PENDETENSIAN DAN DEPORTASI
Oldarina Asri Herawaty
Sugiyo
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA
2020
MODUL BEST PRACTICE
BPSDM KUMHAM Press
Jalan Raya Gandul No. 4 Cinere – Depok 16512
Telepon (021) 7540077, 754124 Faksimili (021) 7543709, 7546120 Laman : http://bpsdm.kemenkumham.go.id
Cetakan ke-1 : September 2020 Perancang Sampul : Sigit Supradah Penata Letak : Bimo Setyoseno
Ilustrasi Sampul : id.depositphotos.com/vector-images/deportasi.html, www.vecteezy.com/free-vector/refugee
viii+96 hlm.; 18 × 25 cm
ISBN: 978-623-6869-67-3
Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang mengutip dan mempublikasikan
sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin dari Penerbit Dicetak oleh:
PERCETAKAN POHON CAHAYA isi di luar tanggung jawab percetakan Penulis :
Oldarina Asri Herawaty Sugiyo
PENDETENSIAN DAN DEPORTASI
MODUL BEST PRACTICE
KATA SAMBUTAN
KATA SAMBUTAN
Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya Modul Best Practice berjudul “Jaminan Fidusia Online Dalam Memberikan Kepastian Hukum” telah terselesaikan. Modul ini disusun untuk membekali para pembaca agar mengetahui dan memahami salah satu tugas dan fungsi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Modul Best Pratice merupakan strategi pendokumentasian pengetahuan tacit yang masih tersembunyi dan tersebar di banyak pihak, untuk menjadi bagian dari aset intelektual organisasi. Langkah ini dilakukan untuk memberikan sumber – sumber pengetahuan yang dapat disebarluaskan sekaligus dipindah tempatkan atau replikasi guna peningkatan kinerja individu maupun organisasi. Keberadaan Modul Best Practices dapat mendukung proses pembelajaran mandiri, pengayaan materi pelatihan dan peningkatan kemampuan organisasi dalam konteks pengembangan kompetensi yang terintegrasi (Corporate University) dengan pengembangan karir.
Modul Best Practices pada artinya dapat menjadi sumber belajar guna memenuhi hak dan kewajiban pengembangan kompetensi paling sedikit 20 jam pelajaran (JP) bagi setiap pegawai. Hal ini sebagai implementasi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN).
Dalam kesempatan ini, kami atas nama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan Hak Asasi Manusia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak atas dukungan dan kontribusinya dalam penyelesaian modul ini. Segala kritik dan saran sangat kami harapkan guna peningkatan kualitas publikasi ini. Semoga modul ini dapat berkontribusi positif bagi para pembacanya dan para pegawai di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM.
Jakarta, Agustus 2020
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan Hak Asasi Manusia,
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas kehendak dan perkenan-Nya masih diberikan kesempatan dan kesehatan dalam rangka penyusunan Modul Best Practice berjudul Layanan Kekayaan Intelektual Berbasis Teknologi Informasi Melalui Iproline Merek.
Modul Best Practice Layanan Kekayaan Intelektual Berbasis Teknologi Informasi Melalui Iproline Merek sebagai sumber pembelajaran dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan terhadap keberagaman bidang tugas dan fungsi serta kinerja organisasi Kemenkumham. Selain itu upaya untuk memperkuat dan mengoptimalkan kegiatan pengabadian aset intelektual dari pengetahuan tacit individu menjadi pengetahuan organisasi. Pengetahuan tacit yang berhasil didokumentasikan, akan sangat membantu sebuah organisasi dalam merumuskan rencana strategis pengembangan kompetensi baik melalui pelatihan maupun belajar mandiri, serta implementasi Kemenkumham Corporate University (CorpU).
Demikian Modul Best Practice Layanan Kekayaan Intelektual Berbasis Teknologi Informasi Melalui Iproline. disusun, dengan harapan modul ini dapat bermanfaat dalam meningkatkan kompetensi bagi pembaca khususnya pegawai di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Depok, 26 Oktober 2020
Kepala Pusat Pengembangan Diklat Teknis dan Kepemimpinan,
Hantor Situmorang
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ... iii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Deskripsi Singkat ... 2 C. Tujuan Pembelajaran ... 2 D. Materi Pokok ... 3 E. Manfaat ... 4 F. Petunjuk Belajar ... 4
BAB II KONSEP RUMAH DETENSI IMIGRASI ... 7
A. Apa Itu Rumah Detensi Imigrasi ... 7
B. Perbedaan Rumah Detensi Imigrasi dan Ruang Detensi Imigrasi ... 9
C. Kriteria Penghuni Rumah Detensi Imigrasi dan Ruang Detensi Imigrasi ... 9
D. Masa Berakhirnya Orang Asing Penghuni Rumah atau Ruang Detensi Imigrasi ... 11
E. Kondisi Masa Pendetensian Penghuni Rumah Detensi Imigrasi Terlampaui ... 11
F. Perlindungan Hak Asasi Manusia Bagi Deteni ... 12
G. Kewajiban Deteni ... 13
BAB III PENGELOLAAN RUMAH DETENSI IMIGRASI ... 15
A. Pendetensian ... 15
C. Penjatuhan Sanksi Pelanggaran Tata Tertib ... 24
D. Pemindahan Deteni ... 25
E. Penanganan Kelahiran, Kematian, Pelanggaran, Mogok Makan, Pemeriksaan Kesehatan Dan Melarikan Diri . 26 F. Pemulangan dan Deportasi ... 29
BAB IV APLIKASI PENANGANAN DETENI ... 33
A. Aplikasi Penanganan Deteni ... 33
B. Manfaat Aplikasi Penanganan Deteni …… ... 79
BAB V PERMASALAHAN PENDETENSIAN DAN DEPORTASI SERTA SOLUSI ATAS PERMASALAHAN PENDETENSIAN DAN DEPORTASI ... 81
A. Permasalahan Pendetensian dan Deportasi ... 81
B. Solusi Atas Permasalahan Pendetensian dan Deportasi ... 83
BAB VI PENUTUP ... 87
A. Kesimpulan ... 87
B. Saran ... 92
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tahun 1992 berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian pasal 1 angka 15 disebutkan bahwa karantina Imigrasi adalah tempat penampungan sementara bagi orang asing yang dikenakan proses pengusiran atau deportasi atau tindakan keimigrasian lainnya. Berdasarkan undang- undang tersebut maka dikenallah istilah Karantina Imigrasi sebagai bentuk permulaan dari Rumah Detensi Imigrasi.
Pada bulan Maret 2004, berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01.PR.07.04 Tahun 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi, maka sejak saat itulah istilah Karantina Imigrasi berubah menjadi Rudenim. Berdasarkan ketentuan pasal 81 ayat
(1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian menyebutkan bahwa Rumah Detensi Imigrasi dapat dibentuk di Ibukota negara, provinsi, kabupaten atau kota. Saat ini Rumah Detensi Imigrasi Rumah Detensi Imigrasi berada di 13 (tiga belas) kota di wilayah Indonesia, yaitu: Jakarta, Medan, Pekanbaru, Batam, Semarang, Surabaya, Pontianak, Balikpapan, Manado, Denpasar, Kupang, Makasar dan Jayapura. Khusus Rumah Detensi Imigrasi Batam sejak tahun 2010 satuan kerjanya telah ditiadakan bersamaan dengan diberlakukannya satuan kerja Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjung Pinang berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.HH-11.OT.01.01 Tahun 2009 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi.
Rumah Detensi Imigrasi dibangun karena meningkatnya arus migrasi antar negara yang signifikan. Lalu lintas orang yang keluar dan masuk ke
wilayah Indonesia berpotensi menimbulkan permasalahan keimigrasian terhadap kedatangan dan keberadaan orang asing di Indonesia yang memerlukan upaya penegakan hukum keimigrasian yang bersifat administratif bagi orang asing yang melakukan pelanggaran keimigrasian.
Rumah Detensi Imigrasi mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di bidang pendetensian orang asing yang melanggar peraturan perundang-undangan yang dikenakan tindakan keimigrasian yang telah mendapatkan keputusan pendetensian dalam rangka pemulangan atau deportasi.
Dalam rangka menyelenggarakan tugas tersebut, Rumah Detensi Imigrasi mempunyai fungsi:
a. Melaksanakan tugas penindakan; b. Melaksanakan tugas pengisolasian;
c. Melaksanakan tugas pemulangan dan pengusiran/deportasi.
B. Deskripsi Singkat
Dalam modul best practise yang terdiri dari (6) enam bab, pembaca akan diajak untuk berpikir secara kritis terkait pemahaman tentang konsep Rumah Detensi Imigrasi, pengelolaan Rumah Detensi Imigrasi, penggunaan information technology (IT) dalam rangka mendukung pengelolaan Rumah Detensi Imigrasi dan kami tambahkan inventarisasi permasalahan pendetensian dan deportasi beserta solusinya atas permasalahan yang dimaksud. Semoga konsep-konsep dan berbagai ilustrasi yang disajikan akan menjadi sumber inspirasi serta semakin menguatkan motivasi para pembaca untuk menampilkan kinerja optimal sebagai aparatur negara dalam memberikan pelayanan kepada deteni yang berdimensi hak asasi manusia, sekaligus mendorong aparatur sipil negara (ASN) menjadi aparatur yang kreatif dan inovatif dalam mendukung pelaksananaan tugas dan fungsi Rumah Detensi Imigrasi di masa mendatang.
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari modul best practise berjudul Pendetensian dan Deportasi, tujuan pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan pegawai Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tentang pendetensian dan deportasi.
D. Materi Pokok
Materi pokok yang dibahas dalam modul ini adalah: I. Konsep Rumah Detensi Imigrasi
A. Apa Itu Rumah Detensi Imigrasi.
B. Perbedaan Rumah Detensi Imigrasi Dan Ruang Detensi Imigrasi C. Kriteria Penghuni Rumah Detensi Imigrasi dan Ruang Detensi Imigrasi.
1. Kriteria Penghuni Rumah Detensi Imigrasi. 2. Kriteria Penghuni Ruang Detensi Imigrasi.
3. Kondisi Penempatan Deteni Ke Rumah Detensi Imigrasi Tanpa Melalui Ruang Detensi Imigrasi.
D. Kondisi Deteni Dikeluarkan Sementara Dari Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi.
E. Masa Berakhir Orang Asing Penghuni Rumah Detensi Atau Ruang Detensi Imigrasi.
F. Kondisi Masa Pendetensian Penghuni Rumah Detensi Imigrasi Terlampaui.
G. Perlindungan Hak Asasi Manusia Bagi Deteni. H. Kewajiban Deteni
II. Pengelolaan Rumah Detensi Imigrasi A. Pendetensian.
B. Pelayanan Deteni.
C. Penjatuhan Sanksi Pelanggaran Tata Tertib. D. Pemindahan Deteni.
E. Penanganan Kelahiran, Kematian, Pelanggaran, Mogok Makan, Pemeriksaan Kesehatan Dan Melarikan Diri.
F. Pemulangan Dan Deportasi.
1. Tahapan Proses Pemulangan Dan Deportasi. 2. Perbedaan Deportasi Dan Pemulangan.
3. Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan (SOPAP) Deportasi Deteni.
a) Aplikasi Penanganan Deteni (Simkim versi 2) A. Pengenalan Aplikasi Penanganan Deteni. B. Manfaat Aplikasi Penanganan Deteni.
b) Permasalahan dan Solusi Atas Permasalahan Pendetensian dan Deportasi
A. Permasalahan Pendetensian dan Deportasi 1. Permasalahan Pendetesian.
2. Permasalahan Deportasi.
B. Solusi Atas Permasalahan Pendetensian dan Deportasi 1. Solusi Atas Permasalahan Pendetesian.
2. Solusi Permasalahan Deportasi. c) Penutup
1. Kesimpulan. 2. Saran.
E. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dengan mempelajari modul ini adalah: 1. Dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan di bidang keimigrasian,
terutama pendetensian dan deportasi.
2. Dapat dijadikan bahan penulisan untuk mengembangkan kompetensi pegawai dalam membuat skripsi, thesis, karya tulis atau karya ilmiah hasil penelitian pengkajian, survei, evaluasi, tinjauan atau ulasan ilmiah dengan gagasan sendiri di bidang keimigrasian.
3. Dapat dijadikan pedoman bagi Petugas maupun Pejabat Imigrasi dalam melaksanakan tugas di Rumah Detensi Imigrasi.
F.
Petunjuk Belajar
Dalam proses pembelajaran modul best practise berjudul “Pendetensian dan Deportasi”, untuk mencapai tujuan pembelajaran secara baik, peserta disarankan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membaca secara cermat dan seksama serta mempelajari semua materi dalam modul ini secara berurutan mulai dari bab 1-V.
2. Belajarlah secara mandiri maupun berkelompok dengan cara berdiskusi. 3. Anda disarankan mempelajari bahan-bahan dari sumber-sumber lain
yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, seperti yang tertera pada Daftar Pustaka di dalam modul ini, dan jangan segan-segan bertanya kepada siapapun yang memiliki pengetahuan tentang pendetensian dan deportasi.
BAB II
KONSEP RUMAH DETENSI IMIGRASI
Setelah membaca bab ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan konsep Rumah Detensi Imigrasi
A. Apa Itu Rumah Detensi Imigrasi
Rumah itu bukan hanya sebuah bangunan untuk ditempati namun rumah memiliki makna yang sangat dalam. Konsep rumah sebagai tempat yang dapat menciptakan kenyamanan, kehangatan dan kebahagiaan dalam hati. Rumah bukan hanya diartikan sebuah bangunan namun dapat disebut sebagai tempat ternyaman di dunia karena orang-orang yang berada di dalam rumah menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik sehingga setiap penghuni rumah saling berbagi cerita keluh kesah. Bangunan semewah apapun belum tentu menciptakan rasa nyaman dan bahagia apabila orang- orang yang berada di dalam rumah berhasil menciptakan kenyamanan saat berada di dalam rumah.
Hubungan antara konsep rumah dengan Rumah Detensi Imigrasi adalah memberikan rasa nyaman kepada para penghuni yang tinggal di Rumah Detensi Imigrasi dikarenakan para deteni saling berbagi cerita tentang pengalaman hidupnya serta menganggap para penghuni Rumah Detensi Imigrasi merupakan bagian dari keluarga.
Pada tahun 2004, istilah Karantina Imigrasi berubah menjadi Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim). Konsep diberikan nama atau istilah Rumah Detensi Imigrasi dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut:
1. Orang asing yang melanggar Undang-Undang Imigrasi akan dideportasi ke negara asal deteni yang berarti mereka membutuhkan tempat
penampungan sementara dalam rangka menunggu proses pelaksanaan deportasi ke negara asalnya.
2. Deteni yang ditempatkan di Rumah Detensi Imigrasi mengingatkan rasa kangen terhadap keluarganya dan akan berkumpul bersama keluarganya di negara asalnya setelah dideportasi.
Rumah Detensi Imigrasi dibangun karena meningkatnya lalu lintas orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama pelanggaran keimigrasian. Berdasarkan ketentuan pasal 3 Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01.PR.07.04 Tahun 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi menyebutkan bahwa Rumah Detensi Imigrasi mempunyai fungsi adalah melaksanakan tugas penindakan, pengisolasian dan pemulangan dan pengusiran atau deportasi. Berdasarkan ketentuan pasal 4 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.HH-11.OT.01.01 Tahun 2009 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi menyebutkan bahwa Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjung Pinang menyelenggarakan fungsi yaitu:
a. Pelaksanaan tugas pendetensian, pengisolasian dan pendeportasian. b. Pelaksanaan tugas pemulangan dan pengusulan penangkalan. c. Pelaksanaan fasilitasi penempatan orang asing ke negara ketiga. d. Pelaksanaan pengelolaan tata usaha.
Sehubungan dengan implementasi fungsi Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjung Pinang sebagaimana diatur dalam huruf c, sampai saat ini tidak ada instrumen yang memberikan kewenangan pada Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjung Pinang dalam rangka pelaksanaan fasilitasi penempatan orang asing ke negara ke tiga.
B. Perbedaan Rumah Detensi Imigrasi dan Ruang Detensi Imigrasi
Rumah Detensi Imigrasi Ruang Detensi ImigrasiBerbentuk sebuah ruang sel yang jumlah ruangannya banyak, misalnya Rumah Detensi Imigrasi Jakarta berjumlah 51 sel.
Berbentuk suatu ruangan tertentu dan ruangan selnya berjumlah 1-2 kecuali ruang sel di Direktorat Jenderal Imigrasi berjumlah 5 ruang.
Unit pelaksana teknis yang berada di bawah Direktorat Jenderal Imigrasi
Bagian dari Kantor Direktorat Jenderal Imigrasi, Kantor Imigrasi atau Tempat Pemeriksaan Imigrasi Masa pendetensian dalam jangka
waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun.
Masa pendetensian dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari.
C. Kriteria Penghuni Rumah Detensi Imigrasi Dan Ruang Detensi
Imigrasi
Pejabat Imigrasi berwenang menempatkan orang asing dalam Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi. Ruang Detensi Imigrasi berbentuk suatu ruangan tertentu dan merupakan bagian dari kantor Direktorat Jenderal, Kantor Imigrasi, atau Tempat Pemeriksaan Imigrasi. Pendetensian orang asing pada Rumah Detensi Imigrasi adalah wewenang Kepala Rumah Detensi Imigrasi sesuai surat keputusan tindakan keimigrasian yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Imigrasi, Kepala Divisi Keimigrasian atau Direktur Jenderal Imigrasi Up. Direktur Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian. Pendetensian orang asing pada Ruang Detensi Imigrasi di Kantor Imigrasi adalah wewenang Kepala Kantor Imigrasi sesuai surat keputusan tindakan keimigrasian yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Imigrasi.
1. Kriteria Penghuni Rumah Detensi Imigrasi
Pendetensian terhadap orang asing dalam Rumah Detensi Imigrasi, jika orang asing tersebut :
a. Berada di wilayah Indonesia tanpa memiliki Izin Tinggal yang sah atau memiliki Izin Tinggal yang tidak berlaku lagi.
b. Berada di wilayah Indonesia tanpa memiliki Dokumen Perjalanan yang sah.
c. Dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berupa pembatalan izin tinggal berupa pembatalan izin tinggal karena melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang- undangan atau mengganggu keamanan dan ketertiban.
d. Menunggu pelaksanaan Deportasi.
e. Pemindahan dari Ruang Detensi Imigrasi.
2. Kriteria Penghuni Ruang Detensi Imigrasi Pendetensian terhadap orang asing dalam Rumah Detensi Imigrasi, jika orang asing tersebut:
a. Berada di wilayah Indonesia tanpa memiliki izin tinggal yang sah atau memiliki izin tinggal yang tidak berlaku lagi.
b. Berada di wilayah Indonesia tanpa memiliki dokumen perjalanan yang sah.
c. Dikenai Tindakan Administratif Keimigrasian berupa pembatalan Izin Tinggal karena melakukan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum.
d. Menunggu pelaksanaan deportasi.
e. Menunggu keberangkatan keluar wilayah Indonesia karena ditolak pemberian tanda masuk.
3. Kondisi Penempatan Deteni Ke Rumah Detensi Imigrasi Tanpa Melalui Ruang Detensi Imigrasi
a. Melebihi kapasitas penempatan orang asing di Ruang Detensi Imigrasi, contohnya: ruang detensi Imigrasi di Kantor Imigrasi setempat penuh dikarenakan banyaknya orang asing yang didetensi pada saat dilakukan operasi gabungan Tim Pengawasan Orang Asing (TIMPORA).
b. Prinsip efektifitas dan efisiensi untuk sejak awal ditempatkan dalam Rumah Detensi Imigrasi, contohnya: orang asing yang didetensi tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah dan berlaku.
C. Kondisi Deteni Dikeluarkan Sementara Dari Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi
Kepala Rumah Detensi Imigrasi atau Kepala Kantor Imigrasi dapat melakukan pengeluaran sementara bagi orang asing penghuni Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi, apabila kondisi:
a) Deteni keluarga. b) Deteni yang sakit.
c) Deteni yang akan melahirkan.
D. Masa Berakhirnya Orang Asing Penghuni Rumah atau Ruang
Detensi Imigrasi
Masa berakhirnya deteni atau orang asing penghuni Rumah Detensi atau Ruang Detensi Imigrasi, antara lain :
1. Deteni telah memiliki Dokumen Perjalanan yang sah dan masih berlaku. 2. Deteni telah diberikan persetujuan oleh perwakilan negara asal deteni
berupa penerbitan Emergency Travel Document (ETD) bagi deteni yang tidak memiliki dokumen perjalanan negara asing.
3. Deteni telah mempersiapkan tiket untuk pulang ke negara asal.
4. Petugas Rumah Detensi atau Ruang Detensi Imigrasi telah mempersiapkan surat keputusan pendeportasian dan surat Perintah Pengeluaran Deteni.
5. Petugas Rumah Detensi atau Ruang Detensi Imigrasi telah mempersiapkan Surat Perintah Pengawalan untuk petugas dan Surat Pengantar Deportasi kepada Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) yang dituju.
E. Kondisi Masa Pendetensian Penghuni Rumah Detensi Imigrasi
Terlampaui
Orang Asing yang telah berada di Rumah Detensi Imigrasi untuk waktu 10 (sepuluh) tahun atau lebih dapat diberikan izin berada di luar Rumah Detensi Imigrasi dan dikecualikan dari kewajiban memiliki Izin Tinggal berdasarkan permohonan. Permohonan tersebut diajukan oleh Deteni kepada Kepala Rumah Detensi Imigrasi dengan mengisi aplikasi data dan melampirkan persyaratan:
1. Alamat deteni.
2. Surat pernyataan yang memuat kesediaan wajib melapor kepada Kepala Rumah Detensi Imigrasi atau Kepala Kantor Imigrasi yang membawahi tempat tinggalnya. Kewajiban deteni melapor mengenai:
1. Keberadaannya secara periodik setiap 1 (satu) bulan. 2. Perubahan status sipil, pekerjaan, atau alamat. 3. Surat keterangan bertempat tinggal dari rukun tetangga.
F.
Perlindungan Hak Asasi Manusia Bagi Deteni
Dalam rangka sebagai upaya mewujudkan pemenuhan, penghormatan terhadap hak asasi manusia sebagaimana diatur dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 dan kemudian diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui penerbitan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bahwa setiap orang tanpa mengenal identitas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) wajib dijunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Salah satu subjek yang memerlukan pemenuhan terhadap hak asasi manusia adalah deteni yang saat ini berada di Rumah Detensi Imigrasi di seluruh Indonesia.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mengatur 10 (sepuluh) jenis Hak Asasi Manusia antara lain:
1. Hak untuk hidup diatur dalam pasal 9.
2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan diatur dalam pasal 10. 3. Hak mengembangkan diri diatur dalam pasal 11.
4. Hak memperoleh keadilan diatur dalam pasal 17. 5. Hak atas kebebasan pribadi diatur dalam pasal 20. 6. Hak atas rasa aman diatur dalam pasal 28.
7. Hak atas kesejahteraan diatur dalam pasal 36.
8. Hak turut serta dalam pemerintahan diatur dalam pasal 43. 9. Hak wanita diatur dalam pasal 45.
Berkaitan dengan penempatan deteni di Rumah Detensi Imigrasi, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban mengkoordinasikan dan memberikan petunjuk pelaksanaan tugas terhadap bawahannya di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) terutama dalam hal memberitahukan hak dan kewajiban deteni. Dengan demikian, setiap Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) yang tersebar di 13 (tiga belas) kota di wilayah Indonesia telah memberikan penghormatan, pemenuhan dan perlindungan hak asasi manusia bagi para deteni.
Hak deteni, antara lain:
1. Melaksanakan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing dalam waktu dan tempat yang telah disediakan.
2. Mendapatkan perawatan, baik perawatan rohani maupun jasmani. 3. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak. 4. Keluhan deteni ditanggapi.
5. Menerima kunjungan keluarga, sponsor, penasihat hukum, rohaniawan, dokter perwakilan negara.
Berkaitan dengan perlindungan Hak Asasi Manusia bagi deteni maka pemenuhan kebutuhan dasar tersebut antara lain persediaan air bersih, penyediaan kebutuhan makanan dan minuman, kesehatan dan kebersihan, ibadah, kunjungan dan penyegaran atau hiburan menjadi hal mutlak yang harus disediakan oleh setiap Rumah Detensi Imigrasi di Indonesia. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut maka akan tercipta pelayanan deteni yang berdimensi hak asasi manusia.
G. Kewajiban Deteni
Berikut ini adalah kewajiban deteni, meliputi:
a) Menaati peraturan tata tertib yang berlaku. b) Memelihara perikehdupan yang aman dan tertib. c) Memelihara barang inventaris.
d) Menghormati hak orang lain.
e) Memberikan keterangan yang benar kepada petugas Rumah Detensi Imigrasi.
BAB III
PENGELOLAAN RUMAH DETENSI IMIGRASI
Setelah membaca bab ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan pengelolaan Rumah Detensi Imigrasi
Bahwa kata “pengelolaan” dapat disamakan dengan manajemen, yang berarti pula pengaturan atau pengurusan (Suharsimi Arikunto, 1993:31). Pengelolaan diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan atau usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan serangkaian kerja dalam mencapai tujuan tertentu.
Dalam rangka mendukung terciptanya pengaturan dan penataan yang berkaitan dengan pengelolaan Rumah Detensi Imigrasi seperti: pendetensian, pelayanan deteni, penjatuhan sanksi pelanggaran tata tertib, pemindahan deteni, penanganan kelahiran, kematian, pelanggaran, mogok makan, pemeriksaan kesehatan dan melarikan diri maka peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemanfaatan sumber daya lainnya seharusnya dapat dimaksimalkan guna mewujudkan Rumah Detensi Imigrasi yang maju dan profesional.
A. Pendetensian
1. Penerimaan
1. Penerimaan calon deteni dari Direktorat Jenderal Imigrasi, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia u.p Divisi Keimigrasian, dan atau Kantor Imigrasi dilakukan di Rumah Detensi Imigrasi oleh Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan atau petugas yang ditunjuk.
2. Terhadap penerimaan calon deteni tersebut, Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, atau petugas yang ditunjuk harus memeriksa kelengkapan administrasi yang menyertai dengan penyerahan calon deteni.
3. Kelengkapan administratif bagi calon deteni yang akan ditempatkan dalam Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi, meliputi :
a) Surat Keputusan Tindakan Administratif Keimigrasian. b) Berita Acara Serah Terima calon deteni yang dilampiri:
i. Berita acara pemeriksaan dan berita acara pendapat. ii. Dokumen perjalanan bagi calon deteni yang memiliki. iii. Barang-barang Milik Calon Deteni.
4. Dalam hal kelengkapan administrasi bagi calon deteni tidak terpenuhi, Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, atau petugas yang ditunjuk untuk menolak penerimaan deteni berdasarkan perintah Kepala Rudenim, yang kemudian ditindaklanjuti dengan membuat surat penolakan yang ditandatangani oleh Kepala Rudenim.
5. Dalam hal kelengkapan administrasi bagi calon deteni terpenuhi, Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, atau petugas yang ditunjuk menyerahkan calon deteni kepada Kepala Seksi Kesehatan, Kepala Seksi Perawatan dan Kesehatan, atau petugas yang ditunjuk untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan calon deteni setelah ada rekomendasi medis.
6. Untuk pemeriksaan calon Deteni perempuan, dapat dilakukan pula pemeriksaan kehamilan oleh petugas kesehatan yang ditunjuk. 7. Terhadap hasil pemeriksaan kesehatan calon Deteni, diketahui
hamil dan/atau mengidap penyakit menular dan berbahaya, petugas kesehatan atau petugas yang ditunjuk membuat surat
keterangan hasil pemeriksaan kesehatan yang ditujukan kepada Kepala Bidang Registrasi atau Kepala Rudenim.
8. Terhadap calon Deteni yang hamil, sakit, anak, dapat ditempatkan di tempat lain di luar Rudenim yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Rudenim.
9. Deteni yang telah dinyatakan lengkap persyaratan administrasinya dan hasil pemeriksaan kesehatannya dinyatakan baik, ditindaklanjuti oleh Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, atau petugas yang ditunjuk dengan menerbitkan Berita Acara Serah Terima sejumlah dua rangkap dan ditandatangani, dengan rincian:
a) Satu rangkap diserahkan kepada Direktorat Jenderal Imigrasi, Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia u.p. Divisi Keimigrasian, atau Kantor Imigrasi sebagai pengirim.
b) Satu rangkap lainnya pertinggal pada Bidang Registrasi dan Perawatan atau Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan.
2. Registrasi
a) Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi mengajukan keputusan pendetensian kepada Kepala Rudenim.
b) Kepala Rudenim menandatangani keputusan pendetensian.
c) Berdasarkan keputusan pendetensian, petugas registrasi melakukan registrasi dengan tahapan meliputi:
(1) Mengidentifikasi dan memverifikasi identitas diri deteni;
(2) Melakukan penggeledahan terhadap badan deteni berikut barang bawaannya. Dalam hal penggeledahan terhadap deteni wanita dilakukan oleh petugas wanita;
(3) Apabila dalam penggeledahan ditemukan barang bawaan berupa alat komunikasi (telepon seluler, portable computer, tablet, uang, dokumen perjalanan dan barang lainnya yang dapat membahayakan diri sendiri dan/atau orang lain (seperti
gunting, pisau dan sejenisnya) harus diamankan petugas dan kepada Deteni diberikan surat tanda penerimaan berdasarkan pertimbangan Kepala Rudenim.
(4) Melakukan input data meliputi registrasi manual dan elektronik. Registrasi manual terdiri atas:
a) Pemberian nomor berkas.
b) Pencatatan data pada buku registrasi. c) Pengambilan foto dan sidik jari.
d) Pencatatan data pada kartu deteni sejumlah dua rangkap.
e) Penyimpanan dan pengamanan barang bawaan. 5) Pengambilan data biometrik foto dan sidik jari.
6) Pemindaian dokumen Laporan Kejadian (LK) yang terlampir pada Berita Acara Serah Terima.
7) Inventarisasi barang titipan termasuk dokumen perjalanan yang dimiliki Deteni, yang terlampir pada Berita Acara Serah Terima.
8) Pemeriksaan kesehatan Deteni sebelum penempatan dalam ruangan.
9) Penerbitan Surat Perintah Pendetensian untuk penempatan Deteni.
10) Penerbitan surat pemberitahuan kepada perwakilan negara asal Deteni dalam rangka pendeportasian/pemulangan dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Imigrasi dan Kepala Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
d) Setelah selesainya proses registrasi sebagaimana dimaksud pada huruf c), Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan, Kepala Subseksi Registrasi atau petugas registrasi yang ditunjuk melaporkan kepada Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan.
e) Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan atau petugas yang ditunjuk lebih lanjut menyerahkan deteni kepada Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban atau petugas yang ditunjuk untuk penempatan pada kamar/ruang di Rudenim.
3. Perawatan
a) Kepala Seksi Perawatan, Kepala Sub Seksi Perawatan atau petugas perawatan yang ditunjuk mempersiapkan kebutuhan makan dan minum deteni, peralatan tidur, mandi dan cuci, serta perlengkapan ibadah.
b) Kepala Seksi Perawatan, Kepala Sub Seksi Perawatan atau petugas perawatan yang ditunjuk dapat juga memberikan kebutuhan lain seperti olahraga, rekreasi, atau buku bacaan.
c) Kepala Seksi Perawatan, Kepala Sub Seksi Perawatan atau petugas perawatan yang ditunjuk melaporkan kepada Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan.
d) Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan menyerahkan deteni kepada Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban untuk penempatan pada kamar/ruang di Rudenim.
4. Penempatan
a) Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban menerima deteni dari Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan dengan kelengkapan daftar deteni, dan dicatatkan dalam buku ekspedisi.
b) Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban menugaskan Kepala Seksi Penempatan atau Kepala Subseksi ketertiban untuk :
1) Menyiapkan tempat/blok/ruangan 2) Menempatkan deteni sesuai klasifikasi :
a. Jenis kelamin. b. Status deteni. c. Agama. d. Keamanan.
e. Status ada atau tidak adanya cacat fisik atau cacat jiwa pada deteni
3) Membuat daftar nama pada tempat/blok/ruangan dimana deteni ditempatkan.
4) Kepala Seksi Penempatan atau Kepala Subseksi Ketertiban menyerahkan daftar deteni penghuni tempat/blok/ruangan kepada Kepala Seksi Keamanan atau Kepala Subseksi Ketertiban dalam rangka pengamanan.
