p-ISSN 2615-5532 http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PG PAUD UNTIRTA 2017
KETAHANAN PANGAN KELUARGA DALAM RANGKA
PEMENUHAN GIZI DAN OPTIMALISASI PERKEMBANGAN
OTAK ANAK USIA DINI
Penasehat: Dr. H. Aceng hasani, M.Pd. Pemimpin Redaksi: Atin Fatimah, M.Pd. Tim Prosiding: 1. Dr. Isti Rusdiyani, M.Pd. 2. Ratih Kusumawardhani, M.Pd. 3. Erin Sabrina 4. Annisa Qur’ani Sekretariat: 1. Wulan Nurrohmah2. Sri Astuti febriani Cover dan Tata Letak: Desma Yuliadi Saputra, S.Pd.
JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENINGKATAN KREATIVITAS MENGGAMBAR ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI TEKNIK ARSIR (Penelitian Tindakan di TK Negeri Pembina Kota Serang 2016)
Ade Ika Nopiani
PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK KELOMPOK B (Penelitian Tindakan Kelas di PAUD Al-Maidah Bandung-Serang)
Amsanah
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SAINS PERMULAAN MELALUI METODE EKSPERIMEN PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI RA AR-ROHMAH CILEGON Anissa Sekar Violita
PERAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN NILAI -NILAI MORAL ANAK USIA 5-6 TAHUN
Balqis Gusetiarini
PENGARUH ALAT PERMAINAN EDUKATIF SI “BAM” TERHADAP KEMANDIRIAN ANAK
Citra Hapsari dan Mila Karmila
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AWAL ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI BERMAIN PAPAN FLANEL DI TK IZZATI KAMPUNG HIDEUNG KECAMATAN BAROS SERANG BANTEN
Dede Nurhasanah
MENINGKATKAN KEMAMPUAN KREATIVITAS MELALUI KEGIATAN MONTASE (Penelitian Tindakan pada Kelompok B Di PAUD Al-Kautsar Kota Cilegon) Dian Maryati, Atin Fatimah, dan Tricahyani E.Y
PENINGKATAN KECERDASAN KINESTETIK ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI GERAK TARI KREASI (Penelitian Tindakan Kelas di TK Islam Citra Mandiri Serang-Banten) Dinda Nuryuliani
DAFTAR ISI
1
11
23
33
41
51
57
65
p-ISSN 2615-5532 http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
MENANAMKAN AKHLAQ PADA ANAK USIA DINI DALAM BERBICARA BAIK DAN SOPAN MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL (Penelitian Tindakan, Di TK Pertiwi Kelompok B Kabupaten Kuningan, Tahun 2017)
Erna Juherna
PERKEMBANGAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Fadlullah
PENINGKATAN KEMAMPUANMOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN KOLASE ANAK USIA 4-5 TAHUN (Penelitian Tindakan di TK IT SEMUT, Cilegon-Banten)
Fitriani
MENINGKATKAN MINAT BACA MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Iin Inratyani
KECERDASAN SPIRITUAL ANAK USIA 5-6 TAHUN DALAM PENGEMBANGAN NILAI-NILAI AGAMA ISLAM
Khairunnisa
MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN FUN COOKING PADA ANAK KELOMPOK B MADINAH
Lela Nurlaela, Ratih Kusumawardani, dan Tri Sayekti
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA HURUF HIJAIYAH ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KARTU HURUF HIJAIYAH
Nur Intan Pratiwi
MENINGKATKANKETERAMPILAN BERBICARA ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MENDONGENG DI PAUD DARUL MA’ARIF CILEGON-BANTEN
Nurul Anggraeni Hidayah
PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI PENERAPAN METODE PROYEK (Penelitian Tindakan Kelas Pada Anak Kelompok A di TK Bangun Cita Insani-Serang)
Opah Musaropah
PERKEMBANGAN MORFOLOGI ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TAMAN KANAK-KANAK
Pupung Puspa Ardini
73
79
91
97
105
115
125
133
143
155
MENINGKATKAN KECERDASAN VERBAL-LINGUISTIK MELALUI KEGIATAN BERNYANYI
Rani Sofia Ardiyani
MENINGKATKAN KEMAMPUAN DISIPLIN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN
Ratih Chandraningsih
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP ANGKA MELALUI MEDIA FLIP CHART PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN DI RA TARBIYATUL AULAD Ria Anggun Kusuma
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI LEGO KONSTRUKTIF
Rina Damayanti dan Atin Fatimah
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGENAL BENTUK GEOMETRI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF MAKE A MATCH PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN
Rosita Sari
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAKUSIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN TARI KREASI (Penelitian Kualitatif di TK B, Kemala Bhayangkari 2 Pandeglang-Banten)
Siti Magfiroh
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL KONSEP GEOMETRI ANAK KELOMPOK B MELALUI BERMAIN KONSTRUKTIF (Penelitian Tindakan Kelas di RA Ar – Rahmah Pondok Aren – Tangsel)
Siti Rohmah
MENINGKATKAN KREATIVITAS MELALUI BERMAIN LEGO PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK TUNAS MERAK PANDEGLANG
Upiah
PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5-6 TAHUN MELALUI KEGIATAN MENJAHIT (Penelitian Tindakan Kelas di TK Kartika Siliwangi 39 Kota Serang-Banten)
Usi Rizanti
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK MELALUI METODE BERCERITA DENGAN BONEKA JARI (Penelitian Tindakan Kelas pada Anak TK B di TK Tunas Bangsa Jatiuwung Tangerang Tahun Pembelajaran 2015/2016) Waras Vivi Afiati
167
175
183
193
205
211
219
231
239
245
p-ISSN 2615-5532 http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
PENINGKATAN KEMAMPUAN FISIK MOTORIK MELALUI PERMAINAN SIRKUIT BOLA (Penelitian Tindakan Pada Kelompok B Paud Al-Furqon Desa Salareuma Kecamatan Cipicung Kabupaten Kuningan, Tahun 2017) Yenti Juniarti dan Gilang Ramadan
PENINGKATAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK MELALUI PERMAINAN KARTU BILANGAN PADA ANAK KELOMPOK B USIA 5-6 TAHUN RA AL-JAUHAROTUNNAQIYAH SERANG BANTEN
Yuliani Oktavia
2ϱ5
261
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL
KONSEP GEOMETRI ANAK KELOMPOK B
MELALUI BERMAIN KONSTRUKTIF
(Penelitian Tindakan Kelas di RA Ar – Rahmah
Pondok Aren – Tangsel)
Siti Rohmah
RA Ar Rahmah Pondok Aren Tangsel [email protected]
ABSTRACT
The method used was classroom action research, conducted in collaboration with classroom teachers in group B. Subject of this research were 10 children consisting of 6 girls and 4 boys. Data collection techniques using observation, interviews and documentation. The research was conducted by two cycles of each cycle con-sists of four phases: planning, action, observation and reflection. Data were ana-lyzed using qualitative analysis and quantitative analysis. Indicators of success in this research is successful if the percentage of the ability to recognizing the con-cept of geometry in children has reached 75% with good criteria or that are in the category of developing according to expectations. Based on the data from the first conditions before the action research grade obtained information that a percentage of 37.5% was not reached indicator of success. So do the research in RA Ar-Rahmah Pondok Aren- South Tangerang. The results showed a gradual in-crease in the ability to recognizing the concept of geometry through constructive play. It can be seen from the increase in overall percentage obtained an increase of 15.5% with the results of 53% at the end of the first cycle, an increase of 32% to 85% results in the second cycle. Based on these data we can conclude that by playing a constructive can improve the ability to recognizing the concept of geometry in children in group B RA-Ar-Rahmah Pondok Aren- South Tangerang.
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
ABSTRAK
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas, dilakukan bekerja sama dengan guru kelas kelompok B. Subjek penelitiannya 10 orang terdiri dari 6 anak perempuan dan 4 anak lali-laki.. Teknik pengumpulan data menggunakan obsevasi, wawancara dan dokumentasi.. Penelitian dilakukan dengan dua siklus setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamat-an dpengamat-an refleksi. Teknik pengamat-analisis data menggunakpengamat-an pengamat-analisis kualitatif dpengamat-an pengamat-analisis kuantitatif. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dikatakan berhasil jika per-sentase kemampuan mengenal konsep geometri pada anak telah mencapai 75% dengan kriteria baik atau berada pada kategori berkembang sesuai harapan. Berdasarkan data hasil kondisi awal sebelum dilakukan penelitian tindakan kelas diperoleh keterangan bahwa presentase sebesar 37,5% belum mencapai indikator keberhasilan. Maka dilakukan penelitian di RA Ar-Rahmah Pondok Aren-Tangerang selatan. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan secara bertahap pada kemampuan mengenal konsep geometri melalui bermain konstruktif. Hal tersebut dapat dilihat dari persenase peningkatan secara keseluruhan diperoleh pening-katan sebesar 15,5% dengan hasil 53% pada akhir siklus I, peningpening-katan sebesar 32% dengan hasil 85% pada siklus II. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan bermain konstruktif dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep geometri pada anak kelompok B di RA Ar-Rahmah Pondok-Aren-Tangerang Selatan.
Kata kunci: Mengenal Konsep Geometri; Bermain Konstruktif.
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Anak Usia Dini merupakan usia ke-emasan (golden age) maka dari itu pada usia dini inilah anak wajib mendapat sti-mulasi untuk mengembangkan setiap ke-mampuan yang dimilikinya agar anak bisa tumbuh kembang secara optimal, hal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini tertulis pada pasal 28 ayat 1 yang berbunyi “Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat mengikuti pen-didikan dasar”.
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan usaha dari keluarga, sekolah, masyarakat yang harus menyeleggarakan pendidikan dengan tujuan menggali potensi yang dimiliki masing-masing anak, serta mem-fasilitasi pertumbuhan dan perkembang-an perkembang-anak secara menyeluruh atau mengem-bangkan setiap aspek perkembangan
anak,Pendidikan Anak Usia Dini sangat berperan penting agar setiap anak dapat melanjutkan kejenjang pendidikan se-lanjutnya. Pendidikan Anak Usia Dini juga merupakan salah satu cara untuk mens-timulasi, membimbing, mengasuh dan mengasah setiap perkembangan anak melalui pemberian kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan dan ke-terampilan anak dalam semua aspek per-kembangan, oleh karena itu setiap lem-baga PAUD harus menyediakan kegiatan-kegiatan yang mampu menstimulasi setiap aspek perkembangan anak mulai dari perkembangan moral dan agama, fisik motorik, kognitif, bahasa serta sosia-lemosional.
Salah satu aspek perkembangan anak yang perlu distimulasi adalah aspek per-kembangan kognitif sebab perper-kembangan kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar karena sebagian aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah berpikir. Dalam kehidupannya, anakakan selalu
dihadapkan pada persoalan-persoalan yang menuntut adanya penyelesain, menyelesaikan suatu persoalan merupa-kan langkah yang lebih kompleks pada diri anak, sebelum anak mampu menye-lesaikan persoalan, anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penye-lesaiannya.
Selain itu salah satu tujuan mensti-mulasi perkembangan kognitif supaya anak dapat mengenal konsep geometri se-perti mengetahui bentuk persegi, persegi panjang, segitiga, dan lingkaran, karena dengan mengenal konsep geometri adalah salah satu cara untuk anak latihan berpikir misalnya pada saat anak meng-hubungkan bentuk geometri dengan namanya, menganalisis cirri dari masing-masing bentuk geometri, mencocokan bentuk geometri sesuai dengan jenisnya, membuat hasil karya dari bentuk-bentuk geometri dan menyebutkan benda di sekitarnya yang bentuknya sama dengan bentuk-bentuk geometri, misalnya bola berbentuk lingkaran, pintu berbentuk per-segi panjang, jendela berbentuk perper-segi.
Namun, dari hasil pengamatan pra penelitian pada kenyataannya di RA Ar– Rahmah peneliti menemukan permasa-lahan di antaranya: dalam proses pembel-ajaran guru belum menggunakan cara ber-main yang variatif sehingga anak kurang berminat dalam belajar, terutama pada saat belajar mengenal konsep geometri hal ini menyebabkan rendahnya kemapuan anak dalam mengenal konsep geometri, dari 10 orang anak di kelompok B belum bisa mengenal nama-nama bentuk geo-metri seperti: persegi, persegi panjang, segitiga, dan lingkaran,anak belum bisa mencocokan bentuk geometri sesuai dengan jenisnya dan belum bisa mem-bedakan antara bentuk persegi dan per-segi panjang,bahkan ada seorang anak yang hanya bisa mengenal bentuk persegi dan persegi panjang dengan nama kotak.
Permasalah yang terjadi di RA Ar -Rahmah bisa diatasi dengan cara mem-berikan tindakan melalui stimulasi ber-main yang menggunakan alat berber-main konstruktif. Peneliti akan menciptakan proses pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Anak akan diajak belajar sambil bermain, ada pun cara yang tepat untuk mengembangkan kemampu-an mengenal konsep geometri yaitu me-lalui bermain konstruktif, karena ber-mainan konstruktif adalah sebuah ke-giatan yang dilakukan anak-anak dengan menggunakan balok kayu, plastisin yang disusun menjadi sebuah bangunan, dengan tujuan untuk mendapatkan kegem-biraan tanpa adanya paksaan dan aturan.
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti mengambil kesimpulan untuk melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Kemampuan Mengenal Konsep Geometri Melalui Bermain Konstruktif Pada Anak Kelompok B di RA Ar – Rahmah Pondok Aren – Tangerang Selatan”.
2. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, penelitian difokuskan pada kegiatan bermain konstruktif kaitan-nya dengan meningkatkan kemampuan mengenal konsep geometri pada anak kelompok B di ra ar – rahmah pondok aren – tangerang selatan
3. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses kegiatan bermain
konstruktif dalam meningkatkan ke-mampuan mengenal konsep geo-metri pada anak kelompok B di ra ar – rahmah pondok aren – tangerang selatan?
2. Bagaimana peningkaran kemampuan
mengenal konsep geometri pada anak kelompok B di RA Ar – Rahmah Pondok Aren – Tangerang Selatan?
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ 4. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui proses bermain
konstruktif dalam meningkatkan ke-mampuan mengenal konsep geo-metri pada anak kelompok B di RA Ar – RahmahPondok Aren – Tangerang Selatan.
2. Untuk mengetahui peningkatkan
ke-mampuan mengenal konsep geo-metri pada anak kelompok B di RA Ar – Rahmah Pondok Aren – Tangerang Selatan.
B. Kajian Teoritk
1. Hakikat Anak Usia Dini
Hakikatnya anak usia dini merupakan individu yang sedang menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan dengan pesat sehingga anak siap untuk kehidupan selanjutnya. Anak usia 0-6 tahun merupa-kan usia yang sangat menentumerupa-kan dalam pembentukan karakter dan keperibadian. Masa ini pula masa yang penting bagi pe-ngembangan inteligensi bagi diri anak. Menurut Berk dalam Sujiono, (2009:6) proses pertumbuhan dan perkembangan-nya anak usia dini dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia. Sujiono (2009:54) berpendapat berdasar-kan teori perkembangan anak, diyakini bahwa setiap anak lahir dengan lebih dari satu bakat. Bakat tersebut bersifat potensial dan ibaratnya belum muncul dipermukaan air, untuk itulah anak perlu diberikan pendidikan yang sesuai dengan perkembangannya.
Adapun aspek yang perlu perlu di-kembangan dalam diri anak ada lima dianatanya: nilai-nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa dan sosial emosional. Oleh karena pendidik dan orang tua hendaknya menciptakan ling-kungan di mana anak dapat mengeksplo-rasi pengalaman yang memberikan ke-sempatan kepada anak untuk mengetahui
dan memahami pengalaman belajar yang diperoleh dari lingkungan, melalui cara mengamati, meniru dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan ke-cerdasan anak sehingga semua aspek per-kembangan anak dapat tercapai secara optimal.
2. Hakikat Kemampuan Mengenal
Konsep GeometriAnak Usia 5-6 Tahun a. Perkembangan Kognitif Anak Usia
5-6 Tahun
Kemampuan kognitif merupakan ke-mampuan di mana anak dapat berpikir secara logis yang diperolehnya melalui informasi-informasi dan ide-idenya yang realistis serta menyangkut kecerdasan se-seorang dalam memecahkan suatu masalah. Kemampuan ini selanjutnya ber-kembang menjadi kemampuan berpikir logis.Hal ini sesuai dengan pernyataan Catron dan Allen dalam Sujiono, (2009:78) Perkembangan kognitif ditandai oleh suatu kemampuan untuk merencanakan, menjelaskan suatu strategi untuk meng-ingat dan untuk mencari solusi terhadap suatu permasalahn.
Piaget dalam Sujiono, (2009:80) menguraikan perkembangan kognitif anak usia 5-6 tahun berada dalam fase pra-oprasional. Dikatakan praoperasional karena anak telah menggunakan logika pada tempatnya, dan apa yang sebelum-nya diperoleh anak dikembangkan kem-bali dalam bentuk representasi mental. Anak juga dapat mentransfer gagasan tentang objek, hubungan sebab akibat, ruangan, dan waktu ke dalam perantara baru.Pada tahap praoperasional anak ber-pikir simbolik dan bahasa mulai jelas terlihat untuk menggambarkan objek dan kejadian, anak dapat memanipulasi objek simbol termasuk kata-kata yang me-rupakan karakteristik penting dalam tahapan ini.
b. Pengertian Kemampuan Mengenal Konsep Geometri Anak Usia 5-6 Tahun Konsep matematika untuk anak usia dini masih terfokus pada kemampuan mengenal bentuk geometri. Penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2012:2) me-nunjukkan bahwa konsep geometri cukup kuat untuk mendukung meningkatkan pe-mahaman yang luas dari matematika for-mal. Pengenalan bentuk geometri sendiri untuk anak usia dini sebenarnya tidak ada masalah asalkan sesuai dengan metode dan media yang tepat dalam proses pem-belajarannya. Pembelajaran geometri di-berikan melalui berbagai macam permain-an ypermain-ang menarik hal ini akpermain-an lebih cepat membantu anak dalam memahami dan mengenal bentuk-bentuk geometri, seperti: bentuk persegi, persegi panjang, segitiga dan lingkaran.
Lestari, (2011:4), menjelaskan bahwa mengenal bentuk geometri pada anak usia dini adalah kemampuan anak menge-nal, menunjuk, menyebutkan serta mengum-pulkan benda-benda di sekitar berdasar-kan bentuk geometri. Pendapat lain yang diungkapkan oleh Triharso (2013:50), me-nyatakan bahwa dalam membangun konsep geometri pada anak dimulai dari meng-identifikasi bentuk-bentuk, menyelidiki bangunan dan memisahkan gambar-gambar biasa seperti, segi empat, lingkaran, dan segitiga. Belajar konsep letak, seperti di bawah, di atas, kiri, kanan, meletakkan dasar awal memahami geometri.
Tarigan (2006: 32), menjelaskan bahwa belajar geometri adalah berpikir mate-matis, yaitu meletakkan struktur hirarki dari konsep-konsep lebih tinggi yang bentuk berdasarkan apa yang telah ter-bentuk sebelumnya, sehingga dalam bel-ajar geometri seseorang harus mampu menciptakan kembali semua konsep yang ada dalam pikirannya. Mengenalkan ber-bagai macam bentukgeometri pada anak usia dini dapat dilakukan dengan cara
me-ngajak anak bermain sambil mengamati berbagai benda di sekelilingnya. Anak akan belajar bahwa benda yang satu mem-punyai bentuk yang sama dengan benda yang lainnya seperti ketika mengamati bentuk buku mempunyai bentuk yang sama dengan segi empat atau persegi.
Teori belajar dalam pembelajaran geometri yang dapat mengembangkan tahap mental anak dapat ditinjau dari tiga unsur di antaranya adalah waktu, materi pengajaran, dan metode pengajaran yang diterapkan.Apabila ketiga unsur tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka dapat meningkatkan kemampuan berpikir yang lebih tinggi pada anak dan mampu berpikir secara rasional.Adapun tahapan pengenalan geometri yang sesuai dengan anak menurut Lestari, (2011:2) adalah per-tama anak belajar mengenal bentuk-bentuk sederhana.Kedua, anak belajar tentang ciri-ciri dari setiap bentuk geo-metri. Selanjutnya, anak belajar menerap-kan pengetahuannya untuk berkreasi membangun dengan bentuk-bentuk geometri.
3. Hakikat Bermain Konstruktif Pengertian Bermain Konstruktif
Sejatinya dunia anak adalah bermain karena melalui bermain anak dapat belajar semua hal, dapat bereksplorasi, dan dapat meningkatkan keterampilan-nya sehingga anak mampu berinteraksi dengan baik dilingkungan sekitarnya dan lebih siap untuk menghadapi pendidikan selanjutnya, dari sekian banyaknya jenis bermain, bermain konstruktiflah yang banyak manfaatnya karena pada saat anak bermain konstruktif anak dapat mening-katkan keterampilannya, dan dapat me-ningkatkan semua aspek perkembangan-nya terutama perkembangan kognitf.
Tedjasaputra, (2001:56-57) menye-butkan bahwa bermain konstruktif yaitu kegiatan yang menggunakan berbagai
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ benda yang ada untuk menciptakan suatu hasil karya tertentu dari alat yang tersedia. Adapun macam-macam kegiatan adalah menggambar, menciptakan bentuk dari lilin mainan, menggunting dan menempel kertas atau kain, merakit kepingan kayu atau plastik menjadi bentuk tertentu.
Menurut Hurlock, (1988:330) bermain konstruktif adalah permainan dimana anak-anak menggunakan bahan untuk membuat sesuatu yang bukan tujuan ber-manfaat melainkan merasakan kegem-biraan yang diperoleh pada saat mem-buatnya. Sebagian besar konstruktif yang dibuat merupakan tiruan dari apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari atau dari layar bioskop dan televisi. Pada masa ini anak-anak sering menambahkan kreativitasnya dalam konstruksi-kons-truksi yang dibuat berdasarkan pengamat-annya dalam kehidupan sehari-hari. C. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang di-gunakan adalah metode penelitian tin-dakan kelas. Penelitian tintin-dakan kelas ber-asal dari bahasa Inggris, yaitu Classrom Action Research, yang berarti penelitian dengan melakukan tindakan yang dilaku-kan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar anak menjadi me-ningkat.
Pernyataan ini sesuai dengan pen-dapat Arikunto, (2002:18) yang menyata-kan PTK adalah gabungan pengertian dari kata “penelitian, tindakan dan kelas”. Penelitian adalah kegiatan mengamati suatu objek, dengan menggunakan kaidah metodologi tertentu untuk mendapatkan data yang bermanfaat bagi peneliti dan orang lain demi kepentingan bersama. Se-lanjutnya tindakan adalah suatu perlaku-an yperlaku-ang sengaja diterapkperlaku-an kepada objek
dengan tujuan tertentu yang dalam pene-rapannya dirangkai menjadi beberapa periode atau siklus. Dan kelas adalah tempat di mana sekolompok siswa belajar bersama dari seorang guru yang sama dalam periode yang sama.
2. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat yang menjadi subjek pene-litian adalah RA Ar-Rahmah Pondok Aren-Tangerang Selatan. Penelitian dilaksana-kan pada tanggal 23 Mei sampai dengan selesai.
3. Prosedur Penelitian Tindakan Model penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pengembangan dari model Kemmis dan Mc Taggart dalam Kusuma dan Dwitagama (2011:12) yang meliputi perencanaan, tindakan, peng-amatan, Dalam penelitian ini, peneliti melaksanakan tindakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Dengan demikian satu siklus adalah dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi atau evaluasi.
4. Kriteria Keberhasilan Tindakan Untuk mengetahui berhasil tindak-nya tindakan yang telah dilaksanakan dengan berdasar pada rencana tindakan yang ditetapkan, maka kriteria yang di-gunakan adalah bersumber dari tujuan atau misi dilakukannya tindakan.
Menurut Iskandar, (2012:113) kriteria dijadikan tolak ukur keberhasilan tindak-an dimaksud adalah pencapaitindak-an ketuntas-an belajar minimal 75% dengketuntas-an nilai rata-rata lebih besar 75 sesuai dengan indi-kator kompetensi yang ditetapkan.
Sedangkan dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul meningkatkan kemam-puan mengenal konsep geometri melalui bermain konstruktif dikatakan berhasil
apabila tingkat pencapaian anak dari semua indikator mencapai 75% sama dengan kategori berkembang sesuai harapan. 5. Sumber Data
Sumber data penelitian ini kami per-oleh dari guru pendamping dan semua anak kelompok B di RA Ar-Rahmah Pondok Aren-Tangerang Selatan yang memiliki kemampuan mengenal konsep geometri yang rendah dengan jumlah anak 10 yang terdiri dari 4 orang anak laki-laki dan 6 orang anak perempuan.
6. Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan: Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan Catatan Lapangan. 7. Pemeriksaan Keabsahan Data
Dalam penelitian ini, pemeriksaan keabsahan datanya adalah sebagai beri-kut: Perpanjangan keikutsertaan, Ketekun-an pengamatKetekun-an, TriKetekun-angulasi, Analisis kasus negatif, Pengecekan/diskusi teman se-jawat, Kecukupan referensial, dan Penge-cekan anggota.
8. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik Miles dan Huberman. Milles dan Huberman mengatakan bahwa analisis dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi (Sugiyono, 2012:58).
D. Pembahasan
Pada bagian ini, peneliti membahas hasil temuan dan menghubungkannya dengan pendapat para ahli yang telah dipaparkan pada bab II dan menambahkan pendapat-pendapat lain yang dijadikan sebagai acuan dalam memperkuat temu-an peneliti. Hal ini ditemui peneliti
ber-dasarkan data yang diperoleh dari hasil observasi yang berupa catatan lapangan, catatan wawancara, dan dokumentasi. Berikut adalah pembahasan:
1. Proses Penerapan Bermain Konstruktif Proses bermain konstruktif dalam meningkatkan kemampuan mengenal konsep geometri anak, hai ini dapat dilihat pada pra penelitian anak-anak di kelompok B belum mengenal nama-nama bentuk geometri secara menyeluruh, namun ketika peneliti memberikan tin-dakan melalui bermain konstruktif, se-perti dalam kegiatan menempel (mem-buat gambar matahari) anak dikenalkan dengan bentuk segitiga dan lingkaran dan anak mampu mencocokan bentuk geo-metri dengan benda yang ada disekitarnya. Kemudian pada saat anak melakukan kegitan menempel dan menggunting (membuat gedung) anak mampu mem-buat bentuk-bentuk geometri. Pada saat kegiatan bermain puzzle dan balok anak mampu menyebutkan ciri-ciri dari masing-masing bentuk geometri. Kemudian pada saat bermain plastisin dan balok anak-anak mampu membuat hasil karya dari bentuk-bentuk geometri dan mampu mencerita-kan hasil karyanya tersebut. Uraian di atas sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Lestari, (2011:2) dalam belajar geometri adalah pertama anak belajar mengenal bentuk-bentuk sederhana.Kedua, anak belajar tentang ciri-ciri dari setiap bentuk geometri. Selanjutnya, anak belajar me-nerapkan pengetahuannya untuk ber-kreasi membangun dengan bentuk-bentuk geometri.
Berdasarkan temuan dan pernyataan ahli dalam teorinya dapat disimpulkan bahwa dengan bermain konstruktif dapat meningkatkan kemampuan mengenal konsep geometri pada anak kelompok B di RA Ar-Rahmah Pondok Aren-Tangerang Selatan.
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/
2. Peningkatan Kemampuan Anak
Kelompok B di RA Ar-Rahmah Pondok Aren – Tangerang Selatan
Mengenal konsep geometri merupa-kan salah satu proses untuk menstimulasi aspek perkembangan kognitif anak yang berhubungan dengan pembelajaran ma-tematika dasar. Oleh karena itu seorang guru dalam upaya meningkatkan kemam-puan mengenal konsep geometri hendak-nya memberikan kegitan pembelajran yang menarik sehingga mampu menarik minat anak dalam belajar, sehingga pe-ruses pengenalan konsep geometri ber-jalan dengan baik.
Dalam meningkatkan kemampuan mengenal konsep geometri guru bisa me-milih kegiatan bermain yang variatif salah satunya bermain konstruktif seperti yang dilakukan peneliti. Hal ini diperkuat oleh teori yang dikemukakan oleh Tarigan (2006: 32), menjelaskan bahwa belajar geometri adalah berpikir matematis, yaitu meletakkan struktur hirarki dari konsep-konsep lebih tinggi yang terbentuk ber-dasarkan apa yang telah terbentuk se-belumnya, sehingga dalam belajar geo-metri seseorang harus mampu mencipta-kan kembali semua konsep yang ada dalam pikirannya. Mengenalkan berbagai macam bentuk geometri pada anak usia dini dapat dilakukan dengan cara meng-ajak anak bermain sambil mengamati ber-bagai benda di sekelilingnya.
Berdasarkan teori dan pemaparan pe-neliti diatas setelah melakukan tindakan-tindakan melalui bermain konstruktif pada saat penelitian dan setealah melaku-kan analisis data adanya kenaimelaku-kan secara keseluruhan dan diperoleh kenaikan sebesar 15,5% dengan hasil 53% pada akhir siklus I, peningkatan sebesar 32% dengan hasil 85% pada siklus II.
Sebagaimana yang telah disampaikan pada interpretasi hasil analisis bahwa pe-nelitian ini dikatakan berhasil jika adanya
peningkatan kemampuan mengenal konsep geometri anak minimal 75%. Hasil persentase yang didapat pada siklus II tersebut, maka peneliti dan kolaborator menyatakan adanya peningkatan ter-hadap kemampuan mengenal konsep geometri anak kelompok B melalui ber-main konstruktif di RA Ar-Rahmah yang mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu mencapai 84%, maka peneliti-an ini dinyatakpeneliti-an berhasil setelah dilaku-kannya penerapan bermian konstruktif.
Berdasarkan persentase hasil yang didapat pada siklus II, peneliti menyata-kan bahwa peningkatan pada siklus II ini meningkat dengan sangan baik melebihi skor minimum yang ditargetkan peneliti sebelumnya yaitu mencapai 85% dan se-cara kontinum persentase di atas berada diskla berhasil dan masuk dalam kategori kemampuan mengenal konsep geometri anak kelomopok B berkembang sangat baik.
E. Simpulan, Implikasi, dan Saran 1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan-pembahas-an ypembahasan-pembahas-ang telah dijelaskpembahasan-pembahas-an peneliti menyim-pulkan sebagai berikut:
a. Berdasarkan proses penelitian
tin-dakan kelas yang telah dilaksanakan dari muali tindakan awal dengan dua siklus, berdasarkan seluruh pem-bahasan dan penilaian yang telah di-simpilkan bahwa bermain konstruktif merupakan upaya yang dapat me-ningkatkan kemampuan mengenal konsep geometri anak.
Bermain konstruktif sangat men-dukung dalam meningkatkan ke-mampuan mengenal konsep geo-metri anak usia 5-6 tahun. Anak dapat menstimulasi perkembangan kog-nitifnya terutama dalam mengenal konsep geometri dalam bermain konstruktif anak dapat menuangkan
idenya pada saat membuat hasil karya dari bentuk-bentuk geomtri dan beberapa kemampuan lainnya yang sudah dijelaskan sebelumnya, se-hingga disini kemampuan mengenal konsep geometri anak berkembang sangat baik.
b. Bermain konstruktif dapat mening-katkan kemampuan mengenal konsep geometri anak kelompok B di RA Ar-Rahmah, hal ini berdasarkan hasil analisis pada kondisi awal 37,5% ke-mudian disiklus I mengalami pening-katan yang signifikan mencapai 53% dan pada siklus II mengalami pening-katan mencapai 85% ini melebihi tar-get yang diharapkan peneliti dan kola-borator sebesar 75%.
Dari penelitian ini berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui bermain konstruktif dapat meningkatkan kemampuan menge-nal konsep geometri anak kelompok B di RA Ar-Rahmah.
2. Implikasi
Penelitian ini dilakukan mengingat bahwa banyak subjek penelitian adalah anak usia 5-6 tahun. Oleh karena itu, dalam menjalankan proses pembelajaran harus menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan usia dan perkembang-an perkembang-anak, pembelajarperkembang-an harus mengguna-kan metode yang menarik minat anak dan menyenangkan, menstimulasi berbagai kemampuan anak, sehingga pembelajar-an menjadi lebih bermakna dpembelajar-an dpembelajar-an dapat merangsang kemampuan mengenal konsep geometri anak dan prestasi anak pun meningkat sesuai harapan serta men-dapat hasil pembelajaran yang baik. Beri-kut ini merupakan implikasi pelaksanaan peningkatan kemampuan mengenal konsep geomertri anak melalui bermain konstruktif, diantaranya:
a. Bermain konstruktif menstimulasi
kemampuan mengenal konsep geo-metri anak agar mampu mengenal bentuk-bentuk geometri,
b. dapat meningkatkan antusias anak dalam kegiatan menghias kelas sec-ara berkelompok
c. dapat merangsang perkembangan
kog-nitif anak khususnya dalam kemampu-an mengenal konsep geometri. d. guru dapat menggunakan beberapa
metode untuk alternatif penyelesai-an masalah kemampupenyelesai-an mengenal konsep geometri anak usia 5-6 tahun. Guru juga harus selalu membimbing dan memperhatikan kemampuan mengenal konsep geometri anak yang masih lambat dalam perkem-bangannya baik di kelas maupun di luar kelas.
3. Saran
Dalam melakukan penelitian ini, pe-neliti mengalami hambatan-hambatan sehingga peneliti mencoba memberikan saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti khusnya dan umumnya bagi semua pihak yang terlibat dalam peneliti-an ini.
a. Kepala Sekolah RA Ar-Rahmah Kepala sekolah hendaknya memberi motivasi kepada guru agar mampu me-milih kegiatan bermian yang bervariatif, selain itu juga kepala sekolah harus mem-fasilitasi guru dalam menyediakan media untuk proses pembelajaran terutama dalam pembel-ajaran yang dapat mening-katkan kemampuan mengenal konsep geometri anak.
b. Guru RA Ar-Rahmah
1) Dapat memberikan kegiatan pembel-ajaran geometri yang lebih menarik dan inovatif untuk anak misalnya: menggunakan media yang menarik
p-ISSN 2615-5532
http://semnaspgpaud.untirta.ac.id/index.php/ minat anak untuk belajar mengenal konsep geometri.
2) Dapat menciptakan media pembel-ajaran yang menarik dan menyenang-kan supaya anak tertarik dan senang saat mengikuti kegiatan pembel-ajaran mengenal konsep geometri. 3) Dapat meningkatkan kemampuan
bentuk geometri anak melalui kegiat-an ykegiat-ang menarik dkegiat-an bervariasi ykegiat-ang dilakukan berulang-ulang sehingga anak dapat megenal konsep geometri dengan mudah dan menyenangkan. b. Peneliti Selanjutnya
Agar dapat mengembangkan aspek-aspek yang diteliti, sehingga diperolrh
hasil yang lebih optimal dari
meningkatkan kemampuan mengenal konsep geometri anak melalui bermain konstruktif.
Daftar Pustaka
Agung Triharso. 2013. Permainan Kreatif dan Edukatif untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Departemen Pendidikan Nasional. 2009. Acuan Menu Pembelajaran Generik Tahun 2009 (Kurikulum PAUD). Jakarta: Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka. Daitin Tarigan. 2006. Pembelajaran
Mate-matika Realistik. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jen-deral Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Ke-pendidikan dan Ketenagaan Perguru-an Tinggi.
Harahab, Negoro B. 2003. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Ghalia Indone-sia
Hurlock, E. B. 1978. Perkembangan Anak Jilid 1. (Alih Bahasa: Meitasari Tjanadrasa) Jakarta: Penerbit Erlangga. Ismayani, Ani. 2010. Fun Math with
Chil-dren. Jakarta: Elex Media Kompu-tindo.
Iskandar. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Referensi (GP Press Group) Juwita, Kenny Dewi, dkk. 2000.
Mencipta-kan Kelas yang Berpusat Pada Anak: 3-5 Tahun. Jakarta: CRI Indonesia. Kusni. 2008. Geometri Dasar. Semarang:
Universitas Negeri Semarang. Lestari, A.W. 2012. Penerapan Mengenal
Konsep Bangun Geometri Melalui Kegiatan Bermain Meronce Sebagai Upaya Pengembangan Kognitif Anak Usia Dini di PAUD Anggrek Sidoarjo. [Online] Vol 3 No 1 12 halaman [ 20 februari 2016]
Lestari K.W. 2011. Konsep Matematika. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pen-didikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Direktorat Pembinaan Pen-didikan Anak Usia Dini.
Menteri Pendidikan Nasional. 2009. Peraturan Menteri Nasional Republik Indonesia Nomor. 58 tentang Standar Pendidkan Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Moleong, J Lexy. 2007. Metodologi
Pene-litian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
Mulyadi, Seto. 2004. Bermain dan Kreativi-tas. Upaya Mengembangkan Kreati-vitas Anak Melalui Kegiatan Bermain. Jakarta: Papas Sinar Sinanti.
Rusdinal & Elizal. 2005. Pengelolaan kelas Di TK. Jakarta: Departemen Pendidik-an Nasional.
Sudaryanti. 2006. Modul Pengenalan Ma-tematika Anak Usia Dini. Yogyakarta: UNY.
Sujiono, Yuliani Nuraini. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.
Jakarta: Indeks
Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Sumantri, Mulyani dan Nana Syaodih. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka
Surya, Yohanes. 2009. Matematika Asyik, Mudah, dan Menyenangkan 5 B. Tangerang: Kandel.
Tedjasaputra, S Mayke. 2001. Bermain, Mainan dan Permainan untuk Pen-didikan Usia Dini. Jakarta: Grasindo
Wahyudi dan Damayanti. 2005. Program Pendidikan untuk Anak Usia Dini di Prasekolah Islam. Jakarta: Grasindo. Wardani, IGAK dan Kusmaya Wahardit.
2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wijaya Kusuma & Dedi Dwitagama. 2009. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Indeks
Zainal Aqip. 2009. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru. Bandung: Yrama Widya.
p-ISSN 2615-5532