BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk individu yang juga berperan sebagai makhluk

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk individu yang juga berperan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia harus melakukan interaksi dengan sesamanya dalam melangsungkan kehidupan. Interaksi sosial yang terjalin dalam menciptakan hubungan sosial antar manusia mustahil akan dapat terlaksana tanpa adanya komunikasi. Selanjutnya dengan mengutip pendapat Ashley Montagu, seorang ahli psikologi yang beranggapan bahwasanya manusia tidak dapat dikatakan sebagai manusia, sebelum manusia tersebut berkomunikasi dengan orang lainnya. Demikianlah pentingnya komunikasi dalam kehidupan manusia.

Komunikasi massa merupakan salah satu bentuk spesialisasi dari komunikasi. Perkembangan komunikasi massa yang sangat cepat dewasa ini menjadikan komunikasi massa sangat penting bagi kehidupan manusia. Komunikasi massa memungkinkan manusia untuk berinteraksi dengan lebih baik lagi. Komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi) yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar dibanyak tempat, anonim dan heterogen. Pesan – pesannya bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak dan selintas (khususnya media elektronik) (Mulyana, 2005:75).

(2)

Perkembangan teknologi informasi dewasa ini, memberikan andil yang sangat besar dalam perkembangan dan kemajuan media massa, khususnya media cetak. Sejak ditemukannya mesin cetak oleh Guttenburg pada tahun 1600-an, proses komunikasi melalui media cetak terutama surat kabar mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan selanjutnya disusul oleh perkembangan-perkembangan teknologi cetak lainnya.

Surat kabar dalam peranannya sebagai media penyalur informasi kepada masyarakat, sangat memegang peranan penting dalam penyebaran informasi dengan kelebihan yang dimilikinya. Meskipun akhir – akhir ini pengguna surat kabar mulai beralih ke media daring, namun surat kabar masih dapat bertahan dengan karakteristik yang dimilikinya.

Harian KOMPAS merupakan media cetak yang telah dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia. Dalam perkembangannya, media cetak ini telah melebarkan sayapnya hampir ke seluruh pelosok tanah air. Media ini merupakan media yang terbit setiap harinya. Harian Kompas adalah bagian dari kelompok Kompas Gramedia. Untuk memudahkan akses bagi pembaca di seluruh dunia,

Kompas juga menerbitkan edisi daring yang bernama Kompas Cyber Media, berisi

berita-berita yang diperbarui secara aktual.

Awalnya harian ini diterbitkan dengan nama Bentara Rakyat. Atas usul Presiden Sukarno, namanya diubah menjadi Kompas, sebagai media pencari fakta dari segala penjuru. Kompas mulai terbit pada tanggal 28 Juni 1965 berkantor di Jakarta Pusat dengan tiras 4.800 eksemplar. Sejak tahun 1969, Kompas merajai penjualan surat kabar secara nasional. Pada tahun 2004, tiras hariannya mencapai 530.000 eksemplar, khusus untuk edisi Minggunya malah mencapai 610.000

(3)

eksemplar. Pembaca koran ini mencapai 2,25 juta orang di seluruh Indonesia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kompas_(surat_kabar))

Sesuai dengan proses komunikasi itu sendiri yaitu menciptakan kesepahaman yang selanjutnya dapat menciptakan efek bagi komunikannya, demikian pula dengan isi pemberitaan yang disampaikan oleh surat kabar kepada komunikannya. Isi dari pemberitaan suatu media cetak atau surat kabar dapat menciptakan suatu reaksi maupun efek bagi komunikannya. Reaksi atau efek yang dimaksud disini sangatlah beragam, salah satunya adalah opini masyarakat. Opini masyarakat dapat terbentuk melalui pemberitaan terhadap suatu hal di media massa.

Memasuki tahun 2011, pemerintahan SBY di terpa oleh berbagai isu dan reaksi dari berbagai lapisan masyarakat. Salah satu reaksi yang berupa kritik terhadap Pemerintahan SBY datang dari Tokoh – tokoh lintas Agama. Tokoh Lintas Agama ini mengeluarkan pernyataan mengenai 18 Kebohongan Pemerintahan SBY, diantaranya 9 kebohongan lama yaitu pada pemerintahan SBY periode 2004-2009 dan 9 kebohongan baru yaitu pada periode 2009 hingga saat ini.

Dalam pernyataan tersebut tokoh lintas agama menyatakan bahwa saat ini pemerintahan SBY memasuki saat – saat yang sangat kritis. Pemerintahan yang tidak menepati janji – janji serta amanat rakyat, ketidakadilan dalam berbagai aspek kehidupan serta dan korupsi yang semakin merajalela. Pernyataan tersebut jelas sangat menyudutkan pemerintahan SBY, sehingga mengundang reaksi dari dalam istana. Bukan hanya mengundang perhatian dari dalam istana saja namun dengan gencarnya pemberitaan di media massa menjadikan hal tersebut menjadi perhatian umum. Akhirnya, berbagai reaksi dari masyarakat juga bermunculan antara lain pro dan kontra melalui berbagai aksi dari masyarakat yang menyuarakan mengenai hal

(4)

tersebut seperti, kampanye anti kebohongan dan kritik terhadap pemerintahan SBY dalam berbagai bentuk.

Adapun tokoh – tokoh agama yang menyuarakan 18 kebohongan Pemerintahan SBY tersebut antara lain Ahmad Syafii Maarif (mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Andreas Yewangoe (Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia/PGI), Din Syamsuddin (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia/MUI), Mgr Martinus D Situmorang (Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia/KWI), Biksu Sri Mahathera Pannyavaro (Mahanayakka Buddha Mahasangha Theravada Indonesia), KH Salahuddin Wahid (Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan tokoh nasional asal Nahdlatul Ulama/NU), serta I Nyoman Udayana Sangging (Parisada Hindu Dharma Indonesia/PHDI). Para pemuka agama ini mengatakan akan mengajak umat mereka untuk memerangi kebohongan yang dilakukan pemerintahan Presiden Yudhoyono.

Berdasarkan pemberitaan di Harian Kompas, tokoh-tokoh lintas agama dan pemuda, Senin (10/1/2011), menyampaikan pernyataan terbuka tentang perlawanan terhadap kebohongan pemerintah. Dalam pernyataan yang disampaikan di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta tersebut, para pemuda menyampaikan sembilan kebohongan lama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono. Menurut mereka, pemerintah telah berbohong dalam hal penyampaian angka kemiskinan, kebutuhan rakyat, ketahanan pangan dan energi, pemberantasan teroris, penegakan hak asasi manusia, anggaran pendidikan, kasus

Lapindo, kasus Newmont, serta kasus Freeport. (http://nasional.kompas.com/read/2011/01/10/17295258/Ini.Sembilan.Kebohongan.

(5)

Sembilan kebohongan baru pemerintah itu berkenaan dengan kebebasan beragama; kebebasan pers; perlindungan terhadap TKI-pekerja migran; transparansi pemerintahan, pemberantasan korupsi; pengusutan rekening mencurigakan (gendut) perwira polisi; politik yang bersih, santun, beretika; kasus mafia hukum yang salah satunya adalah kasus Gayus H Tambunan; dan terkait kedaulatan NKRI. (http://nasional.kompas.com/read/2011/01/10/20290154/Inilah.9.Kebohongan.Baru. Pemerintah)

Munculnya wacana kebohongan pemerintah ini mengundang berbagai reaksi dari tanah air, baik berupa dukungan dari masyarakat maupun penolakan dari kalangan istana yang ingin agar segera masalah ini dituntaskan. Reaksi dari masyarakat dapat dilihat dari berbagai upaya antara lain kritikan dari berbagai kalangan masyarakat seperti aktivis dari LSM dan pemerhati politik, munculnya Gerakan Pelajar dan Mahasiswa se-Indonesia mengeluarkan pernyataan bersama 'Perubahan Sudah Tidak Bisa Ditunda Lagi', di Jakarta, Minggu (16/1/2011). Deklarasi Gerakan Antibohong di Surabaya, Rabu (19/1/2011). Dan sebagai langkah lanjutan, tokoh lintas agama ini memutuskan untuk mendeklarasikan dan membuka Rumah Pengaduan Kebohongan Publik. Langkah ini dilakukan untuk mensosialisasikan sekaligus menjaring data kebohongan pemerintah dari masyarakat luas.

Melihat kondisi dan reaksi masyarakat serta pemberitaan yang berkelanjutan di media massa akan hal tersebut, muncul keinginan peneliti untuk mengkaji lebih dalam mengenai bagaimana opini yang terbentuk pada kalangan mahasiswa mengenai hal tersebut. Mahasiswa merupakan civitas akademik yang berpotensi

(6)

besar bagi perubahan negara ini. Dalam kegiatan akademis, mahasiswa diharapkan reaktif terhadap berbagai persoalan di dalam negeri.

Pada penelitian ini, penulis ingin menspesifikasikannya pada opini Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP-USU) terhadap pernyataan tokoh lintas agama mengenai kebohongan Pemerintahan SBY melalui pemberitaan di Harian Kompas. Harian Kompas merupakan media yang memiliki kredibilitas di dalam bidangnya, sehingga kepercayaan masyarakat sangat tinggi terhadap media ini. Selain itu, terkait dengan permasalahan penelitian Harian Kompas memberitakan perkembangan informasi seputar pernyataan tokoh agama serta reaksi masyarakat dan pemerintah secara berkelanjutan dan intens, itulah sebabnya mengapa peneliti memilih media ini.

Adapun alasan yang dapat dikemukakan peneliti mengapa memilih topik tersebut karena peneliti melihat bahwa belakangan ini berbagai kritik terhadap Pemerintahan SBY melalui media massa sangat sering bermunculan. Apalagi hadirnya pemberitaan mengenai pernyataan tokoh-tokoh agama menjadi sorotan banyak pihak dan elemen masyarakat di tanah air, ini membuktikan bahwa pemberitaan akan hal tersebut sangat penting serta mengundang kontroversi yang memungkinkan terciptanya opini publik.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti opini mahasiswa FISIP - USU terhadap pemberitaan mengenai pernyataan tokoh agama tentang kebohongan Pemerintahan SBY di Harian Kompas.

(7)

I.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: “Bagaimanakah opini mahasiswa FISIP USU terhadap pernyataan tokoh agama tentang kebohongan Pemerintahan SBY di Harian Kompas?”

I.3 Pembatasan Masalah

Untuk menghindari ruang lingkup penelitian yang terlalu luas sehingga dapat mengaburkan penelitian, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti. Adapun pembatasan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu bertujuan memaparkan suatu peristiwa atau situasi secara sistematis tanpa mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis dan melakukan prediksi.

2. Penelitian difokuskan untuk mengetahui opini mahasiswa terhadap pemberitaan tentang pernyataan tokoh agama mengenai kebohongan pemerintahan SBY di Harian Kompas tanggal 11 - 22 januari 2011.

3. Objek penelitian adalah Mahasiswa FISIP USU Program Regular S1 Stambuk 2007-2008 yang pernah membaca pemberitaan mengenai “Pernyataan Tokoh Agama tentang Kebohongan Pemerintahan SBY” di Harian KOMPAS.

(8)

I.4 Tujuan Penelitian

1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan mahasiswa terhadap pemerintahan SBY

2. Untuk mengetahui gambaran umum opini mahasiswa terhadap pemberitaan tentang pernyataan tokoh agama mengenai kebohongan pemerintahan SBY di Harian Kompas

I.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan peneliti khususnya tentang komunikasi massa dan opini publik.

2. Secara akademis, penelitian ini disumbangkan kepada FISIP USU, Khususnya Departemen Ilmu Komunikasi dalam rangka memperkaya khasanah penelitian dan sumber bacaan.

3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan pengetahuan berkenaan dengan penelitian ini.

I.6 Kerangka Teori

Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berpikir dalam memecahkan atau menyoroti masalahnya. Untuk itu, perlu disusun kerangka teori sebagai landasan berpikir yang menunjukkan dari sudut mana peneliti menyoroti masalah yang akan diteliti (Nawawi, 2001: 39).

Menurut Kerlinger (Rakhmat, 2004:6), teori merupakan suatu himpunan konstruk (konsep) yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan

(9)

menjabarkan relasi di antara variabel untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.

Fungsi dari teori itu sendiri adalah membantu peneliti menerangkan fenomena sosial atau fenomena alami yang menjadi pusat perhatiannya (Kriyantono, 2008:43), serta memberikan ketajaman analisis peneliti akan masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini, teori-teori yang dianggap relevan adalah:

I.6.1 Opini Publik

Opini menurut Cutlip and Centre adalah suatu ekspresi tentang sikap mengenai suatu masalah yang bersifat kontroversial. Opini timbul sebagai hasil pembicaraan tentang masalah yang kontroversial yang menimbulkan pendapat yang berbeda-beda (Sastropoetro, 1990 : 41).

Sementara William Albing mengemukakan bahwa opini itu dinyatakan kepada sesuatu hal yang kontroversial atau sedikit-dikitnya terdapat pandangan yang berlainan mengenai masalah tersebut. Opini timbul sebagai suatu jawaban terbuka terhadap suatu persoalan atau isu. Subjek dari suatu opini biasanya adalah masalah baru. Opini berupa reaksi pertama dimana orang yang mempunyai perasaan ragu-ragu dengan sesuatu yang lain dari kebiasaan, ketidakcocokan dan adanya perubahan penilaian. Unsur-unsur ini mendorong orang untuk saling mempertentangkannya (Sunarjo, 1984 : 31).

Opini publik sering juga disebut sebagai pendapat umum. Pengertian pendapat umum adalah kesatuan pendapat yang muncul dari sekelompok orang yang berkumpul secara spontan, membicarakan isu yang kontroversial, mendiskusikannya dan berusaha unuk mengatasinya. Sedangkan, istilah opini publik dapat digunakan untuk menunjukkan suatu pengumpulan pendapat yang dikemukakan oleh

(10)

individu-individu atau pendapat-pendapat kolektif dari sejumlah orang dari kumpulan tertentu dan bukan dalam pengertian semua orang tanpa batas dan ketentuan khusus pula.

Dalam effective public relations, opini publik adalah sebuah ekspresi energi sosial yang mengintegrasikan aktor individual ke dalam pengelompokan sosial dengan cara mempengaruhi politik. Gagasan umum tentang opini publik menyatakan bahwa opini public adalah sekumpulan pandangan individu terhadap isu yang sama.

Opini dapat dinyatakan melalui perilaku, sikap tindak, mimik muka atau bahasa tubuh (body language) atau berbentuk simbol-simbol tertulis berupa pakaian yang dikenakan, makna sebuah warna. Untuk memahami opini seseorang dan public tersebut R.P Abelson (1968) bukanlah perkara yang mudah karena berkaitan dengan unsur- unsur pembentuknya, yaitu:

1. Kepercayaan mengenai sesuatu (believe)

2. Apa yang sebenarnya dirasakan untuk menjadi sikapnya (attitude)

3. Persepsi (perception), yaitu sebuah proses memberikan makna yang berakar dari beberapa faktor, yakni:

- Latar belakang budaya, kebiasaan dan adat istiadat yang dianut seseorang / masyarakat

- Pengalaman masa lalu seseorang/kelompok tertentu menjadi landasan atau pendapat atau pandangan

- Nilai – nilai yang dianut (moral, etika, dan keagamaan yang dianut atau nilai – nilai yang berlaku di masyarakat)

- Berita-berita dan pendapat-pendapat yang berkembang yang kemudian mempunyai pengaruh terhadap pandangan seseorang. Bisa

(11)

diartikan berita-berita yang dipublikasikan itu dapat sebagai pembentuk opini masyarakat (Cutlip, 2006:242).

I.6.2 Komunikasi Massa

Secara etimologis, istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin ”Communicatio”. Istilah ini bersumber dari dari perkataan ”Communis” yang berarti sama. Sama yang dimaksud berarti sama makna atau sama arti. Jadi komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna mengenai suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan (Effendy, 2004:30).

Menurut Harold Lasswell (Mulyana, 2005:62) cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? (Siapa Mengatakan Apa

Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Efek Apa?). Jawaban bagi pertanyaan paradigmatik Lasswell merupakan unsur-unsur proses komunikasi yang meliputi komunikator, pesan, media, komunikan dan efek.

Defenisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (Ardianto,2004:3), yakni “komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang”. Sedangkan defenisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi lain yaitu Gerbner (Ardianto,2004:4), ”komunikasi massa ialah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontiniu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri.

Ahli komunikasi massa lainnya, Joseph A Devito merumuskan defenisi komunikasi massa yang pada intinya merupakan penjelasan tentang pengertian massa serta tentang media yang digunakannya. Komunikasi massa ditujukan kepada

(12)

massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang menonton, tetapi ini berarti khalayak itu besar dan pada umumnya agak sukar didefenisikan (Ardianto,2004:6).

Rakhmat (Ardianto, 2004:7) merangkum defenisi-defenisi komunikasi massa menjadi, “komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi massa yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sebagai pesan yang sama yang dapat diterima secara serentak dan sesaat.

Menurut Dominick (Ardianto 2004:15) fungsi komunikasi massa bagi masyarakat terdiri dari surveilance (pengawasan), interpretation (penafsiran),

linkage (keterkaitan), transmission of values (penyebaran nilai) dan entertainment

(hiburan).

Komunikasi massa mempunyai efek tertentu menurut Liliweri, (2004:39), secara umum terdapat tiga efek komunikasi massa, yaitu: (a) efek kognitif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan dan pendapat terhadap sesuatu yang diperolehnya. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi (b) efek afektif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi lebih marah dan berkurang rasa tidak senangnya terhadap sesuatu akibat membaca surat kabar, menengarkan radio, atau menonton televisi. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai (c) efek konatif, dimana pesan komunikasi massa mengakibatkan orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Efek ini merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati, yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berperilaku.

(13)

1.6.3 Media Massa

Media massa atau dalam hal ini disebut pula media jurnalistik merupakan alat bantu utama dalam proses komunikasi massa. Sebab komunikasi massa sendiri secara sederhana, berarti kegiatan komunikasi yang menggunakan media (communicating with media).

Menurut Bittner, komunikasi massa dipahami sebagai “message

communicated through a mass medium to large number of people,” suatu

komunikasi yang dilakukan melalui media kepada sejumlah orang yang tersebar di tempat – tempat yang tidak ditentukan. Jadi media massa menurutnya, adalah suatu alat transmisi informasi, seperti surat kabar, majalah, buku, film, radio dan televisi, atau suatu kombinasi bentuk dari bentuk – bentuk media itu (Muhtadi, 1999: 73).

Everett M. Rogers mengatakan ada dua jenis media massa, yaitu media massa modern dan media massa tradisional. Media massa modern adalah media massa yang menggunakan teknologi modern yang selalu berkembang menuju kesempurnaan, yaitu: surat kabar, majalah, buku, film, radio dan televisi.

Sedangkan media massa tradisional diantaranya adalah teater rakyat, juru dongeng keliling dan juru pantun (Effendi, 1990: 20).

Media massa secara pasti mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Media membentuk opini publik untuk membawanya kepada perubahan signifikan. 1.6.4 Surat Kabar dan Berita

Sekurang – kurangnya ada tiga jenis media massa cetak, yaitu: surat kabar, majalah dan buku. Sejak masa awal pertumbuhan hingga saat ini ketiga jenis media cetak ini telah mengalami berbagai perubahan yang amat besar.

(14)

Surat kabar merupakan media massa paling tua dibandingkan dengan jenis media massa lainnya. Sejarah telah mencatat keberadaan surat kabar dimulai sejak ditemukannya media cetak oleh Johan Guttenberg di Jerman.

Keberadaan surat kabar di Indonesia ditandai dengan perjalan panjang melalui lima periode yakni massa penjajahan Belanda, menjelang kemerdekaan dan awal kemerdekaan, zaman orde lama serta orde baru (Ardianto, 2004: 101). Surat kabar sebagai media massa dalam masa orde lama mempunyai misi menyebarluaskan pesan – pesan pembangunan dan sebagai alat mencerdaskan rakyat Indonesia.

Menurut Maulsby (Pereno, 2002:6) mendefinisikan berita sebagai suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta-fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi yang dapat menarik perhatian para pembaca di surat kabar tersebut. Sedangkan Hepwood (Pereno, 2002:6) memberikan pengertian berita sebagai laporan pertama dari kejadian yang penting sehingga dapat menarik perhatian umum. Secara umum berita adalah laporan dari kejadian yang baru saja terjadi dari kejadian yang penting dan disampaikan secara benar dan tidak memihak sehingga dapat menarik perhatian para pembaca berita.

Unsur pokok berita diungkapkan melalui pertanyaan pokok jurnalistik, yaitu 5W + 1H (What, Who, Why, Where, When + How): apa, siapa, mengapa, dimana, bilamana, dan bagaimana. Itulah yang dimaksud unsur-unsur berita.

(15)

1.6.5 Individual Differences Theory

Individual Differences Theory (Teori Perbedaan Individual), teori yang dikeluarkan oleh Melvin D. Defleur ini menelaah perbedaan-perbedaan di antara individu-individu sebagai sasaran media massa ketika mereka diterpa sehingga menimbulkan efek tertentu. Menurut teori ini individu-individu sebagai anggota khalayak sasaran media massa secara selektif, menaruh perhatian kepada pesan-pesan −terutama jika berkaitan dengan kepentingannya− konsisten dengan sikap -sikapnya, sesuai dengan kepercayaannya yang didukung oleh nilai-nilainya. Sehingga tanggapannya terhadap pesan-pesan tersebut diubah oleh tatanan psikologisnya. Jadi, efek media massa pada khalayak massa itu tidak seragam melainkan beragam disebabkan secara individual berbeda satu sama lain dalam struktur kejiwaannya. (Effendy 2003: 275)

Anggapan dasar dari teori ini ialah bahwa manusia amat bervariasi dalam organisasi psikologisnya secara pribadi. Variasi ini sebagian dimulai dari dukungan perbedaan secara biologis, tetapi ini dikarenakan pengetahuan secara individual yang berbeda. Manusia yang dibesarkan dalam lingkungan yang secara tajam berbeda, menghadapi titik-titik pandangan yang berbeda secara tajam pula. Dari lingkungan yang dipelajarinya itu, mereka menghendaki seperangkat sikap, nilai, dan kepercayaan yang merupakan tatanan psikologisnya masing-masing pribadi yang membedakannya dari yang lain. (Effendy 2003: 275)

Teori perbedaan individual ini mengandung rangsangan-rangsangan khusus yang menimbulkan interaksi yang berbeda dengan watak-watak perorangan anggota khalayak. Oleh karena terdapat perbedaan individual pada setiap pribadi anggota khalayak itu maka secara alamiah dapat diduga akan muncul efek yang bervariasi

(16)

sesuai dengan perbedaan individual itu. Tetapi dengan berpegang tetap pada pengaruh variabel-variabel kepribadian (yakni mengganggap khalayak memiliki ciri-ciri kepribadian yang sama) teori tersebut tetap akan memprediksi keseragaman tanggapan terhadap pesan tertentu (jika variabel antara bersifat seragam). (Effendy 2003: 275-276)

Individual Differences Theory menyebutkan bahwa khalayak yang secara

selektif memperhatikan suatu pesan komunikasi, khususnya jika berkaitan dengan kepentingannya, akan sesuai dengan sikapnya, kepercayaannya dan nilai-nilainya. Tanggapannya terhadap pesan komunikasi itu akan diubah oleh tatanan psikologisnya.(Effendy 2003 : 316).

I.7 Kerangka Konsep dan Variabel Operasional

Teori-teori yang dijadikan landasan pada kerangka teori harus dapat menghasilkan beberapa konsep yang disebut dengan kerangka konsep. Menurut Nawawi (2001:40) kerangka konsep merupakan hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang akan dicapai. Agar konsep-konsep dapat diteliti secara empiris, maka harus dioperasionalkan dengan mengubahnya menjadi variabel.

Berdasarkan kerangka teoritis yang mendasari penelitian ini, selanjutnya disusun suatu kerangka konsep yang didalamnya terdapat variabel-variabel dan indikator yang tujuannya menjelaskan masalah penelitian.

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas, maka dapat dibuat operasional variabel yang berfungsi untuk kesamaan dan kesesuaian dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:

(17)

Tabel 1

Variabel Operasional

Kerangka konsep Variabel Operasional

• Opini Mahasiswa terhadap Pemberitaan tentang Pernyataan Tokoh Agama mengenai Kebohongan Pemerintahan SBY

• Karakteristik Responden

1. Frekuensi Pemberitaan 2. Kejelasan Isi Pesan 3. Penyajian Pesan

4. Pemahaman tentang isi pesan 5. Believe (kepercayaan terhadap

sesuatu hal)

6. Attitude (sikap mahasiswa terhadap pemberitaan)

7. Perception (persepsi)

1. Jenis Kelamin 2. Stambuk 3. Departemen

I.8 Defenisi Operasional

Defenisi variabel operasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya untuk mengukur suatu variabel. Dengan kata lain defenisi operasional adalah suatu informasi ilmiah yang sangat membantu penelitian lain yang ingin menggunakan variabel yang sama (Singarimbun 1995 : 46).

(18)

• Opini mahasiswa terhadap pemberitaan tentang pernyataan tokoh agama mengenai kebohongan Pemerintahan SBY

1. Frekuensi Pemberitaan, seberapa sering pemberitaan akan hal tersebut muncul di surat kabar dan dibaca oleh responden.

2. Kejelasan isi pesan, pemberitahuan akan isi informasi secara terpercaya 3. Penyajian pesan, bagaimana pesan tersebut disajikan melalui pemberitaan di

Harian Kompas.

4. Pemahaman tentang isi pesan adalah pengertian dan pemahaman pembaca terhadap isi pesan yang disampaikan pada pemberitaan tersebut.

5. Believe, kepercayaan mengenai sesuatu hal atau apa yang diyakini responden sebagai suatu kebenaran.

6. Attitude, apa yang sebenarnya dirasakan responden untuk menjadi sikapnya dalam menghadapi pemberitaan di media massa

7. Perception, yaitu sebuah proses memberikan makna yang berakar dari beberapa faktor, yakni latar belakang budaya, pengalaman masa lalu dan nilai-nilai yang dianut dan berita yang berkembang

• Karakteristik Responden

1. Jenis kelamin, merupakan jenis kelamin pria dan wanita yang dimiliki oleh responden penelitian.

2. Stambuk, merupakan identitas responden yang berupa tahun masuk kuliah. 3. Departemen, yaitu depertemen yang ada di FISIP USU antara lain sosiologi,

kesejahteraan sosial, ilmu komunikasi, ilmu politik, administrasi negara, dan antropologi.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :