IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KEMAMPUAN MENYUSUN TEKS TANGGAPAN KRITIS PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 5 SUBANG TAHUN PELAJARAN 2016/2017 JURNAL Diajukan untuk Memenuhi Salah Sat

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS

DAN KEMAMPUAN MENYUSUN TEKS TANGGAPAN KRITIS PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 5 SUBANG

TAHUN PELAJARAN 2016/2017

JURNAL

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Sidang Tesis Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

oleh

YUYUN SURYANI NPM 148090029

PRODI MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS PASUNDAN

BANDUNG

(2)

ABSTRAK

Suryani, Yuyun. 2016. Implementasi Model Pembelajaran Example Non Example sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kemampuan Menyusun Teks Tanggapan Kritis pada Siswa Kelas IX SMP Negeri 5 Subang Tahun Pelajaran 2016/2017. Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Pasundan Bandung. Pembimbing: (I) Dr. Titin Nurhayatin, M.Pd., (II) Iwan D. Gunawan, S.S., M.Pd.

Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat penting karena kemampuan berpikir kritis berhubungan dengan materi pembelajaran menulis teks tanggapan kritis di kelas IX SMP. Namun, kenyataannya masih banyak siswa kelas IX SMPN 5 Subang yang belum mampu berpikir kritis dan menyusun teks tanggapan kritis dengan baik. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis mencoba meminimalisasi permasalahan tersebut dengan menggunakan model pembelajaran example non example.

Rumusan masalah dalam penelitian ini, apakah terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran example non example terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa? dan apakah terdapat hubungan antara peningkatan kemampuan berpikir kritis dengan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis?

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dapat atau tidaknya model pembelajaran example non example meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis. Penelitian ini pun bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peningkatan kemampuan berpikir kritis dengan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis.

Berdasarkan hasil penelitian kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen mengalami peningkatan yang diketahui berdasarkan nilai pretes dan nilai postes. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa di kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal tersebut diketahui berdasarkan data N-gain diperoleh nilai sig. = 0,000, artinya rataan skor N-gain kemampuan berpikir kritis siswa di kelas eksperimen lebih baik daripada N-gain kemampuan berpikir kritis siswa di kelas kontrol. Kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa kelas eksperimen mengalami peningkatan, hal tersebut dapat diketahui berdasarkan nilai pretes dan postes kemampuan menyusun teks tanggapan kritis. Peningkatan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa di kelas eksperimen lebih baik dibandingkan dengan siswa di kelas kontrol. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil data N-gain diperoleh nilai Sig = 0,000 < a (a = 0,05), artinya rataan skor N-gain kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa di kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Terdapat hubungan antara peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dengan kemampuan siswa menyusun teks tanggapan kritis. Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil data korelasi dengan nilai korelasi 0,792 dan nilai signifikansi 0,000.

Kata-kata kunci: Model Pembelajaran Example Non Example, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Kemampuan Menyusun Teks Tanggapan Kritis.

(3)

ABSTRACT

Suryani, Yuyun. 2016. The Implementation of the Learning Model Example Non Example in an Effort to Increase the Ability of Critical Thinking and the Ability to Compose Text Critical Response in Grade IX Junior High School 5 Subang Lessons Years 2016/2017. Thesis, Master's Degree Courses Education Indonesia Language and Literature, Graduate School of the University of Pasundan in Bandung. Supervisor: (I) Dr. Titin Nurhayatin, M. Pd, (II) D. Iwan Gunawan, S.S., M. Pd.

Critical thinking ability is very important because the ability of critical thinking ability is associated with learning material to write critical response text in class IX junior high school. However, the reality is still a lot of students of class IX SMP 5 corms yet capable of critical thinking and drafting the text of the critical response to good use. Based on these problems the author tried to minimize that problem by using a model of learning example non example.

Formulation of the problem in this research, whether there is influence of the use of the learning model example non example towards an increased ability of critical thinking and the ability to compose text critical response of students? and whether there is a relationship between increased critical thinking abilities with the ability to compose text critical response?

This research aims to know the can or whether learning model example non example increases the ability of critical thinking and the ability to compose text critical response. This research aims to know the relationship of increased critical thinking ability with the ability to compose text critical response.

Based on the results of research on critical thinking ability of students class experiments has increased is known based on the value and worth of pretes postes. Increased critical thinking ability of students in the classroom experiment is better compared to the control class. It is known to be based on the data of N-gain obtained value sig. = 0.000, meaning average score N-N-gain critical thinking ability of students in the classroom experiment better than N-gain critical thinking ability of students in the class of the control. The ability of composing text critical response grade experiment has increased, it can be known to be based on the value and capabilities of the postes pretes compose text critical response. Increased ability of composing text critical response of students in class experiments better compared with students in control classrooms. It is proved by the results of data gain obtained the value of Sig = 0.000 < a (a = 0.05), meaning average score N-gain the ability compose text critical response experiments of students in class better than the class of the control. There is a relationship between increased critical thinking ability of students by students 'ability of composing text critical response. It is known to be based on the results data correlation with the value of the correlation of 0.792 and the value of significance 0.000.

(4)

A. Pendahuluan

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia

dibandingkan dengan makluk lainnya, dikarenakan manusia memiliki akal dan

pikirin. Kemampuan berpikir yang dimiliki oleh manusia harus selalu dilatih

supaya kemampuan berpikir tersebut memiliki kemampuan yang baik dan dapat

bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Cara melatih kemampuan berpikir

seseorang diantaranya yaitu dengan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Molan (2012:12) berpendapat mengenai pentingnya kemampuan berpikir

kritis yaitu sebagai berikut:

Berpikir kritis tentu menjadi sangat penting bagi dunia pengetahuan dan teknologi. mengapa? Karena ilmu pengetahuan selalu berkutat dengan kebenaran-kebenaran ilmiah berupa tesis, dan hipotesis, yang akan dijadikan dasar pengandaian. Kebenaran-kebenaran itu tentu saja hanya dapat diuji terus menerus, melalui olah pikir yang kritis. Kegiatan berpikir kritis harus berjalan melalui argumentasi, penalaran, dan penyimpulan.

Begitu pentingnya kemampuan berpikir yang harus dimilki oleh setiap

orang, maka kemampuan berpikir khususnya berpikir kritis dijadikan salah satu

tujuan dari penyelenggaraan pendidikan yang dimulai dari sekolah dasar (SD)

sampai sekolah menengah atas (SMA). Kemampuan berpikir kritis dijadikan salah

satu tujuan penyelenggaraan pendidikan, dengan harapan siswa yang merupakan

generasi penerus suatu bangsa dapat memiliki kemampuan berpikir yang baik

yang dapat menganalisis dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

Dalam Kurikum 2013 bertujuan untuk menumbuhkan karakter siswa

dengan cara memiliki akhlak yang mulia beriman dan bertakwa kepada Tuhan

yang Mahaesa, memiliki kemampuan berpikir yang baik, memiliki kepribadian

yang baik yaitu percaya pada diri sendiri dan juga memiliki jiwa peka terhadap

(5)

kelas IX SMPN 5 Subang masih banyak siswa yang mengalami kesulitan untuk

berpikir kritis, sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap kemampuan siswa

dalam materi pembelajaran menyusun teks tanggapan kritis.

Dalam kegiatan pembelajaran khususnya pada siswa kelas IX MPN 5

Subang, siswa merasa kesulitan untuk menjelaskan mengenai permasalahan yang

terjadi di sekitarnya. Hal tersebut diakibatkan karena siswa tidak terbiasa untuk

menganalisi atau mencari tahu mengenai penyebab, akibat, dan cara

menyelesaikan permasalahan yang ada di sekitarnya. Permasalahan dalam

kemampuan berpikir kritis tersebut berpengaruh terhadap kemampuan siswa

dalam menyusun teks tanggapan kritis. Siswa merasa kesulitan untuk menjelaskan

mengenai permasalahan yang ada di sekitarnya. Siswa merasa kesulitan untuk

menentukan ide pokok dan menjelaskan setiap ide pokok yang sudah

ditentukannya.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang penulis temukan di

sekolah, penulis tertarik untuk mengkaji permasalahan tersebut dengan

melaksanakan kegiatan pembelajaran menyusun teks tanggapan kritis di kelas IX

SMPN 5 Subang dengan menggunakan model pembelajaran example non

example. Penulis memilih model pembelajaran tersebut karena model

pembelajaran ini merupakan model yang cocok untuk meningkatkan kemampuan

berpikir kritis siswa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Kurniasih dan Sani

(2015:31) menjelaskan bahwa pengertian model pembelajaran example non

example sebagai berikut:

(6)

berpikir kritis dengan jalan memecahkan permasalan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

Berdasarkan pendapat tersebut, penulis beranggapan bahwa model

pembelajaran example non example dapat meningkatkan kemampuan berpikir

kritis siswa. Sebab di dalam pendapat tersebut diungkapkan bahwa model

pembelajaran example non example merupakan model pembelajaran yang

bertujuan untuk mendorong siswa belajar berpikir kritis dengan jalan

menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar atau yang telah

terjadi saat-saat ini. Dengan menggunakan media gambar berupa gambar contoh

dan noncontoh, siswa dapat lebih mudah untuk berpikir kritis. Sebab dengan

menggunakan media gambar, siswa akan lebih senang dan lebih mudah

menganalisis suatu permasalahan yang akan siswa kritisi.

Hasil penelitian yang penulis laksanakan, akan penulis laporkan dalam

bentuk tesis berjudul “Implementasi Model Pembelajara Example Non Example

sebagai Upaya Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kemampuan

Menyusun Teks Tanggapan Kritis pada Siswa Kelas IX SMP 5 Subang Tahun

Pelajaran 2016/2017.”

B. Pembahasan Teori

1. Model Pembelajaran Example Non Example

Model pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan dalam

kegiatan belajar mengajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam

penelitian ini penulis menggunakan model pembelajaran example non example.

Dilihat dari kata example yang artinya contoh dan non example yang artinya

(7)

merupakan model pembelajaran yang memberikan beberapa contoh dan

noncontoh dalam bentuk gambar yang diamati oleh siswa sehingga dapat

dijadikan suatu topik atau bahan tulisan.

Kurniasih dan Sani (2015:31) berpendapat mengenai pengertian model

pembelajaran example non example sebagai berikut:

Model pembelajaran example non example berangkali kurang familiar di bayak kalangan. Model pembelajaran ini menggunakan media gambar sebagai media pembelajarannya. Model ini bertujuan untuk mendorong siswa agar belajar berpikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa model

pembelajaran example non example merupakan model pembelajaran dengan

menggunakan media gambar yang disesuaikan dengan materi ajar yang akan

dipelajari oleh siswa. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut siswa

didorong untuk berpikir kritis karena siswa diperintahkan untuk mengamati setiap

gambar yang telah disediakan oleh guru. Dengan menggunakan model

pembelajaran tersebut, siswa diperintahkan untuk menjelaskan dan menyelesaikan

permasalahan yang terdapat dalam gambar yang dilihatnya.

Zarkasyi (2015:76) mengemukakan mengenai langkah-langkah model

pembeljaran example non example yaitu,

1) Guru mempersiapkan gambar-gambar yang merupakan contoh dan non contoh dari materi yang akan dipelajari.

2) Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD proyektor/infocus.

3) Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan/menganalisis gambar untuk menentukan mana gambar yang termasuk contoh dan bukan contoh dari materi yang disajikan.

(8)

Berdasarkan langkah-langkah model pembelajaran tersebut dapat dipahami

bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru harus mempersiapkan terlebih dahulu

mengenai gambar yang akan diamati atau dianalisis oleh siswa. Kemudian siswa

diperintahkan untuk mengamati dan membahas mengenai gambar yang telah

disediakn oleh guru.

2. Berpikir Kritis

Berpikir kritis merupakan suatu kegiatan yang lebih menekankan faktor

kognitif atau ilmu pengetahuan dalam menguraikan suatu pemasalahan yang

terjadi. Kegiatan berpikir kritis merupakan kegiatan menguraikan suatu

permasalahan dengan mengkaji penyebab, akibat, serta cara menyelesaikan

permasalahan tersebut.

Hidayati (2015:25) berpendapat mengenai pengertian berpikir kritis yaitu,

“Berpikir kritis sebagai suatu cara menguraikan suatu peritiwa, isu, masalah,

keputusan, atau situasi dengan hati-hati dan bijaksana.”

Berdasarkan pendapat tersebut, berpikir kritis merupakan suatu

kemampuan atau suatu cara yang dilakukan seseorang dalam menjelaskan suatu

peristiwa atau suatu isu secara bijaksana. Berpikir kritis berbeda dengan

berargumen atau berpendapat yang tidak disertai dengan bukti-bukti yang jelas

dan hanya berdasarkan pendapat sendiri saja. Dalam berpikir kritis, seseorang

harus menyertai bukti-bukti yang fakta dalam mendukung pendapat yang

dijelaskannya.

Agar mengetahui kemampuan kemampuan berpikir kritis, maka

ditentukanlah indikator penilaian dalam kemampuan berpikir kritis. Indikator

(9)

Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

No. Aspek Berpikir Kritis Sub Berpikir Kritis 1. Memahami suatu permasalahan 1. menjelaskan pemahaman

secara umum mengenai

2. Membuat anggapan dasar mengenai suatu permasalahan

4. Pemecahan masalah 1. Memberikan solusi mengenai suatu

5. Simpulan 1. Membuat simpulan

mengenai isi.

Berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis yang telah dikemukakan,

(10)

berpikir kritis seseorang yaitu pemahaman mengenai permasalahan, anggapan

dasar yang dijelaskan, penjelasan isi permasalahan, penyelesaian permasalahan,

dan simpulan. Dengan memperhatikan indikator-indikator tersebut dalam

menjelaskan permasalahan, sehingga dalam menilai kemampuan berpikir kritis

siswa menjadi lebih objektif. Selain itu, dengan ditentukannya indikator

kemampuan berpikir kritis, siswa akan lebih paham mengenai hal-hal yang harus

diperhatikan dalam berpikir kritis dan kemampuan berpikir kritis siswa akan lebih

baik karena siswa mengetahui hal-hal yang harus diperhatikan ketika berpikir

kritis dalam menjelaskan suatu permasalahan.

3. Teks Tanggapan Kritis

Pembelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 lebih

memfokuskan pada pembelajaran teks. Tujuan dari pembelajaran teks yang

diajarkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu agar siswa dapat lebih

banyak melakukan kegiatan membaca dan menulis. Salah satu teks yang dipelajari

oleh siswa kelas IX SMP/MTS yaitu teks tanggapan kritis.

Mulyadi (2015:71) berpendapat mengenai pengertian berpikir kritis yaitu,

“Teks tanggapan kritis adalah teks yang berisi tanggapan, berupa dukungan atau

penolakan, terhadap sebuah hal atau peristiwa yang didukung oleh data

pendukung tanggapan.”

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa teks tanggapan

kritis merupakan suatu teks yang berisi mengenai persetujuan atau penolakan

mengenai suatu kejadian atau suatu permasalahan yang terjadi disertai dengan

(11)

siswa agar dapat berpikir kritis dan peka terhadap permasalahan-permasalahan

yang terjadi di sekitarnya.

Agar sebuah teks menjadi lebih jelas dan isinya dapat mudah dipahami

oleh pembaca maka teks tersebut harus memiliki suatu stuktur. Begitupun dengan

teks tanggapan kritis, teks ini memliki stuktur evaluasi, deskripsi teks dan

penegasan ulang.

Sesuai dengan penjelasan tersebut, Mulyadi (2015:58-59) mengemukakan

stuktur teks tanggapan kritis terdiri atas evalusi, deskripsi teks, dan penegasan

ulang. Berikut penjelasan bagian-bagian tersebut:

1) evaluai berisi pernyataan umum tentang persoalan yang disampaikan penulis. Selain pernyataan umum, pada bagian ini dapat dituliskan pula pandangan atau pendapat penulis mengenai persoalan tersebut;

2) deskripsi teks merupakan bagian tengah teks yang berisi informasi tentang alasan yang mendukung atau menolak pernyataan. Alasan tersebut digunakan sebagai bukti pendukung tanggapan. Bukti pendukung dapat berupa angka, rekaman video, dokumen, foto, dan lain-lain; dan

3) penegasan ulang merupakan bagian akhir teks yang berisi penegasan kembali terhadap yang sudah dilakukan dan diputuskan. Penegasan ulang dapat pula berupa keputusan penulis atau pilihan penulis.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa stuktur teks

tanggapan kritis yaitu berisi evaluasi, deskripsi, dan penegasan ulang. Stuktur

pertama yaitu evaluasi yang berisi ulasan secara umum mengenai permasalahan

yang akan dibahas. Stuktur kedua yaitu deskripsi mengenai mendeskripsikan

permasalahan-permasalahan yang dibahas disertai dengan bukti-bukti dan

argumen-argumen yang jelas. Stuktur ketiga dan terakhir yaitu penegasan ulang,

mengenai persetujuan atau penolakan penulis dalam mengagapi suatu

permasalahan. Melalui stuktur-stuktur tersebut dapat membedakan antara teks

(12)

Agar lebih memahami mengenai teks tanggapan kritis dan hal-hal yang

dinilai dalam kemampuan menyusun teks tanggapan kritis, maka dibuatlah

indikator-indikator yang harus diperhatikan dalam menilai kemampuan

menyusun teks tanggapan kritis siswa. Indikator kemampuan menyusun teks

tanggapan kritis yaitu sebagai berikut:

Indikator Kemampuan Menyusun Teks Tanggapan Kritis No. Tanggapan KritisAspek Teks Sub Teks Tanggapan Kritis

1. Kesesuaian isi dengan judul 1. pembahasan dalam isi sesuai dengan judul.

2. mengandung ide pokok yang relevan dengan topik

2. Stuktur 1. kelengkapan stuktur teks tanggapan kritis 2. keruntutan stuktur teks tanggapan ktitis

3. Isi

1. Kejelasan pemaparan dalam isi

2. Simpulan dan penegasan mengenai suatu permasalahan yang dibahas.

3. hubungan yang selaras antara aklimat pada paragraf 4. keselarasan hubungan antar pragraf

4. Ejaan, Huruf, dan Tanda Baca

1. penggunaan huruf kapital dan huruf kecil. 2. penulisan kata.

3. pemakaian tanda baca.

5. Diksi 1. diksi atau pilihan kata. 2. Pembendaharaan kata.

Sumber reverensi dimodivikasi dari Kosasih dan Restuti (2015:32)

Berdasarkan indikator kemampuan menyusun teks tanggapan kritis yang

telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat diketahui hal-hal yang harus

diperhatikan ketika menyusun teks tanggapan kritis yaitu kesesuaian isi dengan

judul, kelengkapan dan keruntutan struktur teks, kejelasan isi, ejaan dan tanda

(13)

tersebut maka teks tanggapan kritis yang disusun akan baik sesuai dengan struktur

teks dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku saat ini.

C. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian mixed methods.

Penelitian ini merupakan penelitian dengan mengabungkan dua metode yaitu

metode kualitatif dan metode kuantitatif secara bersama-sama dalam waktu yang

sama pula. Dalam metode penelitian ini terdapat metode primer dan metode

sekunder. Metode primer dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dan metode

sekunder dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Metode penelitian mixed

methods dalam penelitian ini menggunakan tipe Embedded Design.

Indrawan dan Yaniawati (2014:84) menjelaskan mengenai metode

penelitian tipe embedded design sebagai berikut:

Metode ini sebenarnya merupakan penguatan saja dari proses penelitian yang menggunakan metode tunggal (kualitatif atupun kuantitatif), karena pada metode penyisipan (embedded disign) peneliti hanya melakukan mixed (campuran) pada bagian dengan pendekatan kualitatif pada penelitian yang berkarakter kuantitatif. Demikian pula sebaliknya. Penyisipan dilakukan pada bagian yang memang membutuhkan penguatan atau penegasan, sehingga simpulan yang dihasilkan memiliki tingkat kepercayaan pemahaman yang lebih baik, dibandingkan dengan hanya menggunakan satu pendekatan saja.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa embedded design

merupakan metode yang hanya sebagai penguat dari metode yang jadikan sebagai

metode primer. Dengan adanya metode penyisipan ini, maka akan memperkuat

data juga dapat meningkatkan tingkat kepercayaan yang lebih baik mengenai data

yang dijelaskan.

(14)

Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian yaitu desain penelitian

quasi eksperimen. Penelitian mixed methods yang dilakukan dalam penelitian ini

menggunakan desain penelitian penelitian quasi eksperimen, karena subjek untuk

kelas eksperimen dan kelas kontrol pada penelitian ini tidak dipilih secara acak

melainkan secara sengaja sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas dalam

penelitian ini. Quasi eksperimen yang diterapkan dalam penelitian ini

menggunakan desain pretes-postes.

Indrawan dan Yaniawati (2014:58) mengemukakan mengenai desain quasi

eksperimen sebagai berikut:

Desain eksperimen semu dilakukan tanpa proses teknik sampel peluang. Subjek penelitian pada desain ini berjalan alami, misalnya penulis dalam pembelajaran kelompok mengikuti pembagian kelas yang sudah ada, namun tidak sama dengan pra-eksperimen, desain ini sudah menggunakan kelompok kontrol. Dalam praktiknya desain ini dapat digunakan dalam berbagai bentuk. Salah satu contoh desain ini dalam kasus pembelajaran sebagaimana terlihat di bawah ini. Dua kelompok yang diamati, dimana salah satu diberi perlakuan sedangkan yang lain tidak. Keduanya dua kali tes, yakni sebelum dan sesudah pelakuan.

Kelompok Tes Awal Perlakuan

(variabel bebas)

Tes Akhir

Eksperimen Y₁ X Y₂

Kontrol Y₁ - Y₂

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa dalam melakukan

penelitian desain eksperimen semu berbeda dengan desain pra-eksperimen. Dalam

penelitian desain eksperimen semu, penulis menggunakan pembagian kelas yang

sebelumnya sudah ditentukan oleh sekolah, sehingga penulis tidak melakukan

perubahan kelompok untuk melakukan penelitian. Selain itu, dalam desain

penelelitian quasi experiment dilakukan pretes dan postes untuk mengetahui

(15)

siswa dalam menyusun teks tanggapan kritis sebelum dan sesudah dilakukan

perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran example non example pada

kelas eksperimen.

3. Populasi dan Sampel

Subjek populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas IX SMP

Negeri 5 Subang tahun pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 250 orang yang

terdiri dari 9 kelas. Hal tersebut berdasarkan informasi dari wakil kepala sekolah

bagian kurikulum SMPN 5 Subang, dan dipilih kelas IX karena di dalam kelas

tersebut terdapat materi pelajaran mengenai menyusun teks tanggapan kritis yang

berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis siswa.

Berdasarkan penjelasan tersebut, sampel yang digunakan dalam penelitian

ini yaitu siswa SMP Negeri 5 Subang kelas IX H dan kelas IX dengan jumlah 28

siswa. Hal tersebut dipilih karena kelas IX A memiliki kemampuan berpikir kritis

dan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis yang yang sama dengan kelas IX

H yang dijadikan sampel. Dengan memilih kelas kontrol dan kelas eksperimen

yang memiliki kemampuan yang sama atau homogen diharapkan akan diketahui

pengaruh dari penggunaan model pembelajaran example non example, sehingga

akan diketahui adanya peningkatan antara kelas yang dilakukan perlakuan dengan

kelas yang tidak diberi perlakuan.

D. Hasil dan Pembahasan Penelitian

(16)

Berdasarkan hasil pretes dan postes, terlihat ada perbedaan yang

siginifikan antara kemampuan siswa dalam berpikir kritis sebelum diberi

perlakuan dan sesudah diberi perlakuan dengan menggunakan model

pembelajaran example non example. Perolehan nilai tertinggi hasil pretes

kemampuan berpikir kritis di kelas eksperimen yaitu hanya 74, sedangkan nilai

terendah hasil pretes kemampuan berpikir kritis siswa di kelas eksperimen yaitu

25. Setelah dilakukan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran

example non example di kelas eksperimen, diperoleh nilai postes kemampuan

berpikir kritis dengan nilai tertinggi yaitu 95, sedangkan nilai postes kemampuan

berpikir kritis dengan nilai terendah yaitu dengan nilai 55. Berdasarkan hal

tersebut, penggunaan model pembelajaran example non example dapat

meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yang ditandai dengan peningkatan

nilai pretes dan postes siswa dalam berpikir kritis.

Selain berdasarkan hasil nilai pretes dan postes, penggunaan model

pembelajaran example non example terhadap peningkatan kemampuan berpikir

kritis siswa dapat diketahui berdasarkan hasil perhitungan n-gain. Berdasarkan

analisis data N-gain, diperoleh hasil 0.54 dengan kategori sedang. Hal tersebut

diketahui berdasarkan klasifikasi gain (g) yaitu 0.30 < 0,54 ≤ 0.70. Artinya,

sejumlah siswa tersebut mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis

dengan kategori sedang.

(17)

Berdasarkan uji statistik, rerata skor pretes kelas kontrol dan kelas

eksperimen tidak jauh berbeda. Rata-rata skor pretes kelas eksperimen yaitu 9,10

sedangkan kelas kontrol yaitu 9,03. Setelah skor pretes tersebut dianalisis,

hasilnya menunjukkan bahwa rataan skor pretes kemampuan berpikir kritis siswa

kelas eksperimen secara signifikan tidak jauh berbeda dengan rataan skor pretes

kelas kontrol. Artinya kemampuan awal yang dimiliki siswa di dua kelas tersebut

yaitu sama.

Berdasarkan data tersebut maka skor postes kemampuan berpikir kritis

siswa menentukan seberapa besar peningkatan yang dicapai. N-gain diperlukan

untuk mengetahui seberapa besar peningkatan skor dari pretes ke postes. Setelah

dilakukan analisis, diketahui bahwa rataan N-gain di kelas eksperimen yaitu 0,54

sedangkan N-gain di kelas kontrol yaitu 0,12. Berdasarkan data tersebut dapat

diketahui bahwa rata-rata N-gain di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan

dengan rata-rata di kelas kontrol. Selanjutnya dilakukan analisis uji perbedaan

rata-rata terhadap nilai N-gain kemampuan kemampuan berpikir kritis siwa. Hasil

pengolahan statistiknya dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis siwa

yang memperoleh model pembelajaran example non example lebih baik daripada

siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa

model pembelajaran example non example memberikan konstribusi dan peranan

dalam peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Berdasarkan bukti-bukti

tersebut menyatakan bahwa hipotesis peningkatan kemampuan berpikir kritis

(18)

3. Model Pembelajaran Example Non Example Dapat Meningkatkan Kemampuan Menyusun Teks Tanggapan Kritis Siswa

Berdasarkan hasil pretes dan postes, terlihat ada perbedaan antara

kemampuan kemampuan siswa dalam menyusun teks tanggapan kritis sebelum

dan setelah dilakukan perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran

example non example. Perolehan nilai tertinggi hasil pretes kemampuan

menyusun teks tanggapan kritis di kelas eksperimen yaitu 81, sedangkan nilai

terendah hasil pretes kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa di kelas

eksperimen yaitu 25. Setelah dilakukan perlakuan dengan menggunakan model

pembelajaran example non example di kelas eksperimen, diperoleh nilai postes

kemampuan menyusun teks tanggapan kritis dengan nilai tertinggi yaitu 92,

sedangkan nilai postes kemampuan menyusun teks tanggapan kritis dengan nilai

terendah yaitu dengan nilai 66. Berdasarka hal tersebut, penggunaan model

pembelajaran example non example dapat memberikan pengaruh terhadap

kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa yang ditandai dengan

peningkatan nilai pretes dan postes siswa dalam menyusun teks tanggapan kritis.

Selain berdasarkan hasil nilai pretes dan postes, pengaruh model

pembelajaran example non example terhadap peningkatan kemampuan menyusun

teks tanggapan kritis siswa dapat diketahui berdasarkan hasil perhitungan n-gain.

Berdasarkan analisis data N-gain, diperoleh hasil 0.56 dengan kategori sedang.

Hal tersebut diketahui berdasarkan klasifikasi gain (g) yaitu 0.30 < 0,56 ≤ 0.70.

Artinya, sejumlah siswa tersebut mengalami peningkatan dalam kemampuan

menyusun teks tanggapan kritis dengan kategori sedang. Berdasarkan pernyataan

(19)

pembelajaran example non example dapat meningkatkan kemampuan menyusun

teks tanggapan kritis, dapat diterima.

4. Peningkatan Kemampuan Menyusun Teks Tanggapan Kritis Siswa yang Memperoleh Model Pembelajaran Example Non Example Lebih Baik Dibandingkan dengan yang Memperoleh Pembelajaran Konvensional

Berdasarkan uji statistik, rata-rata skor pretes kelas kontrol tidak jauh

berbeda secara siginifikan dengan kelas eksperimen. Rata-rata skor pretes kelas

kontrol yaitu 11,85, sedangkan kelas eksperimen yaitu 11,45. Setelah skor pretes

tersebut dianalisis, hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata skor pretes kemampuan

menyusun teks tanggapan kritis siswa kelas eksperimen secara signifikan tidak

jauh berbeda dengan rata-rata skor pretes kelas kontrol. Artinya kemampuan awal

yang dimiliki siswa di dua kelas tersebut adalah sama.

Berdasarkan dari data tersebut maka skor postes kemampuan menyusun

teks tanggapan kritis menentukan sebera besar skor N-gain atau peningkatan yang

dicapai. N-gain diperlukan untuk mengetahui seberapa besar peningkatan skor

pretes ke skor postes. Setelah dilakukan analisis, diketahui bahwa nilai rata-rata

N-gain di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata

N-gain pada kelas kontrol. Nilai N-gain di kelas eksperimen yaitu 0,51, sedangkan

nilai N-gain dikelas kontrol yaitu 0,14. Setelah diketahui nilai N-gain postes

kedua kelas maka dilanjutkan dengan analisis uji perbedaan rata-rata terhadap

N-gain kemampuan menyusun teka tanggapan kritis. Hasil pengolahan statistik

siswa yang memperoleh model pembelajaran example non example lebih baik

(20)

menunjukkan bahwa pembelajaran example non example memberikan konstribusi

dan peranan dalam kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa.

5. Hubungan Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dengan Kemampuan Siswa Menyusun Teks Tanggapan Kritis

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara

kemampuan berpikir kritis siwa dan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis

ada hubungan yang searah yaitu koefisien korelasi sebesar 0,79 dengan sig. 0,00.

Tingkat hubungan antara kemampuan berpikir kritis dengan kemampuan

menyusun teks tanggapan kritis cukup signifikan, sehingga jika kemampuan

berpikir kritis siwa meningkat maka akan meningkatkan pula terhadap

kemampuan menyusun teks tanggapan kritis.

Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa hipotesis

kelima yang menyatakan terdapat hubungan peningkatan kemampuan berpikir

kritis siswa dengan peningkatan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis

datap diteriman. Hal tersebut diketahui berdasarkan data hasil korelasi

kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis.

E. SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada

bab sebelumnya, maka hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Model pembelajaran example non example dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, yang dapat diketahui berdasarkan hasil pretes dan

postes, terlihat ada peningkatan kemampuan berpikir kritis setelah

(21)

didukung dengan analisis data N-gain, yang memperoleh hasil 0.54 dengan

kategori sedang. Hal tersebut diketahui berdasarkan klasifikasi gain (g) yaitu

0.30 < 0,54 ≤ 0.70. Artinya sejumlah siswa tersebut mengalami peningkatan

kemampuan berpikir kritis dengan kategori sedang, sehingga hipotesis kesatu

yang menyatakan model pembelajaran example non example dapat

meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dapat diterima.

2. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang menggunakan model pembelajaran example non example lebih baik dibandingkan dengan yang

memperolah pembelajaran konvensional. Hal tersebut dapat dibuktikan

berdasarkan data rata-rata N-gain di kelas eksperimen yaitu 0,54 sedangkan

N-gain di kelas kontrol yaitu 0,12. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui

bahwa rata-rata N-gain di kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan

rata-rata di kelas kontrol. Artinya, hipotesis kedua yang menyatakan

peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang memperoleh pembelajaran

menggunakan model pembelajaran example non example lebih baik

dibandingkan dengan yang memperoleh pembelajaran konvensional dapat

diterima.

3. Model pembelajaran example non example dapat meningkatkan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa. Hal tersebut dapat dibuktikan

berdasarkan hasil pretes dan postes kemampuan menyusun teks tanggapan

kritis siswa di kelas eksperimen terlihat peningkatan yang signifikan.

Berdasarkan analisis data N-gain, diperoleh hasil 0.56 dengan kategori

sedang. Hal tersebut diketahui berdasarkan klasifikasi gain (g) yaitu 0.30 <

(22)

kemampuan menyusun teks tanggapan kritis dengan kategori sedang. Hasil

data tersebut dapat membuktikan bahwa hipotesis ketiga yang menyatakan

model pembelajaran example non example dapat meningkatkan kemampuan

menyusun teks tanggapan kritis siswa dapat diterima.

4. Peningkatan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa yang memperoleh model pembelajaran example non example lebih baik

dibandingkan dengan yang memperoleh pembelajaran konvensional. Hal

tersebut dapat dibuktikan berdasarkan data nilai rata-rata N-gain di kelas

eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata N-gain pada

kelas kontrol. Nilai N-gain di kelas eksperimen yaitu 0,51, sedangkan nilai

N-gain dikelas kontrol yaitu 0,14. Hasil pengolahan statistik tersebut

menunjukkan, siswa yang memperoleh model pembelajaran example non

example lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran

konvensional. Artinya, hipotesis keempat yang menyatakan peningkatan

kemampuan menyusun teks tanggapan kritis siswa yang memperoleh

pembelajaran menggunakan model pembelajaran example non example lebih

baik dibandingkan dengan yang memperoleh pembelajaran konvensional

dapat diterima.

5. Terdapat hubungan antara peningkatan kemampuan berpikir kritis dengan

kemampuan siswa menyusun teks tanggapan kritis. Hal tersebut dapat

dibuktikan berdasarkan hasil perhitungan yang menunjukkan bahwa koefisien

korelasi antara kemampuan berpikir kritis siwa dan kemampuan menyusun

teks tanggapan kritis ada hubungan yang searah yaitu koefisien korelasi

(23)

kritis dengan kemampuan menyusun teks tanggapan kritis signifikan,

sehingga jika kemampuan berpikir kritis siwa meningkat maka akan

meningkatkan pula terhadap kemampuan menyusun teks tanggapan kritis.

Artinya hipotesis kelima yang menyatakan terdapat hubungan antara

peningkatan kemampuan berpikir kritis dengan kemampuan siswa menyusun

teks tanggapan kritis dapat diterima.

F. SARAN

1. Bagi guru yang akan menggunakan model pembelajaran example non example harus benar-benar mempersiapkan instrumen pembelajaran, alat, dan

media pembelajaran yang diperlukan agar implementasi model pembelajaran

example non example berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan.

2. Bagi siswa yang akan menggunakan model pembelajaran example non example sebagai upaya peningkatan kemampuan berpikir kritis dan

kemampuan menyusun teks tanggapan kritis hendaknya dalam kegiatan

pembelajaran, siswa harus lebih teliti dalam hal mengamati gambar-gambar

yang telah disediakan oleh guru.

3. Bagi lembaga sekolah yang akan menggunakan model pembelajaran example non example, sebaiknya harus mempertimbangkan dengan materi pelajaran

yang akan digunakan.

4. Bagi peneliti selanjutnya, agar dapat mengembangkan kembali mengenai permasalahan dengan materi pembahasan yang sama yaitu mengenai

kemampuan berpikir kritis siwa dan kemampuan menyusun teks tanggapan

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Amri, Sofwan. (2015). Implementasi Pembelajaran Aktif dalam Kurikulum 2013. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.

Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Refika Aditama.

Atmazaki. (2013). “Implementasi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia: Pola Pikir, Pendekatan Ilmiah, Teks (Genre), dan Penilaian Otentik.” (Jurnal). Padang: Universitas Negeri Padang. Tersedia: 6 Juni 2016. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/isla/article/download/3962/3193.

Aqib, Zainal. (2015). Model-Model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.

Damiati. (2012). “Pengaruh Model Pembelajaran Examples Non Examples Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa pada Materi Bangun Datar Kelas VII MTSN Karangrejo Tulungagung Semester genap Tahun Ajaran 2012/2013”. Skripsi.Tulungagung: STAIN. Tersedia: 16 Mei 2016. http:// repo.iaintulungagung.ac.id/424/1/SKRIPSI%20lengkap%20%28damiat %29.pdf.

Djafar, Nur Asmah. (2013). “Penerapan Model Pembelajaran Example Non Example untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas VIII.K SMP Negeri 4 Sungguminasa Kabupaten Gowa.” Tesis. Gowa: UNM.

Eggen, Paul dan Don Kauchak. (2012). Strategi dan Model Pembelajaran Mengajarkan Konten dan Keterampilan Berpikir. Edisi Keenam. Jakarta: PT Indeks.

Fisher, Alee. (2009). Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Jakarta: Erlangga.

Gultom, Nurjannah. (2012). “Pemanfaatan Teks Feature Perjalanan Sebagai Media dalam Pembelajaran Menulis Karangan Naratif”. Tersedia: 16 Mei 2016.http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/basastra/article/download/ 188/71.

Hidayati, Panca Pertiwi. (2015). Pembelajaran Menulis Esai Berorientasi Peta Berpikir Kritis. Bandung: Prisma Press Prodaktama.

(25)

Irawanti, Anggita Prian. (2013). “Keefektifan Model Examples Non Examples terhadap Hasil Belajar Materi Pengelolaan Sumber Daya Alam pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 1 Toyareka Purbalingga”. Skripsi Mahasiswa Program Strata 1. Semarang: Universitas Negeri Semarang. Tersedia: 16 Mei 2016. http://lib.unnes.ac.id/17310/1/1401409103.pdf.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Kurikulum 2013 Kompetensi Dasar Sekolah menengah Pertama (SMP)/ Madrasah Tsanawiah (MTS). Jakarta.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2014). Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 SMP/MTS Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan PSDMPK-PMP.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2015). Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan untuk SMP/MTS Kelas IX. Jakarta.

Kosasih, Engkos dan Restuti. (2013). Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS Kelas IX. Jakarta: Erlangga.

Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. (2015). Ragam Pengembangan Model Pembelajaran untuk Peningkatan Profesionalitas Guru. KataPena.

Lestari, K.E. dan Yudhanegara, M.R. (2015). Penelitian Pendidikan Matematika. Bandung: Refika Aditama.

Molan, Benyamin. (2012). Logika Ilmu dan Seni Berpikir Kritis. Jakarta: PT. Indeks.

Mulyadi, Yudi. (2015). Bahasa Indonesia untuk SMP-MTS Kelas IX. Bandung: Yrama Widya.

Noer. (2007). “Pembelajaran Open-Ended untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik dan Kemampuan Berfikir Kreatif. (studi eksperimen pada salah satu siswa SMPN Lampung)”Tesis. Bandung: UPI

Nurgiyantoro, Burhan. (2010). Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Nurwati, Nunung, Ade Tahyudin, dan Rumdi Raharja. (2016). Bahasa Indonesia MGMP Kabupaten Subang. Subang: CV. Difa Pustaka.

Sugiyono. (2014). Statistika untuk Penulisan. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2015). Model Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

(26)

Wahono, Mafrukhi, dan Sawali. (2013). Mahir Berbahasa Indonesia untuk SMP/ MTS kelas IX. Jakarta: Erlangga.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...