• Tidak ada hasil yang ditemukan

WAWASAN Antologi Esai Pengajaran Bahasa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "WAWASAN Antologi Esai Pengajaran Bahasa"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

WAWASAN

ANTOLOGI ESAI PENGAJARAN

BAHASA DAN SASTRA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

PUSAT BAHASA

(3)

ANTOLOGI ESAI PENGAJARAN BAHASA DAN SASTRA (LOMBA PENULISAN ESAI PENGAJARAN BAHASA DAN SASTRA BAGI GURU SD SE-DIY, 2009)

Penanggung Jawab

Kepala Balai Bahasa Yogyakarta Penyunting:

Tarti Khusnul Khotimah Imam Budi Utomo Penerbit:

Balai Bahasa Yogyakarta

Jalan I Dewa Nyoman Oka 34, Yogyakarta 55224 Telepon (0274) 562070, Faksimile (0274)580667 Pos-el: [email protected]

Laman: www.balaibahasa.org Cetakan Pertama:

Agustus 2009

ISBN: 978-979-188-197-5

Sanksi Pelanggaran Pasal 72, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banya\k Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(4)

Pepatah Latin mengatakan: verba valent scripta manent. Arti-nya, ucapan itu akan segera hilang dan musnah, sedangkan tulisan itu akan abadi dan dikenang. Tanpa harus memandang rendah budaya oral (ucapan, lisan), tanpa harus menganggap budaya literal (tulisan) lebih tinggi, kita tentu akan tetap dungu dan buta terhadap siapa itu Plato, Aristoteles, Mangkunegara, Rangga-warsita, dan atau filsuf-filsuf besar lainnya tanpa menjumpai dan membaca tulisan-tulisan atau karangan mereka. Dengan begitu, sangatlah jelas, tulisan, terutama tulisan yang didokumentasikan dan diabadikan, merupakan rantai yang tidak pernah putus yang menjadi jembatan ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya, suatu produk yang berupa “tulisan” (artikel, esai, feature, kolom, cerpen, novel, puisi, drama, atau apa pun) perlu mendapatkan tempat yang layak di dalam hati dan kehidupan kita; dan suatu proses yang disebut “menulis” perlu dibina, dikembangkan, dievaluasi, dan direvitalisasi secara terus-menerus agar hasil akhirnya menyem-purnakan hati dan kehidupan kita.

Demikian pulalah kiranya, antara lain, yang diharapkan dan akan diusahakan terus oleh Balai Bahasa Yogyakarta melalui pe-nerbitan buku ini. Sebagai sebuah lembaga pemerintah yang ber-gerak di bidang kebahasaan dan kesastraan, Balai Bahasa Yogya-karta mencoba mengabadikan tulisan-tulisan atau karangan-karangan ini yang –walau seberapa pun kadar atau makna

muatan-SAMBUTAN

(5)

penulisnya yang dapat bermanfaat dan akan dikenang oleh gene-rasi penerusnya. Lebih dari itu, mudah-mudahan buku berjudul Wawasan: Antologi Esai Pengajaran Bahasa dan Sastra ini memberi-kan sepercik api yang pada gilirannya dapat membakar semangat kreatif dalam upaya membangun kebermaknaan hidup kita (para pembaca). Selamat membaca!

(6)

Tampaknya ada benarnya suara yang terdengar selama ini bahwa salah satu persoalan besar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SD terletak pada gurunya. Salah satu buktinya ialah ditunjukan oleh hasil Lomba Penulisan Esai Pengajaran Bahasa dan Sastra bagi Guru SD se-DIY, yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Paparan tulisan mereka sangat normatif (teore-tis) yang berupa kompilasi pendapat orang yang diambil dari satu/ dua sumber. Mereka belum dapat menunjukkan ide-ide baru atau pemikiran yang cemerlang tentang pembelajaran bahasa dan sastra di SD. Dilihat dari sisi penggunaan bahasanya pun masih jauh dari harapan, sesuai dengan konteks penggunaan bahasa Indone-sia yang baik dan benar: dari persoalan ejaan, bentuk dan pilihan kata, pengalimatan, hingga pemaragrafannya. Akan tetapi, saya belum yakin jika tulisan-tulisan itu menggambarkan pola pikir para guru dan pengimplementasiannya dalam pembelajaran bahasa dan sastra di SD.

Pemahaman para guru tentang bentuk tulisan esai juga kurang tepat (salah). Entah di mana pangkal permasalahannya sehingga tulisan mereka hampir-hampir tidak ada yang dapat dikategori-kan sebagai jenis esai. Tulisan mereka lebih tepat digolongdikategori-kan sebagai jenis makalah (kuliah). Akan tetapi, penghargaan yang tinggi tetap layak diberikan kepada mereka atas usahanya untuk menulis. Yang jelas bahwa kondisi seperti itu menjadi tantangan

(7)
(8)

SAMBUTAN KEPALA BALAI BAHASA YOGYAKARTA .. iii CATATAN DEWAN JURI ... v DAFTAR ISI ... vii

Menumbuhkan Budaya Membaca-Menulis Melalui Media Berkarya untuk Siswa

Yayan Rika Harari ... 1

Dapatkah Bahasa dan Sastra Indonesia Menjadi Pelajaran Favorit di SD?

Bambang Sukisno ... 11

Guru Bahasa Indonesia Harus Bisa Menulis: Sebuah SoliloquiOtokritik

Arif Rahmanto ... 22

Meningkatkan Kualitas Keterampilan Menulis dengan Pendekatan Bahasa yang Utuh Model Menulis Jurnal bagi Siswa Kelas V SD Muhammadiyah Mulyodadi

Dinar Palupi ... 34

Tuntutan Pembelajaran Sastra Indonesia di Sekolah Dasar ... Muhammad Arifin Zuhri ... 44

Membangkitkan Ruh Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Tradisi Baca-Tulis

Ari Wahyuni ... 52

(9)

Pengalaman Langsung di Kelas II Sekolah Dasar

Dede Hermawan ... 62

Kutu dalam Buku: Sebuah Prediksi Awal Keterpurukan Pembelajaran Sastra Indonesia

Siswanto ... 73

Kegiatan Menggambar Ilustrasi: Sebuah Metode Alternatif dalam Pembelajaran Mengarang

Muh. Tontowi ... 83

Hubungan antara Nilai Hasil Pembelajaran dengan Kemampuan Siswa Sekolah Dasar dalam Berbahasa dan Bersastra Indonesia yang Baik dan Benar

Endah Nuraini ... 92

(10)

Antologi Esai Pengajaran Bahasa dan Sastra

1. Kompetensi Membaca-Menulis dan Era Informasi-Komunikasi

Membaca dan menulis merupakan dua kompetensi berba-hasa yang berperan sangat penting dalam dunia yang sudah me-masuki budaya membaca-menulis. Urgensi membaca dan menulis itu lebih-lebih semakin kuat kita rasakan ketika kemajuan teknologi informasi-komunikasi seperti saat ini mencapai taraf yang begitu mencengangkan. Media massa, baik yang konven-sional (seperti koran, majalah, jurnal, dan buku-buku) maupun yang mutakhir (situs-situs di dunia maya), tidak lain berisi tulisan. Kini kita benar-benar dikepung dan harus bergelut dengan tulis-an. Dalam tingkatan tertentu, misalnya komunikasi via pos elek-tronik atau disingkat pos-el (e-mail), sepenuhnya telah mengganti-kan aktivitas dengar-cakap.

Dari segi pengembangan kecakapan berpikir dan sikap men-tal, situasi tersebut sesungguhnya menguntungkan kita. Komuni-kasi tertulis yang kurang spontan dibandingkan dengan komuni-kasi lisan mengondisikan orang untuk “berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara”. Hal ini tentu sangat baik bagi pengembangan sikap mental agar kita tidak menjadi gegabah. Selain itu, komu-nikasi tulisan juga menuntut orang untuk menyampaikan sesuatu secara lebih lengkap dan tertib.

Menumbuhkan Budaya Membaca-Menulis

Melalui Media Berkarya untuk Siswa

(11)

Orang yang terbiasa menulis, cara berpikirnya pun akan lebih lengkap (komprehensif), runtut, dan berhati-hati. Bukankah tulisan bersifat lebih permanen dan tidak hilang begitu saja dan bisa menjadi bukti yang sukar dibantah? Pendek kata, dunia membaca-menulis seharusnya membuat sikap mental dan kecakapan berpikir kita berkembang ke arah yang positif.

Di sisi lain tradisi baca-tulis itu pun terkait dengan perkem-bangan serta penguasaan ilmu dan pengetahuan, baik secara ko-lektif maupun individual. Sudah cukup dipahami bahwa tulisan merupakan alat untuk menyimpan dan mengabadikan pengeta-huan, gagasan, dan karya intelektual manusia. Bisa dipastikan bahwa semua informasi penting di dunia ini disusun secara ter-tulis. Oleh karena itu, membaca berarti juga membuka khazanah pengetahuan. Adapun menulis adalah upaya menambatkan dan menata pengetahuan sehingga pengetahuan tersebut menjadi lebih kekal dan lebih mudah disebarkan dan diwariskan nyaris tanpa batas. Berkat tulisan kita bisa menerima dan memelajari banyak pengetahuan dan gagasan para pemikir Yunani, misalnya. Akan tetapi, di tengah kepungan dunia yang penuh dengan tulisan itu, muncul banyak keluhan bahwa tradisi membaca kita masih le-mah, apalagi tradisi menulis. Di luar kebutuhan praktis-pragma-tis, sebagian besar masyarakat kita masih jarang membaca. Yang mereka baca tidak lebih dari sekadar buku telepon, iklan lowong-an kerja, resep masaklowong-an, atau pengumumlowong-an promosi dlowong-an obral di mal-mal. Yang mereka tulis adalah seputar nota pemesanan menu di rumah makan, kuitansi, dan slip penarikan tabungan.

(12)

Yayan Rika Harari

Kondisi tersebut merupakan suatu masalah yang cukup mendasar sebab terkait dengan sikap mental dan pola pikir yang belum sepadan dengan situasi zamannya. Upaya untuk mengatasi masalah ini tentu saja tidak mudah dan dibutuhkan kesabaran, selain diperlukan jangka waktu yang panjang untuk melakukan-nya. Selain itu, upaya ini memerlukan kemampuan untuk mem-baca perubahan zaman yang pesat yang kurang disadari bahwa manusia hidup di dalam perubahan zaman itu sendiri. Hal ini di-ibaratkan sebagai upaya seorang penumpang kapal raksasa yang akan melihat bahwa kapal yang ditumpanginya sedang melaju, atau bisa juga sebagai upaya untuk melihat bahwa bumi tempat berpijak sedang berputar.

Salah satu upaya untuk melakukan perubahan yang menyang-kut pola pikir dan sikap mental adalah melalui pendidikan. Sejauh menyangkut pendidikan, peranan orang tua dan guru tidak bisa ditinggalkan.

2. Peran Guru dalam Menumbuhkan Minat Membaca-Menulis

Bersama dengan orang tua, guru memegang peranan utama dalam pendidikan anak, yang salah satunya adalah upaya mena-namkan budaya membaca dan menulis. Sama seperti upaya pen-didikan pada umumnya, penumbuhan budaya membaca-menulis ini menuntut seorang guru untuk mampu menjadi inspirator, motivator, sumber informasi, fasilitator, apresiator, pengevaluasi, dan pengarah bagi siswa-siswanya. Demikianlah, peran guru me-mang lebih dari sekadar pemberi ilmu pengetahuan (bdk. DePorter, 2008:11).

2.1 Guru sebagai Inspirator

(13)

terinspirasi, misalnya, dengan menceritakan tokoh-tokoh besar yang umumnya adalah juga seorang penulis.

Dalam kapasitasnya sebagai inspirator pula, guru tidak hanya bisa menyuruh siswa untuk sering membaca dan menulis. Guru sepantasnya memberi teladan bagi siswa-siswanya dalam melakukan aktivitas baca-tulis. Guru dituntut menghasilkan banyak karya tulis. Dengan demikian, siswa-siswa terinspirasi untuk meng-ikuti apa yang telah dilakukan oleh gurunya.

2.2 Guru sebagai Motivator

Sebagai motivator, guru harus mampu mendorong anak didiknya untuk menguasai kemampuan membaca dan menulis. Berbagai cara dapat ditempuh agar siswa terdorong untuk me-nulis, misalnya dengan menugasi siswa untuk membaca biografi tokoh terkenal beserta karya-karya tulisnya, atau guru memper-kenalkan penulis-penulis sukses.

2.3 Guru sebagai Sumber Informasi

Guru yang memunyai kemampuan menulis yang baik, berwawasan luas, dan sekaligus memunyai sikap mental manusia pembaca-penulis tentu merupakan guru ideal yang dapat menjadi sumber informasi. Namun, jika kondisi ideal itu tidak terpenuhi secara baik, orang tua atau guru setidaknya memunyai kesadaran dan sikap mental bahwa dirinya hidup dalam dunia baca-tulis. Dengan demikian, guru setidaknya mampu memberikan inspirasi dan arahan agar anak didiknya mampu membaca dan menulis karena kedua kompetensi tersebut sangat diperlukan jika orang tidak ingin ketinggalan zaman.

2.4 Guru sebagai Fasilitator

(14)

Yayan Rika Harari

2.5 Guru sebagai Apresiator dan Penilai

Sebagai apresiator dan penilai, guru dituntut untuk bisa mem-berikan tanggapan yang memadai terhadap hasil-hasil yang telah dicapai siswa dalam kaitannya dengan kemampuan membaca dan menulis. Misalnya, guru dapat mendiskusikan karya tulis anak di dalam kelas. Apresiasi ini tidak hanya dilakukan oleh guru, tetapi juga melibatkan siswa. Misalnya, guru menugasi siswa untuk me-ngomentari karya tulis temannya, kemudian mendiskusikannya di kelas.

Berbagai metode dan media dapat digunakan oleh guru untuk menjalankan peranannya tersebut. Setiap metode dan media me-munyai keunggulan dan kelemahan. Tidak ada metode dan media yang unggul dan cocok untuk segala keadaan. Setiap situasi dan keadaan membutuhkan metode dan media tersendiri.

3. Praktik Langsung (Learning by Doing)

Sebagai guru, penulis telah mempraktikkan berbagai cara untuk mendorong dan menggairahkan siswa dalam membaca dan me-nulis, misalnya dengan penugasan, ceramah, diskusi, dan praktik langsung.

(15)

3.1 Hari Menulis: Mengondisikan Siswa sebagai Penulis

Menulis sering dianggap sebagai kegiatan yang cukup mem-bosankan di berbagai sekolah. Siswa ditugasi mengarang dengan topik yang tidak menarik sehingga kesenangan dalam menulis pun hilang. Berangkat dari kenyataan itu, terciptalah ide membuat “Hari Menulis” saat pelajaran Bahasa Indonesia.

“Hari Menulis” merupakan nama sebuah program pembe-lajaran menulis. Ide untuk melakukan hal itu saya peroleh dari seorang rekan guru bernama Ibu Weda Arum Winarni, yang telah menjalankan program tersebut terlebih dahulu. Program “Hari Menulis” ini sebenarnya sederhana saja.

(16)

Yayan Rika Harari

kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia pun bisa terpenuhi. Ibaratnya, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Siswa berbahagia, guru pun berbahagia.

Walaupun hasil karya tulis siswa tidak memengaruhi penilai-an, guru akan memberikan apresiasi dengan membaca dan mem-berikan tanggapan terhadap karya siswa. Di sinilah guru sebagai apresiator dan penilai berperanan. Tentu saja untuk memberikan kebanggaan, motivasi dan pujian merupakan cara yang efektif supaya siswa terus menulis. Setelah siswa terampil menulis, guru menawarkan saran dan kritik (Leonhardt, 2002:32).

3.2 Media Berkarya Siswa

Setelah berhasil mengondisikan siswa untuk menulis, guru memfasilitasi siswa untuk “memublikasikan” karya-karya siswa dengan membuat buletin kelas. Materi buletin tersebut diambil-kan dari bank karya yang sangat melimpah dari “Buku Karya” setiap siswa. Karya-karya siswa itu diseleksi. Yang layak dimuat kemudian digunakan untuk mengisi rubrik-rubrik dalam buletin yang diterbitkan.

Setelah mendapatkan karya yang layak dimuat, naskah di-ketik lalu dibuat tata letaknya (lay-out). Untuk itu, guru diharap-kan memunyai keterampilan menggunadiharap-kan komputer. Adiharap-kan tetapi, misalkan tidak menguasai, cukup banyak jasa yang dapat mem-bantu guru dalam me-lay out sebuah buletin.

(17)

Dalam proses penerbitan buletin, guru diharapkan memu-nyai waktu dan tenaga khusus di luar kesibukannya sebagai guru. Seperti telah kita ketahui bahwa guru harus memenuhi jam meng-ajar dan mengerjakan administrasi guru yang sesungguhnya telah banyak menyita waktu dan perhatian guru kepada siswa.

3.3 Tindak Lanjut atas Karya dan Pencapaian Siswa

Setelah siswa berkarya dan layak dianggap sebagai penulis profesional, karya-karya mereka didiskusikan layaknya para ahli sastra mendiskusikan suatu karya sastra, kemudian karya itu diterbitkan dan dibaca serta dinilai seperti layaknya penikmat sastra, saya merasa bahwa itu semua belum cukup.

Semua itu tidak boleh berhenti di kelas begitu saja. Tiba saat-nya saya keluar sekolah untuk membawa dan menguji karya-karya

siswa kepada publik yang sesungguhnya. Ya, kami “go public!”

Ini saya tempuh sebagai upaya untuk memberikan tindak lanjut atas antusiasme siswa dalam berkarya.

Ada berbagai cara yang telah saya tempuh untuk menguji karya-karya siswa di hadapan publik di luar kelas. Pertama, saya mengikutkan siswa dan hasil karya siswa dalam berbagai lomba yang berkaitan dengan kompetensi membaca dan menulis, seperti lomba menulis atau membaca puisi, lomba menulis cerpen, lomba

mading, dan lomba menulis buku. Kedua, saya mengirimkan

nas-kah-naskah terbaik siswa ke penerbit, antara lain naskah novelet berjudul 5 Sekawan in Memory yang dikirimkan ke Penerbit Mizan. Meskipun belum mendapatkan hasil yang maksimal, usaha itu tidak sia-sia. Kami berhasil memenangi berbagai lomba, antara lain (1) Juara 1 Lomba Menulis Buku Raksasa dalam “Pesta Buku Ikapi Jogja 2009”, (2) Juara II s.d. Harapan II Pemilihan “Raja dan Ratu Buku” oleh Badan Perpusda 2006, (3) Juara I s.d. III Pemi-lihan “Raja dan Ratu Buku” oleh Badan Perpusda 2007, (4) Juara II Lomba “Menulis Surat untuk Ibu” Tingkat Provinsi yang dise-lenggarakan oleh Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB)

(18)

Yayan Rika Harari

“Minat Baca” Tingkat Kabupaten Sleman yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah 2007, (6) Lomba “Cipta dan Baca Puisi dalam Festival Kompetensi dan Kreativitas SD/MI” Kabupaten Sleman 2008, (7) Juara II “Mengarang Cerpen dalam Festival Kompetensi dan Kreativitas SD/MI” Kecamatan Depok 2009, (8) Juara II “Lomba Mading” Tingkat Kabupaten Sleman yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Sleman 2008, dan (9) Juara I “Lomba Mading” Tingkat Kabupaten Sleman yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Sleman 2009.

Sejumlah kemenangan itu belum menjadi tolok ukur keber-hasilan yang memadai. Namun, setidak-tidaknya hal itu merupa-kan pengakuan secara tidak langsung atas efektivitas pembelajar-an menulis ypembelajar-ang telah kami tempuh. Sekecil apa pun, pengakupembelajar-an itu membuat kami untuk terus melakukan pembelajaran mem-baca dan menulis.

Daftar Pustaka

DePorter, Bobbi et al. 2008. Quantum Teaching; Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Diterjemahkan oleh Ary Nilandary dari Quantum Teaching: Orchestrating Student Succes. Cetakan ke-22. Bandung: Kaifa.

Hernowo. 2005. Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar

Seca-ra Menyenangkan. Cetakan ke-1. Bandung: Mizan Learning Center.

Leonhardt, Mary. 2002. 99 Cara Menjadikan Anak Anda Bergairah

(19)

Lampiran

Contoh media berkarya untuk siswa di SD Muhammadiyah Condongcatur, Depok, Sleman.

Gambar 1: Majalah dinding Daun milik siswa kelas V

Gambar 2: Buletin Tiga dan Sekawan

milik siswa kelas III dan IV

Gambar 3: Tim redaksi majalah dinding Pena

(20)

Antologi Esai Pengajaran Bahasa dan Sastra

Pada saat ini bahasa Indonesia telah menjadi bahasa utama bagi mayoritas siswa di Indonesia. Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sendiri merupakan mata pelajaran strategis. Penguasaan Bahasa dan Sastra Indonesia sejak awal, bahkan di tingkat SD, akan menentukan kesuksesan belajar siswa selan-jutnya. Hal ini disebabkan oleh pendidik (guru) menggunakan bahasa Indonesia dalam menularkan ilmu pengetahuan, tekno-logi, seni, dan informasi kepada siswa.

Goodman (dalam Santoso, 2007:2—3) menyebutkan bahwa anak–anak telah belajar dan menguasai bahasa jauh sebelum mereka bersekolah. Sebelum bersekolah, anak-anak tidak mengalami kesulitan dalam belajar bahasa Indonesia secara nonformal di rumah. Keadaan menjadi terbalik ketika anak mulai bersekolah dan men-dapatkan pelajaran bahasa. Bahasa yang semula merupakan hal yang mudah dan mengasyikkan berubah menjadi pelajaran yang menjenuhkan.

Realitas menunjukkan bahwa pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di tingkat SD bukan termasuk pelajaran yang difavorit-kan oleh siswa. Siswa lebih menyukai pelajaran lain, seperti IPA, IPS, atau Matematika. Ini terlihat dari menurunnya rata-rata nilai pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada UASBN tahun ajaran 2008/2009. Prof. Suwarsih Madya, Ph.D., selaku Kepala Dinas

Dapatkah Bahasa dan Sastra Indonesia

Menjadi Pelajaran Favorit di SD?

(21)

Pendidikan Propinsi DIY, memaparkan bahwa penurunan terjadi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, yakni dari rata-rata nilai 8,22 menjadi 7,89 (DIKPORA, 2009).

Mengingat peran strategis mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD, siswa sudah seharusnya didorong agar menyu-kai pelajaran tersebut. Beberapa permasalahan mendasar yang menyebabkan pelajaran itu kurang atau tidak digemari sama se-kali oleh siswa, muncul dalam kegiatan pembelajaran. Permasa-lahan tersebut terlihat dari aspek psikologis siswa atau guru, aspek pembelajaran, aspek kompetensi ujian, dan aspek kepopuleran.

1. Permasalahan Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai Pelajaran Favorit

1.1 Aspek Psikologis

Aspek psikologis ini berupa sikap mental meremehkan pela-jaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Mata pelapela-jaran Bahasa dan Sastra Indonesia cenderung dianggap remeh dan dianggap kurang pen-ting oleh siswa ataupun guru. Sikap meremehkan ini dimungkin-kan karena adanya anggapan bahwa Bahasa dan Sastra Indonesia merupakan pelajaran yang mudah, tidak seperti pelajaran berhi-tung dan IPA. Guru juga lebih terfokus pada mata pelajaran se-perti Matematika. Matematika dianggap sebagai pelajaran yang favorit meskipun sebagian siswa sulit memahaminya. Di sisi lain, sikap meremehkan ini timbul karena siswa dan guru merasa seba-gai penutur asli bahasa Indonesia yang bisa menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

1.2 Aspek Pembelajaran

(22)

di-Bambang Sukisno

wujudkan di lapangan. Antara gagasan dan kenyataan dalam ke-giatan pembelajaran ibarat ‘masih jauh panggang dari api’. Per-masalahan pada segi pembelajaran itu sendiri merupakan aspek terbesar penyebab kurang favoritnya pelajaran ini di mata siswa SD. Salah satu faktor penyebab kegagalan aspek pembelajaran adalah kurang bervariasinya metode pembelajaran yang dilaksa-nakan dalam kegiatan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran membaca dan menulis cenderung monoton dan kaku. Dalam pembelajaran membaca, pada umumnya guru meminta siswa membaca nyaring atau dalam hati. Guru kemudian meminta siswa menjawab beberapa pertanyaan tentang isi bacaan atau menceritakan isi bacaan secara tulis atau lisan. Demikian pula dengan soal UASBN SD tahun 2009 yang terkait dengan kompetensi membaca terfokus pada pemahaman bentuk dan isi cerita. Siswa dituntut harus mencari gagasan utama dari bagian-bagian paragraf hingga tema atau topik cerita. Ironisnya, sebagian guru jarang melatih siswa setiap hari agar siap terhadap kompetensi tersebut. Padahal, rata-rata siswa SD merasa kesulitan pada bagian tersebut.

(23)

rendah (kelas 1—3) tidak ada lagi pelajaran menulis halus (tegak bersambung). Dampaknya, tulisan siswa menjadi beragam, bahkan memunculkan istilah cowhek (diwocodhewek), tulisan yang hanya bisa dibaca oleh siswa itu sendiri.

Sebagian besar guru SD juga jarang melakukan pembelajaran berbicara, apalagi menyimak. Kalau pun dilaksanakan, pembelajar-an itu hpembelajar-anya sepintas lalu. Para guru mengpembelajar-anggap bahwa siswa sudah mampu melakukannya. Hal ini dikuatkan dengan peneli-tian Syamsi (2007:4) yang menyebutkan bahwa para guru umum-nya berpendapat jika melatih siswa berpidato, berceramah, ber-cerita, atau bertelepon hanya membuang-buang waktu, padahal evaluasi pembelajaran (tes sumatif, EBTA, ataupun EBTANAS (UAN atau UN) tidak pernah melakukan evaluasi keterampilan berbicara siswa.

Selain pembelajaran bahasa, pembelajaran sastra di SD juga memprihatinkan. Siswa banyak dijejali materi jenis-jenis karya sastra tanpa mendapatkan kesempatan untuk mengenal, menik-mati, dan menghayati karya sastra. Siswa seringkali hanya diper-kenalkan cuplikan novel atau prosa. Siswa juga hanya diperkenal-kan unsur-unsur karya sastra tanpa ada telaah lebih jelas dari guru. Oleh sebab itu, wajar bila sastra menjadi bagian pelajaran yang asing bagi siswa.

Jatah jam pertemuan untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di tingkat SD sudah banyak. Namun, peningkat-an kupeningkat-antitias jam pertemupeningkat-an dengpeningkat-an siswa ternyata kurpeningkat-ang ber-dampak pada peningkatan kualitas pembelajaran mata pelajaran itu. Metode pembelajaran yang monoton dan terus-menerus dilakukan guru telah menyebabkan siswa menjadi jenuh dan ku-rang menyenangi kegiatan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indo-nesia. Pada akhirnya, siswa berpendapat bahwa pelajaran Bahasa dan Sastra Indones merupakan suatu beban yang memberatkan.

1.3 Aspek Kompetensi Ujian

(24)

Bambang Sukisno

mengalami penurunan, rata-rata nilainya masih terbilang luma-yan. Hal tersebut lebih disebabkan oleh bentuk seluruh soal yang berupa pilihan ganda. Kelemahan terbesar dari soal jenis tersebut adalah siswa tidak memahami uraian prinsip bahasa dan sastra, seperti menulis kalimat, mengungkapkan kata-kata yang baik, membuat puisi, dan sebagainya. Ujian yang ada selama ini masih berupa aspek kemampuan membaca soal. Aspek keterampilan berbahasa yang lain belum terbidik, seperti menulis dan menyi-mak. Bahkan, untuk kompetensi menyimak, rata-rata SD tidak melaksanakannya dalam ujian praktik. Pengujian aspek berbicara memang sudah ada, tetapi praktik di lapangan masih terdapat ketimpangan di sana-sini. Ujian berbicara (ujian praktik) yang men-jadi kewenangan guru dan sekolah berdampak pada guru yang cenderung memudahkan ujian karena aspek ini tidak menentukan kelulusan. Hal itu terjadi karena tidak adanya standar kompetensi lulusan secara nasional untuk ujian praktik berbahasa. Padahal, ujian praktik diharapkan dapat memenuhi kompetensi bahasa dan sastra yang tidak tercakup dalam Ujian Akhir Sekolah Ber-standar Nasional (UASBN).

1.4 AspekKepopuleran Studi

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:889) mendefinisikan salah satu makna kata populer ialah dikenal dan disukai orang banyak (umum). Syarat populer adalah dikenal dan harus disukai banyak orang. Sesuatu tidak bisa disebut sebagai populer jika hanya salah satu aspek saja yang terpenuhi. Sesuatu yang hanya dikenal saja atau sesuatu yang hanya disukai saja tidak bisa disebut sebagai populer.

(25)

dalam bentuk ‘fragmen-fragmen kecil’. Hal tersebut dapat dilihat dari ‘warna’ lomba Bahasa dan Sastra Indonesia yang “kurang menantang”. Lomba yang diselenggarakan bagi siswa jenjang SD berkisar pada lomba baca dan cipta puisi, lomba mengarang, dan lomba pidato.

Lomba-lomba ‘berwarna’ monoton tersebut justru membuat siswa jenuh dan bosan. Hal inilah yang menyebabkan mata pe-lajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kurang terdengar gaung ke-populerannya. Siswa, guru, dan pihak sekolah yang mengirimkan delegasi, berpendapat bahwa membaca puisi atau pidato mudah karena cukup dihapalkan dan dibaca saja. Pihak sekolah dan guru merasa lebih bangga mendidik dan mengirimkan siswa untuk meng-ikuti lomba sains atau matematika, bahkan hingga level olimpiade nasional. Salah satu faktornya, olimpiade sains atau matematika begitu populer dan lebih menantang. Bahkan, lomba tersebut di-selenggarakan hingga jenjang SMA.

2. Beberapa Langkah Menuju Gelar Favorit

Beberapa aspek permasalahan tersebut perlu dipecahkan ja-wabannya dalam praktik di lapangan. Hal ini dimaksudkan agar ‘gelar’ pelajaran favorit tidak selalu melekat pada pelajaran IPA ataupun Matematika. Bahasa dan Sastra Indonesia pun diharap-kan dapat menjadi pelajaran favorit di kalangan siswa SD.

2.1 Mengatasi Aspek Psikologis Meremehkan Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

(26)

Bambang Sukisno

tua/wali siswa. Harapannya, siswa mengetahui bahwa pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang selama ini cenderung diremeh-kan karena dianggap mudah untuk dikerjadiremeh-kan ternyata sulit. Di sisi lain, orang tua/wali siswa dapat lebih terpacu mendorong buah hatinya untuk menekuni pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai mata pelajaran UASBN.

Strategi penekanan di masa-masa awal kelas VI tentunya juga menuntut konsekuensi guru. Siswa tidak boleh dibiarkan terus tertekan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Langkah selanjutnya setelah strategi ini adalah menginovasikan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indo-nesia. Pembelajaran yang lebih kreatif setelah ‘tekanan’ diberikan diharapkan dapat membuat siswa lebih tertarik.

2.2 Memperbaiki Metode Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia

Salah satu ciri kurikulum KTSP yang diberlakukan pada saat ini adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa. Muslich (2007:43) dan Hardiningtyas (2008:120--121) mengungkapkan ciri pembelajaran berdasarkan KTSP melibatkan tujuh komponen utama, yaitu (1) konstruktivisme (membangun pemahaman), (2) bertanya, (3) menemukan, (4) masyarakat belajar, (5) pemodelan, (6) refleksi, dan (7) penilaian autentik. Pembelajaran berdasarkan tujuh komponen tersebut menuntut peranan aktif siswa. Sesuai dengan komponen konstruktivisme, guru hanya membantu siswa memperoleh pengetahuan melalui sarana metode yang inovatif. Konstruktivisme adalah paham pembelajaran yang menuntut siswa membangun pemahaman sendiri terhadap suatu bidang studi. Dengan demikian, proses pembelajaran diharapkan tidak sekadar mentransfer ilmu dari guru ke siswa, tetapi lebih pada kemampu-an siswa dalam bekerja, mengalami, dkemampu-an memahami.

(27)

Bahasa dan Sastra Indonesia perlu dilaksanakan setiap guru, khu-susnya di tingkat SD. Permasalahan justru terletak pada pelak-sanaan di lapangan. Mayoritas guru masih menjalankan metode yang monoton, seperti metode ceramah, metode tanya-jawab, atau metode penugasan. Metode-metode pembelajaran tersebut lebih terpusat pada guru, bukan terpusat pada siswa.

Praktik di lapangan menunjukkan sebagian besar guru SD merasa kesulitan untuk menerapkan tujuh komponen KTSP da-lam metode pembelajaran yang inovatif. Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan (ketika menjadi pemandu guru SEQIP tingkat propinsi), khususnya di UPT wilayah Yogyakarta Selatan, hal ter-sebut kemungkinan disebabkan oleh (1) kurangnya pemahaman guru SD terhadap KTSP, (2) sebagian guru SD (agak egois) sudah merasa ‘nyaman’ menggunakan metode-metode monoton, pa-dahal metode tersebut telah sukses membuat siswa jenuh dan bosan, (3) sebagian guru sudah ada yang ingin dan ‘berniat’ untuk melakukan inovasi, tetapi kesulitan bagaimana cara melakukan-nya.

Dari hal tersebut, sebenarnya dapat disimpulkan bahwa titik tolak permasalahan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia terletak pada kekurangpahaman dan kompetensi guru SD. Guru SD perlu diberikan pendidikan dan pelatihan (diklat). Diklat yang telah diselenggarakan sangat baik manfaatnya bagi guru SD. Na-mun, diklat yang dilaksanakan secara masif dan dalam jangka waktu yang pendek, masih dipandang kurang efektif. Hal itu hanya akan menghasilkan mayoritas guru SD berkompetensi karbitan karena guru dipaksa dan ditekan untuk bisa menguasai inovasi pembe-lajaran modern dalam waktu yang singkat.

(28)

Bambang Sukisno

pendamping dari dosen LPTK dan guru pemandu senior tingkat propinsi. Guru-guru tersebut diseleksi, dan guru yang lulus akan diberi tugas membimbing pembelajaran IPA dengan jumlah mini-mal tiga SD di kecamatan masing-masing. Guru-guru tersebut dalam memandu sekolah binaannya tetap dipantau dan dinilai. Guru yang sukses akan diangkat menjadi guru pemandu tingkat kabupaten/kota, lalu diseleksi kembali untuk menjadi guru pe-mandu tingkat propinsi. Proses berjenjang dan mengacu pada konsep peer teaching yang memanfaatkan jaringan UPT ini dirasa-kan lebih terlihat keefektifannya dalam membuka wawasan dan melatih kompetensi para guru SD.

Melihat dari strategisnya pelajaran Bahasa dan Sastra Indo-nesia, khususnya di tingkat SD, perlu dilakukan terobosan dalam pembinaan guru. Pelatihan guru model SEQIP perlu dilakukan dengan kerja sama antarlembaga, seperti universitas, dinas pen-didikan, LPMP, balai/kantor bahasa di setiap propinsi, serta prak-tisi bahasa, seperti jurnalis. Harapannya, pengembangan kompe-tensi guru SD dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia lebih terjamin kualitasnya dan dapat terlihat hasilnya di lapangan.

2.3 Melengkapi Kompetensi Ujian dengan Standardisasi secara Nasional pada Ujian Praktik

(29)

Bahasa dan Sastra Indonesia, sudah seharusnya dilakukan stan-dardisasi ujian praktik tingkat nasional.

2.4 Menyelenggarakan Olimpiade Bahasa dan Sastra Indonesia (OBSI)

(30)

kom-Bambang Sukisno

petensi ujian dengan standarisasi secara nasional pada ujian prak-tik, dan (4) menyelenggarakan Olimpiade Bahasa dan Sastra Indo-nesia. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menumbuh-kan semangat siswa untuk belajar Bahasa dan Sastra Indonesia.

Daftar Pustaka

DIKPORA, 2009. Dalam http://www.pendidikan-diy.go.id. Diunduh pada tanggal 22 Juni 2009.

Hardiningtyas, Puji Retno. 2008. “Implementasi Pengajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Upaya Pemahaman Berbasis Kompe-tensi dan Pendekatan Kontekstual.” Dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia XVI. Yogyakarta: HPBI Cabang Yogyakarta.

Muslich, Masnur. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.

Santoso, Puji. 2007. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Syamsi, Kastam. 2007. Inovasi Model Pembelajaran Bahasa Indonesia. Yogyakarta: UNY.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa

(31)

Beberapa hari ini saya benar-benar gelisah. Banyak hal yang ternyata belum saya kuasai dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Kegelisahan itu lebih mengusik hati ketika banyak teman guru yang berdiskusi dan mencari tahu apa dan bagaimana menulis esai. Usut punya usut, akar diskusi para guru itu ternyata adalah sebuah lomba menulis esai yang sangat menarik yang diseleng-garakan oleh Balai Bahasa Yogyakarta. Sebelum saya bergabung berdiskusi dengan mereka, saya bertanya dalam hati, apa motivasi mereka mencari tahu cara menulis esai. Toh, selama ini mereka

adem ayem saja. Tak pernah ada lonjakan diskusi tentang menulis. Paling jauh teman-teman bertanya dan berdiskusi tentang arti awalan, cara menulis ejaan yang benar, maksud kalimat utama, dan pertanyaan-pertanyaan struktural kebahasaan lainnya. Saya curiga jangan-jangan kehebohan ini diakibatkan karena mereka tertarik akan hadiah yang dijanjikan panitia? Tapi, tak apalah itu sah-sah saja, toh semua itu juga dapat merangsang daya kreatif para guru dalam menulis, bahkan sebenarnya even seperti inilah

yang diperlukan untuk “memaksapara guru untuk menulis.

Nah, permasalahan kegelisahan saya bukan pada motivasi mereka, tetapi karena sebenarnya diam-diam saya juga tertarik mengikuti lomba tersebut entah karena ingin hadiahnya ataukah sebuah panggilan kreativitas sebagai guru Bahasa Indonesia. Ah,

Guru Bahasa Indonesia Harus Bisa Menulis:

Sebuah Soliloqui

Otokritik

(32)

Arif Rahmanto

tak tahulah sepertinya beda antara keduanya amatlah tipis. Lebih gelisah lagi karena saya sendiri tidak tahu pasti apa dan bagai-mana menulis esai itu. Belum sempat kegelisahan saya reda, tiba-tiba saya dikagetkan oleh pertanyaan beberapa murid saya kelas IV dan kelas V tentang hal yang sama, yaitu apa yang disebut esai dan bagaimana cara menulis esai. Ini benar-benar cobaan yang ber-tubi-tubi bagi saya sebagai guru Bahasa Indonesia. Mereka, murid saya itu; membaca sebuah iklan di salah satu stasiun TV swasta tentang adanya lomba esai untuk siswa SD, SMP, dan SMA. Terus terang saya sempat glagepen. Untunglah saat itu jam pelajaran sudah akan usai. Jadi, ada kesempatan saya untuk mencari lagi referensi lengkap tentang esai. Jawaban pun saya tunda hari berikutnya dengan alasan waktu habis dan menerangkan esai membutuhkan waktu lebih banyak.

Mulailah saya bergerilya, membuka buku-buku di rumah yang lama tersimpan di rak dan belum sempat saya baca. Meskipun sebenarnya buku itu sudah tersimpan hampir 4 tahun lamanya. Pertama, saya buka sebuah buku yang lumayan tebal terbitan Pusat Bahasa, Jakarta yang berjudul Jendela Terbuka (Antologi Esai Mastera). Pada halaman pengantar ada tulisan Budi Darma dengan judul “Esai Sebuah Jendela Terbuka”, di sana esai didefinisikan: Bagai-kan filsafat dan sastra, esai adalah rhapsody. Rhapsody adalah pemi-kiran cemerlang yang dituangkan dengan cemerlang pula,

seba-gaimana karya sastra yang cemerlang(Darma, 2005:xi).

Lebih jauh digambarkan juga tentang esai sebagai karya seni yang tentu saja memiliki formula lama yang pernah dikemukakan oleh Horace atau Horatio, yaitu dulce atau kenikmatan yang dapat dipetik dari karya seni tersebut dan utile, yaitu manfaat yang dapat diambil dari karya seni. Salah satu karakter esai dengan demikian adalah indah, menyenangkan, menarik, dan memberi kepuasan. Oleh karena itu, jika seseorang membaca esai, ia akan mendapat-kan sesuatu yang bermanfaat dan memperkaya pengalaman batin serta kecendekiaannya (Darma, 2005:xi).

(33)

sedikit membingungkan saya. Lebih dari tiga kali saya membaca definisi itu tetapi saya baru dapat melihat tentang kriteria isi dari sebuah esai sedangkan bentuknya belum dapat saya temukan. Di halaman-halaman berikutnya saya dapat membaca contoh-contoh model esai dari tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Dari model-model penulisan esai ternyata benar-benar terbuka dan sedikit ada perbedaan gaya serta format dari masing-masing negara. Saya mengistilahkan bahwa esai ternyata sebuah ruangan yang terbuka. Begitu lebar, luas, dan kita dapat bergaya apa saja asal dapat dinikmati dan bermanfaat.

Kemudian saya melanjutkan perburuan tentang esai di buku karya Ismail Marahimin yang berjudul Menulis Secara Populer, ter-bitan Pustaka Jaya. Sungguh luar biasa menarik, berbagai cara me-nulis dan contoh jenis tulisan, mulai dari tulisan deskripsi, narasi, eksposisi, dan artikel terpampang di sana. Setidaknya buku ini mem-beri gambaran kepada saya tentang gaya menulis, meskipun belum saya dapatkan pencerahan tentang menulis esai.

Saya acak-acak lagi rak buku. Siapa tahu ada buku yang ter-selip dan masih dapat memberikan keterangan tentang apa dan bagaimana menulis esai. Terlihat sebuah buku berwarna hitam dengan warna judul merah. Tertulis dalam warna merah itu

(34)

Arif Rahmanto

halnya karya ilmiah. Referensi ini sedikit membuka wawasan saya. Setidaknya saya sudah dapat menjawab pertanyaan dari para siswa tentang menulis esai. Namun, wawasan ini ternyata belum mem-buat saya cukup percaya diri untuk menulis. Rasanya masih sangat mengambang apa yang disebut esai itu.

Tiba-tiba saya teringat sebuah “mainan baru di internet. Se-buah jejaring sosial yang sedang marak, yaitu facebook. Di sini kita dapat mencari orang dan kemudian menghubunginya. Orang per-tama yang saya hubungi adalah Putu Wijaya, kemudian Ahma-dun Yosi Herfanda, dan Sutardji Calzoum Bachri. Namun, mereka barangkali sedang sibuk sehingga saya tidak segera mendapatkan konformasi. Alhasil, pertanyaan saya tentang esai tidak terjawab. Perburuan di dunia maya pun saya lanjutkan dengan mencari Mas Agus R. Sarjono, seorang sastrawan yang juga penulis esai hebat di negeri ini. Bermodalkan foto saya bersama beliau bebe-rapa waktu lalu, saya pun memberanikan diri menyapa. Betapa senang hati saya karena beliau mau menjawab di inbox saya. Begini percakapannya:

Arif Rahmanto May 13 at 8:42am: Mas Agus saya peserta workshop bengkel sastra di Pusat Bahasa tahun 2006 yang lalu... moga masih ingat. cerita tentang pedagang telor selalu memberi inspirasi bagi saya.... moga saya dapat menimba ilmu lagi melalui facebook ini

  Agus R. Sarjono May 14 at 12:08am : ingat dong, salam

kreatif selalu ya

  Arif Rahmanto May 14 at 8:50am: terimakasih mas

(35)

seperti kolomnya umar kayam? dan juga beda essay dengan karya ilmiah? he he he maaf pertanyaannya banyak

Agus R. Sarjono May 14 at 8:54am: Di majalah Horison yang saya lupa nomornya, ada tulisan saya dan Ignas Kleden tentang esai, saya kira kedua tulisan itu cukup lengkap

  Arif Rahmanto May 14 at 8:59am: waduh... saya hanya

punya horizon edisi terakhir mas... kira2 di mana saya bisa mendapatkannya ya?

Agus R. Sarjono May 14 at 10:23am: Cari SMAN terdekat, saya kira ada di perpustakaan, edisi awal2 2004 atau akhir 2003-an

Saya kemudian mencari tulisan Ignas Kleden di Horison. Ter-nyata sulit juga menemukan Majalah Horison. Akhirnya saya putuskan untuk searching di Google dan lega hati saya ketika tulisan itu saya temukan melalui tulisan Zulfaisal Putera di

www.rumahzul.com.

Di dalam tulisan tersebut, Kleden menyatakan bahwa sebuah esai biasanya ditulis secara spontan, entah karena ada pikiran yang melintas dan dirasa penting atau menarik, entah karena dorongan perasaan yang sangat kuat untuk menyatakan sesuatu dalam bentuk tulisan, atau karena seseorang hendak mengisi waktu senggang tatkala berlibur di sebuah tempat tamasya, atau masih menunggu beberapa hari untuk terbang pulang ke tanah

air sehabis mengikuti seminar di luar negeri. Lebih lanjut

(36)

Arif Rahmanto

SMA atau para mahasiswa S1. Esai lahir karena keinginan

berkata-kata, semacam obrolan dalam bentuk tulisan. Kalau obrolan 

ada-lah bentuk penuturan lisan, maka esai adaada-lah perwujudannya dalam bentuk tulisan. Seseorang yang menghadapi sebuah esai memang mencari apa yang diutarakan (penulisnya) di dalamnya (Putera, 2008).

Dari sinilah kemudian saya memulai menulis. Apa pun hasil dan menjadi apa bentuknya tulisan ini tidak penting bagi saya.

Yang terpenting adalah saya harus mulai mencoba menuliskarena

saya seorang guru Bahasa Indonesia. Apa jadinya ketika nanti saya ditanya oleh murid saya “Apakah Pak Guru pernah menulis?”

Ketika hendak mulai menulis kendala berikutnya yang saya hadapi adalah waktu. Itu juga yang banyak dikeluhkan para guru lain. Seakan waktu selalu tersedot untuk mengajar. Bayangkan, saya berangkat dari rumah pukul 05.30 karena saya harus tiba di sekolah yang berjarak 19 km dari rumah itu, pada pukul 06.05. Setelah itu saya disibukkan dengan mengajar siswa dan menye-lesaikan pekerjaan di sekolah. Rutinitas itu berakhir pada pukul 14.15, jika tidak ada kegiatan lain di sekolah. Tetapi di hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat, saya memberi pelajaran tambahan di sekolah sampai pukul 16.00 sedangkan di hari Rabu ada acara ra-pat rutin sekolah sampai pukul 14.30. Di hari Sabtu sepulang sekolah saya harus siaran di Radio Edukasi Am 1251. Jadi, praktis saya pulang sampai di rumah pukul 17.00. Ketika sampai di ru-mah, anak-anak saya, Zahra(4) dan Aisyah (2.5), sudah menunggu untuk mengajak bermain. Biasanya mereka bermain sampai menjelang tidur pukul 20.00. Ketika mereka tidur barulah saya dapat santai sejenak melepaskan kelelahan sambil berbaring di karpet ruang tamu. Biasanya saya langsung tertidur karena badan terasa lelah. Rutinitas ini serasa menjadi alasan bagi saya untuk tidak berkreasi dan berkarya. Hampir selama menjadi guru saya jarang menghasilkan karya berupa tulisan.

Suatu saat saya bertemu dengan Hasta Indriyana, seorang

(37)

tentang permasalahan yang saya hadapi. Dia kemudian menjawab “menulis itu sebaiknya menjadi rutinitas. Seperti ketika kita ma-kan. Makan adalah sebuah rutinitas yang sudah terjadwalkan yaitu 3 kali sehari. Hingga akhirnya kita terbiasa menjalankan rutinitas makan sampai saat ini. Ketika pagi sarapan, siang makan siang, dan malam makan malam. Rutinitas itu akan secara otomatis kita lakukan dengan ringan dan tanpa beban. Nah, menulis pun demi-kian. Harus kita jadwalkan. Kalau belum bisa sehari sekali, dapat dijadwalkan 3 hari sekali. Kalau masih belum bisa 3 hari sekali minimal satu minggu sekali kita harus menulis. Batas maksimal penjadwalan itu satu minggu.” Kata-kata itu saya renungkan dan coba saya lakukan. Saya mulai menjadwal kegiatan menulis. Saya masih mengambil batas maksimal yaitu satu minggu satu kali. Saat itu tulisan saya masih sebatas menulis dongeng. Baru bebe-rapa saat berjalan ternyata jadwal itu tidak dapat saya patuhi. Ala-sannya adalah rutinitas dan kelelahan saya. Hingga pada suatu hari saya mendapat telepon dari Balai Pengkajian Media Radio Pustekom yang isinya cukup membuat saya bahagia. Saya akan dijadikan pengisi acara “Dongeng Live” di Radio Edukasi setiap hari Sabtu sekaligus sebagai penulis naskahnya. Permintaan itu saya terima dengan alasan, pertama, nilai kontraknya lumayan menjanjikan, dan kedua, pekerjaan ini akan memaksa saya untuk menulis setiap minggunya. Di bulan pertama saya sungguh me-rasa berat. Rutinitas mengajar kembali menjadi hambatan saya dalam menulis. Namun, karena saya sudah menyanggupi maka saya terpaksa terus menulis setiap seminggu sekali sebelum hari Sabtu. Tanpa terasa acara itu sudah saya isi selama lebih dari 2 tahun dan selama itu juga saya menulis. Saya selalu menulis di sepertiga malam setelah saya terbangun dari tidur. Karena waktu itulah waktu luang saya. Ternyata menulis selain harus dijadwal-kan juga harus dipaksa.

(38)

Arif Rahmanto

tidak dimiliki oleh para guru Bahasa Indonesia SD yang lain. Apa jadinya ketika seorang guru Bahasa Indonesia tidak dapat menulis kreatif seperti saya. Tentu saja kelemahan ini akan berdampak serius pada proses pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa akan melenceng dari tujuan utama yaitu penguasaan bahasa se-bagai alat komunikasi. Para guru akan terjebak pada pembelajaran struktur kebahasaan yang sangat kompleks dan rumit sehingga mengesankan bahwa belajar bahasa itu sulit. Struktur yang di-pelajari itu jarang dan bahkan tidak pernah ditemui secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Akibat dari semua itu akhirnya para siswa akan takut mengasah kemampuan berbahasanya. Lihatlah banyak para penulis bukan berlatar belakang ilmu sastra, sedang-kan para sarjana sastra jarang menulis. Ini adalah akibat dari pen-jejalan teori struktural sehingga ada ketakutan mereka untuk men-coba.

Ketika seorang guru menguasai kemampuan menulis dan produktif menghasilkan tulisan maka sangat besar kemungkinan kemampuannya itu akan ditularkan kepada para siswanya. Se-orang guru yang memiliki kemampuan berkarya tidak akan rela para siswanya dikorbankan hanya untuk mengejar target kuri-kulum atau sekedar mengejar materi ujian. Guru yang mempu-nyai kemampuan menulis akan membimbing siswa-siswanya me-lewati proses yang pernah ia me-lewati untuk menghasilkan sebuah karya berupa tulisan.

Seperti seorang juru kampanye sebuah parta politik, saya pun mengampanyekan kesimpulan saya ini kepada teman-teman guru Bahasa Indonesia. Hampir semuanya sepakat dan mendu-kung ide ini, tetapi ada satu teman saya yang tiba-tiba berkata bahwa ide ini memang bagus, tetapi tidak akan terlaksana. Karena ada UASBN yang menuntut pengajaran struktur dan teori keba-hasaan secara lebih detil.

(39)

ter-ngiang: “Lantas bagaimana ketika pembelajaran bahasa yang kreatif ini dihadapkan pada UASBN yang menuntut suatu kemampuan penguasaan materi yang cenderung struktural?” Saya mencoba mencari argumen untuk mempertahankan pendapat saya. Setelah saya baca berbagai pendapat tentang pro kontra UASBN dari berbagai sumber kemudian saya simpulkan sebuah argumen. Argumen itu kemudian saya sampaikan lagi kepada teman-teman guru Bahasa Indonesia pada sebuah pertemuan guru Bahasa Indonesia di sekolah pada hari Rabu. Saya memulainya dengan sebuah pernyataan argumentatif begini, “UASBN atau Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional adalah suatu yang pragmatis, jadi solusinya adalah sesuatu yang pragmatis pula”. Begini penjelas-annya,

Sekolah dasar dimulai dari kelas I dan diakhiri di kelas VI.

Perjalanan selama enam tahun itu akan “dihakimi”dalamtiga

(40)

Arif Rahmanto

siswa hafal model soal dan kisi-kisi permasalahan apa yang akan keluar di UASBN nanti. Ternyata metode ini terbukti mujarab untuk mendapatkan nilai instan UASBN. Sebenarnya siswa dari kelas I—V sudah dicecar dengan pembelajaran bahasa secara struktural dan instan, tetapi ketika berada di kelas VI sudah lupa apa yang dahulu diajarkan sehingga pelajaran itu harus diulang kembali. Jadi, waktu dari kelas I—V seakan terbuang percuma. Ber-beda halnya dengan pembelajaran bahasa yang menitikberatkan pada proses, ketika naik ke jenjang kelas berikutnya ada hasil kreativitas yang terbukukan dalam “Buku Karya”. Buku Karya adalah buku yang berisi karya menulis kreatif masing-masing siswa. Buku ini menjadi semacam tabungan karya. Kumpulkan dalam waktu seminggu sekali untuk memantau perkembangan kreativitas mereka. Bacalah dan beri komentar yang memotivasi siswa untuk menulis lebih banyak lagi. Jangan benturkan mereka pada teori benar dan salah. Biarkan dulu mereka mengekspresikan segala kemampuan dan daya imajinasinya. Baru ketika dijumpai beberapa kesalahan penulisan, bahaslah secara umum.

Saya lihat banyak teman-teman yang mengangguk-angguk. Walau begitu saya tidak dapat mengklaim bahwa mereka setuju. Buktinya kemudian seorang teman saya mendebat dengan ber-tanya “mengapa harus menulis bukan membaca, menyimak, atau berbicara. Bukankah ketiga keterampilan itu juga sangat penting untuk dikuasai?”

(41)

juga seorang siswa yang mampu berbicara dengan baik maka dia harus dapat merancang terlebih dahulu apa yang akan disampai-kan dalam bentuk tulisan. Menyimak, membaca, dan berbicara akan berhenti pada sebuah perjalanan proses. Ketiganya bersifat temporal dan mudah dilupakan. Sedangkan menulis adalah keterampilan berbahasa yang sangat monumental dan akan terus dapat dibaca dan dinilai. Inilah alasan mengapa kemampuan me-nulis yang harus lebih dikuasai. Namun, bukan berarti meremeh-kan tiga keterampilan berbahasa yang lain, karena pada dasarnya keempat keterampilan berbahasa tersebut saling mendukung.

Sekali lagi saya kemukakan bahwa pengajaran bahasa yang menitikberatkan pada proses menulis hanya dapat dilakukan oleh guru yang pernah melalui perjalanan proses kreatif dalam menu-lis. Jadi, saya masih tetap pada kesimpulan awal, yaitu seorang guru Bahasa Indonesia harus dapat menulis.

Mereka terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan dan argumen saya. Tatapan mata mereka yakin dan seperti mendapat semangat baru dalam mengajarkan Bahasa Indonesia. Saya mem-bayangkan tangan mereka semua terkepal, bertekad dan berdiri, seperti mendeklarasikan sebuah partai baru. Semangat mereka ada dalam bayangan imajinasi saya. Sebuah semangat untuk me-mulai menulis dan menularkannya kepada para siswa. Akan tetapi, esok harinya, ketika saya melewati sebuah kelas yang sedang bela-jar Bahasa Indonesia, saya kembali mendengar kata-kata, “Buka halaman 51, baca dalam hati, kerjakan latihan, dan jawab pertanya-an.” Ternyata mereka semua sepakat dengan pendapat saya, tetapi bingung kapan akan memulainya. Waduh ...

Daftar Pustaka

Darma, Budi. 2005. “Esai Sebuah Jendela Terbuka.” Dalam Jendela Terbuka: Antologi Esai Mastera. Jakarta: Pusat Bahasa. Marahimin, Ismail. 2005. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka

(42)

Arif Rahmanto

Putera, Zulfaisal. 2008. “Ingin Mampu Menulis Esai, Banyak Banyak Baca Esai”. Dalam Rumah Zul di www.rumahzul.com.

Suwondo, Tirto. 2003. Mozaik: Upaya Pemasyarakatan Bahasa dan

(43)

1. Pengantar

Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa bagi siswa agar mereka mampu berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan dengan baik dan benar. Dalam keterampilan berbahasa, menulis merupa-kan salah satu aspek penting. Menurut Wiyanto (2004:7), mencipta-kan iklim budaya tulis amencipta-kan mendorong seseorang menjadi lebih aktif, lebih kreatif, dan lebih cerdas. Oleh karena itu, untuk dapat menulis dengan benar diperlukan pembiasaan diri dengan cara belajar serta berlatih secara terus-menerus dan berkesinambung-an. Adapun tujuan menulis di antaranya adalah untuk menambah perbendaharaan kata, melatih menuangkan pikiran, pengalaman, perasaan, ataupun gagasan secara sistematis sesuai dengan kai-dah kebahasaan, serta berlatih menggunakan kaikai-dah ejaan secara benar.

Aspek-aspek keterampilan dalam berbahasa (menulis, mem-baca, menyimak, dan berbicara) saling berkaitan. Oleh karena itu, materi pelajaran Bahasa Indonesia akan lebih efektif apabila di-sampaikan secara terpadu. Keterampilan menulis, misalnya, sangat berkaitan erat dengan keterampilan membaca. Hal ini terilustrasi-kan pada hasil pengamatan yang dilakuterilustrasi-kan oleh penulis terhadap siswa kelas III sampai dengan kelas VI di SD Muhammadiyah

Meningkatkan Kualitas Keterampilan

Menulis dengan Pendekatan Bahasa yang

Utuh Model Menulis Jurnal bagi Siswa

Kelas V SD Muhammadiyah Mulyodadi

(44)

Dinar Palupi

Mulyodadi. Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa siswa yang gemar membaca memiliki kemampuan menulis lebih tinggi daripada siswa yang kurang gemar membaca. Penulis sen-diri berpandangan bahwa menulis diperlukan penguasaan kaidah tata tulis, baik perbendaharaan kosakata yang dimiliki, tata ba-hasa, maupun ejaan. Selain itu, dalam keterampilan menulis hen-daknya guru tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga memikirkan bagaimana cara memotivasi siswa agar senang me-nulis.

