• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARYA TULIS ILMIAH. Disusun oleh : LELA SUWI ANGGRAINI PROGRAM STUDI REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KARYA TULIS ILMIAH. Disusun oleh : LELA SUWI ANGGRAINI PROGRAM STUDI REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

KELENGKAPAN PENGISIAN INFORMED CONSENT PASIEN RAWAT INAP PADA KASUS BEDAH DI RUMAH SAKIT AT-TUROTS

AL-ISLAMY MARGOLUWIH SEYEGAN SLEMAN YOGYAKARTA TAHUN 2017

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Ahli Madya Perekam Medis dan Informasi Kesehatan

Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Disusun oleh :

LELA SUWI ANGGRAINI 1314017

PROGRAM STUDI REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobil’alamin Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat-Nya peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang akan diajukan guna melengkapi dan memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan D-III Perekam Medis dan Informasi Kesehatan STIKES Achmad Yani Yogyakarta dengan judul : “Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Yogyakarta”.

Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang membantu memberikan dukungan serta masukan baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan batas kemampuan.

1. Kuswanto Hardjo dr., M.Kes, SKM, MPH selaku ketua STIKES Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

2. Sis Wuryanto, A.Md. Perkes., SKM., MPH selaku ketua Prodi D-3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan STIKES Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. 3. dr. Endang Purwanti, Sp.M., Mkes selaku pembimbing akademik Pembuatan

Karya Tulis Ilmiah.

4. Suryo Nugroho Markus, SE., MPH selaku Penguji yang telah memberikan kritik dan saran kepada penulis.

5. dr. Badrul Munir Jauhari Selaku Direktur Utama Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman.

6. Evi Riyaningrum, Amd.Perkes Selaku Kepala Instalasi Rekam Medis di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman.

7. Seluruh Staff Karyawan Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman.

8. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman yang telah mengizinkan untuk melakukan penelitian.

(5)

9. Kedua orangtua tercinta yang sangat saya sayangi Ayah dan Ibu terhormat yang telah memberikan perhatian dan kasih sayangnya berupa motivasi, dukungan, doa dan materi selama penulis mengikuti perkuliahan hingga penulis Karya Tulis Ilmiah ini terselesaikan dengan baik.

10. Teman-teman seperjuangan Stikes Jenderal Achmad Yani yang selalu memberikan semangat;

11. Serta semua pihak yang tidak saya sebutkan satu persatu yang telah mendukung selama peelitian guna pembuatan Karya Tulis Ilmiah

Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari kata sempurna, Maka dari itu Peneliti berharap adanya kritik saran yang membangun.

Yogyakarta, Juni 2017

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... ...vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix DAFTAR SINGKATAN ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi INTISARI ... xii ABSTRACT ... xiv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 3 C. Tujuan Penelitian ... 3 D. Manfaat Penelitian ... 3 E. Keaslian Penelitian ... 4

BAB II TINJAUN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 7

1. Rekam Medis ... 7

2. Tujuan Rekam Medis ... 8

3. Kegunaan Rekam Medis ... 9

4. Informed Consent ... 10

5. Pasien Rawat Inap ... 15

6. Bedah atau Operasi ... 16

7. Kelengkapan ... 16

8. Standar Pelayanan Minimal Kelengkapan Pengisian Informed consent ... 18

9. Standar Operasional Prosedur ... 19

10. Faktor Penyebab ... 19

B. Kerangka Teori ... 21

C. Kerangka Konsep ... 22

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 23

B. Lokasi dan Waktu Penelitian... 24

C. Populasi dan Sampel ... 24

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 25

E. Alat dan Metode Pengumpulan Data ... 27

F. Teknik Pemeriksaan Keabsahan... 28

G. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data ... 29

H. Etika Penelitian ... 30

(7)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Rumah Sakit ... 32

B. Hasil Penelitian ... 35 C. Pembahasan ... 48 D. Keterbatasan Penelitian ... 50 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 51 B. Saran ... 51 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Dimensi Mutu ... 18 Tabel 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 25 Tabel 4.1 Perfomance Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Tahun 2012 sampai 2016 ... 33 Tabel 4.2 Hasil rekapitulasi analisis pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Tahun 2016 ... 36

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian ... 21 Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 22 Gambar 4.1 Grafik identifikasi pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman ... 37 Gambar 4.2 Grafik laporan yang penting pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman ... 38 Gambar 4.3 Grafik autentifikasi pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman ... 40 Gambar 4.4 Grafik pendokumentasian yang benar pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman ... 41

(10)

DAFTAR SINGKATAN BPH = Buku Pelaksana Harian

BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

BPPRM = Badan Penyelenggaraan Pelayanan Rekam Medis CSSD = Central Sterile Supply Departement

DIY = Daerah Istimewa Yogyakarta DPJP = Dokter Penanggung Jawab Pasien HCU = High Care Unit

HPK = Hak Pasien dan Keluarga

IPSRS = Instalasi Pemeliharaan Sarana Rumah Sakit JCI = Joint Commision International

RM = Rekam Medis RS = Rumah Sakit

RSAA = Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy RSKIA = Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak RSU = Rumah Sakit Umum

RSUP = Rumah Sakit Umum Pusat SDM = Sumber Daya Manusia SPO = Standar Prosedur Operasional OK = Operatie Kamer

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Ijin Studi Pendahuluan dari Kampus kepada Kesbangpol

Lampiran 2 Ijin Studi Pendahuluan dari Kampus kepada Rumah Sakit At-turots Al-Islamy

Lampiran 3 Surat Keterangan/ Izin Studi Pendahuluan dari Bapeda

Lampiran 4 Surat Balasan Ijin Studi Pendahuluan dari Rumah Sakit At-turots Al-Islamy

Lampiran 5 Ijin Penelitian dari Kampus kepada kepada Kesbangpol

Lampiran 6 Ijin Penelitian dari Kampus kepada Rumah Sakit At-turots Al-Islamy Lampiran 7 Surat Keterangan/ Izin Penelitian dari Bapeda

Lampiran 8 Surat Balasan Ijin Penelitian dari Rumah Sakit At-turots Al-Islamy Lampiran 9 Pernyataan Ketersediaan Responden (Informed Consent)

Lampiran 10 Pedoman Wawancara Lampiran 11 Hasil Wawancara Lampiran 12 List Observasi Lampiran 13 List Dokumentasi

Lampiran 14 Hasil cheklist Kelengkapan Pengisian Informed Consent

Lampiran 15 Hasil kelengkapan pengisian informed consent berdasarakan pengisian dari 23 item yang diteliti

Lampiran 16 Formulir Informed Consent

Lampiran 17 SPO Pengisian Dokumen Rekam Medis Lampiran 18 SPO Persetujuan Tindakan Kedokteran

Lampiran 19 Buku Pedoman Penyelenggaraan Rekam Medis Lampiran 20 Lembar Bimbingan Karya Tulis Ilmiah

Lampiran 21 Lembar Kehadiran Mengikuti Ujian Usulan Karya Tulis Ilmiah Lampiran 22 Surat Persetujuan Etik Penelitian

(12)

KELENGKAPAN PENGISIAN INFORMED CONSENT PASIEN RAWAT INAP PADA KASUS BEDAH DI RUMAH SAKIT AT-TUROTS

AL-ISLAMY MARGOLUWH SEYEGAN SLEMAN

Lela Suwi Anggraini1,dr. Endang Purwanti, Sp.M.,Mkes2

INTISARI

Latar Belakang: Kelengkapan pengisian data pada informed consent sangat penting karena dapat mempengaruhi mutu rekam medis. Berdasarkan Studi Pendahuluan di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy dari 30 berkas rekam medis tahun 2016 didapatkan hasil analisis kelengkapan pengisian informed consent dengan prosentase ketidaklengkapan pada komponen identifikasi pada item umur 36,67%, laporan yang penting item alternatif dan risiko 93,33%, autentifikasi item nama terang saksi 23,33% dan pendokumentasian yang benar item pembetulan kesalahan 100%.

Tujuan: Untuk mengetahui kelengkapan pengisian lembar informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman tahun 2016.

Metode Penelitian: Desain penelitian adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian menggunakan retrospektif study. Variabel penelitian ini adalah identifikasi, laporan yang penting, autentifikasi, dan pendokumentasian yang benar, standar prosedur operasional dan faktor penyebab. Populasi dan sampel penelitian adalah semua formulir informed consent kasus bedah sejumlah 70 formulir informed consent tahun 2016.

Hasil Penelitian: Prosedur pengisian formulir informed consent belum ada. Prosentase kelengkapan terendah pada komponen laporan yang penting item alternative dan risiko sebanyak 53 formulir informed consent 75,71% dan komponen autentifikasi item nama terang saksi sebanyak 42 formulir informed consent 60%. Faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent adalah man dokter terburu-buru, kedisiplinan dokter, money tidak ada reward untuk mengisi lengkap informed consent, material belum ada instruksi pengisian informed consent, machines pengisian informed consent masih manual dan methode belum ada standar prosedur operasional pengisian informed consent. Kesimpulan: Belum memilik standar prosedur operasional terkait pengisian informed consent. Kelengkapan pengisian informed consent pada kasus bedah dari 70 sampel berkas rekam medis tahun 2016 hanya terdapat 14 formulir informed consent 20% yang terisi lengkap dan yang tidak lengkap yaitu 56 formulir informed consent 80%. Hal ini dipengaruhi oleh faktor 5m .

Keywords: Kelengkapan, Informed Consent, Bedah 1

Mahasiswa D-3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

2

(13)

COMPLETENESS OF INFORMED CONSENT INSTALLATION OF INPATIENT PATIENTS IN SURGICAL CASES AT HOSPITAL

AT-TUROTS AL-ISLAMY MARGOLUWH SEYEGAN SLEMAN

Lela Suwi Anggraini1,dr. Endang Purwanti, Sp.M.,Mkes2

ABSTRACT

Background: Completeness of data filling on informed consent is very important because it can affect the quality of medical records. Based on Introduction Study at At-Turots Al-Islamy Hospital Margoluwih Seyegan from 30 records file of medical year 2016 obtained result of analysis of completeness of filling informed consent with percentage of incompleteness on component identification at item age 36,67%, report of important alternative item and risk 93 , 33%, 23.33% authentication of witnesses' 23,33% bright names and correct documentation of items diagnosing 100% error correction items.

Objective: To determine the completeness of filing informed consent in the case of surgery at AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Hospital in 2016. Research Methods: The research design is descriptive quantitative and qualitative. The study design used a retrospective study. The variables of this study are identification, important reporting, authentication, and correct documentation, standard operating procedures and causal factors. The population and sample of the study were all informed consent surgery forms of 70 informed consent forms in 2016.

Result: The procedure of filling out informed consent form does not yet exist. The percentage of lowest completeness on the report component of the important alternative and risk items were 53 informed consent forms 75.71% and the authentication component of the witness's name was 42 informed consent forms 60%. Factors affecting incompleteness of filling informed consent are man doctor hurry, discipline doctors, money no reward to fill complete informed consent, material no instruction filling informed consent, machines filling informed consent still manual and methode no standard operational procedure filling informed Consent.

Conclusion: Do not have standard operational procedures related to the filling of informed consent. Completed informed consent filling in surgical cases from 70 samples of medical records records in 2016 there were only 14 completed and incomplete (20%) informed consent forms of 56 (80%) informed consent forms. This is influenced by a factor of 5m.

Keywords: Completeness, Informed Consent, Surgery 1

Student D3 Medical Record And Health Information Stikes Jenderal Achmad Yani of Yogyakarta

2

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pesatnya perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi serta membaiknya keadaan sosial ekonomi pendidikan, mengakibatkan perubahan sistem pelayanan masyarakat yang menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu. Salah satu parameter untuk menentukan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit adalah data atau informasi dari rekam medis yang baik dan lengkap. Menurut Permenkes Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada pasien. Di dalam rekam medis terdapat data dan informasi yang sangat penting dan perlu dikelola dan dijaga, dimana data-data tersebut jika diolah lagi akan menjadi informasi yang berguna. Infomasi yang berkualitas dapat diperoleh dari data yang benar, lengkap dan selalu diperbaharui. Kelengkapan dokumen rekam medis sangatlah diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk hal-hal yang kurang dalam pencatatan sesuai dengan kelengkapan dokumen rekam medis karena pentingnya dokumen rekam medis memberikan informasi yang berkesinambungan. Kelengkapan ini juga bertujuan untuk membuat catatan medis yang lengkap dan berkesinambungan untuk melindungi kepentingan hukum pasien, dokter, dan rumah sakit. Pentingnya kelengkapan data rekam medis sebagai dokumen rekam medis apabila terjadi kasus gugatan dari pasien, maka rekam medis pasien harus di isi selengkap-lengkapnya sehingga dapat membantu dokter maupun tenaga kesehatan lain sebagai alat bukti hukum apabila dibutuhkan. Khususnya pada lembar persetujuan tindakan operasi atau sering disebut dengan informed consent.

Menurut Permenkes 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 1 ayat 1 pengertian informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh

(15)

pasien atau keluarga pasien setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang dilakukan terhadap pasien. Informed consent dapat dijadikan alat bukti hukum, apabila terjadi gugatan atas kesalahan tindakan kedokteran. Dokter atau dokter gigi harus menyampaikan informasi yang jelas kepada pasien atau keluarga pasien serta mengisi dengan lengkap meminta kepada pihak pasien atau keluarganya, menandatangani lembar informed consent sehingga aspek hukum yang tertuang di dalamnya akan menjadi lebih kuat dan dapat digunakan sebagai perlidungan hukum. Akan tetapi persetjuan tindakan kedokteran tidak menghapuskan tanggung gugat hukum dalam hal terbukti adanya kelalaian dalam melakukan tindakan kedokteran yang mengakibatkan kerugian pada pasien yang diatur dalam Permenkes Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 6.

Pengisian penolakan atau persetujuan yang dilakukan pasien atau keluarga pasien dan dokter menjadi alat bukti yang sah sebagai upaya untuk pencegahan dari tuntutan hukum. Pengisian persetujuan atau penolakan sangat perlu dilakukan oleh pasien sebelum dokter memberikan tindakan, kedokteran, namun pada kenyataannya pengisian persetujuan atau penolakan di rumah sakit belum dilakukan secara maksimal sesuai dengan ketentuan yang ada. Kelengkapan pengisian data pada informed consent sangat penting karena dapat mempengaruhi aspek hukum rekam medis dan mutu rekam medis, sehingga perlu dilakukan pelaksanaan yang maksimal untuk pengisian lembar informed consent.

Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 13 Mei 2017-17 Mei 2017 di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman yang merupakan rumah sakit tipe D dengan kapasitas tempat tidur 50 tempat tidur, dari 30 berkas rekam medis tahun 2016 kasus bedah didapatkan hasil analisis kelengkapan pengisian informed consent dengan prosentase ketidaklengkapan pada komponen Identifikasi pada item umur 36,67%, komponen Laporan yang penting item alternatif dan risiko 93,33%, komponen Autentifikasi pada item nama terang saksi 23,33%,

(16)

komponen Pendokumentasian yang benar pada item pembetulan kesalahan 100%. Informed consent kasus bedah banyak yang kurang lengkap sehingga rendahnya kelengkapan pengisian informed consent di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di RS AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman”.

A. Rumusan Masalah

Bagaimana hasil kelengkapan pengisian lembar informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman tahun 2016?

B. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Mengetahui kelengkapan pengisian lembar informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman tahun 2016.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui prosedur pengisian informed consent di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman tahun 2016. b. Mengetahui prosentase kelengkapan pengisian informed consent

terkait identifikasi, laporan yang penting, autentifikasi dan pendokumentasian yang benar di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman tahun 2016.

c. Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan ketidaklengkapan pengisian informed consent di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman tahun 2016.

(17)

C. Manfaat 1. Manfaat Bagi Rumah Sakit

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi rumah sakit mengenai kelengkapan pengisian informed consent terutama untuk mengurangi dampak terkait dengan gugatan hukum di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman. 2. Manfaat Bagi Mahasiswa

Menambah wawasan, pengalaman tentang kelengkapan pengisian lembar informed consent, sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah dengan yang ada di lapangan, khususnya dalam kelengkapan pengisian dokumen rekam medis.

3. Manfaat Bagi Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Sebagai bahan bacaan untuk menambah wawasan bagi mahasiswa, sebagai bahan referensi serta sebagai bukti bahwa penulis telah menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat menyelesaikan pendidikan Program DIII Rekam Medis dan Informasi Kesehatan.

D. Keaslian Penelitian

1. Leni Herfiyanti (2015) dengan judul “ Kelengkapan Informed Consent Tindakan Bedah Menunjang Akreditasi JCI Standar HPK 6 Pasien Orthopedi” di RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung tahun 2015. Hasil dari penelitian yang diperoleh adalah dalam hal kelengkapan pengisian formulir Informed Consent masih terdapat formulir yang tidak terisi dengan lengkap, hal ini dibuktikan dengan adanya ketidaklengkapan pengisian formulir Informed Consent yang tinggi terdapat pada Identitas pasien yaitu item Alamat sebesar 31.2%, ketidaklengkapan terbanyak pada Identitas Keluarga Pasien pada item Alamat 34,4%, untuk ketidaklengkapan terbanyak pada point identitas pemberi informasi yaitu pada jabatan dokter yang memberi informasi sebesar 45.9%, ketidaklengkapan terbanyak pada point Autentifikasi pada item Nama dan Tanda Tangan Saksi sebesar 42,6%. Persamaan penelitian ini pada teknik pengumpulan data, teknik pengumpulan data

(18)

yang lalu dengan yang sekarang menggunakan teknik wawancara, Perbedaan penelitian ini berada pada lokasi, dan tujuan penelitian. Lokasi penelitian yang lalu dilakukan di RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung tahun 2015, tujuan penelitian mengetahui penilaian Akreditasi JCI Standar Penilaian HPK 6 pada pasien orthopedi di RSUP Hasan Sadikin Bandung serta mengetahui kaitan Kelengkapan Informed Consent Tindakan Bedah dengan Penilaian Akreditasi JCI Standar Penilaian HPK 6, Sedangkan penelitian yang sekarang mempunyai tujuan mengetahui Kelengkapan Informed Consent dan Faktor-Faktor Penyebab Ketidaklengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap pada Kasus Bedah dari 4 komponen identifikasi, laporan yang penting, autentifikasi, dan pendokumentasian yang benar dan berlokasi di Rumah Sakit AT-Turots AL-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman.

2. Sekar Arum Kencananingtyas, dkk (2014) dengan judul “Pelaksanaan Pemberian Informed Consent dan Kelengkapan Informasi di RSU Jati Husada Karanganyar tahun 2014. Persamaan penelitian ini adalah metode pengumpulan data, alat pengumpulan data dan cara pengumpulan data. Persamaan penelitian yang lalu dengan yang sekarang sama-sama menyajikan hasil prosentase kelengkapan pengisian informed consent meliputi empat komponen yaitu identifikasi, laporan yang penting, autentifikasi dan pendokumentasian yang benar. Perbedaan penelitian yang lalu dengan yang sekarang adalah tujuan penelitian, lokasi dan waktu penelitian. Peneliti yang lalu mempunyai tujuan mengetahui pelaksanaan pemberian informed consent dan kelengkapan informasi yang mencakup 6 hal pokok yaitu diagnosa penyakit, tujuan, risiko tindakan, risiko komplikasi di RSU Jati Husada Karanganyar tahun 2014, sedangkan peneliti yang sekarang mempunyai tujuan melihat kelengkapan pengisian informed consent dan faktor-faktor penyebab ketidaklengkapan pengisian

(19)

informed consent pada kasus bedah di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman.

3. Nofita Yuliani, Tri Utami (2013) dengan judul “Kelengkapan Data Autentifikasi Dokter Pada Pasien Rawat Inap Bedah di RS Nirmala Suri Sukoharjo 2013”. Hasil penelitian ini adalah dari 103 formulir informed consent pasien rawat inap bedah terdapat 61,90% data autentifikasi yang terisi lengkap dan 38,10% data autentifikasi tidak terisi dengan lengkap. Persamaan penelitian ini yang lalu dengan yang sekarang ini pada pengumpulan data dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengolahan data dilakukan dengan cara collecting dan editing. Perbedaan dalam penelitian yang lalu dengan yang sekarang yaitu terletak pada tujuan penelitian dan lokasi penelitian. Peneliti yang lalu mempunyai tujuan mengetahui kelengkapan pengisian data autentifikasi dokter pada formulir informed consent pasien rawat inap di RS Nirmala Suri Sukoharjo, Sedangkan peneliti yang sekarang mempunyai tujuan untuk mengetahui kelengkapan pengisian informed consent dan faktor-faktor penyebab ketidaklengkapan pengisian informed consent pada kasus bedah dari semua komponen yaitu identifikasi pasien, laporan yang penting, autentifikasi dan pendokumentasian yang baik di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman.

(20)

I. Jalannya Penelitian Penelitian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Tahap Persiapan

Meliputi pengurusan ijin serta persiapan lembar persetujuan subyek penelitian, cheklist penelitian dan pedoman wawancara.

2. Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam bentuk kegiatan:

a. Hari pertama peneliti yaitu melakukan observasi terkait prosedur pengisian informed consent.

b. Hari ketiga peneliti yaitu melakukan cheklist pada berkas rekam medis pasien rawat inap kasus bedah tahun 2016 pada lembar informed consent.

c. Hari ketiga peneliti yaitu melakukan wawancara kepada kepala instalasi rekam medis dan perawat bedah.

d. Hari keempat peneliti yaitu melakukan wawancara kepada dokter bedah dan triangulasi sumber.

3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data

Hasil penelitian kemudian dianalisis dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dengan cara perhitungan statistik sederhana digunakan untuk mengitung hasil prosentase dari tabel cheklist kelengkapan pengisian informed consent. Hasil prosentase kelengkapan dan ketidaklengkapan pengisian informed consent disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui prosedur pengisian informed consent dan digunakan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab ketidaklengkapan pengisian informed consent.

(21)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT 1. Sejarah Rumah Sakit

Rumah Sakit Turots Al-Islamy milik Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy yang merupakan rumah sakit tipe D. Berlokasi di dukuh Klaci I desa Margoluwih kecamatan Seyegan Kabupaten Sleman, Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Yogyakarta menempati areal seluas sekitar 3.159 m2 (wakaf Bapak H. Mas’udi asal Godean), dibangun pada tahun 2000 atas biaya seorang muhsinin (donatur) dari Kuwait, Nu’man al-Utsman melalui Jum’iyyah Ihya At-Turots Maktab Indonesia yang saat itu masih bernama Lajnah Khairiyah Musytarakah. Pada tanggal 29 Februari 2002, diresmikan oleh Dewan Penyantun Dana dari Kuwait dan Perwakilan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, serta dihadiri pula oleh warga masyarakat yang ada di wilayah kecamatan Seyegan kabupaten Sleman. Pada April 2001 mulai beroperasi dan melayani masyarakat sebagai Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin. Babak baru sejarah Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Yogyakarta dimulai dengan dikeluarkannya Surat Izin Penyelenggaraan Rumah Bersalin Nomor: 503/1187/DKS/2001 dan Surat Izin Penyelenggaraan Balai Pengobatan dengan nomor: 503/1188/DKS/2001 pada tanggal 19 Juli 2001. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 2 April 2007 Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin (BPRB). At-Turots Al-Islamy ditetapkan sebagai Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RS KIA) dengan dikeluarkannya Keputusan Kepala Dinas kesehatan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bernomor 445/1662/IV.2

Ketetapan sebagai Rumah Sakit Umum diberikan kepada Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy berdasarkan izin operasional dari Bupati Sleman dengan keluarnya Izin Sementara Penyelenggaraan Rumah

(22)

Sakit At-Turots Al-Islamy oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman melalui Surat Keputusan Nomor: 503/0786/DKS/2008 tertanggal 1 April 2008 yang kemudian diperpanjang dengan dikeluarkannya surat bernomor : 503/1647a yang ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan Sleman dengan pada tanggal 18 Mei 2009. Dalam perkembangannya, rumah sakit ini telah mengalami beberapa kali pergantian pucuk pimpinan (Direktur) yaitu Pada masa Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin dr. Sagiran, M.Kes (2001), dr. Nurrakhman (2002), dr. Dendi Artstetrianto (2004). Pada masa Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) yaitu dr. Dendi Artstetrianto (2007) dan Pada masa Rumah Sakit Umum (RSU) yaitu dr. Badrul Munir Jauhari (2008-Agustus 2016), dr. Ratna Ekawati ( Agustus 2016-Sekarang). Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy mempunyai kapasitas tempat tidur sebanyak 51 tempat tidur (TT) yang terdiri dari:

a. VIP : 7 TT

b. Kelas I B : 4 TT c. Ruang Kelas II : 8 TT d. Ruang kelas III : 26 TT e. Isolasi : 2 TT f. Perinatologi : 2 TT g. HCU : 2 TT Jumlah 51 TT

2. Perfomance BOR, AVLOS, BTO, TOI Tahun 2012 sampai 2016 di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman

Tabel 4.1 Perfomance Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Tahun 2012 sampai 2016

No Indikator Satuan Tahun

2012 2013 2014 2015 2016 1 BOR % 32,74 36,55 35,36 54,46 53,76

2 AVLOS Hari 2,71 3 3 3 3,2

3 TOI Hari 7,68 7 8,8 3,38 3,5 4 BTO Kali 31,98 36 40,5 49 47 Sumber: Bagian pelaporan rekam medis Rumah Sakit At-Turots

(23)

3. Visi, Misi dan Motto Rumah Sakit Visi:

Menjadi rumah sakit umum pilihan di daerah Sleman barat, yang memiliki pelayanan sesuai syariat Islam dengan pelayanan yang berfokus pada pasien (patient centered care).

Misi:

1. Menerapkan nilai-nilai Islam ke dalam seluruh aspek pelayanan dan manajemen rumah sakit.

2. Mewujudkan pelayanan yang professional dan budaya patient safety pada semua unit.

3. Meningkatkan kepuasan, menjaga keloyalan, dan peningkatan jumlah pasien baru.

4. Mewujudkan pengembangan diklat, SDM dan peningkatan sarana prasarana rumah sakit.

4. Struktur Organisasi Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy

Direksi Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy (RSAA) yang terdiri dari seorang Direktur dan Tiga Orang Manajer diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Yayasan Majelis At-Turots Al-Islamy Yogyakarta yang berkedudukan di Karanggayam Sitimulyo Piyungan Bantul DIY. Direksi dalam menjalankan tugasnya bertanggung jawab kepada Badan Pelaksana Harian (BPH) yaitu sebuah badan yang berada langsung di bawah Yayasan. Manajer Pelayanan Medis membawahi Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Rawat Inap, Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Radiologi, Instalasi Laboratorium, HCU, Perinatologi, Instalasi Bedah Sentral (OK) dan Rekam Medik. Manajer KeuanganMembawahi unit –unit keuangan seperti Bendahara, BPJS dan Kassa sedangkan Administrasi Umum dan Perencanaan membawahi Bagian SDM, Laundry, Gizi, IPSRS, Marketing dan Pelayanan umum. Susunan pimpinan RS At-Turot Al-Islamy periode tahun 2016 – 2018 adalah sebagai berikut:

(24)

2) Manajer Pelayanan Medis : dr. Ika Retnoeriyanti

3) Manajer Administrai Umum : Aji Prasetyo Murti, S.Kep.,Ns

4) Manajer Keuangan : Elvan Listiawan, SE., M.Akt B. HASIL PENELITIAN

1. Prosedur Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman

Berdasarkan hasil observasi di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman SPO pengisian informed consent belum ada, yang ada hanya SPO pengisian dokumen rekam medis nomor 19.RM.10.2015, untuk pengisian formulir informed consent terdapat di SPO pengisian dokumen rekam medis halaman 32 pada point (d) lembar operasi, nomor 1 yaitu sebagai berikut persetujuan tindakan kedokteran RM 32a diisi oleh dokter penanggungjawab pelayanan pasien/keluarga pasien atau dokter jaga. Ketentuan cara pengisian formulir informed consent terdapat di Buku Pedoman Penyelenggaraan Rekam Medis milik Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy yang berjudul Petunjuk Teknis Formulir Rekam Medis, diterbitkan pada tahun 2015 ditandatangani oleh Ketua Panitia Rekam Medis dan Direktur Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman. Ketentuan tata cara pengisian formulir informed consent terdapat di halaman 62 sampai 63 (lampiran 19).

2. Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman

Berdasarkan hasil penelitian di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman dengan melakukan observasi, wawancara serta studi dokumentasi dengan jumlah 240 berkas rekam medis tahun 2016 pasien rawat inap pada formulir informed consent., dari 240 berkas rekam medis pasien rawat inap tahun 2016 kemudian diambil sampel sejumlah 70 berkas rekam medis. Pada 70 berkas

(25)

rekam medis tersebut peneliti melakukan analisis kelengkapan pengisian pada formulir informed consent kasus bedah, didapatkan hasil pengisian informed consent dengan melakukan perhitungan yaitu sebagai berikut pada tabel 4.2:

Tabel 4.2 Hasil rekapitulasi analisis pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy

Margoluwih Seyegan Tahun 2016

No Komponen Analisis Total N

(Jumlah)

Prosentase (%)

Ada Tidak Ada Tidak

A. Identifikasi

1 Nomor RM 56 14 70 80% 20%

2 Nama 64 6 70 91,43% 8,57%

3 Jenis Kelamin 56 14 70 80% 20%

4 Umur 51 19 70 72,86% 27,14%

B. Laporan Yang Penting

1 Diagnosa 50 20 70 71,43% 28,57%

2 Dasar Diagnosa 44 26 70 62,85% 37,15%

3 Tindakan Kedokteran 43 27 70 61,43% 38,57% 4 Indikasi dan Tindakan 36 34 70 51,43% 48,57%

5 Tata Cara 37 33 70 52,85% 47,15%

6 Tujuan 32 38 70 45,71% 54,29%

7 Risiko 35 35 70 50% 50%

8 Komplikasi 36 34 70 51,43% 48,57%

9 Prognosis 37 33 70 52,85% 47,15%

10 Alternative dan Risiko 17 53 70 24,29% 75,71% C. Autentifikasi

1 Tandatangan DPJP 63 7 70 90% 10%

2 Nama terang DPJP 59 11 70 84,29% 15,71% 3 Tandatangan saksi 38 32 70 54,29% 45,71%

4 Nama terang saksi 28 42 70 40% 60%

5 Tandatangan pasien 67 3 70 95,71% 4,29% 6 Nama terang pasien 58 12 70 82,86% 17,14% D. Pendokumentasian Yang

Benar

1 Penulisan diagnosa 57 13 70 81,43% 18,57%

2 Keterbacaan 53 17 70 75,72% 24,28%

3 Pembetulan Kesalahan 30 40 70 42,86% 57,14% Sumber: Berkas rekam medis rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 Rumah

(26)

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut:

a. Identifikasi

Gambar 4.1 Grafik identifikasi pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy

Margoluwih Seyegan Sleman

Berdasarkan grafik 4.1 tentang pengisian identifikasi pasien pada formulir informed consent kasus bedah pasien rawat inap diketahui bahwa prosentase kelengkapan pengisian pada komponen identifikasi terdapat pengisian tertinggi yaitu pada item nama 64 formulir (91,43%), sedangkan pengisian terendah yaitu pada item umur 51 formulir (72,86%).

Nomor RM Nama Jenis Kelamin Umur Ada Tidak GRAFIK IDENTIFIKASI 80% 20% 91,43% 8,57% 80% 20% 72,86% 27,14%

(27)

b. Laporan yang penting

Gambar 4.2 Grafik laporan yang penting pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 di Rumah Sakit

At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Ada Tidak GRAFIK LAPORAN YANG PENTING

71,43% 28,57% 62,85% 37,15% 61,43% 38,57% 51,43% 48,57% 52,85% 47,15% Ada Tidak Lanjutan 45,71% 54,29% 50% 50% 51,43% 48,57% 52,85% 47,15% 24,29% 75,71%

(28)

Berdasarkan grafik 4.2 tentang pengisian laporan yang penting pada formulir informed consent kasus bedah pasien rawat inap diketahui bahwa prosentase kelengkapan pengisian pada komponen laporan yang penting terdapat pengisian tertinggi yaitu pada item diagnosa sejumlah 50 formulir (71,43%) , sedangkan pengisian terendah yaitu pada item alternativ dan risiko sejumlah 17 formulir (24,29%). Menurut hasil wawancara dengan responden dan triangulasi sumber menunjuk bahwa terkait ketidaklengkapan pada komponen laporan yang penting item alternative dan risiko itu bisa dikarenakan kesibukan dari tenaga medis. Seperti kutipan wawancara berikut:

Menurut hasil wawancara dengan triangulasi sumber pasien cukup banyak sehingga waktu dokter untuk mengisi informed consent terbatas, hal ini diperkuat dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Pasiennya banyak sementara waktunya terbatas jadi tidak sempat mengisi”. Triangulasi Sumber “Males, sibuk” Responden D “Dokter terges-gesa.” Responden C “Kadang kurang teliti,banyak item yang harus diisi.”

Responden B “Ya itu tadi ya karena dokter terburu-buru.”

Responden A

Tidak menjawab

(29)

c. Autentifikasi

Gambar 4.3 Grafik autentifikasi pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 di Rumah Sakit At-Turots

Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman

Berdasarkan grafik 4.3 tentang pengisian autentifikasi pada formulir informed consent kasus bedah pasien rawat inap diketahui bahwa prosentase kelengkapan pengisian pada komponen autentifikasi terdapat pengisian tertinggi yaitu item tandatangan pasien sejumlah 49 formulir (95,71%), sedangkan pengisian terendah yaitu pada item nama terang saksi sejumlah 28 formulir (40%). Menurut hasil wawancara dengan Responden dan Triangulasi sumber menunjuk bahwa terkait ketidaklengkapan pada komponen autentifkasi item nama terang saksi itu bisa dikarenakan pasien panik atau kurangnya pemahaman dalam pengisian informed consent. Seperti wawancara berikut:

Ada Tidak GRAFIK AUTENTIFIKASI 90% 10% 84,29% 15,71% 40% 60% 95,71% 4,29% 54,29% 45,71% 82,86% 17,14%

“Iya kurang paham”.

Responden A “Panik”.

(30)

Hal ini juga disampaikan oleh triangulasi sumber yaitu sebagai berikut :

d. Pendokumentasian yang benar

Gambar 4.4 Grafik pendokumentasian yang benar pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah tahun 2016 di Rumah Sakit

At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Penulisan Diagnosa Keterbacaan Pembetulan Kesalahan Ada Tidak GRAFIK PENDOKUMENTASIAN YANG BENAR 81,43% 18,57% 75,72% 24,28% 42,86% 57,14% “Panik jadi tidak sempat ngisi mbak”.

Responden C “Pasien bingung”.

Responden D “Lupa”.

Responden E

“Iya itu tadi pasien panik jadi hanya ttd aj yang diisi”.

(31)

Berdasarkan grafik 4.4 tentang pengisian pendokumentasian yang benar pada formulir informed consent kasus bedah pasien rawat inap diketahui bahwa prosentase kelengkapan pengisian pada komponen pendokumentasian yang benar terdapat pengisian tertinggi yaitu item penulisan diagnosa sejumlah 49 formulir (70%), sedangkan pengisian terendah yaitu pada item pembetulan kesalahan 37 formulir (52,85%). Pembetulan kesalahan pada formulir informed consent di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman dengan cara membubuhi tandatangan atau paraf pada kalimat yang akan dibenarkan. Kelengkapan pengisian informed consent berdasarakan pengisian dari 23 item yang diteliti yang diperoleh hasil frekuensi sebagai berikut: 1) Frekuensi 0-24 sebanyak 1 RM (1,43%)

2) Frekuensi 25-49 sebanyak 22 RM (31,43%) 3) Frekuensi 50-74 sebanyak 19 RM (27,14%) 4) Frekuensi 75-99 sebanyak 14 RM (20%) 5) Frekuensi 100 sebanyak 14 RM (20%)

3. Faktor-faktor yang menyebabkan ketidaklengkapan pengisian informed consent di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara selama penelitian di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman terdapat faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent pasien rawat inap pada kasus bedah yaitu:

a. Man

Berdasarkan hasil wawancara, faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent pada man. Tenaga kesehatan menjadi faktor utama dalam ketidaklengkapan pengisian informed consent di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Yogyakarta. Tenaga kesehatan disini adalah dokter, dokter mempunyai tanggungjawab untuk mengisi formulir informed consent pada informasi yang diberikan kepada

(32)

pasien atau keluarga pasien akan tetapi pada kenyataannya ada dokter yang tidak mengisi sama sekali formulir informed consent disebabkan karena kesibukan dokter, terburu-buru dan males. Kesibukan dokter yang sampai membuat ketidaklengkapan pengisian informed consent. Hal ini diperkuat dari hasil wawancara sebagai berikut:

b. Money

Berdasarkan hasil wawancara, faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent pada money. Faktor money disini yang dimaksud seperti rewad untuk tenaga kesehatan yang mengisi lengkap informed consent. Sampai saat ini untuk penilaian kinerja staff belum menerapkan reward terkait pengisian informed consent. Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan wawancara yaitu sebagai berikut:

“Gak ada, reward soalnyaitu tentang tanggung jawab dokter”

Responden A “Karena dokter terburu-buru, lupa, gak sempat dan waktu dari para petugas”. Responden A “Kedisiplinan tergesa-gesa”. Responden B “Lupa” Responden C “Males keburu-buru”. Responden D

“Iya mungkin kurang ketertiban dalam mengisi aj”.

Triangulasi Sumber Tidak menjawab

(33)

Menurut hasil wawancara diatas di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman dalam pengisian informed consent tidak diberikan reward. Tidak adanya reward dikarenakan karena belum ada anggaran untuk hal tersebut hanya dilakukan sosialisasi terkait pentingnya kelengkapan pengisian informed consent. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara sebagai berikut:

“Gak ada sih...”

Responden B “Tidak ada”.

Responden C “Em tidak ada”.

Responden D “Gak ada”.

Responden E “Gak ada”.

Triangulasi Sumber

“Iyaa pas rapat gitu”.

Responden A “Sudah pernah sih ”

Responden B “ Iya ada”.

(34)

c. Material

Formulir informed consent di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman pada aspek materil belum memuat adanya instruksi terkait cara pengisian informed consent. Hal ini diperkuat dari hasil wawancara sebagai berikut:

d. Machine

Berdasarkan hasil wawancara bahwa pengisian rekam medis yang salah satu formulir didalamnya adalah formulir informed

“Ada pernah”. Responden D “Ada”. Responden E “Pernah”. Triangulasi Sumber “Gak ada”. Responden A Gak ada tuh”.

Responden B “Belum ada”.

Responden C “Menurut saya belum ada”.

Responden D “Udah mbak mestinya tp gatau”.

Responden E “Gak ada”.

(35)

consent yang pengisiannya masih secara manual yakni ditulis menggunakan bolpoint. Berdasarkan hasil studi dokumentasi dan observasi pengisian rekam medis masih manual dengan menggunakan formulir dengan nomor RM 32a dengan judul persetujuan tindakan kedokteran. Hal ini senada dengan pernyataan responden, bahwa pengisian informed consent masih manual.

Penggunaan label identitas pasien digunakan untuk mengurangi tingkat kesalahan dalam pengisian informed consent. Untuk item-item yang terdapat pada informed consent memang harus diisi secara manual dengan menuliskan pada formulir informed consent. e. Methode

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilaksanakan selama penelitian, Responden mengungkapkan bahwa SPO terkait pengisian formulir informed consent belum ada. Hal ini diperkuat dengan hasil awancara sebagai berikut:

“Pengisiannya manual”.

Responden A “Oo manual ngisinya”.

Responden B Manual ngisinya

Responden C “Manual ngisinya pakai kertas”.

Responden D “Manual mbk”.

Responden E “Manual”.

(36)

Menurut pernyataan dari triangulasi SPO terkait pengsian formulir informed consent belum ada hal ini diungkapkan juga oleh triangulasi sebagai berikut:

“Belum ada SPO”

Responden A “Belum ada kalo cara pengisian kalo tindakan ada”.

Responden B “Gak ada”.

Responden C “Belum mbak”

Responden D “Ya setiap RS memiliki SPO tp kalo disini ya tidak tau kalo SPO pengisian “.

Responden E

“Belum ada”.

(37)

C. PEMBAHASAN

1. Prosedur Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/Menkes/PER/IV/2007 tentang izin praktik kedokteran dan pelaksanaan praktik kedokteran yang menyebutkan Standar Prosedur Operasional adalah suatu perangkat instruksi atau langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu, dimana standar operasional prosedur memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi.

Prosedur pengisian di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman belum ada SPO terkait pengisian informed consent.

2. Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman

Kelengkapan berkas rekam medis sangat penting dilakukan salah satunya pada formulir informed consent. Dilihat dari salah satu kegunaannya dapat dijadikan sebagai alat bukti hukum, apabila terjadi gugatan atas kesalahan tindakan kedokteran. Berdasarkan hasil analisis kelengkapan pengisian informed consent yang dilakukan oleh peneliti di di Rumah Sakit AT-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman dari 70 sampel berkas rekam medis tahun 2016 hanya terdapat 14 formulir informed consent (20%) yang terisi lengkap, sedangkan yang tidak lengkap yaitu 56 formulir informed consent (80%). Ketidaklengkapan terbanyak terdapat pada komponen laporan yang penting item alternative dan risiko sebanyak 53 formulir informed

(38)

consent (75,71%) dan komponen autentifikasi item nama terang saksi sebanyak 42 formulir informed consent (60%).

Menurut Permenkes Republik Indonesia Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 7, dalam memberikan penjelasan sekurang-kurangnya mencakup diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran, tujuan tindakan medis yang akan dilakukan, alternatif dari tindakan lain dan risikonya, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, prognosis terhadap tindakan yang dilakukan dan perkiraan pembiayaan. Penjelasan tersebut merupakan jensi informasi yang harus dituliskan oleh dokter di lembar informed consent. Dalam Permenkes No. 269/Menkes/per/III/2008 pasal 5 dijelaskan menyatakan bahwa setiap pencatatan ke dalam rekam medis harus dibubuhi nama dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan. Pembubuhan nama dan tanda tangan ini perlu diperhatikan karena setiap petugas yang mencatumkan nama dan tanda tangan pada rekam medis tersebut bertanggung jawab penuh atas isi rekam medis yang ditandatangani. Apabila ada kekeliruan atau pemalsuan isi rekam medis, maka penanggung jawab utama adalah petugas yang menandatangani rekam medis tersebut terutama dalam menghadapi gugatan atau tuntutan dari penderita yang merasa dirugikan. Oleh karena itu, lembar rekam medis harus dijaga jangan sampai orang yang tidak berkepentingan dapat mempergunakan tanpa hak. Seperti yang dijelaskan dalam kebijakan Permenkes Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit menyebutkan bahwa pengisian informed consent wajib lengkap 100% setelah pasien mendapat informasi yang jelas.

Adanya ketidaklengkapan pengisian informed consent dapat mempengaruhi mutu rumah sakit, ketidaklengkapan tersebut dipengaruhi oleh faktor 5m yaitu man (dokter terburu-buru, kedisiplinan dokter), money (tidak ada reward untuk yang mengisi lengkap informed consent), material (belum ada instruksi terkait

(39)

pengisian informed consent), machines (pengisian informed consent masih manual), dan methode (belum ada SPO terkait pengisian informed consent). Faktor 5m tersebut didapatkan dari hasil wawancara dengan responden dan didukung oleh triangulasi triangulasi sumber.

D. KETERBATASAN PENELITIAN

Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu responden ada yang tidak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti hanya beberapa saja yang dijawab.

(40)

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

1. Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman belum memiliki Standar Prosedur Operasional terkait pengisian formulir informed consent.

2. Kelengkapan pengisian informed consent dari 70 sampel berkas rekam medis tahun 2016 terdapat 14 formulir informed consent (20%) yang terisi lengkap sedangkan yang tidak lengkap yaitu 56 formulir informed consent (80%), ketidaklengkapan pengisian informed consent dipengaruhi oleh faktor-faktor 5m yaitu :

a. Man : Dokter terburu-buru, kedisiplinan dokter

b. Money : Tidak ada reward untuk mengisi lengkap informed consent

c. Material : Belum ada instruksi terkait pengisian informed consent d. Machines : Pengisian informed consent masih manual

e. Methode : Belum ada SPO terkait pengisian informed consent B. SARAN

1. Sebaiknya Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy membuat kebijakan terkait prosedur pengisian informed consent, kebijakan tersebut kemudian dilaksanakan dan disosialisasikan kepada tenaga kesehatan khusunya dokter terkait pentingnya kelengkapan pengisian informed consent.

2. Sebaiknya standar pelayanan minimal kelengkapan pengisian informed consent dilaksanakan dengan periode analisis 3 bulan sekali agar kelengkapan pengisian informed consent mencapai standar pelayanan minimal 100% dan mengurangi angka ketidaklengkapan rumah sakit. 3. Sebaiknya pada saat pimpinan rumah sakit melakukan evaluasi

penilian kinerja staff khusunya dokter dan perawat disarankan bahwa pengisian informed consent menjadi salah satu tolok ukur penilaian.

(41)

DAFTAR PUSTAKA

Abdehalk, Mervat, Mary A. Hanken., (2016). Health Information Management Of A Startegis Resource, Elsevier Saunders, America

Alwi, Hasan. (2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2007). Standar Pelayanan Minimal

Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Guwandi,J.(2006) Informed Consent & Informed Refusal, FKUI, Jakarta.

Hatta, G.R. (2012). Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan, PenerbitUniversitas Indonesia, Jakarta.

Herujito, M.Y.(2001).Dasar-Dasar Manajemen, PT Grasindo, Jakarta.

Imamoto, T. et al. (2008). Perivesical abscess caused by migration of a fish bone from the intestinal tract. International Journal of Urology. Vol. 9 (405-409) Kencananingtyas, S.A,dkk. (2014). Pelaksanaan Pemberian Informed Consent dan

Kelengkapan Informasi di RSU Jati Husada Karanganyar tahun 2014. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, Volume 3, Nomor 1, Halaman 86-91.

Konsil Kedokteran Indonesia Tahun(2006) Tentang Manual Rekam Medis. Leni, Harfiyati. (2015). Kelengkapan Informed Consent Tindakan Bedah

Menunjang Akreditasi JCI Standar HPK 6 Pasien Orthopedi tahun 2015. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, Volume 3, Nomor 2, Halaman 81-88.

Notoatmodjo, Sukidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.

Novita Yuliana, Tri Utami. (2013). Kelengkapan Data Autentifikasi Dokter Pada Pasien Rawat Inap Bedah di RS Nirmala Suri Sukoharjo tahun 2013. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, Volume 3, Nomor 1, Halaman 1-9.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/Menkes/PER/IV/2007 Tentang Izin Praktik Kedokteran, Republik Indonesia, Jakarta.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/II/ 2008. Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, Republik Indonesia, Jakarta.

(42)

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 Tentang Rekam Medis, Republik Indonesia, Jakarta.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 Tentang Pesrsetujuan Tindakan Kedokteran, Republik Indonesia, Jakarta

Sugiyono.(2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta, Bandung.

(43)
(44)

PROGRAM STUDI D3 REKAM MEDIS STIKES JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA Jl. Ringroad barat, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Yogyakarta 55294

PEDOMAN WAWANCARA A. Identifikasi Subjek Nama : Jenis Kelamin : Jenis Pekerjaan : Hari, Tanggal : B. Daftar Pertanyaan

1. Sebarapa penting data yang ada pada informed consent ?

2. Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen laporan yang penting item alternativ dan risiko? 3. Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed

consent komponen autentifikasi item nama terang saksi?

4. Apakah pengaruh jika lembar informed consent tidak terisi dengan lengkap ?

5. Apa saja faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent dari man, money, material, machines dan methode ? 6. Apa pernah ada sosialisasi terkait pentingnya kelengkapan pengisian

(45)

Hasil Wawancara Penelitian

Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Responden : Responden A (Kepala Bidang Rekam Medis dan Informasi

Kesehatan)

Hari, Tanggal : Sabtu, 10 Juni 2017

1. Peneliti : Sebarapa penting data yang ada pada informed consent ? Responden A : Tentunya sangat penting karena itu merupakan

persetujuan petugas medis antara pasien tentang persetujuan yng akan dilakukan.

2. Peneliti : Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen laporan yang penting item alternativ dan risiko?

Responden A : Iya itu tadi karena dokter terburu-buru, lupa

3. Peneliti :Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen autentifikasi item nama terang saksi? Responden A : Iya kurang paham

4. Peneliti : Apakah pengaruh jika lembar informed consent tidak terisi dengan lengkap ?

Responden A : Tentunya saja pengaruh ya, karena disamping untuk kelengkapan berkas rekam medis sendiri, juga ada tuntutan hukum

pasien/dugaan malpraktik tentu bisa dituntut karena belum ada persetujuan dari pasien dan dokter.

5. Peneliti : Apa saja faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent dari man, money, material, machines dan methode ?

Responden A :

Man : karena dokter terburu-buru, lupa, tidak sempat dan waktu dari para petugas.

Money : Gak ada, reward soalnya itu tentang tanggungjawab doktr Material : Gak ada

Machines : Pengisiannya manual Methode : Belum ada SPO

6. Apa pernah ada sosialisasi terkait pentingnya kelengkapan pengisian informed consent ?

(46)

Hasil Wawancara Penelitian

Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Responden : Responden B (S1 Keperawatan)

Hari, Tanggal : Sabtu, 14 Juni 2017

1. Peneliti : Sebarapa penting data yang ada pada informed consent ? Responden B : Penting

2. Peneliti : Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen laporan yang penting item alternativ dan risiko?

Responden B : Kadang kurang teliti, banyak item yang harus diisi 3. Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent

komponen autentifikasi item nama terang saksi? Responden B : Panik

4. Peneliti : Apakah pengaruh jika lembar informed consent tidak terisi dengan lengkap ?

Responden B : Pengaruhlah

5. Peneliti : Apa saja faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent dari man, money, material, machines dan methode ?

Responden B :

Man : Kedisiplinan, tergesa-gesa Money : Gak ada sih

Material : Gak ada tuh

Machines : Oo manual ngisinya

Methode : Belum ada kalo cara pengisian kalo tindakan ada 6. Apa pernah ada sosialisasi terkait pentingnya kelengkapan pengisian

informed consent ? Responden B : Pernah

(47)

Hasil Wawancara Penelitian

Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Responden : Responden C (D3 Keperawatan)

Hari, Tanggal : Sabtu, 14 Juni 2017

1. Peneliti : Sebarapa penting data yang ada pada informed consent ? Responden C : Penting

2. Peneliti : Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent informed consent komponen laporan yang penting item alternativ dan risiko?

Responden C : Dokter tergesa-gesa

3. Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen autentifikasi item nama terang saksi?

Responden C : Panik jadi tidak sempat ngisi mbak

4. Peneliti : Apakah pengaruh jika lembar informed consent tidak terisi dengan lengkap ?

Responden C : Pengaruh

5. Peneliti : Apa saja faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent dari man, money, material, machines dan methode ?

Responden C : Man : Lupa Money : Tidak ada Material : Belum ada Machines : Manual ngisinya Methode : Gak ada

6. Apa pernah ada sosialisasi terkait pentingnya kelengkapan pengisian informed consent ?

(48)

Hasil Wawancara Penelitian

Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Responden : Responden D (dr spesialis bedah)

Hari, Tanggal : Sabtu, 14 Juni 2017

1. Peneliti : Sebarapa penting data yang ada pada informed consent ? Responden D : Sangat Penting

2. Peneliti : Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen laporan yang penting item alternativ dan risiko?

Responden D : Males, sibuk

3. Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen autentifikasi item nama terang saksi?

Responden D : Pasien bingung

4. Peneliti : Apakah pengaruh jika lembar informed consent tidak terisi dengan lengkap ?

Responden D : Pengaruh

5. Peneliti : Apa saja faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent dari man, money, material, machines dan methode ?

Responden D :

Man : Males, keburu-buru Money : Em tidak ada

Material : Menurut saya belum ada Machines : Manual ngisinya pakai kertas Methode : Belum mbak

6. Apa pernah ada sosialisasi terkait pentingnya kelengkapan pengisian informed consent ?

(49)

Hasil Wawancara Penelitian

Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Responden : Responden E (S2 dr spesialis)

Hari, Tanggal : Sabtu, 14 Juni 2017

1. Peneliti : Sebarapa penting data yang ada pada informed consent ? Responden E : Ya penting mbak

2. Peneliti : Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen laporan yang penting item alternative dan risiko?

Responden E : Tidak menjawab

3. Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen autentifikasi item nama terang saksi?

Responden E : Lupa

4. Peneliti : Apakah pengaruh jika lembar informed consent tidak terisi dengan lengkap ?

Responden E : Ya jelas pengaruh

5. Peneliti : Apa saja faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent dari man, money, material, machines dan methode ?

Responden E

Man : Tidak menjawab Money : Gak ada

Material : Udah mbak mestinya tp gatau saya Machines : Manual mbak

Methode : Ya setiap RS memiliki SPO tp kalo disini ya tidak tau kalo SPO pengisian

6. Apa pernah ada sosialisasi terkait pentingnya kelengkapan pengisian informed consent ?

(50)

Hasil Wawancara Penelitian

Kelengkapan Pengisian Informed Consent Pasien Rawat Inap Pada Kasus Bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih Seyegan Sleman Responden : Triangulasi Sumber (dr. Sp. PD)

Hari, Tanggal : Jumat, 23 Juni 2017

1. Peneliti : Sebarapa penting data yang ada pada informed consent ?

Triangulasi Sumber : Sangat penting tentunya

2. Peneliti : Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent pada komponen laporan yang penting item alternative dan risiko?

Triangulasi Sumber : Pasiennya banyak sementara waktunya terbatas jadi tidak sempat mengisi.

3. Peneliti :Mengapa masih ditemukan ketidaklengkapan pengisian informed consent komponen autentifikasi item nama terang saksi?

Responden E : Iya itu tadi pasien panik jadi hanya ttd aj yg diisi 4. Peneliti : Apakah pengaruh jika lembar informed consent

tidak terisi dengan lengkap ?

Triangulasi Sumber : Pengaruh ya

5. Peneliti : Apa saja faktor yang mempengaruhi ketidaklengkapan pengisian informed consent dari man, money, material, machines dan methode ?

Triangulasi Sumber :

Man : Iya mungkin kurang ketertiban dalam mengisi aj Money : Gak ada

Material : Gak ada Machines : Manual Methode : Belum ada

6. Apa pernah ada sosialisasi terkait pentingnya kelengkapan pengisian informed consent ?

(51)
(52)

Gambar

Tabel 2.1 Dimensi Mutu ......................................................................................
Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian ................................................................
Tabel 4.1 Perfomance Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy Margoluwih  Seyegan Sleman Tahun 2012 sampai 2016
Tabel 4.2 Hasil rekapitulasi analisis pengisian informed consent pasien  rawat inap pada kasus bedah di Rumah Sakit At-Turots Al-Islamy
+5

Referensi

Dokumen terkait

Pada penelitian ini kondisi kerja berpengaruh terhadap kinerja dokter dalam kelengkapan pengisian rekam medis pasien rawat inap, hal ini dapat dijelaskan bahwa kinerja

Perbedaan Formulir Resume Medis pada Gambar 4.30 dan Gambar 4.32 Pada Formulir Resume Medis antara Formulir RS PKU Muhammadiyah Wonosari dan Redesai belumTerdapat nomor revisi

Formulir Ringkasan Keluar/Resume(RM12) di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum yang digunakan / diisi oleh Petugas TPPRI, Perawat dan Dokter Rawat Inap Rumah Sakit

Tesis ini berisikan mengenai risk awareness dokter dalam kelengkapan pengisian rekam medis rawat inap di Rumah Sakit Umum Anwar Medika Sidoarjo dan upaya

Assembling adalah salah satu unit rekam medis yang mempunyai tugas pokok yaitu : merakit kembali formulir dalam dokumen rekam medis rawat.. jalan,rawat inap dan gawat

Dari hasil pengamatan menunjukkan untuk review pencatatan dari 82 dokumen yang diteliti pada masing-masing formulir dokumen rekam medis rawat inap penyakit Diare terdapat

selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis menyusun Karya Tulis Ilmiah.. selaku

Dari 100 rekam medis yang menjadi sampel penelitian, didapatkan hasil kelengkapan pengisian rekam medis oleh dokter spesialis paviliun garuda sebesar 41,61%