• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP LAJU EROSI DENGAN METODE MUSLE DI DAS JENEBERANG KAB. GOWA. Oleh : PROGRAM STUDI TEKNIK PENGAIRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "SKRIPSI PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN TERHADAP LAJU EROSI DENGAN METODE MUSLE DI DAS JENEBERANG KAB. GOWA. Oleh : PROGRAM STUDI TEKNIK PENGAIRAN"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

i

EROSI DENGAN METODE MUSLE DI DAS JENEBERANG KAB. GOWA

Oleh :

GUGUN AL FARISI AHMAD ALI

105 81 2141 14 105 81 2022 14

PROGRAM STUDI TEKNIK PENGAIRAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)
(3)
(4)

iv

Ahmad Ali1),Gugun Al Farisi1), Dr.Ir.Nenny T Karim,ST.,MT.,IPM2).Dr Ma’rupah,SP.,MP

1)

Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar

2)

Dosen Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar

Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259, Makassar 90221, Indonesia

e-mail : [email protected], [email protected]

ABSTRAK

Pada daerah sub DAS Jeneberang sering terjadi peristiwa banjir dan kekeringan, dikarenakan pesatnya pembangunan dan konservasi lahan, yang menyebabkan peningkatan tutupan lahan sehingga laju erosi meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap laju erosi ang terjadi pada sub DAS Jeneberang. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan laju erosi dengan metode Musle. Dari hasil pengamatan diperoleh besaran laju erosi (Y) pada lahan pemukiman = 51.30 ton/ha/tahun, lahan sawah = 2.54 ton/ha/tahun, lahan tegalan = 7.56 ton/ha/tahun, lahan perkebunan = 9.11 ton/ha/tahun, lahan tanah kosong = 3.36 ton/ha/tahun, lahan semak belukar = 3.96 ton/ha/tahun, lahan hutan rimba = 0.03 ton/ha/tahun. Selanjutnya dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap laju erosi tertinggi terjadi pada lahan pemukiman dan pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap laju erosi terendah terjadi pada lahan hutan rimba.

(5)

v

land cover so that the rate of erosion increases. The purpose of this study was to determine the effect of changes in land cover on the rate of erosion that occurred in the Jeneberang sub-watershed. In this study, the erosion rate was observed using the Musle method. From the observations, the amount of erosion rate (Y) in residential land = 51.30 ton / ha / year, paddy field = 2.54 ton / ha / year, dry land = 7.56 ton / ha / year, plantation land = 9.11 ton / ha / year , vacant land = 3.36 tonnes / ha / year, scrub land = 3.96 tonnes / ha / year, forest land = 0.03 tonnes / ha / year. Furthermore, from these results it can be seen that the effect of changes in land cover on the highest rate of erosion occurs in residential land and the effect of changes in land cover on the lowest rate of erosion occurs in jungle lands.

(6)

vi

Segala Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Akhir ini dengan judul “Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Laju Erosi Dengan Metode Musle Di DAS Jeneberang Kab. Gowa”. Guna

memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik program studi Teknik Sipil Pengairan pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari kelemahan serta keterbatasan yang ada sehingga dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini memperoleh bantuan dari pihak, dalam

kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimaksih kepada :

1. Bapak Ir. Hamzah Ali Imran, S.T., M.T. IPM. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Ir. Andi Makbul Syamsul, S.T., M.T., IPM. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Pengairan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar. 3. Bapak Muh. Amir Zainuddin, ST.,MT. selaku Sekretaris Jurusan Teknik Sipil

Pengairan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Dr. Ir. Nenny T Karim, ST.,MT.,IPM selaku Pembimbing I dalam penyusunan Skripsi ini.

5. Ibu Dr. Ma’rufah, SP., MP. selaku Pembimbing II dalam penyusunan Skripsi ini.

(7)

vii

yang telah mencurahkan seluruh cinta, kasih sayang yang hingga kapanpun penulis takkan bisa membalasnya.

8. Terima kasih juga kepada Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar.

9. Saudara – saudaraku serta rekan – rekan mahasiswa Fakultas Teknik terkhusus angkatan VEKTOR 2014 yang dengan persaudaraannya banyak membantu dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Semoga semua pihak tersebut di atas mendapat pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT dan Tugas Akhir yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi penulis, rekan – rekan, masyarakat serta bangsa dan Negara. Amin.

“Billahi Fii Sabill Haq Fastabiqul Khaerat”.

Makassar, 02 Desember 2020

(8)

viii LEMBAR PENGESAHAN ii ABSTRAK iii KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI v DAFTAR GAMBAR ix DAFTAR TABEL x BAB I. PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 3 C. Tujuan Penelitian 3 D. Manfaat Penelitian 3 E. Batasan Masalah 3 F. Sistematika Penulisan 4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 5

A. Perubahan tutupan lahan 5

1. Pengertian perubahan tutupan lahan 5

(9)

B. Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang 9

1. Pengertian DAS 9

2. Fungsi dan peranan DAS 12

3. Pengelolaan DAS 13

C. Analisis Hidrologi 14

1. Pengertian hidrologi 14

2. Siklus Hidrologi 16

3. Analisis Distribusi Curah Hujan 19

a. Metode Rata – rata Aljabar 19

b. Metode Poligon Thiessen 20

4. Intensitas Curah Hujan 21

D. Erosi Tanah 22

1. Definisi erosi 22

2. Macam-macam erosi 23

3. Pencegahan erosi 25

4. Erosi yang diizinkan 26

E. Prediksi Nilai Erosi Dengan Metode Musle 26

1. Aliran Permukaan (VQ) 27

2. Debit maksimum (Qp) 30

3. Faktor erodibilitas tanah (K) 31

4. Faktor panjang kemiringan lereng (LS) 33

5. Faktor pengeloaan tanaman (C) 35

(10)

7. Faktor pengelolaan tanaman dan konservasi tanah (CP) 39

BAB III. METODE PENELITIAN 40

A. Lokasi dan Waktu Penelitian 40

B. Pendekatan dan Jenis Penelitian 40

C. Sumber Data 40

D. Analisis Data 41

1. Menganalisis curah hujan dengan metode Aljabar dan Thiessen 41 2. Menganalisis perubahan pola guna lahan DAS Jeneberang 41 3. Menghitung Laju Erosi Dengan Metode Musle 41

E. Pembahasan 41

1. Perhitungan Laju Erosi Dengan Metode Musle 41

2. Perhitungan Aliran Permukaan (VQ) 41

3. Perhitungan Debit Maksimum (Qp) 42

4. Faktor Erodibilitas Tanah (K) 42

5. Faktor Panjang Dan Kemiringan Lereng (LS) 42 6. Faktor Pengelolaan Tanaman Dan Konservasi Tanah (CP) 43

F. Bagan Alur Penelitian 44

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 45

A. Identifikasi Perubahan Tutupan Lahan Di DAS Jeneberang 45

1. Tutupan Lahan Tahun 2008 45

2. Tutupan Lahan Tahun 2018 48

(11)

B. Perhitungan Nilai Erosi Dengan Metode Musle 51

1. Perhitungan Aliran Permukaan (VQ) 52

2. Perhitungan Debit Maksimum (Qp) 54

3. Nilai Erodibilitas Tanah (K) 55

4. Nilai Panjang Dan Kemiringan Lereng (LS) 56 5. Nilai Pengelolaan Tanaman Dan Konservasi Tanah (CP) 56 6. Hasil Perhitungan Prediksi Nilai Erosi Tahun 2008 57 7. Hasil Perhitungan Prediksi Nilai Erosi Tahun 2018 58 8. Hasil Perhitungan Prediksi Nilai Erosi Tahun 2008 dan 2018 59

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 61

A. Kesimpulan 61

B. Saran 61

DAFTAR PUSTAKA

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Skema sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) ... 11

Gambar 2. Skema sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) ... 11

Gambar 3. Siklus Hidrologi (sumber:soemarto,1987) ... 19

Gambar 4. Bagan alur pengerjaan tugas akhir ... 44

Gambar 5. Tutupan Lahan Tahun 2008 ... 47

Gambar 6. Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2018 ... 49

Grafik 1. Perubahan Tutupan lahan tahun 2008 dan 2018 ... 51

Grafik 2. Prediksi Nilai Erosi Pada Tahun 2008-2018 ... 60

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Sumber penyebab terjadinya erosi dan tipe-tipe erosi (Graydan Sotir,

1996 danHardiyatmo, 2006) ... 24

Tabel 2. Tingkat bahaya erosi (Sumber : Departemen Kehutanan, 1998) ... 25

Tabel 3. Besar Erosi Yang Diperkenankan (Sumber: Suripin, 2004)... 26

Tabel 4. Angka CN untuk kondisi AMC II ... 28

Tabel 5. Grup Hidrologi Tanah (Hydrolic soil group) ... 29

Tabel 6. Angka CN untuk kondisi AMC I ... 30

Tabel 7. Penilaian ukuran butir tanah (Sumber: Hammer,1979 dalam hardjowigeno,2010) ... 32

Tabel 8. Harkat struktur tanah (Sumber: Arsyad,2010) ... 32

Tabel 9. Harkat permeabilitas tanah (Sumber: Arsyad,2010)... 32

Tabel 10. Faktor LS berdasarkan kemiringan lereng (Sumber: RLKT (Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah), Buku II, 1986 ... 34

Tabel 11. Nilai C Untuk Jenis dan Pengelolaan Tanaman ... 36

Tabel 12. Faktor pengelolaan dan konservasi tanah di jawa ... 38

Tabel 13. Nilai penggunaan lahan dan konservasi tanah (CP) ... 39

Tabel 14. Kelas kemiringan lereng ... 43

Tabel 15. Nilai penggunaan lahan dan konservasi tanah (CP) di DAS Jeneberang ... 44

Tabel 16. Tutupan Lahan Tahun 2008 ... 46

Tabel 17. Tutupan lahan tahun 2018 ... 49

Tabel 18. Perubahan Tutupan Lahan tahun 2008 dan 2018 ... 51

Tabel 19. Rekapitulasi Curah Hujan Maksimum Harian Tahunan (2008– 2018) ... 53

Tabel 20. Urutan Data Curah Hujan Maksimum Tahunan (2008-2018)……….54

Tabel 21. Perhitungan Aliran Permukaan (VQ) tahun 2008 ... 54

Tabel 22. Perhitungan Aliran Permukaan (VQ) tahun 2018 ... 55

Tabel 23. Perhitungan Debit Maksimum (Qp) tahun 2008 ... 55

Tabel 24. Perhitungan Debit Maksimum (Qp) tahun 2018 ... 56

Tabel 25. Nilai Erodibilitas Tanah (K) ... 56

Tabel 26. Nilai LS (Kemiringan Lereng) DAS Jeneberang ... 57

Tabel 27. Nilai Pengelolaan Tanaman Dan Konservasi Tanah (CP)... 58

Tabel 28. Perhitungan Prediksi Nilai Erosi Tahun 2008 ... 58

Tabel 29. Perhitungan Prediksi Nilai Erosi Tahun 2018 ... 59

(14)

1

Sumber daya berupa hutan, tanah dan air merupakan kekayaan alam yang harus lestari, sehingga pengelolaan terhadap sumber daya alam dengan satuan unit pengelolaan daerah sungai harus dilaksanakan secara hati-hati dan bijaksana, sehingga dapat mendukung tercapainya kesejahteraan masyarakat yang lestari. Kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) saat ini semakin memprihatinkan dengan semakin tingginya frekuensi banjir, kekeringan, dan tanah longsor. DAS Jeneberang yang meliputi kabupaten Gowa, Takalar dan Makassar cukup kritis. Berdasarkan data luas hutan yang tersisa 8.259 ha atau hanya 13,3% dari total lahan 61.733 ha. Laju degradasi hutan telah terjadi sejak pertengahan tahun 1990 akibat alih fungsi lahan. Padahal sesuai ketentuan UU 41/1999 tentang kehutanan, batas normal hutan sepanjang DAS harus 47,22% (BPDAS Jeneberang, 2010).

Akibatnya laju erosi menuju bendungan bili–bili terus meningkat. Jumlah erosi yang tertampung di bendungan setiap tahun mencapai 30 ton/ha. Sementara daya tampungnya hanya 18 ton/ha. Kondisi ini dikhawatirkan mempengaruhi daya tahan bendungan (BPDAS Jeneberang, 2010).

DAS Jeneberang merupakan salah satu DAS Prioritas Nasional sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan dan Menteri Pekerjaan Umum No.19 tahun 1984, No. 059/Kpts-II/1985 dan No. 124/Kpts/1984 yang dalam pengelolaannya perlu mendapat perhatian khusus. DAS ini merupakan daerah tangkapan air untuk DAM

(15)

serbaguna Bili-Bili yang dibangun untuk memenuhi kepentingan penyediaan air minum bagi penduduk kota Makassar, Sungguminasa dan sekitarnya, irigasi sawah di daerah bagian hilir seluas ± 30.000 ha, pembangkit listrik dan sarana rekreasi. Pembangunan PLTA di kabupaten Gowa bertujuan untuk pengembangan kelistrikan terutama dalam rangka listrik masuk desa untuk 130 desa/kelurahan, sedangkan pembangunan sektor irigasi di kabupaten Gowa bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan (Sylviani, 2010).

Salah satu daerah yang paling berpeluang untuk terjadi erosi adalah DAS. Beragamnya pemanfaatan lahan di kawasan DAS Jeneberang memiliki konstribusi yang sangat besar terhadap laju erosi, hal ini dimungkinkan karena sebagian besar lahan yang dimanfaatkan belum sesuai dengan peruntukannya. Intensitas penggunaan lahan pada daerah-daerah berlereng dan ditambah lagi dengan model pengelolaan tanah yang kurang sesuai dengan teknik konservasi yang dianjurkan akan mempercepat proses terjadinya kerusakan lahan akibat laju erosi. Kondisi tersebut akan mempengaruhi peran DAS sebagai PLTA, irigasi, sumber air minum dan kebutuhan domestik lainnya jika tidak dilakukan rehabilitasi lahan yang sesuai (Sylviani, 2010).

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Laju Erosi Dengan Metode Musle Di Sub DAS Jeneberang Kab. Gowa”.

(16)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian masalah di atas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :

1) Seberapa besar perubahan tutupan lahan di DAS Jeneberang hulu?

2) Bagaimana pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap laju erosi dengan metode Musle di DAS Jeneberang hulu?

C. Tujuan Penelitian

Dengan mengacu pada masalah penelitian yang telah dirumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah :

1) Menganalisis perubahan tutupan lahan di DAS Jeneberang hulu

2) Menganalisis pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap laju erosi dengan metode Musle di DAS Jeneberang hulu

D. Manfaat Penelitian

Untuk mendapatkan pengetahuan bagi penulis dan memberikan informasi tentang pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap laju erosi di DAS Jeneberang sebagai dasar dalam mengetahui penyebab erosi akibat adanya alih fungsi lahan di DAS Jeneberang hulu.

E. Batasan Masalah

Agar penelitian ini dapat berjalan dengan efektif dan mencapai sasaran yang ingin dicapai, maka penelitian ini di berikan batasan masalah sebagai berikut:

1) Lokasi penelitian dilakukan di bagian hulu DAS Jeneberang Stasiun Malino, Tetebatu, Tanralili Kabupaten Gowa

(17)

2) Penelitian ini difokuskan pada perubahan tutupan lahan dan laju erosi dengan metode Musle

F. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN: Terdiri dari latar belakang,rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA : Dalam BAB ini menguraikan tentang daerah aliran sungai, hidrologi, pola guna lahan, penggunahan lahan, erosi, dan kemiringan lereng.

BAB III METODE PENELITIAN : Dalam bab ini menguraikan tentang lokasi penelitian, metode pelaksaan penelitian, analisa data.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN : Dalam bab ini berisi hasil penelitian yang menguraikan tentang pengaruh serta dampak dari perubahan tutupan lahan terhadap laju erosi dengan metode musle .

(18)

5 A. Perubahan Tutupan Lahan

1. Pengertian Perubahan Tutupan Lahan

Perubahan Tutupan lahan merupakan keadaan suatu lahan yang mengalami perubahan kondisi pada waktu yang berbeda disebabkan oleh manusia (Lillesand dkk, 2003). Deteksi perubahan mencakup penggunaan fotografi udara berurutan di atas wilayah tertentu, dari fotografi tersebut penggunaan lahan untuk setiap waktu dapat dipetakan dan dibandingkan (Lo, 1995). Ada dua faktor yang menyebabkan terganggunya hutan, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Gangguan yang disebabkan oleh alam meliputi kebakaran hutan akibat petir dan kemarau, letusan gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, banjir dan erosi akibat hujan deras yang lama.Sementara itu gangguan terhadap hutan yang disebabkan oleh manusia dapat berupa penebangan liar, penyerobotan lahan, dan kebakaran.

Sebagian besar perubahan lahan yang terjadi pada hutan saat ini ialah dikarenakan faktor manusia, meskipun ada yang dikarenakan faktor alam tapi itu sangat jarang ditemukan. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan penutupan lahan diantaranya adalah pertumbuhan penduduk, mata pencaharian, aksesibilitas, dan fasilitas pendukung kehidupan serta kebijakan pemerintah.Tingginya tingkat kepadatan penduduk di suatu wilayah telah mendorong penduduk untuk membuka lahan baru untuk digunakan sebagai pemukiman ataupun lahan-lahan budidaya.

(19)

Mata pencarian penduduk di suatu wilayah berkaitan erat dengan usaha yang dilakukan pendudukdi wilayah tersebut. Perubahan penduduk yang bekerja di bidang pertanian memungkinkan terjadinya perubahan penutupan lahan. Semakin banyak penduduk yang bekerja di bidang pertanian, maka kebutuhan lahan semakin meningkat. Hal ini dapat mendorong penduduk untuk melakukan konversi lahan pada berbagai penutupan lahan. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan lahan adalah faktor sosial ekonomi masyarakat yang berhubungan dengan kebutuhan hidup manusia terutama masyarakat sekitar kawasan (Darmawan, 2002).

Persentase perubahan penggunaan lahan di DAS Jeneberang periode tahun 1995-2010 meliputi hutan dari 36% berkurang menjadi 26%, sawah dari 15% berkurang menjadi 8%, pemukiman dari 0,3% meningkat menjadi 3%, ladang bercampur semak dari 29% meningkat menjadi 33%, semak belukar dari 17% meningkat menjadi 22%, sisanya merupakan rawa dan tubuh air dari 3% meningkat menjadi 8% (Supratman dkk., 2004; Karim dkk., 2011).

Wilayah hulu DAS merupakan kawasan penyangga ekosistem bagi wilayah tengah maupun wilayah hilir DAS. Selain itu, ekosistem DAS hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS. Berbagai metode dilakukan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari aktivitas yang dilakukan pada DAS. Penggunaan model hidrologi merupakan sajian sederhana (simple representation) dari sebuah sistem hidrologi yang kompleks. Ketersediaan model hidrologi sangat diperlukan untuk membantu dalam mempelajari proses perubahan yang terjadi pada DAS.

(20)

Lahan kritis merupakan salah satu masalah pokok dari sejumlah masalah yang ada karena dapat memicu sedimentasi, pendangkalan alur sungai dan muara sungai. Salah satu faktor terjadinya lahan kritis adalah erosi, erosi sendiri juga mempunyai beberapa faktor penunjang antara lain iklim, tanah, topografi atau bentuk wilayah, vegetasi penutup tanah dan kegiatan manusia. Adanya pembangunan kawasan pemukiman dan pengurangan vegetasi akan merubah tata guna lahan yang berakibat menurunnya daya ikat tanah terhadap aliran permukaan sehingga terjadilah erosi lahan.

2. Sistem Klasifikasi Penutupan Lahan Dan Penggunaan Lahan

Skema klasifikasi yang baik harus sederhana di dalam menjelaskan setiap kategori penggunaan dan penutupan lahan. Satu faktor penting untuk menentukan kesuksesan pemetaan penggunaan lahan dan penutupan lahan terletak pada pemilihan skema klasifikasi yang tepat dirancang untuk suatu tujuan tertentu (Lo, 1995).

Skema klasifikasi merupakan rancangan skema penutupan lahan suatu wilayah yang disusun berdasarkan informasi tambahan dari wilayah yang akan diinterpretasikan. Sistem klasifikasi di atas disusun berdasarkan kriteria berikut:

a. tingkat ketelitian interpretasi minimum dengan menggunakan penginderaan jauh harus tidak kurang dari 85%.

b. ketelitian interpretasi untuk beberapa kategori harus kurang lebih sama

c. hasil yang dapat diulang harus dapatdiperoleh dari penafsir yang satu ke yang lain dan dari satu saat penginderaan ke saat yang lain

(21)

d. sistem klasifikasi harus dapat diterapkan untuk daerah yang luas

e. kategorisasi harus memungkinkan penggunaan lahan ditafsir dari penutupan lahannya

f. sistem klasifikasi harus dapat digunakan dengan data penginderaan jauh yang diperoleh pada waktu yang berbeda

g. kategori harus dapat dirinci ke dalam sub kategori yang lebih rinci yang dapat diperoleh dari citra skala besar atau survey lapangan

h. pengelompokkan kategori harus dapat dilakukan

i. harus memungkinkan untuk dapat membandingkan dengan data penggunaan lahan dan penutupan lahan pada masa yang akan datang

j. lahan multiguna harus dapat dikenali bila mungkin (Lillesand dkk, 2003). Tutupan lahan merupakan hal penting dalam memahami aktivitas manusia dengan lingkungan. Potensi pertanian di Kabupaten Gowa merupakan salah satu potensi yang mendukung perekonomian. Pembangunan di sektor industri perdagangan juga semakin meningkat yang menyebabkan terancamnya ketersedian lahan pertanian jika tidak dikelola dengan baik. Alih guna lahan pada wilayah DAS akan mempengaruhi kondisi hidrologi DAS seperti meningkatnya debit puncak, koefisien aliran permukaan, volume aliran permukaan (Hartanto, 2009; Lipu, (2010); Emilda, 2010),

(22)

B. Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang 1. Pengertian DAS

DAS adalah daerah tertentu yang bentuk dan sifat alaminya sedemikian rupa sehingga merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai yang melaluinya. Sungai dan anak-anak sungai tersebut berfungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan serta sumber air lainnya. Penyimpanan dan pengaliran air dihimpun dan tata berdasarkan hukum alam di sekililingnya sesuai dengan keseimbangan daerah tersebut. Proses tersebut dikenal sebagai siklus hidrologi (Rahayu, 2009).

DAS merupakan suatu unit pengelolaan ekosistem ang harus dikelola secara terpadu, baik biofisik, sosial ekonomi, maupun kelembagaan dan budaya yang ada dalam suatu DAS. Upaya Rehabilitas Hutan dan Lahan (RHL) sebagai salah satu input dalam kerangka pengelolaan sumber daya alam DAS (Departemen Kehutanan, 2010).

Dalam pengelolaan DAS, dikenal zonasi batas yang imajiner yakni bagian hulu, bagian tengah dan bagian hilir. Masing-masing zona mempunyai karakteristik dimana bagian hulu menjadi sumber sedimen, bagian tengah menjadi transpor dan bagian hilir menjadi tempat pengendapan. Bagian hulu DAS umumnya berfungsi sebagai kawasan lindung sehingga peranannya sangat penting. Fungsi kawasan lindung ini secara umum melindungi kawasan bagian bawahnya dengan mengontrol aliran permukaan dan aliran bawah permukaan (Departemen Kehutanan, 2010).

Proses degradasi sumber daya alam pada wilayah DAS di Indonesia sudah relatif mengkhawatirkan. Kerusakan yang terjadi pada DAS-DAS di Indonesia

(23)

ditandai dengan semakin tingginya fluktuasi debit maksimum dan minimum, terjadinya penurunan produktifitas lahan, frekuensi terjadinya banjir dan kekeringan semakin meningkat, serta semakin banyaknya bencana tanah longsor. Kegiatan RHL dilaksanakan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan, untuk menjamin terjaganya daya dukung, produktifitas dan peranan hutan dan lahan dalam mendukung sistem penyangga kehidupan. Hal ini terjadi karena masih luasnya lahan kritis berdampak negatif terhadap fungsi hidrologi DAS dan kesejahteraan masyarakat (Departemen Kehutanan, 2010).

Pengaruh DAS terhadap air larian adalah melalui bentuk dan ukuran (morfometri) DAS, topografi, geologi dan tata guna (jenis dan kerapatan vegetasi). Semakin besar ukuran DAS, semakin besar laju air larian dan volume air larian. Tetapi, baik laju maupun volume air larian per satuan wilayah dalam DAS tersebut turun apabila luas daerah tangkapan air (catchment area) bertambah besar (Asdak, 2010).

(24)

Suatu“Daerah Aliran Sungai” atau DAS adalah sebidang lahan yang menampung air hujan dan mengalirkannya menuju parit, sungai dan akhirnya bermuara kedanau atau laut. Batas DAS adalah punggung perbukitan yang membagi satu DAS dengan DAS lainnya (Gambar 1).

Gambar 2. Skema sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS)

Karena air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah sepanjang lereng maka garis batas sebuah DAS adalah punggung bukit sekeliling sebuah sungai. Garis batas DAS tersebut merupakan garis khayal yang tidak bisa dilihat, tetapi dapat digambarkan pada peta. batas DAS kebanyakan tidak sama dengan batas wilayah administrasi. Akibatnya sebuah DAS bisa berada pada lebih dari satu wilayah administrasi. Ada DAS yang meliputi wilayah beberapa negara, beberapa wilayah kabupaten, atau hanya pada sebagian dari suatu kabupaten. Tidak ada ukuran baku (definitif) suatu DAS. Ukurannya mungkin bervariasi dari beberapa hektar sampai ribuan hektar. DAS Mikro atau tampungan mikro (micro catchment) adalah suatu cekungan pada bentang lahan yang airnya mengalir pada suatu parit. Parit tersebut kemungkinan mempunyai aliran selama dan sesaat

(25)

sesudah hujan turun (intermitten flow) atau ada pula yang aliran airnya sepanjang tahun (perennial flow).

2. Fungsi Dan Peranan DAS

Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai suatu hamparan wilayah atau kawasan yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya ke laut atau ke danau maka fungsi hidrologisnya sangat dipengaruhi jumlah curah hujan yang di terimah, geologi yang mendasari dan bentuk lahan. Fungsi hidrologis yang termasuk kapasitas Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk :

a) Mengalirkan air

b) Menyangga kejadian puncak hujan c) Melepas air secara bertahap

d) Memelihara kualitas air

e) Mengurangi pembuangan massa (seperti tanah longsor )

Memahami hubungan antara penggunaan lahan dan aliran air ke daerah hilir memiliki arti yang sangat penting karena permintaan air bagi produk pertanian, industry dan kebutuhan domestik terus meningkat, sementara suplai tetap. Dalam banyak kasus, kekhawatiran akan dampak penggundulan hutan pada kualitas dan keteraturan aliran air dari hulu, merupakan dasar diterapkannya aturan penggunaan lahan. Suatu aturan penggunaan lahan seringkali mengakibatkan makin terbatasnya kesempatan masyarakat hulu untuk hidup sesuai dengan cara yang mereka inginkan atau yang dianggap cocok.

(26)

3. Pengelolaan DAS

Dalam mengelola sumberdaya lahan suatu DAS perlu diketahui apa yang menjadi masalah utama DAS. Masalah DAS pada dasarnya dapat dibagi menjadi:

1. Kuantitas (jumlah) air

a) Banjir dan kekeringan

b) Menurunnya tinggi muka air tanah

c) Tingginya fluktuasi debit puncak dengan debit dasar. 2. Kualitas air

a) Tingginya erosi dan sedimentasi di sungai

b) Tercemarnya air sungai dan air tanah oleh bahan beracun dan berbahaya

c) Tercemarnya air sungai dan air danau oleh hara seperti N dan P (eutrofikasi).

Apabila suatu DAS dihutankan kembali maka pengaruhnya terhadap tata air DAS akan memakan waktu puluhan tahun. Pencegahan penebangan hutan jauh lebih penting dari pada membiarkan penebangan hutan dan menanami kembali lahan gundul dengan pohonpohonan. Lagipula apabila penanaman pohon dipilih sebagai metode pengatur tata air DAS, penanamannya harus mencakup sebagian besar wilayah DAS tersebut. Jika hanya 20- 30% dari wilayah DAS ditanami, pengaruhnya terhadap tata air mungkin tidak nyata.Penyebaran tanaman kayu-kayuan secara merata dalam suatu DAS tidak terlalu memberikan arti dalam

(27)

menurunkan sedimentasi.memberikan ringkasan masalah DAS dan alternatif teknologi yang dapat dipilih untuk mengatasinya.

C. Analisis Hidrologi 1. Pengertian Hidrologi

Hidrologi berasal dari bahasa Yunani, Hydrologia, yang berarti "ilmu air". Hidrologi adalah cabang ilmu Geografi yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di seluruh Bumi, termasuk siklus hidrologi dan sumber daya air. Orang yang ahli dalam bidang hidrologi disebut hidrologi, bekerja dalam bidang ilmu bumi dan ilmu lingkungan, serta teknik sipil dan teknik lingkungan.

Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari air dalam segala bentuknya (cairan, padat, gas) pada dalam atau di atas permukaan tanah termasuk di dalamnya adalah penyebaran daur dan perilakunya, sifat-sifat fisika dan kimia, serta hubungannya dengan unsur-unsur hidup dalam air itu sendiri. Hidrologi juga mempelajari perilaku hujan terutama meliputi periode ulang curah hujan karena berkaitan dengan perhitungan banjir serta rencana untuk setiap bangunan teknik sipil antara lain bendung, bendungan dan jembatan. Secara umum Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari masalah keberadaan air di bumi (siklus air) dan hidrologi memberikan alternatif bagi pengembangan sumberdaya air bagi pertanian dan industri.

Lebih lanjut bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang terjadinya, pergerakan dan distribusi air di bumi, baik di atas maupun di bawah

(28)

permukaan bumi, tentang sifat fisik, kimia air serta reaksinya terhadap lingkungan dan hubunganya dengan kehidupan (Marta dan Adidarma, 1983).

Sedangkan menurut Linsley (1996), menyatakan pula bahwa hidrologi ialah ilmu yang membicarakan tentang air yang ada di bumi, yaitu mengenai kejadian, perputaran dan pembagiannya, sifat-sifat fisik dan kimia, serta reaksinya terhadap lingkungan termasuk hubungannya dengan kehidupan.

Singh (1992), menyatakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang membahas karakteristik menurut waktu dan ruang tentang kuantitas dan kualitas air bumi termasuk di dalamnya kejadian, pergerakan, penyebaran, sirkulasi tampungan, eksplorasi, pengembangan dan manajemen dari beberapa pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang air, baik di atmosfer, di bumi, dan di dalam bumi, tentang perputarannya, kejadiannya, distribusinya serta pengaruhnya terhadap kehidupan yang ada di alam ini.

Berdasarkan konsep tersebut, hidrologi memiliki ruang lingkup atau cakupan yang luas. Secara substansial, cakupan bidang ilmu itu meliputi: asal mula dan proses terjadinya air pergerakan dan penyebaran air sifatsifat air keterkaitan air dengan lingkungan dan kehidupan. Hidrologi merupakan suatu ilmu yang mengkaji tentang kehadiran dan gerakan air di alam. Studi hidrologi meliputi berbagai bentuk air serta menyangkut perubahan-perubahannya, antara lain dalam keadaan cair, padat, gas, dalam atmosfer, di atas dan di bawah permukaan tanah, distribusinya, penyebarannya, gerakannya dan lain sebagainya.

(29)

Pembahasan tentang ilmu hidrologi tidak dapat dilepaskan dari siklus hidrologi.Siklus hidrologi sendiri adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi.

2. Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi merupakan proses pengeluaran air dan perubahannya menjadi uap air yang mengembun kembali menjadi air yang berlangsung terus-menerus tiada henti-hentinya. Sebagai akibat terjadinya sinar matahari maka timbul panas. Dengan adanya panas ini maka air akan menguap menjadi uap air dari semua tanah, sungai, danau, telaga, waduk, laut, kolam, sawah dan lain-lain dan prosesnya disebut penguapan (evaporation). Penguapan juga terjadi pada semua tanaman yang disebut transpirasi (transpiration) (Soedibyo, 2003)

Siklus hidrologi dimulai dengan penguapan air dari laut. Uap yang dihasilkan dibawa oleh udara yang bergerak. Dalam kondisi yang memungkinkan, uap tersebut terkondensasi membentuk awan, pada akhirnya dapat menghasilkan presipitasi. Presipitasi jatuh ke bumi menyebar dengan arah yang berbeda-beda dalam beberapa cara. Sebagian besar dari presipitasi tersebut sementara tertahan pada tanah di dekat tempat ia jatuh, dan akhirnya dikembalikan lagi ke atmosfer oleh penguapan (evaporasi) dan pemeluhan (transpirasi) oleh tanaman.Sebagian air mencari jalannya sendiri melalui permukaan dan bagian atas tanah menuju sungai, sementara lainnya menembus masuk lebih jauh ke dalam tanah menjadi bagian dari air tanah (groundwater). Di bawah pengaruh gaya gravitasi, baik aliran

(30)

air permukaan (surface streamflow) maupun air dalam tanah bergerak ke tempat yang lebih rendah yang dapat mengalir ke laut. Namun, sejumlah besar air permukaan dan air bawah tanah dikembalikan ke atmosfer oleh penguapan dan pemeluhan (transpirasi) sebelum sampai ke laut (Linsley,1996).

Secara gravitasi (alami) air mengalir dari daerah yang tinggi ke daerah yang rendah, dari gunung-gunung, pegunungan ke lembah, lalu ke daerah lebih rendah, sampai ke daerah pantai dan akhirnya akan bermuara ke laut. Aliran air ini disebut aliran permukaan tanah karena bergerak di atas muka tanah. Aliran ini biasanya akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju ke sistem jaringan sungai, sistem danau ataupun waduk.

Sebagian air hujan yang jatuh di permukaan bumi akan menjadi aliran permukaan (surface run off). Aliran permukaan sebagian akan meresap ke dalam tanah menjadi aliran bawah permukaan melalui proses infiltrasi (infiltration), dan perkolasi (percolation), selebihnya terkumpul di dalam jaringan alur sungai (river flow). Apabila kondisi tanah memungkinkan sebagian air infiltrasi akan mengalir kembali ke dalam sungai (river), atau genangan lainya seperti waduk, danau sebagai interflow. Sebagian dari air dalam tanah dapat muncul lagi ke permukaan tanah sebagai air eksfiltrasi (exfiltration) dan dapat terkumpul lagi dalam alur sungai atau langsung menuju ke laut/lautan. (Soewarno, 2000).

Dalam siklus hidrologi, air hujan yang turun akibat dari penguapan air dipermukaan bumi sebagian akan mengalir melalui permukaan bumi kearah horisontal sebagai limpasan (run off). Sebagian lagi akan bergerak secara vertikal,

(31)

meresap kedalam tanah untuk nantinya akan keluar lagi menuju kepermukaan sebagai sumber mata air ataupun sebagai sungai bawah tanah, sedangkan sisanya akan menguap lagi menuju atmosfer. Air yang terinfiltrasi ke tanah mula-mula akan mengisi pori-pori tanah sampai mencapai kadar air jenuh. Apabila kondisi tersebut telah tercapai, maka air tersebut akan bergerak dalam dua arah, arah horisontal sebagai interflow dan arah vertikal sebagai perkolasi (Sumber : Sri Harto, Hidrologi Terapan, 1994).

Analisis hidrologi adalah kumpulan keterangan atau fakta mengenai fenomena hidrologi. Fenomena hidrologi seperti besarnya curah hujan, temperatur, penguapan, lamanya penyinaran matahari, kecepatan angin, debit sungai, tinggi muka air, selalu berubah menurut waktu. Untuk suatu tujuan tertentu data-data hidrologi dapat dikumpulkan, dihitung, disajikan, dan ditafsirkan dengan menggunakan prosedur tertentu (Yuliana, 2008).

(32)

3. Analisis Distribusi Curah Hujan

Analisis data hujan dimaksudkan untuk mendapatkan besaran curah hujan. Metode yang digunakan dalam perhitungan curah hujan rata-rata wilayah daerah aliran sungai (DAS) ada tiga metode, yaitu metode rata-rata aritmatik (aljabar), metode poligon Thiessen dan metode Isohyet (Loebis, 1987).

a) Metode Rata-rata aritmatik (Aljabar)

Cara menghitung rata-rata aritmatis (arithmetic mean) adalah cara yang paling sederhana. Metode ini dilakukan dengan cara menjumlahkan seluruh data curah hujan yang tercatat dari semua stasiun pengukuran kemudian membaginya sesuai dengan banyaknya jumlah stasiun. Metode ini dapat dilakukan di daerah yang datar dan memiliki banyak stasiun pengukuran yang tersebar secara merata (Sri Harto, Analisis Hidrologi, 1993).

