LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 1
B
Ba
ag
gi
ia
an
n
3
3
D
D
A
A
T
T
A
A
D
D
A
A
N
N
A
A
N
N
A
A
L
L
I
I
S
S
I
I
S
S
H
H
A
A
S
S
I
I
L
L
S
S
U
U
R
R
V
V
E
E
Y
Y
E
E
H
H
R
R
A
A
K
K
A
A
B
B
U
U
P
P
A
A
T
T
E
E
N
N
B
B
E
E
N
N
G
G
K
K
U
U
L
L
U
U
T
T
E
E
N
N
G
G
A
A
H
H
3.1.
KARAKTERISTIK RUMAH TANGGA/RESPONDEN
Bagian ini memaparkan sejumlah variable survey yang berkaitan dengan status rumah tangga/responden di Kabupaten bengkulu Tengah. Variabel-variabel yang dimaksud mencakup hubungan responden dengan kepala keluarga, usia responden, status kepemilikan rumah responden, pendidikan terakhir, kepemilikan anak, dan jumlah anak laki-laki dan perempuan dalam kelompok umur; kurang 2 tahun, umur 2-5 tahun, 6-12 tahun dan lebih dari 12 tahun. Variabel-variabel sosio-demografis diperlukan berkaitan cukup erat dengan masalah sanitasi. Jumlah anggota rumah tangga berhubungan dengan kebutuhan kapasitas fasilitas sanitasi. Semakin banyak jumlah anggota rumah tangga, maka semakin besar pula kapasitas yang dibutuhkan.
Khusus informasi terhadap usia anak termuda yang berada dirumah adalah untuk menggambarkan besaran populasi yang memiliki risiko paling tinggi atau yang kerap dikenal dengan istilah population at risk. Secara umum diketahui bahwa balita merupakan segmen populasi yang paling rentan terhadap penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water borne diseases), kebersihan diri dan lingkungan. Dengan demikian, rumah tangga yang memiliki balita akan memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap masalah sanitasi dibandingkan rumah tangga yang tidak memiliki balita.
Sementara, variabel yang terkait dengan status rumah, seperti kepemilikan dan juga ketersediaan kamar yang disewakan diperlukan untuk memperkirakan potensi partisipasi warga dalam pengembangan program sanitasi. Mereka yang menempati rumah atau lahan yang tidak dimilikinya diduga kuat memiliki rasa memiliki (sense of ownership) yang rendah. Mereka cenderung tidak peduli dengan lingkungan sekitar termasuk pemeliharaan fasilitas sanitasi ataupun kebersihan lingkungan. Sebaliknya, mereka yang menempati rumah atau lahan yang dimilikinya sendiri akan cenderung memiliki rasa memiliki yang lebih tinggi.
Seperti dipaparkan dalam bagian metodologi, responden dalam studi EHRA adalah ibu atau perempuan yang telah menikah atau cerai atau janda yang berusia 18 – 65 tahun. Batas usia, khususnya batas-atas diperlakukan secara fleksibel. Penilaian relawan survei sebagai enumerator banyak menentukan. Bila usia calon responden sedikit melebihi batas-atas (65 tahun), namun responden terlihat dan terdengar masih cakap untuk merespon pertanyaan-pertanyaan dari pewawancara, maka calon responden itu dipertimbangkan masuk dalam daftar prioritas responden. Sebaliknya, meskipun usia responden
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 2
; 97% 3%
Status kedudukan responden di dalam keluarga Istri Anak yang sudah menikah 85.1 0.6 0.3 0.8 0.6 12.4 0.1
0.1 Status Kepemilikan Rumah
Milik Sendiri
Rumah Dinas
berbagi dengan keluarga Sewa
belum mencapai 55 tahun, namun bila performa komunikasinya kurang memadai, maka ibu itu dapat dikeluarkan dari daftar calon responden.
Diagram 3. 1 Status kedudukan responden di dalam keluarga
Diagram ini memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (97%) adalah istri, sementara responden anak yang sudah menikah (3%) dan suami dalam persentase kecil, dimana usia anak yang menjadi responden telah berumur diatas 15 tahun dengan demikian mereka telah mengerti tentang sanitasi rumah mereka dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Diagram 3. 2 Kelompok Umur Responden
Diagram 3.2 memperlihatkan bahwa hampir sebagian responden berumur >45 tahun yaitu sebesar 20%. Dan responden terkecil berusia 20 tahun atau 4.6 %.
Umumnya berkedudukan sebagai
anak. Sebaran usia selanjutnya berturut-turut 17.9 % (36-40 tahun), 9.5 % (41-45 tahun), 17.1 (31-35 tahun), 17.4 % (26-30 tahun), dan 13.4 % (21-25 tahun).
Diagram 3. 3 Status Kepemilikan Rumah
Diagram 3 .3 memperlihatkan bahwa persentase terbesar responden menempati rumah dengan status kepemilikan rumah milik sendiri yaitu 85.1 % Sementara 0.6 % menempati rumah dengan status kontrak, 12.4% menempati rumah milik orang tua, dan dengan status berbagi dengan keluarga lain
4.6 13.4 17.4 17.1 17.9 9.5 20
Kelompok Umur Resonden
<= 20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 >45
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 3 0 50 100 Ya Tidak 92.6 7.4
Kepemilikan Anak
Ya Tidakserta yang tinggal dirumah dinas sebesar 0.3% dan 0.6 %,yang menempati rumah den gan status sewa 0.8%, sedangkan yang menempati rumah dengan status Lainnya dan tidak tahu 01.% dan 0.1%.
Diagram 3. 4 Kepemilikan Anak
Diagram ini memperlihatkan
bahwa sebagian besar
responden memiliki anak yaitu
sebanyak 92.6%, sedangkan
sisanya sebanyak 7.4% tidak mempunyai anak. Jumlah anak dalam kelompok umur dan jenis
kelamin digambarkan pada
diagram berikut.
Diagram 3. 5 Jumlah Anak Laki-laki dalam keluarga
Diagram diatas menggambarkan jumlah anak laki-laki yang dimiliki, dimana yang terbesar adalah memiliki satu orang anak laki-laki yaitu 40.8%, dan yang mempunyai 5 orang anak laki-laki ada 0.6%.
Diagram 3. 6 Jumlah anak perempuan dalam keluarga
Dari diagram dibawah dapat dilihat bahwa jumlah anak perempuan dengan persentase tertinggi dalam keluarga responden adalah 2 (dua) orang yaitu sebesar 44.4% dan persentase terendah
adalah 0.3% untuk yang
memiliki anak perempuan 6
(enam) orang. Sedangkan
sebaran jumlah anak menurut kelompok umur digambarkan dalam diagram 7.
Diagram 3. 7 Jumlah anak yang tinggal dirumah responden menurut kelompok Umur
29.6
40.8 21.1
6.1 1.6 0.6
Jumlah Anak Laki-laki Tidak Punya
Punya anak 1 Punya anak 2 Punya anak 3 Punya anak 4 Punya anak 5 36.4 44.4 14.4 3.1 1.5 0.3
Jumlah Anak Perempuan
Tidak Punya Punya anak 1 Punya anak 2 Punya anak 3 Punya anak 4 Punya anak 6LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 4 Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa yang tertinggi persentasenya adalah yang punya 2 anak dalam rumah 33.1% , dan yang paling rendah adalah yang mempunyai 7 anak (0.1%).
3.2.
PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA
Sesuai amanat Undang-undang nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pola pengolahan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga tidak lagi dilakukan dengan metode kumpul, angkut dan buang. Metode pengolahan sampah selanjutnya harus dilakukan dengan mekanisme pengurangan sampah dan penanganan sampah. Dalam penanganan sampah ini dilakukan metode pilah, kumpul, angkut, olah, dan pemrosesan akhir di TPA. Keterlibatan dan peran aktif masyarakat sangat dituntuk dengan diterapkannya kebijakan pengolahan sampah yang baru ini, karena proses pemilahan sampah sejak dari sumbernya mengharuskan masyarakat dalam hal ini rumah tangga harus berpartisipasi aktif. Peran pemerintah juga diharapkan dalam hal menghimbau pihak penghasil sampah dari produsen makanan agar menggunakan produk pembungkus yang ramah lingkungan, misalnya dengan menggunakan wadah selain plastik dan sterefoam.
Aspek-aspek pengelolaan sampah dalam studi EHRA meliputi: 1. Kondisi sampah di lingkungan rumah
2. Pengelolaan sampah rumah tangga 3. Perlakuan barang bekas layak pakai
4. Pemilihan/pemisahan sampah dirumah sebelum dibuang 5. Jenis sampah yang dipilah sebelum dibuang
6. Daur ulang sampah
7. Frekuensi petugas mengangkut sampah dari rumah 8. Ketepatan waktu pengangkutan sampah
9. Pembiayaan layanan pengangkutan sampah oleh tukang sampah 10. Pihak penerima pembayaran layanan sampah, dan
11. Jumlah iuran layanan sampah perbulan.
8.9 27.4 33.1 19.9 7.8 1.6 0.9 0.1 0.3 0.1
Anak yang ada dalam rumah Tidak Punya
Anak Anak 1 Anak 2 Anak 3 Anak 4 Anak 5 Anak 6 Anak 7 Anak 8 Anak 12
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 5 Kuisioner mengenai kondisi sampah di lingkungan rumah terdapat 6 opsi jawaban yaitu: 1) Banyak sampah berserakanlalat 2) banyak lalat di sekitar rumah 3) banyak tikus berkeliaran; 4) Banyak nyamuk disekitar rumah 5) Banyak kucing dan anjing mendatangi tumpukan sampah; dan 6) Bau busuk yang menggangu 7) Menyumbat saluran drainase 8) Ada anak-anak yang bermain di sekitarnya 9) Lainnya. Jawaban poin 1 s/d 5, adalah indicator sampah di lingkungan rumah yang berpotensi menimbulkan resiko kesehatan yang cukup besar. Sementara kuisioner mengenai pengelolaan sampah rumah tangga terdapat 7 opsi jawaban yaitu: 1) Dikumpulkan oleh kolektor informal yang mendaur ulang 2) Dikumpulkan dan dibuang ke TPS 3) dibakar 4) Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah 5) Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah 6) Dibuang ke sungai/kali/laut/danau 7) Dibiarkan saja sampai membusuk 8) Dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk 9) Tidak tahu. Jawaban 1 dan 4 mengindikasikan pengelolaan
sampah yang cukup baik dan menunjukkan resiko kesehatan yang lebih rendah, dibandingkan dengan jawaban 5 sampai 9. Opsi jawaban 1 berkaitan dengan aspek 7 sampai 11 yaitu frekuensi petugas mengangkut sampah, ketepatan waktu pengangkutan sampah, pembiayaan pelayanan pengangkutan sampah oleh tukang sampah, pihak penerima pembayaran layanan sampah dan jumlah biaya yang dikeluarkan. Frekuensi ketepatan waktu pengangkutan sampah berkaitan dengan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh sampah dan juga menyangkut ukuran kinerja lembaga pengelolaan sampah, apakah pengelolaan sampah sudah dilakukan dengan benar oleh lembaga pengelola yang ditunjuk pemerintah. Sebab apabila dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang, dikhawatirkan sampah hanya dipindahkan dari lingkungan perumahan ke tempat yang tidak semestinya. Jadinya malah menimbulkan masalah sampah di tempat lain.
Selanjutnya juga dikaji tentang pemilahan sampah di rumah sebelum dibuang. Untuk subjek ini ada 4 opsi jawaban yaitu: 1) tidak pernah; 2) Pernah. Jawaban 2 adalah indikasi yang baik, karena berarti pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga sudah baik dan adanya kesadaran tentang pentingnya pemilahan sampah di rumah. Aspek ini lebih lanjut berkaitan dengan aspek lainnya yaitu jenis sampah yang dipilah sebelum dibuang dan daur ulang sampah. Disamping wawancara, pada aspek ini, enumerator juga diwajibkan mengamati wadah penyimpanan sampah di rumah tangga, sehingga data yang didapat lebih akurat. Hasil kajian EHRA mengenai pengelolaan sampah di Kabupaten Bengkulu Tengah dapat dilihat pada diagram berikut:
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 6 Diagram 3. 8 Kondisi Sampah di lingkungan rumah
Dari diagram dapat dilihat bahwa masalah persampahan yang dihadapi sebagian besar banyak nyamuk di sekitar rumah 54.8 %, banyak banyak lalat 30.8 %, banyak tikus 25.5, %, banyak sampah berserakan 32 %, dan 24.9 % banyak kucing dan anjing didekat sampah, bau busuk yang mengganggu tetangga 11.3 % dan 17 % ada anak-anak yang bermain disekitar sampah, yang menimbulkan drainase mampet ada 5.8 %. Dan kondisi Lainnya 3.3 %.
Diagram 3. 9 Pengelolaan sampah rumah tangga
Diagram 9 memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga di Kabupaten Bengkulu Tengah masih cukup baik.
Terdapat 0.38% di kumpulkan di kolektor, 0.50 % dikumpulkan dan di buang ke
0.38 0.50 56.21 0.88 3.51 9.03 0.88 28.48 0.13
Pengelolaan sampah rumah tangga
Dikumpulkan oleh kolektor informal yang mendaur ulang
Dikumpulkan dan dibuang ke TPS Dibakar
Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah
Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah
Dibuang ke sungai/kali/laut/danau Dibiarkan saja sampai membusuk
Dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk 32 30.8 25.5 54.8 24.9 11.3 5.8 17 3.3
Kondisi sampah dilingkungan rumah
Banyak sampah berserakan banyak lalat banyak tikus Banyak nyamuk
Banyak Kucing dan Anjing Bau busuk menggangu Menyumbat saluran drainase
Ada anak-anak yang bermain di sekitarnya Lainnya
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 7 0 20 40 60 80 100 Ya Tidak 15.8 84.2
Melakukan pemilihan sampah
Melakukan pemilihan sampah Sampah … Plastik Gelas/kaca Kertas Besi/logam .0 50.0 100.0 66.7 66.7 66.7 66.7 66.7 33.3 33.3 33.3 33.3 33.3 Ya Tidak
TPS, yang membuang dan mengubur di lubang dan ditutup 0.88%, dibuang dilubang tetapi tidak ditutup 3.51 %, dibakar 56.21% kemudian, dibuang kesungai 9.03 %, dibiarkan saja sampai busuk 0.88 %, kemudian dibuang ke lahan kosong, 28.48% lainnya, 0% dibuang ke sungai dan 3% diangkut oleh tukang sampah ke TPS. Dapat dilihat bahwa pengelolaan sampah masih menimbulkan resiko kesehatan yang tinggi.
Diagram 3. 10 Pemilahan sampah Rumah Tangga
Dari diagram diatas yang
melakukan pemilahan sampah
hanya 15.8 %, dan sebagian besar 84.2 % yang tidak melakukan pemilahan sampah.
Diagram 3. 11Jenis sampah rumah tangga yang dikelola
Diagram diatas memperlihatkan bahwa 66.7% responden yang tidak mengelola sampah Besi, 66.7% sampah kertas, 66.7% sampah gelas/kaca, 66.7% sampah plastik,
66.7% sampah organik.
Sedangkkan Jenis sampah yang dikelolah berdasarkan diagram diatas yaitu 33.3%.
Diagram 3. 12 Ketepatan waktu sampah diangkut
Dari diagram 12 dilihat bahwa
sebanyak 100 % responden
menyatakan bahwa belum ada
pengangkutan sampah, sedangkan 0% ada Pengangkutan sampah.
Tidak pernah Pernah 0 50 100
Petugas mengangkut sampah 100
0
Tidak pernah Pernah
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 8
3.3.
PEMBUANGAN AIR KOTOR/LIMBAH TINJA MANUSIA
DAN LUMPUR TINJA KABUPATEN BENGKULU TENGAH
Praktek BAB (Buang Air Besar) di tempat yang tidak aman adalah suatu resiko bagi turunnya status kesehatan masyarakat. Selain mencemarkan tanah, hal ini juga mencemari sumber air minum warga. Yang dimaksud dengan tempat BAB yang tidak aman, tidak saja BAB di ruang terbuka seperti sungai, kali, got atau kebun, tetapi juga penggunaan jamban di rumah yang mungkin dianggap nyaman tapi sebenarnya tidak sehat karena sarana penampungan dan pengolahan tinjanya tidak memadai dan tidak memenuhi standar layak secara kesehatan. Misalnya tidak kedap air dan atau berjarak terlalu dekat dengan sumber air minum.
Bagian ini memaparkan hasil kuisioner mengenai fasilitas sanitasi rumah tangga beserta beberapa perilaku yang terkait dengannya. Fasilitas sanitasi difokuskan pada fasilitas BAB yang mencakup jenis jamban yang tersedia, penggunaan, pemeliharaan dan kondisinya.
Pada kuisioner studi EHRA ini, untuk pembuangan air kotor/limbah tinja manusia, disediakan 9 opsi jawaban yaitu: jamban pribadi, MCK/WC Umum, WC helicopter di empang/kolam, BAB di sungai/pantai/laut, kebun/pekarangan rumah, lubang galian, lainnya dan tidak tahu. Untuk jenis jamban, EHRA membaginya kedalam 4 kategori besar yaitu kloset duduk leher angsa, kloset jongkok leher angsa, plensengan dan cemplung. Pilihan-pilihan pada kategori pertama lebih lanjut dispesifikasikan dengan melihat tempat penyaluran tinja yang mencakup tangki septic, cubluk/lubang tanah, langsung ke saluran drainase, sungai/laut/danau, kebun/sawah, dan lainnya.
Dari hasil wawancara, terbuka kemungkinan adanya perbedaan persepsi antara responden dengan hasil yang kita harapkan mengenai jenis sarana penyimpanan/pengolahan tinja manusia yang dimiliki, karena warga seringkali mengklaim bahwa yang mereka miliki adalah tangki septic yang kedap air, padahal yang mereka miliki adalah tangki yang tidak kedap air atau cubluk yang kotorannya akan merembes ke tanah. Untuk memvalidasi jawaban responden mengenai hal ini, kuisioner EHRA lebih lanjut mengajukan sejumlah pertanyaan yang mengindikasikan status keamanan tangki septic yang dimiliki rumah tangga. Pertanyaan-pertanyaan lanjutan ini meliputi: Apakah tangki septic itu pernah dikosongkan? Kapan terakhir tangki septic dikosongkan? Dan Sudah berapa lama tangki septic itu dibangun?
Selain wawancara, pada bagian ini enumerator juga dituntut melakukan pengamatan pada bagian jamban/WC/latrin yang ada di rumah tangga. Ada sejumlah aspek yang diamati, misalnya ketersediaan air, sabun, alat pengguyur atau gayung dan handuk. Enumerator juga mengamati aspek-aspek yang terkait dengan kebersihan jamban dengan melihat: Apakah ada tinja yang menempel atau tidak?; Apakah ada lalat yang beterbangan di jamban dan sekitarnya atau tidak?. Terakhir bagian ini juga memaparkan informasi tentang
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 9 kebiasaan membuang tinja/diapers, air bekas cebokan. Tisu bekas cebokan anak untuk anak usia 0-5 tahun. Hal ini penting, karena menyangkut limbah. Hasil studi EHRA Kabupaten Bengkulu Tengah tentang pembuangan air kotor/limbah tinja manusia, dan lumpur tinja adalah sebagai berikut.
Diagram 3. 12 Tempat buang air besar orang dewasa
Berdasarkan diagram 15 diatas, dapat dilihat bahwa kepemilikan jamban pribadi di Kabupaten Bengkulu Tengah sudah cukup baik yaitu 64.3%. Namun demikian sebagian besar warga yang BAB ke WC helicopter diatas empang/kolam, ke sungai, ke kebun, 99.9% tidak tahu, ke lubang galian dan sebagainya yaitu 99.5%, 97.5% ke lubang galian, 96.9% bab ke tmpat lainnya,96.3% bab keparit/ selokan/got,95.8 ke kebun pekarangan, 95.5% bab ke wc umum serta 77.5% responden bab kesungai/pantai/laut.
Studi EHRA juga mencermati tentang pengamatan dan pengalamam responden terhadap orang disekitarnya diluar anggota keluarganya yang masih buang air besar di tempat terbuka. Hasil studinya ditampilkan pada diagram dibawah ini: 64.3 95.5 99.5 77.4 95.8 96.3 97.5
96.9 99.9 Tempat buang air besar orang dewasa
Jamban pribadi MCK/WC Umum Ke WC helikopter Ke sungai/pantai/laut Ke kebun/pekarangan Ke selokan/parit/got Ke lubang galian Lainnya,
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 10 66.8 33.2 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Kloset jongkok leher angsa Kloset duduk siram leher angsa
KEPEMILIKAN JAMBAN PRIBADI
KEPEMILIKAN JAMBAN PRIBADI
Diagram 3. 16 Ada orang di luar anggoata keluarga yang sering BAB di tempat terbuka
Menurut diagram diatas masih ada orang diluar anggota keluarganya yang memiliki kebiasaan buang air besar sembarangan diruang terbuka yaitu 36.6% Laki-laki dewasa, persentasenya kecil berkisar 0 – 1. %. Sementara ada juga responden yang menjawab dengan criteria ada tapi tidak tahu siapa sebanyak 3 %. Sedangkan orang yang BAB di tempat yang di tentukan sebesar 79 %.
Diagram 3. 17 KEPEMILIKAN JAMBAN PRIBADI
Diagram 3.17 menggambarkan
bahwa sebanyak 66,8%
responden menggunakan kloset jongkok leher angsa, dan 33,2 % menggunakan kloset duduk siram leher angsa. Responden
yang membuang tinja
menggunakan kloset belum
tentu buangan akhirnya pada tangki septic yang aman, untuk itu studi EHRA lebih jauh
melakukan kajian tentang
buangan akhir tinja yang
digambarkan pada diagram
dibawah ini. 11.0 10.5 8.8 8.4 14.3 14.1 9.4 11.4 16.3 2.0 36.6
Ada orang di luar anggoata keluarga yang sering BAB di
tempat terbuka
Anak laki-laki umur 5-12 tahun Anak perempuan umur 5-12 tahun Remaja laki-laki Remaja Perempuan Laik-laki dewasa Perempuan dewasa Laki-laki tua Perempuan tua
Masih ada tapi tidak jelas siapa Lainnya,
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 11 44.88 3.13 16.13 0.25 1.25 0.88 33.50
Tempat Pembuangan Tinja
Tangki septik Pipa sewer Cubluk/lobang tanah Langsung ke drainase Sungai/danau/pantai Kebun/tanah lapang Tidak tahu 10.0 44.6 24.2 16.4 4.7
Lama tangki septic
0-12 bulan yang lalu
1-5 tahun yang lalu
Lebih dari 5-10 tahun yang lalu Lebih dari 10 tahun
Tidak tahu
Diagram 3. 18 Tempat pembuangan akhir tinja
Diagram 18
menggambarkan bahwa tidak semua tinja dari kloset dibuang ke tangki septic, hanya 44.88 % saja yang dibuang ke tangki septic. Sisanya 33.50% tidak tahu, ke cubluk/lobang tanah 16.13%, pipa sewer 3.13%, ke sungai/pantai/danau 1.25%, ke
kebun/tanah lapangan 0.88%, dan 0.25% langsung ke drainase.
Berikutnya studi EHRA mengkaji lamanya tangki septic dibangun, yang lebih lanjut akan berkaitan dengan kajian berikutnya mengenai waktu pengosongan tangki septic. Sebab makin lama tangki septic dibangun dan apa bila tidak ada pengosongan, berarti yang dimiliki bukanlah tangki septic, melainkan lobang galian tanah yang limbahnya akan merembes dan mencemari tanah. Hal ini digambarkan pada diagram dibawah ini.
Diagram 3. 19 Lama tangki septic dibangun
Persentase tertinggi
menunjukkan bahwa
lama tangki septic
dibangun adalah lebih dari 1-5 tahun yaitu 44.6
%. kemudian tangki
septic yang dibangun lebih dari 5-10 tahun yang lalu (24.2%), tangki septic yang dibangun lebih dari 10 tahun (16.4 %), 0-12 tahun (10.0 %), sisanya yang menjawab tidak tahu adalah 4.7%. Poin ini akan kita kaitkan dengan waktu pengosongan tangki septic yang ditampilkan pada diagram 3.20 dibawah ini:
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 12
1.39 0.28
92.20 6.13
Terakhir tangki septic dikosongkan
1-5 tahun yang lalu
Lebih dari 5-10 tahun yang lalu Tidak pernah Tidak tahu 3.6 17.9 78.6
Yang mengsongkan
septic tank
Layanan sedot tinja Dikosongkan sendiri Tidak tahu 7.1 7.1 85.7Tinja dari septic tank dibuang kemana
Sungai, sungai kecil
Dikubur di tanah orang lain Tidak tahu
Dari diagram diatas terlihat bahwa responden yang menjawab tidak pernah
mengosongkan tangki
septic mencapai 92.20%,
dihubungkan dengan
lamanya tangki septic dibangun pada diagram
3.19, memberikan
gambaran bahwa
tankkgl=gki septic yang dimiliki masih belum
aman dan berpotensi
mencemari tanah.
Persentase ini bila
ditambah dengan
responden yang
menjawab tidak tahu sebanyak 33.50% akan menjadi lebih tinggi lagi.
Diagram 3.21 Pihak yang mengosongkan tangki septic
Berdasarkan diagram diatas, 78.6 % responden menjawab tidak tahu pihak yang mengosongkan septic tenk.17.9% dikosongkan sendiri, dan hanya 3.6% menggunakan layanan sedot tinja.
3. 22 Tempat pembuangan tinja dari tangki septic
Berdasarkan diagram diatas, diketahui bahwa masih ada yang mebuang lumpur tinja ke sungai, sungai kecil yaitu 7.1% dan dikubur di tanah orang lain 7.1%. sebagian besar menjawab tidak tahu kemana lumpur tinja dibuang yaitu 85.7%.
Selain kebiasaan BAB orang dewasa, studi EHRA juga menyoroti secara khusus
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 13 24.3 4.3 5.5 7.5 1.1 57.4
Tempat Pembuangan tinja balita Ke WC/Jamban
Ke tempat sampah Ke kebun/pekarangan/j alan Ke sungai/selokan/got Lainnya Tidak tahu
kebiasaan BAB anak-anak khususnya anak berumur 0-5 tahun. Karena masyarakat secara umum menganggap anak-anak BAB dihalaman atau dilantai rumah sebagai hal yang biasa.
Diagram 3. 23 Frekuensi anak balita yang masih buang air besar di lantai dikebun
Jawaban responden sebesar
34.8% menyatakan bahwa
Balita mereka tidak biasa BABS mengindikasikan kondisi yang cukup baik. Sedangkan yang
menjawab kadang-kadang
sebanyak 27.3%, sering 12.1% dan tidak tahu 25.9%. Lebih
lanjut survey EHRA juga
memperhatikan pembuangan
tinja anak yang ada di diapers, berikut diagramnya.
Diagram 3. 25 Tempat membuang Tinja Balita
Tempat membuang BAB balita yang baik tentunya adalah ke tempat pembuangan sampah setelah dicuci bersih. Hasil studi menunjukkan bahwa 57.4% responden tidak tahu membuang bekas diapers, 24.3% membuang bekas diapers ke WC/jamban, 7.5% membuang ke sungai/selokan/got, 5.5% membuang ke kebun/pekarangan/jalan, 4.3% membuang ke tempat sampah, 1.1%lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa masih tinggi persentase responden yang
membuang diapers ke tempat yang tidak aman dan beresiko sanitasi.
12.1
27.3
34.8 25.9
Apakah anak balita di rumah ibu masih terbiasa buang air besar di
lantai, di kebun Ya, sangat sering
Ya, kadang-kadang Tidak biasa
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 14 70.6 29.4 .0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 Ya Tidak ada
Drainase selokan/lingkungan rumah banjir
Drainase selokan/lingkung an rumah banjir
3.4.
DRAINASE LINGKUNGAN/SELOKAN SEKITAR RUMAH
DAN BANJIR
Drainase lingkungan merupakan sarana penting dalam sanitasi. Drainase lingkungan berfungsi untuk mengalirkan limbah cair dari rumah tangga, seperti limbah cucian dari dapur, kamar mandi, tempat cuci dan wastafel. Drainase yang buruk akan menimbulkan banjir dan genangan pada waktu hujan. Kondisi ini akan menimbulkan perindukan nyamuk yang bias menularkan berbagai penyakit seperti demam berdarah, chikungunya dan filariasis.
Diagram-diagram pada bagian ini akan membahas lebih detil tentang kepemilikan sarana pengolahan air limbah selain tinja, tempat pembuangan limbah cair rumah tangga, pengalaman banjir, waktu terakhir banjir, kerutinan dan frekuensi dalam setahun, lama genangan mongering dan tinggi air dirumah dan di pekarangan rumah.
Diagram 3. 25 Drainase selokan/lingkungan rumah banjir
Diagram diatas
menggambarkan sebanyak
70.6% responden menjawab memiliki sarana pembuangan air limbah sendiri dirumah, ini
berarti sudah bagus dan
Sebanyak 29.4% tidak memiliki sarana pembuangan berupa parit.
Lebih jauh studi EHRA juga memetakan kemana air limbah rumah tangga ini dibuang.
Diagram-diagram berikut
menggambarkan kemana
masing-masing limbah rumah tangga tersebut di buang.
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 15 25.4 18.3 43.1 5.9 10.3 2.0
Limba Kamar Mandi dibuang
A. Ke sungai/kanal (Kamar mandi) B. Ke jalan, halaman (Kamar mandi)C. Saluran terbuka (Kamar mandi)
D. Saluran tertutup (Kamar mandi)
E. Lubang galian (Kamar mandi)
F. Pipa saluran pembuangan (Kamar mandi)
Diagram 3. 26 Tempat air limbah dapur dibuang
Dari diagram diatas diketahui 44% responden membuang limbah dapur dengan saluran terbuka, 25.2% dibuang ke sungai/kanal, 17.8% dibuang
kejalan/halaman, 10.6% dibuang kelubang galian, 6% kesaluran tertutup, dan 1.8% dibuang dengan menggunakan pipa saluran pembuangan.
Diagram 3. 27 Tempat air limbah kamar mandi dibuang
Dari diagram diatas diketahui 2.0 % limba kamar mandi dibuang ke pipa saluran pembuangan, dan hamper sebagian 43.1 % yang membuang limba ke saluran terbuka. 25.2 17.8 44 6 10.6 1.8
Limba Dapur dibuang
A. Ke sungai/kanal(Dapur) B. Ke jalan, halaman (Dapur) C. Saluran terbuka (Dapur) D. Saluran tertutup (Dapur) E. Lubang galian (Dapur) F. Pipa saluran pembuangan (Dapur)
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 16
Diagram 3. 28 Tempat air limbah cuci pakaian dibuang
Dari diagram diataas bahwa 2 % limba cuci pakaian dibuang ke pipa saluran pembuangan, dan hamper sebagian limbah cuci pakaian di buang ke saluran terbuka.
Diagram 3. 29 Tampat air limbah wastafel dibuang
Dari diagram diatas menunjukan bahwa 2 % limbah westafel dibuang ke lubang galian, dan sebagian besar 66 dibuang ke saluran terbuka.
27.9
17.8 44.3
6.2
10.1 2
Limba cuci pakaian dibuang
A. Ke sungai/kanal (Tempatcuci pakaian) B. Ke jalan, halaman (Tempat cuci pakaian) C. Saluran terbuka (Tempat cuci pakaian)
D. Saluran tertutup (Tempat cuci pakaian)
E. Lubang galian (Tempat cuci pakaian)
F. Pipa saluran pembuangan (Tempat cuci pakaian)
11.0 7.0
66.0 9.0 2.0 5.0
Limba westafel dibuang
A. Ke sungai/kanal(Westafel) B. Ke jalan, halaman (Westafel) C. Saluran terbuka (Westafel) D. Saluran tertutup (Westafel) E. Lubang galian (Westafel) F. Pipa saluran pembuangan (Westafel)
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 17
3.5.
PENGELOLAAN AIR MINUM, MASAK, MENCUCI DAN
GOSOK GIGI YANG AMAN
Bagian ini menyajikan informasi mengenai kondisi akses sumber air untuk minum, masak, mencuci dan gosok gigi. Hal yang dicermati terdiri dari 2 ( dua) hal utama yakni sumber air yang digunakan rumah tangga dan pengolahan, penyimpanan dan pengamanan air yang baik dan hygiene. Kedua aspek ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat risiko kesehatan bagi anggota didalam rumah tangga.
Sehubungan dengan sumber air, studi EHRA mempelajari tentang jenis sumber air untuk keperluan minum, mandi, memasak dan gosok gigi. Yang menggunakan air ledeng atau PAM juga ditanyakan tentang penurunan volume air yang dialami dan penurunan kualitasnya. Sementara untuk yang menggunakan air sumur gali/sumur bor/sumur pompa akan ditanyakan jarak sumber air dengan tempat penampungan tinja.
Sumber-sumber air ini memiliki tingkat keamanan yang berbeda-beda, misalnya air yang bersumber dari PAM atau ledeng, sumur gali/sumur bor/sumur pompa yang terlindungi dan berada pada jarak yang aman dari pembuangan tinja serta sumber mata air yang terlindungi, dianggap relative aman. Sementara sumber air yang dianggap beresiko kesehatan antara lain air permukaan (air sungai/kali/danau), air dari sumuber mata air yang tidak terlindungi, dan air sumur yang tidak terlindungi.
Suplai dan kualitas air yang memadai memiki peran yang penting dalam mengurangi risiko terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sanitasi buruk, seperti diare. Sejumlah studi mengkonfirmasi bahwa mereka yang memiliki suplai air yang memadai cenderung memiliki resiko rendah untuk terkena diare karena kuantitas dan kualitas air yang memadai cenderung memudahkan kegiatan higinitas. Karenanya kelangkaan air dapat menjadi salah satu factor resiko tidak langsung terjadinya kesakitan seperti gejala diare. Lebih jauh studi EHRA juga memperhatikan penyimpanan air, tempat yang digunakan untuk menyimpan, cara mengambil air, pengolahan air sebelum diminum, cara pengolahannya, penyimpanan air setelah diolah, alat penyimpanan air setelah diolah, dan penggunaan air olahan selain untuk diminum.
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 18 1.1 12.9 8.5 0.3 1.3 4.0 57.3 19.3 4.9 1.6 0.9 5.3 0.0 0.1
Air yang biasa di minum
A. Air botol kemasan (Minum) B. Air isi ulang (Minum)C. Air Ledeng dari PDAM (Minum) D. Air hidran umum - PDAM (Minum) E. Air kran umum -PDAM/PROYEK (Minum) F. Air sumur pompa tangan (Minum) G. Air sumur gali terlindungi (Minum) H. Air sumur gali tdk terlindungi (Minum) I. Mata air terlindungi (Minum)
J. Mata air tdk terlindungi (Minum) K. Air hujan (Minum)
L. Air dari sungai (Minum)
M. Air dari waduk/danau (Minum) N. Lainnya (Minum)
3. 14 Sumber air mana yang biasa digunakan untuk minum?
Dari jawaban responden terlihat bahwa sebagian besar responden 57.3 % sumber air yang di minum berasal dari sumur gali terlindungi, telah mengkonsumsi air yang memenuhi standar kesehatan untuk diminum.
Diagram 3. 15 Sumber air mana yang biasa digunakan untuk masak?
untuk memasak, hasil studi menunjukkan bahwa responden menggunakan air dari sumber yang relative aman adalah sebanyak 59.1 % dari air sumur gali terlindungi 20.9 %, mata air tidak terlindungi dan sumber lainnya.
0.0 3.0 9.6 0.3 1.3 4.3 59.1 20.9 5.0 1.6 0.6 5.1 0.0 0.1
Air yang digunakan untuk masak
A. Air botol kemasan (Masak) B. Air isi ulang (Masak)
C. Air Ledeng dari PDAM (Masak) D. Air hidran umum - PDAM (Masak) E. Air kran umum -PDAM/PROYEK (Masak) F. Air sumur pompa tangan (Masak) G. Air sumur gali terlindungi (Masak) H. Air sumur gali tdk terlindungi (Masak) I. Mata air terlindungi (Minum)
J. Mata air tdk terlindungi (Masak) K. Air hujan (Masak)
L. Air dari sungai (Masak)
M. Air dari waduk/danau (Masak) N. Lainnya (Masak)
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 19 0.0 0.4 9.3 0.3 1.0 4.6 47.9 21.7 8.2 8.5 9.9 9.5 0.1 0.0
air yang digunakan untuk cuci piring/gelas
A. Air botol kemasan (Cuci piring&gelas) B. Air isi ulang (Cuci piring&gelas)
C. Air Ledeng dari PDAM (Cuci piring&gelas) D. Air hidran umum - PDAM (Cuci piring&gelas) E. Air kran umum -PDAM/PROYEK (Cuci piring&gelas) F. Air sumur pompa tangan (Cuci piring&gelas) G. Air sumur gali terlindungi (Cuci piring&gelas) H. Air sumur gali tdk terlindungi (Cuci piring&gelas) I. Mata air terlindungi (Cuci piring&gelas)
J. Mata air tdk terlindungi (Cuci piring&gelas) K. Air hujan (Cuci piring&gelas)
L. Air dari sungai (Cuci piring&gelas)
M. Air dari waduk/danau (Cuci piring&gelas) N. Lainnya (Cuci piring&gelas)
3. 16 Sumber air yang biasa digunakan untuk dan cuci piring gelas
Dengan criteria jenis air yang sama dengan diagram sebelumnya, sebanyak 47.9% menggunaka sumber air dari sumur gali terlindungi dan 21.7 % sumber air yang tidak terlindungi.
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 20
3. 17 Sumber air yang biasa digunakan untuk cuci pakaian
Diagram 46 memperlihatkan bahwa hanya 46.5% responden menggunakan air dari sumur gali terlindungi dan 21.6 % menggunakan air sumur gali tidak terlindungi.
Diagram 3. 18 Sumber air yang biasa digunakan untuk gosok gigi
Untuk keperluan gosok gigi, responden yang menggunakan sumber air yang relative aman juga sudah sangat baik yaitu mencapai 56.3% dari air sumur gali terlindungi, dan 17.3 % menggunakan air sumur tidak terlindungi.
0.0 0.0 7.6 0.3 0.8 2.4 46.5 21.6 10.9 9.4 1.0 1.3 0.0 0.1
Sumber air yang digunakan mencuci pakaian
A. Air botol kemasan (Cuci pakaian) B. Air isi ulang (Cuci pakaian)
C. Air Ledeng dari PDAM (Cuci pakaian) D. Air hidran umum - PDAM (Cuci pakaian) E. Air kran umum -PDAM/PROYEK (Cuci pakaian) F. Air sumur pompa tangan (Cuci pakaian) G. Air sumur gali terlindungi (Cuci pakaian) H. Air sumur gali tdk terlindungi (Cuci pakaian) I. Mata air terlindungi (Cuci pakaian)
J. Mata air tdk terlindungi (Cuci pakaian) K. Air hujan (Cuci pakaian)
L. Air dari sungai (Cuci pakaian)
M. Air dari waduk/danau (Cuci pakaian) N. Lainnya (Cuci pakaian)
.4 .1 8.8 .3 4.5 1.0 56.3 17.3 4.5 1.6 1.4 10.9 .3
.1
Air yang digunakan gosok gigi
A. Air botol kemasan B. Air isi ulang
C. Air Ledeng dari PDAM D. Air hidran umum - PDAM E. Air kran umum -PDAM/PROYEK F. Air sumur pompa tangan G. Air sumur gali terlindungi H. Air sumur gali tdk terlindungi I. Mata air terlindungi
J. Mata air tdk terlindungi K. Air hujan
L. Air dari sungai M. Air dari waduk/danau N. Lainnya
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 21
Diagram 3. 5 Perilaku Hygiene dan Sanitasi
Diagram 3.5.1 Apakah Menggunakan Sabun Hari Ini?
Diagram 3. 19 Kejadian menurunnya kualitas air yang dikonsumsi
Dari diagram 3.5.2 diatas dapat dilihat bahwa responden hampir seluruhnya menggunakan sabun yaitu 99.1% hanya 0.9% yang tidak menggunakan sabun.
Diagram 3. 5.2 Untuk Apa saja sabun digunakan
. Dari diagram 3.5.2 diatas menunjukkan responden menggunakan sabun untuk 97.2% untuk mandi, 87.6% untuk cuci peralatan, 82.0% untuk cuci pakaian, 60.8% untuk memandikan anak, 58.1% untuk mencuci tangan sendiri, 43.8% untuk mencuci tangan anak, 35.9% untuk menceboki pantat anak, 5.9% untuk lainnya dan 2.4% tidak tahu.
97.2 60.8 35.9 58.1 43.8 87.6 82.0 5.9 2.4
Untuk apa saja sabun digunakan
A. Mandi
B. Memandikan anak C. Menceboki panta anak D. Mencuci tangan sendiri E. Mencuci tangan anak F. Mencuci peralatan G. Mencuci pakaian H. Lainnya I. Tidak tahu 99.1 0.9
Apakah Ibu menggunakan
sabun hari ini?
Ya Tidak
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 22
Diagram 3. 5.3 Dimana biasa tempat mencuci tangan.
Dari diagram 3.5.3 diatas menunjukkan dimana responden cuci tangan yaitu 45.6% di sumur, 43.5% dikamar mandi, 30.1% didapur, 26.9% ditempat cuci piring, 11.5% di sekitar penampungan, 9.4% dijamban, 8.9% didekat kamar mandi, 5.1% lain-lain, 4.5% di dekat jamban, dan 2.0% tidak tahu.
Diagram 3. 5.4 Kapan ibu biasa mencuci tangan
43.5 8.9 9.4 4.5 45.6 11.5 26.9 30.1 5.1 2.0
Dimana biasa cuci tangan?
A. Di kamar mandi B. Di dekat kamar mandi C. Di jamban
D. Di dekat jamban E. Di sumur
F. Di sekitar penampungan G. Di tempat cuci piring H. Di dapur I. Lainnya J. Tidak tahu 1.4 27.8 45.3 48.9 34.6 12.8 12.6 36.5 18.0 3.6
Kapan Biasa Mencuci tangan?
A. Sebelum ke toilet
B. Setelah menceboki bayi/anak C. Setelah dari buang air besar D. Sebelum makan
E. Setelah makan
F. Sebelum memberi menyuapi anak
G. Sebelum menyiapkan masakan
H. Setelah memegang hewan I. Sebelum sholat
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 23 Dari diagram 3.5.4 menunjukkan kebiasaan responden mencuci tangan yaitu 48.9% sebelum makan, 45.3% setelah buang air besar, 36.5% setelah memegang hewan, 34.6% setelah makan, 27.8% setelah menceboki bayi/anak, 18.0% sebelum solat, 12.8% sebelum member menyuapi anak, 12.6% sebelum menyiapi masakan, 3.6% lainnya, 1.4% setelah makan.
3. 6 Kejadian Penyakit Diare
3.6.1 Kapan terakhir anggota keluarga terkena Diare?
Dari diagram 3.6.1 diatas menunjukkankapan terakhir anggota keluarga responden terkenaq diare yaitu 57.9% tidak pernah, 9.6% 1 bulan terakhir, 9.4% 3 bulan terakhir, 7.8% lebih dari 6 bulan yang lalu, 6.9% 1 minggu terakhir, 5.3% 6 bulan yang lalu, 2.0% hari ini dan 1.3% kemarin.
Diagram 3. 6.2 Anggota keluarga yang terkena Diare
Dari diagram 3.6.2 menggambarkan anggota keluarga responden yang terkena diare yaitu 41.5% anak-anak balita, 30.6% orang dewasa perempuan, 17.8% orang dewasa laki-laki, 11.9% anak-anak non balita, 6.8% anak remaja perempuan, 6.2% anak remaja laki-laki.
2.0 1.3 6.9 9.6 9.4 5.3 7.8 57.9
Kapan anggota terakhir terkena Diare?
Hari ini Kemarin
1 minggu terakhir 1 bulan terakhir 3 bulan terakhir 6 bulan yang lalu
Lebih dari 6 bulan yang lalu Tidak pernah 41.5 11.9 6.2 6.8 17.8 30.6
Anggota Keluarga yang terkena Diare
A. Anak-anak balita B. Anak-anak non balita C. Anak remaja laki-laki D. Anak remaja perempuan E. Orang dewasa laki-laki F. Orang dewasa perempuan
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 24
Diagram 3. 7.1 Apakah Terlihat sumber air minum, masak, dan mencuci peralatan
Dari diagram 3.7.1 menggambarkan bahwa apa sumber air minum, masak, mencuci peralatan yang digunakan responden yaitu 50.6% ya dari sumur gali yang terlindung, 29.6% ya dari sumur gali tidak terlindung, 10.5% ya dari ledeng PDAM, 1.8% ya dari kran umum proyek/HIPPAM, 3.5% Ya sumur bor/pompa tangan mesin, 1.1% ya dari sumur bor/pompa tangan, 2.0% ya dari sumur gali yang terlindung, 0.5% ya dari hydra umum/kran umum PDAM, 0.3% air ledeng PDAM-tidak berfungsi.
Diagram 3.7.2 APakah ada wadah untuk sampah di dapur
\
Dari diagram 3.7.2 diatas meggambarkan wada tempat sampah didapur responden yaitu 51.8% keranjang sampah terbuka, 20.% kantong plastic
10.5 .3 50.6 29.6 1.1 3.5 .5 1.8 2.0 6.6 .9
Apaka sumber air minum, masak, mencuci
peralatan terlihat
A. Ya, air ledeng PDAM -berfungsi/mengalir
B. Ya, air ledeng PDAM - tidak berfungsi
C. Ya, dari sumur gali yg terlindungi
D. Ya, dari sumur gali yg tidak terlindungi
E. Ya, dari sumur bor/pompa tangan
F. Ya, dari sumur bor/pompa tangan mesin
G. Ya, dari hidran umum/kran umum PDAM
H. Ya, dari kran umum PROYEK/HIPPAM
I. Ya, dari penjual air keliling
7.0
20.4
51.8 4.5
4.9 12.1
Apakah ada wadah tempat sampah didapur
A. Kantong plastik tertutup B. Kantong plastik terbuka C. Keranjang sampah terbuka D. Keranjang sampah tertutup E. Lainnya
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 25 terbuka, 12.1% tidak ada, 7.0% kantong plastic terbuka, 4.9% Lainnya, dan 4.5% keranjang sampah tertutup.
Diagram 3.7.3 Kemana limbah bekas cuci, minum, makan dibuang
Dari diagram 3.7.3 diatas dapat dilihat bahwa dimana air limbah dibuang yaitu
44.5% saluran terbuka, 20.3% ke jalan/halaman/kebun, 18.8%
kesungai/kanal/kolam/selokan, 7.5% lubang galian, 3.5% saliuran tertutup, 1.9% pipa saluran pembuangan kotoran (SPAL), 2.4% tidak ada bak cuci peralatan dapur, dan 1.4% tidak tahu.
Diagram 3. 8 Lihat dan amati WC/Jamban
Diagram 3. 8.1 Ada tidak air di dalam ruangan WC/jamban
Dari diagram3.8.1 diatas dapat dilihat bahwa ada tidak air diwc/jamban yaitu 67.1% ya dalam bak air/ember, 30.1% didak ada, dan 2.8% ya dari kran & berfungsi. 18.8 20.3 44.5 3.5 7.5 1.9 1.4 2.3
Kemana Air limbah dibuang
Ke sungai/kanal/kolam/selokan Ke jalan, halaman, kebun Saluran terbuka
Saluran tertutup Lubang galian
Pipa saluran pembuangan kotoran (SPAL) Tidak tahu
Tidak ada bak cuci peralatan dapur
67.1 2.8
30.1
Ada tidak air di dalam ruangan WC atau
Jamban
YA, dalam bak air/ember YA, dari kran & berfungsi Tidak ada
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 26
Diagram 3. 8.2 Ada tidak sabun di dalam ruangan WC/jamban
Dari diagram 3.8.2 terlihat ada tidak responden memiliki sabun di WC/jamban yaitu 60.9% tidak ada dan 39.1% yang ada sabun di WC ataiu jamban.
Diagram 3. 8.3 Ada tidak Jentik nyamuk di dalam bak WC/jamban
Dari diagram 3.8.3 menggambarkan ada tidaknya jentik nyamuk didalam bak WC/jamban yaitu 8.2% da jentik nyamuk dan hanya 3.2% tidak ada jentik nyamuk.
Diagram 3. 8.4 Tipe jamban yang digunakan
39.1 60.9
Apakah Ada sabun di
dalam ruangan …
Ya Tidak
8.2 3.2
Ada tidak jentik nyamuk
dalam bak
Ya Tidak 65.0 2.1 3.1 9.6 4.0 16.1Tipe jamban yang digunakan
Kloset jonghkok leher angsa Kloset duduk leher angsa Plengsengan
Cemplung Lainnya Tidak tahu
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 27 Dari diagram 3.8.4 menggambarkan tipe jamban yang digunakan responden yaitu 65.0%kloset jongkok leher angsa, 16.1% tidak tahu, 9.6% Wc cemplung, 4.0% lainnya, 3.1% pelengsengan dan 2.1% kloset duduk leher angsa.
Diagram 3. 8.5 Tempat pembuangan tinja dari jamban
Dari diagram 3.8.5 diatas menggambarkan dimana tempat responden membuangan limbah tinja dari jamban yaitu 47.0% ke tangki septik, 12.5% cubluk, 11.9% tidak tahu, 8.3% sungai/kanall/kolam, 6.0% pipa saluran pembuangan kotoran, 5.8% pipa IPAL sanimas, 5.6% saluran terbuka, 2.1% saluran tertutup, dan 1.9% ke jalan/halaman/kebun.
Diagram 3.8.6 Lantai atau dinding jamban terbebas dari tinja
Dari diagram 3.8.6 diatas menggambarkan bahwa 59.9% responden lantai/dinding terbebas dari tinja dan 40.1%yang tidak terbebas dari tinja.
12.5 47.0 8.3 .9 5.6 2.1 6.0 5.8 11.9
Tempat pembuangan limba WC / Jamban
Cubluk Tangki Septik Sungai, kanal, kolam Jalan, halaman, kebun Saluran terbuka Saluran tertutup
Pipa saluran pembuangan kotoran Pipa IPAL Sanimas
Tidak tahu
59.9 40.1
Lantai /dinding terbebas
dari tinja
Ya Tidak
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 28
Diagram 3. 8.7 Jamban terbebas dari kecoa dan lalat
Dari diagram diatas menggambarkan kebersihan jamban responden yaitu 50.1% masih banyak kecoak dan lalat dan 49.9% jamban terbebas dari kecoa dan lalat.
Diagram 3. 8.8 Jamban kloset ada gayung /tidak
Diagram 3.8.8 diatas menggambarkan adakah gayung di jamban dan kloset responden yaitu 60.1% ya ada keduanya, 22.5% tidak ada salah satu atau keduanya, dan17.4% bukan kloset jongkok.
49.9 50.1
Jamban terbebas dari
kecoa dan lalat
ya Tidak
60.1 22.5
17.4
Ada gayung atau tidak
Ya, ada keduanya
Tidak ada salah satu atau keduanya Bukan kloset jongkok
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 29
Diagram 3. 8.9 Tombol penyiram kloset berfungsi/tidak
Dari diagram 3.8.9 diatas menggambarkan 44.6% tombol penyiram kloset duduk yang dimiliki responden tidak berfungsi, 30.0% ya berfungsi, dan 25.4%bukan kloset duduk.
Diagram 3.8.10 Ada Shampo, Sabun Ditempat mencuci
Dari diagram 3.8.10 menggambarkan ada tidaknya shampoo dan sabun di tempat mencuci yaitu 94.4% ya ada shampoo dan sabun ditempat mencuci dan hanya 5.6% tidak ada shampoo dan sabun ditempatt mencuci.
30.0
44.6 25.4
Tombol penyiram kloset duduk
berfungsi/tidak
Ya, berfungi Tidak berfungsi Bukan kloset duduk
94.4 5.6
Ada shampo, sabun
ditempat mencuci
Ya Tidak
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 30
Diagram 3.8.1 Sumber air mencuci pakaian
Dari diagram 3.8.1 diatas menggambarkan dari mana sumber air yang digunakan responden untuk mencuci pakaian yaitu 49.5% ya dari sumur gali yang terlindung, 26.1% ya dari sumur gali yang tidak terlindung, 12.0% lainya, 9.9% ya air ledeng PDAM-berfungsi/mengalir, 3.8% ya dari sumur bor/pompa tangan mesin, 1.8% ya dari kran umum PAMSIMAS/HIPPAN, 0.9%ya sumur bor pompa tangan, 0.4% ya dari hydra umum/kran umum PDAM, 0.3 ya air ledeng PDAM-tidak berfungsi.
Diagram 3.8.2 kemana air limbah bekas mencuci pakaian dibuang
Dari diagram 3.8.2 diatas menggambarkan dimana air limbah bekas mencuci pakaian dibuang yaitu 39.8% saluran terbuka, 26.3%
9.9 .3 49.5 26.1 .4 3.8 .3 1.8 .5 12.0 .9
Darimana sumber air untuk mencuci pakaian?'
Ya, air ledeng PDAM - berfungsi/mengalir Ya, air ledeng PDAM - tidak berfungsi Ya, dari sumur gali yg terlindungi Ya, dari sumur gali yg tidak terlindungi Ya, dari sumur bor/pompa tangan Ya, dari sumur bor/pompa tangan mesin Ya, dari hidran umum/kran umum PDAM Ya, dari kran umum PAMSIMAS/HIPPAM Ya, dari penjual air keliling
Lainnya Tidak 26.3 17.0 39.8 3.6 10.1 1.5 1.8
kemana air limbah bekas mencuci
pakaian dibuang
Ke sungai/kanal/kolam/selokan
Ke jalan, halaman, kebun Saluran terbuka
Saluran tertutup Lubang galian
Pipa saluran pembuangan kotoran (SPAL)
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 31 kesungai/kanal/kolam/selokan, 17.0% kejalan/halaman/kebun, 10.1% ke lubang galian, 3.6% ke saluran tertutup, 1.8% tidak tahu, dan 1.5% pipa saluran
pembuangan kotoran (SPAL).
Diagram 3.8.3 jarak tangki septic dengan sumber air
Dari diagram 3.8.3 diatas menggambarkan jarak tangki septic dengan sumber air responden yaitu 65.8% jarak tangki septic responden dengan sumber air 10 meter dan 34.3% yang jarak tangki septic dengan sumber air kurang dari 10 meter.
Diagram 3.8.4 Pengolahan Sampah
Dari diagram diatas menggambarkan bagaiman cara responden mengolah sampah dirumah yaitu 38.8% langsung dibakar, 29.1% dibuang dan dikubur dilobang galian 11.0% dibuang dalam lubang galian dan dibakar dan 3.9% dikumpulkan dalam keranjang sampah permanen, dan 0.3% dijadikan makanan binatang.
65.8 34.3
apakah jarak tangki septik dengan
sumber air minimal 10 meter?
Ya Tidak 1.4 11.0 .3 3.9 38.8 10.8 29.1 4.6 .3
bagaimana cara mengelola sampah di
rumah?
Dibuang dan dikubur di lobang galianDibuang dlm lubang galian dan dibakar
Dijadikan makanan binatang Dikumpulkan dlm keranjang sampah permanen
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 32
3.8.5. Apakah sekeliling rumah bersih dari sampah
Dari diagram diatas menggambarkan lebih tari setengah responden yaitu 62.4% halamannya bersih dari sampah, dan 37.6% sekeliling halamannya kotor oleh sampah.
3.8.6. apakah sampah dipilah
Dari diagram diatas menggambarkan terlihat bahwa sebagian besar yaitu 89.5% sampah responden tidak dipilah/dipisahkan dan hanya 10.5% sampah yang dipilah/dipisahkan.
62.4 37.6
apakah sekeliling halaman bersih dari
sampah ?
Ya Tidak
10.5
89.5
apakah terlihat bahwa sampah
dipilah/dipisahkan
Ya Tidak
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 33
3.8.7 Jenis sampah dipilah
Dari diagram diatas menggambarkan responden memilah sampah organic/sampah basah 22.6% dan 77.4% yang tidak dipisahkan.
Dari diagram diatas menggambarkan 51.2% sampah plastic dan 48.8% bukan sampah plastic.
77.4 22.6
Sampah organic/sampah basah
Tidak Ya 51.2 48.8
Plastik
Tidak YaLAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 34 Dari diagram diatas menggambarkan 77.4% sampah gelas/kaca dan 22.65 yang bukan.
Dari diagram diatas menggambarkan lebih banyak bukan sampah besi/logam,dan 42.9% mengandung sampah besi/logam.
22.6 77.4
Gelas/kaca
Tidak Ya 57.1 42.9Besi/logam
Tidak YaLAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 35 Dari diagram diatas menggambarkan sebagian besar 95.% bukan sampah lainnya dan 4.8%merupakan sampah lainnya.
3.8.8 Kompos yang sudah bisa di pakai
Dari diagram diatas menggambarkan 33.3% tidak ada kompos yang sudah bias dipakai dan 66.7% ada kompos yang sudah bias dipakai.
95.2 4.8
Lainnya
Tidak Ya 66.7 33.3Apakah ada kompos yang sudah bisa
dipakai?
Ya Tidak
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 36
3.8.9 Untuk apa Pupuk Kompos
Dari diagram diatas menggambarkan 100% sampah kompos responden digunakan responden sendiri untuk pupuk tanaman buah.
3.9 Dimana air tergenang
Dari diagram diatas menggambarkan dimana air biasa tergenang yaitu 57.4% air tergenang di halaman rumah, 33.7% didekat dapur, 15.8% didekat kamar mandi, 13.9% lainnya, 7.9% di dekat bak penampungan.
.0
100.0 .0 .0
Untuk apa saja kompos dipakai oleh
responden?.
A. Pupuk tanaman hias B. Pupuk tanaman buah C. Dijual D. Tidak dimanfaatkan 57.4 33.7 15.8 7.9 13.9
Dimana air biasanya tergenang?.
A. Dihalaman rumah
B. Di dekat dapur
C. Di dekat kamar mandi
D. Di dekat bak penampungan E. Lainnya
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 37 Dari diagram diatas menggambarkan darimana air genangan dirumah
responden berasal yaitu 84.2% dari air limbah lainnya, 95.0% tidak tahu, 61.4% dari air limbah kamar mandi, 59.4% dari air limbah dapur, dan 43.6% dari air hujan.
Dari diagram diatas menggambarkan sebagian besar 74.5% halaman responden bersih dari benda yang dapat menyebankan air tergenang, dan 25.5% halaman responden penuh dengan benda yang dapat menyebabkan air tergenang. 61.4 59.4 43.6 84.2 95.0
Darimana air genangan berasal?
A. Air limbah kamar mandi
B. Air limbah dapur
C. Hujan
D. Air limbah lainnya
E. Tidak tahu
74.5 25.5
Apakah halaman bersih dari benda yg
dapat menyebabkan air tergenang
Ya, halaman bersih dari benda
Tidak, halaman penuh dengan benda
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 38 Dari diagram diatas menggambarkansaluran air hujan didekat rumah
responden yaitu 69.6% saluran air hujan dekat rumahnya terbuka,22.5% tidak terlihat, dan 7.9% tertutup/tidak terlihat.
Dari diagram diatas menggambarkan dapatkah air saluran dirumah responden dapat mengalir, yaitu 74.0% air saluran dapat mengalir, 18.3% tidak ada
saluran, 6.1% tidak ada saluran, 1.6% saluran air tidak dipakai/saluran kering.
69.6 7.9
22.5
Apakah anda dapat melihat saluran
air hujan dekat rumah
Ya, terbuka
Ya, tertutup, tidak terlihat Tidak, tidak terlihat
74.0 6.1
1.6 18.3
apakah air di saluran dapat mengalir?
Ya
Tidak
Tidak dapat dipakai, saluran kering Tidak ada saluran
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 39 Dari diagram diatas menggambarkanapakah saluran air responden bersih dari sampah, yaitu51.3% saluran airnya bersih atau hamper selalu bersih, 25.0% kotor oleh sampah tapi saluran air masih dapat mengalir, 15.3% tidak
mempunyai saluran air, 4.3% saluran kotor oleh sampah tapi kering dan 4.3% saluran kotoroleh sampah saluran tersumbat.
Dari diagram diatas menggambarkan sumber air terlindung yang dimiliki
responden yaitu 54.6% sumber air terlindungnya beresiko tercemar,dan 45.4% sumber airnya terlindungi.
51.3
25.0 4.3
4.3 15.3
apakah saluran air bersih dari
sampah?
Ya, bersih atau hampir selalu bersihTidak bersih dari sampah, tapi masih dapat mengalir
Tidak bersih dari sampah, saluran tersumbat
Tidak bersih dari sampah, tapi saluran kering
Tidak ada saluran
54.6 45.4
Sumber air terlindungi
Tidak, sumber air berisiko tercemar
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 40 Dari diagram diatas menggambarkan aman tidaknya sumber air tidak terlindung digunakan oleh responden yaitu 74.1% aman dan 25.9% tidak aman.
Dari diagram diatas menggambarkan ada tidaknya kelangkaan air dirumah yang dialami responden yaitu 70.5% tidak mengalami kelangkaan dan 29.55 mengalami kelangkaan air.
25.9
74.1
Penggunaan sumber air tidak
terlindungi.
Tidak Aman Ya, Aman 29.5 70.5Kelangkaan air
Mengalami kelangkaan air Tidak pernah mengalami
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 41 Dari diagram diatas menggambarkan aman tidaknya tangki septic responden yaitu 79.8% tangki septic suspek aman dan 20.3% tidak aman.
Dari digram diatas menggambarkan sebagian besar yaitu 96.4% terjadi
pencemaran karena pembuangan isi tangki septic, dan hanya 3.6% yang aman dari pencemaran.
20.3
79.8
Tangki septik suspek aman
Tidak aman Suspek aman
96.4 3.6
Pencemaran karena pembuangan isi
tangki septik
Tidak, aman Ya, aman
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 42 Dari diagram diatas menggambarkan aman tidaknya responden dari
pencemaran karena SPAL yaitu 50.1% tidak aman dari pencemaran karena SPAL dan 49.9% yang aman dari pencemaran karena spal.
Dari diagram diatas menggambarkan memadai tidaknya responden melakukan pengolahan sampah yaitu 99.1%tidak memadai pengolahan sampah dan 0.9% memadai.
50.1 49.9
Pencemaran karena SPAL
Tidak aman Ya, aman 99.1 .9
Pengelolaan sampah
Tidak memadai Ya, memadaiLAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 43 Dri diagram diatas menggambarkan 100% frekuensi pengangkutan sampah tidak ada.
Dari diagram diatas menggambarkan 100% ketepatan waktu pengangkutan sampah tidak tepat waktu.
100.0
Frekuensi pengangkutan sampah
100.0
Ketepatan waktu pengangkutan
sampah Tidak tepat waktu
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 44 Dari diagram diatas menggambarkan apakah responden melakukan
pengolahan sampah yaitu 89.4% sampah setempat tidak diolah danhanya 10.6% sampah yang diolah.
Dari diagram diatas menggambarkan ada tidaknya genangan air disekitar rumah responden yaitu76.9% tidak ada genangan air dan 23.1% ada genangan air (banjir).
89.4 10.6
Pengolahan sampah setempat
Tidak diolah Ya, diolah
23.1
76.9
Adanya genangan air
Ada genangan air (banjir) Tidak ada genangan air
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 45 Dari diagram diatas menggambarkanprilaku higenis dan sanitasi oleh
repsponden yaitu, 71.8% pencemaran pada wadah penyimpanan dan penanganan air, 59.9%apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja, 59.5% keberfungsian penggelontor, 52.0% prilaku BABS, 49.9% apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat, 39.1% apakah terlihat sabun didalam atau didekat jamban, dan 4.0% CTPS di lima waktu penting.
3.9 Tabel Indeks Resiko
4.0 59.9 49.9 59.5 39.1 71.8 52.0
PERILAKU HIGIENE DAN SANITASI.
CTPS di lima waktu penting
Apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja?
Apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat?
Keberfungsian penggelontor.
Apakah terlihat ada sabun di dalam atau di dekat jamban?
Pencemaran pada wadah penyimpanan dan penanganan air
LAPORAN STUDY EHRA KABUPATEN BENGKULU TENGAH 2014 3 - 46
Dari diagram diatas menggambarkan dari indek resiko keseluruhan, yaitu 80.0% CTPS dilima waktu penting, 75.0% apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja, 65.5% ada genangan air dan keberfungsian penggelator, 60.0% pengangkutan sampah setempat dan adanya genangan air,57.5% kelangkaan air, 55.% pencemaran karena pembuangan tangki septic, 50.0% apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat, 45.0 pencemaran karena spal, 32.5% tangki septic nsuspek aman dan pengolaan sampah setempat, dan 22.5% penggunaan air sumber tidak terlindung.
55.0 22.5 57.5 60.0 .0 45.0 .0 .0 .0 32.5 60.0 10.0 75.0 50.0 65.0 32.5 65.0 80.0
TABEL INDEKS RISIKO
Sumber air terlindungi Penggunaan sumber air tidak terlindungi.
Kelangkaan air
Tangki septik suspek aman
Pencemaran karena pembuangan isi tangki septik
Pencemaran karena SPAL Pengelolaan sampah
Frekuensi pengangkutan sampah Ketepatan waktu pengangkutan sampah Pengolahan sampah setempat
Adanya genangan air CTPS di lima waktu penting Apakah lantai dan dinding jamban bebas dari tinja?
Apakah jamban bebas dari kecoa dan lalat?
Keberfungsian penggelontor.
Apakah terlihat ada sabun di dalam atau di dekat jamban?