4
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq)Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan atau tanaman industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Tanaman tropis yang berasal dari amerika ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur. Brazil dipercaya tempat pertama kali kelapa sawit tumbuh. Dari tempat asalnya, tanaman ini menyebar ke Afrika, Amerika Ekuatorial, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan (Heri, 2011).
Industri kelapa sawit di Indonesia saat ini berkembang sangat pesat dan diperkirakan masih akan berlangsung dalam tahun-tahun mendatang. Berbagai produk dapat dihasilkan dalam industri kelapa sawit dan dapat digunakan untuk keperluan pangan maupun non-pangan. Salah satu produk non-pangan yang paling diminati dalam kurun waktu terakhir ini adalah biodiesel yang dihasilkan dari minyak kelapa sawit (Mangoensoekarjo dan Semangun 2008).
2.2. Botani Tanaman Kelapa Sawit
Menurut Lubis (2008) Elaeis berasal dari kata Elaion berarti minyak dalam bahasa Yunani. Guineensis berasal dari Guinea (pantai barat Atrika), Jacq berasal dari naman Botanist Amerika Jacquin. Taksonomi dari kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) adalah:
Devisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Palmaes Famili : Palmae Subfamili : Cocoideae Genus : Elaeis
5
Kelapa sawit diperkirakan berasal dari Afrika Barat dan Amerika Selatan. Tanaman ini justru lebih berkembang di Asia Tenggara. Bibit kelapa sawit pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1848 berasal dari Mauritus dan Amsterdam sebanyak empat tanaman yang kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor dan selanjutnya disebarkan ke Deli Sumatera Utara (Lubis, 1992). Kelapa sawit tumbuh tegak lurus dapat mencapai ketinggian 15-20m. Tanaman ini berumah satu atau monoecious dimana bunga jantan dan betina terdapat masing-masing pada tandan bunganya dan terletak terpisah yang keluar dari ketiak pelepah daun. Tanaman ini dapat menyerbuk sendiri dan menyerbuk silang. Mengetahui bagian yang penting dari tanaman ini seperti sistem perakaran, daun, batang, dan bunga dan lain-lain perlu karena keterkaitan dengan berbagi hal bidang agronomi, pemuliaan, perlindungan tanaman, pemupukan, peramalan produksi, panen dan lian-lain (Lubis, 2008). 2.3. Morfologi Tanaman Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu bagian vegetatif dan bagian generatif meliputi akar, batang, dan daun, sedangkan bagian generatif meliputi bunga dan buah yang merupakan alat perkembang biakan (Fauzi dkk. 2012).
2.3.1 Bagian Vegetatif Tanaman a. Akar (Radix)
Tanaman kelapa sawit mempunyai tipe akar serabut, tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, sekunder, tersier dan kuarter. Akar primer akan tumbuh ke bawah sampai batas permukaan air tanah. Batang tumbuh tegak lurus keatas dan dibungkul pangkal pelepah daun. Bagian bawah batang umumnya lebih besar, disebut bonggol batang (Lubis, 2008).
6 b. Batang (Caulis)
Kelapa sawit merupakan tanaman monokotil, yaitu batangnya tidak mempunyai kambium dan umumnya tidak bercabang. Batang berfungsi sebagai penyangga tajuk serta menyimpan dan mengangkut bahan makanan. Batang kelapa sawit berbentuk selinder dengan diameter 20-75cm. pertambahan tinggi batang terlihat jelas setelah tanaman berumur 4 tahun. Tinggi batang bertambah 25-75cm/tahun. Pertumbuhan batang tergantung pada jenis tanaman, kesuburan lahan, dan iklim setempat (Fauzi dkk. 2012). c. Daun (Folium)
Daun dibentuk di dekat titik tumbuh. Setiap bulan, biasanya akan tumbuh dua lembar daun. Pertumbuhan awal daun berikutnya akan membentuk sudut 135°. Daun pupus yang tumbuh keluar masih melekat dengan daun lainnya. Arah pertumbuhan daun pupus tegak lurus ke atas dan berwarna kuning. Anak daun (leaf let) pada daun normal berjumlah 80-120 lembar (Sastrosayono, 2008).
2.3.2 Bagian Generatif Tanaman a. Bunga (Flos)
Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman berumah satu, yang berarti bunga betina dan bunga jantan terdapat dalam satu tanaman yang letaknya terpisah. Tandan bunga terletak pada ketiak pelepah daun yang mulai tumbuh setelah tanaman berumur 12-14 bulan, tetapi baru bisa panen pada umur 2,5 tahun. Bakal bunga terbentuk sekitar 33-34 bulan sebelum bunga matang (siap melaksanakan penyerbukan). Tumbuhnya bunga sangat tergantung pada kesuburan tanah, tanaman yang tumbuh subur. Setiap rangkain bunga muncul dari pangkal pelepah daun dan masing-masing terangkai. Bunga jantan terpisah dengan bunga betina, bunga jantan dan bunga betina dapat dibedakan berdasarkan bentuknya (Tim Bina Karya, 2009).
7 b. Buah (Fructus)
Pada buah kelapa sawit proses pembentukannya dari proses penyerbukan hingga buah matang dipengaruhi oleh keadaaan iklim dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, lama proses pemasakan buah di beberapa daerah kawasan mempunyai perbedaaan, di Malaysia proses pemasakan buah sekitar 5,5 bulan, di Sumatera Sekitar 5–6 bulan, sedangkan di Afrika sekitar 6-9 bulan (Setyamidjaja, 2006).
2.4. Kayu Mahoni (Swietenia macrophylla King.)
Mahoni mengandung berbagai senyawa aktif yang telah berhasil diisolasi. Berbagai macam fitokimia seperti swetenin, swietenolida, swietemahonin,
khayasin, andirobin, augustineolida, 7-deasetoksi-7-oksogedunin,
proseranolida, dan 6-O-asetilswietonolida terkandung di dalam mahoni (Maiti et al.2008).
Serbuk gergaji kayu mahoni digunakan sebagai medium tanam karena proses pelapukannya lebih lama, mempunyai ketahanan yang tinggi, tidak mudah rapuh, sehingga memperlama masa panen. Kelemahan penggunaan serbuk gergaji kayu mahoni yaitu untuk menjadi medium yang baik perlu pengeringan dan perendaman yang lebih lama sehingga masa tumbuh jamur memerlukan waktu yang lama (Dzuraibak, 2009).
2.5. Daya Tumbuh Kebambah
Daya tumbuh kecambah suatu benih dapat diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian-bagian penting dari suatu embrio benih yang menunjukan kemampuan tumbuh untuk secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian pengujian daya tumbuh kecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, berupa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu tubuh berkecambah pada waktu yang telah ditentuka (Danuarti, 2005).
8 2.6. Perkecambahan
Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponennya yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat dalam biji misalnya radikula dan plumula. Hasil dari perkecambahan ini adalah muncul tumbuh kecil dari dalam biji. Proses perubahan embrio saat perkecambahan adalah plumula tumbuh dan berkembang menjadi batang dan radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar (Dwidjoseputro, 2004).
Proses perkecambahan dapat terjadi jika kulit benih permiabel terhadap air dengan tekanan esmosi tertentu. Serapan air dan berbagai proses biokimia yang berlangsung pada benih pada ahirnya akan tercermin pada pertumbuhan dan perkembangan kecambah menjadi tanaman muda (bibit), kecuali jika benih tersebut dalam keadaan dorman (Lakitman,1996).
DxP Langkat merupakan varietas pertama yang dirakit PPKS dari hasil rekombinasi tetua-tetua terbaik beberapa populasi pisifera. Tetua pisifera hasil rekombinasi antara pisifera SP540, Yangambi, dan Marihat yang disilangkan dengan Dura Deli terbaik menghasilkan varietas dengan karakter unggul rachis yang relatif pendek (compact palm). Selain cocok ditanam di areal bergelombang dan berbukit, varietas ini juga dapat mulai berbuah pada umur 22 bulan setelah tanam. DxP Langkat Potensi produksi TBS 31ton/ha/tahun. Produksi TBS rata-rata 27,5ton/ha/tahun. Potensi Hasil (CPO) 8,3ton/ha/tahun. Produksi CPO rata-rata 7,23ton/ha/tahun. Rendemen minyak 26,3%. Kerapatan tanaman 143 pohon/ ha. Pertumbuhan Meninggi 0,6-0,7m/tahun (Lubis, 2008).
9 2.7. Media Penyimpanan
Kegiatan penyimpanan benih sangat memerhatikan mutu benih. Mutu benih merupakan input yang paling penting dalam pertanian, karena merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan tumbuh benih di lapangan. Mutu benih yang semangkin tinggi maka kemampuan benih untuk tumbuh di lapang juga tinggi. Mutu benih mencakup mutu genetik, fisik, dan fisioalogi (Sadjad, 1997).
Penyimpanan benih yang baik akan mempertahankan vigor maupun vebilitas benih tetap tinggi sampai tiba saatnya ditanam (Sukarman dan Melati, 2015). Salah satu cara untuk menjaga vigor dan viabilitas benih agar tidak cepat menurun selama masa penyimpanan dengan penggunaan media simpan yang tepat. Media simpan yang digunakan antara lain serbuk gergaji, abu skam padi, dan skam padi (Sitepu et al., 2015).