• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMIKIRAN POLITIK ISLAM FACHRY ALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMIKIRAN POLITIK ISLAM FACHRY ALI"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S. Sos)

Diajukan Oleh:

Rif’at

NIM: 106033201192

PROGRAM STUDI ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

vii

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ……….i

HALAMAN PERNYATAAN ……….ii

KATA PENGANTAR ……….iii

ABSTRAKSI ………vi

DAFTAR ISI ………vii

BAB I

PENDAHULUAN ……….1

A. Latar Belakang Masalah ………..1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………..3

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………3

D. Metode Penelitian ………4

E. Sistematika Penulisan ………..5

BAB II

KAJIAN TEORI PEMIKIRAN POLITIK ISLAM ……….7

A. Definisi Politik Islam ………..8

B. Tipologi Pemikiran Politik Islam ………...10

C. Beberapa Konsep dalam Pemikiran Politik Islam: ………19

1. Islam dan Demokrasi ………..19

2. Islam dan Politik ………...21

BAB III

BIOGRAFI POLITIK FACHRY ALI ………...26

A. Riwayat Hidup dan Latar Belakang Pendidikan ……….27

(6)

vii

BAB IV

TEMA-TEMA PENTING DALAM PEMIKIRAN POLITIK

ISLAM FACHRY ALI ……….37

A. Islam dan Transformasi Masyarakat ………...37

B. Islam dan Masyarakat Madani ………42

C. Islam dan Ideologi Negara ………..45

D. Islam dan Budaya Lokal ……….50

E. Islam dan Aktualisasi Politik ………...53

F. Analisis Pemikiran Politik Islam Fachry Ali ……….55

BAB V

PENUTUP ………57

A. Kesimpulan ……….58

B. Saran-Saran ……….59

DAFTAR PUSTAKA ………...60

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(7)

1 A. Latar Belakang Masalah

Kajian politik Islam yang diterapkan di Indonesia telah banyak mengadopsi berbagai pemikir politik di dunia, khususnya Islam sendiri dan telah banyak melahirkan tokoh politik dalam berbagai bidang. Di antara tokoh politik itu adalah Fachry Ali, dia dikenal sebagai tokoh pemikir pembaruan Islam, pengamat politik, penulis buku, peneliti serta menjabat staf ahli dalam pemerintahan di Indonesia, dia yang memulai kuliah pembaruan pada 1974-1977 di Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta dengan gelar sarjana muda. Lalu, kemudian melanjutkan kembali studinya pada 1982 dalam bidang Sejarah dan Kebudayaan Islam di Fakultas Adab, dan melanjutkan studi S2 untuk memperdalam ilmu pengetahuannya dalam bidang Sejarah di Monash University, Melbourne, Australia pada 1994.

Tanpa menafikan peran para pemikir muslim lainnya, Fachry Ali telah meletakkan dengan kokoh dasar-dasar pemikiran pembaruan Islam dan Politik Islam di Indonesia dengan bingkai teori ilmu-ilmu sosial. Dia telah membentuk dan mempengaruhi proses integrasi keislaman dengan kemodernan (kekinian).1

Banyak karya dan buku telah diterbitkannya sebagai bagian kepedulian dan kontribusinya dalam mencari jalan keluar dari kebuntuan perdebatan mengenai politik Islam. Seperti yang dijelaskan Fachry Ali dan Bahtiar Effendy dalam bukunya Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam

1

Bahtiar Effendy, “Integrasi Studi Keagamaan dan Teori Ilmu Sosial,”Kompas Rabu, 16 Desember 2009.

(8)

Indonesia Masa Orde Baru, dia memetakan empat gerbong yang tengah berkembang kala itu, yakni neo-modernisme Islam, sosialisme demokrasi Islam, universalisme Islam, dan modernisme Islam2. Dari keempat gerbong tersebut pembaruan dimulai dengan dua tindakan yang saling erat kaitannya, yakni melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional, dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan.3 Dan masih banyak lagi karya-karya dia dari awal terbit sampai saat ini masih dipergunakan dan masih sangat relevan untuk mengkomparasikan perpolitikan nasional.

Ini menunjukkan, pentingnya ilmu sosial dalam memahami soal sosial keagamaan dan politik Islam di Indonesia. Jadi bagi penulis tokoh Fachry Ali ini penting untuk dikaji sebab dari karya-karya dia mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Islam dan politik di Indonesia dalam melihat berbagai fenomena keagamaan Islam dan dia juga mengkritik dan meneliti sejumlah persoalan sosial-politik yang berkembang di Tanah Air. Selain itu, dia juga mengajak dan mempengaruhi mahasiswa dan koleganya seperti, Komaruddin Hidayat dan Bahtiar Effendy untuk terlibat dalam penelitian empiris dan mendiskusikan banyak hal: riset perdamaian, filsafat, sosial-politik, tafsir, dan pesantren. Karena, Fachry mampu membicarakan persoalan Islam, baik dalam dimensi normatif maupun historis, yang melibatkan isu-isu sosial-budaya, ekonomi, dan politik yang lebih bersifat praktis.

Dari pandangan kritis inilah yang menarik perhatian penulis untuk memahami lebih tajam mengenai Islam, ideologi negara dan masyarakat serta

2

Hanifudin Mahfuds, ”Mengharap Demokrasi di Indonesia Ditata Ulang,” Majalah

Dinamika, Edisi 05/tahun II, (Mei 2009), h. 9.

3

Fachry Ali, Golongan Agama dan Etika Kekuasaan: Keharusan Demokratisasi Dalam

(9)

aktualisasi politik Islam menurut Fachry Ali. Di samping itu, penulis juga akan mencoba mencari letak berdirinya Fachry Ali dalam pemikiran politik Islam. Untuk itu, penulis tertarik mengkajinya melalui skripsi yang berjudul: ”Pemikiran Politik Islam Fachry Ali.”

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Agar pembahasan mengenai tema pemikiran politik Islam tidak terlalu melebar, penulis akan membatasi pembahasan ini pada konsep pemikiran politik Islam yang ditawarkan Fachry Ali dengan mengurai beberapa teori dan perspektif yang diajukannya yang mempunyai pengaruh besar terhadap pemikiran Islam dan politik di Indonesia dalam melihat berbagai fenomena terkait keagamaan Islam dan sejumlah persoalan sosial-politik yang berkembang di Tanah Air.

Dengan pembatasan masalah seperti itu, maka permasalahan yang akan menjadi rumusan penulisan ini adalah bagaimana pola pikiran politik mengenai Islam khususnya dan bagaimana cara melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai kemodernan (kekinian) yang berorientasi ke masa depan?.

C. Tujuan dan Manfaat penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui dan memahami secara jelas rumusan ideal yang ditawarkan Fachry Ali soal politik Islam. Serta melakukan analisis kritis terhadapnya. Sementara itu, manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut :

1.Mengetahui latar belakang Fachry Ali dalam merumuskan pemikiran politik Islam.

(10)

2.Mengetahui pemikiran Fachry Ali mengenai politik Islam dan pengaruhnya dalam hal melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional, dan mencari nilai-nilai kemodernan (kekinian) yang berorientasi ke masa depan.

Selain itu, tujuan penulisan skripsi Pemikiran Politik Islam Fachry Ali ini juga sebagai upaya menghargai karya tokoh intelektual yang lahir dari kalangan internal Fakultas Adab dan Humaniora dan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fachry Ali merupakan salah satu sosok yang layak dikategorikan sebagai tokoh intelektual yang konsen terhadap pembahasan teori sosial dan politik.

D. Metode Penelitian

Dalam menyusun skripsi ini, penulis menggunakan suatu metodologi penelitian, yaitu:

1. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan bertujuan untuk memperoleh data melalui sumber bacaan meliputi buku-buku dan artikel yang ditulis Fachry Ali. Selain itu, studi kepustakaan ini akan diperkaya dengan sejumlah data yang ada di media massa seperti koran, majalah, dan jurnal yang berkaitan dengan pemikiran Fachry Ali soal politik Islam.

2. Wawancara Tokoh

Sebagai data pendukung dan pelengkap skripsi, penulis juga akan melakukan wawancara langsung dengan Fachry Ali selaku tokoh yang diangkat dalam skripsi ini. Dari wawancara ini diharapkan mampu

(11)

menemukan pemikiran orisinil Fachry Ali terkait dengan pemikiran politik Islam.

Sementara teknik penulisan dalam penelitian ini, analisis data yang digunakan bersifat kualitatif dengan teknik pembahasan deskriptif analisis yang bertujuan menggambarkan konsep ideal pemikiran politik Islam menurut Fachry Ali. Pengumpulan data, pembahasan masalah, dan penulisan dalam skripsi ini disesuaikan dengan standar penulisan karya ilmiah (skripsi, tesis, dan disertasi) yang diterbitkan Center For Quality Development and Assurance (CeQDA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

E. Sistematika Penulisan

Penelitian ini berjudul: Pemikiran Politik Islam Fachry Ali, pada bab I dipaparkan latar belakang masalah, pokok-pokok masalah, tujuan, metode, serta sistematika penulisan. Uraian pada bab II, disajikan pemaparan dengan jelas tentang perspektif hingga tipologi pemikiran politik Islam, selanjutnya beberapa konsep dalam pemikiran politik Islam seperti, Islam dan negara, Islam dan politik. Pada bab III, disajikan dengan jelas tentang riwayat hidup, latar belakang pendidikan serta karya tulis ilmiah Fachry Ali. Di bab IV, penulis mengawali dengan mendeskripsikan dan menganalisis tema penting pemikiran Fachry Ali Seperti: Islam dan Transformasi Masyarakat, Islam dan Masyarakat Madani, Islam dan Ideologi Negara, Islam dan Aktualisasi Politik.

Selain itu, pada bab IV ini penulis akan mengakhiri dengan analisis terhadap pemikiran politik Islam Fachry Ali. Terutama dalam kehidupan bernegara saat ini di Indonesia, khususnya pandangan Fachry Ali mengenai

(12)

melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai kemodernan (kekinian) yang berorientasi ke masa depan.

Pada bab V, penulis menyimpulkan dari seluruh bahasan dan tema-tema yang menjadi fokus kajian serta merekomendasikan sejumlah saran terkait dengan pemikiran politik Islam khususnya mengenai bagaimana melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai kemodernan (kekinian) yang berorientasi ke masa depan.

(13)

7

Di antara fenomena yang disadari oleh sebagian pengkaji teori-teori politik secara umum adalah adanya hubungan yang erat antara timbulnya pemikiran-pemikiran politik dengan perkembangan kejadian-kejadian historis. Jika fenomena itu benar bagi suatu jenis atau madzhab pemikiran tertentu, dalam bidang pemikiran apapun, hal itu bagi pertumbuhan dan perkembangan teori-teori politik Islam amatlah jelas benarnya. Teori-teori ini, terutama pada fase-fase pertumbuhan pertamanya berkaitan amat erat dengan kejadian-kejadian sejarah Islam. Hingga hal itu harus di lihat seakan-akan keduanya adalah seperti dua sisi dari satu mata uang atau dua bagian yang saling melengkapi satu sama lain.1

Karena adanya hubungan antara dua segi, yaitu segi teoretis dan realistis, maka jelaslah masing-masing dari kedua hal itu tidak dapat dipahami tanpa keberadaan yang lain. Metode terbaik untuk mempelajari teori-teori ini adalah dengan mengkajinya sambil diiringi dengan realitas-realitas sejarah yang berkaitan dengannya. Secara berurutan sesuai dengan fase-fase perkembangan historisnya yang sekaligus merupakan runtutan alami dan secara logis. Sehingga dapat dipahami hakikat hubungan yang mengkaitkan antara dua segi tersebut, maka dapat memperjelas pendapat-pendapat dan dapat menunjukkan bumi yang menjadi tempat tumbuhnya masing-masing pemikiran hingga berbuah dan mencapai kematangannya.2

Fachry Ali, merupakan salah satu tokoh yang turut meramaikan dunia perpolitikan di Indonesia. Walaupun dia terlahir dari latar belakang pendidikan

1

Muhammad Dhiauddin Rais, Teori Politik Islam, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h. 1. 2

(14)

yang terkonsentrasi pada bidang sejarah, tetapi dia berjasa besar dalam mengaitkan Islam dan politik dengan menggunakan sudut pandang pemikiran ilmu sosial. Oleh karena itu, melalui pemikiran politiknya penulis akan mencoba menguraikan satu persatu arah pikiran Fachry, yang tidak hanya memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah keagamaan, tetapi juga membicarakan kehidupan sosial politik masyarakat Muslim di Indonesia.

A. Definisi Politik Islam

Politik berkaitan dengan segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan negara beserta ruang lingkupnya. Pengaitan pengelolaan negara bertujuan agar fungsi-fungsi kenegaraan berjalan dengan baik. Pengelolaan tersebut pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan sistem negara, tetapi juga berkaitan pada prilaku politik dan institusi politik dalam negara. Jadi hakekat politik adalah prilaku manusia, baik berupa aktifitas ataupun sikap, yang bertujuan mempengaruhi dan mempertahankan tatanan sebuah masyarakat dengan menggunakan kekuasaan.3

Seringkali kita tidak peduli dengan apa yang dimaksud dengan politik Islam dan Islam politik. Kedua istilah tersebut seringkali diidentifikasikan sama padahal ketika orang berbicara tentang istilah politik Islam, kalau menurut Ahmad Syafi’i Ma’arif mengatakan bahwa politik Islam adalah upaya untuk menjadikan “prinsip-prinsip dasar” (doktrin) Islam sebagai acuan dalam membuat kebijakan politik, yaitu untuk kepentingan seluruh bangsa tanpa melihat perbedaan agama

3

Abdul Muin Salim, Fiqih Siyasah: Konsep Kekuasaan Politik dalam Al-Qur’an (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 37.

(15)

dan keyakinan hidup.4 Sedangkan islam politik tidak lain sebagai bagian dari fragmen (peristiwa) politik yang dilakukan oleh orang atau suatu komunitas Muslim dengan segenap perilaku dan capaian-capaian politik yang dihasilkannya.5

Oleh karenanya, sintesa di antara keduanya tidak lain berkaitan dengan rangkaian upaya epistimologis dengan mencari titik pertemuan. Politik Islam berkaitan dengan sebuah rangkaian doktrin Islam yang bersifat universal dan Islam politik yang lebih bersifat profan karena dapat berubah sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Dalam kasus Indonesia sebagaimana upaya mempertemukan antara keislaman dan keindonesiaan, yaitu keislaman yang bersifat universal dan keindonesiaan yang bersifat lokal, sintesa di antara keduanya kemudian menghasilkan format Islam yang khas Indonesia tanpa kemudian menghilangkan ciri keuniversalitasan Islam.

Melihat kondisi politik dan kultur masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam, maka menurut Fachry Ali, definisi politik Islam dalam arti keIndonesian adalah adanya nilai-nilai Islam yang direfleksikan di dalam demokrasi pancasila, agar tercipta kolaborasi antara nilai-nilai Islam yang dapat mengokohkan demokrasi pancasila sehingga terciptalah masyarakat yang adil dan makmur.6

Melalui paradigma politik Islam tersebut, Fachry Ali telah meletakkan dengan kokoh dasar-dasar pemikiran pembaruan Islam dan politik Islam di

4 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam& Politik: Upaya Membingkai Peradaban (Cirebon: Pustaka Dinamika, 1999), h. 70.

5

M. Alfan Alfian, “Islam Politik PPP,” Republika, 17 Desember 1998. 6

Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam: Perkembangan

(16)

Indonesia dengan bingkai teori ilmu-ilmu sosial. Ia telah membentuk dan mempengaruhi proses integrasi keislaman dengan kemodernan (kekinian).7

Istilah politik Islam berarti siyasah shar’iyyah yang diartikan sebagai ketentuan kebijaksanaan pengurusan masalah kenegaraan yang berdasarkan syariat Islam. siyasah shar’iyyah diartikan sebagai pengelolaan masalah-masalah umum bagi pemerintah Islam yang menjamin terciptanya kemaslahatan dan terhindarnya kemudaratan dari masyarakat Islam, dan tidak bertentangan dengan ketentuan syariat Islam dan prinsip-prinsip umumnya, meskipun tidak sejalan dengan pendapat para ulama mujtahid.8 Definisi ini dipertegas lagi oleh Abdurrahman Taj yang merumuskan siyasah shar’iyyah sebagai hukum-hukum yang mengatur kepentingan negara, mengorganisasi permasalahan umat sesuai dengan jiwa (semangat) syariat dan dasar-dasarnya yang universal demi terciptanya tujuan-tujuan kemasyarakatan, walaupun pengaturan tersebut tidak ditegaskan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah.

Dari beberapa definisi di atas, maka menurut Munawir Sjadzali definisi politik Islam yang dikemukakan oleh para tokoh Islam terbagi menjadi beberapa bagian yaitu Islam substantif dan Islam fundamental. Di mana aliran substantif mendefinisikan bahwa perlunya nilai-nilai politik Islam diterapkan dalam sebuah negara, meskipun negara itu berasaskan selain Islam. Sedangkan, aliran

7

Bahtiar Effendy, “Integrasi Studi Keagamaan dan Teori Ilmu Sosial,” Kompas Rabu, 16 Desember 2009.

8

Muhammad Iqbal, Fiqh Siyasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), h. 5.

(17)

fundamental mendefinisikan politik Islam dalam arti penerapan asas dan nilai-nilai Islam secara keseluruhan dalam sebuah negara.9

Dengan demikian, di dalam praktik politik Islam tidak lain adalah mengimplementasikan prinsip-prinsip universalitas Islam ke dalam bingkai praksis politik terkait dengan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. B. Tipologi Pemikiran Politik Islam

Banyak konstruk pemikiran yang melahirkan berbagai pandangan tentang bagaimana kita, sebagai kaum muslimin menyikapi politik. Tentang bentuk kenegaraan yang seperti apa yang harus dipakai oleh suatu negara. Dari beberapa pemikiran para tokoh itu semua yang akhirnya mengarah pada karakter dan tipologi politik Islam itu sendiri. Namun secara umum para pemikir membaginya dalam tripologi. Dalam pandangan A. Djazuli, beliau membagi kerangka berpikir dunia Islam dewasa ini menjadi tiga tipe pertama, liberal (sekuler) yaitu negara menolak hukum Islam secara penuh, kedua, fundamental (integralistik) yaitu negara melaksanakan hukum Islam secara penuh, ketiga, moderat (simbiotik) yaitu negara yang tidak menjadikan sebagai suatu kekuatan struktural (dalam sektor politik), tetapi menempatkannya sebagai kekuatan kultural, atau mencari kompromi.10 Sedangkan menurut Din. Syamsuddin, paradigma pemikiran politik Islam modern dibagi atas tradisionalis, modernis, fundamentalis.11

9

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran (Jakarta: UI-Press, 1990), h. 1-2.

10

A. Djazuli, Fiqh Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-rambu

Syari’ah (Bogor: Prenada Media, 2003), h. 39.

11

M. Din Syamsuddin, Islam dan Politik: Era Orde Baru (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 116.

(18)

1. Tipologi Liberal

Secara harfiah istilah liberal berarti bebas, yang menghendaki adanya kebebasan individu. Masyarakat liberal adalah representasi (perwakilan) dari sebuah komunitas yang didalamnya setiap individu mempunyai kebebasan untuk bertindak, dalam kebebasan untuk berbeda pendapat, kebebasan untuk memeluk agama, dan berbagai bentuk kebebasan yang berkaitan dengan terpenuhinya tuntutan Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokratisasi.

Paradigma liberal, sesuai dengan maknanya yang sederhana, adalah bebas, merdeka dan tidak terikat. Apabila diletakkan dalam konteks pemikiran, maka seorang yang memiliki tipikal berfikir liberal adalah mereka yang bebas untuk berfikir dan mengeluarkan pendapat serta merdeka tanpa harus terikat pada segala bentuk pengetahuan dan otoritas manapun. Model demikian biasanya menjunjung tinggi martabat pribadi manusia dan kemerdekaannya. Manusia sebagaimana yang pernah menjadi diktum (keputusan) awal renaissance (lahir kembali) adalah subyek otonom. Subyek yang memiliki kesadaran berfikir, berbuat dan bertindak.12

Pola liberal ini menekankan pemisahan antara agama dan negara, yang menyatakan bahwa Islam tidak ditemukan aturan-aturan yang berkaitan dengan masalah politik atau kenegaraan. Islam hanyalah mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan. Para penganut tokoh ini beranggapan bahwa agama itu bersifat universal sedangkan politik itu portikular (individu), maka dari itu antara agama dan politik tidak bisa bersatu. Kelompok yang memisahkan agama dan negara ini menekankan agrumentasi bahwa tidak ada ayat yang secara tegas

12

Listiono Santoso, Teologi Politik Gus Dur (Jogjakarta: Ar-Ruzz Jogjakarta, 2004), h. 89.

(19)

mewajibkan pembentukan pemerintahan dan negara, sekaligus menekankan bahwa pembentukan pemerintahan tidaklah masuk dalam tugas yang di wahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau hanya rasul yang membawa risalah agama saja, tidak termasuk printah membentuk negara.

Tipologi seperti ini, tidak sejalan dengan apa yang dikonsepkan oleh Fachry Ali, karena dalam salah satu karyanya yaitu Islam Pancasila dan Pergulatan Politik, dia menulis bahwa paham liberal tidak sesuai dengan kondisi sosial kultural masyarakat Indonesia yang bersifat ketimur-timuran, sehingga paham liberal dalam arti kebebasan, yang dijadikan oleh orang-orang barat sebagai pola kehidupan mereka dalam berbagai bidang termasuk didalamnya politik, tidak sejalan dengan pola pikir masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, Islam di Indonesia menurut Fachry lebih baik sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bahwa pancasila sebagai asas negara bisa mengkordinir masyarakat Indonesia yang bersifat plural yang memiliki kepercayaan terhadap agamanya masing-masing, di mana paham liberal yang diajarkan oleh orang-orang barat tidak sesuai dengan agama-agama atau kepercayaan masyarakat Indonesia. Dia memiliki asumsi bahwa kehadiran agama di Indonesia dengan masyarakat yang majemuk tidak bisa dielakkan dan tidak bisa lepas dari kepercayaan masyarakat yang menimbulkan fanatisme bagi pengikutnya. Dan inilah yang memperjelas bahwa tipologi liberal tidak sesuai dengan keyakinan serta asas pancasila.13

13

Fachry Ali, Islam, Pancasila, dan Pergulatan Politik (Jakarta: Pustaka Antara, 1984), h. 189-191.

(20)

2. Tipologi Fundamental

Secara harfiah istilah fundamental berarti mendasar, yang digunakan untuk menunjuk sikap politik suatu kelompok yang ekstrim, fanatik dan keras kepala. Golongan mengungkapkan bahwa Islam mencakup semua aturan kehidupan, termasuk urusan politik atau kenegaraan. Argumen yang diberikan oleh kelompok ini, bahwa nabi telah selesai dan telah memberikan garis panduan yang jelas seperti ketika nabi berada di Madinah.

Fundamentalisme dalam Islam mempunyai akar sejarah yang panjang. Ia muncul secara tiba-tiba seperti disinyalir oleh para penulis di barat, yaitu sejak Revolusi Iran, Afghanistan dan Lebanon. Berangkat dari sudut pandang diatas, melihat akar-akar historis dan perkembangan gerakan fundamentalisme Islam kontemporer dimulai pada fase awal sejarah perkembangan Islam klasik.14

Mula-mula gerakan ini muncul dipelopori oleh seorang fuqoha’ Imam Ahmad Ibn Hanbal atau yang dikenal dengan pendiri madzhab Hanbali (780-855 M). Kemunculannya sebagai reaksi atas kecendrungan menguatnya aliran rasionalis yang dipelopori oleh Mu’tazilah dan didukung oleh pemerintahan Bani Abbas. Pemikiran rasionalis dinilai tidak Islami, karena terpengaruh oleh filsafat Yunani, yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Untuk itu, Imam Ahmad berusaha membangun dasar-dasar teologis, dan berhasil meletakkan pondasi gerakan salafi.15

Sekitar tahun 1970-an, ada dua arus besar fundamentalisme Islam. Salah satunya adalah nada dan organisasinya bercorak tradisional, yang merupakan

14

Mohammad Nurkhaim, “Islam Responsif: Agama di Tengah Pergulatan Idiologi Politik dan Budaya Global,” (Skripsi S1Universitas Muhammadiyah Malang, 2005), h. 102.

15

(21)

kelangsungan dari garis yang terdahulu, yaitu berupa gerakan-gerakan fundamentalis militan. Bentuk fundamentalisme ini sangat jelas dalam monarki Saudi, tetapi sejumlah asosiasi fundamentalis juga terus berlanjut dalam format-format yang terlembaga dan mempertahankan pandangan-pandangan ideologis yang sejak lama didefinisikan dan ditegaskan. Pergeseran penekanan kembali pada tema-tema Islam yang murni selama dekade tersebut memberikan kemungkinan pada kelompok-kelompok ini untuk mendapatkan visibilitas (keadaan) dan prestise (masalah) yang lebih besar, dan dibeberapa wilayah, kelompok-kelompok fundamentalis tradisional menjadi kekuatan-kekuatan sosio-politik yang penting.16

Di samping garis perkembangan fundamentalisme tersebut, tahun 1970-an merupakan suatu periode dimana bentuk fundamentalis juga memiliki bentuk radikal. Fundementalisme radikal terikat dalam suatu reorientasi tentang tradisi Islam. Radikalisme ini merupakan sintesis dari radikalisme yang telah ditransformasikan pada tahun 1960-an dan semangat fundementalisme Islam. Fundamentalis radikal menekankan partisipasi masa, kontrol partisipatori, identitas unit yang kecil dan menghilangkan perbedaan-perbedaan sosio-politik lama.17

Pada perkembangan berikutnya, di India muncul seorang pemikir yang cukup radikal, yakni Abul A’la al-Maududi. Ia tidak hanya seorang pemikir, tetapi sekaligus aktifis partai politik yang mencita-citakan berlakunya negara berdasar Islam. Partai yang didirikannya adalah Jema’at Islami. Oleh para pengamat barat

16

John Obert Voll, Politik Islam: Kelangsungan dan Perubahan di Dunia Modern (Jogjakarta: Titian Ilahi Press, 1997), h. 90.

17

(22)

ia digolongkan sebagai pemikir fundamentalis. Pemikir di Mesir yang juga radikal adalah Hasan al-Bana dan Sayyid Qutb. Dua tokoh ini adalah pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin, sebuah gerakan Islam yang mencita-citakan berlakunya syari’at Islam di Mesir yang memiliki jaringan luas di berbagai dunia Islam.18

Menurut Fachry Ali tipologi fundamental yang memiliki akar sejarah bahwa dalam sebuah negara itu harus sesuai dengan syariat Islam baik dalam segi politik, ekonomi, hukum, kultur, hubungan sosial, dan sampai kepada ranah birokrasi kenegaraan pun harus sesuai dengan nash (ayat) yang dituliskan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah.19 Hal ini senada dengan pemahaman para cendikiawan muslim Indonesia bahwa Islam fundamental ini bersifat tekstual sehingga dalam mempraktekan Islam yang sesuai dengan kitab sucinya tidak dipahami secara kontekstual atau diselaraskan dengan kondisi politik saat ini yang sudah berkembang pesat.20

Pancasila yang memiliki tujuan bersama dan menyatukan berbagai ras, suku bangsa, dan adat istiadat, dan kepercayaan yang beragam, akan hancur bila tipologi fundamentalisme ini diterapkan di Indonesia. Hal ini sesuai dengan realitas saat ini yang disebutkan oleh Fachry bahwa isu terorisme, dan kekerasan-kekerasan yang terjadi dan menimpa Indonesia saat ini justru menjadikan kondisi politik di Indonesia menjadi kurang stabil, bahkan masyarakat Indonesia dihantui oleh rasa takut dan ancaman (teror).21

18

Didin Saefuddin, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam (Jakarta: PT. Grasindo, 2003), h. 6.

19

Fachry Ali, Islam, Pancasila, dan Pergulatan Politik (Jakarta: Pustaka Antara, 1984), h. 5-7.

20

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran (Jakarta: UI-Press, 1990), h. 1.

21

(23)

3. Tipologi Moderat (Reformis dan Sintesis)

Pemikiran ini mengutarakan bahwa dalam Islam tidak ada aturan yang pasti tentang masalah politik atau tata negara, namun ada prinsip atau asas yang harus ditegakkan. Memang Rasulullah SAW bukan diutus sebagai pemimpin politik, tetapi sebagai rasul. Perlu diketahui, konsep kerasulan beliau tidak sebatas menyampaikan pesan Allah (dakwah). Yang paling berat adalah menjadi contoh dari suri-tauladan dalam melaksanakan Islam sebagai cara hidup (way of life). Dalam masa yang singkat, beliau telah berhasil membuat perubahan dan reformasi kesesuaian dimana budaya, pemikiran dan sosio-politik bangsa Arab maju dan gemilang. Semua perubahan ini berlaku karena beliau telah membuat perancangan dan program yang jitu dan bijaksana. Ini dapat dilihat bagaimana beliau berhijrah, membina persaudaraan, membentuk tatanan sosial, membangun ekonomi, politik, dan sosial umat Islam Madinah. Pengkaji-pengkaji politik Islam setuju dengan pendapat Muhammad Hamidullah yang mengatakan piagam Madinah yang dirumuskan oleh Rasulullah adalah satu perlembagaan pertama di dunia karena dicipta di masa dunia diperintah dengan sistem monarki tidak berperlembagaan dan tidak mengenal kedaulatan undang-undang (supremacy of law). Ini tentunya bukan suatu kebetulan.22

Dari ketiga tipologi pemikiran politik Islam itu, Fachry Ali sebagai tokoh intelektual Islam dia lebih condong kepada tipologi moderat reformis, karena hal itu menurutnya lebih cocok untuk kondisi politik keIndonesiaan. Seperti apa yang diungkapkan dalam salah satu karyanya Merambah Jalan Baru Islam, dia mengatakan bahwa penganut sistem ini memandang bahwa sistem politik Islam

22

Abdul Sani, Lintasan Sejarah Perkembangan Modern dalam Islam (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2003), h. 257.

(24)

sebagian besarnya merupakan ijtihad, al-Qur’an tidak menjabarkan secara detail tentang bentuk pemerintahan, mekanisme, dan pelaksanaan lapangan. Tetapi cukup banyak prinsip-prinsip pemerintahan perlu dijadikan pedoman dalam berpolitik. Dan ini sudah cukup untuk mewarnai sistem politik Islam untuk membedakannya dengan sistem politik sekular atau sistem pemerintahan yang despotik dan teokratik.23

Fachry Ali, menyatakan tentang tipologi gerakan intelektualisme Islam dalam neo-modernisme. Gerakan pemikiran neo-modernisme merupakan gerakan pemikiran Islam yang muncul di Indonesia sekitar tahun 1970-an.24 Gerakan ini lahir dari tradisi modernisme Islam yang terdahulu dan telah cukup mapan di Indonesia. Akan tetapi dia memakai pendekatan yang lebih khas dari sisi konsepsi maupun aplikasi ide-ide. Begitu juga dalam pemikiran modernisme, lebih banyak mengadopsi gagasan barat dalam perspektif pemikiran barat. Sehingga ada kesan orisinalitas pemikiran Islam telah terbaratkan dalam wacana modernisme. Jadi pemikiran neo-modernisme mengambil bentuk paling mutakhir baik dalam terma-terma keIslaman maupun metodologisnya.25

Modernisasi dengan developmentalisme seperti yang dikutip Fachry Ali dan Bahtiar Effendy mengatakan telah melahirkan persoalan-persoalan baru seperti sentralisasi kekuasaan ditangan pemerintah, lemahnya posisi rakyat dalam tawar menawar dengan pemerintah, semakin tingginya tingkat kesenjangan sosial dan ekonomi antara pusat dan daerah, kota dan desa, kaya dan miskin, kaum

23

Despotik adalah pemerintahan yang hanya berdasarkan kekuasaan saja dan teokratik adalah negara merupakan kepanjangan tangan dari otoritas Tuhan dalam mewujudkan kehendak-Nya di muka Bumi ini.

24

Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam, h. 17. 25

(25)

terdidik dan tak terdidik, sektor modern dan tradisional dan lain-lain. Tesis Nurcholish Madjid dianggap oleh sekelompok generasi muda belum mampu berfungsi sebagai ideologi yang berdasar nilai-nilai Islam yang dapat digunakan dalam memberikan solusi alternatif terhadap persoalan-persoalan tersebut,26 karena masih berupa kemewahan (luxury) intelektual belum menyentuh konteks riil kemasyarakatan yang sedang mengalami perubahan akibat proses-proses ekonomi-politik yang sedang berlangsung selama ini (Orde Baru-sekarang).27

Kondisi inilah yang mendorong untuk mengkonstruksi pemikiran-pemikiran ideologi yang lebih jelas keberpihakannya, seperti Adi Sasono dan Dawam Rahardjo yang lebih menekankan pada upaya merefleksikan perubahan sosial ekonomi dan politik menuju terciptaya masyarakat yang adil dan demokratis dengan memadukan nilai-nilai Islam dan teori-teori pembangunan.28 C. Beberapa Konsep dalam Pemikiran Politik Islam

Dalam perkembangan politik Islam, banyak pemikir Islam, yang membahas tentang relevansi antara Islam dan politik, Islam dan demokrasi. Begitu pula Fachry Ali, dia memetakan antara kaitan Islam dengan demokrasi, dan Islam dengan politik.

1. Islam dan Demokrasi

Hubungan islam dengan demokrasi yang menjadi tema kajian cendikiawan muslim, dibahas dalam dua pendekatan: normatif dan empiris. Pada dataran normatif mereka mempersoalkan nilai-nilai demokrasi dari sudut pandangan

26

Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam, h. 160-161. 27

Ibid., h. 167. 28

(26)

islam. Sementara dari dataran empiris, mereka menganalisis implementasi demokrasi dalam praktek poliltik dan ketatanegaraan.

Memperbincangkan hubungan Islam dan demokrasi pada dasarnya sangat aksiomatis (yang sudah jelas kebenarannya). Karena Islam merupakan agama dan risalah yang mengandung asas-asas yang mengatur ibadah, akhlak dan muamalat manusia. Sedangkan demokrasi hanya sebuah sistem pemerintahan dan mekanisme kerja antar anggota masyarakat serta simbol yang membawa banyak nilai-nilai positif.29

Samuel P. Huntington dan Francis Fukuyama, memberikan penjelasan lain tentang sikap banyak pihak untuk tidak memasukkan sebagian negara-negara islam dalam analisis mereka tentang demokratisasi. Penekanan analisis atas kehidupan politik islam terutama yang berkembang di sebagian besar dunia Arab di atas” persyaratan-persyaratan sosial sebuah sistem demokrasi” bagi masyarakat manapun, telah mendorong mereka untuk berpendapat bahwa islam secara inheren tidaklah sesuai dengan demokrasi. Bahkan, oleh sementara pihak, islam telah dipandang sebagai “ ancaman besar terhadap kegiatan-kegiatan liberal”.30

Dikatakan seperti itu karena kebanyakan pandangan pengamat Barat tentang islam yang monolitis itu berasal dari pemahaman mereka yang terbatas tentang sifat dan esensi islam, baik dalam tataran ide (sebagaimana terdapat dalam Qur’an dan Sunnah) ataupun historis (sebagaimana tercermin dalam pengalaman kesejarahan umat islam).

29

Eko Taranggono, “IslamDemokrasi” artikel di akses pada 6 Juli 2011 dari http://jurnalushuluddin.files.wordpress.com/2008/03/islamdemokrasi.pdf

30

Bahtiar Effendy, dkk, Agama Dan Dialog Antar Peradaban ( Jakarta: Paramadina. 1996), H. 87-91.

(27)

Islam sebagaimana dilihat, dapat dipandang sebagai instrumen ilahiah untuk memahami dunia. Jika pendapat ini bisa dibenarkan, maka islam dibandingkan dengan agama lain sebenarnya merupakan agama yang paling mudah untuk menerima premis ini. Dasar utamanya terletak pada ciri islam yang paling menonjol, yaitu sifatnya yang “hadir di mana-mana” kehadiran islam memberikan”panduan moral yang benar bagi manusia.”

Berdasarkan penjelasan tentang unsur-unsur dasar sebuah sistem demokrasi, dapat dikatakan bahwa pada tataran normatif, prinsip-prinsip islam sesuai dengan nilai-nilai demokrasi. Huntington sendiri (terlepas dari pandangannya yang negatif tentang hubungan islam demokrasi) sebenarnya percaya bahwa nilai-nilai islam “pada umumnya sesuai dengan persyaratan

-persyaratan demokrasi.”31

Sebagaimana dikatakan Masykuri Abdilah,32 sesungguhnya tidak ada aturan yang jelas dalam al-qur’an maupun hadis yang menyebutkan bantuk dan sistem negara yang harus dijalankan masyarakat muslim. Begitu pula, tidak ada aturan bagaimana mekanisme kekuasaan yang ada, apakah mesti ada pemisahan kekuasaan (separation of power), pembagian kekuasaan (distribution of power) atau penyatuan kekuasaan (integration of power) antara kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Pada masa Rasul semua kekuasaan, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif berada ditangan Rasul. Sebab, semua yang dilakukan rasul lebih untuk melaksanakan dan melindungi eksistensi risalah dan agama yang dibawanya dari pada untuk mempertahankan kekuasaannya.

31

Ibid., h. 91-98. 32

Masykuri Abdilah, “Gagasan dan Tradisi Bernegara dalam Islam: Sebuah Perspektif Sejarah dan Demokrasi Modern,” dalam jurnal Taswirul Afkar, no. 7 (Jakarta, 2000), h. 98.

(28)

Dengan demikian, menurut Fachry Ali menghadapkan atau membandingkan Islam dengan demokrasi dalam arti sebagai sistem dan bentuk pemerintahan adalah sesuatu yang tidak tepat. Sebab, Islam sendiri tidak pernah berbicara tentang negara tertentu sebagaimana isi dan makna demokrasi.33

2. Islam dan Politik

Dalam kondisi kultur umat Islam sangatlah mempengaruhi kekuatan Politik. Di mana antara Islam dan politik sulit untuk dipisahkan kalaupun dipisahkan, justru hal ini akan mematikan kedua variabel itu, meskipun anggapan ini hanya terbatas pada negara-negara berkembang saja, namun kenyataannya adalah negara-negara berkembang itu selalu mengaitkan antara variabel agama dan politik. Sehingga pantas bila perkembangan politik di Indonesia selalu dikaitkan dengan Islam. Hal ini, dikarenakan negara-negara berkembang sulit untuk menerima suatu tatanan politik dengan pendekatan rasional.34 Relevansi antara Islam dan politik ini, tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi juga negara-negara lain.

Perkembangan Islam muncul sebagai kekuatan global yang kuat dalam politik muslim pada tahun 1970-an dan 1980-an. Ruang lingkup kebangkitan politik Islam mencakup seluruh dunia, dari Sudan sampai Indonesia. Kini, para pemimpin pemerintahan Islam dan oposisi lebih suka menggunakan agama untuk melegitimasi dan menggerakkan dukungan rakyat. Bahkan, para aktifis Islam kini banyak pula yang menduduki posisi-posisi ditingkat kabinet. Organisasi-organisasi banyak pula yang merupakan partai-partai oposisi dan ada yang

33

Wawancara pribadi dengan Fachry Ali, Jakarta, 10 Mei 2011. 34

Fachry Ali, Islam, Pancasila, dan Pergulatan Politik (Jakarta: Pustaka Antara, 1984), h. 2.

(29)

menjadi organisasi terkemuka di Mesir, Tunisia, Maroko serta Indonesia. Mereka umumnya sedapat mungkin berpartisipasi dalam pemilihan umum untuk lebih meningkatkan peranan mereka dalam parlemen.

Maraknya politik Islam ini banyak disoroti oleh Barat sebagai tumbuhnya fundamentalisme Islam. Istilah ini kurang pas bila diterapkan pada fenomena kebangkitan politik Islam. Istilah fundamentalisme terlalu dibebani oleh praduga Kristen dan Stereotip barat dan juga menyiratkan ancaman monolitik yang tidak pernah ada.35 Muncul dan maraknya politik Islam ini tidak luput dari usaha kalangan Islamis yang ingin menyelamatkan dunia dari kemerosotan martabat manusia dengan cara kembali kepada nilai-nilai luhur Islam.

Berkembangnya sekularisme dan sejenisnya yang juga telah melanda dunia Islam memang telah mencemaskan kalangan Islamis tentang kemungkinan kian kuatnya semangat pemisahan antara praktek keberagamaan dan praktek keduniaan. Mereka menganggap pemisahan tersebut tidak sesuai dengan ajaran al-Qur’an yang mngajarkan pengikut Islam untuk berislam secara kaffah, yakni tidak memisahkan antara kehidupan beragama dan kehidupan berpolitik. Ketika masyarakat telah dikotak-kotak ke dalam agama, politik, sosial dan seterusnya, mereka tidak lagi melihat keterkaitan bahwa manusia adalah multi dimensional. Pemisahan telah menyebabkan manusia dalam satu dimensi dan dapat diartikan telah merendahkan martabatnya sebagai manusia. Atas dasar pemahaman itu, maka kaum Islamis berusaha mengembalikan martabat manusia yang tidak terpisah-pisah dalam memandang hidup. Kaffah (totalitas) dalam ajaran Islam itulah yang dijadikan acuan mereka.

35

Jhon. L. Esposito, Ancaman Islam: Mitos atau Realitas (Bandung: Mizan, 1984), h. 18.

(30)

Indonesia sebagai satu negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia tampaknya tidak luput dari fenomena serupa. Fenomena itu telah mempengaruhi pola pembangunan, termasuk khususnya dalam konstelasi pembangunan politik dan ekonomi. Fenomena tersebut tentunya menarik untuk dikaji lebih mendalam. Keberhasilan pembangunan sering kali di nilai berdasarkan tolok ukur modernitas yang berasal dari barat.36 Ajaran seperti ini juga diberlakukan di dunia yang mayoritas penduduknya menganut ajaran Islam. Akibatnya, dalam teori modernisasi, seringkali pembangunan disamakan dengan westernisasi dan sekularisasi masyarakat. Bahkan, sekularisasi dianggap sebagi syarat penting sebagai syarat modernisasi. Smith misalnya, secara jelas mengatakan sebagai salah satu proses dasarnya, pembangunan politik mencakup: sekularisasi politik, pemisahan agama dari sistem politik secara progresif.37

Di Indonesia, istilah Islam politik seringkali dilawankan dengan Islam kultural. Islam politik secara umum dapat dipahami sebagai Islam yang ditampilkan sebagai basis ideologi yang kemudian dalam bentuk partai politik, atau Islam berusaha diwujudkan dalam kelembagaan politik resmi (eksekutif dan legislatif). Sedangkan Islam kultural merujuk pada Islam yang hanya bergerak di bidang dakwah, pendidikan, seni dan sebagainya tanpa sama sekali terlibat dalam politik.

Mempersoalkan Islam dan politik tidak lepas dari wacana pemikiran tentang hubungan agama dan negara. Dalam Islam sudah ada kesepakatan bahwa sumber ajarannya adalah al-Qur’an, yang intinya memuat dua intisari ajaran yaitu

36

Ibid., h. 19. 37

Donald Eguene Smith, Agama dan Modernisasi (New Heaven: Yale University Press, 1974), h. 4.

(31)

aqidah dan syariah. Keduanya mempunyai hubungan yang erat. Tidak ada aqidah tanpa syariah, begitu juga sebaliknya. Aqidah yang menghubungkan manusia dengan Allah, yang disebut ibadah. Sedangkan syariah juga menghubungkan manusia dengan manusia, yang disebut muamalah. Sedangkan hubungan antara yang memerintah dengan yang diperintah disebut siyasah. Disinilah Islam dan politik berada.

Maka Islam dan politik itu, pada dasarnya tidak terpisahkan. Islam tidak pernah memisahkan antara kegiatan profan dan sakral. Seperti halnya al-Ghazali yang telah menghubungkan ilmu politik secara erat dengan agama. Karena pegangan dari Nabi dan ucapan-ucapan yang ditingalkan oleh orang-orang yang suci.38

38

Zainal Abidin Ahmad, Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam al-Ghazali ( Jakarta: Bulan-Bintang, 1975 ), h. 120.

(32)

26

Fachry Ali adalah termasuk salah satu tokoh nasional Indonesia paling

berpengaruh di panggung politik nasional saat ini dan diprediksi akan mempunyai

peran yang cukup signifikan dalam menentukan konfigurasi politik bangsa di

masa-masa yang akan datang.

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa Fachry Ali diakui kapasitas,

kapabilitas dan ketokohannya oleh publik baik di bidang pemikiran ataupun sepak

terjang politiknya. Sehingga Fachry Ali yang lebih akrab dengan panggilan abang

Fachry ini menjadi tokoh yang diperhitungkan dalam kancah politik Indonesia saat

ini. Tentunya hal itu tidak semata-mata karena ia pernah menjadi mahasiswa IAIN

(Institut Agama Islam Negeri) kini UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif

Hidayatullah Jakarta, akan tetapi karena ia berjasa dalam komitmen dan kontribusi

ide-ide kebangsaan dan pergulatan panjangnya dalam sejarah perpolitikan yang

diawali sejak masih muda.

Untuk mengurai dan membaca karakter pemikirannya secara detail diperlukan

penelusuran yang mendalam atas latar teoritis dan latar belakang sosio-kultural,

pendidikan dan pengalaman dibidang organisasi, serta tokoh-tokoh yang berpengaruh

dalam membentuk gugusan pengetahuan personalnya yang nantinya banyak

menyumbangkan dan mengilhami pandangan-pandangannya dalam bidang politik.

(33)

A. Riwayat Hidup dan Latar Belakang Pendidikan

Fachry Ali adalah seorang tokoh pemikiran pembaruan Islam di Indonesia, ia

yang meletakkan dan memanfaatkan pondasi pendekatan ilmu-ilmu sosial ketika

mengkaji masalah-masalah keagamaan. Dalam hal ini, ia menjelaskan pentingnya

pembaharuan Islam dengan kerangka dasar teori-teori ilmu sosial, seperti

rasionalisasi, modernisasi, sekularisasi, teori

perubahan sosial, dan

teori

ketergantungan.

1

Semenjak duduk dibangku kuliah, ia mulai mengenal berbagai tokoh politik

mulai dari tokoh-tokoh politik dunia hingga tokoh politik nasional, dari yang klasik

sampai kontemporer. Pada fase ini, Fachry berkenalan dengan beragam pemikiran

politik mulai dari yang paling kiri hingga yang paling kanan.

Keterlibatan Fachry dalam medan politik dimulai sejak ia menginjakkan kaki

di bangku kuliah di UIN Ciputat, kemudian ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam

(HMI) Komisariat Ciputat. HMI

2

adalah Organisasi mahasiswa yang mempunyai

kemampuan untuk mengikuti alam pikiran mahasiswa yang selalu menginginkan

inovasi atau pembaharuan dalam segala bidang, termasuk pemahaman dan

penghayatan ajaran agamanya, yaitu agama Islam. Tujuan tersebut tidak akan

1

Bahtiar Effendy, “Integrasi Studi Keagamaan dan Teori Ilmu Sosial,”Kompas Rabu, 16 Desember 2009.

2

HMI lahir ditengah-tengah suasana revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan, yaitu pada 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta. Lafran Pane dan kawan-kawan merasa prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang terpecah-pecah dalam berbagai aliran keagamaan dan politik serta jurang kemiskinan dan kebodohan. Oleh karena itu dibutuhkan langkah-langkah strategis untuk mengambil peranan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemudian didirikanlah wadah perkumpulan mahasiswa Islam yang memiliki potensi besar bagi terbinanya insan akademik, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah.

(34)

terlaksana kalau NKRI tidak merdeka, rakyatnya melarat. Maka organisasi ini harus

turut mempertahankan negara Republik Indonesia kedalam dan keluar, serta ikut

memperhatikan dan mengusahakan kemakmuran rakyat. Di organisasi inilah Fachry

mulai bergelut dengan berbagai persoalan kebangsaan dan terlibat langsung dalam

konfrontasi gerakan mahasiswa dengan Orde Lama yang sedang harmonis dengan

kelompok komunis.

Gerakan intelektual yang dilakukan HMI berfungsi merumuskan strategi-

strategi yang diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan melancarkan

gerakannya lewat demontrasi-demontrasi di jalan. Sehingga HMI melahirkan gerakan

pembaharuan pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, telah menunjukkan

karakternya sebagai the agent of control.

3

Fachry Ali dilahirkan di Susoh, Blang Pidie, Aceh Selatan pada 23 November

1954. Fachry memulai pendidikan pada 1960-1965, ia belajar di Sekolah Rakyat

Islam (SRI) Banda Aceh sampai dengan kelas IV, kemudian dia hijrah ke kota Jakarta

kemudian melanjutkan kembali di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda, Ragunan, Pasar

Minggu, Jakarta Selatan pada 1966-1968.

Tahun-tahun berikutnya, setelah tamat dari Madrasah Ibtidaiyah, ia

bersekolah di Madrasah Tsanawiyah, Rawa Bambu, Pasar Minggu (tamat 1971) dan

melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ke Sekolah Persiapan IAIN (SPIAIN) yang

ditamatkan pada 1973. Kemudian pada 1974-1977, ia melanjutkan studi ke Fakultas

Tarbiyah, Jurusan Bahasa Inggris, IAIN Jakarta, kini UIN Jakarta dengan

3

Mahasiswa sebagai agent of control, yaitu mahasiswa berfungsi sebagai kapten dari kapal pemerintahan yang mengawasi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh nahkoda pemerintahan.

(35)

memperoleh gelar sarjana muda pada 1977. setelah itu, ia tidak melanjutkan

pendidikan lebih dan memilih berkerja di LP3ES sebagai Tenaga Pembina Lapangan

(TPL) di Jepara, Jawa Tengah tahun 1977-1978.

4

Sekembalinya dari Jepara, Jawa Tengah, pada 1981-1985 ia melanjutkan

studinya di universitas yang sama, namun ia mengambil jurusan yang berbeda yaitu

Sejarah dan Kebudayaan Islam di Fakultas Adab dengan memperoleh gelar

doktoralnya pada 1985. Setelah memperoleh gelar doktoralnya dalam bidang Sejarah

dan Kebudayaan Islam, ia mulai meniti karirnya dengan berkerja menjadi Staf

Peneliti Program Penelitian LP3ES pada 1983-1987, berkat semangat dan usaha ia

dalam berkerja di LP3ES memberikan hasil yang memuaskan, sehingga pada

1987-1989, ia dipercaya kembali oleh LP3ES kemudian menjabat sebagai Kepala Program

Penelitian LP3ES.

Di 1991, dengan dibantu oleh Prof. M. C. Ricklefs, ketua jurusan sejarah di

Universitas Monash, Australia, ia kembali melanjutkan studi S2 untuk memperdalam

ilmu pengetahuannya dalam bidang Sejarah di Monash University, Melbourne,

Australia. Dari universitas inilah, pada tahun 1994, ia meraih gelar Master of Arts

(MA) dalam bidang Sejarah dengan menulis tesis yang berjudul "The Revolts of the

Nations-State Builders : A Comparative Study on the Acehnese Darul Islam and the

West Sumatran PRRI Rebellions, 1953-1964".

Selain itu, tahun 1994-1995 Fachry memulai kembali karirnya kali ini, ia

mencoba menjadi penulis pemula bersama Prof. Fuad Hasan dan Prof. Nurcholish

Madjid tentang kebudayaan, di tahun 1996, Fachry menjabat Direktur Lembaga Studi

4

(36)

dan Pengembangan Etika Usaha (LSPEU Indonesia) hingga sekarang, dan anggota

Penasehat Ahli Kapolri dalam bidang Politik tahun 1998 hingga sekarang. Ia juga

menjabat anggota Komite Nasional Corporate Governance tahun 1998-2004, dalam

bidang sejarah, ia juga menjabat anggota Perhimpunan Sejarawan Indonesia tahun

2003 hingga sekarang, di tahun 2005, ia juga menjadi anggota dan pengurus

perhimpunan Lembaga Penelitian Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial

(LP3ES) hingga sekarang. Tidak hanya itu, ia juga menjabat ketua Komite Kebijakan

Publik (KKP) kementrian BUMN, tahun 2006 hingga sekarang.

Selain aktif menjadi narasumber talkshow dibeberapa stasiun televisi, ia juga

aktif menulis berbagai makalah yang disajikan didalam maupun luar negeri serta

berbagai artikel dan kolom dibeberapa media massa Indonesia, ia juga telah

mempublikasikan sejumlah buku yang dikarangnya, dari buku yang ia karang, hanya

beberapa buku yang berbicara mengenai politik, di antaranya yaitu : (1) Islam

Pancasila Dan Pergulatan Politik (Jakarta: Pustaka Antara, 1984); (2) Islam,

Ideologi Dunia dan Dominasi Struktural (Bandung: Mizan, 1985); (3) Mahasiswa,

Negara dan Sistem Politik Indonesia (Jakarta: Inti Sarana Aksara, 1985); (4)

Merambah Jalan Baru Islam : Rekonstruksi Pemikiran Islam Masa Orde Baru

(Bandung: Mizan, 1986), bersama Bahtiar Effendy; (5) Refleksi Paham Kekuasaan

Jawa dalam Indonesia Modern (Jakarta: Gramedia, 1987); (6) Golongan Agama dan

Etika Kekuasaan: Keharusan Demokratisasi dalam Islam Indonesia (Surabaya:

(37)

Risalah Gusti, 1996), kemudian buku lainnya lebih membicarakan soal sejarah,

ekonomi, dan budaya, namun kajian tersebut selalu terkait dengan politik.

5

Hampir semua buku mengenai politik yang ditulis Fachry Ali cakupan

bahasannya tidak jauh dari isu seputar sosial politik Islam di Indonesia. Dalam

buku-bukunya itu, dengan gamblang Fachry menjelaskan fluktuasi (perubahan) antara

politik Islam dengan masalah-masalah keagamaan maupun masalah sosial dalam

negara Indonesia sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan hingga munculnya

kekuasaan rezim orde baru di pentas politik nasional. Ini menunjukkan, pentingnya

ilmu sosial dalam memahami soal sosial keagamaan dan politik Islam. Hingga sampai

saat ini, Fachry mempunyai pengaruh besar dalam pemikiran Islam dan politik di

Indonesia. Maka dari itu, ia selalu mengamati dan mengkritisi kinerja pemerintahan

di Indonesia.

B. KARYA TULIS ILMIAH

Sebagai seorang intelektual, Fachry tergolong sebagai tokoh yang produktif

menulis karya tulis ilmiah, baik yang berbentuk buku maupun yang berbentuk artikel

yang disajikan dalam sejumlah seminar nasional maupun internasional. Karya-karya

tulis ilmiah Fachry pada umumnya ditulis dalam bahasa Indonesia dan sedikit saja

yang menggunakan bahasa asing, khususnya bahasa inggris. Sampai saat ini, Fachry

5

(1) Essai Politik Tentang Habibie (Jakarta: Balai Pustaka, 1998); (2) Gobel, Budaya dan

Ekonomi (Jakarta: LP3ES, 2001), bersama dengan Imam Ahmad dan kawan-kawan; (3) The Politics of Central Bank (Jakarta: Lspeu Indonesia, 2003); (3) Defying the Cultural Logic: A Long Story about Indonesian Democracy (Jakarta: Manuskrip tidak diterbitkan, 2006); (4) Membalik Logika Publik: Sejarah Sosial CMNP (Jakarta: Lspeu Indonesia, 2007), bersama dengan Kholid Novianto, Budi

Santosa, dan Tawaf T. Irawan; (5) Kalla dan Perdamaian Aceh (Jakarta: Lspeu Indonesia, 2008), bersama Suharso Monoarfa dan Bahtiar Effendy.

(38)

sedikitnya telah mempublikasikan sembilan buku karya ilmiahnya dalam bahasa

Indonesia dan dua buku berbahasa inggris dan hanya bebarapa buku saja yang

membicarakan soal politik.

Semua buku tersebut hampir bisa dipastikan sebagian besarnya merupakan

kumpulan tulisan-tulisan Fachry yang dimuat di sejumlah media massa nasional

maupun internasional. Dan hanya beberapa buku saja yang bukan merupakan

kumpulan tulisan. Berikut ini ada beberapa buku yang penulis miliki terkait dengan

politik.

Pada 1984 Fachry Ali menulis buku berjudul Islam, Pancasila dan

Pergulatan Politik. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang pernah ditulisnya

sejak 1970-an sampai dengan 1980-an. Karena merupakan kumpulan tulisan, tidak

mengherankan bila pembaca akan menemukan pikiran dan analisa yang tidak terlalu

konsisten satu sama lain. Meskipun demikian, secara umum terdapat garis konsistensi

tema-tema dari berbagai tulisan ini.

Dalam buku ini semua tulisan berusaha memaparkan masalah-masalah politik

yang dihubungkan dengan agama (Islam) dan Pancasila di Indonesia. Maka dari itu,

kumpulan tulisan ini punya sedikit alasan diterbitkan dalam bentuk buku. Terutama

bila buku ini dikaitkan dengan masalah-masalah politik Indonesia dalam dekade

1980-an, karena pada waktu itu, Pancasila, dasar dan ideologi negara, dijadikan

satu-satunya asas bagi seluruh organisasi sosial dan politik.

Tentu saja kemudian, kadar kualitas dari tulisan yang dibuat pada waktu itu

relatif sukar untuk dipertanggungjawabkan, itu semua dikarenakan hasil refleksi dari

lingkungan kemahasiswaan melalui sebuah forum diskusi. Lagi pula informasi

(39)

ataupun teori politik yang di peroleh pada waktu itu lebih bersifat sekunder. Dengan

dasar lingkungan yang semacam itu, serta tanpa latar belakang teoritikal sama sekali

penulis mencoba menelaah masalah-masalah politik.

Yang menarik dari buku ini adalah penjelasan di bab ketiga yaitu Pancasila

dan Politik dalam bab ini Fachry menjelaskan masalah yang terkait dengan interaksi

antara Pancasila, agama dan politik di negara Indonesia. Menurutnya, pancasila

sebagai sebuah sistem pemikiran bahkan juga sistem kepercayaan politis, namun di

Indonesia pada kenyataannya saling berhadapan dengan realitas kelompok ataupun

instistusi lain yang mempunyai latar belakang sistem pemikiran yang secara formal

relatif berbeda.

Dalam hal ini, kemudian timbulah masalah-masalah politik ketika pihak

pemerintah yang memiliki kekuasaan dominan berusaha menjadikan satu-satunya

dasar kenegaraan dan asas bagi setiap kelompok masyarakat ataupun organisasi sosial

politik lainnya. Pada bab ini, Fachry berusaha memberikan penjelasan menganai

betapa amat ruginya dunia politik Indonesia, jika peran agama didalamnya menjadi

hilang sama sekali akibat program Pancasilaisasi dunia politik secara menyeluruh.

Padahal nilai tersebut bisa di manfaatkan bagi program pembangunan politik yang

lebih akrab dengan niali-nilai dasar umum yang dikenal masyarakat Indonesia.

Pada 1985, Fachry Ali menulis buku berjudul Mahasiswa, Sistem Politik Di

Indonesia Dan Negara. Buku ini berusaha mendiskusikan beberapa masalah yang

selama ini dianggap krusial: gerakan-gerakan politik mahasiswa, dunia pendidikan,

sistem politik dan negara serta proses pembentukan sosialnya.

Pembahasan-pembahasan di sini berasal dari berbagai makalah-makalah yang disampaikan dalam

(40)

beberapa kesempatan diskusi dan belum pernah dipublikasikan secara meluas, kecuali

dibeberapa kalangan terbatas.

Meskipun demikian, walau makalah-makalah ini dibuat secara terpisah,

namun, karena masalah yang dibahas secara terpisah dilihat dari perspektif kesadaran

yang realitf sama, maka sedikitnya, konsistensi keseluruhan pembahasan bisa

dipertahankan. Buku ini disajikan dalam tiga bagian utama. Bagian pertama adalah

Gerakan Mahasiswa, Politik dan Pendidikan. Dan bagian kedua adalah

Pembangunan dan sistem Politik. Sedangkan bagian ketiga adalah Posisi Negara dan

Pembentukan Sosial. Ketiga bagian ini saling berinteraksi satu sama lain.

Gerakan-gerakan mahasiswa dipengaruhi oleh sistem politik, selanjutnya sistem politik

dipengaruhi oleh corak negara. Dan perkembangan negara yang "khas"

mempengaruhi semua proses sosial-kemasyarakatan, yang pada ujungnya dalam

konteks dunia mahasiswa, mempengaruhi gerakan-gerakan mahasiswa. Dengan

demikian, ketiga bagian yang disajikan dalam buku ini merupakan suatu penjelasan

deskriptif: sekedar sebuah refleksi untuk mengugah atau menyentak kesadaran

proporsional kita bersama dalam gerak perkembangan tak terhentikan ini.

Selanjutnya pada 1986, Fachry Ali bersama Bahtiar Effendy menulis buku

berjudul Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstrusi Pemikiran Islam Indonesia Masa

Orde Baru. Buku ini merupaka analisis sosial-historis mengenai kondisi masyarakat

Indonesia sebelum masuk dan berkembangnya Islam hingga munculnya dinamika

pemikiran Islam Indonesia. Penyelidikan dilakukan secara hait-hati mulai dari awal

pertautan antara Islam dengan kultur dan kepercayaan masyarakat pribumi sampai

perkembangan selanjutnya di mana muncul pemikiran keagamaan yang menempati

(41)

mainstream modernis-tradisionalis. Kedua mainstream gerakan pemikiran ini cukup

lama mewarnai perjalanan Indonesia- disertai konflik dan pertentangannya di bidang

sosial, budaya, dan politik baik sebelum maupun sesudah berlangsungnya

kemerdekaan.

Baru pada masa Orde Baru diketengahkan arah pemikiran Islam Indonesia

dengan melihat para tokoh seperti Nurcholish Madjid, M. Dawam Raharjo,

Abdurrahman Wahid, M. Amien Rais, dan sejumlah tokoh lainnya yang dinilai telah

memudarkan dikotomi kaku antara modernis-tradisionalis. Hal ini disebabkan

kesamaan subtabsial di mana keduanya tidak lagi terjebak pada aspek kecabangan

(furu'iyyah) ajaran Islam tetapi masalah universal kemanusiaan.

6

Walaupun pengelompokan pemikiran konvesional seperti di atas masih cukup

terasa, paling tidak, perhatian sejumlah pemikir muda masa Orde Baru menunjukan

kecendrungan yang sama terhadap pertautan pemikiran kemanusiaan universal yang

sangat berpengaruh pada masyarakat Indonesia. Sebagai negara berkembang,

Indonesia dihadapkan pada arus modernisasi, industrialisasi, dan demokratisasi yang

menuntut agar melihat kembali nilai-nilai lama untuk dinyatakan urgensi dan

relavansinya.

Arah pemikiran mereka diikhtiarkan untuk menjawab pertanyaan apakah

pemahaman tentang Islam selama ini telah mampu menjawab berbagai persoalan

kemanusiaan universal, antara dunia yang terus berubah dengan hukumnya yang

profan dengan agama yang suci dan sakral? Bagaimana dampak positif jawaban

6

Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran

(42)

mereka terhadap bangsa Indonesia yang ikut merasakan persoalan tersebut? Melalui

pertanyaan ini, para pemikir muda masa Orde Baru mencari fomulasi pemikiran yang

tepat untuk memproyeksikan masa depan umat Islam Indonesia.

7

Kemudian pada 1987, Fachry Ali menulis buku berjudul Refleksi Paham

Kekuasaan Jawa dalam Indonesia Modern. Sebuah buku yang menjadi obsesi

penulis, yang dipersiapkan dalam waktu yang lama secara perlahan-lahan, yang

diinspirasikan oleh penulis dalam tulisannya ”Sistem Kekuasaan Jawa dan Stabilitas

Politik” yang dimuat dalam harian Kompas tanggal 2 dan 3 Maret 1984. Buku ini

menjelaskan tentang proses-proses kultural-politik yang bersumber pada sebuah

sistem politik dan kekuasaan tradisional.

Penulis menjelaskan sebuah sistem politik dan kekuasaan yang dominan

adalah sistem kekuasaan Jawa. Setidak-tidaknya dalam konteks pelaksanaan

pembangunan mengandung integrasi dan disintegrasi nilai, sistem politik dan

kekuasaan Jawa. Dalam hal ini, penulis menjelaskan bahwa sistem kekuasaan Jawa

berfungsi sebagai alat untuk mereintegrasikan sistem sosial dan nilai-nilai yang

mengalami disintegrasi, malah menjadi penting di mata elite penguasa. Dalam

konteks pandangan penguasa inilah, kajian yang dibahas dalam buku ini. Suatu usaha

untuk memahami pandangan para elite dan pemegang kontrol politik Orde Baru

terhadap relitas politik di Indonesia.

7

Adi Prayitno, “Islam dan Negara: Telaah Pemikiran Bahtiar Effendy” (skripsi S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Jakarta, 2008), h. 15.

(43)

37 FACHRY ALI

Indonesia sebagai negara maritim memiliki penduduk yang hampir 80%nya adalah umat Islam, akan tetapi hal ini bukan berarti mengindikasikan Indonesia sebagai negara Islam. Fachry Ali justru melihat kondisi Islam di Indonesia sebagai agama yang mudah di terima oleh rakyat Indonesia, karena melihat sejarah rakyat Indonesia, dimana rakyatnya yang lemah lembut, ramah tamah, dan cinta akan perdamaian sehingga Islam sebagai agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang memiliki prinsip-prinsip perdamaian bagi segenap rakyat Indonesia.1

Sikap inilah yang menjadi salah satu tolak ukur Fachry Ali dalam memandang umat Islam Indonesia, Indonesia sebagai negara dengan azas pancasila dengan sikap yang plularisme. Maka dia, memberikan asumsi bahwa dengan banyaknya umat Islam di Indonesia tidak perlu menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, akan tetapi yang diperlukan adalah menerapkan nilai-nilai Islam dalam negara Republik Indonesia.

Kontribusi pemikiran politik Islam Fachry Ali ini telah dipaparkan secara gamblang dalam karya-karyanya sehingga pemikirannya dapat dibagi menjadi tema-tema penting terhadap Islam dan kaitanya dengan sosial-politik, diantaranya: A. Islam dan Transformasi Masyarakat

Transformasi dalam masyarakat terjadi melalui pengenalan unsur baru. Unsur-unsur baru ini diperkenalkan kepada masyarakat dalam dua cara, yaitu

1

(44)

dengan penemuan baru (invensi) yang terjadi dalam masyarakat itu dan masuknya pengaruh dari masyarakat lain.2 Transformasi masyarakat dapat terjadi dengan sengaja dan memang dikehendaki oleh masyarakat. Sebagai contoh, diprogramkannya untuk pembangunan supaya yang tidak menyenangkan menjadi keadaan yang disenangi; kemiskinan diubah menjadi kesejahteraan; budaya pertanian diubah menjadi budaya industri. Dengan direncanakannya bentuk transformasi yang disengaja ini manajemennya lebih jelas, karena dapat diprogramkan dengan melihat perubahan-perubahan yang terjadi.

Sementara itu, transformasi msyarakat yang tidak disengaja dapat terjadi karena pengaruh dari dalam masyarakat itu sendiri ,maupun pengaruh dari luar masyarakat. Misalnya dengan masuknya teknologi baru selalu mempunyai pengaruh tidak disengaja terhadap masyarakat. Untuk transformasi yang tidak disengaja maka sulit ditentukan manajemennya, karena jalannya proses tidak bisa diantisipasi, juga tidak jelas proses transformasi itu akan berakhir dan berapa cepat atau lama. Perubahan-perubahan akibat dari transformasi tidak disengaja menimbulkan kegoncangan sosial dalam masyarakat. Namun pada akhirnya masyarakat akan sampai pada suatu stabilitas sosial baru, karena masyarakat tidak bisa dalam keadaan ragu terus menerus.

Kata transformasi berasal dari bahasa latin “transformare”, yang artinya mengubah bentuk. Transformasi adalah “perubahan bentuk atau struktur, (konversi dari suatu bentuk kebentuk yang lain)”.3 Terjadinya transformasi itu timbul dari kajian historis, yang menyimpulkan bahwa selama kurang lebih dua

2

Adham Nasution, Sosiologi (Bandung: Pustaka Alumni, 1983), h. 155. 3

(45)

atau tiga abad terakhir telah terjadi perubahan fundamental dari masyarakat agraris-tradisional ke masyarakat industrial modern.

Perkembangan yang menarik buat masyarakat Nusantara adalah bahwa lambat laun ciri agrarisnya menjadi jauh lebih menonjol dibandingkan dengan ciri baharinya. Menonjol atau dominanya ciri agraris ini besar sekali pengaruhnya terhadap bentuk kerajaan, sistem kekuasaan, dan corak keagamaan masyarakatnya. Dan dengan sendirinya pula mempengaruhi struktur sosial yang berkembang di masa itu.4 Proses transformasi ini menjadikan situasi politik Indonesia berpengaruh juga terhadap Islam karena masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam.

Bahkan Menurut Fachry Ali, pengaruh agama Hindu-Budha di masa itu terhadap pengorganisasian politik, ekonomi, sosial dan keagamaan ini merupakan aspek terpenting proses internasionalisasi.5 Karena dari sinilah kita melihat munculnya berbagai bentuk organisasi kekuasaan politik, sosial, ekonomi yang diwujudkan dengan lahirnya kerajaan-kerajaan. Mulai dari kerajaan Kutai di Kalimantan, Tarumanegara, kerajaan-kerajaan Melayu dan Sriwijaya, Mataram lama dan bergabagai kerajaan di Bali, sampai lahirnya kerajaan Majapahit. Atau bisa dikatakan bahwa, pada dasarnya, agama-agama itulah yang memberi dasar bagi pembentukan sistem sosial politik dan ekonomi di Nusantara.6 Sehingga keadaan geografis dan wilayah yang dimiliki oleh bangsa ini, telah membentuk keragaman dan perbedaan struktur masyarakatnya.

4

Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran

Islam Masa Orde Baru, (Bandung: Mizan, 1990), h. 17.

5

Masuknya agama-agama itu memang telah mentransformasikan aspek keagamaan masyarakat Nusantara. Dari ajaran-ajaran animisme dan dinamisme yang tidak berbentuk atau berstruktur ke arah ajaran-ajaran agama yang lebih berbentuk dan berstruktur.

6

Referensi

Dokumen terkait

Dalam kaitannya dengan pemikiran politik Islam Soekiman Wirjosandjojo (1916-1960 M) sumber yang berhasil penulis dapat yaitu tentang biografi Soekiman Wirjosandjojo,

Bagaimanapun juga, tidak dapat dipungkiri dalam sejarah perjuangan politik Islam di Indonesia, Qahhar Mudzakkar merupakan salah satu tokoh yang cukup berpengaruh

Sebagai agama sempuma, bagi pemikir politik Islam tipologi ini, Islam bukanlah sekedar agama dalam pengertian Barat yang sekuler, tetapi merupakan suatu pola hidup

Pada masa Pra-Modern pemikiran politik Islam cenderung bersifat legalistic formalistis, para teoritikus kenegaraan dan politik Islam cenderung melegalisasi kebijakan yang

Skripsi yang berjudul Pemikiran Politik Ali Syari’ati yang ditulis oleh Fahriza, dalam skripsi ini lebih menekan pada konsep ummah (masyarakat) dan imamah

‘Asghar Ali Engineer, Liberalisasi Teologi Islam : Dalam M em bangun Teologi D am ai Dalam Islam, terj. Rizqon Khamami, Alena B intang Jendela Aksara,Yogyakarta, cet.. Jihad,

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemikiran Ali Abdul Raziq yang dituangkan dalam bukunya, tidak terlepas kaitannya dengan perkembangan keagamaan dan sosial politik

Dokumen ini membahas tentang nilai dan prinsip dari politik Islam berdasarkan surah Ali Imran ayat 159