PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI SKRIPSI

183 

Teks penuh

(1)

PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP

ALAT PERAGA PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA

BERBASIS METODE MONTESSORI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

Oleh:

Rina Metasari

NIM: 101134131

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP

ALAT PERAGA PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA

BERBASIS METODE MONTESSORI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

Oleh:

Rina Metasari

NIM: 101134131

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

PERSEMBAHAN

Seiring rasa syukur kehadirat Allah SWT, Skripsi ini saya

persembahkan untuk kedua orang tuaku dan kakakku yang

selalu menyertai perjalanan hidup saya sejak awal hingga saat

(6)

v

MOTTO

Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh

karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan

(Cahyo Satria Wijaya)

Keajaiban adalah nama lain dari kerja keras

(7)
(8)
(9)

viii

ABSTRAK

PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP

ALAT PERAGA PEMBAGIAN BILANGAN DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI

Rina Metasari Universitas Sanata Dharma

2014

Usia sekolah dasar (6-12 tahun) merupakan tahap perkembangan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya. Pada usia ini anak sedang mengalami tahap operasional konkret di mana anak mampu mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis jika melihat objek tertentu atau melakukan aktivitas yang nyata. Pada jenjang sekolah dasar anak mempelajari banyak hal, salah satunya adalah matematika.Matematika bukanlah mata pelajaran yang mudah bagi kebanyakan anak, untuk memudahkan pemahaman siswa maka dibutuhkan suatu alat peraga yang dapat memberikan gambaran nyata kepada anak.Alat peraga Montessori merupakan alat peraga yang dirancang untuk mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru dan siswa atas penggunaan alat peraga matematika berbasis Montessori pada pembelajaran pembagian bilangan dua angka di kelas II SD N Percobaan 3 Pakem semester genap tahun ajaran 2013/ 2014.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, di mana data yang dikumpulkan berupa kata bukan angka. Narasumber dalam penelitian adalah 3 orang siswa dan 1 orang guru matematika. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan langkah-langkah (1) tahap pengodean, (2) tahap analisis tematik, dan (3) tahap interpretasi.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa alat peraga memberikan pengalaman yang positif terhadap guru. Alat peraga memudahkan guru dalam mengajar karena sebelumnya guru hanya menggunakan metode ceramah tetapi dengan alat peraga membuat siswa berperan aktif sehingga pembelajaran lebih efektif. Persepsi siswa atas penggunaan alat peraga baik karena alat peraga dapat menumbuhkan sikap antusias, mandiri, dan semangat ketika belajar.Alat peraga juga memudahkan siswa ketika menyelesaikan soal Hal ini dikarenakan siswa dapat belajar sekaligus bermain dengan menggunakan alat peraga.Selain itu, alat peraga membantu siswa dalam memahami konsep pembagian karena siswa memperoleh gambaran yang konkret tentang pembagian.

(10)

ix ABSTRACT

PERCEPTION OF TEACHER AND STUDENTS OF USING TWO DIGIT DIVIDE

BASED ON THE MONTESSORI METHOD

Rina Metasari Sanata Dharma University

Elementary school age (6-1 years) is fundamental to the development stage of futher development. At this age children are undergoing concrete operational stage where children are able to develop the ability to think systematically if they see a particular object or activity. In elementary school children learning lots, one is mathematics, mathematicis hard almost for everyone, in order to ease student comprehension it takes a props that can give a real picture of the child to help in understanding the concept of learning. Montessori is props designed to construct knowledge that is held to be a new concept. Objective on this research to know the perception of teachers and students on the use of Montessori props on learning two digit divide in II grade of elementary school Percobaan 3 Pakem.

This research is qualitative research which data is collected in the shape of words instead of number. Resource person in research are three students and one math teacher. A data collection methodis interview techniques observation, and documentation. Analysis data technique performed by step (1) coding, (2) thematic analysis, (3) interpretation.

From the results of data analysis can concluded that the props give a positive impact for teachers. The props give ease on educating process, because previosly a teacher just using a communicative method, but with props a student become more active so learning process become more effective. Student perception in using props in case a props can grow enthusiastic attitude, be autonomous and spirit when study. Props also can ease studend when working on homework or, taskthis is because students can learning while playing with the use of props. In addition, props to assist students in understanding the concept of divide because the students gain an overview about the concrete division.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan ridho-Nya yang tak terhingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PERSEPSI GURU DAN SISWA TERHADAP ALAT PERAGA UNTUK PEMBAGIAN BILANGAN

DUA ANGKA BERBASIS METODE MONTESSORI. Penyusunan skripsi ini bertujuan

untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan semua pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang selama ini memberikan bantuan, bimbingan, nasihat, motivasi, doa, dan kerja sama yang tidak ternilai harganya dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini.

Sehubungan dengan hal itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada

1. Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Gregorius Ari Nugrahanta, SJ, S.S., BST., M.A., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar sekaligus dosen pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan saran kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

3. Catur Rismiati, S.Pd., M.A., Ed.D selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

4. Irine Kurniastuti, S.Psi., M.Psi., selaku dosen pembimbing II, yang telah dengan sabar dan pengertian memberikan nasihat dan koreksi dalam penyusunan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Seluruh dosen PGSD yang telah mendidik dan memberikan bekal ilmu kepada penulis.

(12)
(13)

xii

DAFTAR ISI

Judul Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

1.5 Definisi Operasional ... 7

BAB II LANDASAN TEORI ... 8

2.1 Kajian Teori ... 8

2.1.1 Teori-teori yang mendukung ... 8

2.1.1.1 Teori Perkembangan Anak menurut Piaget ... 8

2.1.2 Metode Montessori ... 9

2.1.3 Alat Peraga ... 10

(14)

xiii

2.1.3. 2 Alat Peraga Montessori ... 11

2.1.3.3 Ciri-ciri Alat Peraga Montessori ... 11

2.1.4 Persepsi ... 14

2.1.4.1 Pengertian Persepsi ... 14

2.1.4.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi ... 16

2.1.4.3 Persepsi terhadap alat peraga Montessori ... 19

2.1.5 Pembelajaran Matematika di Kelas ... 22

2.1.5.1 Pembelajaran Matematika ... 22

2.1.5.2 Materi Pembagian di Kelas II SD ... 23

2.1.6 Hasil Penelitian yang Relevan ... 23

2.1.6.1 Alat Peraga Matematika ... 23

2.1.6.2 Persepsi Guru dan Siswa ... 25

2.1.6.3 Metode Montessori ... 25

2.2 Kerangka Berpikir ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

3.1 Jenis Penelitian ... 31

3.2 Setting Penelitian ... 32

3.2.1 Tempat Penelitian ... 32

3.2.2 Waktu Penelitian ... 32

3.2.3 Narasumber Penelitian ... 32

3. 2.4 Objek penelitian ... 34

3.3 Desain Penelitian ... 35

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 40

3.4.1 Wawancara ... 40

3.4.2 Observasi ... 42

3.4.3 Dokumentasi ... 43

3.5 Instrumen Penelitian ... 44

3.6 Kredibilitas dan Transferabilitas ... 47

3.6.1 Kredibilitas ... 47

(15)

xiv

3.7 Teknik Analisis Data ... 48

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 50

4.1 Pelaksanaan Penelitian ... 50

4.2 Latar Belakang Narasumber ... 51

4.3 Hasil Penelitian ... 56

4.3.1 Sebelum penggunaan alat peraga berbasis Montessori ... 56

4.3.1.1 Pandangan Narasumber Terhadap Alat Peraga ... 56

4.3.1.2 Kefamiliaran Narasumber Terhadap Alat Peraga ... 58

4.3.1.3 Pengalaman Narasumber Menggunakan Alat Peraga ... 60

4.3.2 Setelah Penggunaan Alat Peraga Berbasis Montessori ... 62

4.3.2. 1 Pengalaman Narasumber ... 62

4.2.2.2 Perasaan Narasumber ... 64

4.2.2.3 Kendala yang dialami Narasumber ... 66

4.3.2.4 Manfaat yang diperoleh Narasumber ... 72

4.3.3 Persepsi Narasumber Mengenai Alat Peraga Montessori... 77

4.4 Pembahasan ... 79

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 88

5.1 Kesimpulan ... 88

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 89

5.3 Saran ... 90

DAFTAR REFERENSI ... 91

LAMPIRAN ... 96

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Perencanaan Wawancara ... 36

Tabel 3.2 Perencanaan Observasi ... 36

Tabel 4.3 Pelaksanaan Wawancara ... 50

(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Gambar persepsi yang dikutip dari Walgito ... 20

Gambar 2. 2 Gambar persepsi yang dimodifikasi ... 21

Gambar 2. 3 Literature map dari penelitian sebelumnya ... 27

Gambar 3.1 Prosedur penelitian dari Patton ... 35

(18)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

A. Pedoman Observasi dan Wawancara ... 97

Lampiran 3.1 Observasi kondisi sosio-cultural ... 97

Lampiran 3.2 Pedoman observasi proses pembelajaran ... 98

Lampiran 3.3 Pedoman observasi proses pembelajaran secara umum pertemuan kedua ... 99

Lampiran 3.4 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan pertama ... 100

Lampiran 3.5 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan pertama ... 101

Lampiran 3.6 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan kedua... 103

Lampiran 3.7 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan kedua... 104

Lampiran 3.8 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan ketiga ... 106

Lampiran 3.9 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan ketiga ... 107

Lampiran 3.10 Pedoman observasi guru ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan keempat... 109

Lampiran 3.11 Pedoman observasi siswa ketika menggunakan alat peraga Montessori pertemuan keempat... 110

Lampiran 3.12 Pedoman observasi siswa ... 112

Lampiran 3.13 Pedoman wawancara pra-penelitian guru ... 113

Lampiran 3.14 Pedoman wawancara pra-penelitian siswa ... 115

Lampiran 3.15 Pedoman wawancara pasca-penelitian guru ... 116

(19)

xviii

B. Transkrip Observasi ... 121

Lampiran 4.1 Transkrip observasi kondisi sosio-cultural ... 121

Lampiran 4.2 Transkrip observasi proses pembelajaran ... 123

Lampiran 4.3 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Pertemuan ke- 1 ... 125

Lampiran 4.4 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Pertemuan ke- 2 ... 128

Lampiran 4.5 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Pertemuan ke- 3 ... 130

Lampiran 4.6 Transkrip observasi ketika menggunakan alat peraga Pertemuan ke- 4 ... 132

C. Wawancara ... 134

Lampiran 4.7 Verbatim wawancara pra penelitian guru ... 134

Lampiran 4.8 Verbatim wawancara pra penelitian siswa A ... 140

Lampiran 4.9 Verbatim wawancara pra penelitian siswa B... 142

Lampiran 4.10 Verbatim wawancara pra penelitian siswa C... 144

Lampiran 4.11 Verbatim wawancara pasca penelitian guru ... 146

Lampiran 4.12 Verbatim wawancara pasca penelitian siswa A... 151

Lampiran 4.13 Verbatim wawancara pasca penelitian siswa B ... 153

Lampiran 4.14 Verbatim wawancara pasca penelitian siswa C ... 155

Lampiran 4.15 Dokumen foto kegiatan pembelajaran ... 158

Lampiran 4.16. Surat ijin penelitian dari FKIP USD ... 162

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Pada bagian ini akan dibahas (1) latar belakang masalah, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) manfaat penelitian, dan (5) definisi operasional.

1.1Latar Belakang Masalah

Dalam zaman modern sekarang ini, pendidikan digunakan sebagai upaya untuk menghasilkan manusia yang berkualitas guna menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa. Melihat begitu pentingnya pendidikan, mutu pendidikan merupakan sesuatu yang harus diberi perhatian untuk menjawab perubahan zaman. Masalah peningkatan mutu pendidikan sangat berhubungan dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran atau belajar mengajar adalah suatu interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mempelajari suatu materi tertentu. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Dengan berperan aktif dalam proses belajar, siswa akan lebih cepat mengerti dan memahami materi yang sedang dipelajari.

(21)

2 Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting diajarkan pada siswa karena matematika memiliki peranan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Misalnya dalam kegiatan ekonomi, pertanian, teknologi, komunikasi dan sebagainya. Harapan yang diinginkan adalah setelah belajar matematika, siswa tidak hanya mengerti materi yang diajarkan tetapi juga mampu menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang mendasari kualitas pembelajaran matematika harus selalu ditingkatkan, dikarenakan proses pembelajaran akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Akan tetapi, selama ini matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan karena matematika mempunyai banyak simbol-simbol yang digunakan. Matematika sendiri bukan merupakan suatu mata pelajaran yang mudah bagi kebanyakan orang, bahkan banyak guru yang menyadari bahwa sebagian di antara siswanya juga mengalami kesulitan untuk memahami pelajaran matematika (Hudoyo, 1992: 5).

(22)

3 adalah alat yang berfungsi untuk menerangkan suatu mata pelajaran tertentu dalam suatu proses belajar mengajar. Alat peraga juga dapat membantu mengkonstruksi pengetahuan dan memberikan pengalaman langsung pada anak dalam belajar.

Salah satu metode pembelajaran yang menerapkan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran adalah metode Montessori. Metode Montessori merupakan suatu metode pembelajaran yang dikembangkan oleh seorang dokter wanita yang bernama Maria Montessori, beliau berpendapat bahwa setiap anak unik dan individual mereka harus dihormati secara penuh dalam proses pendidikan (Seldin, 2006: 12). Metode Montessori bukanlah metode baru yang diterapkan di Indonesia. Pembelajaran Montessori selalu menggunakan alat peraga untuk membimbing anak belajar dari konsep yang konkret menuju pada konsep yang abstrak. Hal tersebut dilakukan juga pada pembelajaran matematika yang sebenarnya berisi kumpulan konsep-konsep abstrak (Suyanto, 2000: 109). Beberapa sekolah di Indonesia mulai menerapkan metode Montessori tersebut. Selain itu juga banyak didirikan sekolah Montessori di kota-kota besar seperti sekolah Montessori yang ada di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasaar, Bali dan masih banyak kota-kota lainnya.

Karakteristik alat peraga Montessori meliputi auto education, menarik, bergradasi, auto correction, dan kontekstual (Montessori, 2002: 170). Auto

education dan auto correction terkait dengan kemandirian guru dan siswa

terhadap penggunaan alat peraga tersebut, bergradasi terkait dengan tingkat kesulitan dalam alat peraga, dan menarik terkait dengan daya tarik yang ada dalam alat peraga tersebut. Sedangkan kontesktual terkait dengan bahan yang digunakan dalam alat peraga tersebut.

(23)

4 masih memiliki alat peraga yang terbatas dan penggunaannya juga belum maksimal. Hal ini terlihat dari alat peraga disimpan begitu saja tanpa sering membersihkannya dan banyaknya debu yang ada pada alat peraga tersebut. Peneliti mengamati bahwa alat peraga yang ada di dalam kelas IIA masih terbatas pada gambar-gambar dan papan berpaku. Selain itu, berdasarkan wawancara dan observasi terhadap guru kelas dan tiga orang siswa kelas II pada hari Senin, 2 Februari 2014 didapatkan hasil bahwa siswa jarang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran matematika. Bahkan ada siswa yang menjawab kalau menggunakan alat peraga itu menyebabkan pembelajaran berlangsung lama. Guru juga menyampaikan secara langsung bahwa beliau jarang menggunakan alat peraga dalam pembelajaran, hanya sesekali dengan menggunakan karet gelang dan batu kerikil.

SD N Percobaan 3 Pakem baru-baru ini menjadi tempat uji coba alat peraga Montessori. Pada materi pembagian kelas II dikembangkan alat peraga matematika berbasis Montessori yang disebut papan stamp pembagian. Papan

stamp pembagian merupakan alat peraga yang diadaptasi dari alat peraga Maria

Montessori yang bernama manik emas. Manik emas ini digunakan untuk pembagian statis maupun dinamis. Selain itu dapat digunakan pula papan pembagian 10, papan pembagian 20, dan pembagian 30 serta tabel pembagian 10, tabel pembagian 20, dan tabel pembagian 30. Papan stamp pembagian terdiri atas kotak stamp, papan stamp, stamp dan kartu soal. Selanjutnya papan stamp

(24)

5 dari itu peneliti memilih menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui persepsi siswa dan guru secara lebih mendalam dan lebih rinci lagi.

Persepsi merupakan salah satu aspek kognitif manusia yang sangat penting yang memungkinkan untuk mengetahui dan memahami dunia sekelilingnya. Menurut Desmita (2012: 118) persepsi adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki untuk memperoleh atau menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh sistem alat indera manusia. Jadi persepsi itu mencakup dua hal yaitu stimulus-informasi dan pengetahuan yang telah dimilikinya. Persepsi yang dibentuk oleh guru dan siswa akan mempengaruhi sikap guru dan siswa atas penggunaan alat peraga tersebut. Jika persepsi guru dan siswa positif terhadap penggunaan alat peraga tersebut, sikap guru dan siswa juga akan positif terhadap alat peraga tersebut. Begitu juga sebaliknya, jika persepsi guru dan siswa terhadap penggunaan alat peraga tersebut negatif, sikap guru dan siswa akan negatif terhadap alat peraga tersebut.

Penelitian ini dibatasi pada persepsi guru dan siswa atas alat peraga untuk pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori dalam mata pelajaran matematika kelas II SD. Penelitian ini fokus pada Standar Kompetensi (SK) 3. Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka dan Kompetensi Dasar (KD) 3.2 Melakukan pembagian bilangan dua angka.

1.2Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimanakah persepsi guru terhadap alat peraga pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori?

1.2.2 Bagaimanakah persepsi siswa terhadap alat peraga pembagian bilangan dua angka berbasis metode Montessori?

1.3Tujuan Penelitian

(25)

6 1.3.2 Mengetahui persepsi siswa terhadap alat peraga pembagian bilangan

dua angka berbasis metode Montessori.

1.4Manfaat Penelitian

1.4.1Teoretis

Hasil penelitian tersebut digunakan untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam mengenai pendapat guru dan siswa dalam menggunakan alat peraga berbasis Montessori sehingga memberi gambaran untuk mengembangkan atau memperbaiki produk alat peraga Montessori yang baru saja dikembangkan.

1.4.2 Praktis

1.4.2.1 Bagi peneliti sendiri, telah memberikan pengalaman yang berharga dalam menerapkan alat peraga berbasis Montessori pada pembelajaran pembagian dua angka, sehingga dapat mengetahui secara lebih mendalam mengenai respon siswa dan guru atas penggunaan alat peraga.

1.4.2.2 Bagi rekan-rekan guru, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan inspirasi bahwa alat peraga berbasis Montessori merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir anak dan dapat digunakan untuk mengetahui penilaian anak secara lebih mendalam mengenai alat peraga berbasis Montessori.

(26)

7

1.5Definisi Operasional

1.5.1 Persepsi adalah proses diterimanya stimulus, tanggapan, pandangan, pemahaman, penilaian oleh individu terhadap suatu objek tertentu melalui alat indera yang dimiliki, sehingga individu dapat mengintepretasi stimulus yang dapat bersifat positif atau negatif dan akan mempengaruhi perilaku individu tersebut.

1.5.2 Alat peraga merupakan alat yang digunakan dalam menyajikan proses pembelajaran untuk mencapai suatu maksud atau tujuan tertentu. 1.5.3 Alat peraga berbasis Montessori adalah alat yang digunakan untuk

mengajar yang dirancang secara sederhana namun menarik, dan memungkinkan siswa belajar secara mandiri untuk membantu mengembangkan pikiran siswa sehingga siswa dapat mengetahui kesalahan yang diperbuatnya.

1.5.4 Pembelajaran pembagian bilangan dua angka adalah pengurangan berulang sampai habis yang meliputi dua angka atau sampai dengan puluhan.

1.5.5 Siswa adalah narasumber yang menerima pengetahuan. Narasumber yang di maksud di sini adalah tiga orang siswa SD kelas II-A.

(27)

8

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bagian ini akan dijelaskan (1) kajian pustaka dan (2) kerangka berpikir dalam penelitian.

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Teori-teori yang Mendukung

2.1.1.1Teori Perkembangan Anak menurut Piaget

Jean Piaget merupakan seorang psikolog yang sangat terkenal dengan teori konstruktivisme (Suparno, 2001: 5). Piaget membagi tahapan perkembangan anak menjadi empat tahapan yaitu:

1. Tahap sensorimotor (0 sampai 2 tahun)

Tahap sensorimotor merupakan tahap awal perkembangan mental anak. Pada tahap ini, kemampuan inteligensi anak didasarkan pada tindakan inderawi dengan lingkungannya. Kemampuan utama anak pada tahap ini adalah terbentuknya konsep kepermanenan objek dan kemajuan gradual dari perilaku refleksif ke perilaku yang mengarah kepada tujuan.

2. Tahap praoperasional ( 3 sampai 7 tahun)

Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal simbol untuk menunjukkan keadaan secara kognitif. Simbol tersebut dapat berupa kata-kata dan bilangan untuk menunjukkan suatu objek, peristiwa atau kegiatan. Pemikiran anak pada tahap ini masih egosentris dan sentrasi.

3. Tahap operasional konkret ( 7 sampai 11 tahun)

(28)

9 keterbatasan pada hal yang bersifat konkret dan belum mampu berpikir secara abstrak.

4. Tahap operasi formal (11 sampai dewasa)

Pada tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis. Anak sudah dapat memecahkan masalah melalui penggunaan eksperimentasi sistematis.

Teori Piaget menyatakan bahwa anak akan lebih mudah belajar dengan hal-hal yang konkret, sehingga dapat diamati oleh panca indera. Kecepatan perkembangan tiap individu berbeda dan tidak ada individu yang melompati salah satu dari tahapan tersebut. Pada tiap tahap ditandai dengan munculnya kemampuan-kemampuan intelektual baru. Berdasarkan tahapan perkembangan kognitif anak menurut Piaget (Suparno, 2001: 5), siswa SD berada pada rentang 7- 11 tahun sehingga anak berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak berada pada tahap pemikiran konkret. Maka dari itu pada proses pembelajaran guru diharapkan memberikan kesempatan kepada siswa melalui persentuhan dengan benda-benda konkret sehingga anak lebih mudah memahami materi pembelajaran.

2.1.2 Metode Montessori

(29)

10 pada anak normal atau anak sesuai standar menurut pertimbangan yang baik oleh sistem pendidikan tradisional.

Metode Montessori membimbing anak untuk lebih mandiri. Dalam metode Montessori anak tidak hanya mengembangkan kemampuan akademis, tetapi mereka dibimbing untuk mengembangkan kreativitas kehidupan sosial, fisik, dan emosi. Montessori mengajarkan anak-anak kebenaran yang mendasar tentang bahasa, matematika, biologi, dan sebagainya. Anak-anak belajar dengan bertindak dan dengan percobaan. Walaupun pembelajaran metode Montessori terstruktur, namun anak-anak diberikan kebebasan untuk memilih apa yang akan mereka kerjakan dan kapan mereka akan mengerjakannya, mereka sering bekerja secara kolaboratif (Lillard, 2005: 328). Lingkungan secara khusus dipersiapkan untuk siswa supaya memungkinkan mereka berinteraksi secara bebas dan lepas.

Montessori menemukan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak didiknya melalui berbagai percobaan dan observasi yang dilakukannya di Casa dei Bambini atau rumah anak-anak. Pengamatan yang telah dilakukan Montessori menemukan kebutuhan-kebutuhan anak di antaranya kesenangan dalam belajar, cinta keteraturan, kebutuhan untuk mandiri, kebutuhan untuk didengar dan dihargai, dan minat.

2.1.3 Alat Peraga

2.1.3.1Pengertian

(30)

11 tersebut mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan. Anitah (2010: 4) mengatakan bahwa alat peraga merupakan sarana yang dapat membawakan pesan dari pemberi kepada penerima. Sedangkan Sumantri (2001: 152) menyebutkan bahwa alat peraga merupakan alat pembantu pengajaran yang mudah memberi pengertian kepada peserta didik.

Sementara itu jika merujuk pada fungsi, Munadi (2010:37-38) mengatakan bahwa fungsi utama dari alat peraga merupakan sumber belajar yang akan menuntun anak mencapai konsep pembelajaran hingga sampai pada tujuan pembelajaran dengan batasan-batasan tertentu. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa alat peraga merupakan salah satu sumber belajar yang dapat digunakan untuk menyajikan pelajaran guna mencapai suatu maksud tertentu.

2.1.3.2Alat Peraga Montessori

Montessori mendefinisikan alat peraga sebagai alat yang digunakan untuk mengajar anak yang dirancang secara sederhana namun terlihat menarik, memungkinkan pemerolehan pengetahauan yang lebih banyak, belajar secara mandiri serta belajar mengetahui kesalahan yang mereka buat saat belajar (Lillard, 1997:11). Alat peraga matematika Montessori tidak dirancang untuk “mengajar matematika” (Hainstock, 1997: 137) tetapi untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan matematisnya. Kemampuan matematis meliputi: memahami perintah, urutan, abstraksi, dan memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru.

2.1.3.3Ciri-ciri Alat Peraga Montessori

(31)

12 adalah (a) menarik, (b) bergradasi, (c) auto-correction, dan (d) auto-education

(Montessori, 2002: 169-179). Selain keempat ciri tersebut peneliti menambahkan satu ciri terkait yaitu kontekstual.

a. Menarik

Bagi anak-anak pembelajaran dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh potensi anak melalui panca indera. Anak akan berminat ketika melihat sesuatu yang baru, karena hal baru biasanya asing dan akan menarik perhatianya. Setiap alat dan media pembelajaran harus memiliki nilai keindahan baik dari segi warna yang menarik maupun kecerahannya. Montessori mewujudkan itu ke dalam alat peraganya. Warna-warna yang digunakan pada alat peraga Montessori merupakan warna terang dan lembut. Alat-alat peraga dibuat menarik dalam arti membangkitkan hasrat anak untuk ingin menyentuh, meraba, memegang, merasakan, dan mempergunakannya untuk belajar. Landasan tersebut terutama digunakan Montessori untuk menciptakan alat peraga sensorial yang mengarah pada pengaktifan dan pemekaan seluruh indera manusia (Montessori, 2002: 174).

b. Bergradasi

Alat peraga Montessori mempunyai rangsangan rasional yang bergradasi (Montessori, 2002: 175). Penekanan gradasi dalam pembelajaran Montessori terletak pada rasional anak yang terbentuk secara bertahap ketika bekerja menggunakan alat peraga. Alat peraga Montessori mempunyai gradasi rangsangan warna, bentuk, maupun usia anak. Ada dua jenis gradasi menurut Montessori yakni gradasi umur dan gradasi rangsangan yang rasional.

(32)

13 belajar membeda-bedakan besar-kecil dan berat-ringan suatu objek (Montessori, 2002: 174).

c. Auto-correction

Alat peraga yang baik adalah alat peraga yang mempunyai pengendali kesalahan. Tujuan pengendali kesalahan ini adalah untuk membantu anak mengoreksi sendiri kekeliruan yang dibuat tanpa perlu diberi tahu oleh orang lain. Kemampuan ini memungkinkan anak untuk mengetahui secara mandiri bahwa ia harus mencoba lagi karena sedang terjadi kesalahan ketika sedang belajar. Tidak hanya pada alat peraga dan media pembelajaran melainkan juga lingkungan yang dipersiapkan harus selalu memiliki nilai pengendali kesalahan. Misalnya, ketika seorang anak berumur tiga tahun sedang berlatih dengan inkastri slinder (incastri solidi). Ia akan mengetahui kesalahanya ketika salah memasukan silinder, sehingga permukaan balok menjadi tidak rata, lubang terlalu lebar ataupun terlalu sempit sehingga silinder tidak dapat masuk dengan sempurna ataupun ada satu silinder yang tidak dapat dimasukan ke tempatnya (Montessori, 2002: 169). Dengan demikian alat yang memiliki sistem pengendalian kesalahan dapat berfungsi sebagai pendidik bagi siswa.

d. Auto-education

(33)

14 e. Kontekstual

Ciri yang terakhir ini bukanlah sesuatu yang wajib ada dan dimiliki oleh alat peraga berbasis Montessori, namun hanya upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan bahan-bahan yang sesuai dengan konteks lokal daerah di mana sekolah Montessori didirikan, sehingga dapat menekan banyak biaya

operasional pembuatan alat peraga.”Konteks” berasal dari kata kerja Latin

contexere yang berarti “menjalin bersama”. Kata “konteks” merujuk pada

“keseluruhan situasi, latar belakang atau lingkungan” yang berhubungan

dengan diri, yang terjalin bersamanya (Johnson, 2009: 83). Sehingga konteks dapat merujuk pada lingkungan tempat tinggal, keluarga, teman, sekolah, pekerjaan, dsb (Johnson, 2007: 83).

Dalam mengembangkan alat peraganya, Montessori memanfaatkan bahan seadanya di sekitar pemukiman kumuh. Montessori memanfaatkan lingkungan sebagai konteks pembelajaran tanpa batas. Penelitian mengenai otak memberi tahu bahwa pengaruh lingkungan lebih besar daripada yang dibayangkan (Johnson, 2009: 55).

2.1.4 Persepsi

2.1.4.1Pengertian Persepsi

Persepsi merupakan salah satu aspek kognitif manusia yang sangat penting yang memungkinkan untuk mengetahui dan memahami dunia sekelilingnya. Persepsi merupakan sebuah istilah yang sudah familiar didengar dalam percakapan sehari-hari.

Istilah persepsi berasal dari bahasa Inggris “perception” yang berasal dari bahasa

(34)

15 individu memproses hasil penginderaannya dan timbullah makna tentang objek yang dipersepsi. Sedangkan menurut Slameto (2003: 102) persepsi adalah proses menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia melalui alat inderanya yaitu indera penglihatan, pencium, pendengar, peraba, dan perasa. Dalam mempersepsi suatu objek, orang atau peristiwa, makin baik suatu objek, orang atau peristiwa, makin dapat diingat objek, orang atau peristiwa tersebut.

Menurut Wood (2013: 70) persepsi adalah proses aktif untuk menciptakan makna dengan cara menyeleksi, menyusun, dan mengintepretasi manusia, objek, peristiwa, situasi, atau fenomena lainnya. Artinya seorang individu aktif merasakan apa yang terjadi di dalam dirinya dan proses interaksi yang dialaminya, lalu dia memilih informasi yang penting yang kemudian disusun dan diorganisasikan.

Menurut Devito (dalam Sobur, 2003: 445), persepsi adalah proses kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indera kita. Hasil persepsi seseorang mengenai suatu objek dapat berbeda dengan individu lainnya, tergantung dengan penampilan objek itu sendiri dan pengetahuan individu tersebut mengenai objek. Ajzen dan Fishbein (1975) mengatakan bahwa setiap individu akan memiliki persepsi yang bersifat positif atau negatif terhadap suatu objek, sehingga akan mempengaruhi pula sikap positif atau negatif terhadap objek yang dipersepsi tersebut.

(35)

16 a. Seleksi adalah proses penyaringan oleh indera terhadap rangsangan dari luar,

intensitas atau stimulus. Dalam proses ini, struktur kognitif yang telah ada dalam kepala akan menyeleksi, membedakan data yang masuk dan memilih data mana yang relevan sesuai dengan kepentingan dirinya.

b. Interpretasi yaitu proses mengorganisasai informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interpretasi bergantung pada kemampuan seseorang dalam mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana.

c. Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi. Jadi proses persepsi adalah melakukan seleksi, interpretasi, dan pembulatan terhadap informasi yang sampai.

2.1.4.2Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Menurut Walgito (1993: 56) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah:

a. Perhatian yang selektif. Perhatian merupakan pemusatan pikiran terhadap suatu objek dan pada saat yang sama mengabaikan objek yang lainnya. Perhatian mengindikasi adanya kesediaan individu untuk mengadakan persepsi. Rangsangan yang mendapatkan perhatian individu akan disadari lebih mendalam dan ditanggapi dengan cepat. Sedangkan rangsangan yang kurang mendapat perhatian dari individu kurang disadari dan kurang ditanggapi oleh individu.

(36)

17 gerak, objek yang bergerak cenderung lebih mudah dipersepsi dibandingkan objek yang diam (Suharnan, 2005: 59).

c. Nilai dan kebutuhan individu. Individu akan menaruh perhatian kepada rangsangan yang akan bernilai baginya dibandingkan dengan rangsangan yang kurang bernilai. Individu juga akan menaruh perhatian kepada rangsangan yang sesuai dengan kebutuhannya. Hasil persepsi terhadap objek yang sama dapat berbeda antara individu yang satu dengan lainnya.

d. Pengalaman terdahulu. Perhatian individu terhadap rangsangan juga ditentukan oleh pengalaman akan rangsangan yang dimiliki oleh individu dalam pengalaman sebelumnya. Jika individu telah mempunyai pengalaman dengan objek terdahulu yang sama, objek tersebut akan lebih mudah dipersepsi daripada dengan objek yang baru.

Sedangkan menurut Wood (2010: 79 - 85) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah:

a. Fisiologi. Perbedaan kemampuan indera dan kemampuan fisiologis adalah salah satu alasan mengapa setiap orang dapat memiliki persepsi berbeda untuk hal yang sama. Jika sedang lelah, individu cenderung melihat sesuatu dari persepektif negatif. Dalam kondisi lelah candaan dari teman dapat ditanggapi secara emosional. Kondisi medis juga menjadi salah satu faktor fisiologis yang mempengaruhi persepsi manusia. Seorang yang mengonsumsi narkotika pasti paham jika di bawah narkotika, seorang bisa menjadi lebih depresi, paranoid, dan bahagia secara berlebihan.

(37)

18 c. Budaya. Budaya adalah keseluruhan nilai, norma, kepercayaan, dan

pemahaman dari interpretasi terhadap pengalaman yang melingkupi sekelompok manusia. Budaya membentuk pola kehidupan dan memandu bagaimana cara manusia berpikir, merasakan, dan berkomunikasi (Lee, 2000). d. Lingkungan sosial. Lingkungan sosial yang dimiliki berpengaruh terhadap

bagaimana kita memandang segala sesuatu. Misalnya orang-orang yang berkuasa dan memiliki status sosial cenderung berkeinginan mempertahankan lingkungan yang memberikan hak khsusus pada mereka. Jadi, mereka tidak mungkin kekurangan secara materi.

e. Diri sendiri. Seorang individu melihat hubungan interpersonal pada orang dengan gaya kelekatan yang berbeda-beda. Orang dengan gaya kelekatan aman menilai bahwa dirinya adalah orang yang dicintai dan dapat dipercaya.

Thoha (2003: 154), menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang meliputi (a) faktor intern, antara lain perasaan, sikap dan kepribadian individual, prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar, keadaan fisik, gangguan kejiwaan, nilai dan kebutuhan juga minat dan motivasi dari individu; dan (b) faktor ekstern, antara lain latar belakang keluarga, informasi yang diperoleh, pengetahuan dan kebudayaan sekitar, intensitas, ukuran, keberlawanaan, pengulangan gerakan, hal-hal baru dan familiar atau ketidakasingan suatu objek.

(38)

19

2.1.4.3Persepsi terhadap alat peraga Montessori

Salah satu aspek yang mempengaruhi transfer pengetahuan yang efektif adalah aspek kognitif. Aspek kognitif dapat berupa persepsi seperti yang telah dijelaskan di atas. Tanpa persepsi yang benar, manusia akan mengalami kesulitan untuk menangkap dan memaknai berbagai fenomena, informasi atau data di sekitarnya, karena persepsi merupakan proses yang menyangkut masuknya informasi ke dalam otak manusia. Persepsi individu terhadap objek tertentu akan mempengaruhi pikirannya. Artinya, persepsi seseorang akan memungkinkannya untuk memberi penilaian terhadap kondisi stimulus. Penilaian (appraisal) seseorang terhadap suatu stimulus biasanya dilakukan melalui proses kognitif, yaitu proses mental yang memungkinkan seseorang mengevaluasi, memaknai dan menggunakan informasi yang diperoleh inderanya. Jadi, meskipun persepsi bergantung pada indera manusia, proses kognitif yang ada pada diri manusia akan memungkinkan terjadinya proses penyaringan, perubahan atau modifikasi dari stimulus yang ada. Persepsi dipengaruh oleh pengalaman yang dimiliki narasumber (Walgito, 1993: 56), jika individu telah mempunyai pengalaman dengan objek terdahulu yang sama, objek tersebut akan lebih mudah dipersepsi daripada dengan objek yang baru. Kemudian hasil perpsepsi tersebut akan mempengaruhi sikap yang diambil oleh narasumber. Oleh karena itu sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan objek-objek tertentu, yaitu melalui proses persepsi terhadap objek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan objek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap objek tersebut, sehingga persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu.

(39)

20 intensinya akan tinggi menggunakan alat peraga tersebut dan sebaliknya jika persepsi seseorang mengenai alat peraga sudah jelek maka intensinya untuk menggunakan alat peraga tersebut lemah.

Objek sikap akan dipersepsi oleh individu, dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan yaitu tindakan yang dilakukannya. Dalam mempersepsi objek sikap individu akan dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, keyakinan, proses belajar, kemudian hasil proses persepsi ini merupakan pendapat atau keyakinan individu mengenai objek sikap, dan ini berkaitan dengan segi kognisi. Afeksi akan mengiringi hasil kognisi terhadap objek sikap sebagai aspek evaluatif, yang dapat bersifat positif atau negatif. Keadaan lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang bersangkutan. Berikut ini adalah bagan persepsi (Walgito, 2003: 116):

Gambar 2.1. Gambar persepsi yang dikutip dari Walgito Kepribadi

an

Kognisi

Afeksi

Sikap

Persepsi

Objek sikap

Pengalaman Pengetahuan

Keyakinan Proses belajar

Faktor-faktor lingkungan

yang berpengaruh

Evaluasi

Senang/ tak senang

(40)

21 Bagan tersebut kemudian dimodifikasi atau disederhankan sesuai dengan kebutuhan peneliti mengenai persepsi. Berikut adalah bagan persepsi yang telah dimodifikasi:

Gambar 2. 2. Gambar persepsi yang dimodifikasi

Pengalaman yang dimiliki narasumber mengenai suatu objek tertentu akan memunculkan persepsi tertentu kepada narasumber. Persepsi yang dimiliki oleh narasumber (dalam hal ini guru dan siswa) dapat berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman yang telah didapatkan dengan menggunakan objek tersebut. Hasil persepsi akan mempengaruhi sikap yang diambil oleh narasumber. Sikap ini akan dibuktikan atau ditunjukkan dengan tindakan atau aktivitas nyata yang dilakukan narasumber. Dalam hal ini, pembelajaran matematika dilakukan menggunakan alat peraga Montessori yang baru bagi siswa maupun bagi guru. Siswa diharapkan untuk dapat ikut terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru juga diharapkan untuk menggunakan alat peraga baru yang konkret dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Alat peraga baru yang belum pernah digunakan oleh guru maupun siswa akan memberikan pengalaman yang baru kepada guru dan siswa. Pengalaman yang dimiliki mengenai alat peraga akan memunculkan persepsi tertentu kepada guru dan siswa. Hasil persepsi tersebut akan mempengaruhi sikap yang akan diambilnya, kemudian sikap tersebut akan - Hasil belajar

- Pemikiran - Perasaan

(41)

22 dibuktikan dengan tindakan atau aktivitas nyata yang dilakukan narasumber. Jika persepsi siswa dan guru mengenai alat peraga tersebut positif, intensi guru dan siswa akan besar dalam menggunakan alat peraga berbasis Montessori tersebut, sebaliknya jika persepsi siswa dan guru mengenai alat peraga tersebut negatif atau jelek, akan mempengaruhi sikap narasumber terhadap penggunaan alat peraga tersebut. Di sinilah peran persepsi dalam proses transfer pengetahuan dengan menggunakan alat peraga yang baru.

2.1.5 Pembelajaran Matematika di Kelas

2.1.5.1Pembelajaran Matematika

Pembelajaran merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang guru dalam mengarahkan interaksi siswa ke dalam sumber belajar untuk mencapai tujuan tertentu (Triyanto, 2009: 17). Abdullah (2013: 40) pembelajaran adalah penyediaan kondisi yang mengakibatkan terjadinya proses belajar pada peserta didik. Penyediaan kondisi dapat dilakukan dengan bantuan pendidik (guru) atau ditemukan sendiri oleh siswa (belajar secara otodidak). Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani

“mathein” atau “mathenein” yang berarti mempelajari. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia matematika adalah ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.

(42)

23 Jadi pembelajaran matematika merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang dalam mengarahkan siswa untuk mengembangkan cara berpikir tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah.

2.1.5.2Materi Pembagian di Kelas II SD

Seperti yang sudah dikemukakan di atas bahwa pembelajaran matematika dibekalkan kepada siswa Sekolah Dasar. Tujuannya adalah untuk mengembangkan cara berpikir siswa. Banyak materi pembelajaran matematika yang dibekalkan di SD akan tetapi dalam penelitian ini lebih fokus kepada materi mengenai pembagian. Pembagian diajarkan di kelas II SD pada semester genap. Standar Kompetensi tentang pembagian untuk kelas II adalah 3. Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka. Sedangkan Kompetensi Dasaranya adalah 3.2 Melakukan pembagian bilangan dua angka.

Pembagian merupakan lawan dari perkalian. Pembagian disebut juga pengurangan berulang sampai habis (Heruman, 2007: 26). Kemampuan prasyarat yang harus dimiliki siswa dalam mempelajari konsep pembagian adalah pengurangan dan perkalian. Jadi jika siswa sudah paham dengan konsep pengurangan dan perkalian akan lebih mudah dalam mempelajari pembagian. Sebaliknya, jika siswa belum paham dengan konsep pengurangan dan perkalian siswa akan kesulitan memahami konsep pembagian.

2.1.6 Hasil Penelitian yang Relevan

2.1.6.1Alat Peraga Matematika

(43)

24 mendasarkan diri kepada fakta dan analisis perbandingan, bertujuan untuk mengadakan generalisasi empirik, menetapkan konsep-konsep, membuktikan teori dan mengembangkannya, serta pengumpulan data dan analisis datanya berjalan pada waktu yang bersamaan (Nazir, 1999: 68). Sebelum menggunakan alat peraga tiga dimensi, para siswa tidak termotivasi, sehingga pembelajaran matematika belum memperoleh hasil secara optimal. Hasil evaluasi pra siklus dengan rata-rata kelas hanya sebesar 3,07. Pembelajaran mulai nampak hidup setelah guru menggunakan alat peraga tiga dimensi dalam pokok bahasan bangun ruang balok dan kubus. Hasil evaluasi pada siklus pertama dengan rata-rata kelas mencapai 6,46. Setelah menggunakan alat peraga tiga dimensi, hasil pembelajaran matematika pokok bahasan Geometri Bangun Ruang balok dan kubus menunjukkan peningkatan hasil belajar. Dari empat kali perbaikan pembelajaran, didapat rata-rata kelas pada siklus pertama sebesar 6,46, namun, pada siklus kedua menjadi 5,33 atau 36,67%. Lonjakan yang sangat mencolok diperoleh pada evalusai siklus ketiga dengan rata-rata kelas mencapai 8,33 (76,67%), dan pada siklus keempat lebih meningkat lagi dengan peroleh rata-rata kelas mencapai 9,13 atau 96,67%.

(44)

25

2.1.6.2Persepsi Guru dan Siswa

Adiningsih (2012) melakukan penelitian tentang pengaruh persepsi siswa tentang Metode Mengajar Guru dan Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Siswa. Penelitian ini dilakukan pada kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK Batik Perbaik Purworejo Tahun ajaran 2011/2012. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang metode mengajar guru terhadap prestasi belajar Akuntansi siswa kelas X Program keahlian Akuntansi SMK Batik Perbaik

Purworejo Tahun Ajaran 2011/2012, dengan dan

. Hal ini menunjukkan bahwa metode mengajar guru menentukan persepsi siswa dan dan mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Asyah (2005) melakukan penelitian mengenai hubungan kepercayaan diri dan persepsi siswa terhadap matematika dengan hasil belajar matematika. Penelitian ini dilakukan di SMP N Se-kota Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien

pada taraf signifikansi dan koefisien determinasi

Hal ini menunjukkan bahwa 43% variasi hasil belajar matematika ditentukan oleh persepsi siswa terhadap matematika. Dari hasil penelitian diambil kesimpulan bahwa kepercayaan diri dan persepsi siswa terhadap matematika dengan hasil belajar matematika dari siswa SMP N se-kota Medan berada dalam kategori baik. Dengan kesimpulan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antar kepercayaan diri dan persepsi siswa terhadap matematika dengan hasil belajar matematika secara sendiri maupun bersama-sama.

2.1.6.3Metode Montessori

(45)

26 menunjukkan bahwa penerapan Montessori di Kelompok Bermain Talenta Kabupaten Bandung memiliki dampak yang positif terhadap keterampilan motorik halus anak didik di mana anak didik mengalami peningkatan menjadi lebih terampil/ luwes, lebih mahir dan mandiri dan kekuatan dari motorik halusnyapun mulai terlihat lebih baik dari ketika pertama kali mereka masuk.

Rinke, Gimbel, Haskell (2012) melakukan penelitian dengan tujuan mengetahui perubahan lingkungan belajar kelas Montessori untuk mengembangkan minat belajar siswa di lingkungan. Penelitian ini memiliki relevansi mengenai lingkungan belajar di kelas Montessori. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dalam empat kelas Montessori di tingkat SD. Setting penelitian ini adalah empat kelas di kelas Montessori dengan narasumber penelitian yaitu para siswa di kelas SD tersebut. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa lingkungan belajar Montessori memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan minat dalam ilmiah dan komunikasi tentang ilmu pengetahuan dalam berbagai cara.

(46)

27 Montessori. Meskipun demikian, penelitian-penelitian mengenai pengembangan alat peraga Montessori yang disertai dengan evaluasi belum banyak dipublikasikan. Oleh karena itu, penelitian yang akan dilakukan kali ini adalah mengetahui persepsi narasumber terhadap penggunaan alat peraga Montessori dengan metode kualitatif.

Gambar 2.3 Literature map dari penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan

Alat Peraga

MetodeMontessori

Sumiaty (2009)

Alat peraga tiga dimensi - hasil belajar siswa.

Latifa (2013)

Alat peraga meteran - hasil belajar matematika.

Yang perlu diteliti

Persepsi Guru dan Siswa atas Penggunaan Alat Peraga Matematika berbasis Montessori pada Pembelajaran Pembagian Bilangan Dua Angka.

Persepsi

Adiningsih (2012)

Persepsi siswa - prestasi belajar akuntansi.

Susanti (2013)

Metode Montessori - kemampuan motorik halus

anak.

Asyah ( 2005)

Persepsi siswa - hasil belajar matematika.

Rinke (2012)

Lingkungan belajar kelas Montessori - minat belajar

(47)

28

2.2Kerangka Berpikir

Rata-rata usia Sekolah Dasar (SD) berkisar antara umur 7- 12 tahun. Berdasarkan teori perkembangan Perkembangan Piaget, anak pada usia tersebut berada dalam tahap operasional konkret (Suparno, 2001: 69). Pada tahap ini perkembangan anak ditandai dengan perbaikan dalam kemampuan untuk berpikir secara logis. Anak mampu mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis ketika melihat objek-objek yang konkret dan melakukan aktivitas nyata. Pemikiran anak tidak lagi sentralisasi tapi desentralisasi, dan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan. Anak masih memiliki keterbatasan pada hal yang bersifat abstrak.

Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan oleh guru di dalam kelas. Matematika merupakan suatu ilmu yang mengembangkan cara bernalar deduktif formal dan abstrak. Dalam pembelajaran matematika dibutuhkan suatu alat peraga yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran yang nyata atau konkret kepada siswa, sehingga anak yang belum mampu berpikir secara abstrak dapat terbantu dengan adanya alat peraga. Selain itu alat peraga dalam pembelajaran matematika juga dapat digunakan mendukung kegiatan belajar agar kemampuan dasar siswa dalam berhitung dapat berkembang secara maksimal serta menumbuhkan ketertarikan siswa dalam belajar.

(48)

29 Alat peraga berbasis Montessori dapat membantu pemahaman siswa akan suatu konsep pembelajaran. Metode Montessori merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Maria Montessori (1870-1952) dengan menggunakan konsep belajar sambil bermain untuk anak-anak (Holt, 2008: xi). Metode Montessori membimbing anak untuk lebih mandiri. Dalam metode Montessori anak tidak hanya mengembangkan kemampuan akademis, tetapi mereka dibimbing untuk mengembangkan kreativitas kehidupan sosial, fisik, dan emosi. Ciri utama dari alat peraga Montessori adalah menarik, bergradasi, mempunyai auto correction,

mempunyai auto education dan kontekstual.

Alat peraga matematika Montessori tidak dirancang untuk “mengajar

matematika” tetapi untuk membantu siswa mengembangkan pikiran matematikanya seperti memahami perintah, urutan, abstraksi, dan memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki menjadi suatu konsep baru. Alat peraga Montessori adalah alat baru yang belum pernah digunakan oleh guru maupun siswa ketika pembelajaran. Ketika mengenalkan dan menggunakan alat peraga baru pasti akan memunculkan persepsi yang beragam oleh guru maupun siswa.

Persepsi adalah proses diterimanya stimulus terhadap suatu objek tertentu melalui alat indera, sehingga individu dapat menginterpretasi stimulus tersebut. Persepsi dipengaruh oleh suatu sikap terhadap objek dan dipicu oleh suatu kejadian yang mengaktifkan sikap (Fazio, 1989; Fazio dan Roskos-Ewoldsen, 1994). Persepsi dapat mempengaruhi intensi seseorang dalam melakukan sesuatu. Hal tersebut dapat dilihat dari intensi guru dan siswa dalam menggunakan suatu alat peraga. Jika persepsi seseorang mengenai alat peraga itu bagus, intensinya akan tinggi menggunakan alat peraga tersebut dan sebaliknya jika persepsi seseorang mengenai alat peraga sudah jelek atau negatif, intensinya untuk menggunakan alat peraga tersebut lemah.

(49)
(50)

31

Bab III

METODE PENELITIAN

Pada bagian ini akan dibahas (1) jenis penelitian, (2) setting penelitian, (3) desain penelitian, (4) teknik pengumpulan data, (5) instrumen penelitian, (6) kredibilitas dan transferabilitas dan (7) teknik analisis data.

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kualitatif. Paradigma kualitatif merupakan paradigma untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan (Creswell, 2007: 4). Penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh narasumber penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain sebagainya (Herdiansyah, 2010: 9). Dengan demikian penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengeksplorasi atau memahami permasalah sosial yang terjadi di masyarakat baik secara individu ataupun kelompok.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode fenomenologi. Fenomoneologi merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena tertentu (Creswell, 2007: 20). Fenomenologi menyelidiki pengalaman kesadaran yang

berkaitan dengan pertanyaan seperti „bagaimana‟ (Moleong, 2006: 15).

(51)

32

3.2Setting Penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Percobaan 3 Pakem dengan alamat Jalan Kaliurang km 17.5 Sukunan, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan wawancara guru kelas (sekaligus guru matematika), guru belum pernah menggunakan alat peraga matematika berbasis Montessori. Hal ini yang menyebabkan peneliti memilih sekolah ini untuk dijadikan tempat penelitian. Selain itu, baru-baru ini SD tersebut digunakan untuk melakukan penelitian mengenai alat peraga berbasis Montessori pada pembelajaran pembagian.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2013/ 2014, yaitu pada bulan Januari sampai Maret 2014.

3.2.3 Narasumber Penelitian

(52)

33 narasumber siswa juga atas saran dari guru kelas. Guru beranggapan bahwa siswa tersebut mampu untuk diajak bekerja sama dan sesuai dengan kriteria penelitian.

Narasumber pertama adalah Z. Z adalah seorang guru kelas sekaligus guru matematika pada kelas II-A SD N Percobaan 3 Pakem. Z sudah mengajar kurang lebih 7 tahun. Ketika ditanya Z merasa senang dalam mengajar matematika. Walaupun sulit dalam mengajar matematika untuk kelas bawah tapi Z menikmati tugasnya dalam mendidik siswa kelas II. Z adalah sosok guru yang sabar, lemah lembut dan pengertian. Ketika menjumpai murid yang agak lambat dalam menerima pelajaran, Z akan mendekati murid tersebut dan akan menjelaskan dengan sabar mengenai materi yang dirasa sulit. Ketika di kelas, beliau juga jarang marah atau berteriak-teriak, beliau lebih suka menenangkan siswa dengan cara mendekati siswa yang ramai.

(53)

34 Narasumber ketiga adalah seorang siswi yang mendapatakan peringkat ke- 13 di kelas. Penulis memberi inisial B. B adalah seorang anak perempuan kelahiran Yogyakarta, 1 Desember 2005 yang beralamat di Mbalangan, Wukirsari, Cangkringan, Sleman. B merupakan siswa yang lincah dan mau memperhatikan penjelasan guru. B mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Selain itu dia juga mau berteman dengan siapa saja, B tidak pernah membeda-bedakan teman. B yang mempunyai hobi bermain biola ini juga mempunyai kepribadian yang riang, ramah, menyenangkan dan mudah senyum. B juga terbuka kepada orang baru. B juga mudah menerima informasi baru. Jika dia tidak paham pada suatu hal, dia tidak malu-malu untuk bertanya.

Narasumber keempat sebut saja C. C adalah siswa yang ramai ketika di kelas dan teramat aktif di kelas. Keaktifan siswa ini dapat dilihat ketika disuruh maju ke depan kelas atau ketika sedang tanya jawab dengan guru, dia pasti akan langsung angkat tangan, walaupun dia tidak tahu jawaban dari pertanyaan guru. C mempunyai hobi bermain permainan tradisional seperti bermain kasti, engklek, dakon dan yang lainnya. C mempunyai cita-cita untuk dapat menjadi seorang dokter atau polwan. Dilihat dari fisiknya C anaknya lebih kecil dari pada teman-teman yang lain selain itu dia juga memiliki rambut panjang yang selalu dikucir ekor kuda. C kelahiran Sleman, 7 Mei 2006. Jadi saat ini dia baru berusia 8 tahun. Pada semester ganjil kemarin C mendapat rangking 23. Pada waktu pembelajaran sedang berlangsung, C seringkali menggangu temannya dan mengajak temannya untuk berbicara. Selain itu C juga kerap berjalan ke sana-sini ketika pembelajaran berlangsung. Pada dasarnya C adalah anak yang ceria, berani dan percaya diri.

3.2.4 Objek Penelitian

(54)

35

3.3 Desain Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti melakukan langkah-langkah penelitian untuk sampai pada hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Di bawah ini merupakan bagan prosedur penelitian menurut (Patton, 1990 dalam McMillan, 2001: 400).Langkah-langkah tersebut adalah:

Gambar 3.1 Prosedur penelitian dari Patton Pengecekan

keabsahan data Mempertajam

fokus dan perumusan masalah penelitian Tahap perencanaan

Simpulan hasil peneltian, rekomendasi, dalil-dalil Analisis

Studi awal

Pelaksanaan (observasi interview, dokumen)

Temuan

(55)

36 Kemudian bagan penelitian tersebut peneliti modifikasi sesuai dengan kebutuhan peneliti. Berikut adalah bagan prosedur penelitian yang telah dimodifikai oleh peneliti:

Gambar 3.2. Prosedur penelitian dengan modifikasi.

1. Observasi

Pada tahap awal, peneliti melakukan observasi di dalam kelas II-A untuk mengetahui proses pembelajaran secara umum yang terjadi di kelas. Observasi dilakukan ketika pembelajaran Matematika sedang berlangsung. Observasi yang dilakukan meliputi metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, media pembelajaran yang digunakan oleh guru, fasilitas dan sarana yang terdapat di dalam kelas serta interaksi antara guru dengan siswa.

2. Tahap perencanaan

Pada tahap perencanaan ini, peneliti menyusun instrumen penelitian yang berupa lembar observasi untuk guru dan siswa dan lembar wawancara untuk guru dan siswa. Berikut adalah tabel perencanaan wawancara:

Pengecekan keabsahan Mempertajam

fokus dan perumusan

masalah Tahap perencanaan

Analisis Observasi

Pelaksanaan (observasi interview, dokumen)

(56)
(57)
(58)

39 3. Mempertajam fokus dan perumusan masalah penelitian. Pada waktu peneliti melakukan observasi atau pengamatan tentang proses pembelajaran yang terjadi di kelas masih secara umum atau menyeluruh. Untuk dapat memahami secara lebih mendalam, diperlukan pemilihan fokus penelitian. Maka dari itu, peneliti menerapkan fokus penelitian pada penggunaan alat peraga ketika pembelajaran berlangsung. Dalam penelitian kualitatif, rumusan masalah masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk ke dalam lapangan. Pertanyaan penelitian kualitatif dirumuskan dengan maksud untuk memahami gejala yang kompleks dalam kaitannya dengan aspek-aspek lain.

4. Pelaksanaan (observasi, interview, dokumen). Pada tahap ini, peneliti terjun langsung ke dalam lapangan. Dalam melakukan penelitian, peneliti menggunakan wawancara dan observasi untuk mengumpulkan data. Wawancara dilakukan setelah penggunaan alat peraga berbasis Montessori. Wawancara ini ditujukan kepada 4 narasumber yaitu 1 guru kelas sekaligus guru matematika dan 3 orang siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur. Observasi atau pengamatan dilakukan selama pembelajaran matematika dengan menggunakan alat peraga berbasis Montessori. Dalam melakukan wawancara dan observasi, peneliti menggunakan pedoman wawancara dan observasi yang telah dibuat. Pedoman ini digunakan agar tidak keluar dari fokus penelitian. Selama melakukan implementasi pada guru dan siswa, peneliti melakukan pencatatan terhadap hasil yang diperoleh dari pengambilan data.

(59)

40 peneliti atau pihak lain memeriksa data yang telah diambil dan agar data dapat tersusun dengan rapi. Setelah semua data terkumpul, peneliti melakukan analisis data yang telah diperoleh. Analisis dalam penelitian menerapkan

coding untuk mendeskripsikan setting, narasumber, dan tema yang akan

dianalisis. Peneliti membuat kode-kode untuk mendeskripsikan semua informasi yang dikumpulkan, lalu menganalisisnya.

6. Pengecekan keabsahan data. Untuk mengecek keabsahan data atau kepercayaan dalam data dalam penelitian kualitatif dapat melalui kredibilitas dan transferabilitas. Kredibilitas dalam penelitian kualitatif adalah upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian dengan menerapkan prosedur-prosedur tertentu (Creswell, 2007: 285). Sedangkan transferabilitas menunjukkan derajat ketepatan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi di mana sampel tersebut di ambil.

7. Temuan. Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah pada temuan. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Berdasarkan jenis penelitian kualitatif, peneliti menggunakan beberapa metode pengumpulan data, di antaranya adalah:

3.4.1 Wawancara

Moleong (2006: 186) mengatakan bahwa wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara

(interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang

(60)

41 wawancara berisi petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara. Panduan ini dibuat agar wawancara lebih terfokus pada permasalahan.

Dalam proses wawancara, pertanyaan berkembang sesuai dengan alur jawaban yang diberikan narasumber, karena peneliti menggunakan bentuk wawancara semi terstruktur. Ciri dari wawancara semi terstruktur (Koentjroro, 2010) adalah petanyaannya terbuka namun ada batasan tema dan alur pembicaraan. Hal itu berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh Narasumber tidak dibatasi, sehingga narasumber bebas mengemukakan pendapat apa pun selama masih dalam konteks pembicaraan. Selain itu, dalam wawancara semi terstruktur bersifat fleksibel tetapi terkontrol. Pertayaan yang diajukan bersifat fleksibel tetapi masih ada kontrol dari peneliti yaitu tema wawancara. Selanjutnya peneliti dapat mengembangkan pertanyaannya sesuai dengan alur pembicaraan. Dalam wawancara semi terstruktur diperlukan pedoman wawancara yang dijadikan patokan atau kontrol dalam mengatur alur pembicaraan. Hasil dari wawancara tersebut akan dikumpulkan menjadi informasi yang akan digunakan sebagai bahan kajian penelitian.

Wawancara dilakukan selama 2 kali yaitu wawancara sebelum penggunaan alat peraga berbasis Montessori dan wawancara setelah penggunaan alat peraga berbasis Montessori. Wawancara awal dilakukan terhadap 3 orang siswa dan 1 guru kelas. Untuk menentukan narasumber penelitian, peneliti melakukan hal-hal berikut:

a. Menemui guru kelas untuk dimintai kesediaannya untuk diwawancara.

b. Bertanya kepada guru kelas untuk menentukan tiga siswa yang akan dijadikan narasumber atau Narasumber penelitian. Penentuan siswa berdasarkan kriteria siswa yang mudah diajak berkomunikasi, siswa yang bisa diajak untuk berkerja sama dan siswa dengan perolehan nilai matematika yang berbeda.

Figur

Tabel 3.1 Perencanaan Wawancara  ........................................................
Tabel 3 1 Perencanaan Wawancara . View in document p.16
Gambar 2.1 Gambar persepsi yang dikutip dari Walgito ......................
Gambar 2 1 Gambar persepsi yang dikutip dari Walgito . View in document p.17
Gambar 2.1. Gambar persepsi yang dikutip dari Walgito
Gambar 2 1 Gambar persepsi yang dikutip dari Walgito . View in document p.39
Gambar 2. 2. Gambar persepsi yang dimodifikasi
Gambar 2 2 Gambar persepsi yang dimodifikasi . View in document p.40
Gambar 2. 3 Literature map dari penelitian-penelitian sebelumnya yang relevan
Gambar 2 3 Literature map dari penelitian penelitian sebelumnya yang relevan . View in document p.46
Gambar 3.1 Prosedur penelitian dari Patton
Gambar 3 1 Prosedur penelitian dari Patton . View in document p.54
Gambar 3.2. Prosedur penelitian dengan modifikasi.
Gambar 3 2 Prosedur penelitian dengan modifikasi . View in document p.55
Tabel 4.3 Jadwal pengambilan data wawancara
Tabel 4 3 Jadwal pengambilan data wawancara . View in document p.69
gambar princess dengan menggunakan spidol. Guru bertanya kepada siswa, “siapa yang belum bisa?”
Guru bertanya kepada siswa siapa yang belum bisa . View in document p.149

Referensi

Memperbarui...