• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIGA PILAR KODE ETIKA ILMU PENGETAHUAN. Erman Aminullah Majelis Profesor Riset - LIPI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TIGA PILAR KODE ETIKA ILMU PENGETAHUAN. Erman Aminullah Majelis Profesor Riset - LIPI"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

TIGA PILAR

KODE ETIKA ILMU PENGETAHUAN

Erman Aminullah

(2)

ISI:

Pengantar: pentingnya etika bagi peneliti Bagian pertama:

KODE ETIKA PENELITI

Bagian kedua:

KLIRENS ETIK DALAM PENELITIAN DAN PUBLIKASI

Bagian ketiga:

(3)

REFERENSI KODE ETIKA

ILMU PENGETAHUAN

1. KODE ETIKA PENELITI

“Rambu-rambu etika“

sanksi etika (upaya

penegakan kode etika) Perka LIPI No.5/2013

2. KLIRENS ETIK PENELITIAN DAN PUBLIKASI

“Pengecekan mandiri kepatuhah etika”

(upaya pembinaan) Perka LIPI No. 8/2013

3. KODE ETIKA PUBLIKASI ILMIAH

(4)

Bagian pertama:

PENTINGNYA ETIKA

BAGI PENELITI

(5)

PENELITI

INSAN BERPIKIR DAN MENCIPTA

- sesuai bidang kompetensi;

- bebas dikawal etika peneliti;

INSAN PENCIPTA PENEMUAN DAN

PEMBARUAN IPTEK.

(6)

TANGGUNGJAWAB

PENELITI

Terhadap

keilmuan

penelitian sesuai baku

ilmiah; memajukan ilmu pengetahuan; dan

membangun komptensi ilmiah

Terhadap

masyaraka

t

luaran penelitian

yang bermanfaat (Besar, Signifikan, Nyata);

Terhadap

lembaga

menjaga kehormatan

(7)

ETIKA

Nilai nilai subyektif (rasa) dan relatif (baik/buruk), yang melekat dalam diri peneliti dalam membuat pilihan melaksanakan tanggungjawab peneliti.

Kepekaan rasa (moralitas) terhadap nilai dasar:

integritas, kejujuran/keterbukaan dan keadilan dalam penelitian;

Berkenaan dengan NILAI BAKU untuk menghindari penyimpangan moral peneliti;

(8)

Nilai utama: jujur/malu bohong

Nilai-nilai terkait:

tanggungjawab, malu bebal

adil, malu tidak adil

terbuka, malu tertutup

lurus, malu menyimpang

santun, malu kasar/sangar

(9)

* DALAM PENELITIAN

(KEBENARAN ILMIAH, KESELAMATAN SEMUA, TANGGUNGJAWAB KEILMUAN)

* DALAM BERPERILAKU

(KETELADANAN MORAL, KESANTUNAN PERLAKUAN, KETERBUKAAN INFORMASI)

* DALAM KEPENGARANGAN

(10)

NILAI Kejujuran

KENETRALAN konsep/pikiran

KEAKURATAN Pengumpulan dan Pengolahan Data

KEBENARAN penyimpulan

-TERBUKA dibahas kenetralan pikiran/konsep

-TERBUKA diuji keakuratan pengumpulan dan pengolahan

data

-TERBUKA ditelesuri kebenaran penyimpulan

(11)

KETEPATAN, metodologi mencapai temuan/bukan dipaksakan mencapai keinginan

KETELITIAN, alat dan data membuktikan kebenaran, bukan mengesahkan keinginan

KEADILAN, memberikan pengakuan kepada yang berhak, bukan menjiplak

NILAI Kelurusan

NILAI Kontributif

PENELITIAN UNTUK:

- KEMAJUAN peradaban manusia

- PEMBANGUNAN iptek dan kesejahteraan,

(12)

Bagian kedua:

KODE ETIKA

PENELITI

(13)

KODE ETIKA PENELITI

KAIDAH TERTULIS sebagai aturan main yang mengawasi profesi peneliti dalam mengatur diri sendiri dan ditegakkan oleh organisasi profesi peneliti (Himpenindo).

ACUAN MORAL peneliti dalam melaksanakan proses penelitian dan melaporkan hasil penelitian

Kode etika peneliti merupakan ALAT KENDALI MANDIRI bagi peneliti membaktikan keahlian dalam pekerjaan untuk

(14)

Kode etika penelitian

1. membaktikan diri pada pencarian kebenaran ilmiah yang bermanfaat;

2. melakukan penelitian untuk kepentingan umum dan keselamatan kehidupan berlandaskan tujuan mulia;

3. mengelola sumber daya keilmuan dengan rasa tanggung jawab.

Kode Etika dalam Berperilaku

1. mengelola jalannya penelitian secara jujur, bernurani dan berkeadilan;

2. menghormati obyek penelitian manusia, sumber daya alam hayati dan non-hayati secara bermoral;

(15)

Kode etika kepengarangan

1. mengelola, melaksanakan, dan melaporkan

hasil penelitian ilmiahnya secara

bertanggungjawab;

2. menyebarkan informasi hasil penelitian ke

dunia ilmu pengetahuan

pertama kali dan

sekali

;

3. memberikan pengakuan dan penghargaan

bagi pihak yang memberikan sumbangan

(16)

PELANGGARAN KODE ETIKA

Pertentangan kepentingan:

Antara kepentingan memelihara integritas ilmiah dengan kepentingan tertentu, sehingga diragukan untuk berlaku jujur.

Perilaku buruk:

Perilaku tidak jujur dalam penelitian maupun perilaku curang sebagai peneliti, sehingga diragukan kebenaran proses dan/atau hasil penelitiannnya.

(17)

1. mendapatkan dan/atau mengamankan kedudukan dengan mengorbankan integritas ilmiah

2. mendapatkan imbalan dengan mengorbankan

integritas ilmiah

3. meningkatkan reputasi dengan mengorbankan integritas ilmiah

4. mengamankan proyek penelitian dengan

mengorbankan integritas ilmiah

5. mengamankan hubungan (famili, pertemanan dan bisnis)

(18)

Perilaku buruk

1. Pemalsuan hasil penelitian (fabrication) dengan mengarang, mencatat

dan/atau mengumumkan hasil penelitian tanpa pembuktian telah melakukan proses penelitian.

2. Pemalsuan data penelitian (falsification) dengan memanipulasi bahan

penelitian, peralatan, atau proses, mengubah atau tidak mencantumkan data, sehingga hasil penelitian tidak akurat.

3. Pencurian proses dan/atau hasil (plagiarism) dalam mengajukan usul penelitian, melaksanakannya, menilainya dan melaporkan hasil penelitian sebagai milik sendiri

4. Kecerobohan yang disengaja (intended careless) dalam

penyimpanan data, pengutipan data, dan penyembunyian data

(19)

PENEGAKAN

KODE ETIKA PENELITI

Komisi Etika Peneliti (LIPI), Majelis Pertimbangan

Etika Peneliti (MPEP)-Himpenindo: pelaksana penegakan aturan main profesi peneliti

Prinsip kerja komisi: “mengutamakan mediasi”, “Azas praduga tak melanggar” untuk menjaga kehormatan profesi peneliti

Sanksi moral: teguran tertutup sampai pengumuman terbuka, serta usulan sanksi administratif

(20)

PENEG

AKAN

K

ODE

ETIKA

PENELITI

-LIPI (1)

(21)

PE

NEGAKAN

K

ODE

ETIKA

PENELITI

-HIMPENINDO

(22)

Bagian ketiga:

KLIRENS ETIK

DALAM PENELITIAN

DAN PUBLIKASI

(23)

KLIRENS ETIK

(Perka Kepala LIPI No. 8/2013)

Tujuan:

(i) Menjaga Peneliti agar mawasdiri sebelum

tersandung persoalan etika.

(ii) Membantu Peneliti menghindari kesalahan dan

penyalahgunaan yang berujung pada pelanggaran

Kode Etika Peneliti;

(24)

Mengecek kebersihan etika dalam perencanaan,

pelaksanaan dan pelaporan kegiatan penelitian

serta publikasi ilmiah

Mengecek kepatuhan etika untuk menghindari

pelanggaran kode etika penelitian (KEP);

Mengecek pemahaman terhadap kaidah etika

dan mengatasinya sebelum menjadi masalah etika

/upaya preventif

.

MEMBANTU PENELITI DALAM:

(25)

ACUAN KLIRENS ETIK

(Perka: Kode Etika peneliti)

Butir: 1.1.3.2

Perka Kepala LIPI No6/E/2013, tentang Kode Etika Peneliti

Moralitas peneliti dipertanyakan yang tidak tampak dapat terjadi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan penelitian ilmiah yang dengan sengaja menentang hati nurani atau mengorbankan integritas peneliti, yaitu keteguhan bulat hati untuk berpendirian tetap mempertahankan nilai-nilai baku penelitian ilmiah.

Persoalan moralitas tidak tampak di awal, dapat menjadi persolan moralitas tampak di akhir proses penelitian, seperti tampak dalam gugatan pihak yang dirugikan karena mengabaikan klirens etik

dalam penelitian (ethical clearence).

(26)

BEBERAPA KLIRENS ETIK

Klirens dalam perencanaan penelitian (contoh: kompetensi peneliti kepala/principal investigator)

Klirens dalam sponsor penelitian (contoh: masalah tanggungjawab publik terhadap hasil penelitian kerjasama)

Klirens dalam pekerjaan pesanan/kontrak (contoh: masalah konflik kepentingan)

Klirens dalam rancangan penelitian (contoh: prosedur klarafikasi/iterasi data kualitatif)

Klirens etik dalam subyek penelitian hidup (informed consent)

(27)

KLIRENS ETIK

DALAM RANCANGAN PENELITIAN

(28)

Kompas, Senin, 02 April 2014

(29)

KLIRENS ETIK

DALAM DEKLRASI INFORMED CONSENT

(30)
(31)

1. Hasil yang disajikan merupakan

kebenaran ilmiah yang utuh sehingga mengungkapkan ilmu pengetahuan yang menyeluruh dan dapat berdiri sendiri

 ya  tidak

Catatan: Prinsipnya satu Penelitian

menghasilkan satu makalah utuh, kecuali Penelitian multidisiplin atau kajian

multiperspektif atau Penelitian inkremental

Bersih dari rekayasa memecah-mecah naskah dari satu kesatuan utuh, tanpa tambahan informasi atau pengetahuan ilmiah baru. (KEP:8 )

3. Naskah memakai bahasa yang tepat dan tidak mengandung penafsiran ganda dan opini salah

 ya  tidak

Melaporkan hasil

Penelitian/kajian ilmiah secara bertanggung

jawab, cermat dan

KLIRENS ETIK

DALAM PUBLIKASI ILMIAH

(32)

DALAM PUBLIKASI ILMIAH

(33)

@EA2872016

(34)

SUMBER SEKUNDER Mengutip sumber primer dari sumber sekuder (tanpa membaca sumber primer)

SUMBER TIDAK ABSAH Sumber tidak dikutip, pustaka pajangan

DUPLIKASI Penggunaan hasil/data penelitian sebelumnya tanpa mengutip PARAFRASE Penggunaan hasil/data orang lain yang disamarkan (pencurian

intelektual dari cara halus sampai vulgar)

REPLIKASI Publikasi yang sama dalam beberapa saluran, tanpa ada pembaruan dan rujukan

ATRIBUT MENYESATKAN Urutan penulis tak sesuai sumbangan ilmiah (penulis tanpa ilmiah = fabrikasi)

KERJASAMA TIDAK ETIS Menggunakan hasil/data penelitian bersama untuk kepentingan sendiri tanpa rujukan dan sitasi

(35)

KLIRENS ETIK MENINGKATKAN HASIL PENELITIAN BERMANFAAT

RISET

IPTEK

PENGGUNA

MASYARAKA

T

KLIREN ETIK DALAM PERENCANAAN PENELITIAN

LUARAN:

LAPORAN

BUKU

JURNAL

HASIL:

POLICY BRIEF

DIBACA

KREDIBILITAS

INOVASI

DAMPAK:

PERUBAHAN

DIKUTIP

KEPERCAYAAN

PRODUKSI

?

?

@EA2872016 Kli re n s pete nsi PI

(36)

OUTPUT Publikasi Ilmiah DAMPAK -Besar -Signifikan -Nyata DAMPAK -Kecil -Diabaikan -Kabur PENELITI BERTANGGUNG-JAWAB PENELITI PEMBURU ANGKA KREDIT PENELITI PEMBURU RENTE PENELITI TIDAK BERTANGGUNG-JAWAB (Responsible) (Rank seeking )

(Rent seeking Researcher) (Irresponsible )

KEPATUHAN PADA KODE ETIKA PENELITI

(37)

MENJUNJUNG HAK LEMBAGA SEBAGAI “FUNDING AGENCY”

HAK CIPTA PUBLIKASI HAK CIPTA BASIS DATA MEMELIHARA KEHORMATAN LEMBAGA DENGAN

PERLAKUAN ETIS PADA OBJEK RISET HIDUP

PERNYATAAN KLIRENS ETIK DALAM PUBLIKASI TP2I /

TP3

KLIRENS ETIK MENGHARUSKAN

PENELITI MENGHORMATI HAK CIPTA LEMBAGA

(38)
(39)

KLIRENS ETIK : MENDORONG MEMATUHI UNDANG-UNDANG HAK CIPTA (No.28, tahun 2014) * * * * * * @EA2872016

(40)
(41)

KETERBUKAAN INFORMASI YANG DIKECUALIKAN

UNDANG-UNDANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK (No 14, tahun 2008)

UUKIP, Pasal 17, butir b.

Informasi yang dikecualikan, informasi publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada pemohon informasi publik dapat: mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual , mengungkapkan kekayaan alam Indonesia, mengganggu perlindungan dari persaingan usaha yang tidak sehat, merugikan ketahanan ekonomi nasional, membahayakan pertahanan negara,

menghambat proses penegakan hukum, merugikan kepentingan hubungan luar negeri, mengungkapkan rahasia pribadi dan rahasia yang diatur undang-undang.

Cakupan Hak atas kekayaaan Intelektual

A. Hak Cipta (copy Right) B. Hak atas Kekayaan Industri

● Paten

● Merek (Trade Mark)

● Desain Produk (insdustrial design)

● Indikasi geografis (geographical indications)

●Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (circuit lay-out)

●Varitas tanaman (plant varieties)

● Kompetisi terselubung (unfair Competition)

(42)

PENGELOLAAN DATA

DATA ILMIAH (PATEN, HAK CIPTA)

DATA STATISTIK

(INTEGRITAS, KUALITAS,

KEAMANAN)

BIG DATA

(43)

KLIRENS ETIK MENDORONG PUBLIKASI (JURNAL DAN BUKU ILMIAH)

PENGEMBANGAN MENJADI ARTIKEL JURNAL Transfer of copyright BUKU IP policy @EA2872016

(44)

(JURNAL DAN BUKU ILMIAH)

Dari Laporan Teknis (Diterbitkan lembaga)

Ke Jurnal Ilmiah, Buku ilmiah (Diterbitkan publisher)

Bukan duplikasi

Menulis abstrak/extended abtract artikel jurnal

► Menyempurnakan (improve) makalah singkat berisi temuan penelitian (seminar) artikel lengkap untuk jurnal.

► Menyempurnakan makalah (seminar) berisi deksripsi data/informasi

artikel jurnal memuat interpretasi, diskusi dan konklusi data/informasi. ► Mempublikasi ulang (republish) artikel jurnal bahasa Indonesia Bahasa

Inggeris

UPGRADE

Perka LIPI No.5/ 2013, hal 12.

►karya tulis ilmiah pertama ini dapat dijadikan rujukan untuk publikasi yang membangun lanjut pemahaman yang awal itu.

(45)

KLIRENS ETIK MENCEGAH

(46)

TENTANG DISCALIMER (IP Policy

)

Transfer of copyright Disclaimer of copyright

IP POLICY tentang DISCLAIMER

1. Proyek tematik (regular funding project), untuk kepentingan memajukan ilmu pengetahuan, LIPI memberikan hak kepada pengarangnya untuk menulis kembali (selain informasi yang dikecualikan) laporan teknis ke dalam karya tulis ilmiah bentuk lain (jurnal, buku dll) dengan memberi

acknowledgment tentang sumber asli penulisan karya tulis ilmiah itu (RESEARCH REPORT SERIES,

(47)

Bagian ketiga:

KODE ETIKA

(48)

SALAH SATU PILAR ETIK UNTUK

KEMAJUAN IPTEK

NILAI-NILAI ETIK: KETERBUKAAN,

KEADILAN, DAN KEJUJURAN

INDIKATOR: MUTU PUBLIKASI,KINERJA

RISET, KREDIBILITAS PENELITI

(49)

JENIS PUBLIKASI ILMIAH

KARYA SENDIRI

KARYA BERSAMA

PENGARANG

BERSAMA (

Team

)

KONTRIBUTOR

BERSAMA

BUKU ILMIAH/JURNAL DARI: HASIL PENELITIAN

BUKU ILMIAH DARI: HASIL PENGGALIAN

LAPORAN PENELITIAN: HASIL PERCOBAAN/

HASIL KAJIAN

(50)

KARYA SENDIRI

Hasil penelitian (mendalam

dan

tuntas/bukan dalam proses

)

Koleksi beberapa publikasi

(dalam satu tema)

Buku teks (kumulasi

(51)

KARYA BERSAMA (buku)

Disusun atau di reformat dari satu hasil utuh penelitian bersama:disiplin/inter-disiplin/cross-disiplin (mendalam dan tuntas)

KARYA BERSAMA (bunga rampai)

Koleksi bab-bab orisinil kontributor

Koleksi hasil-hasil penelitian kontributor disiplin, multi-disiplin/perspektif)

Koleksi beberapa publikasi terdahulu dari kontributor

(52)

Seri laporan penelitian (research report series)

Laporan utuh satu hasil penelitian bersama: disiplin/inter- disiplin/cross-disiplin (mendalam dan tuntas)

Seri monograf (monograph series)

Laporan utuh aspek tertentu dari hasil penelitian bersama: disiplin/inter-disiplin/cross- disiplin (mendalam dan tuntas)

Seri kertas kerja (working paper series)

Makalah hasil penelitian bersama: disiplin/inter- disiplin/cross- disiplin (masih dalam proses dan belum tuntas)

Seri kertas diskusi/teknis (discusion/technical paper series)

Makalah pembahasan aspek tertentu dalam rangka /disseminasi hasil penelitian bersama disiplin/inter-disiplin/cross-disiplin

Seri kertas/saran kebijakan (policy paper/brief series)

(53)

KODE ETIKA

PUBLIKASI ILMIAH

Kode Etika dalam Kepengarangan

1. mengelola, melaksanakan, dan melaporkan hasil penelitian ilmiahnya secara bertanggungjawab;

2. menyebarkan informasi hasil penelitian ke dunia ilmu pengetahuan pertama kali dan sekali;

3. memberikan pengakuan dan penghargaan bagi pihak yang memberikan sumbangan berarti dalam

(54)

KODE ETIKA PUBLIKASI ILMIAH

1. Pemalsuan hasil penelitian (fabrication) dengan mengarang, mencatat dan/atau mengumumkan hasil penelitian tanpa pembuktian telah melakukan proses penelitian.

2. Pemalsuan data penelitian (falsification) dengan memanipulasi bahan penelitian, peralatan, atau proses, mengubah atau tidak mencantumkan data, sehingga hasil penelitian tidak akurat.

3. Pencurian proses dan/atau hasil (plagiat) dalam mengajukan penelitian, melaksanakannya, menilainya dan melaporkan hasil penelitian sebagai milik sendiri

(55)

PUBLIKASI: melaporkan hasil penelitian

secara bertanggungjawab

menghormati hak kepengarangan atas sumbangan

substansial.

pengarang-bersama semua bertanggung-jawab atas

segala pernyataan yang dikemukakan dalam karangan bersama;

menolak hak kepengarangan tanpa sumbangan

substansial.

(56)

HAK KEPENGARANGAN

menghormati hak kepengarangan bila (i)

menyumbang konsep; rancangan, analisis, dan penafsiran data; (ii) menulis naskah atau merevisi secara kritis substansi penting, dan (iii) mengarang

“pendahuluan/ prolog“ (sebagai penyunting) karena

otoritas keilmuannya;

menolak hak kepengarangan bila (i) peranan tidak

substansial; (ii) sebagai pengarangkehormatan, dan (iii) pengarang patron.

(57)

PUBLIKASI: menyebarkan hasil penelitian ke dunia ilmu pengetahuan pertama kali dan sekali

mengupayakan tidak terjadinya kesalahan

penyebaran informasi dalam segala bentuk;

menyebarkan informasi yang menambah khazanah

ilmu pengetahuan dengan tambahan informasi dan pengetahuan ilmiah baru ataupun membangun-lanjut dengan merujuk pemahaman awal sebelumnya;

menolak praktek merekayasa data ilmiah atau memalsukan data ilmiah;

(58)

dan penghargaan bagi bagi pihak yang memberikan sumbangan berarti

menyebarkan informasi tidak mengambil alih

gagasan, atau kata-kata tertulis dari seseorang, tanpa pengakuan pengambilalihan;

penghargaan disampaikan pada yang berhak

memperolehnya;

pengakuan sumbangan berbentuk pujian, kutipan

(59)

PELAKU

PUBLIKASI ILMIAH

PENGELOLA (OPI, Lembaga litbang, penerbit)

MITRA BESTARI (tenaga pakar sesuai disiplin menilai

substansi naskah)

EDITOR

-Editor Ilmiah/Penanggungjawab (pengambil keputusan terbit)

-Dewan Editor (tenaga ilmiah sesuai lingkup jurnal, membahas penilaian mitra bestari, dan membuat rekomendasi kepada editor ilmiah)

-Editor seksi/pelaksana (pengelola siklus publikasi ilmiah)

(60)

KODE ETIKA

MITRA BESTARI

- Menilai naskah yang diperbaiki:

i. untuk review lanjutan

ii. setelah ditolak jurnal lain

- Menolak menilai naskah yang:

i. diproses jurnal lain,

ii. berpotensi bias,

iii. pertentangan kepentingan,

iv. mempengaruhi penilaian (open review)

(61)

KODE ETIKA

MITRA BESTARI (2)

- Membuat penilaian secara:

jujur dan seimbang

objektif dan logis

santun dan tetapi ilmiah

meyakinkan (rinci dan jelas)

konstruktif:

*Saran perubahan (memperjelas)

* saran melengkapi data (memperkuat) * komentar positif (bagi pengarang)

* komentar rahasia (bagi editor)

(62)

KODE ETIKA

EDITOR ILMIAH

- Melakasanakan proses review dan

editorial yang baku, dengan:

menginformasikan tahapan proses review dan editorial yang baku, untuk pembaca.

menginformasikan pedoman penulisan yang lengkap dan jelas, untuk pengarang.

menyediakan pedoman review naskah menilai: keorisinilan, publikasi sejenis, kode etika pengarang (bebas fabrikasi, falsifikasi, plagiasi, duplikasi), sitasi, referensi.

(63)

KODE ETIKA

EDITOR ILMIAH(2)

- Melaksanakan proses review dan

editorial yang baku, dengan:

memonitor, mengevaluasi, menetapkan, mengganti, menambah reviewer sesuai baku proses review.

Menetapkan dewan editor yang membahas penilaian mitrabestari dan memberi rekomendasi kepada editor

- Editor memiliki mekanisme penanganan:

perbedaan dengan dengan pengelola,

(64)

KODE ETIKA

EDITOR ILMIAH (3)

- Editor hanya mempublikasi naskah setelah:

proses review dan editorial yang baku

memeriksa kelengkapan klirens etik

(kepengarangan, hak cipta, perlakuan riset)

memeriksa hasil pelaksanaan teknis editing

memutuskan naskah hasil riset dan non

riset

(65)

KODE ETIKA PENGARANG

- Naskah yang akan dipublikasi pengarang harus:

berisi informasi ilmiah akurat, bebas dari fabrikasi, falsifikasi, plagiasi dan duplikasi

Pengarang pengirim (corresponding authors) atas persetujuan pengarang kepenyertaan (co-author)

Urutan nama pengarang sesuai dengan subangan substansial para pengarang

Mendeklarasikan sumber pembiayaan riset untuk penyusunan naskah

(66)

- Naskah yang akan dipublikasi pengarang harus:

berisi informasi ilmiah orisinal, dengan menjelaskan kebaruan dari publikasi sebelumnya dan disitasi dengan betul.

Memiliki izin tertulis penggunaan data hak milik (copyright) pihak lain

Mensitasi publikasi asli segala referensi yang berkaitan dengan substasi naskah, kecuali informasi umum (common knowledge)

(67)

PENUTUP

KEPATUHAN PADA KODE ETIKA PUBLIKASI

ILMIAH, INDIKATOR:

1. publikasi ilmiah bermutu;

2. kinerja hasil riset ilmiah;

3. kredibilitas peneliti

KOMITMEN PADA KODE ETIKA PUBLIKASI

ILMIAH PENTING DALAM MEMAJUKAN IPTEK

(68)

@EA2872016

Etika peneliti bagian dari sistem iptek,

Pembangunan iptek mustahil tanpa etika

peneliti

Mencegah pelanggaran etika (preventif)

lebih baik dari menerima sangsi

pelanggaran

Pimpinan Lembaga memegang peranan

penting mengawal praktek penegakan

(69)
(70)

CONTOH PUBLIKASI RESERACH REPORT (CASE STUDY)

(71)

CONTOH NOVELTY

(72)

CONTOH PUBLIKASI BUNGA RAMPAI

(73)
(74)
(75)
(76)
(77)
(78)
(79)
(80)

Referensi

Dokumen terkait