BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Pada penelitian ini, peneliti merujuk beberepa penelitian lain yang memiliki relevansi dengan apa

Teks penuh

(1)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu

Pada penelitian ini, peneliti merujuk beberepa penelitian lain yang memiliki relevansi dengan apa yang diteliti. Adapun penelitian tersebut memiliki kemiripan dari konsep penelitian, subjek penelitian, dan lain-lain yang kiranya dapat menambah masukan dan pengetahuan, agar membuat penelitian ini lebih komprehensif.

Dengan membaca dan merujuk penelitian terdahulu, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peneliti. Pertama, agar peneliti mampu memperkaya pengetahuan mengenai topik yang sejenis, terutama berkaitan dengan konsep dan metode penelitian yang digunakan. Kedua, agar peneliti yakin dalam menentukan cara pandang terhadap fenomena, paradigma, konsep ataupun teori yang digunakan dalam penelitian ini.

Selain itu, laporan penelitian terdahulu juga digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai orisinalitas ide penelitian yang dilakukan dan melanjutkan penelitian terdahulu yang sekiranya masih bisa dikembangkan. Hasil penelitian berupa rekomnedasi dan evaluasi dapat dijadikan sebagai masukan yang bermanfaat untuk penelitian ini.

Adapun penelitian yang menjadi referensi bagi peneliti berasal dari penelitian terdahulu yang relevan. Penelitian tersebut diperoleh dari penelitian yang dilakukan oleh Dennox Ayu Dewi Bastian pada tahun 2018 dengan judul “Unsur Sensasionalitas Pada Media Siber Beritajatim.com dan Kabarjawatimur.com”. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya adalah sama-sama mengaplikasikan analisis konten kuantitatif dalam metodenya yang mencakup judul dan teks berita. Sedangkan perbedaannya terletak pada obyek dan fokus isi penelitiannya, peneliti menggunakan konsep perbadingan penerapan jurnalisme entertainment pada pemberitaan artis, sedangkan penelitian tersebut meniliti konsep tentang unsur sensasionalitas pada pemberitaan kriminal media siber yang mana pemberitaan tersebut seharusnya mengacu pada kaidah resmi jurnalistik.

(2)

11

Penelitian yang dilakukan Dennox Ayu Dewi Bastian tersebut memperoleh hasil bahwa persentase kemunculan judul sensasional pada berita-berita kriminal edisi 1-31 Agustus 2018 di portal berita online Kabarjawatimur.com lebih tinggi dibandingkan Beritajatim.com. Namun, pada media Beritajatim.com, persentase kemunculan teks berita sensasional serta foto sensational lebih tinggi dibandingkan Kabarjawatimur.com. Kemudian didapatkan hasil pula bahwa aspek judul berita yang menjadi dominan mengandung sensasi dibandingkan aspek teks berita dan foto berita. Dan dapat disimpulkan bahwa kedua media online tersebut sama-sama menganggap judul berita sebagai unsur yang paling penting dalam menarik minat pembaca pada media siber atau portal media online.

2.2 Kajian Teoritis 2.2.1 Ekologi Media

Menurut Ochum (1994:3) dalam Achmad (2018), secara harfiahnya ekologi merupakan pengkajian organisme-organisme “di rumah”. Pengkajian ini biasanya didefinisikan sebagai pengkajian hubungan organisme atau kelompok organisme terhadap lingkungannya, atau bisa juga diartkan sebagai hubungan timbal balik antara organisme-organisme hidup dan lingkungannya. Ekologi ini juga bersifat interdisipliner karena mengerti dan memahami hubungan antara organisme dengan lingkungannya harus ditarik beberapa pengertian dari banyak bidang.

Dalam kajian media, ekologi media merupakan hubungan timbal balik antara media massa dengan lingkungan penunjang hidupnya, hal ini seperti yang dikemukakan Sendjaja (1993) dan menurut Marshall Mcluhan (1997) dalam Achmad (2018) ekologi media berarti menyusun beberapa media yang beragama untuk membantu sesama sehingga mereka engga keluar dari rangkaian tersebut atau keluar dari tatanan yang telah terbentuk karena pada hakikatnya mereka saling menunjang satu sama lainnya.

2.2.2 Teori Niche

Menurut Dimmick (1984) dalam Novi (2009), Niche didefinisikan sebagai sebuah komponen dari lingkungan yang mana organisasi atau populasi tersebut berinteraksi. Ruang kehidupan dan tingkat persaingan media secara ekologis dapat diriset dengan cara kuantitatif dengan menghitung jumlah besaran nichenya.

(3)

12

Adapun hasil penelitian MT. Hannan, J. Freeman, dan H. Aldrich yang dikutip Dimmick dalam Novi (2009) mengemukakan bahwa penelitian mereka mengenai ekologi dan penerapannya pada organisasi makrososial menunjukkan bahwa teori niche dapat diterapkan untuk menganalisa persaingan antar industri media massa. Persaingan ini berupa persaingan antar populasi atau anggota populasi, contohnya persaingan antar media siber, televisi, ataupun surat kabar.

Menurut teori ini, dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, setiap makhluk memerlukan sumber penunjang yang ada disekitarnya. Apalbila sumber penunjang kehidupan itu sama dan jumlahnya terbatas maka akan terjadi persaingan atau perebutan. Dalam melakukan riset tingkat kompetisi antar media massa, baik surat kabar, radio, televisi, dan media siber, teori in dapat digunakan. Karena teori ini mengukur persaingan antar program dari beberapa perusahaan. Teori Niche muncul dari disiplin ekologi. Namun pada penelitian ini, peneliti menggunakan teori niche ini hanya sebagai pendukung dari beberapa kajian unsur teori lain.

2.2.3 Komunikasi Massa

Manusia tidak akan pernah lepas dari kebutuhan akan komunikasi karena merupakan makhluk sosial. Di mana ketika berkomunikasi dengan orang lain, bermanfaat dan memiliki peran dalam kegiatan sehari-hari. Tujuan manusia berkomunikasi adalah untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, kemudian memiliki tujuan untuk membangun kontak sosial dengan orang di sekitar kita, dan mempengaruhi orang lain untuk merasa, berpikir, atau berperilaku seperti yang kita inginkan, hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Thomas M. Scheidel dalam Mulyana (2007:4).

Komunikasi kemudian terbagi menjadi empat macam tipe seperti yang dikemukakan oleh Cangara (2016 : 34) pada buku karyanya yang berjudul Pengantar studi komunikasi, yaitu komunikasi intrapersonal (dengan diri sendiri), komunikasi interpersonal (antar pribadi), komunikasi dengan publik, dan komunikassi massal.

2.2.2 Pengertian Komunikasi Massa

Proses komunikasi yang berlangsung di mana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang

(4)

13

bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar, dan film merupakan definisi dari komunikasi massa (Cangara, 2016 : 41).

Sama halnya dengan arti komunikasi massa yang juga dipaparkan oleh Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988), bahwa komunikasi massa merupakan sebuah proses di mana pesan-pesan yang diproduksi secara massal atau tidak sedikit itu disebutkan kepada massa penerima pesan yang luas, anonim, dan heterogen. Sementara itu, menurut Joseph A. Devito, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luarbiasa banyakanya. Serta, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang berupa audio dan atau visual (Nurudin, 2017:12).

Kemudian, dapat ditarik kesimpulan dari beberapa definisi komunikasi massa di atas bahwasannya komunikasi massa massa merupakan sebuah proses dari komunikasi yang mana konten sebuah pesan diproduksi secara mayoritas, disalurkan dengan bantuan media, serta komunikannya adalah heterogen.

2.2.3 Ciri-ciri Komunikasi Massa

Satu dari sekian ciri komunikasi massa ialah komunikan yang berbeda dan beragam. Ciri teoritis yang dikemukakan McQuail (2011:62) tentang komunikasi massa antara lain: banyak orang yang saat ini menjadi terpaan yang disebut media massa. Ikon audiens dapat memengaruhi proses komunikasi. Fitur teoritis dari proses komunikasi massa (McQuail, 2011:62):

a. Terdapat bukti pengirim dan penerima kontent berlebihan dalam jumlah besar, dibuktikan penerimaan konten dalam jumlah besar.

b. Pesan beraliran searah

c. Hubungan yang tidak simetri antara sender dan receiver, dan dicirikan oleh jarak fisik dan sosial. Pengirim umunya menerima pengalaman, kekuatan, atau rasa hormat khusus dari mereka yang menerima konten. d. Hubungan khalayak anonim dan bukan personal

e. Hubungan jual beli atau diperhitungkan dengan khalayak f. Ada komodifikasi dan standarisasi konten.

2.2.4 Elemen-elemen Komunikasi Massa

Adapun elemen-elemen yang terdapat pada komunikasi massa, antara lain (Nurudin, 2017:96-113):

(5)

14 a. Komunikator

Komunikator pada komunikasi ini berbeda karena ada komunikasi dengan koneksi lain.

b. Isi

Berbeda lembaga media, berbeda juga konten yang dipublikasikannya. Karena pers mendukung khalayak yang berbeda, berlaku untuk kelompok masyarakat dan indivdu.

c. Audience

Audience adalah pembaca, penonton, atau pendengar yang menerima berita atau informasi melalui media.

d. Feedback

Apa yang terjadi di media sosial adalah tanggapan tidak langsung. Komunikator merespons komunikasi pada waktu tertentu dan berbeda dari komunikasi tatap muka langsung.

e. Gangguan

Dalam komunikasi massa, biasanya ada gangguan komunikasi skala besar. Semakin maju teknologi digunakan dalam masyarakat, semakin besar kemungkinan akan ada gangguan dan lebih banyak program akan ditawarkan.

f. Gatekeeper

Orang yang sebagai penjaga gerbang informasi. Seperti yang diketahui, banyak orang yang ingin berbicara di media. Mereka inilah yang bertanggung jawab untuk memilih informasi yang akan diterbitkan. g. Pengatur

Pengatur di sini adalah masyarakat, pemerintah, dan lembaga sosial. h. Filter

Filter terlihat seperti bingkai kinerja yang dapat dilihat oleh pemirsa di seluruh dunia. Ini berarti bahwa dunia pertanyaan yang sebenarnya tergantung pada kerangka kerja itu. Beberapa filter terkait dengan fisik, mental, budaya, dan informasi.

(6)

15 2.2.5 Fungsi Komunikasi Massa

Adapun fungsi komunikasi massa (Effendy, 2003:26-28), antara lain: a. Informasi, sebagai pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran

berita, data, gambar, fakta dan pesan, opini dan komentar yang dibutuhkan agar orang dapat mengerti dan bereaksi secara jelas terhadap kondisi yang ada sehingga keputusan yang benar pun dapat diambil.

b. Sosialisasi, sebagai penyedia informasi agar orang bersikap sebagai seorang masyarakat yang aktif yang menyebabkan orang tersebut sadar dengan fungsi sosialnya.

c. Motivasi, mendorong seseorang ketika menentukan pilihan keingnan dan jadi penjelas tujuan jangka pendek atau panjang.

d. Perdebatan dan diskusi, untuk menyediakan dan saling menukar fakta yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah atau untuk memungkinkan persetujuan, menyediakan bukti yang relevan yang diperlukan untuk kepentingan umum.

e. Pendidikan, sebagai pengalihan ilmu pengetahuan sehingga mendorong perkembangan intelektual, pembentukan watak, pendidikan keterampilan serta kemahiran untuk semua bidang kehidupan.

f. Memajukan kebudayaan, sebagai penyebarluasan hasil kebudayaan dan seni dengan maksud melestarikan masa lalu serta mengembangkan kebudayaan.

g. Hiburan, sebagai penyebarluasaan sinyal, simbol, suara dan citra dari drama tari, musik, olahraga, dan sebagainya untuk rekreasi kelompok atau individu.

h. Integrasi, menyediakan saluran bagi bangsa, kelompok atau individu untuk memperoleh berbagai pesan yang diperlukan agar dapat saling mengerti dan menghargai kondisi, pandangan, juga keinginan orang lain.

(7)

16 2.2.6 Efek Komunikasi Massa

Efek di komunikasi massa dapat terbagi menjadi beberapa bagian, di mana Keith R. Stam dan John E. Bowes (1990) membagi dua bagian utama dari dampak komunikasi ini (Nurudin, 2017: 206-2011), yakni:

1. Efek Primer

Efek primer ini meliputi terpaan, perhatian dan pemahaman. Ketika ada dua orang sedang tertawa bersamaan, kadang ada salah satu diantaranya yang mengganggukkan atau menggelengkap kepada. Sata itu kita yakin telah terjadi terjadi proses komunikasi antara dua orang tersebut, berarti efek komunikasi sudah melekat pada diri kita. Jadi, betapa kita tidak bisa lepas begitu saja dari efek yang terjadi di sekitar kita. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa efek primer terjadi jika ada orang mengatakan telah terjadi proses komunikasi terhadap objek yang dilihatnya.

Jadi, terpaan media massa yang mengenai audience menjadi salah satu bentuefek primer. Akan lebih bagus lagi jika audience tersebut memperhatikan pesan-pesan media massa. Sama seperti kita yang memperhatikan orang yang sedang berbicara, ketika kita memperhaikan, berarti ada efek primeryang terjadi pada diri kita. Bahkan jika kita memahami apa yang disiarkan media massa, itu sama saja semakin kuat efek primer yang terjadi.

2. Efek Sekunder

Efek sekunder meliputi perubahan tingkat kognifit (perubaha pengetahuan dan sikap), dan perubahan perilaku (menerima dan memilih). Ada banyak efek yang ditmbulkan oleh saluran komunikasi massa, tetapi dalam efek sekunder kita akan mencoba membahas efek uses and gratifications (kegunaan dan kepuasan). Swanson (1979), ide dasar yang melatar belakangi efek ini adalah bahwa “audiencer” aktif di dalam memanfaatkan media massa. Menurut John R. Bittner (1996), fokus utama efek ini adalah tidak hanya bagaimana media mempengaruhi audience, tetapi juga bagaimana audience mereaksi pesan-pesan media yang sampai pada dirinya. Faktor interaksi yang terjadi antar individu akan ikut mempengaruhi pesan yang diterima.

(8)

17

Onong Uchjana Effendy (2007) dalam bukunya Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi, mengatakan bahwa dampak pesan yang disampaikan melalui media disampaikan kepada tujuan komunikasi. Oleh karena itu, efek dari perubahan psikologis adalah turun temurun pada pendengar. Adapun efek komunikasi spektrum luas. Efenndy juga memisahkan efek komunikasi massa menjadi tiga macam, yaitu: Efek Kognitif, berhubungan dengan pikiran atau penalaran sehingga khalayak yang semula tidak tahu atau tidak mengerti dan bingung menjadi merasa jelas.

1. Kognitif, yang semula tidak tahu menjadi tahu karena berhubungan dengan penalaran atau pemikiran.

2. Afektif, munculnya perasaan atau emosional setelah mendapatkan informasi dari media, dan efek ini berkaitan dengan emosional perasaan.

3. Behavioral, dari tekad berbuah menjadi tindakan nyata setelah terpapar media.

2.2.7 Media Massa

Komunikasi massa dengan media massa memang tak terlepaskan, hal tersebut dikarenakan media massa adalah medium pada komunikasi massa. Seperti halnya yang diungkapkan Effendy (2007:80), bahwa komunikasi massa adalah proses komunikasi yang menyebarkan banyak informasi, ide, dan hubungan yang berbeda dengan bantuan media.

Sedangkan definisi media massa itu sendiri adalah alat atau sasaran yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber (komunikator) kepada khalayak (komunikan) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis, seperti surat kabar, radio, tv, film dan internet (Suryawati, 2011, dalam Asprilla, 2018).

2.2.8 Media Jurnalistik

Di dalam ruang lingkup jurnalisme, pekerjaan seorang jurnalis di lapangan berkembang menjadi ranah berikut (Nurudin, 2009:13-18):

1. Jurnalisme Cetak

Berhubungan dengan media cetak berupa surat kabar dan majalah. Berita yang dipublikasikan pada media ini memiliki karakteristik yang

(9)

18

beragam. Gaya penulisan berita ditulis dengan menggunakan metode piramida terbalik atau dengan gaya berkisah.

2. Jurnalisme Siaran

Jurnalisme ini berupa berita yang disajikan melalui televisi dan radio. Berita yang dipublikasikan disiarkan dalam bentuk suara atau audio, dan juga dalam bentuk audio visual

3. Jurnalisme Online

Berita pada jurnalisme online dipublikasikan dengan memanfaatkan bantuan internet. Jurnalis dapat mempublikasikan berita dan informasi dengan bebas, tidak terikat dengan waktu, tempat, secara cepat, dan juga bervariatif.

Ruang lingkup jurnalisme ini didasarkan pada plaform yang digunakan dalam menyampaikan berita dan informasi kepada khalayak. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan peluang bagi jurnalisme online untuk terus berkembang. Tetapi tidak menutup kemungkinan jurnalisme cetak kehilangan eksistensinya, alaupun beberapa media cetak masih bertahan di tengah gempuran media jurnalisme online.

2.2.9 Media Online

2.2.9.1 Sejarah Perkembangan Media Online Indonesia

Margianto dan Sefullah (2014:15-22) dalam bukunya yang berjudul Media Online memaparkan jika munculnya jasa layanan internet komersil di tahun 1994 merupakan awal dari perkembangan media online di Indonesia. Di tahun yang sama, muncul portal berita pertama di Indonesia yakni Republika Online. Disusul kemudian oleh Tempo.co di tahun 1996, sebagai wujud ketidakpuasan karena pembredelan yang terjadi di tahun 1994. Kemudian di tahun 1997, Bisnis.com dan Kompas.com muncul dalam versi online. Yang mana kedua media tersebut hanya memindahkan versi cetak ke dalam platform online. Detik.com kemudian menyusul di tahun 1998, saat itu Detik.com muncul dengan karakteristik berita straight to the point, di tengah anggapan media online saat itu masih bersifat statis. Namun di tahun 2000 hingga 2003, banyak media online yang gulung tikar karena pertumbuhan bisnis yang tidak bagus dan tidak sesuai dengan dana investornya.

(10)

19

Pada tahun 2004, muncullah media online dengan format yang terbilang baru dan unik, yakni Kapanlagi.com. Media online yang satu ini dinilai unik karena memberitakan berita-berita hiburan atau seputar dunia entertainment saja. Momen kebangkita media online Indonesia ditandai dengan munculnya Okezone.com di tahun 2007, sehingga pada tahun-tahun berikutnya bermunculan media online lain, salah satunya adalah Tribunnews dan Tribunstyle.com

2.2.9.2 Pengertian Media Online

Dengan adanya fitur dan karakteristik baru, media online dianggap sebagai tipe jurnalisme baru jika dibandingkan dengan fitur dan karakteristik media konvensional lainnya. Fitur-fitu unik ini terkemuka dalam segi teknologinya, dan menawarkan peluang yang tidak terbatas dalam hal produksi dan distribusi beritanya. (Santan K., 2005:137) dalam Wibawa, 2012).

Media online disebut juga dengan media siber (cyber media), media internet, dan media baru. Sehingga dapat diartikan pula sebagai media yang menyajikan berita melalui platform situs web atau website dengan akses internet. Media ini juga bisa dibilang sebagai media “generasi ketiga” setelah kemunculan media cetak seperti surat kabar, mahalah, buku, dan media elektronik seperti televisi, radio, dan film (Romli, 2018:34).

Menurut definisi dan pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa media online merupakan salah satu jenis media baru dalam ranah jurnalisme. Karena disajikan dalam platform berbeda yaitu melalui website dan memelurkan akses internet untuk dapat mengakses beritanya.

2.2.9.3 Karakteristik Media Online

Romli (2018:37-38) memaparkan bahwa media online memiliki karakteristik yang lebih unggul jika dibandingkan dengan media konvensional seperti media cetak dan elektronik. Karakteristik media online tersebut, yakni:

a. Dapat mempublikasikan konten berita atau informasi berupa multimedia, seperti gabungan teks, audio, video, grafis, dan gambar. b. Informasinya aktual karena mudah dan cepat dalam proses

penyajiannya.

c. Cepat, karena saat itu juga dapat dipublikasikan dan bisa diakses oleh khalayak.

(11)

20

d. Pembaruan informasi dapat dikerjakan secara cepat, baik dari segi konten ataupun dari sisi redaksionalnya. Ketika misalkan ada kesalahan penulisan atau ejaan.

e. Media online memiliki kapasitas luas dengan halaman web yang menampung banyak tulisan maupun foto.

f. Proses pengerjaan naskah berita dan editing dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Begitu pula dengan jadwal terbitnya, semua serba fleksibel.

g. Jangkauannya luas karena internet dapat diakses dari seluruh dunia h. Terdapat fitur kolom komentar atau chat room yang interaktif

i. Informasi yang telah dipublikasikan dapat diakses dan ditemukan dengan mudah hanya dengan melalui link, tags, dan fitur search. Namun, menurut Romli (2018:38) ada pula beberapa hal yang menjadi kelemahan dan kekurangan dari media online, yaitu:

a. Media online hanya bergantung dengan perangkat elektronik seperti komputer dan smartphone, juga tidak bisa lepas dari koneksi internet. Begitu pula dengan aliran listrik atau daya baterei habis juga menjadi kelemahan dari media online karena tidak bisa diakses tanpa adanya beberapa hal tersebut.

b. Sembarang orang yang tidak memiliki latar belakang dunia jurnalistik akan bisa memiliki media online-nya sendiri. Karenanya banyak pula media online yang hanya bergantung dari copy-paste situs berita lain. c. Dapat menimbulkan kelelahan mata akibat terlalu lama menatap layar

monitor ataupun smartphone.

d. Tingkat akurasi berita terabaikan karena media online lebih cenderung mengutamakan kecepatan daripada faktualitas dan ketepatan berita. 2.2.10 Entertainment

2.2.10.1 Sejarah Entertainment

Menurut John Vivian (2008) dalam bukunya yang berjudul Teori Komunikasi Massa, sebelum zaman munculnya tulisan, Entertainment (dunia hiburan) telah ada sejak masa itu. Pada masa prasejarah, musik telah ditemukan. Begitu pula dengan seni lukis yang sudah ditemukan ada sejak zaman prasejarah.

(12)

21

Entertainment kemudian berkembang dan bertahan hidup melalui abad demi abad antara lain seperti musik, literatur (sastra), sport, dan seks. Kemudian muncul temuan baru dalam dunia hiburan seperti seni pertunjukan dan seni visual.

Dimulai sejak mesin cetak Gutenberg pada 1440-an, membuat Entertainment menjadi sebuah karya yang berbeda. Pesan, yang juga di dalamnya termasuk produk hiburan, dapat diproduksi secara massal untuk menjangkau audien yang amat besar. Era muncul mesin cetak Gutenberg ini memunculkan karya-karya sastra yang dapat dijangkau oleh banyak pembaca. Sekarang ini literatur telah berkembang menjadi berbagai macam bentuk, mulai dari yang serius-akademis seperti tradisi Milton hingga novel pop picisan dan Western-tidak semuanya muncul dalam bentuk cetak.

Selah teknologi media masuk ke bentuk fotografi dan elektronik, literatur kemudian beradaptasi dengan media baru. Film-film memperluas jangkauan dan bentuk artistik buku. Demikian juga dengan radio dan televisi. Musik yang awalnya termasuk barang langka sebelum ada teknologi rekaman, kini sudah bisa dinikmati kapanpun dan di manapun. (Vivian, 2008:397-398).

2.2.10.2 Genre Entertainment

Agar dapat memahami lanskap hiburan yang besar dan terus berkembang di media massa, orang telah menyusun genre yang membagi-bagi kategori dari Entertainment (Vivian, 2008: 398):

1. Penceritaan

Novel, cerpen, drama televisi, atau film bioskop, masih dapat dibagi lagi menjadi beberapa genre berbeda. Genre populer contohnya seperti roman, horor, fantasi, sejarah, dan biografi. Ada pula beberapa subgenre lain seperti cerita detektif, science-fiction (scifi), dan beberapa genre lain yang saat ini populer di kalangan masyarakat.

2. Musik

Banyaknya perpaduan membuat genre musik sulit dibuat. Untuk mendefinisikan selera, para aficionados terus menciptakan tren-tren tematik. Serangkaian subgenre dinilai malah membuat pembagian ini sedikit rumit. Misalnya pada genre musik Rock, yang masih terbagi lagi

(13)

22

menjadi beberapa subgenre seperti alternative rock, hard rock, metal rock, power rock, dan lain-lain.

3. Sport

Genre muncul paling jelas dalam sport (olahraga) karena aturan-aturannya sudah disepakati, meskipun tidak baku. Tidak ada yang bingung membedakan antara baseball dengan sepak bola, ataupun olahraga menembak dengan balap mobil Formula One.

2.2.11 Jurnalisme

Jika ditelusuri akan ada banyak definisi dan pengertian tentang jurnalisme. Beberapa definisi bahkan memiliki maksud dan persamaan satu sama lain. Perbedaan definisi ini dilatarbelakangi oleh siapa pengemuka definisi tersebut, apa konteksnya, serta bagaimana tujuannya.

Berdasarkan kamus Longman Dictionary of Contemporary English (1982) dikatakan bahwan jurnalisme ialah work of writing for, editing, or publishing (pekerjaan yang berkaitan dengan menulis, mengedit, atau menerbitkan). Kemudian ada juga definisi lain dari jurnalisme yang dikutip dari sebuah kamus online antara lain; a) kegiatan yang berkaitan dengan mengumpulkan dan mengedit berita untuk disajikan melalui media, b) surat kabar umum, c) pelajaran yangberkaitan dengan kegiatan mengumpulkan dan mengedit berita atau manajemen media berita. (Nurudin, 2009:7-8)

Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa jurnalisme adalah sebuah kegiatan atau aktifitas yang berhubungan dengan mencari, menulis, mengedit, dan menerbitkan suatu informasi atau berita kepada masyarakat atau publik melalui media massa baik berupa cetak maupun elektronik.

Sehingga jika dijabarkan apa saja yang berkaitan atau syarat yang harus ada dalam sebuah jurnalisme adalah; 1) terdapat seorang individu yang bekerja untuk mencari, mengumpulkan, mengolah, mengedit, dan menyiarkan sebuah informasi yang kemudian profesi tersebut disebut juga sebagai seorang jurnalis; 2) adanya sebuah saluran yang berfungsi sebagai medium atau perantaran informasi yang disampaikan jurnalis kepada khalayak atau masyarakat yang kemudian disebut juga sebagai media massa; 3) terdapat suatau bentuk atau jenis informasi yang disampaikan baik berupa tulisan maupun perkataan; 4) adanya publik atau

(14)

23

masyarakat sebagai penerima informasi dan terkena dampak dari informasi tersebut.

2.2.11.1 Jurnalisme Entertainment

Menurut Romli (2019) dalam situsnya Romeltea.com menyatakan bahwa jurnalisme memiliki banyak genre atau jenis-jenisnya, salah satunya adalah Jurnalisme Entertainment. Dalam literatur jurnalistik, dikenal juga dengan istilah jurnalisme hiburan, sebuah genre yang berfokus kepada seluk-beluk dunia hiburan. Christopher H. Sterling dalam Encyclopedia of Journalism menyebutkan “Entertainment journalism deals with information of the entertainment industry such as films, music, fashion, video games, etc. The main purpose of this type of journalism is to entertain”. Dari kutipan tersebut dapat diartikan bahwa jurnalisme hiburan berhubungan dengan segala informasi mengenai industri hiburan seperti film, musik, fashion, video game dan lain sebagainya. Tujuan utama dari jenis jurnalisme ini adalah untuk menghibur.

Dengan demikian, seorang jurnalis atau wartawan yang bergelut pada genre jurnalisme tersebut bertugas untuk membuat sebuah informasi berita yang bersifat menghibur mengenai industri hiburan. Informasi yang bersifat menghibur tersebut tidak terbatas pada industri hiburan saja tetapi juga mencakup hal-hal yang kurang penting yang bersifat sebagai relaksasi atau hiburan semata pada produk media massa.

2.2.11.2 Jurnalisme Kuning (Yellow Jurnalism)

Nurudin (2009:230) dalam bukunya mengemukakan bahwa jurnalisme kuning merupakan jurnalisme pemburukan makna. Sering pula dijuluki dengan sebutan jurnalisme tidak profesional dikarenakan orientasinya hanya mengutamakan pemberitaan-pemberitaan yang berbasis sensasi, dengan tujuan agar menaikkan dan meningkatkan jumlah pembaca atau traffic pengunjung. Berita yang sensasional, bombastis, dan menggunakan judul yang dapat menarik perhatian publik merupakan ciri khas dari jurnalisme kuning. Dalam praktek pemberitaannya, selalu ada hal yang dilebih-lebihkan dan dibesar-besarkan sehingga terkesan menarik untuk dibaca.

Selain pada berita-berita kriminal, praktek penerapan jurnalisme kuning ini juga terlihat di beberapa pemberitaan artis. Di mana pada pemberitaannya selalu

(15)

24

menonjolkan unsur sensasional terutama pada aspek judul dan pemilihan kata-kata pada teks berita. Pada umumnya, jurnalisme ini cenderung menekankan pada isu-isu yang kontroversi sehingga dapat memicu perdebatan dan bahkan dapat menghasut pembacanya. Isu-isu tersebut umumnya berupa isu-isu yang berhubungan dengan politik, kriminal, dan seks.

Dalam sejarahnya, jurnalisme kuning ini berawal dari persaingan pada industri media cetak di tahun 1800-an. Pertempuran kedua media itu adalah New York World yang dimiliki oleh Josep Pulitzer dan New York Journal yang dimiliki oleh William Randolph Hearst. Persaingan antar kedua media tersebut kemunculan memunculkan tudingan bahwa keduanya telah menyebarkan berita-berita sensasional untuk mendongkrak popularitas. Adapun istilah ‘kuning’ sendiri diberikan oleh The New York Press, karena kedua surat kabar yang bersaing tersebut memiliki dominan warna kuning. Kemudian, di Indonesia surat kabar yang terkenal dengan istilah koran kuning adalah Pos Kota (Jakarta) dan Memorandum (Surabaya). Penggunaan judul, pemilihan kata, dan visual yang sensasional pada berita-berita kriminal, dunia khayal, dan sensasi menjadi tanda dari keduanya. 2.2.12 Unsur Sensasional Pada Pemberitaan Artis

Entertainment (hiburan) bisa dikatakan sebagai produk media massa yang paling menonjol. Setidaknya banyak orang yang rela menghabiskan banyak waktu untuk membaca, menonton, dan mendengarkan. Namun, media hiburan ini luar biasa sulit untuk dianalisa karena sulit pula didefinisikan. (Fischer 1979)

Dengan kata lain, sebagian besar dari kita tidak mengalami kesulitan untuk mengakui bahwa berita yang kita baca, dengar, dan lihat melalui surat kabar, radio, dan televisi itu lebih cenderung memberikan informasi daripada menghibur. Tetapi entertainment memiliki juga fungsi primer dan sekunder untuk kita. Bergantung pada seberapa banyak atau seberapa kecil kita mengetahui situasi, karakter, aturan yang digambarkan, bagaimana perasaan kita pada saat itu, dan bahkan pernah mengalaminya. Entertainment pada media massa didefinisikan sebagai apa yang tampaknya memiliki tujuan utama hiburan, gangguan, dan atau relaksasi bagi auidennya. (Martin: 187-188).

Namun pada prakteknya, pemaknaan akan konsep entertainment ini perlahan bergeser. Tidak terlewatkan pula pemaknaan akan konsep ini juga merujuk pada

(16)

25

pemberitaan kehidupan selebriti yang juga berkecipung di dunia entertainment. Kehidupan para selebriti juga tidak ketinggalan menjadi sorotan dan sajian menarik untuk khalayak yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemilik dan pelaku media untuk dijadikan komoditas menjadi sebuah berita.

Berita-berita bombastis dan penuh sensasi biasanya menjadi sajian berita yang menarik. Pengemasan berita dengan unsur sensasional ini dinilai lebih menarik dan dapat mendatangkan traffic atau kunjungan pembaca tanpa mengindahkan nilai moral dan etika dalam pemberitaan. Kecenderungan berita-berita yang mengumbar aib, perselingkuhan, perseteruan, kasus narkoba, dan skandal-skandal yang dilakukan oleh para selebriti menjadi sebuah produk menarik dalam industri media. Semakin hebohnya kasus yang ada maka produk pemberitaan akan semakin laku dan bisa menaikkan rating yang tinggi. Materi sensasional ini juga turut mengorbankan akal dan pemahaman dalam menyebarkan informasi yang penting bagi masyarakat.

Menurut Daniel Bootins & Ken Auletta, audiens di Amerika menginginkan kesenangan dan drama dalam liputan berita dan program informasi. Hal ini kemudian mengakibatkan terkikisnya garis batas antara berita dan hiburan (Auletta: 1991:459). Tidak hanya di Amerika, pada media-media mainstream di tanah air pun juga turut ikut menggunakan bumbu-bumbu sensasionalitas pada setiap pemberitaan selebriti. Pemberitaan yang diterbitkan juga cenderung seperti mengumbar air, memprovokasi, berupa asumsi dan opini, dan hanya mengedapankan traffic tanpa mengindahkan unsur urgensi pada pemberitaan tersebut. Pemberitaan kemudian menjadi bias pada kenyataan yang terjadi, dan penilaian selanjutnya bergantung pada masing-masing audiens dalam menanggapi pemberitaan tersebut. (Karlina, 2014:193-194)

Seperti yang dikutip Zainal Arifin Emka (2012:4) dari McQuail (1992), ia memahami dramatisasi sebagai sebuah bentuk penyajian berita yang hiperbolik dan berlebihan. Oleh karenanya dapat menghasilkan efek dramatis bagi pembacanya. Judul-judul yang mengandung unsur dramatis dan bombastis juga merupakan salah satu ciri khas sensasionalisme dalam pemberitaan. Sedangkan judul berita yang berorientasi pada umpan klik (clickbait) dikenal dengan istilan jurnalisme clickbait pada prakteknya, dan merupakan bentuk baru dari jurnalisme kuning.

(17)

26

Praktik jurnalisme clickbait ini ditandai dengan penggunaan beberapa kata seperti “Inilah”, “Ini”, “Ternyata”, “Begini” dan masih banyak lainnya. Tak jarang, penggunaan kata lain seperti “Wow”, “Viral”, “Hot” juga digunakan sebagai dasar agar tautan berita diakses oleh pembaca. Hal ini media memberikan umpan agar pembaca meng-klik tautan beritanya. Seperti yang dipaparkan oleh Romli (2018) dalam situsnya Romeltea.com, judul-judul seperti ini biasanya menjadi “jebakan klik” karena isi beritanya tidak seheboh yang digambarkan pada judul. Substansi dari isi atau teks berita tidak terlalu menjadi perhatian, sebab dengan klik saja sudah memberikan keuntungan bagi media karena klik dapat menaikkan traffic pengunjung dan menaikkan kentungan media online lewat iklan dan adsense. 2.2.13 Berita

The New Grolier Webster International Dictionary (Budyatna, 2014:39): 1. Informasi terkini tentang sesuatu yang telah terjadi, atau tentang sesuatu

yang tidak diketahui sebelumnya;

2. Berita adalah informasi yang disajikan oleh media seperti surat kabar, radio, atau televisi;

3. Berita adalah sesuatu atau seseorang yang dianggap oleh media sebagai subjek yang layak mendapat perhatian.

Sedangkan menurut Wiliam S Maulsby, berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta yang punya arti penting arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian pembaca surat kabar yang memuat hal tersebut.

2.2.13.1 Unsur-unsur Dalam Berita

Laporan mengenai terjadinya sebuah peristiwa atau keadaan yang sifatnya umum dan baru saja terjadi, yang disampaikan oleh jurnalis melalui media massa merupakan definisi dari berita (Djuraid, 2006:11). Berita merupakan pelaporan fakta atau ide terkini yang dipilih kemudian disiarkan oleh jurnalis dan dapat menarik perhatian pembaca, definisi ini dikemukakan oleh Dja’far H. Assegaff dalam Barus (2010:26). Pemilihan tersebut bisa didasarkan pada unsur luar biasa, signifikan, akibat yang ditimbulkan, dan mencakup aspek-aspek human interset. Maka dari itu dapat pula sederhananya disimpilkan bahwa berita adalah informasi tentang peristiwa yang terjadi dan kemudian disebarluaskan oleh media massa yang

(18)

27

ditujukan kepada masyarakat. Berita dapat dikategorikan lengkap bilamana memiliki beberapa unsur pokok. Unsur-unsur pokok tersebut dapat mendorong seorang jurnalis agar dapat menggali informasi faktual sebanyak-banyaknya. Unsur pokok tersebut biasa juga disebut dengan 5W+1H (Tahrun, 2016:71-72):

1. What (Apa), untuk mengetahui peristiwa apa yang sedang terjadi. 2. Who (Siapa), untuk mengetahui siapa saja yang terlibat dalam peristiwa. 3. When (Kapan), untuk mengetahui waktu kejadian peristiwa.

4. Where (Di mana), untuk mengetahui tempat kejadian peristiwa. 5. Why (Mengapa), untuk mengetahui alasan terjadinya peristiwa.

6. How (Bagaimana), untuk mengetahui proses atau kronologi terjadinya peristiwa.

2.2.13.2 Nilai-nilai Berita

Adapun nilai-nilai tertentu yang harus terpenuhi dalam penyampaian informasi atau pemberitaan, seperti yang dijelaskan dalam buku Keterampilan Pers dan Jurnalistik Berwawasan Jender (Tahrun et al, 2016:72-73), yaitu:

1. Timeliness

Berita yang telah terbit satu atau dua bulan yang lalu tentu saja tidak akan menarik dibandingkan dengan berita yang terjadi hari ini. Nilai berita akan semakin bagus jika berita tersebut semakin aktual.

2. Significance

Berita yang berkaitan dengan peristiwa yang dapat berpengaruh untuk banyak orang akan lebih menarik. Hal ini termasuk juga berita yang memiliki pengaruh bagi pembaca baik langsung maupun tidak.

3. Magnitude

Berita tentang peristiwa yang memiliki kaitan dengan hal-hal besar secara kuantitatif, menarik, dan dapat menggugah rasa ingin tahu pembaca. 4. Unsual

Berita yang bersifat tidak umum, tidak lazim, dan aneh adalah berita yang menarik.

5. Conflict

Nilai berita menarik lainnya adalah berita mengenai konflik seperti perang, perkelahian, debat politik, agama, dan bisnis.

(19)

28 6. Proximity

Nilai berita selanjutnya adalah kedekatan. Kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan berita dengan pembaca baik berupa kedekatan geografis maupun emosional.

7. Prominence

Nilai berita menarik terakhir adalah prominence. Yakni berita mengenai peristiwa yang berkaitan dengan sesuatu yang sangat terkenal seperti tokoh, tempat, maupun benda. Seperti halnya berita pada tokoh pemerintahan dan artis akan lebih menarik dibandingkan dengan berita tentang orang yang bukan siapa-siapa.

2.2.13.3 Jenis-jenis Berita

Menurut Romli (2005), ada beberapa jenis berita dalam dunia jurnalistik. Jenis berita yang pertama adalah straight news (berita langsung), yaitu berita yang bersifat singkat, padat, lugas, dan jelas. Berita berisi informasi terkini tentang peristiwa yang sedang hangat terjadi, aktual, dan penting. Jenis berita straight news kemudian masih dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu hard news (berita keras) dan soft news (berita halus).

Hard news (berita keras) adalah bagian dari macam straight news yang sangat mendominasi dalam dunia jurnalistik dan paling banyak diminati. Hard news menjadi konten utama sekaligus unggulan mayoritas media massa, baik itu media cetak, media eletronik, maupun media siber. Singkatnya, pengertian hard news adalah berita keras, hangat, heboh, kadang menegangkan, mengerikan, atau bahkan mengagetkan. Contoh berita ini adalah berita tentang politik atau bencana.

Sedangkan soft news (berita lunak), adalah berita yang ringan, seperti berita tentan artis atau selebriti, dunia hiburan, wisata, atau peluncuran produk baru. Soft news biasanya menjadi berita pendukung hard news.

(20)

29

Gambar 1 Tabel Perbedaan Berita Hard News dan Soft News

(Sumber: romeltea.com)

Penulisan pada berita hard news menggunakan struktur piramida terbalik (inverted pyramid) dengan bagian terpenting berada pada pembukaan berita. Lead (teras berita) hard news biasanya menggunakan struktur who, what, when, where, why, how (siapa, apa, kapan, di mana, kenapa, bagaimana). Sedangkan prinspi penulisan pada berita soft news tidak terikat pada struktur piramida terbalik (inverted pyramid). Karena yang ditonjolkan pada jenis berita soft news bukanlah unsur pentingnya namun unsur yang dapat menyentuh perasaan manusia (human interest) dan unsur menghiburnya (entertain). (Romli, 2015)

2.3. Definisi Konseptual 1. Komparasi

Komparasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbandingan. Menurut Winarno Surakhmad dalam bukunya Pengantar Pengetahuan Ilmiah (1986 : 84), komparasi adalah penyelidikan deskriptif yang berusaha mencari pemecahan melalui analisis tentang hubungan sebab akibat, yakni memilih faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan situasi atau fenomena yang diselidiki dan membandingkan satu faktor dengan faktor lain.

2. Sensasionalisme

Berasal dari kata sense dalam Bahasa Inggris yang artinya sensasi. Yaitu sesuatu yang bersifat menarik perhatian, merangsang, dan membangkitkan emosi manusia. Erat berkaitan dengan hal yang dilebih-lebihkan atau sengaja mengandung unsur dramatis, bombastis, vulgar,

(21)

30

dan sadis. Sensasional pada pemberitaan dapat ditandai dari pemilihan kata atau diksi yang digunakan untuk menarik perhatian pembaca. Penulis sengaja menggunakan diksi dengan majas tertentu agar terkesan menarik dan berbeda namun dapat mendatangkan rasa penasaran. Adapun konsep yang tidak termasuk sensasional adalah judul dan teks berita yang bersifat netral dan tidak masuk ke dalam kategori sensasional. 3. Media Siber

Dalam berbagai literatur akademi, sebutan untuk media siber banyak disematkan istilah lainnya seperti media online, media baru, media digital, dan lain-lain. Media elektronik atau portal berita online adalah cara bagi organisasi media atau agen media untuk melakukan kegiatan komunikasi massa. Dibandingkan dengan media tradisional, media online lebih unggul dalam hal kecepatan dan jangkauan ke pemirsa.

2.4. Struktur Kategorisasi

Dalam penelitian dengan metode analisis isi, penyusunan kategori juga menjadi tahapan penting. Kategori dinilai berhubungan dengan bagaimana isi pesan dikategorisasikan. Seperti yang dikutip oleh Eriyanto (2011:203) dalam Neuendorf (2002:118-119), bahwa terdapat tiga prinsip dalam membentuk kategorisasi, yaitu terpisah satu sama lain (mutually exclusive), lengkap (exhaustive), dan reliabel.

1. Terpisah satu sama lain, maksudnya bahwa masing-masing kategori berdiri sendiri dan dapat dengan jelas dibedakan

2. Lengkap yaitu semua kategori dapat menampung segala kemungkinan 3. Reliabel adalah semua kategori dapat dipahami secara sama oleh setiap

orang sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran, dalam hal ini antara peneliti dengan koder.

Berdasarkan pada kajian pustaka yang telah peneliti paparkan pada Bab 2 poin 2.7.1 mengenai unsur-unsur yang ada pada Jurnalisme Entertainment, maka peneliti mengkategorisasikan konsep berita sensasional sebagai berikut:

(22)

31 Tabel 2.1 Struktur Kategorisasi

Kategori Unit Analisis Indikator

A. Judul Berita Kata A1 Clickbait

A2 Dramatis A3 Provokatif

B. Judul Berita Kata B1 Dramatis

B2 Provokatif

A. Judul Indikator: A1: Clickbait

Judul clickbait bertujuan untuk menarik perhatian khalayak agar mengklik tautan judul berita. Judul sengaja dibuat untuk mengumpan klik dengan substansi teks berita yang cenderung kurang relevan (tidak sesuai) dengan judul yang digunakan. Sebuah judul berita dapat dikatakan clickbait apabila menggunakan kata-kata tertentu yang dapat membuat pembaca penasaran sehingga pembaca akan langsung terangsang untuk bertindak dengan mengklik tautan saat membaca judul berita. Terdapat beberapa kata yang umum dijumpai pada judul-judul clickbait.

Contoh: Penggunaan Kata “Ternyata”, “Begini”, “Inilah”, “Viral”, dan lain-lain.

A2: Dramatis

Dramatisasi dalam berita biasanya menggunakan pemilihan kata dan bahasa yang menggunakan kesedihan dan emosional, bertele-tele, maupun berupa kutipan pendapat dari narasumber atau sumber berita. Kutipan pendapat ini bukanlah pendapat keseluruhan, namun hanya berupa potongan pendapat sehingga merangsang pembaca untuk terus membaca dan mencari tahu kelanjutan dari judul berita tersebut. Penggunaan unsur kata dramatis biasanya menggunakan majas hiperbola dan metafora. Dan dapat ditolerir jika digunakan untuk memperhalus istilah tertentu dalam pemberitaan, namun dalam beberapa kasus seperti kasus asusila,

(23)

32

penggunaan kata dramatis dinilai dapat melukai perasaan korban dan dapat mengaburkan substansi pemberitaannya.

Contoh: “Sule & Lina Putuskan Bercerai, Rizky Febian Akui Sempat Menangis: Buat Apa Saya di Dunia Entertain?”, “Rina Nose Parodikan Mata Najwa, Najwa Shihab Datang & ‘Semprot’ Istri Josscy Aartsen Sampai Gemetar.

A3: Provokatif

Sebuah judul dikatakan provokatif apabila judul tersebut mengandung beberapa indikator. Indikator seperti menggunakan pemilihan kata yang bersifat menghasut. Dan menggunakan komunikasi persuasif berupa kata ajakan, menyematkan data, menggunakan simpati, menunjukkan sikap penerimaan, dan memberikan kesan (impression) adalah beberapa diantaranya. Tak jarang judul seperti ini dapat menggiring opini dan bahkan berakibat menghakimi tanpa membaca isi teks beritanya terlebih dahulu.

Contoh: Penggunaan potongan pendapat narasumber dengan dibumbui “!” seakan-akan narasumber menyampaikan dengan nada marah seperti “Enji Baskoro Siap Nikah Lagi, Ayu Ting Ting Tak Mau Peduli, Rekan Ruben Onsu: Saya Nggak Mau Tau!”

B. Teks Berita Indikator: B1: Dramatis

Dramatisasi dalam berita biasanya menggunakan pemilihan kata dan bahasa yang menggunakan kesedihan dan emosional, bertele-tele, maupun berupa kutipan pendapat dari narasumber atau sumber berita. Kutipan pendapat ini bukanlah pendapat keseluruhan, namun hanya berupa potongan pendapat sehingga merangsang pembaca untuk terus membaca dan mencari tahu kelanjutan dari judul berita tersebut. Penggunaan unsur kata dramatis biasanya menggunakan majas hiperbola dan metafora. Dan dapat ditolerir jika digunakan untuk memperhalus istilah tertentu dalam pemberitaan, namun dalam beberapa kasus seperti kasus asusila,

(24)

33

penggunaan kata dramatis dinilai dapat melukai perasaan korban dan dapat mengaburkan substansi pemberitaannya.

Contoh: Pengutipan komentar-komentar di sosial media yang menggunakan kata-kata kasar, makian, penghakiman, dan unsur negatif lainnya adalah bentuk dari dramatisasi isi beria.

B2: Provokatif

Sebuah teks berita dikatakan provokatif apabila teks tersebut mengandung beberapa indikator dalam pemilihan diksi, kutipan, ataupun kata-kata. Indikator seperti menggunakan pemilihan kata yang bersifat menghasut. Dan menggunakan komunikasi persuasif berupa kata ajakan, menyematkan data, menggunakan simpati, menunjukkan sikap penerimaan, dan memberikan kesan (impression) adalah beberapa diantaranya. Tak jarang teks seperti ini dapat menggiring opini dan bahkan berakibat menghakimi tanpa membaca isi teks beritanya secara keseluruhan terlebih dahulu.

Contoh: Penggunaan kata yang bersifat menghasut pembaca, dan terkesan menghakimi narasumber secara sepihak. Seperti “Siti Badriah tidak bisa tinggal diam saat mengetahui fisiknya dihujat netizen”, “Lucinta Luna kembali membuat heboh warganet”.

Figur

Gambar 1 Tabel Perbedaan Berita Hard News dan Soft News

Gambar 1

Tabel Perbedaan Berita Hard News dan Soft News p.20

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :