• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kearifan Lokal Masyarakat Samin Dalam Pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kearifan Lokal Masyarakat Samin Dalam Pe"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Kearifan Lokal Masyrakat Samin Dalam Pembudayaan Nilai-Nilai Anti Korupsi Di Indonesia

Sinda Eria Ayuni1

Abstrak

Di Indonesia terdapat beragam ajaran yang telah menjadi sebuah budaya di dalam kehidupan sehari-hari para penganutnya, seperti halnya ajaran Samin yang pertama kali ada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Para penganut ajaran Samin atau masyarakat Samin sangat konsekuen dalam menjalankan berbagai macam pantangan yang ada dalam ajarannya, dan pantangan tersebut dianggap mampu melawan penyakit bangsa Indonesia yang cenderung menyenangi hal instan seperti korupsi yang mampu membawa pengaruh negatif pada kelangsungan hidup rakyat dan bangsa.

Kata Kunci : Masyarakat Samin, Ajaran Samin, Korupsi, Indonesia

Bangsa Indonesia telah merdeka 68 tahun lamanya, didalam memproklamasikan kemerdekaan tersebut tak luput dari semangat para pejuang dan rakyat Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Semangat-semangat besar tersebut yang mampu mendorong Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Walaupun banyak rintangan menghadang dalam detik-detik proklamasi, akhirnya pernyataan merdekapun dengan tegas terseru pada tanggal 17 agustus 1945 oleh Bung Karno. Hal tersebut menjadi tombak awal masyarakat Indonesia untuk tetap mempertahankan kemerdekaannya dengan cara menjadikan diri mereka sebagai diri yang berjiwa nasionalis.

Seiring dengan berjalannya waktu secara perlahan semangat nasionalisme masyarakat Indonesia mulai surut dan memudar. Padahal nasionalisme bangsa Indonesia bukan merupakan nasionalisme yang sempit dan muncul dari kesombongan bangsa, akan tetapi nasionalisme bangsa Indonesia merupakan nasionalisme yang lebar, timbul dari pengetahuan dunia dan suatu riwayat, serta nasionalisme Indonesia menerima hidupnya sebagai suatu wahyu dan suatu bakti (Toto, 2001: 6). Kini juga dapat terlihat bahwa adanya salah tafsir di dalam memahami nasionalisme Indonesia, sebab pada masa ini masyarakat menganggap bahwa menjadi manusia pancasila dan mengingat nama pahlawan RI saja sudah cukup untuk

(2)

mencerminkan jiwa nasionalis, memang tidak ada yang salah dalam hal itu, namun semua itu jelas masih memilikki kekurangan untuk membentengi diri dari globalisasi.

Efek globalisasi mengakibatkan krisis nasionalisme yang seharusnya menjadi perhatian khusus sudah tidak lagi menjadi trend center publik, melainkan sudah lumrah terjadi. Ini di gambarkan jelas akan banyaknya suatu kejadian yang mengakibatkan degradasi moral seperti kasus korupsi. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, korupsi ialah suatu tindakan penyelewengan atau penggelapan uang. Dewasa ini banyak pula perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan budaya lokal dan menyebabkan terkikisnya rasa nasionalisme bangsa bahkan menghapus jati diri bangsa Indonesia yang terkenal akan budaya timur yang sopan dan bertatakrama yang baik.

Sudah sepatutnya penyakit masyarakat Indonesia yang menyenangi suatu hal sak dek sak nyek atau instan, sehingga mengakibatkan pengaruh negatif seperti korupsi yang perlu menjadi perhatian khusus demi mempertahankan keutuhan serta persatuan bangsa Indonesia. Maka, dengan adanya kondisi tersebut masyarakat Indonesia perlu mengoreksi kekurangan dan kelebihan dari masing-masing individu, serta perlu belajar bersama dari berbagai macam aspek, seperti lingkungan tempat mereka tinggal dan budaya yang ada di sekitar mereka tinggal khususnya di Indonesia.

(3)

Asal Ajaran Samin

Samin adalah suatu ajaran yang disebarkan oleh seorang penduduk bernama Samin Surosentiko yang lahir pada tahun 1859 di Desa Ploso Kedhiren Randublatung Kabupaten Blora dengan nama Raden Kohar, Ia mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko karena arti nama tersebut berbau wong cilik atau orang kecil. Orang kecil yang dimaksud adalah orang miskin akan tetapi kemiskinannya bukan dalam materi melainkan berupa budaya seperti sejarah, kesenian, dan adat istiadat(kartomihardjo, 1980). Kemudian pada tahun 1890 Surosentiko menyebarkan ajaran kebatinan dengan berasaskan kesusilaan yang menolak dan menentang kapitalisme di masa penjajahan Belanda pada abad ke 19 di Indonesia. Ajaran ini berpaham hindu, islam dan jawa akan tetapi hanya konsepnya saja yang sejalan dengan ajaran Samin, kemudian ajaran tersebut disebarkan melalui ceramah atau lisan dikarenakan masyarakat Samin tidak bisa membaca dan menulis. Sebab pada saat itu mereka mengacuhkan dunia pendidikan formal akan tetapi mereka mendapatkan pendidikan berupa ilmu pengetahuan tentang moral serta kehidupan dari orang tua dan para leluhurnya. Alasan masyarakat Samin tidak bersekolah:

o Pertama, mereka tidak bersekolah karena muncul kekhawatiran jika terdidik pada lembaga formal, anak mampu membaca dan menulis, sehingga memenuhi syarat formal menjadi pekerja formal non-pertanian di luar pantauan orang tua sebagai embrio melepaskan ikatan kekeluargaan. Ketidakaktifan dalam pendidikan formal merupakan bagian dari gerakan simbolis menentang penjajah (masa moyangnya) berupa menjauhi aktivitas penjajah (sekolah formal).

o Kedua, mengikuti pendidikan formal dan tidak menerima mata ajar agama selain agama

(4)

o Ketiga, sekolah formal dan mengikuti mata ajar agama Budha karena berprinsip bahwa semua ajaran agama yang diajarkan di bangku pendidikan formal tak bertentangan dengan prinsip hidup Samin (Rosyid, 2013). Namun, bukan berarti masyarakat Samin membeda-bedakan suatu agama, justru mereka saling menghargai agama yang dianut oleh masyarakat sekitar. Kemudian ajaran Saminisme tersebut meluas ke Desa Kalirejo Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Dalam Wikipedia bahasa Indonesia disebutkan bahwa pengikut ajaran Samin atau Saminisme cepat meluas sehingga memiliki sekitar 2300 penganut, kemudian disuatu waktu jumlahnya mencapai sekitar 2.305 keluarga yang bertahan sampai tahun 1917, ajaran tersebut pada akhirnya tersebar di beberapa daerah seperti Blora, Bojonegoro, Pati, Rembang, Kudus, Madiun, Sragen dan Grobogan dan yang terbanyak di Tapelan. Dengan kondisi seperti ini membuat pemerintah Belanda yang awalnya meremehkan serta acuh terhadap ajaran Samin menjadi khawatir akan ajaran yang dipelopori oleh Samin Surosentiko tersebut sehingga Belanda menangkap dan memenjarakan para pengikut ajaran Samin.

Pada tahun 1908 Samin Surosentiko ditangkap oleh Belanda dan diasingkan di Sawahlunto Sumatera Barat beserta delapan pengikutnya, diantaranya adalah Karjani, Singotirto, Brawok, Engkrek, dan Ki Surokidin. Kemudian pada tahun 1914 Samin Surosentiko meninggal dunia dalam pengasingannya. Akhirnya ajaran Saminisme tersebut di lanjutkan serta di kembangkan keberadaannya oleh para pengikut ajaran Samin itu sendiri dengan cara yang sama ketika Surosentiko mengahasut rakyat desa yang berada didaerah penyebaran ajaran Samin agar tidak membayar pajak kepada pemerintah kolonial, kemudian menyuruh untuk membantah serta menyangkal peraturan yang ditetapkan oleh Belanda. Karena perbuatan itu dianggap sebagai upaya untuk menentang Belanda. Akan tetapi dalam melakukan perbuatan tersebut sering kali membuat penganut ajaran Samin mendapat siksaan dari Belanda, sehingga membuat para penganut Samin menggunakan strategi Nyamin yaitu

(5)

Masyarakat Samin

Masyarakat Samin adalah sekelompok manusia yang dalam kebiasaannya sehari-hari menganut ajaran samin. Biasanya mereka menyebut sesama penganut ajaran Samin dengan

Sedulur Sikep atau Wong Sikep, karena untuk menghilangkan konotasi negatif dari ajaran Samin, sehingga sikep sendiri diartikan sebagai orang yang bertanggung jawab dan jujur. Meraka terkenal dengan keluguan dan kepolosan, serta kesederhanaanya. Mayoritas mata pencaharian masyarakat Samin dahulu adalah bertani, baik di ladangnya sendiri atau merawat tanah orang lain. Sekarang hanya sebagian saja Wong Sikep yang bertani, dan yang lainnya adalah berdagang. Akan tetapi dalam sandang pangan, segala yang halal akan dikonsumsi oleh wong sikep kecuali yang haram seperti hasil curian atau milik orang lain.

Di dalam berkomunikasi sehari-hari, masyarakat Samin menggunakan bahasa jawa

ngoko yang diwarisi dari para tetuah Sedulur Sikep, tetapi karena keadaan lingkungan sosial di sekitar mereka yang mayoritas orang Jawa dan menggunakan bahasa jawa dalam berinteraksi, masyarakat Samin menjadi lebih mengetahui bahwa bahasa jawa tidak hanya

ngoko, melainkan ada bahsa jawa krama dan madya sehingga masyarakat Samin dapat memetakan diri ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau sebaya. Namun, ada yang membedakan bahasa warga Samin dan non Samin yaitu bahasa masyarakat Samin yang cenderung lugu dalam berbicara (Hari, 2012). Selain bahasa yang membedakan masyarakat Samin dengan warga yang lain adalah cara berpakaian mereka yang selalu mengenakan kain kasar yang berdominasi hitam, seperti laki-laki mengenakan ikat kepala, berbaju lengan panjang tanpa kerah, sedangkan wanita membentuk kainnya menjadi kebaya berlengan panjang. Namun itu dulu, sekarang Sedulur Sikep muda sudah tidak mengenakan pakaian khas Samin, hanya sebagian komunitas Samin tua saja yang mengenakan pakaian khas Samin tersebut.

(6)

Prinsip Ajaran Samin

Di dalam ajaran Samin terdapat berbagai macam ajaran yang sangat dijunjung tinggi dan dijaga eksistensinya untuk digunakan sebagai pedoman hidup oleh para pengikutnya, supaya hidup mereka lebih terarah, dan tingkah laku serta sikap mereka dapat dicontoh dengan baik oleh para keturunan Wong Sikep. Pokok-pokok ajaran Saminisme adalah:

a. Agama iku gaman (Agama itu adalah pegangan atau senjata hidup)

b. Aja drengki srei, tukar padu,dahpen, kemeren. Aja kutil jumput, bedhog nyolong

(Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati. Jangan suka mengambil milik orang lain/mencuri)

c. Sabar lan trokal empun ngantos drengki srei, empun ngatos riyo sapada empun ngantos pek-pinepek, kutil jumput bedhog nyolong. Napa malih bedhog colong, napa milik barang, nemu barang ten dalan mawon kulo simpangi (Sabar dan jangan sombong, jangan menganggu orang, jangan takabur, jangan mengambil milik orang lain, apalagi mencuri, mengambil barang sedangkan menjumpai barang tercecer dijalan saja dijahui)

d. Wong urip kudu ngerti uripe, dadi wong, salawase dadi wong. Sebab urip siji digawa

salawase. (Manusia hidup harus memahami kehidupannya, sekali orang itu berbuat

baik, selamanya akan menjadi orang baik. Sebab hidup sekali dibawa selamanya)

e. Ibarate pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pangucap saka sanga bundhelane ana pitu (Ibaratnya orang berbicara dari angka lima berhenti pada angka tujuh dan angka sembilan juga berhenti pada angka tujuh, maksudnya ialah simbol bahwa manusia dalam berbicara harus menjaga mulut) (Suyami, 2007:29)

(7)

komunitas yang disebut Saminisme ini realitanya sikap tepo sliro atau rasa saling menghormati, dan tingkat kerukunan masyarakat Samin masih sangat dijunjung tinggi, karena agama yang dianut masyarakat Samin tidak bertentangan dengan ajaran Samin itu sendiri.

Eksistensi Pantangan Masyarakat Samin Dalam Pembudayaan Nilai-Nilai Anti Korupsi Masyarakat Samin adalah masyarakat yang sangat konsekuen pada ajaran maupun pantangan hidup mereka. Sikap pantang berbohong dan mengambil hak orang lain adalah salah satu ajaran Samin yang bisa dikaitkan untuk memerangi beberapa kasus yang terjadi di Indonesia, salah satunya seperti korupsi. Suatu perilaku yang mengakibatkan lunturnya rasa nasionalisme rakyat terhadap bangsanya sendiri. Korupsi tersebut sepertinya sudah lumrah terjadi di NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan rupanya sulit untuk diberantas keberadaannya sehingga mengakibatkan banyak pengaruh negatif dalam bangsa, diantaranya: pendidikan menjadi tidak berkualitas sehingga para peserta didik yang awalnya menjadi harapan bangsa ketika lulus menjadi korban bangsa, pengangguran meningkat yang mengakibatkan kemiskinan merajalela, tindak kejahatan terjadi dimana-mana, dsb. Rupanya tindakan para manusia tidak bertanggung jawab ini bagaikan tikus yang keluar dari kandang, melihat makanan yang disajikan dihadapan mereka langsung disantap tanpa meninggalkan secuil sisa di piringnya.

(8)

UUD alinea ke 4 bahwa pemerintah ada “untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia”. Akan tetapi hukum juga tidak dapat disalahkan secara keseluruhan. Hukum Indonesia merupakan hasil pemikiran dan persetujuan bersama yang berasaskan Undang-Undang Dasar 1945, tidak ada hukum yang hanya memikirkan kepentingan para penguasanya saja, atau bahkan hanya memikirkan kepentingan rakyatnya saja, melainkan mementingkan kepentingan bersama. Jika hukum salah maka tidak mungkin masyarakat akan tunduk pada hukum yang berlaku. Dewasa ini, cenderung banyak orang saling menyalahkan karena peran dari masing-masing individu yang kurang akan kesadaran diri dalam jiwanya.

Dalam menangani kasus KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah, salah satu diantaranya ialah menegakkan hukum tanpa memandang kedudukan, apabila terbukti bersalah melakukan Tindak Pidana Korupsi(TIPIKOR) maka dikenakan UU no. 31 tahun 1999 dengan hukuman seumur hidup, paling singkat 4tahun, paling lama 20 tahun, atau denda 200jt-1milyar. Dengan diadakan Undang-Undang yang mengatur tentang TIPIKOR itu saja tidak cukup, perlu penanganan yang mampu membuat pelaku korupsi menjadi jera. Diluar negeri ketika anak buah pemerintah melakukan tindak pidana korupsi, maka pemerintah tersebut memecat anak buanhnya dan ia juga mengundurkan diri dari jabatan yang diduduki karena malu telah gagal menjalankan mandat yang diberikan oleh rakyatnya, lalu bagaimana dengan Indonesia yang masyarakatnya kurang akan kesadaran diri?. Dengan ini ajaran yang dipelopori oleh Samin Surosentiko dinilai mampu untuk membangun kesadaran rakyat akan hal yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun oranglain.

Wong sikep tidak mengenal korupsi, karena mereka selalu jujur tehadap hidup, bertindak dan berperilaku sesuai ucapan, serta selalu bersikap saling menghormati terhadap sesama, sebab para leluhurnya selalu mengajarkan jangan pernah menyakiti atau merugikan orang lain apabila tidak ingin disakiti atau dirugikan. Bagi mereka takaran kesejahteraan itu bersumber pada rasa, bukan persepsi. Jika sudah merasa sandang, pangan dan papan tercukupi, Sedulur Sikep tidak akan mencari yang lebih(Widi, 2012).

(9)

sesuai dengan nilai-nilai yang mampu memanusiakan manusia, diantaranya: drengki

(memfitnah), srei (serakah), panasten (mudah tersinggung/membenci sesama), dahwen

(mendakwa tanpa bukti), kemeren (iri hati/syirik, ingin memiliki barang milik orang lain),

colong(mencuri), nyiyo marang sepodo (berbuat nista terhadap sesama) karena bejok reyot

iku dulure, waton menungso tur gelem di ndaku sedulur (menyia-nyiakan orang lain tak

boleh, cacat seperti apapun manusia adalah saudara, jika manusia mau dijadikan saudara) (Rosyid, 2013). Menurut masyarakat Samin, yang terpenting dalam hidup manusia adalah tabiatnya, bukan menurut materi atau pangkatnya, apabila dia seorang konglomerat, namun tabiatnya buruk, maka akan buruk pula pekertinya.

Dalam menegakkan hukum wong sikep tidak pernah memandang bulu dan itu selalu di tegakkan pada siapapun yang melanggarnya. Walaupun masyarakat samin tidak memilikki sanksi yang ditetapkan secara resmi dalam ajarannya akan tetapi sanksi yang diberikan kepada pelaku pelanggaran mampu memberikan efek jera, salah satunya seperti memotong tangan atau jari apabila mengambil hak orang lain. Seperti cerita terdahulu ketika anak dari salah satu petuah Samin menemukan sebuah benda berharga di jalan, dan ia mengambil benda tersebut hanya untuk dilihat, kemudian meletakkan kembali benda tersebut ketempat semula, namun setiba dirumah nasib buruk menimpanya, tangan kananya dipotong oleh orang tuanya yang selaku petuah ajaran Samin, walaupun hanya melihat dan meletakkan kembali benda tersebut dianggap telah melanggar sebab telah merubah posisi daripada benda tersebut. Dengan adanya peristiwa tersebut wong sikep tidak pernah memperdulikan barang yang jatuh dijalan, karena dianggapnya telah melanggar pantangan yang telah ditetapkan serta mampu merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kejujuran merupakan suatu landasan penompang kehidupan sosial masyarakat Samin, mereka selalu berbicara sesuai dengan fakta dan hati nurani, tidak seperti para pelaku korupsi yang selalu menebar pesona perkataannya, dan selalu mengutamakan kepentingan nafsu diri sendiri. Keadaan itu mengakibatkan masyarakat Samin yang awal mulanya tidak mengerti akan krisis ekonomi dan moneter terkena imbas dari aksi para pejabat-pejabat tinggi Republik Indonesia, bukan hanya wong sikep saja, melainkan seluruh rakyat Indonesia baik yang kaya atau yang miskin. Timbulnya keinginan untuk korupsi dapat dihubungkan dengan dilanggarnya nilai kemanusiaan yang dijadikan pantangan oleh wong sikep , seperti:

(10)

 Benci; merasa tidak suka dengan seseorang.

 Serakah; selalu menginginkan lebih dan lebih dari keadaan yang telah dimilikki.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulakan bahwa suatu keirihatian dapat menimbulkan suatu kebincian yang mampu menimbulkan suatu keinginan untuk melebihkan diri dari seseorang yang lebih dari diri sendiri dengan cara apapun. Sehingga tindak kejahatan kemanusiaan terjadi dimana-mana dan membuat karakter bangsa menjadi hilang. Kini sudah sepatutnya rakyat Indonesia bangkit dari keterpurukan yang diakibatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Apabila masih memelihara para koruptor seharusnya Indonesia malu dengan identitas bangsa yang kaya akan ragam budaya, dimana setiap budaya tersebut pasti memilikki prinsip hidup.

Dalam sebuah negara, akan menjadi Negara yang kuat sentausa dan mempunyai peranan yang menentukan dalam peraturan dunia apabila unsur-unsur pemerintahan, kelompok elite yang menentukan kebijakan itu menghormati kepercayaan para leluhur, selalu ingat akan sejarah yang membentuknya dan memelihara perkembangan ilmu pengetahuan secara patut, apabila hal tersebut terealisasikan rakyat akan rukun bahagia, dan tidak ada permusuhan di antaranya. Hal tersebut yang dikemukakan oleh Samin Surosentiko dalam memberikan ajaran mengenai kenegaraan yang tertuang dalam Serat Pikukuh Kasajaten.

Pengimplementasian nila-nilai ajaran samin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dinilai sangat mampu dijadikan contoh oleh masyarakat Indonesia yang kurang akan kesadaran diri sehingga masyarakat Indonesia tidak lagi mengalami buta kesadaran dan buta kemanusiaan. Dan penerapan nilai-nilai kemanusiaanpun perlu didasari oleh suatu ideologi yang menjadi ciri khas bangsa yaitu pancasila. Adapun cara untuk menghapuskan penyakit korupsi dalam bangsa dengan mengambil beberapa nilai-nilai ajaran samin, yaitu:

 Menghindari perbuatan yang mampu merugikan diri sendiri dan orang lain

 Berbuat jujur, berani berbicara yang telah diperbuat, dan berani berbuat yang telah dibicarakan.

(11)

 Penegakkan hukum yang tidak memandang bulu.

Apabila nilai-nilai tersebut terealisasikan dalam kehidupan rakyat Indonesia maka tidak akan ada lagi benih-benih tikus kantor atau tikus sistem. Dan masyarakatpun akan kembali percaya terhadap sesama dan para penegak hukum serta elit politik yang ada di Indonesia, serta nilai-nilai ajaran samin tersebut akan membangun kembali semangat nasionalisme rakyat Indonesia yang telah terdegradasi oleh krisis kesadaran.

Penutup

(12)

mengimplementasikannya dalam kenyataan hidup berbangsa dan bernegara. Apalagi di era global pada saat ini, penguatan moral dan kesadaran diri warga sudah banyak yang terdegradasi hanya karena nafsu dunia. Hukum yang berlakupun sudah bukan hal baru untuk dilanggar. Walaupun masyarakat samin dianggap kolot atau nyeleneh, akan tetapi tatanan kehidupan masyarakat samin sangat menjunjung tinggi nilai-nilai dalam budayanya. Sehingga menjadi suatu nilai yang patut menjadi pedoman seluruh rakyat Indonesia, sekelompok masyarakat yang memanusiakan manusia, dan selalu berusaha membuat satu sama lain merasa aman dan dihargai. Bukan merugikan dan menjatuhkan satu sama lain. Untuk itu sebagai Negara yang kaya akan beragam etnik dan budaya, seluruh warga Indonesia wajib untuk menjaga dan mempertahankannya sehingga kebudayaan tersebut tetap ada dan berkembang, dengan cara mengamalkan nilai-nilai budayanya dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud melestarikan karakter bangsa. Bukan malah mengakui budayanya ketika budaya tersebut telah diklaim oleh Negara lain.

Daftar Rujukan

(13)

Sastroatmodjo, S. 2003. Masyarakat Samin: Siapakah Mereka?. Jogjakarta: Penerbit NARASI

Mumfangati, Titi. 2004. Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat Samin Kabupaten Blora Jawa Tengah. Yogyakarta: Jarahnitra

Salatalohy, F & Pelu, R (Eds) . 2004. Nasionalisme Kaum Pinggiran. Yogyakarta: LkiS

Toto, Iman. 2001. Bung Karno Dan Tata Dunia Baru : Kenangan 100 Tahun Bung Karno.

Jakarta: Grasindo

Rosyid,2008. Samin Kudus: Bersahaja di Tengah Asketisme Lokal. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR

Rosyid. 2010. Kodifikasi Ajaran Samin. Yogyakarta: KEPEL

Widi. H. 2012. Jujur Ala Sedulur Sikep, (Online),

(http://regional.kompas.com/read/2012/04/16/02044683/Jujur.ala.Sedulur.Sikep.html) , diakses 31 Maret 2013.

Blorakab. 2010. Sejarah Samin, (Online), ( http://www.blorakab.go.id/03_samin2.php), diakses 31 Maret 2013.

Burhani ,N. 2012. Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Samin, (Online),

(http://nusantaraislam.blogspot.com/perubahan-sosial-budaya-masyarakat-samin.html), diakses 31 Maret 2013

Busroh, D. 2010. Ilmu Negara. Jakarta: Bumi Aksara

Suyami, Ed. 2007. Kearifan Lokal Di Lingkungan Masyarakat Samin Kabupaten Blora Jawa

Tengah. Yogyakarta: Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Blora

Referensi

Dokumen terkait

Berkaitan dengan hal tersebut, maka penulis menuangkan permasalahan antara permasalahan penjualan, segmentasi pasar, promosi, dan volume penjualan ini kedalam penelitian

Kritik intern adalah upaya yang dilakukan untuk melihat apakah isi sumber tersebut cukup layak untuk dipercaya kebenarannya. 22 Dalam kritik sumber apabila

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah membuat suatu software basis data mengenai data pegawai pada Kelurahan Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia dengan menggunakan Visual

 Ketika dalam satu waktu kamu harus memilih mengerjakan amanah dalam organisasi atau belajar untuk ujian

Sebagai bagian dari membangun hubungan, pelaku melakukan penyesuaian perilaku dan gaya berkomunikasi sehingga membuat korban nyaman berbicara dengan pelaku. Selain

From the clustering using morpho- logical traits and AFLP analysis results, the aque- ous extract of itchgrass from three sites such as itchgrass from CH-LP area was

(sebuah denominasi Hindu) pada abad ke-9 Masehi. dan dapat dikatakan pula Ganesa yang tersebar di Nusantara juga berangka tahun seperti itu. Ganesa juga dikatakan merupakan

Seperti diketahui bahwa hampir semua posisi menari dari relief yang ada tersebut dengan sikap tungkai membuka keluar; kaki kanan ditekuk, lutut ke arah