkomsumsi narkoba dan miras, serta bermain judi. Oleh sebab itu harus dicari upaya penanggulangannya agar berbagai dampak negatif dari narkoba, miras dan judi dapat dikurangi atau kalau memungkinkan dapat dimusnahkan sama sekali. Tetapi masyrakat Batak Toba mempunyai budaya minum minuman keras tersebut.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Dilema Pemberantasan Minuman Keras Terhadap Pelestarian Budaya Masyarakat Batak Toba (Studi Kasus di Desa Ria-ria Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan).
B. Metode Penelitian
Lokasi penelitian di Desa Ria-ria Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatra Utara. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang ada di Desa Ria-ria Kecamatan Pollung yang bersuku Batak Toba yang terdiri dari 142 Kepala Keluarga. Pengambilan sampel yakni 101-200 jumlah sampelnya 50 %, dalam penelitian ini populasi 142 orang maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini yaitu 50 % dari 142 KK yaitu sebanyak 71 Kepala Keluarga. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yakni dilema Pemberantasan Minuman Keras terhadap Pelestarian Budaya Masyarakat Batak Toba. Defenisi operasional variabel adalah dilema pemberantasan minuman keras terhadap pelestarian budaya masyarakat Batak Toba adalah masalah atau dilema yang dihadapi oleh pemerintah di dalam pemberantasan minuman keras oleh karena budaya minum itu merupakan kebiasaan atau kebudayaan masyarakat Batak Toba yang dugunakan dalam upacara-upacara adat, dari dulu sampai saat ini. Karena pada hakikatnya budaya itu harus dilestarikan, karena merupakan ciri khas tersendiri dari orang Batak Toba.
C. Teknik Pengumpulan Data
Data merupakan unsur yang terpenting dari suatu penelitian.sebagai alat pengumpul data, penulis menggunakan langkah – langkah :
a. Observasi langsung ke lapangan
Yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan dan peninjauan langsung oleh peneliti ke lokasi penelitian untuk melihat secara langsung situasi dan keadaan yang sebenarnya dengan masalah yang akan diteliti, pengamatan dari penulis
tentang dilema pemberantasan minuman keras terhadap pelestarian budaya masyarakat batak toba di desa ria-ria kecamatan pollung kabupaten humbang hasundutan.
b. Angket
Yaitu daftar pertanyaan tertulis yang dipergunakan penulis untuk memperoleh informasi dari responden. Angket ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
c. Wawancara
Yaitu teknik pengumpulan data secara lisan dengan bertanya langsung kepada responden, tokoh masyarakat, dan aparat pemerintah dengan tujuan untuk memperoleh data dan informasi dan guna mendukung data yang diperoleh melalui observasi dan angket.
d. Studi Dokumentasi
Yaitu teknik pengumpulan data dan keterangan dari bahan dan tulisan seperti buku-buku bacaan yang ada hubungannya dengan pembahasan yang dilakukan.
Teknik analisis data yang digunakan teknik analisis, melakukan perhitungan persentase dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai objek yang diteliti. Dengan menganalisis data yang diperoleh penulis menggunakan data deskriptif kuantitatif dengan menggunakan tabel frekuensi dengan rumus :
Keterangan:
P = Persentasi pertanyaan yang dijawab
f = Frekuensi jawaban N = Jumlah Responden % = Persentse Jawaban
Analisis data dalam penelitian ini, penulis menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Analisis data tentang tuak sebagai bagian dari adat Batak b. Analisis data tentang mamfaat dari minuman tuak
Tujuan analisis data adalah menyederhanakan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipersentase. Untuk lebih jelasnya pengolahan data dari setiap pertanyaan mempunyai masing - masing satu tabel yakni sebagai berikut :
1. Tuak merupakan Budaya Masyarakat Batak Toba
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 1 di atas menunjukkan bahwa dari 71 KK , 51 orang (71,83%) memberikan jawaban sangat setuju , 20 orang memberikan jawaban setuju. Sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju adalah 0%. Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa tuak merupakan salah satu bagian dari budaya masyarakat Batak Toba yang sudah ada dari dulu dan masih dilestarikan sampai sekarang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai upacara perayaan adat. Tuak tersebut sudah menjadi minuman sehari-hari bagi masyarakat Batak Toba khususnya bagi para kaum laki-laki. Tuak merupakan sarana perwujudan silaturahmi di antara bagian-bagian Dalihan Na Tolu (DNT) yaitu pihak hula-hula adalah keluarga dari pihak istri yang menempati posisi yang paling dihormati, sehingga dipesankan agar hormat kepada hula-hula (somba marhula-hula), kemudian unsur
Dongan Tubu yang sering disebut dengan Dongan Sabutuha yaitu saudara laki-laki satu
marga, kemudian unsur yang ketiga yaitu pihak Boru adalah keluarga yang mengambil istri dari suatu marga.
2. Tuak Bukan Bagian Dari Minuman Keras
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 2 di atas menunjukkan bahwa dari 71 KK, 43 orang (60,56%) memberikan jawaban sangat setuju , 28 orang (39,44%) menyatakan setuju, sementara yang memberikan jawaban tidak setuju dan sangat tidak setuju adalah sebanyak 0%.
Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa menurut para responden, tuak bukanlah merupakan minuman keras seperti yang dikatakan dan dilarang oleh pemerintah sehingga perlu diberantas, karena menurut mereka tuak mempunyai dampak yang positif terhadap kesehatan. Tuak juga sebagai media atau sarana pergaulan bagi masyarakat, khususnya para pengkonsumsi tuak, karena mereka akan berinteraksi dan bersosialisasi dan berkumpul di lapo tuak. Dengan adanya aktifitas minum tuak di lapo tuak terseburt, masyarakat akan merasa dekat dan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Menurut para responden tuak dapat berdampak positif bagi kesehatan, apabila
dikonsumsi secukupnya sesuai dengan kebutuhan, dan akan berdampak negatif apabila dikonsumsi secara berlebihan.
3. Mabuk-mabukan merupakan salah satu budaya masyarakat Batak Toba yang sangat melekat bagi kehidupan masyarakat
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel III di atas menunjukkan bahwa dari 71 KK, 2 orang (2,82%) memberikan jawaban sangat setuju, 11 orang (15,49%) memberikan jawaban setuju,26 orang (36,62%) memberikan jawaban tidak setuju, dan 32orang (45,07%) memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Secara umum responden memiliki persepsi bahwa mabuk-mabukan bukan merupakan salah satu budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat Batak Toba. Hal ini memang sering terjadi tetapi bisa dikatakan bukan merupakan suatu budaya. Hal ini bisa saja terjadi oleh karena para pengkonsumsi tuak minum tidak sesuai dengan kebutuhan, dan mungkin saja mereka lagi mengalami suatu masalah dalam keluarga maupun dalam kehidupan sehari-hari, seperti masalah keuangan dan masalah anak-anak mereka. Bagi para kaum muda mungkin saja terjadi karena gagal mendapatkan seorang perempuan, mungkin saja ditolak oleh perempuan tersebut, dan bisa saja karena gagal menikah.
4. Mabuk-mabukan dapat menimbulkan perkelahian antar sesama masyarakat yang menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap hukum.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 4 di atas menunjukkan bahwa dari 71 KK, 20 orang(28,17%) menjawab sangat setuju, 15 orqng (21,13%) menjawab setuju, dan 18 orang (25,36%) menjawab tidak setuju, dan 17(23,94%) orang menjawab sangat tidak setuju.
Berdasarkan tabel 4 di atas dapat diketahui bahwa setiap responden memiliki jawaban yang berbeda-beda dan persepsi yang berbeda pula tentang kebiasaan masyarakat Batak Toba yang sering kali mabuk-mabukan hingga menimbulkan keonaran dan berbagai permasalahan yang mengakibatkan adanya pelanggaran terhadap hukum. Setengah dari jumlah responden menyatakan setuju bahwa mabuk-mabukan menimbulkan pelanggaran terhadap hukum dan setengah dari responden menyatakan tidak setuju.
5. Lapo tuak mempunyai fungsi sosial sebagai tempat bagi masyarakat untuk berkumpul dan mengkonsumsi tuak.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 5 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 48 orang (67,61%) menyatakan sangat setuju, 23 (32,39%)orang menyatakan setuju, sedangkan yang menjawab tidak setuju dan sangat tidak setuju adalah 0%.
Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak Toba, lapo tuak merupakan tempat untuk berkumpul dan berinteraksi antara orang yang satu dengan yang lain. Di
lapo tuak jugalah para laki-laki sering membicarakan masalah-masalah yang terjadi di
dalam desa tersebut dan memecahkan masalah secara bersama-sama. Lapo tuak dianggap sebagai tempat hiburan bagi masyarakat Batak Toba, karena sebagaimana umumnya masyarakat Batak Toba suka bermain catur, kartu, membaca surat kabar sambil meneguk tuak ataupun kopi, dan ada juga yang bermain gitar sambil menyanyikan lagu-lagu daerah. Kebiasaan ini sudah mendarah daging bagi masyarakat, sehingga lapo tuak merupakan tempat pertemuan dan menjadi arena pergaulan sosial. 6. Kebiasaan mengkonsumsi tuak tidak berhubungan dengan status sosial
ekonomi masyarakat.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 6 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 62 orang (87,32%) memberi jawaban sangat setuju, 9 orang (12,68%) memberi jawaban setuju, sementara yang memberi jawaban tidak setuju dan sangat tidak setuju adalah 0%.
Dari tabel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa setiap orang bebas untuk mengkonsumsi tuak tanpa dipengaruhi oleh status sosial ekonomi dari masyarakat. Tidak ada larangan untuk minum tuak bagi siapa pun yang ingin mengkonsumsinya, termasuk anak-anak dan para kaum wanita. Bagi masyarakat Batak Toba tidak pernah dipermasalahkan adanya perbedaan status sosial maupun ekonomi masyarakat atau dengan kata lain tidak ada perbedaan kasta, antara yang satu dengan yang lain hidup saling berdampingan dengan rukun karena rasa persaudaraan yang sangat tinggi yang diikat oleh Dalihan Na Tolu.
7. Mengkonsumsi tuak bagi wanita yang baru melahirkan adalah baik untuk kesehatan.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 7 di atas menunjukkan bahwa dari 71 KK, 7 orang (9,86%) menyatakan sangat setuju, 29 orang (40,84%) menyatakan setuju, 24 orang (33,81%) menyatakan tidak setuju, dan 11 orang (15,49%) menyatakan sangat tidak setuju.
Hampir setengah dari jumlah responden menyatakan setuju dengan wanita yang baru melahirkan sangat baik untuk mengkonsumsi tuak, dan setengahnya lagi menyatakan tidak setuju dengan hal tersebut. Berdasarkan apa yang penulis lihat, kebanyakan dari orang yang masih muda dan sudah berumahtangga sudah tidak memberikan kepada istrinya untuk minum tuak, mereka menganggap itu kurang baik, lain halnya dengan anggota rumah tangga yang sudah tua, mereka melakukan kebiasaan tersebut ketika istri mereka melahirkan. Perbedaan persepsi ini terjadi mungkin karena perkembangan zaman yang semakin lama semakin pesat, juga modernisasi yang merubah pola tingkah laku dan pola pikir dari masyarakat Batak Toba. Tuak juga menjadi semacam ramuan untuk kaum perempuan saat melahirkan, dimana menurut tradisi masyarakat Batak Toba, wanita yang baru melahirkan anak minum tuak agar memperlancar air susunya dan berkeringt banyak guna mengeluarkan kotoran-kotoran dari dalam tubuhnya serta dianggap sebagai penambah darah dan menghangtakan si ibu. Tuak sebagai pengganti air minum selama paling sedikit satu minggu setelah melahirkan.
8. Tuak tidak hanya sebagai minuman khas tetapi dipergunakan juga untuk menyiram tanaman di atas tambak atau kuburan.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 8 menyatakan bahwa dari 71 KK, 4 orang (5,64%) memberikan jawaban sangat setuju, 10 orang (14,08%) memberikan jawaban setuju, 42 orang (59,15%) menyatakan tidak setuju, dan 15 orang menyatakan sangat tidak setuju.
Secara umum masyarakat menganggap bahwa menyiram tanaman di atas kuburan orang yang sudah meninggal adalah kebiasaan orang pada zaman dahulu, ketika mereka belum mengenal agama.
9. Dalam acara adat tuak dan air adalah sajian bagi orang tua.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 9 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 9 orang (12,68%) memberikan jawaban sangat setuju, 45 orang (63,38%) memberikan jawaban setuju, 10 orang (14,08%) memberikan jawaban tidak setuju, dan 7 orang (9,85%) memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Dalam upacara dan perayaan-perayaan adat, makna tuak dalam pesta etnis masyarakat Batak Toba dianggap sebagai minuman kehormatan. Dimana tuak yang dipakai dalam upacara adat adalah tuak tangkasan yang tidak bercampur dengan raru.
Tuak aslinya manis karena manisnya disebut dengan tuak na tonggi dalam bahasa Batak Toba. Tuak tangkasan adalah tuak asli yang diambil dari langsung dari pohon enau pada pagi hari tanpa bercampur dengan ramuan lain. Keduanya tuak tangkasan dan tuak
natonggi disajikan dalam suatu prosesi adat. Bagi yang ingin meminumnya, harus
terlebih dahulu memberikan atau menuangkan minuman kepada orang yang lebih tua. Dan apabila langsung meminum dan menuangkannya untuk diri sendiri akan dianggap titak ber adat.
