• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTEMUAN KE-I PENDAHULUAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTEMUAN KE-I PENDAHULUAN"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

PERTEMUAN KE-I PENDAHULUAN

1. Definisi dan Pengertian

Geologi adalah suatu bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian yang mempelajari segala sesuatunya mengenai planit Bumi beserta isinya yang pernah ada. Geologi merupakan kelompok dari ilmu-ilmu yang membahas perihal sifat-sifat dan bahan-bahan yang membentuk bumi, struktur dalaman, proses-proses yang bekerja baik didalam maupun diatas permukaan bumi, kedudukannya di Alam Semesta serta sejarah perkembangannya sejak bumi ini lahir di alam semesta hingga sekarang.

Lingkungan secara umum dapat diartikan sebagai hubungan antara suatu obyek (entity) dengan sekitarnya. Hubungan antara suatu obyek dengan sekitarnya dapat bersifat aktif maupun pasif, dinamis ataupun statis. Dengan demikian geologi lingkungan dapat di-analogikan bahwa bumi sebagai suatu obyek yang dipengaruhi oleh lingkungannya, termasuk didalamnya adalah manusia sebagai salah satu unsur yang mempengaruhinya.

Geologi Lingkungan pada hakekatnya merupakan ilmu geologi terapan yang ditujukan sebagai upaya memanfaatkan sumberdaya alam dan energi secara efisien dan efektif untuk memenuhi kebutuhan perikehidupan manusia masa kini dan masa mendatang dengan semininal mungkin mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Dengan kata lain geologi lingkungan dapat diartikan sebagai penerapan informasi geologi dalam pembangunan terutama untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan untuk meminimalkan degradasi lingkungan sebagai akibat perubahan-perubahan yang terjadi dari pemanfaatan sumberdaya alam.

2. Permasalahan Lingkungan

Permasalahan lingkungan muncul ketika eksploitasi sumberdaya alam mengabaikan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang berkelanjutan.

(2)

Contoh :

a. Eksploitasi sumberdaya mineral seperti tambang batubara di Kalimantan Timur, tambang tembaga di Papua, dan tambang timah di Pulau Bangka.

b. Eksploitasi sumberdaya hutan dan perubahan tataguna lahan yang terjadi di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua yang berdampak pada rusaknya ekologi hutan tropis, struktur tanah dan sistem hidrologi air tanah.

c. Perubahan tataguna lahan yang terjadi di berbagai wilayah dalam skala besar telah berakibat pada punahnya sebagian habitat fauna dan flora serta terganggunya ekosistem.

d. Meningkatnya populasi manusia menyebabkan peningkatan permintaan sumberdaya mineral, sumberdaya energi, sumberdaya lahan.

3. Hal-hal yang harus diperhatiakan dalam mengeksploitasi sumberdaya alam

a. Bumi adalah suatu benda yang terbatas, mempunyai dimensi (ukuran) yang tetap dan tidak berubah (sistem tertutup);

b. Berbagai jenis material bumi tidak selalu ada disuatu lokasi tertentu dan jumlahnya terbatas;

c. Bumi adalah suatu benda yang dinamis, batuan, air dan udara bergerak dalam suatu gerakan yang kontinu;

d. Bumi beserta kejadian-kejadian yang bekerja di dalamnya ditentukan dalam ukuran waktu. Proses-proses alam seperti gempa bumi, erupsi gunungapi, banjir, gerakan tanah, dapat terjadi dalam waktu yang sangat cepat maupun lambat (seperti tumbukan lempeng).

(3)

PERTEMUAN KE-II PROSES GEOLOGI

Proses Geologi dan Perubahan Bentangalam

Interaksi Litosfir, Hidrosfir, Atmosfir dan Biosfir

Dalam skema diperlihatkan hubungan yang saling berinteraksi dan saling mempengaruhi antara Litosfir yang merupakan bagian paling luar dari Bumi yang bersifat padat, dengan Atmosfir (udara) dan Hidrosfir (selaput air), yang kemudian menciptakan Biosfir yang merupakan bagian dari Bumi dimana terdapat interaksi antara ketiganya dan kehidupan di Bumi. Interaksi ini menyebabkan sifat bumi yang dinamis.

(4)

Gaya Endogen

Gaya endogen adalah gaya yang berasal dari dalam bumi, seperti aktivitas tektonik berupa pergerakan lempeng-lempeng yang menghasilkan pembentukan pegunungan (orogenesa), aktivitas magmatis yang berupa intrusi magma ke permukaan atau dekat permukaan bumi, dan aktivitas volkanisma berupa pembentukan gunungapi, erupsi/letusan gunungapi: aliran lava maupun semburan material piroklastik.

Aktivitas Tektonik

Aktivitas Tektonik adalah aktivitas yang berasal dari pergerakan lempeng-lempeng yang ada pada kerak bumi (lithosphere). Hasil dari tumbukan antar lempeng dapat menghasilkan pegunungan (orogenesa), aktivitas magmatis dan aktivitas gunungapi (volcanism).

Teori Tektonik Lempeng

Teori Tektonik Lempeng adalah suatu teori yang mendasarkan pada hipotesa “Pemekaran Lantai Samudra” (Sea-floor spreading) dan hipotesa “Pengapungan Benua” (Continental drift).

(5)

Teori Continental Drift

Paleomagnetisme dan Pemekaran Lantai Samudra

PERTEMUAN KE-III PERTEMUAN KE-IV PERTEMUAN KE-V

(6)

Proses Perkembangan Benua Gondwana (Pangea) Sejak 200 Juta Tahun Yang Lalu Hingga Saat Ini

Aktivitas magmatis adalah segala aktivitas magma yang berasal dari dalam bumi. Pada hakekatnya aktivitas magmatis dipengaruhi oleh aktivitas tektonik, seperti tumbukan lempeng baik secara convergent, divergent dan atau transform.

Vulkanisma dapat didefinisikan sebagai tempat atau lubang diatas muka Bumi dimana daripadanya dikeluarkan bahan atau bebatuan yang pijar atau gas yang berasal dari bagian dalam bumi ke permukaan, yang kemudian produknya akan disusun dan membentuk sebuah kerucut atau gunung.

Bentangalam Endogen

a. Bentangalam Struktural (Structural landforms) adalah bentangalam yang proses pembentukannya dikontrol oleh gaya tektonik seperti perlipatan dan atau patahan. b. Bukit Antiklin (anticlinal ridges) adalah bentangalam yang berbentuk bukit dengan

(7)

c. Lembah Antiklin (synclinal valleys) adalah bentangalam yang berbentuk lembah dengan litologi yang mendasarinya berstruktur antiklin.

d. Bukit Sinklin (synclinal ridges) adalah bentangalam yang berbentuk bukit dengan litologi yang mendasarinya berstruktur sinklin.

e. Lembah Sinklin (synclinal valleys) adalah bentangalam yang berbentuk lembah dengan litologi yang mendasarinya berstruktur sinklin.

f. Bukit Monoklin (monoclinal ridges) adalah bentangalam yang berbentuk bukit dimana litologi yang mendasarinya memiliki kemiringan lapisan yang searah / seragam.

g. Bukit Patahan (faulting ridges) adalah bentangalam berbentuk bukit yang proses kejadiannya dikontrol oleh struktur patahan.

h. Gawir (scarps) adalah bentangalam berbentuk bukit memanjang serta berlereng terjal sebagai bidang patahan/sesar.

i. Amblesan (graben) adalah bentangalam depresi berbentuk datar dan dibatasi oleh bidang-bidang sesar sebagai hasil block faulting.

j. Tonjolan (horst) adalah bentangalam yang berbentuk bukit yang dibatasi oleh bidang-bidang sesar merupakan hasil block faulting.

k. Bukit Patahan (faulting ridges) adalah bentangalam berbentuk bukit yang proses kejadiannya dikontrol oleh struktur patahan.

(8)

Bentangalam Gunungapi

a. Bentangalam gunungapi (Volcanic landforms) adalah bentangalam yang kejadiannya akibat aktivitas gunungapi.

b. Kerucut Gunungapi (volcanic cones) adalah bentangalam yang berbentuk kerucut dan merupakan bagian dari badan gunungapi.

c. Kaki Gunungapi (volcanic footslopes) adalah bentangalam yang berbentuk landai dan merupakan bagian dari gunungapi.

d. Kaldera (calderas) adalah bentangalam kawah yang sangat luas terbentuk karena proses erupsi berupa ledakan (explosive) dan merupakan bagian kepundan gunungapi.

e. Kawah (craters) adalah bentangalam kepundan gunungapi dan merupakan bagian gunungapi.

f. Jenjang Gunungapi (volcanic-necks) adalah bentangalam yang berbentuk seperti tiang atau leher merupakan sisa hasil denudasi gunungapi.

g. Gunungapi Parasit (parasitic Cones) adalah bentangalam berbentuk kerucut yang keberadaannya menumpang pada badan gunungapi.

(9)

PERTEMUAN KE-III PERUBAHAN BENTANGALAM

1. Bentangalam Instrusi

Bentangalam Intrusi (Intrusive landforms) adalah bentangalam yang proses embentukkannya dikontrol oleh aktivitas magma. Bukit intrusi adalah bentangalam yang berbentuk bukit dengan material penyusunnya adalah intrusi batuan beku. Plateau Basalt bentangalam yang berbentuk dataran dengan material penyusunnya adalah batuan beku basalt.

2. Gaya Eksogen

Gaya eksogen adalah gaya-gaya yang berasal dari bagian luar kulit bumi, yaitu proses yang terjadi dari interaksi antara selaput hidrosfir, atmosfir, litosfir, dan biosfir. Atmosfir dan Hidrosfir adalah bahan yang berwujud udara dan air, atau yang sehari-hari kita kenali sebagai atmosfera dan hidrosfera.

Selaput udara (atmosfera)

Selaput atau lapisan udara ini sepintas nampaknya tidak mempunyai peranan yang berarti terhadap lingkungan geologi. Sebenarnya fungsi dari Atmosfera adalah: (1) merupakan media perantara untuk memindahkan air dari lautan melalui proses penguapan ke daratan yang kemudian jatuh kembali sebagai hujan dan salju; (2) merupakan salah satu gaya utama dalam proses pelapukan, dan ketiga bertindak sebagai pengatur khasanah kehidupan dan suhu di atas permukaan Bumi. Atmosfera disini berfungsi sebagai pelindung dari permukaan Bumi terhadap pancaran sinar ultra-violet yang tiba di atas permukaan bumi dalam jumlah yang berlebihan.

Selaput air (hidrosfera)

Menempati ruang mulai dari bagian atas atmosfir hingga menembus ke kedalaman 10 Km dibawah permukaan Bumi, yang terdiri dari samudra, gletser, sungai dan danau, uap air

(10)

dalam atmosfir dan airtanah. Termasuk kedalam selaput ini adalah semua bentuk air yang berada diatas dan didekat permukaan Bumi.

Air Permukaan

Apabila air jatuh keatas permukaan Bumi, maka beberapa kemungkinan dapat terjadi. Air akan terkumpul sebagai tumpukan salju didaerah-daerah puncak pegunungan yang tinggi atau sebagai gletser. Ada pula yang terkumpul didanaudanau. Yang jatuh menimpa tumbuh-tumbuhan dan tanah, akan menguap kembali kedalam atmosfir atau diserap oleh tanah melalui akar-akar tanaman, atau mengalir melalui sistim sungai atau aliran bawah tanah.

Diatas permukaan Bumi, air akan mengalir melalui jaringan pola aliran sungai menuju bagian-bagian yang rendah. Setiap pola aliran mempunyai daerah pengumpulan air yang dikenal

sebagai “daerah aliran sungai” atau disingkat sebagai DAS atau “drainage basin”.

Air-Tanah (Groundwater)

Semua air yang ada dibawah permukaan Bumi (tanah), dikelompokan sebagai air-tanah. Dalam daur hidrologi nampak bahwa air-tanah hanya menempati 0.6% saja dari seluruh air tawar yang ada. Air-tanah menerima pemasukan air (recharge) air dari air yang jatuh diatas permukaan Bumi melalui proses infiltrasi yang kemudian bergerak mengalir memasuki batuan dan lapisan tanah, sampai keluar lagi sebagai sumber-sumber air (discharge), dan kembali ke permukaan sebagai sungai, atau tertahan sementara sebagai danau atau di rawa-rawa.

(11)

Pelapukan proses desintegrasi atau dekomposisi dari material penyusun kulit bumi yang berupa batuan. Pelapukan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, temperatur dan komposisi kimia dari mineral-mineral penyusun batuan. Terdapat 3 (tiga) jenis pelapukan yang kita kenal, yaitu pelapukan mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis.

Erosi adalah proses pengikisan yang terjadi pada batuan maupun hasil pelapukan batuan (tanah) oleh media air, angin, maupun es/gletser.

1. Erosi alur (riil erosion) adalah erosi yang berbentuk alur-alur dengan ukuran lebar lembahnya berkisar antara beberapa milimeter hingga beberapa centimeter.

2. Erosi lembar (sheet erosion) adalah erosi yang berbentuk lembaran dengan ukuran sesuai dengan bidang yang dierosi.

3. Erosi drainase (ravine erosion) adalah erosi yang berbentuk saluran dengan ukuran lebar lembahnya berkisar antara beberapa centimeter hinggga satu meter.

4. Erosi saluran (gully erosion) adalah erosi yang berbentuk saluran dengan ukuran lebar lembahnya lebih besar 1 satu meter hingga beberapa meter.

5. Erosi lembah (valley erosion) adalah erosi yang berbentuk lembah dengan ukuran lebar lembahnya diatas sepuluh meter

Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditranport oleh media air, angin, es/gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai adalah hasil dari proses pengendapan material-material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan Sand Dunes yang terdapat di gurun-gurun dan di tepi pantai adalah hasil dari pengendapan materialmaterial yang diangkut oleh angin.

Bentangalam Eksogen

Bentangalam eksogen adalah bentuk-bentuk bentangalam yang proses pembentukannya/ genetikanya dikontrol oleh gaya eksogen. Bentangalam eksogen dikenal juga sebagai bentangalam destruksional (destructional landforms).

(12)

Bentangalam hasil aktivitas sungai

a. Endapan Kipas Aluvial (Alluvium fan deposits)

b. Endapan Teras Sungai / Undak Sungai (Terrace river deposits) c. Tanggul Alam (Levee)

d. Endapan Dataran banjir (Floodplain deposits) e. Gosong Pasir (Bar)

f. Endapan Sungai Teranyam (Braided stream deposits) g. Endapan Point bar deposit

h. Endapan Danau Tapal Kuda (oxbow lake) i. Endapan Rawa

Bentangalam hasil aktivitas pantai a. Delta

b. Tanjung c. Teluk

d. Stack dan Arches e. Wave-cut platform f. Tanggul (Barrier) g. Lagoon

h. Pantai submergent i. Pantai emergent

Bentangalam hasil aktivitas angin

a. Sand dunes adalah bentangalam yang berbentuk bukit bukit pasir berpola parabolic atau ellipsoid dan merupakan hasil pengendapan partikel-partikel pasir yang diangkut oleh angin.

(13)

b. Arroyos adalah bentangalam yang terbentuk sebagai akibat dari aliran air hujan yang membawa partikel-pasir yang mengisi bagian gullies dan valley dan umumnya terdapat di daerah yang beriklim arid.

c. Pediment adalah bentangalam berbentuk dataran landau merupakan endapan yang terletak dikaki-kaki bukit merupakan hasil erosi perbukitan disekitarnya.

d. Inselberg adalah bentangalam berbentuk perbukitan memanjang dan merupakan sisa hasil erosi angin.

e. Plateau adalah bentangalam yang berbentuk bukit dengan permukaan yang relatif datar serta memiliki kemiringan lereng yang kecil. Bentangalam plateau umumnya berada di daerah beriklim arid yang di dominasi oleh iklim kering dan proses fluviatil.

f. Mesa adalah bentangalam berupa bukit terisolir berbentuk meja, merupakan sisa denudasi dengan lapisan batuan datar yang keras sebagai penutupnya. Butte adalah bentuk bentangalam sisa hasil erosi morfologi Mesa.

Bentangalam sisa-sisa organisme

a. Pepino Hill adalah bentangalam perbukitan yang tersusun dari kerucut-kerucut batugamping (terumbu karang).

b. Polliyee adalah bentangalam yang berbentuk amphitheatre hasil erosi pada perbukitan batugamping.

c. Karst adalah bentangalam yang berupa perbukitan dari material batugamping yang telah mengalami pelarutan yang cukup intensif.

d. Dolina adalah lubang-lubang berbentuk kerucut terbalik sebagai hasil pelarutan air di daerah morfologi karst.

e. Ovala adalah lubang-lubang berbentuk silinder hasil pelarutan air di daerah morfologi karst.

f. Stalaktit adalah bentuk kolom-kolom batugamping hasil pelarutan yang menggantung sedangkan kolom-kolom yang berada dibawahnya disebut dengan Stalakmit.

(14)

PERTEMUAN KE-IV GEOMORFOLOGI

Pendahuluan

 Geomorfologi dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang roman muka bumi beserta aspek-aspek yang mempengaruhinya.

 Bentangalam (landscape) didefinisikan sebagai panorama alam yang disusun oleh elemen-elemen geomorfologi dalam dimensi yang lebih luas dari terrain.

 Bentuk-lahan (landforms) adalah komplek fisik permukaan ataupun dekat permukaan suatu daratan yang dipengaruhi oleh kegiatan manusia.

Peta Geomorfologi

Peta geomorfologi didefinisikan sebagai peta yang menggambarkan bentuk lahan, genesa beserta proses yang mempengaruhinya dalam berbagai skala. Berdasarkan definisi diatas maka suatu peta geomorfologi harus mencakup hal hal sebagai berikut:

 Peta geomorfologi menggambarkan aspek-aspek utama lahan atau terrain disajikan dalam bentuk simbol huruf dan angka, warna, pola garis dan hal itu tergantung pada tingkat kepentingan masing-masing aspek.

 Peta geomorfologi memuat aspek-aspek yang dihasilkan dari sistem survei analitik (diantaranya morfologi dan morfogenesa) dan sintetik (diantaranya proses geomorfologi, tanah /soil, tutupan lahan).

 Unit utama geomorfologi adalah kelompok bentuk lahan didasarkan atas bentuk asalnya (struktural, denudasi, fluvial, marin, karts, angin dan es).

(15)

 Skala peta merupakan perbandingan jarak peta dengan jarak sebenarnya yang dinyatakan dalam angka, garis atau kedua-duanya.

Peta geomorfologi untuk tujuan sains memberi Informasi mengenai hal-hal berikut :

a. Faktor-faktor geologi apa yang telah berpengaruh kepada pembentukan bentang alam disuatu tempat

b. Bentuk-bentuk bentangalam apa yang telah terbentuk karenanya. Pada umumnya hal-hal tersebut diuraikan secara deskriptif. Peta geomorfologi yang disajikan harus dapat menunjang hal-hal tersebut diatas, demikian pula klasifikasi yang digunakan. Gambaran peta yang menunjang ganesa dan bentuk diutamakan.

Peta Geomorfologi untuk tujuan terapan akan lebih banyak memberi informasi mengenai geometri dan bentuk permukaan bumi seperti tinggi, luas, kemiringan lereng, kerapatan sungai, dan sebagainya. Proses geomorfologi yang sedang berjalan dan besaran dari proses seperti :

a. Jenis proses (pelapukan, erosi, sedimentasi, longsoran, pelarutan, dan sebagainya) b. Besaran dan proses tersebut (berapa luas, berapa dalam, berapa intensitasnya, dan

sebagainya)

Skala Peta dan Peta Geomorfologi

Skala peta merupakan rujukan utama untuk pembuatan peta geomorfologi. Pembuatan satuan peta secara deskriptif ataupun klasifikasi yang dibuat berdasarkan pengukuran ketelitiannya sangat tergantung pada skala peta yang digunakan. Di Indonesia peta topografi yang umum tersedia dengan skala 1: 20.000, 1: 1.000.000, 1: 500.000, 1: 250.000, 1: 100.000, 1:50.000 dan beberapa daerah (terutama di Jawa) telah terpetakan dengan skala 1 : 25.000.

Untuk kepentingan-kepentingan khusus sering dibuat peta berskala besar dengan pembesaran dari peta yang ada, atau dibuat sendiri untuk keperluan teknis, antara lain peta 1:10.000, 1: 5.000, dan skala-skala yang lebih besar lagi.

(16)
(17)

PERTEMUAN KE-V SUMBERDAYA AIR

Sumberdaya Alam

Sumberdaya alam adalah semua sumberdaya, baik yang bersifat terbarukan (renewable resources) maupun sumberdaya tak terbarukan (non-renewable resources). Sumberdaya alam tak terbarukan dalam ilmu geologi disebut juga sebagai sumberdaya geologi.

Keterdapatan dan ketersediaan sumberdaya geologi disuatu wilayah sangat tergantung pada kondisi geologinya. Persebaran sumberdaya geologi di bumi tidak merata, dibeberapa tempat dijumpai sumberdaya geologi yang cukup melimpah sedangkan ditempat lainnya hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.

Sumberdaya Air

Air merupakan salah satu sumberdaya geologi yang sangat penting dan vital, tidak saja diperlukan oleh semua makhluk hidup, tetapi juga diperlukan bagi proses-proses geologi. Aktivitas air di permukaan bumi, batuan, tanah, udara, dan lautan mempunyai arti penting dan secara berkelanjutan akan berdampak terhadap aktivitas manusia. Adapun pemanfaatan sumberdaya air oleh manusia antara lain untuk air minum, irigasi, pembangkit tenaga listrik, proses pendinginan pada industri dan pembangkit tenaga serta untuk sarana olahraga dan rekreasi.

Air yang ada di bumi terdapat pada suatu lapisan yang disebut dengan lapisan hidrosfer. Air yang berada dalam hidrosfer tersebat di lautan, atmosfer, tanah, bawah tanah, danau, sungai, dan gunung es di kutub bumi.

(18)

Distribusi Air

Siklus hidrologi

Air yang yang terdapat di bumi berada dalam suatu lapisan hidrosfer dan seluruh air yang terdapat di lapisan hidrosfer ini akan mengikuti siklus hidrologi, yaitu suatu sirkulasi yang sangat komplek dari air diantara lautan, atmosfer, dan daratan. Dalam hal ini air yang berada di lautan dapat disebut sebagai reservoir, dan oleh energi radiasi matahari, air di lautan maupun daratan akan mengalami penguapan (evaporasi) masuk kedalam atmosfer. Temperatur udara dan temperatur permukaan air laut serta kecepatan angin merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya penguapan. Uap air yang masuk ke atmosfer kemudian akan dialirkan oleh masa udara ke seluruh bagian bola bumi.

Apabila air yang ada di atmosfer mengalami presipitasi (pengembunan) maka uap air tersebut akan berubah menjadi partikel-partikel air yang pada gilirannya jatuh kembali ke bumi sebagai air hujan atau sebagai salju. Air yang turun di daratan akan berinteraksi dengan material kulit bumi dan dapat terjadi beberapa kemungkinan antara lain infiltrasi masuk kedalam tanah (pori-pori tanah), pori-pori batuan sebagai air tanah dangkal dan air tanah dalam (shallow water and deep water), mengalir di permukaan tanah sebagai air permukaan (surface runoff /run off water), masuk ke dalam saluran-saluran sungai dan pada akhirnya

(19)

mengalir masuk kembali ke laut. Sebagian air yang jatuh di daratan yang bervegetasi, maka airakan ditahan oleh akar-akar tanaman dan air yang jatuh dan berada di dedaunan pohon sebagian akan mengalami evapotranspirasi (evaporasi dan transpirasi). Pada gambar di-ilustrasikan sirkulasi air (siklus hidrologi) mulai dari lautan, masuk ke atmosfer dan jatuh di daratan dan kemudian kembali lagi kelaut.

Daur Hidrologi

Permasalahan Air dan Pengendaliannya  Pasokan Air (Water Supply)  Air Permukaan (Surface Water)  Air Tanah (Ground Water)  Banjir (Flooding)

 Erosi Tanah (Soil Erosion)  Amblesan (Subsidence)  Sedimentasi (Sedimentation)  Kualitas Air (Water Quality)

(20)

Sumberdaya Mineral

Sumberdaya mineral merupakan sumberdaya yang diperoleh dari hasil ekstraksi batuan atau pelapukan batuan (tanah). Berdasarkan jenisnya sumberdaya mineral dapat dikelompokan menjadi 2, yaitu: (1) Sumderdaya mineral logam dan (2) Sumberdaya mineral non-logam.

Tembaga, besi, nikel, emas, perak, timah adalah beberapa contoh dari material yang berasal dari mineral logam, sedangkan kuarsa (silika), muskovit (mika), batu pasir, bentonit, lempung adalah beberapa contoh material yang berasal dari mineral non-logam. Penggolongan sumberdaya mineral menurut undang-undang pertambangan (DESM) adalah:

1. Bahan Galian Vital : Uranium, Emas, Platina, Minyakbumi, dll 2. Bahan Galian Strategis : Nikel, Tembaga, Timah, dll

3. Bahan Galian Industri : Gamping, Kuarsa, lempung, tufa, dll

Ganesa Sumberdaya Mineral

Pada dasarnya sumberdaya mineral diperoleh dari hasil ekstraksi batuan-batuan yang ada di bumi. Yang menjadi pokok persoalan adalah ketersediaan dan keterdapatan sumberdaya mineral di bumi tidak merata, karena sangat dipengaruhi oleh sebaran batuannya (kondisi geologinya).

Berbagai jenis sumberdaya mineral dapat dijumpai dalam batuan tertentu, seperti Timah yang berasal dari mineral Casiterite, Tembaga yang berasal dari mineral Chalcopyrite, sedangkan Seng yang berasal dari mineral Sfalerite. Mineralmineral yang mengandung unsur logam tersebut ditemukan berasosiasi dengan jenis dan kelompok batuan tertentu.

Mineral dapat kita definisikan sebagai bahan padat anorganik yang terdapat secara alamiah, yang terdiri dari unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, dimana atom-atom didalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistimatis.

Penggolongan Mineral

Berdasarkan senyawa kimiawinya, mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral Silikat dan mineral Nonsilikat. Terdapat 8 (delapan) kelompok mineral Non-silikat, yaitu kelompok Oksida, Sulfida, Sulfat, Native elemen, Halid, Karbonat, Hidroksida, dan Phospat.

(21)

Mineral Silikat. Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak-Bumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai kedalaman 2900 Km dari kerak Bumi). Mineral Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan.

(22)

PERTEMUAN KE-VI

INFORMASI GEOHIDROLOGI UNTUK PENATAAN RUANG

Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur

Perpres RI No. 54 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur Pasal 1 angka 5. Kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, Cianjur yang selanjutnya disebut Jabodetabekpunjur adalah kawasan strategis nasional yang meliputi seluruh wilayah Prov. DKI Jakarta, sebagian wilayah Provimsi Jawa Barat dan sebagai Wilayah Provinsi Banten.

Berkaitan dengan penataan ruang di kawasan Jabodetabekpunjur, hidrogeologi (sumber daya air tanah) merupakan salah satu aspek yang perlu ditelaah secara lintas batas administrasi yakni bagian dari telaahan secara menyeluruh dari pelbagai aspek lingkungan (geo-bio-fisik-ek-sos).

Aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penataan ruang setidak- tidaknya mencakup dua hal sebagai berikut:

1. Info potensi air tanah pada setiap CAT yang didasarkan kriteria kuantitas & kualitas AT pada kondisi aktual.

2. Perlindungan AT & lingkungannya pada setiap CAT yg mencakup DIAT (sebagai kawasan lindung AT) & DLAT (sebagai kawasan budidaya AT).

Cekungan Air Tanah (Groundwater Basin)

UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Pasal 1 angka 12, cekungan air tanah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas- batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, & pelepasan air tanah berlangsung.

(23)

Daerah Imbuhan Air Tanah (Groundwater Recharge Area)

PP No. 43 Tahun 2008 Pasal 1 angka 4, daerah imbuhan air tanah adalah daerah resapan air yang mampu menambah air tanah secara alamiah pada cekungan air tanah.

Daerah Lepasan Air Tanah (Groundwater Discharge Area)

PP No. 43 Tahun 2008 Pasal 1 angka 5, daerah lepasan air tanah dalah daerah keluaran air tanah yang berlangsung secara alamiah pada cekungan air tanah.

(24)
(25)

Daerah Imbuhan Air Tanah & Daerah Lepasan Air Tanah Di Kawasan Jabodetabekpunjur

(26)
(27)
(28)

Dampak Pengambilan Air Tanah 1. Penurunan Muka Air Tanah

 Sistem Akuifer Tidak Tertekan (d <40 m)

JakPus (3,4 m), JakTim (0,2-3,5 m), & JakSel (0,2-5,5 m)  Sistem Akuifer Tertekan Atas (d : 40-140 m)

JakUt (0,1-4,4 m), JakPus 2,8 m), JakTim (0,2-5,7 m), JakSel (0,3-3,3 m), JakBar (0,4-4,1 m), Kota Depok (0,5-4,4 m), Kota Tangerang & Kab. Tangerang (2,4-5,2 m), Kota Bekasi & Kab. Bekasi (0,8-7,2 m), Kab. Bogor (1,0-1,9 m)

 Sistem Akuifer Tertekan Bawah (d >40 m)

JakUt (0,2-5,3 m), JakPus (0,4-7,4 m), JakTim (0,02-0,9 m) & JakBar (0,1-2,4 m).

2. Penurunan Kualitas Air Tanah

 Sistem Akuifer Tidak Tertekan (d <40 m)

Peningkatan DHL Air Tanah di JakUt (1.385-3.560 μs/Cm), JakBar (175-4.920 μs/Cm), & Kota Tangerang (107-697 μs/Cm)

 Sistem Akuifer Tertekan Atas (d : 40-140 m)

Peningkatan DHL air tanah antara lain di wilayah JakUt (6.990 μs/Cm)  Sistem Akuifer Tertekan Bawah (d >40 m)

JakBar (8-930 μs/Cm), JakUt (44-239 μs), JakPus (38 μs/Cm), JakSel (21 μs/Cm), & Kota Bekasi (235 μs/Cm).

3. Amblesan Tanah

Indikasi amblesan tanah di Jakarta:

 Retaknya bangunan di Kompleks Toko Sarinah (Jln MH. Thamrin, JakPus)

 Genangan air laut pasang di daerah Kapuk & Cengkareng (JakBar) serta Kamal (JakUt).  Miringnya Menara Museum Bahari (Pasar Ikan, JakUt).

 Terangkatnya konstruksi pondasi sumur pantai di daerah Tongkol, Pasar Ikan (Jakut), sumur produksi di Kompleks Kantor Kel. Kamal Muara dan sumur produksi di Kompleks PT IGI, Ancol (JakUt).

(29)

Genangan air (banjir) akibat Amblesan Tanah di Daerah Cengkareng, Tangerang

Upaya Untuk Mencegah/Mengurangi Dampak Negatif

1. Pengendalian Qabs dengan mengacu kepada Peta Pengendalian Pengambilan Air Tanah. 2. Upaya pemulihan kedudukan muka air tanah dg menerapkan skenario Qabs.

Catatan Penutup

1. Batasan HG untuk penataan ruang disajikan dalam bentuk peta (sangat bergantung pada kedalaman informasinya) jumlah AT yang boleh diambil? cocok untuk keperluan apa? dampak apa yang akan timbul? Dapat ditetapkan bila pemahaman atas batasan HG sudah diperoleh.

2. Berdasarkan pemahaman batasan HG thdp ketersediaan AT di kwsn Jabodetabekpunjur, pengaturan secara bijaksana untuk perlindungan & budi daya AT dapat dilakukan yang mencakup perencanaan regional DIAT & DLAT di wilayah administrasi yang termasuk dalam kawasan Jabodetabekpunjur.

3. Upaya perlindungan DIAT & pembatasan penggunaan AT di DLAT wajib dilakukan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dg kewenangannya.

4. Peta Kerusakan AT dpt digunakan sbg dasar penataan ruang dari sudut pandang keairtanahan. Pada zona kritis tidak ada izin baru untuk & Qabs & mengurangi Qabs scr bertahap. Pada zona rusak dilarang melakukan Qabs & pembuatan imbuhan buatan.

(30)

5. Kendala yang kemungkinan dijumpai dlm penataan ruang:

 Perbedaan kepentingan (conflict of interest) dari setiap sektor & wilayah administrasi dapat menyebabkan perlindungan AT & lingkungannya tidak optimal.  Penataan ruang menyangkut pelbagai aspek shg memungkinkan terjadi

pertentangan antarkepentingan.

 Kondisi ekonomi masyarakat yg kurang baik dpt menimbulkan sikap kurang peduli terhadap lingkungan sehingga dikhawatirkan akan mengabaikan azas keseimbangan & kelestarian dlm penataan ruang.

6. Kendala dapat diatasi dengan upaya yang dilakukan secara terus-menerus terutama yang berkaitan dengan 1) keterpaduan, antarsektor & pemda, 2) pemantauan kondisi AT & lingkungannya, 3) penyuluhan.

(31)

PERTEMUAN KE-VII SUMBERDAYA MINERAL

Sumberdaya Mineral

Sumberdaya mineral merupakan sumberdaya yang diperoleh dari hasil ekstraksi batuan atau pelapukan batuan (tanah). Berdasarkan jenisnya sumberdaya mineral dapat dikelompokan menjadi 2, yaitu: (1). Sumderdaya mineral logam dan (2). Sumberdaya mineral non-logam.

Tembaga, besi, nikel, emas, perak, timah adalah beberapa contoh dari material yang berasal dari mineral logam, sedangkan kuarsa (silika), muskovit (mika), batu pasir, bentonit, lempung adalah beberapa contoh material yang berasal dari mineral non-logam.

Penggolongan sumberdaya mineral menurut undang-undang pertambangan (DESM) adalah:

1. Bahan Galian Vital : Uranium, Emas, Platina, Minyakbumi, dll 2. Bahan Galian Strategis : Nikel, Tembaga, Timah, dll

3. Bahan Galian Industri : Gamping, Kuarsa, lempung, tufa, dll

Ganesa Sumberdaya Mineral

Pada dasarnya sumberdaya mineral diperoleh dari hasil ekstraksi batuan-batuan yang ada di bumi. Yang menjadi pokok persoalan adalah ketersediaan dan keterdapatan sumberdaya mineral di bumi tidak merata, karena sangat dipengaruhi oleh sebaran batuannya (kondisi geologinya).

Berbagai jenis sumberdaya mineral dapat dijumpai dalam batuan tertentu, seperti Timah yang berasal dari mineral Casiterite, Tembaga yang berasal dari mineral Chalcopyrite, sedangkan Seng yang berasal dari mineral Sfalerite. Mineralmineral yang mengandung unsur logam tersebut ditemukan berasosiasi dengan jenis dan kelompok batuan tertentu.

Mineral dapat kita definisikan sebagai bahan padat anorganik yang terdapat secara alamiah, yang terdiri dari unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, dimana atom-atom didalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistimatis.

(32)

Penggolongan Mineral

Berdasarkan senyawa kimiawinya, mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral Silikat dan mineral Nonsilikat. Terdapat 8 (delapan) kelompok mineral Non-silikat, yaitu kelompok Oksida, Sulfida, Sulfat, Native elemen, Halid, Karbonat, Hidroksida, dan Phospat. Mineral Silikat. Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak-Bumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai kedalaman 2900 Km dari kerak Bumi). Mineral Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan.

Batuan Jenis Batuan : 1. Batuan Beku

Batuan Beku adalah batuan hasil pembekuan magma

Berdasarkan sifat magmanya (komposisi kimiawinya), batuan beku dapat dibagi menjadi 4 , yaitu :

 Batuan Beku Asam : Granite, Rhyolit  Batuan Beku Intermediate : Diorit, Andesit  Batuan Beku Basa: Gabro, basalt

 Batuan Ultra Basa : Peridotit, Dunit 2. Batuan Sedimen

Batuan Sedimen adalah batuan yang berasal dari hasil rombakan batuan beku, sedimen, metamorf yang kemudian mengalami perpindahan / transportasi oleh media air / angin / es / gletser, diendapkan disuatu cekungan yang kemudian mengalami proses kompaksi, diagenesa, dan litifikasi.

Berdasarkan genesanya, Batuan Sedimen dapat dibagi menjadi 2, yaitu:

 Batuan Sedimen Klastik : Konglomerat/Breksi, Batupasir, Batulanau, dan Batulempung

(33)

 Batuan Sedimen Non-Klastik terdiri dari sedimen kimiawi : Halit, Rijang, dan sedimen organik : Batugamping, Batubara

3. Batuan Metamorf

Batuan metamorf adalah batuan asal (beku, sedimen, metamorf) yang berubah karena mengalami kenaikan temperatur atau tekanan atau kedua-duanya (P dan T).

Siklus Batuan

Kebutuhan Sumberdaya Mineral

Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya permintaan mineral logam di dunia adalah: 1. Peningkatannya jumlah populasi manusia di dunia

2. Meningkatnya standar hidup manusia di Negara berkembang

3. Meningkatnya status negara (misalnya Negara berkembang menjadi negara maju)

Keterdapatan sumberdaya mineral di bumi sangat tergantung kepada kondisi geologinya dan tidak semua negara memiliki sumberdaya mineral yang mereka perlukan. Ganesa / pembentukan sumberdaya mineral ditentukan oleh asosiasi batuannya, misalnya nikel akan berasosiasi dengan batuan beku ultrabasa, sedangkan timah berasosiasi dengan batuan beku asam seperti granit.

(34)

Dampak Lingkungan Pada Pertambangan 1. Tahap Eksplorasi

Biasanya pada tahap eksplorasi di mulai dengan penyelidikan di permukaan bumi yang diawali dengan survei geofisika dipermukaan tanah serta survei udara, kemudian dilanjutkan dengan survey geokimia dengan metoda stream sediment sampling, soil sampling, rock sampling yang kemudian dilanjutkan dengan pemboran (drilling), pembuatan paritan (trenching), dan peledakan (blasting).

2. Tahap Eksploitasi/Penambangan

Pada tahap ini yang terpenting dan perlu diperhatikan adalah ketika alat-alat berat mulai masuk kelokasi penambangan serta sejumlah besar material (limbah material padat), baik yang berasal dari batuan maupun pengupasan lapisan tanah untuk mendapatkan mineral-mineral yang diinginkan; dimana limbah material padat ini harus dipindahkan ke lokasi-lokasi diluar lokasi tambang. Pengelolaan limbah padat yang berasal dari tahap eksploitasi/penambangan harus dikelola secara hati-hati sehingga dikemudian hari tidak menimbulkan dampak lingkungan yang berupa pencemaran, degradasi lingkungan dan polusi.

Tahap Pemprosesan Mineral

Pembuangan limbah yang berasal dari pemrosesan mineral-mineral merupakan permasalahan yang sangat unik dan komplek. Pemrosesan mineral dapat terdiri dari pencucian untuk memisahkan lempung p g dan pasir, proses penggerusan, penggilingan dan pemisahan material-material yang tidak ekonomis (limbah padat) lebih besar dibandingkan dengan material-material yang mempunyai nilai ekonomis, yaitu perbandingannya berkisar antara 10 : 90 atau bahkan mencapai 0,5 : 99,5, sehingga pada tahap ini volume limbah dari material yang tidak terpakai menjadi suatu masalah tersendiri.

(35)

Dalam teknik penambangan terdapat 3 (tiga) dampak lingkungan yang sangat khas, yaitu : 1. Hidraulicking

Hidraulicking adalah sistem penambangan yang dilakukan dengan cara menyemprotkan air terhadap material yang akan ditambang. Adapun dampak yang dapat terjadi pada sistem penambangan ini adalah endapan-endapan material yang diendapkan oleh sungai akan menimbun daerah seperti daerah pertanian ataupun daerah pemukiman.

2. Dredging

Dredging adalah sistem penambangan yang dilakukan dengan cara menggunakan mesin keruk. Umumnya dilakukan disepanjang pantai dan sungai, untuk mendapatkan bahan baku pasir dan kerikil sebagai bahan bangunan. Dampak dari sistem penambangan model ini umumnya adalah terjadinya kolam kolam air yang ada disepanjang sungai akibat pengerukan oleh mesin keruk. Degradasi lingkungan yang mungkin terjadi pada sistem penambangan dengan metoda ini adalah terganggunya sistem hidrologi air tanah.

3. Strip Mining

Strip Mining adalah sistem penambangan yang dilakukan dengan cara mengupas lapisan tanah dan batuan yang menutupi lapisan batuan yang akan di tambang, seperti lapisan batubara. Adapun dampak dari sistem penambangan seperti ini adalah material tanah yang tidak terpakai hasil pengupasan sebagai limbah padat. Disamping itu lahan bekaspenambangan mengalami degradasi, karena untuk dapat ditanami kembali akan memakan waktu yang lama, karena lapisan tanah yang subur sudah terkupas dan dampak lainnya adalah terganggunya sistem hidrologi tanah.

(36)

PERTEMUAN KE-VIII

TEKNIK ANALISIS ASPEK FISIK & LINGKUNGAN, EKONOMI SERTA SOSIAL BUDAYA DALAM PENYUSUNAN TATA RUANG

Tujuan sosialisasi pedoman teknik analisis aspek fisik & lingkungan, ekonomi serta sosial budaya dalam penyusunan tata ruang yaitu untuk menyebarluaskan informasi mengenai isi buku tersebut dengan menggunakan modul terapan dari pedoman teknik analisis aspek fisik & lingkungan, ekonomi serta sSosial budaya dalam penyusunan tata ruang.

Modul terapan pedoman teknik analisis aspek fisik lingkungan, ekonomi serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang, disusun untuk memberikan penjelasan sistematis mengenai substansi pedoman dan cara menerapkan buku pedoman dalam perencanaan tata ruang.

Apa yang dimaksud dengan pedoman teknik analisis aspek fisik lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang?

Buku pedoman yang berisikan penjelasan mengenai berbagai cara/teknik mengolah data untuk menganalisis aspek fisik lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya dalam proses penyusunan rencana tata ruang. Tahapan analisis merupakan tahapan penting yang harus dilakukan untuk bisa mendapatkan olahan informasi yang sesuai dengan kebutuhan penyusunan rencana tata ruang berdasarkan data-data dasar yang ada.

Apa tujuan dilakukannya analisis aspek fisik lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang ?

Untuk memberikan arahan bagi pemangku kepentingan dalam melakukan analisis-analisis dalam dalam aspek penataan ruang sebagai salah satu tahapan yang diperlukan dalam penyusunan rencana tata ruang.

Siapa yang dapat menggunakan buku pedoman analisis aspek fisik & lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang ?

(37)

1. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sebagai acuan dalam penyelenggaraan penataan ruang di daerah, khususnya instansi yang mempunyai tugas, pokok dan fungsi menyusun rencana tata ruang dan instansi-instansi sektoral yang terkait dengan pelaksanaan penataan ruang

2. Paktisi/perencana/planner sebagai acuan dalam menyusun rencana tata ruang

3. Stakeholder lain sebagai bahan informasi dalam menentukan lokasi dan besaran kegiatan pemanfaatan ruang termasuk investasi, antara lain wakil masyarakat, pihak akademisi, asosiasi, dan dunia usaha yang terlibat dalam proses penyusunan rencana tata ruang

Mengapa perlu dilakukan analisis aspek fisik & lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang ?

Analisis ini dilakukan untuk mengenali karakteristik sumber daya fisik lingkungan, ekonomi dan sosial budaya daerah sehingga pemanfaatan lahan dalam pengembangan wilayah dan kawasan dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem.

Kapan perlu menggunakan buku pedoman teknik analisis aspek fisik lingkungan, ekonomi, serta sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang ?

Bila suatu daerah hendak menyusun rencana tata ruang, digunakan untuk menganalisa data dan fakta fisik lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya di daerah agar dapat menjadi acuan dasar penetapan struktur dan pola ruang serta kebijakan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang.

(38)
(39)

Ruang Lingkup

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai analisis, antara lain:

 Acuan Normatif : berbagai aturan perundangan yang menjadi dasar legalitas,

 Referensi Tambahan & Pengaturan Teknis : berbagai pedoman dan bahan yang dapat menjadi referensi dalam melaksanakan analisis dalam proses penataan ruang

Sistematika Buku Modul

Dalam buku pedoman teknik analisis aspek fisik lingkungan, ekonomi, terdapat 4 sub bagian:  Sub Bagian 1 tentang Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan

 Sub Bagian 2 tentang Analisis Aspek Ekonomi  Sub Bagian 3 tentang Analisis Aspek Sosial Budaya

 Sub Bagian 4 tentang Keterkaitan Hasil Analisis (Aspek Fisik & Lingkungan, Aspek Ekonomi, dan Aspek Sosial Budaya)

1. Teknik Analisis Aspek Fisik Lingkungan

Mengapa harus menganalisis aspek fisik dan lingkungan dalam penyusunan rencana tata ruang? Lahan pengembangan wilayah merupakan sumber daya alam yang memiliki keterbatasan dalam menampung kegiatan manusia dalam pemanfaatannya. Banyak contoh kasus kerugian ataupun korban yang disebabkan oleh ketidaksesuaian penggunaan lahan yang melampaui kapasitasnya. Untuk itu, perlu dikenali sedini mungkin karakteristik fisik

(40)

suatu wilayah maupun kawasan yang dapat dikembangkan untuk dimanfaatkan oleh aktivitas manusia.

Tujuan menganalisis aspek fisik dan lingkungan yaitu menemukenali berbagai karakteristik sumberdaya alam melalui telaah kemampuan dan kesesuaian lahan, agar penggunaan lahan dalam pengembangan wilayah/kawasan dapat dilakukan secara optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem untuk keberlanjutan. Keluaran yaitu peta kemampuan lahan, peta kesesuaian lahan, rekomendasi kesesuaian lahan.

Analisis Kemampuan Lahan

Tujuan analisis kemampuan lahan yaitu untuk memperoleh gambaran tingkat kemampuan lahan untuk dikembangkan sebagai perkotaan, sebagai acuan bagi arahan-arahan kesesuaian lahan pada tahap analisis berikutnya. Keluarannya berupa peta klasifikasi kemampuan lahan untuk pengembangan kawasan; kelas kemampuan lahan untuk dikembangkan sesuai fungsi kawasan; potensi dan kendala fisik pengembangan lahan.

Sebelum mulai menganalisis kemampuan lahan, dilakukan lebih dahulu pengelolaan data-data dasar spasial ke dalam berbagai jenis peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL). Jenis analisis yaitu: SKL Morfologi, SKL Kemudahan Dikerjakan, SKL Kestabilan Lereng, SKL Kestabilan,

(41)

Pondasi, SKL Ketersediaan Air, SKL Untuk Drainase, SKL terhadap Erosi, SKL Pembuangan Limbah dan SKL terhadap Bencana Alam.

(42)

Analisis Kesesuaian Lahan

Tujuan analisis kesesuaian lahan yaitu untuk mengetahui arahan-arahan kesesuaian lahan, sehingga diperoleh arahan kesesuaian peruntukan lahan untuk pengembangan kawasan berdasarkan karakteristik fisiknya. Keluarannya berupa peta arahan kesesuaian peruntukan lahan dan deskripsi pada tiap arahan peruntukan.

Jenis analisis yaitu arahan tata ruang pertanian, arahan rasio tutupan, arahan ketinggian bangunan, arahan pemanfaatan air baku, perkiraan daya tampung lahan dan persyaratan dan pembatas pengambangan.

Penyusunan rekomendasi kesesuaian lahan bertujuan untuk merangkum semua hasil studi kesesuaian lahan dalam satu rekomendasi kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan, yang akan merupakan masukan bagi penyusunan rencana pengembangan kawasan. Keluarannya berupa peta rekomendasi kesesuaian lahan, kapasitas pengembangan lahan, serta deskripsi masing-masing arahan dalam rekomendasi tersebut temasuk persyaratan pengembangannya.

(43)

2. Teknik Analisis Aspek Ekonomi

Mengapa harus menganalisis aspek ekonomi dalam enyusunan rencana tata ruang? Hal yang mendasar dalam analisis ekonomi pengembangan wilayah dan/atau kawasan yaitu perlunya mengenali potensi lokasi, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan, sehingga akan terjadi efisiensi tindakan. Dengan usaha yang minimum akan diperoleh hasil yang optimum yang kesemuanya bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran bagi seluruh masyarakat, serta terjadinya investasi dan mobilisasi dana.

Tujuan analisis aspek ekonomi yaitu untuk menemukenali potensi dan sektor-sektor yang dapat dipacu, serta permasalahan perekonomian khususnya untuk penilaian kemungkinan aktivitas ekonomi yang dapat dikembangkan pada wilayah dan/atau kawasan tersebut. Keluarannya berupa hasil identifikasi potensi sumberdaya lokasi, sumberdaya alam, sumberdaya buatan, dan sumberdaya manusia.

Identifikasi Potensi Sumberdaya

Identifikasi potensi sumberdaya dilakukan untuk mendapatkan gambaran potensi yang dapat dimanfaatkan secara optimal dan dikembangkan untuk peningkatan perekonomian daerah. Jenis analisi yaitu analisis aspek lokasi, sumberdaya alam, sumberdaya buatan, dan sumberdaya manusia.

Analisis Perekonomian

Analisis perekonomian bertujuan untuk menemukenali potensi dan permasalahan perekonomian yang dimiliki oleh wilayah dan/atau kawasan pada saat ini. Jenis analisis yaitu struktur ekonomi dan pergeserannya, sektor basis, komoditi sektor basis yang memiliki keunggulan komparatif dan berpotensi ekspor.

Analisis Penentuan Sektor/Komoditas Potensial

Sektor/komoditas potensial adalah sektor/kegiatan ekonomi yang mempunyai potensi, kinerja, dan prospek yang lebih baik dibandingkan sektor lainnya sehingga

(44)

diharapkan mampu menggerakkan kegiatan usaha ekonomi turunan lainnya dan dapat tercipta kemandirian pembangunan wilayah / kawasan.

Analisis Penentuan Sektor/Komoditas Unggulan

Sektor/komoditas unggulan adalah sektor/kegiatan ekonomi yang mempunyai potensi, kinerja, dan prospek yang paling baik diantara sektor/komoditas potensial sehingga diharapkan

Mampu menggerakkan kegiatan usaha ekonomi turunan lainnya, & dapat tercipta kemandirian pembangunan wilayah / kawasan. Jenis analisis yaitu analisis pengaruh kebijakan pemerintah, analisis pasar unggulan dan pola aliran komoditas, unggulan, analisis potensi pengembangan kegiatan / komoditas, unggulan dan analisis pemilihan sektor / komoditas unggulan.

Penilaian Kelayakan Pengembangan Komoditas Unggulan

Penyusunan penilaian kelayakan pengembangan komoditas unggulan ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan pada tahap analisis aspek ekonomi. Jenis analisis yaitu analisis kebutuhan teknologi untuk mengolah komoditas unggulan dan analisis kebutuhan infrastruktur untuk pengembangan komoditas unggulan.

3. Teknik Analisis Sosial Budaya

Mengapa harus menganalisis aspek sosial budaya dalam penyusunan rencana tata ruang? Analisis sosial budaya adalah analisis untuk melakukan kajian secara mendalam tentang dampak sosial budaya yang ditimbulkan dalam pembangunan tata ruang.

Analisis sosial budaya lebih menekankan pada uraian fakta yang meliputi peristiwa, subyek (pelaku), obyek, interaksi, dan konflik sosial, serta dokumen, yang keseluruhannya sangat penting kedudukannya dalam setiap analisis. Analisis sosial budaya sebenarnya adalah suatu usaha untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai situasi sosial dan budaya dengan menelaah kaitan sejarah dan struktur sosial dalam masyarakat.

(45)

Tujuan analisis sosial budaya mengkaji kondisi sosial budaya masyarakat yang mendukung atau menghambat pengembangan wilayah dan/atau kawasan. Keluarannya berupa teridentifikasinya struktur sosial dan budaya yang terbentuk di wilayah dan/atau kawasan, terumuskannya potensi dan kondisi sosial budaya, meliputi pasar, tenaga kerja, keragaman sosial budaya penduduk serta jumlah dan pertumbuhan penduduk, penilaian pelayanan sarana dan prasarana sosial budaya yang mendukung pengembangan wilayah dan/atau kawasan.

Melakukan Analisis Indikator Sosial Budaya

Analisis indikator sosial budaya dilakukan untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat ini dapat diukur dari hdi (Human Development Index) atau indeks mutu hidup dan dependency ratio. Indikator yang analisis yaitu kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan, perumahan dan lingkungan dan sosial budaya.

Analisis Potensi Pengembangan Wilayah Berdasarkan Aspek Sosial Budaya

Analisis potensi pengembangan wilayah dan/atau kawasan berdasarkan aspek sosial budaya. Pada langkah ini akan dirangkum semua hasil kajian/analisis aspek sosial budaya dalam satu rekomendasi kelayakan sosial budaya yang akan menjadi masukan bagi penyusunan rencana tata ruang wilayah / kawasan.

Pemilihan Rencana Tindak Pengembangan Wilayah Berkaitan Dengan Aspek Sosial Budaya Pemilihan rencana tindak pengembangan wilayah berkaitan dengan aspek sosial budaya. Langkah ini akan merangkum hasil analisis data yang berasal dari indikator sosial budaya wilayah dan/atau kawasan. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dikaji untuk diselaraskan dengan kebutuhan pemerintah daerah di wilayah dan/atau kawasan.

(46)

Rekomendasi ini diarahkan pada perubahan yang direncanakan untuk seluruh masyarakat sebagai suatu sistem bukan hanya secara individu atau kelompok tertentu, mengusahakan agar anggota masyarakat dengan berswadaya lebih mampu mengatasi masalah terutama di bidang sosial ekonomi, mengusahakan agar pemerintah daerah dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui penetapan kebijakan, program, dan kegiatan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat.

4. Keterkaitan Hasil Analisis (Aspek Fisik & Lingkungan, Aspek Ekonomi, Dan Aspek Sosial Budaya)

Mengapa hasil analisis aspek fisik & lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial budaya harus dikaitkan? Lahan pengembangan wilayah memiliki keterbatasan dalam menampung kegiatan manusia dalam pemanfaatannya, oleh karenanya pemanfaatan lahan harus seoptimal mungkin guna menciptakan kemakmuran masyarakat. Sementara kondisi dimana interaksi suatu kegiatan dengan ruang wilayah selalu menimbulkan dampak tertentu, maka akan berimplikasi pada diperlukannya pengaturan proses pemanfaatan ruang sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi ruang wilayah maupun kegiatan lainnya.

Keterkaitan Hasil Analisis

Tujuan keterkaitan hasil analisis yaitu untuk menemukenali kegiatan-kegiatan yang paling sesuai untuk dikembangkan berdasar potensi yang dimiliki oleh suatu daerah dari keterkaitan hasil analisis aspek fisik lingkungan, aspek ekonomi dan aspek sosial budaya untuk mencapai kondisi yang dicita-citakan. Keluarannya berupa konsep perencanaan ruang wilayah, struktur dan pola pemanfaatan lahan.

(47)

Cara Mencapai Keluaran

Penyusunan Konsep Rencana

Konsep rencana akan mendasari strategi dalam pemanfaatan ruang yang akan tercermin dalam pPerencanaan struktur dan pola ruang.

Analisis Fisik dan Lingkungan dan Keterkaitannya dengan Analisis Aspek Ekonomi dan Sosial Budaya

(48)

Dari analisis ini akan diperoleh masukan untuk proses penyusunan rencana tata ruang wilayah khususnya yang berkaitan dengan perencanaan distribusi pemanfaatan lahan. Dari distribusi lahan yang ada akan dapat dianalisis kemungkinan benturan antar pemanfaatan ruang terkait dengan dampak yang ditimbulkan dari aktivitas pemanfaatan ruang tersebut. Analisis pola penggunaan lahan juga menjadi penguat analisis mengenai struktur ekonomi wilayah, seperti apakah potensi ekonomi sektor basis didukung oleh kondisi ketersediaan lahan yang terpelihara atau justru terancam dengan terjadinya pengalihan fungsi lahan, apakah sektor yang dominan menjadi mata pencaharian penduduk berbanding lurus dengan luas lahan yang tersedia untuk menampung kegiatan sektor tersebut, dll.

Analisis Ekonomi dan Keterkaitannya dengan Analisis Aspek Fisik Lingkungan dan Sosial Budaya

Dari analisis ini akan diperoleh masukan untuk proses penyusunan rencana tata ruang wilayah khususnya yang berkaitan dengan perencanaan sektor basis wilayah, yang berimplikasi pada perlunya pengalokasian ruang yang memadai untuk pengembangan sektor basis tersebut.

Pola keterkaitan ke depan (forward linkage) dan ke belakang (backward linkage) dari sektor basis, yang akan menjadi masukan untuk menyusun rencana sistem infrastruktur wilayah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah, serta rencana pengalokasian ruang untuk kegiatan budidaya yang mendukung optimalisasi nilai tambah dari sektor basis (kawasan industri, kawasan pelabuhan, pasar, kawasan agropolitan, dll).

Pola penyebaran ekonomi wilayah, sebagai masukan untuk menyusun sistem struktur tata ruang wilayah sedemikian rupa terbentuk sistem pusat-pusat pertumbuhan dan derah hinterlandnya yang memiliki mekanisme hubungan ekonomi yang positif (minimalisasi backwash effect). Selain itu, informasi ini juga akan menjadi dasar untuk proses perencanaan kebutuhan infrastruktur sehingga proses pembangunan ekonomi berlangsung lebih merata di seluruh wilayah.

(49)

Analisis Aspek Sosial Budaya dan Keterkaitannya dengan Analisis Aspek Fisik Lingkungan dan Ekonomi

Dari analisis ini akan diperoleh masukan untuk proses penyusunan rencana tata ruang wilayah khususnya yang berkaitan dengan Pola sosial budaya dimana dinamika sosial-budaya masyarakat dikaji untuk mengetahui sampai sejauh-mana norma-norma sosial budaya atau sistem nilai yang dianut mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku para warga masyarakat. Pengaruh sistem nilai ini akan mempengaruhi dinamika sosial masyarakat secara keseluruhan dan pada gilirannya akan mendorong atau menghambat usaha-usaha peningkatan produktifitas masyarakat.

Perencanaan kependudukan yang dibutuhkan karena karakteristik kependudukan memiliki hubungan yang saling mempengaruhi dengan pola aktivitas pemanfaatan ruang. Dalam hal ini, pemahaman terhadap kondisi SDM dan kependudukan (misalnya dari hasil analisis proyeksi penduduk di masa mendatang) akan menjadi masukan dalam penyusunan rencana penyebaran penduduk (dikaitkan dengan rencana sistem permukiman untuk menampung jumlah penduduk dan menyebarkannya secara merata), merencanakan kebutuhan sistem prasarana dan fasilitas pelayanan, dan bahkan arahan untuk mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk.

Penyusunan Rencana Struktur & Pola Ruang

Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat, yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.

(50)
(51)

PERTEMUAN KE-IX

INFORMASI GEOLOGI DALAM PENATAAN RUANG

Kawasan JABODETABEKPUNJUR (Kawasan Strategis Nasional)

Tujuan (Perpres No. 54/2008): 1. Keterpaduan

2. Daya dukung lingkungan yg berkelanjutan

3. Perekonomian wilayah yang produktif, efektif, dan efisien Review per 5 tahun

“Intelligent-planning”, yaitu memperhatikan kondisi geologi sesuai daya dukung. Saat ini tata Ruang Bawah Tanah belum ada.

(52)

Geologi dan Penataan Ruang

Informasi dasar geologi dalam penataan ruang, meliputi:

• Peta : Peta geologi bersistem, peta geologi teknik, peta hidrogeologi, peta bencana geologi • Permasalahan: perbedaan skala geologi vs skala penataan ruang yaitu 1: 100.000 vs 1: 50.000. Informasi rinci belum tersedia

(53)

Peta Geologi Jakarta

(54)

Peta Geologi Tangerang

(55)

Geologi Jabodetabekpunjur memiliki skala: 1: 100.000. Geologi berupa litologi sangat bervariasi. Geologi teknik berupa daya dukung sangat bervariasi. Keadaan hidrogeologi berupa aquifer potensial merupakan daerah resapan (dinamisme). Kebencanaan berupa gempa (building code), gunung api, banjir, land subsidence, kekeringan, longsoran.

Kesimpulan

Intelligent planning memerlukan informasi geologi. Di Kawasan Strategis Nasional JABODETABEKPUNJUR, skala peta geologi belum memadai untuk perencanaan tata ruang sehingga dibutuhkan informasi geologi rinci dan perlu disusun tata ruang bawah tanah.

(56)

PERTEMUAN KE-X SUMBERDAYA LAHAN Sumberdaya Lahan

Lahan dapat didefinisikan sebagai suatu ruang di permukaan bumi yang secara alamiah dibatasi oleh sifat-sifat fisik serta bentuk lahan tertentu. Sumberdaya lahan adalah lahan yang didalamnya mengandung semua unsur sumberdaya, baik yang berada diatas maupun dibawah permukaan bumi.

Kriteria Peruntukan Lahan

Faktor-faktor yang menentukan sumberdaya lahan adalah: a). Ketinggian / Elevasi;

b). Kelerengan; c). Jenis batuan; d). Jenis tanah; e). Tutupan lahan; f). Hidrologi;

g). Fauna dan flora;

h). Iklim dan posisi geografis; i). Bencana alam

Perencanaan Tataguna Lahan

Perencanaan tataguna lahan pada hakekatnya adalah pemanfaatan lahan yang ditujukan untuk suatu peruntukan tertentu. Permasalahan yang mungkin timbul dalam menetapkan peruntukan suatu lahan adalah faktor kesesuaian lahannya. Pada dasarnya kesesuaian suatu lahan sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungannya, seperti kelerengan, iklim, jenis tanah dan batuan, tutupan lahan, keberadaan satwa liar, hidrologi, dan lain sebagainya.

(57)

Ada 3 tahapan di dalam proses perencanaan tataguna lahan, yaitu:

1. Tahap pertama adalah melakukan survei awal atas data-data dasar yang ada yang meliputi kajian pustaka, survey lapangan, serta pekerjaan laboratorium guna menyusun dan memadukan data dasar ke dalam peta-peta berskala 1: 25.000, yang selanjutnya dipakai untuk pembuatan laporan.

2. Tahap Kedua adalah melakukan penilaian kapabilitas lahan hasil dari tahap pertama untuk berbagai peruntukan lahan, seperti misalnya untuk pertanian atau perumahan. 3. Tahap ketiga adalah menyiapkan rencana lokasi dan tujuan peruntukan lahannya.

Tinjauan Data dan Kajian Data

Hasil dari kajian pendahuluan terhadap tinjauan data harus disajikan dalam peta-peta tematik yang terdiri dari:

1. Peta Topografi / Peta Rupa Bumi dan Citra Satelit 2. Peta Kelerengan

3. Peta Vegetasi

4. Peta Geologi dan Peta Rawan Bencana Landslide /Seismik / Banjir 5. Peta Tanah

6. Peta Hidrologi

7. Peta Tutupan Lahan (Land Cover) 8. Peta Existing Tataguna Lahan 9. Peta Kapabilitas Lahan

Peta Topografi/Rupa Bumi

Peta rupabumi adalah peta dasar yang umum digunakan untuk menentukan persen lereng / kelas lereng, arah lereng, serta ketinggian. Peta kelerengan dapat dihasilkan dari peta rupa bumi dengan cara perhitungan garis kontur dengan menggunakan rumus tertentu untuk mengelompokkan kelas-kelas lereng tertentu. Persentase kelas lereng umumnya dipakai oleh para perencana (planers) di dalam perencanaan lahan. Peta kelerengan tidak saja mengelompokkan bentuk-bentuk bentangalam, akan tetapi dapat untuk mengetahui informasi

(58)

yang berkaitan dengan arah lereng yang berpengaruh terhadap iklim mikro, hidrologi, jenis vegetasi dan kestabilan lahan.

Pengelompokan kelas lereng sangat berpengaruh terhadap peruntukan lahan. Pada tabel 7.2 diperlihatkan karakteristik lahan dan kesesuaian lahan didasarkan atas kelas lereng. Kelas lereng antara 0-5% adalah bentuk bentangalam (terrain) dataran yang peruntukan lahannya sesuai untuk pemukiman atau pertanian, namun bentuk bentangalam yang berupa dataran memiliki potensi terhadap genangan air dan drainase yang kurang baik, sedangkan kelas lereng 30-50% merupakan bentuk bentangalam yang terjal. Bentuk bentangalam semacam ini hanya cocok untuk pemukiman yang bersifat cluster (terbatas) dan sebagai areal wisata serta baik untuk lahan hutan.

Klimatologi

Kondisi iklim di suatu wilayah akan sangat menentukan dalam penetapan peruntukan lahan, seperti peruntukan lahan untuk areal rekreasi, perumahan, pasokan air, jenis vegetasi, dan lahan pertanian. Data iklim dari suatu wilayah sangat diperlukan, terutama untuk wilayah wilayah yang memiliki bentangalam bervariasi mulai dari dataran pantai hingga pegunungan.

Data iklim akan sangat diperlukan terutama dalam menentukan jenis dan tipe pertanian apa yang akan dikembangkan di wialayah tersebut. Adapun data-dasar iklim yang diperlukan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Temperatur rata-rata pada musim kemarau ( Maret – Agustus) 2. Temperatur rata-rata pada musim penghujan (September – Februari) 3. Presipitasi (penguapan) rata-rata per-tahun

4. Jumlah rata-rata cuaca berawan per-tahun 5. Jumlah rata-rata cuaca cerah per-tahun 6. Kecepatan angin rata-rata

7. Kelembaban rata-rata

8. Catatan temperatur terendah 9. Catatan temperatur tertinggi 10. Catatan daerah kabut

(59)

Vegetasi

Peta vegetasi adalah peta yang menggambarkan penyebaran berbagai jenis tanaman dan tumbuhan yang terdapat di wilayah tersebut. Peta vegetasi dapat diturunkan dari peta rupa bumi yaitu dari unsur land-cover atau landusenya. Untuk melengkapi peta vegetasi diperlukan data citra satelit, terutama untuk mendeliniasi tutupan berbagai jenis vegetasi dan tumbuhan yang terdapat di lahan tersebut, seperti areal hutan bakau, tanaman pantai, padang rumput, semak, belukar, hutan dan lain sebagainya.

Geologi dan Bencana geologi

Pada umumnya peta geologi menggambarkan penyebaran dari berbagai jenis batuan, struktur geologi, stratigrafi (susunan batuan). Peta Geologi memuat informasi tentang Sumberdaya geologi yaitu Sumberdaya air, Sumberdaya Mineral, Sumberdaya Energi. Bahaya Geologi berupa Bahaya Longsoran, Bahaya Banjir, Bahaya Gempabumi dan Tsunami.

Tanah

Hal yang sangat penting dari peta tanah adalah informasi mengenai jenis dan tipe tanah yang terdapat di dalam lahan tersebut. Ada dua hal yang penting dalam klasifikasi tanah, yaitu:

1. Tanah untuk kepentingan pertanian, seperti jenis tanah, moisture tanah, ketebalan lapisan tanah, water table, porositas tanah, resistensi terhadap erosi.

2. Tanah untuk kepentingan kontruksi (daya dukung tanah), seperti: Porositas Tanah, Permeabilitas Tanah, Sifat Fisik Tanah (Swelling dan Shrinked), Plastisitas, Mekanika Tanah, dan Keterbatasan terhadap penyaring septik-tank.

Satwa liar

Keberadaan satwa liar di suatu wilayah/lahan perlu dipertimbangkan di dalam penetapan peruntukan lahan. Suatu laporan tentang kondisi satwa liar yang hidup dan terdapat di suatu lahan sangatlah penting, baik dalam tipe dan jenis satwa serta jumlah dan populasinya. Laporan tentang keberadaan satwa liar ditekankan pada kelompok satwa liar yang dilindungi

(60)

dikaitkan dengan kebedaaan manuisia yang akan menempati wilayah/lahan tersebut, sehingga ekosistem dapat terjaga.

Hidrologi

Peta hidrologi adalah peta yang menggambarkan penyebaran sumberdaya air, baik sumberdaya air yang berada dipermukaan maupun bawah permukaan. Pada umumnya peta hidrologi berisi informasi sumberdaya air permukaan (surface runoff) yang terdiri dari air sungai, danau, situ, mata air, dan air rawa) dan informasi penyebaran sumberdaya air bawah tanah (water table dan akifer). Hal yang terpenting dalam hidrologi adalah bagaimana menghitung dan meng-analisa data-data curah hujan rata-rata tahunan, presipitasi rata-rata tahunan serta data-data lainnya untuk menentukan besarnya cadangan air yang tersedia serta memperkirakan secara kasar kebutuhan air yang diperlukan. Dengan demikian Perencana dapat memperhitungkan perkiraan kebutuhan air yang diperlukan seperti untuk sektor pertanian, industri, irigasi, manusia, jasa dsbnya.

Tutupan lahan

Peta Tutupan Lahan adalah peta yang berisi informasi baik vegetasi maupun hasil budidaya manusia. Biasanya cara yang paling mudah untuk memetakan land cover melalui interpretasi citra satelit (Landsat, SPOT, Ikonos, Quickbirds, Foro Udara dsb.) dengan cara men-deliniasi batas batas dari jenis tutupan lahan. Hasil interprtasi harus dibarengi dengan ground-check di lapangan secara sampling. Bagi perencana, peta tutupan lahan sangat penting dan menjadi pertimbangan di dalam penetapan peruntukan lahan, terutama dalam konversi lahan dan perhitungan biaya land clearing.

Tataguna Lahan Existing

Peta existing tataguna lahan yang sudah ada dapat dipakai sebagai acuan di dalam perencanaan peruntukan lahan. Sarana dan prasarana yang sudah ada seperti jalan raya, jaringan listrik, telepon, air minum, atau gas, bangunan, fasilitas sosial dan lain sebagainya dapat ditingkatkan dan dikembangkan.

(61)

Peta existing dapat dipakai sebagai acuan dan dipakai juga untuk kompilasi dengan data-data yang ada dari peta-peta tematik yang sudah dibuat sehingga akan dihasilkan suatu rencana pengembangan penggunaan lahan yang sesuai dengan batasan-batasan yang telah ada.

Kemampuan lahan

Pemanfaatan suatu lahan untuk suatu peruntukan tertentu harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti kesesuaian / kapabilitas lahan dan daya dukung lahan. Contoh: Lahan A berupa dataran, tersusun dari batu lempung yang bersifat swelling dan bervegetasi jarang serta tersedia fasilitas jalan kereta api dan jaringan air minum sedangkan lahan B berupa perbukitan yang disusun oleh struktur tanah yang stabil dan berdampingan dengan kawasan hutan dan belum tersedia jaringan air minum maupun jalan.

Referensi

Dokumen terkait

Data penelitian tingkat pengetahuan anemia kelompok remaja putri pada saat post-test yang diberikan komik sebagai media pendidikan gizi mengalami peningkatan dari

c. Wawancara ; teknik ini diperlukan untuk melengkapi da ta yang diperoleh melalui studi dokumentasi dan observasi. Selain itu wawancara juga dipergunakan untuk memperoleh.. data

Untuk penjualan smartphone Xiaomi di jaringan took ritelnya, perusahaan telah melakukan pembahasan intensif, sebab pihak Xiaomi juga belum memiliki kan- tor perwakilan

MELLY MELATI DEVI, D0210073, PEMBERITAAN CALON PRESIDEN DAN CALON WAKIL PRESIDEN DI SURAT KABAR SELAMA MASA KAMPANYE PEMILU 2014 (Studi Mengenai Pemberitaan Calon

Persentase tingkat kondisi jalan kabupaten baik dan sedang mempunyai target sebesar 42.85% dan dapat di ralisasikan sebesar 51.112% atau Presentase yang di capai adalah

Faktor penyebab terjadinnya risiko operasional dibagi menjadi faktor internal dari bank dan faktor eksternal dari nasabah, cara yang dilakukan oleh BRI KC Cianjur

Ketersediaan data kepegawaian secara lengkap dan real time yang disusun menurut jabatan, pangkat, unit kerja, kualifikasi, dan kompetensi Tersedia data kepegawaian yang