J
anuari 2010 merupakan langkah awal
ta-hun pelaksanaan program-program KPA
Nasional. Sebagaimana tertuang dalam
Per-pres No.75 Tahun 2006, Komisi
Penanggu-langan AIDS Nasional (KPAN) merupakan
lembaga yang memiliki tugas dan fungsi
da-lam rangka meningkatkan upaya
pencegah-an dpencegah-an penpencegah-anggulpencegah-angpencegah-an AIDS lebih efektif,
menyeluruh, terpadu, dan terkoordinasi.
KPAN memiliki tugas dan fungsi
menetap-kan kebijamenetap-kan dan rencana strategis,
me-netapkan langkah strategis,
mengkoordi-nasikan pelaksanaan kegiatan, melakukan
penyebarluasan informasi, melakukan kerja
sama regional dan internasional,
mengkoor-dinasikan pengelolaan data dan informasi,
mengendalikan dan memantau
penang-gulangan HIV dan AIDS, dan
memberi-kan arahan kepada KPA di daerah. Dalam
pelaksanaannya, KPAN melibatkan
berba-gai lembaga baik pemerintah dan non
pe-merintah, organisasi profesi, dunia usaha,
perguruan tinggi, lembaga internasional,
serta masyarakat yang bergerak dalam
pen-anggulangan HIV dan AIDS.
Bulan Januari ini menjadi awal bagi sinergi
penanggulangan HIV dan AIDS di
Indone-sia. Harapannya penyebaran epidemi ini
dapat dicegah sebagaimana tertuang dalam
SRAN 2010-2014.
Sekretariat KPA Nasional
Menara Eksekutif Lt.9
Jl. MH Thamrin Kav.9 Jakarta Pusat
Telp. (021) 3901758 Fax. (021) 3902665
www.aidsindonesia.or.id
LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN
SEKRETARIAT KPA NASIONAL
JANUARI 2010
A. Pengembangan Kebijakan
B. Penetapan Langkah Strategis
B
ertempat di Kantor KeMenkokesra, 13Januari berlangsung rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh anggota KPA Nasional. Hasil pertemuan menyepakati beberapa hal:
1. Strategi dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan AIDS (SRAN) 2010-2014 yang disusun mengikuti arah kebijakan RPJMN 2010–2014, dan akan segera dikukuhkan melalui Permenko Kesra. 2. Terdapat anggota baru KPA Nasional dan akan segera ditetapkan melalui Permenko Kesra yakni:
o Sektor Pemerintah: Departemen Keuangan, Departemen Pertahanan, Departemen Pekerjaan Umum, dan Departemen Luar Negeri.
o Civil society: Jaringan Orang Terinfeksi HIV
RAPAT KOORDINASI TINGKAT MENTERI KPA NASIONAL
(JOTHI), Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Jaringan Gay, Waria, dan laki Seks dengan Laki-laki (GWL-Ina), Organisasi Pekerja Seks Indonesia (OPSI), dan IBCA (Indonesian Business Coalition on
AIDS).
Diskusi pada Rapat Koordinasi Tingkat Menteri
PERTEMUAN STRATEGI PENGGULIRAN dan PENYEMPURNAAN RENCANA
OPERASIONAL SRAN 2010-2014
P
ada 25 Januari di Ruang Rapat SekretariatKPA Nasional berlangsung pertemuan rencana kerja pengguliran SRAN 2010-2014 ke daerah. Pertemuan tersebut sepakat bah-wa pengguliran RAN akan dilakukan di 33 provinsi dan 137 kab./kota yang disertai pe-doman. Peserta pertemuan akan menjadi Tim Kerja dalam mengawal pengguliran SRAN ke daerah.
Terkait dengan SRAN, 27 dan 28 Januari berlangsung pula pertemuan penyempurnaan rencana operasional. Tanggal 27 Januari membahas komponen pencegahan penularan pada kelompok orang muda, mitigasi dampak, dan lingkungan kondusif. Sedangkan tanggal 28 Januari membahas komponen pencegahan di tempat kerja dan pekerja migran.
PERTEMUAN TIM PELAKSANA: RAPAT KOORDINASI TEKNIS
D
i ruang Rapat KeMenkokesra tanggal 8 Januari,telah berlangsung pertemuan Tim Pelaksana dengan agenda up date penanggulangan HIV dan AIDS secara nasional dan alokasi dana APBN 19 lembaga atau kementerian tahun 2010.
Hasil dari pertemuan menyepakati bahwa tanggal 13 Januari akan diadakan rapat tingkat menteri, pemaparan mengenai kegiatan tahun 2010 beserta alokasi dana oleh Sekretaris KPA Nasional, pentingnya sosialisasi dengan berbagai media oleh sekretariat, dan pemaparan Menkes mengenai kasus terbaru serta gambaran situasi dalam negeri oleh Mendagri.
“Feminisasi epidemi HIV juga
melanda ibu rumah tangga,”
ung-kap Ibu Nafsiah Mboi, Sekretaris
C. Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan
D. Penyebarluasan Informasi
PERTEMUAN LSL: PENGEMBANGAN STRATEGI DAN RENCANA KERJA
RAPAT KOORDINASI 3 PR PROGRAM GF ROUND 8
PEMUTARAN FILM dan PEMBUATAN FILM DOKUMENTER
T
anggal 25-27 Januari di SekretariatKPA Nasional, berlangsung pertemuan LSL dalam rangka review dan analisis pengembangan strategi nasional dan rencana kerja penanggulangan HIV dan AIDS pada LSL. Pertemuan dihadiri oleh perwakilan dari KPA Nasional, GWL-Ina, FHI-ASA, AusAID, HCPI, dan konsultan.
Pertemuan hari pertama membahas tentang
website yang dapat menjadi media informasi
dan advokasi bagi LSL. Salah satunya adalah akan tersedia ruang bagi Indonesia dalam
website www.fridae.com. Nantinya dapat diunggah
artikel-artikel dari Indonesia. Wakil dari FHI-ASA, Jim Jhonson, menyampaikan tentang sejarah lahirnya www.itsmylifeclub.com.
Hari kedua dilakukan pertemuan dengan Kemenkes dan IDI. Hasil pertemuan tersebut di antaranya perlu adanya panduan dan pelayanan kesehatan berkualitas bagi LSL dan hal ini bisa dilakukan bersama IDI. Selain itu terdapat peluang untuk memasukkan kesehatan reproduksi pada kurikulum dokter keluarga. Hari ketiga dilakukan diskusi rekomendasi dan langkah-langkah berikutnya.
P
ertemuan koordinasi merupakan bagianpenting dalam pelaksanaan kegiatan. Ini-lah yang menjadi latar belakang pertemuan pada 18-21 Januari di Hotel Grand Cempaka, Jakarta.
“Pertemuan ini merupakan ajang berbagi pengalaman secara terbuka baik positif maupun negatif. Sehingga, bisa meningkatkan kinerja yang merupakan bekal untuk
melangkah ke depan,” ucap Ibu Nafsiah Mboi dalam sambutannya.
Pertemuan membahas kegiatan yang telah dilaku-kan, penilaian kinerja berupa monitoring kegiatan, capaian target indikator, serapan dana, hambatan dan tantangan, serta rencana tindak lanjut. Secara umum, serapan dana di tingkat PR adalah 63% dan capaian per indikator yang perlu ditingkatkan ada-lah penjangkauan dalam program LJASS.
T
elah dilakukan pemutaran film tentangHIV dan AIDS di TVRI. Judul film yang diangkat adalah “Inspirasi Tiada Henti” pada tanggal 26 Januari.
Selain pemutaran film, dilakukan pula pem-buatan film dokumenter atas dukungan GF R
4. Pembuatan film dokumenter ini mengambil tema
Harm Reduction, CST (Care, Support, and Treatment),
Anti Stigma dan Diskriminasi, dan PMTCT
(Preven-tion Mother to Child Transmission) dan dilaksanakan
atas dukungan KPA Nasional. Film dokumenter ini akan menjadi bagian dari media informasi HIV dan AIDS.
E. Kerja Sama Internasional dan Regional
F. Pengendalian, Pemantauan, dan Evaluasi
PERTEMUAN POKJA MONEV: PERSIAPAN PELAPORAN UNGASS
PERTEMUAN DENGAN BILL BOWTELL DARI GLOBAL FUND
B
ertempat di KPA Nasional, 25 Januariberlangsung pertemuan dengan Bill Bowtell dari Pacific Friends of the Global Fund. Hadir dalam pertemuan tersebut Ibu Nafsiah Mboi, Bapak Kemal Siregar, Bapak Zubairi Djoerban, Bapak Irwanto, dan Ibu Elis Widen.
Pertemuan menyimpulkan adanya peluang untuk mobilisasi sumber daya lebih besar dari Global Fund di wilayah Asia dan Pasifik. Nantinya hal tersebut akan melibatkan pemimpin tingkat tinggi.
Bill Bowtell juga memberikan gambaran tentang AIDS di Papua Nugini dan dampaknya bagi Indonesia. Terkait dengan hal tersebut,
maka penting adanya upaya penanggulangan HIV dan AIDS di perbatasan.
Berkaitan dengan penyelenggaraan Internasional
AIDS Conference, sebelumnya Vienna 2010 dan
USA 2012, maka Bill Bowtell mengusulkan agar Australia dan Indonesia menjadi tuan rumah tahun 2014. Detail pelaksanaan akan dibahas lebih lanjut.
wakilan dari sektor pemerintah dan NCPI bagian B dibahas oleh 26 perwakilan masyarakat sipil. Terdapat masukan-masukan terutama terkait dengan data terbaru. Pembahasan mengenai implikasi kebijakan merupakan topik pada pertemuan berikutnya. Harapannya, sebelum 31 Maret 2010 laporan telah selesai dan diserahkan kepada PBB.
P
elaporan UNGASS merupakan laporanpenanggulangan HIV dan AIDS dari negara Indonesia kepada PBB. Terdapat di dalamnya 25 indikator Indeks Kebijakan Komposit Nasional (National Composite Policy
Index atau NCPI).
Pengisian indikator tersebut dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat sipil. Terdapat dua indikator, yakni NCPI bagian A (penila-ian rencana strategis, dukungan politik pe-merintah, pencegahan, perawatan, dan pen-gobatan, serta monitoring dan evaluasi) dan NCPI bagian B (HAM, partisipasi masyarakat sipil, implementasi kebijakan, dan pengoba-tan, perawapengoba-tan, serta dukungan.
Pada 26 Januari dipimpin oleh Bapak Ke-mal Siregar, Deputi Pengembangan Program dan Koordinator Pokja Monev Nasional, di ruang rapat KPA Nasional berlangsunglah pertemuan lanjutan dalam rangka pelaporan UNGASS. NCPI bagian A dibahas oleh 14
per-“Indonesia dan Australia akan bekerja sama dalam penyelengga-raan International AIDS Conference 2014,” ucap Bill Bowtell dalam per-temuan di Jakarta. Republic of Ind onesia Country Report on th e Follow up to the Declarati on of Commitm ent On HIV/AIDS (U NGASS) Reporting Period 2008 - 2009 NATIONAL AIDS COMMISSION NATIONNAL AIDS COMMISSSION
Republic of Indonesia
National AIDS C ommission Republic of I
ndonesia 2009
Republic of Indonesia Country Report on the Follow up to the Declaration of Commitment On HIV/AIDS (UNGASS) Reporting Period 2008 - 2009 NATIONAL AIDS COMMISSION NATIONNAL AIDS COMMISSSION Republic of Indonesia
National AIDS Commission Republic of Indonesia 2009
Republic of Indonesia Country Report on the Follow up to the Declaration of Commitm
ent On HIV/AIDS (UReporting Period 2008 - 2009NGASS)
NATIONAL AIDS COMMISSION
NATIONNAL AIDS COMMISSSION Republic of Indonesia National AIDS C ommission Republic of I ndonesia 2009
G. Pengarahan kepada KPA di Daerah
H. Pengembangan Sekretariat KPA Nasional
PERTEMUAN KOORDINASI KPA PROVINSI/KAB./KOTA, SKPD, LEMBAGA
MITRA INTERNASIONAL, dan LSM PEDULI AIDS
RAPAT EVALUASI SEKRETARIAT KPA NASIONAL
PERTEMUAN KOORDINASI PROGRAM HARM REDUCTION (HR) di
JAWA TIMUR
B
ertempat di Jayapura, 26-28 Januari ber-langsung pertemuan koordinasi dengan seluruh pengambil kebijakan di Provinsi Pap-ua. Hari pertama dilakukan pertemuan antara KPA Provinsi, mitra internasional, dan LSM peduli AIDS. Hasil pertemuan menunjukkan pentingnya dukungan sumber dana demi ke-berlanjutan program.Hari kedua dilanjutkan pertemuan dengan sektor-sektor terkait. Tantangan yang dihada-pi sektor adalah keterbatasan sumber dana dan SDM yang belum memadai.
Hari ketiga merupakan pertemuan dengan
KPA Kab./Kota. Temuan di lapangan menunjuk-kan bahwa belum semua kabupaten memiliki LSM. Meski demikian, peran masyarakat gereja cukup besar. Sehingga ke depan diharapkan ada sinergi antara masyarakat gereja dengan LSM. Dukungan Pemda Kabupaten menunjukkan respons positif dengan adanya dukungan dana penanggulangan HIV dan AIDS.
Kesepakatan pertemuan yakni akan didiskusi-kan lebih lanjut perbedaan data di lapangan. Akan diupayakan adanya LSM yang link dengan CST RSUD Dok II. Pertemuan koordinasi akan dilakukan setiap enam bulan sekali. Perhatian akan diberikan pada kabupaten pemekaran.
S
taf KPA Nasional, Bapak Inang Winarsoselaku Korwil Jawa Bali, menghadiri pertemuan koordinasi program HR di enam kabupaten/kota di Jawa Timur. Dalam kunjungannya tersebut dilakukan pemaparan kebijakan HR KPA Nasional dan diskusi mengenai peran LSM, puskesmas, dan KPA Kab./Kota dalam program HR.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa terdapat enam kab./kota (Kota Surabaya, Kab. Sidoarjo, Kota Madiun, Kab. Madiun, Kab. Malang, dan Kota Malang) yang mendapat dukungan program HR dari HCPI. Bantuan tersebut
akan disalurkan melalui LSM yang melakukan kegiatan di wilayah tersebut di atas.
Pemberdayaan penasun akan dilakukan oleh LSM. Sedangkan alat suntik steril diambil lang-sung di puskesmas oleh penasun atau melalui petugas LSM kepada penasun.
Tindak lanjut pertemuan adalah LSM dan puskesmas akan melakukan rapat rutin koordi-nasi untuk mendorong kemandirian penasun. Selain itu, dipertegas pula peran LSM dalam pemberdayaan penasun.
A
wal tahun 2010 digunakan oleh
Sek-retariat KPA Nasional untuk
melaku-kan evaluasi atas capaian dan proses tahun
2009. Kegiatan berlangsung 4-6 Januari di
masing-masing kedeputian
Pada 4-6 Januari rapat evaluasi divisi
program, 4 Januari rapat evaluasi divisi
pengembangan program, dan 4-5 Januari
ra-pat divisi dukungan umum. Melalui
evalu-asi ini diharapkan akan meningkatkan
kin-erja dan efektivitas pelaksanaan kegiatan di
tahun 2010.
Rencana Kegiatan Sekretariat KPA Nasional Bulan Februari
No.
NAMA KEGIATAN
GAMBARAN KEGIATAN
RENCANA OUT PUT
1. Pertemuan
Penyempurnaan SRAN 2010-2014
Pertemuan berisi tentang
pengarahan dan penjelasan
mengenai SRAN Penanggulangan
HIV dan AIDS 2010-2014,
pengarahan mengenai rencana operasional, penyajian draft rencana operasional oleh tim penyusun, dan diskusi penyempurnaan rencana operasional.
Adanya dokumen hasil dari diskusi peserta terhadap SRAN 2010-2014.
2. Lokakarya
Penanggulangan HIV dan AIDS Berperspektif Gender untuk Gender Focal Point
Kegiatan dilakukan melalui
berbagai aktivitas interaktif seperti permainan, diskusi, dan pemaparan kelompok. Materi yang disampaikan terdiri atas gender dan HIV, gender analisis, pemanfaatan hasil analisis situasi HIV dan AIDS berperspektif gender, dan pengenalan teknik memfasilitasi.
Adanya pemahaman peserta terhadap ketidakadilan gender terkait dengan HIV dan AIDS, pemahaman mengenai pemanfaatan analisis gender, dan perumusan fungsi serta peran sebagai gender focal point.
3. Call for Porposal: Program Mitigasi ODHA Anak Miskin
Pertemuan dalam rangka
menentukan lembaga yang akan mendapat dukungan dana dari MAC Estee Lauder.
Terpilihnya lembaga yang akan mendapatkan dukungan dari MAC Estee Lauder.
4. Pertemuan Pokja
Penelitian Merupakan pertemuan rutin dua bulanan Pokja Penelitian dalam rangka up date informasi antar anggota.
Adanya up date informasi sesama anggota Pokja Penelitian.
5. Pertemuan Koordinasi
Harm Reduction Pertemuan mengkoordinasikan pelaksanaan dalam rangka harm reduction antara LSM dan PKM.
Terdapatnya kesepakatan antar
peserta pertemuan terkait
dengan temuan-temuan di lapangan. 6. Lokakarya Penguatan Kelembagaan: Perencanaan dan Penganggaran tahun 2011
Lokakarya dalam rangka
meningkatkan kapasitas bagi
pelaksana program dalam
melakukan advokasi perencanaan dan penganggaran HIV dan AIDS.
Terjadinya peningkatan
kapasitas dalam perencanaan dan penganggaran HIV dan AIDS tahun 2011.
7. Pertemuan Sosialisasi dan Konsultasi Rencana Strategis dan Rencana Aksi Nasional untuk LSL
Pertemuan tersebut dalam rangka identifikasi kebutuhan program yang efektif khusus bagi LSL,
identifikasi langkah-langkah
strategik, dan identifikasi peran serta fungsi berbagai institusi dalam penanggulangan HIV dan AIDS pada LSL.
Adanya hasil identifikasi peserta pertemuan terhadap kebutuhan program dan peran serta fungsi dalam penanggulangan HIV dan AIDS pada kelompok LSL.