• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINDAK PIDANA KORUPSI PADA BANK BUMN AKI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TINDAK PIDANA KORUPSI PADA BANK BUMN AKI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

“TINDAK PIDANA KORUPSI PADA BANK BUMN AKIBAT DARI KREDIT MACET (NON PERFORMING LOAN)

SUATU TINJAUN PRAKTIS MENGENAI PENGEMBALIAN KERUGIAN NEGARA DAN PELAKSANAAN HUKUMAN PIDANA KORUPSI SERTA REMISI BAGI

TERPIDANA KORUPSI”

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat jenis-jenis hukuman yang salah satunya adalah hukuman subsider untuk menggantikan hukuman denda atau dalam rangka pengembalian kerugian negara.

Pada suatu putusan pengadilan terdapat amar putusan yang salah satu contohnya adalah sebagai berikut :

“1. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa XYZ dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun dan denda sebesar Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) subsider pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan;

2. Menghukum Terdakwa XYZ membayar uang penggantian kerugian keuangan negara dalam hal ini PT Bank Negara BUMN sebesar UD 5000 subsider pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan.”

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan hukum pidana subsider ?

2. Bagaimana mekanisme pelaksanaan hukuman pidana subsider di Indonesia?

3. Apakah terdapat perbedaan dalam pelaksanaan putusan pidana subsider pada Tindak Pidana Umum, Tindak Pidana Korupsi dan Tindak Pidana Perbankan?

(2)

5. Apabila seseorang terpidana dinyatakan hukuman pidana denda dengan subsider pidana kurungan, apakah yang bersangkutan dapat memenuhi pembayaran denda tersebut secara sukarela (tanpa perintah eksekusi jaksa) pada saat yang bersangkutan masih menjalani pidana primer (pokok)?

6. Bagaimana mekanisme pembayaran hukuman denda?

7. Apabila hukuman subsider menggantikan kerugian negara pada tindak pidana korupsi, sedangkan kerugian negara tersebut bersumber dari tidak dilaksanakannya kewajiban terdakwa atas kredit macet pada bank BUMN, apakah hukuman subsider tersebut dapat menggantikan/menggugurkan kewajiban terdakwa yang secara perdata memiliki hutang/kredit kepada bank?

8. Apakah pelaksanaan hukuman subsider tersebut mempengaruhi remisi yang akan didapat terdakwa?

C. Dasar Hukum

Bahwa tulisan ini dibuat dengan tetap merujuk kepada ketentuan dan persyaratan-persyaratan sebagaimana diatur di dalam:

1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek voor Indonesie) (untuk selanjutnya disebut sebagai “KUHPerdata”).

2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

4) UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut dengan UU Pemberantasan Tipikor).

5) Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (selanjutnya disebut UU Perbankan).

6) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.

(3)

8) Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

9) Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen.

10) Keputusan Presiden RI Nomor 174 tahun 1999 tentang Jenis-jenis Remisi berikut besarannya.

11) Keputusan Menteri Hukum dan Peraturan Perundang-undangan No.M.09.HN.02.01 tahun 2000 tentang Remisi Tambahan bagi Narapidana dan Anak Didik.

12) Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM RI No. M.03-PS.01.04 tahun 2000 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Remisi Bagi Narapidana yang Menjalani Pidana Penjara Seumur Hidup menjadi Pidana Penjara Sementara. 13) Yurisprudensi putusan Kasasi MA No.1144 K/Pid/2006 tanggal 13

September 2007.

14) Yurisprudensi Putusan Kasasi Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor: 1344 K/Pid/2005.

15) Putusan Mahkamah Agung Nomor 939 K/Pid.Sus/2013.

BAB II PEMBAHASAN

1. Non Performing Loan Dalam Perspektif Tindak Pidana Korupsi

(4)

sendiri atau orang lain, yang berlaku kumulatif yang terkandung dalam ketentuan Pasal 2 dan Pasal 3 UU Pemberantasan Tipikor, harus ditafsirkan bersifat kumulatif.

Yang menilai/menetapkan adanya kerugian negara adalah Badan Pemeriksa Keuangan (“BPK”). Ini sesuai dengan pasal 10 UU BPK:

“BPK menilai dan/atau menetapkan jumlah kerugian negara yang diakibatkan oleh perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dilakukan oleh bendahara, pengelola Badan Usaha Milik Negara/ Badan Usaha Milik Daerah, dan lembaga atau badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan keuangan negara”

Kerugian Negara sendiri adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai (pasal 1 ayat (15) UU BPK). Penilaian kerugian tersebut dilakukan dengan keputusan BPK (pasal 10 ayat (2) UU BPK).

Selain BPK, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (“BPKP”) juga berwenang untuk menetapkan mengenai adanya kerugian negara. Ini terkait dengan fungsi BPKP yaitu melaksanakan pengawasan terhadap keuangan dan pembangunan (Pasal 52 Keppres No. 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen). Jadi, yang menilai/menetapkan kerugian negara, adalah BPK dan BPKP. Adapun perhitungan kerugian negara sendiri bersifat kasuistis, atau dilihat per kasus.

(5)

menggunakan kredit tidak sesuai perjanjian awalnya. Ini menimbulkan resiko adanya kredit bermasalah (Non Performing Loan), yang bisa berujung pada kegagalan nasabah dalam melakukan pembayaran utangnya pada Bank. Dalam prakteknya, beberapa kasus Non Performing Loan karena penyalahgunaan kredit yang terjadi pada bank milik pemerintah (Bank BUMN atau Bank BUMD) kemudian ditindaklanjuti dengan pengusutan kasus korupsi. Ini karena diduga telah terjadi tindak pidana korupsi di dalamnya. Contohnya pada yurisprudensi putusan Kasasi MA No.1144 K/Pid/2006 tanggal 13 September 2007 tentang perkara kredit macet di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dimana, dalam putusan tersebut, majelis kasasi memutus ECW Neloe (Dirut Bank Mandiri), I Wayan Pugeg (Direktur Risk Management Bank Mandiri), M Sholeh Tasripan (EVP Coordinator Corporate and Government Bank Mandiri) bersama-sama Edyson (Dirut PT Cipta Graha Nusantara) telah melanggar ketentuan dalam Pasal 2 ayat (2) UU Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Akibat hukum dari adanya Non Performing Loan yang dipidana dengan pemidanaan korupsi, maka mekanisme pengembalian aset tidak lagi menempuh cara-cara perdata biasa melainkan melaui cara-cara pengembalian kerugian keuangan negara sebagaimana yang diatur dalam UU Pemberantasan Korupsi.

2. Hukuman Pidana Pokok, Hukuman Pidana Tambahan dan Hukuman Pidana Subsider dalam Pidana Umum, Pidana Korupsi dan Perbankan.

Dalam KUHP (Kitab Undang Undang Hukum Pidana) hukuman dibedakan menjadi dua, yaitu hukuman pokok dan hukuman tambahan. Pengaturan ini terdapat dalam Pasal 10 KUHP. Yang termasuk dalam hukuman pokok yaitu:

(6)

Yang termasuk hukuman tambahan yaitu: a. pencabutan beberapa hak tertentu, b. perampasan barang yang tertentu, c. pengumuman keputusan hakim.

Sedangkan mengenai definisi subsider, Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian subsider adalah sebagai pengganti apabila hal pokok tidak terjadi. Dalam kaitannya dengan pemidanaan maka hukuman kurungan dilaksanakan sebagai pengganti hukuman denda apabila terhukum tidak membayarnya. Jadi, secara umum, pengertian subsider/subsidair adalah pengganti.

Dalam artikel ini, contoh putusan yang diberikan adalah sebagai berikut :

“1. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa XYZ dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun dan denda sebesar Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) subsider pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan;

2. Menghukum Terdakwa XYZ membayar uang penggantian kerugian keuangan negara dalam hal ini PT Bank Negara BUMN sebesar UD 5000 subsider pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan.”

Dalam praktik, bunyi putusan dalam tindak pidana tidak menyebutkan kata “subsider”, sebagai contoh Putusan Mahkamah Agung Nomor 939 K/Pid.Sus/2013 yang amarnya berbunyi sebagai berikut :

(7)

Tindak pidana korupsi merupakan tindak pidana khusus, karena itu ancaman pidananya juga khusus tidak sebagaimana tindak pidana lainnya, yaitu meliputi hukuman mati, hukuman penjara, hukuman kurungan dan hukuman denda (pidana pokok). Selain itu mungkin juga dijatuhi beberapa pidana tambahan, sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (1) UU Pemberantasan Tipikor yang menyebutkan sebagai berikut :

Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, sebagai pidana tambahan adalah :

a. perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut;

b. pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebayak-banyaknya sama dengan harta benda yag diperoleh dari tindak pidana korupsi;

c. penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun;

d. pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh Pemerintah kepada terpidana.”

Dalam beberapa perkara, beberapa jenis hukuman tersebut dapat dijatuhkan secara bersamaan karena diancam secara kumulatif (yaitu hukuman penjara, hukuman denda, dan hukuman pembayaran uang pengganti).

Dalam UU Perbankan terdapat tiga belas macam tindak pidana yang diatur mulai dari pasal 46 sampai dengan Pasal 50A. Ketiga belas tindak pidana itu dapat digolongkan ke dalam empat macam:

(8)

2. Tindak Pidana yang berkaitan dengan rahasia bank, diatur dalam Pasal 47 ayat (1) ayat (2) dan Pasal 47 A.

3. Tindak pidana yang berkaitan dengan pengawasan dan pembinaan bank diatur dalam pasal 8 ayat (1) dan ayat (2).

4. Tindak pidana yang berkaitan dengan usaha bank diatur dalam pasal 49 ayat (1) huruf a,b dan c, ayat (2) huruf a dan b, Pasal 50 dan Pasal 50A.

Hukuman dalam tindak pidana perbankan tidak mengenal hukuman uang pengganti sebagaimana dikenal dalam hukuman pemidanaan tindak pidana korupsi, sehingga pada dasarnya hukuman dalam tindak pidana perbankan tidak berbeda dengan jenis hukuman dalam tindak pidana umum.

3. Hukuman Pidana Denda dan Pidana Pengganti dalam Tindak Pidana Umum, Tindak Pidana Korupsi dan Tindak Pidana Perbankan

Sebagaimana berlaku pada tindak pidana umumnya, pelaku tindak pidana korupsi dan tindak pidana perbankan diancam dengan pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana Pokoknya diatur sebagaimana dalam Pasal 10 KUHP, yaitu pidana mati, pidana penjara (seumur hidup dan sementara waktu), pidana kurungan, dan pidana denda.

Mengenai pelaksanaan hukuman pidana denda tidak terdapat perbedaan dalam tindak pidana umum, tindak pidana korupsi dan tindak pidana perbankan yakni mengikuti ketentuan Pasal 273 KUHAP yang menyebutkan :

(1) Jika putusan pengadilan menjatuhkan pidana denda, kepada terpidana diberikan jangka waktu satu bulan untuk membayar denda tersebut kecuali dalam putusan acara pemeriksaan cepat yang harus seketika dilunasi.

(2) Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan.

(9)

tersebut kepada kantor lelang negara dan dalam waktu tiga bulan untuk dijual lelang, yang hasilnya dimasukkan ke kas negara untuk dan atas nama jaksa.

(4) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (3) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan.

Apabila hukuman pidana denda tidak dilaksanakan oleh terpidana sebagaimana jangka waktu yang ditentukan dalam Pasal 273 KUHAP maka terpidana menjalani hukuman pidana kurungan dengan jangka waktu yang telah ditentukan dalam putusan.

Aturan hukum mengenai denda secara umum adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 30 dan Pasal 31 KUHP. Dimana dengan memperhatikan ketentuan aturan denda dalam KUHP tersebut maka diperoleh konstruksi hukum sebagai berikut:

- Jika pidana denda tidak dibayar, ia diganti dengan pidana kurungan. Dengan konstruksi tersebut maka jika pembayaran uang denda tidak dibayar terpidana maka diganti dengan pidana kurungan dan jika pidana kurungan tersebut telah dijalani terpidana maka konsekuensi lebih lanjutnya, uang denda tersebut menjadi hapus.

- Terpidana berwenang membebaskan dirinya dari pidana kurungan pengganti dengan membayar dendanya. Dengan konstruksi tersebut maka jika uang denda tersebut dibayar, pidana kurungan tersebut tidak perlu dijalani.

Untuk pidana tambahan, dalam tindak pidana perbankan tidak diatur lebih lanjut dalam undang-undang perbankan sehingga pelaksanaannya sama dengan tindak pidana umum, sedangkan untuk pidana tambahan dalam tindak pidana korupsi diatur lebih detail dalam UU Pemberantasan Tipikor. Salah satu jenis pidana tambahan adalah pembayaran uang pengganti sebagaimana diatur dalam Pasal 18 UU Pemberantasan Tipikor. Pidana tambahan dalam tindak pidana Korupsi lain dapat berupa:

(10)

b. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta yang diperoleh dari tindak pidana korupsi;

c. Penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun; d. Pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan seluruh atau

sebagian keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh pemerintah kepada terpidana;

e. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut; f. Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar

uang pengganti, dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimal dari pidana pokoknya sesuai ketentuan UU Pemberantasan Tipikor dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.

Adapun bunyi selengkapnya pasal 18 UU Pemberantasan Tipikor adalah sebagai berikut : (1) Selain pidana tambahan sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana, sebagai pidana tambahan adalah :

a. perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud atau barang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut; b. pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebayak-banyaknya sama dengan

harta benda yag diperoleh dari tindak pidana korupsi;

c. penutupan seluruh atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun;

(11)

(2) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

(3) Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang ini dan lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan.”

Berdasarkan jabaran di atas dapat dipahami bahwa karena pembayaran uang pengganti merupakan pidana tambahan, maka penjatuhannya tidak mungkin secara mandiri, melainkan selalu mengikuti pidana pokok.

Dalam hal hakim menjatuhkan pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti maka terpidana diberi tenggang waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap untuk melunasinya. Jika dalam waktu yang ditentukan tersebut telah habis maka jaksa sebagai eksekutor dapat menyita dan melelang barang benda terpidana (Pasal 18 ayat (2) UU Pemberantasan Tipikor).

(12)

Materi pasal 18 ayat (2) UU Pemberantasan Tipikor dijumpai kata “....harta bendanya dapat disita dan dilelang....” harta benda yang dimaksud disini adalah harta benda milik terpidana yang bukan harta benda hasil dari tindak pidana korupsi dan/atau harta benda kepunyaan terpidana yang bukan digunakan untuk melakukan tindak pidana, karena jika memang terbukti disidang pengadilan harta benda kepunyaan terpidana tersebut merupakan harta benda korupsi, maka harta tersebut dirampas dengan menggunakan pidana perampasan sesuai pasal 18 ayat (1) huruf b UU Pemberantasan Tipikor.

Pasal 18 ayat (3) UU Pemberantasan Tipikor menentukan dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti dalam tenggang waktu yang ditentukan ayat (2) maka terpidana dipidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimal pidana pokoknya dan pidana tersebut sudah dicantumkan dalam putusan. Pidana subsider penjara dalam pasal tersebut terdapat tiga syarat :

1. Pidana subsider baru berlaku dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar uang pengganti. Terpidana dalam waktu 1 (satu) bulan setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap ternyata tidak mempunyai lagi uang tunai untuk membayar uang pengganti, juga hasil lelang dari harta bendanya tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti.

2. Lamanya pidana penjara pengganti tidak melebihi ancaman pidana maksimum dari pasal UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

3. Lamanya pidana penjara pengganti telah ditentukan dalam putusan pengadilan. Dengan adanya ketentuan tersebut maka juga menjadi kewajiban hakim dalam putusan untuk mencantumkan pidana pengganti ini menghindari apabila uang pengganti tidak dapat dibayar seluruh atau sebagian.

4. Upaya Pengembalian Keuangan Negara Dalam Tindak Pidana Korupsi

(13)

pengganti, selain itu juga menyediakan cadangan pidana berupa penyitaan harta terpidana yang kemudian akan dilelang untuk memenuhi uang pengganti.

Pidana Subsider atau pidana kurungan pengganti sangat dihindari dalam rangka menggantikan pidana uang pengganti bagi Terdakwa perkara korupsi yang telah terbukti dan menyakinkan melakukan tindak pidana korupsi. Karena pada dasarnya terdakwa yang terbukti melakukan korupsi wajib mengembalikan uang hasil korupsi sebagai cara untuk memulihkan kerugian negara. Pidana penjara subsider dapat menutup kesempatan negara untuk memperoleh kembali kerugian akibat korupsi. Mahkamah Agung (MA) contohnya dalam banyak putusan hanya menjatuhkan uang pengganti tanpa pidana penjara subsider sebagai cara untuk memaksa terdakwa mengembalikan uang Negara.1

Pidana penjara subsider dapat dijatuhkan terhadap korupsi dengan jumlah kerugian negara yang kecil, atau karena keadaan tertentu terdakwa tidak mungkin membayar. Apabila karena ketentuan hukum harus ada pidana penjara subsider maka pidana kurungan pengganti tersebut harus diperberat.2

Mahkamah Agung berpendirian, eksekusi uang pengganti tidak memerlukan gugatan tersendiri. Pidana uang pengganti adalah satu kesatuan putusan pidana yang dijatuhkan majelis hakim. Wewenang eksekusi setiap putusan pidana ada pada Jaksa Penuntut Umum, termasuk pidana uang pengganti. Apabila eksekusi uang pengganti menggunakan gugatan tersendiri maka akan bertentangan dengan pelaksanaan pemidanaan.3

Uang pengganti bukan utang terdakwa (terpidana). Tidak ada hubungan keperdataan antara terdakwa (terpidana) yang telah merugikan negara sehingga negara perlu menggugat secara keperdataan baik atas dasar wanprestasi atau perbuatan melawan hukum. Pidana uang

1 Kebijakan Peradilan, Sambutan Ketua MA pada Rakernas MA di Makassar September 2007

(14)

pengganti adalah putusan hakim yang wajib serta merta dilaksanakan oleh Jaksa Penuntut Umum. Setiap kekayaan terdakwa dapat dikuasai negara untuk membayar uang pengganti.4

Dalam perkara korupsi sebagaimana diatur UU Pemberantasan Tipikor diatur mengenai pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi baik melalui jalur keperdataan (civil procedure) berupa gugatan perdata maupun jalur kepidanaan (criminal procedure). Pengembalian aset (asset recovery) pelaku tindak pidana korupsi melalui gugatan perdata secara runtun diatur dalam ketentuan Pasal 32 , Pasal 33 dan Pasal 34 serta Pasal 38C UU Pemberantasan Tipikor.

Pasal 32 ayat (1)

Dalam hal penyidik menemukan dan berpendapat bahwa satu atau lebih unsur tindak pidana korupsi tidak terdapat cukup bukti, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara untuk dilakukan gugatan perdata atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk mengajukan gugatan.”

Pasal 32 ayat (2)

“Putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidak menghapus hak untuk menuntut kerugian terhadap keuangan negara.”

Pasal 33

“Dalam hal tersangka meninggal dunia pada saat dilakukan penyidikan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya.”

(15)

Pasal 34

“Dalam hal terdakwa meninggal dunia pada saat dilakukan pemeriksaan di sidang pengadilan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian negara, maka penuntut umum segera menyerahkan salinan berkas acara sidang tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya.”

Pasal 38 C

“Dalam hal terdakwa meninggal dunia pada saat dilakukan pemeriksaan di sidang pengadilan, sedangkan secara nyata telah ada kerugian negara, maka penuntut umum segera menyerahkan salinan berkas acara sidang tersebut kepada Jaksa Pengacara Negara atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk dilakukan gugatan perdata terhadap ahli warisnya.”

Ketentuan-ketentuan sebagaimana tersebut di atas memberikan kewenangan kepada Jaksa Pengacara Negara atau instansi yang dirugikan untuk mengajukan gugatan perdata kepada terpidana dan atau ahli warisnya baik ditingkat penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan di sidang pengadilan.

Apabila diperinci pengembalian aset dari jalur kepidanaan ini dilakukan melalui proses persidangan dimana hakim di samping menjatuhkan pidana pokok juga dapat menjatuhkan pidana tambahan. Pidana tambahan dapat dijatuhkan hakim dalam kapasitasnya yang berkorelasi dengan pengembalian aset melalui prosedur pidana ini dapat berupa :

(16)

dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut. (Pasal 18 ayat (1) huruf a UU Pemberantasan Tipikor).

2. Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam UU Pemberantasan Tipikor, lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan. (Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2), ayat (3) UU Pemberantasan Tipikor).

3. Pidana denda dimana aspek ini dalam UU Pemberantasan Tipikor mempergunakan perumusan sanksi pidana (strafsoort) bersifat kumulatif (pidana penjara dan atau pidana denda) dan kumulatif-alternatif (pidana penjara dan atau pidana denda).

4. Penetapan perampasan barang-barang yang telah disita dalam hal terdakwa meninggal dunia (peradilan in absentia) sebelum putusan dijatuhkan dan terdapat bukti yang cukup kuat bahwa pelaku telah melakukan tindak pidana korupsi. Penetapan hakim atas perampasan ini tidak dapat dimohonkan upaya hukum banding dan setiap orang yang berkepentingan dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan yang telah menjatuhkan penetapan tersebut dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman. (Pasal 38 ayat (5), (6), (7) UU Pemberantasan Tipikor).

(17)

Selain melalui jalur kepidanaan dan jalur keperdataan maka dalam praktik peradilan lazim juga terjadi pelaku melakukan tindakan lain berupa pengembalian aset yang diduga berasal dari tindak pidana korupsi dimana modus operandi pengembalian tersebut dilakukan secara sukarela. Misalnya dalam praktik terjadi dalam perkara Abdullah Puteh sebagaimana telah diputus Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor: 1344 K/Pid/2005.

5. Ketentuan Pemberian Remisi Bagi Terpidana

Undang-Undang Dasar 1945, baik dalam pembukaan maupun dalam batang tubuhnya menyebutkan secara tegas bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum. Pemasyarakatan adalah bagian dari sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system) yaitu sebagai penegak hukum yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan narapidana sebagai bagian akhir dari sistem pemindaan.

Aturan dasar yang mengatur pemberian remisi bagi narapidana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Selain itu pemberian remisi bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan diatur dalam beberapa peraturan antara lain : Keputusan Presiden RI Nomor 174 tahun 1999 tentang Jenis-jenis Remisi berikut besarannya, Keputusan Menteri Hukum dan Peraturan Perundang-undangan No.M.09.HN.02.01 tahun 2000 tentang Remisi Tambahan bagi Narapidana dan Anak Didik, Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM RI No. M.03-PS.01.04 tahun 2000 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Remisi Bagi Narapidana yang Menjalani Pidana Penjara Seumur Hidup menjadi Pidana Penjara Sementara dan Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

(18)

pidana antara lain: tindak pidana terorisme, narkotika dan prekursor narkotika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya yang dianggap merupakan kejahatan luar biasa karena mengakibatkan kerugian yang besar bagi negara atau masyarakat,

Khusus dalam batasan remisi bagi terpidana korupsi adalah terpidana korupsi tidak akan mendapatkan remisi sampai dengan dibayarkannya hukuman pidana uang denda dan hukuman pidana uang pengganti sebagaimana terlihat dalam pasal 34 dan Pasal 34 A ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan sebagai berikut:

Pasal 34

(1) Setiap Narapidana dan Anak Pidana berhak mendapatkan Remisi.

(2) Remisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan kepada Narapidana dan Anak Pidana yang telah memenuhi syarat:

a. berkelakuan baik; dan

b. telah menjalani masa pidana lebih dari 6 (enam) bulan.

(3) Persyaratan berkelakuan baik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dibuktikan dengan:

a. tidak sedang menjalani hukuman disiplin dalam kurun waktu 6 (enam) bulan terakhir, terhitung sebelum tanggal pemberian Remisi; dan

b. telah mengikuti program pembinaan yang diselenggarakan oleh LAPAS dengan predikat baik.

(19)

(1) Pemberian Remisi bagi Narapidana yang dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme, narkotika dan prekursor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara, kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya, selain harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 juga harus memenuhi persyaratan:

a. bersedia bekerjasama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya;

b. telah membayar lunas denda dan uang pengganti sesuai dengan putusan pengadilan untuk Narapidana yang dipidana karena melakukan tindak pidana korupsi; dan

c. telah mengikuti program deradikalisasi yang diselenggarakan oleh LAPAS dan/atau Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, serta menyatakan ikrar :

1) kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia secara tertulis bagi Narapidana Warga Negara Indonesia, atau

2) tidak akan mengulangi perbuatan tindak pidana terorisme secara tertulis bagi Narapidana Warga Negara Asing,

yang dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme.

(20)

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

(21)

2. Apabila hukuman pidana denda tidak dilaksanakan oleh terpidana maka terpidana menjalani hukuman pidana pengganti sebagaimana ketentuan Pasal 273 KUHAP, Pasal 30 dan Pasal 31 KUHP.

3. Terhadap pelaksanaan hukuman pidana akibat tidak dibayarnya hukuman pidana denda, maka tidak terdapat perbedaan antara tindak pidana umum, tindak pidana korupsi dan tindak pidana perbankan. Dalam hal tidak dibayarnya uang pengganti dalam jangka waktu yang telah ditentukan yakni 1 (satu) bulan setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap, maka dalam tindak pidana korupsi, Jaksa menyita terlebih dahulu harta benda dari terpidana korupsi untuk dilelang (sebagaimana Pasal 18 ayat (2) UU Pemberantasan Tipikor), apabila harta benda terpidana korupsi tidak mencukupi untuk membayar pidana uang pengganti, barulah hukuman pengganti berupa pidana penjara dilaksanakan (sebagaimana Pasal 18 ayat (3) UU Pemberantasan Tipikor).

4. Jika melihat dari batasan rumusan contoh putusan dalam artikel ini yang menyebutkan “1. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa XYZ dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun dan denda sebesar Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) subsider pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan;

2. Menghukum Terdakwa XYZ membayar uang penggantian kerugian keuangan negara dalam hal ini PT Bank Negara BUMN sebesar USD 5000 subsider pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan”

(22)

tahun ditambah dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan (akibat tidak dibayar denda) dan akibat tidak dibayat uang pengganti selama 3 (tiga) bulan, sehingga hukuman keseluruhan yang dijalani oleh Terdakwa XYZ adalah 10 (sepuluh) tahun pidana penjara ditambat 3 bulan pidana penjara dan tiga bulan pidana kurungan. Adapun pidana kurungan 3 bulan baru dilaksanakan setelah pidana penjara 10 (sepuluh) tahun dan pidana penjara 3 bulan selesai dilaksanakan.

5. Sebagaimana ketentuan pasal 273 KUHAP dan Pasal 30 dan 31 KUHP maka pembayaran pidana denda dapat dilakukan oleh terpidana secara sukarela sejak putusan berkekuatan hukum tetap.

6. Pembayaran hukuman pidana dendan mengikuti ketentuan Pasal 273 KUHAP yang menentukan terpidana diberikan jangka waktu satu bulan untuk membayar denda tersebut kecuali dalam putusan acara pemeriksaan cepat yang harus dilunasi seketika, jika terdapat alasan kuat jangka waktu untuk pembayaran denda dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan.

7. Akibat hukum dari adanya Non Performing Loan yang dipidana dengan pemidanaan korupsi, maka mekanisme pengembalian aset tidak lagi menempuh cara-cara perdata biasa melainkan melalui cara-cara pengembalian kerugian keuangan negara sebagaimana yang diatur dalam UU Pemberantasan Tipikor.

Dalam perkara korupsi sebagaimana diatur UU Pemberantasan Tipikor diatur mengenai pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi baik melalui jalur keperdataan (civil procedure) berupa gugatan perdata maupun jalur kepidanaan (criminal procedure). Pengembalian aset (asset recovery) pelaku tindak pidana korupsi melalui gugatan perdata secara runtun diatur dalam ketentuan Pasal 32 , Pasal 33 dan Pasal 34 serta Pasal 38C UU Pemberantasan Tipikor.

(23)

termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula harga dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut. (Pasal 18 ayat (1) huruf a UU Pemberantasan Tipikor).

Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya sama dengan harta benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi. Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta yang mencukupi untuk membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, maka dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam UU Pemberantasan Tipikor, lamanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan. (Pasal 18 ayat (1) huruf b, ayat (2), ayat (3) UU Pemberantasan Tipikor).

Jika kemudian ternyata upaya pengembalian kerugian keuangan negara sebagaimana ketentuan Pasal 18 ayat (1) dan ayat (2) UU Pemberantasan Tipikor tidak mencukupi untuk membayar pidana uang pengganti, maka terpidana korupsi dipidana penjara yang lamanya sudah ditentukan dalam putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Dalam kasus legal opini ini adalah jika Terdakwa XYZ seluruh harta bendanya tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti sebesar USD 5.000 maka Terdakwa XYZ menggantinya dengan menjalani pidana penjara selama 3 (tiga) bulan.

(24)

Referensi

Dokumen terkait

Pembinaan dan pelatihan ini memberi pengetahuan baru kepada dosen tentang dunia penulisan serta memberi ruang kepada dosen dalam meningkatkan kompetensi dirinya melalui

Dalam rangka memberi perhatian terhadap kepentingan korban dan masyarakat, terhadap mereka yang belum bisa diproses melalui sistem peradilan pidana anak karena usia pelaku belum

Dengan banyaknya kerugian di berbagai sektor khususnya industri pela- yaran dan perkapalan yang ditimbulkan akibat adanya korosi, maka sangatlah penting untuk

Proses pembelajaran ini dilaksanakan dalam bentuk penelitian tindakan kelas ( Classroom Action Research ) yang berfokus pada upaya untuk meningkatkan keaktifan mahasiswa

PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN TERHADAP TINGKAT..

Pada tabel 1 menunjukkan beberapa penelitian berkaitan dengan metode yang digunakan untuk memprediksi hambatan pada kapal cepat.. Penelitian ini akan menganalisis

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan adanya peningkatan nilai APE sebanyak 17% antara sebelum dan sesudah latihan

Untuk mengurangi resiko tersebut maka limbah padat bioetanol perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu melalui proses fermentasi agar dapat mengurangi kadar HCN