PENGAWASAN PENDIDIKAN BERBASIS ELEKTRONIK (STUDI ABSENSI SWAFOTO SMAN 2 CAMBA KABUPATEN MAROS) Disusun dan diusulkan oleh NUR AFNI RAMLI

94 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

1

PENGAWASAN PENDIDIKAN BERBASIS ELEKTRONIK

(STUDI ABSENSI SWAFOTO SMAN 2 CAMBA KABUPATEN

MAROS)

Disusun dan diusulkan oleh

NUR AFNI RAMLI

Nomor Stambuk : 105640219715

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

PENGAWASAN PENDIDIKAN BERBASIS ELEKTRONIK

(STUDI ABSENSI SWAFOTO SMAN 2 CAMBA

KABUPATEN MAROS)

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan oleh

NUR AFNI RAMLI

Nomor Stambuk : 105640219715

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Nur Afni Ramli

Nomor Stambuk : 105640219715

Program Studi : Ilmu Pemerintahan

Menyatakan bahwa benar karya ilmiah ini adalah penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain atau telah di tulis/dipublikasikan oleh orang lain atau plagiat. Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya apabila di kemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai dengan aturan yang berlaku.

Makassar, 5 Februari 2020 Yang menyatakan

(6)

ABSTRAK

Nur Afni Ramli. 2019 Pengawasan Pendidikan Berbasis

Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten

Maros) (Dibimbing oleh

Nuryanti Mustari dan Rudi Hardi)

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros). Lokasi penelitian ini bertempat di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dan SMAN 2 Camba Maros. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yakni memberikan gambaran secara objektif terkait bagaimana keadaan sebenarnya objek yang diteliti, dan tipe penelitian yang digunakan adalah tipe fenomenologi. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder dengan jumlah Informan sebanyak 6 orang. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Pengumpulan data, Reduksi data, Penyajian data, dan Penarikan kesimpulan. Pengabsahan data yang digunakan adalah Triangulasi sumber, Triangulasi teknik dan Triangulasi waktu.

Hasil penelitian yang dilakukan menunjukakan bahwa Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros) sudah berjalan hal tersebut dapat dilihat dari: (a) Pengawasn Lansung, Melalui swafoto Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan mengawasi secara langsung para guru dengan cara mengontrol lansung kehadiran dan juga bisa mengontrol lewat komensenter (b) Pengawasan Tidak Lansung, Melalui swafoto itu efektif karna tanpa turun langsung kelokasi, aplikasi ini bisa di pantau meskipun hanya di kantor, otomatis guru-guru tidak seenaknya meninggalkan sekolah meskipun pemerintah tidak mengawasi secara memonitoring ( langsung) tetapi mereka tetap melakukan perekapan tentang kehadiran guru-guru. (c) Faktor-faktor yang mempengaruhi Pengawasan Kinerja Guru terdiri dari: Faktor Pendukung yaitu Perkembangan Teknologi Berbasis Online, Kedisiplinan Dalam Melaksanakan Pembelajaran, Komitmen guru dan Sumber Daya. Sedangkan Faktor Penghambat yaitu Jaringan dan Pemahaman individu guru tentang aplikasi Swafoto.

(7)

KATA PENGANTAR

Tiada kata indah yang patut di ucapkan seorang hamba kepada Sang Pencipta atas segala cinta kasih-Nya yang tak terhingga dan nikmat-Nya yang tak berujung sehingga kita mampu melewati hari-hari yang penuh makna, dan memberi kesempatan pada penulis untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros)” Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar ini.

Penulisan skripsi ini guna bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan dari program studi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar. Saya menyadari bahwa untuk menyelesaikan tugas penyusunan skripsi ini tidaklah mudah, namun saya meyadari begitu banyak pihak yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr.Nuryanti Mustari S.IP, M.Si, selaku pembimbing I dan Bapak Rudi Hardi, S.Sos, M.Si selaku pembimbing II, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Selanjutnya pada kesempatan ini, tak lupa penulis mengucapkan penghargaan dan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya terutama kepada:

(8)

1. Ibu Dr. Nuryanti Mustari, S.IP, M.Si dan bapak Ahmad Harakan, S.IP, M.Hi selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Ibu Hj. Ihyani Malik, S.Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Segenap Dosen serta staf Tata Usaha Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberi bekal ilmu pengetahuan dan pelayanan kepada penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Pihak Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. 6. Pihak SMAN 2 Camba Maros

7. Yang selalu menemani dari awal semester Inrinofita Sari, Eli Rezkiana dan Rosmita.

8. Teman-teman dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan (HIMJIP).

9. Saudara dari awal masuk kampus sampai sekarang IP.D sekaligus teman kelas dari semister 1 sampai semester 8.

10.Teman-teman angkatan 2015 “EXECUTIVE”.

11.Keluarga penulis yang telah memberikan support dalam penulisan skripsi. Ucapan terima kasih yang teristimewa dan terdalam penulis kepada kedua orang tua tercinta Muh.Ramli dan Ibunda Hj.Halimah, karena semua usaha

(9)

penulis tidak berarti apa-apa tanpa adanya pengorbanan dan dorongan semangat yang sangat luar biasa dari beliau yang selalu suka rela melakukan segala hal, memberikan doa yang tulus, motivasi, nasehat serta bimbingan dan membesarkan penulis dengan penuh kasih sayang. Terima kasih juga untuk saudara sedarah penulis yang selalu menyayangi dan memberi semangat untuk terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Terakhir, Ucapan terimakasih yang tidak dapat diungkapkan kepada Agus Saputra Yang telah menemani, Mensupport dan mendukung setiap langkah penulis. Teriring doa semoga Allah SWT menjadikan pengorbanan dan kebaikan itu sebagai cahaya penerang di dunia maupun di akhirat kelak.

Akhir kata penulis mengharapkan kiranya skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca guna menambah Khasanah Ilmu Pengetahuan terutama yang berkaitan dengan Ilmu Pemerintahan.

Billahi Fii Sabililhaq Fastabiqul Khairat

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Makassar, 5 Februari 2020 Penulis

(10)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Halaman Persetujuan ... ii

Halaman Penerimaan Tim Penguji... iii

Halaman Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ... iv

Abstrak ... v Kata Pengantar ... vi Daftar Isi... ix BAB I PENDAHULUAN ... A.Latar Belakang ... 1 B.Rumusan Masalah ... 7 C.Tujuan Penelitian ... 7 D.Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... A.Konsep Pengawasan Kinerja... 9

B.Konsep Swafoto ... 17

C.Kerangka Fikir ... 20

D.Fokus Penelitian ... 21

E. Deskripsi Fokus Penelitian... 21

BAB III METODE PENELITIAN ... A.Waktu dan Lokasi Penelitian ... 23

B.Jenis dan Tipe Penelitian ... 23

C.Sumber Data... 24

D.Informan Penelitian ... 24

E. Teknik Pengumpulan Data ... 25

F. Teknik Analisis Data... 27

(11)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...

A.Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 30 B.Pengawasan Kinerja Guru Berbasis Elektronik Melalui Absensi

Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros ... 43 C.Faktor Pendukung dan Penghambat Pengawasan Kinerja Guru

Berbasis Elektronik Melalui Absensi Swafoto SMAN 2 Camba

Kabupaten Maros ... …49

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...

A.Kesimpulan ... 63 B.Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA

(12)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bidang pendidikan merupakan salah satu andalan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan zaman. Secara umum, pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Manusia lebih mampu berpikir, lebih kreatif, dan inovatif dalam melakukan pemecahan terhadap segala permasalahan yang dihadapi dengan adanya keberhasilan dalam pendidikan. Pendidikan dapat dikatakan berhasil apabila proses pendidikan berjalan dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Proses pendidikan adalah proses untuk memberikan kemampuan kepada individu untuk dapat memberikan makna terhadap dirinya dan lingkungannya. Tilarr dalam Ali (2009).

Daryanto dalam Mahmin. (2018). mengemukakan bahwa pendidikan bertujuan untuk memenuhi tiga aspek, yaitu aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Dalam upaya memenuhi tujuan tersebut, pendidikan harus berperan secara proporsif, kontekstual, dan komprehensif. Hal ini sesuai dengan penjelasan yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

(13)

secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, sertaketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Menurut Arikunto dan Yuliana dalam Nurdyansyah, & Andiek, (2017). Pengawasan adalah usaha pimpinan untuk mengetahui semua hal yang menyangkut pelaksanaan kerja, khususnya untuk mengetahui kelancaran kerja para pegawai dalam melakukan tugas mencapai tujuan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa yang bertanggungjawab untuk melakukan penawasan di sekolah adalah Kepala Sekolah. Pengawasan yang dilakukan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian tujuan pendidikan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan menyebutkan bahwa salah satu keajiban bagi Kepala Sekolah adalah melaksanakan dan merumuskan program pengawasan, serta memanfaatkan hasil pengawasan untuk meningkatkan kinerja sekolah/madrasah.

Kinerja Guru akan baik, jika guru melaksanakan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam melaksanakan pembelajaran, kerjasama dengan warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa,

(14)

kepribadian baik jujur dan objektif dalam membimbing siswa serta tanggung jawab dalam tugas. Surakhmad dalam Kolondam, (2018).

Berdasarkan pengamatan dilapangan kinerja guru masih belum maksimal, indikasinya masih terdapat guru yang tidak melaksanakan tugas mengajar dengan baik, yaitu sering terlambat masuk kelas walaupun sudah bunyi bell tanda masuk dimulai, sudah ditunggu siswa masih ambil kesempatan bercakap-cakap dengan teman di gang/teras/emperan kelas/sekolah.

Dalam melaksanakan tugasnya tidak konsisten, RPP tidak dipersiapkan dengan baik, penyusunan RPP tidak melalui tahap analisis Standar Isi dan Standar Kelulusan, guru sering meninggalkan ruang kelas, pada saat jam pelajaran belum selesai. Dalam proses pembelajaran guru sering menghambat kreativitas para siswa, karena kurang persiapan, guru sering marah-marah dan tidak memberikan kesempatan siswa untuk mengemukan pendapat atau bertanya. Hasil penelitian singkat menyatakan dilapangan kecendrungan menunjukkan bahwa masih banyak guru yang sudah tersertifikasi belum mampu mendesain perangkat pembelajaran, merencanakan pembelajaran, mengevaluasi pembelajaran, dan mengimplementasikan kinerjanya dengan baik atau belum berprofesi sebagai guru professional, dan masih banyak guru tersertifikasi masih perlu mendapat pembinaan dan pelatihan.. Suharti dalam Kolondam, (2018).

(15)

Indikasi yang nyata di SMAN 2 Camba-Maros pada saat peneliti melakukan observasi masih tampak belum sesuai harapan, kinerja guru dalam pengembangan pembelajaran belum memberikan perubahan secara maksimal bagi perbaikan proses belajar karena kinerja guru belum maksimal nampak dalam kreativitasnya. Begitu pula penggunaan sumber belajar seperti laboratorium, perpustakaan, internet sekolah belum digunakan secara maksimal oleh semua guru, karena Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) belum memberikan perhatian serius dalam optimalisasi pengembangan dalam pemanfaatan sumber belajar tersebut.

Kemampuan menggunakan internet masih sangat terbatas, hal ini didominan oleh guru yang junior. Yang lebih menyedihkan lagi penyiapan perangkat pembelajaran hanya copy paste, atau tidak dipersiapkan dengan baik. Kemampuan mempersiapkan silabus masih lemah karena tidak melalui tahapan analisis standar isi/standar kelulusan. Dalam melaksanakan proses belajar melulu menekankan segi pengajaran melalui metode dan teknik ceramah sebagai satu-satunya sumber bahan/materi pelajaran bagi siswa, guru dengan berkreasi dan beralih menggunakan bentuk atau jenis metode/model pembalajaran yang lebih kreatif, walaupun yang ditulis pada RPP ada metode/model yang kreatif, jika ada supervisi baru berupaya dengan metode/model yang baru tetapi karena tidak dibiasakan maka proses pembelajaran terasa hambar. Ditemukan pula masih adanya guru-guru yang senang tidak mengajar, kalau masuk kelas cepat keluar yang tinggal dikelas hanya tas, para siswa dibiarkan mencatat

(16)

atau diskusi. Pengamatan ini diperkuat dengan pemberitaan media cetak di Provinsi Sulawesi Selatan dimana Sidak Polisi Pamong Praja Pemkot Maros menemukan banyak PNS termasuk didalamnya guru berada di Pasar dan Supermarket pada jam-jam kerja. Keberhasilan organisasi tidak terlepas juga dari komitmen guru untuk melaksanakan sistem manajemen mutu yang ada di SMAN 2 Camba-Maros.

Seorang guru harus punya komitmen dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya yaitu mendidik, mengajar, membimbing, dan melatih. Semakin baik komitmen guru, maka kinerja guru tersebut dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya akan menjadi baik. Kepala sekolah yang memimpin sekolah harus memiliki sifat-perilaku kepemimpinan. Kepemimpinan yang dimaksud ialah kemampuan untuk mempengaruhi, membimbing dan mengarahkan warga sekolah mencapai tujuan sekolah. Untuk itu kedudukan kepala sekolah menjadi sangat penting dan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan disekolah. Bahkan, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional . Depdiknas dalam Triyanto (2013) kepala sekolah memiliki tujuh peran utama, yaitu sebagai Educator (Pendidik), Manajer, Administrator, Supervisor, Leader (pemimpin), Pencipta iklim kerja, dan Wirausahawan. Kepala sekolah diharapkan memiliki perilaku membimbing, mendorong, memotivasi, mengarahkan warga sekolah. Hal ini mengisyaratkan bahwa kepala sekolah memang memiliki peran penting dan strategis. Sejalan dengan peran vital kepala sekolah tersebut, realitas di lapangan menunjukkan

(17)

fenomena yang kurang mengembirakan bahwa masih banyak kepala sekolah yang belum memperlihatkan kinerja optimalnya. Ini antara lain terlihat dari mutu pendidikan di sekolah-sekolah yang dari tahun ketahun cenderung stagnan dan tidak mengalami peningkatan yang berarti.

Kepemimpinan kepala sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam kerangka manajemen sekolah, kepala sekolah merupakan salah satu faktor terpenting dalam menunjang keberhasilan sekolah dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Kepala sekolah adalah pengelola satuan pendidikan yang bertugas menghimpun, memanfaatkan, mengoptimalkan seluruh potensi dan sumber daya manusia, sumber daya lingkungan (sarana dan prasarana) serta sumber dana yang ada untuk membina sekolah dan masyarakat sekolah yang dikelolanya.

Perilaku kepemimpinan kepala sekolah yang harus dimiliki adalah bagaimana; membimbing, mendorong, mengarahkan warga sekolah. Kepala sekolah sebagai ujung tombak dan kemudi jalannya lembaga kependidikan. Pemimpin dalam lembaga pendidikan harus dapat membimbing, mendorong, memotivasi dan mengarahkan warga sekolah untuk mencapai tujuan bersama. Disamping itu masih banyak persoalan yang terdapat di SMAN 2 Camba-Maros seperti ketersedian jaringan yang masih terbatas, mengingat lokasi sekola berada di daerah pegunungan sehingga terkadang guru yang sebelumnya datang cepat akan terabsen lambat. Akan tetapi jika sudah melewati jam atau waktu yang telah ditentukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi, Guru-guru atau Staf tetap

(18)

dinyatakan hadir dengan catatan jika melewati batas atau belum waktunya akan ada keterangan setelah absen.

Berdasarkan kajian yang diuraikan diatas sesuai pengamatan sementara di SMAN 2 Camba-Maros maka peneliti tertarik dan ingin mengetahui serta melakukan penelitian untuk mengkaji lebih spesifik dan mendalam tentang masalah-masalah yang mempengaruhi kinerja guru yang dilihat secara konprehensif. Secara khusus penelitian ini akan mengkaji tentang Pengawasan Kinerja Guru SMAN 2 Camba-Maros Melalui Absensi Swafoto di Kabupaten Maros. Untuk itu judul penelitian adalah: “PENGWASAN PENDIDIKAN BERBASIS ELEKTRONIK (STUDI ABSENSI SWAFOTO SMAN 2 CAMBA KABUPATEN MAROS)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Bagaimana Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros)?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan dari penelitian ini adalah:

Untuk menegtahui Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros).

(19)

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai diatas, maka manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan dapat menjadi reerensi dan bahan informasi bagi peneliti selanjutnya ataupun mahasiswa lain yang ingin mendalami studi implementasi kebijakan publik.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian sebagai kajian ilmiah dan diharapkan dapat menjadi wacana untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi peneliti berikutnya.

(20)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Pengawasan Kerja

Pengawasan secara umum diartikan sebagai sesuatu kegiatan administrasi yang bertjuan mengandalkan evaluasi terhadap pekerjaan yang sudah selesai apakah sesuai rencana atau tidak. Karena itu bukanlah dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah satu yang benar tetapi lebih diarahkan kepada upaya untuk melakukan koresi terhadap hasil kegiatan.

Pengawasan adalah kegiatan yang membandingkan atau mengukur apa saja yang sedang atau sudah dilaksanakan dengan kriteria norma standar atau rencana-rencana yang ditetapkan Sami’an dan Aprilian, dalam Sari & Paramita (2017)

Schermerhon dalam amril (2013) menyatakan bahwa pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakaan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut.

Pengawasan ialah proses pengamatan dari pelaksanaan keseluruhan kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya Sondang P. Siagian dalam Sari & Paramita (2017) dan

(21)

pengawasan adalah suatu kegiatan yang bukan hanya untuk mencari kesalahan-kesalahan, tetapi berusaha untuk menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan dan memperbaiki jika terjadi kesalahan-kesalahan Brantas dalam Hidayah (2018).

Menurut Sami’an dan Aprilian dalam Paramita & Fathoni (2016) terdapat dua teknik pengawasan yaitu :

1. Pengawasan langsung, yaitu pemimpin organisasi mengadakan sendiri pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan. Pengawasan langsung ini dapat berbentuk inspeksi langsung, on the spotobservation, dan on the spot report.

2. Pengawasan tidak langsung yaitu pengawasan dari jarak jauh, pengawasan ini dilakukan melalui laporan yang disampaikan oleh bawahan. Laporan ini dapat tertulis dan lisan melalui telepon.

Tujuan pengawasan menurut Soekarno dalam Paramita Muryani & Fathoni (2016) adalah :

a. Untuk mengetahui apakah sesuatu berjalan sesuai dengan rencana yang telah digariskan

b. Untuk mengetahui apakah segala sesuatu dilaksanakan dengan instruksi serta azas-azas yang telah diinstruksikan

c. Untuk mengetahui adaya kesulitan-kesulitan, kelemahan-kelemahan dalam pekerjaan

(22)

e. Untuk mencari jalan keluar, bila ternyata dijumpai kesulitan-kesulitan, kelemahan atau kegagalan kearah perbaikan.

Menurut Handoko dalam Adha (2016) mengemukakan karakteristik pengawasan yang baik adalah:

1. Akurat, informasi tentang pelaksanaan kegiatan harus akurat karena bila tidak akurat maka dari sistem pengawasan dapat menyebabkan organisasi mengambil tindakan koreksi yang keliru atau bahkan menciptakan masalah yang sebenarnya tidak ada.

2. Tepat waktu, informasi harus dikumpulkan, disamakan, dan dievaluasi secepatnya bila kegiatan perbaikan harus segera dilakukan.

3. Terpusat pada titik-titik pengawasan strategi, sistem pengawasan harus memusatkan perhatian pada bidang-bidang dimana penyimpangan-penyimpangan dari standar paling sering terjadi atau yang akan mengakibatkan kerusakan paling fatal.

4. Objektif dan menyeluruh, informasi harus mudah dipahami dan besifatobjektif serta lengkap.

5. Realistik secara ekonomis, biaya pelaksanaan sistem pengawasan harus lebih rendah atau paling tidak sama dengan kegunaan yang diperoleh dari sistem tersebut.

6. Realistik secara organisasional, sistem pengawasan harus cocok atau harmonis dengan kenyataan-kenyataan organisasi.

7. Terkordinasi dengan aliran kerja organisasi, hal ini dikarenakan setiap tahap proses pekerjaan dapat mempengaruhi sukses atau gagalnya

(23)

keseluruhan operasi dan informasi pengawasan harus sampai pada seluruh personalia yang memerlukannya.

8. Fleksibel, pengawasan harus mempunyai fleksibilitas untuk memberikan tanggapan atau reaksi terhadap ancaman ataupun kesempatan dari lingkungan.

9. Bersifat sebagai petunjuk dan operasional, sistem pengawasan efektif harus menunjukkan baik deteksi atau deviasi dari standard an tindakan koreksi apa yang seharusnya diambil.

10.Diterima para anggota organisasi, sistem pengawasan harus mampu mengarahkan pelaksanaan kerja para anggota organisasi.

Arifin Abdul Rachman dalam Sari (2018)., salah satu indikator keberhasilan suatu organisasi pemerintah dalam mencapai tujuannya banyak ditentukan oleh keberhasilan pengawasan. Jika pengawasan berjalan dengan baik maka pengawasan merupakan unsur paling pokok dalam menentukan keberhasilan suatu program. Keberhasilan program pengawasan sendiri dapat dilihat dari berbagai macam indikator sebagai berikut :

1. Indikator meningkatnya disiplin, prestasi dan pencapaian sasaran pelaksanaan tugas, antara lain

2. Indikator berkurangnya penyalahgunaan wewenang yaitu berkurangnya tuntutan masyarakat terhadap pemerintah.

3. Indikator berkurangnya kebocoran, pemborosan dan pungutan liar antara lain:

(24)

Secara bahasa dapat diartikan bahwa kinerja merupakan prestasi alam kerja pada seseorang. Kinerja dapat diukur dan ditingkatkan pada berbagai macam tingkatan aktivitas Row;ey dan Jackson dalam Jannah (2017).

Sutikno dalam Sari & Paramita (2017) pengawasan kerja merupakan suatu proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk mengumpulkan data dalam usaha mengetahui ketercapaian tujuan dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksanaan itu.

George R. Tery dalam Nurrofi (2019) mengartikan pengawasan sebagai mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Pengawasan kerja adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Controlling is the process of measuring performance and taking action to esure desired results Schermerhorn dalam Marlena (2018).

Dale dalam Kusmayadi & Lestari (2019) dikatakan bahwa pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan

(25)

meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan.

Admosudirdjo dalam Elriskasida (2017) mengatakan bahwa pada pokoknya pengawasan adalah keseluruhan daripada kegiatan yang membandingkan atau mengukur apa yang sedang atau sudah dilaksanakan dengan kriteria, norma-norma, standar atau rencana-rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Maryoto dalam Lumanauw Kojongian & Sumarauw (2016). kinerja pegawai adalah hasil kerja selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, missal standar, target/sasaran atau kinerja yang telah disepakati bersama.

Mc. Farland dalam Fitrianingrum (2015) memberikan definisi pengawasan sebagai berikut, Pengawasan ialah suatu proses dimana pimpinan ingin mengetahui apakah hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukanoleh bawahannya sesuai dengan rencana, tujuan, kebijakan yang telah ditentukan.

Sarwoto dalam Caesar (2018) Pengawasan ialah kegiatan dari manajer yang mengusahakan supaya pekerjaan-pekerjaan dapat terlaksana sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan ataupun hasil yang sudah dikehendaki. Didalam definisi itu sarwoto menyatakan secara eksplisit subyek yang juga melaksanakan pengawasan ataupun mempunyai fungsi pengawasan yaitu manajer, sebagai sebuah standar ataupun sebagai tolak

(26)

ukur dari sebuah rencana yang telah ditetapkan dan juga hasil yang telah dikehendaki.

M. Manullang dalam Prihatini & Budiatmo (2014) Pengawasan ialah suatu proses untuk dapat menetapkan pekerjaan apa yang telah dilaksanakan, menilainya, dan juga mengoreksinya. Dan bila perlu dengan sebuah maksud agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana yang semula.

Henry Fayol dalam Putra (2019) Pengawasan ialah terdiri dari pengujian apakah seluruh sesuatu telah berlangsung sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan dengan instruksi yang sudah digariskan. Hal itu memiliki tujuan untuk dapat menunjukan atau juga menentukan kelemahan-kelemahan dan juga kesalahan-kesalahan dengan sebuah maksud agar memperbaiki dan juga mencegah terulangnya kembali sebuah kesalahan-kesalahan tersebut.

Victor M. Situmorang dan Jusuf Juhir dalam purba (2017) Pengertian pengawasan adalah setiap usaha dan tindakan dalam rangka untukmengetahui sampai dimanapelaksanaan tugas yang dilaksanakanmenurut ketentuan dan sasaran yang hendak dicapai.

Menurut Sondang P.Siagian dalam Billa (2019) pengertian pengawasan adalah prosespengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untukmenjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalansesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.

(27)

Djamaluddin Tanjung dan Supardan dalam purba (2017) mengemukakan pengertian pengawasan yaitu salah satu fungsi manajemen untuk menjamin agarpelaksanaan kerja berjalan sesuai dengan standar yang telahditetapkan dalam perencanaan.

Untuk menjamin agar semua pekerjaan yang telah diberikan olehpimpinan kepada bawahannya dapat berjalan sesuai menurut rencana,maka seorang pimpinan tersebut harus memiliki kemampuan untukmemandu, menuntut, membimbing, memotivasi, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan komunikasi yang baik, sumber pengawasanyang baik, serta membawa pengikutnya kepada sasaran yang hendakdituju sesuai ketentuan, waktu dan perencanaan (Kartono dalam Sari (2014)).

Robbin dalam Fitria (2016) menyatakan pengawasan itu merupakan suatu proses aktivitas yg sangat mendasar, sehingga membutuhkan seorang manajer untuk menjalankan tugas dan pekerjaan organisasi.

Kertonegoro dalam Marpaung (2017) pengawasan adalah proses melaui manajer berusaha memperoleh kayakinan bahwa kegiatan yg dilakukan sesuai dengan perencanaannya.

Sujamto dalam Baktiyasa & Farida (2017) Pengawasan adalah untuk menentukan apa yg telah dicapai, mengadakan evaluasi atasannya,

(28)

dan mengambil tindakan-tidakan korektif bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan rencana.

Winardi dalam Lumolos & Rondonuwu (2017) mengatakan bahwa pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya sehingga mencapai tujuan yg sesuai dengan apa yg direncanakan.

Winardi dalam Kartika (2019) mengatakan bahwa pada pokoknya pengawasan adalah keseluruhan daripada kegiatan yg membandingkan atau mengukur apa yg sedang atau telah dilaksanakan dengan kriteria, norma-norma, standar atau rencana-rencana yg telah ditetapkan sebelumnya.

Kinerja adalah keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan atau kantor. Rivai dan Ella dalam Wijaya & Suana (2013)

B. Konsep Swafoto

Swafoto (selfie) menurut kamus Oxford adalah “subuah foto diri yang diambil oleh dirinya sendiri, biasanya (typically) diambil dengan menggunakan smarthone atau webcam da diunggah melalui media sosial” (Pearce & moscardo dalam Arsana 2019). Kusrini dalam Arsana, Sunarta,

(29)

Arida (2013) mendefinisikan selfie sebagai pengambilan foto dilakukan oleh diri sendiri. Artinya, ada pertimbangan kapan harus menekan shultter atau tombol handpone sehingga faham betul posisi wajah maupun badan yang akan di foto. Pemikiran itu kemudian mengarahkan pandangan mata kepada layar penampilan gambar di kamera atau padahal lain di luar jendela bidik sehingga arah mata subjek foto biasanya tidak terfokus pada sebuah arah tertentu .

Swafoto merupakan suatu media untuk mengekspresikan diri dan berkomunikasi. Swafoto baik bagi para wanita muda karena secara umum dapat mendorong seseorang untuk menerima dan menghargai di sendiri apa adanya. Jika dilakukan dengan benar dan tidak berlebihan, swafoto dapat bermanfaat sebagai media eksplorasi diri karena memungkinkan seseorang untuk melihat gambaran diri sendiri sebagaimana orang lain melihat dirinya sendiri Rutledge dalam Radyaqsa (2016).

Survey yang dilakukan Katz dan Crocker dalam Radyaqsa (2016) di berbagai kota yaitu Bangkok, Berlin, Moskow, New Yorkdan sao paolo menyimpulkan bahwa perempuan lebih ekspresif berpose swafoto disbanding laki-laki.

Studi lain tentang swafoto adalah studi yang dilakukan yang dilakukan oleh Tysna . studi yang merupakan tugus akhir ini verusaha mengungkap kecemasan sosial dan perilaku agresif pelaku swafoto bila ditinjau dari teori intraksi simbolik ini berfokus pada pentingnya konsep diri (self-covcept), atau seperangkat peresepsi yang relatif stabil yang

(30)

dipercaya oleh orang terhaap dirinya sendiri. Intraksi simbolik memiliki memiliki ciiri pada strimulus-respons namun lebih fokus pada pemahaman makna dari pihak lain melalui penggunaan simbol, interprestasi hingga upaya menyepakati untuk mencapai kesepakatan bersama . Tyson dalam Osman, A. (2018).

Studi menarik lainnya tentang swafoto adalah studi yang dilakukan oleh paul frosh. Penelitian yang dilakukan paul frosh dengan menggunakan teori fotografi tradisional melakukan kajian terhadap swafoto yang pada akhirnya kesimpulannya dipandang sebagai sesuatu yang memiliki citra kinetis. Menurut frosh, citra kinetis yang dimiliki swafoto merupakan suatu kondutor unggul bagi energi sosial, karena swafoto sulit diabaikan untuk tidak diberikan respons. Telaah swafoto dari sisi ranah kinestis sebenarnya lebih luas dari sekedar budaya digital, namun sayangnya relatif sering diabaikan sebagai obyek analisis. Pada kesimpulan studinya, frost menyataka bahwa swafoto dengan demikian merupakan agen fatik (phatic) baru dalam arus energi antara gerakan tubuh, interaksi yang ramah, dan teknologi media yang menjadi hal mendasar bagi aktivitas rutin sehari-hari kita dalam melalukan aktivits digital Frost dalam Hadyanto dan Krislamawaty (2018).

C. Hubungan Antara Kebijakan Pemerintah Dengan Kinerja Guru Berbasis Elektronik Melalui Absensi Swafoto.

Mulai tahun pelajaran 2018/2019 kehadiran guru diperhitungkan sebagai pemenuhan beban kerja guru sebagai pegawai yang secara

(31)

keselurahan paling sedikit 37,5 jam kerja dalam satu minggu sebagaimana diamanahkan dalam peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2017 tentang perubahan atas peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2018 tentang guru. Kementrian pendidikikan nasional mangajukan program yang dimana setiap guru dapat melakukan kehadiran melalui swafoto, pengawasan kinerja yang dimana dilakukan langsung oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengembangkan teknologi berbasis online serta kedisiplinan dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah, dalam absen swafoto yang dilakukan dapat mempermudah Pusat (Disdik) untuk memantau kehadiran guru secara otomomatis. Serta dalam program tersebut adapun masalah yang dihadapi secara umum karena faktor jaringan serta maasalah kurangnya pemahaman guru untuk melakukan absen swafoto.

D. Kerangka Fikir

Pengawasan secara umum diartikan sebagai seuatu kegiatan administrasi yang bertujuan mengandalkan evaluasi terhadap pekerjaan yang sudah selesai apakah sesuai rencana atau tidak. Karena itu bukanlah dimaksudkan untuk mencari siapa yang salah satu yang benar tetapi lebih diarahkan kepada upaya untuk melakukan koreksi terhadap hasil kegiatan. Hal ini dijelaskan oleh Sami’an dan Aprilian, (2013:47) tentang Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros) dengan beberapa teknik pengawasa yaitu pengawasa langsung dan pengawasan tidak langsung.

(32)

Untuk lebih jelasnya dibawah ini dapat digambarkan mengenai bagian kerangka fikir yaitu sebagai berikut.

Bagan 2.1 Bagan Kerangka Fikir

E. Fokus Penelitian

Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Sturi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros).

F. Deskripsi Fokus Penelitian

Teknik Pengaawasan yaitu :

1. Pengawasan langsung yaitu pemimpin organisasi mengadakan sendiri pengawasan terhadap kegiatan yang sedang dijalankan.

Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN

2 Camba Kabupaten Maros)

Faktor Pendukung: 1. Perkembangan Teknologi Berbasis Online 2. Kedisiplinan Dalam Melaksanakan Pembelajaran 3. Komitmen Guru 4. Sumber Daya Faktor Penghambat: 1. Jaringan. 2. Pemehaman Individu Guru Tentang Aplikasi Swafoto Indikator Pengawasan 1. Pengawasan langsung 2. Pengawasaan Tidak langsung

Absensi Online yang efektif untuk Guru SMAN 2 Camba

(33)

2. Pengawasan tidak langsung yaitu pengawasan dari jaarak jauh, pengawasan ini dilakukan melalui laporan yang disampaikan oleh bawahan.

(34)
(35)

23

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 bulan yaitu mulai pada tanggal 31 Juli – 30 September 2019 atau setelah adanya perizinan yang telah dilakukan oleh pihak fakultas. Dan lokasi penelitian dilaksanakan di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai lokasi yang mengeluarkan aplikasi Absen Swafoto dan SMAN 2 Camba-Maros sebagai lokasi yang telah menerapkan salah satu fitur dari aplikasi Absen Swafoto yaitu absen online untuk guru.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yangdigunakan adalah penelitian kualitatif yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objektif tentang Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros).

2. Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif atas dasar bahwa informasi yang akan diteliti adalah berkaitan dengan penghayatan, pengalaman, pemahaman dan pemberian arti dari informasi penelitian tentang absensi swafoto. Sehingga

(36)

penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bermaksud untuk membuat gambaran (deskripsi) mengenai situasi-situasi kejadian. Kekuatan penulisan kualitatif terletak pada kemampuan penelitian dalam membangun pandangan mereka tentang apa yang diteliti secara rinci, yang dinarasikan dengan kata-kata maupun gambaran secara holistik.

C. Sumber Data

1. Data primer adalah data yang diperoleh langsungdari hasil wawancara yang diperoleh dari narasumber yang dianggap berpotensi dalam memberikan informasi yang relevan dan sebenarnya di lapangan.

2. Data sekunder adalah sebagai data pendukung data primer dari literature dan dokumen serta data yang diambil dari bahan bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan penelitian.

D. Informan Penelitian

Dalam penelitian ini, pengambilan informan ssecara purposive sampling adalah teknik pengambilan informan yang memiliki pengetahuan yang luas serta mampu menjelaskan sebenarnya tentang objek penelitian. Penulis telah menetapkan informan dalam pelaksanaan penelitian ini yaitu sebagai berikut :

(37)

Table 3.1 Informan Penelitian

No Nama Inisial Jabatan Jumlah

1. H. Anshar, M. I.Kom AS

Kepala Seksi Pelayanan TIK UPT

Tekkom DISDIK

1 Orang

2. Muh. Idris, S. Sos MI Staf PTIKP 1 Orang

3. Dr. Mustamin, S. Pd., M.Pd., M.M. MS Widiyaswara Ahli Madya 1 Orang 4. Drs. H. A. Munir Lanre, M. Pd.

ML Kepala Sekolah 1 Orang

5. Ahmad Syarif, S. Pd. AS Guru Kelas 1 Orang 6. Aminuddin, S. Pd. AM Guru Kelas 1 Orang

Total Informan 6 Orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang rfelevan, penelitian ini menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu:

1. Observasi

Proses observasi ini peneliti dapat mengamati situasi-situasi yang ada di lapangan dengan mencatat apa-apa yang dianggap penting guna menunjang terhadap tujuan penelitian. Observasi ini memberikan kemudahan terutama dalam ham memperoleh data di lapangan. Kegiatan pengamatan terhadap objek penelitian ini untuk

(38)

memperoleh keterangan keterangan data yang lebih akurat dan untuk mengetahui relevansi antara jawaban responden dan kenyataan yang terjadi dilapangan dalam hal Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros).

2. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewe) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Teknik ini dilakukan peneliti dengan cara mengadakan Tanya jawab secara lisan dan mendalaam terhadap beberapa informan yaitu kepala sekolah, guru maupun siswa/siswi. Yang dianggap mampu memberikan informasi mengenai Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros).

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari dan mengumpulkan data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen, literatut dan sebagainya.

(39)

Analisis data adalah langkah selanjutnya untuk mengelola data dimana data yang diperoleh di kerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyimpilkan persoalan yang diajukan dalam penyusunan hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interaktif. Menurut Miles dan Huberman dalam Nurjanah & Ragil (2014) mengemukakan bahwa dalam model ini terdapat tiga komponen pokok yaitu sebagai berikut :

a. Pengumpulan Data

Pengumpulan data meripakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang dtetapkan.

b. Reduksi Data

Reduksi data merupakan komponen pertama analisis data yang mempertegas, memperdekat, membuat fokus, membuat hal yang tidak penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan penelitian data dilakukan.

(40)

Sajian data merupakan suatu rangkaian informasi yang memungkinkan kesimpulan secara singkat dapat berarti cerita sistematis dan logis maka peristiwanya dapat dipahami.

d. Penarikan Kesimpulan

Dalam awal pengumpulan data, peneliti sudah harus mengerti apa arti dari hal-hal yang di temui dengan mencatat peraturan-peraturan sebab akibat dan berbagai proporsi sehingga penarikan simpulan dapat dipertanggung jawabkan.

G. Pengabsahan Data

Validasi data sangat mendukung akhir penelitian. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa dengan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi bermakna silang yakni mengadakan pengecekan akan kebenaran data yang lain serta pengecekan pada waktu yang berbeda.

Menurut Wiliam dalam Rozali (2015) triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi pengumpulan data dan waktu.

a. Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

(41)

b. Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas untuk mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. c. Triangulasi waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data.

Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di waktu pagi pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel

(42)
(43)

30

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHSAN A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

1. Profil Kantor Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan

Latar belakang terbentuknya kantor Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan yaitu pada masa terbentuknya Negara Indonesi Timur (NIT) yang dikepalai oleh menteri pengajaran yang bernama Katoppo. Kantor wilayah pada waktu itu bertempat di gedung SMA Candra Kirana yang sekarang berada di jalan Sungai Tangka. Pada tahun 1946-1950, Departemen pendidikan Pengajar dan Kebudayaan berubah menjadi Inspektur Pendidikan Daerah Sulawesi Selatan yang dikepalai oleh Azis Nompo.

Pada tahun 1950 Inspektur Pendidikan di daerah Sulawwesi Selatan berubah nama menjadi Kantor Jabatan Pengajaran Provinsi Sulawesi Selatan yang di kelapai oleh H. Sondat dan wakilnya Mangindaan. Kantor tersebut bertempat dikantor Walikota Madya Tk. II Ujung Pandang yang sekarang berada di jalan Jendral Ahmad Yani.

Pada tahun 1956 kantor tersebut berubah nama menjadi Perwakilan Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Sulawesi Selatan Tenggara. Tahun 1961 kantor tersebut dibat oleh S. N. Turangan dan wakilnya H. Laside. Kemudian pada bulan Agustus 1964 H. Laside diangkat sebagai Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan sampai pada tahun 1967 dan pada

(44)

tahun itu jabatan diserahkan kepada Syamsudin Tang. Tahun 1968, Kepala Perwakilan Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan diseraterimakan dari Syamsudin Tang kepada E. Agus Salim Mokodompit, M. A. sebagai kepala biro Organisasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pada tanggal 19 Desember 1979 jabatan Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan diserahterimakan kepada Drs. A. Rasyid yang sebelumnya sebagai Staf Ahli Menteri pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta. Tanggal 11 Desember 1981 jabatan tersebut beralih dari Drs. A. Rasyid kepada Letkol Soepomo. Padatanggal 22 Februari 1983 Kepala Kantor Wilaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan diserahterimakan kepada Drs. Athaillah. Tahun 1987 terjadi pergantian pimpinan dari Drs. Athaillah kepada Drs. Aminuddin Mahmud.

Berdasarkan keputusan menteri penddidikan dan kebudayaan nomor :09/MPK/1991 tanggal 17 Februaru 1991, jabatan kepala kantor wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan diserahterimakan dari Drs. Aminuddin Mahmud kepada Drs. Abdul Djabbar. Selanjutnya, keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor : 217/C/1993 pergantian jabatan kepala kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulaweesi Selatan pada tanggal 4 Januari 1994 dari Drs. Abdul Djabbar diganti oleh Drs. Amiruddin Maula yang sebelumnya menjabat sebagai kepala

(45)

kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur. Kemudian jabatan kepala kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan diserahterimakan dari Drs. Aminuddin Maula kepada Ir. H. M. Arifin Thalib.

Pada tanggal 1 Januari 2001, jabatan kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi SSulawesi Selatan diserahterimakan dari Ir. H. M. Arifin Thalib kepada Drs. Ngaro, M. Pd. Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor : 173/O/1983 tentang struktur organisasi vertical, tata kerja kepala kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan berubah nama menjadi Kantor DDinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan yang di jabat oleh Drs. Ngaro, M. Pd. dan Wakilnya Drs. A. Muh. Noer Sanusi, M. Si.

Pada tanggal 25 April 2003, Drs. Ngaro, M. Pd. menyelesaikan massa jabatan sebagai kepala Dinas Pendidikan dan diganti oleh Drs. A. Muh. Noer Sanusi, M. Si. dan Drs. Hanafi Mappasomba, M. Pd. sebagai wakilnya. Setelah tanggal 31Oktober 2005 Drs. A. Muh. Noer Sanusi, M. Si. mengakhiri masa jabatannya dan digantikan oleh H. A. Patabai Pabokori yang sebelumnya menjadi bupati Kabupaten Bulukumba dan Drs. H. Hanafi Mappasomba tetap menjadi Wakil Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selataan dan pada tanggal 1 November 2006 Drs. Hanafi Mappasomba, memasuki masa pension

(46)

sehingga digaantikan oeleh Drs. Muh Saleh Gottang sampai memasuki pension.

Mengakhiri masaa kerja Drs. H. A. Patabai Pabokori pada tanggal 1 Juli 20012 digantikan Oleh Drs. H. Abdullah Jabbar, M. Pd. sebagai pelaksana tugas pada tanggal 2 juli 2012 yang mana sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Provensi Sulawesi Selatan. Kemudian Drs. H. Abdullah Jabbar, M. Pd. menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tanggal 4 September 2014 Drs. H. Abdullah Jabbar, M. Pd. wafat dan digantikan oleh Drs. H. Salim Siddik sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Tanggal 9 September 2016 Drs. H. Salim Siddik digantikan oleh H. Imran Yasin Limpo, SH. sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.

a. Visi dan Misi

Visi Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan berisikan oleh cita dan cita yang diinginkan diwujudkan yaitu :

“Terwujudnya Layanan Pendidikan yang Berkualitas dan Terjangkau” Visi tersebut mencerminkan aspirasi cita-cita sebagai berikut : 1. Pendidikan yang bermutu adalah penddidikan yang memiliki

keunggulan dalam proses pembelajaran di sekolah dan memiliki hasil belajar yang memaddai.

(47)

2. Pendidikan bagi semua anak usia sekolah pada tingkat pendidikan dasar dan mengandung komitmen yang kuat untuk memberikan kesempatan kepada semua anak usia sekolah dan memperoleh pembelajaran pendidikan yang memadai.

3. Memiliki daya saing yang tinggi ditingkat daerah pendidikan yang inovatif dam kompetitif.

Untuk tercapainya visi tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai Misi. Misi ialah sesuatu yang harus diemban maupun dilaksanakan sesuai visi yang telah ditetapkan agar Dinas Pendidikan dapat berjalan dan terlaksaana dengan baik.

Misi tersebut yaitu :

1. Mempercepat ketuntasan program wajib program wajib belajar, program pendidikan universal dan program pendidikan orang dewasa (meleh huruf).

2. Memfasilitasi pengembangan system pembelajaran yang bermakna (berkualitas dan berkarakter).

3. Menyediakan dan memfasilitasi sara dan prasarana pendidikan untuk mencapai standaar nasional pendidikan.

4. Memfasilitasi bantuan subsiddi untuk keterjangkauan layanan pendidikan untuk semua jenjang.

5. Mengelola manajemen pendidikan secara akuntabel, professional dan bertanggung jawab.

(48)

b. Tugas pokok dan Fungsi pada Dinas Pendidikan Provensi Sulawesi Selatan

Tugas pokok dari tiap bagian pada Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu:

1. Kepala Dinas

Kepala Dinas Pendidikan mempunyai tugas menkoordinasi penyusunan perencanaan dan mengevaluasi kegiatan Dinas Pendidikan serta merumuskan kebijakan teknis bidang pendapatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai pedoman kerja.

2. Wakil Kepala Dinas

Wakil Kepala Dinas mempunyai tugas membantu Kepala Dinas di bidang tugasnya dan pengawassan internet serta kedinasan lainnya.

3. Bagian Tata Usaha a. Sub Baguan Program

Sub Bagian Program di pimpin oleh Kepala Bidan yang mempunyai tugas pengumpulan data, menganalisa, penyajian daan penyimpanan anggaran dinas statistic pendidikan serta menyelenggarakan identifikasi, perumusan dan penyusunan pembangunan pendidikan.

(49)

b. Sub Bagian Kepegawaian

Sub Bagian Kepegawaian di pimpin oleh Kepala Sub Bagian yang mempunyai tugas melakukan penyiapan, penyusunan bahan rencaana kebutuhan dan pengembangan pegawai, mitasi, kenaikan pangkat dan pengelolaan administrasi kepegawaian. c. Sub Bagian Keuangan

Sub Bagian Keuangan dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang mempunyai tugas mengelola administrasi keuangan meliputi penyusunan anggaran, penggunaan anggaran, pembukuan, pertanggung jawaban dan laporan keuangan.

d. Sub Bagian Umum

Sub Bagian Umum dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang mempunyai tugas melaksanakan urusan ketatausahaan dinas meliputi surat-menyurat, kearsipan, pengadaan, ekspedisi, administrasi perjalanan dinas, perlengkapan, pemeliharaan dan urusan rumah tangga dinas.

4. Bagian Sarana dan Orassarana

a. Seksi Pengadaan Sarana dan Prasarana

Seksi Pengadaan Sarana dan Prasarana sekolah ddipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan dan menyimpan bahan dan menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan teknis di bidang pengadaan sarana sekolah.

(50)

b. Seksi Perawatan Sarana Sekolah

Seksi Perawatan Sarana Sekolah dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pembinaan teknis perawatan sarana dan prasarana sekolah. c. Seksi Penyediaan Buku, Alata Peraga dan Modul

Seksi Penyediaan Buku, Alat Peraga dan Modul dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pembinaan teknis serta melakukan analisis kebutuhan penyediaan sarana dan prasarana sekolah serta perawatan dan prassarana sekolah.

d. Seksi Pembukuan Sarana/Prasarana Pendidikan

Seksi Pembukuan Sarana/Prasarana Pendidikan dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan pembinaan, menyusun pedoman pembukuan sarana dan prasarana sekolah.

5. Sub Dinas Pendidikan Agama dan Pendidikan Dasar a. Seksi Kurikulum Agama dan Pendidikan Dasar

Seksi pendidikan agama dan ppendidikan dasar dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan kebijakan teknis, pelaksanaan dan pembinaan di bidang kurikulum agama dan pendidikan dasar.

(51)

b. Seksi Pengembangan Tenaga Kependidikan Agama dan Dikdas Seksi pengembangan tenaga kependidikan agama dan Dikdas dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan petunjuk pelaksanaan dan pembinaan di bidang pengembangan tenaga kependidikan agama dan pendidikan dasar.

c. Seksi Pembinaan Manajemen Sekolah

Seksi pembinaan manajemen sekolah dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas perumusan dan manajemen sekolah meliputi struktur organisasi, mekanisme kerja, pemahaman visi sekolah serta pendidikan.

d. Seksi Penyelenggaraan Pendidikan Luar Biasa

Seksi penyelenggaraan pendidikan luar biasa dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis program pengembangan dan pembinaan kualitas pendidikan luar sekolah dan pendidikan terpadu.

6. Sub Dinas Pendidikan Menengah Atsas (Dikmentas) a. Seksi Kurikulum

Seksi kurikulum dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan kebijaksanaan teknis perumusan dan penyusunan pedoman pelaksanaan diterminasi kurikulum dan kelender pendidikan bagi SMA.

(52)

b. Seksi Pengembangan Tenaga Kependidikaan

Seksi pengembangan tenaga kependidikan dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pengembangan tenaga kependidikan.

c. Seksi Pembinaan Manajemen Sekolah

Seksi pembinaan manajemen sekolah dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang manajemen sekolah.

d. Seksi Pendidikan Luar Biasa (SLB)

Seksi pendidikan luar biasa dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan luar biasa.

7. Sub Dinas Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) a. Seksi Kepemudaan

Seksi kepemudaan dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan di bidang kepemudaan.

b. Seksi Olahraga

Seksi olahraga dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan olahraga.

(53)

c. Seksi Pembinaan dan Pengembangan

Seksi pembinaan dan pengembangan dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pembinaan dan pengembangan generasi mudah dan kesenian.

d. Seksi Pendidikan Kesenian

Seksi pendidikan kesenian dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan kesenian daerah organisasi pendidikan kesenian masyarakat.

8. Sub Dinas Pendidikan Luar Sekolah a. Seksi Sarana dan Tenaga Teknis

Seksi sarana dan tenaga teknis dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang sarana dan tenaga teknis.

b. Seksi Pendidikan Luar Sekolah

Seksi pendidikan luar sekolah dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pendidikan luar sekolah.

c. Seksi Pelatihan dan Penataran

Seksi pelatihan dan penataran dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanaan teknis di bidang pelatihan dan penataran dan

(54)

pendidikan luar sekolah, non pendidikan luar sekolah dan kemassyarakatan.

d. Seksi Keterampilan Perempuan

Seksi keterampilan perempuan dipimpin oleh seorang kepala seksi yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan kebijaksanan teknis di bidang keterampilan pendidikan.

9. Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD) 10.Kelompok Jabatan Fungsional.

2. Profil SMAN 2 Camba-Maros a. Visi dan Misi

Visi Sekolah :

“ Terwujudnya Pendidikan Berkualitas berdasarkan iman dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa “

Misi Sekolah :

1. Mengembangkan kepribadian siswa sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

2. Meningkatkan perolehan rata-rata nilai ujian nasional dari tahun ke tahun

3. Meningkatkan jumlah siswa yang diterima pada perguruan tinggi negeri.

4. Mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler

5. Menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungna proses pembelajaran yang efektif.

(55)

b.Profil Sekolah

Table 4.1 Profil SMAN 2 MAROS

Nama Satuan SMAN 2 MAROS

NPSN 40300278

Bentuk Pendidikan SMA Status Sekolah Negeri

Status Kepemilikan Pemerintah Pusat SK Izin Operasional 99 TAHUN 2017 Tanggal SK 2017-01-26

Alamat JL. LAPPA MARIO CAMBA

Desa/Kelurahan Mario Pulana

Kecamatan Camba

Kabupaten/Kota Kabupaten Maros Propinsi Sulawesi Selatan

RT/RW 1/1

Nama Dusun MARIO

Kode Pos 90562

Lintang/Bujur -4.9102000/119.8587000 Layanan Keb. Khusus Tidak ada

SK Pendirian 0473/O/1983 Tanggal SK 1983-09-11

Rekening BOS 4965 01 010706 53 5

Nama Bank BRI

Nama KCP/Unit CAMBA MAROS

Atas Nama SMAN 2 CAMBA MAROS

MBS Tidak

Tanah Milik 43067m

Tanah Bukan Milik 0m

Nomor Telepon 04113880707

Nomor Fax Null

Email Sman2cambamaros@gmail.com

(56)

c. Struktur Sekolah

Struktur organisasi SMAN 2 Camba-Maros

B. Pengawasan Pendidikan Berbasis Elektronik (Studi Absensi Swafoto SMAN 2 Camba Kabupaten Maros)

Dinas pendidikan Sulawesi Selatan memberikan perhatian lebih pada persoalan kompetensi dan integritas para guru dan tenaga kependidikan. Hasil evaluasi dan monitoring faktual yang langsung menyasar hingga kesekolah-sekolah dipelosok kabupaten menunjukkan integritas guru dan tenaga kependidikan masih belum merata. Mengadopsi kecanggihan perangkat teknologi informasi dan komunikasi serta menyesuaikan diri diera digital, Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan

(57)

menghadirkan sebuah inovasi kebijakan pendidikan berbentuk aplikasi berbasis gawai (gedget) yang diberi nama electronic panrita (e-Panrita). Aplikasi ini merupakan sebuah pendekatan kolektif dan holistik membangun integritas yang tinggi dalam pengelolaan dunia pendidikan.

Mengacu pada konsep pengawasan kinerja guru, bahwa dalam sektor public pengawasan dan kinerja guru merupakan dua istilah yang saling melengkapi satu sama lain. Pengawasan hadir sebagai suatu produk yang baru dan sifatnya yang menggantikan cara yang lama. Demikian pula sifat dari kinerja guru yang hadir untuk menggantikan kinerja guru yang lama. Dari penjelasan tersebut, maka dalam penelitian ini akan diuraikan pengawasan pendidikan berbasis elektronik (studi absensi swafoto SMAN 2 Camba kabupaten maros). Terdapat dua (2) pengawasan absen swafoto, yaitu: (1) Pengawasan Langsung dan (2) Pengawasan tidak langsung. Hasil pengkajian terhadap kedua hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pengawasan Langsung

Pengawasan adalah proses yang sistematik dalam menetapkan standar kerja atau ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan standar kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Pengawasan berfungsi untuk menetapkan apakah telah terjadi suatu penyimpangan dalam sebuah pekerjaan, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan atau

(58)

pemerintah telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna menciptakan tujuan dari proyek perusahaan atau pemerintahan. Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut.

Pengawasan langsung merupakan salah satu fungsi manajemen yang sepenuhnya merupakan tanggung jawab setiap pimpinan pada tingkat manapun. Pengawasan langsung adalah suatu sistem pengawasan yang menuntut kebersamaan yang aktif antara atasan dan bawahan, dari setiap karyawan atau pegawai untuk dapat mengetahui kemampuan dan kondiute setiap individu dengan penilaian yang lebih objektif, Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kepala Seksi Pelayanan TIK UPT Tekkom DISDIK yang mengatakan bahwa:

“Pengawasan langsung iya kami Punya Rekapannya lah, disitu kita melihat mengontrol siapa-siapa saja itu yang pertama, kemudian yang kedua itu kita mengontrolnya langsung, melihat di ruangan komensenter di lantai 2, itu ada komensenternya, kemudian kadang juga kita monitoring, kita lakukan monitoring ke sekolah-sekolah”. (Hasil Wawancara AS, 30 September 2019)

(59)

Gambar 4.1 room world e-Panrita Disdik Sulsel

Berdasarkan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan mengawasi secara langsung para guru dengan cara mengontrol lansung kehadiran dan juga bisa mengontrol lewat Commed Center jadi dengan seperti itu kinerja guru-guru bisa langsung diketahui oleh pihak pemerintah. Didukung dengan pernyataan Kepala Sekolah SMAN 2 Camba Maros yang mengatakan bahwa:

“Dalam melakukan absen para guru tidak bisa lagi menitip absen seperti yang biasa dilakukan pada absen manual karena di aplikasi Swafoto, setiap kali guru melakukan absen akan langsung dapat dilihat di pusat setiap harinya”. (Hasil Wawancara ML, 26 Agustus 2019).

Berdasarkan wawancara di atas mengatakan bahwa menggunakan absensi online pada aplikasi Swafoto ini para guru tidak akan bisa lagi memanipulasi kehadiran mereka di sekolah, dengan

(60)

aplikasi Swafoto mereka akan langsung di pantau oleh Disdik Sulsel, Didukung dari hasil wawancara Staf palayanan TIK UPT Tekkom sekaligus Operator Swafoto DISDIK mengatakan bahwa:

“Sebelumnya para guru di sekolah melakukan absen itu secara manual yaitu pada saat tiba di sekolah melakukan absen dengan memaraf absen yang telah di sediakan namun absen dengan cara manual tersebut ternyata belum bisa menjamin kedisiplinan guru karena masih banyak guru yang datang terlambat, guru ke sekolah ketika ada jam mengajarnya saja dan kadang pula ada yang menitip absennya, dengan adanya swafoto bisa dipantau secara lansung kehadiran dan kinerja guru” (Hasil Wawancara MI 30 September 2019)

Dari pembahasan dan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pengawasan lansung melalui swafoto itu lebih memudahkan untuk memantau kinerja guru meskipun dari jauh pemerintah tetap bisa mengetahui siapa-siapa guru yang memang benar bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya dan yang mana hanya menitip absen dan meninggal sekolah sesuka hatinya. Melalui swafoto ini, guru disekolah bisa dideteksi keberadaanya pada saat jam sekolah dan swafoto ini juga bisa merekap tingkat kehadiran guru dalam mengajar setiap pekannya.

2. Pengawasan Tidak Langsung

Pengawasan tidak langsung adalah pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan dengan cara tidak turun langsung mengawasi pekerjaan dari pelaksana, melainkan mempelajari laporan-laporan, baik itu laporan lisan maupun tulisan yang disampaikan oleh pelaksana pekerjaan. Tetapi meskipun pemerintah tidak terjun langsung untuk

(61)

memantau bagaimana guru-guru dalam menjalankan tugas mereka tetap diketahui, dikarenakan adanya aplikasi swafoto. Aplikasi ini dengan mudah mendeteksi keberadaan guru-guru di jam sekolah pemerintah hanya memantau di layar maka dengan cepat mereka mengetahui guru-guru mana yang hanya menitip absen, Sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kepala Seksi Pelayanan TIK UPT Tekkom DISDIK yang mengatakan bahwa:

“Pengawasan Tidak langsung yaitu yang menggunakan rekapan, jadi kalau langsung memang kita lakukan monitoring ke sekolah-sekolah itu, kemudian langsung mengontrol di commad center itu yang langsung, kalau yang tidak langsung kita membuat laporan rekapan itu” (Hasil Wawancara AS, 30 September 2019)

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pemerintah bisa mengawasi guru-guru dengan cara mengawasi dari ruangan command center, tidak mesti turun langsung karna mengunakan swafoto itu bisa di pantau di kantor, jadi bagaimanapun guru menyalahgunakan absen tetap akan terdekteksi oleh pemerintah yang berwenangan. Didukun dari salah satu pernyataan Guru yang mengatakan bahwa:

“kami sebagai guru sangat mendukung dengan adanya inovasi swafoto ini karna dengan adanya aplikasi ini kami dibantu untuk lebih paham dengan teknologi tetapi sebagian dari guru juga yang belum terlalu paham dengan hp android susah karna ketika memorinya full mereka bingung harus di apakan, dengan menggunakan swafoto ini kita di awasi langsung oleh DISDIK ada dua hal dalam mengawasi yaitu dengan secara langsung dan tidak langsung ” (Hasil wawancara AS , 26 Agustus 2019).

(62)

Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian guru terbantu dengan adanya swafoto itu karna mereka bisa membantu untuk paham akan teknologi tetapi banyak juga yang kurang paham akan aplikasi ini. Dengan adanya aplikasi ini guru dibantu untuk disiplin dengan kehadiran untuk mengajar disekolah dengan pengawasan oleh diksi melalaui pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung , jadi secara langsung guru tidak bisa menitip absen, pernyataan ini didukung oleh salah satu guru yang mengatakan bahwa:

“ iya kami guru disini merasa nyaman dengan aplikasi ini karna kami di awasi terkadang datang memantau kelokasi dan juga memonitoring di layar dan terkadang juga mereka memantau tidak secara langsung yaitu dengan merekap kehadiran guru-guru disini”.(Hasil wawancara AM , 26 Agustus 2019).

Dari pembahasan dan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pengawasan tidak langsung melalui swafoto itu efektif karna tanpa turun langsung kelokasi, aplikasi ini bisa di pantau meskipun hanya di kantor otomatis guru-guru tidak seenaknya meninggalkan sekolah meskipun pemerintah tidak mengawasi secara memonotoring ( langsung) tetapi mereka tetap melakukan perekapan tentang kehadiran guru-guru jadi tetap akan di ketahui guru-guru yang sering menitip absen dan sebagainya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :