BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 50 TAHUN 2016 TENTANG

30 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BUPATI BELITUNG

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG

NOMOR 50 TAHUN 2016 TENTANG

KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH,

PERDAGANGAN DAN TENAGA KERJA KABUPATEN BELITUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BELITUNG,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 ayat (2) Peraturan Daerah Kabupaten Belitung Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Belitung, perlu menetapkan Peraturan Bupati Belitung tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan

Daerah Tingkat II dan Kotapraja di Propinsi Sumatera Selatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1821);

2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3193);

3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang

Perkoperasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3502);

4. Undang-Undang...

(2)

4. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 217, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4033);

5. Undang-Undang Nomor Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 4279);

6. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,

Kecil, dan Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4866);

7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang

Perkoperasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 212, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5355);

8. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

10.Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang

Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5887);

(3)

11. Peraturan Daerah Kabupaten Belitung Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Belitung (Lembaran Daerah Kabupaten Belitung Tahun 2016 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Belitung Nomor 24);

12. Peraturan Bupati Belitung Nomor 30 Tahun 2016 tentang Nomenklatur Perangkat Daerah Kabupaten Belitung (Berita Daerah Kabupaten Belitung Tahun 2016 Nomor 30);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH, PERDAGANGAN DAN TENAGA KERJA KABUPATEN BELITUNG.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kabupaten Belitung.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah

sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

3. Bupati adalah Bupati Belitung.

4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten

Belitung.

5. Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan menengah, Perdagangan dan

Tenaga Kerja adalah Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung.

6. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan

Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung.

7. Sekretaris adalah Sekretaris pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung.

(4)

8. Bidang adalah Bidang pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung.

9. Sub Bagian adalah Sub Bagian pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung.

10. Seksi adalah Seksi pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung.

11. Unit Pelaksana Teknis yang selanjutnya disingkat UPT adalah

Unit Pelaksana Operasional yang melaksanakan sebagian tugas Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung.

12. Kelompok Jabatan Fungsional adalah Kelompok Jabatan

Fungsional pada Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Kabupaten Belitung.

13. Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah

Profesi bagi Pegawai Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi Pemerintah.

BAB II

KEDUDUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI Bagian Kesatu

Kedudukan Pasal 2

Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja merupakan unsur pelaksana urusan pemerintahan bidang koperasi, usaha kecil dan menengah, urusan pemerintahan bidang perdagangan, dan urusan pemerintahan bidang tenaga kerja yang dipimpin oleh kepala dinas dan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.

Bagian Kedua Susunan Organisasi

(5)

Pasal 3

Susunan Organisasi Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja terdiri atas:

a. Kepala Dinas;

b. Sekretariat terdiri atas:

1.Sub Bagian Perencanaan, Keuangan dan Aset; dan

2.Sub Bagian Kepegawaian dan Umum.

c. Bidang Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah terdiri atas:

1.Seksi Kelembagaan dan Pengawasan;

2.Seksi Pemberdayaan Koperasi; dan

3.Seksi Pemberdayaan Usaha Mikro.

d. Bidang Usaha Perdagangan terdiri atas:

1.Seksi Perdagangan Dalam dan Luar Negeri;

2.Seksi Pengelolaan Pasar; dan

3.Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen.

e. Bidang Ketenagakerjaan terdiri atas:

1.Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja;

2.Seksi Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja; dan

3.Seksi Hubungan Industrial, Syarat Kerja dan Jaminan Sosial. f. Unit Pelaksana Teknis (UPT); dan

g. Kelompok Jabatan Fungsional.

Pasal 4

Struktur organisasi Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.

BAB III

TUGAS DAN FUNGSI Bagian Kesatu

Kewenangan Pasal 5

Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja mempunyai kewenangan sebagai berikut:

(6)

a. penerbitan izin usaha simpan pinjam untuk koperasi dengan wilayah keanggotaan dalam daerah kabupaten;

b. penerbitan izin pembukaan kantor cabang, cabang pembantu

dan kantor kas koperasi simpan pinjam untuk koperasi dengan wilayah keanggotaan dalam daerah;

c. pemeriksaan dan pengawasan koperasi yang wilayah

keanggotaan dalam daerah;

d. pemeriksaan dan pengawasan koperasi simpan pinjam/unit

simpan pinjam koperasi yang wilayah keanggotaan dalam daerah;

e. penilaian kesehatan koperasi simpan pinjam/unit simpan

pinjam koperasi yang wilayah keanggotaan dalam daerah;

f. pendidikan dan latihan perkoperasian bagi koperasi yang

wilayah keanggotaan dalam daerah;

g. pemberdayaan dan perlindungan koperasi yang keanggotaannya

dalam daerah;

h. pemberdayaan usaha mikro yang dilakukan melalui pendataan,

kemitraan, kemudahan perizinan, penguatan kelembagaan dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan;

i. pengembangan usaha mikro dengan orientasi peningkatan skala

usaha menjadi usaha kecil;

j. penerbitan rekomendasi pengelolaan pasar rakyat, pusat

perbelanjaan dan izin usaha toko swalayan;

k. penerbitan rekomendasi tanda daftar gudang, dan surat

keterangan penyimpanan barang;

l. penerbitan surat tanda pendaftaran waralaba untuk:

1) penerima waralaba dari waralaba dalam negeri;

2) penerima waralaba lanjutan dari waralaba dalam negeri; dan 3) penerima waralaba lanjutan dari waralaba luar negeri.

m. penerbitan rekomendasi usaha perdagangan minuman

beralkohol golongan B dan golongan C untuk distributor dan penjual langsung minum di tempat.

n. pemeriksaan fasilitas penyimpanan bahan berbahaya dan

pengawasan distribusi, pengemasan dan pelabelan bahan berbahaya di tingkat daerah.

(7)

o. penerbitan rekomendasi perdagangan kayu antar pulau terdaftar dan pelaporan rekapitulasi perdagangan kayu antar pulau;

p. penerbitan surat keterangan asal (bagi daerah kabupaten yang telah ditetapkan sebagai instansi penerbit surat keterangan asal);

q. pembangunan dan pengelolaan sarana distribusi perdagangan;

r. pembinaan terhadap pengelola sarana distribusi perdagangan di

wilayah kerjanya;

s. pelaksanaan penjaminan ketersediaan barang kebutuhan pokok

dan barang penting di tingkat daerah;

t. pemantauan harga dan stok barang kebutuhan pokok dan

barang penting di tingkat pasar kabupaten;

u. pelaksanaan operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga

pangan pokok yang dampaknya dalam daerah;

v. pengawasan pupuk dan pestisida tingkat daerah meliputi

pengadaan, penyaluran dan penggunaan pupuk bersubsidi di wilayah kerjanya;

w. penyelenggaraan promosi dagang melalui pameran dagang

nasional, pameran dagang lokal dan misi dagang bagi produk ekspor unggulan yang terdapat pada 1 (satu) daerah kabupaten;

x. penyelenggaraan kampanye pencitraan produk ekspor skala

daerah provinsi (lintas daerah kabupaten);

y. pelaksanaan metrologi legal berupa tera, tera ulang dan

pengawasan;

z. pelaksanaan pelatihan tenaga kerja berdasarkan unit

kompetensi;

aa. pembinaaan lembaga pelatihan kerja swasta;

bb. perizinan dan pendaftaran lembaga pelatihan kerja; cc. konsultansi produktivitas pada perusahaan kecil;

dd. pengukuran produktivitas tenaga kerja tingkat daerah; ee. pelayanan antar kerja di daerah;

ff. penerbitan izin Lembaga Pendidikan Tenaga Kerja Swasta

(LPTKS) dalam 1 (satu) daerah;

gg. pengelolaan informasi pasar kerja dalam daerah;

hh.perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri (pra dan purna penempatan) di daerah;

(8)

ii. penerbitan perpanjangan Izin Memperkerjakan Tenaga kerja Asing (IMTA) yang lokasi kerja dalam 1 (satu) daerah;

jj. pengesahan peraturan perusahaan dan pendaftaran perjanjian kerjasama untuk perusahaan yang hanya beroperasi dalam 1 (satu) daerah; dan

kk. pencegahan dan penyelesaian perselisihan hubungan industrial,

mogok kerja dan penutupan perusahaan di daerah. Bagian Kedua

Dinas Pasal 6

Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan, dan Tenaga Kerja mempunyai tugas membantu Bupati melaksanakan urusan pemerintahan di bidang koperasi usaha kecil dan menengah, perdagangan dan tenaga kerja yang menjadi kewenangan daerah dan tugas pembantuan yang diberikan kepada daerah.

Pasal 7

Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, menyelenggarakan fungsi:

a. perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya;

b. penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum

sesuai dengan lingkup tugasnya;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup

tugasnya;

d. penyusunan program kerja dan anggaran, keuangan dan aset, pengelolaan administrasi Aparatur Sipil Negara, urusan rumah tangga, dan tata usaha dinas; dan

e. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Bagian Ketiga Sekretariat

(9)

Pasal 8

Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris yang mempunyai tugas melakukan pelayanan administrasi dan teknis kepada semua unsur di lingkungan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja.

Pasal 9

Sekretariat dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, menyelenggarakan fungsi:

a. pelaksanaan koordinasi dan penyusunan rencana, program,

anggaran di bidang koperasi, usaha kecil dan menengah, perdagangan dan tenaga kerja;

b. pemberian dukungan administrasi yang meliputi

ketatausahaan, Aparatur Sipil Negara, keuangan,

kerumahtanggaan, kerja sama, hubungan masyarakat, arsip dan dokumentasi;

c. pengoordinasian dan penyusunan rancangan produk hukum

daerah di bidang koperasi, usaha kecil dan menengah, perdagangan dan tenaga kerja;

d. pengelolaan barang milik/kekayaan daerah;

e. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

f. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Pasal 10

Sekretariat terdiri atas:

a. Sub Bagian Perencanaan, Keuangan dan Aset; dan

b. Sub Bagian Kepegawaian dan Umum;

Pasal 11

Sub Bagian Perencanaan, Keuangan dan Aset mempunyai tugas melaksanakan urusan kesekretariatan bidang perencanaan, keuangan dan aset di bidang koperasi usaha kecil dan menengah, perdagangan dan tenaga kerja.

(10)

Pasal 12

Sub Bagian Perencanaan, Keuangan dan Aset dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, menyelenggarakan fungsi:

a. pelaksanaan pengumpulan bahan dan pengolahan data dalam

rangka penyusunan program dan anggaran;

b. penyiapan bahan penyusunan rancangan produk hukum

daerah di bidang koperasi, usaha kecil dan menengah, perdagangan dan tenaga kerja;

c. pelaksanaan pengelolaan keuangan, penatausahaan, akutansi

verifikasi dan pembukuan;

d. penyiapan bahan dalam rangka pelaksanaan pengelolaan aset;

e. penyiapan bahan penyusunan, evaluasi, pelaporan dan

pendokumentasian pelaksanaan program dan kegiatan;

f. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

g. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Pasal 13

Sub Bagian Kepegawaian dan Umum mempunyai tugas melaksanakan ketatausahaan, administrasi kepegawaian, urusan rumah tangga, kerja sama, kehumasan dan protokol serta ketatalaksanaan.

Pasal 14

Sub Bagian Kepegawaian dan Umum dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, menyelenggarakan fungsi:

a. pelaksanaan penyiapan bahan urusan administrasi umum dan perlengkapan, urusan tata usaha, kearsipan, rumah tangga, serta perjalanan dinas;

b. penyiapan bahan urusan administrasi Aparatur Sipil Negara;

c. penyiapan bahan penyusunan, evaluasi, pelaporan dan

pendokumentasian pelaksanaan program dan kegiatan;

d. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

d. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan.

(11)

Bagian Ketiga

Bidang Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Pasal 15

Bidang Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja dalam perencanaan,

penyusunan, penyiapan, pengoordinasian, penyelenggaraan,

evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang koperasi usaha mikro kecil dan menengah.

Pasal 16

Bidang Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, menyelenggarakan fungsi:

a. perencanaan dan perumusan program di bidang tugasnya;

b. pelaksanaan pemberdayaan dan perlindungan koperasi dan

usaha mikro;

c. pelaksanaan perluasan akses pembiayaan bagi koperasi dan

usaha mikro;

d. pelaksanaan verifikasi data dan bahan perumusan kebijakan operasional di bidang kelembagaan dan pengawasan, pemberdayaan koperasi dan usaha mikro;

e. pelaksanaan pembinaan dan bimbingan teknis koperasi dan

usaha mikro;

f. pelaksanaan fasilitasi bimbingan pembentukan, perubahan

anggaran dasar dan pembubaran koperasi;

g. pelaksanaan kemitraan koperasi, usaha mikro dengan badan

usaha lainnya;

h. pelaksanaan fasilitasi akses permodalan koperasi dan usaha mikro;

i. pemberian rekomendasi izin usaha simpan pinjam untuk

koperasi;

j. pengawasan pemeriksaan koperasi simpan pinjam dan unit

simpan pinjam;

k. penyelenggaraan pelayanan wirausaha koperasi dan fasilitasi simpan pinjam;

(12)

l. pelaksanaan penilaian kinerja koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam;

m. penyediaan data kinerja, bimbingan dan penyuluhan,

penciptaan iklim usaha simpan pinjam dan unit usaha simpan pinjam;

n. pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan di bidang

tugasnya;

o. penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang

tugasnya;

p. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

q. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Pasal 17

Bidang Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah terdiri atas:

a. Seksi Kelembagaan dan Pengawasan;

b. Seksi Pemberdayaan Koperasi; dan

c. Seksi Pemberdayaan Usaha Mikro.

Pasal 18

Seksi Kelembagaan dan Pengawasan mempunyai tugas penyiapan bahan perencanaan, penyusunan dan pelaksanaan kegiatan di bidang kelembagaan dan pengawasan koperasi.

Pasal 19

Seksi Kelembagaan dan Pengawasan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan bahan perencanaan pelaksanaan pendidikan dan

pelatihan bagi perangkat organisasi koperasi, koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam;

b. penyiapan bahan penganalisaan berkas pembentukan dan

perubahan anggaran dasar koperasi, koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam;

c. penyiapan bahan penyusunan dan pengkoreksian data penilaian

kesehatan koperasi, koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam;

(13)

d. penyiapan bahan perencanaan bimbingan dan penyuluhan dan pembuatan laporan tahunan koperasi, koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam;

e. penyiapan bahan pengoordinasian upaya penciptaan iklim

usaha koperasi, koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam yang sehat melalui penilaian kesehatan koperasi;

f. penyiapan bahan penelaahan dan perancangan dokumen izin

usaha simpan pinjam;

g. penyiapan bahan perencanaan kebijakan operasional dan

pelayanan serta fasilitasi;

h. penyiapan bahan perencanaan pemeriksaan dan pengawasan

koperasi, koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam;

i. penyiapan bahan perencanaan pemeriksaan dan pengawasan

kelembagaan, kepatuhan usaha simpan pinjam, penilaian kesehatan koperasi simpan pinjam/usaha simpan pinjam dan penerapan sanksi koperasi;

j. penyiapan bahan perencanaan dan perumusan bimbingan

teknis serta menyusun kebijakan operasional;

k. penyiapan bahan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan

pelaporan di bidang tugasnya;

l. penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang

tugasnya;

m. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait bidang

tugasnya; dan

n. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Pasal 20

Seksi Pemberdayaan Koperasi mempunyai tugas penyiapan bahan, perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan kegiatan di bidang pemberdayaan koperasi.

Pasal 21

Seksi Pemberdayaan Koperasi dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan bahan penyusunan data kinerja koperasi;

b. penyiapan bahan perencanaan pelaksanaan pemberdayaan dan

perlindungan koperasi;

(14)

c. penyiapan bahan perencanaan program pembinaan dan pengembangan pasar rakyat yang dikelola koperasi;

d. penyiapan bahan pelaksanaan fasilitasi akses pasar produk usaha koperasi;

e. penyiapan bahan penyusunan peningkatan akses permodalan

dan akses pembiayaan bagi koperasi;

f. penyiapan bahan pelaksanaan pembinaan dan bimbingan teknis

bagi koperasi;

g. penyiapan bahan pelaksanaan fasilitasi kemitraan antar

koperasi, usaha mikro, dan badan usaha lainnya;

h. penyiapan bahan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan

pelaporan di bidang tugasnya;

i. penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang

tugasnya;

j. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

k. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan.

Pasal 22

Seksi Pemberdayaan Usaha Mikro mempunyai tugas penyiapan bahan promosi potensi dan pelaksanaan promosi berdasarkan sektor usaha dan wilayah.

Pasal 23

Seksi Pemberdayaan Usaha Mikro dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan bahan perencanaan pengembangan usaha mikro

dengan orientasi peningkatan skala usaha menjadi usaha kecil;

b. penyiapan bahan pengembangan pemberdayaan dan

perlindungan usaha mikro;

c. penyiapan bahan perencanaan kegiatan monitoring evaluasi dan

pelaporan pelaksaan pemberdayaan usaha mikro;

d. penyiapan bahan penyusunan peningkatan kerjasama

pemasaran produk usaha mikro baik berskala lokal, nasional dan internasional;

(15)

e. penyiapan bahan penyusunan peningkatan akses permodalan usaha mikro dan akses pasar usaha mikro;

f. penyiapan bahan penganalisaan data dan jumlah usaha mikro;

g. penyiapan bahan penyusunan dan perancangan bahan

pembinaan dan bimbingan teknis, memfasilitasi kemitraan usaha mikro dan badan usaha lainnya;

h. penyiapan bahan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan

pelaporan di bidang tugasnya;

i. penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang

tugasnya;

j. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

k. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Bagian Keempat

Bidang Usaha Perdagangan Pasal 24

Bidang Usaha Perdagangan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja dalam perencanaan, penyusunan, penyiapan, pengoordinasian, penyelenggaraan, evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang usaha perdagangan.

Pasal 25

Bidang Usaha Perdagangan dalam melaksanakan tugas

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, menyelenggarakan fungsi:

a. perencanaan dan perumusan program di bidang tugasnya;

b. penyelenggaraan pembinaan, pengendalian, pengawasan dan

pengembangan lembaga-lembaga usaha perdagangan;

c. penyelenggaraan upaya-upaya peningkatan penggunaan

produksi dalam negeri;

d. penyelenggaraan dan pemberian bimbingan teknis di bidang

perdagangan dalam negeri maupun perdagangan luar negeri;

e. penyelenggaraan upaya-upaya dalam rangka mendorong laju

peningkatan/pertumbuhan ekspor daerah;

(16)

f. penyelenggaraan, pengawasan dan pembinaan atas pelaksanaan ketentuan-ketentuan mengenai hak dan kewajiban konsumen dan penjual;

g. pelaksanaan dan pengawasan tugas-tugas kemetrologian;

h. penyelenggaraan dan pengawasan terhadap pelaksanaan

pengelolaan perpasaran;

i. pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan di bidang

tugasnya;

j. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

k. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan

Pasal 26 Bidang Usaha Perdagangan terdiri atas:

a. Seksi Perdagangan Dalam dan Luar Negeri;

b. Seksi Pengelolaan Pasar; dan

c. Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen.

Pasal 27

Seksi Perdagangan Dalam dan Luar Negeri mempunyai tugas menyiapkan bahan bimbingan teknis pembinaan, penyiapan bahan pengembangan usaha dan sarana perdagangan, perizinan, pengadaan dan penyaluran, pembinaan dan pengembangan ekspor dan impor daerah, peningkatan kerja sama dengan dunia usaha di

bidang ekspor dan impor serta pemantauan dan evaluasi.

Pasal 28

Seksi Perdagangan Dalam dan Luar Negeri dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan bahan penyusunan rencana kegiatan seksi

perdagangan dalam negeri dan luar negeri sebagai acuan pelaksanaan tugas;

b. penyiapan bahan pelaksanaan persiapan dan penyusunan

bahan petunjuk teknis pembinaan usaha perdagangan, pembinaan iklim usaha, peningkatan kerja sama dunia usaha dan pengembangan ekspor impor;

(17)

c. penyiapan bahan pelaksanaan persiapan, pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan penyediaan dan pendistribusian bahan pokok dan barang penting strategis lainnya, serta pengumpulan, pengolahan dan analisa data hasil pemantauan dan evaluasi kerja kegiatan ekspor/impor dan penyaluran barang ekspor/impor meliputi barang konsumsi dan bahan baku/penolong keperluan industri atau barang modal untuk keperluan ekpor/impor;

d. penyiapan bahan pemantauan, pengumpulan data

perkembangan harga pasar sebagai bahan laporan dan pengambilan keputusan dalam menjaga stabilitas harga;

e. penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan peredaran barang

dan/atau jasa serta terhadap peredaran minuman beralkohol;

f. penyiapan bahan pelaksanaan kegiatan pengawasan terhadap

pengiriman barang strategis keluar daerah;

g. penyiapan bahan pelaksanaan kegiatan dan penelitian

kelengkapan dokumen yang diperlukan dalam rangka penerbitan Surat Izin Perdagangan Antar Daerah (SIPAD);

h. pelaksanaan persiapan penelitian kelengkapan dokumen guna

penerbitan perizinan di bidang ekspor impor hasil industri dan non industri;

i. penyiapan bahan pembinaan dan pengarahan serta petunjuk

teknis pengembangan pasar luar negeri;

j. penyiapan bahan pengumpulan, pengolahan, penganalisaan

serta pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan ekspor berdasarkan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB);

k. penyiapan bahan pelaksanaan koordinasi dengan dinas/instansi

terkait;

l. penyiapan bahan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan

pelaporan di bidang tugasnya;

m. penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang

tugasnya;

n. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

o. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan.

(18)

Pasal 29

Seksi Pengelolaan Pasar mempunyai tugas melakukan pengelolaan pasar, petak toko dan los/plank, pengawasan dan pembinaan pengendalian serta penetapan retribusi.

Pasal 30

Seksi Pengelolaan Pasar dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29, menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan bahan perencanaan teknis terhadap pengelolaan

pasar;

b. penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan, pengendalian dan

evaluasi pengelolaan pasar;

c. penyiapan bahan penetapan tarif retribusi sesuai dengan

peraturan perundang-undangan;

d. penyiapan bahan pelaksanaan pengawasan dan evaluasi

retribusi;

e. penyiapan bahan perjanjian sewa menyewa petak/toko dan

los/plank;

f. penyiapan bahan pemeliharaan sarana dan prasarana pasar;

g. penyiapan bahan pelaksanaan koordinasi dengan dinas/instansi

terkait;

h. penyiapan bahan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan

pelaporan di bidang tugasnya;

i. penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang

tugasnya;

j. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

k. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Pasal 31

Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen mempunyai tugas penyiapan bahan, perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan serta pelaporan kegiatan di bidang metrologi dan perlindungan konsumen.

(19)

Pasal 32

Seksi Metrologi dan Perlindungan Konsumen dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang

tugasnya;

b. penyiapan bahan pelaksanaan pembinaan dan pengawasan

serta memberikan fasilitas terhadap pelaksanaan ketentuan-ketentuan metrologi legal;

c. penyiapan bahan pelaksanaan penyuluhan dan pengawasan

terhadap alat-alat ukur, takar, timbangan dan

perlengkapannya;

d. penyiapan bahan pelaksanaan pendataan tera/tera ulang

terhadap alat-alat ukur, takar, timbangan dan

perlengkapannya, serta pengolahan data dan penyajian informasi;

e. penyiapan bahan pelaksanaan penyelidikan dan penyidikan

terhadap tindak pidana yang melanggar ketentuan Undang-Undang tentang Metrologi Legal;

f. penyiapan bahan pelaksanan konsultasi dan koordinasi dengan

instansi terkait dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan kemetrologian dan perlindungan konsumen;

g. penyiapan bahan pelaksanaan pembinaan dan pengawasan

penyelenggaraan kemetrologian dan perlindungan konsumen;

h. penyiapan bahan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan

pelaporan di bidang tugasnya;

i. penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang

tugasnya;

j. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

k. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Bagian Kelima

Bidang Ketenagakerjaan

(20)

Pasal 33

Bidang Ketenagakerjaan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja dalam perencanaan, penyusunan, penyiapan, pengoordinasian, penyelenggaraan, evaluasi dan pelaporan kegiatan di bidang ketenagakerjaan.

Pasal 34

Bidang Ketenagakerjaan dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33, menyelenggarakan fungsi:

a. perencanaan dan perumusan program di bidang tugasnya;

b. penyusunan rencana program kegiatan di bidang

ketenagakerjaan;

c. pelaksanaan kegiatan di bidang ketenagakerjaan;

d. pelaporan hasil pelaksanaan dan evaluasi kegiatan di bidang ketenagakerjaan;

e. pembinaan dan penyelenggaraan pelatihan kerja, pelaksanaan pelatihan dan pengukuran produktivitas serta pelaksanaan program peningkatan produktivitas di daerah;

f. penyelenggaraan pelatihan berbasis kompetensi;

g. penyelenggaraan perizinan/pendaftaran lembaga pelatihan serta

pengesahan kontrak/perjanjian magang dalam negeri;

h. pengoordinasian pelaksanaan sertifikasi dan akreditasi lembaga pelatihan daerah;

i. penyebarluasan informasi pasar kerja, pendaftaran pencari kerja dan lowongan kerja, penempatan tenaga kerja Antar Kerja Antar Daerah (AKAD)/Antar Kerja Lokal (AKL);

j. pelaksanaan fasilitasi penempatan tenaga kerja penyandang disabilitas, lansia dan perempuan;

k. pelaksanaan monitoring dan evaluasi penggunaan tenaga kerja asing yang lokasi kerjanya dalam daerah;

l. penyebarluasan dan penerapan teknologi tepat guna,

penyelenggaraan program perluasan kerja melalui bimbingan usaha mandiri dan sektor informal serta program padat karya; m.pelaksanaan fasilitasi penyusunan serta pengesahan peraturan

perusahaan;

(21)

n. pencegahan dan penyelesaian perselisihan hubungan industrial;

o. pelaksanaan bimbingan aplikasi pengupahan di perusahaan,

penyusunan dan pengusulan penetapan upah minimum kabupaten;

p. pembinaan kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja,

penyelenggaraan fasilitas dan kesejahteraan di perusahaan; q. pelaksanaan verifikasi keanggotaan Serikat Pekerja/Serikat

Buruh serta pencataan organisasi pengusaha dan organisasi pekerja/buruh;

r. pelaksanaan pengawasan, evaluasi dan pembinaan terhadap

pelaksanaan kegiatan-kegiatan;

s. pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan di bidang tugasnya;

t. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait bidang

tugasnya; dan

u. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Pasal 35

Bidang Ketenagakerjaan terdiri atas:

a. Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja;

b. Seksi Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja; dan

c. Seksi Hubungan Industrial, Syarat Kerja dan Jaminan Sosial.

Pasal 36

Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja mempunyai tugas penyiapan bahan, perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan serta pelaporan kegiatan di bidang seksi pelatihan dan produktivitas tenaga kerja.

Pasal 37

Seksi Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja dalam

melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 menyelenggarakan fungsi:

a. pelaksanaan penyelenggaraan pelayanan perizinan dan

nonperizinan di bidang tugasnya;

b. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang

tugasnya;

(22)

c. penyiapan bahan analisa data dan informasi yang berhubungan dengan bidang tugasnya;

d. penyiapan bahan penyusunan program kerja di bidang

tugasnya;

e. penyiapan bahan pelaksanaan kegiatan pelatihan keterampilan berbasis kompetensi tenaga kerja dan produktivitas;

f. penyiapan bahan pelaksanaan pembinaan terhadap lembaga

pelatihan kerja swasta dan pemerintah;

g. penyiapan bahan pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan

sertifikasi tenaga kerja;

h. penyiapan bahan pelaksanaan pelatihan berbasis masyarakat;

i. pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan di bidang

tugasnya;

j. penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang

tugasnya;

k. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

l. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Pasal 38

Seksi Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja mempunyai tugas penyiapan bahan, perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan serta pelaporan kegiatan di bidang seksi pembinaan dan penempatan tenaga kerja.

Pasal 39

Seksi Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang

tugasnya;

b. penyiapan bahan analisa data dan informasi yang berhubungan

dengan bidang tugasnya;

c. penyusunan program kerja di bidang tugasnya;

d. penyiapan bahan pelaksanaan pelayanan pendaftaran Angkatan Kerja Satu (AK1);

(23)

e. penyiapan bahan penyusunan laporan Informasi Pasar Kerja (IPK), Bursa Kerja Online (BKOL) dan kegiatan Antar Kerja Lokal (AKL), Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) dan Antar Kerja Antar Negara (AKAN) secara berkala;

f. penyiapan bahan pelaksanaan koordinasi antar lembaga instansi

pemerintah dan swasta dalam pengumpulan data lowongan kerja untuk penempatan tenaga kerja;

g. penyebarluasan informasi lowongan kerja;

h. penyiapan bahan pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan

penempatan tenaga kerja;

i. penyiapan bahan perencanaan pengembangan program/kegiatan

perluasan kesempatan kerja;

j. penyiapan bahan pembinaan dan monitoring kegiatan Bursa

Kerja Swasta (BKS);

k. penyiapan bahan monitoring tenaga kerja asing;

l. pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan di bidang

tugasnya;

m.penyusunan laporan dan pendokumentasian kegiatan di bidang tugasnya;

n. pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait bidang

tugasnya; dan

o. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Pasal 40

Seksi Hubungan Industrial, Syarat Kerja dan Jaminan Sosial mempunyai tugas penyiapan bahan, perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pembinaan dan pengawasan serta pelaporan kegiatan kegiatan di bidang hubungan industrial, syarat kerja dan jaminan sosial.

Pasal 41

Seksi Hubungan Industrial, Syarat Kerja dan Jaminan Sosial dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40, menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan bahan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang

tugasnya;

(24)

b. penyiapan bahan analisa data dan informasi yang berhubungan dengan bidang tugasnya;

c. penyiapan bahan penyusunan program kerja di bidang

tugasnya;

d. penyiapan bahan pelaksanaan kegiatan pembinaan dan

penyelesaian perselisihan hubungan industrial, mogok kerja dan penutupan perusahaan;

e. penyiapan bahan pelaksanaan kegiatan penyuluhan dan

bimbingan teknis hubungan industrial;

f. penyiapan bahan koordinasi dengan serikat pekerja/serikat buruh dan organisasi pengusaha serta pihak lain yang terkait;

g. penyiapan bahan pelaksanaan kegiatan penyuluhan tentang

syarat kerja dan jaminan sosial tenaga kerja, dan bimbingan teknis pembuatan perjanjian kerja, peraturan perusahaan dan perjanjian kerja bersama;

h. penyiapan bahan pelaksanaan survei kebutuhan hidup layak untuk penyusunan usulan upah minimum kabupaten dan upah minimum sektor kabupaten;

i. penyiapan bahan pelaksanaan pencatatan dan pembinaan

Serikat Pekerja/Serikat Buruh (SP/SB), Lembaga Kerja Sama Bipartit (LKS Bipartit), Perjanjian Kerja (PK), Peraturan Perusahaan (PP) dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB);

j. penyiapan bahan pemberian bantuan kepada

pekerja/pengusaha melakukan klaim jaminan sosial tenaga kerja;

k. penyiapan bahan pelaksanan koordinasi dengan serikat

pekerja/serikat buruh dan organisasi pengusaha serta pihak lain yang terkait;

l. penyiapan bahan pelaksanaan monitoring, evaluasi dan

pelaporan di bidang tugasnya;

m.pemberian saran dan pertimbangan kepada atasan terkait

bidang tugasnya; dan

n. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh atasan. Bagian Keenam

Unit Pelaksana Teknis (UPT)

(25)

Pasal 42

(1) Pada organisasi Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja dapat dibentuk UPT sesuai kebutuhan.

(2) Kedudukan, susunan organisasi, tugas dan fungsi, serta tata kerja UPT sebagaimana di maksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati.

Bagian Ketujuh

Kelompok Jabatan Fungsional Pasal 43

Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melaksanakan kegiatan sesuai dengan bidang tenaga fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 44

(1) Kelompok jabatan fungsional sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 43, terdiri dari sejumlah tenaga fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahliannya.

(2) Kelompok jabatan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat

(1), dipimpin oleh seorang tenaga fungsional senior yang ditunjuk diantara tenaga fungsional yang ada di lingkungan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan, dan Tenaga Kerja.

(3) Jumlah tenaga fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

ditetapkan sesuai kebutuhan dan beban kerja.

(4) Jenis dan Jenjang Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

BAB IV TATA KERJA

Pasal 45

Dalam melaksanakan tugasnya, setiap pimpinan dari unit organisasi, dan kelompok jabatan fungsional wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi baik dalam lingkungan masing-masing maupun antar satuan organisasi di lingkungan…

(26)

lingkungan pemerintah Kabupaten serta instansi lain sesuai dengan tugas masing-masing.

Pasal 46

Setiap pimpinan di lingkungan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja wajib mengawasi bawahannya masing-masing dan bila terjadi penyimpangan agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 47

(1) Setiap pimpinan di lingkungan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan

Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja bertanggung jawab memimpin dan mengoordinasikan bawahannya masing-masing dan memberikan bimbingan serta petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahan.

(2) Setiap pimpinan di lingkungan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan

Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk-petunjuk dan bertanggung jawab kepada atasan masing-masing dan menyampaikan laporan berkala tepat pada waktunya.

Pasal 48

(1) Setiap laporan yang diterima oleh pimpinan satuan organisasi dari bawahan, wajib diolah dan dipergunakan sebagai bahan untuk penyusunan laporan lebih lanjut dan untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada bawahan.

(2) Dalam menyampaikan laporan masing-masing kepada atasan

tembusan laporan wajib disampaikan pula kepada satuan organisasi lain yang secara fungsional mempunyai hubungan kerja.

Pasal 49

Dalam melaksanakan tugasnya setiap pimpinan organisasi di bantu kepala satuan organisasi di bawahnya dan dalam rangka pemberian bimbingan kepada bawahan masing-masing wajib mengadakan rapat berkala.

(27)

BAB V

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 50

Pada saat Peraturan Bupati ini mulai berlaku:

1. Peraturan Bupati Belitung Nomor 31 Tahun 2014 tentang

Penjabaran Tugas dan Fungsi Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Belitung (Berita Daerah Kabupaten Belitung Tahun 2014 Nomor 31);

2. Peraturan Bupati Belitung Nomor 29 Tahun 2008 tentang

Penjabaran Tugas dan Fungsi Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Belitung (Berita Daerah Kabupaten Belitung Tahun 2008 Nomor 29), sepanjang mengenai ketentuan penjabaran tugas dan fungsi Bidang Tenaga Kerja;

dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. BAB VI

KETENTUAN PENUTUP Pasal 51

Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Belitung.

Ditetapkan di Tanjungpandan pada tanggal 27 Desember 2016

BUPATI BELITUNG, ttd.

(28)

Diundangkan di Tanjungpandan pada tanggal 27 Desember 2016

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BELITUNG,

ttd.

KARYADI SAHMINAN

BERITA DAERAH KABUPATEN BELITUNG TAHUN 2016 NOMOR 50

Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BAGIAN HUKUM,

ttd.

IMAM FADLLI, SH NIP. 197109152001121002

(29)

LAMPIRAN

PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 50 TAHUN 2016

TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI, SERTA TATA KERJA DINAS KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH, PERDAGANGAN DAN TENAGA KERJA KABUPATEN BELITUNG

BUPATI BELITUNG, ttd. SAHANI SALEH PARAF KOORDINASI 1 2 3 4 5 6 7

Salinan sesuai dengan aslinya KEPALA BAGIAN HUKUM,

(30)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...