5. Pengamanan
a) Kepala Seksi Keamanan atau Kepala Subseksi Keamanan menyiapkan jadwal penjagaan tempat/blok/ruangan dan lingkungan kantor dengan sistem bergilir.
b) Membentuk regu pengamanan/penjagaan yang wilayah penjagaannya berganti secara rutin.
c) Membentuk regu pengawalan yang bertugas melakukan pengawalan terhadap deteni yang keluar dari Rudenim untuk keperluan antara lain deportasi, dipindahkan ke Rudenim lain, berobat, keperluan ke perwakilan negaranya atau dibutuhkan dalam rangka kepentingan pemeriksaan di Direktorat Jenderal Imigrasi sesuai kebutuhan dan pertimbangan keamanan.
d) Dalam hal terjadi pelanggaran tata tertib dan/atau gangguan keamanan yang dilakukan oleh deteni, Kepala Seksi Keamanan atau Kepala Subseksi Keamanan dapat menempatkan deteni di ruang isolasi.
e) Membuat laporan mengenai perkembangan situasi keamanan lingkungan Rudenim dan pelaksanaan pengamanan kepada Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban untuk diteruskan kepada Kepala Rudenim.
f) Berkaitan dengan perawatan kesehatan deteni, Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban bekerjasama dengan Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan atau Seksi Perawatan dan kesehatan untuk pelayanan kesehatan secara berkala dan berkesinambungan.
B. Pelayanan Deteni
a. Persediaan Air Bersih
Kepala Bidang Registrasi, Perawatan dan Kesehatan atau Seksi Perawatan dan Kesehatan bertugas untuk mengupayakan tersedianya air bersih yang cukup.
b. Penyediaan kebutuhan
Kepala Bidang Registrasi, Perawatan dan Kesehatan atau Seksi Perawatan dan Kesehatan bertugas menyediakan:
1) Makanan dan minuman yang layak sebanyak 3 (tiga) kali sehari. 2) Makanan tambahan untuk kesehatan atau daya tahan tubuh Deteni
(extra fooding).
3) Pengaturan pemberian makanan, seperti cara pembagian, jadwal makan deteni yang menjalankan ibadah keagamaan, seperti puasa, disesuaikan dengan waktu sahur dan berbuka.
4) Pemberian jenis makanan dan minuman tertentu bagi deteni berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan.
5) Pemberian makanan dan minuman bagi deteni yang datang untuk ditempatkan di Rudenim diluar jam makan, berdasarkan rekomendasi Kepala Rudenim.
c. Kesehatan dan Kebersihan
Kepala Bidang Registrasi, Perawatan dan Kesehatan atau seksi Perawatan dan Kesehatan bertugas mengupayakan kesehatan dan kebersihan dengan melakukan:
1) Pemeriksaan kesehatan deteni secara rutin.
2) Dalam hal kondisi kesehatan deteni tidak dapat ditangani oleh petugas kesehatan rudenim, pemeriksaan kesehatan deteni dapat dilakukan di klinik, puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
3) Bagi deteni dalam kondisi kesehatan kritis, dapat diberikan fasilitas pemeriksaan kesehatan di Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit. 4) Deteni yang mengidap penyakit akut, dapat dirawat di rumah sakit. 5) Fasilitas sebagaimana dimaksud pada angka 2) sampai dengan
angka 4) harus mendapatkan izin dari Kepala Rudenim.
6) Setiap tempat, blok, atau ruangan di Rudenim dilakukan perawatan kebersihan untuk pencegahan penularan penyakit, seperti pengasapan (foging) untuk mencegah berkembangnya penyakit demam berdarah, penyebaran kutu, atau serangga.
7) Menyiapkan peralatan mandi, mencuci dan kebersihan ruangan. d. Ibadah
Kepala Bidang Registrasi, Perawatan dan Kesehatan atau seksi perawatan dan kesehatan bertugas:
a) Memfasilitasi agar deteni dapat beribadah menurut agama dan kepercayaannya disesuaikan dengan kondisi Rudenim.
b) Pelaksanaan hari raya keagamaan yang tidak dapat dilaksanakan dalam Rudenim dapat difasilitasi untuk dilaksanakan di luar Rudenim atau izin Kepala Rudenim dengan tetap mempertimbangkan kondisi keamanan.
e. Kunjungan
Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban bertugas:
a) Memfasilitasi kunjungan keluarga, penasehat hukum dan dokter, rohaniawan, dan penjamin setelah mendapatkan izin dari Kepala Rudenim.
b) Selain memfasilitasi kunjungan sebagaimana dimaksud pada angka 1), juga memfasilitasi kunjungan perwakilan negara deteni, instansi/badan terkait, organisasi, lembaga baik nasional maupun internasional yang tugasnya terkait dengan penanganan deteni setelah mendapatkan persetujuan dari Direktorat Jenderal Imigrasi atau Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. c) Kunjungan jurnalistik hanya dapat melakukan dokumentasi tanpa
wawancara terhadap deteni dan harus ada izin Kepala Rudenim. d) Melakukan pencatatan dalam buku tamu, memuat nomor urut,
nama, jenis kelamin dan alamat lengkap pengunjung, pekerjaan, maksud dan tujuan kunjungan tanggal dan jam kunjungan serta nama lengkap deteni yang dikunjungi.
e) Memberikan atau menolak permohonan izin keluar kantor sementara yang diajukan oleh deteni karena kepentingan pemeriksaan keimigrasian atau kesehatan, keperluan, pembuatan dokumen perjalanan kunjungan keluarga (perkawinan, kelahiran, kematian, atau keluarga sakit keras) yang bertempat tinggal di Indonesia. f) Apabila permohonan izin keluar sementara disetujui, Kepala
Rudenim menerbitkan surat izin keluar sementara dengan mencantumkan tujuan dan jangka waktu kunjungan.
g) Pelaksanaan izin keluar sementara dilaksanakan dengan pengawalan petugas Rudenim.
f. Penyegaran/hiburan
Deteni diberikan waktu untuk kegiatan penyegaran/hiburan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi antara jumlah deteni dan fasilitas yang tersedia. Penyegaran atau hiburan tersebut antara lain:
a) Senam pagi dan olah raga dalam rangka menjaga keehatan jasmani.
b) Penyediaan buku dan ruang tempat membaca.
C. Penjatuhan Sanksi Pelanggaran Tata Tertib
Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban memberikan:
1. Teguran Lisan
1. Deteni yang melakukan pelanggaran tata tertib dipanggil oleh Kepala Seksi Keamanan atau Kasubsi Keamanan untuk diberikan peringatan.
2. Deteni yang melakukan pelanggaran lebih dari 1 (satu) kali, dipanggil oleh Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban untuk diberi peringatan dan menandatangani surat pernyataan tidak akan melakukan pelanggaran tata tertib.
2. Teguran Tertulis
1. Terhadap deteni yang melakukan pelanggaran berulang-ulang dan/ atau pelanggaran berat, dilakukan pemeriksaan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh Kepala Seksi Keamanan atau Kepala Sub Seksi Keamanan.
2. Hasil BAP ditindaklanjuti Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban dengan pembuatan Berita Acara Pendapat.
3. Berita Acara Pendapat memuat rangkuman jenis perbuatan pelanggaran yang dilakukan deteni dan rekomendasi sanksi yang perlu dijatuhkan oleh Kepala Rudenim.
4. Kepala Rudenim menjatuhkan sanksi sesuai rekomendasi dalam Berita Acara Pendapat atau berdasarkan pertimbangannya, yang dapat berupa teguran secara lisan atau teguran tertulis berupa pengisolasian (sel) atau pencabutan hak tertentu dalam waktu yang ditentukan.
5. Dalam bentuk teguran tertulis berupa pengisolasian atau straf sel diajukan oleh Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban secara tertulis kepada Kepala Rudenim.
D. Pemindahan Deteni
1. Pemindahan antar kamar sel
a) Pengajuan pemindahan blok/kamar sel diajukan oleh Kepala Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan dan Deportasi atau Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban kepada Kepala Rudenim. b) Pengajuan usulan pemindahan tersebut berdasarkan alasan yang
jelas dan rasional.
c) Pelaksanaan pemindahan dilakukan dengan pengawalan oleh petugas Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan dan Deportasi atau Seksi Keamanan dan Ketertiban.
2. Pemindahan Antar Rudenim
Pemindahan Deteni antar Rudenim dilakukan berdasarkan pertimbangan: a) Memudahkan pemulangan atau pendeportasian.
b) Memudahkan untuk berhubungan dengan perwakilan negaranya. c) Deteni dalam keadaan sakit (atas rujukan dokter ke rumah sakit
tertentu).
d) Melebihi kapasitas (over capacity). e) Kepentingan keamanan.
f) Penyatuan keluarga deteni. Prosedur Pemindahan Antar Rudenim Pelaksanaan pemindahan dilakukan dengan:
1) Membuat Surat Permohonan Pemindahan. 2) Menerbitkan surat pengeluaran deteni. 3) Membuat Surat Tugas Pengawalan.
4) Membuat Berita Acara Serah Terima Deteni. 3. Pemindahan dari Rudenim ke tempat lain
Pemindahan Deteni dapat dilakukan dari Rumah Detensi Imigrasi ke ”tempat lain” dengan pertimbangan sakit, hamil atau anak di bawah umur berdasarkan perintah Direktur Jenderal Imigrasi, dengan cara:
a) Menerbitkan Surat Perintah Pengeluaran Deteni. b) Membuat Surat Tugas Pengawalan.
4. Pemindahan dari Rudenim ke Direktorat Jenderal Imigrasi
a) Pemindahan Deteni dapat dilakukan dari Rumah Detensi Imigrasi ke Ruang Detensi Imigrasi Direktorat Jenderal Imigrasi untuk kepentingan pemeriksaan keimigrasian berdasarkan perintah Direktur Jenderal Imigrasi.
b) Prosedur pengeluaran dan pemindahan dilaksanakan sebagaimana tahapan pemindahan Deteni antar Rumah Detensi Imigrasi.
E. Penanganan Kelahiran, Kematian, Pelanggaran, Mogok Makan,
Pemeriksaan Kesehatan Dan Melarikan Diri
Terhadap calon Deteni yang hamil, sakit, anak, dapat ditempatkan di tempat lain di luar Rudenim yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Rudenim.
1) Kelahiran
Dalam hal adanya kelahiran Deteni dicatat oleh Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan/Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan guna penanganan lebih lanjut.
2) Kematian Deteni
Dalam hal adanya kematian Deteni dilaporkan oleh Kepala Bidang Registrasi dan Perawatan/Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan kepada Kepolisian guna penanganan lebih lanjut.
Prosedur Penanganan Kematian Deteni:
a) Petugas pengamanan melakukan pengamanan Tempat Kejadian Perkara (TKP).
b) Membuat Berita Acara Kematian.
c) Membuat Surat Pemberitahuan Kematian Deteni kepada Kepolisian dengan tembusan yang ditujukan kepada Perwakilan negara asal Deteni, Direktur Jenderal Imigrasi dan Kantor Wilayah.
d) Membuat adminstrasi pencatatan kematian memuat data deteni yang meninggal, antara lain:
1. Nama lengkap; 2. Kebangsaan;
3. Tempat/tanggal lahir;
4. Hari, tanggal, waktu, dan tempat kematian; 5. Penyebab kematian;
6. Langkah penanganan;
7. Nama dan alamat keluarga/perwakilan negara asal Deteni; 8. Riwayat medis singkat;
9. Keterangan.
e) Petugas Kepolisian dalam rangka penyelidikan kematian dapat meminta keterangan dari Petugas Rumah Detensi Imigrasi dan deteni dengan terlebih dahulu mendapatkan izin Kepala Rumah Detensi Imigrasi.
3) Pelanggaran Deteni
Petugas Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan dan Deportasi atau Seksi Keamanan dan Ketertiban melakukan tindakan terhadap pelanggaran yang dilakukan Deteni yang tidak mematuhi tata tertib Rumah Detensi Imigrasi.
Penanganan yang dapat dilakukan:
a. Penanganan pelanggaran tata tertib ringan dengan cara persuasif. b. Apabila cara persuasif tidak berhasil, dapat dilakukan tindakan
represif;
c. Alat pengamanan yang bersifat melumpuhkan seperti alat kejut listrik, tongkat, borgol dan lain-lain dapat digunakan dalam keadaan yang mendesak seperti kerusuhan dan perkelahian antar Deteni; d. Dalam hal pelarian Deteni, Kepala Bidang Penempatan, Keamanan,
Pemulangan dan Deportasi atau Seksi Keamanan dan Ketertiban melaporkan kepada Direktur Jenderal Imigrasi u.p. Direktorat Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian dengan cara:
i. Membuat Laporan Atensi dan Laporan Kejadian. ii. Membuat Daftar Pencarian Orang (DPO).
4) Mogok Makan
a) Petugas Bidang Registrasi dan Perawatan/Seksi Perawatan dan Kesehatan mencatat dan mendokumentasikan deteni yang menolak makan dalam rangka aksi mogok makan.
b) Jika deteni mogok makan selama 72 (tujuh puluh dua) jam, maka Petugas Bidang Registrasi dan Perawatan atau Seksi Perawatan dan Kesehatan harus segera menghubungi dokter.
c) Keterangan dokter menyatakan deteni benar melakukan mogok makan atau tidak.
d) Jika keterangan dokter menyatakan bahwa Deteni tidak makan karena alasan kesehatan, dokter melakukan pemeriksaan dan penanganan lanjutan.
e) Petugas Rumah Detensi Imigrasi tidak boleh memaksa Deteni yang mogok makan untuk makan.
f) Petugas Bidang Registrasi dan Perawatan/Seksi Perawatan dan Kesehatan memberikan pengobatan pada situasi yang membahayakan jiwa.
g) Kepala Rumah Detensi Imigrasi melaporkan kepada Direktur Jenderal Imigrasi pada kesempatan pertama mengenai setiap terjadi aksi mogok makan Deteni.
h) Petugas Bidang Registrasi dan Perawatan/Seksi Perawatan dan Kesehatan harus memastikan bahwa Deteni dapat mengakses makanan dan minuman walaupun mereka menolak, serta melakukan pendokumentasian pelaksanaan pemberian makanan dan minuman kepada deteni.
5) Pemeriksaan Kesehatan
a) Petugas melakukan pemeriksaan kesehatan deteni.
b) Petugas menerbitkan surat hasil pemeriksaan kesehatan deteni. 6) Melarikan Diri
Dalam hal terjadi pelarian Deteni dilakukan administrasi pelaporan dengan cara:
a) Membuat Laporan Atensi dan Laporan Kejadian. b) Membuat Berita Acara Serah Terima.
c) Membuat Daftar Pencarian Orang (DPO). d) Membuat Surat Pemberitahuan Kedutaan.
F. Pemulangan dan Deportasi
1. Tahapan Proses Pemulangan Dan Deportasi a. Persiapan
Petugas Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi atau Seksi Registrasi, Administrasi, dan Pelaporan mempersiapkan administrasi pemulangan atau Deportasi, meliputi: (1) Mempersiapkan Dokumen Perjalanan Deteni. Jika tidak
memiliki, agar mengkoordinasikannya dengan perwakilan negara asal Deteni.
(2) Tiket pesawat ke negara asal Deteni.
(3) Apabila transit di negara ketiga, untuk dipastikan Deteni tersebut dapat melalui negara transit.
(4) Memastikan tidak ada keberatan dari maskapai penerbangan. (5) Memberitahu Deteni mengenai tanggal pemulangan atau
deportasi yang bersangkutan.
(6) Memberikan kesempatan Deteni untuk menghubungi keluarga atau staf perwakilan negara asalnya guna memberitahukan tentang pemulangan atau deportasinya.
b. Pelaksanaan
Petugas Bidang Penempatan, Keamanan, Pemulangan, dan Deportasi/Seksi Registrasi, Administrasi, dan Pelaporan melakukan pemulangan atau deportasi melalui tahapan:
(1) Membuat Surat Perintah Pengeluaran Deteni dari Rumah Detensi Imigrasi.
(2) Menunjuk nama petugas yang akan mengawal Deteni selama proses pemulangan atau deportasi.
(3) Membuat Surat Perintah Tugas Pengawalan. (4) Membuat Surat Pengawasan Keberangkatan. (5) Membuat Berita Acara Serah Terima.
(6) Meminta peneraan tanda keluar di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) pada Surat Pengawasan Keberangkatan dan dokumen perjalanan Deteni.
(7) Pengawalan dan pengawasan keberangkatan Deteni dilakukan di TPI dengan berita acara serah terima dan peneraan tanda keluar pada lembar pengawasan keberangkatan.
c. Pelaporan dan Usulan Penangkalan
(1) Pelaksanaan pemulangan atau deportasi dilaporkan kepada Direktur Jenderal Imigrasi u.p. Direktur Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian dengan tembusan Kepala Divisi Keimigrasian.
(2) Pengusulan Penangkalan ditujukan kepada Direktur Jenderal Imigrasi dengan tembusan Direktur Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian.
2. Perbedaan Deportasi dan Pemulangan
Pengertian
Deportasi Pemulangan Tindakan paksa
mengeluarkan orang asing dari wilayah Indonesia (Pasal 1 Angka 36 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian) Tindakan mengembalikan orang asing dari wilayah negara Republik Indonesia ke negara asal atau ke negara ketiga (Pasal 1 Angka 3 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.HH- 11.OT.01.01
Tahun 2009 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi)
Tindakan
Bersifat Pengusiran Sukarela (tanpaada paksaan) Penempatan Orang
Asing Rumah atau Ruang Detensi Imigrasi Rumah atau Ruang Detensi Imigrasi Kode Register 2P3
(Peraturan Dirjenim Nomor: F-1002. PR.02.10 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pendetensian Orang) 2P2 (Peraturan Dirjenim Nomor: F-1002. PR.02.10 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pendetensian Orang)
3. Standar Operasional Prosedur Administrasi Pemerintahan (SOPAP) Deportasi Deteni
Berikut ini adalah uraian kegiatan SOPAP pendeportasian deteni yang dilaksanakan dari pemangku jabatan Kepala Rumah Detensi Imigrasi, Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan (RAP), Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban, Kepala Subseksi Administrasi dan Pelaporan, Pejabat Fungsional, adalah sebagai berikut :
a) Mengusulkan data deteni yang sudah siap untuk dilakukan pendeportasian.
b) Memimpin pembahasan persiapan pendeportasian deteni.
c) Menindaklanjuti hasil rapat dengan menyusun konsep surat keputusan deportasi, surat perintah pengawalan, surat bantuan pengawasan keberangkatan dan surat pengusulan penangkalan. d) Menindaklanjuti hasil rapat dengan menyusun konsep surat
perintah pengeluaran deteni.
e) Menandatangani: surat keputusan deportasi, surat perintah pengawalan, surat perintah pengeluaran deteni, surat bantuan pengawasan keberangkatan, surat pengusulan penangkalan serta memerintahkan untuk melanjutkan proses pendeportasian.
g) Menerakan cap deportasi pada dokumen perjalanan serta menyerahkan kepada Kepala Seksi Registrasi, Administrasi dan Pelaporan (RAP) untuk proses penandatanganan.
h) Pengajuan penandatangan cap deportasi.
i) Menandatangani cap deportasi dan memerintahkan pengeluaran deteni.
j) Mengeluarkan deteni dari kamar dan serah terima kepada petugas pengawalan.
BAB IV
APLIKASI PENANGANAN DETENI
Setelah membaca bab ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan aplikasi penanganan deteni
A. Aplikasi Penanganan Deteni
Dalam rangka memudahkan penanganan deteni pada Rumah Detensi Imigrasi diperlukan sebuah sistem yang berbasis teknologi informasi yang telah dimiliki oleh Direktorat Jenderal Imigrasi dan saat ini telah terintegrasi ke 13 (tiga belas) Rumah Detensi Imigrasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dalam rangka memaksimalkan fungsi aplikasi penanganan deteni diperlukan internalisasi atau pengenalan kepada seluruh pegawai Rumah Detensi Imigrasi. Proses internalisasi tersebut meliputi teknik pengoperasian aplikasi penanganan deteni dan pelaporan. Selain itu, aplikasi penanganan deteni juga memberikan manfaat bagi Petugas Rudenim dalam memudahkan proses administrasi deteni yang selama ini dikerjakan secara manual dan sistem pelaporan dapat dilaksanakan dengan cepat.
1. Pengenalan Aplikasi Penanganan Deteni
Sistem penanganan deteni merupakan aplikasi penanganan deteni dimulai sejak registrasi hingga pemulangan deteni. Dengan demikian, pembangunan aplikasi ini bertujuan untuk memudahkan dan mempercepat proses penanganan deteni serta pelaporannya.
51
1. Pengenalan Aplikasi Penanganan Deteni
Sistem penanganan deteni merupakan aplikasi
penanganan deteni dimulai sejak registrasi hingga
pemulangan deteni. Dengan demikian, pembangunan
aplikasi ini bertujuan untuk memudahkan dan
mempercepat proses penanganan deteni serta
pelaporannya.
52
Laporan
Deteni Per
Jenis
53
Klick
Maka Tampilan Hasil Pencarian :
Detail
Data
Deteni
54
Tampilan detail data deteni :
Tekan Menu Pengungsi Lalu Isi Data
Maka Tampilan Yang Muncul :
55
Klick
Maka Tampilan Hasil Pencarian :
Klick
Detail
57
Pilih Menu Pengungsi Lalu Klick
Maka
Tampilan Form Pengungsi :
58
Tampilan Konfimasi Penghapus Data :
Sistem akan menampilkan pesan SUKSES jika data
berhasil dihapus, sedangkan jika gagal sistem akan
menampilkan pesan GAGAL DIHAPUS.
59
Deteni Isolasi
Tekan menu dalam Detensi pilih menu Isolasi
60
Klick
Maka Tampilan Data Deteni :
Jika ada perubahan data deteni petugas dapat
melakukan perubahan.
Tekan tombol
untuk proses simpan,
sedangkan untuk kembali tekan tombol.
Maka sistem akan menampilkan pesan SUKSES jika
data berhasil disimpan, sedangkan jika gagal sistem
akan menampilkan pesan GAGAL DISIMPAN.
Sedangkan untuk menyetujui registrasi petugas dapat
menekan tombol
atau untuk menolak
61
Deteni Keluar Sementara
Review Register Keluar Sementara ke Atasan
[Karudenim]
62
Tekan Menu Keluar Sementara, Tampilan Daftar
Deteni Dalam Register Keluar Sementara :
63
Klick tombol
Tampilan Form Review Persetujuan Keluar
Sementara :
Petugas dapat menekan tombol
untuk
menyetujui registrasi tersebut, jika tidak menyetujui
petugas dapat menekan tombol
Maka sistem akan menampilkan pesan SUKSES jika
data berhasil disimpan, sedangkan jika gagal sistem
akan menampilkan pesan GAGAL DISIMPAN.
64
Deteni Penempatan Di Luar
Review Pengajuan Penempatan Di Luar
[KARUDENIM]
Tekan Menu Penempatan Di Luar
Tampilan Daftar Penempatan Di Luar Deteni Yang
Perlu Direview
:
65
Pilih Deteni Dengan Tekan
Kemudian petugas dapat menekan tombol
untuk menyetujui registrasi tersebut, jika tidak
menyetujui petugas dapat menekan tombol
Sistem akan menampilkan pesan SUKSES jika data
berhasil disimpan, sedangkan jika gagal sistem akan
menampilkan pesan GAGAL DISIMPAN.
66
Pemulangan Deteni
67
Tekan menu Pemulangan
Tampilan Daftar Pemulangan Deteni Yang Perlu
Direview :
Klick
maka Tampilan Form Review Deteni
Pemulangan :
Kemudian tekan tombol
untuk menyetujui
68
tombol
Sistem akan menampilkan pesan SUKSES jika data
berhasil disimpan, sedangkan jika gagal sistem akan
menampilkan pesan GAGAL DISIMPAN.
69
Deportasi Deteni
Review Pengajuan Deportasi
70
Klick
Untuk Mengubah Data Deteni
Tampilan Form Review Deportasi :
Klick
Untuk Menyetujui Register Tersebut,
Sistem akan menampilkan pesan SUKSES jika data
berhasil disimpan, sedangkan jika gagal sistem akan
menampilkan pesan GAGAL DISIMPAN.
Pemindahan Deteni
Review Pengajuan Pemindahan
Tekan Menu Pemindahan
72
Tampilan
Direview :
Daftar Pemindahan Deteni Yang Perlu
Pilih deteni dengan klick
74
Pengajuan Tangkal Deteni
Tambah Register Pengajuan Tangkal Deteni
Klick menu Pengajuan Tangkal Maka Tampilan Form
Daftar Pengajuan Tangkal :
75
Petugas Dapat Melakukan Pencari Yang Terdapat Di
Atas Daftar Deteni.
Jika Nama Yang Dicari Tidak Ditemukan Maka Klick
Untuk Menambahkan Maka Tampilan
Daftar Deteni Yang Terdaftar :
76
Klick
Pada Nama Deteni Yang Akan
Ditambahkan Maka Tampilan Detail Deteni :
Petugas Dapat Melengkapi Data Pendukung Yang
Diperlukan.
Untuk Langkah Berikutnya Petugas Klick
Maka Sistem Akan Mengirim
Pengajuan Tangkal Ke SUBDIT CEKAL :
77
Detail Register Pengajuan Tangkal Deteni
Klick Menu Pengajuan Tangkal Maka Tampilan Daftar
Deteni Dalam Register Pengajuan Tangkal :
78
Petugas Dapat Menekan Tombol
Untuk
Melihat Data Register Deteni Maka Tampilan Data
Deteni :
Masukkan Perubahan Data Deteni. Kemudian Klick
Untuk Proses Kembali Ke Halaman
Sebelumnya Maka Sistem Akan Menampilkan Form
Sebelumnya.
Laporan Jumlah Deteni
Laporan Jumlah Deportasi
Petugas Login Ke Dalam Aplikasi Penanganan Deteni
Lalu Pilih Menu Laporan Kemudian Pilih Laporan
80
Tampilan Form Laporan Jumlah Deportasi
Masukkan Pilihan Kriteria Laporan Kemudian Petugas
Klick
Untuk Menampilkan Laporan Maka
Sistem Akan Menampilkan Laporan Sesuai Kriteria
Yang Dipilih Kemudian Laporan Bisa Diunduh
Menjadi Tampilan PDF Dengan Klick
Maka Sistem Melakukan Proses Unduh, Sebagai
Berikut :
82
Laporan Jumlah Pemulangan
Petugas Login ke dalam Aplikasi Penanganan Deteni
Lalu Pilih menu Laporan Jumlah Pemulangan
83
Tampilan Form Laporan Jumlah Pemulangan :
1. Masukkan Pilihan Kriteria Laporan Kemudian
Petugas Klick
Untuk Menampilkan
Laporan.
2.
Sistem Akan Menampilkan Laporan Sesuai
Kriteria Yang Dipilih.
3. Laporan Bisa Diunduh Dengan Klick
Untuk Pemulangan Ada 2 Macam Yaitu
Pemulangan Dan Ekstradisi, Sehingga Petugas
Harus Memperhatikan Berada Pada Kategori
Pemulangan Tersebut Maka Sistem Melakukan
84
Laporan Jumlah Melarikan Diri
1. Petugas Login ke dalam Aplikasi Penanganan
Deteni
Sistem menampilkan Form Laporan Jumlah Melarikan
Diri
1. Masukkan pilihan kriteria laporan.
1. Sistem akan menampilkan laporan sesuai kriteria
yang dipilih.
2. Laporan bisa diunduh menjadi tampilan PDF
dengan menekan tombol
Maka
sistem melakukan proses unduh
.
88
Laporan Jumlah Meninggal Dunia
a. Petugas Login ke dalam Aplikasi Penanganan
Deteni.
89
Sistem menampilkan Form Laporan Jumlah Meninggal
Dunia
1. Masukkan Pilihan Kriteria Laporan.
2. Kemudian Klick
Untuk Menampilkan
Laporan.
90
Sistem Akan Menampilkan Laporan Sesuai Kriteria
Yang Dipilih.
1. Laporan Bisa Diunduh Menjadi Tampilan PDF
Dengan Klick
2. Sistem Melakukan Proses Unduh Sebagai
Berikut:
Laporan Jumlah Pemindahan
1. Petugas Login Ke Dalam Aplikasi Penanganan
Deteni.
Sistem Menampilkan Form Laporan Jumlah
Pemindahan.
1. Masukkan Pilihan Kriteria Laporan.
Sistem Akan Menampilkan Laporan Sesuai Kriteria
Yang Dipilih.
1. Laporan Bisa Diunduh Menjadi Tampilan PDF
Dengan Menekan Tombol.
2. Sistem Melakukan Proses Unduh Sebagai
Berikut:
94
Laporan Rekapitulasi
1. Petugas Login Ke Dalam Aplikasi Penangan
Deteni.
95
Sistem Menampilkan Form Laporan Jumlah
Pemindahan Lalu Masukkan Pilihan Kriteria Laporan,
Sebagai Berikut:
2. Manfaat Aplikasi Penanganan Deteni
a) Menginput dan menyimpan data base deteni
secara elektronik sejak registrasi atau
pendaftaran deteni, pengungsi, deteni yang
melarikan diri, meninggal dunia, pemindahan
deteni dan deportasi.
b) Berfungsi sebagai back up data base apabila
data manual hilang, tercecer atau rusak.
c) Memudahkan Direktorat Jenderal Imigrasi
melakukan pengecekan data base di Rumah
Detensi Imigrasi secara real time.
Sistem Akan Menampilkan Laporan Sesuai Kriteria
Yang Dipilih.
1. Laporan Bisa Diunduh Menjadi Tampilan PDF
Dengan Menekan Tombol.
2. Maka Sistem Melakukan Proses Unduh.
2. Manfaat Aplikasi Penanganan Deteni
a) Menginput dan menyimpan data base deteni secara elektronik sejak registrasi atau pendaftaran deteni, pengungsi, deteni yang melarikan diri, meninggal dunia, pemindahan deteni dan deportasi.
b) Berfungsi sebagai back up data base apabila data manual hilang, tercecer atau rusak.
c) Memudahkan Direktorat Jenderal Imigrasi melakukan pengecekan data base di Rumah Detensi Imigrasi secara real time.
BAB V
PERMASALAHAN PENDETENSIAN DAN DEPORTASI
SERTA SOLUSI ATAS PERMASALAHAN PENDETENSIAN
DAN DEPORTASI
Setelah membaca bab ini, peserta diharapkan dapat menjelaskan permasalahan pendetensian dan deportasi serta solusi atas permasalahan pendetensian dan deportasi
A. Permasalahan Pendetensian dan Deportasi
Dalam pengawasan keimigrasian mencakup penegakan hukum keimigrasian, baik yang bersifat administratif dan projustitia (tindak pidana keimigrasian). Untuk pelaksanaan tindakan administratif keimigrasian tidak jarang petugas Rumah Detensi Imigrasi atau Ruang Detensi Imigrasi menghadapi permasalahan pendetensian dan deportasi. Kedua permasalahan yang timbul dari pendetensian dan deportasi tentu memerlukan solusi atau pemecahan permasalahan tersebut.
1. Permasalahan Pendetensian
Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang dihadapi saat dilakukan proses pendetensian, antara lain:
(1) Calon deteni menderita gangguan mental atau jiwa dan penyakit kronis. (2) Calon deteni melakukan perlawanan dan menolak untuk dilakukan
pendetensian dikarenakan orang asing tersebut tidak mengakui atau merasa bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran keimigrasian.
2. Permasalahan Deportasi
Pelaksanaan deportasi terhadap orang asing yang melakukan pelanggaran keimigrasian dan ditempatkan di Rumah Detensi atau Ruang Detensi Imigrasi tidak selalu berjalan mulus dikarenakan ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh petugas pada saat dilakukan proses pelaksanaan deportasi, antara lain:
1) Deteni menolak untuk dideportasi ke negara asalnya dan mengancam akan melakukan aksi mogok makan dan bunuh diri dikarenakan deteni tersebut akan dikenakan tindakan persekusi di negara asalnya.
2) Deteni yang tidak memiliki Dokumen Perjalanan mengalami kesulitan dalam penerbitan Dokumen Perjalanan karena tidak ada perwakilan negara asalnya di Indonesia.
3) Status kewarganegaraan deteni tidak diakui oleh perwakilan negara asalnya di Indonesia sehingga perwakilan negara asalnya tidak menerbitkan Dokumen Perjalanan berupa Emergency Travel Document (ETD).
4) Deteni yang berada di Rumah Detensi Imigrasi dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) tahun maka deportasi harus diupayakan sepanjang orang asing berstatus deteni tinggal di dalam atau luar Rumah Detensi Imigrasi. Dengan pemberian izin bagi deteni berada di luar Rumah Detensi Imigrasi menimbulkan permasalahan terkait kriteria penjamin (warga negara Indonesia) yang mampu dari segi bonafiditas untuk menjamin deteni yang diizinkan tinggal di luar Rumah Detensi Imigrasi dikarenakan hal tersebut belum diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.