BAB I PENDAHULUAN. penelitian ini, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Selain

14  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Selain itu bab ini juga menjelaskan tentang perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian lain yang sudah dilakukan sebelumnya serta kerangka pikir penelitian-penelitian. 1.1 Latar Belakang

Dalam perkembangan wilayah, pengelolaan kawasan cagar budaya dan kawasan pariwisata sering kali dihadapkan dengan kepentingan ekonomi yang berkembang dan mulai menggeser sisi pelestarian cagar budaya tersebut. Sektor pariwisata merupakan sektor yang bisa memberikan dampak ikutan terhadap kegiatan non pariwisata. Hampton (2005) menyatakan bahwa selain memberikan kontribusi dalam penciptaan kesejahteraan, investasi dan lapangan kerja, sektor pariwisata internasional, juga memainkan peranan dalam pembangunan identitas di banyak negara, contohnya adalah keberadaan Candi Borobudur yang ada di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Kecamatan Borobudur yang mempunyai kawasan cagar budaya dan pariiwisata Candi Borobudur ternyata merupakan salah satu kecamatan yang termasuk kategori kecamatan miskin di Kabupaten Borobudur. Berdasarkan data Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011 diketahui bahwa rumah tangga miskin di Kecamatan Borobudur sebanyak 6.098 jiwa. Soeroso (2007) menyatakan bahwa Kecamatan Borobudur ternyata merupakan salah satu kecamatan termiskin di Kabupaten Magelang, padahal di Kecamatan tersebut

(2)

terdapat cagar budaya Candi Borobudur yang merupakan destinasi pariwisata skala internasional. Di samping itu kesempatan kerja yang langka menyebabkan munculnya sektor informal di lingkungan Candi Borobudur hingga mulai masuk ke zona inti cagar budaya Borobudur.

Candi Borobudur yang terletak di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang adalah candi terbesar di Indonesia yang merupakan cagar budaya sekaligus sebagai tempat pariwisata. Dalam dokumen UNESCO, Candi Borobudur telah ditetapkan sebagai warisan dunia (World Heritage) melalui dokumen UNESCO No. C 592 tahun 1991, dengan kode C yang berarti Candi Borobudur sebagai kawasan cagar budaya.

Upaya pelestarian Candi Borobudur sebagai kawasan cagar budaya warisan dunia secara terus menerus dilakukan oleh pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah melalui penetapan regulasi. Dimulai dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan yang paling baru adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Borobudur dan Sekitarnya.

Di tingkat pusat, melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Borobudur dan Sekitarnya dinyatakan bahwa Kawasan Borobudur adalah Kawasan Strategis Nasional yang mempunyai pengaruh sangat penting terhadap budaya yang berada dalam radius paling sedikit 5 (lima) kilometer dari pusat Candi Borobudur dan koridor Palbapang yang berada di luar radius 5 (lima) kilometer dari pusat Candi

(3)

Borobudur, yang terdiri atas Subkawasan Pelestarian 1 (SP1) dan Subkawasan Pelestarian 2 (SP2) serta telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dalam Dokumen Daftar Warisan Dunia Nomor C-592.

Sedangkan di tingkat provinsi dan kabupaten, pengaturan Borobudur dilakukan melalui Peraturan Daerah (Perda) Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jawa Tengah 2009-2029 dan Perda Kabupaten Magelang Nomor 5 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Magelang 2010-2030. Dalam Perda Nomor 6 Tahun 2010, pasal 88 dijelaskan kedudukan Borobudur sebagai bagian dari Koridor Borobudur-Prambanan-Surakarta dan koridor Borobudur-Dieng sebagai kawasan pengembangan pariwisata A dimana Candi Borobudur dijadikan sebagai daya tarik wisata. Sedangkan dalam pasal 101, Kawasan Candi Borobudur direncanakan sebagai kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial dan budaya. Sedangkan dalam Perda Nomor 5 Tahun 2011, dinyatakan bahwa Candi Borobudur ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, dan sebagai kawasan strategis dari kepentingan sosial dan budaya.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa Candi Borobudur mempunyai fungsi sebagai kawasan cagar budaya sekaligus sebagai kawasan pariwisata, padahal kedua fungsi tersebut jelas berbeda pengaturannya. Dalam pelestarian cagar budaya mempunyai tujuan selain mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional juga harus tetap melestarikan warisan budaya dan warisan umat manusia, sedangkan Undang Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan dinyatakan bahwa kepariwisataan berfungsi

(4)

memenuhi kebutuhan jasmani, rohani, dam intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi dan perjalanan serta meningkatkan pendapatan negara untuk kesejahteraan rakyat.

Tabel 1.1 Jumlah Pengunjung Candi Borobudur Tahun 2010-2015 No Tahun Jumlah Wisatawan Mancanegara Jumlah Wisatawan Nusantara Jumlah Perkembangan 1 2010 147,372 2,261,081 2,408,453 - 2 2011 228,570 1,957,711 2,186,281 (222,172) 3 2012 186,256 2,827,837 3,014,093 827,812 4 2013 435,926 6,291,600 6,727,526 3,713,433 5 2014 222,867 3,153,437 3,376,304 (3,351,222) 6 2015 185,394 3,392,993 3,578,387 202,083 Jumlah 1,406,385 19,884,659 21,291,044 Sumber: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, 2016

Perbedaan fungsi antara kawasan cagar budaya dengan kawasan pariwisata ini bisa menimbulkan adanya permasalahan penggunaan ruangnya. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2007) menyatakan bahwa saat ini kondisi fisik dan lingkungan candi Borobudur berada pada titik yang kritis akibat akumulasi dan kompleksitas persoalan baik yang berkaitan dengan kelestariannya sebagai situs arkeologi maupun sebagai destinasi pariwisata kelas dunia. Beberapa isu dan permasalahan kritis yang dapat diidentifikasi adalah:

1. Menurunnya kualitas lingkungan pendukung sekitar candi yang mengarah pada situasi dan lingkungan yang kurang tertata, sebagai akibat intervensi usaha ekonomi yang memasuki wilayah pelestarian yang dipicu oleh kepentingan-kepentingan tertentu sebagai imbas euphoria otonomi maupun reformasi.

(5)

2. Menurunnya kualitas pengalaman kunjungan wisatawan, sebagai akibat kondisi lingkungan fisik yang tidak nyaman serta sikap ofensif pelaku usaha sektor informal dalam memasarkan produknya.

3. Menurunnya citra objek sebagai situs peninggalan sejarah dan budaya dunia, yang dipengaruhi oleh manajemen atraksi kawasan dan objek pendukung yang kurang matang atau terfokus pada kekuatan sentral Candi Borobudur sebagai salah satu peninggalan peradaban.

Isu strategis dan kondisi faktual saat ini yang ada di Candi Borobudur adalah terkait dengan aspek sosial ekonomi. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2007) menyampaikan ada beberapa isu strategis yang ada di Candi Borobudur yaitu:

1. Eksploitasi ekonomi atas Borobudur, berupa pemanfaatan Borobudur melalui kegiatan komersial yang cenderung berlebihan dan melebihi batasan dan kapasitas yang telah ditetapkan dalam JICA, pertumbuhan jumlah pelaku usaha ekonomi yang terus meningkat setiap tahunnya (khususnya sektor informal) dan praktek pemaksaan pedagang/penjual kepada wisatawan. 2. Terjadinya konflik kepentingan antar pelaku usaha dan otoritas, berupa

hubungan yang terkesan kurang harmonis antar pelaku usaha dan pihak pengelola.

3. Kecenderungan resistensi pelaku ekonomi usaha kecil terhadap perencanaan maupun pelaksanaan penataan, yaitu ada kekhawatiran bahwa perencanaan dan penataan akan berdampak terhadap penggusuran dan kehilangan mata pencaharian.

(6)

Salah satu bentuk permasalahan yang ada di Kawasan Candi Borobudur adalah tumbuhnya kegiatan ekonomi informal yang dilakukan para Pedagang Kaki Lima atau PKL di zona 2 Candi Borobudur. Padahal dari sisi aturan berdasarkan perencanaan Masteplan Kawasan Candi Borobudur yang disusun oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) pada tahun 1979, dijelaskan bahwa zona 2 Candi Borobudur adalah zona penyangga yang mengelilingi zona 1 dengan ketentuan berupa pemenuhan fasilitas taman untuk kenyamanan pengunjung dan sebagai langkah preservasi bagi lingkungan historis. Masterplan Kawasan Candi Borobudur yang disusun oleh JICA tersebut selanjutnya menjadi cikal bakal dari Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2014 yang menegaskan bahwa lokasi PKL saat ini masuk ke dalam Subkawasan Pelestarian 1 (SP1) dengan peruntukan sebagai zona taman candi.

Berdasarkan data dari PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWCBPRB), saat ini PKL (bersama parkir pengunjung) menempati lahan di zona 2 seluas 51.656 m2 (5,1656 hektar). Keberadaan PKL di zona 2 tersebut telah menimbulkan penurunan kualitas Candi Borobudur. UNESCO dalam laporan Reactive Meeting Mission ICOMOS-UNESCO pada tahun 2006 menyatakan bahwa Candi Borobudur telah mengalami sesuatu yang disebut sebagai degradasi kualitas lingkungan. Hasil penelitian PT Tribina Karya Cipta (dalam Ageng, 2009) menunjukkan bahwa keberadaan PKL di zona 2 Candi Borobudur telah memberikan permasalahan-permasalahan yaitu: (1) pertumbuhan PKL yang tidak terkendali, (2) penambahan fungsi bangunan, dan (3) sirkulasi tidak jelas.

(7)

Permasalahan keberadaan PKL di zona 2 Candi Borobudur secara langsung juga dirasakan oleh pengunjung Candi Borobudur. Banyak pengunjung yang merasa tidak nyaman dengan adanya pedagang yang mengejar-mengejar pengunjung dalam menjajakan barang dagangannya. Hal ini bisa dilihat dari ungkapan Aryawan, salah satu pengunjung Candi Borobudur, berikut:

“Sebenarnya saya merasa kurang nyaman ketika berada di dalam Candi Borobudur, baik waktu naik maupun turun dari Candi Borobudur. Banyak pedagang yang mengejar-ngejar saya baik ketika turun dari bus maupun ketika naik bus pulang dari Candi Borobudur” (Aryawan, pengunjung asal Semarang, wawancara tanggal 17 September 2016)

Ketidaknyamanan pengunjung juga terlihat dari sirkulasi pengunjung yang akan turun dari Candi Borobudur. Para pengunjung dibuat berputar-putar untuk mengelilingi kios para pedagang sebelum sampai ke kendaraan/tempat parkir. Hal ini disampaikan oleh Ibu Widati, salah seorang pengunjung Candi Borobudur, berikut:

“Saya merasa bingung ketika turun dari Candi Borobudur, saya dipaksa melewati kios para pedagang ketika mau ke tempat parkiran. Belum lagi jalannya yang sempit juga, ketika sampai ke tempat parkiran saya dikejar-kejar para pedagang dalam menjajakan barang dagangannya” (Ibu Widati, pengunjung asal Solo, wawancara tanggal 17 September 2016)

Belum adanya rumusan yang jelas terkait penempatan lokasi bagi PKL di zona 2 Candi Borobudur menyebabkan sampai saat ini keberadaan PKL tersebut masih ada dan terdapat kecenderungan pertambahan jumlah PKL. Di sisi lain dalam Perpres Nomor 58 Tahun 2014 dalam indikasi program dinyatakan bahwa relokasi kios souvenir harus selesai maksimal Tahun 2019. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang penentuan alternatif lokasi bagi PKL untuk bisa

(8)

melakukan aktivitas ekonominya di luar zona 2 Candi Borobudur atau di zona 3 Candi Borobudur.

Penelitian ini didasari permasalahan adanya pemanfaatan zona 2 Candi Borobudur sebagai lokasi aktivitas ekonomi para PKL, sementara aturan yang ada adalah zona 2 Candi Borobudur diperuntukan sebagai zona taman arkeologi sehingga diperlukan pemecahan masalah berupa bagaimana mengeluarkan PKL dari zona 2 ke zona 3 Candi Borobudur dengan cara perumusan alternatif lokasi bagi PKL di Kawasan Candi Borobudur.

1.2 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, diketahui bahwa keberadaan PKL di Kawasan Candi Borobudur sebagai kawasan cagar budaya sekaligus kawasan pariwisata tidak sesuai dengan peraturan yang ada sehingga dibutuhkan penelitian tentang penentuan lokasi bagi PKL. Oleh karena itu pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana menentukan alternatif lokasi bagi PKL di kawasan cagar budaya dan kawasan pariwisata.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Merumuskan prioritas kriteria penentu lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur;

2. Menentukan alternatif lokasi bagi PKL di Kawasan Candi Borobudur berdasarkan kriteria penentu lokasi.

(9)

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang perencanaan kota, khususnya terkait penataan PKL. Sumbangan teoritik tentang perumusan prioritas kriteria penentu lokasi dan alternatif lokasi PKL mampu memberikan gambaran bagaimana menentukan lokasi PKL di kawasan cagar budaya dan kawasan pariwisata.

Penelitian ini diharapkan pula dapat memberikan masukan kepada pemerintah selaku pengambil keputusan. Manfaat selanjutnya bisa menjadi masukan agar pemerintah mampu membuat regulasi dalam penentuan alternatif lokasi bagi PKL yang berada di Kawasan Candi Borobudur.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

1.5.1 Lingkup Wilayah

Ruang lingkup penelitian ini adalah Kawasan Candi Borobudur yang meliputi 7 (tujuh) desa dan 1 (satu) kelurahan, yaitu Desa Tuksongo, Desa Wanurejo, Desa Borobudur, Desa Tanjungsari, Desa Karanganyar, Desa Karangrejo, Desa Wringinputih dan Kelurahan Mendut.

1.5.2 Lingkup Substansi

Penelitian ini diarahkan pada materi penelitian tentang perumusan prioritas kriteria penentu lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur dan penentuan alternatif lokasi bagi PKL di Kawasan Candi Borobudur berdasarkan kriteria penentu lokasi. Penelitian ini mencoba melihat kedalaman materi berdasarkan dari sisi stakeholder yang terlibat langsung dengan penelitian ini, oleh karena itu

(10)

stakeholder yang digunakan sebagai informan dalam penelitian ini adalah perwakilan dari Pedagang Kaki Lima (PKL) dan para tokoh yang memahami betul permasalahan PKL di Kawasan Candi Borobudur.

1.6 Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan merupakan hasil karya sendiri dan bukan merupakan penjiplakan dari karya tulis lain. Penelitian tentang penentuan lokasi PKL sudah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu, diantaranya adalah penelitian tentang karakteristik PKL, aspek dalam prioritas penentuan lokasi PKL, evaluasi lokasi PKL dan proses relokasi PKL.

Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai penentuan lokasi bagi PKL telah dilakukan dengan metode yang beragam. Beberapa penelitian yang telah dilakukan adalah oleh Sasmito (2005), Budi (2006), dan Atmoko (2009).

Sasmito (2005) meneliti tentang evaluasi lokasi Pasar Rawabangun yang disediakan oleh pemerintah sebagai lokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kabupaten Sanggau. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan evaluasi PKL terhadap lokasi Pasar Rawabangun sebagai tempat relokasi PKL. Dalam penelitiannya disimpulkan bahwa ditinjau dari aspek fisik dan ekonomi, lokasi yang disediakan ternyata kurang cocok untuk kegiatan usaha bagi PKL, dan penilaian PKL terhadap Pasar Rawabangun dipengaruhi oleh karakteristik PKL (tingkat pendidikan, lama berusaha dan jenis usaha yang ditekuni). Penelitian ini merupakan penelitian deduktif kualitatif dengan metode survey.

(11)

Budi (2006), meneliti tentang karakteristik dan preferensi PKL terhadap lokasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Pemalang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan preferensi PKL pada lokasi yang telah ditetapkan oleh Pemerinta Daerah, serta persepsi masyarakat terhadap keberadaan PKL. Dalam penelitiannya disimpulkan bahwa PKL merupakan alternatif mata pencaharian bagi warga yang tidak dapat memasuki sektor formal dikarenakan karakteristik sektor informal yang lebih mudah dimasuki, tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi, tidak membutuhkan modal yang besar, namun dapat menghasilkan pendapatan yang kadang melebihi sektor formal. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan kuesioner dan wawancara serta observasi sebagai alat penelitian.

Atmoko (2009), meneliti tentang proses relokasi PKL Banjarsari dan motivasi Pemerintah Kota Surakarta melakukan relokasi tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa proses relokasi berjalan lancar dikarenakan pengambilan kebijakan dalam penataan PKL Banjarsari tidak dilakukan secara sepihak, ada kesamaan visi antara pemerintah dan PKL. Penelitian ini merupakan kombinasi deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kuesioner dan wawancara sebagai alat penelitian.

Meskipun terdapat beberapa penelitian yang membahas tentang penentuan lokasi PKL, namun penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian terdahulu. Penelitian ini mengangkat tema penentuan lokasi PKL dengan fokus dan lokus yang belum pernah dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode induktif kualitatif dengan dua tujuan akhir yaitu perumusan prioritas kriteria penentu lokasi PKL dan penentuan lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur.

(12)

1.7 Kerangka Pikir Penelitian

Keberadaan Candi Borobudur sebagai kawasan cagar budaya dan kawasan pariwisata memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi yang ada. Pengaruh tersebut diantaranya adalah banyaknya pengunjung yang datang ke Candi Borobudur dan mulai berkembangnya sektor ekonomi di kawasan Candi Borobudur, salah satunya ekonomi informal berupa PKL. Munculnya aktivitas ekonomi PKL di zona 2 Candi Borobudur ini memberikan permasalahan berupa terganggunya kualitas kenyamanan pengunjung dan menurunnya kualitas lingungan di Candi Borobudur.

Di sisi lain, zona 2 Candi Borobudur dalam peraturan perundang-undangan ditetapkan sebagai zona penyangga bagi zona 1 (zona inti). Dalam zona ini diatur sebagai zona pemanfaatan taman untuk kenyamanan pengunjung, sehingga zona ini memang dilarang untuk kegiatan ekonomi.

Dengan adanya permasalahan berupa keberadaan PKL di zona 2 Candi Borobudur, maka diperlukan penelitian tentang penentuan alternatif lokasi bagi PKL di Kawasan Candi Borobudur. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prioritas kriteria penentu lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur dan menentukan alternatif lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur.

Pendekatan penelitian ini adalah induktif kualitatif, dimana dalam perumusan prioritas kriteria penentu lokasi PKL dan penentuan alternatif lokasi PKL ini didasarkan pada data berupa hasil wawancara dengan para informan yang memahami permasalahan penelitian ini, didukung dengan observasi dan data sekunder lainnya. Output akhir dari penelitian ini adalah rumusan prioritas kriteria penentu lokasi PKL dan alternatif lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur.

(13)

Gambar 1.1. Kerangka Pikir Penelitian Sumber: Peneliti, 2016 Fungsi Borobudur sebagai kawasan pariwisata Fungsi Borobudur sebagai kawasan cagar budaya Kebijakan pengembangan sektor pariwisata Tumbuhnya sektor ekonomi di Kawasan Candi Borobudur Meningkatnya jumlah pengunjung Candi Borobudur Munculnya PKL di zona 2 Candi Borobudur Kebijakan pelestarian cagar budaya Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia Pembatasan kegiatan di kawasan cagar budaya Monitoring pelestarian Candi Borobudur

Munculnya lokasi PKL di kawasan pariwisata dan cagar budaya:

 Terganggunya kualitas kenyamanan pengunjung

 Menurunnya kualitas lingkungan Candi Borobudur

Bagaimana Menentukan alternatif lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur

 Merumuskan prioritas kriteria penentu lokasi PKL

 Menentukan alternatif lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur

LATAR BELAKANG

PERTANYAAN PENELITIAN

TUJUAN PENELITIAN

Kriteria penentu lokasi PKL

Alternatif lokasi PKL OUTPUT

(14)

1.8 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, keaslian penelitian, dan kerangka pikir penelitian.

BAB II menyajikan dasar-dasar teori yang berkaitan dengan penelitian ini diantaranya adalah pengelolaan kawasan cagar budaya dan pariwisata, Pedagang Kaki Lima dan pemilihan ruang aktivitas PKL di perkotaan. BAB III Metode penelitian yang menjelaskan metode yang digunakan dalam

kegiatan penelitian, berisi tentang pendekatan penelitian, lokasi penelitian, waktu penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.

BAB IV Deskripsi wilayah penelitian, memberikan gambaran umum wilayah penelitian berkaitan dengan kondisi fisik, kependudukan dan perekonomian. Sesuai dengan topik penelitian, disajikan juga data dan informasi tentang kondisi PKL di Kawasan Candi Borobudur dan kebijakan penataan PKL di Kabupaten Magelang.

BAB V Hasil dan pembahasan, berisi pembahasan tentang rumusan prioritas kriteria penentu lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur, dan penentuan alternatif lokasi PKL di Kawasan Candi Borobudur.

BAB VI Kesimpulan dan rekomendasi, yang isinya meliputi ringkasan hasil temuan, saran yang didalamnya memuat implikasi kebijakan dan yang terakhir adalah rekomendasi penelitian lanjutan yang dapat dilakukan pada penelitian selanjutnya.

Figur

Tabel 1.1  Jumlah Pengunjung Candi Borobudur  Tahun 2010-2015  No  Tahun  Jumlah  Wisatawan  Mancanegara  Jumlah  Wisatawan Nusantara  Jumlah  Perkembangan  1  2010  147,372   2,261,081   2,408,453   -     2  2011  228,570   1,957,711   2,186,281    (222,1

Tabel 1.1

Jumlah Pengunjung Candi Borobudur Tahun 2010-2015 No Tahun Jumlah Wisatawan Mancanegara Jumlah Wisatawan Nusantara Jumlah Perkembangan 1 2010 147,372 2,261,081 2,408,453 - 2 2011 228,570 1,957,711 2,186,281 (222,1 p.4
Gambar 1.1. Kerangka Pikir Penelitian Sumber: Peneliti, 2016 Fungsi Borobudur sebagai kawasan pariwisata  Fungsi Borobudur sebagai kawasan cagar budaya Kebijakan pengembangan sektor pariwisata Tumbuhnya sektor ekonomi di Kawasan Candi Borobudur Meningkatny

Gambar 1.1.

Kerangka Pikir Penelitian Sumber: Peneliti, 2016 Fungsi Borobudur sebagai kawasan pariwisata Fungsi Borobudur sebagai kawasan cagar budaya Kebijakan pengembangan sektor pariwisata Tumbuhnya sektor ekonomi di Kawasan Candi Borobudur Meningkatny p.13

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :