PEMANFATAN TEKNOLOGI DALAM PENGUKURAN SUHU
Hermalinda*
(Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, kekhususan anak)
Abstrak
Demam merupakan masalah yang umum pada anak sebagai suatu respon terhadap penyakit dan infeksi akibat berinteraksi dengan lingkungan dan masalah yang sering dihadapi oleh tenaga medis. Evaluasi tanda vital, perubahan perilaku dan status hidrasi adalah pengkajian klinis yang penting dan krusial pada anak dengan demam. Pemeriksaan suhu tubuh adalah salah satu evaluasi tanda vital dan merupakan ketrampilan klinis perawat yang menjadi indikator penting dalam mengkaji kondisi kesehatan anak. Termometer sering digunakan dalam pemeriksaan suhu tubuh. Dalam dua decade terakhir, terdapat perubahan yang signifikan pada teknologi termometer klinis. Termometer air raksa mulai digantikan dengan peralatan elektronik dimana hasil pengukuran dan pembacaan menjadi lebih cepat dan memberikan informasi yang akurat dengan ketidaknyamanan minimal pada pasien. Setiap orang yang akan menggunakan termometer harus menyadari karakteristik dan keterbatasan dari termometer dalam menafsirkan dengan benar pembacaan suhu pada layar. Tulisan ini memaparkan tentang penggunaan teknologi dalam pemeriksaan suhu.
Kata kunci: Suhu tubuh, termometer klinis dan teknologi
Abstract
Fever is a common problem in children as a response to disease and infection due to interaction with the environment and the problems often faced by medical personnel. Evaluation of vital signs, changes in behavior and clinical assessment of hydration status is an important and crucial in children with fever. Examination of the body temperature is one of the vital signs and an evaluation of clinical skills of nurses who become an important indicator in assessing the health conditions of children. The thermometer is often used in the examination of the body temperature. In the last two decades, there are significant changes in technology of clinical thermometer. Mercury thermometer began to be replaced with electronic equipment where the measurements and readings to be faster and provide accurate information with minimal discomfort to the patient. Any person who will use the thermometer should be aware of the characteristics and limitations of the thermometer in correctly interpreting the temperature reading on the screen. This paper describes the use of technology in the measurement of body temperature.
LATAR BELAKANG
Penurunan angka kematian bayi dan balita merupakan salah satu prioritas dan pembangunan kesehatan dalam Millenium Development Goals (MDGs). Dalam MDGs target yang dicapai adalah menurunkan angka kematian balita sebesar dua-pertiganya dalam kurun waktu 1990-2015 (Depkes, 2007). Menurut laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2007), pada tahun 2002-2003 Angka Kematian Bayi (AKB) terus membaik hingga mencapai 33,9 per 1.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Balita (AKBA) sudah mencapai angka 46 dan tahun 2005 mencapai 40 per 1.000 per kelahiran hidup. Meskipun terjadi penurunan, AKB dan AKBA di Indonesia cukup tinggi jika dibandingkan dengan Negara-negara anggota ASEAN.
Menurut WHO, 2005 Setiap tahun hampir 10 juta anak meninggal sebelum ulang tahun ke-5. Pada umumnya angka kematian pada bayi dan balita disebabkan oleh lima kondisi yang dapat dicegah dan diobati yaitu: pneumonia, diare, malaria, campak dan malnutrisi. Respon anak terhadap kondisi ini berbeda-beda, tergantung usia dan tahapan perkembangan anak, salah satunya adalah demam.
Demam merupakan masalah yang umum pada anak sebagai suatu respon terhadap penyakit dan infeksi akibat berinteraksi dengan lingkungan dan Mmerupakan masalah yang sering dihadapi oleh tenaga medis, perawat dan orangtua, baik di rumah sakit maupun di komunitas. Berdasarkan data statistik suatu rumah sakit khusus anak, mengindikasikan bahwa lebih dari 30% kunjungan ke ruangan emergensi/ gawat darurat disebabkan oleh demam sebagai manifestasi utama (Joana Bridge Institute 2001).
Demam adalah suatu respon pengaturan tubuh yang adapatif terhadap rangsangan pada sistim imun (biologi dan kimia). Selama fase akut, respon terhadap demam melibatkan sistem otonom, perilaku dan proses neuroendokrin. Pada demam terjadi peningkatan set poin temperatur tubuh (Thompson 2005). Demam terjadi pada pengukuran suhu rektal diatas 38°C (Luszczack 2001; Barraf, L, J 2008).
Selama demam, metabolisme meningkat dan konsumsi oksigen bertambah. Metabolisme tubuh meningkat 7% untuk setiap derjat kenaikan suhu. Frekuensi jantung dan pernafasan meningkat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh terhadap nutrient. Metabolisme meningkat menggunakan energi yang memproduksi panas
tambahan. Demam yang lama dapat melelahkan klien dan menghabiskan simpanan energi dan beresiko terjadinya dehidrasi. (Patricia P 2005).
Sakit, demam dan dirawat dengan berbagai prosedur pemeriksaan dan tindakan klinis adalah sumber ketidaknyamanan dan stress bagi anak dan orangtua. Perawat mempunyai peranan dalam mengatasi hal ini yaitu dengan memberikan dukungan dan kekuatan kepada orangtua pada saat anak dirawat di Rumah Sakit. Fokus penanganan dan pengobatan demam yang paling penting pada anak yang tidak beresiko mengalami kerusakan otak sekunder adalah pada ketidaknyamanan dan nyeri yang dirasakan anak akibat demam (Thompson 2005; Warren B 2007). Evaluasi tanda vital, perubahan perilaku dan status hidrasi adalah pengkajian klinis yang penting dan krusial pada anak dengan demam (Barraf, L. J 2008).
Pemeriksaan dan pemantauan suhu adalah salah satu indikator penting dalam mengkaji kondisi kesehatan anak yang deman dan dirawat di rumah sakit. Alat yang sering digunakan dalam pemeriksaan suhu adalah termometer. Pemeriksaan suhu secara non invasive (tidak langsung) lebih dipilih untuk meminimalkan ketidaknyamanan pada pasien. Dalam dua decade terakhir ini terjadi perubahan dalam teknologi termometer klinik yang menawarkan pembacaan suhu yang tepat dan memberikan informasi yang akurat tentang suhu tubuh selain itu juga dapat meminimalkan ketidaknyamanan pada pasien (Devi A & Amoore J, 2010).
Salah satu prinsip atraumatic care pada anak yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalkan dan mencegah trauma pada anak. Walaupun pemeriksaan suhu tidak menimbulkan nyeri, namun pada umumnya anak memperlihatkan reaksi kecemasan dan stres yang berlebihan pada waktu dilakukan pemeriksaan suhu tubuh. Faktor yang menyebabkan trauma pada anak adalah waktu yang dibutuhkan dalam pemeriksaan suhu tubuh cukup lama (5 - 12 menit). Hal ini tentu dapat mempengaruhi lama hari rawatan anak, karena informasi tentang kondisi kesehatan anak tidak teridentifikasi dengan tepat melalui pemeriksaan yang dilakukan.
Mengingat permasalahan diatas, akhir-akhir ini para ilmuwan dan ahli teknologi menemukan beberapa cara yang tepat dalam melakukan pemeriksaan suhu dengan cepat akurat dan tepat serta tidak menimbulkan trauma terutama bagi anak, sehingga penggunaan termometer air raksa sudah mulai digantikan dengan termometer peralatan elektronik dimana hasil pengukuran dan pembacaan menjadi lebih cepat dan
memberikan informasi yang akurat dengan ketidaknyamanan minimal pada anak. Termometer yang ideal harus bebas merkuri, minimal invasif, cepat, handal, akurat dan aman, dan harus mengurangi ketergantungannya pada teknik penggunaan.
Pemeriksaan suhu dengan menggunakan peralatan elektronik memang mudah untuk dilakukan selama teknik dan penggunaanya sesuai dengan kriteria dan tidak mempengaruhi kondisi anak. Namun, pemeriksaan suhu dengan perangkat ini membutuhkan pemahaman dan kesadaran dari pengguna terhadap karakteristik dan keterbatasannya dalam menafsirkan dengan benar pembacaan suhu pada layar. Berikut ini akan dianalisa lebih lanjut tentang penggunaan teknologi dalam pengukuran suhu yang diharapkan dapat memberikan wawasan umum terhadap penggunaan termometer klinis, bagaimana cara pembacaan suhu, bagaimanakah penggunaannya dapat mempengaruhi proses pengukuranserta bagaimanakah kemungkinana penerapannya di Indonesia.
KAJIAN LITERATUR
Demam adalah peningkatan set point sehingga pengaturan suhu tubuh lebih tinggi dan dapat didefenisikan secara mutlak sebagai suhu tubuh diatas 38°C (Hockenbery, 2009). Kebanyakan demam pada anak-anak disebabkan oleh virus, terjadi relatif singkat dan memiliki konsekuensi yang terbatas. Demam berperan dalam meningkatkan perkembangan imunitas spesifik dan non spesifik dan dalam membantu pemulihan atau pertahanan terhadap infeksi.
Demam merupakan indikasi klinis pada tubuh akibat adanya infeksi mikroba (Tatro 2000). Substansi yang dapat menyebabkan demam adalah pirogen yang bisa berasal dari luar seperti pirogen, bakteri, komplek antigen antibody atau dari dalam seperti interaksi interleukin dan interferon. Masuknya pirogen menyebabkan kerusakan pada jaringan dan merangsang aktivitas monosit. Monosit memproduksi endogenous: interleukin dan interferon yang menstimulasi produksi prostaglandin E2 sehingga
dibawa ke hipotalamus dengan akibat peningkatan pada set poin temperature tubuh (Broom 2007).
Fokus penanganan dan pengobatan demam yang paling penting pada anak yang tidak beresiko mengalami kerusakan otak sekunder adalah pada ketidaknyamanan dan nyeri yang dirasakan anak akibat demam (Warren B 2007; Thompson 2005). Evaluasi
tanda vital, perubahan perilaku dan status hidrasi adalah pengkajian klinis yang penting dan krusial pada anak dengan demam (Barraf, L. J 2008).
Suhu tubuh biasanya diukur untuk memastikan ada tidaknya demam. Namun, masih ada kontroversi mengenai termometer yang paling tepat dan tempat terbaik untuk pengukuran temperatur. Suhu inti secara umum didefinisikan sebagai pengukuran suhu dalam arteri paru-paru. Standar lain dalam pemantauan suhu inti adalah esophagus distal, kandung kemih, dan nasofaring yang akurat ke dalam 0,1-0,2 ° C dari suhu inti. Namun, pengukuran suhu inti sulit dilakukan karena menimbulkan ketidaknyamanan pada anak. Beberapa tempat yang dapat dilakukan dalam pengukuran suhu tubuh adalah melaui ketiak, kulit, di bawah dubur, lidah, dan membran timpani. Studi terbaru menunjukkan bahwa temperatur timpani akurat dalam mengidentifikasi suhu inti.
Beberapa tahun yang lalu, pemeriksaan suhu tubuh atau demam melalui rectum merupakan standar emas. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan termometer air raksa kaca. Pengembangan metode elektonik dan non elektronik yang lebih cepat dan mudah telah mencitakan kontroversi terkait dengan metode terbaik untuk mengukur suhu (indetifikasi demam pada anak). Perawat diruangan anak dituntut untuk dapat melakukan pemeriksaan dan mendiskusikan dengan keluarga dalam memantau suhu anak di rumah (Asher C & Northingthon L, 2008).
Selama dekade terakhir, mode lebih baru dan lebih nyaman dalam pengukuran suhu telah melahirkan banyak penelitian dengan metode yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk mengukur suhu pada anak-anak. Sementara belum ada kesimpulan mengenai standar teknik pengukuran yang tepat dalam pengukuran suhu. Metoda terbaik dalam pengukuran suhu tubuh adalah yang akurat, cepat, nyaman dan tidak tergantung pada teknik penggunaan.
Untuk memperoleh hasil pemeriksaan suhu yang akurat, semua faktor yang mempengaruhi pengukuran suhu harus dipertimbangkan, diantaranya: faktor fisiologis, faktor teknis, seperti: konfigurasi perangkat dan karakteristik perangkat, teknik pengguna dan kalibrasi dan pemeliharaan (lihat gambar 1).
1. Faktor fisiologis
Suhu tubuh bervariasi dalam setiap jenis pemeriksaan, dimana suhu inti lebih tinggi dibandingkan dengan suhu diperifer. Metode pengukuran suhu dapat dibagi menjadi dua yaitu invasive dan non invasive. Suhu inti dapat diukur dengan metode invasif melalui kateter arteri pulmoner. Beberapa metode pengukuran suhu tubuh non invasis juga dapat dilakukan, dimana tempat yang ideal adalah:
Tidak dipengaruhi oleh suhu lingkungan.
Sensitif terhadap perubahan fisiologis dan patologis Nyaman.
Bebas dari rasa nyeri
Responsif terhadap perubahan suhu inti. Berada dalam rentang normal.
Belum ada pengukuran non invasif yang tepat dalam melakukan pengukuran suhu baik melalui mulut, telinga, ketiak, dahi dan rektum. Pada gambar 1 dapat dilihat bahwa suhu tubuh dapat dipengaruhi secara fisiologis oleh tempat pengukuran, waktu pengukuran, aktivitas, jenis kelamin dan umur.
2. Faktor teknis
Tiga metoda non vasif utama dalam pengukuran suhu di United Kingdom (UK) adalah peralatan elektroni kontrak (Electronic contact thermometer), thermometer kimia/infrared (chemical thermometer/infrared sensing ear thermometer), termometer temporal (temporal artery thermometer).
Faktor yang mempengaruhi pengukuran suhu
Faktor fisiologis Tempat pengukuran Waktu Aktivitas Jenis kelamin Usia Faktor teknis Teknik pengguna Kalibrasi dan pemeliharaan + + +
1) Electronic contact thermometer
Termometer ini menggunakan properti termistor untuk mengukur suhu secara tidak langsung. Termistor adalah tipe dari resistor (komponen elektronik) yang dapat resisten dalam variasi temperature. Termisto tersebut resisten dan dapat mengidentifikasi perubahan suhu tubuh dengan angka sensitifitas yang tinggi. Termometer ini terdiri dari satu atau dua logam probe yang dihubungkan ke rangkaian elektronik. Rangkaian ini memeriksa resistensi dari probe dan membandingkan nilainya dengan data kalibrasi yang disimpan serta menampilkan nya pada layar. Ada dua jenis probe pada termometer ini, probe yang berwana merah untuk rektum dan berwarna biru untuk mulut atau ketiak. Tipe termometer elektronik kontak ini memiliki dua model operasi, yaitu model monitoring yang berfungsi sebagai monitor temperature dan secara kontinu menampilkan suhu tubuh. Model predictive memungkinkan hasil prediski pengukuran suhu secara cepat.
2) Chemical thermometer
Merupakan termometer kontak yang terdiri dari sebuah matrik dengan beberapa titik sessitif terhadap temperature. Termometer yang fleksibel dengan campuran kimia spesifik dalam dalam setiap lingkaran yang mengubah warna untuk mengukur peningkatan suhu sebanyak 0,2 °. Termometer ini digunakan seperti termometer air raksa biasa yang diletakan dalam mulut (1 menit), aksila (3 menit) atau rektum (3 manit), perubahan warna dapat dibaca 10 – 15 detik setelah thermostat diangkat.
3) Infrared-sensing ear thermometer
Termometer infra red mengukur radiasi termal dari aksila, saluran telinga atau membrane timpani. Hasil pengukuran suhu akan tanpak pada layar dalam waktu kira-kira 1 detik. Prinsip dasar termometer infra merah adalah bahwa semua obyek memancarkan energi infra merah. Semakin panas suatu benda, maka molekulnya semakin aktif dan semakin banyak energi infra merah yang dipancarkan.Termometer infra merah terdiri dari sebuah lensa yang focus mengumpulkan energi infra merah dari obyek ke alat pendeteksi/detektor. Detektor akan mengkonversi energi menjadi sebuah sinyal listrik, yang
menguatkan dan melemahkan dan ditampilkan dalam unit suhu setelah dikoreksi terhadap variasi suhu.
4) Termporal artery thermometer
Termometer arteri temporal menggunakan pemindai inframerah untuk mengukur suhu dari arteri temporal di dahi. Termometer ini merekam temperatur waktu sekitar enam detik.
3. Teknik penggunaan
Akurasi dari pengukuran temperatur dipengaruhi oleh seberapa baik pemeriksa menggunakan peralatan , misalnya bagaimana probe diposisikan dan apakah lama probe di letakan pada posisi tersebut sudah tepat. Hal ini berlaku ke perangkat kontak langsung, seperti elektronik pengukuran termometer oral atau suhu ketiak, dan untuk non-kontak energi seperti perangkat infrared, seperti termometer telinga. Pemeriksa juga harus menyadari faktor tersebut juga dipengaruhi oleh
Pengguna juga harus mempertimbangkan faktor pasien termasuk makanan atau minum; latihan fisik; kondisi lingkungn, seperti kondisi udara pada waktu pengukuran. Atau faktor lain seperti tekanan kepala pasien di telinga ketika berbaring. Termometer ideal akan menghilangkan faktor yang tergantung pada pemeriksa pengguna, meminimalkan efek dari salah penempatan probe dan / atau menghilangkan kesalahan yang disebabkan oleh penggunaan yang tidak tepat. Namun, semua termometer klinis modern sendiri tergantung pada pengguna, dan juga kemampuan dari pengguna.
1) Pengukuran suhu oral
Penempatan dari termometer di bawah lidah bisa mengakibatkan perbedaan besar dalam mencatat suhu. Fisiologi rongga mulut memungkinkan variasi suhu jaringan . Penempatan probe yang salah dalam mulut telah dilaporkan mengakibatkan perbedaan suhu sebesar 1,7 ° C. Probe harus tetap pada sublingual untuk periode waktu tertentu untuk memastikan pengukuran oral akurat. Periode ini umumnya beberapa detik untuk thermometer elektronik kontak dalam model prediktif, tetapi pada model monitor pengukuran yang sama mungkin memakan waktu tiga menit atau lebih. Satu menit diperlukan untuk termometer kimia. Waktu pengukuran yang diperlukan ditentukan oleh waktu
yang dibutuhkan untuk suhu probe untuk menyeimbangkan dengan yang area kontak.
2) Pengukuran suhu ketiak (axilla)
Penempatan yang benar dalam pengukuran suhu aksila dan kontak kulit secalah langsung adalah penting. Termometer ditempatkan dibawah lengan dengan bagian ujungnya berada di tengah aksila dan jaga agar menempel pada kulit, bukan pada pakaian, pegang lengan anak dengan lembut agar tetap tertutup. Termometer elektronik kontak membutuhkan waktu 5 menit untu mengukur suhu yang akurat.
3) Pengukuran suhu membrane tympani
Penempatan termometer adalah pada lubang terlinga, masukan ujung prove thermometer secara perlahan-lahan kedalam saluran telinga yang mengarah ketitik tengah. Teknik yang benar adalah tergantung pada bagaimana perangkat digunakan. Probe termometer pada beberapa model harus dimasukkan hanya cukup sampai mencapai segel cahaya, sedangkan model lainnya memerlukan segel penuh dan putaran dari termometer. Oleh karena itu penting bahwa perawat dilatih dalam penggunaan yang benar dari thermometer timpani di area klinis.
4. Kalibrasi dan pemeliharaan
Penggunaan termometer klinis diatur oleh International Standard BS EN 12470 (Inggris Standards Institution 2001), yang menetapkan kesalahan maksimum yang diijinkan untuk termometer, sebagaimana diukur dengan menggunakan suhu kalibrasi dalam kondisi laboratorium. Termometer harus dikalibrasi secara rutin dengan menggunakan peralatan dan prosedur yang sesuai dengan kriteria dan standar nasional atau internasional. Pemasok harus memberikan bimbingan protokol dan instrumen kalibrasi untuk mengaktifkan verifikasi akurasi termometer itu. Termometer harus dibersihkan secara teratur dan dipelihara untuk memastikan bahwa alat tersebut memberikan hasil yang akurat dan tepat. Perawat harus memastikan bahwa probe atau lensa termometer bebas dari kotoran dan puing-puing. Hal ini terutama penting pada thermometer infrared di mana lensa yang kotor akan mengakibatkan artifisial rendah dalam membaca suhu.
PEMBAHASAN
Pengukuran suhu merupakan hal yang krusial dan penting untuk mengidentifikasi peruabahan pada status kesehatan terutama anak yang mengalami demam. Ketika anak dirawat dirumah sakit diperlukan perhatian yang konsisten dari perawat dan praktisi kesehatan terutama dalam pemantauan suhu agar tidak terjadi kerusakan orak permanen akibat peningkatan suhu tubuh.
Termometer air raksa adalah peralatan yang pertama kali digunakan untuk mengukur suhu tubuh, namun dengan adanya perkembangan teknologi penggunaan termometer airk raksa mulai digantikan oleh termometer elektronik dan modern yang menawarkan hasil pembacaan yang cepat, akurat dan meminimalkan ketidaknyamanan pasien. Namun sering kali penggunaan peralatan non tradisional ini menghasilkan pengukuran suhu yang tidak akurat, beberapa faktor yang mempengaruhinya adalah: faktor fisiologis, faktor teknis, faktor teknik penggunaan dan faktor kalibrasi serta pemeliharaan perangkat.
Ketika mengukur suhu pasien yang perawat harus selalu mempertimbangkan kondisi individu, usia dan juga lingkungan, serta tanda-tanda vital pasien dan observasi klinis lainnya. Perawat harus menilai pasien untuk menentukan alat ukur dan tempat pemeriksaan yang tepat untuk masing-masing individu, sehingga perawat dapat memulai intervensi keperawatan untuk memaksimalkan kenyamanan dan keamanan pasien.
Penelitian dari Al Radhi dan Patel (2005), menyimpulkan bahwa termometer tympani memberikan hasil pengukuran yang akurat jika dibandingkan dengan thermometer elektronik aksila. Walaupun akurasinya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti teknik yang benar, beroperasi pada suhu 15,6 - 35°C, saluran telinga yang bebas dari kotoran dan pus. Termometer infra red pada permukaan kulit juga cukup akurat. Penelitian oleh Burnham et al, 2006 menyimpulkan bahwa thermometer infra red kulit sedikit lebih responsive dibandingkan dengan termistor atau termometer tympani
Pemanfaatan perkembangan teknologi dalam pengukuran suhu tubuh di Indonesia
Pada seting perawatan anak, penggukuran suhu secara modern sangat dianjurkan untuk meminimalkan trauma pada anak, karena pada umumnya anak memperlihatkan respon kecemasan dan stress pada setiap tindakan keperawatan yang dilakukan. Metode pengukuran ini diyakini efektifitasnya dalam waktu pengukuran yang cepat, efisien dan akurat serta tidak menimbulkan ketakutan pada anak.
Beberapa rumah sakit di Indonesia sudah mulai menggunakan dan memanfaatkan perkembangan teknologi dalam pengukuran suhu tubuh, seperti termometer digital dan termometer timpani. Perawat mempunyai peran yang penting dalam memanfaatan perkembangan teknologi dalam meberikan asuhan keperawatan kepada klien termasuk dalam pengukuran tanda-tanda vital dalam hal ini adalah pengukuran suhu. Namun, Akurasi dalam pengukuran suhu harus diperhatikan mencakup kepada beberapa faktor diantaranya faktor fisiologis pasien, faktor teknis peralatan, faktor teknik penggunaan dan faktor kalibrasi dan pemeliharaanya.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Suhu tubuh dapat diukur pada beberapa tempat di tubuh melalui rute oral, rectal, aksila, kulit atau membrane timpani. Pengganti termometer air raksa tradisional mencakup termometer elektronik, termometer infrared membrane tympani, termometer titik kimia. Alat-alat ini memberikan keuntungan yaitu mengukur suhu secara cepat dan atau menghindari akses melalui oral atau rectal. Walaupun akurasi perangkat-perangkat ini berbeda-beda, keakuratan akan berkurang sampai tingkat tertntu jika teknik yang benar tidak digunakan, jika anak febris atau jika usia anak tidak dipertimbangkan.
Perkembangan teknologi akhir-akhir ini menyebabkan pergantian dalam pengukuran suhu oleh praktisi klinis termasuk perawat. Perawat harus terlatih dan kompeten dalam menggunakan termometer di area klinis, terutama jika tidak ada termometer modern atau sampai teknologi telah menghasilkan sebuah termometer yang ideal. Perawat harus memahami dan menyadari karakteristik dan keterbatasan dari masing-masing perangkat pengukuran suhu, dan melakukan kalibrasi dan pemeliharaan terhadap peralatan tersebut secara teratur untuk mendapatkan hasil pengukuran suhu yang tepat, akuran dan cepat.
DAFTAR PUSTAKA
Asher C & Northhington L. (2008). Position statement for measuraement of temperature/fever in children. Society of Pediatric Nurses. Diakses dari
www.pednurses,org pada tanggal 30 Oktober 2010, pukul 10.30 WIB
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2007). Laporan pencapaian millenium development goals (MDGs) Indonesia tahun 2007. Kementrian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional
Barraf L, J. (2008). Management of infant and young children with fever without source. Pediatrics Annals 37(10), 673-679
Broom M. (2007). Physiology of fever. Paediatric Nursing 19(6), 40-45
Burnham R, Mckinley R & Vincen D. (2006). Three types of skin surface thermometer; a comparison of realibility, validity and responseveness. American Journal of Phisical Medicine and Rehabilitation 85 (7), 553 – 558
Davie A & Amoore J. (2010). Best practice in the measurement of body temperature. Nursing Standard, 24(42), 42-49
Depkes. (2007). Millenium development goals (MDGs). Departemen Kesehatan Republik Indonesia
El-Radhi & Patel. (2005). Thermometry in pediatric nursing. Arch Dis Child, 91 (4). [PubMed]
Hockenberry. (2009). Essential of Pediatric Nursing, St. Louis: Mosby Year Book
Joana Briggs Institute for Evidence Base Nursing and Midwifery [JBIEBNM]. (2001). Fever management. The Joana Briggs Institute for Evidence Base Nursing and Midwifery
Luszczack (2001). Evaluation and management of infant and young children with fever. American Family Physician 64(7), 1219-1226
Potter, P. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan; terjemahan. Jakarta; EGC
Thompson H,J. (2005). Fever: a concept analysis. Journal of Advanced Nursing 51(5), 484-492
Warren B. (2007). Using paracetamol before immunization: does it work?. Kai Tiaki Nursing New Zealand 13(5), 24-25
WHO. (2005). The training on integrated management of childhood illness (IMCI). Department of Child and Adolescent Health. Novartis Foundation For Suitainable Development.