Secara sistematis rumus yang digunakan untuk menghitung curah hujan dengan metode rata-rata aljabar adalah sebagai berikut:

R = ... (1) Dimana :

R = curah hujan rata-rata (mm)

R1....R2 = curah hujan di titik pengamatan (mm)

n = jumlah titik-titik (stasiun-stasiun) pengamat hujan

(33)

Metode ini memperhitungkan bobot dari masing-masing stasiun yang mewakili luasan di sekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap bahwa hujan adalah sama dengan yang terjadi pada stasiun yang terdekat, sehingga hujan yang tercatat pada suatu stasiun mewakili luasan tersebut. Metode ini digunakan apabila penyebaran stasiun hujan di daerah yang ditinjau tidak merata, pada metode ini stasium hujan minimal yang digunakan untuk perhitungan adalah tiga stasiun hujan. Hitungan curah hujan rata-rata dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh dari tiap stasiun. Metode poligon Thiessen banyak digunakan untuk menghitung hujan rata-rata kawasan. Poligon Thiessen adalah tetap untuk suatu jaringan stasiun hujan tertentu. Apabila terdapat perubahan jaringan stasiun hujan seperti pemindahan atau penambahan stasiun, maka harus dibuat lagi poligon yang baru (Triatmodjo, 2008).

Secara sistematis rumus yang digunakan untuk menghitung curah hujan rata-rata dengan metode polygon thiessen adalah sebagai berikut:

R = R1W1+R2W2 + ………+ RnWn ... (2) Dimana :

R = curah hujan rata-rata (mm)

R1...R2...Rn = curah hujan masing-masing stasiun (mm)

W1...W2...Wn = faktor bobot masing-masing stasiun. Yaitu % daerah

(34)

4. Intensitas Curah Hujan

Intensitas curah hujan adalah besarnya air hujan yang jatuh ke permukaan bumi pada satuan luas (Kensaku Takeda dan Suyono.S). Dengan demikian apabila diketahui curah hujan 1 mm berarti curah hujan tersebut adalah sama dengan 1liter/m2. Jadi curah hujan merupakan jumlah air hujan yang jatuh pada satu satuan luas. Satuan curah hujan dinyatakan dalam mm sedangkan derajat curah hujan dinyatakan dalam curah hujan per-satuan waktu dan disebut juga dengan intensitas hujan. Intensitas hujan (I) didapat dari persamaan :

I = ) 2/3 ... (3)

I = intensitas hujan (mm/jam) R= hujan sehari (mm)

Tc= time of concentrations (jam)

Tc = 0,385 ...(4) Dimana :

Tc = time of concentrations (jam) L = panjang sungai utama (km2)

H = beda tinggi antara titik tertinggi dengan titik terendah pada catchment area (m)

(35)

D. Erosi Tanah

1. Definisi Erosi

Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian bagian tanah terkikis dan terangkut, kemudian diendapkan di tempat lain (Arsyad, 2010). Proses hidrologi secara langsung dan tidak langsung akan berhubungan dengan terjadinya erosi, transportasi sedimen, deposisi sedimen di daerah hilir, serta mempengaruhi karakter fisik, biologi, dan kimia. Terjadinya erosi ditentukan oleh faktor-faktor iklim (intensitas hujan, topografi, karakteristik tanah, vegetasi penutup tanah, dan tata guna lahan).

Erosi tanah pada dasarnya adalah proses perataan kulit bumi yang meliputi proses pelepasan, pengangkutan dan pengendapan butir-butir tanah. Untuk di Indonesia yang beriklim tropis basah maka proses erosi tanah lebih banyak disebabkan oleh air, akibat hujan yang turun di atas permukaan bumi Menurut Utomo (1987) dalam Hadiharyanto (2003).

Faktor-faktor penyebab erosi tanah adalah iklim, kondisi tanah, topografi, tanaman penutup permukaan tanah dan gangguan tanah oleh aktifitas manusia. Erosi merupakan proses alamiah yang tidak bisa atau sulit untuk dihilangkan sama sekali atau tingkat erosinya nol, khususnya untuk lahan-lahan yang di usahakan dalam lahan pertanian (Suripin, 2002).

Erosi internal adalah terangkutnya butir-butir tanah primer ke bawah dan masuk ke dalam celah-celah atau pori-pori tanah sehingga tanah menjadi kedap air

(36)

dan udara. Erosi ini tidak menyebabkan kerusakan yang berarti, karena bagian tanah tidak hilang atau pindah ke tempat lain. Akibat erosi ini adalah menurunnya kapasitas infiltrasi tanah secara cepat sehingga meningkatkan aliran permukaan yang akan menyebabkan terjadinya erosi lembar atau erosi alur (A’Yunin,2008).

2. Macam – Macam Erosi

Menurut Arsyad (2006) penjelasan beberapa tipe erosi permukaan yang umum dijumpai di daerah tropis adalah:

a) Erosi percikan adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah bagian atas oleh tenaga kinetik air hujan bebas atau sebagai air lolos.

b) Erosi kulit adalah erosi yang terjadi ketika lapisan tipis permukaan tanah di daerah berlereng terkikis oleh kombinasi air hujan dan air aliran (runoff). c) Erosi alur adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan partikel

partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran saluran air.

d) Erosi selokan/parit adalah erosi yang membentuk jajaran parit yang lebih dalam dan lebar serta merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur.

e) Erosi tebing sungai adalah pengikisan tanah pada tebing-tebing sungai dan penggerusan dasar sungai oleh aliran air sungai.

Tabel 1. Sumber penyebab terjadinya erosi dan tipe-tipe erosi Sumber Tipe erosi atau proses degradasi

Air

Percikan air hujan (raindrop splash) Erosi lembaran (sheeterosion)

(37)

Pembentukan alur (rilling) Pembentukan parit (gullying) Erosi sungai (stream/channelerosion)

Aksi gelombang (waveaction) Piping dan sapping Sumber : Graydan Sotir, 1996 danHardiyatmo, 2006

Perubahan dalam tanah dan tanaman-tanaman penutup tanah menjadi titik berat terjadinya erosi.Pengaruh erosi pada kesuburan tanah dapat dilihat dari perubahan struktur tanah, penurunan infiltrasi, dan perubahan profil tanah (Kartasaeputro, 2000).

Berdasarkan terjadinya tingkat bahaya erosi dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

Tabel 2. Tingkat Bahaya Erosi Kelas Bahaya erosi (ton/ha/tahun) Keterangan I < 15 Sangat Rendah II 15-60 Rendah III 60-180 Sedang IV 180-480 Tinggi V >480 Sangat Tinggi

(38)

3. Pencegahan Erosi

Menurut (Kasdi Subagyono, Setiari Marwanto, dan Undang Kurnia, 2003).Upaya Pencegahan Erosi dan penanggulangan erosi pada suatu lahan dapat dilakuakan dengan dua cara yaitu :

a) Cara Vegetasi, Vegetasi mempunyai pengaruh yang bersifat melawan terhadap pengaruh faktor-faktor yang erosif seperti hujan, topografi, dan karateristik tanah. Vegetasi yang digunakan berupa tanaman penutup tanah. Tanaman penutup tanah yaitu tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan untuk memperbaiki kondisi tanah.

b) Cara Struktural, salahsatu cara struktural yang dapat digunakan untuk mencegah erosi adalah dinding penahan tanah. Menahan tanah lepas atau alami dan mencegah keruntuhan tanah yang miring atau lereng yang kemantapannya tidak dapat dijamin oleh lereng tanah itu sendiri. Dinding penahan tanah berfungsi untuk menyokong serta mencegahnya dari bahaya kelongsoran. Baik akibat beban air hujan, berat tanah itu sendiri maupun akibat beban yang bekerja di atasnya Teknik konservasi tanah secara vegetatif dan struktural tersebut pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengendalikan laju erosi.

4. Erosi Yang Diijinkan.

Erosi tidak bisa dihilangkan sama sekali atau tingkat erosinya nol, khususnya untuk lahan-lahan pertanian. Tindakan yang dilakukan adalah dengan mengusahakan supaya erosi yang terjadi masih dibawah ambang batas yang maksimum (soil loss tolerance), yaitu besarnya erosi yang tidak melebihi laju pembentukan tanah (Suripin, 2004).

Besarnya erosi yang diperkenankan adalah sebagaimana pada Tabel berikut :

(39)

Tabel 3. Besar Erosi Yang Diperkenankan

Jeluk Tanah (soil dept) Besar Erosi yang Diperkenakan (permissible erosion)

Dalam (>100 cm) 14 ton/ha/tahun

Sedang (30-100 cm) 10 ton/ha/tahun

Dangkal (< 30) 5 ton/ha/tahun

Sumber : Suripin, 2004

E. Prediksi Nilai Erosi Dengan Metode Musle

Untuk memperkirakan besarnya erosi yang terjadi dengan rumus MUSLE (Modified Universal Soil Lost Equation). Model Erosi MUSLE merupakan pengembangan dari persamaan USLE dimana rainfall-runoff sebagai basis persamaan MUSLE, diperoleh rumus sebagai berikut :

Y = 11,8 x (VQ x Qp)0,56 x K x LS x C x P ... (5)

Dimana :

Y = hasil erosi (ton/ha/tahun) VQ = aliran permukaan (m3/dt) Qp = debit maksimum (m3/dt) K = factor erodibilitas tanah

LS = faktor panjang dan kemiringan lereng

C dan P= berupa factor penutupan tanah oleh tanaman (C)

1. Aliran Permukaan (VQ)

Dalam memperkirakan aliran permukaan dari suatu DAS, metode yang dikembangkan oleh US. Soil Conversation Service atau juga dikenal sebagai Metode SCS paling banyak dimanfaatkan. Metode SCS berusaha mengaitkan

(40)

karakteristik DAS seperti tanah, vegetasi, dan tataguna lahan. Persamaan yang berlaku untuk Metode SCS adalah sebagai berikut :

VQ = ... (6) Dimana : VQ = aliran permukaan (m3) I = Curah hujan (mm)

S = perbedaan antara curah hujan dan runoff ( mm )

Besarnya perbedaan antara curah hujan dan run off (S), berhubungan dengan angka kurva number (CN) dimana persamaannya adalah :

S =( 25,4 ... (7) atau S =( ... (8) Dimana :

S = perbedaan antara curah hujan dan runoff (mm) CN = Angka Curva Number

Tabel 4. Angka CN (curve number) untuk kondisi AMC (antecedent moisture

content) II (kondisi rata-rata)

Jenis lahan Tipe Penutupan Cara Pengelolaan

Kondisi Hidrologi

Grup Hidrologi Tanah A B C D Pertanian Bera Tanah terbuka 77 86 91 94 Tanaman berjalar Larikan lurus Buruk 72 81 88 91 Larikan lurus Baik 67 78 85 89 Kontur Buruk 70 79 84 88 Kontur Baik 65 75 82 86 Kontur & Teras Buruk 66 74 80 82

(41)

Kontur & Teras Baik 62 71 78 81 Padi, Gandum Larikan lurus Buruk 65 76 84 88 Larikan lurus Baik 63 75 83 87 Kontur Buruk 63 74 82 85 Kontur Baik 61 73 81 84 Kontur & Teras Buruk 61 72 79 82 Kontur & Teras Baik 59 70 78 81 Tanaman legume Larikan lurus Buruk 66 77 85 89 Larikan lurus Baik 58 72 81 84 Kontur Buruk 64 75 83 85 Kontur Baik 55 69 78 83 Kontur & Teras Buruk 63 73 80 83 Kontur & Teras Baik 51 67 76 80 Lapangan rumput Buruk 68 79 86 89 Sedang 49 69 79 84 Baik 39 61 74 80 Padang rumput 30 58 71 78 Tegakan hutan Buruk 45 66 77 83

Sedang 36 60 73 79 Baik 30 55 70 77 Pekarangan rumah 59 74 82 86 Padang rumput (iklim kering) Tanaman perdu ( rumput-rumput & tanaman bawah) Buruk (<30%) 80 87 93 Sedang 71 81 89 Baik (70%) 62 74 79 Perdu daerah pegunungan Buruk 66 74 79

(42)

Sedang 48 57 63 Baik 30 41 48 Perdu padang pasir Buruk 63 77 85 88 Sedang 55 72 81 86 Baik 49 68 79 84 Perkotaan Telah berkembang :

-Taman kota berumput Buruk (2%) 68 79 86 89 Sedang 49 69 79 84 Baik (75%) 39 61 74 80 -Kawasan beraspal dan berbeton 98 98 98 98 -Jalan tanah 72 82 87 89 -Jalan aspal/beton 98 98 98 98 -Jalan berbatu 76 85 89 91 -Jalan beraspal/ beton bersaluran terbuka 83 89 92 93 Wilayah : -Pertokoan (85% kedap air) 89 92 94 95 -Industri (72% ka) 81 88 91 93 -Perumahan (halaman (h) 500 m2, 65% ka ) 77 85 90 92 -Perumahan (h ± 1000 m2, 38% ka) 61 75 83 87 -Perumahan (h ± 1350 m2, 30% ka) 57 72 81 86 -Perumahan (h ± 2000 m2, 25% ka) 54 70 80 85 -Perumahan (h ± 4000 m2, 20% ka) 51 68 79 84 -Perumahan (h ± 8000 m2, 12% ka) 46 65 77 82 -Pengembangan kota (tanpa 77 86 91 94

(43)

vegetasi)

Sumber : McCuen (1989) dan US SCS (1972)

Tabel 5. Grup Hidrologi Tanah ( hydrolic soil group)

Grup Tanah Laju Infiltrasi (mm/jam) Tekstur

A 8-12 Pasir, pasir berlempung dan

lempung berpasir

B 4-8 Lempung berdebu, lempung

C 1-4 Lempung pasir berliat

D 0-4 Lempung berliat, lempung debu

berliat, liat berpasir, liat berdebu, liat Sumber : McCuen (1989) dan US SCS (1972)

Tabel 6. Angka CN untuk kondisi AMC I (kering) dan III (jenuh air dengan hujan terjadi pada 5 hari terakhir

Angka CN (II) untuk kondisi AMC I (kering) dan AMC III (Jenuh air dengan hujan terjadi 5 hari terakhir) Angka CN (II) Kondisi AMC I

(kering)

Kondisi AMC III (jenuh air dengan hujan terjadi 5 hari terakhir)

100 100 100 95 87 99 90 78 98 85 70 97 80 63 94 75 57 91 65 45 83 60 40 79 55 35 75 50 31 70

(44)

45 27 65 40 23 60 35 19 55 30 15 50 25 12 45 20 9 39 15 7 33 10 4 26 5 2 17 0 0 0

Sumber : McCuen (1989) dan US SCS (1972) 2. Debit Maksimum (Qp)

Debit maksimum atau debit puncak merupakan puncak dari laju aliran permukaan, jika suatu hujan dengan intensitas tertentu telah berlangsung selama masa tersebut maka air dari semua tempat dalam daerah aliran telah mencapai tempat keluar pada waktu bersamaan dan laju aliran permukaan akan mencapai puncaknya. Puncak aliran permukaan dihitung berdasarkan persamaan Rasional (Pilgrim, 1087 dalam Gunendro, 1997:14).

Metode Rasional dalam menetukan laju puncak aliran permukaan memperhitungkan masa konsentrasi waktu. Metode ini digunakan dengan asumsi hujan yang terjadi merata di seluruh DAS dengan durasi hujan sama dengan waktu konsentrasi. (Suhartadi dan Martono, 2005:31 dalam Anam, 2008:20)

(45)

Metode ini lebih mudah dipahami, sederhana dan memberikan hasil yang masih dapat diterima (Susanto dan Suroso, 2007:77 dalam Anam, 2008:20). Persamaan matematik metode Rasional adalah sebagai berikut :

Qp = 0,278 C.I.A ... (9) Dimana :

Qp = Debit maksimum (m3/dt) C = koefisien run off

I = intensitas hujan (mm/jam) A = luas catchment area (ha) 3. Faktor Erosibilitas Tanah (K)

Faktor erodibilitas tanah (K) menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap pengelupasan. Sifat-sifat tanah yang mempengaruhi ketahanan struktur tanah terhadap dispersi dan pengikisan oleh butir-butir air hujan dan aliran permukaan.

Menurut Wischmeier (1971) dalam Arsyad (1989) persamaan untuk menghitung nilai K dapat diperoleh dengan cara:

100K = 2,1 M1,14 (10-4 ) (12 - a) + 3,25 (b - 2) + 2,5(c - 3) ... (10) Dimana :

K = faktor erodibilitas tanah,

M = (persentase pasir sangat halus dan debu) x (100-persentase liat)

(46)

b = indeks struktur tanah

c = indeks permeabilitas tanah

Tabel 7. Penilaian ukuran butir tanah Kelas tekstur

(USDA)

Nilai M

Kelas tekstur (USDA) Nilai M

Liat berat 210 Pasir 3.035

Liat sedang 750 Lempung berpasir 3.245

Liat berpasir 1.213 Lempung liat 3.770

Liat ringan Berdebu

Lempung liat berpasir

1.685 Lempung 4.390

Liat berdebu 2.160 Lempung berdebu 6.330

Lempung berliat 2.830 Debu 8.245

Sumber: Hammer (1979) dalam Hardjowigeno (2010)

Tabel 8. Harkat struktur tanah

No Permeabilitas tanah Harkat

1 Sangat lambat (<0.5 cm/jam) 6

2 Lambat (0.5-2.0 cm/jam) 5

(47)

4 Sedang (6.3-12.7 cm/jam) 3 5 Sedang sampai cepat (12.7-25.4 cm/jam) 2

6 Cepat (>25.4 cm/jam) 1

Sumber : Arsyad, (2010)

Tabel 9. Harkat permeabilitas tanah

No Kelas stuktur tanah (Ukuran Diameter) Harkat

1 Granular sangat halus 1

2 Granular halus 2

3 Granular sedang sampai kasar 3

4 Gumpal, lempeng, pejal 4

Sumber: Arsyad, (2010)

4. Panjang Dan Kemiringan Lereng (LS)

Faktor panjang lereng (L) didefinisikan secara matematik sebagai berikut (Schwab et al.,1981) :

L = (l /22,1m ) ... (11)

Keterangan :

l = Panjang kemiringan lereng (meter)

m = Angka eksponen yang dipengaruhi oleh interaksi antara panjang lereng dan kemiringan lereng dan dapat juga oleh karakteristik tanah, tipe vegetasi. Angka ekssponen tersebut bervariasi dari 0,3 untuk lereng yang panjang dengan kemiringan lereng kurang dari 0,5 % sampai 0,6 untuk lereng lebih pendek dengan kemiringan lereng lebih dari 10 %. Angka eksponen rata-rata yang umumnya dipakai adalah 0,5.

Faktor kemiringan lereng S didefinisikan secara matematis sebagai berikut:

(48)

S = (0,43 + 0,30s + 0,04s2 ) / 6,61 ... (12) Keterangan :

s = Kemiringan lereng aktual (%)

Seringkali dalam prakiraan erosi menggunakan persamaan komponen panjang dan kemiringan lereng (L dan S) diintegrasikan menjadi faktor LS dan dihitung dengan rumus :

LS = L1/2 (0,00138 S2 + 0,00965S + 0,0138) ... (13) Dimana :

L = Panjang lereng (m) S = Kemiringan lereng (%)

Rumus diatas diperoleh dari percobaan dengan menggunakan plot erosi pada lereng 3 - 18 %, sehingga kurang memadai untuk topografi dengan kemiringan lereng yang terjal menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan lereng lebih besar dari 20 %, pemakaian persamaan akan diperoleh hasil yang

over estimate (Harper, 1988 dalam Asdak, 2002).