10. Bagi generasi muda, tuak bukan bagian dari adat saja melainkan sebagai minuman sehari-hari.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 10 menunjukkan bahwa dari 71 orang, 11 orang (15,49%) memberikan jawaban sangat setuju, 45 orang (63,38%) memberikan jawaban setuju, 10 orang (14,08%) memberikan jawaban tidak setuju, dan 5 orang (7,04%) memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Tuak adalah minuman penting pada masyarakat batak Toba, yang diminum waktu santai, pesta, kelahiran anak, kematian, musyawarah dan juga sebagai obat. Dalam upacara adat, orang yang minum tuak akan lebih lancar dalam berbicara dan orang tersebut akan dapat mengungkapkan apapun yang ada dalam perasaannya. Tuak mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat Batak Toba karena tuak dapat digunakan sebagai sarana keakraban, sebagai pengungkapan rasa terima kasih dan juga sebagai minuman persahabatan.
11. Tuak yang digunakan dalam upacara adat adalah tuak manis yang tidak bercampur dengan raru.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel XI di atas menunjukkan bahwa dari 71 KK, 14 orang (19,71%) menjawab sangat setuju, 48 orang (67,60%) menjawab setuju, 4 orang (5,63%) menjawab tidak setuju, 5 orang (7,04%) menjawab sangat tidak setuju.
Makna tuak dalam pesta etnis masyarakat Batak Toba dianggap sebagai minuman kehormatan. Dimana tuak yang dipakai dalam pada upacara adat adalah tuak tangkasan yang tidak bercampur dengan raru. Tuak aslinya manis karena manisnya disebut dengan tuak na tonggi dalam bahasa Batak Toba. Tuak tangkasan adalah tuak asli yang diambil dari langsung dari pohon enau pada pagi hari tanpa bercampur
dengan ramuan lain. Keduanya tuak tangkasan dan tuak na tonggi disajikan dalam suatu prosesi adat.
12. Pemerintah berupaya untuk memberantas tuak yang sangat bertentangan dengan budaya masyarakat Batak Toba
Berdasarkan tabel 12 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 30 orang(42,25%) memberikan jawaban sangat setuju, 36 orang (50,70%) memberikan jawaban setuju, 5 orang (7,04%) memberikan jawaban tidak setuju, dan yang memberikan jawaban sangat tidak setuju adalah 0%.
Tuak mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat Batak Toba karena tuak dapat digunakan sebagai sarana keakraban, sebagai pengungkapan rasa terima kasik dan juga sebagai minuman persahabatan. Sehingga apabila tuak tersebut diberantas akan menimbulkan konflik antara masyarakat Batak Toba dengan aparat penegak hukum, karena tuak adalah bagian dari budaya masyarakat Batak Toba.
13. Tuak sebagai bagian dari budaya masyarakat Batak Toba merupakan permasalahan bagi aparat penegak hukum dalam pemberantasan minuman keras.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 12 menunjukkan bahwa dari 71 orang, 22 orang (30,99%) memberikan jawaban sangat setuju, 39 orang (54,92%) memberikan jawaban setuju, 8 orang (11,27%) memberikan jawaban tidak setuju, dan 2 orang (2,82%) memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Kebudayaan pada hakikatnya harus dilestarikan, dijaga, dipertahankan dan diturunkan kepada anak cucu dari suatu suku tertentu. Dalam hal ini, aparat mengalami kesulitan dalam pemberantasan minuman tuak tersebut, oleh karena tuak merupakan salah satu bagian dari budaya masyarakat Batak Toba, dan merupakan minuman penting dalam berbagai upacara-upacara adat, dan merupakan minuman sehari-hari khususnya bagi kaum laki-laki. Tuak dalam masyarakat Batak Toba dianggap sebagai minuman kehormatan bagi orang yang sudah tua.
14. Bagi aparat penegak hukum pemberantasan tuak adalah tantangan yang sulit untuk dilakukan.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 14 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 60 orang (84,50%) memberikan jawaban sangat setuju, 9 orang (12,67%) memberikan
jawaban setuju, 2 orang (2,87%) memberikan jawaban tidak setuju, dan yang memberikan jawaban sangat tidak setuju adalah 0%.
Seperti yang telah diuraikan di atas, tuak merupakan salah satu bagian dari budaya masyarakat Batak Toba, dan merupakan minuman penting yang diminum waktu bersantai, pesta adat, musyawarah dan berbagai perkumpulan yang dilakukan oleh masyarakat. Jadi dari hal ini, para aparat penegak hukum pasti akan mengalami kesulitan dalam memberantas minuman tuak tersebut. Dari berbagai jawaban yang telah diberikan oleh responden, dapat dikatakan bahwa masyarakat tidak setuju apabila minuman tuak tersebut diberantas, karena merupakan suatu budaya yang sangat melekat dan merupakan ciri khas tersendiri dari masyarakat Batak Toba yang sudah diwariskan secara turun-temurun sebagai warisan dari nenek moyang.
15. Sampai saat ini pemberantasan tuak sangat sulit untuk dilakukan.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 15 menunjukkan bahwa dari 71 orang, 55 orang (77,46%) memberikan jawaban sangat setuju, 16 orang (22,545) memberikan jawaban setuju, dan yang memberikan jawaban tidak setuju dan sangat tidak setuju adalah 0 %.
Sampai saat ini, pemberantasan tuak sangat sulit untuk dilakukan oleh aparat karena masyarakat tidak setuju jika tuak diberantas karena para aparat jelas sudah mengetahui tentang tuak sebagai bagian dari budaya masyarakat Batak Toba, khususnya para aparat yang bertempat tinggal di daerah permukiman Batak, tanpa terkecuali mereka juga mengkonsumsi tuak tersebut.
16. Aparat penegak hukum juga mengkonsumsi tuak.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 16 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 30 orang (42,25%) memberikan jawaban sangat setuju, 35 orang (49,29%) memberikan jawaban setuju, 4 orang (5,63%) memberikan jawaban tidak setuju, dan 2 orang (2,82%) memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Dari pengamatan penulis di daerah tempat tinggal, para aparat penegak hukum juga mengkonsumsi tuak di saat mereka sedang melaksanakan tugas. Mereka terkadang singgah di lapo tuak untuk minum. Hal ini sudah menjadi hal yang biasa dan tidak menjadi rahasia lagi bagi mereka. Masyarakat juga sudah dengan jelas mengetahui hal tersebut.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel XVII di atas menunjukkan bahwa dari 71 KK, 29 orang (40,84%) memberikan jawaban sangat setuju, 38 orang (53,52%) memberikan jawaban setuju, 2 orang (2,82%) memberikan jawaban tidak setuju, dan 2 orang (2,82%) memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Ada anggapan bahwa seseorang yang menderita penyakit gula atau diabetes dianjurkan untuk minum tuak, karena kadar gula darah dapat terlarut oleh mineral yang terdapat pada tuak dan dikeluarkan melalui respirasi kencing. Tuak juga sangat baik untuk mencegah penyakit ginjal dan kencing batu. Kandungan mineral yang cukup komplit dari tuak sangat berguna sekali bagi tubuh apabila dikonsumsi secukupnya sesuai dengan kebutuhan.
18. Tuak dapat meningkatkan keakraban/solidaritas diantara anggota masyarakat.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 18 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 50 orang (70,42%) memberikan jawaban sangat setuju, 21 orang (29,58%) memberikan jawaban setuju, dan yang memberikan jawaban tidak setuju dan sangat tidak setuju adalah 0%.
Orang yang meminum tuak jarang sekali sendirian, para peminum tuak selalu berkumpul di lapo tuak, dan mengidentifikasi dan mendiskusikan berbagai bentuk permasalahan sosial. Sejalan berkumpul sehingga membentuk arena diskusi. Dimana saat berkumpul tersebut mereka selalu membahas masalah kehidupan sosial, politik maupun ekonomi yang terjadi di negara ini. Sambil meminum tuak dan berkumpul bersama mereka secara bebas mengidentifikasi dan mendiskusikan berbagai bentuk permasalahan sosial. Sejalan dengan meningkatnya intensitas diskusi dan berjalannya waktu, proses-proses yang terjadi di dalam pembicaraan nantinya akan diselingi dengan tawa canda bersama dengan humor-humor dari para peminum tuak. Ikatan solidaritas masyarakat batak toba yang kuat disebabkan karena adanya proses interaksi dan tuak sebagai media atau sarana penghubungnya, dengan tidak menyampingkan interaksi mereka di lingkungan maupun pada aktivitas kehidupan lainnya.
19. Anak-anak juga minum tuak tanpa dilarang oleh orang tua.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 19 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 4 orang (5,63%) memberikan jawaban sangat setuju, 27 orang (38,02%) memberikan
jawaban setuju, 30 orang (42,25%) memberikan jawaban tidak setuju, dan 10 orang (14,08%) memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Dari tabel, dapat disimpulkan bahwa tidak ada larangan bagi siapa pun untuk mengkonsumsi tuak, baik anak-anak, remaja, orang tua maupun wanita sekalipun. Karena tuak baik untuk kesehatan apabila dikonsumsi secukupnya sesuai dengan kebutuhan. Mengkonsumsi tuak bagi masyarakat Batak Toba adalah hal yang lumrah. Tidak ada larangan untuk mengkonsumsinya.
20. Tuak harus diberantas agar masyarakat tidak terbiasa untuk mengkonsumsi tuak, karena hal itumerupakan kebiasaan buruk.
Berdasarkan frekuensi jawaban tabel 20 menunjukkan bahwa dari 71 KK, 2 orang (2,82%) memberikan jawaban sangat setuju, 7 orang (9,86%) memberikan jawaban setuju, 25 orang (35,21%) memberikan jawaban tidak setuju, dan 37 (52,11%) memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Dari tabel di atas, setengah dari responden sangat tidak apabila diberantas, dan menyatakan mengkonsumsi tuak adalah kebiasaan buruk. Hal ini sangat bertentangan dengan kebudayaan masyarakat Batak Toba, karena tuak adalah minuman yang sangat penting dan sebagai sarana pergaulan yang dapat meningkatkan solidaritas diantara sesama anggota masyarakat. Tuak juga baik di konsumsi untuk kesehatan apabila dikonsumsi secukupnya dan sesuai dengan kebutuhan.
D. Pembahasan
Terjadi dilema dalam pemberantasan minuman keras yang dalam hal ini adalah minuman tuak, karena tuak tersebut adalah bagian dari budaya masyarakat Batak Toba yang sudah ada sejak dahulu sampai dengan sekarang. Ikatan solidaritas masyarakat batak toba yang kuat disebabkan karena adanya proses interaksi dan tuak sebagai media atau sarana penghubungnya, dengan tidak menyampingkan interaksi mereka di lingkungan maupun pada aktivitas kehidupan lainnya.
Makna tuak dalam pesta etnis masyarakat Batak Toba dianggap sebagai minuman kehormatan. Dimana tuak yang dipakai pada upacara adat adalah tuak tangkasan yang tidak bercampur dengan raru. Tuak aslinya manis karena manisnya disebut dengan tuak na tonggi dalam bahasa Batak Toba. Tuak tangkasan adalah tuak asli yang diambil dari langsung dari pohon enau pada pagi hari tanpa bercampur
dengan ramuan lain. Keduanya tuak tangkasan dan tuak natonggi disajikan dalam suatu prosesi adat.
Tuak juga menjadi semacam ramuan untuk kaum perempuan saat melahirkan, dimana menurut tradisi masyarakat Batak Toba, wanita yang baru melahirkan anak minum tuak agar memperlancar air susunya dan berkeringat banyak guna mengeluarkan kotoran-kotoran dari dalam tubuhnya serta dianggap sebagai penambah darah dan menghangatkan si ibu. Tuak sebagai pengganti air minum selama paling sedikit satu minggu setelah melahirkan.
Ikatan solidaritas masyarakat Batak Toba yang kuat disebabkan oleh adanya proses interaksi diantara sesama anggota masyarakat dan adanya tuak sebagai media atau sarana penghubung yang terjadi di lapo tuak. Pada pesta adat keakraban yang terjalin di antara dalihan na tolu semakin erat. Rasa keakraban di sini hampir sama dengan penghormatan terhadap pihak hula-hula, dongan tubu, dan boru. Selain penghormatan akan terjalin juga rasa keakraban di semua unsur Dalihan Na Tolu (DNT). Karena telah kita ketahui bahwa mengkonsumsi tuak sudah merupakan budaya yang sangat melekat pada diri masyarakat Batak Toba. Tuak lumrah dikonsumsi semua kalangan pada saat pesta adat sehingga menciptakan hubungan yang akrab, minum tuak juga dapat diartikan sebuah isyarat untuk memudahkan komunikasi secara terbuka di antara sesama anggota masyarakat.
Umumnya acara pesta adat pada saat meminum tuak, setiap orang yang hendak minum harus menuangkannnya terlebih dahulu kepada pihak hula-hula, pantang menuangkannya untuk diri sendiri.hal ini menunjukkan bahwa rasa hormat, seiring dengan itu keakraban pun terjalin.
Orang yang meminum tuak jarang sekali sendirian, para peminum tuak selalu berkumpul di lapo tuak, dan mengidentifikasi dan mendiskusikan berbagai bentuk permasalahan sosial. Sejalan berkumpul sehingga membentuk arena diskusi. Dimana saat berkumpul tersebut mereka selalu membahas masalah kehidupan sosial, politik maupun ekonomi yang terjadi di negara ini. Sambil meminum tuak dan berkumpul bersama mereka secara bebas mengidentifikasi dan mendiskusikan berbagai bentuk permasalahan sosial. Sejalan dengan meningkatnya intensitas diskusi dan berjalannya
waktu, proses-proses yang terjadi di dalam pembicaraan nantinya akan diselingi dengan tawa canda bersama dengan humor-humor dari para peminum tuak.
Ada anggapan bahwa seseorang yang menderita penyakit gula atau diabetes dianjurkan untuk minum tuak, karena kadar gula darah dapat terlarut oleh mineral yang terdapat pada tuak dan dikeluarkan melalui respirasi kencing. Tuak juga sangat baik untuk mencegah penyakit ginjal dan kencing batu. Kandungan mineral yang cukup komplit dari tuak sangat berguna sekali bagi tubuh apabila dikonsumsi secukupnya sesuai dengan kebutuhan.
Tuak adalah minuman penting pada masyarakat batak Toba, yang diminum waktu santai, pesta, kelahiran anak, kematian, musyawarah dan juga sebagai obat. Dalam upacara adat, orang yang minum tuak akan lebih lancar dalam berbicara dan orang tersebut akan dapat mengungkapkan apapun yang ada dalam perasaannya. Tuak mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat Batak Toba karena tuak dapat digunakan sebagai sarana keakraban, sebagai pengungkapan rasa terima kasik dan juga sebagai minuman persahabatan.
Jawaban dari wawancara nomor 1 yang ditujukan kepada masyarakat yang bersuku Batak Toba mengenai apakah menjadi rutinitas masyarakat untuk mengkonsumsi tuak dan jawabannya adalah ya, dalam berbagai kesempatan saya selalu minum tuak, dan berbagai pesta atau upacara adat yang ada dalam setiap perayaan selalu disajikan minuman tuak, dan dapat dikatakan hampir setiap hari setiap orang khususnya kaum laki-laki yang sudah dewasa mengkonsumsi tuak.
Jawaban wawancara nomor 2 mengenai kapan saja masyarakat minum tuak dan dimana saja yaitu pada setiap kesempatan, misalnya pada saat santai, pada sore hari setelah pulang dari ladang, pada saat pesta auat upacara adat, dan pada setiap perkumpulan di lapo tuak, ketika bermain catur dan bernyanyi sambil memetik gitar di lapo tuak, di rumah juga sering minum tuak dengan menyuruk anak-anak untuk membelinya ke lapo tuak.
Jawaban wawancara nomor 3 mengenai apa saja yang saudara lakukan ketika meminum tuak bersama dengan warga yang sedang minum tuak yaitu: Orang yang meminum tuak jarang sekali sendirian, para peminum tuak selalu berkumpul di lapo
tuak, dan mengidentifikasi dan mendiskusikan berbagai bentuk permasalahan sosial. Sejalan berkumpul sehingga membentuk arena diskusi. Dimana saat berkumpul tersebut mereka selalu membahas masalah kehidupan sosial, politik maupun ekonomi yang terjadi di negara ini. Sambil meminum tuak dan berkumpul bersama mereka secara bebas mengidentifikasi dan mendiskusikan berbagai bentuk permasalahan sosial. Sejalan dengan meningkatnya intensitas diskusi dan berjalannya waktu, proses-proses yang terjadi di dalam pembicaraan nantinya akan diselingi dengan tawa canda bersama dengan humor-humor dari para peminum tuak. Sering terjadi perselisihan, oleh karena adu pendapat dari para peminum tuak, tetapi yang pada akhirnya akan mendapatkan kesepakatan bersama.
Jawaban wawancara nomor 4 yaitu tentang bagaimana pandangan saudara tentang tuak yaitu: Tuak adalah minuman penting pada masyarakat batak Toba, yang diminum waktu santai, pesta, kelahiran anak, kematian, musyawarah dan juga sebagai obat. Dalam upacara adat, orang yang minum tuak akan lebih lancar dalam berbicara dan orang tersebut akan dapat mengungkapkan apapun yang ada dalam perasaannya. Tuak mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat Batak Toba karena tuak dapat digunakan sebagai sarana keakraban, sebagai pengungkapan rasa terima kasih dan juga sebagai minuman persahabatan. Tuak juga sudah menjadi minuman sehari-hari bagi masyarakat, dan mengkonsumsi tuak adalah hal yang lumrah.
Jawaban wawancara nomor 5 mengenai dalam upacara adat apa saja tuak disuguhkan yaitu: tuak dalam perayaan adat apa saja selalu disuguhkan apabila orang yang mengadakan pesta termasuk orang yang ber adat, misalnya dalam pesta pernikahan, kematian, mangompoi (memasuki rumah baru), martonggo raja (mengumpulkan raja adat), martonggo parhobas (mengumpulkan para pelayan dalam pesta), acara manulangi (memberikan/ menyuapi raja ni hula-hula oleh pihak
borunya), dan masih banyak perayaaan yang lain.
Jawaban dari wawancara nomor 6 mengenai apa makna penyediaan tuak pada pesta adat yaitu: Makna tuak dalam pesta etnis masyarakat Batak Toba dianggap sebagai minuman kehormatan. Dimana tuak yang dipakai dalam pada upacara adat adalah tuak tangkasan yang tidak bercampur dengan raru. Tuak aslinya manis karena manisnya disebut dengan tuak na tonggi dalam bahasa Batak Toba. Tuak tangkasan
adalah tuak asli yang diambil dari langsung dari pohon enau pada pagi hari tanpa bercampur dengan ramuan lain. Keduanya tuak tangkasan dan tuak natonggi disajikan dalam suatu prosesi adat. Dan orang yang ingin meminumnya dalam pesta umumnya acara pesta adat pada saat meminum tuak, setiap orang yang hendak minum harus menuangkannnya terlebih dahulu kepada pihak hula-hula, pantang menuangkannya untuk diri sendiri.hal ini menunjukkan bahwa rasa hormat, seiring dengan itu keakraban pun terjalin.
Jawaban dari wawancara nomor 7 mengenai bagaiman pendapat anda tentang kebijakan pemerintah untuk memberantas minuman keras yaitu: kalau ditanya soal hal itu, masyarakat pasti sangat tidak setuju dengan pernyataan tersebut, karena tuak adalah salah satu bagian dari budaya masyarakat batak Toba yang sudah sangat melekat. Budaya harus dilestarikan, bukan untuk diberantas. Tuak juga tidak menimbulkan dampak yang negatif apabila dikonsumsi secukupnya sesuai dengan kebutuhan. Tuak juga dapat dijadikan sebagai obat bagi berbagai penyakit, misalnya diabetes (penyakit gula). Tuak adalah minuman penting pada masyarakat batak Toba, yang diminum waktu santai, pesta, kelahiran anak, kematian, musyawarah dan juga sebagai obat. Dalam upacara adat, orang yang minum tuak akan lebih lancar dalam berbicara dan orang tersebut akan dapat mengungkapkan apapun yang ada dalam perasaannya. Tuak mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat Batak Toba karena tuak dapat digunakan sebagai sarana keakraban, sebagai pengungkapan rasa terima kasih dan juga sebagai minuman persahabatan.
E. Penutup
Tuak merupakan salah satu bagian dari budaya masyarakat Batak Toba yang harus dilestarikan karena pada hakikatnya kebudayaan harus senantiasa dilestarikan karena merupakan ciri tersendiri dari suku Batak Toba.
Tuak adalah minuman penting pada masyarakat batak Toba, yang diminum waktu santai, pesta, kelahiran anak, kematian, musyawarah dan juga sebagai obat. Dalam upacara adat, orang yang minum tuak akan lebih lancar dalam berbicara dan orang tersebut akan dapat mengungkapkan apapun yang ada dalam perasaannya. Tuak mempunyai arti yang khusus bagi masyarakat Batak Toba karena tuak dapat digunakan
sebagai sarana keakraban, sebagai pengungkapan rasa terima kasih dan juga sebagai minuman persahabatan.
Ikatan solidaritas masyarakat Batak Toba yang kuat disebabkan karena adanya proses interaksi dan tuak sebagai media atau sarana penghubungnya, tanpa memperhatikan status sosial masyarakat.
Pemberantasan minuman keras (tuak) sangat sulit dilakukan oleh karena tuak sebagai bagian dari budaya masyarakat Batak Toba yang harus dilestarikan sebagai ciri khas tersendiri, dan para aparat juga mengkonsumsi tuak. Masyarakat Desa Ria-Ria Kecamatan Pollung Kabupaten Humbang Hasundutan tidak setuju dengan adanya pemberantasan tuak.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 2003. Penelitian Pendidikan, Prosedur dan Strategi . Bandung: PT Bina Aksara.
Ali, Muhammad. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendidikan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta
Dirdjosisworo, Soedjono. 2000. Alkoholisme Paparan Hukum & Kriminologi. Bandung: Remadja Karya CV
Durkheim. 2000. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Pustaka Utama
Karsono, Edy. 2004. Narkoba Dan Minuman Keras. Jakarta: Gramedia
Kartono, Kartini. 2009. Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung: Mandar Maju
Linton. 2000. Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama
Maran, Rafael Raga. 2000. Manusia dan Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : PT Rineka Cipta
Salomo, Batara. 2010. Tuak Sebagai Solidaritas masyarakat Batak Toba. Medan: Unimed.
Sukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya . Jakarta : PT Bumi Aksara
Tambunan, E. H. 2000. Sekelumit Mengenai masyarakat Batak Toba dan Kebudayaannya sebagai Sarana Pembangunan. Bandung: Tarsito
Undang -Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1947 Tentang Cukai, Cukai Minuman Keras
Kepres No.3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol.
Pedoman Penulisan Skripsi Jurusan PPKn Unimed. 2005. Medan: UNIMED http://id.wikipedia.org/wiki/minuman_beralkohol , Diakses 11 Februari 2011. On