HUBUNGAN DUKUNGAN SAUDARA KANDUNG DENGAN

66 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN DUKUNGAN SAUDARA KANDUNG DENGAN

KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA ANAK AUTIS

DI PUSAT LAYANAN AUTIS DENPASAR

OLEH :

NI MADE AYU SUKMA WIDYANDARI NIM. 1602522016

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(2)

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN DUKUNGAN SAUDARA KANDUNG DENGAN

KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA ANAK AUTIS

DI PUSAT LAYANAN AUTIS KOTA DENPASAR

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

OLEH :

NI MADE AYU SUKMA WIDYANDARI NIM. 1602522016

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(3)

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Ni Made Ayu Sukma Widyandari NIM : 1602522016

Fakultas : Kedokteran Universitas Udayana Program Studi : Ilmu Keperawatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Proposal Penelitian yang saya tulis ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya aku sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa proposal penelitian ini adalah jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Denpasar, Desember 2017 Yang membuat pernyataan

(Ni Made Ayu Sukma Widyandari)

(4)

LEMBAR PERSETUJUAN

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN DUKUNGAN SAUDARA KANDUNG DENGAN

KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA ANAK AUTIS

DI PUSAT LAYANAN AUTIS KOTA DENPASAR

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan

Oleh :

NI MADE AYU SUKMA WIDYANDARI NIM. 1602522016

TELAH MENDAPATKAN PERSETUJUAN UNTUK DIUJI

Pembimbing Utama

Ns. Luh Mira Puspita, S.Kep., M.Kep NUPN. 9908419475

Pembimbing Pendamping

(5)

HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN DUKUNGAN SAUDARA KANDUNG DENGAN

KOMUNIKASI INTERPERSONAL PADA ANAK AUTIS

DI PUSAT LAYANAN AUTIS KOTA DENPASAR

Oleh :

NI MADE AYU SUKMA WIDYANDARI NIM. 1602522016

TELAH DIUJIKAN DI HADAPAN TIM PENGUJI

PADA HARI : SELASA

TANGGAL : 19 DESEMBER 2017

TIM PENGUJI :

1. Ns. Luh Mira Puspita S.Kep., M.Kep (Ketua) (…………)

2. Ns. Ida Arimurti Sanjiwani, S.Kep.,M.Kep (Anggota) (…………)

3. Ns. Ni Luh Putu Eva Yanti,S.Kep.,M.Kep,Sp.Kep.Kom (Anggota) (…………)

MENGETAHUI :

DEKAN

FK UNIVERSITAS UDAYANA

Dr.dr. I Ketut Suyasa,Sp.B, Sp.OT(K) NIP. 19660709 199412 1 001

WAKIL DEKAN

BIDANG AKADEMIK DAN PERENCANAAN

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul “Hubungan Dukungan Saudara Kandung Dengan Komunikasi Interpersonal Pada Anak Autis Di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar dengan tepat waktu. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan proposal penelitian ini. Ucapan terima kasih penulis berikan kepada :

1. Dr.dr. I Ketut Suyasa,Sp.B, Sp.OT(K), sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang telah memberikan saya kesempatan menuntut ilmu di PSIK Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar

2. Prof. Dr Ketut Tirtayasa, sebagai Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

3. Ns. Luh Mira Puspita, S.Kep., M.Kep, sebagai pembimbing utama yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga dapat menyelesaikan proposal penelitian ini tepat waktu

4. Ns. Ida Arimurti Sanjiwani, S.Kep., M.Kep, sebagai pembimbing pendamping yang telah memberikan bantuan dan bimbingan sehingga dapat menyelesaikan proposal penelitian ini tepat waktu

5. Kepala Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Denpasar yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian di tempat tersebut

6. Keluarga yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan proposal penelitian ini

7. Teman-teman PSIK B angkatan 2016 yang telah memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan proposal penelitian ini.

(7)

Penulis menerima berbagai saran dan masukan untuk perbaikan proposal penelitian ini. Semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan perkembangan pelayanan autis di Bali.

Denpasar, Desember 2017

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN PENULISAN ... ii

PERNYATAAN LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

PERNYATAAN LEMBAR PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Rumusan Masalah ...5

1.3. Tujuan Penelitian ...5

1.3.1. Tujuan Umum ...5

1.3.2. Tujuan Khusus ...5

1.4. Manfaat Penelitian ...5

1.4.1. Manfaat dari segi teoritis ...5

1.4.2. Manfaat dari segi praktis ...6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsep Dasar Autisme ...7

2.1.1. Definisi Autisme ...7

2.1.2. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Autisme...8

2.1.3. Dampak Autis ...10

2.2. Konsep Dasar Komunikasi Interpersonal ...13

2.2.1. Definisi Komunikasi Interpersonal ...13

2.2.2. Tujuan Komunikasi Interpersonal ...13

2.2.3. Aspek-Aspek Komunikasi Interpersonal ...15

2.2.4. Sikap Positif dalam Komunikasi Interpersonal ...15

(9)

2.2.6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Komunikasi

Anak Autis ...19

2.3. Teori Dukungan Keluarga ...22

2.3.1. Pengertian Dukungan Keluarga ...22

2.3.2. Jenis Dukungan Keluarga ...22

2.3.3. Saudara Sekandung Anak Autis ...23

2.3.4. Karakteristik Saudara Sekandung dari Anak Autis ...25

2.4. Hubungan Dukungan Saudara Sekandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis ...27

BAB III KERANGKA KONSEP 3.1. Kerangka Konsep ...28

3.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ...29

3.3. Hipotesis ...31

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian ...32

4.2. Kerangka Kerja ...32

4.3. Tempat dan Waktu Penelitian ...33

4.4. Populasi, Teknik Sampling Penelitian dan Sampel ...33

4.4.1. Populasi Penelitian ...33

4.4.2. Teknik Sampling ...33

4.4.3. Sampel ...34

4.5. Jenis dan Cara Pengumpulan Data ...34

4.5.1. Jenis dan Data yang Dikumpulkan ...34

4.5.2. Cara Pengumpulan Data ...34

4.5.3. Instrument Pengumpulan Data ...35

4.5.4. Etika Penelitian ...39

4.6. Pengolahan dan Analisis Datas ...40

4.6.1. Teknik Pengolahan Data ...40

4.6.2. Teknik Analisa Data ...41

(10)

DAFTAR TABEL

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Hubungan Dukungan Saudara Sekandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis di Pusat

Layanan Autis Kota Denpasar... 28

Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian Hubungan Dukungan Saudara

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Jadwal Penelitian Lampiran 2 Penjelasan Penelitian

Lampiran 3 Surat Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4 Kuesioner Penelitian

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Autis adalah gangguan perkembangan otak dan gangguan pervasif yang ditandai dengan gangguan dalam bermain, bahasa, perilaku, gangguan perasaan dan emosi, sensoris, serta tingkahlaku yang berulang-ulang (Huzaemah, 2010). Autisme merupakan salah satu bentuk gangguan tumbuh kembang, berupa sekumpulan gejala akibat adanya kelainan syaraf-syaraf tertentu yang menyebabkan fungsi otak tidak bekerja secara normal sehingga mempengaruhi tumbuh kembang, kemampuan komunikasi, dan kemampuan interaksi sosialnya (Sunu, 2012). Anak autis cenderung menyendiri dan menghindari kontak dengan orang lain yang menyebabkan anak autis susah dalam melakukan komunikasi (Yuwono, 2012).

(14)

sudah melayani 80 anak autis. Hasil data tersebut dapat disimpulkan bahwa angka anak dengan autisme mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Masalah yang dialami anak autis diantaranya gangguan perilaku, gangguan komunikasi interpersonal, gangguan kognitif, respon abnormal terhadap perangsangan indra dan gangguan emosi. Anak autis mengalami masalah dalam berkomunikasi baik verbal maupun non verbal sekitar 40-50%. Gangguan ini tampak pada kurangnya penggunaan bahasa untuk kegiatan sosial, buruknya keserasian dan kurangnya interaksi timbal-balik dalam percakapan, kurangnya respons emosional terhadap ungkapan verbal dan non verbal orang lain, kendala dalam menggunakan irama dan tekanan modulasi komunikatif dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau mengartikan komunikasi lisan (Soetjiningsih, 2014).

Gangguan komunikasi pada anak autis menyebabkan tidak adanya umpan balik secara langsung dengan orang lain. Penyebab dari hal tersebut yaitu perkembangan kemampuan berbahasa anak autis sangat lambat atau tidak ada sama sekali. Kata-kata yang dikeluarkan anak autis tidak dapat dimengerti,

echolalia atau dapat diartikan bentuk pengulangan kata dari orang lain tanpa mengetahui maksud dari kata tersebut, dan nada suaranya monoton seperti suara robot. Anak autis tidak dapat menyampaikan keinginannya dengan kata-kata atau bahasa isyarat. Sukar memahami arti kata-kata yang baru didengar dan tidak dapat menggunakan bahasa dalam konteks yang benar. Anak autis selalu membangkang kepada nasihat. Anak autis kesulitan untuk menyampaikan pesan dan menerima pesan dari orang lain, sehingga menyebabkan anak autis mengalami gangguan dalam berkomunikasi interpersonal (Soetjiningsih, 2014).

(15)

3

mengenal dirinya, kemampuan untuk mendengarkan isi dari komunikasi, mengekspresikan pikiran, mengatasi emosi terutama kemarahan serta keinginan untuk berkomunikasi dengan baik. Kegagalan komunikasi pada anak autis muncul karena adanya perasaan kecewa, marah, bosan, takut, cemas, atau tidak adanya dukungan dari lingkungan disekitarnya sehingga anak menjadi tidak cukup merasa percaya diri saat berkomunikasi (Yatim, 2007).

Ekawati dan Yustina (2012) menyatakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan komunikasi pada anak autis diantaranya terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung komunikasi anak autis adalah adanya penerimaan orang tua terhadap keadaan anak autis, dukungan sosial baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar dan pengajaran pra-klasikal. Faktor pengahambatnya adalah orang tua cenderung protektif dan adanya perspektif negatif dari lingkungan terhadap anak autis. Heward (2003) menyatakan bahwa efektivitas peningkatan kemampuan hidup anak autis sangat ditentukan oleh peran serta dan dukungan penuh dari keluarga, sebab keluarga adalah pihak yang mengenal dan memahami berbagai aspek dalam diri seseorang dengan jauh lebih baik daripada orang-orang yang lain. Faktor keluarga tidak hanya berupa dukungan dari orangtua, melainkan juga dukungan saudara kandung yang dapat mempengaruhi perkembangan anak autis (Ambarini, 2006).

(16)

instrumental. Dari keempat dukungan tersebut didapatkan dukungan emosional merupakan dukungan terbesar yang diberikan oleh keluarga yaitu sebanyak 50%. Tingkatan dukungan keluarga antara satu orang dengan lainnya berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan karena persepsi masing-masing dalam penerimaan dan merasakan (Rustiani, 2009)

Selain orang tua, yang dipercayai oleh anak autis di dalam keluarga adalah saudara kandung. Hubungan antar saudara sekandung akan bertahan lebih lama karena faktor usia sehingga sebagian besar orang tua berharap saudara sekandunglah yang akan merawat dan menemani adik atau kakaknya yang memiliki masalah setelah orang tua meninggal (Lenny, 2003). Anak yang memiliki saudara sekandung penyandang autis akan memiliki jenis hubungan yang berbeda dengan anak yang memiliki saudara sekandung normal. Tidak semua saudara sekandung anak autis mengalami stres yang berlarut-larut, tidak bahagia atau mengalami masalah yang berat (Lenny, 2003). Sejalan dengan hasil penelitian Milyawati (2008) menyatakan lebih dari separuh (74,2%) saudara anak autis bersedia bermain dengan anak autis dan sebanyak 25,8% menyatakan bahwa saudara anak autis hanya kadang-kadang saja mau bermain dengan anak autis. Hal ini mengindikasikan bahwa saudara anak autis mampu berinteraksi secara optimal dengan anak autis.

(17)

5

Berdasarkan uraian diatas, peneliti menyadari akan pentingnya dukungan saudara kandung terhadap perkembangan komunikasi interpersonal yang baik pada anak autis, maka peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan dukungan saudara kandung dengan komunikasi interpersonal pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

1.2.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan masalah, “apakah ada hubungan dukungan saudara kandung dengan komunikasi interpersonal pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar?”

1.3.Tujuan Penelitian

1.3.1.Tujuan Umum

Untuk mengatahui hubungan dukungan saudara kandung dengan komunikasi interpersonal pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

1.3.2.Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui gambaran dukungan saudara kandung pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

b. Untuk mengetahui gambaran komunikasi interpersonal pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

c. Untuk menganalisis hubungan dukungan saudara kandung dengan komunikasi interpersonal pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

1.4.Manfaat Penelitian

1.4.1.Manfaat dari segi teoritis

a. Bagi instansi pendidikan.

(18)

b. Bagi pengembangan IPTEK

Diharapkan dapat menumbuhkan inovasi dalam penemuan untuk dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi pada anak autis.

c. Bagi peneliti

Diharapkan penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan yang didapat dalam penelitian ini supaya dapat dijadikan bahan dalam pelayanan kesehatan baik dalam keluarga, masyarakat maupun saat peneliti bertugas nanti.

1.4.2.Manfaat dari segi praktis

a. Bagi Komunitas (Pasien dan Keluarga)

Dapat memberi dukungan atau support pada anak autis demi meningkatkan kemampuannya dalam bersosialisasi.

b. Bagi Profesi Keperawatan

(19)

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Autisme

2.1.1.Definisi Autisme

Autisme adalah kelainan anak sejak lahir maupun sejak balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan, dengan gejala menutup dirinya sendiri secara total dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar. Kelainan ini merupakan gangguan perkembangan yang kompleks, mempengaruhi perilaku dengan akibat kekurangan kemmapuan komunikasi serta hubungan sosial dan emosional dengan orang lain dan tidak tergantung dari ras, suku, ekonomi, sosial, tingkat pendidikan, geografis tempat tinggal maupun jenis makanan (Fida & Maya, 2012). Menurut Sunu (2012) autisme merupakan salah satu bentuk gangguan tumbuh kembang, berupa sekumpulan gejala akibat adanya kelainan syaraf-syaraf tertentu yang menyebabkan fungsi otak tidak bekerja secara normal sehingga mempengaruhi tumbuh kembang, kemampuan komunikasi, dan kemampuan interaksi sosialnya. Menurut Soetjiningsih (2013) autise masa anak adalah gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya abnormalitas dan/atau perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun dan anak mempunyai abnormal dalam 3 bidang yaitu interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang.

(20)

2.1.2.Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Autisme

Menurut Yuwono (2013) secara spesifik, faktor-faktor penyebab anak menjadi autis belum ditemukan secara pasti. Dalam bukunya, Soetjiningsih (2015) menyatakan terdapat 7 faktor penyebab autis anatara lain faktor psikososial, faktor prenatal, perinatal dan pascanatal, imunologi, infeksi, genetik, neuroanatomi serta neurotransmitter. Hal serupa diungkapkan oleh Handojo (2004) bahwa penyebab autis adalah adanya kelainan pada otak, kelainan genetik, infeksi serta Sensory Interpretation Errors.

a. Faktor Psikososial

Faktor ini muncul karena pola asuh orang tua. Lebih lanjut Soetjiningsih (2015) mengungkapkan penyebab autis adalah pengasuhan yang kaku dan obsesif

b. Faktor Pranatal, Perinatal, Pascanatal

Soethiningsih (2015) mengungkapkan pada trisemester awal adanya perdarahan serta fetal distress. Lebih lanjut handojo (2004) menyatakan pada proses partus lama terjadi gangguan nutrisi dan oksigenasi pada janin. Semua komplikasi diatas menurut Soetjiningsih (2015) dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang diduga sebagai penyebab autis.

c. Imunologi

Penemuan antibody ibu terhadap antigen tertentu menurut Soethiningsih (2015) menyebabkan penyumbatan sementara aliran darah otak janin. Selain itu antigen tersebut juga ditemukan pada sel otak janin, sehingga antibodi ibu dapat merusak jaringan otak janin. Keadaan tersebut memperkuat teori peranan imunologi pada terjadinya autis.

d. Infeksi

(21)

9

e. Faktor genetik

Handojo (2004) menyatakan bahwa faktor genetik diperkirakan menjadi penyebab utama dari kelainan autis, walaupun bukti-bukti yang konkrit masih sulit ditemukan. Lebih lanjut, Soethiningsih (2015) mengungkapkan pada pasangan anak kembar satu telur ditemukan kejadian autis sebesar 36-95%, sedangkan pada anak kembar dua telor kejadiannya 0-23%. Pada penelitian keluarga dari anak yang autis, ditemukan autis pada saudara kandungnya 2,5-3%.

f. Faktor neuroanatomi

Handojo (2004) menyatakan bahwa perilaku autis disebabkan karena adanya kelainan pada otaknya. Penelitian yang dilakukan oleh beberapa pakar ditemukan bahwa adanya kelainan anatomis pada lobus parietalis, cerebelum (otak kecil) dan system limbiknya. Sebanyak 43% penyandang autis memiliki kelainan pada lobus parietalis otaknya sehingga menyebabkan anak cuek terhadap lingkungan. Soethiningsih (2015) menambahkan kelainan juga ditemukan pada otak kecil terutama pada lobus ke-6 dan ke-7. Otak kecil bertanggung jawab atas proses sensoris, daya ingat, berpikir, belajar berbahasa dan proses perhatian. Sedikitnya jumlah sel purkinye pada otak kecil menyebabkan adanya gangguan keseimbangan serotonin dan dopamin. Lebih lanjut Handojo (2004) menjelaskan kelainan khas yang terjadi pada sistem limbik yang disebut Hyppocampus dan

Amygdala sehingga terjadi gangguan fungsi kontrol emosi dan agresif. Amygdala

juga bertangguang jawab terhadap fungsi rangsangan sensoris seperti pendengaran, pengelihatan, penciuman, perabaan, rasa sakit dan rasa takut. Handojo (2004) menjelaskan bahwa Hyppocampus bertanggung jawab terhadap fungsi belajar. Perilaku yang diulang-ulang serta perilaku hiperaktif juga disebabkan karena adanya gangguan pada Hyppocampus.

g. Neurotransmitter

(22)

lanjut, Soetjiningsih (2015) menyatakan bahwa penderita autis memproduksi ensefalin dan beta-endorfin dalam jumlah banyak. Persamaan tingkah laku antara anak autis dengan anak ketergantungan opiate yaitu terdapat gangguan interaksi sosial dan kurang sensitif terhadap rasa sakit. Selain ketiga neurotransmitter tersebut terdapat kenaikan epinefrin, norepinefrin dan oksitosin pada penderita autis. Selain itu Handojo (2004) menyatakan terdapat kelainan yang disebut

Sensory Interpretation Errors yang menyebabkan terjadinya gejala autis. Rangsangan sensori mengalami proses yang kacau di otak anak. Kekacauan tersebut yang akhirnya menyebabkan kebingungan dan ketakutan sehingga anak menarik diri dari lingkungan yang dianggapnya menakutkan tersebut.

2.1.3.Dampak Autis

Menurut Soetjiningsih (2013), dampak dari autis terlihat pada masa anak. Masa anak sekitar setengah dari anak autis mengalami perkembangan yang normal sejak umur satu tahun sampai tiga tahun dan setelah itu baru tampak jelas gangguan anak autis. Perkembangan anak autis di bawah rata-rata anak pada umum dalam bidang komunikasi interpersonal, kognitif, emosi, respon abnormal terhadap perangsangan indra, serta gangguan perilaku.

1) Gangguan perilaku

(23)

11

Puspita (2010) berpendapat bahwa gejala anak autis diantaranya adanya perilaku stereotipi / khas pada anak autis seperti mengepakkan tangan, melompat-lompat, berjalan jinjit, senang pada benda yang berputar atau memutar-mutarkan benda, mengketuk-ketukkan benda ke benda lain, obsesi pada bagian benda atau benda yang tidak wajar dan berbagai bentuk masalah perilaku lain yang tidak wajar bagi anak seusianya.

2) Gangguan komunikasi interpesonal

Komunikasi interpersonal merupakan kemampuan yang sulit dilakukan oleh anak autis. Keterlambatan komunikasi dan bahasa merupakan ciri yang menonjol pada anak autis. Sekitar 40-50% anak autis tidak memiliki kemampuan berkomunikasi tersebut baik verbal maupun non verbal. Gangguan ini terlihat pada kurangnya penggunaan bahasa untuk kegiatan sosial seperti kendala dalam melakukan permainan, buruknya atau kurangnya interaksi timbal balik dalam percakapan seperti kurangnya fleksibilitas dalam bahasa ekspresif dan relative kurangnya kreativitas dan fantasi pada proses berpikir, kurangnya respon emosional terhadap ungkapan verbal dan non verbal orang lain, kendala dalam menggunakan irama dan tekanan modulasi komunikatif, dan kurangnya isyarat tubuh untuk mengartikan komunikasi lisan.

Penyebab gangguan komunikasi interpersonal pada anak autis yaitu perkembangan kemampuan berbahasa anak autis sangat lambat atau tidak ada sama sekali. Kata-kata yang dikeluarkan dari anak autis tidak dapat dimengerti,

echolalia atau dapat diartikan bentuk pengulangan kata dari orang lain tanpa mengetahui maksud dari kata tersebut, dan nada suaranya monoton seperti suara robot. Anak tidak dapat menyampaikan keinginannya dengan kata-kata atau bahasa isyarat. Sukar memahami arti kata-kata yang baru mereka dengar dan tidak dapat menggunakan bahsa dalam konteks yang benar. Anak sering mengulang kata-kata yang baru atau pernah untuk berkomunikasi tanpa mengetahui arti dari kata tersebut.

(24)

Pemahaman pengguanaan norma-norma budaya, gambar-gambar ujaran, idiom, gesture, kontak mata dan bahasa tubuh adalah hal-hal yang sulit dipahami anak autis, karenanya menyulitkan mereka untuk berkomunikasi dua arah.

3) Gangguan kognitif

Gangguan kognitif merupakan respon maladaptive yang ditandai oleh daya ingat terganggu dan sukar berpikir logis. Gangguan kognitif erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan anak untuk berpikir akan dipengaruhi oleh keadaan otak. Akibat dari gangguan kognitif yaitu menurunnya kemampuan konsentrasi terhadap stimulus. Gangguan kognitif pada anak autis tidak terjadi pada semua sektor perkembangan kognitif, karena ada sebagian kecil anak autis mempunyai kemampuan yang luar biasa, anak ini disebut dengan autistik savant

(dulu disebut idiot savant).

4) Respon abnormal terhadap perangsangan indra

Respon abnormal terhadap perangsangan indra adalah respon yang terjadi pada anak autis yang hiposensitif atau hipersensitif terhadap perangsangan penglihatan, pendengaran, perabaan atau sentuhan, penciuman dan pengecapan. Banyak anak autis yang mempunyai kepekaan ekstrem yang membuatnya sulit untuk memberi perhatian pada lebih dari satu input rangsangan sekaligus. Tactile defensiveness

merupakan salah satu contoh akibat kepekaan ekstrim dimana anak autis bertahan dan tidak mau disentuh karena merasakan sentuhan sebagai sesuatu yang menyiksa. (Sastry, 2014)

5) Gangguan emosi

(25)

13

2.2. Konsep Dasar Komunikasi Interpersonal

2.2.1.Definisi Komunikasi Interpersonal

Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara orang – orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik verbal maupun nonverbal (Mulyana, 2004). Komunikasi interpersonal merupakan proses pertukaran informasi antara seseorang dengan seseorang lainnya atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahu balikannya, dengan bertambahnya orang – orang yang terlibat dalam komunikasi maka komunikasi pun menjadi bertambah kompleks (Muhammad, 2004). Komunikasi interpersonal juga didefiniskan sebagai komunikasi yang terjadi antara dua orang yang mempunyai hubungan yang terlihat jelas diantara mereka, misalnya percakapan seseorang ayah dengan anak, sepasang suami istri, guru dengan murid, dan lain sebagainya. Definisi ini setiap komunikasi baru dipandang dan dijelaskan sebagai bahan – bahan yang teritegrasi dalam tindakan komunikasi antarpribadi (Rochmah, 2011). Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang berlangsung antar dua orang yang memungkinkan adanya umpan balik secara langsung dan dilakukan secara tatap muka dengan tujuan untuk dapat memelihara hubungan yang baik.

2.2.2.Tujuan Komunikasi Interpersonal

Menurut Muhammad (2004) Komunikasi interpersonal mempunyai 6 tujuan antara lain:

a. Menemukan diri sendiri

(26)

b. Menemukan dunia luar

Komunikasi interpersonal menjadikan seseorang dapat memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi. Banyak informasi yang ketahui datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari atau didalami melalui interaksi interpersonal.

c. Membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti

Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan orang lain.

d. Berubah sikap dan tingkah laku

Banyak waktu yang pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal, kita boleh menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu benar atau salah. Banyak menggunakan waktu terlibat dalam posisi interpersonal.

e. Bermain dan kesenangan

Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan waktu. Melakukan komunikasi interpersonal dengan semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di lingkungan kita.

f. Membantu kegiatan profesional

(27)

sehari-15

hari. Berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan lain sebagainya.

2.2.3.Aspek-Aspek Komunikasi Interpersonal

Menurut Bienvenu (dalam Rochmah 2011) ada lima komponen komunikasi interpersonal yaitu:

a. Konsep diri (Self concept) adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya. Konsep diri ada lima yaitu gambaran diri / citra tubuh ( body image ), ideal diri ( self ideal ), harga diri ( self esteem ), peran ( role performance ), danidentitas ( identity ) b. Kemampuan (Ability) adalah kemampuan untuk menjadikan pendengar yang

baik, keterampilan yang mendapat sedikit perhatian.

c. Pengalaman keterampilan (Skill experience) Banyak orang merasa sulit untuk melakukan kemampuan untuk mengekspresikan pikiran dan ide-ide.

d. Emosi (Emotion) adalah individu dapat mengatasi emosinya, dengan cara konstruktif atau berusaha memperbaiki kemarahan.

e. Pengungkapan diri (Self disclousure) adalah keinginan untuk berkomunikasi kepada orang lain secara bebas dan terus terang dengan tujuan untuk menjaga hubungan interpersonal.

2.2.4.Sikap Positif dalam Komunikasi Interpersonal

Devito (1997) (dalam Suranto AW, 2011) mengemukakan lima sikap positif yang perlu dipertimbangkan ketika seseorang merencanakan komunikasi interpersonal. Lima sikap positif tersebut, meliputi :

a. Keterbukaan (openness)

(28)

sebenarnya. Dalam proses komunikasi interpersonal, keterbukaan menjadi salah satu sikap yang positif. Hal ini disebabkan, dengan keterbukaan, maka komunikasi interpersonal akan berlangsung secara adil, transparan, dua arah, dan dapat diterima oleh semua pihak yang berkomunikasi

b. Empati(empathy)

Empati ialah kemampuan seseorang untuk merasakan kalau seandainya menjadi orang lain, dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang lain, dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan dapat memahami sesuatu persoalan dari sudut pandang orang lain, melalui kacamata orang lain. Orang yang berempati mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka. Dengan demikian empati akan menjadi filter agar kita tidak mudah menyalahkan orang lain. Namun kita dibiasakan untuk dapat memahami esensi setiap keadaan tidak semata-mata berdasarkan cara pandang kita sendiri, melainkan juga menggunakan sudut pandang orang lain. Hakikat empati adalah : (a) Usaha masing-masing pihak untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain; (b) dapat memahami pendapat, sikap dan perilaku orang lain.

c. Sikap mendukung (supportiveness)

Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (supportiveness). Artinya masing-masing pihak yang berkomunikasi memiliki komitmen untuk mendukung terselenggaranya interaksi secara terbuka. Oleh karena itu respon yang relevan adalah respon yang bersifat spontan dan lugas, bukan respon bertahan dan berkelit. Pemaparan gagasan bersikap deskriptif naratif, bukan bersifat evaluatif. Sedangkan pola pengambilan keputusan bersifat akomodatif, bukan intervensi yang disebabkan rasa percaya diri yang berlebihan. d. Sikap positif (positiveness)

(29)

17

melakukan aktivitas untuk terjalinnya kerjasama. Misalnya secara nyata membantu partner komunikasi untuk memahami pesan komunikasi, yaitu kita memberikan penjelasan yang memadai sesuai dengan karakteristik mereka.

e. Kesetaraan (equality)

Kesetaraan (equality) ialah pengakuan bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan, kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan saling memerlukan. Memang secara alamiah ketika dua orang berkomunikasi secara interpersonal, tidak pernah tercapai suatu situasi yang menunjukkan kesetaraan atau kesamaan secara utuh diantara keduanya. Pastilah yang satu lebih kaya, lebih pinter, lebih muda, lebih berpengalaman, dan sebagainya. Namun kesetaraan yang dimaksud disini adalah berupa pengakuan atau kesadaran, serta kerelaan untuk menempatkan diri setara (tidak ada yg superior ataupun inferior) dengan partner komunikasi.

2.2.5.Perkembangan Komunikasi Interpersonal Anak Penyandang Autis

Perkembangan komunikasi pada anak yang mengalami autis sangat berbeda dengan anak pada umumnya. Ada empat tingkatan komunikasi pada anak autis, yang tergantung dari kemampuan berinteraksi, cara berkomunikasi, dan pengertian anak itu sendiri. Keempat tahap tersebut adalah “The Own Agenda Stage”, “The Requester Stage”, “The Early Communicator Stage”dan“The

Partner Stage”.

(30)

Pada tahap kedua (The Requester Stage), anak mulai dapat berinteraksi walaupun dengan singkat. Anak menggunakan suara atau mengulang beberapa kata untuk menenangkan diri atau memfokuskan diri. Anak meraih yang dia mau atau menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu. Anak kadang-kadang mengerti perintah keluarga dan tahap-tahap kegiatan rutin di keluarga.

Pada tahap ketiga (The Early Communicator Stage) anak dapat berinteraksi dengan orang tua dan orang yang dikenal. Anak ingin mengulang permainan dan bisa bermain dalam jangka waktu lama. Anak meminta meneruskan permainan fisik yang disukai dengan menggunakan gerakan yang sama, suara, dan kata setiap anda main. Kadang-kadang anak meminta atau merespon dengan mengulang kata yang diucapkan orang lain (echolali). Anak juga dapat meminta sesuatu dengan menggunakan gambar, gerak tubuh, atau kata. Anak mulai dapat memprotes atau menolak sesuatu dengan menggunakan gerak, suara, kata yang sama. Anak pada tahap ini dapat mengerti kalimat sederhana atau kalimat yang sering digunakan, mengerti nama benda atau nama orang yang sehari-hari ditemui, dapat

mengatakan “hai” dan “dadah”, dapat menjawab pertanyaan dengan mengatakan

ya/tidak, dan dapat menjawab pertanyaan ‘apa itu?”

Pada tahap yang paling tinggi yaitu “The Partner Stage”, anak dapat berinteraksi

(31)

19

menggunakan echolali (menirukan perkataan orang lain) bila dia tidak mengerti perkataan orang lain atau bila dia tidak dapat membuat kalimat. Anak pada tahap akhir ini masih mengalami kesulitan dalam mengikuti percakapan. Cara mengatasi kesulitan ini adalah dengan merespon orang dengan berinisiatif bercakap-cakap sendiri, berusaha bercakap-cakap dengan topik yang disukai. Anak mungkin melakukan kesalahan tata bahasa terutama kata ganti, sepeti kamu, saya, dia. Anak akan bingung bila percakapan terlalu rumit atau orang tidak berkata langsung padanya. Anak juga dapat mengalami kesulitan dengan aturan percakapan. Anak tidak tahu bagaimana memulai dan mengakhiri percakapan, tidak mendengar perkataan orang lain, tidak bisa fokus pada satu topik, tidak berusaha mengklarifikasi perkataan yang tidak dimengerti orang dan memberi terlalu sedikit detail atau terlalu banyak detail. Anak mungkin tidak paham isyarat sosial yang diberikan orang lain melalui ekspresi wajah atau bahasa tubuh dan tidak mengerti humor atau permainan kata-kata.

2.2.6.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Komunikasi

Interpersonal Anak Autis

Menurut Ekawati dan Yustina (2012) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan komunikasi pada anak autis diantaranya terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat sebagai berikut:

a. Faktor Pendukung 1) Penerimaan orang tua

(32)

perasaan marah, bersalah, depresi, malu, penolakan anak, terlalu melindungi (overprotectiveness), dan sebagainya. Tahap ketiga merupakan tahap terakhir dimana orangtua menerima ketidakmampuan anak mereka. Menurut Kenner (dalam Gibby & Hutt, 1979) the accepting parent adalah orangtua yang secara matang mengakui, beradaptasi, dan menerima kenyataan mengenai ketidakmampuan anak. Pada reaksi ini, penerimaan yang dilakukan oleh orangtua terhadap anak membawa banyak keuntungan positif baik untuk anak maupun untuk orangtua sendiri. Salah satu keuntungan dari adanya penerimaan orangtua terhadap keadaan anak autis adalah adanya perkembangan interaksi sosial anak, khususnya perkembangan komunikasi anak autis.

2) Dukungan sosial

(33)

21

3) Metode pengajaran pra-klasikal

Perkembangan komunikasi, interaksi, dan motoriknya, lebih terlihat saat anak autis mendapatkan pengajaran dengan metode pra-classical. Anak autis menjadi lebih mengenal dan dapat bersosialisasi dengan teman-teman dan guru-gurunya. Anak autis mampu memberikan salam kepada guru saat masuk kelas, mampu menjawab pertanyaan yang diberikan guru di kelas, dan dapat bercanda dengan teman-temannya (Ekawati & Yustina, 2012). Hal ini sesuai dengan pernyataan Fasli (dalam Dieni, 2010), yang mengatakan bahwa anak yang menyandang autis digabungkan bersama-sama anak-anak normal lainnya justru lebih cepat kemajuannya, karena anak tersebut akan merasa tidak terasing dan bisa mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya.

b. Faktor Penghambat

1) Orangtua cenderung protektif

Sikap overprotective yang ditunjukkan oleh orangtuanya pada anak dapat menghambat perkembangan anak autis. Berdasarkan hasil penelitian Ekawati & Yustina (2012), orang tua anak autis sangat takut apabila anaknya main keluar rumah, karena takut anak akan hilang dan tidak tahu jalan pulang. Oleh karena itu biasanya orang tua tidak mengijinkan anaknya untuk main keluar rumah dan lebih memilih anak untuk main game komputer di rumah. Menurut Soemantri (2006, 118-119), perasaan melindungi anak secara berlebihan berupa perilaku proteksi biologis yang wajar dilakukan oleh orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, karena orangtua merasa anaknya tidak seperti anak lainnya yang dapat menjaga dirinya sendiri. Tapi dalam kasus ini, hal tersebut dapat menghambat perkembangan interaksi sosial anak khususnya komunikasi anak apabila sampai menghalangi anak untuk bergaul dengan anak lain.

2) Adanya perspektif negatif dari lingkungan

(34)

takut kalau akan disakiti. Padahal tidak semua anak yang menyandang autis memiliki karakteristik suka menyakiti orang lain. Akibatnya, saat berada di lingkungan yang membuatnya tidak nyaman anak tidak mau melakukan kontak sosial dengan orang disekitarnya dan lebih memilih untuk bermain game sendirian.

2.3. Dukungan Keluarga

2.3.1.Pengertian Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga yakni sikap, tindakan dan penerimaan terhadap penderita yang sakit. Keluarga juga berfungsi sebagai system pendukung bagi anggota dan anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung, selalu siap memberikan penolongan dengan bantuan jika diperlukan. Sumber dukungan keluarga dapat berupa dukungan keluarga internal, seperti dukungan dari orangtua, dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial keluarga eksternal (Friedman, 2010).

2.3.2.Jenis Dukungan Keluarga

Menurut Friedman (2010) dukungan keluarga dibagi menjadi : a. Dukungan Informasional

Keluarga berfungsi sebagai kolektor dan disseminator (penyebar) informasi tentang dunia yang dapat digunakan untuk mengungkapkan suatu masalah. Manfaat dari dukungan ini adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyubangkan aksi sugesti yang khusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk, dan pemberian informasi.

b. Dukungan Penghargaan (penilaian)

(35)

23

c. Dukungan Instrumental

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit diantaranya bantuan langsung dari orang yang diandalkan seperti materi, tenaga dan sarana. Manfaat dukungan ini adalah mendukung pulihnya energi atau stamina dan semangat yang menurun, selain itu indivisu merasa bahwa masih ada perhatian atau kepedulian dari lingkungan terhadap seorang yang sedang mengalami kesusahan atau penderitaan.

d. Dukungan Emosional

Keluarga sebagai suatu tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Manfaat dari dukungan ini adalah secara emosional menjalin nilai-nilai individu (baik pria maupun wanita) akan selalu terjaga kerahasiannya dari orang lain. Aspek-aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan serta didengarkan.

2.3.3.Saudara Sekandung Anak Autis

Seorang anak dengan ketidakmampuan akan mengganggu harapan dan impian dari orang tua dan mempengaruhi kehidupan anak lain di dalam keluarga. Hidup berdekatan dengan saudara sekandung penyandang autism dapat menjadi sesuatu yang rewarding maupun sesuatu yang memicu stress Berkell (dalam Ambarini 2006). Dalam penelitian Berkell (dalam Ambarini 2006) menggambarkan hubungan antara saudara sekandung dengan anak autis sebagai suatu kontinuum dengan hasil positif dan negatif pada masing-masing ujungnya. Perasaan yang dialami oleh saudara sekandung terhadap anak autis bukan merupakan sesuatu yang statis tetapi berubah-ubah. Di satu waktu menyenangkan dan di lain waktu merasakan marah dan tidak mengerti akan tingkah laku anak autis.

(36)

orang tua pilih kasih, tetapi karena kondisi anak autis memang membutuhkan perhatian ekstra. Saudara sekandung anak autis juga menunjukkan kebanggaan dan keloyalan terhadap segala kemampuan yang dimiliki anak autis. Mereka berpikir menjadi penyandang autisme tidak menghalangi seorang anak untuk mencapai suatu prestasi. (Meyer & Vadasy, dalam Ambarini 2006).

Pengaruh negatif juga dialami oleh saudara sekandung, diantaranya merasa marah dan jengkel karena memiliki saudara sekandung yang berbeda dari anak normal. Rasa marah dan jengkel disebabkan karena ketidakpahaman perilaku anak autis yang menakutkan seperti melukai diri sendiri, menyerang orang lain, atau perilaku yang merugikan seperti menghancurkan mainan, atau keengganan anak autis jika diajak bermain. Perasaan negatif lain yang dirasa adalah iri karena anak autis ini menjadi pusat perhatian, dimanjakan, dilindungi berlebihan dan diizinkan untuk berprilaku yang apabila oleh anggota keluarga lain tidak diperbolehkan (Ambarini, 2006). Saudara sekandung juga merasa bersalah karena menyangka dirinya menjadi penyebab kelainan autisme pada saudaranya dan bertanya mengapa tidak dirinya saja yang mengalami kelainan autisme (Ambarini, 2006). Walaupun saudara sekandung mendapat pengaruh negatif dari hidup bersama dengan anak autis, ditemukan bahwa saudara sekandung dari anak autis tidak memiliki lebih banyak masalah dalam penyesuaian diri dibandingkan anak normal (Berkell, dalam Ambarini 2006).

Anak “normal” yang lebih muda kehilangan teman bermain yang “normal” dan

(37)

25

2.3.4.Karakteristik Saudara Sekandung dari Anak Autis

Deskripsi karakteristik saudara sekandung dari anak autis seperti yang terdapat dalam Schubert (dalam Ambarini 2006) adalah sebagai berikut :

a. Usia Prasekolah (Sebelum usia 5 tahun)

Anak-anak pada kelompok usia ini belum mampu mengemukakan perasaan mereka mengenai sesuatu, karena itu ada kemungkinan mereka akan menunjukkan perasaan mereka melalui tingkah laku. Mereka tidak akan mampu memahami kebutuhan khusus saudara sekandung yang menyandang autisme, tetapi mereka akan memperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut dan berusaha mengajari saudara mereka. Anak-anak pada usia ini memiliki kemungkinan untuk menyenangi saudara sekandung mereka karena mereka belum belajar untuk menjadi judgemental, dan perasaan mereka terhadap saudara autis mereka akan sama selayaknya dengan saudara sekandung yang normal.

b. Usia Sekolah (Usia 6-12 tahun)

(38)

Anak usia 7-12 tahun pada tahap ini dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa yang konkrit dan mengklasifikasikan benda dalam bentuk berbeda. c. Usia Remaja (Usia 13-17 tahun)

Remaja memiliki kemampuan untuk memahami penjelasan yang lebih terperinci mengenai gangguan yang dialami oleh saudaranya. Mereka akan menanyakan pertanyaan yang detil dan provokatif. Tugas perkembangan pada masa remaja adalah mulai mencari jati diri di luar bagian dari suatu keluarga. Pada saat yang sama, konformitas dengan teman-teman permainan sebaya juga amat penting. Oleh karena itu, bagi anak-anak di usia ini, memiliki saudara sekandung yang berbeda mungkin akan menjadi sesuatu yang memalukan di depan teman-teman atau pacar. Mereka merasa perasaannya terbagi dua antara hasrat untuk mandiri dari keluarga dengan mempertahankan hubungan yang khusus dengan saudara sekandung. Mereka mungkin akan kesal terhadap pemberian tanggung jawab dan mereka akan mulai mengkhawatirkan masa depan saudara autis mereka tersebut. Saudara sekandung (sibling) telah menjadi fokus penelitian dan pelayanan

mengenai autisme dalam berbagai cara. Schriebman, O’neill dan Koegel (dalam

(39)

27

2.4.Hubungan Dukungan Saudara Sekandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis

Peran saudara sekandung dari anak autis akan menunjang keberhasilan terapi bagi saudara autisnya, apabila mampu berperan secara aktif dan berkesinambungan dalam memberikan terapi bagi anak autis. Peran saudara sekandung dalam membantu anak autis menguasai keterampilan-keterampilan tertentu tidak hanya pada saat pemberian terapi di rumah, namun lebih besar apabila dilakukan di dalam kegiatan sehari-hari ketika mereka saling berinteraksi sehingga mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dari anak autis itu sendiri. (Ambarini 2006). Menurut Friedman (2010) dukungan saudara kandung termasuk dalam dukungan keluarga internal. Dukungan saudara kandung pada anak autis akan digambarkan sesuai aspek dukungan keluarga.

(40)

28

BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN VARIABEL PENELITIAN

3.1. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah model konseptual yang berhubungan dengan bagaimana peneliti menyusun teori atau menghubungkan beberapa factor yang dianggap penting untuk masalah secara logis. Kerangka konsep membahas saling ketergantungan antar variabel untuk melengkapi dinamika situasi hal yang sedang atau akan diteliti (Hidayat, 2007)

Keterangan :

Variabel yang diteliti Variabel yang tidak diteliti Arah hubungan yang diteliti Arah hubungan yang tidak diteliti

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Hubungan Dukungan Saudara Sekandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

Aspek Komunikasi

Sumber dukungan Sosial berasal dari : 3. Metode pengajaran

(41)

29

Kerangka konsep adalah abstraksi dari suatu realitas agar dapat dikomunikasikan dan membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antarvariabel (Nursalam, 2013). Kerangka konsep membantu peneliti menghubungkan hasil penemuan dengan teori. Keluarga merupakan pemegang peranan besar dalam pemberian dukungan kepada anak autis, terutama peran dari saudara sekandungnya. Dukungan yang diberikan saudara sekandung yaitu dalam hal perkembangan kemampuan komunikasi interpersonal pada anak autis.

3.2.Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu seperti benda, manusia dan lain-lain.(Nursalam, 2013). Variabel penelitian ada dua yaitu variabel independen dan dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah dukungan saudara kandung dan variabel dependen dalam penelitian ini adalah komunikasi interpersonal.

Definisi operasional adalah fenomena observasional yang memungkinkan peneliti untuk mengujinya secara empirik apakah outcome yang diprediksi tersebut benar atau salah (Swarjana, 2013).

Tabel 3. 1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

No Variabel Sub variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala

(42)
(43)

31

No Variabel Sub variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala

1 2 3 4 5 6 7

c. Pengalaman keterampilan (Skill experience)

Kemampuan anak autis untuk mengekspresikan pikiran dan ide-ide

d. Emosi (Emotion)

Kemampuan anak autis untuk berusaha

memperbaiki kemarahan

e. Pengung-kapan diri (Self

disclousure)

Kemampuan anak autis berkomunikasi secara bebas dan terus terang

3.3.Hipotesis

(44)

32

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan dukungan saudara sekandung dengan komunikasi interpersonal pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

4.2.Kerangka Kerja

4. Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian Pengaruh Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian Hubungan Dukungan Saudara Kandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis

Kriteria Inklusi Kriteria ekslusi

Sampling

Non Probability Sampling dengan teknik Total Sampling

Sampel

Orang tua dan saudara sekandung anak autis

Pengambilan data

Kuesioner Dukungan Saudara Kandung, Kuesioner Komunikasi Interpersonal

Analisis Data dan Pengajian Hubungan

Analisis Univariat, Analisis Bivariat

Analisis yang digunakan yaitu Pearson Product Moment jika data berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal ananilis yang digunakan yaitu Spearman Rank (Tk.Kepercayaan

95% dengan α < 0,05)

Penyajian Hasil Penelitian

Populasi

(45)

33

4.3. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pusat Layanan Autis Kota Denpasar dengan alamat Jln.Mataram No. 3, Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar. Penelitian ini akan dilakukan dimulai dari Desember sampai Januari sampai data yang diperlukan peneliti terpenuhi.

4.4. Populasi, Teknik Sampling Penelitian dan Sampel

4.4.1.Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono,2016). Populasi dapat dikelompokkan dalam dua bagian yaitu populasi target dan populasi terjangkau. Populasi target dari penelitian ini adalah saudara kandung dan salah satu orang tua seluruh anak autis di PLA Kota Denpasar dengan jumlah anak autis sebanyak 80 orang. Populasi terjangkau dapat diperoleh dengan cara diberlakukan filter menggunakan kriteria inklusi yaitu:

a. Anak autis yang memiliki saudara kandung berumur ≥ 13 tahun

b. Anak autis yang memiliki saudara kandung yang tidak mengalami gangguan jiwa atau mental dan tidak mengidap autis.

c. Orang tua anak autis yang mau menjadi responden.

d. Orang tua dan saudara sekandung anak autis yang bisa membaca dan menulis.

4.4.2.Teknik Sampling

(46)

4.4.3.Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah semua responden yang masuk dalam populasi terjangkau.

4.5. Jenis dan Cara Pengumpulan Data

4.5.1.Jenis dan Data yang Dikumpulkan

Berdasarkan cara memperolehnya, data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer dalam penelitian ini adalah data yang secara langsung diperoleh dari obyek penelitian (Riwidikdo, 2007). Data yang dikumpulkan adalah berupa data demografi, data dukungan saudara kandung, data komunikasi interpersonal.

4.5.2.Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan kegiatan peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian (Hidayat, 2009). Berikut langkah-langkah dalam pengumpulan data : a. Mengajukan proposal penelitian.

b. Mendapat surat pengantar permohonan izin melakukan penelitian dari Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

c. Mengajukan surat permohonan izin penelitian ke tempat penelitian. Dalam penelitian ini, prosedur pengajuan izin yang dilakukan di tempat penelitian adalah sebagai berikut :

1) Melakukan uji etik untuk mendapatkan ethical clearance.

2) Mengajukan surat izin ke Badan Perizinan dan Penanaman Modal Provinsi Bali

3) Meneruskan surat izin penelitian ke Kesbangpol Kota Denpasar.

4) Meneruskan surat izin penelitian ke Pusat Layanan Autis Kota Denpasar. d. Pendekatan formal kepada subjek penelitan serta meminta izin mengambil

(47)

35

menandatangani formulir persetujuan menjadi responden dan jika menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan menghormati haknya. e. Memberikan angket berupa kuesioner kepada responden untuk diisi bagi

orangtua dan saudara kandung anak autis yang bisa membaca dan menulis. Bagi responden yang tidak bisa membaca dan menulis, peneliti membacakan kuesioner dan memberikan penjelasan agar subjek mengerti.

f. Apabila responden tidak berkenan mengisi kuesioner pada saat pertemuan pertama maka peneliti akan meminta nomor telepon yang dapat dihubungi untuk membuat kontrak pertemuan selanjutnya.

g. Hasil pengisian kuesioner oleh responden kemudian data tersebut direkapitulasi dan dicatat pada lembar rekapitulasi (Master Table) untuk diolah.

4.5.3.Instrumen Pengumpulan Data

(48)

Tabel 4.1Blue Print Kuesioner Dukungan Saudara Kandung

NO Dimensi Jumlah Pernyataan No Item Pernyataan Jenis Pernyataan 1 Dukungan

Instrumen yang digunakan untuk mengukur komunikasi interpersonal pada anak autis adalah Interpersonal Communication Inventory (ICI) yang dibuat oleh Millard J. Bienvenu (Rochmah, 2011). Pada skala ini berjumlah 25 item pernyataan yang meliputi lima aspek yaitu aspek konsep diri (self concept),

kemampuan (ability), pengalaman keterampilan (skill experience), emosi

(49)

37

untuk pernyataan positif adalah ya (skor 1) dan tidak (skor 0) dan pernyataan negatif adalah ya (skor 0) dan tidak (skor 1).

Tabel 4.2 Blue Print Kuesioner Komunikasi Interpersonal Pada Anak Autis

NO Dimensi Jumlah Pernyataan No Item Pernyataan Jenis Pernyataan 1

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahhian suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Arikunto, 2010). Salah satu rumus korelasi yang dapat digunakan adalah Person Product Moment (Hidayat, 2011).

(50)

nilai r table untuk tingkat kemaknaan 5% adalah 0,361 dan hasil yang didapatkan bahwa dari 30 pernyataan hanya 25 pertanyaan yang valid dan lima pernyataan yang tidak valid antara lain pernyataan nomor 5,6,12,20,dan 28. Pernyataan yang valid dengan r hitung 0,370-0,900 (Arsami, 2016).

Kuesioner dukungan saudara kandungpun telah dilakukan uji validitas yang dilakukan pada saudara kandung dari anak autis di Yayasan Kuncup Bunga Denpasar tanggal 16 April 2016 dengan jumlah 30 responden. Hasil uji validitas yang telah dilakukan, di dapatkan nilai r table untuk tingkat kemaknaan 5% adalah 0,361 dan hasil yang didapatkan bahwa dari 32 pernyataan hanya 26 pernyataan yang valid dengan r hitung 0,441-0,837. Pernyataan yang tidak valid yaitu nomor, 6, 11, 14, 18, 22, dan 29 (Dewi, 2016).

b. Uji reliabilitas

Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataan, maka berapa kalipun diambil, tetap akan sama. Reliabilitas menunjuk pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabel artinya, dapat dipercaya, jadi dapat diandalkan (Arikunto, 2010). Ketentuan uji reliabilitas yaitu bila r Alpha > r tabel, maka instrumen tersebut reliabel r Alpha < r table, maka tidak reliabel (Hidayat, 2011).

Uji reliabilitas untuk kuesioner komunikasi interpersonal dilaksanakan di Yayasan Kuncup Bunga Denpasar dengan 30 responden anak autis didapatkan bahwa nilai r alpha > r tabel yaitu 0,939 > 0,71, maka semua pertanyaan tersebut reliable (Arsami, 2016).

(51)

39

4.5.4.Etika Penelitian

Etika penelitian merupakan prinsip-prinsip etik yang harus dijaga dalam melaksanakan penelitian, jika yang menjadi subjek penelitian adalah manusia. Prinsip etika penelitian berdasarkan KNEPK (2007) adalah sebagai berikut :

a. Penghormatan terhadap manusia/Respect for person

Setiap orang memiliki hak yang harus dihormati, setiap orang berhak untuk menentukan pilihan (self determination) antara mau dan tidak untuk diikutsertakan menjadi subjek penelitian

1) Lembar Persetujuan Responden (Informed Consent)

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan (Hidayat,2007).

Informed consent peneliti berikan sebelum peneliti memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden yang telah memenuhi kriteria dan akan diteliti, bila subjek menolak maka peneliti tidak dapat memaksa dan menghormati hak-haknya.

2) Kerahasiaan nama (Anonimity)

Dilakukan dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil yang akan disajikan (Hidayat,2007)

b. Kebaikan dan Meminimalkan Kerugian/Beneficience & non maleficience

Peneliti berupaya agar penelitian yang dilakukan bermanfaat untuk kepentingan manusia dan tidak merugikan bagi orang lain. Adapun manfaat penelitian yaitu meningkatkan self efficacy dan psychological well being pada orang tua yang memiliki anak autis

c. Keadilan/Justice

Prinsip ini dilakukan peneliti untuk menjunjung tinggi keadilan manusia dengan menghargai hak, menjaga privasi manusia dan tidak berpihak dalam perlakuan terhadap responden.

d. Veracity

(52)

4.6.Pengolahan dan Analisis Datas

4.6.1.Teknik Pengolahan Data

Langkah-langkah dalam pengolahan data : a. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan (Hidayat, 2009). Setelah kuesioner terkumpul kemudian kuesioner diperiksa kelengkapannya dan kejelasan data untuk menghindari adanya kesalahan atau kekeliruan.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori (Hidayat, 2009). Dari data yang diperoleh melalui kuesioner dilakukan coding dengan ketentuan pemberian kode pada data demografi pada variable usia, jenis kelamin, pendidikan, dukungan saudara kandung (dukungan informal, dukungan penghargaan, dukungan instrumental, dukungan ), komunikasi interpersonal (Konsep diri (self concept), kemampuan (ability), pengalaman keterampilan (skill experience), emosi (emotion), pengungkapan diri (self disclosure)).

c. Entri

Entri merupakan kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau data base computer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel kontigensi (Hidayat, 2009).

d. Analize

Data yang sudah dilakukan entri data kemudian diproses agar data dapat di analisis. Data yang diperoleh melalui kuesioner kemudian dimasukan ke dalam master table dengan menggunakan software computer.

e. Cleaning

Melakukan pengecekan kembali bahwa seluruh data yang dimasukan dalam

(53)

41

4.6.2.Teknik Analisis Data

1)Analisis Univariat

Analisis univariat adalah analisis yang dilakukan untuk menganalisis tiap variabel dari hasil penelitian yang disajikan dalam bentuk distribusi yang dinarasikan (Notoadmodjo, 2005). Analisis univariat dilakukan untuk mengidentifikasi variabel dukungan saudara kandung dan variabel komunikasi interpersonal dengan karakteristik responden yang meliputi : usia, jenis kelamin, pendidikan yang dijelaskan menggunakan distribusi frekuensi dengan ukuran persentase dan proporsi.

2) Analisis Bivariat

Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoadmojo, 2010). Sebelum dilakukan uji statistik, dilakukan uji normalitas data untuk menentukan data apakah berdistribusi normal atau tidak. Selain itu syarat penggunaan statistik parametrik adalah data harus berdistribusi normal, namun apabila data tidak berdistribusi normal umumnya menggunakan uji non parametrik (Hidayat, 2011). Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro Wilk jika jumlah sampel kurang dari 50 orang atau uji Kolmogorov-Smirnov jika responden lebih dari 50 orang, dimana jika p value < 0,05 maka data dikatakan berdistribusi tidak normal dan dikatakan berdistribusi normal apabila p value > 0,05 (Hidayat, 2011).

(54)

DAFTAR PUSTAKA

Ambarini, T. Kurnia. (2006). Saudara Sekandung dari Anak Autis dan Peran Mereka dalam Terapi, INSAN Volume 8 No. 2. Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Arsami, Pebry. (2016). Gambaran Komunikasi Interpersonal Pada Anak Dengan Autis di SLB/A Negeri Denpasar Tahun 2016. Denpasar: Poltekkes Denpasar.

Center For Disease Control And Prevention. (2014). Prevalence of Autism Spectrum Disorder among Children Aged 8 years Autism and Developmental Disabilities Monitoring Network, 11 sites, United States, 2010. S. Government Printing Office, Washington DC 20402 : Morbidity and Mortality Weekly Report. Vol. 63/No. 2. ISSN: 1546-0738

Dewi, C. Puspita. (2016). Gambaran Dukungan Saudara Kandung pada Anak Autis di SLB/A Negeri Denpasar Tahun 2016. Denpasar: Poltekkes Denpasar.

Ekawati, Y. dan Yustina, Y. W. (2012). Perkembangan interaksi sosial anak autis di sekolah inklusi: ditinjau dari perspektif ibu. Experientia : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1, No 1 page. 1-15

Fitriastarina S., Indah. (2014). Gambaran Stres Pada Saudara Kandung Anak Autisme Di Tanggerang Selatan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. http://repository.uinjkt.ac.id.

Friedman, dkk. (2010). Buku Ajar Keperawatan Keluarga Riset, Teori, Praktik. Jakarta: EGC

Gibby, R. G. & Hutt, M. L. (1979). The Mentally Retarded Child. Boston: Allyn And Bacon.

Handojo, (2004), Autisma. Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi untuk Mengajar Anak normal, Autis dan Perilaku lain, Jakarta : Gramedia

Handoyo, Y . (2003). Autisma pada Anak (Menyiapkan Anak Autis untuk Mandiri dan Masuk Sekolah Reguler dengan Metode ABA Basic).Jakarta : Bhuana Ilmu Populer.

Heward, L. W. & Orlansky, D. M. (1992). Exceptional Children. New York: MacMillan Publishing Company.

Hidayati, N. (2011). Dukungan Sosial bagi Keluarga Anak Berkebutuhan Khusus.

(55)

43

Hurlock, E.B. (2009). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.

Huzaemah. (2010). Kenali Autisme Sejak Dini. Jakarta: Pustaka Populer Obor. Juzri, Sidik. (2014). Gambaran Dukungan Keluarga yang Memiliki Anak

Berkebutuhan Khusus di Sekolah Khusus Kota Tanggerang Selatan.

Skripsi. Tidak diplubikasikan. Jakarta: UNI Syarif Hidyatullah Jakarta. Kerti, S. C., dan Erwanto, R. (2012). Hubungan Dukungan Keluarga dengan

Interaksi Sosial pada Anak Autis Usia 6-15 Tahun di Kota Denpasar Provinsi Bali. (Artikel). Available at : http://journal. respati.ac.id.

Khotimah, S.N. (2009). Upaya Penanganan Gangguan Interaksi Sosial Pada Anak Autis di Yayasan Autistik Fajar Nugraha Yogyakarta. (Skripsi). Available at: http://digilib.uin-suka.ac.id/.

KNEPK. (2007). Pedoman Etik Internasional untuk Penelitian Biomedis yang Melibatkan Subyek Manusia. Available at: http://www.knepk.litbang.depkes.go.id/

Marijani, Lenny. (2003). Peran Saudara Sekandung Pada Anak Penyandang ASD. Jakarta

Mirza, Maulana. (2007). Anak Autis: Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat. Jogjakarta: Katahati.

Mulyana.2004. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Notoatmodjo. (2011). Promosi Kesehatan Teori & Aplikasi. Jakarta: PT Rineka Cipta

Nursalam. (2014). Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

Piaget, Jean, dan Barbel Inhelder. (2010). Psikologi Anak (Miftahul Jannah, Peenerjemah). Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Rachmayanti, S. & Zulkaida, A. (2007). Penerimaan Diri Orang Tua Terhadap Anak autistik dan Peranannya dalam Terapi Autisme. Jurnal Psikologi,

1(1).11-12. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Rochmah. (2011). Gambaran Komunikasi Interpersonal Pada Anak Autis. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Jakarta: UNI Syarif Hidyatullah Jakarta.

Sarason, B. R., Sarason, L. G & Pierce, G. R. (1990). Social Support: An Interactional View. Toronto: John Wiley & Sons Inc.

(56)

Setiadi. (2007). Konsep dan Praktik Penulisan Riset Keperawatan.Yogyakarta: Graha Ilmu.

Soetjiningsih dan Ranuh, IG. N. G. (2014). Tumbuh Kembang Anak Edisi 2. Jakarta: EGC.

Somantri, S. (2006). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika Aditama.

Sunarto & Rusyiyah. (2003). Mother’s Caretaking pada Anak Penyandang Autis,

Buletin Ikatan Psikologi Indonesia Vol. 4.

Sunu, Christopher. (2012). Panduan Memecahkan Masalah Autisme; Unlocking Autism. Yogyakarta: Lintang Terbit

Supratiknya. (2003). Komunikasi antarpribadi Tinjauan Psikologis. Yogyakarta: Kanisius.

Suranto, AW. (2011). Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta:Graha Ilmu

Suryadi, Indah F. (2014). Gambaran Stress Pada Saudara Kandung Dengan Anak Autisme Di Kota Tanggerang Selatan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Suyanto. (2007). Menejemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pembinaan sekolah Luar Biasa Departemen Pendidikan Nasional Direktorat jenderal. Jakarta.

Wijayakusuma, H. (2004). Psikoterapi untuk Anak Autisma. Teknik Bermain Kreatif Non Verbal dan Verbal. Terapi Khusus untuk Autisma. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

Willian,E. (2008). Prevalence and Characteristic oc Autistic Spectrum Disorder.

ALSPAC Cohort. ABI/INFORM Global (Proquest) database.

Yatim, F. (2007). Autisme, suatu gangguan kejiwaan. Jakarta : Pustakan Populer Obor.

(57)

45

Lampiran 1. Jadwal Penelitian

J

ADWAL

PENELITIAN

Hubungan Dukungan Saudara Kandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis di Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Denpasar

Kegiatan

Figur

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Hubungan Dukungan Saudara Sekandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar
Gambar 3 1 Kerangka Konsep Hubungan Dukungan Saudara Sekandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar. View in document p.40
Tabel 3. 1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Tabel 3 1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional . View in document p.41
Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian Hubungan Dukungan Saudara Kandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis
Gambar 4 1 Kerangka Kerja Penelitian Hubungan Dukungan Saudara Kandung dengan Komunikasi Interpersonal pada Anak Autis . View in document p.44
Tabel 4.1 Blue Print Kuesioner Dukungan Saudara Kandung
Tabel 4 1 Blue Print Kuesioner Dukungan Saudara Kandung . View in document p.48
Tabel 4.2 Blue Print Kuesioner Komunikasi Interpersonal Pada Anak Autis
Tabel 4 2 Blue Print Kuesioner Komunikasi Interpersonal Pada Anak Autis . View in document p.49

Referensi

Memperbarui...