Untuk lahan berlereng terjal disarankan untuk menggunakan rumus berikut ini (Foster and Wischmeier, 1973 dalam Asdak, 2002) :

LS = (l / 22)m C(cosα)1.50[0,5(sinα)1.25 + (sinα )2,25 ] ... (14) Keterangan :

m = 0,5 untuk lereng 5 % atau lebih = 0,4 untuk lereng 3,5 – 4,9 %

= 0,3 untuk lereng 3,5 %

(49)

α = Sudut lereng

l = Panjang lereng (m)

Faktor ini didekati menggunakan kemiringan lereng. Kriteria kelas lereng dan besarnya nilai LS dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 10. Faktor LS Berdasarkan Kemiringan Lereng

No Kemiringan lereng Nilai LS

I 0-8 0.4

II 8-15 1.4

III 15-25 3.1

IV 25-40 6.8

V >40 9.5

Sumber : RLKT (Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah), Buku II, 1986.

5. Faktor Pengelolaan Tanaman (C)

Faktor pengelolaan tanaman (C) merupakan faktor yang menunjukan keseluruhan pengaruh dari faktor vegetasi, seresah dan kondisi permukaan tanah serta pengelolaan lahan terhadap besarnya tanah yang hilang (tererosi). Faktor C yang merupakan salah satu parameter dalam rumus MUSLE saat ini telah dimodifikasi untuk dapat dimanfaatkan dalam menentukan besarnya erosi di daerah berhutan atau lahan dengan dominasi vegetasi berkayu. Sembilan parameter telah ditentukan sebagai faktor yang berpengaruh dalam menentukan besarnya erosi di daerah vegetasi berkayu tersebut. Kesembilan unsur tersebut

(50)

adalah konsolidasi tanah, sisa-sisa tanaman, tajuk vegetasi, sistem perakaran, efek sisa perakaran dari kegiatan pengelolaan lahan, faktor kontur, gulma, kekasaran permukaan tanah dan rumput-rumputan.

Penentuan yang paling sulit adalah faktor C, karena banyaknya ragam cara bercocok tanam untuk suatu jenis tanaman tertentu dalam lokasi tertentu. Berhubung berbagai lokasi tersebut mempunyai iklim yang berbeda-beda, dengan berbagai ragam cara bercocok tanam, maka menentukan faktor C guna diterapkan pada suatu lahan tertentu, diperlukan banyak data. Besarnya nilai C tidak selalu sama dalam waktu satu tahun (Asdak, 2002).

Besar nilai C pada penelitian ini diambil dengan melakukan perhitungan prosentase luas dari tiap jenis pengelolaan tanaman. Nilai C yang diambil adalah nilai C rata-rata dari berbagi jenis pengelolaan tanaman dalam satu grid, dikaitkan dengan prosentase luasannya. Adapun bentuk matematis dari perhitungan nilai C rata-rata tiap grid adalah sebagai berikut :

C grid I ∑

... (15) Suatu grid yang memiliki tataguna lahan yang cenderung homogen, maka nilai C dari vegetasi yang dominan tersebut akan diambil sebagai nilai C rata-rata.

Tabel 11. Nilai C Untuk Jenis dan Pengelolaan Tanaman

No Jenis Tanaman/Tataguna Lahan Nilai C

(51)

2 Tanaman Kacang Jogo 1,161

3 Tanaman Gandum 0,242

4 Tanaman Ubi Kayu 0,363

5 Tanaman Kedelai 0,399

6 Tanaman Serai Wangi 0,434

7 Tanaman Padi Lahan Kering 0,560

8 Tanaman Padi Lahan Basah 0,010

9 Tanaman Jagung 0,637

10 Tanaman Jahe, Cabe 0,900

11 Tanaman Kentang Ditanam Searah Lereng

1,000

12 Tanaman Kentang Ditanam Searah Kontur

0,350

13 Pola Tanam Tumpang Gilir + Mulsa Jerami (6 ton/ha/th)

0,079

14 Pola Tanam Berurutan + Mulsa Sisa Tanam

(52)

15 Pola Tanam Berurutan 0,398

16 Pola Tanam Tumpang Gilir + Mulsa Sisa Tanam

0,357

17 Kebun Campuran 0,200

18 Ladang Berpindah 0,400

19 Tanah Kosong Diolah 1,000

20 Tanah Kosong Tidak Diolah 0,950

21 Hutan Tidak Terganggu 0,001

22 Semak Tidak Terganggu 0,010

23 Alang-Alang Permanen 0,020

24 Alang-Alang Dibakar 0,700

25 Sengon Disertai Semak 0,012

26 Sengon Tidak Disertai Semak dan Tanpa Seresah

1,000

27 Pohon Tanpa Semak 0,320

Sumber: Abdurachman, 1984 (dalam Asdak, 2002)

(53)

Pengaruh aktivitas pengelolaan dan konservasi tanah (P) terhadap besarnya erosi dianggap berbeda dari pengaruh yang ditimbulkan oleh aktivitas pengelolaan tanaman (C), sehingga dalam rumus MUSLE kedua variable tersebut dipisahkan. Faktor P adalah nisbah antara tanah tererosi rata-rata dari lahan yang mendapat perlakuan konservasi tertentu terhadap tanah tererosi rata-rata dari lahan yang diolah tanpa tindakan konservasi, dengan catatan faktor-faktor penyebab sedimentasi yang lain diasumsikan tidak berubah. Nilai dasar P = 1 yang diberikan untuk lahan tanpa tindakan konservasi.

Dengan banyaknya variabel, maka tidaklah mudah memecahkannya dengan cara kuantitatif, kecuali jika terdapat banyak data. Rumus tersebut mempunyai dua buah kegunaan yaitu :

1) Meramalkan kehilangan tanah.

Jika medannya diketahui, cara pengelolaannya diketahui, maka kehilangan tanahnya dapat diramalkan dari pola hujan tertentu yang tercurah selama waktu tertentu (biasanya diambil curah hujan tahunan). Kehilangan tersebut merupakan nilai yang diperkirakan (expected value), bukannya kehilangan yang bakal terjadi, dan tidak merupakan nilai kehilangan yang bakal terjadi, misalnya tahun berikutnya, karena intensitas curah hujannya tidak dapat ditentukan sebelum terjadi.

2) Memilih cara bertani.

Dalam penggunaan rumus tersebut, nilai A dipilih sebesar nilai yang dipandang dapat diterima, karena menghentikan erosi sama sekali tidaklah

(54)

mungkin. Beberapa faktor seperti R, K, dan S untuk medan tertentu tidak dapat segera diubah. Untuk faktor-faktor lainnya mungkin dapat dilakukan dengan memilih cara bertani, sedemikian rupa sehingga misalnya kalau C diberi nilai yang tinggi, maka P harus diperkecil.

Seperti cara penentuan nilai C diatas, penentuan nilai P tiap grid juga diambil dengan melakukan perhitungan prosentase luasan dari tiap jenis konservasi tanah/pengendalian erosi. Nilai P yang diambil adalah nilai P rata-rata atau nilai P yang dominan jika jenis konservasi tanah cenderung homogen dalam satu grid.

Tabel 12. Faktor Pengelolaan dan Konservasi Tanah di Jawa

No Teknik konservasi Tanah Nilai P

1 Teras Bangku :

a) Baik b) Jelek

0,20 0,35

2 Teras Bangku : Jagung - Ubi Kayu/Kedelai

0,06

3 Teras Bangku : Sorghum – Sorghum 0,02

4 Teras Tradisional 0,40

(55)

6 Teras Gulud : Ketela Pohon 0,06

7 Teras Gulud : Jagung – Kacang + Mulsa Sisa Tanaman

0,01

8 Teras Gulud : Kacang Kedelai 0,11

9 Tanaman Dalam Kontur : a) Kemiringan 0 – 8 % b) Kemiringan 9 – 20 % c) Kemiringan > 20 0,50 0,75 0,90

10 Tanaman Dalam Jalur–Jalur : Jagung – Kacang Tanah + Mulsa

0,05

11 Mulsa Limbah Jerami : a) 6 ton/ha/tahun b) 3 ton/ha/tahun c) 1 ton/ha/tahun 0,30 0,50 0,80 12 Tanaman Perkebunan :

a) Disertai Penutup Tanah Rapat

b) Disertai Penutup Tanah Sedang

0,10

(56)

13 Padang Rumput : a) Baik

b) Jelek

0,04 0,40

Sumber: Abdurachman, 1984 (dalam Asdak, 2002)

7. Faktor Pengelolaan Tanaman Dan Konservasi Tanah (CP)

Faktor CP mengacu pada penggunaan lahan dan ditimbang terhadap luas tiap satuan medan. Kriteria penggunaan lahan dan besarnya nilai CP dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 13. Nilai Penggunaan Lahan Dan Konservasi Tanah (CP)

No Penggunaan lahan Nilai CP

1 Air tawar 0 2 Belukar/semak 0.03 3 Gedung 1 4 Hutan 0.001 5 Kebun 0.5 6 Pemukiman 1 7 Rawa 0 8 Rumput 0.7 9 Sawah irigasi 0.1

10 Sawah tadah hujan 0.1

11 Tegalan 0.1

(57)

40 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Dan Waktu Penelitian

DAS Jeneberang terletak di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis berada pada koordinat 5o11’03” LS dan 119o44’45” BT, memiliki luasan 36.067,87 ha dan terletak pada ketinggian 250-2.775 mdpl Hulu DAS Jeneberang terletak di wilayah Kabupaten Gowa.

