BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Desa Kareloe Kecamatan Bontoramba. Desa kareloe merupakan salah satu desa yang berada di

Teks penuh

(1)

54 Kabupaten Jeneponto

1. Keadaan Desa Kareloe

Desa kareloe merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan bontoramba kabupatenjeneponto. Didirikan pada tanggal 16 juli tahun 1979 di atas lahan seluas ± 6750 m2. Lahan tersebut berasal dari hibah salah seorang tokoh masyarakat ( H. Ibrahim )

Untuk mengetahui nama-nama yang pernah menjabat sebagai kepala sekolah SMP Negeri 2 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada tabel berikut.

Adapun desa yang terdekat denga desa kareloe adalah - Sebelah utara desa tamalatea

- Sebelah selatan desa tamanroya - Sebelah baarat desa balandangan

Menyiapkan Insan Kamil berwawasan keagamaan, dan berperilaku islami, unggul dalam Imtaq dan Iptek, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dengan berpijak pada budaya Bangsa Indonesia.

1. Membentuk Insani yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cakap dan Percaya diri sendiri.

(2)

2. Menumbuhkan semangat keunggulan Imtaq dan Iptek secara intensif pada semua warga sekolah

3. Melaksanakan PBM ( Proses Belajar Mengajar ) secara efektif sehingga siswa dapat berkembang secara optimal

4. Menggairahkan semua potensi dan Stakeholder untuk bertanggung jawab secara bersama dengan menempatkan manajemen partisipasi.

1. Ekstrakulikuler a. Pembinaan fisik

b. Pembinaan mental dan keperibadian. c. Pramuka

2. Sarana Dan PrasaranaSekolah

Untuk kelancaran kegiatan pembelajaran, sarana dan prasarana yang memadai sangat menentukan. Sarana dan prasarana yang digunakan oleh SMP Negeri 2 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar. Gedung yang ditempati terdiri dari 1 lantai. Keadaan gedung dan sarana prasarana lainnya sudah bagus dan mencukupi.

B. Penerapan pembelajaran Inqiury Dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VIII Di SMP Negeri 2 Passimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar?

Dalam proses belajarmengajar di sekolah, guru PAIdi sekolah SMP Negeri 2 Passimarannu Kepulauan Selayar terkadang menemukan siswa

(3)

yang memperlihatkan kemalasan serta etika yang kurang baik dalam mengikuti pelajaran. Hal ini di karenakan tidak efisiennya model pembelajaran yang digunakan oleh guru sehingga motivasi belajar siswa sangat menurun. Oleh karena itu, menurunnya motivasi belajar siswa tersebut akan mengakibatkan juga pada prestasi belajar siswa. Siswa seperti ini harus dibimbing ataupun diajarakan dengan berbagai variasi. Adanya nuansa pembelajaran baru yang diberikan oleh gurunya akan menyentuh hati siswa untuktermotivasidalam proses belajarmengajar. Zakiah Darajat (1994:16), merupakan seorang pakar psikologi dalam bukunya kepribadian guru menjelaskan bahwa” kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik atau pembina yang lebih baik bagi anak didiknya”. Dengan demikian dipahami bahwa bukan hanya profesi guru yang dituntut, melainkan kepribadian harus pula dimiliki sebagai bekal seorang pendidik. Hal yang satu ini menjadi kemutlakan karena guru merupakan pembimbing dan pendidik yang sangat berpengaruh dalam memberikan pengajaran kepada siswa.

Adapun pelaksanaan pembelajaran inquiry dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas VIII di SMP 2 Passimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar hal ini dikemukakan oleh salah satu guru PAI ibu Nursidah, S.Pd.I sebagai berikut :

“ Dengan adanya pembelajaran seperti ini anak-anak merasa antusias dalam menerima pembelajaran, apalagi pembelajaran inquiry ini untuk pertama kalinya diterapkan yaitu siswa diajak untuk berkelompok kemudian didiskusikan atau dipersentasikan didepan teman-temannya. Merasa tertantang apalagi berdasarkan yang saya pantau siswa yang biasanya diam dan main-main dikelas itupun merasa antusias dan mereka

(4)

mungkin juga beranggapan kalau mereka mampu menjawab dan bertanya kepada siswa/kelompok lain, ada hal yang baru bagi mereka terutama anak-anak yang sering diam dan main-main dikelas. Hal ini juga karena selama proses belajar mengajar disini saya dan guru-guru disini sejujurnya masih menggunakan metode ceramah, mungkin itulah yang membuat siswa menjadi malas dan kurang berminat dalam belajar. Namun dengan adanya pembelajaran seperti ini dapat kami kembangkan dan contoh dan semoga dengan adanya pembelajaran seperti ini kami semua disini akan lebih giat dan semangat juga mencari pembelajaran baru lainnya” , ( wawancara 26 Desember 2015).

Berdasarkan hasil wawancara diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa, dengan pembelajaran inquiry prestasi belajar siswa maupun minat belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Pasimarannu dapat terpengaruhi danberkembang.

C. Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui Pembelajaran Inquiry Siswa Kelas VIII Di SMP 2 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar

Untuk mengetahui hasil peningkatan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar, penulis membagi dalam dua penilaian berdasarkan tiap siklus yang prosedurnya apabila siklus I tidak berhasil maka akan dilanjutkan pada siklus II, adapun penilaian tersebut, yaitu berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa dan hasil evaluasi siswa.

1. Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus I

Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus 1 dicatat dalam lembar observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus 1 dinyatakan dalam table berikut.

(5)

Tabel 4.1.Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I

DATA HASIL OBSERVASI AKTIVITAS SISWA SELAMA PROSES BELAJAR MENGAJAR SIKLUS I

N o.

Komponen yang Diamati PertemuanKe- Rata-rata %

1 2 3 4

1. Jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran

15 13 10 15 13,25 88,33%

2. Siswa ( kelompok ) yang

memperhatikan pada saat proses pembelajaran

5 2 3 5 3,75 25%

3. Siswa yang bertanya tentang materi yang pada kelompok lain

3 3 3 4 3,25 21,66%

4. Siswa yang aktif saat diskusi dan kompak dalam kelompoknya

3 4 3 3 3,25 21,66%

5. Keaktifan kelompok menyimpulk an materi pembelajaran

2 2 4 5 3,25 21,66%

Berdasarkan tabel 4.1. diperoleh bahwa dari 15 siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar, pada siklus I jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran rata-rata mencapai 88,33%. Siswa ( kelompok ) yang memperhatikan pada saat proses pembelajaran mencapai rata-rata 3,75%. Siswa yang bertanya tentang materi yang pada kelompok lain21,66%

. Siswa yang aktif saat diskusi dan kompak dalam kelompoknya 21,66%. 21,66%, Keaktifan kelompok menyimpulkan materi pembelajaran, dan masih perlu ditingkatkan untuk kesiklus selanjutnya.

(6)

2. Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Siklus II

Berdasarkan hasil observasi aktifitas siswa pada siklus II dicatat dalam lembar observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung

Tabel 4.2. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II

DATA HASIL OBSERVASI AKTIVITAS SISWA SELAMA PROSES BELAJAR MENGAJAR SIKLUS II N

o.

Komponen yang Diamati PertemuanKe- Rata-rata %

1 2 3 4

1. Jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran

15 14 15 15 14,75 98,33%

2. Siswa ( kelompok ) yang

memperhatikan pada saat proses pembelajaran

5 4 5 5 4,75 31,66%

3. Siswa yang bertanya tentang materi yang pada kelompok lain

5 5 5 5 5 33,33%

4. Siswa yang aktif

saatdiskusidankompakdalamkelo mpoknya 5 5 5 5` 5 5 33,33%

5. Keaktifan kelompok menyimpulk an materi pembelajaran

5 5 5 5 33,33%

Sumber: Hasilobservasisiklus I

Berdasarkan tabel 4.2. diperoleh bahwa dari 15 siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar, padasiklus II jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran rata-rata mencapai 98,33%. Siswa ( kelompok ) yang memperhatikan pada saat

(7)

proses pembelajaran mencapai rata-rata 31,66%. Siswa yang bertanya tentang materi yang pada kelompok lain33,33%

. Siswa yang aktif saat diskusi dan kompak dalam kelompoknya 33,33%. 33,33% keaktifan kelompok menyimpulkan materi pembelajaran, sehingga dapat dikatakan bahwa tindakan siklus II berada pada kategori sangat baik.

3. Hasil Evaluasi Siswa pada Siklus I

Hasil evaluasi diperoleh dari nilai tes berdiskusi secara kelompok yang diambil setelah pembelajaran mengajar melalui pembelajaran inquiry, pada setiap akhir siklus.

Analisis kuantitatif diperoleh nilai statistik deskriptif yang menunjukkan hasil belajar siswa yang diperoleh setelah mengikuti proses pembelajaran melalui pembelajaran inquiry, pada mata pelajaran pendidikan agama islam SMP Negeri 2 Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Hasil evaluasi siswa dinyatakan dalam pengkategorian ketuntasan belajar terlihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.3.Distribusi Hasil Evaluasi Siklus I

Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 64 Tidak Tuntas 11 73,33 %

65 – 100 Tuntas 4 26,67 %

(8)

Distribusi hasil evaluasi murid siklus I dapat diketahui bahwa dari 15siswa terdapat 4siswa yang tuntas hasil belajarnya dengan presentase 26,67% dan 11siswa yang tidak tuntas hasil belajarnya dengan presentase 73,33%. Nilai ketuntasan tersebut belum memenuhi indikator yang harus dicapai, yakni 85% murid memperoleh nilai 65 ke atas.

4. Hasil Evaluasi Siswa pada Siklus II

Analisis kuantitatif diperoleh nilai statistic deskriptif yang menunjukkan hasil evaluasi siswa yang diperoleh setelah mengikuti proses pembelajaran melalui pembelajaran Inquiry di SMPNegeri 2 Pasimarannu Kab. Kepulauan selayar

Teshasil evaluasi siswa dinyatakan dalam pengkategorian ketuntasan belajar terlihat pada table berikut.

Tabel 4.4.Distribusi Hasil Evaluasi Siklus II

Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)

0 – 64 Tidak Tuntas 3 12,5 %

65 – 100 Tuntas 12 87,5 %

(9)

Distribusi hasil evaluasi pada siklus II terlihat adanya peningkatan ketuntasan hasil evaluasi siswa yaitu terdapat 12 murid yang tuntas hasil belajarnya dengan presentase 87,5% dan 3siswa yang tidak tuntas hasil belajarnya dengan presentase 12,5%.Hal ini berarti bahwa ketuntasan belajar dengan penerapan pembelajaran Inquiry pada pembelajaran PAI telah tercapai secara KKM sebesar 65 dan85 % secara klasikal.

A. Pembahasan

Dari hasil observasi tampak bahwa penerapan pembelajaran Inquiry pada siswa kelas VIII.SMP Negeri 2 Pasimarannu Kab. Kepulauan Selayar dapat meningkatkan hasil belajar dan perilaku siswa dalam proses pembelajaran.

Peningkatan ketuntasan tersebut dapat dilihat pada hasil evaluasi dan observasi siswa. Adapun hasil evaluasi siswa yaitu pada siklus 1 berjumlah 10 siswa dengan persentase 41,66%, kemudian meningkat menjadi 15 siswa dengan persentase 87,5% pada siklus II. Sedangkan dari hasil observasi pada siklus yaitu 21,66% meningkat menjadi 33,33% pada siklus II.

Figur

Tabel 4.1.Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I

Tabel 4.1.Hasil

Observasi Aktivitas Siswa Siklus I p.5
Tabel 4.2. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II

Tabel 4.2.

Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II p.6
Tabel 4.3.Distribusi Hasil Evaluasi Siklus I

Tabel 4.3.Distribusi

Hasil Evaluasi Siklus I p.7
Tabel 4.4.Distribusi Hasil Evaluasi Siklus II

Tabel 4.4.Distribusi

Hasil Evaluasi Siklus II p.8

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :