TINJAUAN ULANG PENGENDALIAN WAKTU PROYEK GEDUNG
BERTINGKAT 3 DIKOTA PADANG DENGAN METODA KONSEP
NILAI HASIL ( EARNED VALUE CONSEPT )
(STUDI KASUS : PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG PASAR
INPERS IV PADANG SUMATERA BARAT )
David Agustian, Indra Farni, Indra Khaidir
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Bung Hatta
E-mail: [email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak
Proyek Konstruksi merupakan salah satu bentuk kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan sumber daya tertentu, untuk mencapai hasil dalam bentuk bangunan atau infrastruktur. Parameter penting dalam penyelenggaraan proyek konstruksi yang sering dijadikan sebagai sasaran proyek adalah waktu, biaya dan mutu. Keberhasilan dalam menjalankan proyek tepat waktu, biaya dan mutu yang telah direncanakan adalah salah satu tujuan terpenting bagi pemilik dan kontraktor. Untuk mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi lapangan dan mengatasi keterbatasan waktu manajemen dalam pengendalian seluruh unsur pekerjaan proyek di perlukan konsep pengendalian yang efektif yaitu konsep nilai hasil ( Earned Value Consep ). Diterapkan dengan membandingkan antara perencanaan terhadap parameter proyek yang dapat di ukur setiap saat. Berdasarkan itu penulis menganalisa tinjauan ulang pengendalian waktu gudang bertingkat 3 di kota padang dengan metoda konsep nilai hasil. Dengan menerapkan metoda konsep nilai hasil (Earned Value Consept ), maka akan mendapatkan nilai CPI dan SPI, jika nilai CPI = 1 ini menunjukan bahwa proyek berjalan sesuai dengan anggaran sedangkan SPI>1 ini menunjukan proyek sesuai dengan rencana. Pada Proyek Pembangunan Pasar Inpers IV Padang ini nilai CPI = 1 sedangkan nilai SPI < 1, Kecuali bulan ke 4.
REVIEW ABOUT CONTROL TIME AT PROJECT BUILDING 3RD
FLOORS IN PADANG CITY WITH THE METHOD EARNED VALUE
CONCEPT
(CASE OF STUDY: PROJECT BUILDING INPRES IV MARKET
PADANG WEST SUMATERA)
David Agustian, Indra Farni, Indra Khaidir
Department Of Civil Engineering, Faculty of civil engineering and planning, University of Bung Hatta
E-mail: [email protected]. [email protected], [email protected]
Abstract
Project Construction is one of the activity in progress with limited period, with limited resource, for get result in form building or infrastructure. Time, cost, and quality is important parameter in project construction. Successful in execute project on time, cost, and quality that has been planned is one of the important goals of the owner and the contractor. For anticipate the occurrence of changes in condition of the field and overcome the limitations time of management inside control all element need a effective control concept, like Earned Value Concept. Applied by comparing between planning against project parameters that can be quantify at every time. Based on that authors do analyze preview about control time at project building 3rd floors in Padang city. With the method earned value concept. With the method earned value concept then it will get the value of the CPI and SPI, CPI = 1 if the value indicates that the project is running in accordance with the budget while the SPI > 1 indicates the project according to plan. In Project Building Inpres Iv Market Padang get the value CPI = 1 while the value of SPI < 1, Except for the month 4th.
Keyword: Time, Project Construction, Building
TINJAUAN ULANG PENGENDALIAN WAKTU PROYEK GEDUNG
BERTINGKAT 3 DIKOTA PADANG DENGAN METODA KONSEP
NILAI HASIL ( EARNED VALUE CONSEPT )
(STUDI KASUS : PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG PASAR
INPERS IV PADANG SUMATERA BARAT )
David Agustian, Indra Farni, Indra Khaidir
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Bung Hatta
E-mail: [email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak
Proyek Konstruksi merupakan salah satu bentuk kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan sumber daya tertentu, untuk mencapai hasil dalam bentuk bangunan atau infrastruktur. Parameter penting dalam penyelenggaraan proyek konstruksi yang sering dijadikan sebagai sasaran proyek adalah waktu, biaya dan mutu. Keberhasilan dalam menjalankan proyek tepat waktu, biaya dan mutu yang telah direncanakan adalah salah satu tujuan terpenting bagi pemilik dan kontraktor.Untuk mengantisipasi terjadinya perubahan kondisi lapangan dan mengatasi keterbatasan waktu manajemen dalam pengendalian seluruh unsur pekerjaan proyek di perlukan konsep pengendalian yang efektif yaitu konsep nilai hasil ( Earned Value Consep ). Diterapkan dengan membandingkan antara perencanaan terhadap parameter proyek yang dapat di ukur setiap saat. Berdasarkan itu penulis menganalisa tinjauan ulang pengendalian waktu gudang bertingkat 3 di kota padang dengan metoda konsep nilai hasil. Dengan menerapkan metoda konsep nilai hasil (Earned Value Consept ), maka akan mendapatkan nilai CPI dan SPI, jika nilai CPI = 1 ini menunjukan bahwa proyek berjalan sesuai dengan anggaran sedangkan SPI>1 ini menunjukan proyek sesuai dengan rencana. Pada Proyek Pembangunan Pasar Inpers IV Padang ini nilai CPI = 1 sedangkan nilai SPI < 1, Kecuali bulan ke 4.
Kata kunci: Waktu, Proyek Konstruksi, Gedung
PENDAHULUAN
Secara umum tahapan penyelenggaraan sebuah proyek terdiri dari penyelenggaraan, pelaksanaan, dan pengendalian. Menurut Imam Soeharto (1995), ada beberapa metoda yang boleh di gunakan dalam proses pengendalian
pelaksanaan yang merupakan salah satu dari fungsi manajemen proyek konstruksi yaitu :
Analisa Varians
Konsep Nilai Hasil (earned value
consept)
Rekayasa Nilai
Pada Penyelengaraan suatu proyek suatu konstruksi di perlukan suatu manajemen yang benar, agar pembangunan proyek tersebut dapat berhasil dengan baik atau sesuai dengan rencana. Mengingat salah satu kriteria yang menjadi indikator dalam menentukan kelancaran dari suatu proyek adalah biaya dan untuk memaksimal kan keuntungn maka di pakailah metode konsep nilai hasil
(earnet value consept), karena
metode ini dapat memenuhi tujuan dari sasaran yang diinginkan oleh bidang jasa pembangunan suatu konstruksi dan juga di pakai untuk memeperkirakan keadaan masa depan proyek.
MAKSUD DAN TUJUAN
PENELITIAN
Adapun maksud dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui apakah metode konsep nilai hasil (earnet value consept) dalam Pengendalian Proyek Pembangunan Gedung Inpers IV Kota Padang Sumatera Barat
Sedangkan tujuan adalah meninjau efektifitas penerapan metoda konsep nilai hasil (earnet value consept) dalam pengendalian suatu proyek konstruksi.
PEMBATASAN MASALAH
Dalam penulisan tugas akhir ini penulis membatasi permasalahan pembahasan hanya untuk mengetahui bagaimana Metode Konsep Nilai Hasil
(earnet value konsep),pada Oroyek
Pembangunan Gedung Inpers IV Padang Sumatera Barat.
Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam tugas akhir ini penulis hanya membahas tentang pelaksanaan pembangunan Gedung Inpres IV Kota Padang meliputi:
1. Proyek yang diamati adalah pembangunan tahap IV Pasar Inpres IV Kota Padang.
2. Pengendalian ini mengacu pada indikator-indikator Konsep Nilai Hasil, yakni: ACWP, BCWP dan BCWS.
3. ACWP (Actual Cost of Work
Performance) adalah pembiayaan
yang sebenarnya dikeluarkan oleh pelaksana proyek.
4. BCWP (Budgeted Cost of Work
Performance) adalah anggaran yang
dikeluarkan berdasarkan bobot pekerjaan.
5. BCWS (Budgeted Cost of Work
Schedule) adalah keuangan yang
dianggarkan untuk menyelesaikan proyek yang dihitung berdasarkan bobot pekerjaan.
Metodologi penulisan
Metodologi dari penulisan tugas akhir ini adalah metode studi literatur, selain itu juga digunakan metode pengambilan data dimana data yang dimaksud berupa laporan mingguan dan bulanan proyek, cash flow dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek. Data proyek ini penulis dapatkan dari kontraktor pelaksana, yaitu PT AdiGuna Manidir. Setelah data didapat dilanjutkan dengan pengolahan data. Pengolahan data dilakukan dengan cara menentukan nilai anggaran proyek di luar pajak, bobot item pekerjaan, bobot rencana dan bobot realisasi per bulannya. Terakhir dilakukan perhitungan dengan membandingkan hasil dari BCWS, BCWP dan ACWP.
Pengendalian
Proyek konstruksi itu bersifat unik, yaitu memiliki karakter dan bentuk yang berbeda-beda di setiap pengerjaannya. Setiap proses suatu proyek konstruksi tidak akan pernah sama dengan proyek lainnya. Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan proyek konstruksi tersebut menjadi unik. Kondisi alam seperti perbedaan letak geografis, keadaan tanah, gempa, dan hujan merupakan beberapa factor yang dapat mempengaruhi karakteristik dari suatu proyek.
Agar suatu proyek konstruksi dapat berjalan dengan lancar dan dapat mencapai sasaran yang diinginkan tanpa mengalami kendala-kendala penyimpangan yang berarti, sudah selaknya dibutuhkan manajemen proyek yang dapat mengatasi hal tersebut. Pengendalian merupakan salah satu manajemen proyek yang dapat mengatasi masalah yang terjadi pada saat pengerjaan konstruksi.
Adapun proses dari pengendalian terdiri dari beberapa langkah kegiatan yang dilakukan secara sistematis. Dalam hubungan ini Mockler (1972)
memberikan defenisi sebagai berikut: “pengendalian adalah usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai sasaran perencanaan, merancang system informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar, menganalisis kemungkinan adanya penyimpangan antara pelaksanaan dengan standar, kemudian mengambil tindakan pembetulan yang diperlukan agar sumber daya digunakan secara efektif dan efesien dalam rangka mencapai sasaran”.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa maksud dari pengendalian adalah memantau dan mengendalikan suatu proyek konstruksi untuk mengetahui kesesuaian antara implementasi dilapangan dengan apa
yang telah direncanakan, dan juga mampu memberikan solusi yang jitu ketika terjadi penyimpangan agar proyek tersebut dapat mencapai target sasaran yang diinginkan.
Menurut Stoner (1982) “meskipun sasaran telah ditetapkan dengan jelas disertai organisasi dan kepemimpinan yang kuat dan motivasi yang tepat, namun kecil kemungkinan untuk mencapai sasaran jika tidak disertai dengan pengendalian yang cukup”. Sehingga dapat disimpulkan pengendalian proyek merupakan hal yang sangat diperlukan untuk keberhasilan suatu proyek meskipun proyek tersebut sudah memiliki sasaran dan organisasi yang tersistematis.
Pengendalian diperlukan untuk menjaga kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan, jadi dapat disimpulkan bahwa pengendalian adalah suatu kegiatan inspeksi dan pengecekan yang dilakukan oleh pengawas lapangan, apakah sudah sesuai dengan spesifikasi yang telah direncanakan (Erwanto, 1992).
Terdapat 3 (tiga) pengendalian terhadap suatu proyek konstruksi, yaitu pengendalian terhadap mutu fisik konstruksi, pengendalian terhadap waktu konstruksi dan pengendalian terhadap waktu konstruksi. Masing-masing pengendalian dilakukan secara terpisah.
Untuk pengendalian mutu fisik konstruksi dilakukan secara tersendiri oleh badan pengawas teknik melalui gambar-gambar rencana dan spesifikasi teknis. Sedangkan untuk pengendalian waktu dan biaya dimasukkan dalam devisi manajemen proyek yang mencakup pemantauan kemajuan pekerjaan (progres), reduksi biaya, optimasi, model dan analisis (Ervianto, 1992).
Menurut Soeharto (1995), ada tiga kendala (Triple Constraint) yang menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan sebuah proyek, yaitu anggaran,jadwal, dan mutu. Ini merupakan parameter penting bagi penyelenggaraan proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Tiga kendala tersebut dijelaskan sebagai berikut :
1. Anggaran
Proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi anggaran Untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal bertahun-tahun, anggaranya bukan hanya ditentukan untuk total proyek tetapi dipecah bagi komponen-komponenya, atau per periode tertentu ( misalnya per kwartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian, penyelesaian
bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode.
2. Jadwal
Proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahanya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.
3. Mutu
Produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Sebagai contoh, bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik harus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jadi, memenuhi persyaratan mutu berarti mampu memenuhi tugas yang dimaksudkan atau sering disebut sebagai fit for the intended use.
Ketiga batasan tersebut bersifat tarik-menarik. Artinya, jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan menaikan mutu, yang selanjutnya berakibat pada naiknya biaya, maka
biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal.
Dari segi teknis, ukuran keberhasilan proyek dikaitkan dengan sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat dipenuhi. Di dalam proses mencapai tujuan tersebut telah ditentukan batasan yaitu besar biaya (anggaran) yang dialokasikan, dan jadwal serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga batasan di atas disebut tiga kendala (triple constrain). Seperti diperlihatkan oleh gambar 1.1 dibawah ini : Mutu Kinerja Jadwal Waktu Biaya Anggaran
Gambar 1 Sasaran proyek yang juga merupakan tiga kendala (triple
constrain)
Soeharto, I(1995)
Menurut Ervianto (2004), pengendalian (kontrol) diperlukan untuk menjaga kesesuaian antara perencanaan dan pelakasnaan. Tiap pekerjaan yang dilaksanakan harus benar-benar diinspeksi dan dicek oleh pengawas lapangan apakah sudah sesuai dengan spesifikasi yang telah direncanakan.
Pengendalian diperlukan untuk menjaga kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan. Tiap pekerjaan harus benar-benar diawasi dan dicek oleh inspektor (pengawas) lapangan apakah sudah sesuai dengan gambar,spesifikasi atau belum. Misalnya pengangkutan bahan, kualitas bahan benar-benar diatur dan dijaga dengan perencanaan dan pengendalian yang baik terhadap kegiatan-kegiatan. Maka keterlambatan jadwal dan pembengkakan biaya proyek dapat dihindari.
Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa pengendalian dalam proyek konstruksi adalah proses upaya untuk memanajemen semua tahapan didalam kegiatan proyek konstruksi agar proyek tersebut sesuai dengan acuan perencanaan, dan standar yang telah ditentukan sehingga adanya kontrol kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan guna untuk mencapai sasaran yang optimal.
Metode Pengendalian
Jika suatu proyek pembangunan sebuah konstruksi menggunakan pengendalian dalam manajemen proyeknya, maka diperlukan metode untuk penerapannya. Hal ini dimaksudkan agar metode itu dapat dengan segera mengungkapkan tanda-tanda terjadinya penyimpangan tersebut.
Suatu sistem pengendalian disamping memerlukan perencanaan yang realistis sebagai tolak ukur pencapaian sasaran, juga harus dilengkapi dengan teknik dan metode yang dapat segera mengungkapkan tanda-tanda terjadinya penyimpangan.
Terdapat beberapa metode dalam pengendalian, diantara nya metode analisis varian, varian dengan grafik S dan metode konsep nilai hasil. Metode-metode tersebut digunakan untuk mengendalikan biaya, waktu dan mutu dari suatu pekerjaan konstruksi. Untuk pengendalian biaya, Metode tersebut diterapkan dengan cara membandingkan jumlah uang yang sesungguhnya telah dikeluarkan dengan jumlah uang yang dianggarkan. Sedangkan untuk pengendalian waktu cara penerapannya adalah dengan menganalisa waktu yang telah dipakai untuk pembangunan konstruksi tersebut dan
membandingkannya dengan
perencanaan. Sehingga dengan menerapkan metode tersebut maka akan terlihat potensi-potensi penyimpangan antara perencanaan dengan realisasi dilapangan agar dapat sesegera mungkin untuk mengambil langkah antisipasi.
Untuk mengungkap lebih jauh, maka identifikasi diatas dikembangkan menjadi cost atau schedule control
untuk mengkaji kinerja dari suatu kegiatan pembangunan konstruksi.
Fungsi Pengendalian Proyek
Menurut J.A.F. Stoner (1982) Fungsi pengendalian mempunyai arti penting dimana meskipun sasaran telah ditetapkan dengan jelas, disertai organisasi dan kepemimpinan yang kuat dan motivasi yang tepat, namun kecil kemungkinanya untuk berhasil mencapai sasaran jika tidak disertai pengawasan dan pengendalian yang cukup.
Menurut Ervianto (2004) Pengendalian memikli dua fungsi yang sangat penting, yaitu :
1. Fungsi Pemantauan
Dengan pemantauan yang baik terhadap semua kegiatan proyek akan memaksa unsur-unsur pelaksana untuk bekerja secara cakap dan jujur. Pemantauan yang baik akan menjadi motivasi utamauntuk mencapai performa yang tinggi, misalnya dengan memberi penjelasan kepada pekerja mengenai apa saja yang harus mereka lakukan untuk mencapai performa yang tinggi kemudian memberikan umpan balik terhadap performa yang telah dicapainya. Sehingga masing-masing mengetahui sejauh apa prestasi yang telah dicapainya.
2. Fungsi Manajerial
Pada proyek-proyek yang kompleks dan mudah terjadi perubahan (dinamis) pemakaian pengendalian dan sistem informasi yang baik akan memudahkan manajer untuk segera mengetahui bagian-bagian pekerjaan yang mengalami kejanggalan atau memiliki performa yang kurang baik. Dengan demikian dapat segera dilakukan usaha untuk mengatasi atau meminimalkan kejenggalan tersebut. (Ervianto, 2004).
Fungsi Penghambat Proses Pengendalian.
Menurut Soeharto (1995), acap kali dijumpai suatu pengendalian proyek tidak membuahkan hasil yang diharpkan. Secara umum penyebabnya adalah hal-hal berikut :
1. Karateristik Proyek
Sudah berulang kali disinggung bahwa proyek umumnya kompleks, melibatkan banyak organisasi peserta dan lokasi kegiatan sering terpencar-pencar letaknya. Hal ini mengakibatkan : a. Tidaklah mudah mengikuti
kinerja masing-masing kegiatan dan menyimpulkan menjadi laporan yang terkonsolodasi.
b. Masalah komunikasi dan koordinasi makin bertambah dengan besarnya jumlah peserta dan tercapainya lokasi.
2. Kualitas Informasi
Laporan yang tidak tepat pada waktunya dan tidak pandai memilih materi akan banyak mengurangi faedah suatu informasi, ditambah lagi dengan bila didasarkan atas informasi atau sumber yang kurang kompeten.
3. Kebiasaan
Di organisasi pemilik, pengelola proyek sebagian besar berasal dari bidang-bidang fungsional (teknik, operasi, pengadaan, dan lain-lain) dengan pekerjaan yang sifatnya rutin-stabil, mereka yang sudah “mapan” dengan sikap dan kebiasaan yang selama ini dialami umumnya sulit menyesuaikan diri dalam waktu yang relaif singkat dan cenderung “resistant” terhadap permasalahan yang semestinya diperlukan untuk mengelola proyek.
Pimpro hendaknya sejak awal telah menyiapkan diri dan mencari pemecahan yang spesifik dalam menghadapi masalah-masalah di atas sehingga proses pengendalian dapat berjalan dengan lancar.
Faktor Pendukung Proses Pengendalian
Menurut Ervianto (2004), Mutu adalah suatu pengendalian tidak terlepas dari mutu informasi yang diperoleh. Jika informasi yang diperoleh pengawas di lapangan dapat mewakili kondisi yang sebenarnya maka solusi yang diambil akan lebih mengena sasaran. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pengendalian dan sistem informasi berlangsung dengan baik, yaitu :
1. Ketepatan Waktu
Keterlambatan pemantauan hanya akan menghasilkan informasi yang sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi.
2. Akses antar tingkat
Derajat kemudahan untuk akses dalam jalur pelaporan performa sangat berpengaruh untuk menjaga efektifitas sistem pengendalian. Jalur pelaporan dari tingkat paling atas hingga peling bawah harus mudah dan jelas. Sehingga, seseorang manajer dapat mencetak dengan cepat bila terdapat bagian yang memiliki performa jelek. 3. Perbandingan Data Terhadap
Informasi
Data yang diperoleh dari pengamatan di lapangan harus mampu memberikan informasi secara proporsional. Jangan sampai
terjadi jumlah data yang didapat berjumlah ribuan bahkan ratusan ribu namun hanya memberikan satu dua informasi. Sedangkan untuk mengolah data tersebut membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.
4. Data dan Informasi yang Dapat Dipercaya
Masalah ini menyangkut kejujuran dan kedisiplinan semua pihak yang terlibat dalam proyek. Semua perjanjian dan kesepakatan yang telah dibuat seperti waktu pengiriman peralatan dan bahan, waktu pembayaran harus benar-benar ditepati.
5. Obyektifitas Data
Data yang diperoleh harus sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan. Pemakaian asumsi, kira-kira atau pendapat pribadi tidak boleh dimasukan sebagai data hasil pengamatan.
Konsep Nilai Hasil
Untuk meningkatkan efektifitas dalam memantau dan mengendalikan kegiatan proyek, perlu dipakai metode yang mampu menunjukkan kinerja kegiatan. Salah satu metode yang memenuhi tujuan ini adalah konsep nilai hasil (earned value concept). Dengan memakai dasar asumsi tertentu, metode
ini dapat dikembangkan untuk membuat prakiraan atau proyeksi keadaan masa depan proyek.
Asumsi yang digunakan konsep nilai hasil adalah bahwa kecendrungan yang ada dan terungkap pada saat pelaporan akan terus berlangsung. Keterangan yang memberitahukan proyeksi masa depan penyelenggaraan proyek merupakan masukan yang sangat berguna bagi pengelola maupun pemilik, karena dengan demikian mereka memiliki cukup waktu untuk memikirkan cara-cara menghadapi segala persoalan di masa yang akan datang.
Konsep nilai hasil adalah konsep yang menghitung besarnya biaya yang menurut anggaran sesuai dengan pekerjaan yang telah diselesaikan. Maka berarti konsep ini juga dapat mengukur besarnya jumlah anggaran yang disediakan untuk pekerjaan tersebut. Dengan perkiraan ini, diketahui hubungan antara apa yang sesungguhnya telah tercapai secara fisik terhadap jumlah anggaran yang telah dikeluarkan. Formula konsep nilai adalah sebagai berikut:
Nilai Hasil = % Penyelesaian X Anggaran
Metode konsep nilai hasil ini dapat digunakan untuk membuat perkiraan keadaan proyek di masa mendatang dan
dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Dapatkah proyek diselesaikan dengan anggaran yang tersisa ? b. Berapa besar biaya untuk
menyelesaikan proyek ?
c. Berapa besar perkiraan keterlambatan pada akhir proyek ?
Analisa dalam metode ini menggunakan 3 (tiga) indikator, yaitu: 1. ACWP (Actual Cost of Work
Performance), yaitu jumlah anggaran yang sesungguhnya terpakai untuk kegiatan yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu
2. BCWP (Budgeted Cost of Work
Performance), yaitu jumlah anggaran yang senilai untuk kegiatan yang telah terlaksana 3. BCWS (Budgeted Cost of Work
Scheduled), yaitu anggaran yang
direncanakan untuk kegiatan yang dilaksanakan.
METODOLOGI PENELITIAN Data Umum Proyek
Dalam penulisan tugas akhir ini, penulis menerapkan Konsep Nilai Hasil
( Earned Value Concept) dalam pengendalian biaya pada proyek Pembangunan Gedung Inpres IV Kota Padang.
Teknik Pengumpulan Data
Untuk dapat menganalisa perhitungan biaya pada pembangunan Gedung Inpres IV Kota Padang ini, terlebih dahulu penulis harus mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, yakni laporan mingguan, jadwal pelaksanaan, daftar kuantitas dan harga (optimasi) yang bersumber dari
Actual Schedule. Data ini didapat dari
kontraktor, yaitu PT. Adiguna Mandiri dan kemudian data tersebut dianalisa pengendalian biayanya menggunakan konsep nilai hasil.
Analisa Pengendalian Biaya
Dalam pengendalian biaya pelaksanaan proyek, penulis menganalisa sebuah pembangunan dengan studi kasus pembangunan Pasar Inpres IV Kota Padang, data-data yang ada selanjutnya diolah dan dianalisa sehingga dapat disimpulkan apakah pekerjaan akan selsesai tepat waktu atau mengalami keterlambatan.
Cash flow atau Anggaran Kas
Proyek adalah suatu metode perhitungan penggunaan anggaran pada suatu proyek yang bertujuan agar biaya akhir proyek tidak melebihi anggaran yang tersedia. Anggaran disusun berdasarkan rencana jadwal pelaksanaan pekerjaan. Cash
satu bahan acuan untuk mengajukan permohonan turunnya dana proyek.
Cara yang ditempuh untuk mengendalikan biaya adalah dengan menganalisis dan menghitung biaya yang telah dikeluarkan setiap unit pada kurun waktu tertentu, kemudian membandingkannya dengan perencanaan biayanya, dengan membuatkan cash flow dan biaya yang masuk harus sama dengan biaya yang dikeluarkan.
Secara umum tujuan penyusunan Anggaran Kas Proyek (cash flow) adalah:
a. Untuk mengetahui kemungkinan posisi kas pada masa yang akan datang.
b. Untuk mengetahui terlebih dahulu kapan akan terjadi kekurangan kas serta kapan akan terjadi kelebihan kas. Dengan demikian dapat membuat persiapan jauh-jauh hari sebelumnya seperti dari mana memperoleh dana apabila terjadi kekurangan kas, juga dapat dipersiapkan kemana harus dipergunakan bila terjadi kelebihan kas.
c. Sebagai dasar unuk melakukan pengendalian kas.
Pembuatan cash flow terlebih dahulu dilakukan analisa terhadap waktu pelaksanaan pekerjaan yang dapat dilihat pada master schedule dan dilanjutkan
dengan identifikasi persentase bobot pekerjaan. Yang dimaksud persentase bobot pekerjaan adalah besarnya persen pekerjaan siap, dibanding dengan pekerjaan siap seluruhnya.
Konsep Nilai Hasil (Earned Value Concept)
Berikut ini adalah contoh yang sederhana dari penggunaan konsep nilai hasil pelaksanaan suatu proyek.
Suatu pekerjaan pengecoran pondasi beton dengan volume 300 m3, anggaran yang direncanakan untuk pekerjaan tersebut Rp 85.000.000. Pada minggu pertama dilakukan sebanyak 60 m3 pengecoran telah diselesaikan, berapa nilai hasil dari pekerjaan yang telah diselesaikan tersebut pada saat pelaporan. Nilai hasil adalah biaya yang dianggarkan dari pekerjaan yang telah diselesaikan.
- Jumlah pekerjaan yang telah diselesaikan sebesar 60 m3, atau = (60/300) (100%)
= 20%
- Menurut anggaran, pengeluaran adalah sebesar :
= (20%) (Rp 85 juta) = Rp 17 juta
- Jadi nilai hasil pekerjaan tersebut pada saat pelaporan sebesar Rp 17 juta.
- Maka dapat disimpulkan bahwa (Soeharto, 1995) :
Dalam hal ini pengeluaran aktual dapat lebih besar atau lebih kecil atau sama dengan perkiraan nilai hasil yang didapat, tergantung dari efisiensi pelaksanaan pekerjaan. Bila pekerjaan dilakukan seefisien mungkin dari yang diperkirakan dalam perencanaan dan anggaran, sehingga pengeluaran aktual dapat lebih kecil dari nilai hasil yang diperkirakan, maka dapat dikatakan bahwa perkiraan nilai hasil pekerjaan lebih besar dari pengeluaran aktual untuk pekerjaan tersebut. Atau keadaan bisa menjadi sebaliknya.
Indikator-indikator dari Konsep Nilai Hasil ( Earned Value Konsep)
Metode konsep nilai hasil dapat digunakan untuk menganalisis kinerja dan membuat perkiraan pencapaian sasaran. Untuk itu digunakan tiga indikator, yaitu ACWP (Actual Cost
Work Performed), BCWP (Budgeted Cost of Work Performed), dan BCWS (Budgeted Cost of Work Schedule).
Untuk memahami lebih lanjut, penulis menjabarkan ketiga indikator tersebut sebagai berikut:
a. ACWP (Actual Cost of Work
Performance)
ACWP Adalah biaya aktual yang dikeluarkan untuk penyelesaian pekerjaan pada kurun waktu tertentu. Pada penulisan tugas akhir ini, biaya pada ACWP sama dengan biaya pada BCWP dikarenakan jumlah uang yang dibayarkan sama dengan prestasi kerja.
b. BCWP (Budgeted Cost for Work
Performance)
BCWP Adalah anggaran biaya dari seluruh aktual pekerjaan yang sudah dilaksanakan sepanjang periode konstruksi. Biaya ini dapat dihitung pada masing – masing periode atau pada jumlah kumulatif penyelesaian pekerjaan atau kelompok pekerjaan atas dasar prestasi fisik yang dicapai dan dihitung menurut standar volume dan standar harga (biaya per unit), dapat juga nilai dalam rupiah untuk pekerjaan atau kelompok pekerjaan yang dilaksanakan dan dihitung menurut standar volume sumber daya dan standar harga atau biaya per unit. Nilai pekerjaan ini dapat diukur dengan menggunakan metode “Percent Completion” yaitu pendekatan teknik dengan memperoleh suatu penaksiran nilai
pekerjaan berdasarkan prosentase pekerjaan yang berhasil diselesaikan dalam tiap-tiap satuan waktu tertentu. Perhitungan nilai pekerjaan ini biasanya dibuat secara komulatif, sehingga untuk setiap presentase pekerjaan yang sudah dilaksanakan dapat ditentukan nilai pekerjaannya. Secara matematis nilai pekerjaan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
BCWP = PC X BAC Dimana :
BCWP : Nilai pekerjaan dengan satuan waktu
PC : Percent Completion dari
pekerjaan yang
bersangkutan
BAC : Budgeting At Completion (rencana biaya hingga proyek selesai)
Indikator ini menunjukkan nilai hasil dari sudut pandang nilai pekerjaan yang telah diselesaikan terhadap anggaran yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Bila angka ACWP dibandingkan BCWP, maka akan terlihat perbandingan antara biaya yang dikeluarkan untuk pekerjaan yang telah dilaksanakan terhadap biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk pekerjaan tersebut.
c. BCWS (Budgeted Cost of Work
Schedule)
Merupakan anggaran biaya yang telah direncanakan berdasarkan jadwal pelaksanaan proyek. Jadi disini terjadi perpaduan antara biaya, jadwal dan lingkup kerja. Dimana pada setiap elemen pekerjaan telah diberi alokasi biaya dan jadwal yang menjadi tolak ukur dalam pelaksanaan pekerjaan.
Rekapitulasi Nilai Kontrak
Proyek Pembangunan Gedung Pasar Inpres IV Kota Padang ini mengalami satu kali addendum, dimana proyek ini mempunyai nilai kontrak Rp. 6.254.162.376.76 ( belum termasuk PPN), dengan rekapitulasi harga terlampir.
Perhitungan Bobot Pekerjaan Final Quantity (Persentase Bobot Pekerjaan) Persentase bobot pekerjaan :
PBP = 100% bangunan Harga satuan Harga Volume
Perhitungan persentase bobot pekerjaan pada setiap item pekerjaan (dalam Pembangunan Gedung Pasar Inpres IV padang). SV CV BCWP-BCWS BCWP-ACWP Rp (105,695,344.17) 0 Rp (742,994,490.36 ) 0 Rp (305,203,123.99 ) 0 Rp (3,497,327,601.08) 0 BCWS BCWP BCWS % Rencana x BAC % Aktual x BAC Rp - Rp - Rp - Rp 450,299,69 1.13 Rp 344,604,34 6.96 Rp 344,604,34 6.96 Rp 1,816,208,7 54.21 Rp 3,581,758,7 93.17 2,559,203,2 44.57 2,559,203,2 44.57 Rp 5,076,503,6 01.22 Rp 3,886,961,9 17.16 Rp 3,886,961,9 17.16 Rp 5,368,572,9 84.21 Rp 1,579,176,0 00.13 Rp 1,579,176,0 00.13 Rp - Rp 5,004,580,7 33.88 Rp 5,004,580,7 33.88 Rp - Rp - Rp - - - Rp -
Rp
(363,992,250.33) 0
Dengan penerapan Konsep Nilai Hasil (Earned Value Konsep) ini pada proyek konstruksi dapat mengetahui banyak hal seperti bahan analisa masalah biaya yang tidak melebihi batas yang telah dianggarkan dari rencana semula disamping itu kontraktor juga dapat mengendalikan biaya proyek agar proyek tersebut mempunyai
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Pengendalian biaya dan waktu dengan metoda Konsep Nilai Hasil
(Earned Value Concept) ternyata dapat
mengetahui banyak hal yang sangat berguna sebagai bahan analisa. Seperti hal-hal berikut :
1. Untuk mengetahui biaya apakah yang melebihi batas anggaran yang telah direncanakan.
2. Untuk mengetahui berapa lama waktu pelaksanaan apakah proyek mengalami keterlambatan atau tidak.
3. Untuk mengetahui proyek ini megalami keuntungan atau mengalami kerugian.
4. Untuk melihat masa depan proyek dimana terlihat varians untuk waktu dan biaya.
Perhitungan CV (Cost Variance) dan CPI (Cost Performance Indeks) ternyata didapatkan angka nol untuk CV dan angka 1 pada CPI artinya biaya sesuai dengan angaran rencana.
Saran
Adapun beberapa saran yang ingin disampaikan adalah agar perbaikan pada proyek yang akan datang adalah :
1. Dalam pengendalian proyek dengan Metoda Konsep Nilai Hasil membutuhkan informasi dan data yang akurat, supaya dapat mencapai hasil yang maksimal. Dapat menjalin hubungan komunikasi dan koordinasi dari semua pihak pengelolah proyek untuk tercapainya pekerjaan yang sesuai direncanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Bachtiar Ibrahim, 1997, Rencana dan Estimasi Real of Cost, Bumi Aksara.
Ervianto, Wulfram I : 2004. Teori – Teori Manajemen Proyek Konstruksi, Graha Abdi, Indonesia.
Header, Tubagus Ali, : 2012. Prinsip – Prinsip Network Planning, PT. Gramedia Jakarta.
Imam Soeharto, Ir, 1995, Manajemen Proyekdari konseptual sampai oprasional, Erlangga.
Imam Soeharto, Ir, 1998 Manajemen Proyek Edisi II, Erlangga.
Jumas . Dwifitra Y. ST,. MSCE, 2004.Manajemen Konstruksi, Bung Hatta University Press.
Lock Denis, 1992, Manajemen Proyek Edisi III, Erlangga.
Nabuko, C : 2007, Metodologi Penelitian, Jakarta, Bumi Aksara.