Adapun DAS Jeneberang hulu dipengaruhi oleh 3 stasiun pengamatan curah hujan yaitu Stasiun Malino, Stasiun Tanralili dan Stasiun Tetebatu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – September 2020.

B. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan cara mengumpulkan data-data dari Instansi yang berkaitan dan hasil penelitian sebelumnya. Sedangkan laju erosi dihitung dengan 3 metode yaitu Usle, Rusle dan Musle. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode Musle.

C. Sumber Data

Berdasarkan sumber data dari instansi yang terkait :

1) Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Direktorat Jendral Sumber Daya Air

(58)

3) Literatur (Pustaka)

Data literatur merupakan data formal yang diperoleh dari sumber informasi. Dalam penelitian ini, data literatur diperoleh dari buku naskah (teks book), Peraturan Pemerintah dan SNI, bahan ajar (kuliah) dari dosen serta literatur yang diperoleh dari sumber internet dan juga jurnal yang berkaitan.

D. Analisis Data

1. Menganalisis curah hujan dengan metode Aljabar dan Thiessen. 2. Menganalisis perubahann tutupan lahan DAS Jeneberang 3. Menghitung laju erosi menggunakan metode MUSLE E. Pembahasan

1. Prediksi Nilai Erosi Dengan Metode Musle

Persamaan prediksi nilai erosi juga dikembangkan oleh Williams (1975) yaitu menerapkan faktor erosivitas hujan (R) sebagai rainfall-runoof basis sebagai persamaan MUSLE (Modified USLE) sehingga persamaannya sebagai berikut :

Y = 11,8 x (VQ x Qp)0,56 x K x LS x CP ... (16) 2. Perhitungan Aliran Permukaan (VQ)

Metode SCS dikembangkan dari hasil pengamatan curah hujan selama bertahun-tahun dan melibatkan banyak daerah metode prakiraan total volume limpasan dari SCS ini, persamaannya adalah:

VQ =

... (17) Besarnya perbedaan antara curah hujan dan limpasan permukaan, s adalah berhubungan dengan angka Curva Number ( CN ) dimana persamaanya adalah:

(59)

S =( 25,4 ... (18) atau S =( ... (19) 3. Perhitungan Debit Maksimum (Qp)

Dalam menghitung debit maksimum (Qp) dengan metode rasional digunakan persamaan berikut:

Qp = 0,278 C.I.A ... (20) Koefisien runoff yang didasarkan pada faktor-faktor daerah pengalirannya seperti : jenis tanah, kemiringan, keadaan hutan penutupnya, Intensitas hujan selama time of concentration dan luas daerah pengaliran. Intensitas hujan (I) didapat dari persamaan berikut:

I = ) 2/3 ... (21) 4. Faktor Erodibitas Tanah (K)

Factor erodibilitas tanah merupakan kepekaan tanah terhadap erosi. Nilai erodibilitas Tanah di peroleh dari persamaan berikut (Arsyad, 2006) :

100 K = 2,1 M1,14(10-4)(12-a)+3,25(b-2)+2,5(c-3) ... (22) 5. Faktor Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)

Seringkali dalam prakiraan erosi menggunakan persamaan komponen panjang dan kemiringan lereng (L dan S) diintegrasikan menjadi faktor LS dan dihitung dengan rumus :

LS = L1/2 (0,00138 S2 + 0,00965S + 0,0138)... (23) Panjang dang kemiringan lereng (LS) adalah satu kesatuan dari faktor bentuk lahan dalam memperkirakan nilai erosi yang akan terjadi. Faktor ini

(60)

didekati menggunakan kemiringan lereng. Kriteria kelas lereng dan besarnya nilai LS dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel 14. Kelas Kemiringan Lereng

No Kemiringan lereng Nilai LS

I 0-8 0.4

II 8-15 1.4

III 15-25 3.1

IV 25-40 6.8

V >40 9.5

Sumber : RLKT (Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah), Buku II, 1986.

6. Faktor Pengelolaan Tanaman Dan Konservasi Tanah (CP)

Nilai faktor CP ditentukan berdasarkan jenis penggunaan lahan dan pengelolaan lahan DAS Jenebereng. Data yang digunakan untuk menentukan nilai CP yaitu peta penggunaan lahan 2008-2018 di DAS Jeneberang menentukan nilai faktor CP untuk berbagai aspek pengelolaan lahan di DAS Jeneberang Kabupaten Gowa mengacu pada nilai faktor CP yang terdapat pada buku hidrologi dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Asdak 2010).

(61)

Tabel 15. Nilai Penggunaan lahan dan konservasi tanah (CP) Di DAS Jeneberang

No Tutupan lahan Nilai CP

1 Pemukiman 1 2 Sawah 0.1 3 Tegalan 0.1 4 Perkebunan 0.5 5 Tanah kosong 1 6 Semak belukar 0.03 7 Hutan rimba 0.001

(62)

F. Bagan Alur Penelitian

Agar Penelitian ini terstruktur maka alur pikir dalam penelitian Analisis Perubahan tutupan lahan seperti diperlihatkan pada gambar alur dibawah ini:

Gambar 4. Bagan alur pengerjaan tugas akhir

Studi literatur Survey

Pengumpulan data

Selesai

1. Analisis curah hujan maksimum dengan metode Aljabar dan Thiessen 2. Perhitungan laju erosi menggunakan

metode MUSLE. cek Mulai

Ya

Tidak Data Instansi yang terkait dan

hasil penelitian sebelumnya

(63)

45 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Identifikasi Perubahan Tutupan Lahan DAS Jeneberang

DAS Jeneberang terletak di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis berada pada koordinat 5o11’03” LS dan 119o44’45” BT, memiliki luasan 36.067,87 ha dan terletak pada ketinggian 250-2.775 mdpl Hulu DAS Jeneberang terletak di wilayah Kabupaten Gowa.

Untuk mengidentifikasi pola guna atau tutupan lahan di DAS Jeneberang, digunakan perbandingan penggunaan lahan tahun 2008–2018. Berikut deskripsi penggunaan atau tutupan lahan di DAS Jeneberang.

1. Tutupan Lahan Tahun 2008

Klasifikasi menjadi : Pemukiman, Sawah, Tegalan, Perkebunan, Tanah kosong, Semak belukar, Hutan rimba, dan Sungai.

Tabel 16. Tutupan Lahan Tahun 2008

No Jenis lahan Luas

(Ha) Persentasi (%) Koefisien Run off (C) 1 Pemukiman 256.96 0.71 0.6 2 Sawah 5521 15.31 0.15 3 Tegalan 3898.74 10.81 0.7 4 Perkebunan 445.14 1.23 0.45

(64)

5 Tanah kosong 867.34 2.4 0.2 6 Semak belukar 9018.14 25 0.07 7 Hutan rimba 15978.31 44.3 0.005 8 Sungai 82.25 0.23 0.75 Total 36067.87 100

Sumber : hasil analisis

Pada tahun 2008 data tutupan lahan DAS jeneberang hulu hutan rimba mendominasi penggunaan lahan dengan jumlah luas lahannya 15978.31146 Ha, kemudian di susul oleh semak belukar degan jumlah 9018,14 Ha, sawah berada pada posisi selanjutnya dengan luas lahannya 5521,000711 Ha, tegalan memiliki luas lahan 3898.74 Ha, tanah kosong 867,33 Ha, perkebunan 445,14 Ha, pemukiman 256,95 Ha, dan sungai memiliki luas lahan 82,241 Ha.

(65)

Gambar

Gambar 1. Skema sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS)
Gambar 2. Skema sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS)
Gambar 3 .  Siklus Hidrologi (sumber:soemarto, 1987)
Tabel 1.  Sumber penyebab terjadinya erosi dan tipe-tipe erosi  Sumber  Tipe erosi atau proses degradasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan yang terjadi akibat infeksi virus Marek pada ginjal ayam broiler berupa proliferasi sel-sel tumor limfoid, lesio pada tubulus dan glomerulus.. Lesio pada tubulus

 Nilai kelompok adalah konsep dasar dan sesuatu yang harus dipercayai oleh anggota kelompok.  Nilai kelompok membentuk inti

Hasil analisis data menunjukan bahwa program wajar dikdas dilihat dari dimensi konteks mempunyai kesiapan yang tinggi dengan tingkat keterpenuhan/kesesuaian diatas 80% baik

Hal yang penting juga adalah bahwa otonomi daerah juga harus mampu menjamin hubungan yang serasi antar daerah dengan Pemerintah, artinya harus mampu memelihara dan

Dari uraian diatas tertarik untuk membangun suatu sistem yang nantinya bisa membantu masyarakat khususnya anak muda dalam mendapatkan informasi mengenai lokasi bergaul

Tujuan dari studi ini untuk mengetahui besarnya laju erosi di Sub DAS Lesti, mengetahui kondisi Tingkat Bahaya Erosi (TBE), dan konservasi lahan yang sesuai dengan

2 Setelah mempelajari pokok bahasan variable dan type data, maka mahasiswa dapat mengidentifikasikan, tentang variable dan macam-macam type data dengan benar

PENGUMUMAN PENYEDIA