Menurut Piaget (dalam Gunarsa, 1982:161), karakteristik sis-wa SD kelas V yang merupakan anak berumur 7—11 tahun terma-suk dalam tahap operasional konkret, yaitu kemampuan berpikir secara logis meningkat. Dalam tahap ini anak mampu mengklasi-fikasi, memilih, mengurutkan, dan mengorganisasi data untuk menyelesaikan masalah. Mereka mulai mengerti situasi yang ber-beda secara stimulan. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat di-simpulkan bahwa karakteristik anak berumur 7—11 tahun berada dalam fase operasional konkret, anak mengalami perkembangan kemampuan berpikir. Namun, kemampuan berpikir anak terbatas pada objek yang dijumpai dari pengalaman secara langsung saja. Oleh karena itu, perlu media-media pembelajaran untuk mem-bantu siswa dalam memahami materi.

Merujuk pada penjelasan tersebut, dapat diidentifikasi bebe-rapa kondisi yang menjadi kendala dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada keterampilan menulis di kelas V SD Muhamma-diyah Mulyodadi, yakni (1) kurangnya minat siswa dalam ke-giatan menulis, (2) keterbatasan kosakata yang dikuasai siswa, dan (3) kurangnya kemampuan siswa terhadap penguasaan kai-dah berbahasa (ejaan) dan tata tulis (tata bahasa). Dengan demi-kian, dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis siswa kelas V di SD Muhammadiyah perlu ditingkatkan dengan bimbingan khusus dari guru.

(45)

cara mencari akar permasalahan ataupun faktor penyebab timbul-nya kesulitan menulis di kelas V SD Muhammadiyah Mulyodadi. Selanjutnya, dicoba menemukan pemecahan masalah yang me-mungkinkan untuk diterapkan dalam meningkatkan kosakata siswa dan kemampuan menulis siswa sesuai dengan kaidah ke-bahasaan.

2. Apakah Keterampilan Menulis itu?

Seperti yang telah dinyatakan di depan, menulis merupakan salah satu unsur penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Menulis merupakan bentuk keterampilan yang membutuhkan keaktifan dan kreativitas pikiran dalam menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Menurut Tarigan (1998:4), dalam menulis dituntut kemahiran memakai ejaan, komposisi yang baik dalam bentuk pengembangan paragraf secara tepat, dan keteram-pilan dalam memanfaatkan struktur bahasa dan kosakata. Keteram-pilan menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui pelatihan dan praktik secara berkesinambungan. Dengan kata lain, untuk menjadi seorang penulis diperlukan pembiasaan menulis serta pelatihan dan penguasaan tata bahasa.

Dalam kaitannya dengan pembiasaan menulis, diperlukan keteladanan dari guru. Dalam hal ini guru dituntut membiasakan mengekspresikan diri ke dalam bentuk tulisan, misalnya, guru menuliskan refleksi tentang kegiatan belajar-mengajar di kelas dan menempel hasil tulisan di papan pengumuman kelas, kemu-dian siswa diminta untuk membaca tulisan tersebut. Guru dapat menuliskannya dengan menggunakan media yang menarik per-hatian siswa sehingga siswa tergerak untuk membacanya. Dengan cara ini siswa dapat termotivasi untuk menulis pengalamannya ke dalam berbagai bentuk tulisan, seperti puisi, prosa, cerpen, dan surat pribadi.

(46)

Dinar Palupi

itu, guru sering kehilangan ide untuk memberikan materi bahasa yang menarik dan tidak membosankan. Hasilnya, guru mem-berikan cara, metode, dan materi yang monoton sehingga siswa sering merasa jenuh dan malas ketika belajar Bahasa Indonesia.

3. Faktor Penyebab Kesulitan Menulis

Kegiatan menulis di kelas V SD Muhammadiyah Mulyodadi tergolong masih sangat rendah. Oleh karena itu, tidak mengheran-kan jika keterampilan menulis di kelas tersebut mempunyai nilai rata-rata kurang dari 6,0. Permasalahan yang penulis temukan, yaitu (1) kurangnya minat siswa dalam kegiatan menulis, (2) terbatasan kosakata yang dikuasai siswa, dan (3) kurangnya ke-mampuan siswa terhadap penguasaan kaidah berbahasa (ejaan) dan tata tulis (tata bahasa).

Ketiga permasalahan di atas disebabkan oleh adanya dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, yaitu faktor penyebab yang berasal dari siswa itu sendiri. Sebagai-mana diketahui, di dalam menerima atau memahami keempat aspek pelajaran Bahasa Indonesia (membaca, menulis, menyimak, dan mendengarkan), siswa sering mengalami kesulitan. Hal ini di-sebabkan oleh siswa memiliki kemampuan intelektual dan kecer-dasan yang berbeda-beda, tidak terkecuali dalam hal menulis. Minat serta bakat siswa juga memengaruhi kesulitan dalam menu-lis.

(47)

Sebaliknya, apabila berada di sekitar kelompok lingkungan (masya-rakat) yang kurang berpendidikan, biasanya anak (siswa) kurang mendapat perhatian dalam pendidikannya sehingga cenderung memiliki motivasi belajar yang sangat rendah.

4. Pemecahan Masalah

Setelah ditemukan permasalahan dan faktor penyebabnya, guru segera menentukan langkah yang dianggap dapat mengatasi kesulitan menulis yang dialami siswa. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menggunakan pendekatan bahasa yang utuh (whole language) dengan model menulis jurnal (journal writing). Dengan pendekatan bahasa yang utuh model menulis jurnal diharapkan mampu memperbaiki pembelajaran Bahasa Indonesia sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan me-nulis siswa.

Para ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa merupakan satu-kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Pendekatan bahasa yang utuh merupakan salah satu pendekatan pengajaran bahasa yang disajikan secara utuh, tidak terpisah-pisah. Routman menyatakan bahwa bahasa yang utuh dapat dimulai dengan me-numbuhkan lingkungan bahasa secara utuh dan mengajarkan keterampilan berbahasa (menulis, membaca, menyimak, dan ber-bicara) secara terpadu. Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sudah seharus-nya diajarkan secara utuh dengan melibatkan seluruh keteram-pilan berbahasa (dalam Santosa, 2003:2—3).

Lebih lanjut dikatakan oleh Routman, terdapat delapan kom-ponen dalam bahasa yang utuh, yaitu (1) reading aloud (membaca dengan keras), (2) journal writing (menulis jurnal), (3) sustained silent reading (membaca dalam hati), (4) shared reading (membaca ber-sama), (5) guided reading (membaca terbimbing), (6) guided writing

(48)

Dinar Palupi

Dari kedelapan komponen di atas, penulis memilih model menulis jurnal untuk digunakan sebagai salah satu model pem-belajaran Bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan oleh manfaat dari pembelajaran model menulis jurnal, yaitu (1) meningkatkan ke-mampuan menulis, (2) meningkatkan keke-mampuan membaca, (3) menumbuhkan keberanian menghadapi risiko, (4) memberi ke-sempatan untuk membuat refleksi, (5) memvalidasi pengalaman dan perasaan pribadi, (6) memberikan tempat yang aman dan rahasia untuk menulis, (7) meningkatkan kemampuan berpikir, (8) mening-katkan kesadaran akan peraturan menulis, (9) menjadi alat eva-luasi, dan (10) menjadi dokumen tertulis (dalam Santosa, 2003). Melalui penulisan jurnal, siswa dapat mengungkapkan pe-rasaannya, menceritakan kejadian di sekitarnya, dan menceritakan tentang hasil belajarnya. Seperti kita ketahui, anak-anak (siswa) me-miliki banyak cerita menarik yang dapat diungkapkan. Untuk itu, tugas guru adalah mendorong siswa untuk mengungkapkan cerita yang dimilikinya. Agar lebih efektif, siswa diberikan rangsangan yang menarik serta memotivasi mereka untuk menuangkan imaji-nasinya ke dalam sebuah tulisan. Buku harian(diary), misalnya, dapat dipakai sebagai contoh pembelajaran modelmenulis jurnal. Buku harian banyak disukai siswa karena berisi tulisan yang

imaji-natif. Dengan menggunakan buku hariandalam menyampaikan

materi pelajaran dapat memudahkan pemahaman siswa, dan siswa dapat mempraktikkan langsung keterampilan menulis. Oleh karena itu, cara ini dianggap efektif untuk melatih siswa membiasakan menulis. Semua keterampilan berbahasa (membaca, menulis, me-nyimak, dan berbicara) dapat juga diterapkan dengan pengem-bangan tulisan buku harian. Jadi, dengan buku hariansiswa dapat belajar menulis imajinatif dengan lebih banyak dan sekaligus mem-praktikkan keterampilan menulis secara langsung.

5. Bentuk Tindakan sebagai Langkah Tindak Lanjut

(49)

merupakan langkah yang efektif untuk meningkatkan kualitas menulis bagi siswa. Dalam hal ini, bentuk tindakan difokuskan pada siswa kelas V SD Muhammadiyah Mulyodadi.

Hal pertama yang dilakukan, guru mengajak siswa meng-ingat-ingat kejadian atau peristiwa mengesankan yang pernah dialami oleh siswa. Kemudian dari peristiwa-peristiwa itu dituang-kan ke dalam bentuk tulisan di buku harian. Setelah selesai, siswa dapat mencermati kosakata dan ejaan yang digunakan. Guru membantu siswa yang menemukan kesulitan dalam menulis dan mengarahkan siswa serta memperbaiki tulisan siswa dengan kai-dah tata tulis yang benar.

Setelah siswa mengerti cara menulis di buku harian, guru kembali memberi tugas kepada siswa untuk menulis setiap ke-jadian yang dialami oleh siswa, kemudian dituangkan ke dalam buku hariannya. Tugas tersebut ditulis oleh siswa setiap hari, minimal dua paragraf. Setiap ada pelajaran Bahasa Indonesia, guru memeriksa buku harian siswa untuk dikoreksi, terutama mengenai penggunaan kosa-kata, ejaan, dan tata tulis.

Buku harian yang dibuat siswa dapat dikembangkan men-jadi bermacam-macam materi pembelajaran Bahasa Indonesia yang menarik dan menyenangkan. Dari buku harian tersebut, siswa dapat mencari ide dan mengembangkannya menjadi puisi, prosa, cerpen, ataupun surat pribadi. Selain itu, siswa dapat ter-motivasi untuk belajar menulis.

6. Hasil yang Diperoleh

Awalnya, siswa banyak yang mengeluh dan merasa keberat-an untuk menulis di buku harikeberat-an setiap hari. Namun, guru harus terus memberikan pengertian kepada siswa sehingga siswa me-nyadari manfaatnya. Pada hari ke-7, banyak siswa yang melapor-kan kepada guru bahwa mereka merasa senang dengan tugas yang diberikan oleh guru.

Kebiasaan menulis buku harianmembuat siswa terbiasa

(50)

mem-Dinar Palupi

permudah siswa mempelajari aspek-aspek keterampilan berba-hasa (menulis, membaca, menyimak, dan berbicara). Siswa men-jadi bersemangat untuk mengikuti kegiatan menulis yang di-tugaskan oleh guru.

Dari buku harian yang ditulis siswa, guru dapat membantu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berbahasa siswa. Kosakata siswa bertambah, kemampuan tata tulis siswa juga me-ningkat. Manfaat positif lainnya yang penulis rasakan adalah siswa dapat termotivasi untuk belajar atau mengetahui lebih dalam tentang Bahasa Indonesia. Hal itu karena menulis buku harian bagi siswa merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenang-kan. Keuntungan lain, siswa semakin pandai mengembangkan imajinasinya dan menuangkannya ke dalam bentuk puisi, cerpen, prosa, ataupun surat pribadi. Sementara itu, hasil evaluasi tulisan siswa menjadi meningkat dan nilai rata-rata yang diperoleh siswa menjadi 7,5.

Peningkatan kemampuan menulis dapat dilihat dari penilai-an informal dpenilai-an portofolio. Secara informal, indikator keberha-silannya melalui kegiatan yang dilaksanakan, interaksi serta moti-vasi siswa selama proses pembelajaran menulis. Penilaian juga dilakukan dengan menggunakan portofolio. Caranya, guru me-ngumpulkan hasil kerja siswa selama proses pembelajaran sehing-ga peningkatan kemampuan menulis siswa dapat terlihat secara otentik.

7. Simpulan

(51)

kebahasaan yang benar, biasanya juga gemar membaca. Kedua, kesulitan menulis yang dialami oleh siswa kelas V SD Muhamma-diyah Mulyodadi disebabkan oleh beberapa faktor, yakni (1) fak-tor internal (yang berasal dari siswa, meliputi kemampuan inte-lektual dan minat) dan (2) faktor eksternal (yang berasal dari luar siswa, yang meliputi sekolah, guru, lingkungan keluarga, dan ling-kungan masyarakat). Ketiga,penggunaan pendekatan bahasa yang

utuhmodel menulis jurnal dapat meningkatkan kualitas menulis

siswa. Model menulis jurnalmenggunakan lingkungan sebagai

alat atau media pembelajaran. Lingkungan akan membantu siswa untuk memahami materi dengan lebih mudah. Selain itu, aktivitas berbahasa yang bersifat praktik juga berhasil ditingkatkan. Keempat, buku harian merupakan alat pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan minat dan kemampuan menulis siswa. Kegiatan menulis di buku harian menarik dan menyenangkan bagi siswa. Siswa dapat mengembangkan tulisannya menjadi sebuah puisi, prosa, cerpen, dan surat pribadi. Selain itu, menulis buku harian juga dapat meningkatkan penguasaan jumlah kosakata dan pe-nguasaan kaidah kebahasaan (ejaan dan tata tulis).

8. Saran

Seorang guru harus mampu berperan sebagai pembimbing yang efektif. Untuk itu, guru dituntut untuk selalu peka terhadap kesulitan belajar yang dihadapi siswa, cepat tanggap, dan mem-bantu menyelesaikan kesulitan belajar bagi siswa. Peran guru ada-lah sebagai fasilitator. Dengan demikian, untuk memainkan peran-an tersebut secara efektif, diperlukperan-an keprofesionalperan-an dperan-an penge-tahuan keguruan yang memadai.

(52)

di-Dinar Palupi

sajikan secara terpadu dengan pemahaman yang baik, metode serta model yang tepat, dan disesuaikan dengan kondisi siswa masing-masing.

Daftar Pustaka

Gunarsa. 1982. “Pendekatan Pembelajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia SD”. Dalam http://treepjkr.multiply.com/reviews/item/ 18. Diunduh pada hari Sabtu, 30 Juni 2009.

Santosa, Puji. 2003. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tarigan, Djago, dkk. 2000. Pendidikan Keterampilan Berbahasa. Ja-karta: Universitas Terbuka.

(53)

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Salah satu masalah pendidikan yang dihadapi saat ini adalah rendahnya mutu guru. Pada muaranya, hal ini dianggap memberi kontribusi terhadap rendahnya mutu pendidikan. Anggapan demikian memang sangat pahit. Akan tetapi, anggapan tersebut setidaknya menjadikan kita yang bergerak di dunia pendidikan untuk berintrospeksi diri.

Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD diarahkan untuk me-ningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi da-lam bahasa Indonesia dengan baik dan benar serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan. Sementara itu, pengajar-an Bahasa dpengajar-an Sastra Indonesia mencakup komponen kemampu-an berbahasa dkemampu-an kemampukemampu-an bersastra ykemampu-ang memiliki empat kegiatan, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Ke-empat komponen kegiatan tersebut merupakan satu-kesatuan.

1.2 Permasalahan

Dewasa ini banyak siswa yang cenderung bersikap pesimis. Mereka belum berjuang menyelesaikan tugas secara maksimal, tetapi sudah memvonis diri dengan mengatakan bahwa dirinya tidak mampu melakukan sesuatu dengan baik.Pembelajaran

Tuntutan Pembelajaran Sastra Indonesia

di Sekolah Dasar

(54)

Muhammad Arifin Zuhri

Bahasa Indonesia, khususnya sastra, perlu mendapat perhatian tersendiri. Hal ini masih terlihat dari adanya beberapa siswa, khususnya siswa SD yang tidak mengenal dan belum memahami tentang sastra. Apabila kita cermati, ada beberapa faktor

penye-bab, pertama, kurang terampilnya guru merancang pembelajaran

sastra sehingga saat diterapkan di kelas tidak dapat berjalan de-ngan baik. Pada akhirnya, metode ceramah kembali mereka

guna-kan demi tercapainya target kurikulum. Kedua, motivasi siswa

dalam belajar sastra sangat rendah. Mereka memperlihatkan sikap acuh tak acuh, tidak memerhatikan materi yang disampaikan guru, bahkan siswa bercerita sendiri dengan teman sebangku.

Tindakan yang dilakukan baik oleh guru maupun siswa ter-sebut disebabkan mereka tidak tahu/tidak paham tentang pem-belajaran sastra. Padahal, dalam standar kompetensi disebutkan bahwa tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di antaranya adalah menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan penge-tahuan dan kemampuan berbahasa.

Berkaitan dengan permasalahan tersebut, perlu metode pem-belajaran yang tepat agar siswa senang belajar sastra, tidak acuh, dan memerhatikan pelajaran yang disampaikan guru.

2. Pembahasan

Sistem pendidikan di Indonesia bersifat dinamis. Artinya, perubahan demi perubahan dilakukan untuk meningkatkan kua-litas pendidikan. Pendidikan di Indonesia memerlukan perubah-an pemikirperubah-an yperubah-ang mendasar sehingga terbperubah-angun suatu paradig-ma baru yang lebih sesuai dengan tuntutan zaparadig-man dan temuan-temuan baru dalam pembelajaran.

(55)

yang digunakan berupa kumpulan soal, hafalan, ringkasan, dan pengayaan. Dalam mengejar target materi kurikulum, guru sering mengambil jalan pintas dengan memberi pekerjaan rumah (PR).

Situasi pembelajaran ceramah searah yang berlangsung terus-menerus akan membosankan bagi siswa. Dalam pembelajaran hanya terjadi komunikasi satu arah. Perkembangan kompetensi masing-masing siswa kurang diperhatikan. Kelas menjadi ruang yang kaku karena tidak terbangun situasi yang kondusif untuk berkompetisi. Para siswa tidak diberi ruang gerak untuk berkreasi. Hampir seluruh aktivitas pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pada saat ini mengacu pada pencapaian nilai. Standar nilai kelulusan ditetapkan oleh masing-masing sekolah berdasar-kan kesepakatan dengan komite sekolah. Hal ini mencerminberdasar-kan bahwa keberhasilan dan ketuntasan belajar tetap mengacu pada nilai. Akibatnya, buku-buku LKS (lembar kerja siswa) sangat laris, lembaga bimbingan belajar juga dibanjiri siswa. Anak-anak di-ukur dari kemampuan menyelesaikan tes sehingga potensi-potensi lainnya terabaikan, termasuk nilai-nilai budi pekerti.

Pendidikan yang dirancang untuk menyiapkan masa depan dijejali berbagai pengetahuan dan keterampilan. Menurut anggap-an penulis, pendidikanggap-an tidak akanggap-an bermanggap-anfaat di masa depanggap-an tanggap-anpa memerhatikan potensi dan kompetensi yang dimiliki setiap siswa. Sementara itu, buku-buku yang beredar dianggap bagus bila ma-terinya lebih lengkap tanpa memerhatikan standar kompetensi siswa yang menjadi sasaran. Akibatnya, mata pelajaran disusun berdasarkan kepentingan perancang, bukan demi siswa.

Gambar

Gambar 3: Tim redaksi majalah dinding Penadalam suatu lomba
Gambar 1: contoh puisi siswa kelas II dengan pembelajaranBahasa dan Sastra Indonesia berbasis pengalaman langsung.
Tabel Buku Sastra Wajib Baca di SMU 13 Negara,Selama 3 atau 4 Tahun Pelajaran

Referensi

Dokumen terkait