EFEKTIFITAS PERAN KOMITE AUDIT DAN KUALITAS AUDIT DALAM MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA DI INDONESIA

Teks penuh

(1)

164 Jurnal Revenue, Vol. 01, No. 02, Desember 2020 p-ISSN : 2723-6498 e-ISSN: 2723-6501 DOI Issue : 10.46306/rev.v1i2 Doi Artikel : 10.46306/rev.v1i2.20

EFEKTIFITAS PERAN KOMITE AUDIT DAN KUALITAS AUDIT

DALAM MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA DI INDONESIA

Irma Paramita Sofia1, Verliani Dasmaran2, 1Universitas Pembangunan Jaya 2

Universitas Mathla'ul Anwar Banten *Email : irma.paramita@upj.ac.id

ABSTRACT

The objective of this study is to determine the effect of Audit Quality and Audit Committee on earnings management with a study of Manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) in the period 2017-2019. Hypothesis testing is done using multiple linear regression methods. The results showed that partial audit quality and audit committee influence earnings management. In this study, audit quality and audit committee variables simultaneously influence earnings management.

Keywords: The Audit Quality, The Audit Committee, Firm Size, Cash Holding Earnings Management

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Kualitas Audit dan Komite Audit terhadap manajemen laba dengan penelitian pada perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2017-2019. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan metode regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas audit dan komite audit secara parsial berpengaruh terhadap manajemen laba. Dalam penelitian ini variabel kualitas audit dan komite audit secara simultan mempengaruhi manajemen laba.

Kata Kunci: Kualitas Audit, Komite Audit, Ukuran Perusahaan, Manajemen Laba Holding Kas

Received November 26th, 2020, 1st Revision December 1st, 2020, Accepted

for publication December 10th, 2020.

(2)

EFEKTIFITAS PERAN KOMITE AUDIT DAN KUALITAS AUDIT DALAM MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA DI INDONESIA | Hal 164-170

165

PENDAHULUAN

Dalam menjalankan aktivitasnya perusahaan bertujuan untuk dapat mendapatkan pengembalian hasil dari aktivitas investasinya. Semua perusahaan tidak ingin mengalami kerugian, semua perusahaan dalam aktifitasnya tentu ingin memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Untuk keuntungan yang diperoleh dalam satu periode akan dilaporkan dalam Laporan Keuangan. Penyajian laporan keuangan merupakan muara terakhir dari akuntansi keuangan, yang mana terdapat sudut pandang yang penting dalam akuntansi keuangan yaitu penilaian atau pengukuran (valuation/measurement) melalui pembuatan neraca (balance sheet) atau pembuatan laba-rugi (income statement).

Informasi mengenai laporan keuangan dapat dikatakan relevan, apabila dalam penyajiannya dapat memberikan informasi tambahan secara langsung kepada pihak yang menggunakannya. Menurut Hary (2015), selain memberikan informasi terkait keuangan perusahaan, Laporan Keuangan akan memberikan pedoman bagi investor dalam mengambil keputusan bisnis. Namun terkadang pihak external tidak diberikan informasi mengenai laporan keuangan yang sesungguhnya, sehingga menimbulkan perbedaan informasi antara pihak internal dan juga pihak external (Sulistyanto, 2008). Banyak perusahaan di Indonesia dalam mengelola penyusunan laporan keuangannya yang melakukan praktik manajemen laba, untuk mengubah transaksi atau kegiatan lainnya yang berhubungan dengan laporan keuangan dengan tujuan memberi kesan tertentu untuk memengaruhi tindakan pemakai laporan keuangan (Healy, 1999).

Menurut Soemarsono (2010) laba merupakan selisih lebih beban atas pendapatan sehubungan dengan kegiatan usaha yang dilakukan perusahaan. Oleh karena itu beban dan pendapatan seringkali dijadikan sebagai sasaran manajemen untuk dapat mengendalikan laba. Untuk dapat mengukur dan mengetahui terjadinya praktik manajemen laba, terdapat cara untuk dapat mendeteksi praktik manajemen laba yang terjadi di perusahaan. Terdapat penelitian yang sudah dilakukan mengenai manajemen laba, sebagian besar banyak yang mengkaitkan manajemen laba berpengaruh terhadap kinerja perusahaan itu sediri.

Kasus kecurangan dalam akuntansi didunia bisnis terkait dengan laporan keuangan semakin berkembang terutama pada perusahaan-perusahaan yang go public baik didalam negeri maupun diluar negeri, sehingga dapat menarik perhatian secara serius dari para stackholders. Terdapat fenomena yang terjadi mengenai praktik manajemen laba (earning management) yang terjadi di Indonesia, seperti pada PT Garuda Indonesia pada tahun 2018 yang mencatatkan piutang sebagai pendapatan sehingga membuat Laporan Keuangannya tampak sehat namun sebenarnya menderita kerugian sebesar Rp. 1.66 T.

Informasi mengenai laba merupakan informasi yang bisa dikatakan penting untuk dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh para investor yang ingin berinvestasi, namun informasi mengenai laba ini seringkali menjadi target rekayasa dari manajemen perusahaan untuk memaksimalkan kepentingannya, sehingga dapat merugikan pihak eksternal seperti investor, kreditor dll (Christiani & Nugrahanti, 2014). Dalam informasi yang lainnya, laba juga seringkali disalahgunakan oleh manajemen perusahaan untuk kepentiangan dirinya sendiri atau kelompok dalam memaksimalkan kepuasannya.

Dalam menilai kewajaran sebuah laporan keuangan dibutuhkan seorang auditor yang dapat mendeteksi kemungkinan adanya salah saji material yang terjadi pada laporan keuangan, apakah memang disebabkan karena kekeliruan atau memang adanya kecurangan yang dilakukan. Audit yang berkualitas tinggi dapat dikatakan untuk dapat mencegah adanya tindakan praktik manajemen laba. Selain kualitas audit, faktor yang lainnya yang dapat mencegah manajemen laba yaitu komite audit. Agar praktik dari manajemen laba (earnings management) dapat berkurang atau diminimalisir maka dibentuklah komite audit. Komite audit didalam sebuah perusahaan akan berperan untuk dapat mengawasi pengelolaan perusahaan agar lebih baik dengan melakukan proses atas informasi keuangan seperti laporan keuangan sehingga dapat membantu manajemen dalam mengambil suatu tindakan (Dwikusumowati, 2013). Penelitian menguji kembali mengenai variabel manajemen laba alasannya yaitu karena masih terjadi inkonsistensi hasil uji dari peneliti yang sebelumnya (Puspita,2018; Sarwinda,2015).

(3)

EFEKTIFITAS PERAN KOMITE AUDIT DAN KUALITAS AUDIT DALAM MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA DI INDONESIA | Hal 164-170

166 perusahaan (principal) dengan manajer suatu perusahaan (agent) yang memiliki suatu hubungan atas perjanjian yang telah ditetapkan atau kontraktual. Menurut (Scoot, 2009) Teori agensi adalah pengembangan suatu teori yang yang mempelajari suatu kontrak atau perjanjian dimana para manajer (agent) bertugas atau melakukan suatu pekerjaan atas nama dari pemilik suatu perusahaan (principal) ketikan suatu tujuan tertentu atau keinginan mereka bertolak belakang atau tidak sejalan maka akan terjadi suatu konflik.

Suatu perusahaan yang modalnya terdiri dari saham, investor atau pemegang saham

dapat dikatakan sebagai pemilik perusahaan (principal) dan untuk CEO yaitu sebagai agent pihak yang bertindak sesuai dengan kepentingan suatu principal. Pihak principal akan termotivasi untuk mengadakan suatu kontrak untuk dapat mensejahterakan dirinya sendiri dengan profitabilitas suatu perusahaan yang diharapkan akan selalu meningkat. Agency Theory memiliki suatu dugaan atau asumsi bahwa masing-masing dari individu semata-mata memang termotivasi dengan kepentingannya sendiri sehingga akan menimbulkan konflik kepentingan antara agent dan principal suatu perusahaan. Tindakan manajemen laba (earnings management) dapat dijelaskan dengan Teori Agensi, yaitu sebagai manajer perusahaan (agent) yang membuat laporan keuangan suatu perusahaan secara moral memiliki tanggung jawab untuk dapat mengoptimalkan keuntungan suatu perusahaan atau keuntungan untuk principal melalui laporan laba perusahaan.

Manajemen laba sendiri menggunakan suatu pendekatan teori yaitu teori keagenan yang terkait dengan kontrak atau hubungan antara para anggota yang ada di perusahaan, terutama yaitu hubungan antara manajer perusahaan (agent) dengan hubungan pemilik perusahaan (principal). Untuk hubungan keagenan ini terkadang menimbulkan problem antara manajer perusahaan atau pemegang saham. Konflik yang terjadi biasanya karena manusia itu sendiri, manusia adalah mahluk ekonomi yang mempunyai sifat atau kemauan untuk dapat mementingkan keperluannya sendiri. Untuk Pemegang saham dan juga manajer perusahaan tidak dapat dipungkiri terkadang memiliki tujuannya yang berbeda dan masing-masing dari kepentingannya menginginkan dari tujuan dari keduanya dapat tercapai, akibatnya yang terjadi dapat menimbulkan suatu konflik kepentingan.

Manajemen laba merupakan suatu keputusan dari manajer perusahaan untuk dapat memilih kebijakan akuntansi tertentu sebagai metode yang dipilih untuk dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai, tujuan tersebut bisa untuk menaikan laba perusahaan ataupun untuk dapat menurunkan laba perusahaan atau mengurangi tingkat kerugian yang dilaporkan.

Secara umum, terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendeteksi perilaku dari manajer perusahaan dalam mengatur laba. Pendekatan yang pertama, yaitu mengontrol jenis akrual, dimana akrual secara luas didefinisikan sebagai porsi item untuk penerimaan dan juga pengeluaran (revenue and expense) pada laporan laba rugi yang tidak ditampilkan pada laporan arus kas. Pendekatan kedua yaitu perubahan dari kebijakan akuntansi yang digunakan dalam perusahaan.

(Sari & Ahmar, 2014) dalam penelitiannya menyampaikan bahwa terdapat berbagai metode untuk mengukur manajemen laba. Model Jones merupakan model untuk dapat mendeteksi praktik manajemen laba model ini adalah model yang pertama kali diperkenalkan oleh Jones (1991) yang kemudian di kembangkan kembali oleh Dechow et,al. (1995) yang dikenal dengan modified Jones Model. Stubben (2010) mengenalkan

Revenue Discretionary Model di perkenalkan oleh atas dasar ketidakpuasan terhadap

model akrual yang umum yang digunakan saat ini.

Pengertian kualitas audit Menurut De Angelo (1981) kualitas audit adalah keahlian auditor dalam menemukan kesalahan yang major dalam laporan keuangan dan melaporkan salah saji material tersebut. Salah satu cara untuk mengurangi ketidakselarasan informasi yang terdapat antara manajer dan pemegang saham adalah dengan meningkatkan peran auditor (Mahrani, 2018). Kualitas audit dipandang sebagai kemampuan untuk mempertinggi kualitas pada pelaporan keuangan perusahaan, dengan kualitas audit yang tinggi diharapkan semakin meningkatkan kepercayaan pihak ekternal, investor sehingga di harapkan pasar akan bereaksi positif jika laporan keuangan suatu perusahaan diaudit oleh auditor yang berkualitas.

(4)

EFEKTIFITAS PERAN KOMITE AUDIT DAN KUALITAS AUDIT DALAM MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA DI INDONESIA | Hal 164-170

167 Pengertian Komite Audit menurut Tugiman (1995) komite audit adalah sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk mengerjakaan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas-tugas khusus atau sejumlah anggota Dewan Komisaris perusahaan klien yang bertanggung jawab untuk membantu auditor dalam mempertahankan independensi dari manajemen.Sehingga dapat disimpulkan bahwa komite audit adalah sekelompok orang atau lebih yang dipilih dan dibentuk langsung oleh dewan komisaris untuk dapat membantu tugas dari dewan komisaris khususnya dalam mengawasi proses penyajian laporan keuangan perusahaan sehingga menghasilkan informasi mengenai laporan keuangan perusahaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku dan dapat memberikan informasi mengenai kondisi perushaan yang sebenarnya.

METODOLOGI PENELITIAN

Objek dalam penelitian ini adalah manajemen laba dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya, kualitas audit, komite audit, ukuran perusahaan dan cash holding. Penelitian di bertujuan untuk dapat menghasilkan bukti empiris, apakah terdapat pengaruh kualitas audit, komite audit, ukuran perusahaan dan cash holding terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data sekunder yang digunakan berupa data laporan keuangan pada semua perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017-2019. Data di peroleh dari www.idx.co.id.

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Manajemen Laba (earnings management). Untuk pengukuran variabel dependen yaitu manajemen laba pada penelitian ini menggunakan Revenue Discretionary Model yang diperkenalkan oleh Stubben (2010).

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadikan sebab perubahan atau timbulnya variable independen (Sugiyono, 2016).Dalam penelitian ini variabel independen yang mempengaruhi manajemen laba yaitu :

Kualitas audit merupakan kesesuaian audit yang dilakukan oleh auditor berdasarkan standar audit yang telah ditetapkan (Watkins et al, 2004). Tujuan dari kualitas audit yaitu dimana saat auditor melakukan praktik audit laporan keuangan klien diharapkan mampu untuk menemukan kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan oleh klien (SPAP; 2011). Menurut Rahdal (2017) pengukuran kualitas menggunakan variabel dummy, yaitu apabila perusahaan yang laporan keuangannya diaudit oleh KAP yang berafiliasi dengan Big Four akan diberikan angka 1, dan sebaliknya apabila laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP non big four makan diberi angka 0.

Untuk variabel komite audit dihitung dengan menggunakan rumus : KA = Jumlah anggota Komite Audit dalam perusahaan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Uji t digunakan untuk membuktikan apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen, dengan tingkat signifikikasi 0,05 (5%). Jika nilai signifikan lebih besar > 0,05 maka tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Sedangkan jika terjadi sebaliknya, yaitu nilai signifikan lebih kecil dari angka 0,05 maka variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Untuk pengambilan keputusan cara yang kedua jika T hitung > T tabel maka artinya variabel independen memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Sedangkan untuk T tabel dapat dihitung sebagai berikut :

(5)

EFEKTIFITAS PERAN KOMITE AUDIT DAN KUALITAS AUDIT DALAM MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA DI INDONESIA | Hal 164-170

168

Tabel 1 Hasil Uji Parsial (t)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,345 ,100 2,059 ,042 Kualitas Audit -,037 ,009 ,266 2,735 ,004 Komite Audit -,068 ,028 ,345 2,775 ,003

a. Dependent Variable: Manajemen Laba Sumber: Data diolah menggunakan SPSS 26

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa nilai B untuk variabel Kualitas Audit, 0,026 dengan nilai signifikan yaitu sebesar 0,007. Sesuai dengan ketentuan cara pengambilan keputusan cara yang pertama, nilai signifikan kurang dari 0,05 (0,004<0,05) maka (H1) diterima. Berdasarkan ketentuan pengambilan keputusan cara yang kedua, jika t hitung > t tabel maka H1 diterima. Artinya Kualitas Audit berpengaruh positif terhadap Manajemen Laba. Hal ini menyatakan bahwa setiap kenaikan 1 (satu) pada kualitas audit, maka akan menurunkan Manajemen Laba sebesar 0,37 %.

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa nilai B untuk variabel Komite Audit adalah sebesar -0,68 dengan nilai signifikan yaitu sebesar 0,03. Sesuai dengan ketentuan pengambilan keputusan cara yang pertama, nilai signifikan kurang dari 0,05 (0,03<0,05) maka H2 diterima. Artinya dapat disimpulkan komite audit berpengaruh negatif terhadap Manajemen Laba. Hal ini dinyatakan bahwa setiap kenaikan 1 (satu) pada Komite Audit, maka akan menurunkan Manajemen Laba sebesar 0,68%.

Berdasarkan Tabel 1 dapat diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = 0,345+0,04X1 – 0,03X2 + 0,1e Dimana : Y = Manajemen Laba X1 = Kualitas Audit X2 = Komite Audit α = Konstant β = Koefisien Regresi

e = error term (variabel Residual)

Untuk cara menghitung F tabel dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut yang ada dibawah ini:

Tabel 2 Hasil Uji Simultan (F)

ANOVAa

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression ,031 4 ,008 3,597 ,008b

Residual ,300 139 ,002

Total ,331 143

(6)

EFEKTIFITAS PERAN KOMITE AUDIT DAN KUALITAS AUDIT DALAM MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA DI INDONESIA | Hal 164-170

169 b. Predictors: (Constant), Cash Holding, Kualitas Audit, Komite Audit, Ukuran Perusahaan

Sumber : Data diolah dengan SPSS 26

Berdasarkan Tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa hasil uji Anova atau F hitung yaitu sebesar 3,597 dengan probabilitas 0,008 < 0,05 maka H3 diterima. Selain itu, berdasarkan F tabel sebesar 2,44 maka F hitung > F tabel (3,597 > 2,44) maka dapat disimpulkan bahwa model regresi atas variabel kualitas audit dan komite audit secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap manajemen laba.

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui pengaruh kualitas audit, komite audit, ukuran perusahaan dan cash holding (variabel independen) terhadap manajemen laba (variabel dependen). Analisi dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan regresi berganda dngan menggunakan program SPSS versi 26. Data yang dikumpulkan yaitu sebanyak 216 sampel, akan tetapi dengan sampel tersebut pada uji Normalitas tidak dapat memenuhi kriteria dalam uji tersebut atau masih terjadi gejala normalitas dan peneliti melakukan outlier data seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, setelah melakukan outlier data, sampel yang berhasil dikumpulkan yaitu menjadi 144 sampel, yang terdiri atas perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2018. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan yaitu sebagai berikut :

1. Variabel kualitas audit yang dihitung berdasarkan dengan proksi ukuran KAP yang digunakan oleh perusahaan. Proksi ini menggambarkan ukuran KAP big four dan non big four, yang menunjukan hasil uji bahwa kualitas audit berpengaruh secara signifikan terhadap Manajemen Laba.

2. Variabel Komite audit yang diukur berdasarkan dengan jumlah total komite audit yang berada didalam perusahaan, yang menunjuka hasil uji bahwa komite audit berpengaruh terhadap Manajemen Laba.

3. Variabel kualitas audit, komite audit, ukuran perusahaan dan cash holding mempunyai pengaruh yang signifikan secara bersama-sama (simultan) terhadap manajemen laba.

Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang dilakukan, serta keterbatasan penelitian yang dialami oleh penulis, saran yang dapat penulis berikan dalam penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut :

1. Bagi penelitian yang selanjutnya sebaiknya melakukan penelitian dengan periode tahun yang lebih lama, serta dapat mencoba menggunakan sampel perusahaan yang berbeda, untuk lebih melihat jangka waktu manajemen laba yang terjadi pada perusahaan selain pada perusahaan manufaktur. Untuk penelitian yang selanjutnya dapat menggunakan sampel perusahaan LQ 45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan periode 2017-2019. 2. Pada penelitian yang selanjutnya dapat mencoba menggunakan proksi atau alat ukur yang

lainnya agar dapat hasil yang berbeda dengan penelitian yang sekarang, yang dapat lebih berpengaruh dari pada proksi yang digunakan pada penelitian yang sebelumnya. Untuk penelitian yang selanjutnya untuk dapat mengukur dan juga mengitung manajemen laba denga menggunakan model lain yaitu seperti Model Jones.

(7)

EFEKTIFITAS PERAN KOMITE AUDIT DAN KUALITAS AUDIT DALAM MEMPENGARUHI MANAJEMEN LABA DI INDONESIA | Hal 164-170

170 3. Bagi penelitian yang selanjutnya, diharapkan mampu untuk menggunakan variabel independen yang berbeda diluar dari penelitian ini yang dapat mempengaruhi praktik dari manajemen laba.

DAFTAR PUSTAKA

Agustia, Y. P,. & Suryani, E. (2018). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan,

Leverage, dan Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Pertambangan

yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Aset (Akuntansi Riset), 10 (1). 63-74 Christiani, Nugrahanti, Y.W (2014). Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba. Jurnal

Akuntansi dan Keuangan 16 (1). 52-62

Dewchow, P. M., Sloan, R. G., & Sweeny, A.P (1995). Detecting Earnings Management. The Accounting Review, 70 (2), 193-225

Ghozali, HI 2016, Aplikasi Analisis Multivarianate dengan Program IBM SPSS 21, Universitas Diponegoro Semarang, dari www.undip.ac.id

Gozali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 25. Edisi 9. Semarang: Undip

Healy, P. M (1985). The Effect of Bonus Schemes on Accounting Decisions. Journal Of Accounting & Economics, 85-107

Isdarini, V (2019) Analisis Good Corporate Governance dan Corporate Social Responsibility terhadap Kinerja Keuangan PT BANK Danamon Indonesia

Jones, J.J (1991). Earnings Management During Import Relief Investigations. Journal Of Accounting Resarch, 29 (2), 193-228.

Mahrani, M., Soewarno, N. (2018) The Effect of Good Corporate Governance Mechanism and Corporate Social Responsibility on Financial Performance With Earnings Management as Mediating Variabel. Asian Journal of Accounting Resarch, 3 (1), 41-60

Maulana, A. (2014). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Labadi Perbankan, JURNAL AKUNTANSI & INVESTASI, 15 (2), 137-150

Perusahaan terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Sektor Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun 2013-2016). e-Proceedlng of Management.5(1) 689.

Rahdal, H (2015). Pengaruh Ukuran KAP, Ukuran Perusahaan, Arus Kas Bebas, dan Leverage Terhadap Manajemen Laba. Jurnal Universitas Riau

Soemarsono SR, 2002, Akuntansi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Rineka Citra

Sugiono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta

Sulistyanto, S. (2008). Manajemen Laba:Teori dan Model Empiris. Jakarta: PT Grasindo.

Susanto, I. R. (2017). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur di BEI. Jurnal Ilmiah Akuntansi Peradaban, 3 (2), 65-83.

Tugiman, (1995), Sekilas Komite Audit, PT. Eresco, Bandung.

Watkins, A.L. W. Hillison, dan S.E. Morecroft. 2004. Audit Quality: A Synthesis of Theory and Empirical Evidence”. Journal Of Accounting Literature. 23. Pp 153-293

Yendrawati, R (2015). Pengaruh Dewan Komisaris Independen, Komite Audit, Kepemilikan Manajerial, dan Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen Laba. Jurnal Universitas Islam Indonesia

Figur

Memperbarui...

Related subjects :