BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Ketahanan pangan saat ini telah menjadi salah satu isu penting dalam

18 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ketahanan pangan saat ini telah menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan. Melihat kondisi di Indonesia, ketahanan pangan menjadi suatu ironi. Kondisi lingkungan dan sumber daya alam yang mendukung untuk pembangunan pertanian tidak sejalan dengan kemampuan pemenuhan ketahanan pangan bagi masyarakat. Adanya kasus kekurangan gizi hingga gizi buruk di Indonesia merupakan contoh dari buruknya sinergi antara ketersediaan pangan di tingkat makro dan aksesibilitas individu dan rumah tangga terhadap bahan pangan. Kondisi ini sangat kontradiktif jika melihat fakta bahwa suatu daerah lumbung beras yang memiliki surplus produksi 400 ribu ton per tahun, tetapi penduduknya banyak yang tidak memiliki akses terhadap pangan. Mereka inilah yang masuk dalam kategori penduduk miskin dan memiliki akses buruk terhadap pangan. Aksesibilitas pangan kelompok miskin dan rawan ini tentu tidak akan dapat dipecahkan dengan eksplorasi saling-silang pendapat kaum elite, tetapi memerlukan ikhtiar bersama dari segenap lapisan masyarakat (Arifin, 2007: 150).

Pada abad 18, Malthus sebenarnya sudah memperkirakan bahwa pada suatu saat bumi akan kekurangan pangan sebagai akibat pertambahan ketersediaan pangan tidak sebanding dengan pertambahan penduduk. Pemikiran Malthus telah memengaruhi kebijakan pangan internasional melalui Revolusi Hijau yang

(2)

mampu meningkatkan laju produksi pangan dunia melebihi laju pertumbuhan penduduk. Di Indonesia, Revolusi Hijau berhasil meningkatkan produksi pangan padi pada lahan pertanian secara nasional namun gagal mendorong sistem pangan lokal yang kuat dan berkesinambungan. Sejak tahun 2004 Indonesia seharusnya telah mampu swasembada beras namun sampai saat ini Indonesia masih sebagai pengimpor beras. Belum lagi beberapa bahan makanan impor lainnya yaitu gula, daging, bahkan garam. Ketersediaan produk pangan di Indonesia kini tergantung dari produksi domestik maupun impor (Sudhamek, 2008: 8).

Ancaman akan adanya krisis pangan menjadi suatu hal yang serius karena menyangkut kelangsungan hidup masyarakat. Ketahanan pangan menjadi hal yang mendasar untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Kebutuhan „perut‟ masyarakat tentu tidak dapat diabaikan. Konsumsi pangan dengan kualitas gizi yang rendah juga turut berpengaruh buruk terhadap perkembangan kualitas sumber daya manusia. Dimana sumber daya manusia yang berkualitas sangat dibutuhkan dalam pembangunan.

Menurut data dalam Roadmap Diversifikasi Pangan 2011-2015 dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (2012: 17) pola konsumsi pangan di Indonesia pada tahun 2011 didominasi oleh beras. Kontribusi beras dalam konsumsi kelompok padi-padian sebesar 996 kkal/kap/hari atau mencapai 80,6 persen terhadap total energi padi-padian (1236 kkal/kap/hari). Di samping itu, rendahnya konsumsi pangan hewani, sayuran, buah, dan aneka kacang menyebabkan kualitas konsumsi pangan masyarakat masih rendah yang

(3)

diindikasikan dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) 77,3 pada tahun 2011. Angka tersebut masih di bawah PPH ideal yaitu 100.

Tabel 1.1 Perkembangan Rata-Rata Konsumsi Energi dan Protein di Indonesia Th. 2007-2012

Uraian Konsumsi PerKapita Perhari WNPG

VII 2004 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Energi (kkal/kap/hari) 2.015 2.038 1.927 1.926 1.952 1.853 2000 Protein (gram/kap/hari) 57,65 57,49 54,35 55,05 56,25 53,14 52 Skor PPH 82,8 81,9 75,7 77,5 77,3 75,4 100

Sumber: Susenas BPS 2007-2012 Triwulan I (dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2012, Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian).

Berdasarkan Tabel 1, skor PPH terhadap pola konsumsi perkapita perhari terus mengalami penurunan dari Tahun 2007 sebesar 82,6 menjadi 75,4 pada Tahun 2012. Hal ini merupakan gambaran bahwa konsumsi pangan semakin jauh dari angka ideal yaitu 100. Penurunan tersebut terlihat selama kurun waktu 2007 hingga 2012, meskipun terdapat kenaikan dari tahun 2009 ke 2010, tahun 2010 ke tahun 2011 relatif stabil, tetapi skor pada tahun 2012 berbeda jauh dibanding tahun 2007. Hal tersebut tentunya menandakan bahwa kebutuhan konsumsi pangan masyarakat Indonesia belum terpenuhi secara ideal. Adapun data mengenai kondisi rawan pangan pada penduduk Indonesia dapat dijelaskan pada

(4)

Tabel 1.2.

Tabel 1.2 Perkembangan Jumlah Penduduk Rawan Pangan Tahun 2007-2011 Rincian Jumlah Penduduk 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Pertum buhan %/Thn 1. Jumlah penduduk (juta jiwa) 224,2 228,5 231,4 237,6 241 245 1,81 2. Jumlah penduduk miskin (juta jiwa) 37,17 34,96 32,53 31,02 30,02 29,13 -5,39 3. Jumlah penduduk sangat rawana): a.Jumlah (juta jiwa) b.Presentase 29,21 13,03 25,11 11,07 33,29 14,47 35,71 15,34 42,08 17,41 9,73 7,68 4. Jumlah penduduk rawanb) : a.Jumlah (juta jiwa) b.Presentase 61,57 27,46 62,38 27,5 72,72 31,62 72,44 31,12 78,48 32,48 6,08 4,18 5. Jumlah penduduk tahan panganc): a.Jumlah (juta jiwa) b.Presentase 133,42 59,51 139,34 61,43 123,96 53,9 124,61 53,53 121,01 50,10 -2,41 -4,22

Sumber: BPS Tahun 2007-2011(dalam Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2012, Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian).

Dari tabel diatas memperlihatkan bahwa kenaikan jumlah penduduk juga diikuti dengan naiknya jumlah penduduk yang rawan pangan dan sangat rawan pangan. Jumlah penduduk yang tahan pangan malah mengalami penurunan hingga tahun 2011. Adapun jumlah penduduk sangat rawan pangan mengalami penurunan pada tahun 2008 dan jumlah penduduk tahan pangan naik pada tahun

(5)

2008. Tetapi keberhasilan tersebut belum dapat dipertahankan atau tidak menjadi lebih baik pada tahun berikutnya.

Adanya isu tentang ketahanan pangan yang menjadi permasalahan bagi bangsa, tentunya diperlukan usaha bersama dari segenap masyarakat. Pihak-pihak lain perlu mendukung pemerintah untuk mewujudkan pembangunan ketahanan pangan. Sinergi diantara para pelaku pembangunan seperti pemerintah, pasar, masyarakat, dan media massa menjadi kunci keberhasilan dalam mewujudkan pembangunan. Semua aktor tersebut memiliki peran masing-masing. Pemerintah memiliki peran dalam membuat dan mewujudkan kebijakan. Pelaku pasar yaitu swasta dapat berperan dalam bidang usaha serta kerja sama. Masyarakat memiliki peran untuk berkontribusi dalam mendukung kebijakan pemerintah. Petani dan masyarakat lainnya tentu menjadi aktor yang tak kalah penting untuk terlibat dalam pelaksanaan ketahanan pangan. Sedangkan media massa memiliki peran dalam memberikan wacana pembangunan. Saat ini peran media massa sangat penting dalam mendukung proses pembangunan. Apalagi saat ini kita telah memasuki era masyarakat informasi. Media massa memiliki posisi yang berpengaruh terhadap jalannya pembangunan. Media massa menjadi sarana komunikasi pembangunan yang perlu menjadi perhatian bagi semua pihak yang terlibat. Komunikasi pembangunan juga telah disadari sebagai kunci dalam keberhasilan suatu pembangunan.

Komunikasi pembangunan merupakan proses penyampaian informasi kepada segenap warga masyarakat tentang adanya kegiatan pembangunan yang

(6)

sedang dan akan diupayakan oleh pemerintah bersama-sama dengan atau oleh masyarakat (Mardikanto, 2010: 57). Adanya komunikasi sangat diperlukan bagi setiap usaha untuk menimbulkan perubahan. Komunikasi juga menjadi alat yang memiliki kekuatan luar biasa guna mengawasi salah satu kekuatan penting masyarakat: konsepsi mental yang membentuk wawasan orang mengenai kehidupan. Ada beberapa bentuk komunikasi yang dapat digunakan seperti: komunikasi persona, komunikasi kelompok dan komunikasi massa (Harun, 2011: 157). Dalam perkembangannya, komunikasi massa saat ini berkembang sangat pesat karena adanya kemajuan dalam teknologi komunikasi. Pemanfaatan media massa sebagai bagian dari komunikasi massa telah akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mass media is ubiquitous. Maksudnya adalah kehadiran media massa berada dimana-mana. Hal ini dapat menjadi kekuatan dalam pembangunan. Media massa mampu mendominasi lingkungan informasi dengan keberadaannya dimana-mana. Karena sifatnya yang serba ada, agak sulit orang menghindari pesan media massa. Sementara itu, pesan-pesan media massa bersifat kumulatif. Berbagai pesan yang sepotong-potong bergabung menjadi satu kesatuan yang memperkokoh dampak media massa. Dampak ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan. Siaran berita cenderung sama, sehingga dunia yang disajikan pada khalayak juga dunia yang sama. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yang lain, sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterima dari media massa (Rakhmat, 2012: 198).

(7)

Dalam masyarakat modern, gambaran tentang lingkungan yang jauh diperoleh melalui media. Masyarakat tradisional yang bergerak ke arah modernisasi juga mulai menggantungkan pengetahuannya pada media massa. Akibatnya, pemikiran-pemikiran tentang apa yang penting, berbahaya, apa yang menarik dan sebagainya, umumnya berasal dari media. Surat kabar, radio dan majalah yang berperan sebagai pengawas di pelbagai tempat, harus memutuskan apa yang tepat untuk disiarkan. Tindakan untuk menentukan siapa yang harus menulis, berperan dalam siaran televisi, peristiwa-peristiwa apa yang dilaporkan, banyak ditentukan oleh tingkat pengetahuan serta apa yang menjadi pokok pembicaraan masyarakat. Jelaslah dalam hal ini media dapat mengarahkan perhatian masyarakat pada masalah-masalah pembangunan (Depari et al., 1995: 45). Peran media massa menjadi efektif dalam mendukung dan mempercepat pembangunan. Media massa juga seharusnya menjadi bagian yang terintegrasi dalam kebijakan pembangunan. Hal ini penting dimana media massa memiliki kekuatan untuk memengaruhi masyarakat dalam hal kognitif yang pada akhirnya mampu merubah perilaku. Inilah yang menjadi tujuan dari komunikasi pembangunan.

Salah satu aspek yang strategis dalam komunikasi pembangunan adalah bidang pertanian, dalam hal ini khususnya tentang ketahanan pangan, maka media massa juga seharusnya turut berperan dalam pembangunan tersebut. Dimana telah diketahui bahwa ketahanan pangan menjadi isu penting yang menyangkut kepentingan bangsa. Pembangunan ketahanan pangan tidak semata diupayakan

(8)

oleh pemerintah saja. Tetapi juga perlu adanya kekuatan media massa. Sehingga ia dapat menjadi perantara komunikasi mengenai berbagai isu atau kebijakan ketahanan pangan antara pemerintah dan masyarakat. Bagaimana pun pembangunan tidak dapat berjalan lancar jika komunikasi diabaikan. Dalam hal ini adalah komunikasi massa melalui media massa.

Untuk itu yang menjadi perhatian dalam media massa adalah bagaimana ia mampu menjadikan pemberitaan pembangunan ketahanan pangan menjadi sesuatu yang penting. Pemberitaan tersebut dapat mempengaruhi wacana di masyarakat dan kebijakan pemerintah. Dalam hal itu media massa dapat mengagendakan berita yang dianggap penting. Ini yang menjadi kajian dalam agenda setting media massa. Istilah agenda setting dikemukakan oleh McCombs dan Shaw yang ide intinya adalah bahwa media berita mengindikasikan kepada publik apa yang menjadi isu utama hari ini dan hal ini tercermin dalam apa yang dipersepsikan publik sebagai isu utama (McQuail, 2011: 276). Kesimpulannya media massa dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap isu pembangunan. Secara ideal pemberitaan yang dilakukan perlu mengarahkan persepsi masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan atau bersikap kritis terhadap kebijakan yang ada. Dalam hal nya dengan pembangunan ketahanan pangan, media dapat membentuk persepsi masyarakat dengan pemberitaan pembangunan ketahanan pangan yang ada. Misalnya, media mampu memberikan informasi untuk memberikan pengetahuan tentang pemanfaatan pangan lokal, kebijakan harga,

(9)

kebijakan politik pemerintah, kondisi ketahanan pangan di daerah, serta pemberitaan lainnya yang bersifat membangun tentunya.

Pemberitaan ketahanan pangan tidak hanya menjadi isu lokal tetapi juga isu nasional, bahkan telah menjadi isu global. Hal ini karena menyangkut kebijakan negara secara makro dalam pelaksanaan ketahanan pangan serta adanya kebijakan global yang memiliki perhatian terhadap isu pangan. Dan juga nantinya turut memengaruhi kebijakan mikro di tingkat lokal. Pemberitaan tentang ketahanan pangan yang ditulis oleh media dapat sangat beragam. Hal itu sesuai dengan apa yang menurut media anggap penting. Misalnya tentang isu politik pangan, pro dan kontra kebijakan pangan, ketahanan pangan di suatu daerah, serta berbagai topik lainnya.

Dalam hal pemberitaan di media massa, pers menjadi salah satu kekuatan yang memengaruhi wacana pembangunan bagi pembaca. Dalam beberapa hal, surat kabar adalah penggerak utama dalam menentukan agenda daerah. Surat kabar memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dibahas oleh sebagian besar orang, apa pendapat sebagian besar orang tentang fakta yang ada, dan apa yang dianggap sebagian besar orang sebagai cara untuk menangani masalah (Tamburaka, 2013: 22). Saat ini isu dan dinamika permasalahan ketahanan pangan telah menjadi isu yang strategis dalam pemberitaan di surat kabar nasional.

Sejalan dengan era modernisasi, media masa dipandang dapat memberikan kontribusi yang sangat strategis dalam fasilitasi proses pembangunan. Surat kabar

(10)

sebagai salah satu bentuk media massa yang telah dikenal secara luas memiliki peranan yang signifikan dalam membangun wacana pembangunan yang mampu menyampaikan pesan melalui berita-berita pembangunan. Karakteristik surat kabar dipandang memiliki beberapa kelebihan atau keunggulan yang antara lain ditunjukkan dengan jangkauannya yang luas dan heterogen, berita yang aktual setiap hari, dan penulisan berita yang mendalam. Surat kabar telah dikenal sebagai media yang memiliki kredibilitas dalam penulisan berita sehingga sangat prospektif dimanfaatkan dalam penyebarluasan berbagai isu dan berita pembangunan nasional dan daerah.

Terkait dengan pemberitaan mengenai pembangunan di surat kabar lahirlah sebuah istilah jurnalisme pembangunan yang mengasumsikan bahwa pembangunan adalah positif, merupakan tujuan yang dikehendaki, dan media massa dapat melakukan banyak hal untuk membantu perkembangannya (Kusumaningrat dan Purnama, 2012: 274). Dalam hal ini, surat kabar kabar tentu dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan. Surat kabar menjadi media komunikasi yang dapat menjadi perantara antara pemerintah dan masyarakat.

Dari berbagai surat kabar nasional yang ada, Kompas merupakan surat kabar nasional yang aktif memberitakan berbagai informasi tentang pertanian, salah satunya mengenai ketahanan pangan. Ada berbagai isu tentang ketahanan pangan yang dibahas oleh Kompas seperti ekspor impor pangan, kebijakan harga pangan, kelangkaan komoditas, pangan lokal, serta kaitannya dengan perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk. Kebijakan pemerintah juga seringkali disorot

(11)

dalam hal ketahanan pangan. Pemberitaan tersebut dapat berada di halaman depan sebagai headline, di halaman dalam, kolom opini, tajuk rencana, bagian ekonomi, dan lain-lain. Beberapa isu yang pernah muncul mengenai permasalahan ketahanan pangan diantaranya adalah impor beras, kasus kuota impor daging sapi, polemik impor gula rafinasi, hingga krisis kedelai. Selanjutnya penulis akan menganalisis tentang pemberitaan ketahanan pangan di surat kabar Kompas sebagai agenda media. Serta bagaimana agenda media surat kabar Kompas mampu memengaruhi opini publik dan kebijakan pemerintah atas isu yang diberitakan.

Kompas telah menjadi media cetak yang sangat kredibel dan menjadi salah satu barometer bagi publik. Kompas adalah suratkabar yang paling berpengaruh di Indonesia. Ia memiliki standar tinggi dalam jurnalisme dan dibaca oleh banyak kalangan sosial ekonomi. Sirkulasi harian Kompas mencapai 500.000 dan memiliki total pembaca menurut data Nielsen sebesar 1,24 juta masyarakat. Selanjutnya Kompas memiliki pengaruh dalam membentuk opini publik dan agenda setting berita nasional (Infoasaid, 2012: 103-104). Isu yang menjadi bahan pemberitaan Kompas sebagai surat kabar nasional tentu memiliki efek berbeda dengan apa yang diberitakan oleh surat kabar daerah. Isu yang diberitakan akan menjadi isu yang dianggap penting tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional. Jika Kompas memiliki kekuatan dalam memengaruhi opini publik, maka terdapat korelasi yang kuat diantara keduanya. Agenda publik akan menganggapnya penting apabila media membuat agenda setting terhadap

(12)

kepentingan isu ketahanan pangan. Selanjutnya hal tersebut juga akan berhubungan dengan kebijakan terhadap isu pembangunan ketahanan pangan.

1.2 Rumusan Masalah

Ketahanan pangan merupakan salah satu isu strategis dalam pembangunan yang menyangkut ketahanan bangsa. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, pasar, masyarakat sipil, dan media massa. Dalam hal ini, aktor media memiliki peran yang penting dan tidak dapat diabaikan. Kehadiran media massa saat ini telah menjadi konsumsi publik. Informasi telah menjadi kebutuhan masyarakat. Informasi juga dianggap sebagai mata rantai yang penting dalam pembangunan. Kualitas informasi yang tersedia dan publikasinya merupakan faktor kunci dalam laju dan kelancaran pembangunan. Adanya media massa dan informasi yang memadai ikut berperan dalam mendorong pendidikan, perdagangan, dan rantai aktivitas pembangunan lainnya (Harun, 2011: 133). Tanpa adanya keterbukaan informasi dan komunikasi yang terintegrasi, maka pembangunan kurang berjalan lancar.

Terkait dengan pembangunan ketahanan pangan, media massa cetak yaitu Kompas memiliki peran dalam penulisan berita terkait hal tersebut. Ketahanan pangan dapat dianggap menjadi isu yang penting jika media membuatnya penting untuk dipikirkan. Inilah yang disebut sebagai agenda media. Selanjutnya media massa mampu memengaruhi opini publik hingga memengaruhi kebijakan.

(13)

Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi permasalahan dalam penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana derajat keeratan hubungan (korelasi) antara agenda media dengan agenda publik dalam isu ketahanan pangan di Kompas?

2. Bagaimana agenda kebijakan mengenai ketahanan pangan?

1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui korelasi agenda media dan agenda publik dalam isu ketahanan pangan di Kompas.

2. Mengetahui agenda kebijakan pembangunan ketahanan pangan pemerintah

1.4 Manfaat

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk:

1. Penelitian ini diharapkan dapat memberi wawasan akademik dalam bidang penyuluhan dan komunikasi pembangunan, khususnya di bidang media. 2. Bagi pelaku media, penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan

dalam kegiatan pemberitaan isu pembangunan.

3. Bagi pelaku kebijakan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam mengambil kebijakan.

(14)

1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian ini memiliki sudut pandang yang berbeda dari penelitian sebelumnya. Penelitian ini menekankan tentang peran media massa khususnya surat kabar dalam pembangunan. Secara spesifik akan melihat pemberitaan ketahanan pangan sebagai salah satu isu pembangunan di surat kabar Kompas. Agenda berita yang dibentuk oleh media massa akan membentuk opini publik yang selanjutnya akan berimplikasi pada kebijakan pemerintah.

Ada beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan agenda setting pemberitaan di media massa cetak. Pertama, penelitian oleh Salvatore Simarmata (2012) yang berjudul Sikap Politik Pers Terhadap Pemerintahan Koalisi (Analisis Isi Pemberitaan Pers Nasional atas Pemerintahan Koalisi Pascapemilihan Umum 2009 pada Harian Kompas, Media Indonesia, dan Republika Periode 1 November 2009-30 April 2010). Penelitian ini menjelaskan tentang kecenderungan sikap politik oposisional pers nasional terhadap pemerintahan koalisi pascapemilu 2009 pada pemberitaan harian Kompas, Media Indonesia, dan Republika periode 1 November 2009 – 30 April 2010. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Nita Andrianti (2013) yang berjudul Kunjungan Diplomatik Sebagai Media Event (Analisis Isi Berita Kunjungan Diplomatik di The Jakarta Post Periode 1 Juli – 31 Desember 2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui liputan surat kabar terhadap peristiwa kunjungan diplomatik pejabat negara lain yang berkunjung ke Indonesia serta melihat kecenderungan atau kemenarikan isu/materi peristiwa kunjungan diplomatik dari sudut posisi berita.

(15)

Pada penelitian yang pertama dan kedua menggunakan metode analisis isi terhadap item berita yang terkait. Analisis isi merupakan salah satu metode yang digunakan dalam penelitian agenda setting. Namun, hal yang dapat dilihat hanya agenda media saja. Dalam penelitian tentang Agenda Setting Pemberitaan Pembangunan Oleh Surat Kabar Kompas, maka penulis akan melihat agenda setting pemberitaan secara lebih komprehensif dari konsep 3 agenda yaitu: agenda media, agenda publik, dan agenda kebijakan. Ketiga, penelitian yang berjudul Pemberitaan Pertanian Oleh Surat Kabar Daerah: Studi Kasus Pada Rubrik Kanda Raharja-SKH Kedaulatan Rakyat yang ditulis oleh Muh. Saiful Ngatif, dkk (2005). Penelitian ini menjelaskan proporsi pemberitaan pertanian dan non pertanian, mengidentifikasi sumber berita yang dominan, topik berita pertanian yang dominan serta kebijakan redaksional SKH Kedaulatan Rakyat. Penelitian ini juga menggunakan metode analisis isi. Penelitian ini memiliki persamaan dalam hal objek pemilihan berita yaitu tentang pembangunan pertanian. Namun, dalam penelitian yang akan dilakukan oleh penulis, pemilihan berita lebih spesifik pada isu ketahanan pangan. Jadi, fokus dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Agenda setting akan diteliti untuk ketiga agenda, tidak hanya sampai pada opini publik saja. Selain itu fokus pemilihan berita juga berbeda dari penelitian sebelumnya. Berita pembangunan mengenai ketahanan pangan yang dipilih merupakan isu strategis pada saat ini.

(16)

Tabel 1.3 Matriks Penelitian Terdahulu N

o.

Judul, Penulis, Tahun Tujuan Metodologi Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan

1. Sikap Politik Pers Terhadap Pemerintahan Koalisi (Analisis Isi Pemberitaan Pers Nasional atas Pemerintahan Koalisi Pascapemilihan Umum 2009 pada Harian Kompas, Media Indonesia, dan Republika Periode 1 November 2009-30 April 2010) oleh Salvatore Simarmata, 2012. Menganalisis kecenderungan sikap politik oposisional pers nasional terhadap pemerintahan koalisi pascapemilu 2009 pada pemberitaan harian Kompas, Media Indonesia, dan Republika periode 1 November 2009 – 30 April 2010. Penelitian deskriptif dengan memakai metode analisis isi kuantitatif. Objek analisis penelitian adalah teks berita utama dan tajuk rencana. Uji chi square untuk melihat ada dan tidaknya perbedaan.

Hasilnya ditemukan bahwa sikap politik pers cukup oposisional terhadap pemerintahan koalisi. Tajuk rencana terlihat lebih oposisional daripada berita utama media. Otonomi media dalam menyatakan sikap oposisional tersebut lewat tajuk rencana cukup tinggi, sementara lewat berita utama rendah.

Studi analisis isi terhadap berita di media cetak. Fokus pemberitaan adalah sikap politik oposisional pers pasca pemilu, kemudian analisis yang digunakan memiliki cakupan yang lebih sempit atau hanya melihat agenda media. 2. Kunjungan Diplomatik Sebagai Media Event

(Analisis Isi Berita Kunjungan Diplomatik di The Jakarta Post

Periode 1 Juli – 31 Desember 2010) oleh Nita Andrianti, 2013.

Untuk mengetahui liputan surat kabar terhadap peristiwa kunjungan diplomatik pejabat negara lain yang berkunjung ke

Indonesia.

Penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode analisis isi. Uji tabulasi silang dilakukan untuk melihat

kecenderungan atau kemenarikan isu/materi peristiwa

1.Kecenderungan posisi berita pada halaman dalam.

2.Format berita lebih ditekankan hardnews 3.Sumber berita lebih ditekankan pada formal information channel dan koverasi pada one sided coverage. 4.Nilai berita

Studi analisis isi terhadap berita di media cetak. Fokus pemberitaan adalah berita kunjungan diplomatik, kemudian analisis yang digunakan memiliki

(17)

sudut posisi berita. besar. 5.Kecenderungan berita pada the first tiers. 6.Media event menilai bahwa

kecenderungan berita terbesar pada Presiden/Perdana Menteri. 7. Fokus berita pada “ekonomi dan pembangunan” (29%) serta “lainnya” (26,7%). atau hanya melihat agenda media. 3. Pemberitaan Pertanian Oleh Surat Kabar Daerah: Studi Kasus Pada Rubrik Kanda Raharja-SKH Kedaulatan Rakyat oleh

Muh. Saiful Ngatif, dkk, 2005.

1. Mengetahui proposi dalam jumlah, panjang, dan posisi berita pertanian dibanding non pertanian.

2.Mengidentifikasi sumber berita yang dominan. 3.Mengetahui topik berita pertanian yang dominan. 4.Mengidentifikasi kebijakan redaksional

Penelitian deskriptif dan studi kasus. Menggunakan teknik analisis isi terhadap berita pertanian

1.Total jumlah ruang dan panjang berita pertanian lebih besar dari berita

non-pertanian. 2.Posisi berita pertanian berada di atas dan lebih besar daripada berita non-pertanian. 3.Sumber berita pertanian dari non-pemerintah lebih besar daripada sumber dari pemerintah. 4.Topik berita pertanian yang dominan adalah produksi pertanian, kehutanan, dan lain2. 5.Lingkup berita pertanian lokal lebih besar

dibandingkan yang non-lokal. 6.Kebijakan editorial

memiliki fleksibilitas dalam menyusun dan menyeleksi lingkup berita

Studi analisis isi terhadap berita di media cetak dan fokus pemilihan berita yaitu pemberitaan tentang pertanian Peneliti hanya melihat agenda media (melalui analisis isi)

(18)

Pembangunan Ketahanan Pangan Oleh Surat Kabar Kompas

Oleh Toti Rahayu, 2013

pemberitaan ketahanan pangan di Kompas. 2. Mengetahui respon

dan opini masyarakat terhadap pemberitaan ketahanan pangan di Kompas. 3. Mengetahui respon kebijakan pembangunan ketahanan pangan. ketahanan pangan, survei opini publik, studi literatur tentang kebijakan terkait ketahanan pangan atas, persamaan terletak pada metodologi penelitian, yaitu menggunakan analisis isi terhadap berita di media massa cetak. Kemudian fokus pemberitaan dibidang pertanian. analisis agenda setting yang terdiri dari 3 agenda yaitu: agenda media, agenda publik, dan agenda kebijakan. Kemudian pemilihan berita lebih spesifik pada ketahanan pangan yang saat ini menjadi isu strategis.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :