1
Autobiografi
Karya :
Auliya, Agum, Elmy, Mifta dan Syifa
TIM PENYUSUN
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena atas Rahmat dan Karunia-Nya, maka penulisan buku Autobiografi ini dapat
diselesaikan dengan bentuk dan metode penulisan yang ada saat ini.
Autobiografi ini adalah sebuah karya yang pertama kali dibuat oleh penulis sebagai hasil dari
penugasan Mata Kuliah Psikologi Kognitif di program studi Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya. Dimana buku ini berisi mengenai cerita perjalan penulis yang ditulis secara singkat, naumun isi
buku auobiografi yang singkat tersebut tidak mengurangi bobot isi dan point penting perjalan hidup
penulis.
Untuk itu kepada para pembaca dan dosen
3
tidak segan-segan menyampaikan masukan dan kritik
terhadap karya ini, baik dari segi format, metode penulisan periodisasi serta penampilannya. Karena
kritik dan masukan yang membangun dari pembaca maupun dosen pengampu merupakan sumbangan yang
sangat berarti dan berharga bagi penulis, guna perbaikan dan penyempurnaan penulisan karya tulis
bagi penulis kedepannya.
Kepada semua pihak terutama rekan-rekan
mahasiswa serta dosen pengampu mata kuliah Psikologi Kognitif, penulis sampaikan ucapan terima kasih dan
penghargaan setinggi-tingginya, Karena berkat bimbingan serta petunjukknya, sehingga penulis dapat
menyampaikan penulisan autobiografi ini.
Sekian dan terima kasih,
4
MOTTO
“Menjadikan hidup berguna bagi nusa, bangsa, Negara,
dan agama, khususnya bagi Ibu tercinta”
5
HALAMAN PERSEMBAHAN
Special Thank’s to….,
Orang Tuaku...
Kedua Orang Tuaku Tercinta :
Ayahanda dan ibundaku senantiasa mendampingi, menyayangi, mengasihi yang selalu memberikan
nasehat-nasehat, dukungan, doa, serta pengorbanan yang ayah dan ibu berikan kepadaku, sehingga aku
merasa menjadi seorang anak yang paling beruntung di dunia ini. Suatu hal yang paling berharga yang dpat
aku rasakan dan aku ingin menikmati adalah dapat selalu bersama kalian sampai akhir hidupku. Khususnya
untuk Almarhum Abahku yang sudah duluan ke surga kupersembahkan seluruh amal baikku untuk beliau
6
Mungkin aku belum mampu membalas apa yang telah
ayah dan ibu berikan namun semoga apa yang telah aku raih sekarang dan yang ingin aku genggam nanti dapat
memberikan sedikit kebahagiaan dan kebanggaan dihati ayah ibuku tercinta.
Terima kasih atas semua kasih sayang dan pengorbanan yang telah kalian berikan, dan atas semua
do’a ayah dan ibu disetiap langkah hidupku. Semoga
Allah selalu melindungi kedua orang tuaku.
Buat kakakku tersayang...
Buat kakakku M. Aman Ma’mun
Mas Amun tersayang.. adik cantik mengucapkan terima
kasih banyak atas segala dukungan moril dan do’a
selama adik menempuh pendidikan, serta perhatiannya sehingga adik dapat menyelesaikan biografi ini dan
7
Adik bangga punya kakak sepertimu yang dapat
menjadi motivator dan pendorong buat adik untuk selalu berusaha mencapai keberhasilan... terima
kasih ya kakakku atas semuanya. Aku akan selalu
mendo’akan untuk keberhasilan dalam kelangsungan
hidupmu... semoga Allah selalu dalam setiap
langkahmu.. “dunia aman karena Amun” aamin...
Adikku tersayang....
Buat adikku M. Yasin Syaiful Bisri.
Dek ipul tersayang.. kakak cantik mengucapkan terima kasih banyak atas segala dukungan moril dan do’a
selama kakak menempuh pendidikan, serta perhatiannya sehingga kakak dapat menyelesaikan
biografi ini dan tentunya dalam mewujudkan cita-cita. kakak bangga punya adik sepertimu yang dapat
menjadi motivator dan pendorong buat kakak untuk selalu berusaha mencapai keberhasilan... terima
8
keluh kesah kakak selama ini, terima kasih ya adikku
atas semuanya.
Kakak juga berdo’a mudah-mudahan kamu selalu diberi
kemudahan dalam meraih cita-cita kamu dan harus menjadi yang lebih baik daripada kakak,,, sukses selalu
buatmu dik... go go semangaaat...!!!
Teman dan sahabat tersayang...
Terima kasih untuk semuanya, tanpa adanya bantuan
kalian semua mbak Elmy, mbak Miftah, mbak Syifa’
dan mas Agum buku ini tidak bisa menjadi seperti ini.
Terima kasih sudah ikut berpartisipasi sampai harus
menyita waktu kalian semua.. semoga Allah selalu memberikan kemudahan dalam meraih cita-cita kalian
9
Dosen kami yang terhormat...
Terima kasih kepada para dosen khususnya Ibu Meutia Ananda sebagai dosen pengampu mata kuliah
Psikologi Kognitif, yang telah membimbing dan mengarahkan kami dalam menyelesaikan penulisan
Autobiografi ini. Adapun penulisan Autobiografi ini sebagai persyaratan untuk mengikuti UTS Mata Kuliah
10
M
y
A
d
ve
n
t
ur
e
Assalamulalaikum wr.wb
Saya akan menceritakan kisah singkat hidup saya dari kecil hingga saat ini...
Nama saya Siti Auliyatus Sholawati, biasa
dipanggil Auliya kalau disurabaya ketika didesa maka
saya biasa dipanggil “Tutut”. Saya anak ke dua dari
tiga bersaudara dan saya juga yang paling berbeda
11
rumah karena saya
adalah satu-satunya anak perempuan ibu.
Pada masa neo natal atau ketika
didalam kandungan setiap orang tua pasti mengharapkan anak yang lahir keluar dengan selamat,
demikian juga dengan orangtua saya, beliau sangat menantikan kelahiran saya. Bukan hanya mereka tapi
juga para tetangga ikut berperan aktif terhadap kelahiran saya. Semua antusias menunggu kelahiran
saya.
Tepat pada tanggal 11 Juli 1994 saya dilahirkan
tidak dirumah sakit hanya dirumah dan kelahiran saya memberikan harapan baru bagi orang tua saya, ketika
kelahiran saya kata ibu Abah tidak ikut hadir karena beliau sedang mengikuti lomba hadroh isyhari dan
karena bertepatan dengan itulah makanya nama saya
12
“wes dike’I jeneng iki ae ben mengko nek gede pinter sholawatan” alhasil mulai dari kecil sampai sekarang
ekstrakurikuler yang saya ikuti adalah al-Banjari. So
harapan orang tua saya benar-benar terwujud. ^_^ Setelah memberikan nama yang indah salah
seorang nenek atau bibi dari abah saya kemudian
bertanya “dicelok sopo iki anake? Jenenge kok cek dowone, wes dicelok TUTUT ae ben koyok anak’e pak Suharto, ben koyok mbak Tutut isok pinter lan sukses emben” karena itulah semua warga di kampung
kelahiran saya Jombang memanggil saya “Tutut”. Saya
merasa benar-benar dilahirkan dengan penuh rasa sayang dan cinta mulai dari orang tua sampai seluruh
tetangga di kampung saya, mereka sangat menyayangi saya juga kedua saudara saya dari kecil sampai
13
Pada masa saya masih bayi, saya di asuh oleh
ibu saya sendiri tanpa bantuan seorang nenek karena nenek dari Abah saya sudah meninggal sedangkan
nenek dari ibu saya berada di kampung halamannya yang jauh di
Jambi, meskipun ibu merawat saya
sendirian namun beliau sangat
sayang pada saya karena saya anak perempuan satu – satunya dikeluarga saya. Beranjak pada umur 2 – 3 tahun saya baru bisa berbicara, dan yang lucunya pada saat saya baru bisa
ngomong saya selalu ditanggap atau ditanya yang aneh-aneh oleh tetangga saya, sejak kecil sudah diajari
memanggil ayah dengan sebutan Abah karena beliau sudah haji makanya saya memanggilnya Abah. Karena
14
satu saudara sepupu saya memanggil saya “endel” dan
julukan itu masih terus sampai sekarang lo.. tapi itu kalo di rumah jombang aja sich karena kata
orang-orang aku tu memang anak yang “endel” makanya
orang-orang dikampungku pun ikut-ikutan memanggilku
dengan julukan “endel”.
Tepat pada usia 4 tahun sebuah musibah
mendatangi keluarga saya, mulai dari adik saya yang sakit hernia dan harus dioperasi kemudian disusul
dengan sakitnya Abah, saya tidak tahu pasti ketika kejadian ini namun menurut
tetangga saya ketika Abah sakit itu tubuhnya tiba-tiba
sekujur berwarna kuning dan setelah itu Abah meminta
untuk dibawa kerumah neneknya Abah, dan ketika
15
Abah menurut adat Jawa anak kecil tidak boleh ada
dirumah karena itu akhirnya saya, kakak dan adik saya dibwa keluar rumah, saya dan mas ikut tetangga yang
disebelah barat sedangkan adik diajak tetangga yang ada dibelakang rumah. Seingat saya tepat
kematiannya Abah, saya melihat banyak orang dirumah. Saya pikir ada acara apa waktu itu, saya
bertanya kepada orang – orang “onok opo iki? Kok
rame” setelah itu orang-orang menjawab “gak onok opo-opo” padahal saat itu saya juga meihat orang-orang sedang membuat rangkaian bunga yang biasanya
buat orang meninggal tapi saya pikir itu hanya buat mainan saja sehingga itu tidak membuat ku berfikir
bahwa abah saya telah meninggal dunia dan semenjak kejadian itu setiap kali saya bertanya dimana Abah
maka ibu juga tetangga saya bakalan menjawab
16
Setelah Abah saya telah tiada selanjutnya saya
dan kedua saudara saya dirawat oleh ibu sendirian, karena beliau terhitung masih menjadi ibu muda maka
emosinya masih belum stabil sehingga membuat beliau bersikap otoriter terhadap saya dan kedua saudara
saya, ketika beliau memberikan
perintah A maka harus dijalankan
A tidak boleh B atau C jika
melanggar maka akan mendapatkan hukuman salah satu perintah beliau yang saya masih ingat betul
ketika masih kecil dulu adalah perintah untuk brbahasa krama inggil terhadap mas, adik maupun ibu
17
itu tidak pernah terjadi karena beliau tidak tega
untuk memukul kami bertiga, tapi karena didikan beliau yang keras itulah membuat kami selalu patuh
terhadap perintah entah apapun itu meskipun kadang juga kami sedikit melanggarnya dengan cara apapun
tanpa sepengetahuan beliau, karena jika ketahuan melanggar perintah beliau maka kami akan
mendapatkan hukuman yang setimpal. Oleh karena itu, sejak saat itu hingga sekarang kami bertiga ketika
berbicara selalu terbiasa dengan bahas jawa krama inggil bahkan ketika sedang marahpun kami juga
bakalan memakai bahasa krama inggil karena sudah terbiasa dari kecil, meskipun tidak sempurna seprti
orang-orang jawa asli karena ibu kami pun belum bisa sepehunya berbahasa jawa maklum kelahiran
18
Pada umur 4 tahun pula saya mulai masuk
sekolah RA (Raudhatul Athfal) setingkat TK. Waktu RA saya sangat periang dan selalu aktif dikelas
bahkan menjadi salah satu murid berprestasi, waktu itu saya sangat senang dengan pelajaran menggambar
dan berhitung. Pada masa – masa RA saya sudah mandiri,,artinya berangkat dari rumah ke sekolah
sendiri mengendarai sepeda ontel atau berjalan kaki tanpa diantar orang tua seperti anak – anak lainnya, saya tidak pernah menangis seperti teman – teman yang lainnya.
Bukan hanya itu, saya teringat kisah lucu ketika
masih RA dulu karena dirumah tidak ada yang membantu
untuk merawat adik maka dia di ikut sertakan sekolah RA
19
kelas A dengan kelas B hanya diberi sekat sehingga
membuat adik selalu melihat kearah kelas saya dan mencari saya ketika pelajaran sedang berlangsung dan
pada saat itu saya akan tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan kepadanya kemudian
memerintahkan dia untuk kembali ke kelasnya, adikku satu ini sangat penakut sehingga saya selalu menemani
dia kemanapun dia pergi bahkan ketika izin kepada bu gurunya pun harus saya yang mengijinkannya, sejak
adik saya di ikut sertakan sekolah RA saya menjadi siswa sekaligus pngasuh adik.
Setelah melewati masa – masa RA, saya lanjut ke MI (Madrasah Ibtidaiyah) pada umur kira-kira 5.5
tahun, ketika saya memasuki masa ini adik saya masih berada di RA sehhingga kita harus terpisah rasanya
sangat sedih karena kami terbiasa berangkat bersama dan pulang bersama tapi setelah saya masuk MI kita
20
siang hari sehingga ada tugas baru buat saya yaitu
mengantar adik sekolah RA, dia RA 3 tahun karena dulu awalnya dia hanya ikut-ikutan aja belum umurnya
sudah sekolah jadi diperintah bu guru untuk mengulang RA, ketika itu
saya sangat senang mengantar dan menunggu
adik sekolah, setelah selesai tugas mengantar
sekola, waktunya kembali ke sekolah begitu
seterusnya sampai saya naik kelas dan masuk pagi kembali tidak antar jemput
adik lagi karena saya dan dia kembali menjadi satu sekolahan.
Waktu MI saya sudah bisa membaca, jadi pada saat pelajaran membaca, saya tidak pernah disuruh
21
sangka pada guru saya, saya mengira kalau guru saya
tidak menganggap saya, sampai akhirnya saya tidak mau sekolah lagi. Untungnya itu tidak terjadi, selama
di MI saya selalu menjadi juara kelas dan selalu masuk dalam 3 besar.
Kelas 1 sampai dengan kelas 2 terus mendapatkan peringkat 2, tapi ketika kelas 3
mendapatkan rangking 7 dan membuatku menangis saat pulang sekolah. Hal itu membuat ibu heran apa
yang sedang terjadi kepadaku, lalu ibu bertanya dan akupun menjawabnya sambil menangis kalau rangkingku
7 jadi aku sedih karena tidak bisa mendapatkan rangking 2 atau 1, saat itu juga ibu dan tetanggaku
yang sedang berada di mushalla tertawa terbahak-bahak, kejadian itu membuatku sangat terpukul
22
kok” jawab ibu ketika tidak tega melihatku terus
menangis tersendu-sendu.
Seorang Auliya pernah juga diutus mewakili
lomba-lomba seperti MTQ karena diantara teman-teman saya menurut guru-guru hanya saya yang sudah
lancar bacaan al-Qur’annya padahal posisi saya masih kelas 3 MI sudah hatam al-Qur’an mungkin berkah
do’a orang tua saya, dan karena saya termasuk anak
yang cerewet ketika disekolah maka saya juga pernah
diikut sertakan lomba PILDACIL, ya meskipun hanya jadi juara harapan 2 tapi itu menjadi sebuah
kebanggaan tersendiri. Tidak hanya itu saya juga pernah diikutkan lomba olah raga ketika acara porseni
tingkat kabupaten itu karena saya mudah menghafal gerakan-gerakan yang diajarkan oleh guru kelas dan
mendapatkan juara harapan 2, meskipun tidak bisa membawa pulang piala bergilirnya tapi seenggaknya
23
Bukan hanya iitu, sejak kecil saya dan kedua
saudara saya sudah mulai dididik oleh ibu saya untuk selalu berpuasa senin kamis dan sholat tahajud, ketika
masa itu teman-teman yang lain atau masa-masa dimana anak-anak sedang asyik bermain dan makan
dengan sesuka hati tapi saya tidak bisa makan sesuka hati karena sejak kelas 4 MI sudah mulai belajar
puasa senin kamis.
Masa ini perkembangan kognitifku berbeda
dengan teman-teman yang lain, karena pada masa ini biasanya teman-teman hanya bermain dan
menghabiskan uang saja, tepi saya justru malah berfikir bagaimana memberikan uang untuk ibu saya.
Keinginan kuat itu membuat saya berfikir dan mulai berjualan dengan barang-barang bekas saya
modifikasi dan alhasil teman-teman menyukai lalu membelinya. Hasil dari penjualan itu saya tabung untuk
24
sejak kecil diantara kedua saudara, saya ini yang
paling suka menabung.
Saya teringat Kejadian yang sangat membuat
orang-orang terharu ketika acara wisuda kelas 6 MI ketika dibacakan peringkat atau ranking kelas lagi-lagi
saya menjadi peringkat ke dua dan mendapatkan
predikat “lulus dengan sangat memuaskan”, seketika
itu ibu saya yang sedang bertugas menjadi pengiring sholawat wisuda langsung mengucapkan hamdalah,
sujud syukur dan menangis bahagia, sejak itu pulalah saya mulai berfikir bahwa prestasi menjadi tujuan
utama saya karena saya ingin membuat beliau bahagia. Setelah wisuda pulalah yang benar-benar telah
menyadarkan saya bahwa mempunyai orang tua tidak lengkap bukan berarti suatu kekurangan tapi suatu
keistimewaan bagiku menyamakan dengan nabi Muhammad saw yang terlahir yatim dan itu membuat
25
merawat saya sendirian dengan jerih payahnya
bahagia.
Masa sekolah MI sudah terlewati tibalah
menuju masa MTs, saya bersekolah madrasah yang tetap sama dengan yayasan ketika MI dulu MTs
al-Urwatul Wutsqo Jombang. Pertama kali MOSBA sangat menyenangkan karena disana selain masa
orientasi siswa baru tapi juga menambah banyak
wawasan karena tempat MOSBA nya tidak berada di
sekolah tapi berada di sekolah cabang di
Wonosalam Jombang. Dan ketika MOSBA inilah kejadian yang menurutku
berkesan ketika masa MTs dulu.
Seiring berjalannya waktu masa-masa MTs
lomba-26
lomba seperti MTQ, PILDACIL, sholawat al-banjari
dan lomba mengajar metode QUr’any yang ada di
madrasah saya. Sejak awal masuk saya mulai mengikuti
ekstrakurikuler PMR (palng merah remaja) bahkan sya juga sempat mengikuti lomba PMR madya tingkat
kabupaten dan alhasil dapat juara harapan hehe.. seengaknya termasuk dari salah satu yang menjadi
dilegasi dari sekolahan sehingga memberikan saya pengalaman baru, saya juga pernah mengiuti latihan
gabungan PMR antar sekolahan, karena saya termasuk dari salah satu siswa PMR yang aktif maka saya
ditunjuk untuk menjadi petugas UKS dan ketika sudah kelas VIII saya diperintahkan oleh guru ekskul
menjadi asisten mengajarnya, sehingga sejak kelas VIII saya sudah mulai mengajar PMR bagi adik-adik
yang baru bergabung di ekskul PMR.
Ada yang lucu, ketika saya mulai
memperkenalkan diri kepada adik-adik baru maka saya
27
sholawati bisa kalian panggil mbak imut” hehehe.. PD
banget sich tapi alhasil mereka semua beneran manggil saya mbak imut jadi ketika berjumpa pun mereka akan
menyapa saya dan memanggil saya “mbak imut”. Malu
sich awalnya didepan umum dipanggil dnegan panggilan
itu tapi lama kelamaan, no problem. Panggilan itu masih tetap ada sampai sekarang. Karena dulu waktu MTs
saya sempat mengajar PMR meskipun Cuma sebentar. Ketika MTs kebiasaan saya yang suka
menabung, puasa senin kamis dan sholat tahajud masih terus berjalan kkarena itu adalah kunci sukses saya,
memang sich masih terasa berat apalagi masih seumuuran dimana anak anak seharusnya bermain tapi
saya malah disibukkan dengan kegiatan berpuasa, sholat tahajud dan mengaji di TPQ tiap sore hari.
Kebiasan menabung masih tetap ada jadi kegiatan jual beli saya pun masih tetap berlanjut ketika MTs dan
28
bantah maka hukumannya adalah “tidak dianggap anak
oleh orang tua saya”, nah larangan kerasnya adalah “DILARANG PACARAN” makanya sejak saat itu saya
tidak berani untuk berpacaran meskipun ada teman laki-laki saya yang suka dan nembak saya tapi saya
tolak, eh tapi ada juga yang saya terima sich itupun pacarannya backstreet, orang tua gak tau. Pacarannya hanya ketika kelas 1 MTs saja karena saya takut dimarahin orang tua sekaligus takut kena hukuman
cambuk dipondok jika ketahuan pacaran karena lingkungan sekolah saya berada dipondok meskipun
saya tidak mondok tapi tetap dikenai hukuman itu jika melanggar.
Masa-masa pubertas ini saya juga mempunyai beberapa sahabat dekat saya, seperti biasa salah satu
ciri khas dari masa ini adalah mempunyai geng atau kelompok khusus, nah saya juga mempunyai geng
29
sukai yaitu el-kasih, candy, @lfa dan threela. Itu
nama-nama yang kami sukai lalu kami gabungkan menjadi satu, walapun sebenarnya itu bukan nama asli
kita. Dimanapun dan kapanpun selalu berempat dan geng kami mempunyai semboyan yang cukup unik yakni
“manfaatkan kaca dengan sebaik-baiknya” hahhaa...
yah, itu sedikit
nyleneh tapi itu hal lumrah bagi
wanita karena semboyan itulah
jadi ketika kami melewati ada kaca, entah kaca mobil kaca jendela,
atau kaca spion kami akan menyempatkan waktu berhenti sejenak untuk berkaca. Dan itu masih kami
lakukan sampai sekarang ketika kami sedang berkumpul-kumpul. Bukan hanya bermain-main dan
30
yang akan kami wujudkan nanti ketika kami telah lulus
SMA saya dulu akan rencananya ingin melanjutkan kuliah di STIKIP PGRI Jombang jurusan Pendidikan
bahasa Inggris bersama @lfa disambi dengan bekerja karena kampus swasta, sedangkan candy akan
melanjutkan kuliah di STIT UW jurusan PAI, dan threela rencananya akan melanjutkan kuliah di
STIKES Jombang kebidanan. Saat itu semangat kita masih menggebu-gebu dan berharap benar-benar
terwujud tapi semuanya sirna ketika kami harus terpisahkan oleh program Axelerasi.
Prestasi-prestasi saya tetap bertahan selama tiga besar dan menjadi siswa yang paling aktif ketika
dikelas akhirnya saya dinobatkan menjadi siswa
Axelerasi, menjadi siswa dari golongan pertama percobaan sekolah 2 tahun bukanlah kebanggan bagi saya karena keinginan saya adalah menjadi anak yangg
31
program ini adalah karena saya menginginkan untuk
pindah sekolah ketika sudah MA nanti, sedangkan siswa-siswi yang lulusan axelerasi tidak diperbolehkan untuk pindah sekolah sehingga harus melanjutkan MA di yayasan tersebut karena itulah saya sangat tidak
mensetujui program tersebut, bahkan karena program
Axelerasi prestasi-prestasi saya mulai menurun, wali kelas saya pun terkejut karena peringkat saya menurun drastis yang dulunya selalu mendapatkan
peringkat 2 tiba-tiba setelah mengikuti program
Axelerasi menjadi peringkat 8 meskipun masih tetap masuk dalam 10 besar, namun itu menjadi pertimbangan bagi guru-guru yang mengajar. Mereka
khawatir akan membebankan saya program tersebut namun karena nama saya sudah terlanjur masuk dalam
daftar nama siswa yang mengikuti ujian nasional maka sayapun tetap diharuskan mengikuti program tersebut
32
Banyak teman-teman satu kelas saya yang tidak
terdaftar ikut program ini mereka memusuhi saya dan kakak kelas pun juga tidak seberapa suka dengan
anak-anak Axelerasi. Ketika masa-masa dilema itu orang tua saya tidak pernah tau bagaimana
penderitaan saya sehingga membuat beliau tetap memaksa saya untuk melanjutkan program tersebut,
saya tidak pernah berani menceritakannya karena saya tidak ingin mengecewakannya, beliau justru sangat
mendambakan saya untuk mengikuti program tersebut, oleh karena itu ikuutlah saya dalam program tersebut.
Namun, Karena semua permasalahn itu lah nilai-nilai saya merosot bahkan efeknyapun sampai lulus
MTs danem saya benar-benar tidak bisa dipercaya karena menjadi danem yang termasuk kecil terhitung
peringkat ketiga dari bawah, benar-benar membuat para guru kecewa, tapi mereka tidak bisa berlaku
33
bahwa mengikuti program tersebut tidak boleh ada
paksaan karena takut nantinya akan menjadi seperti saya “depresi”. Tapi itu tidak terjadi pada siswa-siswa selanjutnya sehingga pada kelompok berikutnya masih tetap ada program axelerasi sampai sekarang.
Pada saat kelas 3 MTs saya agak bingung untuk melanjutkan ke sekolah mana yang seharusnya saya
pilih, saya ingin beda dari yang lainnya. Saya ingin pindah sekolah tapi karena saya termasuk anak
Axelerasi saya tidak bisa pindah ke sekolahan lain karena sekolah-sekolah lainnya belum ada program
Axelerasi jadi jika saya pindah ke sekolahan lain ada dua kemungkinan yang pertama saya akan disuruh
34
Dengan terpaksa akhirnya saya memutuskan
untuk sekolah ditempat yang sama MA Al-Urwatul Wutsqo yang berbasis pesantren yang terletak di
Bulurejo Diwek Jombang, disini saya sangat
mendapatkan pelajaran dan pendidikan, terutama
pendidikan tentang kehidupan yang belum tentu dirasakan
oleh anak MA lainnya, karena disini kehidupannya selalu dipadukan dengan al-Qur’an langsung bahkan pelajaran umumnya hanya sedikit
yang dipentingkan adalah program Qur’anynya, namun
35
karena susah senang kami selalu bersama. Itulah yang
saya rasakan selama 3 tahun. Yang paling berkesan ketika bersama teman-teman Madrasah Aliyah adalah
dimana ketika bersama-sama gotong royong
menjadikan perpisahan kami yang paling baik diantara alumni-alumni sebelumnya dan alhasil kerja keras kami
terbayarkan dengan acara haflah akhirussanah besar-besaran yang mana alumni sebelumnya belum pernah mengadakan haflah akhirussanah sebesar acara pada
36
sampai yang menyewakan semuanya mulai dari
peralatan wisuda, sonsystem sampai terop semuanya kami sendiri yang mengatur sedangkan sekolah hanya
tinggal jadi, itu semua menjadi kebanggan tersendiri bagi alumni kelompok kami dan itu juga sangat
berkesan bagi saya karena saya juga ikut bekerja keras dalam hal ini.
Waktu SMA kebiasaan kecil masih tetap ada suka menabung, puasa senin kamis dan sholat tahajud.
Karena sudah menjadi kebiasaan maka ketika ditinggalkan akan terasa janggal. Karena suka
menabung, suatu hari ada yang menawari pekerjaan sebagai penjaga toko, saya pikir saya mau saja karena
saya ingin membantu biaya keluarga saya. Sejak MI sampai dengan MA biaya sekolah sudah dibantu oleh
panti asuhan di Jombang, sedangkan biaya buku dan lain-lainnya tetap dibiayai ibu, makanya saya ingin
37
Awalnya ibu tidak mengetahuinya tapi setelah lama
kelamaan ketahuan ibu dan saya dimarahi akhirnya pekerjaan saya dibantu oleh ibu, jadi kami bekerja
berdua ditempat yang sama menjadi penjaga toko (pramuniaga). Untuk saya tidak bertahan lama karena
harus PPL disekolah dan diwajibkan untuk mondok, ibu yang melanjutkan itupun juga hanya berlangsung
sekitar 3 bulan, beliau sebenarnya masih ingin bekerja namun karena kondisinya tidak membuat
beliau nyaman akhirnya beliau putuskan untuk berhenti, alasan beliau berhenti adalah karena beliau
tidak bisa sholat tepat waktu dan berjamaah, padahal musholla ada didepan toko tapi tidak diperbolehkan
untuk ikut sholat berjama’ah karena pemilik took
takut nanti kalo ada pembeli tidak ada yang melayani,
selain itu ibu juga diperintahkan untuk memakai celana, sedangkan ibu tidak suka memakai celana.
38
membantu orang tua saya untuk bekerja di saawah,
39
Sebelum ujian nasional ada sebuah kejadian
dimana saya sedikit tidak menyukainya karena waktu itu ibu saya menikah dengan ayah baru, beliau baru
menikah ketika saya berusia MA
ini karena beliau merasa bahwa
anak-anaknya sudah dewasa
jadi takut suatu hari nanti akan ditinggal sendirian dirumah makanya mencari pasangan hidup supaya tidak
sendiriian, juga sekaligus membantu ibu, ayah baru saya bukan orang asing untuk ibu juga mas saya Karena
ayah baru saya adalah gurunya ibu waktu MA dan gurunya mas waktu MTS. Jadi saya dan adik masih
butuh waktu yang sangat lama untuk beradaptasi dengan beliau. Tapi untungnya sekarang (setelah
40
hidup bersama dengn beliau, karena beliau juga orang
yang hebat, baik dan saying terhadap keluarganya. Terhitung beliau bisa menjadi sosok ayah yang sudah
lama saya tidak pernah melihat bahkan hidup bersama seorang ayah.
Setelah dipenghujung masa MA saya ingin sekali
kuliah dengan jurusan IPA, karena itu merupakan jurusan
di sekolah saya, selain itu juga saya ingin menjadi seorang
guru IPA. Tetapi disamping itu juga saya ingin kuliah dengan
jurusan Psikologi, karena saya merasa asyik dengan pelajaran Psikologi yang ada disekolah saya. Tapi,
karena minat saya lebih dominan ke mata pelajaran biologi, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil
41
tua saya menginginkan saya kuliah ditempat yang bisa
menjadikan anaknya menjadi guru. Walaupun orang tua saya tidak menuntut harus mengambil jurusan itu,
artinya orang tua saya memberi kebebasan pada saya. Sebenarnya saya juga ingin daftar di UNAIR atau
UNESA yang ada jurusan SAINS nya tetapi orang tua saya kurang setuju dengan itu, dan saya pun
menurutinya. Meskipun ibu tidak menyetujui tapi saya masih tetap berusaha untuk daftar ke kampus
tersebut berulang kali mencoba daftar mulai dari ikut Bidikmisi sampai SNMPTN semuanya gagal, Pada
akhirnya pun saya putuskan untuk mau kuliah di IAIN Sunan Ampel Sby meskipun dengan berat hati karena
saya bosan dari RA sampai MA selalu sekolah di tempat yang berbasis agama dan alhasil setelah
mengikuti seleksi SPMB gelombang kedua ternyata gagal juga akhirnya berhentilah dulu selama satu
42
Karena saya bertekat ingin kuliah yang jauh
dari rumah maka selama proses menunggu itupun saya tetap berada di Surabaya, tinggal di sebuah lembaga
yang mana disana saya dijanjikan akan dibiayai full mulai uang kuliah sampai uang saku dan segala
keperluannya. Karena saya juga membutuhkan biaya maka saya terima untuk tinggal di lembaga tersebut
yakni di lembaga penyantun anak yatim Dukuh Pakis Surabaya, selama proses menunggu satu tahun, yang
saya lakukan di lembaga itu adalah mengajar ngaji prifat, ngajar di LBB milik lembaga, menghafal
al-Qur’an meskipun belum sampai hatam dan antar
jemput adik-adik SMP / SMA yang tinggal di lembaga
tersebut.
Kegiatan itulah yang saya lakukan selama
proses menunggu satu tahuun. Setelah lama menunggu tibalah watunya pembukaan daftar mahasiswa baru
43
berharap semoga Allah memberikan yang terbaik
untuk saya. dengan memilih tiga jurusan, yang pertama Psikologi, KI (kependidikan Islam), dan PBA
(pendidikan bahasa arab). Setelah sekian lama menunggu akhirnya Alhamdulillah saya keterima
dengan pilihan jurusan psikologi.
Sebelum saya masuk dikampus UINSA saya
mempunyai rencana dulu jika jadi tinggal di Surabaya maka orang tua saya ingin saya tinggal ditempat yang
masih kenttal dengan islami, seperti sekarang saya tinggal di Panti Asuhan yang berbasis Pesantren dan
kuliah saya pun dibiayai dari Panti Asuhan ini. Karena ini juga yang menjadikan motivasi saya untuk bisa
44
Sampai sekarang saya masih tetap tinggal di
Asrama LPAY dukuh pakis, saya kira tidak terlalu penting menceritakan kejadian yang ada di asrama
LPAY karena selama tinggal disana untuk beberapa waktu membuat saya ingin pulang dan berhenti kuliah,
oleh karena itu saya enggan menceritakan kisah hidup di panti asuhan yang penuh dengan kekerasan dan
menguras emosi, tapi itu hanya berlangsung kurang lebih selama tiga tahun selama saya tinggal disana.
Dan untuk tahun ini atau akhir -
akhir ini sudah mulai membaik.
Seenggaknya bisa menjadi
pengalaman yang paling berarti bagi saya untuk diceritakan pada anak
45
derajat menjadi orang yang lebih baik dan bisa
toleransi atas segala sesuatu tidak seperti dahulu yang sangat mudah marah, dan sulit untuk toleransi.
Sekarang keterbalikannya, mulai bisa membuat saya krasan untuk tingggal sedikit lama di asrama.
Kegiatan-kegiatan di asrama LPAY yang saya lakukan setiap hari mulai dari setelah shubuh ngajar
ngaji ibu-ibu, nganter sekolah adik lembaga yang sekolah di MTs, nganter catering bantuan dari dinas
social bagi adik-adik panti asuhan, pergi ke kampus, sorenya ngajar ngaji adik-adik TPQ dan malamnya
terkadang ngajar privat pelajaran umum kadang juga privat ngaji lagi, semua yang dilakukan di lembaga
tidak jauh-jauh dari yang namanya ngaji dan ngajar ngaji. Mengamalkan imu psikologinya pada adik-adik
TPQ, ibu-ibu pengajian shubuh sampai adik-adik yang tinggal di lembaga. Semoga dengan begitu bisa
46
Lucunya adik-adik TPQ itu selalu memanggilku
“mbak cantik”, betapa tersanjungnya aku tapi tidak
apalah sedikit penghibur buatku, satu lagi saya
dinobatkan oleh adik-adik TPQ menjadi “ustadzah
cantik terlucu” diantara ustadzah-ustadzah yang
lainnya. Saya menjadi kepala
TPQ Syifaul Qolbi sebuah
tanggung jawab baru sekaligus
tanggung jawab besar untuk menjadikan dan mencetak penerus bangsa
yang berakhlak qur’any, yang menunjuk saya menjadi
kepala adalah didasarkan dari pertimbangan
ustadzah-ustadzah yang lainnya dikarenakan saya pernah mengajar TPQ sebelumnya dirumah Jombang.
47
membuat saya semakin memperkuat diri sampai sekuat
baja untuk memperjuangkan cita-cita yang sudah hampir saya gapai didepan mata, aamiin... pernah
terbesit didalam diri ingin menjadi seorang dosen nantinya ketika sudah lulus dan
meneruskan S2 sesuai dengan jurusan Psikologi Pendidikan,
namun disatu sisi orang tua sangat mengharapkan salah satu
anaknya ada yang menjadi penghafal al-Qur’an karena hampir semua saudara ibu yang ada di Jambi Sumatera selatan menjadi penghafal al-Qur’an, namun kenyataannya sekarang dari ketiga anaknya belum ada yang menunjukkan harapannya ibu tersebut. Karena
itulah cita-cita saya ganti menjadi seorang psikolog yang hafidhoh, aamiin..
48
pesantren yang berbasis hafalan al-Qur’an setelah
wisuda tahfidzul qur’an sambil mengajarkan al-qur’an
melanjutkan S2 pendidikan karena ibu mengharapkan
saya menjadi seorang guru, jadi saya nantinya akan menjadi seorang guru penghafal al-Qur’an... aamiin...
Eeeiiits.. nikahnya kapaaan???? Nikahnya nanti setelah jodohnya sudah dihadirkan oleh Allah SWT,
saya tidak berani merencanakan hal yang satu ini karena tentang ini saya serahkan saja sama Allah swt
karena saya yakin semakin saya memperbaiki diri maka Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya.
49
Yang tak bisa dia lupakan ketika rambutnya
yang panjang harus dipotong karena ada luka dikepalanya dan itu berulang sampai 3 kali dan karena
itu membuat dia harus memakai kerudung kesekolah. Ketika TK juga dia harus bersekolah bersama adeknya
walau selisih 2 tahun tapi adeknya sudah mengikuti sekolah TK A, ketika pelajaran dia bersama adeknya
suka mengintip untuk melihat keadaan masing masing di kelas nya masing-masing.
Pelangi
50
Masuk SD dia merasa beda dengan
teman-teman nya karena dia baru sadar kalau dia hanya punya seorang ibu yang selalu ada buat dia. Ayah nya telah
meninggal saat usianya baru 4 tahun, tetapi itu semua tak lantas membuat dia jadi anak yang murung. Di
sekolah dasar dia selalu masuk 3 besar dalam kelasnya dan dia selalu diikutkan untuk semua kegiatan sekolah
seperti ada kegiatan menari, menyanyi dan yang lain. Dan yang berkesan yang lain nya saat perpisahan kelas
6 karena sang ibunda yang mengiri sholawat saat anak anak maju kedepan untuk disematkan kalung oleh
kepala sekolah.
Saat masuk MTs yang paling berkesan ketika
dia megikuti MOS dia sangat senang karena MOS dilakukan diluar sekolahnya dan Masa Orientasi itu
anak MTs digabung dengan anak MA. Yang tak terlupa saat itu ternyata ada beberapa anak yang meyatakan
51
karena dia tidak terbiasa akrab dengan anak laki-laki
tetapi ia tetap menikmati perjalanan MOS itu. Masuk kekelas 2 semster 2 mulailah masa yang membuat
auliya gelisah. Pada waktu itu sekolahnya mengadakan kelas percobaan buat anak axelerasi dan auliya
termasuk anak yang terpilih untuk megikuti sekolah tersebut. Disini adalah masa dimana dia harus
benar-benar berkerja keras karena dia harus megikuti peljaran kelas 3, kelas 2 serta ada pelajaran
tambahan yang wajib dia ikuti. Banyak halangan saat itu apalagi tentang kemcemburan anak anak lain pada
dirinya yang membuat beljarnya jadi tak nyaman tetapi dia dan teman-teman nya yang berjumlah 10
orang itu mampu membuktikan bahwa mereka mampu lulus dengan baik walau harus sering berpindah kelas
dan tak punya banyak teman.
Setelah lulus dari MTs auliya memasuki MA,
52
disiang hari karena orang tuanya dan dia khawatir
kalau dia harus megikuti ujian negara kembali untuk tahun itu. Dan itu hanya berjalan selama 6 hari karena
kondisi fisik yang tidak mendukung.
Memasuki kelas 2 MA dia baru mengikuti MOS
MA karena waktu kelas 1 dia harus bersekolah didua sekolah. pengalaman saat orientasi MA yang mungkin
sngat berkesan baginya. Lagi-lagi MOS diadakan diluar sekolah, mereka berangkat ketempat camping dengan
menggunakan bus. Waktu itu auliya duduk dibagian paling belakang pojok dekat jendela. Pada hari itu
adalah bertepatan hari ulang tahun auliya tidak disadari ada kado yang disalur-salurkan ke
teman-teman nya dari depan kearah belakang. Auliya sangat kaget menerima kado itu saat dibuka ternyata isinya
berbagai macam jajanan coklat dia sangat senang karena coklat adalah kesukaan nya. didalam kado
tersebut ternyata terdapat sebuah surat atas nama
53
MOS pada MA ini sangat berkesan lagi kerana
ada seseorang yang dia suka. Walau dia juga merasa kesal karena harus kena jebakan sang panitia yang
membuatnya harus rela berbasah-basahan, kediginan dan kena hukuman. Hukuman nya adalah dia harus
membersihkan semua sisa-sisa yang ada ditempat MOS sebelum kembali ketenda, dia pun senang
melakukan nya karena ada seseorang yang ia suka juga ikut membersihkan. Dan menjadikan auliya pulang
paling akhir bersamanya. Kembali ke tenda dan waktunya istirahat malam, karena auliya lupa membawa
selimut untuk tidur dia harus mau kedinginan akan tetapi waktu bangun dari tidur dia terkaget karena
ada sebuah sarung yang sudah menyelimutinya.
Kegiatan MOS berjalan lalu ada panitia yang
bertanya kepada auliya, “auliya kamu terasa tidak ada yang menyelimuti kamu?
54
“aku yang nyelimutin tapi sarungnya dari mas
bla..bla..bla..?
“ masak mbk?
dengan semua itu auliya sangat merasa senang dia merasa diperhatikan dan itu semua yang tak bisa ia
lupakan sampai sekarang tentang MOS MA.
Kelas 2 MA semester 2 auliya mencoba
peruntungan kembali untuk mendaftar kelas axelerasi namun Alloh berkehendak lain. Dia belum bisa
mengikuti kelas axelerasi pada waktu itu. Dan masa MA ini ia habiskan seperti anak MA yang lain selama 3
tahun. Masa MA yang penuh cerita karena auliya adalah termasuk anak yang cantik, pintar dan aktif
membuat banyak cowok yang mencoba merebut perhatian nya.
Pengalaman lain yang tak kalah menyenangkan pada tahun kelas akhir seangkatan nya itulah pertama
55
membuat proposal sendiri untuk mendanai wisuda
disekolah tersebut dan semua terlaksana dengan lancar membuat mereka semua bangga menjadi
pelopor diadakan nya wisuda kelas akhir.
Pengalaman yang terkesan saat masa kuliah
baginya adalah waktu semester 4 dia mengikuti seleksi penelitian dan keterima. Pengalaman lain nya disaat
acara kesehatan klinik milik UINSA surabaya auliya diminta khusus oleh ibu Asyiah untuk Qiro’ah, dan itu semua membuat auliya sangat bangga karena ini adalah
kali pertama ia memamerkan keahlian qiro’ah yang dia
56
Akhir-akhir ini Auliya ada pikiran-pikiran yang membuat dia merasa senang, namun juga ada hal yang
membuat dia bingung, hal yang membuat dia senang adalah ketika sekarang dia sudah mulai diterima
dilingkungan panti nya, terutama bunda panti, yang sebelumnya tidak mau mendekati nya karena dulu ada suatu hal karena sebuah perkara, sekarang beliau
sudah mau mempercayai nya dan mau memberikan
tugas buat dia tentang hal-hal yang terkait dengan kegiatan panti.
Blink**
57
Selain itu ada hal lain yang juga akhir-akhir ini
membuat Auliya senang, karena tahun ini adik nya akan kuliah juga di Surabaya, jadi itu membuat dia senang,
karena akan lebih sering bertemu dengan adik nya dan pasti ibu nya juga akan sering-sering jenguk kami di
Surabaya, namun yang membuat dia bingung adalah masalah biaya kuliah adik nya, karena dia tidak bisa
bantu dalam masalah pembiayaan, tapi ternyata orang tua nya sudah menyiapkan biaya untuk itu.
Ada hal lain juga membuat dia kesal, yaitu kepada teman panti nya, meskipun dulu mereka pernah
berteman baik dengan, namun lama kelamaan mereka mulai berjauhan, karena sikap yang berlebihan dalam
menyikapi berbagai hal ‘alay’. Itulah kenapa dia menghindar dan sering marah pada nya. Jadi sampai
saat ini mereka sudah tidak lagi berteman baik, tiap kali beraktivitas bersama, pasti selalu saling
58
tiap kali bunda panti selalu menyuruh temannya untuk
melakukan apapun, namun perasaan itu dia tepis karena akhir-akhir ini bunda sudah mulai terbuka dan
lebih menerima auliya kembali.
Meskipun saat ini Auliya sudah merasa nyaman
di panti, namun dulu awalnya sangat berat untuk meninggalkan rumah yang berada di Jombang dan
pergi jauh dari orang tua, karena dari kecil tidak pernah hidup jauh dari orang tua dan keluarganya,
meskipun dulu saat MA sempat mondok, namun karena pondoknya yang dekat dari rumah, jadi sering sekali
pulang ke rumah. Kemudian suatu saat setelahlulus dari MA tahun 2011, bibik atau tante nya menyarankan
untuk pergi ke Surabaya untuk tinggal di Panti dan akan di kuliahkan nantinya dari panti itu, beliau bilang
59
dia baru mau memutuskan untuk pergi ke Surabaya
dan tinggal di salah satu paondok yatim di Surabaya.
Setelah lulus dari MA di Jombang awalnya
memang menyenangkan, namun lama kelamaan muncul berbagai masalah disana, mulai dari masalah dengan
bunda pantinya, dengan teman-teman di panti, dan dengan diri nya sendiri. Namun, dengan berjalannya
waktu dia mulai bisa mengatasi hal-hal tersebut. Semua hal tersebut terjadi selama 4 tahun ini, susah
senang dis alami di panti itu bersama pengurus panti dan teman-teman panti.
Selain itu, sebenarnya ada juga hal lain yang menjadikan alasan mengapa dia juga lebih mantap
untuk memilih pergi ke Surabaya dari pada harus menentap di Jombang, yaitu karena waktu itu dia
sedang menyukai seorang laki-laki di Jombang, namun laki-laki itu akan menikah, jadi kemudian dia memilih
60
hati. Itulah mengapa dia menjadi lebih mantap untuk
tetap pergi dari Jombang dan mencari lingkungan baru Surabaya.
Orang tua adalah segalanya bagi dia, terutama ibu, beliau adalah satu-satunya orang tua kandung nya
yang masih hidup, apa lagi dia adalah anak perempuan satu-satunya, jadi dia selalu dilindungi oleh
orang-orang yang sayang kepada nya, seperti ibu, kakak, dan adik nya yang kedua saudaranya juga adalah laki-laki.
Tak banyak seorang yang tau banyak tentang diri nya, mungkin hanya orang-orang tertentu saja
yang dia percayai untuk membawa rahasia pribadi nya, seperti sahabat. Sebenarnya diri nya bukan orang
yang sempurna seperti yang teman-teman dan orang lain pikirkan, yang mereka sebut Auliya ini perempuan
yang alim, hanya tau masalah agama, dan jauh dari masalah percintaan. Namun itu salah jika menurut nya,
61
seseorang, bohong sekali jika dia juga tidak pernah
merasakan indahnya cinta. Karena dia pun pernah menjalin suatu hubungan dengan laki-laki ‘pacaran’ namun itu yang pertama dan terakhir sampai saat ini, dan itu terjadi sudah beberapa tahun yang lalu, yaitu
saat masih duduk dibangku MTs kelas VII dulu.
Pacaran adalah hal yang tabuh dalam keluarga
nya, terutama dalam pikiran ibu, beliau pernah sampai mengancam jika dia sampai pacaran, beliau tidak akan
mengakui sebagai anak beliau. Selain itu juga karena peraturan pondok yang menerapkan bahwasanya
pacaran itu diharamkan di pondok.
Dulu saat dia masih MI sampai dengan MTs,
juga sama seperti perempuan-perempuan lain yang bisa bermain dan berbicara dengan siapa saja, baik
dengan laki-laki maupun perempuan. Hingga suatu saat ketika dia sudah duduk di bangku MTs, dia mengenal
62
terhadap nya, kemudian pada akhirnya mereka
memutuskan untuk pacaran, namun itu tidak lama, karena ada ustadzah di pondok nya yang mengetahui
bahwa dia dan laki-laki itu pacaran, kemudian mereka akhirnya memilih untuk putus.
Meskipun itu jadi pertama dan terakhirnya Auliya pacaran, namun dia juga sempat dekat dengan
beberapa laki-laki, meskipun tidak sampai pacaran hanya sebatas teman dan tidak lebih, dan saat ini pun
dia juga sedang menjalin sebuah hubungan tanpa status dan membuat perjanjian dengan seorang
laki-laki, namun dia mendengar kabar bahwa laki-laki itu juga akan menikah, meskipun begitu hati nya selalu
meyakinkan dan tetap bertahan dengan perasaan itu, sebab itu menjadi sebuah penguat bagi diri nya dan
menjaga hati nya agar tidak lagi memiliki perasaan lagi kepada laki-laki lain, dan agar dia tidak asyik dengan
63
untuk tetap pada perasaan itu agar dia tidak lagi
memikirkan tentang perasaan dan bisa focus dengan kuliah dan ngaji saat ini.
Namun, tidak dapat dipungkiri jika suatu saat pasti akan membuka hati nya kembali jika dia mau dan
juga telah menemukan yang pas dengan hati serta pas juga dengan waktu dan kondisinya, karena dia masih
takut dengan laki-laki sampai saat ini, mungkin karena cerita-cerita yang dia dapat dari ustadz dan ustadzah
yang pernah mengajar dia dipondok. Yang mana mereka pernah bilang bahwa masa kuliah itu sudah
tidak lagi mengenal pacaran, tapi sudah serius untuk menikah. Karena dia masih belum ingin menikah, jadi
dia memutuskan untuk tetap seperti ini, menjaga jarak dengan laki-laki, sampai suatu saat dia akan
menemukan yang pas dan dalam waktu yang tepat.
Selain itu karena dia sudah mengkonsep diri
64
menuntut ilmu saja, jadi dia belum ada keinginan untuk
pacaran atau mengenal laki-laki lebih dalam lagi. Yaitu dengan cara mengunci perasaan nya, agar dia tidak lagi
ribut dengan laki-laki lain dan ribut dengan perasaan nya. Dan Auliya tetap mencoba menjaga prinsip ibu nya
65
(sebuah kesan dari beberapa orang yang telah mengenal sosok Auliya)
Siti Auliyatus Sholawati adalah nama
lengkapnya. Namun kebanyakan teman-temannya memanggilnya dengan Aul ada juga yang memanggil
Yuk ul. Aul dikenal sebagai anak yang baik, suka membantu temannya kalau kesusahan. Dia juga
seorang anak yang terlihat ceria diantara teman-teman yang lain. Meskipun sebenarnya dibalik
66
wajahnya yang ceria, sebenarnya dia menyimpan
banyak tekanan atau permasalahan yang sedang dia pikirkan tapi dia sangat pandai untuk menutupi
perasaan itu kepada orang lain.
Aul juga termasuk salah satu mahasiswa yang
aktif di dalam kelasnya. Dia anak yang pintar tapi terkadang sedikit bermasalah dengan waktu, bisa
dibilang dia anaknya kurang disiplin kalau masuk kelas kadang telat dan kalau masuk kelas pun dia juga
kadang mengantuk. Kalau sedang mengantuk dia sering berbuat iseng ke teman yang duduk di dekatnya.
Kadang jailin temannya, entah tiba-tiba mencolek, menggelitik temannya dan melakukan aksi-aksi jailnya
untuk menghilangkan rasa kantuknya. Terkadang temannya yang sedang asyik memperhatikan pelajaran
67
Hijau adalah warna kesukaannya Aul. Kalau
sudah lihat warna hijau dia selalu heboh sendiri. Benda apapun milik temannya yang berwarna hijau selalu dia
pengen dan dimintanya. Sehingga teman-temannya sering menggodanya dengan memamerkan benda warna
hijau kepadanya. Kalau dia sudah liat benda warna hijau kelas jadi rame karena ulahnya yang membuat
kelas jadi heboh seperti pasar pindah.
Selain pintar dia juga dikenal seorang anak
yang sholehah, dia pintar mengaji dan rajin beribadah.
Kalau qira’ah suaranya merdu sekali dan membuat hati
yang mendengarkan menjadi tenang. Di sela-sela waktu kosong dia selalu menyempatkan diri untuk membaca
Al-Qur’an. Setiap hari di dalam tasnya selain berisi buku kuliah dia juga membawa sebuah Al-Qur’an yang berukuran sedang untuk dibaca di kala waktu luangnya. Subhanallah apa yang dia lakukan tersebut patut di
68
proses untuk menjadi seorang hafidzah yang mungkin
tidak mudah kita lakukan. Dia terlihat begitu menjaga istiqhomahnya tersebut.
Ciri khas dari Aul adalah dia orangnya cerewet dan sering alay atau berlebihan bicaranya.
Kalau bicara dengan seseorang selalu alay dan cerewet banget. Sampai-sampai lawan bicaranya heran melihat
bicaranya yang suka alay. Kalau sudah bercerita itu pasti panjang sekali dan tidak mau kalau dipotong
ceritanya. Cara bercerita juga diekspresikan dengan gerakan-gerakan. Kalau dia bercerita sedih dia juga
memasang wajah-wajah sedih, tapi terlihat jadi sok imut banget. Begitu pula kalau cerita yang
menyenangkan pasti dia langsung tertawa-tertawa sendiri sampai lupa inti dari apa yang akan dia
ceritakan. Karena bicaranya yang suka alay dan cerewet sekali itu menjadi ciri khas dari seorang
69
dengan ciri khasnya, tetapi teman-teman sudah
memaklumi ciri khasnya itu.
Aul juga dikenal sebagai seorang yang pekerja
keras atas tugas-tugas kuliah yang dia dapatkan maupun bekerja membantu ibu pantinya dalam
menjalankan bisnis catering. Dia jarang ada waktu untuk bersantai dengan teman-temannya sekedar
jalan-jalan pun dia tak mau. Karena dia merasa mempunyai tanggung jawab yang harus dia selesaikan
di pantinya. Entah itu membantu ibu pantinya atau membantu temannya yang di panti.
Di kala waktu dia terlihat kalem, cantik dan imut tapi kalau ciri khasnya sudah keluar maka banyak
yang bilang “nggak jadi cantik, nggak jadi imut kalau udah cerewet dan alay gini, hehehe”. Kata-kata itu
yang sering teman ucapkan ke dia. Kalau teman-teman sudah bilang begitu dia langsung pura-pura
70
memperlihatkan ciri khasnya yang alay. Dari ciri
khasnya ini juga dia terlihat seperti anak kecil. Dan dari situlah teman-teman merasa kurang suka karena
kekanak-kanakan.
Jika dengan orang baru atau teman baru dia
mudah akrab. Karena dia orangnya mudah bergaul dan senang berteman dengan siapa saja tanpa
memilih-milih harus berteman dengan siapa. Dia terkenal ramah dengan siapa pun, tapi mungkin dia agak terlihat cuek kalau dengan anak cowok. Tetapi meskipun begitu banyak yang suka berteman
dengannya.
Meskipun Aul banyak dikenal sebagai orang
yang cerewet, lucu, alay, jail dll. Tetapi di juga dikenal tegas dalam bertindak dan memutuskan sesuatu.
71
jauh dari dirinya. Tetap melekat pada dirinya sebagai
ciri khas seorang Auliya.
Penilaian tentang cara berpakaiannya Aul, dia
itu suka sekali dengan warna hijau. Jadi, dia sering memakai pakaian yang berwarna hijau. Entah itu
kerudungnya, baju atasannya atau rok (bawahannya) itu pasti ada yang berwarna hijau. Tapi terkadang juga
dia memakai pakaian yang warnanya tidak serasi atau berwarna-warni. Mulai dari kerudung, sampai rok
(bawahan) berbeda warna. Kalau seperti itu terlihat nyentrik dan lucu. Dan tak jarang juga teman-teman
mengomentari cara berpakaiannya yang menurut mereka nyentrik dan lucu. Kalau di kritik tentang cara
berpakaiannya dia biasa-biasa saja, dan tetap merasa pede (percaya diri) dengan penampilannya. Tetapi
terkadang dia juga merasa minder karena kritikan teman-teman. Meskipun begitu Aul tidak pernah
72
Dia tetap enjoy dengan kritikan mereka. Malah dia
suka kalau jadi pusat perhatian teman-teman. Karena dia merasa kritikan itu adalah perhatian yang
teman-teman berikan untuk dirinya.
Dari deskripsi di atas dapat disimpulkan
bahwa Siti Auliyatus Sholawati menurut pandangan orang lain atau teman-temannya adalah teman yang
baik, pintar, cerdas, sholehah, rajin beribadah, ceria, lucu, mudah bergaul, cantik, imut, tegas, cerewet,
alay, kekanak-kanakkan, agak usil, heboh, santun bila dengan yang lebih tua, asyik, ramah terhadap
siapapun, dan suka menjadi pusat perhatian orang disekitarnya, terbuka (ekstrovert).****
Sekian dan terima kasih
By: seluruh orang yang telah mengenal Auliya
73