• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. V PROSPEK, POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN.. V Prospek. V Potensi.. V Arah Pengembangan. V-5

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. V PROSPEK, POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN.. V Prospek. V Potensi.. V Arah Pengembangan. V-5"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

i

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI ……….. i DAFTAR TABEL ……….. iii DAFTAR GAMBAR ………. Iv I PENDAHULUAN ……….. I-1

1.1. Latar Belakang ……… I-1 1.2. Maksud dan Tujuan ……… I-4 1.3. Ruang Lingkup Pekerjaan ……… I-6 1.4. Landasan Hukum …..……….. I-6 II PENDEKATAN KONSEP ……… II-1

2.1. Pengertian-Pengertian ………. II-1 2.2. Tembakau dan Industri Rokok ………. II-9 III METODOLOGI ………..……….. III-1 3.1. Metode Pendekatan .……….. III-1 3.2. Metode Analisis ………. III-1 3.3. Lokasi Kegiatan ………. III-6 3.4. Tahap Pelaksanaan ………. III-7 IV KONDISI PERTEMBAKAUAN SAAT INI ..……… IV-1 4.1. Peran Komoditas Tembakau ….……… IV-1 4.2. Kondisi Umum Pertembakauan di Kabupaten Bandung ………. IV-6 4.3. Keragaan Tembakau Setiap Kecamatan di Kabupaten Bandung IV-40 4.4. Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Tembakau di

Kabupaten Bandung ………

IV-50

V PROSPEK, POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN …..……… V-1 5.1. Prospek ………. V-1 5.2. Potensi ……….. V-2 5.3. Arah Pengembangan ….……… V-5

(2)

ii VI KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM PENGEMBANGAN ….……… VI-1

6.1. Kebijakan ………. VI-1 6.2. Sistem Pengembangan ……….………. VI-3 6.3. Program dan Kegiatan Pengembangan Agribisnis Tembakau VI-6 VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI …………..……… VII-1

7.1. Kesimpulan ………. VII-1 7.2. Rekomendasi ……….……….. VII-2 DAFTAR PUSTAKA

(3)

iii

DAFTAR TABEL

Tabel Uraian Halaman

2.1. Target dan Realisasi Penerimaan Cukai Anggaran

Pendapatan Belanja Negara 2005- 2010 ……….. II-7 2.2. Penerimaan DBHC Hasil Tembakau Jawa Barat Tahun

2008-2011 ………... II-8 3.1. Bobot Penilian pada Analisis AHP ... III-3

(4)

iv 3.2. Jadwal Pelaksanaan Penyusunan Roadmap Komoditas

Cengkeh dan Tembakau di Kabupaten Bandung ……… III-12 4.1. Luas Lahan dan Kelembagaan Petani Tembakau di

Kabupaten Bandung Tahun 2011 ……….. IV-6 4.2. Varietas dan Penggunaan Sarana Produksi Pada Usahatani

Tembakau Di Kabupaten Bandung ………. IV-13 4.3. Produksi Tembakau Setiap Kecamatan di Kabupaten

Bandung ……….. IV-30 4.3. Produksi Tembakau Setiap Kecamatan di Kabupaten

Bandung ………. IV-33 6.1. Kegiatan Sesuai Dengan Pedoman Penggunaan Dana Bagi

Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) ... VI-6 6.2. Matriks Kegiatan Pengembangan Agribisnis Tembakau Di

Kabupaten Bandung Pada Tahun 2012-2016 ... VI-9

DAFTAR GAMBAR

Tabel Uraian Halaman

(5)

v 3.1. Diagram AHP ……….. III-5 3.2. Lokasi Kegiatan Pemetaan Industri Hasil Tembakau di

Kabupaten Bandung ……….. III-7 3.3. Hirarki kebijakan/program pengembangan tembakau ... III-9 3.4. Tahapan Penyusunan Roadmap Tembakau di Kabupaten

Bandung ……….. III-11 5.1. Kerangka Keterkaitan Industri Hasil Tembakau yang mendukung

arah pengembangan tembakau di Kabupaten Bandung ………. V-7 6.1. Strategi Umum Pengembangan Agribisnis Tembakau di

Kabupaten Bandung ……….. VI-5 6.2. Kerangka Roadmap Pengembangan Agribisnis Tembakau di

(6)

I-1

Industri Hasil Tembakau (IHT) sampai saat ini masih mempunyai peran penting dalam menggerakkan ekonomi nasional terutama di daerah penghasil tembakau, cengkeh dan sentra-sentra produksi rokok, antara lain dalam menumbuhkan industri/jasa terkait, penyediaan lapangan agribisnis dan penyerapan tenaga kerja. Dalam situasi krisis ekonomi, IHT tetap mampu bertahan dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bahkan industri ini mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan dalam penerimaan negara.

Dalam pengembangan IHT, aspek ekonomi masih menjadi pertimbangan utama dengan tidak mengabaikan faktor dampak kesehatan. Industri Hasil Tembakau mendapatkan prioritas untuk dikembangkan karena mengolah sumber daya alam, menyerap tenaga kerja cukup besar baik langsung maupun tidak langsung sehingga memberikan sumbangan dalam penerimaan negara (cukai).

Namun demikian, IHT dewasa ini dihadapkan pada berbagai permasalahan antara lain isu dampak merokok terhadap kesehatan baik di tingkat global yang disponsori oleh WHO sebagaimana tertuang dalan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) dan di tingkat nasional pengendalian produk tembakau tertuang dalam PP No.19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Di samping itu, IHT juga dihadapkan pada masalah kebijakan cukai yang tidak terencana dengan

(7)

I-2 baik, tidak transparan dan lebih berorientasi pada upaya peningkatan pendapatan negara tanpa mempertimbangkan kemampuan industri rokok dan daya beli masyarakat ditambah dengan maraknya produksi dan peredaran rokok ilegal.

Pengelompokan Industri Hasil Tembakau yaitu: 1) Kelompok Industri Hulu

Dalam Klasifikasi Baku Lapangan Agribisnis Indonesia (KBLI) tahun 2005, Industri Hasil Tembakau yang tergolong dalam Kelompok Industri Hulu adalah Industri Pengeringan dan Pengolahan Tembakau (KBLI 16001). Kelompok yang termasuk yaitu kegiatan agribisnis di bidang pengasapan dan perajangan daun tembakau.

2) Kelompok Industri Antara

Industri Hasil Tembakau yang termasuk dalam kelompok Industri Antara yaitu Industri Bumbu Rokok serta kelengkapan lainnya (KBLI 16009), meliputi: tembakau bersaus, bumbu rokok dan kelengkapan rokok lain seperti klembak menyan, saus rokok, uwur, klobot, kawung dan pembuatan filter.

3) Kelompok Industri Hilir

Industri Hasil Tembakau yang termasuk dalam Kelompok Industri Hilir meliputi: Industri Rokok Kretek (KBLI 16002), Industri Rokok Putih (KBLI 16003 dan Industri Rokok lainnya (KBLI 16004) meliputi cerutu, rokok klembak menyan dan rokok klobot/kawung.

Dari pengelompokkan Industri Hasil Tembakau di atas, potensi tembakau di Kabupaten Bandung termasuk dalam Kelompok Industri

Hulu yaitu industri pengeringan dan pengolahan tembakau dengan

(8)

I-3 Dalam Peraturan Menteri Keuangan RI No 20 Tahun 2009 Pasal 6 disebutkan bahwa Pemetaan industri hasil tembakau merupakan bagian dari pembinaan industri berupa kegiatan pengumpulan data yang berkaitan dengan industri hasil tembakau di suatu daerah, kegiatan ini sedikitnya memuat tentang asal daerah bahan baku (tembakau dan cengkeh).

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan Sanksi Atas Panyalahgunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau mengatur penggunaan DBHC – HT oleh daerah penerima. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHC – HT) yang diterima harus dialokasikan kembali pada kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan pertembakauan. Petani sebagai ujung tombak utama pelaku agribisnis tembakau harus menerima manfaat paling besar dalam penggunaan DHBC – HT tersebut. Namun, DBHC – HT tersebut tidak bisa diberikan langsung dan dikelola langsung oleh petani.

Data dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung bahwa potensi tembakau tahun 2010 meliputi: luas areal tanaman sebesar 1.216 hektar, produksi bahan mentah sebesar 5.218,40 ton, produksi hasil olahan sebesar 1.050,88 ton, rata-rata produksi sebesar 0,864 ton/hektar, dengan tenaga kerja sebanyak 3.252 KK atau jumlah tenaga kerja yang terlibat sebanyak 7.296 orang, atau 20 kelompok tani, tersebar di 15 kecamatan yaitu Arjasari, Cicalengka, Cikancung, Ciwidey, Cileunyi, Ibun, Pacet, Paseh, Soreang, Cilengkrang, Nagreg, Kutawaringin, Pasirjambu,Baleendah dan Cimaung.

Dari data potensi tembakau di atas, permasalahan yang terjadi dalam pengembangan tembakau di Kabupaten Bandung yaitu minimnya data, belum adanya pemetaan dan rencana aksi (masterplan) pengembangan tembakau, sehingga menghambat dalam penyusunan

(9)

I-4 rencana kerja maupun pengembangan tembakau secara terpadu dan berkelanjutan.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, diperlukan Penyusunan Roadmap Pengembangan Tembakau di Kabupaten Bandung yang dapat menggambarkan potensi, lokasi, dan rencana aksi dengan mensinergikan rencana pengembangan tembakau secara terkoordinasi dan terintegrasi, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.

Maksud

Maksud Kegiatan Penyusunan Roadmap Pengembangan Tembakau adalah memperoleh road map komoditas tembakau yang mendukung peningkatan kesejahteraan petani tembakau melalui agribisnis yang integrated dan sustainable di Kabupaten Bandung.

Tujuan

Tujuan Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Roadmap Pengembangan Tembakau yaitu:

a. Memetakan kekuatan dan peluang, sumberdaya lokal, potensi kelompok petani, kegiatan agribisnis dan taraf hidup petani tembakau pada 15 kecamatan penghasil tembakau di Kabupaten Bandung.

b. Pembuatan model kelembagaan dan pengembangan agribisnis tembakau secara terpadu dan berkelanjutan.

(10)

I-5 c. Penyusunan arah pengembangan tembakau kedalam sebuah dokumen

road map pembangunan dan pengembangan agribisnis petani tembakau di Kabupaten Bandung khususnya pada 15 lokasi kecamatan penghasil tembakau di Kabupaten Bandung.

Sasaran :

a. Terumuskannya kebijakan, strategi, arah pengembangan agribisnis petani tembakau tahun 2012-2016 (5 tahun) di Kabupaten Bandung . b. Tersusunnya model kelembagaan dan pengembangan agribisnis petani

tembakau yang terpadu dan berkelanjutan.

c. Terumuskannya Road map yang mencakup sasaran yang dilakukan secara berkelanjutan mencakup: teknologi, komoditas, organisasi/kelembagaan, infrastruktur, sosialisasi dengan indikator antara lain : organisasi, Sumber Daya lahan, kepemilikan lahan, pembiayaan/kelayakan usaha, penjaminan, remunerasi/upah, motif usaha/diversifikasi usaha, motif pasar, kemandirian, taraf hidup, prasarana dan sarana, pelayanan (services).

d. Tersusunnya program dan rencana aksi (action plan) kegiatan agribisnis petani tembakau tahun 2012-2016 (5 tahun, yaitu masa persiapan/pembenahan, transisi dan masa pencapaian).

Output :

a. Buku Roadmap Pengembangan Tembakau atau roadmap pembangunan dan pengembangan agribisnis petani tembakau tahun 2012-2016 (5 tahun) di Kabupaten Bandung.

b. Media sosialisasi road map pembangunan dan pengembangan agribisnis petani tembakau terpadu.

(11)

I-6 Ruang lingkup kegiatan Penyusunan Roadmap Pengembangan Tembakau meliputi substansi pekerjaan sebagai berikut :

1. Melakukan telaahan, koordinasi dan fasilitasi perencanaan pengembangan tembakau.

2. Mengidentifikasi potensi tembakau di 15 wilayah kecamatan berdasarkan kondisi sumber daya lahan, kegiatan agribisnis petani, kelembagaan agribisnis dan taraf hidup petani.

3. Mengidentifikasi pengembangan nilai tambah dan daya saing produk tembakau.

4. Mengkoordinasikan dan mensinergikan potensi masyarakat dan swasta/asosiasi sesuai dengan kapasitas pemerintah daerah untuk mewujudkan optimalisasi pengembangan tembakau di daerah.

5. Melakukan penyusunan dokumen road map pembangunan dan pengembangan agribisnis petani tembakau yang terpadu dan berkelanjutan.

6. Melakukan sosialisasi hasil pemetaan industri hasil tembakau pada 15 kecamatan di Kabupaten Bandung.

Road Map Pengembangan Tembakau Kabupaten Bandung merupakan dokumen resmi untuk memandu berbagai aktivitas pengelolaan tembakau di Kabupaten Bandung, adapun yang menjadi landasan penyusunannya adalah :

1.3. Ruang Lingkup Pekerjaan

(12)

I-7 1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana

telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai;

2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4268);

3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Daerah;

5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4411);

6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah menjadi Undang-undang;

9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

(13)

I-8 10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah;

11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; Sebagaimana telah di ubah dengan Permendagri No.59 Tahun 2007

12. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 43/PMK.04/2005 tentang Penetapan Dasar dan Tarip Cukai Tembakau;

13. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 60/PMK.07/2008 tentang Dana Alokasi Cukai Hasil Tembakau;

14. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau Dan Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau; Sebagaimana telah di ubah dengan PMK No.20/PMK.07/2009.

15. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Penggunaan Dan Pengalokasian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Tahun 2009;

16. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 85 Tahun 2010 Tentang Pembagian Alokasi Sementara Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Jawa Barat Tahun 2011.

17. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No.3 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2007-2027. 18. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No.7 Tahun 2011 tentang

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten bandung Tahun 2005-2025

(14)

I-9 19. Peraturan Bupati Bandung No. 55 Tahun 2010 Tentang Pedoman

Pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Kabupaten Bandung.

(15)

II-1 2.1.1. Pengertian Road map

Roadmap merupakan idiom dalam ragam bahasa Inggris-Amerika. Secara harfiah maknanya „peta jalan bagi kendaraan bermotor‟. Makna idiomatiknya ialah „a detailed plan to guide progress toward a goal‟ (Merriam-Webster, 2008). Tafsirannya, rencana terperinci yang mengarahkan gerak maju menuju sasaran atau matlamat

(http://rubrikbahasa.wordpress.com/2010/08/13/pemadanan-idiom-inggris)

2.1.2. Pengertian Cukai dan Barang Kena Cukai

Undang-Undang yang mengatur tentang cukai pada saat ini adalah Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai. Pengertian cukai berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 adalah sebagai berikut :

“Cukai adalah pungutan negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik yang ditetapkan dalam undang-undang ini”.

Selanjutnya berdasarkan pasal 2 UU Nomor 11 Tahun 1995 Jo. UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai, maka yang dimaksud dengan barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik dimaksud,mengandung arti :

(16)

II-2 1. konsumsinya perlu dikendalikan;

2. peredarannya perlu diawasi;

3. pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup; atau

4. pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan, dikenai cukai berdasarkan undang-undang ini.

Barang-barang yang mempunyai sifat dan karakteristik tersebut di atas dinamakan Barang Kena Cukai. Barang Kena Cukai terdiri atas : 1. Etil alkohol atau etanol, dengan tidak mengindahkan bahan yang

digunakan dan proses pembuatannya.

Pengertian "etil alkohol atau etanol" adalah barang cair, jernih, dan tidak berwarna, merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H5OH, yang diperoleh baik secara peragian dan/atau penyulingan

maupun secara sintesa kimiawi.

2. Minuman yang mengandung etil alkohol dalam kadar berapa pun, dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya, termasuk konsentrat yang mengandung etil alkohol; Pengertian "minuman yang mengandung etil alkohol" adalah semua barang cair yang lazim disebut minuman yang mengandung etil alkohol yang dihasilkan dengan cara peragian, penyulingan, atau cara lainnya, antara lain bir, shandy, anggur, gin, whisky, dan yang sejenis. Pengertian "konsentrat yang mengandung etil alkohol" adalah bahan yang mengandung etil alkohol yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan minuman yang mengandung etil alkohol.

(17)

II-3 3. Hasil tembakau, yang meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau

iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan digunakan atau tidak bahan pengganti atau bahan pembantu dalam pembuatannya.

o Sigaret adalah : Hasil tembakau yang dibuat dari tembakau rajangan yang dibalut dengan kertas dengan cara dilinting untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya. (Sigaret Kretek, Sigaret Putih dan Sigaret Kelembak Kemenyan).

 Sigaret Kretek adalah : Sigaret yang dalam pembuatannya dicampur dengan cengkih atau bagiannya, baik asli maupun tiruan tanpa memperhatikan jumlahnya.

 Sigaret Putih adalah : Sigaret yang dalam pembutannya tanpa dicampuri dengan cengkih, kelembak atau kemenyan.  Sigaret Kretek/Putih yang dibuat dengan Mesin adalah

: Sigaret Kretek dan Sigaret Putih yang dalam pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasannya dalam kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, seluruhnya atau sebagian menggunakan mesin.

 Sigaret Kretek/Putih yang dibuat dengan cara lain

daripada Mesin adalah Sigaret Kretek dan Sigaret Putih

yang dalam pembuatannya mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasannya dalam kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai, tanpa menggunakan mesin.

(18)

II-4 o Cerutu adalah : Hasil tembakau yang dibuat dari

lembaran-lembaran daun tembakau diiris atau tidak, dengan cara digulung demikian rupa dengan daun tembakau, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.

o Rokok Daun adalah : Hasil tembakau yang dibuat dari daun Nipah,daun Jagung (Klobot), atau sejenisnya, dengan cara dilinting, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.

o Tembakau Iris adalah : Hasil tembakau yang dibuat dari daun tembakau yang dirajang, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.

o Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya adalah hasil tembakau yang dibuat dari daun tembakau selain yang disebut dalam huruf ini yang dibuat secara lain sesuai dengan perkembangan tehnologi dan selera konsumen, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.

2.1.3. Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHC – HT)

Untuk penetapan harga dasar dan tarif cukai hasil tembakau ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 43/PMK.04/2005, pada peraturan ini dilakukan pembagian jenis-jenis hasil tembakau, penggolongan pengusaha pabrik hasil tembakau, nilai tarif cukai dan batasan harga jual eceran hasil tembakau buatan dalam negeri dan luar negeri, batasan harga jual eceran dan tarif cukai hasil tembakau yang diimpor maupun tidak. Peraturan ini diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 118/PMK.04/2006 pada tahun 2006, diubah kembali pada tahun 2007 dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 134/PMK.04/2007.

(19)

II-5 Pada tahun 2008 dikeluarkan peraturan baru yang mengatur tentang tarif cukai hasil tembakau dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 203/PMK.011/2008 dan diubah kembali pada tahun 2009 dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009. Perubahan yang dilakukan berulang-ulang ini dimaksudkan untuk mengikuti perubahan perekonomian negara mengikuti inflasi dan kenaikan harga yang terjadi. Hal-hal yang diubah adalah mengenai tarif dasarnya. Mengenai pengaturan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) & Sanksi Atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT). Tata urutan pelaksanaan pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) ke daerah diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 126/PMK.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah.

Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHC – HT) adalah dana yang diberikan kepada daerah, provinsi, kabupaten dan kota dari penerimaan negara yang berasal dari cukai rokok sebesar 2% sebagaimana tertuang dalam Pasal 66 A Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai, dinyatakan bahwa :

(1) Penerimaan negara dari cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia dibagikan kepada Provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2 % yang digunakan untuk mendanai :

a) peningkatan kualitas bahan baku, b) pembinaan industri,

c) pembinaan lingkungan sosial,

d) Sosialisasi ketentuan di bidang cukai, e) Pemberantasan barang kena cukai ilegal

(20)

II-6 (3) Gubernur mengelola dan menggunakan DBH Cukai hasil tembakau

dan mengatur pembagian DBH Cukai hasil tembakau kepada Bupati/Walikota di daerahnya masing-masing berdasarkan besaran kontribusi penerimaan cukai hasil tembakau.

(4) Pembagian DBH Cukai hasil tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan persetujuan Menteri, dengan komposisi :

a) 30 % untuk provinsi penghasil,

b) 40 % untuk kabupaten/kota penghasil, dan c) 30 % untuk kabupaten/kota lainnya.

Penerimaan Negara dari cukai secara keseluruhan setiap tahun mengalami peningkatan dengan kontribusi terbesar 75 % berasal dari cukai rokok. Dari cukai rokok, pemerintah bisa mendapatkan sekitar Rp 50 triliun setiap tahunnya. Peraturan Menteri Keuangan No. 181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau, yang mulai berlaku pada 1 Januari 2010 menetapkan besaran kenaikan tarif cukai pada 2010 untuk sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT). Tarif cukai untuk SKM I ditetapkan rata-rata Rp. 20 per batang. Adapun, tarif cukai untuk SKM II sebesar Rp20 per batang, sementara untuk sigaret putih mesin (SPM) golongan I Rp 35 per batang, SPM II Rp. 28 per batang. Adapun cukai untuk sigaret kretek tangan (SKT) I Rp15, SKT II Rp. 15, dan SKT III Rp. 25 per batang.

Penerimaan Negara dari cukai dalam kurun waktu tiga tahun terakhir adalah sebagai berikut :

(21)

II-7

Tabel 2.1 . Target dan Realisasi Penerimaan Cukai Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2005- 2010

Tahun Target (Rp. Triliun) Realisasi (Rp. Triliun) Rasio Cukai (Persen) 2005 32,24 33,26 103,16 2006 38,52 37,80 98,13 2007 42,03 44,70 106,35 2008 45,72 51,25 112,10 2009 53,30 54,5 102,25 2010 57,0 59,3 104,04 2011 60,7 - -

Sumber : Departemen Keuangan Republik Indonesia, 2011.

Sementara penerimaan cukai dari industri rokok yang ada di Jawa Barat cukup siginifikan untuk tiga tahun terakhir. Kontribusi penerimaan Negara tersebut berasal dari 4 pabrik besar tembakau yang ada di Kabupaten Cirebon, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bandung serta lebih dari 120 industri kecil menengah pengolah hasil tembakau yang tersebar di Jawa Barat. Atas penerimaan cukai tersebut, Jawa Barat memperoleh dana bagi hasil cukai hasil tembakau dalam dua tahun terakhir sebagai berikut :

(22)

II-8

Tabel 2.2 Penerimaan DBHC Hasil Tembakau Jawa Barat tahun 2008-2011

No. Daerah Tahun 2008

(Rp) Tahun 2009 (Rp) Tahun 2010 (Rp) Tahun 2011 (Rp) 1 Provinsi Jawa Barat 2.843.336.960 21.168.078.000 20.866.760.654 28.437.475.162 2 Kabupaten Bandung 113.733.480 827.398.867 1.866.774.819 2.187.307.060 3 Kabupaten Bekasi 2.273.866.200 17.527.734.661 10.035.323.807 10.414.478.140 4 Kabupaten Bogor 113.733.480 814.156.846 481.540.630 1.004.632.005 5 Kabupaten Ciamis 113.733.480 815.416.522 2.905.578.773 1.586.353.522 6 Kabupaten Cianjur 113.733.480 815.900.699 874.924.464 1.597.627.430 7 Kabupaten Cirebon 113.733.480 1.792.779.429 1.427.096.877 1.796.508.233 8 Kabupaten Garut 113.733.480 823.344.814 4.553.534.987 6.037.160.796 9 Kabupaten Indramayu 113.733.480 814.156.846 782.804.789 1.101.187.703 10 Kabupaten Karawang 113.733.480 5.535.032.242 5.377.449.124 7.080.460.263 11 Kabupaten Kuningan 113.733.480 814.597.634 934.776.106 1.453.412.828 12 Kabupaten Majalengka 113.733.480 815.260.916 2.788.834.226 4.786.930.865 13 Kabupaten Purwakarta 113.733.480 814.156.846 782.804.789 1.545.635.712 14 Kabupaten Subang 113.733.480 814.156.846 481.540.630 1.819.391.360 15 Kabupaten Sukabumi 113.733.480 814.156.846 779.249.872 1.302.369.006 16 Kabupaten Sumedang 113.733.480 819.525.517 4.334.903.596 5.510.583.891 17 Kab. Tasikmalaya 113.733.480 819.095.531 868.038.777 1.487.048.450 18 Kota Bandung 113.733.480 814.717.067 724.202.942 1.386.814.858 19 Kota Bekasi 113.733.480 814.156.846 782.804.789 1.164.805.676 20 Kota Bogor 113.733.480 814.174.038 553.027.059 1.037.455.468 21 Kota Cirebon 2.843.336.960 6.582.136.601 3.824.979.755 4.273.743.806 22 Kota Depok 1.627.860.700 814.156.846 481.540.630 1.402.867.794 23 Kota Sukabumi 113.733.480 814.156.846 491.030.451 1.358.657.907 24 Kota Cimahi 113.733.480 814.156.846 481.540.630 1.115.775.303 25 Kota Tasikmalaya 113.733.480 815.182.169 846.509.136 1.363.088.140 26 Kota Banjar 113.733.480 818.011.052 667.888.406 1.308.614.992 27 Kab. Bandung Barat 113.733.480 814.462.627 560.408.128 1.231.197.455

(23)

II-9

2.2.1. Tembakau

Tembakau yang dikabarkan ada sejak abad ke-16 adalah produk pertanian yang diproses dari daun tanaman dari genus Nicotiana. Tembakau dapat dikonsumsi, digunakan sebagai pestisida, dan dalam bentuk nikotin tartrat dapat digunakan sebagai obat. Jika dikonsumsi, pada umumnya tembakau dibuat menjadi rokok, tembakau kunyah, dan sebagainya. Tembakau telah lama digunakan sebagai entheogen di Amerika. Kedatangan bangsa Eropa ke Amerika Utara mempopulerkan perdagangan tembakau terutama sebagai obat penenang. Kepopuleran ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat bagian selatan. Setelah Perang Saudara Amerika Serikat, perubahan dalam permintaan dan tenaga kerja menyebabkan perkembangan industri rokok. Produk baru ini dengan cepat berkembang menjadi perusahaan-perusahaan tembakau hingga terjadi kontroversi ilmiah pada pertengahan abad ke-20.

Dalam Bahasa Indonesia tembakau merupakan serapan dari bahasa asing. Bahasa Spanyol "tabaco" dianggap sebagai asal kata dalam bahasa Arawakan, khususnya, dalam bahasa Taino di Karibia, disebutkan mengacu pada gulungan daun-daun pada tumbuhan ini (menurut Bartolome de Las Casas, 1552) atau bisa juga dari kata "tabago", sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup asap tembakau (menurut Oviedo, daun-daun tembakau dirujuk sebagai Cohiba, tetapi Sp. Tobaco (juga It. tobacco) umumnya digunakan untuk mendefinisikan tumbuhan obat-obatan sejak 1410, yang berasal dari Bahasa Arab, sebagai nama dari berbagai jenis tumbuhan. Kata tobacco (bahasa Inggris) bisa jadi berasal dari Eropa, dan pada akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis yang berasal dari Amerika.

(24)

II-10 Tembakau dan industri hasil ikutannya (rokok) selama ini telah memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional. Industri tembakau dari hulu (usaha tani) sampai hilirnya (Industri Hasil Tembakau/Pabrik Rokok) mampu menyediakan lapangan kerja yang cukup besar. Tembakau di Indonesia bisa menghidupi sekitar 6 juta orang. Mereka adalah petani tembakau, buruh pabrik rokok, distributor, biro iklan, dan orang-orang yang berkecimpung di dunia jasa event organizer (EO) yang menjadikan rokok sebagai sponsor utama kegiatan. Selain itu, tembakau juga “berkontribusi‟‟ dalam memutar roda pembangunan nasional.

Untuk mencapai usahatani tembakau yang profesional, telah dilakukan intensifikasi tembakau antara lain melalui ; 1) penggunaan benih unggul, baik berupa penggunaan benih introduksi maupun lokal ; 2) pengolahan tanah sesuai dengan baku teknis; 3) pengaturan air termasuk peramalan iklim ; 4) pemupukan tanaman ; 5) perlindungan tanaman dan 6) panen serta pasca panen.

Tanaman tembakau terdiri dari batang, daun tembakau dan bunga. Setelah tanaman tembakau berumur, daun secara bertahap dipetik mulai dari daun bawah, tengah dan atas. Selanjutnya batang tembakau dimanfaatkan untuk kayu bakar dan biji dari bunga digunakan (secara selektif) untuk bibit dan daun tembakau diproses menjadi rokok, cerutu, tembakau iris dan/atau diekspor dalam bentuk tembakau yang sudah dikeringkan. Secara singkat, pohon industri tembakau dapat digambarkan pada Gambar 2.1.

(25)

II-11 Pengusahaan tembakau oleh petani rakyat terutama ditujukan untuk ekspor, biasanya merupakan tembakau asepan yang digunakan sebagai bahan baku cerutu dan tembakau rajangan yang digunakan sebagai bahan baku rokok umumnya terkena pajak biaya cukai yang sangat tinggi kurang lebih 40 persen. Kondisi ini sangat memberatkan dan tidak kondusif bagi pengembangan tembakau nasional, padahal komoditas ini sangat prospektif baik sebagai industri yang mampu menyerap tenaga kerja secara ekstensif khususnya di pedesaan, menciptakan nilai tambah melalui kegiatan industri pengopenan, pengasapan, perajangan dan pabrik rokok, serta sebagai penghasil devisa melalui kegiatan ekspor.

Liberalisasi perdagangan yang makin menguat dewasa ini memberikan peluang-peluang baru sekaligus tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi. Dari segi permintaan pasar, liberalisasi perdagangan memberikan peluang-peluang baru seperti pasar yang semakin terbuka sejalan dihapuskannya berbagai hambatan perdagangan antar negara. Namun liberalisasi perdagangan juga menimbulkan masalah-masalah serius jika komoditas yang diproduksi secara lokal tidak mampu bersaing di pasar dunia.

(26)

II-12 Gambar 2.1. Pohon Industri Komoditas Tembakau

2.2.2. Daerah penghasil tembakau

Di Indonesia, tembakau yang baik (komersial) hanya dihasilkan di daerah-daerah tertentu. Kualitas tembakau sangat ditentukan oleh lokasi penanaman dan pengolahan pascapanen. Akibatnya, hanya beberapa tempat yang memiliki kesesuaian dengan kualitas tembakau terbaik, tergantung produk sasarannya.

Berikut adalah jenis-jenis tembakau yang dinamakan menurut tempat penghasilnya.

(27)

II-13 1. Tembakau Deli, penghasil tembakau untuk cerutu

2. Tembakau Temanggung, penghasil tembakau srintil untuk sigaret 3. Tembakau Vorstenlanden (Yogya-Klaten-Solo), penghasil tembakau

untuk cerutu dan tembakau sigaret (tembakau Virginia)

4. Tembakau Besuki, penghasil tembakau rajangan untuk sigaret 5. Tembakau Madura, penghasil tembakau untuk sigaret

6. Tembakau Lombok Timur, penghasil tembakau untuk sigaret (tembakau Virginia)

2.2.3. Industri Rokok

Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad ke-16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad ke-17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembedaan ini didasarkan atas bahan pembungkus rokok, bahan baku atau isi rokok, proses pembuatan rokok, dan penggunaan filter pada rokok.

A. Rokok berdasarkan bahan pembungkus.

1. Klobot: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung. 2. Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren. 3. Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.

(28)

II-14

B. Rokok berdasarkan bahan baku atau isi.

1. Rokok Putih: rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

2. Rokok Kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

3. Rokok Klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

C. Rokok berdasarkan proses pembuatannya.

1. Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana.

2. Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin. Sederhananya, material rokok dimasukkan ke dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin pembuat rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat rokok telah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai delapan ribu batang rokok per menit. Mesin pembuat rokok, biasanya, dihubungkan dengan mesin pembungkus rokok sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok batangan namun telah dalam bentuk pak. Ada pula mesin pembungkus rokok yang mampu menghasilkan keluaran berupa rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pak. Sayangnya, belum ditemukan mesin yang mampu menghasilkan SKT karena terdapat perbedaan diameter pangkal dengan diameter ujung SKT. Pada SKM, lingkar pangkal rokok dan lingkar ujung rokok sama besar.

(29)

II-15

D. Sigaret Kretek Mesin sendiri dapat dikategorikan kedalam 2 bagian :

1. Sigaret Kretek Mesin Full Flavor (SKM FF): rokok yang dalam proses pembuatannya ditambahkan aroma rasa yang khas. Contoh: Gudang Garam Filter Internasional, Djarum Super, dll.

2. Sigaret Kretek Mesin Light Mild (SKM LM): rokok mesin yang menggunakan kandungan tar dan nikotin yang rendah. Rokok jenis ini jarang menggunakan aroma yang khas. Contoh: A Mild, Class Mild, Star Mild, U Mild, LA Light, Surya Slim, dll.

E. Rokok berdasarkan penggunaan filter.

1. Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.

2. Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.

(30)

III-1 Metode pendekatan yang digunakan adalah survey deskriptif melalui proses pengumpulan data untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber informasi mengenai fenomena pada saat sekarang (existing condition) secara obyektif. Tujuannya untuk menyusun gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang akan dikaji, sehingga diperoleh buku roadmap tembakau yang betul-betul akurat sebagai pedoman untuk pengembangan tembakau di Kabupaten Bandung.

Setelah mengumpulkan semua data dan informasi, maka selanjutnya data diolah dan dianalisis dengan:

1. Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus, menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi, dan memutuskan strategi apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah.

3.1. Metode Pendekatan

(31)

III-2 Analisis SWOT dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Dengan dilakukannya analisis SWOT, maka akan dapat menghasilkan alternatif strategi yang sesuai dengan misi, sasaran dan kebijakan (Rangkuti, 2002).

Analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersaman dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats).

2. Penyaringan dengan menggunakan sharing criteria :

Alternatif Kegiatan (Program) Kriteria Total Skor 1 2 3 4 5 Kegiatan A Kegiatan B Kegiatan C Kegiatan D Kegiatan E Dst ... Keterangan :

1 = manfaat yang diperoleh 2 = ketersediaan modal

3 = dukungan manajemen (intern)

4 = dukungan kebijakan pemerintah (ekstern) 5 = SDM

Skoring misalnya :

SB = sangat baik Skor 3 B = Baik Skor 2 SK = Kurang Skor 1

(32)

III-3 3. Untuk mengetahui program yang menjadi prioritas dapat

menggunakan Analisys Hierarchy Process (AHP). Analysis Hierarchy Process (AHP), merupakan suatu metode pengambilan keputusan dimana fator-faktor logika, intuisi, pengalaman dan pengetahuan (data), emosi dan rasa dicoba dioptimasikan melalui suatu proses yang sistimatis.

Penentuan prioritas dilakukan dengan menghitung bobot relatif antar variabel (elemen) sehingga dapat diketahui bobot (tingkat kepentingan) setiap elemen terhadap suatu kriteria (prioritas lokal) atau terhadap pencapaian tujuan (prioritas global). Penentuan prioritas dilakukan dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan (pairwise comparison) antar elemen pada tingkat (level) hierarki yang sama, yaitu dengan menggunakan skala mulai dari 1 sampai dengan 9. Nilai bobot 1 menggambarkan “sama penting”, ini berarti bahwa nilai atribut yang sama skalanya, nilai bobotnya 1, sedangkan nilai bobot 9 menggambarkan kasus atribut yang “penting absolut” dibandingkan dengan yang lainnya. Skala penilaian seperti pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Bobot Penilian pada Analisis AHP. Tingkat

Kepentingan Definisi Penjelasan

1 Kedua elemen sama penting Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan 3 Elemen yang satu sedikit lebih

Penting daripada elemen yang Lain

Pengalaman dan penilaian sedikit mendukung satu elemen

dibanding elemen yang lainnya 5 Elemen yang satu lebih penting

daripada elemen yang lain Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding elemen yang lainnya 7 Satu elemen jelas lebih penting

dari elemen lainnya Satu elemen dengan kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktek 9 Satu elemen mutlak lebih

penting daripada elemen yang lainnya

(33)

III-4 Tingkat

Kepentingan Definisi Penjelasan

2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai

pertimbangaan yang

berdekatan

Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara dua pilihan

Kebalikan Jika untuk aktivitas i mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i

Di dalam AHP, penetapan prioritas kebijakan dilakukan dengan menangkap secara rasional persepsi orang, kemudian mengkonversi faktor-faktor yang intangible (yang tidak terukur) ke dalam aturan yang biasa, sehingga dapat dibandingkan. Adapun tahapan dalam analisis data sebagai berikut :

a). Identifikasi sistem, yaitu untuk mengidentifikasi permasalahan dan menentukan solusi yang diinginkan. Identifikasi sistem dilakukan dengan cara mempelajari referensi dan berdiskusi dengan para pakar yang memahami permasalahan, sehingga diperoleh konsep yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.

b). Penyusunan struktur hierarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan sub tujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah. c). Perbandingan berpasangan, menggambarkan pengaruh relatif

setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Teknik perbandingan berpasangan yang digunakan dalam AHP berdasarkan “judgement” atau pendapat dari para responden yang dianggap sebagai “ key person“. Mereka dapat terdiri atas: 1) pengambil keputusan; 2) para pakar; 3) orang yang terlibat dan memahami permasalahan yang dihadapi.

(34)

III-5 d). Matriks pendapat individu, formulasinya dapat disajikan sebagai

berikut:

Dalam hal ini C1, C2, ... Cn adalah set elemen pada satu tingkat dalam hierarki. Kuantifikasi pendapat dari hasil perbandingan berpasangan membentuk matriks n x n. Nilai aij merupakan nilai matriks pendapat hasil perbandingan yang mencerminkan nilai kepentingan Ci terhadap Cj.

Adapun diagram AHP secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Diagram AHP

C1 C2 Cn C1 1 a12 a1n C2 1/a12 1 A2n . . . Cn 1/a1n 1/a2n 1 Mulai Analisa Kebutuhan Penyusunan hierarki

Penilaian perbandingan setiap elemen

Pengolahan horizontal 1. Perkalian elemen 2. Perhitungan vektor prioritas 3. Perhitungan nilai eigen 4. Perhitungan indeks konsistensi 5. Perhitungan rasio konsistensi

CI, CR

memenuhi Penyusunan matrik gabungan Revisi pendapat

Perhitungan vector prioritas gabungan

Pengolahan vertikal

Revisi pendapat Perhitungan vector prioritas sistem

SELESAI CI dan CR CI, CR memenuhi CI, CR memenuhi Ya Tidak Ya

(35)

III-6 e). Matriks pendapat gabungan, merupakan matriks baru yang

elemen-elemennya berasal dari rata-rata geometrik elemen matriks pendapat individu yang nilai rasio inkonsistensinya memenuhi syarat.

f). Pengolahan horisontal, yaitu : a) Perkalian baris; b) Perhitungan vektor prioritas atau vektor ciri (eigen vektor); c) Perhitungan akar ciri (eigen value) maksimum, dan d) Perhitungan rasio inkonsistensi. Nilai pengukuran konsistensi diperlukan untuk menghitung konsistensi jawaban responden.

g). Pengolahan vertikal, digunakan untuk menyusun prioritas pengaruh setiap elemen pada tingkat hierarki keputusan tertentu terhadap sasaran utama.

Lokasi Kegiatan Pemetaan Industri Hasil Tembakau dilaksanakan di wilayah Kabupaten Bandung dengan objek di 15 kecamatan yaitu Arjasari, Cicalengka, Cikancung, Ciwidey, Cileunyi, Ibun, Pacet, Paseh, Soreang, Baleendah, Cilengkrang, Nagreg, Kutawaringin, Pasirjambu dan Cimaung (Gambar 3.2.) .

(36)

III-7 Gambar 3.2. Lokasi Kegiatan Pemetaan Industri Hasil Tembakau di

Kabupaten Bandung

Pelaksanaan pekerjaan Pemetaan Industri Hasil Tembakau meliputi beberapa tahapan kerja yakni :

3.4.1 Tahapan persiapan meliputi :

a. Pembuatan rencana kegiatan, pekerjaan yang dilaksanakan adalah penyusunan persiapan pekerjaan

b. Konsolidasi tim pelaksana

c. Konsolidasi dan koordinasi dengan instansi terkait

(37)

III-8

3.4.2 Tahap pengumpulan data. a. Pengumpulan data

 Melakukan berbagai studi literatur tentang berbagai sumber literatur yang relevan.

 Konsolidasi para pemangku kepentingan dalam kegiatan pengembangan tembakau (stakeholders), seperti : BPS, Bappeda, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan, Dinas Kesehatan di Kabupaten Bandung, dan lain-lain.

 Melakukan survey lapangan untuk mengidentifikasi tentang aktivitas usaha dari subsistem hulu sampai hilir untuk komoditas tembakau dari 15 Gapoktan Tembakau (15 kecamatan) yang mencakup perwakilan dari kelompok tani tingkat desa sentra tembakau.

 Pengumpulan data kondisi dan potensi tembakau berdasarkan data sekunder dan data primer hasil survey (FGD) serta data hasil kuesioner dari para pemangku kepentingan. Pengumpulan data primer dari Gapoktan dan kelompok tani akan dilaksanakan untuk 15 Gapoktan Tembakau (15 kecamatan) yang mencakup perwakilan dari kelompok tani tingkat desa sentra tembakau.

(38)

III-9 TUJUAN

Roadmap dan Kebijakan Pengembangan tembakau

Sosial Budaya Ekonomis

Ekologis

Pemerintah Masyarakat Swasta/BUMD Pemerintah & Masyarakat Pemerintah & Swasta/BUMD AKTOR Pengendalian SD lahan (erosi, kesuburan) Infrastruktur/ sarana-prasarana Peningkatan teknologi pengolahan dan mutu komoditas Kesehatan petani dan masyarakat Lapangan Kerja dan pendapatan daerah FAKTOR Produksi Tembakau Kelembagaa n dan Pendidikan kelompok tani FOKUS

(39)

III-10 Secara ringkas teknis pengumpulan data adalah :

NO Jenis Data Sifat Analisis Teknik pengumpulan Alat

data

1 Potensi dan masalah pengembangan tembakau di lapangan Primer dan sekunder SWOT, sharing criteria Kuisioner, studi pustaka

2 Kebijakan dan program perioritas pengembangan tembakau

primer AHP,

HIPRE 3+ Kuisioner 3 Peraturan-peraturan, data

BPS dst. sekunder statistik Studi pustaka

b. Tahap diskusi dan analisis data

 Diskusi dilaksanakan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan berbagai informasi dan data yang diperoleh, baik berupa data sekunder maupun data primer di lapangan.

 Analisis data dilaksanakan untuk mengolah berbagai informasi yang ada, dengan menggunakan beberapa parameter dari data yang telah terhimpun pada tahapan diskusi sebelumnya.

c. Tahap penyusunan buku roadmap

Buku roadmap disusun berdasarkan outline yang telah ditentukan dalam KAK, yang terdiri atas:

- BAB I. PENDAHULUAN

- BAB II. PENDEKATAN KONSEP - BAB III. METODOLOGI

- BAB IV. KONDISI SAAT INI

- BAB V. PROSPEK, POTENSI DAN ARAH PENGEMBANGAN - BAB VI. KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM

PENGEMBANGAN - BAB VII. PENUTUP

(40)

III-11 d. Tahap pembuatan buku roadmap

Seluruh hasil dan pelaksanaan kegiatan akan dilaporkan dalam bentuk sebuah buku Roadmap Pengembangan Tembakau dan sosialisasi melalui media seminar diskusi.

Gambar 3.4. Tahapan Penyusunan Roadmap Tembakau di Kabupaten Bandung

Mulai

Persiapan

Penyiapan Rencana Kegiatan

Konsolidasi Tim Konsolidasi Instansi Terkait

Lap. Pendahuluan Laporan Akhir Pelaksanaa n Desk Study Pengumpulan Data

Diskusi dan Analisis Data

Penyusunan Strategi Penyusunan Rekomendasi Selesai Penyerahan Laporan-Laporan Laporan Pendahuluan Laporan Akhir

(41)

III-12

3.4.3 . Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Merujuk pada Kerangka Acuan Kerja (KAK), jadwal pelaksanaan penyusunan roadmap komoditas tembakau disajikan pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2. Jadwal Pelaksanaan Penyusunan Roadmap Komoditas Cengkeh dan Tembakau di Kabupaten BAndung

No Kegiatan Tahapan

Waktu Pelaksanaan Minggu ke-

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 1. Administrasi Kegiatan 2. Tahap Persiapan a. Konsolidasi dan Koordinasi b. Konsolidasi tim pelaksana c. Pembuatan rencana kegiatan 3. Tahap Pelaksanaan a. Koordinasi tim pelaksana b. Penyusunan Desain Kajian c. Penyempurn aan Desain d. Penyusunan quesioner

(42)

III-13 e. Survey lapangan f. Diskusi awal dengan narasumber g. Pengumpulan data sekunder h. Pengolahan data i. Analisis dan Kajian akademis j. Penyusunan Draft Lap. Awal k. Penyusunan draft lap. akhir l. Diskusi draft lap. akhir m. Lokakarya

(43)

IV-1 Industri Hasil Tembakau (IHT) baik pada sisi hulu maupun hilir terbukti memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Efek pelipatgandaan (multiplier effect) yang ada dalam rangkaian panjang mulai dari hulu sampai hilir telah menciptakan aliran ekonomi yang besar.

Beberapa indikator penting yang dapat digunakan untuk mengukur tentang besarnya peranan dan konstribusi sektor industri tembakau, misalnya dapat dilihat dari jumlah sumbangan devisa hasil ekspor tembakau maupun berbagai jenis produk rokok, setoran cukai dan pembayaran pajak lainnya yang mengalir ke kas negara, jumlah tenaga yang terserap, serta bentuk-bentuk sumbangan pembangunan dan kontribusi yang bersifat sosial. Adapun sumber pendapatan tersebut antara lain dari :

a. Sumber devisa, neraca perdagangan dan penerimaan negara

Industri Hasil Tembakau dapat dipakai sebagai indikator sumbangan industri ini terhadap perekonomian negara, devisa negara terutama diterima dari ekspor tembakau dan produk rokok ke pasar internasional. Perkembangan ekspor rokok ini berfluktuasi seiring dengan permintaan ekspor produk rokok kretek di dunia internasional. Namun selama 3 tahun terakhir cenderung turun karena gencarnya kampanye anti rokok/ Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Sedangkan sumbangan pajak (penghasilan, usaha) dan cukai

(44)

IV-2 yang diterima pemerintah, baik pada tingkat nasional maupun daerah terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Bahkan dibandingkan dengan pajak lainnya cukai memiliki andil hampir 10% dari penerimaan negara.

Tembakau dan Industri Hasil Tembakau (IHT) merupakan sumber devisa dan pendapatan negara yang mempunyai trend terus meningkat. Tahun 1985 menghasilkan devisa sebesar US $ 111,2 juta, tahun 2000 meningkat sebesar US $ 211,0 juta dan pada tahun 2006 sudah mencapai US $ 219,0 juta.

Namun demikian, Indonesia selain sebagai eksportir, juga mengimpor tembakau dan Hasil Industri Tembakau. Dari impor tembakau selama dua dasa warsa sebagian besar yang diimpor tersebut adalah jenis tembakau Virginia yaitu sebanyak 23.000 ton (80% dari total impor) senilai US $ 80 juta dan tembakau Burley serta Oriental sebanyak 5.178 ton (20%) senilai US $ 16,5 juta. Tembakau yang diimpor dilihat dari bentuknya, antara lain dapat berupa tembakau murni sesuai dengan jenisnya dan ada juga berupa tembakau yang sudah diblending. Tembakau yang sudah diblending ini pada umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri rokok multinasional yang diproduksi di Indonesia.

Berdasarkan neraca perdagangan tembakau dan rokok dari tahun 1985 – 2006, terlihat bahwa Indonesia mengalami suplus dalam pembayarannya. Selama kurun waktu tersebut nilai surplus perdagangan tembakau dan rokok selalu berfluktuasi. Nilai surplus terendah sebesar US $ 49,7 juta terjadi pada tahun 2005. Sedangkan nilai surplus perdagangan yang relatif besar terjadi pada tahun 2002 sebesar US $142,7 juta dan tahun 2001 sebesar US $ 190 juta.

(45)

IV-3 Perolehan cukai yang semakin meningkat setiap tahunnya selama periode dua dasa warsa tergambar bahwa, pada tahun 1985 sebesar Rp. 856,7 milyar, tahun 1990 sebesar Rp. 1,7 trilyun tahun 2000 sebesar Rp. 11,4 trilyun dan pada tahun 2005 sebesar Rp 33,26 trilyun, tahun 2006 meningkat menjadi Rp. 37,80 trilyun , pada tahun 2007 diperkirakan mencapai Rp 44,70 trilyun dan pada tahun 2010 mencapai Rp 59,30 trilyun.

b. Pembangunan Daerah dan Sumbangan Lain

Kehadiran Industri Hasil Tembakau (IHT) telah memberi kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), antara lain dengan tumbuhnya warung dan pedagang eceran, industri penunjang lainnya seperti kertas, periklanan serta kontribusinya pada aktivitas sosial seperti pembinaan dan pengembangan olah raga, kesenian, rekreasi dan fasilitas keagamaan.

c. Peranan Sosial dan Budaya

Dilihat dari segi sosial, peranan tembakau dan industri hasil tembakau (IHT) juga cukup strategis karena telah dapat menyediakan lapangan kerja yang cukup besar. Menurut perhitungan, jumlah tenaga kerja yang terkait langsung dan tidak langsung pada Industri Rokok Kretek yaitu sekitar 6,4 juta KK, dimana pada kegiatan hulu, pembudidayaan tembakau dan cengkeh terlibat sekitar 4,2 juta KK atau sekitar 21 juta jiwa petani dan keluarganya.

(46)

IV-4 Dilihat dari angka-angka diatas tampak bahwa penyerapan tenaga kerja di tembakau dan Industri Hasil Tembakau (IHT) ini telah mampu menyumbangkan penanganan masalah di sektor ketenagakerjaan nasional. Selain itu besarnya tenaga kerja yang terserap tersebut dapat menyangga kehidupan beberapa jiwa yang menjadi anggota keluarganya.

d. Penciptaan nilai output dan nilai tambah

Peranan sektor tembakau dan sektor industri hasil tembakau dalam penciptaan nilai tambah (value-added) nasional hampir sama dengan peranannya dalam penciptaan output nasional. Dengan mengolah hasil panen tembakau yang berupa daun tembakau menjadi berbagai macam hasil olahan, maka hal ini akan menciptakan nilai tambah pada produk tembakau terebut. Dengan demikian, nilai produk tembakau akan bertambah dan tentunya akan lebih menguntungkan daripada tanpa pengolahan.

Salah satu hasil olahan tembakau yang memiliki prospek yang baik di masa yang akan datang yaitu dengan mengolah tembakau menjadi obat. Obat yang dimaksud disini adalah obat anti kanker yang sangat berguna bagi penderita kanker yang hingga kini masih sulit ditemukan obatnya.

(47)

IV-5

4.2.1. Luas Areal Usahatani Tembakau

Tanaman Tembakau merupakan salah satu komoditas perkebunan berumur pendek/ musiman yang banyak diusahakan oleh petani di Kabupaten Bandung. Sentra komoditas tembakau di Kabupaten Bandung terdapat di 15 kecamatan yaitu Arjasari, Cicalengka, Cikancung, Ciwidey, Cileunyi, Ibun, Pacet, Paseh, Soreang, Cilengkrang, Nagreg, Baleendah, Kutawaringin, Pasirjambu dan Cimaung. Wilayah kecamatan sebagai wiayah studi dan sentra tembakau di Kabupaten Bandung tertera pada Lampiran.

Berdasarkan hasil survey dengan mengambil sampel 54 kelompok tani dari 15 kecamatan tersebut di atas, diperoleh data sebagai berikut : luas areal tanam komoditas tembakau adalah 835,4 ha; yang diusahakan oleh 1269 KK (Tabel 4.1). Data hasil survey ini ada sedikit perbedaan dengan data yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung bahwa potensi tembakau tahun 2010 meliputi: luas areal tanaman sebesar 1.216 hektar, produksi bahan mentah sebesar 5.218,40 ton, produksi hasil olahan sebesar 1.050,88 ton, rata-rata produksi sebesar 0,864 ton/hektar, dengan tenaga kerja sebanyak 3.252 KK atau jumlah tenaga kerja yang terlibat sebanyak 7.296 orang, atau 20 kelompok tani. Perbedaan data tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan pendekatan pengambilan sampel. Namun demikian, data wilayah kecamatan dan rata-rata produksi antara data dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) dan data hasil survey adalah sama.

4.2. Kondisi Umum Pertembakauan

di Kabupaten Bandung

(48)

IV-6 Tabel 4.1. Luas Lahan dan Kelembagaan Petani Tembakau di Kabupaten Bandung Tahun 2011

No KECAMATAN DESA KELOMPOK/ NAMA

GAPOKTAN KETUA LUAS LAHAN (Ha) JUMLAH ANGGOTA KELOMPOK

1. Arjasari Ds. Ancolmekar Tani Wargi Enjeh 45 60 1

2. Cimaung Ds. Malasari Karya bakti mulya Jaji 19 20 1

3. Cikancung Ds. Ciluluk Ciheulet Tarmin 36 20 1

Ds. Mekarlaksana Sagatan 3 Daud S 20 20 1

Sagatan Aliah 30 20 1

Ds Mandalasari Mandala Ikin 50 25 1

4 Cicalengka Ds. Nagrog Hurip Mukti Juju 30 25 1

Ds. Narawita Mekarsari Alia Samsu 30 20 1

Ds. Tanjungwangi Nanjungwangi Uum 60 50 1

Ds. Dampit Dampit Aca Sasmita 30 35 1

Ds. Babakan Peuteuy Mekar harapan Asep Sumarna 30 25 1

5 Nagreg Ds. Mandalawangi Harapan Unang 8 20 1

Ds. Citaman Nyi Mas

Doyongsari Ebak Bakri 12 20 1

Ds. Ciaro Ciaro Pandi 5 20 1

(49)

IV-7

No KECAMATAN DESA KELOMPOK/ NAMA

GAPOKTAN KETUA LUAS LAHAN (Ha) JUMLAH ANGGOTA KELOMPOK

6 Paseh Ds. Loa Walahir II

(Gapoktan sabilulungan)

Tata 18 25 1

Mekar wangi Daud 20 20 1

Ds. Drawati Mekar Ayat 30 20 1

Ds. Sindangsari Mustika Jaya Ence S 25 20 1

7 Cilengkrang Kp.Paratag, Ds Melati

Wangi Berkah Syarifudin 25 30 1

Giri Mekar Babakan Cimahi Agus Syarif M 27 35 1

8 Cileunyi Kp. Cibiru Beet, Ds.

Cileunyi Wetan Cibiru beet U. Ruspendi 17 37 1

9 Ciwidey Ds. Lebak Muncang Trikarya Mandiri Dadang Koswara 3 18 1

Ds. Sukawening Sauyunan H. Kohar 5 20 1

10 Ciparay Ds. Pakutandang Tandang Anda 2,5 15 1

Ds. Ciheulang Girilaya Aceng Anwar 5 15 1

Ds. Mekar Laksana Mekar Uju 3,5 15 1

Ds. Babakan Mekar Saluyu Cece S. 4 20 1

11 Pacet Ds. Cikawao Harapan 1 Manan 1 20 1

(50)

IV-8

No KECAMATAN DESA KELOMPOK/ NAMA

GAPOKTAN KETUA LUAS LAHAN (Ha) JUMLAH ANGGOTA KELOMPOK Gumati Udin 1,5 20 1 Harapan 1 Sambas 1,7 20 1

Harapan II Asep Nurdin 0,8 20 1

Harapan II H. Karmo 5 20 1

Ds. Nagrak Tali Wargi Atep 6,2 20 1

Manik Jaya Maman 6 20 1

Ngancik Endang A 5,7 22 1

Ds. Mandalahaji Tunas Baru Emed 9,6 20 1

Harapan Baru Ahmad 5,9 25 1

Ds. Sukarame Karya Bakti Eman Sulaeman 6,6 25 1

Ds. Mekarjaya Pamili Dadan 5 20 1

Ds. Cinanggela Harapan Baru Asep Burhanudin 5.4 20 1

Ds Tanjungwangi Mekarwangi Agus Suparman 4,2 16 1

Ds. Pangauban Sawargi Koko 4,8 25 1

Ds. Cipeujeuh Mandiri Saepudin 2 16 1

12 Ibun Ds. Neglasari Giri Asih Ade Suhana 5,2 15 1

Dukuh Mamat 13 25 1

Ds. Laksana Wanoja H. Eti Sumiati 86 45 1

Ds. Dukuh Tembakau Ayon 20 30 1

Ds. Mekar Wangi Mekarwangi Ukar Suryana 60 30 1

(51)

IV-9

No KECAMATAN DESA KELOMPOK/ NAMA

GAPOKTAN KETUA LUAS LAHAN (Ha) JUMLAH ANGGOTA KELOMPOK

Ds. Sukanagara Girimukti Anung 6 20 1

14 Kutawaringin Ds. Cilame Sugih tani Amur Sutrisna 9 25 1

15 Baleendah Kp. Pasir Endah, Kel.

(52)

IV-10 Luas lahan budidaya tembakau di Kabupaten Bandung relatif kecil dan masih memiliki prospek pengembangan perluasan dan intensifikasi lahan. Walaupun demikian di tingkat nasional pengembangan tembakau sangat ditentukan oleh perkembangan produksi rokok nasional dan daya serap pasar ekspor. Mengingat belum terpenuhinya kebutuhan perusahaan pengelola/pabrik rokok untuk kualitas tertentu dalam jumlah besar yang menyebabkan masih tingginya impor tembakau, khususnya Virginia, Burley dan Oriental. Untuk mengurangi impor, pengembangannya perlu ditingkatkan melalui program-program akselerasi di kecamatan-kecamatan yang potensial dengan menitikberatkan pada peningkatan produktivitas dan mutu hasil. Demikian juga agar diperoleh mutu sesuai dengan permintaan dan juga adanya jaminan pasar bagi petani, maka pengusahaan tembakau Virginia harus melalui binaan dari perusahaan pengelola atau pabrik rokok. Dukungan fasilitasi kemitraan malalui asosiasi dan dinas terkait dengan pihak industri tembakau diperkirakan akan mempercepat substitusi impor melalui pengembangan areal di Kabupaten Bandung.

Di Kabupaten Bandung, tembakau virgina kurang cocok dikembangkan karena faktor kesesuaian tanah dan iklim di Kabupaten Bandung kurang cocok dengan pertumbuhan tembakau virginia. Tembakau white burley merupakan salah satu jenis tembakau bernikotin rendah. Jenis white burley ini sudah dikembangkan di Kabupaten Bandung. Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Bandung pada tahun 2009 melakukan uji coba mengembangkan tembakau white burley di lahan sawah. Pada tahun 2010 kembali melakukan uji coba penanaman tembakau jenis white burley di lahan kering.

(53)

IV-11 Di Jawa Barat, varietas white burley dikembangkan dengan pembuatan demplot seluas dua belas hektare di lima kabupaten, yaitu Sumedang, Garut, Kuningan, Majalengka dan Kab. Bandung. Tahun lalu (2009), di Kabupaten Bandung, uji coba tembakau white burley dilakukan di lahan 7 ha di Kecamatan Katapang, Paseh dan Ibun.

Memasuki musim kemarau, tembakau juga disarankan ditanam sebagai tanaman penyela. Nilai ekonomisnya juga cukup tinggi. Pasar internasional juga masih terbuka. Apalagi kualitas tembakau Indonesia lebih baik bila dibandingkan dengan produksi Brasil yang selama ini menjadi pemasok utama kebutuhan tembakau AS dan Inggris. Namun, biaya produksi per hektar tembakau jauh lebih mahal daripada padi sehingga menjadi kendala bagi petani. Untuk mendukung keberhasilan dalam pelaksanaan kegiatan ini perlu didukung oleh semua pihak yang terkait, biaya dan waktu yang tepat dalam melaksanakan teknis budidaya.

4.2.2. Penggunaan Varietas dan Sarana Produksi

Berusahatani merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh pendapatan bagi rumahtangga petani. Begitupun berusahatani tembakau merupakan kegiatan utama bagi sebagian petani di Kabupaten Bandung.

Disamping itu komoditi tembakau juga merupakan komoditi yang kontroversial yaitu antara manfaat dan dampaknya terhadap kesehatan, sehingga dalam pengembangannya harus mengacu pada penyeimbangan supply dan demand, peningkatan produktivitas dan mutu serta peningkatan peran kelembagaan petani. Untuk mencapai usahatani tembakau yang profesional, maka telah dilakukan intensifikasi tembakau antara lain melalui :

(54)

IV-12 1) penggunaan benih unggul, baik berupa penggunaan benih

introduksi maupun lokal ;

2) pengolahan tanah sesuai dengan baku teknis; 3) pengaturan air termasuk peramalan iklim ; 4) pemupukan tanaman ;

5) perlindungan tanaman dan 6) panen serta pasca panen.

Menurut musimnya, tanaman tembakau di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bandung dapat dipisahkan menurut dua jenis, yaitu :

1. Tembakau VO (Voor-Oogst)

Tembakau ini biasanya dinamakan tembakau musim kemarau atau onberegend. Artinya, jenis tembakau yang ditanam pada waktu musim penghujan dan dipanen pada waktu musim kemarau.

2. Tembakau NO ( Na Oogst)

Tembakau Na-Oogst adalah jenis tembakau yang ditanam pada musim kemarau, kemudian dipanen atau dipetik pada musim penghujan.

Penggunaan benih unggul bermutu dan bersertifikat, merupakan salah satu faktor pendukung peningkatan mutu dan produktivitas tembakau. Namun untuk petani dengan pola swadaya (tanpa kemitraan) umumnya sebagian masih menggunakan jenis unggul lokal. Adapun penggunaan benih untuk pertanaman tembakau adalah sekitar 10 – 15 gram per hektar.

Dalam usahatani tembakau, petani menggunakan sejumlah sarana produksi yaitu bibit, pupuk, dan pestisida, serta tenaga kerja. Penggunaan sarana produksi untuk masing-masing kecamatan agak bervariasi tapi umumnya sama. Hal ini disebabkan petani tembakau sudah sangat memahami budidaya tembakau. Usahatani tembakau di

(55)

IV-13 Kabupaten Bandung dilakukan secara turun temurun. Mengenai penggunaan varietas dan sarana produksi dalam usahatani tembakau di Kabupaten Bandung disajikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Varietas dan Penggunaan Sarana Produksi Pada Usahatani Tembakau Di Kabupaten Bandung

No KECAMATAN VARIETAS Benih (phn) NPK (kg) PUKAN (kg) PESTISIDA

1. Arjasari nani, himar

12000 250-350 4000-6000 2. Cimaung Nani, himar

12000 250-350 3500-6000 3. Cikancung kedu nani, kaplek,

himar, kenceh 12000 300-500 6000 4 Cicalengka boma, kedu sano,

kedu nani, kenceh,kedu dasep, kaplek 12000 350-500 6000 5 Nagreg Nani 12000 350-500 5000 0,25 lt 6 Paseh nani,himar, darwati, omas, dongdot/kedu nangka 12000 250-450 4500 0,5 lt 7 Cilengkrang Kedu sano 12000 400 6000

8 Cileunyi Kedu nani, kedu

sano 12000 300 4500

9 Ciwidey Nani, koplo, kenceh 12000 400 6000

10 Ciparay Nani, himar 11000 400 4000 0,5 lt 11 Pacet Nani, himar,

darwati,komoloko 12000 550 5000 0,5 lt 12 Ibun Nani, darwati 12000 500 5000 0,25 lt

13 Soreang Nani 11000 300 4000

14 Kutawaringin Nani, kaplek 10000 400 4000

(56)

IV-14 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa petani tembakau seluruhnya menggunakan pupuk NPK dan pupuk kandang, sedangkan pupuk urea dan TSP digunakan hanya oleh beberapa orang petani saja dan dosis yang digunakannya pun relatif sedikit. Begitupun pestisida, hanya digunakan oleh beberapa orang petani yang belum sepenuhnya menerapkan standar kualitas pertanian organik. Budidaya tembakau sesungguhnya mengarah kepada pertanian organik. Untuk mendukung ke arah itu aktivitas produksi tembakau terpadu dengan ternak, penggunaan pestisida nabati dan pembuatan pupuk organik akan lebih mendorong pertanian tembakau organik.

4.2.3. Budidaya Tanaman Tembakau di Kabupaten Bandung

Tahapan budidaya tembakau yang dilakukan petani di Kabupaten Bandung dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Pohon Induk

- varietas terpilih

- berasal dari kebun induk - bebas dari hama dan penyakit - produksi tinggi

2. Mutu Benih

 Fisik : - Benih tua dan bernas

- Utuh, tidak cacad atau pecah

- Tidak tercampur bahan asing (pasir, biji gulma dll)

 Fisiologi : - Viabilitas tinggi, daya kecambah minimal 80 %

- Vigor tinggi, tercermin dari kecepatan dan keserempakan berkecambah, mulai berkecambah normal tidak lebih dari 7 hari

(57)

IV-15

 Genetik : - Varitasnya benar/tepat

- Murni, seragam, tidak tercampur dengan varitas lai

Secara umum posisi daun pada batang dibagi 5 bagian yantiu : 1. Daun tanah/koseran/obreg.

2. Daun kaki/rengrang 3. Daun tengah/ bagus I 4. Daun atas/ super 5. Daun pucuk/bagus II

Jumlah daun pada setiap batang setelah diadakan pemangkasan antara 18 – 24 lembar berdasarkan bentuk daun dan dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

1. Daun bawah berbentuk bulat, tebal mudah robek dan pecah, 2. Daun tengah lebar, tipis, panjang dan lancip elastis

3. Daun atas panjang, tebal, lancip dan elastis

3. Syarat Pertumbuhan Tanaman Tembakau:

Tanaman tembakau, curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun, suhu udara yang cocok antara 21-32 derajat C, pH antara 5-6. Tanah gembur, remah, mudah mengikat air, memiliki tata air dan udara yang baik sehingga dapat meningkatkan drainase, ketinggian antara 200-3.000 m dpl.

Gambar

Tabel  Uraian  Halaman
Tabel 3.1. Bobot Penilian pada Analisis AHP.
Gambar 3.1.  Diagram AHP
Gambar 3.3. Hirarki kebijakan/program pengembangan tembakau
+7

Referensi

Dokumen terkait

Memuat informasi tentang rencana pengembangan kompetensi PNS Provinsi Bali selama 5 tahun. PPID PPID 2022 v v

1.1.5 Uji Kompetensi Kejuruan kelas XII Opeasional personalia V V V V V V Terlaksana 100%. 1.1.6 Pelaksanaan Tes Peningkatan Mutu (TPM) II 1.2 Pengembangan

Melakukan monitoring secara intens sesuai dengan SOP yang tersedia dalam pelaksanaan pengendalian pembangunan Meningkatkan efektivitas dan kinerja melalui peningkatan

Berdasarkan Gambar 4, bilangan kromatik graf adalah 4, terlihat bahwa warna-1(kuning) adalah v 2 dan v 3 , warna-2(biru) adalah v 5 dan v 6 , warna-3 (merah) adalah v 8 dan v 9

Merevitalisasi Ruang Perkotaan Yang Lebih Sehat dan Nyaman Untuk Semua Elemen Masyarakat. ( anak-anak, Lansia dan

P erusahaan yang telah memperoleh pernyataan efektif untuk penawaran umum saham (IPO / Right) sampai dengan minggu pertama Mei 2005 sebanyak 424 emiten (76 emiten diantaranya

P erusahaan yang telah memperoleh pernyataan efektif untuk penawaran umum saham (IPO / Right) sampai dengan minggu kedua Mei 2005 sebanyak 424 emiten (76 emiten diantaranya

2. Meningkatkan pembangunan dan pengembangan bidang. Melaksanakan penyuluhan, pelatihan dan pembinaan masyarakat dibidang Kepariwisataan dan Kebudayaan. Meningkatkan