ANALISIS ALUR, TOKOH DAN PENOKOHAN, DAN LATAR DALAM NOVEL TIBA TIBA MALAM KARYA PUTU WIJAYA Tugas Akhir Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia

79 

Teks penuh

(1)

Tugas Akhir

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Dominicus Ganang Aditya I.

NIM : 024114028

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

i

Tugas Akhir

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Dominicus Ganang Aditya I.

NIM : 024114028

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan

daftar pustaka, sebagai layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 24 November 2010

Penulis

(6)

v

Yang bertanda tangn di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama

: Dominicus Ganang Aditya I.

Nim :

024114028

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul Analisis Alur, Tokoh dan

Penokohan, dan Latar Dalam Novel Tiba Tiba Malam Karya Putu Wijaya beserta

perangkat yang diperlukan (bila ada).

Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma

hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan

data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media

yang lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun

memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal 24 November 2010

Yang menyatakan,

(7)

vi

rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis (akhirnya) dapat menyelesaikan skripsi ini

dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat akhir dalam

menempuh ujian sarjana pada Fakultas Sastra, Jurusan Sastra Indonesia, Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dan

dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih

kepada pihak-pihak yang telah membantu terselesainya skripsi ini, yaitu:

1.

S.E. Peni Adji, S.S., M. Hum sebagai dosen pembimbing I, terima kasih

telah meluangkan banyak waktu dan kesempatan untuk memberi masukan

dan membimbing saya dalam menyelesaikan skripsi ini.

2.

Drs. B. Rahmanto, M. Hum, sebagai dosen pembimbing II, terima kasih

atas waktu dan pengertiannya.

3.

Seluruh dosen jurusan Sastra Indonesia, yang telah dengan sabar

membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Sastra Indonesia.

4.

Kedua orang tua saya yang telah memberi dukungan secara materiil dan

spirituil kepada penulis.

5.

Kedua kakakku, Lia dan Kiky, yang selalu cerewet agar segera

menyelesaikan penelitian ini.

6.

Teman-teman komunitas Bengkel Sastra USD, Bengkel Mime Theater,

(8)

vii

kasih atas kebersamaannya selama di bangku perkuliahan.

8.

Institusi Universitas Sanata Dharma, baik “atasan” maupun “bawahan”,

terima kasih atas pelayanan dan kerjasamanya selama ini.

9.

Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, namun telah

banyak memberikan dukungan dan perhatian sampai selesainya skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Untuk itu, segala

saran dan kritik dari berbagai pihak akan penulis terima dengan segala kerendahan hati

dan harapan dapat lebih menyempurnakan penelitian ini. Penulis juga berharap skripsi

ini bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, 24 November 2010

(9)

viii

Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini mengkaji alur, tokoh dan penokohan, dan latar dalam novel Tiba-Tiba

Malam karya Putu Wijaya. Tujuan penelitian ini adalah menjabarkan unsur alur, tokoh

dan penokohan, dan latar atau setting dalam novel Tiba-Tiba Malam karya Putu Wijaya.

Penelitian yang menggunakan metode deskriptif ini mengungkapkan penulisan

karya ini menggunakan alur progresif, lurus, atau maju, dikarenakan peristiwa yang

dikisahkan bersifat kronologis. Peristiwa pertama mengakibatkan peristiwa selanjutnya.

Alur dalam novel ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu tahap awal (beginning), tahap

tengah (middle), dan tahap akhir (end).

Dalam novel ini diketahui juga bahwa Sunatha merupakan tokoh utama yang

utama, disusul dengan Sunithi, Utari, dan Ngurah sebagai tokoh utama tambahan, dan

sebagai tokoh tambahan utama adalah Subali, David, Weda, serta Renti yang berfungsi

mendukung keseluruhan cerita. Pemilihan Tokoh Sunatha sebagai tokoh utama yang

utama dikarenakan Sunatha merupakan tokoh yang mempengaruhi jalan cerita dalam

novel ini.

(10)

ix

Yogyakarta: Indonesian Literature Study Program, Sanata Dharma University.

This research analyzes the plot, character and characterization, and setting in Tiba-

Tiba Malam Novel by Putu Wijaya. This research aims to describe the elements of plot,

character and characterization, and setting in Tiba-Tiba Malam Novel by Putu Wijaya.

This research—which uses the descriptive method—shows that the plot of this

novel is progressive plot for the events are arranged in chronological way; an event

causes other events. The plot of the novel is divided into three main parts; the beginning,

the middle, and the end.

In this Novel, Sunatha is put as the main character over Sunithi, Utari, and Ngurah

who are the main additional characters. The other characters are Subali, David, Weda,

and Renti who are put as additional characters to construct the overall story. Sunatha is

put as the main characters for he influences the story most.

The setting of the story includes the place setting, time setting, and social setting.

The most dominant places in place setting are the harbor, the village, and Denpasar city.

The time setting includes the morning time, midday time, and night. The researcher also

fined the usage of certain time, past time, and future time. The social setting is showed by

the familiar atmosphere and community self-helped, the usage of local language and

(11)

x

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI……... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... . iv

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... v

KATA PENGANTAR ...………... vi

ABSTRAK ...………. viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

BAB I PENDAHULUAN… ... 1

1.1

Latar Belakang ………. 1

1.2

Rumusan Masalah ……… 3

1.3

Tujuan Penelitian ………. 3

1.4

Manfaat Penelitian ……… 3

1.5

Tinjauan Pustaka ……….. 4

1.6

Landasan Teori ………. 5

1.6.1

Struktural ………. 5

1.6.2

Alur ……… 6

1.6.3 Tokoh dan Penokohan………...…………. 9

1.6.4 Latar atau setting ………...………….. 11

(12)

xi

2.1 Tahap Awal ... 15

2.2 Tahap Tengah ... 19

2.3 Tahap Akhir ... 25

BAB III TOKOH dan PENOKOHAN ... 31

3.1 Sunatha ... 31

3.2 Sunithi ... 35

3.3 Utari ... 37

3.4 Ngurah ... 39

3.5 Subali ... 41

3.6 David ... 43

3.7 Weda ... 45

3.8 Renti ... 47

BAB IV LATAR CERITA ... 50

4.1 Latar Tempat ... 50

4.1.1 Pelabuhan ... 50

4.1.2 Desa ... 53

4.1.3 Denpasar ... 55

4.2 Latar Waktu ... 56

4.2.1 Pagi ... 56

(13)

xii

4.2.6 Waktu Yang Akan Datang ... 58

4.3 Latar Sosial ... 58

4.3.1 Penyebutan Nama Tempat atau Nama Daerah ... 59

4.3.2 Lingkungan Masyarakat Pedesaan ... 59

4.3.3 Rasa Kekeluargaan dan Sifat Gotong Royong ... 59

4.3.4 Penggunaan Bahasa Daerah atau Dialek-dialek Tertentu ... 60

4.3.5 Penggunaan Kultur Budaya dan Religi ... 60

BAB V PENUTUP ... 62

5.1 Kesimpulan ... 62

5.2 Saran ... 64

(14)

1 1.1 Latar Belakang

Karya sastra yang kita baca dibangun oleh pengarangnya sebagai hasil rekaman berdasarkan permenungan, penafsiran, dan penghayatan hidup terhadap realitas sosial dan lingkungan kemasyarakatan tempat pengarang itu hidup dan berkembang (Sumardjo 1984: 14).

Sastra yang merupakan permenungan pengarang terhadap permasalahan kehidupan itu sarat akan nilai yang tercermin dari kultur sosialnya. Dengan kata lain sastra sebagai bagian dari integral kebudayaan dianggap sebagai cara untuk mengungkapkan kebudayaan tersebut (Ratna 2008: 11). Hal ini senada dengan setting atau latar cerita novel Tiba-Tiba Malam (selanjutnya disingkat TTM) yang

(15)

Nurgiyantoro yang mengatakan bahwa pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai pandangannya. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan. (Nurgiyantoro, 2010:2-3).

Berangkat dari hal itu, peneliti menyimpulkan bahwa novel merupakan salah satu hasil seni yang diciptakan pengarang berdasarkan pengalaman yang pernah dilihat atau (bahkan ) dialaminya. Persoalan atau permasalahan kehidupan manusia yang disajikan serta disuguhkan dalam novel biasanya merupakan cerminan atau tingkah laku yang terjadi di masyarakat sehari-hari (atau pada masa itu).

Salah satu sastrawan yang berhasil menghadirkan kenyataan sosial dalam sebuah karya adalah PW. Bangsawan Bali dan juga penerima SEA Write Award (Bangkok, 1980) ini termasuk produktif. Seluruh genre sastra ia geluti, drama, cerpen, novel, esai maupun skenario film dan sinetron.

(16)

Peneliti sangat tertarik untuk meneliti novel TTM dikarenakan alur cerita yang membuat penasaran bagaimana berakhirnya (penyelesaian) masalah, Penokohan yang menarik, dan didukung penggambaran latar belakang Bali yang kuat. Hal inilah yang menarik perhatian saya untuk meneliti lebih lanjut karya TTM secara intrinsik.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas masalah-masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimanakah unsur alur dalam novel TTM?

1.2.2 Bagaimana dan siapa saja tokoh dan penokohan yang terlibat dalam novel TTM?

1.2.3 Bagaimanakah penggambaran latar cerita dalam novel TTM? 1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Mendeskripsikan unsur alur dalam novel TTM.

1.3.2 Mendeskripsikan tokoh dan penokohan dalam novel TTM. 1.3.3 Mendeskripsikan latar cerita dalam novel TTM.

1.4 Manfaat Penelitian

(17)

1.4.1 Memperkaya khazanah pustaka dalam penelitian sastra, khususnya mengenai alur, tokoh, dan latar .

1.4.2 Bermanfaat untuk meningkatkan apresiasi terhadap kesusastraan khususnya novel TTM.

1.5 Tinjauan Pustaka

PW adalah salah seorang penulis Indonesia yang sangat produktif. Begitu banyak karya sastra yang dihasilkan oleh PW, oleh karenanya tidak sedikit tulisan-tulisan yang membahas karya PW, apalagi novel konvensionalnya, TTM.

Kii (2007) dalam skripsinya membedah TTM dari sudut pandang pelanggaran adat istiadat di Bali. Dengan berlandaskan kajian sosiologi, ia berkesimpulan bahwa tokoh Subali telah melanggar adat disebabkan beberapa hal antara lain usaha dagangnya bangkrut, menjadi fitnahan orang serta mengalami tekanan dari orang lain. Ia juga menambahkan bahwa tokoh Subali mengalami perubahan pola pikir terhadap adat.

Sedikit berbeda dengan Kii, Sunarti (2008) menemukan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam novel TTM. Nilai-nilai budaya tersebut adalah nilai budaya hubungan antara manusia dengan Tuhan, nilai budaya dalam hubungan antara manusia dengan masyarakat, nilai budaya hubungan antar manusia dengan alam, nilai budaya hubungan antara manusia dengan orang, nilai budaya hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. (2008, etd_eprints.ums.ac.id)

(18)

mengangkat perubahan konsep pada diri seorang perempuan Bali─seorang istri Bali. Menurut ajaran agama Hindu, wanita tidak dianggap marginal oleh laki-laki dan keluarga tetapi wanita sangat dimuliakan dan menjadi lambang Dewi Saraswati. (2009, nyanyianbahasa_wordpress.com)

Violine juga mengatakan bahwa novel ini tidak hanya mengangkat masalah adat di Bali, tetapi juga menyorot rekonstruksi seorang perempuan Bali. Dengan menganalisis karakter tokoh, ia menemukan perubahan pada tokoh-tokoh dalam novel TTM. Tokoh wanitanya tidak hanya lebih dulu mencapai tahap rekonstruksi, tetapi juga berhasil membuat tokoh-tokoh pria berubah demi menyesuaikan diri dengannya. (2009, nyanyianbahasa_wordpress.com)

1.6 Landasan Teori 1.6.1 Struktural

Secara etimologis, struktur berasal dari kata structura (Latin), yang berarti bentuk, bangunan. Sedangkan secara definitif, strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur, yaitu struktur itu sendiri, dengan mekanisme antarhubungannya, di satu pihak antarhubungan unsur yang satu dengan unsur lainnya, di pihak yang lain hubungan antara unsur (unsur) dengan totalitasnya (Ratna, 2008: 91).

(19)

yang diberikan terhadap tujuan estetik dan makna keseluruhan yang ingin dicapai (Nurgiyantoro, 2010: 37).

Unsur-unsur itu salah satunya adalah unsur instrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Kepaduan antarberbagai unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah novel. Unsur-unsur yang dimaksud, misalnya, peristiwa, cerita, plot, penokohan, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa. (Nurgiyantoro, 2010: 23).

Dalam analisis unsur intrinsik, kepaduan antarunsur-unsur pembangun sebuah novel biasanya dianalisis secara menyeluruh. Akan tetapi, dalam penelitian ini, peneliti tidak menganalisis keterkaitan antarunsur-unsur tersebut. Peneliti hanya fokus kepada deskripsi alur, tokoh dan penokohan, dan latar yang terdapat dalam novel TTM. Hal ini dikarenakan ketiga unsur tersebutlah yang menarik perhatian peneliti.

Alur konvensional menjadi hal yang unik dalam novel ini dikarenakan biasanya PW menggunakan alur non-konvensional. Hal ini juga diikuti dengan penokohan yang menarik serta deskripsi latar Bali yang begitu kuat. Jadi, peneliti hanya memfokuskan penelitian pada deskripsi alur, tokoh dan penokohan, dan latar dalam novel TTM.

1.6.2 Alur

(20)

cerita. Istilah alur dalam hal ini sama dengan istilah plot maupun struktur cerita (Aminuddin, 1991: 83).

Stanton via Nurgiyantoro (2010: 13) mengemukakan bahwa plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa yang lain.

Aristoteles via Nurgiyantoro (2010: 142) membagi plot menjadi tiga bagian, yaitu tahap awal (beginning), tahap tengah (middle), dan tahap akhir (end). Tahap awal disebut juga tahap perkenalan yang berfungsi memberikan informasi dan penjelasan tentang latar, seperti nama-nama tempat, suasana alam waktu kejadiannya, yang pada garis besarnya berupa deskripsi setting. Selain itu tahap awal juga sering dipergunakan untuk pengenalan tokoh (-tokoh) cerita, mungkin berwujud deskripsi fisik dan perwatakannya (Nurgiyantoro, 2010: 142-145).

Tahap tengah atau disebut tahap pertikaian, menampilkan pertentangan dan atau konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap sebelumnya, menjadi semakin meningkat. Konflik tersebut dapat berupa konflik internal yang terjadi dalam diri seorang tokoh maupun konflik eksternal yang terjadi antartokoh cerita. Dalam tahap ini klimaks ditampilkan ketika konflik (utama) telah mencapai intensitas tertinggi (Nurgiyantoro 2010: 145).

(21)

kesudahan cerita atau akhir sebuah cerita, atau menyaran pada hal bagaimanakah akhir sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2010: 146-147).

Plot dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis yang berbeda berdasarkan sudut-sudut tinjauan atau kriteria yang berbeda pula. Nurgiyantoro (2010: 153) membagi pembedaan plot berdasarkan kriteria urutan waktu menjadi tiga, yaitu plot lurus (progresif), plot sorot balik (flash-back), dan plot campuran.

Plot lurus, progresif bila peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa(-peristiwa) yang pertama diikuti oleh (atau: menyebabkan terjadinya) peristiwa-peristiwa yang kemudian (Nurgiyantoro, 2010: 154).

Plot sorot balik (flash-back) adalah cerita tidak dimulai dari tahap awal (yang benar-benar merupakan awal cerita secara logika), melainkan mungkin dari tahap tengah atau bahkan tahap akhir, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan. Biasanya karya yang berplot jenis ini langsung menyuguhkan adegan-adegan konflik, bahkan konflik yang telah meruncing. (Nurgiyantoro, 2010: 154).

Sedangkan plot campuran adalah gabungan antara plot progresif dan plot flash back. Secara garis besar plot sebuah novel mungkin progresif, tetapi di

dalamnya, betapun kadar kejadiannya, sering terdapat adegan-adegan sorot balik. Sehingga pengakategorian plot cenderung progresif atau sorot balik lebih didasarkan pada mana yang lebih menonjol, atau lebih bersifat gradasi. (Nurgiyantoro, 2010: 155-156).

(22)

hero. Sedangkan sub-subplot terjadi bilamana sebuah karya fiksi memiliki lebih

dari satu alur cerita yang dikisahkan, atau terdapat lebih dari seorang tokoh yang dikisahkan perjalanan hidup, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. (Nurgiyantoro, 2010: 157-158).

Untuk pembedaan plot berdasarkan kriteria, dipilah menjadi dua bagian, yaitu plot padat dan plot longgar. Plot padat terjadi bilamana cerita disajikan secara cepat, peristiwa-peristiwa fungsional terjadi secara susul-menyusul dengan cepat, hubungan antarperistiwa juga terjalin secara erat, dan pembaca seolah-olah selalu dipaksa untuk terus-menerus mengikutinya. Sedangkan plot longgar terjadi bila pergantian antarperistiwa berlangsung lambat dan hubungan antarperistiwa diselai dengan oleh berbagai peristiwa ’tambahan’, atau berbagai pelukisan tertentu seperti penyituasian latar dan suasana. (Nurgiyantoro, 2010: 159-160).

1.6.3 Tokoh dan Penokohan

Tokoh cerita (character), menurut Abrams, adalah orang(-orang) yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Nurgiyantoro, 2010: 165).

Berdasarkan segi peranan atau tingkat pentingnya, tokoh dibagi menjadi dua macam, yakni tokoh utama (central character, main character) dan tokoh tambahan (peripheral character). (Nurgiyantoro, 2010: 176)

(23)

sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian (Nurgiyantoro, 2010:176-177). Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang tidak terlalu mendominasi cerita.

Tokoh utama (biasanya) selalu hadir di setiap kejadian dan ia sangat menentukan perkembangan plot secara keseluruhan. Tokoh utama dalam sebuah novel, mungkin saja lebih dari seorang , walau kadar keutamaannya tak (selalu) sama. Dengan demikian, pembedaan antara tokoh utama dan tambahan tak dapat dilakukan secara eksak dan hanya dilihat dari intensitas kemunculan tokohnya saja. Hal ini sejalan dengan pendapat Nurgiyantoro (2010: 178) yang mengatakan pembedaan itu bersifat gradasi, kadar keutamaan tokoh (-tokoh) itu bertingkat. Tokoh utama (yang) utama, utama tambahan, tokoh tambahan utama, tambahan (yang memang) tambahan.

”Istilah ’penokohan’ lebih luas pengertiannya daripada ’tokoh’ dan ’perwatakan’ sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.” (Nurgiyantoro, 2010: 166).

(24)

Menurut Altenbernd dan Lewis, secara garis besar ada dua teknik pelukisan tokoh dalam suatu karya, yakni teknik ekspositori (expository) dan teknik dramatik (dramatic). Teknik ekspositori adalah teknik pelukisan tokoh cerita dengan cara memberikan deskripsi, uraian, dan penjelasan secara langsung, sedangkan teknik dramatik merupakan teknik pelukisan tokoh yang dilakukan secara tidak langsung, artinya pengarang tidak mendeskripsikan secara ekplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh, menyiasati para tokoh cerita untuk menunjukkan kehadirannya sendiri melalui berbagai aktifitas yang dilakukan baik secara verbal lewat kata maupun non verbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi (Nurgiyantoro, 2010:194-198).

1.6.4 Latar atau Setting

Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams via Nurgiyantoro, 2010: 216).

(25)

Namun, perlu ditegaskan bahwa sifat ketipikalan daerah tak hanya ditentukan oleh rincinya deskripsi lokasi, melainkan terlebih harus didukung oleh sifat kehidupan sosial masyarakatnya (Nurgiyantoro, 2010: 227-228).

Latar waktu berhubungan dengan masalah ”kapan” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah ”kapan” tersebut biasanya dikaitkan dengan peritiwa sejarah. Dalam artian sesuatu yang diceritakan harus sesuai dengan perkembangan sejarah. Namun, tidak menutup kemungkinan latar waktu mungkin justru tampak samar tidak ditunjukkan secara jelas, mungkin karena memang tidak penting untuk ditonjolkan dengan kaitan logika ceritanya. Ketidakjelasan waktu sejarah dalam novel itu memang tidak diperlukan (Nurgiyantoro, 2010: 230-232).

Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan. Selain itu, latar sosial memang dapat secara meyakinkan menggambarkan suasana kedaerahan, local colour, warna setempat derah tertentu melalui kehidupan sosial masyarakatnya.

(26)

1.7 Metodologi Penelitian

Metode merupakan cara dan prosedur yang akan ditempuh oleh peneliti dalam rangka mencari pemecahan masalah (Santosa, 2004: 8). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis. Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan, tidak semata-mata menguraikan, melainkan juga memberikan penjelasan dan pemahaman secukupnya (Ratna, 2008: 53).

Adapun teknik yang penulis pakai adalah teknik catat dan simak. Penyimakan terhdap isi dan novel tersebut kemudian dilanjutkan dengan teknik catat pada kartu data. Teknik catat maksudnya pencatatan data yang digunakan dengan alat tulis, sedangkan kartu data berupa kertas dengan ukuran dan kualitas apapun dapat digunakan asal mampu memuat, memudahkan pembacaan dan menjamin data (Sudaryanto, 1988: 58).

1.8 Buku Sumber Data

Judul : Tiba Tiba Malam Pengarang : Putu Wijaya Penerbit : Buku Kompas Tahun terbit : 2005

Tebal : iv + 236 hlm 1.9 Sistematika Penyajian

(27)
(28)

15

Pada bab berikut, akan dijabarkan struktur cerita novel TTM dari sudut alur atau plot. Pembahasan mengenai alur dalam penelitian ini meliputi tahap awal (beginning), tahap tengah (middle), dan tahap akhir (end).

2.1Tahap Awal

Tahap awal dalam novel TTM karya PW merupakan tahap perkenalan yang berfungsi memberikan penjelasan tentang dekripsi setting, dalam hal ini meliputi nama-nama tempat, suasana alam, dan waktu kejadiannya.

Selain itu, pada tahap ini juga dipergunakan untuk memperkenalkan tokoh (-tokoh) cerita, yang berwujud deskripsi fisik dan perwatakannya. Adapun pada tahap ini masalah (-masalah) yang memunculkan terjadinya konflik sudah mulai diperlihatkan.

Penceritaan diawali dengan upacara perkawinan Sunatha dan Utari yang menjadi perhatian semua warga desa karena gadis cantik itu sudi menikah dengan Sunatha yang hanya guru SMP. Hal ini dapat diketahui dalam kutipan berikut.

(1) Upacara perkawinan Sunatha dilangsungkan dengan sederhana dan mendadak. Banyak orang heran dan bertanya-tanya, mengapa hal tersebut terjadi… Di samping orang cemburu kenapa guru SMP yang gemar menyanyi lagu-lagu rakyat itu yang mampu merobohkan hati Utari… (hlm. 1)

(29)

segala sesuatunya untuk meminang Utari. Tapi kenyatan berbicara lain. Utari lebih memilih Sunatha. Penggambaran situasi ini terdapat dalam kutipan berikut.

(2) Di sebuah rumah yang kaya di desa itu, seorang lelaki tercenung. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi hatinya hancur. Dia baru saja merencanakan untuk mempersiapkan lamaran. Ia hampir tak bisa menerima kenyataan itu, karena ia sebenarnya sudah begitu yakin. Baik tampang, keadaan sosial ekonomi, dan kedudukan semuanya menyokong rencananya. Ia tak pernah menduga bahwa antara Utari dan Sunatha sudah ada ikatan percintaan (hlm. 2).

Pernikahan itu menarik perhatian seorang pria asing (bule), David. Ia mencatat dan mengabadikan apa saja yang dilihatnya ke dalam kamera, hal apa pun yang belum pernah dia tahu dan kelihatan asing di matanya. Dia melakukan segala cara untuk mendapatkan angle yang terbaik, bahkan ia menaiki sanggah, tempat untuk sesajen. Kejadian itu digambarkan dalam kutipan (3).

(3) Tatkala upacara peresmian pernikahan dilangsungkan, orang asing itu berusaha memotret dari tempat yang agak tinggi. Tapi ia kurang memperhatikan sekitarnya, sehingga secara tak sengaja ia menaiki sebuah sanggah untuk sesajen di halaman (hlm. 7).

Karena perbuatannya, David pun ditegur oleh Renti dan dia meminta maaf. Ia mendekati seorang lelaki tua yang tak lain adalah Subali, ayah Sunatha, David meminta ijin kepada Subali untuk memotret. Dari sinilah awal perkenalan mereka. Percakapan mereka dilukiskan dalam penggalan berikut.

(30)

Renti geram melihat pernikahan antara Utari dan Sunatha yang menyebabkan majikannya, Ngurah, menderita berusaha mencari cara untuk mendekati ibu dari Utari dan menyebarkan isu bahwa Utari kena guna-guna supaya mau menikah dengan Sunatha. Berita itu didengar oleh ibu Utari dan membuat ia cemas terhadap anak gadisnya yang baru menikah, ini terdapat dalam kutipan berikut.

(5) Orang tua itu tiba-tiba sedih. Kini ia baru berpikir mungkin sekali Utari sudah kena guna-guna. Ia sudah beberapa kali menyarankan Utari untuk memperhatikan Ngurah. Ya, dia bukan tidak ingin punya menantu kaya. Tapi hati Utari rupanya sudah begitu terjerat Sunatha (hlm. 13).

Sunatha merasa tidak yakin keputusan Utari menikahi dirinya adalah suatu keputusan yang tepat. Ia merasa rendah diri. Sunatha merasa tidak pantas dibandingkan Ngurah yang kaya raya. Ia hanya seorang guru SMP yang besok pagi akan berangkat ke Kupang untuk mengajar. Situasi tersebut digambarkan dalam kutipan berikut.

(31)

(7) ”Buah pikirannya berbahaya. Saya tidak suka dia terlalu rapat dengan bapak. Kamu tahu sendiri, bapak sedang kecewa. Dia masih memikirkan usaha dagangnya yang bangkrut”. (hlm. 23). Setelah kepergian Sunatha, dalam bis, Utari menyesali keputusannya menikah dengan Sunatha. Untuk menutupi penyesalannya tersebut, ia mengatakan kepada semua orang bahwa ia telah diguna-gunai. Pernyataan ini membuat keluarga Sunatha merasa tersinggung. Utari meminta pulang ke rumah orang tuanya tetapi Subali tidak setuju. Terjadi pertengkaran antara Subali dengan keluarga Utari. Kejadian ini dilukiskan dalam kutipan berikut.

(8) ”Baik!” teriak Subali. ”Sejak dulu orang selalu menyebarkan fitnah atas keluargaku. Kamu mau kawin dengan Sunatha secara baik-baik, sekarang kamu tuduh anak saya menguna-guna kamu,... Sekarang pilih saja, kamu pulang atau tinggal di rumah suamimu. (hlm. 33).

Akhirnya Utari memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Subali tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Utari semakin menjadi-jadi. Ia menuduh Sunatha wangdu (impoten) dan ia tidak mau kembali ke rumah mertuanya, bahkan ia berkasih-kasihan dengan Ngurah. Hubungan Ngurah dan Utari direstui oleh kedua orang tua Utari padahal status Utari masih menjadi istri sah Sunatha. Kejadian di atas dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(9) Utari tiba-tiba membaringkan kepalanya di pangkuan Ngurah. Lelaki ini terkejut dan deg-degan. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Terutama karena orang tua Utari juga kelihatan biasa saja. Utari menangis terisak-isak. Tapi ia mulai bicara. ”Dia wangdu! Aku tidak mau lagi ke sana! Aku tidak mau!” (hlm. 39).

(32)

Sunatha untuk Utari dibuang karena dianggap ada guna-gunanya. Perlakuan mereka berbeda sekali ketika Ngurah datang ke rumah Utari dan menawarkan membawa Utari ke kota untuk berobat. Kontradiksi ini digambarkan dalam dua kutipan berikut.

(10) Tiba-tiba ibu Utari meraih bingkisan itu dan melemparkannya. ”Enyah-enyah! Jangan bawa guna-guna kemari!” Sunithi terkejut. Dia hendak membalas, tapi Weda cepat mencegahnya. (hlm. 46). (11) ”Utari ada, Ibu?” ” Oh ada. Utariiii! Ini Ngurah. Semalam dia

menunggu. Katanya Ngurah bawa obat!” “Ini saya bawa,” sambil menunjukkan bungkusan. Kalau boleh nanti sore saya ajak Wayan ke kota untuk berobat, supaya cepat sembuh.” “Oh, silakan. Wayan cepat!” (hlm.47)

Subali mulai terhasut oleh David yang terlalu antipati terhadap budaya ketimuran, ini dapat dilihat ketika ia mengiyakan ajakan David untuk pergi ke Denpasar, sedangkan nanti malam ada rapat desa yang merencanakan untuk memperbaiki pura desa menjelang perayaan odalan. Selain itu sudah beberapa kali Subali tidak menghadiri rapat desa karena sering bepergian dengan David. Percakapan mereka dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(11) Ah, buat apa! Kan ada orang lain. Masa kalau satu tidak datang kerja itu tidak bisa diteruskan. Omong kosong. Apa artinya satu orang. Kasih saja uang untuk ganti kerugian. Pokoknya besok kita harus ada di Denpasar. Saya bawa mobil.” “Tapi sudah beberapa kali saya tidak muncul di desa gara-gara ikut David.” ....“Sudahlah. Jadilah orang yang praktis, jangan tenggelam dalam sistem yng sudah bobrok ini. (hlm. 52).

2.2Tahap Tengah

(33)

Konflik tersebut dapat berupa konflik internal yang terjadi dalam diri seorang tokoh maupun konflik eksternal yang terjadi antartokoh cerita. Dalam tahap ini klimaks ditampilkan ketika konflik utama telah mencapai intensitas tertinggi.

Ketika keluarga Sunatha hendak makan malam terdengar bunyi kentongan tanda untuk masyarakat desa segera berkumpul untuk rapat. Mendengar bunyi kentongan tersebut, Subali acuh saja. Ia malah sibuk membaca buku pemberian dari David. Melihat kelakuan suaminya ini, ibu Sunatha yang sedang sakit merasa resah karena sudah beberapa kali Subali tidak hadir dalam rapat desa, maka ia menyuruh Sunithi untuk mengingatkan bapaknya. Karena kelakuannya ini, Subali menjadi perbincangan masyarakat desa. Pelukisan kejadian itu dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(12) ”Suruh bapakmu pergi, nanti orang kampung marah. Sudah beberapa kali ini dia tidak datang ke desa!” Sunithi mendekati bapaknya. “Meme bilang Bapak harus pergi ke desa, nanti kena marah.” Subali diam saja. Terus membaca. Sunithi menghidangkan makanan. (hlm.59).

Weda merupakan pacar Sunithi. Ia bertamu sekaligus mengajak Subali untuk menghadiri rapat desa. Sunithi mencari alasan dengan mengatakan bahwa bapaknya sakit. Weda tidak percaya begitu saja. Ia mengingatkan bahwa Subali sudah sering tidak datang ke rapat desa dan bisa dikeluarkan dari krama desa. Hal ini terdapat dalam penggalan berikut.

(13) “Kok, saban ada kerepotan desa, terus sakit. Nyoman, ini penting. Bapak harus datang. Nanti dia dikeluarkan dari krama-desa. (hlm.62)

(34)

Weda melihat ada sesuatu yang janggal semenjak David akrab dengan keluarga Sunatha dan kedekatannya dengan Sunithi, pacarnya. Hal ini membuat Weda cemburu dan jengkel ketika ia mendapati fakta bahwa Subali tidak sakit. Weda merasa telah dibohongi, dan hal ini membuat ia marah. Kejadian itu dilukiskan dalam kutipan berikut.

(14) Sunithi mengikuti. David memegang pundaknya dan membisikkan sesuatu sambil masuk. Weda melihat semuanya itu dengan cemburu sekali. Matanya melotot. Dia menunggu beberapa saat. Masih terdengar David berbisik-bisik dengan Sunithi. Weda mencoba mengintip. Tapi pikirannya sudah tak karuan. Ia hanya melihat bayangan Sunithi dan David berdekatan. Juga dilihatnya Subali tidak sakit. Dia mengepalkan tangannya. (hlm. 63-64).

Sementara itu di balai desa, rapat mulai berlangsung. Rapat itu membahas tentang keadaan desa. Ngurah tampil memberikan gagasan-gagasannya dalam mengembangkan desa. Ia juga membicarakan kehadiran David di desa itu yang menurutnya bisa membawa dampak tidak baik. Warga desa diharapkan tidak begitu saja mengikuti semua ideologi kebarat-baratan dengan menghadirkan contoh Subali yang begitu dekat dengan David. Hal ini dapat disimak dalam kutipan berikut.

(15) ”Tunggu! Saya tidak bermaksud menghasut Saudara untuk membenci orang asing. Banyak di antara mereka yang pintar dan bermaksud baik. Hanya kadangkala kita salah menerima ajaran-ajarannya itu. Jadi saya harapkan Saudara-saudara jangan begitu saja menerima pikiran-pikiran orang lain, tapi harus dicernakan. Sekarang saya dengar misalnya bapak Subali tidak pernah datang kalau ada kerepotan desa.” (hlm. 66).

(35)

membantu ketika mereka tertimpa masalah. Warga desa semakin seru memperbincangkan Subali dan mereka mengusulkan agar Subali dikeluarkan saja dari krama-desa. Peristiwa itu digambarkan dalam kutipan berikut.

(16) ”Keluarkan saja dia dari krama-desa, Pak!” kata seseorang. Bagus Cupak berdiri lagi. ” Kalau dia tidak mau lagi ikut kerepotan desa, dia juga tidak boleh mempergunakan jalan desa, pancuran desa, pura desa, dan kuburan desa. (hlm.67)

Ketika membicarakan Subali, Weda ditanyai Ngurah karena ia dekat dengan keluarga Subali. Karena merasa masih kesal dengan David, Weda menceritakan semuanya. Ia bercerita bahwa Subali pura-pura sakit dan besok akan pergi ke Denpasar dengan David. Karena kecemburuannya kepada David, ia menambah-nambahi ceritanya. Warga desa menjadi ramai dan rapat menjadi kacau. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.

(17) Weda bercerita panjang lebar. Kebenciannya pada David membuat ia sedikit menambah-nambah. Orang-orang jadi marah. Tapi mereka bukannya marah pada David, akan tetapi lebih berang pada Subali.

(36)

(18) “Maaf sekali ini saya tidak bisa ikut bekerja. Ada keperluan di Denpasar, saya sakit saya harus berobat ke sana. Ini saya membayar uang ganti diri saya bekerja.” Ia mengulurkan segenggam uang yang tadi disisipkan oleh David. (hlm.77)

Perbuatan Subali membuat kaget kepala desa dan warganya. Mereka tidak menyangka Subali akan melakukan hal itu. Kepala desa merasa sangat tersinggung sekali begitu pula para warganya dan mereka memutuskan mengeluarkan Subali dari krama-desa.

(19) ”Begini, katakan kepada bapak kalau nanti pulang, sudahlah, ia tidak usah lagi ikut kerja di pura. Kalau memang selalu repot kami juga tidak memaksa. Tapi tentunya demikian juga sebaliknya nanti. Jelasnya, kami memutuskan untuk mengeluarkan bapak dari ikatan krama-desa. (hlm.85).

Karena nila setitik rusaklah susu sebelanga. Mungkin peribahasa ini cocok untuk menggambarkan kehidupan keluarga Sunatha karena perbuatan bapaknya, Subali. Keluarga ini mulai diteror oleh warga desa yang marah atas kelakuan Subali tempo hari. Di kala malam hari mereka mulai melempari rumah keluarga tersebut dengan batu. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut.

(20) Ibunya terjaga karena kegaduhan itu dengan gemetar. Sunithi cepat memeluknya. Lemparan batu itu semakin gencar. Terdengar suara memaki-maki dari luar. Ibunya menjerit-jerit. Sunithi cepat berusaha menenangkannya. Ia berlari dan mengunci semua pintu. Kemudian ia mengambil kapak yang kebetulan dijumpainya di bawah kolong, lalu bersiap-siap. (hlm 83).

(37)

benar-benar mencintainya atau hanya menginginkan hartanya. Kegelisahan Ngurah digambarkan dalam kutipan berikut.

(21) Ini membuat Ngurah memeras kepalanya. Ia bukan orang yang curang. Artinya ia tetap menghargai Sunatha sebagai suami Utari. Tetapi apakah penghargaan semacam itu harus mengorbankan kesempatan yang tak akan pernah didapatnya. ...terutama yang dipikirkannya adalah adakah Utari benar-benar mencintainya. Atau hanya sekedar tertarik pada kekayaan. (hlm. 97-98)

Sunithi merasa tidak sanggup menghadapi sanksi sosial yang dialami oleh keluarganya. Ia mengirim surat kepada Sunatha supaya segera pulang untuk menyelesaikan keadaan ini. Selain itu, sakit ibu Sunatha semakin parah dan bapaknya, Subali, sepulang dari Denpasar semakin menjadi aneh. Tidak ada lagi orang yang menghiraukan keluarga mereka. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.

(22) Selain tetangga-tetangga dan saudara-saudara yang masih dekat, tak ada lagi yang mau berhubungan dengan kami. Saya selalu disindir-sindir sehingga saya tidak kuat kalau keluar rumah. Saya hanya keluar rumah kalau hendak mandi, itu pun malam hari. ...Semua orang tidak ada yang ngomong dengan saya, bahkan saya tidak dihiraukan. Mereka menyindir-nyindir saya. Saya tidak kuat, saya harap beli cepat-cepat pulang untuk menyelesaikan keadaan ini. (hlm.130).

(38)

(23) Sunatha hanya berusaha mengumpulkan uang lebih banyak. Walaupun ia sangat sulit. Ia sadar bagaimanapun, nanti ia akan memerlukan uang. Apalagi ia telah diharapkan begitu lama sebagai juru selamat. (hlm.149)

2.3Tahap Akhir

Tahap akhir dalam novel TTM karya PW merupakan tahap peleraian yang berisi akhir sebuah cerita atau akibat dari klimaks.

Karena tidak mampu menahan derita lebih lanjut, akhirnya ibu Sunithi menghembuskan nafasnya. Sementara itu Sunatha masih dalam perjalanan pulang. Ketika ibunya meninggal, tidak ada satu pun anggota banjar yang datang membantu, bahkan bunyi kentongan pun tak terdengar. Sunithi merasa putus asa. Sedangkan Subali hanya terbengong saja mendapati istrinya meninggal. Ia tidak melakukan apa pun. Sunithi menjatuhkan semua kesalahan kepada Subali, karena ia tidak ada satu pun warga yang menolong penguburan ibunya. Ia memaksa Subali untuk meminta maaf kepada banjar.

(24) “Terlalu! Masak mereka tidak melihat saya? Masak mereka tidak melihat beli Sunatha. Saya tidak pernah salah apa-apa. Ini kan hanya bapak. Kenapa kami mesti diperlakukan begini?” (hlm.197). (25) ”Lihat! Lihat perbuatan Bapak sekarang! Lihat! Kita semua harus

(39)

(26) ”Tadinya saya bermaksud membawa Wayan pulang, tapi setelah ada berita itu, saya tunda dulu. Sekarang kalau dia datang kemari, ibu dan bapak jangan meladeni. Suruh saja dia menghubungi saya. Saya yang akan menyelesaikannya!’

Orang tua itu nampak cemas. ”Jangan sampai ada perkelahian!” Ngurah tersenyum. ”Saya kenal Sunatha. Dia orang yang baik. Saya akan berterus terang kepadanya. Ia berpendidikan. Apalagi guru. Dia akan bisa mengerti. Saya akan menghadapinya dengan baik-baik. Asal bapak dan ibu memberikan keterangan yang baik.” (hlm.205).

Sunatha merasa gembira bisa pulang kembali ke desanya setelah hampir setahun ia pergi. Ia menyempatkan membeli oleh-oleh buat keluarganya bahkan Utari dibelikannya radio kecil. Di dalam bis, ia bertemu dengan kenalannya dan diperingatkan supaya berhati-hati. Ia menjadi resah akan hal-hal yang tak disangka-sangkanya nanti. Kegelisahannya dilukiskan dalam kutipan berikut.

(27) Hati Sunatha jadi tidak enak. Ia mulai khawatir kalau sampai terjadi hal-hal yang di luar jangkauannya. Ia mulai menanyakan kepada dirinya sendiri, apa yang mungkin terjadi. Utari kawin dengan Ngurah barangkali. Atau, Sunithi lari meninggalkan rumah. Subali sakit. Gila. Atau dipukuli orang. Ibunya meninggal. Ibunya bertambah parah. Atau desa mengusir. Subak tidak memberikan air. Desa membatasi sarana-sarana desa seperti pancuran, jalan, pura, sehingga ia dianggap tidak berhak untuk memanfaatkannya. (hlm.211)

(40)

Setelah penguburan memenya selesai, ia bertanya kepada Weda tentang Utari, istrinya, mengapa tidak hadir dalam penguburan tersebut. Akhirnya Weda menjelaskan semuanya. Sunatha marah dan langsung menuju ke rumah orang tua Utari untuk menanyakan keberadaan istrinya. Situasi ini terdapat dalam kutipan berikut.

(28) Sunatha langsung saja menggebrak kedua orang tua itu. ”Mana istriku! Mana!” Mertuanya itu ketakutan. Mereka tidak bisa menjawab. ”Mana?” orang tua itu bermaksud menjawab. Tapi suaranya tidak keluar. Sunatha makin jengkel. Ia masuk ke dalam rumah. Memeriksa. (hlm.215).

Pada waktu itu Ngurah datang untuk mendamaikan. Tapi Sunatha kalap. Ia malah menganggap Ngurah menantangnya. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Akhirnya perkelahian hebat itu dapat diselesaikan dengan campur tangan kepala desa. Kemarahan warga desa semakin menjadi-jadi. Mayat ibu Sunatha yang dikuburkan kemarin, pagi-pagi sekali sudah berada di depan pintu rumah. Melihat hal ini Sunatha marah dan menuduh Ngurah sebagai pelakunya karena perkelahian kemarin. Ia mengambil kapak dan hendak melabrak Ngurah, tapi dapat dicegah oleh Subali. Sementara itu, warga desa sudah bersiap membawa senjata tajam dan mengepung rumah Sunatha. Akhirnya Sunatha mengalah dan menemui kerumunan warga desa itu. Ia meminta maaf atas semua kesalahan yang telah diperbuat oleh keluarga maupun bapaknya. Kejadian ini digambarkan dalam kutipan berikut.

(41)

pengertian. Seandainya pun ini belum cukup, izinkanlah saya meminta maaf , atas kekeliruan bapak saya. Juga kesalahan-kesalahan saya sendiri. (hlm. 225)

Akhirnya dengan dibantu Ngurah dan kepala desa, permohonan maaf Sunatha sekeluarga diterima. Mereka diterima kembali menjadi warga desa. Kemudian mayat ibu Sunatha dikuburkan kembali dengan layak dan sepatutnya.

Tapi permasalahan Sunatha tidak selesai begitu saja. Permasalahannya dengan Ngurah menyangkut Utari belum terselesaikan. Sunatha meminta Ngurah untuk mempertemukan dirinya dengan Utari. Setidaknya ia akan meminta Utari untuk memilih diantara mereka berdua. Kenyataan berbicara lain. Utari telah hamil dengan mengandung anak Ngurah. Kejadian itu digambarkan dalam kutipan berikut ini.

(30) Hanya berdua dalam ruangan. Ia diam saja Utari juga diam. Mereka tidak saling berkata kira-kira sampai satu jam. Akhirnya Sunatha berdiri. Ia memandang lagi perut itu. Lalu bertanya. ”Sudah berapa bulan?” (hlm.229).

Akhirnya Sunatha memutuskan untuk merelakan Utari jatuh ke dalam pelukan Ngurah dengan syarat Utari harus dinikahi Ngurah secara resmi. Pernikahan Ngurah dengan Utari dilaksanakan secara meriah. Kehidupan keluarga Sunatha kembali seperti sediakala. Subali mulai mengayunkan kembali cangkulnya di sawah.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa alur dalam novel TTM karya PW termasuk alur progresif, lurus atau maju. Karena peristiwa yang

(42)

dengan Subali (dalam tahap awal) menyebabkan munculnya gesekan-gesekan konflik yang menimbulkan peristiwa berikutnya yang dirangkum lebih lanjut dalam tahap tengah kemudian diselesaikannya atau dimunculkannya solusi semua permasalahan yang dijabarkan dalam tahap selanjutnya, yaitu tahap akhir.

Selain itu, plot novel ini bila ditinjau dari segi plot berdasarkan kriteria jumlah termasuk dalam golongan plot-subplot karena lebih dari seorang tokoh yang diceritakan perjalanan hidupnya, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa bab yang ceritanya tidak hanya terpusat pada satu tokoh saja. Diceritakannya tokoh Sunatha dengan segala permasalahannya ketika ditinggal selingkuh oleh Utari. Tokoh Ngurah yang melarikan Utari (yang statusnya pada waktu itu masih istri sah Sunatha), dan takut jika perselingkuhannya diketahui oleh warga desa. Tokoh Sunithi yang hidupnya menderita karena mendapat sanksi sosial dari warga desa karena perbuatan bapaknya, Subali.

Sedangkan jika dilirik dari pembedaan plot berdasarkan kriteria kepadatan, alur cerita dalam novel TTM ini termasuk longgar, karena perpindahan peristiwa penting satu menuju ke peristiwa penting yang lain diselai oleh peristiwa tambahan, serta pelukisan latar dan suasana yang detail sehingga pembuat pembaca seolah-olah hadir atau mengalami sendiri peristiwa yang dikisahkan, contohnya dalam kutipan berikut.

(43)

Batukau itu jadi kelihatan penuh wibawa, anggun, dan melindungi. (hlm.71).

Pencairan suasana juga terjadi ketika David belajar membajak sawah dan terjatuh. Pelukisan peristiwa ini terdapat dalam kutipan berikut

(44)

31

Pembahasan mengenai tokoh dan penokohan dalam penelitian ini meliputi tokoh utama dan tokoh tambahan. Merunut pada Nurgiyantoro (2010: 178) yang mengatakan pembedaan itu bersifat gradasi, kadar keutamaan tokoh (-tokoh) itu bertingkat. Tokoh utama (yang) utama, utama tambahan, tokoh tambahan utama, tambahan (yang memang) tambahan. Dalam penelitian ini peneliti membagi unsur tokoh menjadi tiga bagian, yaitu tokoh utama yang utama, utama tambahan, dan tokoh tambahan utama dikarenakan ketiga bagian ini mempengaruhi jalannya cerita.

Tokoh utama yang utama adalah Sunatha. Pilihan ini berdasarkan pada frekuesi kemunculan dan intensitas tokoh dalam mempengaruhi jalan cerita. Adapun tokoh yang tergolong dalam tokoh utama tambahan adalah Sunithi, Ngurah, dan Utari. Sedangkan tokoh yang tergolong dalam tokoh tambahan utama, yaitu Subali, David, Weda, serta Renti karena keempat tokoh ini walaupun hanya tokoh tambahan tapi berpern dalam menentukan jalannya cerita.

3.1 Sunatha

(45)

(33) Disamping orang cemburu kenapa guru SMP yang gemar menyanyi lagu-lagu rakyat itu yang mampu merobohkan hati Utari (hlm. 1)

(34) “Nah lihat sekarang, dari dulu sudah meme nasihati, cepat-cepat, sekarang keduluan dengan guru SMP itu. Padahal, coba kalau kamu langsung lamar saja, masak dia tidak mau. Guru itu apa sih kelebihannya. (hlm. 2)

Dalam memperebutkan hati Utari, Sunatha bersaing dengan Ngurah. Ia terkesan dengan sikap sportivitas Ngurah, walau kalah dalam persaingan Ngurah tetap mau datang ke pernikahannya.

(35) … karena melihat Ngurah dan kawan-kawannya menggabungkan diri dengan barisan. Walaupun terlambat rupa-rupanya juragan yang kaya itu suka juga datang. Sunatha jadi menaruh hormat pada sportivitasnya. (hlm. 6)

Sehari setelah pernikahannya, Sunatha akan pergi ke Kupang untuk mengajar. Ia rela tidak menikmati masa bulan madunya dan memilih bekerja. Ia melakukan semua itu agar dapat meraih masa depan yang lebih baik. Ia meminta pengertian Utari tentang profesinya sebagai guru. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.

(36) ”Tanggung jawab itu membuat saya berusaha untuk menjaga keadaanmu seperti saya nanti. Karena itu walaupun berat, tetapi terpaksa akan saya laksanakan. Saya harap kamu bisa mengerti semua ini. Seperti biasanya kamu selalu mengerti juga bahwa saya orang miskin.” (hlm. 18)

Sunatha adalah seorang pemeluk agama yang taat. Di perantauan, ia merindukan kampung halamannya serta suasana saat di beribadah di pura.

(46)

Sunatha bijaksana dalam menghadapi kritikan sahabatnya. Ketika diberitahu oleh salah seorang sahabatnya bahwa ia seorang pengecut, ia tidak marah,bahkan ia mempunyai pendapat yang berbeda tentang persahabatan.

(38) ”Tidak. Kamu sahabat saya. Hanya sahabat yang baik berani mengatakan keburukan-keburukan kawannya dengan jujur, meskipun saya sendiri juga takut mengakui saya pengecut.” (hlm.126)

Membaca surat dari Sunithi, Sunatha merasa khawatir dengan keadaan keluarganya. Ia memutuskan untuk pulang ke Bali dan terpaksa berbohong kepada atasannya dengan alasan ibunya telah mati. Ia mengerti benar perbuatannya itu salah sebagai seorang pendidik. Hal ini menunjukkan dedikasinya sebagai seorang pengajar sangat ia junjung tinggi.

(39) ”tugas beli tidak mengizinkan saya untuk pulang sebelum liburan kenaikan kelas. ...untuk itu saya terpaksa berbohong, sebagai seorang guru, ini perbuatan yang tercela, akan tetapi kelak saya akan mengakui segalanya ini kalau semua telah selesai. Jadi, maafkanlah, kalau saya katakan kepada kepala sekolah, bahwa meme telah meninggal. (hlm. 131)

Sunatha marah menghadapi keadaan yang menimpa dirinya dan keluarganya.. Ia merasa heran dan bertanya-tanya mengapa dirinya selalu mengalami cobaan-cobaan. Sunatha juga ingin merasakan kebahagiaan. Ketidakpuasan Sunatha dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(40) ”Saya ingin sekali berbahagia. Tetapi kalau mau berterus terang, saya selalu heran, kenapa saya yang dipilih untuk mengalami semua ini? Saya bukan orang kuat!” (hlm.133)

(47)

bisanya tidak suka menceritakan masalah pribadinya kepada orang lain apalagi orang yang baru dikenalnya.

(41) Sunatha tidak berusaha berbohong lagi. Ia menceritakan semuanya. Entah kenapa ia tiba-tiba berani mengutarakan semuanya pada seorang yang baru saja dikenal. Ia sama sekali tidak malu lagi. Aneh. (hlm. 193)

Sesampainya di kampung halaman, ia mendapati ibunya telah meninggal. Setelah penguburan memenya, ia heran mengapa Utari dan mertuanya tidak melayat. Weda menceritakan peristiwa yang terjadi setelah kepergiannya ke Kupang, Sunatha marah mendengar kabar Utari pergi dengan Ngurah ke kota maka ia memutuskan pergi ke rumah keluarga Utari untuk melabrak dan membuktikan kebenaran berita tersebut.

(42) Sunatha langsung saja menggebrak kedua orang tua itu. ”Mana istriku! Mana!” Mertuanya itu ketakutan. Mereka tidak bisa menjawab. ”Mana?” Orang tua itu bermaksud untuk menjawab. Tapi suaranya tidak keluar. Sunatha makin jengkel. Ia masuk ke dalam rumah. Memeriksa. (hlm. 215)

Sunatha akhirnya membesarkan jiwanya, ia mewakili keluarganya meminta maaf kepada warga desa karena kesalahan yang telah diperbuat oleh keluarganya. Ia meminta kepada para warga untuk sudi menerima kembali keluarganya menjadi bagian dari banjar. Permintaan maaf Sunatha dipaparkan dalam kutipan berikut.

(48)

3.2 Sunithi

Untuk menjaga perasaan orang lain, Sunithi sering melakukan kebohongan-kebohongan kecil dengan tujuan baik. Ia melakukannya dengan rasa terpaksa. Ini dilakukannya ketika ia ditanya perihal Utari oleh ibunya yang sedang sakit. Ia berbohong supaya ibunya tidak cemas dan terlalu khawatir. Seperti dalam kutipan berikut.

(44) ”Nyoman, bagaimana Wayan?” Sunithi terpaksa berbohong. ”Sudah baikan, Me. Nanti kalau sudah sembuh benar dia akan kemari.” (hlm. 60).

Begitu pula saat ia beralasan kepada Weda bahwa bapaknya sakit ketika bapaknya enggan menghadiri rapat desa. Bahkan ketika didesak Weda ia tetap bersikeras tidak mau mengaku.

(45) ”Tapi Bapak sakit.” Weda tercengang. ”Sakit?” Tadi siang, kan kerja di sawah?” ”Ya, tapi sekarang dia sakit.” ”Sakit apa?” ”Pokoknya sakit.” (hlm. 62).

Karena dituduh Weda selingkuh dengan David, Sunithi marah. Ia membantah tuduhan Weda itu keliru. Ia tidak mau mengakui kesalahan yang tidak diperbuatnya, maka ia berkelahi dengan Weda karena ia merasa benar. Hal ini digambarkan dalam kutipan berikut.

(46) Mereka bertengkar. Akhirnya mereka berkelahi. Sunithi melawan karena merasa benar. Weda memukul Sunithi. Sunithi membalas. (hlm. 74)

(49)

(47) Ibunya terjaga karena kegaduhan itu dengan gemetar. Sunithi cepat memeluknya. Lemparan batu itu semakin gencar. Terdengar suara memaki-maki dari luar. Ibunya menjerit-jerit. Sunithi cepat berusaha menenangkannya. Ia berlari dan mengunci semua pintu. Kemudian ia mengambil kapak yang kebetulan dijumpainya di bawah kolong, lalu bersiap-siap. (hlm. 83)

Sakit ibu Sunithi semakin parah maka ia berinisiatif membawa ibunya ke dokter. Setelah berobat, ternyata ongkos dokter dan resep obat sangat mahal. Karena rasa sayang kepada ibunya yang sakit, Sunithi merelakan tabungannya yang akan digunakan untuk menikah kelak guna menebus ongkos dokter dan resep obat tersebut.

(48) Sunithi mulai membuka simpanannya. Ia menjual diam-diam barang-barang emas yang dulu pernah disimpan untuk menyambut hari perkawinannya. Tapi barang-barang itu rupanya hanya berharga di desa. Di tukang emas, setelah ditukar nilainya tak berharga. Apalagi kalau dihubungkan dengan ongkos sekali pengobatan dokter berikut dengan obatnya. (hlm. 143-144)

Sunithi merasa tidak kuat menghadapi sanksi sosial yang diberikan desa. Ia bagaikan orang asing di kampung sendiri. Perlakuan warga desa kepadanya membuat ia resah dan gundah gulana. Karena terlalu resahnya, ia sampai-sampai mandi pada malam hari untuk menghindari bertemu warga desa. Perlakuan dan kegelisahan Sunithi dilukiskan dalam kutipan berikut.

(50)

Seiring berjalannya waktu, Sunithi semakin tabah menghadapi perlakuan warga desa kepadanya. Tidak ada lagi Sunithi yang manis, ia berubah menjadi gadis yang mandiri. ia mulai mengayunkan cangkul tuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

(50) Ia bertambah lama, bertambah tabah. Jelasnya, tambah keras. Dengan berani, semua dihadapinya. Kini ia bukan anak manis... Ia mampu berdiri sendiri. Hidup satu hari penuh, sendirian. Banting tulang di sawah sendirian. Menerima segala perlakuan desa sendirian. (hlm. 147)

Ketabahan Sunithi tidak sampai di situ saja. Ia bahkan menggantikan peran Subali dalam mencari nafkah. Bercucuran keringat, hitam terbakar matahari, dan berubah menjadi kuat dan sehat sosoknya sekarang.

(51) Matahari membakar punggungnya. Kini jelas betapa gadis itu berubah. Ia menjadi seorang wanita yang sehat, kukuh. Tidak cantik, akan tetapi ada sesuatu yang menarik dalam dirinya. Ia telah menggantikan Subali, menggarap semuanya dengan susah payah, akan tetapi berhasil. (hlm. 178)

3.3 Utari

Utari adalah seorang kembang desa yang berhasil dinikahi oleh Sunatha. Ia digambarkan sebagai seorang gadis yang baik secara fisik maupun sikap atau perilakunya. Hal ini dilihat dalam kutipan berikut.

(52) Mempelai wanita adalah bunga dalam desa, dipujikan kecantikan maupun kelakuannya. (hlm. 1)

(51)

perawan, toh orang-orang telah menganggapnya sebagai istri Sunatha. Ia mencari cara untuk menutupi kesalahannya itu dengan mengatakan bahwa ia sudah diguna-guna. Utari berkelakuan seperti orang kesurupan. Ia berteriak-teriak dan membuat semua orang panik. Peristiwa ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(53) Dia terus berteriak-teriak. Orang tuanya jadi kelabakan. Mula-mula mereka tenang-tenang saja. Tetapi, kemudian ibunya mulai tak kuat melihat keadaan anaknya itu. “Kenapa anak saya, kenapa!” teriaknya ikut-ikutan. Keadan makin kacau. “Jangan-jangan dia betul diguna-guna!” Utari berteriak dan menerjang-nerjang. (hlm. 28)

Utari menurut Sunatha adalah istri yang setia dan dapat dipercaya. Dia tidak mau merusak kesan itu karena rasa curiga bahwa Utari tidak betah hidup sendiri. Harapan berbeda dengan kenyataan. Setelah ditinggal Sunatha merantau, dalam hitungan hari Utari telah berkasih-kasihan dengan Ngurah. Ia seolah-olah memberi ruang di hatinya kepada Ngurah. Kontradiksi ini digambarkan dalam dua kutipan berikut.

(54) ”Utari bukan orang sembarangan. Dia tidak mudah terpengaruh. Wataknya keras dan dia bisa menghargai kepercayaan, kenapa saya mesti merusakkan gambaran istri saya karena rasa kangen ini. (hlm. 35)

(55) Ngurah membantu Utari duduk di balai-balai. Anehnya, gadis itu bisa lebih tenang. Tak sengaja ia justru memegang tangan Ngurah. ...Utari tiba-tiba membaringkn kepalanya di pangkuan Ngurah. Lelaki ini terkejut dan deg-degan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. (hlm.37-39)

(52)

menjadi jelek di mata masyarakat supaya tidak disebut sebagai wanita gampangan.

(56) Sementara mobil membelah jalan desa. Utari menyembunyikan dirinya. Ngurah menjalankan mobilnya dengan pelan-pelan, kemudian dia melesat setelah sampai di perbatasan desa. (hlm. 55)

Utari bukanlah tipe wanita pemalu dan canggung. Ketika diajak ke kota oleh Ngurah, ia dititipkan di rumah saudara Ngurah. Di sana ia dapat melepas beban yang selama ini menghimpitnya. Tidak ada yang dirisaukan dan membebani pikirannya.

(57) Ia tidak kikuk tinggal di rumah orang yang terbilang keluarga Ngurah─karena semuanya baik. Ia tidak diperlakukan sebagai tamu.. Rupa-rupnya Ngurah sudah berpesan kepada semua orang supaya tenang-tenang saja. Ini membuat Utari merasa segar. (hlm.90)

3.4 Ngurah

Ngurah adalah orang kaya di desa tersebut. Dia sudah mempersiapkan segalanya untuk meminang Utari. Ia yakin lamarannya akan diterima oleh keluarga Utari, tapi kenyataan berbicara lain. Utari telah dinikahi oleh Sunatha. Bahkan, ia tidak menyangka bahwa diantara Utari dan Sunatha sudah menjalin hubungan kasih. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.

(53)

Walau kalah bersaing dengan Sunatha dalam memperebutkan hati Utari, Ngurah tetap berjiwa besar menerima keputusan itu. Hal ini ditunjukkan dengan tetap mendatangi pernikahan Utari-Sunatha dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Hal ini digambarkan dalam percakapan antara Ngurah dengan Renti sebagai berikut.

(59) ”Kita harus jujur. Kekalahan meskipun hanya karena keterlambatan tetap juga kekalahan. Kamu tak usah mencak-mencak begitu. Kita ke sana beri selamat, nanti kita jadi bahan omongan.” (hlm. 3)

Ngurah mempunyi wibawa yang besar dan warga desa segan kepadanya. Ia selalu berusaha memecahkan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Seperti halnya ketika Subali beradu mulut dengan orang tua Utari perihal Utari yang meminta tinggal di rumah orang tuanya.

(60) Waktu itulah Ngurah dan pengawalnya datang. Ia langsung mengusut. ”Ada apa ini?” David segera bertindak untuk menjelaskan. Tapi Ngurah memandanginya dengan curiga dan marah. “Saudara siapa? Jangan ikut campur urusan desa kami!” David masih mencoba menerangkan. “Terima kasih. Kami lebih mengerti tentang soal-soal di sini daripada Saudara. Lebih baik Saudara cepat-cepat saja pergi!” (hlm. 34)

Tidak sampai di situ saja peran serta Ngurah. Ia bahkan menenangkan warga desa yang marah ketika Subali tidak datang (lagi) menghadiri rapat desa. Warga desa sepakat tuk mengeluarkan Subali dari krama-desa.

(54)

Ngurah sangat pemalu dalam mengutarakan hatinya. Ia selalu memendam perasaan kepada Utari, bahkan ketika ia kangen dengan Utari, ia mencoba bersikap biasa saja.

(62) Wanita itu memandangi Ngurah dengan kangen. Lelaki itu juga tampaknya rindu, tapi sebagaimana biasanya ia selalu mencoba menutupi perasaan. (hlm. 91)

3.5 Subali

Subali merupakan bapak dari Sunatha. Ia seorang kepala keluarga yang mempunyai sifat keras. Hal ini diketahui ketika Utari memaksa meminta pulang ke rumah orang tuanya dan ia tidak mau tinggal di rumah Sunatha. Subali enggan menuruti kemauan anak mantunya itu, karena setelah menikah dengan Sunatha, praktis Utari menjadi bagian dari keluarga Subali. Akhirnya, terjadi perang mulut antara Subali dengan orang tua Utari.

(63) ”Ini menantu saya, saya bertanggung jawab. Buruk atau baik, sayalah yang harus memeliharanya selama Sunatha tidak ada.” ”Tapi dia ingin pulang.” Rumahnya sekarang di sini. Makan atau tidak makan dia harus di sini.” (hlm. 31)

Ketika diajak David pergi ke Denpasar, Subali merasa bimbang dan segan kepada warga desa lainnya karena ia sudah sering menghindar dari kerepotan desa. Setelah mendengar penjelasan dari David ia memutuskan setuju untuk pergi menemani David ke Denpasar. Terlihat jelas bahwa Subali sangat mudah dipengaruhi pendiriannya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(55)

Kedekatan antara Subali dengan David semakin erat. David mencoba menjadikan Subali sebagai seorang pahlawan pembaruan di desanya. Desa yang dianggap David sebagai desa yang ketinggalan zaman karena masih memegang teguh tradisi.

(65) Bapak harus bikin pembaruan di desa ini. Kalau tidak siapa lagi? Di sini harus ada rumah-rumah sekolah, harus ada listrik, dan harus hidup praktis. (hlm. 51)

(66) ”Untuk jadi pahlawan diperlukan keberanian. Kita sudah mulai sekarang. Jangan mundur. Hari depan desa ini di tangan Bapak.” (hlm. 70)

Semenjak kenal dengan David, perangai Subali berubah. Ia menjadi seseorang yang mudah marah. Hal ini dapat dilihat ketika Sunithi mencegah Subali untuk pergi ke Denpasar karena ibunya sedang sakit dan para warga desa sedang bekerja bakti memugar pura. Sunithi mengharapkan Subali untuk datang membantu warga desa.

(67) “Tapi meme sakit. Bapak tidak boleh pergi. Bapak tidak ikut kerja ke pura sekarang?” ...Tapi kemudian Subali marah. ”Bapak sekarang tidak peduli sama meme lagi!” ”Diam! Anak kurang ajar. Berani-berani kamu sekarang!” Sunithi ketakutan. Dia belum pernah melihat perangai bapanya seperti itu. (hlm.72)

Tidak hanya itu, sepulang dari Denpasar, Subali mulai mempunyai pola pemikiran yang lain. Ia mengalami kebimbangan dalam hidupnya. Ia mulai sangsi dengan pola hidupnya yang dulu di desa.

(56)

(69) Dekat penambangan itu ada losmen yang menampung beberapa pelacur asal Banyuwangi. Subali hanya senyum-senyum saja. Dahulu ia bisa naik pitam kalau ditawari macam itu. (hlm. 100)

3.6 David

David adalah seorang pria bule yang mempunyai hobi memotret dan mencatat segala sesuatu yang ditemuinya. Ia mempunyai paradigma yang jelek tentang adat ketimuran dan pola pikirnya cenderung mengkritik. Hal ini dilukiskan dalam kutipan berikut.

(70) Seorang bangsa asing turun dari bis di stanplat. Ia membawa alat-alat untuk memotret. Ia memandangi keadaan sekitarnya dengan muka yang keruh. Lalu mencatat di notesnya segala kebobrokan yang dilihatnya. ”Banyak anjing berkeliaran, banyak babi berkeliaran. Penduduk terlalu banyak. Banyak orang sakit. Anak-anak banyak yang tidak sekolah. Perumahan banyak yang tidak sehat. Banyak orang bermalas-malasan dan menyia-nyiakan waktu. Tragis.” (hlm. 4).

Kritikannya kepada keadaan di sekitarnya yang ia rasa tidak pas tidak sampai di situ saja. Ia bahkan menasehati seorang kernet bis. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut.

(71) ”Dalam tempo sepuluh tahun, kalau Saudara-saudara tetap malas seperti sekarang, Saudara akan hancur. Anak-anak ini harus sekolah. Semua orang harus bekerja, melakukan hal-hal yang praktis dan membuang semua yang tidak perlu.” (hlm. 5)

(57)

(72) Perkawinan Saudara saja, maaf, sebetulnya hanya menghambur-hamburkn uang. Padahal, di desa sudah terlalu banyak penduduk, penghasilan tidak ada, dan usaha-usaha lain tidak ada.” (hlm. 22) Ia menularkan ide gagasannya itu ke Subali. Ia memandang bahwa tradisi gotong royong itu tidak perlu, merugikan beberapa pihak karena merasa terbebani. Pola pemikiran barat yang cenderung individualis, egoisme, dan praktis coba ia terapkan kepada warga desa lewat media perantara Subali. Pola pikir David itu dilukiskan dalam kutipan berikut.

(73) ”Lihat,” kata orang asing itu, sambil menunjukkan tanah-tanah yang gundul sepanjang jalan. ”Bapak bisa lihat sendiri, bahwa negeri ini sebetulnya kaya raya, tetapi disia-siakan karena tidak ada sistem kerja yang praktis. Gotong royong memang baik, tapi harus diberikan arti lain sekarang. Bahwa dengan bergotong royong kita berarti memikul bersama beban besar dalam negeri ini. Artinya kalau seorang kerja sawah, yang lain tak usah ikut, tapi mengerjakan pekerjaan lainnya. Artinya juga, kalau salah satu orang mati, yang lain jangan ikut mati, tapi tetap terus hidup melanjutkan usaha-usaha yang lain.” (hlm.27)

(74) Ia memberikan bukti-bukti bahwa semua orang harus mulai menjauhi hidup berkelompok yang saling gerogot-mengerogoti. Ia berikan bukti-buktinya segala ketidakpraktisan di kampung yang hanya menjadikan gotong royong itu sebagai pangkal kemiskinan. (hlm. 52)

Ketika di Denpasar, David mengajak Subali berkeliling sambil menjelaskan pemikirannya. Ia memberikan kemewahan kepada Subali yang tak ia dapatkan di desa. David menganggap desa mengekang kebebasan pribadi seseorang. Dan ia menjelaskan bahwa orang asing seperti dirinya adalah pahlawan karena tidak mau terikat suatu sistem tradisi

(58)

apa yang sewajarnya mereka perbuat. Mereka menolak suatu tata cara kuno yang telah lama terbukti tidak benar. (hlm. 81-82)

3.7 Weda

Weda adalah tetangga sekaligus teman bermain Sunithi. Ia dan Sunithi menjalin suatu hubungan percintaan. Ia dekat dengan keluarga Sunatha. Bahkan menjelang kepergian Sunatha ke Kupang, ia menitipkan keluarganya kepada Weda. Adegan ini digambarkan dalam kutipan berikut.

(76) Sunatha memberi isyarat kepada Weda, pacar Sunithi mendekat. ”Tolong jaga baik-baik Sunithi dan Utari.” ”O ya, tentu.” (hlm. 23)

Weda berkerja sebagai petani penggarap di salah satu sawah milik Ngurah. Ini diketahui ketika Weda diancam oleh Ibu Utari ketika ia mencoba melerai perdebatan antara Sunithi dengan ibu Utari yang menuduh Sunatha telah mengguna-gunai anaknya.

(77) ”Kamu juga ikut-ikuan dia! Kalau Ngurah tahu kamu sekongkol dengan tukang guna-guna itu, sawah kamu pasti dicabut. (hlm. 47)

Melihat kedekatan Ngurah dengan Utari, Weda menarik kesimpulan bahwa Ngurahlah dalang di balik semua kekacauan yang terjadi di keluarga Sunatha. Ia berpikir Ngurah mencoba mencari kesempatan dalam kekacauan tersebut.

(59)

Weda sangat perhatian dengan keluarga Sunatha. Ketika Subali sudah tidak sering menghadiri rapat maupun membantu dalam kerepotan desa, Ia rela menghampiri Subali dan menjemputnya agar sudi datang ke rapat desa bersamanya. Ia khawatir karena Subali sudah menjadi bahan perbincangan warga desa dan akibat lebih jauhnya Subali bisa dikelurkan dari krama-desa.

(79) ”Kok, saban ada kerepotan desa, terus sakit. Nyoman, ini penting. Bapak harus datang. Nanti dia dikeluarkan dari krama-desa. (hlm. 62)

Weda cemburu melihat kedekatan Sunithi dengan David. Merasa diberi tanggung jawab oleh Sunatha untuk menjaga keluarganya, maka Weda melarang Sunithi berhubungan dengan David. Ia menganggap David adalah orang yang berbahaya dan harus dijauhi. Kecemburuan Weda semakin memuncak tákkala melihat David mengobrol dengan Sunithi. Ini dapat disimak dalam kutipan berikut.

(80) David memegang pundaknya dan membisikkan sesuatu sambil masuk. Weda melihat semuanya itu dengan cemburu sekali. Matanya melotot. Dia menunggu beberapa saat. Masih terdengar David berbisik-bisik pada Sunithi. Weda mencoba mengintip. Tapi pikirannya sudah tak karuan. Ia hanya melihat bayangan Sunithi dan David berdekatan. (hlm 63)

(81) Rumah Subali masih terang. Weda mencoba mengintip. Didengarnya suara-suara David dan Sunithi. Geramnya bertambah. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi kemudian ketika ia mendengar suara ketawa David, ia tidak dapat menahan dirinya mengambil batu.Begitu saja dilemparkannya ke atas rumah Subali bertubi-tubi. (hlm. 70)

(60)

Mereka tidak menyalahkan David tetapi malah menyalahkan Subali, yang merupakan ayah Sunithi. Weda tidak menduga permasalahannya akan menjadi begini. Ia merasa menyesal telah mengadukan David yang berujung pengucilan keluarga Subali.

(82) Pada saat itu Weda baru mulai mengerti apa yang dengan tak sadar dilakukannya. Ia terkejut, lalu mundur perlan-lahan. Ia menyesal sekali. Rapat itu menjadi panas. (hlm.69)

Weda merasa Sunithi telah mengkhianati cintanya. Ia meminta penjelasan dari Sunithi. Bukannya mendapat jawaban, ia malah beradu mulut dan bertengkar. Karena emosi, Weda memutuskan untuk mengakhiri kisah percintaan mereka. Hal ini terdapat dalam kutipan berikut.

(83) “Kalau begitu kita putus! Teriak Weda. “Ayo putus kalau mau putus. Biar!” “Biar kamu ditipu orang asing itu. Biar bapakmu dikeluarkan dari krama desa. Putus!” “Biar! Biar! Aku tidak peduli!” “Awas!” Weda lari. “Kamu juga awas!” (hlm. 74)

3.8 Renti

Renti adalah pengawal pribadi Ngurah. Ia seorang jagoan desa dan mempunyai loyalitas yang tinggi terhadap majikannya. Hal ini dapat diketahui ketika Ngurah sedih mengetahui pernikahan antara Sunatha dan Utari. Bahkan, ia mengusulkan kepada Ngurah untuk membawa lari Utari. Hal ini ditegaskan dalam kutipan berikut.

(61)

Karena geram melihat pernikahan Utari-Sunatha menyebabkan majikannya menderita maka Renti mendekati ibu Utari. Ia menyogok ibu Utari dengan sebuah hadiah. Ia menjelek-jelekkan Sunatha dan menyebarkan isu bahwa Utari kena guna-guna. Peristiwa itu digambarkan dalam kutipan berikut.

(85) Perempuan itu mengacungkan bungkusan yang baru saja diterimanya. ”Simpan saja. Nanti kalau sudah sampai di rumah dibuka.” perempuan itu jadi bimbang. ”Ini betul?” Renti jadi penasaran. ”Makanya lihat-lihat dulu. Masak Sunatha yang dikasih. Apa coba kelebihan guru itu. Mau berangkat ke Kupang lagi besok pagi. Ini apa tidak kelewatan? Kena guna-guna barangkali ya!” (hlm. 12)

Renti sebetulnya menaruh hati kepada Sunithi. Walau seorang jagoan berkelahi, dalam soal percintaan ia bukan ahlinya. Kadang ia menutupi rasa sukanya dengan bersikap kasar terhadap Sunithi. Hal ini dapat dilihat ketika ia mencoba mengajak Sunithi untuk menonton drama gong bersamanya.

(86) ”Mau kemana Nyoman?” Sunithi pura-pura tidak mendengar. ”Hei, mau kemana?” ”Oh, Pak Wayan.” ”Pura-pura tidak dengar. Mau kemana?” ”Ndak. Ke situ.” ”Nanti malam nonton drama gong yuk.” Sunithi tersenyum. ”Dimana?” ” Desa sebelah. Mau? Boncengan sepeda ke sana.” (hlm. 43)

Perasaan Renti kepada Sunithi lebih ditegaskan oleh Ngurah lewat kutipan berikut.

(87) ”Renti! Kamu pagi-pagi sudah bikin ribut. Kalau kamu kasari Weda malahan Nyoman makin jauh dari kamu.” (hlm. 48)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...