Analisis Kasus
Selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate Governance (GCG) kian populer. Tak hanya populer, tetapi istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat. Hal itu, setidaknya terwujud dalam dua keyakinan. Pertama, GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global terutama bagi perusahaan yang telah mampu berkembang sekaligus menjadi terbuka.
Kedua, krisis ekonomi dunia, di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena kegagalan penerapan GCG. Di antaranya, Sistem Regulatory yang payah, Standar Akuntansi dan Audit yang tidak konsisten, praktek perbankan yang lemah, serta pandangan Board of Directors (BOD) yang kurang peduli terhadap hak-hak pemegang saham minoritas.
Praktik bisnis Enron yang menjadikannya bangkrut dan hancur serta berimplikasi negatif bagi banyak pihak merupakan salah satu dampak penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang buruk. Alhasil, Pihak yang dirugikan dari kasus ini tidak hanya investor Enron saja, tetapi terutama karyawan Enron yang menginvestasikan dana pensiunnya dalam saham perusahaan serta investor di pasar modal pada umumnya (social impact). Milyaran dolar kekayaan investor terhapus seketika dengan meluncurnya harga saham berbagai perusahaaan di bursa efek.
Dari kasus tersebut, apabila dikaitkan dengan Good corporate Governance, Enron telah melakukan pelanggaran dalam prinsip-prinsip Good Corporate Governance antaralain :
1. Adanya pelanggaran prinsip Keterbukaan Informasi
Transparansi bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan. Dalam mengetahui keadaan perusahaan sehingga nilai pemegang saham dapat ditingkatkan.
Pada kasus Enron ini terdapat data yang menyebutkan laporan keuangan Enron memiliki laba bersih yang meningkat naik $100 juta dibandingkan periode sebelumnya. CEO Enron, Kenneth Lay, tidak menjelaskan secara rinci tentang pembebanan biaya akuntansi khusus (special accounting charge/expense) sebesar $1 miliar yang sesungguhnya menyebabkan hasil aktual pada periode tersebut menjadi rugi $644 juta. Akibatnya, karena tidak adanya prinsip keterbukaan tersebut, stakeholder tidak dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan transaksi dengan perusahaan sehingga pada akhirnya ketika Enron mengalami kebangkrutan, para stakeholder perusahaan dirugikan karena tidak adanya keterbukaan dan keakuratan informasi.
2. Adanya pelanggaran prinsip Pertanggungjawaban
Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertangungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.
pajak, hubungan industrial, kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya.
Dalam kasus ini, Enron seakan sengaja memberikan dana pensiun yang sebagian besar diinvestasikan dalam bentuk saham. Dan dengan adanya kasus ini harga saham Enron terus menurun sampai hampir tidak ada nilainya, pegawaipun ikut menanggung kerugiannya. Perusahaaan juga kurang memegang teguh kepercayaan masyarakat, perusahaan hanya semata-mata bertanggungjawab pada kepentingan klien dan tidak menitikberatkan pada kepentingan publik.
3. Adanya pelanggaran prinsip kemandirian
Prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
Pada kasus ini, Enron melakukan out sourcing secara total atas fungsi internal audit perusahaan, sehingga dengan mudahnya konflik kepentingan terjadi. Dimana audit yang seharusnya dilakukan dengan professional dan obyektif namun demi keuntungan semata maka audit dilakukan tanpa memfokuskan pada prinsip yang berlaku.
4. Adanya pelanggaran pada prinsip kewajaran
Secara sederhana kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku. Fairness juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal, sistem hukum dan penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor - khususnya pemegang saham minoritas - dari berbagai bentuk kecurangan.
pihak perusahaan. Hal ini termasuk dalam kecurangan yang tidak memberikan perlakuan yang adil pada stakeholder perusahaan, khususnya para pemegang saham di pasar modal.