BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran yang dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA dan

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan IPA dan teknologi yang sangat pesat memerlukan cara pembelajaran yang dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA dan teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif serta dapat berargumentasi secara benar (Depdiknas, 2006: 5). Agar dapat mengondisikan siswa untuk memahami bagaimana mendapatkan dan memaknai kumpulan data dan informasi yang mereka terima, pembelajaran harus terkondisi dalam suatu proses berpikir.

Berpikir merupakan proses kognitif, aktivitas mental untuk memperoleh pengalaman yang kreatif. Berdasarkan prosesnya berpikir dapat dikelompokkan dalam berpikir dasar dan kompleks. Berpikir dasar merupakan berpikir secara rasional yang terdiri dari menghafal, membayangkan, mengklasifikasikan, menggeneralisasikan, membandingkan, mengevaluasi, menganalisis, mensintesis, mendeduksi serta menyimpulkan (Presseisen dalam Costa, 1985: 43). Berpikir kompleks meliputi empat proses berpikir, yaitu pemecahan masalah, pengambilan keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif.

Konsep merupakan pembangun proses berpikir. Konsep juga merupakan dasar bagi proses mental (berpikir) yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip dan generalisasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa belajar konsep merupakan dasar atau pijakan utama untuk

(2)

mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Arends, 2007: 322). Untuk memahami suatu konsep secara lebih mendalam siswa perlu memiliki kemampuan berpikir, sehingga konsep-konsep yang dipelajari akan lebih bermakna dan memungkinkan siswa mampu mengaitkan fenomena-fenomena alam yang berhubungan dengan konsep yang mereka pelajari. Guru harus membantu siswa belajar bagaimana menggunakan kategori mental yang penting selain memberikan pengalaman langsung juga untuk mengakomodasi informasi baru (Rezba, et al., 2002: 38).

Menurut Dahar (1996: 78) belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan. Belajar konsep merupakan belajar tentang bagaimana klasifikasi atau pengelompokan peristiwa-peristiwa atau objek-objek dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan ciri, karakter atau atribut yang dimiliki sehingga membedakannya dengan yang lain. Pemahaman siswa terhadap suatu konsep akan lebih memudahkan siswa memahami konsep lainnya sehingga diharapkan pemahaman dan hasil belajar siswa semakin meningkat.

Suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori dan fakta tetapi juga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahan ajar tidak hanya diajarkan berupa hafalan dan pemahaman semata tetapi juga harus meliputi kegiatan menganalisis, aplikasi dan sintesis, sesuai dengan hakikat IPA yang meliputi empat unsur utama yaitu sikap, proses, produk dan aplikasi. Mengajarkan IPA membekalkan penguasaan kumpulan pengetahuan berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip dan sekaligus merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas, 2006: 5).

(3)

Kecenderungan pembelajaran IPA pada masa kini adalah siswa hanya mempelajari IPA sebagai produk. Mereka menghafal konsep, teori dan hukum serta pembelajaran yang berorientasi pada tes atau ujian.

Salah satu pendekatan pembelajaran IPA adalah pendekatan keterampilan proses. Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran dengan anggapan bahwa IPA terbentuk dan berkembang akibat diterapkannya proses yang dikenal dengan metode ilmiah, dengan menerapkan keterampilan-keterampilan proses IPA, yaitu mulai dari menemukan masalah hingga mengambil kesimpulan (Dahar, 2003: 9). Pembelajaran dengan mengembangkan keterampilan proses diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Penerapan salah satu jenis keterampilan proses yaitu klasifikasi dalam pembelajaran diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir dalam mempelajari konsep-konsep Biologi.

Penalaran tingkat tinggi melibatkan kemampuan berpikir operasi Piaget yaitu pola berpikir hipotesis-deduktif. Penalaran meliputi penalaran proporsional, pengontrolan variabel, penalaran probabilistik, penalaran korelasional dan penalaran kombinatorial. Menurut Zeineddin dan El-Khalick (2008: 154) kemampuan bernalar ilmiah dipengaruhi faktor kognitif, motivasi dan konteks. Perkembangan penalaran ilmiah dipelajari dengan menggunakan proses-proses yang terlibat seperti menguji hipotesis dan merancang percobaan. Penalaran ilmiah ditandai dengan adanya dua karakteristik pengetahuan yang berbeda yaitu konseptual dan prosedural. Menurut Anderson, et al. (2001: 27) pengetahuan konseptual merupakan pengetahuan

(4)

tentang hubungan antara elemen dasar dengan struktur yang lebih luas dan memungkinkan untuk berfungsi bersama-sama. Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan mengenai bagaimana melakukan sesuatu termasuk pengetahuan tentang keterampilan, algoritma, teknik dan metode.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan selama melaksanakan studi kasus di sekolah (Hapsari, 2009: 21) diperoleh informasi bahwa guru melaksanakan pembelajaran hanya mengandalkan metode ceramah dan jarang melakukan praktikum. Umumnya guru menyajikan materi terpaku pada materi yang terdapat dalam buku ajar, tanpa memperhatikan tingkat perkembangan intelektual siswa SMP kelas VII yang sebagian besar masih berada pada tahap operasi konkrit. Menurut Monks, et al. (1991: 187) kemampuan siswa operasi konkrit berbeda dengan siswa operasi formal. Keduanya mampu memecahkan masalah klasifikasi, tetapi siswa yang berada pada tahap operasi konkrit belum mampu menyelesaikan masalah klasifikasi dengan baik tanpa adanya objek yang konkrit. Kurangnya siswa melakukan aktivitas pembelajaran dengan menggunakan objek konkrit menyebabkan pengetahuan siswa tentang suatu objek terbatas, dan berakibat pada hasil belajar Biologi yang nilai rata-ratanya di bawah standar ketuntasan minimal yang ditentukan pihak sekolah. Dari hasil wawancara dengan guru Biologi terungkap bahwa guru jarang melakukan praktikum karena mengalami kesulitan mengelola kelas dengan jumlah siswa sebanyak 46 orang.

Berdasarkan hasil observasi dan informasi yang diperoleh maka disimpulkan perlu adanya alternatif pembelajaran selain untuk meningkatkan

(5)

penguasaan konsep juga memperhatikan tingkat perkembangan intelektual siswa. Pembelajaran konsep keanekaragaman makhluk hidup yang selama ini dialami siswa melalui penggunaan metode ceramah hendaknya diganti dengan pembelajaran yang menyajikan objek-objek konkrit kepada siswa. Dampak positifnya selain pembelajaran menjadi lebih menarik, siswa juga lebih memahami konsep yang diberikan dengan mengamati sendiri objeknya.

Guru seyogianya menyadari tingkat perkembangan intelektual siswa dan mendesain pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa, agar siswa dapat membuat keputusan dengan bijaksana dan mampu memecahkan masalah secara efisien (Abdullah & Shariff, 2008: 387). Pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa, misalnya siswa tahap konkrit belajar dengan materi pembelajaran yang merupakan pengalaman langsung dan masalah-masalah konkrit (Sungur, et al., 2001: 129). Salah satu cara untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi siswa tentang penalaran ilmiah adalah memberi kesempatan siswa untuk aktif terlibat dalam proses mengajukan pertanyaan, merancang percobaan dan menggunakan keterampilan kuantitatif dan statistika dalam menganalisis data (Caulfield & Persell, 2006: 1).

Biologi merupakan salah satu pelajaran IPA yang menarik untuk dipelajari karena memberikan pengetahuan dan informasi mengenai seluk beluk makhluk hidup baik hewan, tumbuhan bahkan makhluk hidup yang sangat renik (tidak dapat dilihat dengan mata telanjang). Menurut Rustaman (1990: 35) anak lebih dapat melihat perbedaan daripada menemukan

(6)

kesamaan dari objek-objek yang dijumpainya. Selanjutnya menurut Strommen (1995: 287) siswa usia 6 tahun sudah dapat melakukan klasifikasi terutama menemukan perbedaan pada objek yang diamati. Keterampilan menemukan persamaan baru mulai dilakukan siswa berusia 7 tahun ke atas.

Penelitian Jamaluddin (1997: 95) menunjukkan bahwa pembelajaran konsep keanekaragaman hayati dengan pendekatan klasifikasi berlangsung efektif walaupun umumnya siswa mengalami kesulitan dalam melakukan klasifikasi karena pengetahuan tentang objek klasifikasi masih kurang. Pendekatan klasifikasi memberi siswa kesempatan untuk melakukan pengamatan, mengelompokkan, menentukan kriteria pengelompokan dan memberi nama kelompok.

Keanekaragaman makhluk hidup dipilih sebagai konsep penelitian karena dengan menggunakan pendekatan klasifikasi pada pembelajaran konsep keanekaragaman makhluk hidup diharapkan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa dapat diteliti berdasarkan tingkat perkembangan intelektual siswa. Mengklasifikasikan adalah mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri. Menurut Rustaman & Sri Redjeki (1994: 12) kegiatan klasifikasi atau pengelompokan meliputi mencari perbedaan, mengidentifikasi ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan dan mencari dasar pengelompokan. Klasifikasi merupakan kemampuan dasar yang merupakan inti dalam menganalisis perkembangan kemampuan berpikir siswa pada usia 6 sampai 12 tahun (Good, 1977: 45). Klasifikasi dan seriasi merupakan proses penting anak pada tahap berpikir konkrit (Krause, et al.,

(7)

2007:51). Memiliki kemampuan klasifikasi memudahkan dalam meringkas pengetahuan dan memungkinkan orang membuat prediksi tentang objek yang diklasifikasikan (Jeffrey, 1982: 12).

Voelker (Chen & Hsiungku, 1998: 55) menemukan bahwa anak-anak lebih memahami konsep mamalia dan ikan daripada reptil dan belum mengenal konsep invertebrata. Temuan ini sejalan dengan penelitian Smith (1998: 22) bahwa sebagian besar siswa lebih mengenal vertebrata daripada invertebrata, sebab vertebrata biasa ditemui di lingkungan sekitar. Prokop, et al. (2007: 63) menemukan bahwa jika siswa memiliki hewan peliharaan vertebrata atau invertebrata, siswa akan memiliki pemahaman lebih baik tentang hewan ini. Hasil penelitian Chen & Hsiungku (1999: 14) menemukan bahwa siswa pada kelas yang lebih tinggi dapat melakukan klasifikasi tumbuhan lebih baik daripada siswa kelas yang lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menggeneralisasi konsep tumbuhan meningkat sejalan dengan umur.

Sesuai dengan tahap perkembangan intelektual Piaget (Krause, et al., 2007) bahwa siswa SMP (berusia 11 – 12 tahun) berada pada tahap operasi konkrit menuju operasi formal sehingga diharapkan dengan pembelajaran keanekaragaman makhluk hidup menggunakan pendekatan klasifikasi siswa dapat menunjukkan kemampuan berpikir intelektualnya pada benda-benda konkrit untuk kemudian kemampuan klasifikasi siswapun dapat diketahui berdasarkan cara siswa melakukan pengelompokan.

(8)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ”Bagaimanakah kemampuan klasifikasi dan penguasaan konsep keanekaragaman makhluk hidup siswa SMP berdasarkan tingkat perkembangan intelektual dengan pembelajaran menggunakan pendekatan klasifikasi?”

Untuk lebih memperjelas permasalahan di atas, maka masalah penelitian dijabarkan ke dalam pertanyaan penelitian sebagai berikut.

1. Bagaimanakah tingkat perkembangan intelektual siswa ketiga kelas perlakuan sebelum pembelajaran konsep keanekaragaman makhluk hidup? 2. Bagaimanakah penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran menggunakan pendekatan klasifikasi pada kelas dengan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman hewan, keanekaragaman tumbuhan dan hewan?

3. Bagaimanakah kemampuan klasifikasi siswa setelah pembelajaran menggunakan pendekatan klasifikasi pada kelas dengan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman hewan, keanekaragaman tumbuhan dan hewan?

4. Bagaimanakah perbedaan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa dengan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman hewan, pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan dan hewan?

(9)

5. Bagaimanakah hubungan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa pada kelas dengan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman hewan, keanekaragaman tumbuhan dan hewan?

6. Bagaimanakah hubungan tingkat perkembangan intelektual terhadap kemampuan klasifikasi dan penguasaan konsep siswa pada kelas dengan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman hewan dan keanekaragaman tumbuhan dan hewan? 7. Bagaimanakah profil kemampuan siswa dalam melakukan klasifikasi? 8. Kendala apa yang dihadapi guru pada pembelajaran menggunakan

pendekatan klasifikasi?

C. Batasan Masalah

Agar permasalahan dalam penelitian ini lebih terarah, maka permasalahan dibatasi sebagai berikut.

1. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII Semester II tahun ajaran 2009-2010 yang sedang mempelajari konsep keanekaragaman makhluk hidup. Konsep keanekaragaman makhluk hidup dipelajari dengan menekankan kegiatan keterampilan mengelompokkan (klasifikasi). Konsep ini terdiri atas sub konsep keanekaragaman tumbuhan dan hewan. Konsep keanekaragaman tumbuhan difokuskan pada tumbuhan Angiospermae dan konsep keanekaragaman hewan difokuskan pada hewan invertebrata (Arthropoda) dan hewan Vertebrata.

(10)

2. Kelas perlakuan berjumlah tiga kelas, Kelas A memperoleh pembelajaran konsep keanekaragaman tumbuhan menggunakan pendekatan klasifikasi dan konsep keanekaragaman hewan menggunakan pembelajaran ekspositori. Kelas B memperoleh pembelajaran konsep keanekaragaman tumbuhan dengan pembelajaran ekspositori dan pembelajaran konsep keanekaragaman hewan menggunakan pendekatan klasifikasi. Kelas C menerapkan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan dan keanekaragaman hewan.

3. Pemilihan SMP yang diteliti berdasarkan hasil studi lapangan sebelumnya (Hapsari, 2009: 22) yaitu rendahnya penguasaan konsep siswa pada mata pelajaran biologi, SMP ini merupakan sekolah negeri rata-rata yang berada di Bandung. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII yang berusia antara 11 – 14 tahun dan belum memperoleh pembelajaran keanekaragaman makhluk hidup. Kelas A berjumlah 43 siswa, kelas B berjumlah 46 siswa dan kelas C berjumlah 43 siswa.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap kemampuan klasifikasi dan penguasaan konsep keanekaragaman makhluk hidup siswa SMP berdasarkan tingkat perkembangan intelektual dengan menggunakan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman hewan, keanekaragaman tumbuhan dan hewan. Secara rinci tujuan yang akan dicapai adalah:

(11)

1. Menganalisis tingkat perkembangan intelektual siswa SMP kelas VII. 2. Menganalisis penguasaan konsep siswa pada materi keanekaragaman

makhluk hidup.

3. Menganalisis kemampuan klasifikasi dengan pembelajaran menggunakan pendekatan klasifikasi.

4. Untuk memperoleh informasi tentang perbedaan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa antara kelas yang menggunakan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman hewan dan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan dan hewan.

5. Menganalisis hubungan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa pada kelas dengan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman hewan dan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan dan hewan.

6. Menganalisis hubungan tingkat perkembangan intelektual dengan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi.

7. Menganalisis profil kemampuan siswa dalam melakukan klasifikasi. 8. Mengidentifikasi kendala yang dihadapi guru pada pembelajaran konsep

keanekaragaman makhluk hidup dengan menggunakan pendekatan klasifikasi.

(12)

E. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan diharapkan bermanfaat bagi guru berupa manfaat teoretis dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoretis

Penelitian yang dilakukan dapat memberikan pengetahuan tentang pengetahuan awal siswa pada materi keanekaragaman makhluk hidup dan perkembangan intelektual siswa SMP sehingga dapat dijadikan landasan dalam merancang pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa.

2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah memberi gambaran dan pertimbangan untuk menerapkan pembelajaran yang dapat meningkatkan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa. Memberikan alternatif proses pembelajaran yang lebih variatif, inovatif dan konstruktif dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan intelektual siswa pada pembelajaran keanekaragaman makhluk hidup. Memberikan bahan acuan bagi peneliti lain untuk mengembangkan penelitian serupa dengan variabel yang berbeda.

F. Anggapan Dasar

Penelitian ini dilaksanakan dengan anggapan dasar sebagai berikut: 1. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat akan menentukan

(13)

2. Tingkat perkembangan intelektual siswa SMP kelas VII turut mempengaruhi hasil belajar siswa.

3. Siswa sudah memiliki kemampuan observasi sebagai dasar dalam melakukan klasifikasi.

4. Setiap siswa akan melalui tingkat perkembangan intelektual yang sama dengan kemampuan klasifikasi yang berbeda.

G. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang perlu diuji kebenarannya. Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah:

1. Penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa meningkat setelah memperoleh pembelajaran dengan pendekatan klasifikasi.

2. Terdapat perbedaan penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi siswa antara kelas dengan pendekatan klasifikasi pada konsep keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman hewan, dan keanekaragaman tumbuhan dan hewan.

3. Terdapat hubungan antara tingkat perkembangan intelektual, penguasaan konsep dan kemampuan klasifikasi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :