• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN MANAJEMEN KEUANGAN PADA INSTITUSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "DESAIN MANAJEMEN KEUANGAN PADA INSTITUSI"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

DESAIN MANAJEMEN KEUANGAN PADA INSTITUSI PENDIDIKAN:

STUDI KASUS PADA SMK TUNAS NUSANTARA KARANGANYAR

Yuliana FH1 , Kanzul Aini Hadikatul Ilmi2, Arina Hidayati3 Universitas Sebelas Maret Surakarta

[email protected], [email protected], [email protected]

ABSTRAK

Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk menghasilkan suatu lembaga pendidikan yang berkualitas dibutuhkan sumber dana yang tidak sedikit. Karena untuk mencapai hal tersebut perlu adanya berbagai perbaikan, baik perbaikan pada sumber daya manusia, yakni kepala sekolah, guru dan pihak lain yang terlibat dalam kegiatan pendidikan. Serta adanya perbaikan berbagai sarana prasarana penunjang demi mencapai keberhasilan pembelajaran. Pengelolaan SMK memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan jenis jalur pendidikan formal lainnya. Manajemen pengelolaan keuangan SMK juga harus direncanakan dan dialokasikan secara tepat guna, karena hal ini dapat berpengaruh pada ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan yang dilakukan tidak hanya berkaitan pada prioritas kebutuhan sekolah. Namun, juga perlu dilakukan estimasi mengenai pengalokasian biaya dalam pelaksanaan kegiatan sekolah sehingga tidak terjadi over budget dan dapat memaksimalkan penggunaan dana keuangan sekolah. Perencanaan memiliki peran penting dalam manajemen keuangan sekolah, sehingga minimnya perencanaan akan berpengaruh pada keberhasilan yang diperoleh. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui temuan hasil observasi di SMK Tunas Nusantara, Memahami desain manajemen keuangan pada SMK Tunas Nusantara dan Memberikan alternatif upaya perbaikan sistem manajemen keuangan pada SMK Tunas Nusantara.

Kata Kunci : Manajemen Keuangan, Institusi Pendidikan, Sekolah Menengah Kejuruan

1. PENDAHULUAN

Pendidikan kejuruan merupakan salah satu jenis jalur pendidikan formal yang bertujuan untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja dan mampu memenuhi kebutuhan dunia kerja. Oleh karena itu lulusan sekolah kejuruan tidak hanya dituntut untuk memiliki pengetahuan saja, namun juga harus dibekali dengan sejumlah keterampilan dan pengalaman yang mumpuni untuk siap memasuki dunia kerja.

(2)

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengungkapkan bahwa pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan dan peningkatan mutu serta relevansi pendidikan untuk menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka mencapai pemerataan pendidikan adalah dengan melakukan program Wajib Belajar 12 Tahun. Sehingga, hal ini dapat menjamin akses pendidikan menengah seluas-luasnya bagi setiap warga Negara dan hal ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan rata-rata kualifkasi tenaga kerja di Indonesia.

Salah satu sumber pendanaan sekolah di Indonesia berasal dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan setiap tahunnya dengan penyaluran dana dilakukan per triwulan atau per semester. Besaran dana BOS bagi SMK dengan satuan biaya per siswa Rp 1.400.000/tahun. Sehingga, besaran dana BOS yang diterima untuk tiap sekolah berbeda-beda disesuaikan dengan jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut. Hal inilah yang menjadi kendala bagi sekolah-sekolah swasta dengan jumlah siswa yang minim, hingga mereka harus memaksimalkan pengelolaan keuangan dalam melaksanakan program kegiatan sekolah.

Manajemen pengelolaan keuangan SMK juga harus direncanakan dan dialokasikan secara tepat guna, karena hal ini dapat berpengaruh pada ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan yang dilakukan tidak hanya berkaitan pada prioritas kebutuhan sekolah. Namun, juga perlu dilakukan estimasi mengenai pengalokasian biaya dalam pelaksanaan kegiatan sekolah sehingga tidak terjadi over budget dan dapat memaksimalkan penggunaan dana keuangan sekolah. Perencanaan memiliki peran penting dalam manajemen keuangan sekolah, sehingga minimnya perencanaan akan berpengaruh pada keberhasilan yang diperoleh. Hal ini sejalan dengan penjelasan Argyropoulou, Eleftheria (2009: 117) bahwa “lack of planning implies possible misuse of the allocated funds

as well as confusion and lack of organizing the head’s workload properly”.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam meningkatkan sumber pendanaan sekolah secara mandiri ialah dengan mengembangkan unit bisnis atau unit produksi sekolah. Dimana SMK sebagai salah satu jenis pendidikan yang bertujuan untuk mengahsilkan lulusan siap kerja perlu memiliki unit bisnis/unit produksi sendiri. Sehingga di wadah inilah para siswa SMK dapat belajar secara langsung mengenai pengelolaan usaha. Hingga nantinya hal ini dapat bermanfaat dalam menumbuhkan jiwa wirausaha para lulusan SMK. Selain itu, keberadaan unit bisnis dan unit produksi SMK memberikan manfaat besar lainnya, yakni dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pendanaan keuangan yang besar jika dapat dikelola dengan baik. Karena pada dasarnya pengelolaan unit bisnis atau unit produksi secara optimal akan mewujudkan kemandirian pembiayaan operasional sekolah. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui temuan hasil observasi di SMK Tunas Nusantara, Memahami desain manajemen keuangan pada SMK Tunas Nusantara dan Memberikan alternatif upaya perbaikan sistem manajemen keuangan pada SMK Tunas Nusantara

2. KAJIAN TEORI

(3)

Pendidikan memegang peranan penting dalam proses pengembangan kualitas sumber daya manusia. Tak dapat dipungkiri bahwa mutu pendidikan yang baik didukung oleh pembiayaan yang mampu menunjang proses pendidikan. Maka tak heran jika kini kian banyak berbagai institusi pendidikan yang menawarkan program pendidikan dengan kualitas yang baik dengan biaya pendidikan yang mahal dan hanya dapat dijangkau oleh beberapa kalangan masyarakat.

Pengelolaan keuangan di sekolah harus menjadi perhatian dalam pemanfaatannya secara efektif dan efsien. Sehingga, kepala sekolah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di sekolah harus memiliki kemampuan dalam manajemen keuangan sekolah. selain itu, kepala sekolah juga memiliki wewenang untuk mencari dan memanfaatkan sumber dana sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing. Leonarti, A., Suyatmini, Namiro, S. (2015: 4) menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan sekolah meliputi proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Tujuannya ialah mengoptimalkan pembiayaan pendidikan dalam rangka menghasilkan produktivitas pendidikan.

Argyropoulou, Eleftheria (2009: 114) dalam penelitiannya yang berjudul “Financial Management in Greek State Schools” juga menjelaskan bahwa pada siklus manajemen keuangan sekolah terdapat 4 bagian utama, yakni :

1. Centralization of resource 2. Allocation of resource 3. Implementation of resource 4. Common school expenses

Sistem pengelolaan pendidikan yang saat ini telah terdesentralisasi, memberikan kewenangan bagi kepala sekolah dalam mengelola dan mengatur kegiatan sekolah. tak terkecuali dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan. Pemerintah melalui program BOS akan menyalurkan dana pendidikan yang dapat dimanfaatkan untuk penyelenggaraan pendidikan. Selanjutnya, peran kepala sekolah beserta staf-nya harus dapat mengelola dana pendidikan tersebut secara optimal. sehingga, pemanfaatan dana tersebut memberikan dampak pada peningkatan kualitas mutu pmebelajaran. Manajemen keuangan sekolah tidak hanya berhenti pada proses pemanfaatan dana melalui penyusunan Rencana Anggaran Sekolah. Namun, kepala sekolah juga harus menyusun laporan pertanggungjawaban mengenai pemanfaatan dana keuangan sekolah kepada instansi terkait, hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadi berbagai penyelewengan dan korupsi di sektor pendidikan.

B. Karakteristik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Sekolah Menengah Kejuruan merupakan salah satu bentuk jalur pendidikan formal yang diterapkan di Indonesia. Finch dan Crunkilton (1979: 5) mengartikan pendidikan kejuruan sebagai pendidikan untuk mencari penghasilan bagi kehidupan atau pendidikan untuk bekerja (education for work). Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Evans dan Edwin (1978: 24) dalam Arwizet (2014) bahwa “pendidikan kejuruan merupakan bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan individu pada suatu pekerjaan atau kelompok pekerjaan”.

(4)

menengah kejuruan harus dijalankan atas dasar prinsip investasi SDM (human capital investment). Semakin tinggi kualitas pendidikan dan pelatihan yang diperoleh seseorang, akan semakin produktif orang tersebut. Akibatnya selain meningkatkan produktivitas nasional, meningkatkan pula daya saing tenaga kerja di pasar kerja global. Hal ini sejalan dengan tujuan sekolah menengah kejuruan yang dituangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 15 ayat 2 tahun 2003 yakni mempersiapkan tamatan yang berkualitas yang dapat diterima di Dunia Kerja, sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Pendidikan kejuruan memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan dengn pendidikan umum, sebagaiman yang dijelaskan oleh Bukit (2014: 13-14) bahwa kriteria yang harus dimiliki oleh pendidikan kejuruan adalah : (1) orientasi pada kinerja individu dalam dunia kerja; (2) jastifkasi khusus pada kebutuhan nyata di lapangan; (3) fokus kurikulum pada aspek-aspek psikomotorik, afektif dan kognitif; (4) tolok ukur keberhasilan tidak hanya terbatas di sekolah; (5) kepekaan terhadap perkembangan dunia kerja; (6) memerlukan sarana dan prasarana yang memadai; dan (7) adanya dukungan masyarakat.

C. Konsep Penganggaran Modal (Capital Budgeting)

Keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai dana dimana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi waktu satu tahun disebut penganggaran modal atau Capital Budgeting. Menurut Andrew Graham dari School of Policy Studies Queens University,“Capital Budgeting is a process used to evaluate investments in

long-term or capital assets”. Capital assets adalah aset yang dimiliki

perusahaan dengan usia atau masa pemanfaatan lebih dari setahun. Biasanya dana atau biaya yang dikelola untuk menangani aset ini sangat besar. Sehingga teknik penganggaran modal ini sifatnya sangat penting. Menurut Eugene F. Brigham dan Michael C. Ehrhardt :“Capital Budgeting is the decision process that managers use to identify those projects that add to the frm’s value, and as such it is perhaps the most important

task faced by fnancial managers and their stafs”. Penganggaran modal

menjelaskan tentang perencanaan jangka panjang untuk merencanakan dan mendanai proyek besar jangka panjang. Dalam konteks sebuah negara atau pemerintahan, penganggaran modal memiliki implikasi dua hal yaitu sebagai instrumen kebijakan fskal dan untuk meningkatkan kekayaan bersih dari pemerintah. Dan untuk hal-hal tertentu merupakan alat pembangunan daerah. Fungsi Capital Budgeting antara lain untuk mengidentifkasi investasi yang potensial. Apabila telah ditemukan, teknik ini dapat pula digunakan untuk memilih alternatif investasi. Setelah dipilih, kemudian dapat dilakukan audit dalam pelaksanaannya.

3. METODE PENELITAN

(5)

keuangan di sekolah tersebut. Selanjutnya data yang diperoleh di lapangan akan dianalisis dan dibandingkan dengan teori manajemen keuangan sekolah yang ada pada kajian literatur.

4. PEMBAHASAN

A. Desain Manajemen Keuangan Pada SMK Tunas Nusantara

Pada sistem pembiayaan pendidikan di Indonesia telah menggunakan sistem desentralisasi. Dimana, pemerintah melalui program BOS menyalurkan dana kepada tiap-tiap sekolah sesuai dengan jumlah siswa yang dimiliki dan jenjang pendidikan tertentu. Sekolah diberikan kebebasan untuk mengalokasikan dana pendidikan tersebut untuk penyelenggaraan kegiatan operasional di sekolah yang bersangkutan. Selanjutnya penggunaan dana tersebut harus dilaporkan kepada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat sebagai bentuk pertanggungjawaban atas penggunaan dana keuangan sekolah.

Ikoya, Peter O. (2008: 630) menjelaskan bahwa “decentralization is a more efcient method of managing schools’ infrastructure because it promotes accountability and reduces ofcial corruption in schools

administration”. Berdasarkan pernyataan tersebut dapata diketahui bahwa

desentralisasi lebih efsien dan dapat mengurangi terjadinya korupsi di sekolah. namun, pada kenyataannya saat melakukan wawancara kepada kepala sekolah SMK Tunas Nusantara menuturkan bahwa sekolah hanya membuat laporan penggunaan dana BOS. Namun, untuk pemeriksaaan dan evaluasi dari pemerintah daerah, yakni Pemerintah Kabupaten jarang melakukan pemeriksaaan langsung di SMK Tunas Nusantara, pemeriksaan rutin biasanya hanya dilakukan pada sekolah-sekolah Negeri. Padahal telah dijelaskan dalam JUKNIS BOS SMK Tahun 2016 dalam Permendikbud Nomor 80 Tahun 2015 bahwa salah satu tugas dan tanggung jawab dari Pemerintah Kabupaten adalah melakukan koordinasi dengan Tim Manajemen BOS Provinsi dalam melakukan monitoring dan evaluasi program BOS SMK.

Jika monitoring dan evaluasi di sekolah tidak dilakukan dengan benar, maka penerapan sistem desentralisasi, juga dapat memicu terjadinya penyalahgunaan dana pendidikan. Yang nantinya berdampak pada kualitas pendidikan. Karena, dana tersebut tidak dipergunakan sebagai upaya peningkatan kualitas sekolah.

Sumber pendanaan utama di SMK Tunas Nusantara berasal dari program BOS dan BOSDA yang disalurkan Pemerintah Pusat sebesar Rp 140.000,-/ siswa dalam satu tahun. Namun, berdasarkan penuturan Bapak Edi Mulyono besaran dana BOS yang diterima sebesar Rp 130.000,-/ siswa dalam satu tahun. Disini dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan antara peraturan yang berlaku dengan realisasi dana yang diterima. Sehingga, dalam penyaluran dana pendidikan masih terdapat kecurangan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

(6)

Nusantara memiliki tujuan mulia, yakni melakukan pemerataan dan mendukung program pemerintah dalam memberikan kesempatan sekolah kepada siapapun.

Argyropoulou, Eleftheria (2009: 114) dalam penelitiannya yang berjudul

Financial Management in Greek State Schools” juga menjelaskan bahwa

pada siklus manajemen keuangan sekolah terdapat 4 bagian utama, yakni: (1) sentralisasi sumber daya (Centralization of resource), (2) alokasi sumber daya (allocation of resource), (3) implementasi sumber daya

(implementation of resource), dan (4) Common school expenses.

Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dalam mengatur pengelolaan manajemen keuangan di SMK Tunas Nusantara dilakukan melalui rapat kepala sekolah dengan pihak-pihak tertentu untuk mengalokasikan dan menganggarkan dana yang dimiliki untuk menunjang kegiatan operasional sekolah. Selanjutnya anggaran tersebut akan direalisasikan dan pihak sekolah akan berupaya untuk meminimalkan pengeluaran, mengingat minimnya dana yang dimiliki sekolah dengan menyusun skala prioritas terhadap kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan disekolah.

Pungutan-pungutan lain yang dilakukan sekolah ini diantaranya untuk biaya ujian semester, kegiatan Praktik Kerja Industri (Prakerin), dan pelaksanaan Ujian Kompetensi Kejuruan (UKK). Padahal dalam permendikbud Nomor 80 Tahun 2015 dalam petunjuk teknis penggunaan dana BOS diketahui bahwa dana BOS dialokasikan untuk hal-hal tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa sebenarnya untuk biaya ujian semester, Prakerin dan UKK telah tercover dalam dana BOS dan siswa tidak boleh dibebankan untuk membayar biaya tambahan. Namun, kondisi keuangan sekolah yang sangat minim mengharuskan pihak sekolah untuk mengambil pungutan kepada siswa.

B. Upaya Perbaikan Sistem Manajemen Keuangan Pada SMK Tunas Nusantara

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi SMK Tunas Nusantara. Sehingga, terkesan sekolah ini kurang diminati oleh masyarakat dan pelajar di wilayah Jaten Karanganyar. Permasalahan administrasi yang kurang tertata baik di sekolah dapat dilihat dengan kurang lengkapnya komponen-komponen administrasi sekolah yang berada di ruang guru dan ruang kepala sekolah. selain itu, permasalahan sarana dan prasarana sekolah dalam menunjang kegiatan proses belajar-mengajar yang masih sangat minim. Hal ini dapat dilihat dari kondisi bengkel dan laboratorium kimia yang kurang terawat dan kondisi laboratorium komputer sebagai tempat praktik siswa yang sudah lama dan ketinggalan zaman.

Wong, Evia O.W (2003: 243) menjelaskan bahwa sekolah dengan sistem manajemen yang baik, harus memiliki hal-hal berikut:

a clear vision, underpinned by a set of values which will guide its

policies, procedures and practices

a strong focus on the student outcomes to improve both

curriculum and teaching practice, and

a strong alliance of stakeholders, including parents, teachers, and

community members, working in partnership to develop the potential of each and every student to the fullest extent.

(7)

yang akan mengarahkan pada pencapaian visi tersebut. SMK Tunas Nusantara memiliki visi yakni “Unggul dalam berkarya, berwirausaha, berkarakter bangsa dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Berdasarkan visi tersebut, seharusnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan di SMK Tunas Nusantara harus berorientasi pada visi tersebut. Salah satu karya yang dapat dihasilkan di SMK tersebut adalah dapat memproduksi sabun Lerak yang dapat digunakan untuk membersihkan pakaian batik. Namun, hasil ini sebenarnya belum dilaksanakan secara optimal.

Seharusnya sekolah ini dapat mengembangkan berbagai hasil produksi lainnya sesuai dengan bidang keahlian yang ada di sekolah ini. Sehingga, produk tersebut dapat dikomersilkan untuk berkontribusi dalam menambah sumber pemasukan sekolah dan sebagai wadah bagi siswa dalam mempraktikkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Namun, untuk melaksanakan hal ini masih ditemui berbagai kendala yang dihadapi, salah satunya ialah keterbatasan sarana-prasarana yang diperlukan dalam menunjang kegiatan produksi. Hal ini, dapat diketahui berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan bahwa kondisi bengkel sebagai tempat praktik siswa bidang keahlian Teknik Kendaraaan Ringan sangat minim fasilitas dan kurang terawat. Selain itu, laboratorium kimia yang kurang lengkap juga menjadi pemicu siswa bidang keahlian kimia industri tidak dapat memaksimalkan hasil temuan produksi lainnya.

Unsur lainnya yang perlu dimiliki oleh sekolah adalah berfokus pada tujuan utama, yakni menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan pengembangan kurikulum dan pelaksanaan pembelajaran yang baik. di SMK Tunas Nusantara jumlah lulusan yang berprestasi dan membanggakan hanya sedikit. Hal ini disebabkan oleh lemahnya pelaksanaan penerapan kurikulum dan proses pembelajaran di sekolah. seperti yang dikemukakan oleh Bapak Edi Mulyono, bahwa siswa-siswi yang bersekolah di sekolah ini merupakan siswa yang “mbeling”, yang susah diatur dan dimana orang tua mereka sudah tidak sanggup untuk mengurus mereka. Oleh karena itu, seharusnya disekolah ini menerapkan kedisiplinan untuk memperbaiki karakter siswa tersebut. Namun, pada kenyataannya di lapangan, ditemui bahwa penerapan kurikulum KTSP yang seharusnya 46 jam perminggu. Namun, siswa pulang sekolah jam 11 siang. Sehingga, dapat dikatakan bahwa penerapan kurikulum tidak dilakukan dengan baik. dan memulangkan siswa tidak pada jam yang seharusnya tidak akan dapat menanamkan jiwa kedisiplinan yang sangat bermanfaat bagi diri siswa dan dunia kerja yang akan dimasuki siswa nantinya.

(8)

guru dalam proses kegiatan belajar mengajar. Sehingga, hal ini dapat dijadikan landasan dalam mengambil langkah perbaikan pada kinerja guru.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Wahyudi, Imam (2012: 41) Supervisi pengajaran merupakan kegiatan untuk memberikan bimbingan, bantuan, pengawasan dan penilaian pada masalah-masalah yang berhubungan dengan teknis penyelenggaraan peningkatan pendidikan dan pengajaran untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik. sehingga, dapat dikatakan bahwa kegiatan supervisi yang dilakukan secara rutin dan kontinyu perlu diterapkan di SMK Tunas Nusantara untuk mengawasi dan memperbaiki proses KBM sehingga dapat meningkatkan kualitas output di sekolah ini.

Untuk memperbaiki kondisi ini, perlu adanya kerjasaman dan sinergi antara kepala sekolah, guru dan orang tua siswa dalam mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki siswa. Sebagaimana, yang dikemukakan oleh salah satu guru di SMK Tunas Nusantara, bahwa terdapat beberapa siswa yang membanggakan di bidang olahraga. Diantaranya, siswa sekolah ini yang pernah mewakili Kabupaten Karanganyar sebagai atlet pelari dan tinju. Ini dapat diartikan bahwa, potensi yang dimiliki siswa-siswi di SMK ini ialah bidang olahraga. Sehingga memaksimalkan pengembangan bakat dan potensi di bidang olahraga dapat dilakukan dengan melengkapi berbagai fasilitas olahraga dan ekstrakurikuler bidang olahraga. Sehingga, hal ini memberikan nilai lebih bagi sekolah ini, karena meskipun SMK ini tidak unggul dalam bidang akademis namun unggul dalam bidang olahraga. Karena pada dasarnya tiap siswa memiliki bakat dan potensi yang berbeda-beda. Sehingga sekolah harus dapat berperan dalam mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki siswa tersebut.

Liu, Tingting dan Wilkinson, Suzanne (2014: 206) menjelaskan bahwa

The primary objective of education system is to equip citizens with

knowledge and skills to succeed in the modern world. The delivery of

educational service relies on the development of school assets”.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa tujuan utama pada sistem pendidikan adalah menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat dijadikan bekal untuk sukses di era modern. Artinya, kedudukan lembaga pendidikan sangat penting dalam mengembangkan kedua aspek tersebut, terutama di jenis pendidikan SMK yang memiliki tujuan awal untuk menciptakan tenaga kerja yang terampil. Sehingga, program-program pembelajaran di SMK juga harus diarahkan pada peningkatan skill lulusan yang sesuai dengan bidang keahliannya. Salah satu wadah yang dapat digunakan untuk merealisasikan hal tersebut adalah dengan membuat unit produksi di sekolah, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan kegiatan bisnis tertentu sesuai bidang keahliannya.

(9)

Berdasarkan pedoman pelaksanaan unit produksi (Dikmenjur, 2007), tujuan penyelenggaraan kegiatan unit produksi sekolah ialah: (1) wahana pelatihan berbasis produksi/jasa bagi siswa, (2) wahana menumbuhkan jiwa wirausaha bagi guru dan siswa, (3) sarana praktik produktif secara langsung bagi siswa, (4) membantu pendanaan untuk pemeliharaan, penambahan fasilitas dan biaya-biaya operasional pendidikan lainnya, (5) menambah semangat kebersamaan, karena dapat menjadi wahana peningkatan aktivitas produktif guru dan siswa serta memberikan peningkatan kesejahteraan bagi warga sekolah, (7) mengembangkan sikap mandiri dan percaya diri dalam pelaksanaan kegiatan praktik siswa.

Finch & Crunkilton (1999) dalam Rusnani dan Moerdiyanto (2012) menjelaskan bahwa learning and personel growth do not take place strictly within the confnes of classroom or laboratory. Student develop skills and competence through a variety of learning activities and experiences that may not necessarily be counted as constructive credit for graduation.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa lembaga sekolah bukan hanya tempat belajar dalam ruang kelas. Namun, siswa perlu mengembangkan berbagai kompetensi dan keterampilan melalui berbagai aktivitas pembelajaran dan pengalaman belajar yang baik. Sehingga, skils

dan kompetensi yang dimiliki siswa jauh lebih penting untuk dikembangkan dibanding hanya mengejar kelulusan semata.

Pengembangan unit produksi memang memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SMK Tunas Nusantara. Namun, untuk mengembangkan suatu unit produksi masih ditemui berbagai kendala. Diantaranya untuk mengajukan pengembangan suatu unit produksi sekolah harus mengajukan proposal pengembangan unit produksi kepada pihak terkait yakni Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk selanjutnya diteruskan kepada Direktorat PSMK untuk menguji kelayakan pengajuan proposal pengembangan unit produksi di sekolah yang bersangkutan. Terdapat beberapa kesulitan yang akan dihadapi SMK Tunas Nusantara berkaitan dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh dana bantuan pengembangan unit produksi SMK, diantaranya:

1. SMK yang telah ditetapkan sebagai SMK yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi SMK bertaraf internasional berdasarkan surat penetapan Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

2. Menyusun dan mengajukan usulan rancangan program/proposal ke Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

3. Lulus seleksi usulan rancangan program/ proposal dan verifkasi. 4. Memiliki jaringan unit produksi dengan sekolah di sekitarnya yang

dibuktikan dengan surat perjanjian kerjasama dengan minimal 3 sekolah sebagai anggota outlet.

5. Memiliki jaringan unit produksi dengan sekolah atau industri/institusi lainnya.

6. Memiliki rekening di Bank atas nama Sekolah.

7. Sekolah yang telah ditetapkan oleh Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan sebagai penerima dana bantuan Pengembangan Unit Produksi.

(10)

dialami SMK Tunas Nusantara belum diatasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan SMK ini dalam mengembangkan suatu unit produksi adalah dengan membentuk kerjasama dengan pihak lain. Seperti yang dikemukakan oleh Liu, Tingting dan Wilkinson, Suzanne (2014: 208) dalam penelitiannya, bahwa “Public-Private Partnerships refer to long-term contracts for the delivery of a service, where the provision of the service requires the construction of a facility or asset, or enhancement of an

existing facility”. Artinya, membentuk kerjasama dengan pihak tertentu

untuk pengembangan fasilitas pendidikan dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Salah satu rencana SMK Tunas Nusantara untuk melakukan kerjasama dengan pihak ASTRA, merupakan salah satu langkah yang dapat bermanfaat bagi pengembangan kualitas sekolah. Dimana sekolah tidak hanya akan mendapat tempat untuk pelaksanaan Prakerin semata. Namun, dapat dikembangkan bentuk unit produksi yang nantinya akan berpengaruh positif bagi kedua pihak. Sehingga, berbagai upaya perbaikan yang harus dilakukan SMK Tunas Nusantara harus dilakukan sesegera mungkin untuk membenahi sistem pengelolaan sekolah yang ada. Pengembangan unit produksi akan sangat membantu sumber pendanaan di sekolah ini, asalkan berbagai permasalahan mendasar yang dihadapi sekolah telah teratasi.

5. SIMPULAN

SMK Tunas Nusantara merupakan salah satu sekolah kejuruan yang memiliki peran dalam memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. siswa-siswi yang tidak diterima di sekolah lain karena berbagai permasalahan tertentu. Tidak membuat SMK Tunas Nusantara melakukan hal yang sama, disini semua siswa diterima dengan segala latar belakang dan berbagai masalah kenakalan siswa. Hal ini, muncul dari keprihatinan Bapak Edi Mulyono yang merasakan adanya diskriminasi dalam dunia pendidikan. Padahal setiap anak di negeri ini berhak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Sehingga, Ia yakin bahwa siswa-siswi yang dianggap “mbeling” itu mampu dibimbing untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Dalam melaksanakan pengelolaan keuangan sekolah SMK Tunas Nusantara memiliki berbagai permasalahan yang dihadapi. Diantaranya sumber pendanaan yang hanya berasal dari dana BOS dan BOSDA yang jumlahnya sangat terbatas, karena melihat jumlah siswa yang hanya berjumlah 90 orang siswa, maka dana yang diperoleh pun terbatas. Oleh karena itu untuk menambah sumber pendanaan, sekolah menerapkan pembayaran SPP bagi siswa yang mampu dan pembayaran tambahan untuk pelaksanaan kegiatan sekolah seperti ujian semester, Prakerin dan UKK.

Pengelolaan keuangan sekolah dilakukan dengan menyusun rencana anggaran dan merealisasikannya seoptimal mungkin. Hal ini bertujuan untuk menghemat biaya pengeluaran sekolah, karena kondisi keuangan sekolah yang kurang memadai. Sehingga, hal ini berpengaruh pada mutu dan kualitas pelayanan yang diberikan sekolah.

Berbagai upaya perbaikan yang perlu dilakukan oleh SMK Tunas Nusantara dalam meningkatkan kualitas sekolah diantaranya:

1. Menerapkan kedisiplinan sebagai salah satu upaya mengembangkan karakter siswa

2. Memperbaiki sistem administrasi sekolah

(11)

4. Menetapkan berbagai kebijakan, prosedur dan praktik pembelajaran yang sesuai dengan visi sekolah, yakni “Unggul dalam berkarya, berwirausaha, berkarakter bangsa dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”

5. Berfokus pada pengembangan kurikulum dan pengembangan kompetensi guru melalui berbagai pelatihan dan pendidikan, serta pelaksanaan supervisi rutin terhadap sistem pengajaran yang diberikan. 6. Perlu sinergi antara kepala sekolah, orang tua, guru dan masyarakat

untuk bekerjasama dalam mengembangkan berbagai kompetensi siswa 7. Pengembangan unit produksi sebagai wadah dalam mengembangkan

keterampilan siswa dan sebagai sumber pembiayaan keuangan sekolah secara mandiri.

6. UCAPAN TERIMA KASIH

Rasa syukur pertama kami haturkan kepada Ilahi Rabbi yang telah memberikan kesempatan kepada kami sehingga artikel ini selesai dan dapat kami publikasikan. Terimakasih yang sedalam-dalamnya kami haturkan kepada ibu bapak kami yang selalu mendoakan untuk kebaikan dan memberikan semangat dalam berjuang. Kami juga mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ibu Dr.Susilaningsih, M.Bus, yang telah memberikan dukungan dan ilmu pengetahuan dalam penyelesaian artikel ini. Kepada semua teman-teman Magister Pendidikan Ekonomi Universitas Sebelas Maret yang selalu menyumbangkan energi positif dalam kebersamaan sehingga semangat juang semakin tertanam.

DAFTAR PUSTAKA

Argyropoulou, Eleftheria. (2009). Financial Management in Greek State Schools. ISEA, 37 (2). 111-124.

Arwizet. 2014. “Pendidikan Kejuruan dan Pengaruhnya terhadap Peningkatan Kualitas Human Capital”. Jurnal APTEKINDO ke 7.FPTK Universitas Pendidikan Indonesia.

Bukit, Masriam. 2014. Strategi dan Inovasi Pendidikan Kejuruan. Bandung : Alfabeta.

Ibe, George S., & Bassey. (1996). Problems and Issues in the Financiang and Management of Basic Education in Akwa Ibom State. International

Journal of Educational Management, 10 (1). 11-16.

Ikoya, Peter O. (2008). Centralization and Decentralization of Schools’ Physical Facilities Management in Nigeria. Journal of Educational

Administration, 46 (5). 630-649.

Finch, Curtiz R & Crunkilton, John. (1993). Curriculum Development in

Vocational and Technical Education. Boston.

(12)

Liu, Tingting & Wilkinson, Suzanne. (2014). Using Public-Private Partnerships For The Building and Management of School Assets and Service. Enginering, Construction and Architectural Management, 21 (2).206-223.

Maghfroh, D.N. 2015. Manajemen Unit Produksi Di Sekolah Sebagai Sarana Pembelajaran. Manajemen Pendidikan, 24 (6). 583-590.

Permendiknas Nomor 80 Tahun 2015 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Dana Bantuan Operasional Sekolah Untuk SMK Tahun 2016.

Rusnani dan Moerdiyanto. (2012). Pelaksanaan Unit produksi pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Kelompok Bisnis dan Manajemen di Banjarmasin. Pascasarjana UNY.

Wahyudi, Imam. (2012). Pengembangan Pendidikan: Strategi Inovatif dan

Kreatif Dalam Mengelola Pendidikan Secara Komprehensif. Jakarta:

Prestasi Pustaka.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal penjualan kembali Unit Penyertaan REKSA DANA BNP PARIBAS INTEGRA dilakukan oleh Pemegang Unit Penyertaan melalui media elektronik, maka Formulir Penjualan Kembali

Model ini merupakan sebuah model yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam memodelkan peristiwa kemotaksis yang terjadi pada microglia dan β-amyloid pada

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa semua faktor yang mempengaruhi tidur yang diteliti (nyeri, keadaan psikologis dan keadaan lingkungan) menunjukkan adanya

Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya kemerahan atau eritema yang bersifat

bahwa dalam rangka memberikan kepastian kepada masyarakat yang bermaksud melaksanakan kegiatan penelitian atau praktek kerja lapangan di lingkungan Pemerintah Kota

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2013 hanya akan tumbuh 5,6% YoY, lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,81% YoY. Perekonomian

Penelitan ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar roll belakang siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatife STAD.Penelitan ini

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema : ” Peningkatan Pengelolaan Keuangan Masjid Dengan Manajemen Keuangan Berbasis Masjid di Kelurahan Bedahan