KEDALAMAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA ANGGOTA DENGAN PEMIMPIN BIARA DAN KEDALAMAN MODELING ANGGOTA TERHADAP PEMIMPIN BIARA

209  Download (0)

Teks penuh

(1)

KEDALAMAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL

ANTARA ANGGOTA DENGAN PEMIMPIN BIARA DAN

KEDALAMAN

MODELING

ANGGOTA

TERHADAP PEMIMPIN BIARA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Program Studi Psikologi

Oleh:

Swastika Adi Wibowo

NIM : 029114099

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

Motto

Non Mea

sed Tan tum Volun tas Tua

(bukan kehendakku, tetapi hanya kehendak-Mulah yang terjadi)

Semua yang terjadi dalam diriku, serba tak pernah kuduga.

Apa yang kuminta... Engkau tak penuhinya.

Tapi... apa yang tak kuharap dan tak kuminta,

Engkau limpahkan semuanya.

Rahasia Kecil Kebahagiaan

Kebahagiaan datan g kepada m ereka yan g m em berikan cin tan ya secara bebas yan g tidak m em in ta oran g lain

m en cin tai m ereka terlebih dahulu

Berm urah hatilah

seperti m en tari yan g m em an carkan sin arn ya tan pa terlebih dahulu bertan ya

apakah oran g-oran g patut m en erim a kehan gatan n ya

.

(5)

Skripsi dengan Judul

KEDALAMAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL

ANTARA ANGGOTA DENGAN PEMIMPIN BIARA DAN

KEDALAMAN

MODELING

ANGGOTA

TERHADAP PEMIMPIN BIARA

Saya persembahkan kepada

 

 

My Beloved,

Jesus Christ

Bapak,

H ardoy o

Ibu,

Christian a Sri W ahy un i

Kakak Pertam aku,

Ign atius Yudho Adi R iy aw an

Kakak Keduaku,

An ton ius Yan uar Adhi Prasety o

Serta tem an -tem an ku yan g sedan g m en apaki jalan

panggilan Tuhan ,

Para Frater Tk VI

di Sem in ari Tin ggi St. Paulus Ken tun gan

Semoga gagasan sederhana yang didapat dari penelitian ini

bermanfaat untuk pengolahan hidup

bagi mereka yang memilih hidup secara khusus

dan bagi kehendak Tuhan yang luar biasa.

 

 

 

(6)
(7)

ABSTRAK

Swastika Adi Wibowo (2007). Kedalaman Komunikasi Interpersonal Anggota dengan Pemimpin Biara dan Kedalaman Modeling Anggota Terhadap Pemimpin Biara. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi

antara kedalaman komunikasi interpersonal anggota dengan pemimpin biara dan

kedalaman modeling anggota terhadap pemimpin biara. Hipotesis yang diajukan

dalam penelitian ini adalah ada korelasi positif antara kedalaman komunikasi

interpersonal anggota dan pemimpin biara dengan kedalaman modeling anggota

terhadap pemimpin biara

Subyek dalam penelitian ini berjumlah 66 orang, yakni para novis yang

berasal dari berbagai komunitas novisiat di daerah Yogyakarta. Metode

pengambilan data dilakukan melalui skala sikap yang dibagikan kepada para

subyek. Model skala yang dipakai adalah Interval Tampak Setara. Sebelum

penelitian dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pengujian reliabilitas atas skala

yang hendak dipakai penelitian. Pengujian tersebut menghasilkan bahwa kedua

skala tersebut memiliki reliabilitas skala sebesar 0,7977 untuk skala kedalaman

komunikasi interpersonal dan sebesar 0,8309 untuk skala kedalaman modeling.

Berdasar dua hal itu, alat ukur penelitian dapat dikatakan reliabel.

Data yang telah terkumpul dianalisis melalui teknik korelasi Product

Moment pearson. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa antara kedalaman

komunikasi interpersonal antara anggota dengan pemimpin biara dan kedalaman

modeling anggota terhadap pemimpin biara memiliki korelasi positif dan

(8)

ABSTRACT

Swastika Adi Wibowo (2007). The Depth of Interpersonal Communication of The Member with The Leader of Monastery and The Depth of Modeling of The Member to The Leader of Monastery. Yogyakarta: Faculty of Psychology of The Sanata Dharma University

The objective of this research is to examine the existence of the correlation

between depth of interpersonal communication of the member with the leader of

monastery and depth of modeling of the member to the leader of monastery. The

assumption is that there is a positive correlation between depth of interpersonal

communication of the member with the leader of monastery and depth of

modeling of the member to the leader of monastery.

The subjects were 66 novis from 9 novisiat communities around

Yogyakarta. Data was taken by attitude scale that given to the subjects. The

attitude scale model used was equal appearing interval. Before research was held,

researher examined the scale and gained that the scale have reliability 0,7977for

the depth of interpersonal communication scale and 0,8309 for the depth of

modeling scale. From this, we could say that both of scales are reliabel.

The data was analyzed by correlation Product Moment Pearson technique.

The result shown that between depth of interpersonal communication of the

member with the leader of monastery and depth of modeling of the member to the

leader of monastery have a positive and significant correlation (rxy = 0,359 ;

(9)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah Yang Baik karena berkat kasih-Nya yang

begitu besar, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Tanpa

bimbingan-Nya, tentulah skripsi ini tidak akan tersusun dengan baik.

Skripsi ini disusun selama lebih dari satu tahun, dan selama itu pula penulis

mengalami berbagai dinamika yang tentunya sangat berharga. Semua tantangan

dan hambatan itu sudah dilalui dan kini tiba saatnya bagi peneliti untuk

mempertanggungjawabkannya. Meskipun demikian, peneliti menyadari berbagai

kekurangan yang masih ada dalam skripsi ini, oleh karenanya berbagai masukan

sangat diharapkan untuk menjadikannya semakin baik dan sempurna.

Untuk semuanya itu, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada

pihak-pihak yang telah memberikan waktu, informasi, dan dukungan hingga

selesainya penyusunan skripsi ini, secara khusus kepada:

1. Bapak P. Eddy Suhartanto, S.Psi, M.Si, selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah memberi kesempatan

dalam penyusunan skripsi ini

2. Bapak Dr. A. Supratiknya selaku pembimbing skripsi, yang dengan teliti

memeriksa dan senantiasa memberikan masukan demi kesempurnaan skripsi

ini

3. Bapak Y Agung Santoso, S. Psi dan Ibu Nimas Eki Suprawati, S.Psi, Psi

selaku dosen pembimbing akademik dan atas berbagai ide yang saya terima

(10)

4. Ibu A. Tanti Arini, S.Psi, M.Si dan Bapak V. Didik Suryo Hartoko, S.Psi,

M.Si yang telah memberikan masukan saat presentasi dan proses revisi.

5. Seluruh karyawan Fakultas Psikologi USD Yogyakarta; Ibu MB.

Rohaniwati, Mas Gandung Widiyantoro, Mas P. Mujiono, Mas Doni, dan

Bpk Giyono yang dengan setia senantiasa melayani kami para mahasiswa

6. Para Suster magistra di Novisiat CB, ADM, KFS, SFD, PPYK, dan OP;

Bruder magister di Novisiat CSA dan MTB; dan Romo magister di Novisiat

OMI yang telah memberikan ijin bagi penulis untuk melakukan

pengambilan data.

7. Para suster, bruder, dan frater novis di berbagai komunitas novisiat di

Yogyakarta yang telah mengisi skala penelitian

8. Sr. Hedwig, CB yang telah memberikan dukungan dan meminjamkan

buku-bukunya, memberi banyak informasi, dan memberi kebaikan yang sudah

saya terima selama ini.

9. Bapak dan Ibu di rumah serta kedua kakakku, yang berada di Semarang dan

Solo, yang senantiasa memberiku semangat untuk menyelesaikan skripsi ini

10. Dewi, seorang teman dan sekaligus sahabat terbaikku yang senantiasa

berbagi hati baik dalam suka maupun duka.

11. Buat keluarga besar P2TKP; Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si, Bapak

Ant. Soesilastanto, Ibu Yuliana Pratiwi, dan Mbak Ertina Kusumawati yang

senantiasa memberikan dukungan, serta semua temen-temen asisten P2TKP

yang pernah berjuang bersama; Tyo, Deasy, Nita, Etik, Kobo, Desta, Lisna,

(11)

12. Kedua sahabat kecilku yang setia, Chinghe dan Fanny, kehadiranmu

senantiasa membuatku bahagia dan tertawa

13. Temen-temen Kost Wism@Em.Com; Arfi, Aji, Ardi, Dimas, Nofan, Nug,

Yuki, dulu ada Bertus dan Dita, Kang Heri, kalian semua berkat bagiku

14. Temen-teman di Geng Banyak: Tyas, Elen, Wedha, Barjo, Arba, Desta,

Lisna, dan Dedy.

15. Para Frater Tingkat VI di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta

yang senantiasa mengunjungi dan memberikan semangat kepada saya

16. Serta semua dosen, karyawan, dan teman-teman mahasiswa Fakultas

Psikologi USD yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu namun yang

senantiasa menyemangati saya dalam tugas ini

Akhirnya, saya sampaikan salam bangga kepada semua yang pernah

memperkaya hidup saya. Karena merekalah, saya dapat menjadi pribadi yang

semakin bertumbuh dari hari ke hari. Tuhan, mohon berkat bagi mereka semua.

Yogyakarta, 14 September 2007

Hormat saya,

(12)

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ...ii

LEMBAR PENGESAHAN ...iii

MOTTO ...iv

PERSEMBAHAN ...v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...vi

ABSTRAK …... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR BAGAN ...xvi

DAFTAR TABEL ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10

(13)

1. Komunikasi Interpersonal ... 10

a. Pengertian Komunikasi Interpersonal ... 10

b. Motif Komunikasi Interpersonal ... 12

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi Komunikasi Interpersonal ... 13

2. Tingkat Kedalaman Komunikasi Interpersonal ... 16

a. Pengertian Kedalaman Komunikasi Interpersonal ... 16

b. Taraf/ Tingkat Kedalaman Komunikasi Interpersonal ... 17

B. Kedalaman Modeling ... 20

1. Pengertian Modeling ... 20

2. Kedalaman Modeling ... 23

3. Tahapan-tahapan dalam Modeling ... 28

4. Karakteristik Model yang Mempengaruhi Terjadinya Modeling ... 30

C. Biara ... 32

1. Pengertian Biara ... 32

2. Pemimpin dan Anggota:Peran sebagai Pendamping dan Yang Didampingi dalam Proses Formatio ... 34

3. Komunikasi: Elemen penting dalam Proses Pendampingan Anggota Biara ... 37

4. Modeling Melalui komunikasi Interpersonal Yang Mendalam Di Komunitas Biara ... 40

D. Korelasi Antara Kedalaman Komunikasi Interpersonal dan Kedalaman Modeling dalam Komunitas Biara ... 42

(14)

BAB III METODE PENELITIAN ... 46

A. Jenis Penelitian: Penelitian Korelasional ... 46

B. Identifikasi Variabel Penelitian ... 47

1. Variabel Bebas ... 48

2. Variabel Tergantung ... 48

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 48

1. Kedalaman Komunikasi Interpersonal ... 48

2. Kedalaman Modeling ... 51

D. Subyek Penelitian ... 53

E. Metode dan Alat Pengumpul Data ... 54

1. Pengembangan Alat Ukur Penelitian... 54

a. Metode Pengumpulan Data ... 54

b. Alat Pengumpul Data ... 54

c. Langkah-langkah Penyusunan Skala ... 55

2. Reliabilitas Alat Ukur ... 67

F. Metode Pengambilan Sampel ... 68

G. Analisis Data ... 69

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 70

A. Orientasi Kancah Penelitian ... 70

B. Pelaksanaan Penelitian ... 72

C. Hasil Uji Asumsi ... 73

1. Uji Normalitas ... 73

(15)

D. Hasil Penelitian ... 74

1. Deskripsi Data Penelitian ... 74

2. Hasil Uji Hipotesis ... 76

E. Pembahasan ... 78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 84

A. Kesimpulan ...84

B. Saran ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 87

(16)

DAFTAR BAGAN

(17)

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1: Blue Print Skala Kedalaman Komunikasi Interpersonal ... 58

2. Tabel 2: Blue Print Skala Kedalaman Modeling ... 59

3. Tabel 3: Nilai Skala dan Distribusi Skala Uji Coba Kedalaman Komunikasi Interpersonal ... 61

4. Tabel 4: Nilai Skala dan Distribusi Skala Uji Coba Kedalaman Modeling ... 63

5. Tabel 5: Sebaran aitem Skala Penelitian Kedalaman Komunikasi Interpersonal ... 65

6. Tabel 6: Sebaran aitem Skala Penelitian Kedalaman Modeling ... 66

7. Tabel 7: Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 72

8. Tabel 8: Deskripsi Hasil Penelitian ... 75

9. Tabel 9: Hasil Uji Korelasi ... 77

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Skala untuk uji coba ( yang dinilai kelompok panel ) ... 91

2. Hasil penilaian semua anggota kelompok panel (uji coba) ... 105

3. Penilaian kelompok panel (uji coba) setelah diurutkan dari derajat terkecil ... 111

4. Hasil penilaian kelompok panel (uji coba) yang dianggap lolos untuk dianalisis ...117

5. Tabel deskripsi masing-masing aitem hasil penilaian seluruh kelompok panel ...123

6. Tabel Nilai Skala (S), Penyebaran (Q), dan daftar aitem yang dipilih untuk penelitian ... 162

7. Reliabilitas sebelum dan sesudah pemilihan aitem untuk penelitian ...164

8. Skala penelitian (skala final) ... 172

9. Data hasil penelitian masing-masing responden ... 176

10. Skor sikap variabel penelitian ... 184

11. Deskripsi empiris dan teoretis hasil penelitian ... 186

12. Tabel hasil uji normalitas ... 187

13. Tabel hasil uji linearitas ... 188

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan manusia, banyak ditemukan berbagai macam kelompok

sosial. Pada setiap kelompok sosial tersebut, setiap individu yang menjadi anggota

di dalamnya memiliki peran yang berbeda satu dengan yang lain. Mereka saling

berinteraksi satu dengan yang lain guna memperkaya kehidupan mereka. Menurut

Sherif dan Sherif (dalam Ahmadi, 1991), kelompok dimengerti sebagai suatu unit

sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi

sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah

terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu yang khas bagi

kelompok itu. Hidup bersama dalam kelompok-kelompok sosial seperti ini

memiliki bentuk yang bermacam-macam.

Salah satu bentuk kehidupan berkelompok yang ada di tengah-tengah kita

ialah biara. Biara dapat disebut kelompok sosial karena memiliki beberapa

karakteristik seperti yang diungkapkan oleh Sherif dan Sherif; memiliki anggota

yang lebih dari satu individu, ada interaksi anggota yang intensif, ada struktur,

pembagian tugas, dan tata hidup bersama sebagai norma kelompoknya.

Komunitas biara adalah komunitas dimana para anggotanya, yakni biarawan atau

biarawati, secara khusus menghayati cara hidup kristiani untuk menjawab

panggilan Tuhan. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Salim dan Salim, 1991)

(20)

tinggal orang laki-laki atau perempuan yang mengkhususkan diri terhadap

pelaksanaan ajaran Injil di bawah pimpinan seorang ketua menurut aturan

tarikatnya.

Seperti halnya kelompok masyarakat yang lain, setiap anggota di dalam

biara mengalami dinamika berkomunikasi dengan anggota lain. Melalui

komunikasi mereka dapat saling bertukar pemikiran, saling berbagi pengalaman,

dan saling mendukung satu dengan yang lain dalam hal panggilan mereka. Semua

itu adalah bentuk komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal adalah

sebuah bentuk dari komunikasi manusia yang terjadi ketika kita berinteraksi

secara simultan dengan orang lain dan menguntungkan satu dengan yang lain

(Beebee, dkk,1996). Komunikasi semacam itu akan sangat membantu

perkembangan intelektual dan sosial seseorang (Johnson dalam Supratiknya,

1995). Melalui interaksi dalam komunikasi, pihak-pihak yang terlibat dalam

komunikasi dapat saling memberi inspirasi, semangat, dan dorongan untuk

mengubah pemikiran, perasaan, dan sikap yang sesuai dengan topik yang dibahas

bersama (Hardjana. 2003).

Di dalam komunitas biara, terdapat istilah formatio atau pembinaan.

Pembinaan dalam konteks kehidupan biara ini secara sederhana dapat diartikan

sebagai usaha pendampingan bagi para anggota dalam biara. Pembinaan memiliki

tujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk membatinkan nilai-nilai

panggilan (internalisasi) dan mewujudkannya dalam kesaksian hidup yang efektif

(Prasetyo,1992). Pembinaan ini tidak lain adalah untuk membantu para

(21)

memiliki kualitas pribadi yang baik sesuai harapan ordo atau kongregasi bagi

pelayanannya kelak.

Dalam komunitas biara, terdapat satu orang pemimpin. Peran pemimpin

sangatlah penting karena harus mampu mengusahakan supaya kelompok yang

dipimpinnya dapat merealisasikan tujuannya dengan sebaik-baiknya dalam kerja

sama yang produktif dan dalam keadaan-keadaan bagaimana pun yang dihadapi

kelompoknya (Gerungan, 1980). Misalnya saja, seorang pemimpin dalam sebuah

biara harus mampu memberi inspirasi bagi anggotanya (Darminto, 2005).

Demikian juga dalam sebuah kelompok yang disebut biara, peranan pemimpin

cukup penting karena dari dialah muncul berbagai kebijakan pembinaan yang

akan mengatur segala dinamika kehidupan biara agar benar-benar mengarahkan

para anggotanya untuk dapat membangun karakter kepribadiannya ke arah yang

lebih baik menurut spiritualitas ordo atau kongregasinya.

Dalam melaksanakan tugas pendampingannya, pemimpin biara melakukan

komunikasi dengan para anggotanya. Komunikasi tersebut memiliki taraf

kedalaman yang berbeda, ada yang mendalam ada pula yang dangkal, meskipun

semua anggotanya tentu diharapkan mampu komunikasi secara mendalam. Bagi

pihak anggota biara, dengan komunikasi yang mendalam ia akan lebih mudah

untuk mengungkapkan segala yang dialaminya, baik uneg-uneg, kesedihan,

kegembiaraan, dan berbagai pengalaman lain tanpa ragu kepercayaannya

disia-siakan. Dengan keterbukaan semacam itu, anggota biara akan mendapatkan

masukan dari pemimpinnya untuk pengolahan panggilannya. Dari pihak

(22)

yang cukup penting karena dapat menjadi jalan untuk menanamkan nilai-nilai

keutamaan bagi para anggotanya. Lewat komunikasi ia dapat memberi kritik dan

masukan kepada para anggotanya, misalnya saat ia memberikan bimbingan

rohani, saat mendengarkan curhat, mendengarkan permasalahan, dan lain

sebagainya. Dengan mendengar pengalaman hidup anggotanya secara mendalam,

pemimpin biara dapat mengetahui perkembangan panggilan anggotanya itu. Dari

sini, pemimpin biara dapat menentukan langkah-langkah apa selanjutnya demi

perkembangan panggilan anggotanya.

Pemimpin biara senantiasa mengajak para anggotanya untuk terus menerus

memperkembangkan hidup rohani mereka agar para anggota biara, secara bahasa

rohani, makin bertemu dengan Kristus dan Roh Kudus sendiri (Darminto, 2005).

Memang benar bahwa setiap pribadi anggota biara memiliki haknya sendiri untuk

berkembang secara unik. Dengan berbagai karakter kepribadian masing-masing,

mereka akan mencoba menjawab panggilan Tuhan itu dengan cara-cara mereka

yang berbeda satu dengan yang lain. Keragaman ini juga ditegaskan oleh

Darminto (2005) yang mengungkapkan bahwa seorang pemimpin yang

memimpin bahkan memerintah dalam situasi-situasi tertentu tetap

memperhitungkan dan menghormati pribadi anggota-anggotanya. Ini

memperlihatkan keharusan akan adanya pengenalan dan kesediaan

memperhitungkan ide-ide, perasaan, kualitas, dan sifat-sifat positif yang ada

dalam diri para anggotanya. Hal ini menunjukkan makna bahwa pemimpin biara

(23)

Pada proses pembinaan, pemimpin biara melakukan pendampingan kepada

para biarawan-biarawati yang menjadi tanggung jawabnya sehingga kelak mereka

akan dapat memenuhi kebutuhan tarekatnya. Proses belajar yang dilakukan oleh

para anggota biara tentu akan berbeda satu dengan yang lainnya. Modeling adalah

salah satu cara yang dapat dipakai seseorang, termasuk anggota biara, dalam

proses belajar itu. Dalam ilmu psikologi, peranan faktor imitasi (salah satu bentuk

modeling) sebagai salah satu bentuk belajar tidaklah kecil karena seringkali orang

mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang

menjadi model (Sears, dkk, 1999), seperti halnya pada anak yang mengimitasi

perilaku orang tuanya sejak ia belajar menirukan bahasa hingga mengikuti

perilaku orang tuanya (Ahmadi, 1991).

Dalam konteks kehidupan biara, modeling dapat terjadi pada para anggota

terhadap pemimpinnya. Ada yang melakukan modeling secara dangkal saja,

misalnya meniru cara berbicara atau dalam berperilaku namun ada pula yang

mendalam dengan menginternalisasi nilai-nilai keutamaan yang diajarkan dari

pemimpinnya. Dengan modeling, anggota biara dilatih untuk hidup sesuai harapan

ordo atau kongregasinya. Namun demikian, modeling yang diharapkan terjadi

tidak hanya pada hal-hal lahiriah, melainkan juga pada nilai-nilai keutamaan yang

ditawarkan pemimpinnya. Usaha menanamkan nilai-nilai spiritualitas, keutamaan,

atau teladan yang diberian oleh pemimpinnya ke dalam diri mereka adalah bentuk

modeling yang mendalam. Berbagai nilai yang dipelajarinya itu akan

digunakannya sebagai roh dalam mengolah panggilan sehingga tercapai

(24)

dengan Tuhan. Inilah yang menjadikan modeling yang mendalam memiliki peran

penting bagi para anggota biara dalam proses formatio.

Modeling dalam suatu biara memiliki karakteristik kedalaman yang

berbeda-beda pula meski semua anggota diharapkan dapat melakukan modeling

yang mendalam. Perbedaan ini dapat disebabkan karena bermacam-macam faktor,

misalnya persepsi terhadap pemimpinnya itu. Pemimpin yang dihormati banyak

orang, lebih diminati dijadikan model (Hergenhahn dan Olson, 1997).

Kemungkinan lain misalnya anggota biara lebih mengidolakan seorang pemimpin

yang berwibawa dari pada yang kurang memiliki wibawa, atau karena yang lebih

akrab dengan anggota, yang lebih mengerti dan menerima anggota apa adanya,

atau yang lebih nyaman saat diajak membicarakan sesuatu.

Ada beberapa karakteristik model spesifik yang dapat dijadikan

pertimbangan seperti kompeten, menarik, disukai, dan berwibawa (Chance, 1979).

Dalam biara, pemimpin yang dijadikan model tentunya memiliki beberapa

karakterstik tertentu yang dianggal ‘bernilai’, termasuk bagaimana ia membangun

komunikasi interpersonal dengan setiap anggota biara, untuk dijadikan model bagi

anggotanya. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Krech, Crutchfield,

dan Ballachey (dalam Ahmadi, 1991) mengenai fungsi pemimpin. Menurut

mereka, salah satu fungsi “pemimpin adalah sebagai contoh atau teladan”.

Pemahaman ini menjelaskan bahwa pemimpin akan menjadi contoh bagi

anggotanya dalam bersikap. “Teladan menggambarkan bagaimana seseorang

terpengaruh oleh apa yang dilihat dari apa yang dilakukan oleh orang lain”

(25)

Dalam konteks komunitas biara, pemimpin biara memiliki pengaruh yang

besar bagi perkembangan kepribadian anggotanya sebab dialah yang menentukan

arah pengolahan kehidupan mereka, salah satunya lewat teladan yang dia berikan.

“Pemimpin adalah orang yang memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku

dan kepercayaan kelompok” (Sears, dkk, 2004). Oleh karena itu peran pemimpin

biara sangatlah penting mengingat pemimpin biara diandaikan tahu lebih banyak

dan diharapkan dapat mendampingi para anggotanya, supaya bersama sama dapat

mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, kepemimpinan yang baik mestinya

menampakkan model pemimpin yang berbuah baik, pemimpin yang melayani dan

dan pemimpin yang sungguh-sungguh mencerminkan nilai injili (Triyono, 2005).

Pemimpin biara adalah figur yang dapat menjadi teladan atau panutan bagi para

anggotanya. Oleh karenanya, kita bisa melihat pentingya peranan modeling dalam

biara. Apabila pemimpin bisa memberikan contoh yang baik, tentu anggota juga

akan mempelajari sesuatu yang baik pula.

Dengan pemahaman bahwa komunikasi interpersonal yang mendalam

punya peran penting dalam proses formatio, karena dapat menjadi sarana untuk

menggali perkembangan panggilan anggotanya sekaligus dapat menawarkan

berbagai nilai-nilai keutamaan, sehingga para anggota biara nantinya dapat

melakukan modeling sebagai salah satu cara belajar dalam mengolah

panggilannya, penelitian ini ingin mengetahui apakah kedalaman komunikasi

interpersonal yang ada antara pemimpin biara memiliki korelasi dengan

kedalaman modeling para anggota biara terhadap pemimpinnya. Penelitian ini

(26)

interpersonal dengan kedalaman modeling para biarawan-biarawati terhadap

pemimpin di biaranya.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah yaitu “apakah ada

korelasi positif antara kedalaman komunikasi interpersonal antara anggota dan

pemimpin biara dengan kedalaman modeling anggota terhadap pemimpin biara”.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara

kedalaman komunikasi interpersonal antara anggota dan pemimpin biara dengan

kedalaman modeling anggota biara terhadap pemimpin biara di komunitasnya.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

a. Penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran baru bagi kajian

psikologi sosial khususnya mengenai hubungan antar pribadi

b. Penelitian ini dapat menjadi dasar bagi penelitian-penelitian berikutnya

yang menyangkut kedalaman komunikasi interpersonal dan kedalaman

(27)

2. Manfaat Praktis bagi Para Pemimpin Komunitas Biara

a. Para pemimpin komunitas biara dapat mempelajari hubungan antara

kedalaman komunikasi interpersonal dengan kedalaman modeling para

anggotanya

b. Para pemimpin komunitas biara juga dapat mengevaluasi dan

merefleksikan seberapa mendalam komunikasi mereka dengan para

anggotanya sehingga dapat dibangun berbagai usaha yang lebih baik

sebagai sarana dalam melakukan pendampingan

c. Para pemimpin novisiat juga dapat melihat sejauh mana perilaku

modeling para anggotanya sebagai salah satu dinamika dalam proses

formatio

3. Manfaat Praktis bagi Para Biarawan-Biarawati anggota komunitas

a. Para anggota komunitas biara dapat mempelajari hubungan antara

kedalaman komunikasi interpersonal dengan kedalaman modeling

terhadap pemimpinnya

b. Para anggota komunitas biara dapat mempelajari salah satu variabel

yang berperan dalam kehidupan mereka akan perilaku modeling

c. Sebagai sarana merefleksikan seberapa mendalam komunikasi mereka

dengan para pemimpin biara di komunitasnya sehingga dapat dibangun

berbagai usaha yang lebih baik, khususnya sikap dalam berkomunikasi

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tingkat Kedalaman Komunikasi Interpersonal

1. Komunikasi Interpersonal

a. Pengertian Komunikasi Interpersonal

Komunikasi adalah salah satu proses penting yang terjadi dalam kehidupan

manusia karena lewat komunikasi setiap individu dapat saling memberikan dan

menerima berbagai macam informasi yang nantinya berguna bagi kehidupan

mereka. Komunikasi merupakan suatu proses dimana individu-individu

membagikan informasi, ide-ide, dan perasaan-perasaan (Hybels dan Weaver,

2004). Berbagai informasi, baik ide maupun perasaan tersebut, selanjutnya akan

diolah dan disampaikan kepada orang lain dan diharapkan orang itu akan mengerti

isi pesan yang disampaikan tersebut (Hardjana, 2003). Komunikasi terjadi saat

seseorang mencoba memberitahu orang lain tentang apa yang dia pikirkan,

rasakan, dan percayai (Tjosvold dan Tjosvold, 1995). Dengan demikian, dalam

sebuah komunikasi terdapat suatu transfer (perpindahan) dan pemahaman akan

suatu pengertian tertentu (DeCenzo dan Silhanek, 2002).

Salah satu bentuk komunikasi ialah komunikasi interpersonal atau komunikasi

antar pribadi. Hardjana (2003) menyebutkan bahwa komunikasi interpersonal

adalah komunikasi yang terjadi antara satu pengirim dengan satu orang penerima

pesan. Artinya adalah bahwa komunikasi interpersonal hanya terjadi di antara dua

(29)

pembicara dan seorang lagi sebagai pendengar dimana mereka akan saling

bertukar peran secara bergantian. Namun, pendapat agak berbeda dikemukakan

Hybels dan Weaver (2004) yang menyatakan bahwa komunikasi interpersonal

adalah komunikasi dengan satu orang atau lebih. Definisi lain yang lebih

menekankan pentingnya kehadiran individu yang hadir dalam komunikasi itu

diungkapkan oleh DeCenzo dan Silhanek (2002). Menurut mereka, komunikasi

interpersonal adalah berbagai interaksi yang ada antara dua orang atau lebih

dimana masing-masing pihak yang terlibat diperlakukan sebagai pribadi (Jawa:

nguwongke) daripada hanya suatu benda atau obyek saja. Maksudnya,

penghargaan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi interpersonal

sangat dijunjung tinggi sebab mereka adalah pribadi yang perlu untuk dimengerti

dan dihormati dengan segala keunikannya.

Komunikasi interpersonal sangat banyak terjadi dalam kehidupan kita,

misalnya pada saat seseorang melakukan curhat dengan teman atau sahabat

dekatnya, saat bimbingan rohani, atau antara orang tua yang sedang mendidik

anaknya, saat seorang melakukan pengakuan dosa (salah satu bentuk ajaran yang

terdapat di dalam Gereja Katolik), saat klien berkonsultasi dengan konselor,

proses belajar mengajar di sekolah atau kampus, saat saling bertegur sapa, dan

sebagainya. Dari berbagai uraian tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa

komunikasi interpersonal terjadi saat dua orang atau lebih saling menyampaikan

berbagai informasi satu dengan yang lain atas berbagai informasi yang mereka

(30)

b. Motif Komunikasi Interpersonal

Rubin, Perse, dan Barbato (dalam Hybels dan Weaver, 2004) mengungkapkan

beberapa motif yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan komunikasi

interpersonal. Motif-motif tersebut antara lain pleasure, affection, inclusion,

escape, relaxation, dan control.

Pleasure adalah kesenangan yang didapat saat berkomunikasi dengan orang

lain, misalnya saat menggosipkan seorang artis, membicarakan klub olah raga

kesayangan, mengobrol sambil menikmati kopi, dan sebagainya.

Affection adalah perasaan kehangatan yang diperoleh saat seseorang

mengalami kebersamaan dengan orang-orang yang kita sukai. Melalui interaksi

dengan orang lain, seseorang dapat merasakan kehangatan hubungan atau

keakraban dengan orang lain.

Inclusion merupakan perasaan bahwa dirinya menjadi bagian dari suatu

kelompok tertentu. Perasaan semacam ini dapat ditemukan saat seseorang

berkomunikasi dengan orang lain. Dengan bercakap-cakap bersama

teman-temannya, dalam diri seseorang akan muncul perasaan bahwa saya adalah

bagian dari suatu kelompok sosial tertentu.

Escape atau ‘melarikan diri’ terjadi saat seseorang memiliki banyak tugas yang

harus dikerjakan dan berkeinginan untuk ‘meninggalkannya’ sejenak.

Seseorang ‘melarikan diri’ berarti menghindar atau meninggalkan sejenak

(31)

Relaxation dapat diartikan beristirahat sejenak dari berbagai kesibukan yang

ada. Dengan bertemu orang lain, seseorang dapat mencoba melepaskan

beberapa kepenatan untuk mendapatkan kesegaran baru.

Control berarti mengendalikan atau mengatur. Saat komunikasi, control dapat

dilakukan misalnya ketika seseorang memperingatkan temannya atas perilaku

tertentu sehingga tidak akan mengulangi kesalahannya. Contoh lain misalnya

seorang ayah yang melarang anaknya bermain di pinggir jalan raya.

Dengan demikian, seseorang dapat melakukan komunikasi interpersonal

karena salah satu atau sekaligus beberapa motif tersebut. Semua itu tergantung

dari kebutuhan masing-masing individu yang melakukannya.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal

Ada beberapa faktor yang turut berpengaruh dalam komunikasi interpersonal.

Lunandi (1989) menyebutkan beberapa faktor, yaitu:

1) Citra diri

Citra diri secara sederhana dapat dimengerti sebagai cara seseorang

melihat dirinya. Contohnya, seorang pemimpin memberikan perintah dengan

tegas kepada bawahannya karena merasa dirinya mempunyai kekuasaan besar

dan berwibawa. Lain lagi, pemimpin yang memiliki citra diri sebagai

motivator akan bersikap sebagai pendukung dan pemberi semangat terhadap

(32)

2) Citra Pihak Lain

Citra pihak lain berarti bagaimana seseorang memandang orang lain yang

diajak berkomunikasi. Ayah yang memandang anaknya sebagai pemalas,

bodoh, ingusan, dan tolol mungkin akan lebih bersikap keras. Sedangkan ayah

yang melihat anaknya sebagai anak yang cerdas dan pandai akan bersikap

memberikan anjuran atau pilihan-pilihan bebas kepada anaknya sehingga anak

dapat memutuskan pilihannya sendiri.

3) Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik adalah situasi di sekitar kita yang berupa benda-benda

bukan manusia. Apabila seseorang berada di dalam rumah ibadat, tentu ia

tidak akan berteriak ataupun berbicara dengan keras dibandingkan saat ia

berada di lapangan atau di pinggir jalan meski pihak yang diajaknya

berkomunikasi adalah orang yang sama.

4) Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial menunjuk keadaan masyarakat atau orang-orang di

sekitar kita. Contohnya adalah saat seseorang berada dalam acara resepsi

pernikahan, tentu ia akan berbicara secara lebih santun dibandingkan saat dia

bersama teman-temannya di kampus.

5) Kondisi

Kondisi berarti keadaan diri seseorang yang sedang melakukan proses

komunikasi. Misalnya, orang yang sedang sakit atau demam tinggi tentu tidak

akan mampu berkomunikasi banyak, tetapi hanya akan berbicara hal-hal

(33)

dalam kondisi yang sehat, orang akan lebih mudah mengkomunikasikan

berbagai pandangannya secara lebih mudah dan nyaman.

6) Bahasa Badan

Sikap badan berarti posisi fisik seseorang terhadap orang lain yang diajak

berkomunikasi. Saat seorang ayah memandangi anaknya dengan melotot dan

berkacak pinggang, anaknya tentu tidak akan berani berkata-kata dengan

berteriak atau mencoba membantah karena ia tahu kalau ayahnya sedang

marah terhadapnya.

Selain Lunandi, Gouran, Wiethoff, dan Doelger (2000) juga menyebutkan

beberapa faktor yang turut berpengaruh dalam komunikasi antar pribadi.

Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi dua kategori utama yaitu, personal

characteristics dan situational influences.

1) Personal Characteristics

Personal characteristics adalah berbagai karakteristik pribadi

pihak-pihak yang melakukan komunikasi, baik sender maupun receiver yang

meliputi pengetahuan, pola berpikir, dan latar belakang budaya. Misalnya saja,

mereka yang memiliki pola berpikir maju, tentu akan lebih berselera untuk

mengobrol dengan orang yang memiliki sifat yang sama dari pada orang yang

masih berpikirr kolot.

2) Situational Influences

Situational influences menunjuk berbagai hal di lingkungan sekitar

(34)

waktu komunikasi itu terjadi. Contohnya ialah saat di dalam tempat ibadah,

orang akan cenderung berbicara dengan suara lemah dibandingkan saat ia

berada di halamannya.

Faktor-faktor tersebut di atas akan menentukan komunikasi interpersonal

orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, setiap orang akan

melakukan komunikasi interpersonal dengan mempertimbangkan berbagai hal

yang sekiranya sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya.

2. Tingkat Kedalaman Komunikasi Interpersonal

a. Pengertian Kedalaman Komunikasi Interpersonal

Setiap bentuk komunikasi yang dibangun oleh seseorang dengan orang lain

pasti memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lain. Salah satu

perbedaan itu dapat kita lihat dari sisi tingkat atau taraf kedalamannya. Setiap

individu yang terlibat dalam komunikasi interpersonal memiliki tingkat atau taraf

kedalaman komunikasi berbeda; ada yang penuh (mendalam), bebas

mengungkapkan perasaan, dan merasa benar-benar saling menerima, ada yang ada

pula yang hanya mampu mencapai taraf komunikasi yang ringan atau di

permukaan saja. Semua itu tergantung usaha pihak-pihak yang melakukannya.

Kedalaman komunikasi interpersonal adalah sejauh mana komunikasi

menyentuh unsur-unsur yang terdalam dari pihak-pihak yang terlibat dalam

komunikasi itu. Supratiknya (1995) mengungkapkan bahwa taraf komunikasi

(35)

obyek tertentu, orang lain atau dirinya. Artinya, semakin berani seseorang

mengungkapkan perasaannya, semakin dalam komunikasi itu. Jadi untuk

mengetahui mendalam tidaknya suatu komunikasi interpersonal, kita harus

mengetahui tahap-tahap atau taraf kedalaman komunikasi interpersonal.

b. Taraf/ Tingkat Kedalaman Komunikasi Interpersonal

Ada beberapa pendapat yang mengungkapkan tentang tingkat atau taraf

kedalaman komunikasi interpersonal. Menurut John Powell (dalam Supratiknya,

1995), taraf kedalaman komunikasi interpersonal dapat dibagi ke dalam lima

tingkatan; taraf basa-basi, taraf membicarakan orang lain, taraf penyatakan

gagasan/ pendapat, taraf menyatakan perasaan, dan taraf hubungan puncak.

1) Taraf Basa-basi

Taraf basa-basi adalah taraf paling dangkal karena sebenarnya dua pihak yang

berkomunikasi tidak saling membuka diri. Taraf komunikasi ini sering terjadi saat

seseorang bertemu dengan yang lain pada saat kebetulan saja. Dengan demikian,

dalam taraf komunikasi ini setiap orang yang melakukan komunikasi tidak akan

banyak membicarakan hal lain dalam diri mereka.

2) Taraf Membicarakan orang lain

Taraf ini sebenarnya masih dangkal meski di dalamnya terdapat umpan balik.

Taraf ini ditandai dengan adanya pembicaraan tentang orang lain atau obyek lain

di luar diri pribadi yang melakukan komunikasi, bisa tentang tetangganya,

(36)

3) Taraf Menyatakan Gagasan atau Pendapat

Taraf ini ditandai dengan adanya pertukaran pendapat, ide, atau gagasan

namun masih terbatas dalam mengungkapkan pandangan. Mereka yang terlibat

dalam komunikasi taraf ini belum berani mengungkapkan perbedaan

pandangannya terhadap orang lain, tetapi masih berusaha menyenangkan lawan

bicaranya sehingga tempak belum berani menunjukkan diri apa adanya.

4) Taraf Mengungkapkan Perasaan/ Hati

Pada taraf ini, orang mulai berani mengungkapan perasaannya, membuka diri,

jujur, dan kesediaan untuk menerima orang lain. Dalam komunikasi ini, orang

mulai mengungkapkan uneg-unegnya dan berani beresiko dirinya diketahui orang

lain, namun tidak semua perasaan secara bebas dapat terungkap lewat komunilasi

taraf ini. Taraf ini dapat menimbulkan perasaan yang lega dan saling percaya

antara pihak-pihak yang berkomunikasi.

5) Taraf Hubungan Puncak

Taraf ini adalah taraf yang paling dalam karena telah ada kejujuran, sikap

terbuka, dan saling percaya yang penuh di antara pelaku komunikasi. Mereka

yang terlibat dalam komunikasi taraf ini benar-benar merasa bebas untuk saling

mengungkapkan apapun perasaan dan pemikirannya tanpa merasa takut, khawatir,

atau ragu-ragu jika kepercayaannya akan disia-siakan.

Selain John Powell, pandangan lain mengenai taraf kedalaman komunikasi

interpersonal dituliskan oleh Hardjana (2003). Ia membagi taraf kedalaman

(37)

1) Komunikasi dari mulut ke Mulut

Komunikasi ini dilakukan oleh orang-orang yang belum kenal satu sama lain

biasanya hanya untuk memenuhi kebutuhan sopan santun atau kebiasaan

setempat. Contohnya adalah seperti memberi salam “Apa kabar?” dan jawaban

“Baik-baik”. Komunikasi tingkat ini tidak dimaksudkan untuk benar-benar

membicarakan suatu hal, tetapi hanyalah basa-basi yang tidak perlu dijawab

secara serius.

2) Komunikasi dari Kepala ke Kepala

Komunikasi dalam taraf ini ditandai dengan adanya tukar gagasan atau

pandangan antara satu orang dengan yang lainnya tapi belum melibatkan

perasaan-perasaan yang ada di dalamnya. Misalnya, diskusi atau pertukaran

pendapat atau gagasan antara pihak-pihak yang berkomunikasi.

3) Komunikasi dari Hati ke hati

Komunikasi dari hati ke hati adalah komunikasi yang sudah melibatkan

perasaan. Taraf ini ditandai dengan adanya pengungkapan tentang keprihatinan,

kekhawatiran dan ketakutan, kegembiraan, harapan, dan cita-cita mereka. Sifat

yang juga muncul dalam taraf ini adalah adanya sikap saling percaya dan saling

mendukung di antara satu dengan lainnya.

4) Komunikasi dari Iman-ke Iman

Komunikasi dari iman ke iman ini biasanya berbentuk sharing pengalaman

hidup sehingga tidak hanya perasaan-perasaan saja melainkan berani menyatakan

hikmah atau nilai yang dapat dipelajari dari setiap pengalaman itu. Dalam

(38)

keyakinan, atau bahkan iman mereka dengan perasaan bebas dan saling

menerima.

Dua pandangan tersebut dapat dikatakan serupa karena sebagian besar

karakteristik muncul pada tingkatan yang sama. Namun demikian, penelitian ini

akan menggunakan model taraf kedalaman komunikasi interpersonal dari John

Powell (dalam Supratiknya 1995) yang membagi taraf kedalaman komunikasi

interpersonal ke dalam lima tingkatan. Yang menjadi pertimbangan adalah bahwa

taraf komunikasi yang disusun oleh John Powell memiliki pembagian yang lebih

banyak dan sekaligus memberikan informasi yang lebih luas dibandingkan yang

disusun oleh Hardjana sehingga memungkinkan untuk dapat dilihat variasi taraf

kedalaman komunikasi yang lebih besar.

B. Kedalaman Modeling

1. Pengertian Modeling

Ilmu psikologi memahami bahwa manusia senantiasa berkembang karena

proses belajar yang dilaluinya dalam seluruh perjalanan hidupnya. Salah satu

bentuk belajar seorang individu adalah mempelajari sikap dan perilaku sosial

dengan jalan meniru sikap dan perilaku orang lain yang menjadi model. Cara

belajar seperti ini menjadi salah satu kajian diskusi para ilmuwan psikologi

tentang proses yang lebih luas atas proses belajar yang dialami oleh seseorang

(39)

dengan imitasi, modeling, observational learning, peniruan, dan mungkin istilah

lainnya.

Apakah modeling itu? Beberapa sumber menganggap adanya kesamaan arti

antara modeling dan imitasi. Ada pula yang menganggap imitasi sebagai salah

satu bentuk modeling. Kamus Psikologi, karangan J.P. Chaplin (2003) yang

diterjemahkan oleh Dr. Kartini Kartono, mendefinisikan imitasi sebagai meniru

perbuatan orang lain dengan sengaja, sedangkan modeling diartikan dengan

belajar memberikan reaksi dengan jalan mengamati orang lain yang tengah

mereaksi. Definisi tersebut tidak begitu jelas maksudnya karena tidak ada

penjelasan lebih lanjut mengenai hal itu. Akan tetapi, di dalam kamus tersebut,

modeling juga dapat diartikan sebagai imitasi, peniruan, atau menirukan.

Pengertian mengenai modeling juga diuraikan oleh Alwisol (2006). Ia

menerjemahkan kata modeling dengan kata ‘peniruan’ meskipun istilah dalam

Bahasa Indonesia ini dirasa tidak cukup mampu mencakup keseluruhan makna

dari modeling itu sendiri. Namun demikian, penggunaan istilah “peniruan’ ini

dapat mewakili arti modeling. Ia mengartikan modeling sebagai usaha meniru dan

atau mengulangi kembali apa yang dilakukan oleh orang lain (model) dengan

jalan menambah dan atau mengurangi tingkah laku yang dapat dilihat,

menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, serta melibatkan adanya proses

kognitif (Alwisol, 2006). Dengan demikian, modeling tidak semata-mata

dimengerti sebagai meniru perilaku model secara persis, melainkan juga melihat

dinamika yang ada dalam tataran kognitif individu yang melakukannya, seperti

(40)

perilaku yang baru. Bagaimana bentuk-bentuk modeling itu terjadi, akan diuraikan

pada sub bab berikutnya.

Bandura (1986) mengungkapkan berbagai macam rumusan yang mencoba

menjelaskan mengenai arti modeling. Dalam bukunya, setidaknya terdapat 3 dasar

pendekatan untuk memahami makna dari modeling. Menurutnya, dalam konsep

lama atau tradisional, banyak di antara pemikir yang mengartikan modeling

sebagai imitasi. Mereka melihat bahwa modeling adalah proses dimana seseorang

berusaha mengikuti perbuatan-perbuatan orang lain. Seiring waktu berjalan,

pemahaman tradisional ini dirasa membatasi power yang ada dalam proses itu

Anggapan ini muncul karena modeling bukan hanya dipandang sebagai meniru

perilaku secara persis apa yang dilakukan oleh orang lain, melainkan ada proses

pengolahan dalam diri pengamat sehingga dapat menciptakan perilaku baru

dengan sedikit atau banyak variasi nantinya. Beralih kepada pandangan tradisi

kalangan psikodinamik, beberapa tokoh kepribadian dan perkembangan

mengintepretasikan modeling sebagai identifikasi. Mereka menganggap

identifikasi berasal dari proses adopsi terhadap pola-pola perilaku, representasi

simbolik model, motif-motif, nilai, idealisme-idealisme, dan kesadaran yang ada

dalam diri orang lain. Sedangkan menurut teori sosial-kognitif, modeling

menunjukkan berbagai macam proses penyesuaian psikologis karena cukup

banyak mempengaruhi dinamika seseorang jika dibandingkan dengan istilah

imitasi yang terasa lebih sempit maknanya. Oleh karenanya, wilayah

pembelajaran melalui modeling dibagi ke dalam lima bentuk fenomena, seperti

(41)

2. Kedalaman Modeling

Alwisol (2006) menyebutkan empat macam bentuk modeling yang dimengerti

sebagai tingkatan kedalaman perilaku modeling, yaitu seberapa jauh perilaku

modeling mencapai pada usaha-usaha menginternalisasikan dan

mengidentifikasikan ciri atau sifat model ke dalam diri pengamat. Kedalaman

modeling tersebut dapat kita pahami dari tingkat paling dangkal sampai yang

paling dalam, yaitu:

1) Modeling Tingkah laku Baru

Modeling tingkah laku baru adalah munculnya perilaku baru pada diri

pengamat setelah melihat perilaku dalam diri model. Munculnya tingkah laku

baru berawal dari adanya beberapa deskripsi tentang perilaku model yang

tersimpan dalam kognisi seseorang kemudian diolah menjadi suatu gambaran

mental. Tahap berikutnya, proses pengolahan ini akan digabungkan dengan

berbagai deskripsi atas berbagai pengalaman lain dalam kehidupan seseorang

sehingga nantinya akan menghasilkan suatu bentuk perilaku yang baru.

2) Modeling Mengubah Tingkah Laku Lama

Modeling mengubah tingkah laku lama adalah pengubahan pengamat terhadap

berbagai perilaku yang sudah ada dalam dirinya akibat adanya konsekuensi yang

diterima model atas perilaku tersebut. Modeling senacam ini tergantung dari

konsekuensi sosial yang ada. Apabila perilaku model diterima secara sosial, akan

terjadi penguatan perilaku yang sama atau serupa yang terdapat dalam diri

pengamat. Sebaliknya, apabila perilaku model tidak diterima secara sosial,

(42)

konsekuensi sosial inilah yang dapat mengubah perilaku lama yang ada dalam diri

pengamat, semakin memperkuat atau memperlemah perilaku yang sudah ada

sebelumnya.

3) Modeling Kondisioning

Modeling kondisioning adalah bentuk modeling yang dikombinasikan dengan

pengkondisian klasik. Modeling semacam ini banyak digunakan untuk

mempelajari respon emosional. Respon emosional akan muncul dalam diri

pengamat setelah melihat respon dalam diri model yang telah mendapat perkuatan

akan ditujukan kepada obyek yang ada di dekatnya saat ia mengamati model

tersebut atau dapat juga ditujukan terhadap obyek yang memiliki hubungan

dengan obyek yang menjadi sasaran emosional dari model. Misalnya, seseorang

yang mengalami rangsangan seksual setelah menonton film porno, melampiaskan

nafsunya kepada seorang anak di sekitarnya, seperti sering terjadi dalam

kasus-kasus pelecehan seksual anak.

4) Modeling Simbolik

Modeling simbolik menunjuk pada proses belajar atas berbagai nilai dan gaya

hidup yang tidak secara langsung tampak atau terlihat secara fisik, misalnya

tentang kejujuran, keterbukaan, kerendahatian, dan sebaginya. Modeling simbolik

bisa dilakukan terhadap beberapa sumber seperti orang lain, film, buku-buku

cerita atau komik, gambar-gambar yang ada di koran dan majalah, serta berbagai

media massa lainnya.

Modeling simbolik memungkinkan seseorang mempelajari nilai-nilai

(43)

dalam tayangan di televisi, atau dimana saja karena perilaku tokoh menghasilkan

sesuatu yang menyenangkan (reward). Mungkin juga, seseorang akan mengikuti

persepsi salah seorang yang ada dalam televisi karena ia memiliki pemahaman

yang hampir sama dengan sang tokoh terhadap sesuatu hal.

Menurut Bandura (1986), teori sosial-kognitif menggunakan 5 efek atau

fenomena dalam memahami modeling. Fenomena ini menunjukkan cakupan

wilayah belajar yang mungkin terjadi dalam peristiwa modeling. Efek atau

fenomena di sini kita mengerti sebagai bentuk-bentuk dari modeling itu sendiri.

Pembedaan ke dalam lima bentuk ini berguna untuk menghindari adanya

kebingungan jika menggunakan istilah ‘imitasi’, ‘observational learning’ dan

sekaligus menjadi semacam pengarah guna memahami mekanisme modeling.

Beberapa bentuk modeling tersebut dapat kita mengerti dari uraian di bawah ini.

1) Observational Learning Effects

Fenomena observational learning effects adalah fenomena yang terjadi saat

seseorang mempelajari berbagai kemampuan-kemampuan kognitif (intelektual),

standart pendapat, dan pola-pola perilaku yang baru dengan jalan mengamati

orang lain. Misalnya, seseorang akan menganggap kedisiplinan adalah nilai yang

paling tinggi dalam suatu tempat kerja, karena atasannya (model) mengatakan

demikian pada salah satu acara evaluasi dengan berbagai pertimbangan dan

pembahasan yang mendalam. Sebelumnya, disiplin bukan hal yang penting bagi

dia, asalkan semua pekerjaannya dilakukan dengan baik. Dengan memahami lebih

(44)

kerja, termasuk meniru kebiasaan atasannya yang datang lebih awal dari jadwal

kantor.

2) Inhibitory and Disinhibitory Effect

Efek inhibitory adalah efek yang terjadi saat pengamat mengurangi perilaku

tertentu yang telah dipelajari sebelumnya atau bersikap lebih membatasi perilaku

tersebut karena melihat model menerima konsekuensi negatif atas perilaku itu.

Contoh kasus misalnya, jika seseorang sudah tidak berani melakukan korupsi

akibat temannya yang melakukan korupsi mendapatkan hukuman.

Sedangkan efek disinhibitory terjadi saat pengamat meningkatkan

performansinya atas perilaku-perilaku yang telah dipelajari sebelumnya.

Meskipun berbagai perilaku model berbahaya atau mengancam, pengamat tetap

meningkatkan perilakunya karena berbagai perilaku itu model tidak menimbulkan

sesuatu efek yang merugikan, dalam contoh yang sama orang itu akan tetap berani

melakukan korupsi, bahkan lebih besar, akibat temannya yang melakukan korupsi

tidak mendapatkan hukuman atau dibiarkan saja.

3) Response Facilitation Effects

Setiap orang sebenarnya mampu untuk berperilaku tertentu. Namun karena

kurangnya dorongan atau dukungan sosial, ia tidak berani melakukannya.

Kenyataannya, suatu ketika seseorang akan melakukan hal itu karena adanya

dorongan dari orang lain yakni ketika orang lain (model) melakukan perilaku

yang sama atau serupa dengan apa yang sebenarnya ada dalam diri dan mampu

dilakukan, tetapi belum dilakukan, oleh pengamat. Inilah yang dinamakan

(45)

ditunjukkan oleh model menjadi suatu kekuatan pendorong terhadap

perilaku-perilaku yang sudah dipelajari sebelumnya, meskipun awalnya pengamat belum

berani melakukan. Misalnya, seseorang ingin membicarakan tentang kasus

korupsi yang terjadi pada suatu lembaga pemerintahan tetapi ia merasa takut

untuk memulainya. Saat orang lain (model) menyinggung tentang hal yang sama,

ia akan berani menyambung pembicaraan itu karena ia merasa ada dukungan dari

sosialnya.

4) Environmental Enhancement Effects

Environmental enhancement effects adalah fenomena dimana pengamat akan

menggunakan obyek yang dipakai oleh pengamat pada situasi-situasi yang

berbeda atau aktivitas-aktivitas yang memiliki tujuan berbeda. Hal itu terjadi jika

berbagai macam perilaku dari model tidak hanya menjadi penguat bagi

terbentuknya perilaku yang serupa dalam diri pengamat, namun juga

memungkinkan pengamat melakukan aktivitas lain dengan menggunakan suatu

obyek yang dipakai saat peristiwa modeling terjadi. Misalnya, saat seseorang

melihat model menggunakan sticker yang berisi nama, sebagai alat identitas

pemilik alat tulis, pada salah satu alat tulisnya, pengamat dapat meniru dengan

menggunakan sticker semacam itu pada buku-buku pribadinya.

5) Arousal Effects

Dalam berbagai proses interaksi sosial, biasanya seseorang turut

mengungkapkan emosinya lewat ekspresi mukanya. Fenomena arousal effects

menunjuk pada bangkitnya gejolak emosi yang ada dalam dalam diri pengamat

(46)

seseorang (model) mengungkapkan kekecewaannya karena dibohongi oleh

temannya, pengamat akan cenderung merasakan gejolak kecewa seperti apa yang

dirasakan oleh model. Namun pada sisi lain, pengamat juga mungkin akan

mengembangkan antisipasi dalam dirinya apabila ia menghadapi situasi-situasi

yang mirip dengan pengalaman model. Dalam kasus yang sama, pengamat akan

menyiapkan diri apabila ia juga mengalami keadaan yang serupa, misalnya

dengan mencoba bersikap lebih tenang dan lainnya.

Dari dua uraian tersebut, rumusan yang diungkapkan Bandura memiliki

penjelasan yang lebih luas dibandingkan uraian Alwisol namun uraiannya tidak

cukup mengungkap sisi tingkat kedalaman modeling. Oleh karena itu, penelitian

ini akan menggunakan konsep modeling dari Alwisol dengan pertimbangan

bahwa konteks penelitian ini adalah ingin mengenali sejauh mana internalisasi

nilai-nilai yang dilakukan pengamat terjadi melalui mekanisme belajar modeling

atas pemimpin biara sebagai modelnya

.

3. Tahapan-tahapan dalam Modeling

Modeling terjadi melalui beberapa tahapan. Bandura (dalam Boeree, 2006)

membagi proses modeling ke dalam empat tahap. Tahap-tahap tersebut antara lain

perhatian (attention), ingatan (retention), reproduksi, dan motivasi (motivation).

Perhatian (attention) adalah proses saat seorang pengamat mengalami

ketertarikan terhadap karakteristik tertentu dari model. Dengan ketertarikan,

(47)

pengamat dengan modelnya, sifat model yang atraktif, dan arti penting tingkah

laku yang diamati bagi pengamat (Alwisol, 2006).

Ingatan (Retention). Alwisol (2006) menyebutnya dengan istilah

‘representasi’, yaitu pengungkapan kembali berbagai informasi yang telah di

dapatkan sebelumnya. Ingatan terjadi setelah berbagai deskripsi yang telah

dikumpulkan saat memperhatikan model diolah kembali dan dievaluasi menurut

kemampuan kognitif baik dalam bentuk imajinasi atau verbal, sehingga

memungkinkan adanya latihan simbolik dalam pikiran tanpa perlu melakukannya

secara nyata.

Reproduksi adalah tahap seorang pengamat menerjemahkan deskripsi ke

dalam tingkah laku yang nyata. Seseorang mengubah apa yang ada dalam

pikirannya itu ke dalam suatu perilakunya.

Munculnya motivasi menjadi langkah terakhir terjadinya modeling. Motivasi

adalah dorongan yang muncul dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu.

Seseorang tidak mungkin akan melakukan suatu perilaku hasil pengamatannya

terhadap model jika ia sendiri tidak memiliki motivasi atau dorongan untuk

melakukannya. Pada bagian ini, Alwisol (2006) menambahkan pentingnya aspek

reinforcement. Motivasi untuk melakukan modeling akan semakin tinggi apabila

perilaku yang ditiru dari model mendapatkan ganjaran dari lingkungan sosialnya.

Meskipun demikian, ia menyadari bahwa tanpa ada reinforcement, modeling

dapat tetap terjadi apabila pengamat memang menemukan sesuatu hal yang positif

(48)

4. Karakteristik Model yang Mempengaruhi Terjadinya Modeling

Ada beberapa karakteristik model yang mempengaruhi seseorang melakukan

modeling antara lain usia, status sosial, seks, keramahan, dan kemampuan

(Alwisol, 2006). Usia adalah menyangkut seberapa jauh jarak umur antara

pengamat dengan model, semakin sedikit perbedaan umurnya semakin besar

peluang terjadinya modeling. Ia memberi contoh bahwa anak kecil akan lebih

tertarik meniru model yang seumuran dengannya dibanding dengan mereka yang

memiliki umur jauh di atasnya. Sedangkan status sosial adalah seberapa tinggi

atau rendah seseorang memiliki kedudukan dalam lingkungan masyarakatnya.

Orang yang memiliki status sosial tinggi dalam masyarakat misalnya pemimpin,

cenderung memiliki potensi untuk dijadikan model daripada mereka yang tidak

memilikinya. Seks menyangkut jenis kelamin pihak yang dijadikan model. Jenis

kelamin model yang sama dengan pengamat lebih sering dijadikan model.

Menurut Alwisol (2006), anak gadis akan lebih suka mengimitasi ibu daripada

ayahnya. Kehangatan menunjukkan sikap mau menerima orang lain secara akrab

misalnya, anak kecil tentu akan mengimitasi orang tuanya yang hangat dan

terbuka. Kemampuan menunjukkan berbagai kelebihan yang dimiliki model.

Seseorang akan meniru model yang memiliki prestasi lebih baik darinya.

Selain berbagai karakteristik tersebut di atas, masih ada beberapa karakteristik

yang ditulis Hergenhahn dan Olson (1997) seperti dihormati oleh banyak orang,

memiliki kekuasaan, dan memiliki sifat menarik juga cenderung dijadikan model.

(49)

orang yang menjadi pengamat (observer). Berarti di sana, ada persepsi positif

terhadap figur yang dijadikan modelnya.

Perilaku modeling dapat terjadi dimanapun sekelompok masyarakat itu

berada; rumah, lingkungan masyarakat, sekolah, tempat kerja, dan tentu juga di

sebuah komunitas biara. Modeling terjadi karena ada beberapa karakteristik model

yang turut menentukan. Biasanya, berbagai karakteristik model tersebut

disesuaikan dengan karakteristik pengamat yang akan melakukan modeling.

Artinya ialah bahwa observer atau pengamat perlu mempertimbangkan kembali

apakah karakteristik model, seperti kemampuan, gaya hidup, pola berpikir, dan

sebagainya itu, berada dalam jangkauannya; pengamat melihat keadaan dirinya

apakah ia mampu melakukan peniruan terhadap apa yang ada dalam diri

modelnya.

Peneliti memahami bahwa faktor keramahan dan keterbukaan yang ada pada

seseorang juga memiliki kekuatan dalam memunculkan modeling pada orang lain

(pengamat) karena hal ini juga memunculkan persepsi positif dalam diri pengamat

atas diri model. Keramahan dan keterbukaan itu dapat kita lihat dengan sejauh

mana seseorang mampu menerima orang lain secara hangat lewat komunikasi dan

hidup sehari-hari; keterbukaannya, kesediaan membangun kepercayaan,

kejujuran, dan sebagainya.

Dalam konteks penelitian ini, peneliti memiliki kerangka berpikir bahwa

seorang pemimpin dalam suatu kelompok yang mampu membangun keramahan

dan keterbukaan dalam komunikasi interpersonalnya memiliki peluang bagi

(50)

C. BIARA

1. Pengertian Biara

Individu-individu yang tinggal dalam biara merupakan suatu kelompok

masyarakat atau komunitas kecil dengan gaya kehidupan yang khusus karena gaya

kehidupan mereka ‘berbeda’ dengan masyarakat secara umum. Yang dimaksud

dengan ‘berbeda’ di sini tampak dalam cara hidup serta orientasinya. Berbeda

dalam gaya, misalnya memilih jalan hidup selibat, tidak menikah, serta hidup

dalam asrama, yang disebut biara, dengan berbagai peraturan bersama yang harus

ditaati oleh semua anggota di dalamnya. Selain itu, ada ciri penting yang ada

dalam kehidupan biara yakni dimana semua anggota biara diharapkan dapat

menginternalisasikan nilai-nilai religius, baik agama maupun spiritualitas, serta

menginkorporasikan (menyatukan) diri dengan tarekatnya (Prasetyo, 2001).

Biara didefinisikan sebagai tempat tinggal para pertapa atau bangunan tempat

tinggal orang laki-laki atau perempuan yang mengkhususkan diri terhadap

pelaksanaan ajaran Injil di bawah pimpinan seorang ketua menurut aturan

tarikatnya (Salim dan Salim, 1991). Orang laki-laki atau perempuan di sini kita

sebut dengan biarawan, sebutan untuk mereka yang laki-laki, dan biarawati,

sebutan untuk mereka yang perempuan. Dalam perspektif agama Katolik, biara

dapat dipahami sebagai tempat pendidikan khusus bagi mereka yang memilih

jalan hidup secara khusus, baik sebagai imam (pastor), bruder, maupun suster.

Biara merupakan bagian dari apa yang disebut dengan tarekat religius atau

(51)

tertentu. Dengan kata lain, setiap tarekat religius memiliki banyak tempat

pendidikan (baca: biara). Dalam setiap biara itulah, mereka mengolah hidup

pribadi masing-masing agar dapat menemukan kehendak Tuhan menurut corak

hidup masing-masing tarekat yang dipilihnya. Panggilan hidup sebagai biarawan

ataupun biarawati adalah sebagian dari pola hidup religius. Hakikat hidup religius

adalah bahwa hidup religius lahir dan ada untuk umat manusia dan dunia

(Darminto, 2003). Artinya adalah bahwa mereka yang dipanggil (baca: menjadi

biarawan dan biarawati) harus mampu memberikan diri mereka bagi kepentingan

semua orang demi terciptanya keadilan di dunia. Semua itu dapat diraih dengan

pembinaan yang senantiasa dilakukan sehingga setiap pribadi dapat dibentuk dan

diberdayakan menjadi pribadi yang utuh dan berkualitas melalui proses

internalisasi dan inkorporasi (Prasetyo. 2001). Figur yang memiliki peran penting

dalam biara adalah pemimpin, karena mereka akan menjadi ‘guru’ yang

senantiasa mendampingi dan mengarahkan para anggotanya untuk

memgembangkan panggilan mereka itu.

Pemahaman yang lebih luas tentang gaya hidup dalam biara dapat kita

mengerti dari perspektif pandangan Gereja Katolik. Pertama-tama, perlu kita

mengerti bahwa sejarah Gereja Katolik memiliki keanekaragaman hidup

membiara. Pada tahap awal hidup membiara, dikenal beberapa tokoh seperti

Antonius, Benediktus, dan berikutnya diikuti dengan munculnya ordo-ordo besar

seperti Ordo Santo Agustinus, Ordo Dominikan (OP), Ordo Fransiskan, dan

(52)

imam, suster, maupun bruder. Namun demikian, ada lima unsur yang muncul dari

semua hidup membiara, yaitu (Maslim, 2004);

1. hidup murni dan tidak kawin demi Kerajaan Surga

2. hidup sederhana dalam hal milik, kesenangan, hormat kepada pribadi, dan

lain-lain termasuk kesederhanaan dalam hal kerendahan hati dan mati raga

3. perhatian dan banyak waktu untuk mencari Tuhan melalui doa dan melatih

hidup batin supaya makin sesuai dengan kehendak Tuhan

4. adanya ketaatan kepada pedoman dasar sebagai pegangan untuk

berkembang dalam persatuan dengan Tuhan

5. bentuk kehidupan bersama sesuai dengan corak serikat hidup membiara

yang dipilih

Kelima unsur tersebut menentukan bentuk hakiki kehidupan yang disebut

hidup membiara (Maslim, 2004) dimana modeling terhadap pemimpinnya adalah

salah satu proses belajar yang dapat dilakukan oleh anggota di dalamnya. Dengan

belajar melalui modeling, anggota biara dapat menemukan beberapa hal yang

diharapkan oleh tarekat atas diri mereka. Semuanya itu penting meskipun dalam

perkembangannya tekanan dan corak hidup masing-masing tarekat berbeda antara

tarekat yang satu dengan tarekat yang lain.

2. Pemimpin dan Anggota: Peran sebagai Pendamping dan Yang

Didampingi dalam proses Formatio

Setiap kelompok dalam masyarakat memiliki karakter yang berbeda satu

(53)

kelompok memiliki pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu yang

khas bagi kelompok itu sebagai landasan interaksi sosial bagi anggotanya. Seperti

halnya dalam kelompok-kelompok masyarakat pada umumnya, di dalam sebuah

biara terdapat pula suatu karakter tertentu yang khas seperti aturan, struktur, atau

peran tertentu. Dalam hal peran, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Salim

dan Salim,1991), menyebutkan adanya salah satu pemimpin yang mengetuai para

anggota dalam sebuah biara. Pihak yang mengetuai inilah yang disebut dengan

pemimpin biara, sedangkan yang lain adalah anggotanya, sehingga merekalah

yang akan dipimpin.

Gereja Katolik melihat bahwa pemimpin biara bertanggung jawab dalam

proses formatio para anggotanya. Tujuannya ( Prasetyo, 2001) adalah membantu

pribadi agar mampu menginternalisasi yakni mencerna dan membatinkan cita-cita

transendensi diri Kristus sedemikian rupa sehingga menjadi alter Christus (

Kristus yang lain). Secara sederhana, formatio dapat diartikan sebagai proses

pembentukan diri para anggota suatu tarekat religius menuju karakter yang

diharapkan oleh tarekat itu melalui internalisasi nilai-nilai atau cita-cita

tarekatnya. Dalam proses ini, pembina harus mampu mendampingi perjalanan

panggilan biarawan/ biarawati anggotamya melalui ajaran dan doa (prasetyo,

2001).

Siapakah pembina yang dimaksud di sini? Prasetyo (2000) mengatakan bahwa

Roh Kudus adalah formator utama, sedangkan dalam konteks pembinaan dan

pendidikan formal, pihak formator salah satunya dipegang oleh pemimpin

(54)

tarekat religius, seorang pemimpin memiliki berbagai tanggung jawab yang cukup

besar terhadap anggotanya. Ia menyebutkan bahwa pemimpin harus berusaha agar

umat-Nya semakin bertemu dengan Kristus dan Roh Kudus sendiri dengan cara

selalu mencoba mengenali tanda-tanda pengarahan Tuhan yang telah dirasakan

anggota, mengembangkan kebiasaan memandang hidup secara rohani para

anggotanya, mengusahakan para anggota agar tetap setia pada kitab suci, dan

sebagainya.

Setiap anggota yang ada dalam sebuah komunitas biara dapat belajar

mengenai panggilan mereka. Mereka belajar mengembangkan diri pribadi mereka

secara unik dan khas, meskipun di sisi lain ada tuntutan untuk mentaati apa yang

dikehendaki oleh pemimpin mereka, baik pemimpin suatu komunitas atau

pemimpin tertinggi tarekat religiusnya karena lewat merekalah para anggota biara

akan mendapatkan ajaran dan doa (Prasetyo, 2001). Hal ini sesuai dengan

pendapat Joseph Kimu (dalam Darminto, 2005) yang mengatakan bahwa

pemimpin memiliki tugas melaksanakan kuasa atas suatu kelompok atau

komunitas tertentu dimana semua bawahan harus hormat dan taat kepadanya. Ini

bukan berarti seorang pemimpin biara berkehendak bebas melainkan berkehendak

sesuai dengan cita-cita tarekatnya. Artinya, pemimpin biara akan mendampingi

para anggota biara dalam perjalanan panggilan mereka. Secara lebih dekat dengan

bahasa rohani, Darminto (2005) mengatakan bahwa memimpin dalam tarekat

berarti memimpin sekelompok Umat Allah yang memiliki Kristus sebagai

Figur

Tabel deskripsi masing-masing aitem hasil penilaian seluruh kelompok

Tabel deskripsi

masing-masing aitem hasil penilaian seluruh kelompok p.18
Blue Print Tabel 1 Skala Kedalaman Komunikasi Interpersonal Untuk Uji coba

Blue Print

Tabel 1 Skala Kedalaman Komunikasi Interpersonal Untuk Uji coba p.76
Tabel 2

Tabel 2

p.77
Tabel 3 Hasil Nilai Skala (S) dan distribusi Penilaian (Q)

Tabel 3

Hasil Nilai Skala (S) dan distribusi Penilaian (Q) p.79
Tabel 4

Tabel 4

p.81
Tabel 5 Sebaran Aitem

Tabel 5

Sebaran Aitem p.83
Tabel 6 Sebaran Aitem

Tabel 6

Sebaran Aitem p.84
Tabel 7 Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Penelitian

Tabel 7

Jadwal Pelaksanaan Pengambilan Data Penelitian p.90
Tabel 8 Deskripsi Hasil Penelitian

Tabel 8

Deskripsi Hasil Penelitian p.93
Tabel 9 Hasil Uji Korelasi

Tabel 9

Hasil Uji Korelasi p.95
Tabel 10 Hasil Sumbangan Efektif

Tabel 10

Hasil Sumbangan Efektif p.96
Tabel Nilai Skala (S), Penyebaran (Q) dan Aitem yang dipilih Skala Kedalaman Komunikasi Interpersonal

Tabel Nilai

Skala (S), Penyebaran (Q) dan Aitem yang dipilih Skala Kedalaman Komunikasi Interpersonal p.180
Tabel Nilai Skala (S), Penyebaran (Q) dan Aitem yang dipilih Skala Kedalaman Modeling

Tabel Nilai

Skala (S), Penyebaran (Q) dan Aitem yang dipilih Skala Kedalaman Modeling p.182
Tabel Hasil Uji Normalitas

Tabel Hasil

Uji Normalitas p.205
Tabel Hasil Uji Korelasi Antara

Tabel Hasil

Uji Korelasi Antara p.209

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Anggota dan pemimpin