BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. reaksi fisik maupun psikologis yang mengganggu kehidupan sehari-hari (Priyoto,

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Stres merupakan suatu kondisi yang terjadi pada tubuh kita dalam bentuk reaksi fisik maupun psikologis yang mengganggu kehidupan sehari-hari (Priyoto, 2014). Stres bisa dialami seseorang karena adanya pemicu atau stresor, salah satunya perubahan sosial atau lebih sering dikenal dengan stresor psikosoial. Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan seperti pola hidup di masyarakat, struktur keluarga, hubungan dalam keluarga, pekerjaan, penyakit, dan trauma bisa menjadi pemicu terjadinya stres (Hawari, 2011). Stres bisa terjadi pada semua golongan umur dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Akan tetapi paling banyak stres dialami oleh orang dewasa (Mumpuni & Wulandari, 2010).

Stres pada orang dewasa kebanyakan disebabkan oleh tingginya tanggung jawab dan tuntutan dalam diri. Bisa disebabkan adanya masalah pada hubungan sosial, masalah dalam rumah tangga, pekerjaan, ekonomi, dan lain-lain. Semakin kompleks masalah yang dialami maka risiko terjadinya stres akan meningkat (Mumpuni & Wulandari, 2010). Salah satu tanggung jawab yang harus dipenuhi orang dewasa yaitu peran sebagai orangtua. Orangtua yang stres bisa memicu kegagalan orangtua dalam memenuhi fungsinya sebagai cargiver/pengasuh. Kegagalan orangtua dalam memenuhi kebutuhan anak bisa menyebabkan masalah juga pada anak. Masalah yang timbul pada anak seperti perawatan fisik yang kurang, masalah makan, sulit tidur, dan lain-lain (Hay Jr. et al, 2005).

(2)

Stres bisa dialami oleh semua orangtua tak terkecuali orangtua yang memiliki anak cerebral palsy (CP). Orangtua yang memiliki anak cerebral palsy akan cenderung mengalami stres situasional karena masalah pendapatan, status kesehatan, kepuasan dalam bekerja dan akan diperburuk oleh masalah perilaku anak (Sipal et al, 2009). Enam puluh persen orangtua yang memiliki anak cerebral palsy cenderung akan mengalami nervous dan stres (Majnemar et al, 2012). Menurut penelitian Al-Gamal dan Long tahun 2013 terdapat korelasi yang signifikan antara masalah perilaku dan emosi yang dialami anak cerebral palsy dengan tingginya level stres orangtua. Keterbatasan anak dan tingkat disabilitas anak yang semakin berat juga akan mempengaruhi tingkat stres orangtua. (Al-Gamal & Long, 2013). Keluarga besar harus memberikan dukungan pada orangtua inti agar bisa memberikan perhatian yang tepat pada anak cerebral palsy, karena merawat anak cerebral palsy memiliki tekanan yang lebih besar jika dibandingkan dengan merawat anak normal (Miller, 2007). Akan tetapi, stres dan konflik dalam suatu keluarga juga bisa menjadi faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya masalah perilaku pada anak dengan keterbatasan motorik dan intelektual (Vrijmoeth et al, 2012).

Cerebral palsy (CP) merupakan suatu kondisi yang terjadi pada anak berupa kelemahan motorik. Biasanya tanda-tanda cerebral palsy sudah bisa dilihat saat usia anak kurang dari 2 tahun (Miller, 2007). Kondisi fisik pada orang yang mengalami cerebral palsy akan sulit memulai, mengontrol dan menahan gerakan (Stanton, 2012). Cerebral palsy terjadi karena adanya kerusakan bagian otak

(3)

tertentu. Bagian otak yang mengalami kerusakan bisa pada fungsi motorik, visual atau pendengaran, sensoris, maupun bahasa. Menurut International Executive Committee, pada cerebral palsy biasanya juga mengalami motor disorder yang sering diikuti kelainan lain seperti epilepsi dan masalah muskuloskeletal yang menyebabkan gangguan pada sensasi, persepsi, kognitif, komunikasi dan perilaku (Colver et al, 2014).

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa anak yang mengalami cerebral palsy juga mengalami kondisi kronis lain seperti masalah kardiovaskuler dan respirasi kronis, kanker serta diabetes. Selain itu, ada pula yang mengalami tindak kekerasan, gangguan mental, malnutrisi dan infeksi-infeksi lainnya. Kondisi kronis seperti malnutrisi juga diperkuat oleh pendapat dari The United

Nation Children’s Fund (UNICEF) tahun 2013 bahwa anak penyandang

disabilitas khususnya cerebral palsy, memiliki resiko menderita gizi buruk. Anak cerebral palsy yang sumbing dan lumpuh otak bisa mengganggu saat mengonsumsi makanan. Kondisi lain seperti fibrosis sistik juga akan mengganggu gizi anak (UNICEF, 2013).

Prevalensi disabilitas berdasarkan data WHO mengalami peningkatan menjadi 15%, lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya 10%. Di Eropa sendiri, prevalensi anak cerebral palsy 2-2,5 per 1000 kelahiran hidup (Al-Gamal & Long, 2013). Peningkatan prevalensi ini terjadi karena dipengaruhi beberapa hal diantaranya kondisi populasi dan kesehatan global yang kronis. Pola disabilitas pada negara-negara tertentu juga dipengaruhi trend kesehatan dan lingkungan, meliputi pola

(4)

makan dan konsumsi obat yang tidak tepat, bencana alam, serta kecelakaan lalu lintas (WHO, n.d).

Di Indonesia, menurut hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi disabilitas mengalami penurunan jika dibandingkan dengan hasil riset kesehatan dasar tahun 2007. Angka nasional disabilitas yang semula pada tahun 2007 sebesar 11,6% tahun 2013 menjadi 11%. Prevalensi terendah Papua Barat sebesar 4,6% dan prevalensi tertinggi Sulawesi selatan sebesar 23,8%. Kelompok nelayan dan non pekerja merupakan kelompok disabilitas tertinggi (Riskesdas, 2007). Sedangkan menurut survei sosial ekonomi nasional (Susenas) tahun 2012, jika dibandingkan dengan tahun 2003 dan 2009 terjadi peningkatan pada tahun 2006 dan 2012, terutama dari tahun 2009 ke tahun 2012 (Buletin Kemenkes RI, 2014).

Anak cerebral palsy memerlukan perhatian lebih dari orangtua, khususnya mengenai masalah yang mungkin timbul akibat cerebral palsy. Salah satu masalah yang bisa terjadi pada anak cerebral palsy yaitu masalah perilaku. Masalah perilaku pada anak cerebral palsy biasa dialami pada usia sekolah. Prevalensi masalah perilaku yang terjadi pada anak CP sebesar 26-40%, diukur menggunakan Strength and difficulties questionnaire (SDQ) ( Brossard-Racine et al, 2012). Prevalensi masalah perilaku pada anak cerebral palsy jika diukur dengan Child Behaviour Checklist (CBCL) sebesar 65% (Sigurdardottir et al, 2010).

(5)

Peneliti melakukan 2 kali studi pendahuluan di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Bantul. Hasil studi pendahuluan pertama mengenai masalah perilaku anak, dari 3 orangtua anak cerebral palsy (CP) yang diwawawancara, 2 diantaranya memiliki masalah perilaku dan emosi. Mereka ada yang mudah marah dan ada pula yang hampir setiap hari bertengkar dengan saudaranya untuk memperebutkan barang. Sedangkan studi pendahuluan kedua dilakukan pada 2 orangtua untuk melihat gambaran stres orangtua. Wawancara pada orang pertama memperoleh hasil bahwa orangtua tersebut sudah memiliki koping yang baik dan tetap bersyukur pada keadaan. Wawancara pada orang kedua, orangtua tersebut sudah bisa menerima keadaan akan tetapi selama wawancara dia terus meneteskan air mata. Dia menyatakan jika ditanya soal anaknya dia cenderung akan meneteskan air mata.

Peneliti memilih SLBN 1 Bantul sebagai tempat penelitian karena SLBN 1 Bantul merupakan satu-satunya SLB yang membuka pendaftaran untuk siswa/siswi cerebral palsy atau tuna daksa. Meskipun hanya SLBN 1 Bantul yang membuka pendaftaran untuk siswa/siswi cerebral palsy atau tuna daksa, bukan berarti SLB lain tidak menerima siswa/siswi cerebral palsy atau tuna daksa karena sekolah tidak diperbolehkan menolak siswa/siswi yang ingin mendaftar akan tetapi jumlah siswa/siswinya hanya sedikit. Jika dibandingkan dengan SLB lain SLBN 1 Bantul memiliki jumlah siswa/siswi cerebral palsy paling banyak.

Berdasarkan analisis penelitian tentang cerebral palsy di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, belum ada penelitian yang membahas tingkat stres

(6)

orangtua dan masalah perilaku dari anak cerebral palsy (CP). Selain itu sebagai seorang perawat, stres yang dialami orangtua dan masalah perilaku yang muncul pada anak merupakan hal yang tidak bisa dianggap remeh. Perawat yang memeiliki peran sebagai edukator harus mampu memberikan edukasi mengenai masalah perilaku pada anak cerebral palsy. Selain itu stres yang dialami orangtua bisa mempengaruhi fungsi mereka sebagai orangtua. Oleh karena itu peneliti merasa perlu melakukan penelitian tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu “Apakah ada hubungan antara perilaku anak cerebral palsy dengan tingkat stres orangtua di SLBN 1 Bantul?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perilaku anak cerebral palsy (CP) dengan tingkat stres orangtua di SLBN 1 Bantul.

2. Tujuan khusus

a. Mengidentifikasi tingkat stres orangtua yang memiliki anak CP di SLBN 1 Bantul

(7)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi orangtua anak cerebral palsy

Orangtua mengetahui gambaran tingkat stres dan perilaku yang mungkin muncul pada anak cerebral palsy

2. Manfaat bagi masyarakat dan pihak sekolah yang mendidik anak cerebral palsy

Memberikan informasi pada masyarakat dan pengelola sekolah agar ikut membantu dalam mengendalikan apabila terdapat masalah perilaku anak

3. Manfaat bagi perawat Manfaat bagi perawat meliputi:

a. Memberikan masukan kepada perawat agar lebih memperhatikan kondisi mental orangtua yang memiliki anak cerebral palsy dan perawat juga bisa membantu dalam menentukan koping yang tepat untuk orangtua b. Mengetahui perilaku pada anak cerebral palsy

4. Manfaat bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dan pertimbangan peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian terkait

E. Keaslian Penelitian

(8)

8

No Nama Judul Metode Hasil Persamaan Perbedaan

1. Brossard -Racine, et al (2012) Behavioral Problem in school age children with cerebral palsy  Rancangan penelitian: cross-sectional.  Sampel: anak usia 6-12

tahun yang terdiagnosis cerebral palsy dan orangtua.

 Instrumen: the leiter intelligence test, the gross motor function meassure, the strength and difficulties questionnaire (SDQ), The vineland adaptive behavior scales untuk data

demografis anak. Parenting stress index (PSI) untuk mengukur tingkat stres orangtua.

 Kesulitan perilaku biasa terjadi pada anak cerebral palsy.

 Adanya kesulitan perilaku tidak ada hubungannya dengan faktor sosio demografi dan karakteristik fisik serta kognitif.  Diperlukan

pengenalan lebih dalam mengenai kesulitan perilkau pada anak cerebral palsy agar kesehatan dan kesejahteraan anak CP beserta keluarga tercapai optimal. Instrumen yang digunakan untuk mengukur perilaku. Instrumen yang digunakan yaitu Strength and difficulties questionnaire. Selain itu rancangan penelitian ini dengan penelitian Brossard-Racine et al (2012) sama-sama menggunakan cross-sectional.

Subjek penelitian ini orangtua anak dengan cerebral palsy, sedangkan penelitian Brossard-Racine

et al (2012) melibatkan

orangtua dan anak. Variabel terikat pada penelitian ini adalah masalah perilaku anak sedangkan variabel bebasnya adalah stres orangtua. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat stres juga berbeda, pada penelitian Brossard-Racine, et al (2012) menggunakan PSI dan untuk penelitian yang akan dilakukan menggunakan

instrumen yang

dikembangkan

Retnoningrum (2008) berdasarkan teori stres

General Adaptation

Syndrome (GAS) menurut Selye (1983).

(9)

9

No Nama Judul Metode Hasil Persamaan Perbedaan

2 Sipahutar (2014) Hubungan tingkat stres dengan pola asuh orangtua pada anak autisme di kota Denpasar

 Metode penelitian: penelitian kuantitatif analitik

observasional dengan rancangan cross-sectional, serta didukung data kualitatif.  Sampel: 84 orangtua yang

memiliki anak autis (berdasarkan diagnose psikolog atau dokter) dan tinggal serumah, serta bersedia menjadi responden.  Instrumen yang digunakan

untuk mengukur tingkat stres orangtua adalah kuesioner yang disusun oleh

Retnoningrum (2008) berdasarkan teori stres General Adaptation Syndrome (GAS) menurut Selye (1983).Sedangkan untuk pola asuh orangtua, instrumen yang digunakan adalah instrumen yang disusun oleh peneliti sendiri berdasarkan teori pola asuh Baumrind.

 Orangtua yang

mengalami stres sedang memberikan pola asuh campuran antara demokratis dengan otoriter yaitu 12 responden.  Orangtua yang

mengalami stres tinggi menerapkan pola asuh otoriter yaitu7

responden.  Orangtua yang

mengalami stres ringan memberikan pola asuh campuran antara otoriter dan demokratis yaitu 7 responden.  Tidak terdapat

hubungan bermakna antara tingkat stres dengan pola asuh orangtua anak dengan autisme. Rancangan penelitian yaitu cross-sectional.Instru men penelitian tingkat stres Instrumen tingkat stres yang digunakan dalam peneitian ini sama dengan penelitian Sipahutar (2014)

Lokasi dan subjek yang digunakan. Lokasi penelitian Sipahutar (2014) berada di SD dan SDLB Kuncup Bunga Denpasar, di Pradnya Gama Pusat Layanan Psikologi Denpasar, dan pusat Layanan Autisme kota Denpasar, sedangkan penelitian ini akan dilakukan di Yogyakarta. Subjek orangtua anak dengan cerebral palsy dan guru sekolah, sedangkan Sipahutar (2014) melibatkan orangtua dengan anak autisme. Selain itu perbedaanya terletak pada instrumen pola asuh

(10)

10

No Nama Judul Metode Hasil Persamaan Perbedaan

3 Ketelaar, et al (2008) Stress in parents of children with cerebral palsy : what source of stress are we talking about?  Rancangan penelitian: cross-sectional study.  Sampel: 42 orangtua yang

memiliki anak cerebral palsy (CP).

 Instrumen yang digunakan Pediatric Evaluation Disability Inventory (PEDI) untuk mengukur keterampilan fungsional anak, Thevineland adaptive behavior scales (VABS) untuk mengukur perilaku anak. Sedangkan untuk orangtua, instrumen yang digunakan Parenting stress index (PSI) untuk mengukur tingkat stres orangtua.

Hasil yang ditemukan berdasarkan analisis regresi keterampilan fungsional anak (PEDI) dan perilaku maladaptive anak (VABS) sebesar 27% dari total variansi pada PSI domain orangtua untuk masalah skor stres. Perilaku maladaptive secara signifikan berkontribusi dalam stres orangtua. Fungsi orangtua bisa dipengaruhi oleh aspek perilaku anak CP sehingga penting untuk mengetahui dan terus mengembangkan

intervensi yang tepat serta memberikan dukungan pada seluruh keluarga. Variabel terikat yaitu tingkat stres orangtua dengan anak cerebral palsy, sedangkan variabel bebasnya yaitu masalah perilaku pada anak akan tetapi pada penelitian Ketelaar et.al. (2008) fokus pada perilaku maladaptive anak. Rancangan penelitiannya sama yaitu cross-sectional. Instrumen yang digunakan penelitian Ketelaar et.al. (2008) menggunakan PSI untuk mengecek tingkat stres dan VABS untuk mengukur perilaku maladaptive anak, sedangkan penelitian ini menggunakan kuesioner yang disusun oleh Retnoningrum (2008) berdasarkan teori stres

General Adaptation

Syndrome (GAS)

menurut Selye (1983) untuk mengukur tingkat stres dan untuk mengukur masalah

perilaku anak

menggunakan SDQ (Strength and Difficulties Questionairre).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :