TUGAS AKHIR
MATA KULIAH TEORI HUKUM DAN KONSTITUSI
Dosen: Dr. Taufiqurrahman, SH., MH
“STUDI KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRIA”
NAMA: AMIR HAMDANI NASUTION NIP: 7112034
PROGRAM PASCA SARJANA JURUSAN ILMU HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
Wacana penguatan hak konstitusional warga negara semakin menggeliat baik dalam dunia akademis maupun praktik kenegaraan sehari-hari. Awal refomasi sampai hari ini, perdebatan serta dinamika konstitusi tidak terelakkan seiring dengan tuntutan perubahan zaman dan upaya menjaga kedaulatan negara ditengah percaturan politik luar negeri. Salah satunya dengan mendirikan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia sebagai lembaga penguji konstitusi yang wewenangnya diberikan Undang-Undang Dasar 1945.
Berkenaan dengan hal tersebut, memang dapat dikemukakan pula bahwa pengujian konstitusionalitas itu merupakan upaya hukum yang dapat dilakukan oleh siapa saja atau lembaga mana saja, tergantung kepada siapa atau lembaga mana kewenangan diberikan secara resmi oleh konstitusi suatu negara. Lembaga-lembaga dimaksud tidak selalu merupakan lembaga peradilan, seperti dalam sistem Prancis, disebut “Conseil Constitutionnel” yang
memang bukan “Cour” atau pengadilan sebagai lembaga hukum, melainkan Dewan Konstitusi merupakan lembaga politik. Jika dipakai istilah “judicial review”, maka dengan sendirinya
berarti bahwa lembaga yang menjadi subjeknya adalah pengadilan atau lembag “judicial
(judiciary). Namun, dalam konsepsi “judicial review”, cakupan pengertiannya sangat luas, tidak
saja menyangkut segi konstitusionalitas objek yang diuji, melainkan menyangkut pula segi-segi legalitasnya berdasarkan peraturan perundang-undangan dibawah Undang-Undang Dasar.1
1
BAB II
SEJARAH DAN KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DI INDONESIA
Indonesia telah melakukan perubahan besar dan penting dalam sistem ketatanegaraannya. Salah satu perubahan tersebut adalah amandemen Undang- Undang Dasar 1945 (reformasi konstitusi) yang dilakukan sebanyak 4 kali hanya dalam periode 2 tahun. Reformasi konstitusi dipandang merupakan kebutuhan dan agenda yang harus dilakukan karena UUD 1945 sebelum perubahan dinilai tidak cukup untuk mengatur dan mengarahkan penyelenggaraan negara sesuai harapan rakyat, Good Governance, tegaknya demokrasi dan hak asasi manusia.
Reformasi konstitusi ini dinilai sangat mendasar karena mengubah prinsip kedaulatan rakyat yang semula dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar. Akibatnya, semua lembaga negara dalam UUD 1945 berkedudukan sederajat dan melaksanakan kedaulatan rakyat dalam lingkup wewenangnya masing-masing. Perubahan lain adalah dari kekuasaan Presiden yang sangat besar (concentration of power and responsibility upon the President) menjadi prinsip saling mengawasi dan mengimbangi (checks and balances). Prinsip- prinsip tersebut menegaskan cita negara yang hendak dibangun, yaitu negara hukum yang demokratis. Ini sejalan dengan prinsip negara hukum yang tertuang dalam Pasal 1 Ayat (3) UUD 19451 yang menyatakan bahwa “Negara Indonesia
adalah negara hukum”, dan penjelasan umum UUD 1945 sebelum perubahan tentang sistem
pemerintahan negara yang menyatakan bahwa negara Indonesia berdasar atas hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat).
Salah satu lembaga negara, hasil amandemen ketiga konstitusi, yang melaksanakan kedaulatan rakyat adalah Mahkamah Konstitusi (MK). MK mempunyai kedudukan setara dengan Mahkamah Agung (MA), berdiri sendiri, serta terpisah (duality of jurisdiction) dengan MA. Fungsi utamanya dikenal sebagai the guardian of the constitution (penjaga konstitusi).
a. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. memutus pembubaran partai politik; dan
d. memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
e. memutus pendapat DPR terhadap Presiden dan Wakil Presiden yang diduga melakukan pelanggaran hukum. 2
Menurut Jimly, pengujian atas UU dilakukan dengan tolok ukur UUD. Pengujian dapat dilakukan secara materiel atau formil. Pengujian materiel menyangkut pengujian atas materi UU, sehingga yang dipersoalkan harus jelas bagian mana dari UU yang bersangkutan bertentangan dengan ketentuan mana dari UUD. Yang diuji dapat terdiri hanya 1 bab, 1 pasal, 1 kaimat ataupun 1 kata dalam UU yang bersangkutan. Sedangkan pengujian formil adalah pengujian mengenai proses pembentukan UU tersebut menjadi UU apakah telah mengikuti prosedur yang berlaku atau tidak.3
Dalam memahami persoalan sengketa kewenangan antar lembaga negara, yang dipersoalkan bukan subjek kelembagaannya tetapi objek kewenangan yang dipersengketakan, yaitu kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar atau disebut sebagai kewenangan konstitusional. Artinya, sejauh berkenaan dengan kewenangan-kewenangan yang diberikan oleh UUD kepada organ-organ yang disebutkan dalam UUD, apabila timbul persengketaan dalam pelaksanaannya oleh lembaga-lembaga atau antar lembaga-lembaga yang dimaksudkan dalam
UUD itu, maka Mahkamah
Konstitusilah yang dianggap paling tahu apa maksud konstitusi memberikan
2
Undang-Undang No 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, pasal 10 ayat 1 dan 2
3 Jimly Asshiddiqie “Kedudukan Mahmakah Konstitusi dalam Struktur Ketatanegaraan Indonesia”,
kewenangan-kewenangan tersebut kepada lembaga yang mana di antara yang bersengketa.
Mekanisme bahwa pembubaran suatu partai politik menurut Jimly, haruslah ditempuh melalui prosedur peradilan konstitusi. Yang diberi hak “standing” untuk menjadi pemohon
dalam perkara pembubaran partai
politik adalah Pemerintah, bukan orang per orang atau kelompok orang. Yang berwenang memutuskan benar tidaknya dalil-dalil yang dijadikan alasan tuntutan pembubaran partai politik itu adalah Mahkamah Konstitusi. Dengan demikian, prinsip kemerdekaan berserikat yang dijamin dalam UUD tidak dilanggar oleh para penguasa politik yang pada pokoknya juga adalah orang-orang partai politik lain yang kebetulan memenangkan pemilihan umum. Dengan mekanisme ini, dapat pula dihindarkan timbulnya gejala dimana penguasa politik yang memenangkan pemilihan umum memberangus partai politik yang kalah pemilihan umum dalam rangka persaingan yang tidak sehat menjelang pemilihan umum tahap berikutnya.
Selanjutnya, terkait, soal perselisihan perhitungan perolehan suara pemilihan umum yang telah dtetapkan dan diumumkan secara nasional oleh Komisi Pemilihan Umum, dan selisih perolehan suara dimaksud berpengaruh terhadap kursi yang diperebutkan. Jika terbukti bahwa selisih peroleh suara tersebut tidak berpengaruh terhadap peroleh kursi yang diperebutkan, maka perkara yang dimohonkan akan dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). Jika selisih yang dimaksud memang berpengaruh, dan bukti-bukti yang diajukan kuat dan beralasan, maka permohonan dikabulkan dan perolehan suara yang benar ditetapkan oleh Mahkamah Konstitusi sehingga perolehan kursi yang diperebutkan akan jatuh ke tangan pemohon yang permohonannya dikabulkan. Sebaliknya, jika permohonan tersebut tidak beralasan atau dalil-dalil yang diajukan tidak terbukti, maka permohonan pemohon akan ditolak. Ketentuan-ketentuan demikian itu berlaku baik untuk pemilihan anggota DPR, pemilihan anggota DPD, pemilihan anggota DPRD (kabupaten/kota ataupun provinsi), maupun untuk pemilihan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres/cawapres).
pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya. Atau perbuatan tercela; dan/atau pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Pesiden. Dalam hal ini, harus diingat bahwa Mahkamah Konstitusi bukanlah lembaga yang memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden. Yang memberhentikan dan kemudian memilih penggantinya adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat.
Mahkamah Konstitusi hanya memutuskan apakah pendapat DPR yang berisi tuduhan (a) bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melanggar hukum, (b) bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden, terbukti benar secara konstitusional atau tidak. Jika terbukti, Mahkamah Konstitusi akan menyatakan bahwa pendapat DPR tersebut adalah benar dan terbukti, sehingga atas dasar itu, DPR dapat melanjutkan langkahnya untuk mengajukan usul pemberhentian atas Presiden dan/atau Wakil Presiden tersebut kepada MPR.
Sejauh menyangkut pembuktian hukum atas unsur kesalahan karena melakukan pelanggaran hukum atau kenyataan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945, maka putusan MK itu bersifat final dan mengikat. DPR dan MPR tidak berwenang mengubah putusan final MK dan terikat pula untuk menghormati dan mengakui keabsahan putusan MK tersebut.
Namun, kewenangan untuk meneruskan tuntutan pemberhentian ke MPR tetap ada di tangan DPR, dan kewenangan untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden yang bersangkutan tetap berada di tangan MPR. Inilah yang banyak dipersoalkan orang karena ada saja kemungkinan bahwa MPR ataupun MPR tidak meneruskan proses pemberhentian itu sebagaimana mestinya, mengingat baik DPR maupun MPR merupakan forum politik yang dapat bersifat dinamis. Akan tetapi, sejauh menyangkut putusan MK, kedudukannya sangat jelas bahwa putusan MK itu secara hukum bersifat final dan mengikat dalam konteks kewenangan MK itu sendiri, yaitu memutus pendapat DPR sebagai pendapat yang mempunyai dasar konstitusional atau tidak, dan berkenaan dengan pembuktian kesalahan Presiden/Wakil Presiden sebagai pihak termohon, yaitu benar- tidaknya yang bersangkutan terbukti bersalah dan bertanggungjawab.4
4
BAB II
SEJARAH DAN KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DI AUSTRIA
Peradilan konstitusi Austria merupakan peradilan konstitusi pertama kali di Eropa. Konstitusi 1920 juga sebagai tonggak awal pembentukan Mahkamah Konstitusi di Austria, meskipun sebelumnya pada konstitusi 1848 telah mengatur tentang Hak Asasi Manusia. Selain itu Austria telah terbentuk suatu system pemerintahan monarki konstitusional. Sedangkan pada tahun 1849 Reich Constitution dibentuk untuk menggantikan Konstitusi 1848. Konstitusi 1849 didesain untuk Negara federalism, yang mengedepankan pada prinsip-prinsip kesetaraan. 5
Konstitusi ini menciptakan ketatanegaraan yang lebih demokratis, yang terjewantahkan melalui demokrasi perwakilan. Konstitusi ini juga menjalankan system uji administrative oleh Pengaadilan Tata Usaha Negara. Baru kemudian pada tahun 1920 lahirlah konstitusi yang dibentuk oleh Hans Kelsen, dan konstitusi ini yang dianggap paling memenuhi syarat dari konstitusi yang berlaku sebelumnya, dikarenakan menganut prinsip demokrasi perwakilan, jaminan Hak Asasi Manusia, dan pemisahan kekuasaan, oleh sebab itu kemudian memunculkan gagasan tentang dibentuknya suatu organ penegak konstitusi yang pada saat itu disebut sebagai
Vervassungsgericht.
Kekuasaan Mahkamah Konstitusi Austria adalah
a) menentukan kadar konstitusionalitas Undang-Undang Federal, Negara bagian dan peraturan perundang-undangan yang letaknya dibawah Undang-Undang
b) menguji perjanjian Internasional secara umum,
c) menyelesaikan sengketa Pemilihan Umum Presiden dan Pemilihan Umum Parlemen, d) kewenangan memutus sengketa kompetensi yang terjadi diantara peradilan Umum dengan Peradilan Administratif atau Peradilan Administratif terhadap seluruh jenis peradilan lainnya, dan
5
e) memutus perkara Impeachment terhadap pejabat tinggi Negara yang diduga melakukan pelanggaran hukum.6
Terkait dengan uji konstitusionalitas undang-undang (“Gesetzesprufung”), mahkamah juga elakukan pengujian terhadap undang-undang Federal ataupun negara bagian. Pengujian model ini dapat diajukan oleh Mahkamah Agung, Peradilan Tata Usaha Negara dan Pemerintah Federal maupun Pemerintah Negara bagian.
Mahkamah juga dapat menguji legalitas Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan oleh Negara Federal dan bagian, aka tetapi pengujia baru dapat dilakukan setelah mahkamah menerima permohonan dari pengadilan. Perorangan dapat juga melakukan permohonan dan dapat menunda berlakunya peraturan pemerintah.
Ada juga istilah “Dikotonomi Putusan”, dlam hal Mahkamah membatalkan bagian atau keseluruhan dari peraturan perundang-undangan, maka dapat memberikan kesempatan kepada legislatur untuk memperbaiki kesalahan da mahkamah dapat memberikan waktu untuk memperbaikinya. Pentingnya dialog konstitusional antara hakim pengadilan negeri dengan peradilan konstitusi terkait dengan suatu undang-undang yang sedang diterapkan pada perkara umum. Mahkamah juga berwenang menguji terhadap proses perubahan konstitusi (formal), namun tidak secara materiil.
Sementara, kewenangan khusus administratif mahkamah. Dalam permohonan ke Mahkamah, dapat kemudian menyatakan keberatan yang diderita, untuk itu seringkali sebab dimohonkannya perkara ke mahkamah dikarenakan terdapat rendahnya tingkat validitas produk regulasi yang diberlakukan oleh otoritas birokrasi administrative. Permohonan yang seperti itu dapat dilakukan setelah semua upaya telah dilakukan.7
6
Jimly As dan Ahmad Syahrizal, “Peradilan Konstitusi di Sepuluh Negara” (Jakarta: Konstitusi Press, 2006) hlm. 1-15
7
BAB III
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK
INDONESIA DAN AUSTRIA
Mengingat rincian diatas, maka persamaan yang ada antara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dengan Austria dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Mahkamah Konstitusi RI dan Austria sama-sama mengadili atau menguji sebuah peraturan perundangan di bawah Undang-Undang Dasar,
2. Mahkamah Konstitusi RI dan Austria sama-sama memutus perkara pemilihan umum dan pemilihan presiden,
3. Mahkamah Konstitusi RI dan Austria sama-sama memutus perkara impeachment terhadap pejabat tinggi negara yang melakukan pelanggaran hukum, namun disini belum dipaparkan secara spesifik dugaan pelanggaran hukum yang dimaksud.
4. Mahkamah Konstitusi RI dan Austria sama-sama memutus perkara sengketa lembaga negara
Maka perbedaan mendasar terkait kewenangan mahkamah konstitusi yang berada di Indonesia dan Austria dapat di jelaskan sebagai berikut:
1. Mahkamah Konstitusi Austria berwenang menguji perjanjian internasional secara umum sedangkan Mahkamah Konstitusi Indonesia tidak mempunyai wewenang, 2. Mahkamah Konstitusi Austria berwenang menguji peraturan perundangan yang
BAB III
KESIMPULAN
Berkenaan dengan pembahasan tersebut, memang dapat dikemukakan pula bahwa pengujian konstitusionalitas itu sangat penting untuk menciptakan keadilan dalam kehidupan bernegara serta tetap menjaga koridor undang-undang sesuai dengan Undang-Undang Dasar.
Kewenangan Mahkamah Konstisusi Austria jika dimaknai secara terperinci ternyata lebih luas wewenangnya yang telah mampu menguji perjanjian insternasional, sementara Mahkamah
SUMBER BACAAN
Undang-Undang No 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstisusi
Asshiddiqie, Jimly, Model-Model Pengujian Konstitusional di Berbagai Negara, Jakarta: Konstitusi Press, 2006.