• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Sinergitas Nilai Nilai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Seminar Nasional Sinergitas Nilai Nilai"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1

DISKURSUS PANCASILA DALAM UNDANG-UNDANG REPUBLIK

INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2009 TENTANG POS

Tomy Michael1

Email: [email protected]

Abstrak

Di dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN, suatu negara harus mampu menunjukkan kekuatannya sebagai negara yang berdaulat. Tujuan ini untuk menciptakan keadilan hukum karena keadilan hukum merupakan tujuan hukum tertinggi dalam suatu negara. Berdasarkan itulah, hakikat Pancasila harus tercermin di setiap peraturan perundang-undangan. Salah satunya, hakikat Pancasila dalam 38-2009. Penelitian menggunakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptua. Bahan hukum dikumpulkan melalui studi pustaka dan dokumen yaitu dengan mengumpulkan bahan-bahan yang relevan dengan pokok permasalahan yang dikaji. Kemudian bahan-bahan tersebut dipahami secara mendalam. Teknik analisa bahan hukum yang digunakan adalah analisa deduktif. Kesimpulan yang diperoleh bahwa keadilan dalam UU No. 38-2009 adalah keadilan yang artifisial karena penyelenggaraan pos tidak menciptakan keadilan kepada masyarakat secara sama dan semua pihak. Sebagai saran agar UU No. 38-2009 dapat berjalan lebih optimal lagi yaitu dengan melakukan kerja sama pihak swasta untuk meningkatkan layanan pos universal.

Kata kunci: Pancasila, pos, keadilan hukum.

Pendahuluan

Di dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN, suatu negara harus mampu menunjukkan kekuatannya sebagai negara yang berdaulat. Adanya penyatuan batas dengan negara lain, akan mengaburkan batas-batas sistem hukum dalam suatu negara. Dengan demikian, salah satu cara termudah yaitu mengoptimalkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan khususnya undang-undang sebelum Masyarakat

(2)

2

Ekonomi ASEAN dilakukan. Tujuan ini untuk menciptakan keadilan hukum karena keadilan hukum merupakan tujuan hukum tertinggi dalam suatu negara. Keadilan hukum dapat dijelaskan dengan berbagai pemikiran tokoh ilmu hukum karena keadilan hukum tidak dapat didefinisikan secara mutlak.

Keadilan hukum yang bersifat abstrak dapat dijelaskan juga melalui hakikat Pancasila di Indonesia. Mengacu Pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (UU No.

12-2011) termaktub bahwa “Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara”.

Dalam penjelasannya termaktub bahwa penempatan tersebut sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) alinea keempat yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berdasarkan itulah, hakikat Pancasila harus tercermin di setiap peraturan perundang-undangan. Salah satunya, hakikat Pancasila dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2009 tentang Pos (UU No. 38-2009). Seiring dengan perkembangan dan kebutuhan hukum di masyarakat, keberadaan dan eksistensi Pos Indonesia mutlak diperlukan dan diharapkan mampu menjawab segala tantangan dalam pembangunan bidang hukum. Kebijakan pembentukan hukum dewasa ini diarahkan untuk membentuk substansi hukum yang responsif dan mampu menjadi sarana pembaharuan dan pembangunan yang mengabdi pada kepentingan nasional dengan mewujudkan ketertiban, legitimasi dan keadilan.

Pos Indonesia yang memiliki visi “menjadi raksasa logistik pos dari Timur” dan

misi “menjadi aset yang berguna bagi bangsa dan negara; menjadi tempat berkarya yang

(3)

3

pemegang saham”, merupakan perpanjangan negara dalam menjalankan UU No. 38 -2009 secara optimal.

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian hukum yang memiliki arti pengkajian ilmu hukum untuk memperoleh pengetahuan yang benar guna menjawab suatu masalah.2 Dengan penelitian hukum normatif, peneliti memiliki argumen bahwa mengunakan hukum normatif karena penelitian hukum tergantung pada rumusan masalah berupa pertanyaan penelitian “apakah Pos Indonesia telah melaksanakan UU No. 38-2009 sesuai kehendak Pancasila?”, maka penelitian hukum normatiflah yang paling tepat untuk digunakan.3

Maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan yakni peraturan tertulis yang dibentuk lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum, dan pendekatan konseptual yakni pendekatan mengenai konsep hukum yang berasal dari sistem hukum tertentu yang tidak bersifat universal.4 Bahan hukum dikumpulkan melalui studi pustaka dan dokumen yaitu dengan mengumpulkan bahan yang relevan dengan pokok permasalahan yang dikaji. Kemudian bahan-bahan tersebut dipahami secara mendalam. Teknik analisa bahan-bahan hukum yang digunakan adalah analisa deduktif. Analisa deduktif memiliki arti berpangkal dari prinsip-prinsip dasar, kemudian peneliti menghadirkan objek yang hendak diteliti yaitu menjelaskan hal-hal yang bersifat umum menuju hal-hal yang bersifat khusus untuk menarik suatu kesimpulan yang dapat memberikan jawaban ilmiah untuk permasalahan hukum dalam penelitian ini.

2

Moh Fadli, (2012), Perkembangan Peraturan Delegasi Di Indonesia , Disertasi, Bandung: Universitas Padjadjaran, hlm. 10.

3

Digest Epistema „‟Penelitian Hukum: Antara Yang Normatif Dan Empiris‟‟, 2015. Ditulis oleh Widodo Dwi Putro dan Herlambang P. Wiratraman.

4

(4)

4 Hasil dan Pembahasan

Keadilan Hukum Dalam UU No. 38-2009

Keadilan tidak dapat diartikan secara konkrit dalam wujud kalimat karena keadilan dapat bersifat ide atau ide yang dikonkritkan. Socrates dalam pemikirannya menyatakan bahwa keadilan itu hanya dalam tataran ide. Keadilan tidak dapat dijelaskan secara spesifik, keadilan kadang dipandang sebagai kebaikan individual dan kadang dipandang sebagai kebaikan negara. Keadilan hukum memiliki perbedaaan dengan keadilan atas agama karena keadilan agama secara umum hanyalah kebaikan tetapi apabila keadilan agama yang sebenar-benarnya ditarik dalam pembentukan peraturan perundang-undangan maka keadilan agama memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada keadilan hukum. Keadilan agama hanyalah berlaku bagi subjek hukum yang memiliki keyakinan atas ajaran agama tersebut. Socrates menjelaskan negara sebagai hasil dari keinginan seseorang yang pada akhirnya seseoang tersebut mengumpulkan berbagai orang lainnya yang dikumpulkan dalam suatu tempat – perkumpulan daripada penghuninya inilah yang disebut negara.5 Dari sinilah, suatu keadilan dapat berasal. Keadilan adalah melakukan pekerjaan sendiri, bukan menjadi orang yang selalu ikut campur dengan urusan orang lain maka melakukan pekerjaan atau urusan diri sendiri dengan cara tertentu boleh dianggap sebagai keadilan.

Peneliti menolak keadilan yang dikehendaki oleh Socrates seperti yang tertulis dalam beberapa literatur ilmu hukum umumnya yang memberikan definisi secara tegas yaitu keadilan komutatif (perlakuan kepada seseorang tanpa melihat jasa-jasa yang telah dilakukannya), keadilan distributif (perlakuan kepada seseorang sesuai ajsa-jasa yang telah dilakukannya), keadilan kodrat alam (perlakuan kepada seseoang sesuai hukum alam) dan keadilan konvensional (keadilan yang ditetapkan melalui sebuah kekuasaan

(5)

5

khusus). Keadilan tersebut sering kali disamakan dengan keadilan Aristoteles sedangkan keadilan menurut Socrates tergantung teks yang dituju.

Dalam dialog lainnya, Socrates mengatakan bahwa keadilan adalah seni pencurian akan tetapi demi praktisnya untuk hal yang baik bagi teman dan hal yang buruk bagi lawan. Perhatikan juga karya A Setyo wibowo yang berfokus terhadap kajian Platon, Sokrates mengisahkan tentang pendidikan yang diberikan kepada empat pendidik kerajaan. Dimana masing-masing mewakili keutamaan kebijaksanaan, keadilan, keugaharian dan keberanian. Pendidik yang paling bijak akan mengajarkan tentang pekerjaan seorang raja; pendidik yang paling ugahari akan mendidik anak supaya tidak membiarkan dirinya diperintah oleh jenis kenikmatan apapun supaya ia terbiasa menjadi orang yang lepas bebas dan benar-benar memerintah sebagai raja. Kewajiban mengikuti Kebenaran mengalahkan kehangatan eksklusif pertemanan dua orang.6

Keadilan hukum tidak melihat apa yang menjadi teleologinya melainkan hakikat yang dimilikinya. Di dalam landasan filosofis UU No. 38-2009 menyatakan “bahwa negara menjamin hak setiap warga negara untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945” dan landasan sosiologisnya menyatakan “bahwa pos merupakan sarana komunikasi dan informasi yang mempunyai peran penting dan strategis dalam mendukung pelaksanaan pembangunan, mendukung persatuan dan kesatuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mendukung kegiatan ekonomi, serta meningkatkan hubungan antarbangsa”. Dari konsiderans tersebut, UU No. 38-2009 dirancang agar komunikasi dan perolehan informasi sesuai dengan UUD NRI 1945. Hal ini memiliki

6 Lebih lanjut dalam A Setyo Wibowo, (2015), Platon: Lysis (Tentang Persahabatan), Yogyakarta:

(6)

6

perbedaan dengan landasan filosofis Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU No. 14-2008) yang menyatakan

“bahwa informasi merupakan kebutuhan pokok setiap orang bagi pengembangan

pribadi dan lingkungan sosialnya serta merupakan bagian penting bagi ketahanan

nasional” dan landasan sosiologisnya menyatakan “bahwa hak memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan salah satu ciri penting negara demokratis yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik”.

Mengacu pada Pasal 2 huruf b UU No. 38-2009, asas keadilan diartikan bahwa penyelenggaraan pos memberi kesempatan dan perlakuan yang sama kepada semua pihak dan yang hasil-hasilnya dinikmati oleh masyarakat secara sama dan semua pihak. Keadilan dalam pasal ini, adalah keadilan yang artifisial karena penyelenggaraan pos7 tidak menciptakan keadilan kepada masyarakat secara sama dan semua pihak. Mengacu peraturan pelaksana UU No. 38-2009 yaitu Pasal 10 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2009 Tentang Pos (PP No. 15-2013) termaktub bahwa:

a. Ketersediaan akses layanan adalah keterjangkauan layanan berupa ketersediaan dan ketersebaran titik layanan.

b. Keteraturan layanan adalah keteraturan dan kesinambungan penyediaan layanan dari waktu ke waktu.

c. Kompetensi sumber daya manusia adalah kemampuan (skill and knwoledge) seseorang yang dapat membawa pada kinerja yang lebih baik.

d. Kecepatan dan keandalan adalah ukuran waktu tempuh kiriman yang tiba dengan tepat kepada penerima kiriman.

7

(7)

7

e. Keamanan dan kerahasiaan adalah keutuhan kiriman sampai di tangan penerima dalam kondisi yang baik.

f. Penanganan pengaduan, saran, dan masukan adalah pengelolaan pengaduan untuk memberikan solusi atas pertanyaan, permintaan informasi, dan keluhan jika terjadi penyimpangan pelayanan.

g. Kepuasan pelanggan adalah situasi dan keadaan dimana pelanggan merasakan bahwa kebutuhan dan keinginannya dapat terpenuhi.

h. Tarif layanan adalah biaya yang harus dibayar untuk memperoleh pelayanan.

Dari landasan filosofis UU No. 38-2009 dan hakikat Pasal 10 PP No. 15-2013 maka keduanya tidak memliki kesinkronan.

UU No. 38-2009 tidak menciptakan keadilan tetapi PP No. 15-2013 menciptakan keadilan. Dengan demikian keadilan hukum dalam UU No. 38-2009 belum memiliki kesamaan prinsip dengan teleologi milik Aristoteles yaitu [these four causes are: the material cause, or what a thing is made of; the formal causes, or the arrangement or shape of a thing; the efficient cause, or how a thing is brought into being; and the final cause, or the function or purpose of a thing. And it is this last type of cause, the “final cause” that relates to ethics].8

Pancasila Dalam UU No. 38-2009

Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara maka mewajibkan segala peraturan perundang-undangan di Indonesia mengacu pada pada kelima sila. Di dalam perspektif negara hukum, keadilan hukum dalam Pancasila tidak dapat diartikan secara mutlak karena apabila ada kemutlakan akan menimbulkan ketidakadilan. Pancasila dapat dijadikan dalam tiga landasan yaitu:

(8)

8

a. Landasan epistimologi yaitu Pancasila merupakan sumber pengetahuan yang terdapat dalam diri bangsa Indonesia dan sumber pengetahuan tersebut bersinergi dengan berbagai institusi-institusi yang berada di Indonesia. Institusi-institusi tersebut harus dapat memaknai Pancasila sebagai suatu kebenaran yang utuh dan harmonis.

b. Landasan aksiologis lebih menekankan bahwa Pancasila merupakan nilai kerohanian (kesucian, kebaikan, kebenaran, dan keindahan) dan tidak mengesampingkan nilai materiil serta nilai vital. Nilai materiil sebagai nilai yang bermanfaat bagi jasmani manusia seperti kenikmatan, kesehatan. Nilai vital sebagai nilai yang bermanfaat bagi kegiatan manusia seperti motor, telepon genggam. Nilai kerohanian sebagai nilai yang bermanfaat bagi rohani manusia. Nilai kerohanian diklasifikasikan menjadi nilai kebenaran yang bersumber dari akal, nilai keindahan yang bersumber dari perasaan, nilai kebaikan yang bersumber pada kehendak dan nilai agama yang merupakan nilai kerohanian yang paling tinggi.9

c. Secara ontologis kesatuan sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem bersifat hierarki dan berbentuk piramidal adalah sebagai berikut: bahwa hakikat adanya Tuhan adalah ada karena dirinya sendiri, Tuhan sebagai causa prima. Oleh karena itu segala sesuatu yang ada termasuk manusia ada karena diciptakan Tuhan atau manusia ada sebagai akibat adanya Tuhan (Sila 1). Adapun manusia adalah sebagai subjek pendukung pokok negara, karena negara adalah lembaga kemanusiaan, negara adalah sebagai persekutuan hidup bersama yang anggotanya adalah manusia (Sila 2). Negara adalah sebagai akibat adanya manusia bersatu (Sila 3). Terbentuknya persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Rakyat pada hakikatnya merupakan unsur negara, unsur wilayah dan pemerintah. Rakyat adalah sebagai totalitas individu-individu dalam negara yang bersatu (Sila 4). Keadilan

9

(9)

9

pada hakikatnya merupakan tujuan suatu keadilan dalam hidup bersama atau dengan lain perkataan keadilan sosial (Sila 5) yang pada hakikatnya sebagai tujuan dari lembaga hidup bersama yang disebut negara.10

Selain itu, Pancasila sebagai dasar negara juga pada hakikatnya tercermin dalam berbagai asas, di antaranya:

a. Asas ketuhanan Yang Maha Esa: tercermin dalam tiga bidang ketatanegaraan Indonesia (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif),

b. Asas perikemanusiaan: asas yang mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa,

c. Asas kebangsaan: setiap warga negara mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama,

d. Asas kedaulatan rakyat: menghendaki bahwa setiap tindakan negara harus berdasarkan keinginan rakyat,

e. Asas keadilan sosial: menghendaki bahwa tujuan negara adalah mewujudkan keadilan sosial secara adil dan makmur.

Pancasila sebagai dasar negara juga dimaknai sebagai hukum dasar negara Indonesia yang secara objektif merupakan suatu pandangan hidup, kesadaran, cita-cita hukum dan cita-cita moral yang meliputi suasana kejiwaan serta watak bangsa Indonesia. 11

Bersandar dari pemahaman demikian, Pancasila dalam UU No. 38-2009 hanya tercermin dalam Pasal 15 UU No. 38-2009 yaitu12

1. Pemerintah wajib menjamin terselenggaranya Layanan Pos Universal di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

10

Notonagoro, (1975), Pancasila Secara Ilmiah Populer, Jakarta: Pantjuran Tudjuh, hlm. 52-57.

11

Soekarno, (2006), Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno, Yogyakarta: Media Presindo, hlm. 47.

12

(10)

10

2. Dalam menyelenggarakan Layanan Pos Universal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah menugasi Penyelenggara Pos.

3. Pemerintah memberikan kesempatan yang sama kepada semua Penyelenggara Pos yang memenuhi persyaratan untuk menyelenggarakan Layanan Pos Universal. 4. Penyelenggara Pos wajib memberikan kontribusi dalam pembiayaan Layanan Pos

Universal.

5. Wilayah Layanan Pos Universal yang disubsidi ditetapkan oleh Menteri.

6. Ketentuan lebih lanjut mengenai Layanan Pos Universal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal ini mencerminkan hakikat Pancasila sebenarnya, adanya pertanggungjawaban negara dalam menciptakan layanan pos di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengacu sila kelima Pancasila dimana keadilan adalah hak13 seluruh warga negara dan negara wajib memberikan keadilan tersebut sebagai konsekuensi negara hukum. hal ini juga sejalan dengan negara hukum material (kesejahteraan) yang bertujuan untuk menyelenggarakan kesejahteraan bagi segenap bangsa. Tugas itu diserahkan kepada pemerintah sebagai penyelenggaraan pemerintahan.

13

(11)

11 Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian dari pembahasan penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa keadilan dalam UU No. 38-2009 adalah keadilan yang artifisial karena penyelenggaraan pos tidak menciptakan keadilan kepada masyarakat secara sama dan semua pihak. Sedangkan hakikat Pancasila telah tercermin dalam Pasal 15 UU No. 38-2009. Sebagai saran agar UU No. 38-2009 dapat berjalan lebih optimal lagi yaitu dengan melakukan kerja sama pihak swasta untuk meningkatkan layanan pos universal.

Daftar Pustaka

A Setyo Wibowo, (2015), Platon: Lysis (Tentang Persahabatan), Yogyakarta: Kanisius. A Setyo Wibowo, (2015), Platon: Xarmides (Tentang Keugaharian), Yogyakarta:

Kanisius.

Darji Darmodiharjo dan Sidharta, (1995), Pokok-pokok Filsafat Hukum (Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Digest Epistema „‟Penelitian Hukum: Antara Yang Normatif Dan Empiris‟‟, 2015.

Ditulis oleh Widodo Dwi Putro dan Herlambang P. Wiratraman.

DK London, (2011), The Philosophy Book, London: Dorling Kindersley Limited.

Moh Fadli, (2012), Perkembangan Peraturan Delegasi Di Indonesia, Disertasi, Bandung: Universitas Padjadjaran.

Notonagoro, (1975), Pancasila Secara Ilmiah Populer, Jakarta: Pantjuran Tudjuh. Peter Mahmud Marzuki, (2010), Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana.

Plato, (2002), Republik, Yogyakarta: Bentang Budaya.

Soekarno, (2006), Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno, Yogyakarta: Media Presindo.

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Intervensi utama yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah keletihan pada kasus kelolaan adalah dengan latihan fisik sederhana di ruangan berupa latihan

Menyetujui untuk memberikan Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-Exclusive Royalty-Free Right) kepada Universitas Muhammadiyah Purwokerto atas KTI saya yang berjudul

MEMPREDIKSI LABA MASA DEPAN (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007 – 2009) Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang

Tulisan ini membahas pemanfaatan OSS pengolah data dan statistik yaitu perangkat “R” dalam penelitian agroklimat, mulai dari paket analisis yang tersedia, contoh penelitian

Penambahan IGF-I dan cairan folikel yang berasal dari folikel berdiameter berbeda dapat meningkatkan pematangan oosit, kemampuan fertilisasi dan perkembangan embrio

Untuk itu dosen harus mampu mengelola terkait dengan cara mengajar yang baik dan tepat pada pembelajaran, karena hal ini merupakan tulang punggung keberhasilan proses

Keseluruhan ide karya penulis merupakan hasil pengamatan dan pengalaman pribadi penulis sewaktu masih kecil ketika bermain Dengan bersumber dari aktifitas bermain

20 Selama 1 bulan terakhir, seberapa besar kesehatan fisik atau masalah emosional menghalangi aktivitas sosial anda yang normal bersama keluarga, teman, tetangga atau