Irana Eka Putri
NRP.
2410 100 010
Dosen Pembimbing : Dr-Ing. Doty D Risanti, ST., MT.
JurusanTeknik Fisika, InstitutTeknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 20 Januari 2014
Self cleaning cat tembok
(Kusmahetingsih, 2012)
Pengolahan limbah
(Slamet, 2007)
Sensor kelembaban
(Hasan, 2010)
Dye-sensitized Solar Cell
(DSSC)
anatase
rutile
brokite
Rutile secara
termodinamik
diketahui lebih stabil
daripada anatase
atau brookite
(Zhang, 1998).
(Zhang, 1998)
TiCl3
Metode kopresipitasi
Rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana hasil laju
pertumbuhan partikel TiO
2yang dihasilkan dari proses sintesis
menggunakan variasi suhu dan waktu pemanasan, serta pH ?
Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hasil laju pertumbuhan
partikel TiO
2yang dihasilkan dari proses sintesis
Proses sintesis TiO
2dilakukan pada suasana basa dengan
menggunakan NH
4OH yang dilarutkan bersama dengan
HCl 2M
pH yang digunakan saat sintesis TiO
2adalah rentang pH
basa lemah yaitu 8 – 10
Temperatur untuk pemanasan TiO
2yaitu antara
200-1000
oC dan waktu antara 2 – 10 jam
TiO2 adalah material semikonduktor yang memiliki 3 fase,
antara lain anatase, rutile, dan rutile.
Metode kopresipitasi merupakan
metode sintesis bottom up yang
digunakan untuk mendapatkan
ukuran partikel kecil berukuran
nanometer (Rahmawati,
2012
).
Dengan menggunakan metode
kopresipitasi, didapatkan material
berbentuk padatan (solid) dari
presipitatnya yang berbentuk
cairan (aqueous) (Zhu,
2003
).
Efek Gibbs-Thomson sangat besar berpengaruh pada tahapan nukleasi.
Preparasi alat dan bahan.
Bahan :
1. TiCl3
2. Aquades
3. HCl 2M 20%
4. NH4OH 2M 25%
5. Alkohol 96%
Alat :
1. Hotplate dan magnetic stirrer
2. Gelas beker
3. Crucible 50 ml
4. Pipet
5. pHmeter
6. Spatula
7. Gelas ukur
8. Gunting
9. Mortar
10. Kertas filter
Sintesis TiO
2menggunakan metode
kopresipitasi.
1. TiCl
3sebanyak 10 ml detambahkan dengan 5
ml larutan HCl (HCl 0,3 ml dan air 4,7 ml)
dicampur sampai homogen menggunakan
magnetic stirrer dengan temperatur hotplate
sebesar 45
oC.
2. Kemudian ditambahkan HCl sebanyak 20 ml
dan NH
4OH 50 ml. Lalu dicampur kembali
hingga homogen.
3. Setelah itu ditambahkan NH
4OH sebanyak 50
ml dan dicampur kembali hingga homogen.
Penambahan NH
4OH dilakukan secara terus
menerus sebanyak 50 ml sampai muncul
endapan putih, lalu pengadukan dihentikan
selama ± 1 menit
.
4. Selanjutnya ditambahkan sebanyak 500 ml,
lalu pengadukan dilakukan kembali sampai
larutan berwarna putih.
Pengujian.
1. Pengujian pertama adalah XRD (X-Ray
Diffraction) menggunakan sudut pendek
antara 15
O– 65
O2. Pengujian berikutnya adalah BET untuk
mengetahui ukuran pori dan
surface area
Analisa dan Pembahasan.
Analisa dan pembahasan meliputi pengaruh
variasi temperatur dan waktu pemanasan,
serta pH pada hasil ukuran partikel yang
dihasilkan.
√
√
√
√
√
√
√
θ β λ cos 92 , 0 = D θ β λ cos 92 , 0 = D
Hasil kurva XRD menunjukkan fase mayoritas adalah anatase untuk temperatur pengujian 200 -800°C. Partikel anatase yang besar merupakan daya dorong (driving force) transformasi dari
anatase ke rutile (Renade, 2002). Sedangkan pada 1000°C mayoritas rutile. Transformasi fasa TiO2
dari anatase ke rutile terjadi pada temperatur
rendah dan berakhir pada temperatur tinggi (Ding, 2007).
Fase perubahan warna larutan saat proses sintesis menggunakan NH4OH bekas dan baru memiliki perbedaan. Perlu dilakukan penambahan NH4OH sebanyak 2 kali untuk mendapatkan fase perubahan warna yang sesuai dengan refrensi.
NH4OH bekas hasil sintesis sudah berubah menjadi NH4Cl memiliki kemurnian atau molaritas tidak sama dengan NH4OH baru (Hunter, 1998).
θ β λ cos 92 , 0 = D θ β λ cos 92 , 0 = D
Persamaan Scherrer (Tanaka, 2011) :
Perubahan fase anatase ke rutile terjadi pada daerah
stasioner (LaMer, 1954). Daerah stasioner terjadi pada
temperatur 550-600°C. dan pertumbuhan ukuran partikel semakin cepat pada temperatur 800-1000°C.
θ β λ cos 92 , 0 = D θ β λ cos 92 , 0 = D
Persamaan Scherrer (Tanaka, 2011) :
Selisih ukuran partikel 30-60 nm. NH4OH bekas
hasil sintesis sudah berubah menjadi NH4Cl memiliki kemurnian atau
molaritas tidak sama dengan NH4OH baru
Persamaan Gibbs-Thomson (Tanaka, 2011) :
Pertumbuhan partikel akan lebih cepat pada temperatur tinggi dan laju pertumbuhannya dapat ditentukan oleh pengaruh waktu (Reyes-Coronado, 2008).
Persamaan rasion pertumbuhan rutile (Ding, 1997) :
Pertumbuhan rutile terjadi pada kombinasi temperatur dan waktu pemanasan yang tinggi.
Perubahan fase anatase ke rutile terjadi pada daerah stasioner (550 – 600°C)
Persamaan Arhenius (Zhang, 1999) :
Semakin besar nilai k0 maka
energi yang dibutuhkan partikel untuk merubah fase dari
anatase ke rutile (Ea) akan semakin besar. Kebutuhan energi aktivasi yang besar sebanding dengan ukuran
partikel yang terbentuk (Zhang, 1999)
Temperatur (°C) Waktu (jam) Surface Area (m2/g) Diameter Pori (nm) Volume Pori (cc/g) 200 2 82,462 3,351 0,216 4 40,572 5,655 0,162 10 50,907 12,656 0,208 400 2 97,191 9,625 0,304 4 103,344 9,713 0,306 10 74,222 7,909 0,227 550 2 29,365 9,520 0,343 4 94,083 9,635 0,317 10 76,362 7,909 0,234 600 2 66,958 9,485 0,469 4 100,323 9,685 0,350 10 86,847 7,913 0,255 800 2 50,455 9,700 0,232 4 46,131 12,360 0,211 10 90,359 7,913 0,265 1000 2 22,739 6,486 0,090 4 25,497 6,686 0,101
200 C
600 C
400 C 550 C
2 Jam 4 Jam
10 Jam
Pertumbuhan volume partikel yang relatif sama menunjukkan partikel
tersebut telah mencapai batas kritis atau setimbang (
equilibrium
) dan energi
10 Jam 4 Jam
Rasio agglumerasi terendah didapatkan setelah waktu pemanasan 10 jam. Nilai
surface area yang semakin kecil menyebabkan terjadinya proses agglumerasi kasar (hard agglumeration) (Hsiang, 2007) sehingga ukuran partikel yang terbentuk jauh lebih besar.
Persamaan rasio agglumerasi
AN(50) (Hsiang, 2007):
Kinetika pertumbuhan partikel TiO2 berlangsung pada temperatur
pemanasan yang tinggi.
Hasan, Erzam S. dkk. 2010. “Karakteristik Lapisan Titanium Dioksida (TiO2) Sebagai Bahan Dielektrik Sensor Kelembaban Jenis Kapasitif”. Jurnal Aplikasi Fisika Vol: 6 No: 2.
Kusmahetiningsih, Nining. 2012. “Aplikasi TiO2Sebagai Self Cleaning pada cat Tembok dengan Dispersant Polietilen Glikol (PEG)”. Jurnal Teknik PomitsVol: 1 No: 1 (2012) 1-5.
Slamet. dkk. 2007. “Pengolahan Limbah Cr(VI) dan Fenol dengan Fotokatalis serbuk TiO2dan CuO/TiO2”. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. ReaktorVol: 11 No: 2 Hal: 78-85.
Hsiang, Hsing-I. Lin, Shih-Chung. 2007. “Effect of Aging on Nanocrystalline Anatase-to-Rutile Phase Transformation Kinetics”. Ceramic Internation Journal of Science Direct Volume 34 (2008) pp. 557-561.
Mehranpour, H. Askari, Masoud. Ghamsari, M Sasani. 2011. “Nucleation and Growth of TiO2Nanoparticles”.
Nanomaterials ISBN 978-953-307-913-4.
Zhang, Hengzhong. Bandfield, Jillian F. 1999. “New Kinetic Model for The Nanocrystalline Anatase-to-rutile Transformation Revealing Rate Dependence on Number of Particles”. Americal Mineralogist, Volume 84, pp. 528-535.
Ding, Xing-Zhao. Liu, Xiang-Huai. 1997. “Correlation Between Anatase-to-Rutile transformation and Grain Growth in Nanocrystalline Titania Powders”. Journal of Materials Research Vol. 13, No. 9 pp. 2556-2559.
Reyes-Coronado, D. Rodríguez-Gattorno, G. Espinosa-Pesquiera, M E. Cab, C. de Coss, R. Oskam, G. 2008. “Phase-pure TiO2Nanoparticles: Anatase, Brookite and Rutile”. NanotechnologyVolume 19,145605 (10pp), IOP Publishing Ltd: UK.
Renade, M R. Navrotsky, A. Zhang, H Z. Banfield, J F. Elder, S H. Zaban, A. Borse, P H. Kulkarni, S K. Doran, G S. Whitfield, H J. 2002. “Energetics of Nanocrystalline TiO2” PNASVol. 99, pp.6476-6481.
Temp (OC) 200 400 550 600 800 1000 time (hour) 2 4 10 2 4 10 2 4 10 2 4 10 2 4 10 2 4 XRD