• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Program dan Media Pembelaja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengembangan Program dan Media Pembelaja"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Pengembangan Program dan Media Pembelajaran untuk Literasi Media Anak-anak

Oleh: A. A. S. Mirah Mahaswari J. M., Susanti Nurul Amri, Maulin Ni’am

Karya ini berjudul Pengembangan Program dan Media Pembelajaran untuk Literasi Media Anak-anak. Fokus dari karya ini ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) pada guru dan anak usia dini terhadap tayangan televisi melalui pembelajaran literasi media. Tujuan tersebut kemudian diturunkan dalam beberapa tujuan, yakni untuk mengenalkan jenis dan isi tayangan televisi Indonesia, untuk membangun kemampuan memilih dan memilah (selecting and mapping) program tontonan, untuk membangun kemandirian guru dan anak-anak dalam menerapkan program literasi media dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, pencapaian program ini diharapkan mampu membentuk sikap kritis guru dan anak usia dini berinteraksi dengan media massa, khususnya televisi. Metode yang kami gunakan dalam program ini meliputi lima tahapan penting yakni: pematangan program, pengumpulan data, pengembangan pesan, pembuatan media ajar, praktik pembelajaran literasi media. Program ini pun menghasilkan bentuk fisik seperti buku ajar literasi media untuk anak, tayangan animasi, dan aktivitas pembelajaran lainnya. Kata kunci: literasi media, televisi, pendidikan anak usia dini.

A. Pendahuluan

Media massa hampir tak bisa dielakkan dari kehidupan masyarakat modern. Aktivitas menonton televisi tidak hanya memberi pengalaman tentang sebuah praktik menonton, akan tetapi juga memberi referensi atas peristiwa yang tidak kita alami sendiri atau yang disebut sebagai pengalaman kedua, ketiga dan seterusnya. Keberadaan televisi sebagai sumber informasi maupun sarana hiburan mampu menawarkan realitas media yang seringkali bias dari realitas sosial.

(2)

Minimnya tayangan ‘aman’ untuk anak ini tentu membawa dampak sosial bagi pertumbuhan anak-anak. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa media massa sangat efektif menularkan virus kekerasan, kejahatan, pergaulan bebas, serta perilaku menyimpang melalui tayangan/isi pesannya. Sebuah survei mengatakan bahwa 60% anak-anak seringkali meniru perilaku yang mereka lihat di televisi (Liebert, Neale dan Davidson, 1973). Fakta tersebut menguatkan asumsi-asumsi teori kultivasi yang diperkenalkan Gerbner. Bahwa tayangan televisi mempunyai kekuatan untuk membentuk apa yang disebut budaya televisi bagi pemirsanya (Griffin, 2003: 380). Untuk kasus di Indonesia saja, tentu kita masih ingat pemberitaan beberapa waktu lalu tentang dampak tayangan smackdown yang merenggut nyawa. Meskipun tak sedikit penelitian yang menyanggah, tapi semuanya sepakat bahwa terpaan media (media exposure) disadari dapat membentuk sikap, persepsi, dan perilaku audiens, khususnya anak dan remaja.

Setidaknya ada tiga problem utama yang berkaitan dengan interaksi anak dan media televisi. Pertama, intervensi media terhadap kehidupan anak akan makin bertambah besar dengan intensitas yang semakin tinggi. Kedua, kehadiran orangtua dalam mendampingi kehidupan anak sehari-hari akan semakin berkurang akibat pola hidup masyarakat modern yang menuntut aktivitas di luar rumah. Ketiga, persaingan bisnis yang makin ketat antar media dalam merebut perhatian khalayak, termasuk anak-anak, telah mengabaikan tanggungjawab sosial, moral, dan etika, serta pelanggaran hak-hak konsumen (YKAI, 2002). Sementara negara belum cukup mampu mengatasi problem penyiaran tersebut. Untuk itulah diperlukan upaya penumbuhan kesadaran media (media literacy) yang menekankan pada pendekatan audiens. Ketika audiens memiliki kesadaran tentang media atau disebut audiens aktif, setidaknya mereka bisa meminimalisir efek negatif dari media.

Terdapat banyak definisi literasi media (media literacy) yang ditawarkan, namun secara sederhana media literasi dapat dipahami sebagai kemampuan menyaring dan mengalisis pesan yang menginformasikan, menawarkan, dan membujuk kita tiap hari. Media literasi mutlak diperlukan sebagai kemampuan dasar berpikir kritis untuk hidup di abad informasi. Tiap hari kita diterpa ribuan informasi dan kita harus selektif dalam memilih informasi mana yang akan kita respon, tayangan mana yang akan kita tonton, dan mengapa kita menonton. Kemampuan ini tidak hanya penting untuk dimiliki oleh anak yang rasionalitasnya masih rendah, tetapi juga oleh orang dewasa, khususnya orang tua dan guru sebagai significant other.

(3)

media anak sebagaimana yang dilakukan oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA). Khusus untuk Hari Tanpa TV sendiri, diperingati setiap 20 Juli sejak tiga tahun yang lalu. Lembaga survei AC Nielsen mencatat bahwa selalu terjadi penurunan dalam hal kepemirsaan di Hari Tanpa TV. Selain YPMA ada juga Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia yang melakukan serangkaian pelatihan dan workshop untuk mengembangkan modul pembelajaran media bagi anak SD yang didanai oleh UNICEF.

Dalam upaya penyebarluasan literasi media, mahasiswa ilmu komunikasi memiliki posisi yang strategis. Sebagai kaum intelektual, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi kepada masyarakat dalam penyelesaian problem sosial. Sementara ilmu komunikasi merupakan disiplin ilmu yang secara ontologis mengkaji media beserta seluruh konsep yang melingkupinya. Oleh karenanya mahasiswa ilmu komunikasi diharapkan mau dan mampu berperan dalam pendidikan literasi media sebagai bentuk kontribusi kaum intelektual kepada masyarakat atas problem sosial.

B. Tujuan

Fokus dari karya ini ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) pada guru dan anak usia dini terhadap tayangan televisi melalui pembelajaran literasi media. Tujuan tersebut kemudian diturunkan dalam beberapa tujuan berikut:

1. Untuk mengenalkan jenis dan isi tayangan televisi Indonesia

2. Untuk membangun kemampuan memilih dan memilah (selecting and mapping) program tontonan

3. Untuk membangun kemandirian guru dan anak-anak dalam menerapkan program literasi media dalam kehidupan sehari-hari

Secara keseluruhan, pencapaian program ini diharapkan mampu membentuk sikap kritis guru dan anak usia dini berinteraksi dengan media massa, khususnya televisi.

C. Metode Penelitian

Untuk mencapai keberhasilan komunikasi diperlukan perencanaan strategis yang meliputi :

(4)

jauh pemahaman guru dan anak tentang media literasi, pola menonton televisi, dan harapan mereka terhadap tayangan.

Pengembangan pesan, yaitu penyusunan pesan yang akan disampaikan yang sesuai dengan karakteristik sasaran. Hasil dari analisis sasaran digunakan untuk mencari insight tentang tayangan televisi. Penggunaan bahasa, pemilihan warna, dan visual menjadi perhatian penting. Bentuk pesan disusun dengan kalimat persuasif, menggunakan pendekatan emosional, tentang harapan atas tayangan.

Metode komunikasi, yaitu pemilihan dengan cara bagaimana pesan yang telah tersusun akan disampaikan, menggunakan saluran komunikasi apa saja, serta alat bantu apa saja yang perlu disiapkan. Beberapa metode yang akan digunakan antara lain sharing, pemutaran cuplikan tayangan TV, permainan atraktif.

Pelaksanaan, yaitu penerapan dari rencana strategis yang telah disiapkan sebelumnya.

Secara skematik, berikut adalah alur kerja program literasi media yang kami lakukan:

Permohonan Ijin

Pematangan Program

Observasi Lapangan Kuesioner Anak Interview Orang Tua

Analisis Data

Pengembangan Pesan

Pembuatan Media Ajar

Sosialisasi Program dan Diskusi Terarah

(5)

Evaluasi

Gambar 1. Alur Kerja Program

Program literasi media ini dilaksanakan selama 5 (lima) bulan. Dimulai dari minggu kedua November 2008 hingga akhir bulan Maret 2009. Dilaksanakan di 2 lembaga pendidikan anak usia dini yaitu TK ABA Sumberan dan Sekolahku My School. Sasaran utama dalam kampanye ini adalah pengajar dan anak-anak di dua lembaga pendidikan anak usia dini tersebut.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pematangan program

Pematangan program telah dilakukan oleh tim dengan dosen pembimbing di Ruang Sidang Jurusan Ilmu Komunikasi pada tanggal 28 November 2008. Diskusi ini menghasilkan lima tahapan program yang masing-masing tahapnya terdiri dari beberapa kegiatan. Tahap pertama, identifikasi masalah tentang bagaimana anak menggunakan dan atau menonton TV yang meliputi apa, kapan, bagaimana, dengan siapa,dan sikap anak terhadap tayangan yang ditonton. Tahap kedua, merancang kuesioner dan interview guide, mengumpulkan data responden, dan menentukan sampel. Tahap ketiga, terjun ke lapangan dan analisis data. Tahap keempat, pengembangan program dengan membuat bahan ajar dalam berbagai metode, misal story-telling, permainan, dan kreativitas. Selain itu, kami juga perlu mengamati minat anak (ikon/tokoh dalam TV favorit, gambar, suara) untuk pembuatan bahan ajar tersebut. Tahap kelima, pembuatan CD interaktif. Pada kedua tahapan terakhir kami juga merencanakan untuk melibatkan mahasiswa komunikasi lainnya dalam mendukung kinerja tim sebagai divisi kreatif (layouter, graphic designer, ilustrator, dll.)

2. Pengumpulan Data

Penggalian data untuk siswa sudah kami lakukan tanggal 15 s.d. 24 Desember 2008. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu observasi langsung, mengisi kuesioner sesuai jawaban anak dan mewawancarai orang tua.

(6)

disukai atau tidak disukai beserta alasannya. Ketiga, sikap menonton yakni dengan menanyakan apa yang mereka lakukan saat mereka tidak memahami tayangan serta reaksi saat mereka menonton tayangan kategori dewasa, contoh adegan ciuman.

Dari jawaban kuesioner yang terkumpul, bisa ditarik kesimpulan awal bahwa: 1. Anak di TK ABA cenderung mengenal nama tayangan bukan nama

stasiun TV. Sedangkan anak di TK SMS sudah mampu membedakan stasiun TV.

2. Anak di kedua TK umumnya menonton TV di pagi hari sebelum berangkat sekolah dan sepulang sekolah hingga sore. Bagi anak di TK SMS mereka jarang menonton TV di sore hari karena mengikuti program Day Care. Namun tak jarang mereka menonton tayangan Si Unyil di sekolah sambil menunggu kegiatan berikutnya.

3. Tayangan yang sering diingat oleh anak-anak di kedua TK, hasilnya cenderung sama antara lain Cita-Citaku, Si Bolang, Jalan Sesama, Ultraman Cosmos, Naruto, Laptop Si Unyil, Dora. Namun beberapa anak di TK SMS sudah mengenal tayangan anak dalam bentuk CD/DVD. Selain itu, kami juga mewawancarai beberapa orang tua untuk memperoleh gambaran tentang keseharian anak di rumah serta pola menonton TV dalam keluarga. Beberapa contoh pertanyaan yang diajukan antara lain:

1. Apakah mereka meluangkan waktu untuk mendampingi anaknya menonton TV?

2. Apakah mereka mendiskusikan tayangan yang anak tonton?

3. Bagaimana pendapat orang tua tentang manfaat TV sebagai media pembelajaran?

4. Apa usaha yang dilakukan untuk mendidik anak dalam menonton TV? 5. Apa kritik Anda terhadap tayangan TV khususnya yang ditonton anak? Beberapa temuan dari wawancara dengan orang tua antara lain:

a. Sebagian besar orang tua tidak meluangkan waktu secara khusus untuk mendampingi anak menonton TV, sehingga mereka jarang menanyakan atau mendiskusikan apa yang ditonton anak. Hal ini disebabkan oleh kesibukan orang tua yang harus bekerja atau kuliah S2. b. Orang tua menyadari bahwa pada dasarnya TV bisa dijadikan media

pembelajaran, karena beberapa tayangan berguna untuk menambah pengetahuan baru.

(7)

d. Tidak semua orang tua memiliki upaya khusus untuk mengatur pola anak menonton TV. Selain karena dipandang tidak perlu, atau tidak terlalu penting dilakukan, sebagian orang tua juga berpendapat bahwa TV hanya sebuah alat hiburan. Bagi sebagian yang lain terkadang TV justru menjadi pengalih perhatian ketika orang tua sibuk dengan pekerjaannya dan tak ingin diganggu anak.

Berdasar pada temuan-temuan tersebut, teridentifikasi beberapa poin penting yang menjadi catatan terkait dengan kebiasaan anak menonton TV antara lain:

1. Anak-anak seringkali menonton TV begitu bangun tidur di pagi hari. Karena memang ada acara TV yang disukai yaitu Dora, SpongeBob (GlobalTV), Land Before Time (Anteve). Permasalahannya tidak pada isi tayangan tetapi justru pada aktivitas menonton di pagi hari yang menyebabkan mereka malas mandi dan berangkat sekolah. Cerita berjudul “Terlambat ke Sekolah” menjadi cara tim menyampaikan pesan tersebut. 2. Ada kecenderungan anak-anak untuk meniru adegan dalam tayangan TV,

baik gerak tubuh maupun suara tokoh. Seperti misalnya Osa, sebagaimana dijelaskan Miss Riri, kepala Sekolahku My School. Ketika Osa sedang suka tayangan tertentu, dia akan menirukan gaya suara tokoh tertentu untuk berbicara selama berhari-hari. Tidak jauh beda dengan yang terjadi di TK ABA Sumberan. Berdasarkan hasil pengisian kuesioner, tayangan favorit anak-anak TK ABA adalah Naruto, yang banyak mengandung adegan kekerasan. Kami menyampaikan pesan penting ini dalam cerita “Di-Kamehame”

3. Anak-anak TK ABA pada kenyataannya kurang mengenal tayangan alternatif selain TV, seperti CD/DVD. Meskipun sebagian besar anak-anak di TK SMS sudah mengenal media alternatif ini. Kesadaran orang tua untuk membelikan CD/DVD juga turut berperan. Ini perlu ditularkan kepada anak-anak di TK ABA. Kegelisahan ini digambarkan oleh tim dalam cerita berjudul “Menonton VCD”.

4. Pemahaman anak-anak TK ABA tentang proses produksi sebuah tayangan masih kurang. Bahwa tayangan TV adalah rekaan, juga belum sepenuhnya diketahui. Kemampuan membedakan antara realitas sosial dan realitas media sesungguhnya merupakan salah satu bagian dari kemampuan literasi media. Hal inilah yang berusaha ditangkap tim dan disampaikan dalam cerita berjudul “Bertemu Si Unyil”.

(8)

mereka kesulitan. Alternatif lain adalah mencari jawaban atas ketidaktahuan mereka dengan membaca buku ataupun ensiklopedia. Pesan ini kami sampaikan dalam cerita berjudul “Gerhana Bulan”.

6. Baik anak-anak di TK SMS maupun TK ABA cenderung ketagihan menikmati acara TV. Mereka dapat menonton TV tanpa henti dari siang sampai petang. Mereka menjadi malas beranjak dari depan TV. Hal ini tentu menyebabkan mereka lupa akan kegiatan lain yang harus mereka lakukan, seperti: mandi, makan, dan belajar. Fenomena ini kami potret dalam cerita berjudul “Lupa Tugas Sekolah”.

7. Masih banyak anak-anak di TK SMS yang terbiasa menghabiskan waktunya di depan TV. Mereka kurang memiliki alternatif kegiatan lain untuk mengisi waktu. Padahal banyak kegiatan seru lainnya yang dapat mereka lakukan selain menonton TV. Salah satunya adalah bermain dengan teman-teman di luar rumah. Hal ini menjadi inti cerita “Berlibur ke Rumah Nenek”

3. Pengembangan Pesan Bentuk media :

a. Buku cerita bergambar

Buku cerita bergambar ini berjudul 7 Cerita Rimo&Tevi. Sesuai judulnya, terdapat tujuh kumpulan cerita dalam buku bergambar ini. Tujuh cerita tersebut merepresentasikan tujuh pesan yang kami angkat dalam pembahasan sebelumnya. Tokoh utama yang kami munculkan dalam cerita ini adalah Dito. Ia adalah anak TK yang berasal dari keluarga menengah, anak tunggal, suka menonton TV, dan jarang bermain dengan teman sebayanya di luar rumah.

Karakteristik buku cerita ini adalah sebagai berikut: Ukuran 23cm x 18 cm;

Warna: full colour;

Jumlah halaman: 109 halaman + i-iii;

Jenis kertas: Ivory 210gr (cover) dan HVS 100gr (isi); Kategori: Seri Literasi Media Anak;

Segmen pembaca: anak usia lima tahun ke atas

(9)

Gambar 5. Ikon program Rimo&Tevi

b. Tayangan animasi

Tayangan ini merupakan rangkuman 7 pesan yang telah termuat dalam buku cerita bergambar. Tayangan ini merupakan bentuk alternatif media ajar lain disamping buku cerita. Tayangan ini berdurasi 2 menit 48 detik dan berformat animasi. Animasi ini digarap dengan menggunakan software Adobe Flash Professional.

4. Pembuatan Media Ajar

Pada tahapan ini kami mulai melibatkan 3 orang sebagai ilustrator dan seorang animator. Kami mengawali pembuatan media ajar dengan penyusunan narasi untuk ketujuh pesan yang telah dirumuskan sebelumnya. Selanjutnya kami berdiskusi dengan ilustrator untuk membahas karakter tokoh, ide gambar, lay out, dan pewarnaan. Proses produksi ini berlangsung selama sebulan terhitung dari 15 Januari s.d. 16 Februari 2009.

Tahapan berikutnya adalah membuat tayangan animasi Rimo dan Tevi. Kami mengawalinya dengan membuat skenario cerita yang diturunkan dari tujuh pesan cerita bergambar. Tokoh yang ditampilkan dalam tayangan ini adalah Rimo dan Tevi. Alasan pembuatan tayangan animasi ini adalah adanya nilai lebih yang dimiliki media audio visual yakni gambar yang bisa bergerak dan bersuara.

Kendala yang dihadapi oleh tim adalah adanya keterbatasan waktu dan peralatan, serta minimnya SDM. Hal ini membuat tayangan yang kami hasilkan masih jauh dari kesempurnaan.

Selain buku dan tayangan animasi tersebut, kami juga merancang aktivitas pendukung dalam bentuk mewarnai logo stasiun TV, tracing ikon Rimo dan Tevi, Cross word tayangan baik dan buruk, bermain engklek, bermain boneka tangan, memperkenalkan ensiklopedia, menyanyi serta bermain Tepuk Rimo Tevi.

5. Praktik Pembelajaran Literasi Media

(10)

SMS berlangsung pada 12 dan 13 Maret 2009. Pada hari pertama di masing-masing TK, kegiatan akan dipandu oleh tim. Sedangkan pada hari kedua, kegiatan dipandu oleh staf pengajar dengan materi kegiatan yang telah disusun oleh tim. Rancangan ini kami susun dengan harapan, ke depannya staf pengajar memahami konsep media literasi dan mampu menggunakan media ajar yang diberikan tim.

Pelaksanaan hari pertama di TK ABA diawali tim dengan membacakan buku ajar dengan mengambil cerita berjudul Di-Kamehame. Dalam sesi ini, tidak semua anak menyimak cerita dengan baik. Meskipun beberapa anak lain terlihat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan tim. Setelah itu, anak-anak dibagi menjadi tiga kelompok untuk berdiskusi dengan masing-masing anggota tim tentang cerita yang telah disampaikan. Ketika tim menanyakan kembali tentang cerita yang telah dibawakan, mereka kurang mampu memahami dan menangkap pesan dalam cerita. Hal ini kami akui sebagai keterbatasan tim dalam penyampaian pesan. Pada sesi berikutnya, mereka diajak untuk mengenal nama dan logo stasiun TV. Dengan baik mereka dapat menyebutkan nama setiap logo, akan tetapi kemampuan mereka dalam mengidentifikasi perbedaan istilah stasiun dan tayangan dirasa masih kurang. Meskipun demikian, anak-anak dapat menyebutkan dengan lancar tayangan apa saja yang terdapat di setiap stasiun TV. Mereka lantas dilibatkan dalam kompetisi mewarnai logo-logo stasiun TV tersebut. Lima anak dengan karya terbaik mendapatkan reward dari tim. Sebagai bentuk apresiasi, karya tersebut dipajang di dinding kelas B2.

(11)

ini dengan baik, namun tak sedikit yang kesulitan. Setelah tracing selesai dilakukan, gambar diwarnai, dan lima hasil terbaik mendapatkan reward dari tim.

Secara garis besar, kegiatan di TK SMS berlangsung serupa. Pada hari pertama, tim membacakan cerita berjudul “Bertemu Si Unyil”. Anak-anak TK SMS terlihat antusias dan tak jarang mereka menganggapi gambar dan cerita yang disampaikan. Kebanyakan dari mereka sudah paham bahwa tayangan semacam si unyil dan jalan sesama menggunakan boneka dalam penggarapannya. Mereka paham bahwa terdapat alat penggerak boneka dan pengisi suara. Untuk lebih memahami proses pembuatan tayangan tersebut, tim juga membawa boneka tangan dari kertas. Lima anak kelas Puntodewo bersedia maju ke depan kelas untuk mempraktekkan cara mengunakan boneka tersebut. Mereka menggerakkan boneka sekaligus menjadi pengisi suaranya. Setelah itu, anak-anak diajak bermain crossword tayangan baik dan buruk. Meskipun memakan waktu yang cukup lama, berkat kerjasama kelas yang baik mereka akhirnya dapat menemukan lima tayangan baik dan lima tayangan buruk yang tersembunyi dalam lembar crossword.

Pada hari kedua, staf pengajar TK SMS kelas Puntodewo, yakni Miss Mila, yang memandu kegiatan kelas. Miss Mila membawakan cerita berjudul “Berlibur ke Rumah Nenek” dengan metode yang berbeda, yaitu tanpa menunjukkan gambar dalam buku melainkan hanya sekedar membacakan narasinya. Metode ini sedikit banyak mengundang rasa penasaran anank-anak pada gambar. Namun, mereka tetap dapat menangkap inti cerita dengan baik. Mereka juga diajak mendiskusikan kembali pesan dalam cerita oleh Miss Mila. Selanjutnya tim memutar tayangan animasi Rimo Tevi di kelas. Mereka terlihat antusias memperhatikan tayangan, namun keterbatasan alat pemutar yang digunakan tim, membuat mereka kesulitan menangkap narasi tayangan. Pada sesi berikutnya, anak-anak diajak menggambar bebas tentang tayangan yang mereka sukai, sekaligus membuat cerita singkat tentang gambar tersebut. Gambar yang dibuat anak-anak didominasi oleh tayangan Spongebob dan Dora. Beberapa anak justru menggambar ikon putri salju dan gambar lain yang bukan merupakan tayangan televisi. Karena belum semuanya dapat menulis dengan lancar, Miss Mila masih membantu beberapa anak dalam menuliskan narasi gambar yang mereka maksud. Setelah selesai, satu per satu dari mereka menceritakan kepada tim tentang gambar yang mereka buat. Sebenarnya, tim merancang dua aktivitas lain, yaitu bermain engklek, seperti dalam cerita “Berlibur ke Rumah Nenek” dan bernyanyi Tepuk Rimo Tevi. Kedua aktivitas tersebut sayangnya tak sempat dilakukan karena keterbatasan waktu.

(12)

ABA, anak-anak yang mampu menulis dan membaca dengan lancar masih sangat sedikit, sedangkan hampir seluruh anak di TK SMS sudah mampu melakukannya dengan baik. Oleh karena itu, tim berusaha merancang aktivitas yang sesuai dengan kondisi di kedua TK.

E. Kesimpulan

Seluruh tahapan program telah terlaksana dengan baik meskipun jadwal kegiatan tidak sesuai dengan rancangan timeline awal. Kedua TK sasaran memberikan tanggapan yang positif terhadap keberlangsungan program. TK ABA memberi saran agar orangtua dilibatkan pada program ini. TK SMS pun memberikan banyak masukan pada media ajar yang digunakan tim. Kami menyadari masih banyak hal-hal yang harus diperbaiki dalam media ajar tersebut. Koreksi yang diberikan TK SMS telah berusaha kami realisasikan dalam edisi revisi buku cerita Rimo&Tevi. Koreksi tersebut berupa: kalimat narasi yang teralu panjang, tidak adanya glossary istilah-istilah asing dalam buku, dan buku dirasa terlalu tebal mengingat kebiasaan anak-anak yang cepat bosan dan lebih suka menonton TV daripada membaca.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

Griffin, EM. 2003. A First Look at Communication Theory. New York: Mc. Graw Hill.

Guntarto, B dan Dina Filia. 2002. PEMBELAJARAN LITERASI MEDIA: Mampukah Menjadi Perisai Pengaruh Siaran Televisi Pada Anak?. Seminar Hasil Proyek Percontohan Pembelajaran Literasi media pada Siswa Sekolah Dasar. Jakarta, 24 September 2002. YKAI dan UNICEF

Liebert, R. M., J. M. Neale and E.S. Davidson. 1973. The Early Window: Effect of Television on Children and Youth. New York: Pergamon.

Situs internet

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan informasi di Pusat Data Redaksi dan Pengembangan Program (PDRPP) Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung meliputi kegiatan pengumpulan

Program yang telah berhasil dijalankan oleh praktikan meliputi program kerja kelompok, yakni seminar nasional pemanfaatan media audio pendidikan dalam membangun

Prosedur pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lima langkah yaitu; (1) analisis masalah, (2) pengumpulan data, (3) pengembangan produk, (4)

Penelitian ini meliputi empat tahapan yaitu; (1) analisis materi dengan mereview buku-buku berdasarkan angket; (2) pembuatan draft bahan ajar; (3) standarisasi bahan

Keberhasilan   program   pemberantasan   penyakit   kusta   memerlukan   dukungan   surveilans  

Cakupan materi kuliah meliputi : penekanan konsep dasar, latar belakang, unsur- unsur pokok dan tahapan-tahapan pengembangan sumber daya air serta pendekatan analisa

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa bahan ajar untuk perkuliahan Teori dan Praktik Bola Voli pada Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi IKIP Budi

Pembuatan format Pada tahapan ini pembuatan format yang peneliti gunakan meliputi lembar validasi yang akan diberikan kepada ahli media dan ahli materi, dan juga angket respon peserta