BAB I PENDAHULUAN. meski belum ada SMP dan SMA tidak mematahkan semangat anak-anak yang

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di Nek Sawak terdapat satu sekolah dasar bernama SD N 11 Nek Sawak, meski belum ada SMP dan SMA tidak mematahkan semangat anak-anak yang ingin melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Usaha untuk mendapatkan pendidikan di tingkat lanjutan ditunjukkan dengan sekolah di luar desa. Minimal, untuk melanjutkan sekolah tingkat lanjut anak harus sekolah di Kecamatan Meliau. Meski di Pampang Dua terdapat SMP namun orang tua dan anak-anak enggan melanjutkan di sana karena beberapa alasan. Alasan itu antara lain kurang berkualitasnya guru pengajar, penggunaan bahasa daerah yang dominan serta kurangnya pengalaman anak jika sekolah di kampung. Oleh karena itu si anak dan para orang tua harus rela berjauhan. Tidak semua anak yang betah tinggal jauh dari orang tua, walau sempat duduk dan merasakan sekolah di tingkat yang lebih tinggi dari SD beberapa anak memilih untuk berhenti sekolah dan pulang ke kampung karena alasan rindu dengan orang tua. Beberapa tahun ini sebagian masyarakat Nek Sawak mulai memperhatikan pentingnya pendidikan. Dari data yang saya peroleh pada penelitian tahun lalu, sebagian orang tua kini mulai mengusahakan anak-anak mereka untuk sekolah setinggi-tingginya.

Bicara mengenai pendidikan di Indonesia memang tidak akan ada habisnya. Pembangunan di bidang pendidikan semakin berkembang setiap waktu.

(2)

Angka partisipasi pendidikan formal menurut data Badan Pusat Statistik dari tahun 2001-2012 mengalami peningkatan. Dibandingkan dengan di Jawa tingkat partisipasi pendidikan formal di Kalimantan dapat dikatakan termasuk dalam tingkat partisipasi pendidikan formal yang rendah. Berdasarkan sumber dari BPS, angka partisipasi sekolah (APS) rata-rata di tahun 2011 di Jawa dan Kalimantan memiliki selisih yang jauh berbeda. Pada kelompok umur 13-15 tahun, rata-rata APS di Jawa sebesar 90, 35 % sementara di Kalimantan sebesar 86,25 %. Pada kelompok umur 16-18 tahun di Jawa sebesar 59,12 % dan di Kalimantan sebesar 56,48 %. Pada kelompok umur 19-24 tahun APS di Jawa sebesar 17,67 % sementara di Kalimantan sebesar 13,77 %. Selisih angka di atas memberikan gambaran bagaimana pendidikan di Jawa dan Kalimantan memiliki perbedaan. Perbedaan itu dapat dilihat dari fasilitas pendidikan di Jawa dapat dikatakan lebih memadai dibanding di Kalimantan yang sebagian besar wilayahnya masih tertutup hutan.

Masyarakat di Nek Sawak adalah masyarakat yang mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber perekonomiannya. Sawit dan karet menjadi tanaman komoditas bagi masyarakat di Nek Sawak dan hampir seluruh masyarakat Nek Sawak masih mengandalkan karet sebagai sumber ekonomi utama, dan kurang dari 10 % yang hanya mengandalkan sawit saja. Perusahaan sawit yang baru datang pada tahun 1992 tidak mengubah posisi tanaman karet dalam perekonomian rumah tangga masyarakat Nek Sawak, meski hampir 70 % dari masyarakat di Nek Sawak memiliki kavling sawit.

(3)

Peran tanaman komoditas setelah masuknya sawit telah memberikan dampak sosial budaya dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat, begitu juga terhadap kesempatan anak untuk mendapatkan pendidikan. Kepemilikan aset berupa lahan karet ataupun kavling sawit tentu mempengaruhi sumber perekonomian suatu rumah tangga yang hidup dari pertanian karet dan sawit. Oleh karena itu tenaga kerja dari keluarga juga dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Lain halnya dengan rumah tangga yang tidak memiliki aset berupa lahan atapun tenaga kerja untuk mengerjakan atau merawat karet dan sawit.

Bagi rumah tangga yang dapat dikatakan sebagai rumah tangga kelas menengah ke bawah, terbatasnya lahan atau tidak adanya lahan serta kurangnya tenaga kerja tentu mempengaruhi peran anak dalam pemenuhan ekonomi rumah tangga. Hal itu berbeda dengan kelas menengah ke atas. Tersedianya aset berupa lahan maupun tenaga kerja pada kelas menengah ke atas memberikan kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pendidikan di tingkat yang tinggi. Kemampuan ekonomi yang dirasa sudah mampu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dikembangkan untuk berinvestasi dengan pendidikan.

Tingkat ekonomi pada rumah tangga kelas menengah ke atas memiliki nilai tawar yang berbeda bagi peran anak dalam pemenuhan ekonomi rumah tangga. Orang tua mulai membebaskan anak untuk tidak mengerjakan pekerjaan di sektor pertanian karet maupun sawit dan mulai menginvestasikan anak mereka melalui pendidikan. Meski demikian, pada saat di lapangan anak-anak itu justru

(4)

berada di kampung dan tidak bersekolah. Fenomena itu kemudian mendorong saya untuk melakukan penelitian secara mendalam.

B. Rumusan Masalah

Sumber perekonomian masyarakat di Nek Sawak berasal dari karet dan sawit. Hasil yang didapat dari dua jenis tanaman komoditas tersebut tergantung dari jumlah kepemilikan aset produksi dan tenaga kerja yang dimiliki dalam suatu rumah tangga. Perubahan sosial, budaya dan ekonomi pun mempengaruhi kehidupan masyarakat Nek Sawak, termasuk pandangan tentang pendidikan. Semakin terbukanya akses ke luar kampung membuat masyarakat semakin terbuka terhadap dunia luar. Pola pikir yang mengarah menuju kehidupan yang lebih modern diusahakan dengan mencoba menjadi orang yang berorientasi kota. Orang tua yang berharap anaknya agar tidak bekerja sebagai petani menunjukkan adanya keinginan untuk mengubah masyarakat desa yang identik dengan pertanian. Perubahan itulah yang kemudian mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya termasuk kesempatan dalam memperoleh pendidikan.

Bagi rumah tangga kelas tertentu, alasan ekonomi yang rendah menjadi kendala untuk mendapatkan pendidikan, terutama sekolah tingkat lanjutan. Namun anak putus sekolah di Nek Sawak tidak hanya dialami oleh anak-anak pada rumah tangga kelas bawah. Dari asumsi tersebut kemudian muncul pertanyaan besar, bagaimana permasalahan putus sekolah muncul di antara kemudahan terhadap akses ekonomi dan fasilitas yang semakin mudah? Dari pertanyaan dasar itu muncul beberapa pertanyaan pendukung, antara lain;

(5)

1. Apakah sekolah dasar di Nek Sawak memiliki andil terhadap pendidikan tingkat lanjut?

2. Bagaimana peran karet dan sawit dalam usaha untuk menjadi masyarakat kota?

3. Bagaimana pengaruh kemudahan akses terhadap uang dan fasilitas transportasi bagi pendidikan di Nek Sawak?

C. Studi Pustaka

Pembahasan mengenai pendidikan di pedesaan sebelumnya pernah dibahas pada skripsi Aprila Ambarwati di tahun 2008. Tulisan tersebut diberi judul Pendidikan Petani Desa (Khayalan Dan Resistensi Petani Terhadap Sekolah). Lokasi penelitian adalah di Dusun Sawangan, Desa Tlogo Pakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah. Pada tulisan tersebut, Aprilia Ambarwati membahas mengenai khayalan petani tentang hidup tanpa sekolah. Pada tulisan tersebut masyarakat Sawangan yang merupakan masyarakat petani yang menilai sekolah sebagai hal yang tidak penting. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya yang bersekolah menunjukkan bahwa tidak ada keinginan masyarakat petani di Sawangan untuk bersekolah.

Sebagian orang tua di Sawangan berpikir bahwa sekolah lanjutan yang berada di luar Sawangan membuat anaknya tidak fokus pada sumber penghidupan mereka. Dengan bekerja serabutan di sawah dan mengurus sapi pemuda-pemuda yang putus sekolah dapat membeli motor. Sebagian bahkan menilai waktu dan jarak untuk bersekolah sebagai penghambat mereka untuk mengurus ternak,

(6)

sawah dan kebun kopi. Pandangan senada antara anak dan orang tua yang menunjukkan perlawanan terhadap pendidikan di Sawangan.

Tulisan lain dalam bentuk skripsi mengenai pendidikan petani ditulis juga oleh Lisa Damayanti dengan judul skripsi Dampak Kemiskinan Terhadap Pendidikan Anak Pada Tiga Keluarga Petani Di Dusun Noyokerten, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kebupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang ditulis pada tahun 2002. Pada tulisannya Lisa membahas mengenai pergeseran kebutuhan terhadap sekolah pada tiga keluarga petani. Sekolah menurut Lisa Damayanti adalah sebagai salah satu kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Pada kasusnya, Lisa menjelaskan bagaimana pendidikan sebagai kebutuhan dasar menjadi kebutuhan sekunder ataupun tersier bagi tiga keluarga petani di Noyokerten. Kemiskinan yang dialami oleh tiga keluarga petani, membuat anak-anaknya putus sekolah. Memberhentikan anak-anaknya sekolah dilakukan oleh orang tua untuk mengurangi pengeluaran rumah tangga.

D. Kerangka Pemikiran

Pendidikan merupakan sebuah alat atau sarana untuk mempersiapkan masa depan dengan tujuan agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang lebih baik di sini dapat dikatakan lebih baik dibandingkan kehidupan saat ini dan lebih baik dibandingkan kehidupan yang pernah dialami oleh orang tua. Cakupan lebih baik dalam konsep ini adalah baik dalam lingkup sosial, budaya dan ekonomi.

(7)

Melalui pendidikan formal dengan sekolah di luar kampung anak-anak Nek Sawak dapat mempersiapkan diri menghadapi gempuran kehidupan modern yang belum di dapatkannya selama tinggal di kampung. Selama masa sekolah di tingkat lanjutan SMP atau SMA anak-anak di Nek Sawak paling tidak tinggal di kecamatan, sehingga dapat merasakan kehidupan kota yang lebih heterogen yang menjadi pusat aktivitas pemerintahan, ekonomi, dan sosial budaya. Menurut L. White (1955),

“pendidikan merupakan alat yang digunakan masyarakat melaksanakan kegiatannya sendiri, dalam mengejar tujuannya ...bukan masyarakat yang mengontrol kebudayaan melalui pendidikan; malah sebaliknya; pendidikan formal dan informal, adalah proses membawa tiap-tiap generasi baru ke bawah pengontrolan sistem budaya “ (Manan, 1989:17).

Semakin tingginya tingkat pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kepribadian dengan semakin banyaknya pengalaman. Sekolah dapat dikatakan suatu kegiatan dengan proses pengumpulan pengalaman dan ilmu yang tidak mudah dijalani. Peningkatan dan penurunan hasil dalam proses belajar merupakan hal yang wajar dalam dunia pendidikan. Bagi Dewey (1937), pendidikan yang berpusat dari pengalaman dan rekonstruksi pengalaman (reconstruction of experience) dapat mewujudkan masyarakat yang cerdas dan cinta damai. Menurut Dewey (1938), pendidikan dan pengalaman tidak dapat dipisahkan (Mulyatno, 2005; 20, 23).

Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan konkret dari sekolah saat ini adalah mendapatkan reward berupa ijazah ataupun gelar. Kebutuhan pasar akan sumber daya manusia yang semakin tinggi di sektor formal maupun nonformal tidak

(8)

hanya menuntut pengalaman namun juga ijazah. Persaingan dalam dunia kerja pun semakin meningkat, terutama di daerah urban dan kota. Beda halnya dengan di desa. Masyarakat desa menurut Suhadi (1989: 129) adalah masyarakat yang bersifat agraris, mengembangkan nilai-nilai sosial, tradisi, adat istiadat dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang khas yang kemudian membedakannya dengan masyarakat yang lain (Dloyana, 1995; 9).

Masyarakat yang memiliki sumber perekonomian dari sektor pertanian tidak membutuhkan syarat ijazah maupun surat-surat lainnya. Ketrampilan dan keuletan menjadi kunci kesuksesan petani. Meski begitu, sependapat dengan Sajogyo dan Sajogyo (1983: 162), pendidikan merupakan salah satu faktor sosial budaya yang menjadi faktor “penyebab” atau sebagai “akibat” dalam tingkat pertumbuhan suatu desa. Di sini pendidikan menjadi salah satu usaha untuk keluar dari pertanian.

Di Nek Sawak masuknya tanaman komoditas dalam kegiatan perekonomian masyarakat petani telah mengubah sistem pertanian subsisten menjadi pertanian intensif. Pertanian intensif pun menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan pasar melalui tanaman komoditas. Masuknya tanaman komoditas membentuk masyarakat Nek Sawak dalam pertanian kapitalis. Dalam definisinya, Kuhren (1990) melihat tipe pertanian kapitalistik di negara sedang berkembang.

Tipe pertanian kapitalistik itu ialah perkebunan. Sebuah perkebunan merupakan sebuah pertanian berskala besar yang mengutamakan penanaman tanaman tahunan, misalnya pohon, semak atau perdu, seringkali dengan sistem penanaman satu jenis tanaman (monokultur). Hasilnya biasanya diolah secara industri di pabrik pengolahan perkebunan itu sendiri dan diarahkan untuk

(9)

ekspor (tebu, pisang, teh, kopi, coklat, sisal, kelapa sawit, dan sebagainya) (dalam Planck, 1990: 22).

Masuknya pertanian kapitalistik dalam bentuk perkebunan membuat akses terhadap lahan untuk berladang semakin sulit. Meski semakin sulit untuk berladang, masuknnya tanaman komoditas seperti karet dan sawit berdampak pada sosial budaya dan ekonomi di Nek Sawak. Adanya tanaman komoditas telah membuat tingkat ekonomi masyarakat meningkat. Peningkatan ekonomi yang didukung dengan kemudahan akses menuju pusat kota semakin mempermudah kegiatan ekonomi. Sependapat dengan Soedjito (1986), bertambahnya peredaran uang di desa berjalan dengan perubahan masyarakatnya. Hal itu juga disampaikan oleh Supratiknya bahwa pendidikan ditentukan oleh jenis dan jenjang pendidikan yang pada akhirnya juga sangat dipengaruhi oleh tuntutan perkembangan masyarakat (2005: 179).

Bagi Kuhren (1990), dengan mendidik dan memberikan persiapan kepada ahli waris yang meninggalkan bidang pertanian, sistem itu memberikan manfaat yang cukup berarti kepada sektor ekonomi lainnya (Planck, 1990: 21). Salah satu bentuk adaptasi yang ditunjukkan oleh masyarakat Nek Sawak adalah melalui pendidikan formal. Melalui pendidikan formal para orang tua mengharapkan anak mampu mempersiapkan diri dengan bekal ilmu yang didapat dari sekolah. Pengalaman dan wawasan yang didapatkan dengan bersekolah di kota karena memang fasilitas pendidikan yang terbanyak berada di kota.

Kota memiliki peran yang penting dalam proses perubahan dalam masyarakat tradisional. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Soedjito (1986) di

(10)

Jawa, anak yang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi di daerah lain tidak hanya berpindah tempat namun sekaligus mengalami dua macam perubahan, yaitu perubahan status dari murid SMA menjadi mahasiswa dan perubahan tempat tinggal. Menurutnya, Perubahan status menyebabkan orang tersebut ragu, nilai-nilai sosial sebagai murid tidak dapat dipergunakan lagi. Nilai-nilai-nilai baru untuk mahasiswa belum diketahuinya. Maka sebenarnya sebenarnya dalam keadaan ragu-ragu yang ditutupi-tutupinya dengan perbuatan-perbuatan yang agak berlebihan. Di samping itu, perpindahan dari satu kota ke kota lain, lebih-lebih ke kota yang lebih besar menyebabkan orang dapat membandingkan nilai-nilai sendiri dengan nilai-nilai baru. Jika perpindahan status dibarengi dengan perpindahan daerah, maka mereka cenderung mudah menerima nilai-nilai baru (hal: 10-11).

E. Metode Penelitian

Lokasi penelitian untuk penulisan ini merupakan lokasi penelitian Tim Penelitian Lapangan (TPL) sejak tahun 2010. TPL yang diadakan atas kerjasama Universitas Gadjah Mada dan Universitas Toronto, Kanada diadakan lagi pada tahun 2011 dengan anggota tim yang berbeda dengan topik-topik penelitian yang berbeda-beda. Pada tahun berikutnya saya tertarik melakukan penelitian mengenai pendidikan di Nek Sawak setelah membaca data harian dan artikel yang ditulis oleh rekan tim TPL yang sebelumnya (TPL tahun 2010) ditempatkan di Nek Sawak. Pada bulan Juli 2011 penelitian dilakukan selama kurang lebih 1 bulan, lalu di bulan Februari dan Maret saya kembali datang ke Nek Sawak dan pada

(11)

bulan Desember 2012, selama kurang lebih 3 minggu saya kembali lagi ke Nek Sawak.

Sampel yang digunakan dalam riset ini adalah warga RT 02. RT 02 dijadikan sumber informasi karena tempat tinggal peneliti berada di RT 02 sehingga lebih mudah untuk melakukan observasi partisipasi. Meski demikian, informasi yang diperoreh tidak menutup diri dari luar RT 02. Pada penelitian ini melibatkan 14 orang tua dan 15 orang anak yang berstatus sekolah dan berstatus putus sekolah. Informan dalam penulisan skripsi ini adalah orang tua atau kepala rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga berstatus sebagai anak. Pengumpulan data dari informan tersebut diambil karena informan memiliki peran yang besar dalam mengambil keputusan dalam rumah tangganya serta untuk mengetahui seberapa besar dukungan dan posisinya pada saat berada di usia sekolah serta perannya sebagai anak dulu. Selain informasi yang dikumpulkan dari orang tua, informasi lainnya diperoleh dari anak yang sudah tidak bersekolah dan anak yang masih bersekolah. Informan lain dalam penulisan ini adalah seorang pendeta yang datang ke Nek Sawak sejak tahun 40’an, informasi yang diperoleh dari pendeta tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat pada masa itu termasuk perkembangan pendidikan di Nek Sawak. Sementara untuk memperoleh informasi mengenai sekolah dasar di Nek Sawak diperoleh dari wawancara bersama kepala sekolah dan guru SD N 11 Nek Sawak.

Metode penelitian yang digunakan untuk penulisan skripsi ini adalah dengan observasi partisipasi dan wawancara. Observasi partisipasi dilakukan

(12)

untuk mendapatkan data yang empiris karena selama partisipasi berlangsung, penulis mendapat data-data pendukung dari informan. Selama observasi partisipasi, wawancara secara tidak terstuktur atau wawancara yang tidak sengaja dilakukan dan tanpa mempersiapkan pertanyaan terlebih dahulu dapat berlangsung. Wawancara tidak terstruktur ini lebih banyak terjadi dibandingkan dengan wawancara terstruktur karena pada suatu waktu di tempat yang terkadang tidak direncanakan. Observasi partisipasi dengan mengikuti aktivitas masyarakat dilakukan agar mempermudah pengumpulan data. Partisipasi yang dilakukan antara lain, mengikuti dan mencoba aktivitas yang dilakukan informan dalam sehari-hari seperti menoreh, panen sawit, mencari sayur di hutan, bercengkrama bersama tetangga, turut dalam kegiatan mengajar di SD dan mengikuti kegiatan sekolah di luar kegiatan belajar. Selain itu observasi partisipasi dilakukan agar penulis dapat meresapi dan merasakan seperti apa pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan agar dalam penulisan ini dapat menjadi tulisan yang objektif. Metode pengumpulan data dengan wawancara juga dilakukan pada saat penelitian beralangsung. Tujuan menggunakan metode wawancara dilakukan dengan maksud untuk mempermudah mengarahkan data agar semakin merucut. Sebelum wawancara dilaksanakan, peneliti pertama membuat daftar pertanyaan yang akan diajukan pada informan.

Pada penelitian di bulan Juli 2011, saya mendapatkan data penduduk yang dibuat di tahun 2010. Data tersebut diperoleh dari salah seorang perangkat desa. Data penduduk yang diperoleh dimanfaatkan sebagai data, dengan data tersebut dapat membantu pembuatan tabel. Pembuatan tabel diharapkan dapat

(13)

memberikan deskripsi berupa angka untuk memudahkan saat membandingkan, sehingga data pendukung berupa tabel diharapkan mampu memberikan deskripsi secara umum. Meski demikian dalam data penduduk terdapat beberapa data yang tidak sesuai karena waktu pembuatan data penduduk berbeda dengan waktu penelitian dan berbeda dengan data di lapangan. Selain itu, pada penulisan ini data pada tabel menggabungkan antara data penduduk dan data wealth ranking yang dibuat pada tahun 2012. Data wealth ranking dibuat untuk mengetahui berapa banyak lahan karet dan sawit yang dimiliki. Pembuatan wealth ranking bersumber dari informasi yang diberikan oleh salah seorang perangkat desa, dalam data ini penulis mengambil data dari RT 02 sebanyak 76 KK.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :